Anda di halaman 1dari 21

REFERAT

Laringitis Kronis

Pembimbing :
dr. Gunawan Kurnaedi, Sp. THT-KL
dr. Elananda Mahendra, Sp. THT-KL
Oleh :
Ivan Nugraha
1102010134

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN


TELINGA, HIDUNG DAN TENGGOROK
RSU Dr. SLAMET GARUT

Mei 2016

BAB I
Pendahuluan
Laringitis merupakan peradangan yang terjadi pada pita suara (laring) yang dapat
menyebabkan suara parau. Pada peradangan ini seluruh mukosa laring hiperemis dan
menebal, kadang-kadang pada pemeriksaan patologik terdapat metaplasi skuamosa. Laringitis
ialah pembengkakan dari membran mukosa laring. Pembengkakan ini melibatkan pita suara
yang memicu terjadinya suara parau hingga hilangnya suara. Laringitis kronik adalah proses
inflamasi pada mukosa pita suara dan laring yang terjadi dalam jangka waktu lama. Infeksi
pada laring dapat dibagi menjadi laringitis akut dan laringitis kronis, infeksi maupun non
infeksi, inflamasi lokal maupun sistemik yang melibatkan laring. Laringitis akut biasanya
terjadi mendadak dan berlangsung dalam kurun waktu kurang dari 7 hari dan biasanya
muncul dengan gejala yang lebih dominan seperti gangguan pernafasan dan demam.
Laringitis kronis biasanya terjadi bertahap dan telah bermanifestasi beberapa minggu. Dalam
referrat ini akan dibahas lebih lanjut mengenai laringitis kronis dan upaya penanganannya.(8)

BAB II
Embriologi, Anatomi dan Fisiologi Laring
EMBRIOLOGI
Faring, laring, trakea dan paru merupakan derivat foregut embrional yang
terbentuk sekitar 18 hari setelah terjadi konsepsi. Tidak lama sesudahnya terbentuk alur
faring median yang berisi petunjuk-petunjuk pertama sistem pernafasan dan benih laring.
Sulkus atau alur laringotrakeal mulai nyata sekitar hari ke 21 kehidupan embrio. Perluasan
alur ke kaudal merupakan primaordial paru. Alur menjadi lebih dalam dan berbentuk kantung
dan kemudian menjadi dua lobus pada hari ke 27 atau 28. Bagian yang paling proksimal dari
tuba akan menjadi laring. Pembesaran aritenoid dan lamina epitelial dapat dikenali pada hari
ke 33. Sedangkan kartilago, otot, dan sebagian besar pita suara terbentuk dalam 3-4 minggu
berikutnya.
Hanya kartilago epiglotis yang tidak terbentuk hingga masa midfetal. Banyak
struktur merupakan derivat aparatus brankialis. (2)
ANATOMI
Laring berada di depan dan sejajar dengan vetebre cervical 4 sampai 6, bagian atasnya
yang akan melanjutkan ke faring berbentuk seperti bentuk limas segitiga dan bagian
bawahnya yang akan melanjutkan ke trakea berbentuk seperti sirkular.
Laring dibentuk oleh sebuah tulang yaitu tulang hioid di bagian atas dan beberapa
tulang rawan. Tulang hioid berbentuk seperti huruf U, yang permukaan atasnya
dihubungkan dengan lidah, mandibula, dan tengkorak oleh tendon dan otot-otot. Saat
menelan, konstraksi otot-otot (M.sternohioid dan M.Tirohioid) ini akan menyebabkan laring

tertarik ke atas, sedangkan bila laring diam, maka otot-otot ini bekerja untuk membantu
menggerakan lidah.
Tulang rawan yang menyusun laring adalah kartilago tiroid, krikoid, aritenoid,
kornikulata, kuneiform, dan epiglotis. Kartilago tiroid, merupakan tulang rawan laring yang
terbesar, terdiri dari dua lamina yang bersatu di bagian depan dan mengembang ke arah
belakang. Tulang rawan ini berbentuk seperti kapal, bagian depannya mengalami penonjolan
membentuk adams apple dan di dalam tulang rawan ini terdapat pita suara, dihubungkan
dengan kartilago krikoid oleh ligamentum krikotiroid.
Kartilago krikoid terbentuk dari kartilago hialin yang berada tepat dibawah kartilago
tiroid berbentuk seperti cincin signet, pada orang dewasa kartilago krikoid terletak setinggi
dengan vetebra C6 sampai C7 dan pada anak-anak setinggi vetebra C3 sampai C4. Kartilago
aritenoid mempunyai ukuran yang lebih kecil, bertanggung jawab untuk membuka dan
menutup laring, berbentuk seperti piramid, terdapat 2 buah (sepasang) yang terletak dekat
permukaan belakang laring dan membentuk sendi dengan kartilago krikoid, sendi ini disebut
artikulasi krikoaritenoid
Sepasang kartilago kornikulata atau bisa disebut kartilago santorini melekat pada
kartilago aritenoid di daerah apeks dan berada di dalam lipatan ariepiglotik. Sepasang
kartilago kuneiformis atau bisa disebut kartilago wrisberg terdapat di dalam lipatan
ariepiglotik , kartilago kornikulata dan kuneiformis berperan dalam rigiditas dari lipatan
ariepiglotik. Sedangkan kartilago tritisea terletak di dalam ligamentum hiotiroid lateral.

Gambar anatomi laring(1)


Epiglotis merupakan Cartilago yang berbentuk daun dan menonjol keatas dibelakang
dasar lidah. Epiglottis ini melekat pada bagian belakang kartilago thyroidea. Plica
aryepiglottica, berjalan kebelakang dari bagian samping epiglottis menuju cartilago arytenoidea,
membentuk batas jalan masuk laring.
Membrana mukosa di Laring sebagian besar dilapisi oleh epitel respiratorius,
terdiridari sel-sel silinder yang bersilia. Plica vocalis dilapisi oleh epitel skuamosa.

Plica vocalis adalah dua lembar membrana mukosa tipis yang terletak di atas
ligamenturn vocale, dua pita fibrosa yang teregang di antara bagian dalam kartilago thyroidea
di bagian depan dan cartilago arytenoidea di bagian belakang. Plica vocalis palsu adalah dua
lipatan membrana mukosa tepat di atas plica vocalis sejati. Bagian ini tidak terlibat dalarn
produksi suara.

Gambar pita suara(2)

Pada laring terdapat 2 buah sendi, yaitu artikulasi krikotiroid dan artikulasi
krikoaritenoid. Ligamentum yang membentuk susunan laring adalah ligamentum
seratokrikoid (anterior, lateral, dan posterior ), ligamentum krikotiroid medial, ligamentum
krikotiroid posterior, ligamentum kornikulofaringeal, ligamentum hiotoroid lateral,
ligamentum hiotiroid media, ligamentum hioepiglotica, ligamentum ventricularis ,
ligamentum vocale yang menghubungkan kartilago aritenoid dengan kartilago tiroid dan
ligamentum tiroepiglotica.

Gerakan laring dilaksanakan oleh kelompok otot-otot ekstrinsik dan otot-otot


instrinsik, otot-otot ekstrinsik terutama bekerja pada laring secara keseluruhan , sedangkan
otot-otot instrinsik menyebabkan gerakan bagian-bagian laring sendiri. Otot-otot ekstrinsik
laring ada yang terletak diatas tulang hyoid (suprahioid), dan ada yang terletak dibawah
tulang hyoid (infrahioid). Otot ekstrinsik yang supra hyoid ialah M. Digastricus,
M.Geniohioid, M.Stylohioid, dan M.Milohioid. Otot yang infrahioid ialah M.sternohioid dan
M.Tirohioid. Otot-otot ekstrinsik laring yang suprahioid berfungsi menarik laring kebawah,
6

sedangkan yang infrahioid menarik laring keatas. Otot-otot intrinsik laring ialah M.
Krikoaritenoid lateral. M.Tiroepiglotica, M.vocalis,M. Tiroaritenoid, M.Ariepiglotica, dan
M.Krikotiroid. Otot-otot ini terletak di bagian lateral laring.Otot-otot intrinsik laring yang
terletak di bagian posterior, ialah M.aritenoid transversum, M.Ariteniod obliq dan
M.Krioaritenoid posterior. (2)

Gambar otot pada laring(3)

Rongga laring.
Batas atas rongga laring (cavum laryngis) ialah aditus laring, batas bawahnya ialah
bidang yang melalui pinggir bawah kartilago krikoid. Batas depannya ialah permukaan
belakang epiglottis, tuberkulum epiglotic, ligamentum tiroepiglotic, sudut antara kedua belah
lamina kartilago tiroid dan arkus kartilago krikoid. Batas lateralnya ialah membran
kuadranagularis, kartilago aritenoid, konus elasticus, dan arkus kartilago krikoid, sedangkan
batas belakangnya ialah M.aritenoid transverses dan lamina kartilago krikoid.
Dengan adanya lipatan mukosa pada ligamentum vocale dan ligamentum ventrikulare,
maka terbentuklah plika vocalis (pita suara asli) dan plica ventrikularis (pita suara palsu).
Bidang antara plica vocalis kiri dan kanan, disebut rima glottis, sedangkan antara kedua plica
ventrikularis disebut rima vestibuli.
Plica vocalis dan plica ventrikularis membagi rongga laring dalam tiga bagian, yaitu
vestibulum laring , glotic dan subglotic.
Vestibulum laring ialah rongga laring yang terdapat diatas plica ventrikularis. Daerah
ini disebut supraglotic. Antara plica vocalis dan pita ventrikularis, pada tiap sisinya disebut
ventriculus laring morgagni.
Rima glottis terdiri dari dua bagian, yaitu bagian intermembran dan bagian
interkartilago. Bagian intermembran ialah ruang antara kedua plica vocalis, dan terletak
dibagian anterior, sedangkan bagian interkartilago terletak antara kedua puncak kartilago
aritenoid, dan terletak di bagian posterioir. Daerah subglotic adalah rongga laring yang
terletak di bawah pita suara (plicavocalis). (2)

Persyarafan
Laring dipersarafi oleh cabang-cabang nervus vagus, yaitu n.laringeus superior dan
laringeus inferior (recurrent). Kedua saraf ini merupakan campuran saraf motorik dan
sensorik. Nervus laryngeus superior mempersarafi m.krikotiroid, sehingga memberikan
sensasi pada mukosa laring dibawah pita suara. Saraf ini mula-mula terletak diatas
m.konstriktor faring medial, disebelah medial a.karotis interna, kemudian menuju ke kornu
mayor tulang hyoid dan setelah menerima hubungan dengan ganglion servikal superior,
membagi diri dalam 2 cabang, yaitu ramus eksternus dan ramus internus.
Ramus eksternus berjalan pada permukaan luar m.konstriktor faring inferior dan
menuju ke m.krikotiroid, sedangkan ramus internus tertutup oleh m.tirohioid terletak
disebelah medial a.tiroid superior, menembus membran hiotiroid, dan bersama-sama dengan
a.laringeus superior menuju ke mukosa laring.
Nervus laringeus inferior merupakan lanjutan dari n.rekuren setelah saraf itu
memberikan cabangnya menjadi ramus kardia inferior. Nervus rekuren merupakan lanjutan
dari n.vagus.
Nervus rekuren kanan akan menyilang a.subklavia kanan dibawahnya, sedangkan
n.rekuren kiri akan menyilang aorta. Nervus laringis inferior berjalan diantara cabang-cabang
arteri tiroid inferior, dan melalui permukaan mediodorsal kelenjar tiroid akan sampai pada
permukaan medial m.krikofaring. Disebelah posterior dari sendi krikoaritenoid, saraf ini
bercabang dua menjadi ramus anterior dan ramus posterior, Ramus anterior akan
mempersarafi otot-otot intrinsik laring bagian lateral, sedangkan ramus posterior
mempersyarafi otot-otot intrinsik laring superior dan mengadakan anstomosis dengan
n.laringitis superior ramus internus. (2)

Gambar persarafan laring(4)


Pendarahan.
Pendarahan untuk laring terdiri dari 2 cabang yaitu a.laringitis superior dan a.laringitis
inferior.
Arteri laryngeus superior merupakan cabang dari a.tiroid superior. Arteri laryngitis
superior berjalan agak mendatar melewati bagian belakang membran tirohioid bersama-sama
dengan cabang internus dari n.laringis superior kemudian menembus membran ini untuk
berjalan kebawah di submokosa dari dinding lateral dan lantai dari sinus piriformis, untuk
memperdarahi mukosa dan otot-otot laring.
Arteri laringeus interior merupakan cabang dari a.tiriod inferior dan bersama-sama
dengan n.laringis inferior berjalan ke belakang sendi krikotiroid, masuk laring melalui daerah
pinggir bawah dari m.konstriktor faring inferior. Di dalam arteri itu bercabang-cabang
memperdarahi mukosa dan otot serta beranastomosis dengan a.laringis superior.

10

Pada daerah setinggi membran krikotiroid a.tiroid superior juga memberikan cabang
yang berjalan mendatar sepanjang membrane itu sampai mendekati tiroid. Kadang-kadang
arteri ini mengirimkan cabang yang kecil melalui membran krikotiroid untuk mengadakan
anastomosis dengan a.laringeus superior.
Vena laringeus superior dan vena laringeus inferior letaknya sejajar dengan a.laringis
superior dan inferior dan kemudian bergabung dengan vena tiroid superior dan inferior. (2)
Pembuluh Limfe
Pembuluh limfa untuk laring banyak, kecuali di daerah lipatan vocal. Disini
mukosanya tipis dan melekat erat dengan ligamentum vokale. Di daerah lipatan vocal
pembuluh limfa dibagi dalam golongan superior dan inferior.
Pembuluh eferen dari golongan superior berjalan lewat lantai sinus piriformis dan
a.laringeus superior, kemudian ke atas, dan bergabung dengan kelenjar dari bagian superior
rantai servikal dalam. Pembuluh eferen dari golongan inferior berjalan kebawah dengan
a.laringeus inferior dan bergabung dengan kelenjar servikal dalam, dan beberapa dintaranya
menjalar sampai sejauh kelenjar supraklavikular. (1)(2)

11

FISIOLOGI
Laring berfungsi untuk proteksi, batuk, respirasi, sirkulasi, menelan, emosi serta
fonasi.
Fungsi laring untuk proteksi ialah untuk mencegah makanan dan benda asing masuk
kedalam trakea, dengan jalan menutup aditus laring dan rima glotis secara bersamaan. Terjadi
penutupan aditus laring ialah akibat karena pengangkatan laring ke atas akibat kontraksi otototot ekstrinsik laring. Dalam hal ini kartilogo aritenoid bergerak ke depan akibat kontraksi
m.tiro-aritenoid dan m.aritenoid. Selanjutnya m.ariepiglotika berfungsi sebagai sfingter.
Penutupan rima glotis terjadi karena adduksi plika vokalis. Kartilago arritenoid kiri
dan kanan mendekat karena aduksi otot-otot intrinsik.
Selain itu dengan reflex batuk, benda asing yang telah masuk ke dalam trakea dapat
dibatukkan ke luar. Demikian juga dengan bantuan batuk, sekret yang berasal dari paru dapat
dikeluarkan.
Fungsi respirasi dan laring ialah dengan mengatur besar kecilnya rima glottis. Bila
m.krikoaritenoid posterior berkontraksi akan menyebabkan prosesus vokalis kartilago
aritenoid bergerak ke lateral, sehingga rima glottis terbuka.
Dengan terjadinya perubahan tekanan udara di dalam traktus trakeo-bronkial akan
dapat mempengaruhi sirkulasi darah dari alveolus, sehingga mempengaruhi sirkulasi darah
tubuh. Dengan demikian laring berfungsi juga sebagai alat pengatur sirkulasi darah.
Fungsi laring dalam membantu proses menelan ialah dengan 3 mekanisme, yaitu
gerakan laring bagian bawah ke atas, menutup aditus laring dan mendorong bolus makanan
turun ke hipofaring dan tidak mungkin masuk kedalam laring.

12

Laring juga mempunyai fungsi untuk mengekspresikan emosi seperti berteriak,


mengeluh, menangis dan lain-lain.
Fungsi laring yang lain ialah untuk fonasi, dengan membuat suara serta menentukan
tinggi rendahnya nada. Tinggi rendahnya nada diatur oleh peregangan plica vokalis. Bila
plica vokalis dalam aduksi, maka m.krikotiroid akan merotasikan kartilago tiroid kebawah
dan kedepan, menjauhi kartilago aritenoid. Pada saat yang bersamaan m.krikoaritenoid
posterior akan menahan atau menarik kartilago aritenoid ke belakang. Plika vokalis kini
dalam keadaan yang efektif untuk berkontraksi. Sebaliknya kontraksi m. Krikoaritenoid akan
mendorong kartilago aritenoid ke depan, sehingga plika vokalis akan mengendor. Kontraksi
serta mengendornya plika vokalis akan menentukan tinggi rendahnya nada. (2)

13

BAB III
LARINGITIS KRONIS
ETIOLOGI
Biasanya infeksi virus menyebabkan laringitis kronis. Infeksi bakteri seperti difteri
juga dapat menjadi penyebabnya, tapi hal ini jarang terjadi. Laringitis dapat juga terjadi saat
menderita suatu penyakit atau setelah sembuh dari suatu penyakit, seperti salesma, flu atau
radang paru-paru (pnemonia).
Kasus yang sering terjadi pada laringitis kronis termasuk juga iritasi yang terus
menerus terjadi karena penggunaan alkohol yang berlebihan, banyak merokok atau asam dari
perut yang mengalir kembali ke dalam kerongkongan dan tenggorokan, suatu kondisi yang
disebut gastroeosophageal reflex disease (GERD). Tanpa mengkesampingkan bakteri sebagai
penyebabnya.
Tabel perbedaan etiologi yang mendasari terjadinya laringitis akut dan kronis(6)

Common Causes of
Laryngitis
Infectious
Bacterial
Viral
Fungal
Contact
Reflux
Pollutants
Smoking
Inhaled Medications
Caustic Ingestions
Medical
Vocal misuse
Vocal abuse
Trauma
Allergic

Type of Laryngitis
Acute (Short-lived)

Chronic (longer term)

X
X
X

X
X

X
X
X

X
X
X
X
X
X
X
X
14

Allergies
Dryness (Laryngitis Sicca)
Dehydration
Dry Atmosphere
Mouth Breathing
Medications
Thermal
Closed-Space Fire
Crack Pipe

X
X
X
X

X
X
X
X

X
X

X
X

LARINGITIS KRONIS
Terbagi menjadi non-spesifik dan spesifik.
Non-Spesifik laringitis kronis
Sering merupakan radang kronis yang disebabkan oleh infeksi pada saluran
pernapasan, seperti selesma,influensa,bronkhitis atau sinusitis. Akibat paparan zat-zat yang
membuat iritasi,seperti asap rokok, alkohol yang berlebihan, asam lambung atau zat-zat kimia
yang terdapat pada tempat kerja.Terlalu banyak menggunakan suara, dengan terlalu banyak
bicara, berbicara terlalu keras atau menyanyi (vokal abuse). Pada peradangan ini seluruh
mukosa laring hiperemis, permukaan yang tidak rata dan menebal.(8)
Gejala klinis yang sering timbul adalah berdehem untuk membersihkan tenggorokan.
Selain itu ada juga suara serak, Perubahan pada suara dapat berfariasi tergantung pada tingkat
15

infeksi atau iritasi, bisa hanya sedikit serak hingga suara yang hilang total, rasa gatal dan
kasar di tenggorokan, sakit tenggorokan, tenggorokan kering, batuk kering, sakit waktu
menelan. Gejala berlangsung beberapa minggu sampai bulan.(8)
Pada pemeriksaan ditemukan mukosa yang menebal, permukaannya tidak rata dan
hiperemis. Bila terdapat daerah yang dicurigai menyerupai tumor, maka perlu dilakukan
biopsi.(8)
Pengobatan yang dilakukan tergantung pada penyebab terjadinya laryngitis dan
simtomatis. Pengobatan terbaik untuk langiritis yang diakibatkan oleh sebab-sebab yang
umum, seperti virus, adalah dengan mengistirahatkan suara sebanyak mungkin dan tidak
membersihkan tenggorokan dengan berdehem. Bila penyebabnya adalah zat yang dihirup,
maka hindari zat penyebab iritasi tersebut. Dengan menghirup uap hangat dari baskom yang
diisi air panas mungkin bisa membantu. Bila anak yang masih berusia batita atau balita
mengalami langiritis yang berindikasi ke arah croup, bisa digunakan kortikosteroid seperti
dexamethasone. Untuk laringitis kronis yang juga berhubungan dengan kondisi lain seperti
rasa terbakar di uluh hati, merokok atau alkoholik, harus dihentikan.(7)
Untuk mencegah kekeringan atau iritasi pada pita suara : (7)(8)
1. Jangan merokok, dan hindari asap rokok dengan tidak menjadi perokok tidak
langsung. Rokok akan membuat tenggorokan kering dan mengakibatkan iritasi pada
pita suara.
2. Minum banyak air . Cairan akan membantu menjaga agar lendir yang terdapat
tenggorokan tidak terlalu banyak dan mudah untuk dibersihkan.
3. Batasi penggunaan alkohol dan kafein untuk mencegah tenggorokan kering . Bila
mengalami langiritis, hindari kedua zat tersebut diatas.
4. Jangan berdehem untuk membersihkan tenggorokan. Berdehem tidak akan berakibat
baik, karena berdehem akan menyebabkan terjadinya vibrasi abnormal peda pita suara

16

dan meningkatkan pembengkakan . Berdehem juga akan menyebabkan tenggorokan


memproduksi lebih banyak lendir dan merasa lebih iritasi , membuat ingin berdehem
lagi.
Pada laringitis kronis akibat alergi, pasien biasanya memiliki onset bertahap dengan
gejala yang ringan. Pasien dapat mengeluhkan adanya akumulasi mukus berlebih dalam
laring. Dalam pemeriksaan laringoskopi biasa dijumpai sekresi mukus endolaringeal tebal
dalam kadar ringan hingga sedang, eritema dan edema lipatan pita suara serta inkompetensi
glotis episodik selama fase fonasi.(6)
Pada kasus laringitis kronis alergi, tatalaksana meliputi edukasi kepada pasien untuk
menghindari faktor pemicu. Medikasi antihistamin loratadine atau fexofenadine dipilih
karena tidak memiliki efek samping dehidrasi. Sekresi mukus yang tebal dan lengket dapat di
atasi dengan pemberian guaifenesin. (7)(8)
Laringitis kronis spesifik
LARINGITIS TUBERKULOSA
Penyakit ini hampir selalu sebagai akibat dari tuberkulosis paru. Sering kali setelah
diberikan pengobatan, tuberkulosisnya sembuh tetapi laringitis tuberkulosanya menetap. Hal
ini terjadi karena struktur mukosa laring yang sangat lekat pada kartilago serta vaskularisasi
yang tidak sebaik paru, sehingga bila infeksi sudah mengenai kartilago, pengobatannya lebih
lama. Infeksi kuman ke laring dapat terjadi melalui udara pernafasan, sputum yang
mengandung kuman, atau penyebaran melalui aliran darah atau limfe. Tuberkulosis dapat
menimbulkan gangguan sirkulasi. Edema dapat timbul di fossa inter aritenoid, kemudian ke
aritenoid, plika vokalis, plika ventrikularis, epiglotis, serta subglotik.(4)(8)
Secara klinis, laringitis tuberkulosis terbagi menjadi 4 stadium yaitu : (4)
17

Stadium infiltrasi. Mukosa laring posterior mengalami pembengkakan dan hiperemis,


kadang pita suara terkena juga, pada stadium ini mukosa laring tampak pucat.
Kemudian di daerah sub mukosa terbentuk tuberkel, sehingga mukosa tidak rata,
tampak bintik-bintik yang berwarna kebiruan. Tuberkel itu makin besar, serta
beberapa tuberkel yang berdekatan bersatu, sehingga mukosa diatasnya meregang.
Pada suatu saat, karena sangat meregang, maka akan pecah dan timbul ulkus. Pada
stadium ini pasien dapat merasakan adanya rasa kering ditenggorokan, panas dan

tertekan di daerah laring, selain itu juga terdapat suara parau.


Stadium ulcesari. Ulkus yang timbul pada akhir stadium infiltrasi membesar. Ulkus
ini dangkal, dasarnya ditutupi oleh perkejuan, serta dirasakan nyeri waktu menelan
yang hebat bila dibandingkan dengan nyeri karena radang (khas), dapat juga terjadi

hemoptisis.
Stadium perikondritis. Ulkus makin dalam, sehingga mengenai kartilago laring, dan
yang paling sering terkena ialah kartilago aritenoid dan epiglotis. Dengan demikian
terjadi kerusakan tulang rawan, sehingga terbentuk nanah yang berbau, proses ini
akan melanjut dan terbentuk sekuester. Pada stadium ini pasien dapat terjadi afoni dan
keadaan umum sangat buruk dan dapat meninggal dunia. Bila pasien dapat bertahan

maka proses penyakit berlanjut dan masuk dalam stadium fibrotuberkulosis.


Stadium fibrotuberkulosa. Pada stadium ini terbentuk fibrotuberkulosis pada dinding
posterior, pita suara dan subglotik.
Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan umum dan pemeriksaan THT termasuk

pemeriksaan laring tak langsung untuk melihat laring melalui kaca laring, maupun
pemeriksaan laring langsung dengan laringoskopi. Pemeriksaan penunjang seperti
laboratorium dapat di temukannya tes BTA positif, dan patologi anatomi.(8)

18

Penatalaksanaannya berupa pembeian obat antituberkulosis primer dan sekunder.


Selain itu pasien juga harus mengistirahatkan suaranya. Beberapa macam dan cara pemberian
obat antituberkulosa :

Obat primer : INH (isoniazid), Rifampisin, Etambutol, Streptomisin,


Pirazinamid. Memperlihatkan efektifitas yang tinggi dengan toksisitas yang
masih dapat ditolerir, sebagian besar penderita dapat disembuhkan dengan

obat-obat ini.
Obat sekunder : Exionamid, Paraaminosalisilat, Sikloserin, Amikasin,
Kapreomisin dan Kanamisin.

BAB IV
KESIMPULAN
Banyak penyakit infeksi pada laring yang dapat berakibat sumbatan pada jalur
pernafasan, maka dari itu penyakit-penyakit ini harus cepat terdiagnosa dengan cara
melakukan pemeriksaan-pemeriksaan yang tepat, termasuk pemeriksaan penunjang dan
laboratorium untuk mencegah komplikasi- komplikasi dari sumbatan tersebut termasuk
kematian.
Manifestasi klinis laringitis sangat tergantung pada beberapa faktor seperti sebabnya,
besarnya edema jaringan, regio laring yang terlibat secara primer dan usia pasien. Pasien
biasanya datang dengan berbagai macam keluhan seperti rasa tidak nyaman pada tenggorok,
batuk, perubahan kualitas suara, disfagia, odinofagia, batuk, kesulitan bernafas dan juga
stridor.

19

Diagnosa laringitis kronis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan


pemeriksaan penunjang. Penatalaksanaan diberikan sesuai dengan etiologi yang mendasari.
Biasanya disebabkan oleh iritasi asap rokok, sehingga pasien diminta untuk berhenti merokok
dan menghindari asap rokok disekitarnya.
Prognosis dapat ditentukan berdasarkan stadium atau keparahan penyakit, diagnosa
dini, dan tepatnya penatalaksanaan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Roezin A. Sistem Aliran Limfa Leher.Dalam:Soepardi EA. Buku Ajar llmu Kesehatan
Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher.Edisi ke-6. Jakarta. Balai Penerbit FKUI .
2007. h. 174-177.
2. Cohen James . Anatomi dan Fisiologi laring. Boies Buku Ajar Penyakit THT. Edisi
ke-6. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran.EGC. 1997. h. 369-376
3. Hermani B, Abdurrachman H, Cahyono A. Kelainan Laring.Dalam: Soepardi
EA. Buku Ajar llmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher.Edisi ke6. Jakarta. Balai Penerbit FKUI . 2007.h. 237-242
4. Lalwani AK : Current Diagnosis & Treatment in Otolaryngology Head & Neck
Surgery, 2nd Edition. New York:The McGraw-Hill.2007.
5. Dhillon, R.S. ,East C.A.. Ear, Nose, and Throat and Head and Neck Surgery. 2nd
Edition. Churcill Livingstone. 2000. Hal. 56-68
6. Diunduh pada tanggal 15 Mei 2016 dari :
http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/03/09/laringitis/
20

7. Diunduh pada tanggal 15 Mei 2016 dari :


http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/imagepages/19721.htm

8.

Banovetz JD. Gangguan Laring Jinak. Boies Buku Ajar Penyakit THT. Edisi ke-6.
Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran.EGC. 1997. h. 378-396

21