Anda di halaman 1dari 21

NAMA MATA KULIAH

: AUDITING

NAMA PERGURUAN TINGGI

: UNIVERSITAS JAMBI

NAMA ANGGOTA

: 1. JANGCIK
2. GILANG RIDHO AKBAR
3. OKTA SADINRI

NO PONSEL (Ketua Tim)

: 087896979720

Jawaban 1 (Audit):
Ketika hendak menentukan risiko audit beserta komponennya yang terdiri dari risiko
bawaan, risiko pengendalian, dan risiko deteksi.
Auditor (kami) harus mempertimbangkan risiko audit dan materialitas baik dalam:
(a) Merencanakan audit dan merancang prosedur audit, dan
(b) Mengevaluasi apakah laporan keuangan secara keseluruhan disajikan secara wajar, dalam
semua hal yang material, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
Auditor harus mempertimbangkan risiko audit dan materialitas untuk hal yang disebutkan
pada butir (a) untuk memperoleh bukti audit kompeten yang cukup dan sebagai dasar
memadai untuk mengevaluasi laporan keuangan untuk butir (b).
Auditor harus merencanakan auditnya sedemikian rupa, sehingga risiko audit dapat
dibatasi pada tingkat yang rendah, yang menurut pertimbangan profesionalnya, memadai
untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan. Risiko audit dapat ditentukan dalam
ukuran kuantitatif atau kualitatif. SA Seksi 311 [PSA No. 05] Perencanaan dan Supervisi
mengharuskan auditor dalam perencanaan auditnya untuk memperhitungkan antara lain,
pertimbangan awal tentang tingkat materialitas untuk tujuan audit. Pertimbangan tersebut
mungkin dikuantitatifkan atau mungkin tidak.
Auditor juga harus memutuskan untuk mengalokasikan dari total pertimbangan awal
materialitas sebesar $200.000, sebanyak $100.000 kepada piutang usaha, maka kesalahan
yang masih bisa ditolerir untuk akun piutang adalah sebesar $100.000. Ini berarti bahwa
auditor masih bersedia untuk menyatakan kewajaran penyajian akun iutang usaha bila
kesalahan yang terdapat di dalamnya $100.000 atau kurang dari itu.
Berikut ini adalah cara perhitungan dalam menentukan risiko audit.
DAR = IR x CR x DR
Dimana:

DAR = Risiko Audit yang Diinginkan


IR

= Risiko Inheren

CR

= Risiko Pengendalian

DR

= Risiko deteksi

Untuk menggambarkan penggunaan model diatas, misalkan auditor telah membuat


perhitungan risiko audit untuk suatu asersi tertentu, misalnay asersi penilaian atau
pengalokasian atas persediaan barang jadi: RB = 50% RP = 50% misalakan auditor telah
menetapkan risiko audit (RA) keseluruhan sebesar 5% risiko deteksi dapat ditentukan dengan
menggunakan model untuk RD sebagai berikut:
RD = RA/(RB x RP)
RD = 0,05/ (0,5 x 0,5)
RD = 20%
Apakah ada perbedaan ketika mengaudit perusahaan manufaktur dan jasa?
Menurut SA Seksi 311 [PSA No. 05] tersebut, sifat, saat, dan lingkup perencanaan
bervariasi sesuai dengan faktor-faktor: ukuran dan kerumitan entitas, pengalaman auditor
mengenai entitas, dan pengetahuannya tentang bisnis entitas yang bersangkutan. Oleh karena
itu, pertimbangan risiko audit dan materialitas juga bervariasi dengan faktor-faktor tersebut.
Faktor tertentu yang berkaitan dengan entitas juga mempengaruhi sifat, saat dan lingkup
prosedur audit untuk saldo akun tertentu atau golongan transaksi serta asersi yang
bersangkutan (lihat paragraf 24 sampai dengan paragraf 33).
Berdasarkan SA di atas maka kami menyimpulkan bahwa ketika mengaudit persuhaan
Jasa dan perusahaan manufactur memiliki perbedaan hanya pada sifat, lingkup perencanaan
sesuaian dengan faktor-faktor: ukuran dan kerumitan entitas, pengalaman auditor mengenai
entitas, dan pengetahuannya tentang bisnis entitas yang bersangkutan.sedangkan dalam
metode atau proses penentuan besaran risiko auditnya sama saja. Tidak memiliki perbedaan.
Jawaban 2 (Audit):
Jelaskan kenapa auditor laporan keuangan diharuskan untuk memahami pengendalian
internal perusahaan saat melakukan perencanaan audit? Apakah pengujian
pengendalian juga harus dilakukan untuk semua audit laporan keuangan, Jelaskan!
Pengendalian intern yang digunakan dalam suatu entitas merupakan faktor yang
menentukan keandalan laporan keuangan yang dihasilkan oleh entitas. Oleh karena itu,
sebelum auditor melaksanakan audit secara mendalam atas informasi yang tercantum dalam
laporan keuangan, standar pekerjaan lapangan kedua mengharuskan auditor memahami
pengendalian intern yang berlaku dalam entitas. Hal ini sesuai dengan standar pekerjaan
lapangan kedua berbunyi sebagai berikut;

Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit
dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan.
konsep pengendalian intern sebagai objek yang harus di pahami oleh auditor.
Berdasarkan defini pengendalian intern SA Seksi 319 sebagai berikut;
pertimbangan atas pengendalian intern dalam audit laporan keuangan paragraf 06
mendefinisikan pengendalian intern sebagai suatu proses yang dijalankan oleh dewan
komisaris, manajemen, dan personal lain yang didesain untuk memberikan keyakinan
memadai tentang pencapaian 3 golongan tujuan berikut ini:
1. Keandalan pelaporan keuangan.
2. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku
3. Efektivitas dan efisiensi operasi.
Dari definisi pengendalian tersebut terdapat beberapa konsep dasar berikut ini:
1. Pengendalian intern merupakan proses.
Artinya suatu rangkaian tindakan yang bersifat pervasif dan menjadi bagian tidak
terpisahkan, bukan hanya sebagai tambahan, dari infrastruktur entitas.
2. Pengendalian intern dijalankan oleh orang.
Artinya bukan hanya terdiri dari pedoman kebijakan dan formulir, namun dijalankan
oleh orang dari setiap jenjang organisasi, yang mencakup dewan komisaris, manajemen, dan
personal lain. 3. Pengendalian intern diharapkan mampu memberikan keyakinan memadai,
bukan keyakinan mutlak, bagi manajemen dan dewan komisaris entitas. 4. Pengendalian
intern ditujukan untuk mencapai tujuan yang saling berkaitan;

pelaporan keuangan,

kepatuhan, dan operasi.


Seperti telah disebutkan di atas, tujuan pengendalian intern adalah untuk memberikan
keyakinan memadai dalam pencapaian tiga golongan tujuan. (1) keandalan informasi
keuangan, (2) kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku, (3) efektivitas dan
efisiensi operasi. Oleh karena itu tidak semua tujuan pengendalian intern tersebut relevan
dengan audit atas laporan keuangan, tanggung jawab auditor dalam mematuhi standar
pekerjaan lapangan kedua sebagaimana disajikan di atas, hanya di batasi pada golongan
tujuan pertama keandalan pelaporan keuangan. Oleh karena itu, auditor berkewajiban untuk
memahami pengendalian intern yang ditujukan untuk memberikan keyakinan memadai
bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi berterima
umum di Indonesia.

Jawaban 3 (Audit):
Pada saat melakukan audit atas akun penjualan dan piutang dalam siklus pendapatan,
Anda menilai bahwa risiko salah saji material adalah tinggi. Bagaimana implikasi
peniliaan risiko tersebut terhadap pengujian-pengujian yang akan Anda lakukan?
Jelaskan dan berikan contoh!
Setelah auditor mengetahui jika resiko salah saji tinggi maka auditor harus melakukan
uji analitis terhadap akun penjualan dan piutang
Pengujian dalam akun penjualan
Terdapat tiga jenis salah saji yang mungkin terjadi :
1. Penjualan dimasukan dalam jurnal semenytara pengiriman tidak pernah dilakukan
2. Penjulan dicatat lebih dari satu kali
3. Pengiriman di lakukan kepada pelanggan fiktif dan di catat sebagai penjualan
Dua

jenis

salah

saji

yang

pertama

dapat

di

sebabkan

oleh

kesalahan

dan

kecurangan,sementara jenis ketiga sudah pasti di sebabkan oleh kecurangan.dampak dari


ketiga kecurangan itu sangat besar dapat menyebabkan lebih saji pada laba
Untuk mengetahuinya auditor dapat melakukan pengujian substantif atas transaksi dengan
cara :
1. Auditor memvoucing ayat jurnal tertentu dengan jurnal penjualan ke salinan
pengiriman dan dokumen pendukung lainnya utuk memastikan jika penjualan tersebut
benar benar terjadi
2. Mereview secara numeris daftar transaksi penjualan yang di catat untuk melihat
apakah ada nomor yang sama atau duplikat
3. Auditor menelusuri penjualan kefile induk pelanggan untuk mencari ada tidaknya
pengiriman ke pelanggan fiktif
4. Menelusuri dokumen pengiriman tertentu dari file di departemen pengiriman ke
salinan faktur hal ini diperlukan untuk mengetahui :
a. Ada tidakny transaksi yang di hilangkan(kelengkapan)
b. Adanya pencatatan untuk transaksi yang tidak ada(keterjadian)
5. Auditor melakukan konfirmasi kepada pelanggan terkait mengenai penjualan barang
pengujian dalam akun piutang
untuk melakukan pengujian terhadap pengujian piutang auditor dapat menggunakan
pengujian atas rincian saldo
pengujian dapat di lakukan untuk pengujian atas rincian saldo adalah
1. Melakukan konfirmasi dengan pelangan terkait kebenaran pencatatan saldo
2. Untuk menguji apakah ada piutaang usaha yang tidak di cantumkan dengan cara
memfooting jurnal dan buku besar bila di duga ada dapat di lakukan dengan pengujian
atas transaksi

3. Mengevaluasi klarifikasi utang dengan merevie aden triad balance


4. Memverifikasi transaksi transaksi yang ada di akhir periode untuk mengetahui pisah
batas piutang usaha
Karna resiko salah saji tinggi maka sample yang di ambil harus banyak sebagai
pengevaluasi, penjualan dan piutang merupakan akun yang material karna mempengaruhi
laba perusahaan secara signifikan dengan periode pengambilan sampel harus random dari
awal sampai akhir pencatatan neraca untuk mnghindari adanya kesalah catatan yang tidak
terdeteksi , luas lingkupnya cukup luas karna akan melibatkan klien bahkan harus melibatkan
kreditor
Contoh:
Di asumsikan Jika dalam satu periode audit

PT. Y

terdapat 300 bukti penjualan di

perusahaan selama periode berjalan dari bukti bukti ini karna resiko dinilai tinggi maka
auditor memutuskan mengambil 50 bukti dari awal periode audit dan 50 bukti dari akhir
periode audit .

NAMA MATA KULIAH

: ACCOUNTING SYSTEM INFORMATION

NAMA PERGURUAN TINGGI

: UNIVERSITAS JAMBI

NAMA ANGGOTA

: 1. JANGCIK

2. GILANG RIDHO AKBAR


3. OKTA SADINRI
NO PONSEL (Ketua Tim)

: 087896979720

A. Sebutkan dan jelaskan lima keuntungan akibat adopsi teknologi informasi dan
komunikasi (TIK) terhadap kualitas sistem informasi PT. Tigo-Salma Otomotif.
Keuntungan yang akan di dapatkan oleh PT. Tigo-Salma Otomotf apabila melakukan
sebuah sistem yang terintegrasi yaitu:
1. Eliminasi
Proses-proses seperti pengecekan secara manual terhadap kalkulasi-kalkulasi rumit
yang tidak perlu lagi dilakukan setelah program berbasis spreadsheet dikembangkan
merupakan salah satu contoh dari kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi
informasi. Demikian pula dalam hal proses pembuatan laporan-laporan beragam- baik
yang bersifat periodik maupun ad-hoc yang biasanya memakan waktu berjam-jam
jika harus dikerjakan secara manual, akan dengan sendirinya hilang dengan
diinstalasinya suatu report generator berbasis computer.
2. Penyederhanaan
proses-proses tertentu atau pengurangan rantai proses untuk tujuan pelaksanaan
aktivitas yang lebih cepat dan murah. Kasus klasik yang paling sering dilakukan oleh
perusahaan adalah dengan cara melakukan simplifikasi terhadap formulir-formulir
yang biasa dipergunakan untuk tujuan kontrol internal perusahaan (karena
berdasarkan filosofi lama yang mengatakan bahwa semakin banyak SDM yang
terlibat dalam melakukan kontrol terhadap suatu proses, akan semakin baik karena
memperkecil kemungkinan terjadinya kolusi). Fasilitas komunikasi email dan
workflow yang ditawarkan pada konsep intranet merupakan salah satu alternatif yang
paling efisien dan efektif untuk mempersingkat prosedur pengajuan dan persetujuan
kredit di bank. Terlebih-lebih dengan dilengkapinya teknologi tersebut oleh sistem
keamanan komputer yang canggih
3. Mencegah terjadinya overcommitted atau shortage
Dengan diimplementasikannya jaringan komputer berskala WAN, proses pengecekan
barang di gudang yang biasanya harus melalui prosedur pada bagian logistik dapat
dilakukan pula oleh seorang salesman, sehingga dapat mencegah terjadinya
overcommitted atau shortage terhadap pesanan pelanggan.
4. Informasi yang Terintegraasi

Sebagaimana contoh pada soal, ketika pelanggan membutuhkan informasi atas


ketersediaan barang pada PT. Tigo-Salma Otomotif, maka kariawan dapat
menginformasikan mengenai ada atau tidaknya barang tersebut pada PT. Tigo-Salma
Otomotif secara cepat pada setiap oulet.
5. Paperless
Sitem input tanpa kertas (paperless) sering dsebut sistem online, transaksi direkam
lansung kedalam jaringan computer computer, dan kebutuhan untuk mengetik
dokumen sumber dieliminasi. Sistem tanpa kertas menawarkan otomatisasi yang lebih
tinggi dibandingkan dengan sistem berbasis kertas.

B. Sebutkan dan Jelaskan tiga alternatif pendekatan pemrosesan data secara


elektronik (Electronic Data Processing) yang dapat dilakukan oleh PT. Tigo-Salma
Otomotif!
1. Sistem Pengolahan Data Batch
Pengolahan secara batch (mengumpulkan lebih dahulu) merupakan sistem pengolahan
data transaksi dengan cara mengumpulkan terlebih dahulu data transaksi yang terjadi,
kemudian pada waktu yang telah ditentukan data transaksi tersebut sekaligus diproses,
biasanya sambil merevisi data file master.
2. Sistem Pengolahan Data On-Line
Pengolahan secara on-line (pengolahan langsung) merupakan sistem pengolahan data
transaksi dimana setiap data yang masuk secara langsung satu persatu diolah. Pada
saat yang bersamaan biasanya dilakukan proses untuk mempebaharui file master.
Istilah lain yang digunakan adalah pemrosesan transaksi. Pengolahan on-line
dikembangkan untuk memperoleh informasi yang selalu mutakhir. Sistem pengolahan
data secara on-line meliputi pemrosesan setiap transaksi dan perubahan segera setelah
peristiwa terjadi, perubahan tersebut kemudian langsung di poskan kedalam arsip
yang bersangkutan, yang mengakibatkan terjadinya pemutakhiran atau updating arsip
induk (master file) secara bersamaan. Dengan demikian keadaan data transaksi dalam
arsip induk selalu dalam keadaan mutakhir karena pemrosesan on-line umumnya
melibatkan interaksi langsung antara manusia dan sistem yang berdasarkan komputer
melalui terminal atau bagian lainnya, maka pemrosesan on-line disebut juga sistem
pemrosesan interaktif.
3. Real Time Processing

Adalah mekanisme pengontrolan, perekaman data, pemrosesan yang sangat cepat


sehinga output yang dihasilkan dapat diterima dalam waktu yang relatif sama.
Perbedaan dengan sistem on-line adalah satuan waktu yang digunakan real-time
biasanya seperseratus atau seperseribu detik sedangkan on-line masih dalam skala
detik atau bahkan kadang beberapa menit. Perbedaan lainnya, on-line biasanya hanya
berinteraksi dengan pemakai, sedangkan real-time berinteraksi langsung dengan
pemakai dan lingkungan yang dipetakan.
C. Sebutkan tiga keunggulan dari masing-masing pendekatan tersebut!
1. Kelemahan Sistem Pengolahan Data Batch
Kelemahan dari sistem ini, pemrosesan data yang mesti dilakukanketika semua bukti
transaksi terkumpul, hal ini dapat menyebabkan kecurangan yang terjadi atau
keehilangan data selama masa pengumpulan bukti transaksi.
2. Sistem Pengolahan Data On-Line
Kelemahan pada sistem online terletak pada besarnya biaya pengadopsian,
perencangan, pemeliharaan dan pelatihan sumber daya manusia yang harus
menjalankan sistem tersebut.
3. Real Time Processing

D. Tentukan alternatif pendekatan pemrosesan mana yang paling tepat bagi PT. TigoSalma Otomotif agar dapat memenuhi beberapa tujuan yang disebutkan pada
kasus di atas!
Alternatif yang baik digunakan untuk tujuan PT. Tigo-Salma Otomotif agar dapat
memenuhi tujuan dari perusahaan tersebut yaitu menggunakan sistem Real Time
Processing.

E. Berikan tiga alasan/penjelasan logis atas pilihan jawaban nomor D tersebut terkait
dengan kesesuaian target tujuan PT. Tigo-Salma Otomotif!
1. Real Time Processing merupakan mekanisme pengontrolan, perekaman data,
pemrosesan yang sangat cepat sehinga output yang dihasilkan dapat diterima dalam

waktu yang relatif sama. Sehingga tujuan dari pada perusahaan berupa ingin
memberikan informasi kepada pelanggan dengan cepat melalui informasi yang
terintegrasi akan terealisasi dengan baik.
2. Pemrosesan real time memberikan perusahaan keuntungan persaingan pada pasar.
Dengan memelihara informasi persediaan, staf penjualan dapat menentukan dengan
cepat bahwa terdapat persediaan di gudang. Informasi yang mutakhir yang disediakan
melalui proses real time akan meningkatkan

kemampuan perusahaan untuk

memaksimalkan kepuasan pelanggan, yang menyebabkan peningkatan penjualan.


3. Pemrosesan real time akan sangat menyederhanakan siklus kas perusahaan. Sistem
real time dengan terminal komputer yang terhubung dengan komputer pusat akan
mengurangi atau malah menghilangkan hambatan-hambatan seperti keterlambatan
beberapa hari antara pengambilan pesanan dan penagihan ke pelanggan.

NAMA MATA KULIAH

: AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

NAMA PERGURUAN TINGGI

: UNIVERSITAS JAMBI

NAMA ANGGOTA

: 1. JANGCIK
2. GILANG RIDHO AKBAR

3. OKTA SADINRI
NO PONSEL (Ketua Tim)

: 087896979720

Jawaban :
Bagaimana anda menjelaskan tentang masih adanya penyimpangan penggunaan dana
publik diberbagai lembaga negara (pusat dan daerah) padahal laporan keuangannya,
misalnya, telah dinyatakan wajar Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) oleh BPK?
WTP adalah singkatan dari Wajar Tanpa Pengecualian, sebuah opini yang dikeluarkan
auditor terhadap laporan keuangan. Sesuai amanat konstitusi dan UU No. 17 Tahun 2003,
audit atas laporan keuangan lembaga negara dilakukan oleh BPK. WTP akan diberikan oleh
BPK kepada suatu lembaga atau kementerian jika transaksi penggunaan anggaran tidak ada
yang mencurigakan. WTP tidak menjamin tidak ada korupsi di lembaga yang memperoleh
opini demikian. Hal ini dikarenakan Pemeriksaan laporan keuangan tidak ditujukan secara
khusus untuk mendeteksi adanya korupsi disamping hal tersebut terdapat berbagai celah
yang memungkinkan terjadi hal demikian misalnya seperti pembahasaan Peneliti Forum
Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Uchok Sky Khadafi, termasuk yang melihat
salah persepsi di masyarakat dan lembaga negara tentang WTP. Penilaian BPK terhadap LHP
kementerian atau lembaga negara hanya menunjukkan pengelolaan, tidak memperlihatkan
penyimpangan. Secara administratif bisa dipertanggungjawabkan, tetapi secara hukum belum
tentu. WTP belum tentu bersih, kata Uchok kepada hukumonline (12 april 2015).
Perbedaan itu sangat mungkin terjadi karena, menurut Uchok, pemeriksaan tidak
dilakukan secara menyeluruh. Meskipun pemeriksa meminta semua dokumen pendukung,
hanya sekitar 26 persen yang diverifikasi tim pemeriksa. Inilah celah yang menurut Uchok
membuat opini WTP bisa berbanding terbalik dengan korupsi dan penyimpangan. Banyak
kasus yang membuktikan WTP di suatu lembaga bukan jaminan bebas korupsi.
Berdasarkan uraian diatas bisa dilihat hubungan antara opini audit dengan
penyelewengan anggaran bisa saja berbanding terbalik seperti beberapa contoh yang telah
diuraikan diatas. Selain contoh diatas masih banyak lagi celah yang memungkinkan adanya
hubungan yang saling bertolak belakang antara opini laporan keuangan pemerintah dengan

penyelewengan atau penyalahgunaan anggaran seperti kerjasama antara tim pengaudit atau
pemeriksa laporan keuangan dengan lembaga negara seperti kasus dua orang auditor BPK
perwakilan Jawa Barat yang divonis masing-masing empat tahun penjara karena menerima
suap ratusan juta dari pejabat Pemko Bekasi. Uang suap itu diberikan agar Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah (LKPD) Bekasi memuat WTP.
Permasalahan opini BPK terhadap Pemda bukanlah hal yang utama, tetapi dampaknya
terhadap persoalan lainnya antara lain : kepercayaan yang pudar pada masyarakat terhadap
audit ekternal dari pemerintah sehingga muncullah wacana penggunaan audit ekternal dari
pihak swasta.
Apakah BPK dapat mempertahankan statusnya yang independen, dapat bekerjasama
dalam melaksanakan tugas pemerintahan, kerjasama yang dimaksud saling menghargai status
masing-masing, tugas dan fungsi masing-masing, hal yang memungkinkan untuk pembinaan.
Dari temuan kasus korupsi dengan opini BPK di atas, beberapa hal menjadi bahan pertanyaan
atau yang mungkin menjadi permasalahan antara lain :
1. Apakah ada hubungan opini BPK dengan temuan kasus keuangan Pemda
2. Apakah ada hubungan opini BPK dengan temuan dan sistem pengelolaan keuangan.
3. Apakah ada hubungan opini WTP BPK dengan Kasus Korupsi sistem pengelolaan
keuangan atau dapat menjamin baiknya sistem pengelolaan keuangan yang pada
gilirannya akan dapat menghindari atau meminimalkan penyalahgunaan anggaran (kasus
korupsi).
Dari temuan kasus dan opini BPK pada pemerintah daerah di Indonesia sebagaimana
tersebut di atas dapat diketahui 2 (dua) persoalan yang berbeda antara lain temuan kasus
dari hasil pemeriksaan dan opini setelah memeriksa menemukan kasus atau tidak adanya
kasus, jadi sulit untuk menghubungkan kedua persoalan dan mungkin juga kedua hal ini
adalah hal yang sama atau memiliki hubungan sebab akibat. Untuk dapat menganalisa
lebih lanjut hal tersebut, lihatlah suatu telaah berikut ini:
1. Pernyataan Ketua BPK dengan ditemukan berbagai kasus keuangan di berbagai
pemerintah daerah ternyata kasus keuangan di Indonesia masih sangat tinggi.

2. Pernyataan Ketua BPK bahwa dari hasil pemeriksaan laporan keuangan pemerintah
daerah (LKPD) adanya perbaikan sistem pengelolaan dan tanggung jawab keuangan
daerah khususnya dalam pencatatan dan pelaporan keuangan daerah oleh pemerintah
daerah karena kenaikan proporsi opini WTP dibanding tahun sebelumnya.
Bila dicermati pernyataan 1 dan 2 di atas sepertinya terpisah karena di satu sisi kasus
keuangan masih tinggi namun pada sisi yang lain dinyatakan adanya perbaikan sistem
pengelolaan keuangan tetapi menurut hemat kami pernyataan tersebut sama-sama adanya titik
lemah pada beberapa pengelolaan keuangan pemerintah daerah di Indonesia. Hanya saja
kelemahannya semakin berkurang dari tahun sebelumnya. Selanjutnya kenapa penjelasannya
berbeda karena adanya temuan sudah berarti ada kasus sedangkan pembentukan opini belum
tentu didasari hanya pada ada kasus tidak tertutup kemungkinan opini BPK juga terbentuk
karena tidak memiliki kasus. Pada bagian lain pertanyaan apakah ada hubungan antara
temuan kasus dengan opini BPK, jawabannya ada karena objeknya adalah sama. Hubungan
antara temuan kasus dengan opini dari data yang ada sulit dipahami namun dari penjelasan
diketahui temuan kasus mempengaruhi opini. Sebenarnya apa yang telah terjadi pada sistem
pengelolaan keuangan pemerintah daerah di Indonesia, belum sepenuhnya berjalan sesuai
dengan yang diharapkan (sesuai aturan). Hasil pemeriksaan BPK telah membuktikan temuan
kasus tentunya mempengaruhi pengelolaan keuangan pemerintah daerah di Indonesia yang
berlangsung kurang baik.
Kalau dihubungkan opini WTP dengan pengelolaan keuangan mestinya mempunyai
hubungan, karena Pernyataan profesional BPK selaku auditor atas kewajaran informasi
keuangan yang disajikan dalam Laporan Keuangan didasarkan pada kriteria : (Modul Teknik
Pengelolaan Keuangan Negara LAN-RI tahun 2012) a) Kesesuaian dengan Standar Akuntansi
Pemerintah; b) Pengungkapan yang memadai; c) Kepatuhan terhadap ketentuan perundangundangan; d) Efektivitas Sistem Pengendalian Intern (SPI); Bila dipenuhi kreteria penilaian
kewajaran dalam pemeriksaan berarti sistem pengelolaan keuangan berpeluang akan baik
yang memenuhi kesesuaian standar akuntansi pemerintah yang saat ini dengan basis akrual,
pengungkapan yang memadai, kepatuhan dan pengendalian internal, namun faktanya bahwa
banyak daerah berusaha memperoleh opini WTP sehingga berita yang berkembang di
berbagai media, masyarakat bertanya-tanya terhadap hasil audit WTP BPK pada beberapa
pemerintah daerah, keyakinan terhadap hasil audit diragukan karena tidak sedikit pemerintah
daerah yang telah memperoleh opini WTP LKPDnya, dijumpai kasus-kasus korupsi pada
daerahnya. Factor yang sangat berpengaruh dalam pelaksanaan pemerintahan adalah manusia

sebagai pelaksana, baik atau buruknya pelaksanaannya. Manusia merupakan faktor yang
paling esensial dalam penyelenggaraan pemerintahan, baik sebagai pelaku maupun penggerak
proses mekanisme dalam sistem pemerintahan. Supaya mekanisme pemerintahan dapat
berjalan dengan baik sesuai dengan tujuan yang diharapkan, maka individu harus baik pula
dalam pelaksanaan. Mekanisme pemerintahan, baik di tingkat pusat maupun daerah hanya
dapat berjalan dengan baik dan dapat mencapai tujuan seperti yang diinginkan apabila
manusia sebagai subyek sudah baik pula. Hal ini akan berkaitan dengan perilaku individu dan
budaya yang tercermin dalam instansi yang bersangkutan. Perilaku individu akan
berhubungan dengan kepribadiannya, seperti kejujuran, konsistensi dengan nilai-nilai serta
sumpah jabatan ketika karyawan tersebut akan mengemban sebuah amanat yang sangat
penting. Budaya akan berhubungan dengan nilai-nilai kelompok yang diyakini dan sejak lama
diwariskan oleh pendahulu. Ketika penilaian bersifat menyimpang dari yang seharusnya,
apakah budaya akan mentoleransinya, ataukah menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar.
Pembiaran yang dilakukan oleh pemimpin akan menjadikan hal tersebut menjadi budaya
yang diyakini benar dan akan selalu diwariskan kepada penerusnya kelak. Ketika korupsi
masih sering dan selalu terjadi, maka sudah bisa dipastikan bahwa pengelolaan keuangan
yang salah dilakukan atau setidaknya dicontohkan dari kepemimpinan tertentu. System yang
dibentuk manusia tidak salah, namun manusianyalah sebagai eksekutor yang patut
disalahkan. System tidak akan bisa mengambil keputusan, namun manusia yang melakukan.
Perlunya menanamkan nilai kejujuran, integritas terhadap sumber daya manusia yang ada di
lingkungan pemerintahan sangat penting, untuk menjaga agar semua mampu melaksanakan
tugasnya tanpa melakukan penyimpangan yang akan merugikan Negara dan rakyat dan hal
tersebut secara implisit dapat menjelaskan tentang masih adanya penyimpangan penggunaan
dana publik diberbagai lembaga negara (pusat dan daerah) padahal laporan keuangannya,
misalnya, telah dinyatakan wajar Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) oleh BPK?

NAMA MATA KULIAH

: PAJAK

NAMA PERGURUAN TINGGI

: UNIVERSITAS JAMBI

NAMA ANGGOTA

: 1. JANGCIK
2. GILANG RIDHO AKBAR
3. OKTA SADINRI

NO PONSEL (Ketua Tim)

: 087896979720

Jawaban 1 (Pajak):
A. PPH BADAN YANG TERHUTANG
pendapatan bruto
:Rp 10.000.000.000
laba bersih
:Rp 4.800.000.000
PPH TERHUTANG
(0.25-(Rp 0.6M/penghasillan bruto)xlaba bersih)
(0.25-(Rp 600.000.000/ Rp 10.000.000.000)x Rp 4.800.000.000)= Rp 912.000.000
Dividen yang di bagikan 45% dari laba bersih = 45%* Rp 4.800.000.000 = Rp 2.160.000.000
Pph terhutang (dividen * tarif pajak)
(Rp 2.160.000.000*15%)= Rp 324.000.000
Total pph terhutang (Rp 912.000.000+Rp 324.000.000)= Rp 1.236.000.000
B. PPH PASAL 26
Honor Christian sebesar Rp 100.000.000,00
PPH PASAL 26= (Rp 100.000.000*20%) = Rp 20.000.000
C. PPH PASAL 23 DARI DIVIDEN PT ANUGRAH UTAMA DENGAN DUA KONDISI
a. Semua convertible bonds tidak dikonversi ke saham biasa :
convertible bonds senilai US$ 100.000
KURS sesuai keputusan Menteri Keuangan Rp 12.700.
Pph pasal 23 : (100.000*12.700)*15%= Rp 190.500.000
b. 70% dari convertible bonds dikonversi ke saham biasa
30%*100.000
= US$ 30.000
150*70%*1000 = US$ 105.000

Total

US$ 135.000

Pph pasal 23 : (US$ 135.000* Rp 12.700)*15%= Rp 257.175.000


D. PPN DAN PPNBM
Barang
: US$ 5000*Rp 12.700 = Rp 63.500.000
Asuransi
: US$ 500*Rp 12.700 = Rp 6.350.000
Biaya angkut : US$ 800*Rp 12.700 = Rp 10.160.000
*Bea masuk (80% dari cos+7.300.000): (80%*16.510.000)+7.300.000=
*Pajak PPN (63.500.000+6.350.000+10.160.000)*10% =
*PPnBm: (63.500.000+6.350.000+10.160.000)*20%
=
Pajak terhutang

20.508.000
8.001.000
16.002.000
Rp 44.511.000

*Dalam Rupiah
Jawaban 2 (Pajak) Dalam Rupiah:
Identitas perusahaan
Nama
: PT Indo Elektro
Pemilik

: Gilang Ridho Akbar

Tahun berdiri

: 2010

Bidang usaha

: Industri Mesin Kantor, Komputasi dan Akuntansi Bekironik

Cakupan produk
digital (MRI),

: FlashDisk, MP3, MP4, Mpeg/Digital Player, peralatan kedokteran


printer jenis laser jet dan desk jet

Daerah

: Sulawesi Utara

Jumlah tenaga kerja : 310 orang


Jumlah investasi/penanaman modal

: 120 000 000 000

Bentuk-bentuk aktiva tetap


:
Tanggal perolehan
tanah
2 maret 2012
Bagunan permanen
1 januari 2013
Mesin
19 maret 2014

Harga beli
600000000
400000000
200000000

Nilai residu
100000000
50000000

Pajak penghasilan terutang pada tahun pertama


Jumlah seluruh pengahasilan bruto
Biayabiaya:

800 000 000

-gaji

55.000.000

-tunjangan transport karyawan

4.500.000

-biaya makan kantor

6.000.000

-pengobatan ditanggung perusahaan

20.000.000

-training karyawan

15.000.000

-seragam pegawai

12.000.000

-biaya pengangkutan

5.000.000

-biaya bunga pinjaman

7.800.000

-cadangan penghapusan piutang

6.000.000

-biaya listrik dan telpon

35.000.000

-Pbb dan bea matrai

4.000.000

-Depresiasi asset tetap

40.000.000

-Premi asuransi kebakaran

10.000.000

Total beban usaha

220.300.000

Jumlah penghasilan neto komersial

579.700.000

koreksi fiskal
ditambah:
pengobatan ditanggung perusahaan
cadangan penghapusan piutang
total
dikurang:

20.000.000
6.000.000
26.000.000

Depresiasi (*58.125.000- 40.000.000)

18.125.000

total koreksi fiscal

7.875.000

Depresiasi bangunan permanen : (400.000.000-100.000.000)*10%


Depresiasi mesin (kelompok 2)

= 30.000.000

: (200.000.000-50.000.000)*25%*9/12 = 28.125.000
*58.125.000

Penghasilan neto fiscal

587.575.000

Pengahasilan neto setelah pengurangan penghasilan neto


(587.575.000*5%) =
Penghasilan kena pajak
Pph terhutang
**(25%*558.196.250)

29.378.750
558.196.250
**139.549.062.5

NAMA MATA KULIAH

: AKUNTANSI KEUANGAN LANJUTAN

NAMA PERGURUAN TINGGI

: UNIVERSITAS JAMBI

NAMA ANGGOTA

: 1. JANGCIK
2. GILANG RIDHO AKBAR
3. OKTA SADINRI

NO PONSEL (Ketua Tim)

: 087896979720

Daftar Pustaka
Indrajit, Richardus Eko. Manajemen Sistem Informasi Dan Teknologi Informasi. Kumpulan
Artikel Stemik Perbanas Renaisan Center.
Setyobudi, Yayon Wahyu. 2006. Pemodelan Penilaian Risiko (Risk Assessment) Dalam
Perencanaan Audit Umum Pada Divisi Audit Intern (Studi Kasus Pada Pt Bank Abc
Kantor Cabang Jakarta). Program Studi Magister Sains Akuntansi

Program

Pascasarjana Universitas Diponegoro. Tesis tidak diterbitkan.


Www.Direktoratjendralpajak.com (diakses 12 april 2015, 16:23)
https://pungkasanugrahutami.wordpress.com (diakses 12 April 2015, 16:23)
Agoes, Sukrisno. 2012. Akuntansi Perpajakan Edisi 3. Salemba Empat
http://beritati.blogspot.com (diakses 12 april 2015, 18.07)
Institut Akuntan Publik Indonesia. 2013. Standar Propesi Akuntan Publik. Salemba Empat.
Beams, A Floyd. Dkk. 2012. Advance Accounting edisi 9 jilid 1&2. Erlangga
http://pasca.unand.ac.id/id/wp-content/uploads/2011/09/ANALISA-PENGUNGKAPANLAPORAN-KEUANGAN-OPINI-WAJAR-TANPA-PENGECUALIAN.pdf
Effendy, Yuswar. 2013. Tinjauan Hubungan Opini WTP BPK dengan Kasus Korupsi Pada
PEMDA di Indonesia Kajian Manajemen Keuangan Pemerintah, Hubungan Antara
Masyarakat, Pemerintah dan Pemeriksa (Auditor). JURNAL MANAJEMEN &
BISNIS VOL 13 NO. 01 APRIL 2013 ISSN 1693-7619

http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5018b694aa3f8/awas--sesat-pikir-tentang-wajartanpa-pengecualian