Mei - Juni 2016

SUKSESKAN MUNAS GPFI XV / 2016

PMMC

TRANS HOTEL, 23 - 25 OKTOBER 2016, BANDUNG - JAWA BARAT

Edisi Mei - Juni 2016

News

www.pmmc.or.id

media komunikasi penjual & pembeli farmasi

Kenali Bahaya Narkoba pada Remaja

Actavis Indonesia, BNN, RSKO dan
Yayasan Puteri Indonesia
Pengobatan Gratis & Mengedukasi Penyalahgunaan Narkoba

PT. Actavis Indonesia sebagai
perusahaan farmasi global yang
terintegrasi, berfokus kepada
pengembangan, pembuatan, dan
pendistribusian produk obatobatan generik. Actavis Indonesia
memiliki komitmen penuh untuk
meningkatkan kualitas hidup
masyarakat di Indonesia.
Salah satu bentuk kepedulian
diwujudkan dalam kolaborasi antara
Actavis Indonesia, Badan Narkotika
Nasional (BNN), dan Rumah Sakit
Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta
Pharma Materials Management Club

untuk meningkatkan kesadaran dan
pengetahuan masyarakat mengenai
penyalahgunaan narkoba. BNN (2015)
mencatat bahwa kerugian biaya ekonomi
dan sosial (eksos) akibat penyalahgunaan
narkoba akan meningkat pada tahun
2020.
Jumlah korban penyalahguna narkoba
di Indonesia mencapai 4,1 juta penduduk
atau sebesar 2,25% dari total seluruh
penduduk Indonesia. Terdapat tiga
skenario terhadap proyeksi perhitungan
penyalahguna narkoba, yaitu skenario
naik, skenario stabil, dan skenario turun.
Berdasarkan skenario naik, jumlah

penyalahguna narkoba pada tahun 2020
diperkirakan meningkat hingga lima juta
orang. Apabila berdasarkan skenario
turun, jumlah penyalahguna narkoba
diproyeksikan berkurang menjad 3,7 juta
orang.
Data yang sama menunjukkan
korban penyalahguna coba pakai
memiliki proporsi terbesar, terutama
dari kelompok pelajar dan mahasiswa.
Sementara itu, kontribusi jumlah korban
penyalahguna terbesar berasal dari
kelompok kerja, disebabkan kemampuan
finansial dan tekanan kerja yang besar
sehingga tingkat stress tinggi.
PMMCNEWS I

1

Mei - Juni 2016

Selain berpotensi menularkan penyakit,
jumlah kematian akibat narkoba turut
diprediksi akan meningkat. Data jurnal
BNN mencatat terdapat 2,8% angka
kematian pada tahun 2015 yang
disebabkan penyalahgunaan narkoba.
Angka kematian sebanyak 104.000 jiwa
tercatat terjadi pada usia 15 tahun.
Kasubdit Pendidikan Masyarakat BNN,
Drs. Dik Dik Kusnadi, “Penyalahguna
narkoba hanya berakhir di tiga tempat,
yakni rumah sakit, penjara dan kuburan,”
“Kami juga ingin mengingatkan,
penyebaran HIV/AIDS tertinggi adalah
melalui penggunaan jarum suntik.
Sehingga bagi generasi muda, hindari dan
tolak narkoba jenis apapun, melalui cara
apa saja.” tegas Drs. Dik Dik Kusnadi
Biaya kerugian eksos diperlukan sebagai
dasar perhitungan estimasi pengeluaran

2

I PMMCNEWS

pemerintah dalam menangani
penyalahgunaan narkoba. Biaya kerugian
eksos akibat penyalahgunaan narkoba
diperkirakan mengalami peningkatan
dari Rp 63,1 triliun menjadi Rp 143,8
triliun pada tahun 2020. Sebesar Rp 56,1
triliun merupakan biaya kerugian yang
dikeluarkan secara pribadi dan Rp 6,9
triliun merupakan kerugian biaya sosial.
Sebanyak 76% pengeluaran pribadi
digunakan untuk konsumsi narkoba.
Sedangkan pada biaya sosial, sebanyak
78% pengeluaran digunakan untuk
menutupi kerugian akibat kematian
karena narkoba.
Menurut dr. Mona Tri Rizky dari Rumah
Sakit Ketergantungan Obat (RSKO)
Cibubur, “Efek penggunaan narkoba
bersifat sangat merusak. Penyalahgunaan
narkoba menyebabkan kerusakan vena,

pembuluh darah balik, komplikasi paru,
abses, bahkan penyakit hati. Tidak
ada obat yang dapat menyembuhkan
ketergantungan narkoba. Hanya motivasi
diri untuk mau berhenti berubah yang
menjadi kunci kesembuhan,”.
Dalam rangka meningkatkan kesadaran
terkait penyalahgunaan narkoba, BNN
turut memperkenalkan tujuh langkah
pencegahan penyalahgunaan narkoba.
Tujuh langkah tersebut antara lain
melalui:
1. Penanaman hidup sehat anak usia
dini
2. Pemahaman akan adanya racun di
sekeliling kita
3. Memberikan informasi yang akurat
dan jelas
4. Menggalakkan kerja sama dengan

Pharma Materials Management Club

Mei - Juni 2016

instansi pendidikan (sekolah atau
universitas)
5. Tanggap lingkungan
6. Melakukan kerja sama dengan
organisasi di lingkungan rumah
7. Membangun hubungan
interpersonal yang baik
Dalam membangun kesadaran yang
lebih mendalam, Yayasan Puteri Indonesia
turut mendorong semangat anak
muda dan remaja untuk berpartisipasi
dalam program Pemberantasan
Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap
Narkoba (P4GN). Gerakan ini diharapkan
dapat menginspirasi generasi muda
untuk menjadikan gaya hidup sehat dan
bebas narkoba sebagai sebuah tren.
“Remaja dan anak muda merupakan
generasi yang akan menciptakan

Pharma Materials Management Club

perubahan untuk dunia yang lebih baik.
Itu merupakan alasan bahwa kehidupan
yang sehat, kreatif, dan berprestasi
sangatlah penting,” ucap Puteri Indonesia
Pariwisata 2016, Intan Aletrino.
Pencegahan penyalahgunaan
narkoba juga merupakan kewajiban
dari berbagai pemangku kepentingan.
Untuk menciptakan kualitas kesehatan
masyarakat yang lebih baik, kerja sama
antara swasta dan pemerintah (publicprivate partnerships, PPP) merupakan
salah satu solusi.

sejak dini. Besar harapan kami melalui
kegiatan ini, kami dapat berkontribusi
meningkatkan kesadaran terhadap
pentingnya hidup sehat, serta jauh dari
konsumsi narkoba yang menyimpang.
Selain itu, kami juga turut mengadakan
sesi konsultasi dan pemeriksaan
kesehatan gratis bagi masyarakat yang
berdomisili di sekitar perusahaan
kami,” ujar Presiden Direktur PT Actavis
Indonesia, Parulian Simandjuntak,
menutup sesi temu media.

“Sebagai wujud komitmen Actavis
Indonesia kepada masyarakat, kami
bersama BNN dan RSKO mengadakan
edukasi bagi masyarakat dan rekan media
guna mendukung BNN dan RSKO dalam
meningkatkan kesadaran pentingnya
pencegahan penyalahgunaan narkoba

PMMCNEWS I

3

Mei - Juni 2016

Kiara Koneng

Jadi Target Baksos PMMC
Untuk kesekian kalinya
PMMC kembali menggelar
kegiatan bakti sosial.
Kegiatan ini merupakan
“Paket Kebijakan” yang
menjadi program rutin
organisasi para insan
farmasi ini. Program bakti
sosial juga menjadi salah
satu bukti kepedulian
PMMC terhadap lingkungan
masyarakat sekitar,
khususnya bagi mereka yang
kurang beruntung.
Tanggal 3 Juni lalu, rombongan
anggota PMMC bertolak menuju Desa
Kiara Koneng, Sukabumi, Jawa Barat.
Rombongan menggunakan mobil secara
konvoi. Tak seperti biasanya, perjalanan
menuju lokasi kali ini cukup melelahkan.
Jika biasanyanya hanya ditempuh dalam
waktu sekitar 4 jam, kali ini butuh waktu
hingga 6 jam lebih.
Kemacetan dan banyaknya perbaikan
jalan raya di sepanjang perjalanan
menjadi kendala. Meski demikian, toh
semangat rombongan tetap terjaga.
4

I PMMCNEWS

Esok harinya (4 Juni), usai sarapan,
para “aktivis” PMMC memulai kegiatan
bakti sosial. Kali ini ada dua lokasi yang
menjadi target bantuan PMMC, yakni
puluhan murid Sekolah Dasar (SD)
Negeri Kiara Koneng dan anak-anak di
Kampung Nelayan Pelabuhan Ratu.
Keceraiaan anak-anak begitu
terpancar saat menerima bantuan
berupa paket peralatan sekolah (buku,
tas, dan lainnya). Tak lupa, PMMC juga
memberikan bantuan spesial kepada
para guru di sekolah ini.
Tahun Ajaran Baru
Ketua Umum PMMC Kendrariadi
Suhanda mengatakan, bakti sosial kali
ini merupakan bentuk kepedulian dari
PMMC. Sebelumnya, organisasi ini juga
sudah melakukan kegiatan serupa di
berbagai daerah.
Kali ini, kebetulan menjelang Bulan
Ramadhan dan Lebaran juga bersamaan
dengan menjelang Tahun Ajaran Baru
bagi anak-anak sekolah. Maka itu,
bantuan yang cocok untuk diberikan
adalah peralatan sekolah. “Peralatan
ini diharapkan bisa membantu mereka
di saat mereka masuk ke sekolah pada
tahun ajaran baru tahun ini,” ujar
Kendrariadi.
Ia berharap, kegiatan bakti sosial

macam ini bisa ditiru oleh para pelaku
industri farmasi lainnya. Sehingga, beban
berat yang dihadapi oleh masyarakat
kurang mampu di berbagai daerah dapat
terkurangi.
Kardiana, Kepala Sekolah SDN
Kiara Koneng, Sukabumi, Jawa
Barat, menyambut baik batuan yang
diberikan PMMC untuk para siswanya.
“Alhamdulillah, kami sangat terbantu
mengingat di sini masyarakatnya
sebagian besar masih bekerja di
perkebunan. Sekitar 60 persen taraf
ekonominya masih di bawah. Bantuan
PMMC ini cukup membantu para anak
didik kami,” ujarnya.
Menurutnya, selama ini sekolah juga
mendapat bantuan dari pemerntah.
Program bantuan biasanya dalam bentuk
paket peralatan sekolah, seperti tas
sekolah, pakaian dan lainnya. “Bantuan
dari pemerintah tersebut, bukan berasal
dari anggaran atau dana BOS (Bantuan
Operasional Sekolah),” katanya. (Abdul
Kholis)

Pharma Materials Management Club

Mei - Juni 2016

Antisipasi Libur Lebaran

dengan Stok yang
Banyak

Banyak cara yang dilakukan oleh industri farmasi untuk
mengantisipasi hari libur menjelang dan sesudah
Lebaran Idul Fitri tahun ini. Salah satunya adalah dengan
meningkatkan kapasitas produksi sebelum Bulan
Ramadhan tiba.
Seperti biasanya, di Bulan
Ramadhan banyak hari-hari kerja
yang dikurangi porsi jam kerjanya dan
ada hari-hari libur saat jelang dan
sesudah Lebaran Idul Fitri.
Menurut Ketua Umum PMMC
Kendrariadi Suhanda, PMMC selalu
memberikan informasi kepada pelaku
industri farmasi, agar mereka juga
bersiap-siap untuk merecanakan
produksi, jauh sebelum Bulan
Ramadhan tiba. Sehingga kesiapan
bahan baku, kemasan obat juga bisa
disiapkan lebih awal.
Kendrariadi mengatakan, pada
saat Bulan Ramadhan, biasanya,
distribusi juga akan terkendala karena
satu minggu sebelum dan sesudah
Lebaran akan berkurang aktivitasnya.
“Maka itu, bagi para industri
farmasi atau yang menjual obat di
lapangan diharapkan bisa menyiapkan
stok produk obat-obatan lebih
banyak, sebelum Bulan Ramdhan.
Pharma Materials Management Club

Dengan demikian, di saat produksi
sedang tidak berlangsung karena libur
Lebaran, stok obat masih tersedia,”
jelasnya.
Dukung Pemerintah
Sebagai organisasi yang aktif
menjalankan beragam kegiatan,
PMMC juga aktif mengedukasi
publik dan memberikan masukan
positif kepada para pelaku industri
farmasi. Salah satunya adalah terkait
dengan dukungan PMMC terhadap
Pemerintah dalam hal Program JKN
(Jaminan Kesehatan Nasional).
Seperti diketahui, obat-obat JKN
jauh lebih murah dibanding dengan
obat-obatan yang di pasaran.
Sementara industri farmasi harus
tetap mendapatkan keuntungan
dalam bisnisnya.
Kendrariadi menjelaskan, dalam
PMMC ada Divisi Bahan Baku Obat.
Divisi ini akan menghimbau kepada

seluruh perusahaan bahan baku obat
untuk selalu berusaha menyediakan
bahan baku obat dalam kualitas
yang baik dan harga yang reasonable
atau terjangkau. Sehingga, jika obat
tersebut diproduksi dengan baik dan
benar (CPOB, Cara Pembuatan Obat
yang Baik), maka obat tersebut akan
memiliki khasiat yang sama dengan
obat-obat lainnya.
“Itu yang saya harpakan kepada
seluruh industri farmasi. Dan,
masyarakat juga percaya bahwa
obat-obatan yang diproduksi untuk
program Pemerintah ini juga memiliki
kualitas yang baik,” pungkasnya.
(Abdul Kholis)

PMMCNEWS I

5

Mei - Juni 2016

perlunya hulu

industri farmasi dikembangkan

Anniversary
ke
25
PT. Dian Cipta Perkasa
Dalam acara Anniversary ke 25 tahun PT. Dian Cipta Perkasa, menurut Rudy, ada dua alasan
pentingnya regenerasi dalam bisnisnya. Pertama, bisnis butuh kesinambungan, dia tidak ingin
bisnisnya hanya bertahan satu generasi saja. Dan kedua, bisnis yang dia jalani selama 25 tahun
tersebut, ke depan masih memiliki peluang yang menjanjikan di bisnis bahan baku.
Merupakan sesuatu yang pelik
dalam merencanakan sesuatu yang
bisa menjadi sukses. Tak jarang pendiri
perusahaan enggan untuk melakukannya.
Keengganan tersebut bisa saja karena
kekhawatiran akan matinya perusahaan
atau hal lainnya.
Anniversary ke 25 tahun dihadiri para
pebisnis bahan baku dan konsumennya.
Acara tersebut dipersiapkan enam bulan
oleh karyawan PT. Dian Cipta Perkasa.
Mengawali sesi pertama acara
anniversary ke 25 tahun, dimulai dengan
kebaktian sebagai pembuka acara, untuk
memberikan rasa syukur kepada Tuhan
Yang Maha Esa yang selama ini selalu
memberikan berkat yang berlimpah
kepada PT. Dian Cipta Perkasa.
Dalam usia yang ke 25 tahun, dibangun
dengan dasar bisnis keluarga, proses
menuju sukses biasanya tak mengalami
masalah Menurut, Presiden Direktur
PT Dian Cipta Perkasa, Rudy Ismanto,
6

I PMMCNEWS

“Karena dalam bisnis keluarga, biasanya
pemilik bisnis sudah mempersiapkan
penerusnya jauh-jauh hari,” di sela
wawancara hari jadi ke 25 tahun di
kantornya.
Pendiri perusahaan yang bergerak di
bidang perdagangan bahan baku farmasi,
makanan & minuman, pakan ternak,
dan kimia melepaskan sebagian kendali
bisnisnya kepada anak-anaknya. “Karena
itu, sejak lima tahun lalu saya mengajak
anak-anak saya untuk mencintai bisnis
ini,” tuturnya.
Menurut beliau, dalam persaingan
bisnis bahan baku jangan menjadikan
perusahaan lain itu lawan, justru kita
gandeng mereka untuk menjadi teman
yang bisa melengkapi bisnis kita. "Seperti
yang hadir di ruangan ini pak Didik yang
berasal dari PT. Eka Cipta, saya anggap
sebagai teman bisnis PT. Dian Cipta
Perkasa, karena beliau selalu mensupport
bisnis kami." tutur Rudy Ismanto.

Dan masa peralihan kepemimpinan
PT. Dian Cipta Perkasa berjalan sesuai
harapan, dan persiapan sejak awal selalu
melibatkan anaknya dalam bisnis.
Kami selalu mensyukuri apa yang telah
kami dapat, selama perkembangan PT.
Dian Cipta Perkasa sampai saat ini sudah
berusia 25 tahun. Dan ini semua berkat
dari Tuhan Yang Maha Esa.

Pharma Materials Management Club

Mei - Juni 2016

Pharma Materials Management Club

PMMCNEWS I

7

Mei
Liputan
- JuniPengobatan
2016
Gratis

Pengobatan Gratis dan Seminar Anti Narkoba
PT. Actavis Indonesia - Jakarta, 24 Mei 2016

8
8

PMMCNEWS
II PMMCNEWS

Pharma Materials
Materials Management
Management Club
Club
Pharma

Liputan Seminar Anti Narkoba

Pengobatan Gratis dan Seminar Anti Narkoba
PT. Actavis Indonesia - Jakarta, 24 Mei 2016

Pharma Materials Management Club

PMMCNEWS I

9

Liputan Baksos Kiara Koneng

Baksos SD Kiara Koneng - Palabuhanratu
Sukabumi Jawa Barat, 4 Juni 2016

10

I PMMCNEWS

Pharma Materials Management Club

Liputan ISPE Annual
Mei
Conference
- Juni 2016

2016 ISPE Indonesia - Annual Conference
Jakarta, 10 - 11 Mei 2016

Pharma Materials
Materials Management
Management Club
Club
Pharma

PMMCNEWS I I
PMMCNEWS

11
11

Mei - Juni 2016

SEKALI LAGI IHWAL JAMU
DI MATA MEDIS

Beberapa postingan saya
ihwal pengobatan alternatif
beberapa waktu lalu barangkali
mengundang kesan keliru kalau
dunia medis bersikap anti, atau
tidak menerima bukan obat
dokter atau yang kita kenal
sebagai herbal.

Perlu saya ulangi kembali, bahwa
sesungguhnyalah dunia medis menerima
herbal sebagai bagian dari yang
oleh WHO dikelompokkan sebagai
complementary alternative medicine,
dengan sejumlah catatan.
Herbal sendiri terdiri dari tiga kelas
yakni jamu, obat herbal terstandard,
dan fitofarmaka. Ibarat kepompong,
ulat, dan kupu-kupu, demikian halnya
metamorfosis ketiga kelas herbal
yang kita sedang bicarakan ini kita
kelompokkan.
Jamu sendiri merupakan bahan
berkhasiat yang diwariskan secara
turun-temurun, menempuh sedikitnya
tiga generasi atau sekitar 180 tahun,
yang secara empiris sudah teruji. Namun
belum teruji secara ilmiah (evidance
based) apakah bahan berkhasiatnya,
selain uji lainnya yang diperlukan untuk
menjadikannya sebagai obat.

Jadi jamu belum berstatus, dan
tidak berperan sebagai obat. Kita tahu,
dalam bahan jamu yang berupa racikan
aneka ragam bahan alami, akar, daun,
biji, buah, yang kita sebut simplicia,
tentu terkandung pula zat-zat alami
lain, selain zat berkhasiatnya sendiri.
Ada bahan alkaloida beraneka ragam
di dalam bahan kasar, yang mungkin
tidak memberi khasiat di samping zat
berkhasiatnya sendiri. Dalam bawang
putih, misalnya, ada bahan berkhasiat
selain ada zat lain seperti juga dalam
jahe, atau temulawak. Bisa jadi zat
lain yang ada terkandung bersama zat
berkhasiatnya bersifat mengganggu
organ tubuh (efek toksik).
Efek mengganggu lambung pada zat
lain yang terkandung dalam bawang
putih, selain efek bau, karena masih
berupa bahan kasar (raw material).
Namun karena sudah dikonsumsi

Kunjungan ke IPHEX16

Mumbai, INDIA 27-29 April 2016.
Kerjasama PHARMEXCIL
(Pharmaceuticals Export Promotion
Council Of India) dengan GPFI (Gabungan
Perusahaan Farmasi Indonesia) dan
PMMC (Pharma Materials Management
Club) masih berjalan dengan baik.
PHARMEXCIL di tahun 2016 ini, kembali
mengadakan IPHEX (International
Exhibition for Pharma and Healthcare) di
Mumbai, INDIA pada 27 - 29 April 2016.
Perwakilan dari Indonesia, hadir
- K. Rajasekar, MBA., M. Phil. (Director -
International Business)
PT. SANBE FARMA.
- Dr. Dhaval J. Soneji (Assistant
General Manager - R&D & cGMP
Auditor) PT. SANBE FARMA.
- Liany Suryadi (PT. WARIS).
- Handy Lesmana (Director)
PT. WOLONG SOKO INDONESIA.
- Teddy Saputra (Director)
PT. DIAN LANGGENG MULIA.
- Vincent Harijanto
(mewakili GPFI /PMMC ).
Dorongan dan bantuan yang diberikan
oleh Ministry of Commerce & Industry,
Government of India, memungkinkan
12

I PMMCNEWS

Asosiasi seperti PHARMEXCIL untuk
mengadakan acara yang meriah dengan
mengundang para calon pembeli dari 100
negara.
Kami berharap kementerian terkait
di Indonesia bisa juga meningkatkan
bantuannya kepada Asosiasi.
Disamping Pameran dengan exhibitor
seperti exhibition pada umumnya,
mereka mengadakan acara buyers-sellers
meeting yang menarik dan bermanfaat.
Pertemuan antara undangan/calon
pembeli dari berbagai negara termasuk
Indonesia dengan penjual/sellers/
exporters India yang dilaksanakan di
suatu hall besar, menjadi sangat efektif
untuk memperoleh transaksi langsung.
Acara pembukaan/inauguration show
gala dinner, seminar-seminar membuat
semarak IPHEX-16 India.
Untuk tahun 2017, telah direncanakan
juga pada bulan April 2017, ditempat yg
sama Bombay Exhibition Centre, Mumbai,
INDIA.
Silahkan berkoordinasi dengan GPFI /
PMMC untuk mengunjungi acara tsb. (vh)
Pharma Materials Management Club

Mei - Juni 2016
lama, efek
buruk yang
mungkin ada,
diabaikan,
karena
dianggap
tidak sampai
mematikan.
Kita tahu, ada zat dalam jahe
hutan (liar) yang dicampur
dalam racikan obat Cina,
terbukti bersifat merusak ginjal
(nephrotoxic). Maka atas dasar itulah
semua herbal Cina yang mengandung
jahe liar (aristolochiaceae: berisikan
zat aristolochic dan aristolactam)
seharusnya dilarang dikonsumsi. Selain
merusak ginjal juga bersifat pencetus
kanker (carcinogenic). Di alam juga kita
mengenal ada jamur beracun, selain ada
ikan beracun. Artinya tidak serta-merta
dari alam, pasti aman. Dunia medis
selalu mempertimbangkan bukti ilmiah
berkhasiat, dan apakah juga aman.
Hanya berkhasiat, namun bila terbukti
tidak aman, tidak boleh diterima sebagai
obat.
Kelompok kedua, obat herbal
terstandard (OHT), statusnya sudah
naik kelas, karena sudah menempuh
uji khasiat selain uji praklinik
untuk mengetahui dosis, manfaat
(pharmacodynamic), selain ada tidaknya
zat racun (uji toxicologic), apakah sudah
dilakukan pula uji pada hewan dan
in vitro, namun belum uji klinik pada
manusia.
Kalau pembuatan jamu dilakukan
secara tradisional, dengan takaran
kira-kira (tak eksak terukur), sejumput,
sekian helai, sekian butir, pada OHT
sudah dibuat takaran eksak, dan
memanfaatkan teknologi mesin, dan
barang tentu seturut kaidah medis dan
kebersihan. Sedangkan bahan baku alam
pembuat jamu, dari umbi atau akar,
atau daun, atau biji, bisa saja kurang
bersih, sudah tercemar jamur (kapang),
sehingga jamu belum tentu steril,
selain bahannya berisiko mengandung
aflatoxin. Umbi, atau biji, atau rimpang
dari alam yang tercemar kapang,
bisa menghasilkan racun aflatoxin
yang merusak organ hati. Salah satu
kelemahan jamu, ialah hadirnya racun
bagi hati. Di Indonesia tahun 1970-an
ada penelitian pada masyarakat pemakai
jamu di Palembang yang ternyata
berkorelasi dengan tingginya penyakit
hati, akibat bahan jamu yang sudah
berkapang.
Oleh karena belum menempuh
protokoler pembuatan obat layaknya,
OHT juga belum berstatus, dan
Pharma Materials Management Club

melakukan peran sebagai obat.
Kelompok ketiga dikenal sebagai
fitofarmaka (phytopharmaca), setingkat
di atas kelas OHT, karena selain sudah
menempuh uji ilmiah prakklinik produk
yang tergolong fitofarmaka sudah
menempuh uji klinis juga yang dilakukan
pada manusia. Itu berarti yang tergolong
fitofarmaka sudah berstatus dan
melakukan peran sebagai obat. Namun
kelemahannya dibanding obat, oleh
karena banyak variasi tanaman bahan
berkhasiat, bagaimana ditanam, dari
species yang belum tentu sama sehingga
perlu standarisasi bahan bakunya.
Buah pace (mengkudu) yang
betul paling tinggi kandungan zat
berkhasiatnya berasal dari hutan Tahiti,
bukan ditanam sendiri di pekarangan
rumah, dan harus dari species khusus,
yang dengan memanfaatkan teknologi
tinggi, menemukan kematangan
buah pace tertentu, dengan proses
pemanasan tertentu, sehingga
memperoleh zat berkhasiat berkualitas
tinggi. Maka harga ramuan buah
pace yang berkualitas tidak semurah
dan semudah kita menanam pohon
mengkudu sendiri, karena kita membeli
teknologi. Seperti halnya kita membeli
teknologi untuk bawang putih (garlic)
yang sudah dibuat saripati dalam kapsul,
yang dengan teknologi tinggi membuang
zat lain yang bikin bau selain merusak
lambung. Maka pilihan mengkonsumsi
buah pace yang kita petik di pekarangan,
atau minum bawang putih dari bahan
mentah siungnya, pasti tidak sama
kualitasnya dengan produk yang sudah
menempuh proses, dari bahan baku
yang khusus.
Setiap daerah di Indonesia memiliki
warisan jamu beraneka ragam. Namun
baru sekitar 17 produk yang dapat
digolongkan sebagai OHT, sebut saja
Diapet, Tolak angin, Lelap, Rheumakur,
Diabmeneer, Kiranti. Dan baru sekitar
5 produk yang digolongkan sebagai
fitofarmaka, sebut saja Nodiar,
Tensaigard, Stimuno, Rheumameneer,
X-Gra.
Bumi kita begitu melimpah bahan
berkhasiat. Namun sayang perhatian
pemerintah untuk mengangkat bahan

berkhasiat dalam buah merah, buah
dewa, dan banyak lagi yang bumi kita
miliki, masih belum menggembirakan.
Mengapa? Oleh karena untuk
mengangkat bahan berkhasiat selain
perlu riset yang lama, memakan biaya
puluhan atau ratusan milliar rupiah, tak
ubahnya menemukan suatu obat baru.
Postingan ini ingin mengajak Anda
semua tidak lekas menerima tawaran
di masyarakat, bahwa ada daun ini,
jamur itu, bisa mengobati kanker, atau
menghancurkan batu ginjal, atau bisa
membersihkan lemak pada dinding
pembuluh darah. Kita sudah membaca di
atas, tentu tidak sesederhana itu.
Kalau daun sirsak bisa menyembuhkan
kanker betapa murah dan mudahnya
menemukan obat. Perlu tahu dulu
apakah terbukti ilmiah ada zat
berkhasiat antikanker terkandung
dalam daun sirsak. Kalau sudah
terbukti, berapa dosisnya, bagaimana
efek farmakologiknya dalam tubuh,
adakah efek racunnya, dan seterusnya
sebagaimana sudah diuraikan di atas.
Sikap kita saya pikir, bahwa suatu
herbal barulah kita kejar kalau belum
ada obat dokter yang mampu mengatasi
suatu penyakit. Selama sudah tersedia
obat dokter yang secara ilmiah sudah
teruji dan terbukti, mengapa harus
mencari dan memilih daun, atau akar,
atau biji atau apa yang hanya sekadar
bisa meredakan demam, mengurangi
nyeri, atau mengatasi mual dan itupun
belum sepenuhnya teruji sebagai obat.
Salam sehat,
Dr HANDRAWAN NADESUL

PMMCNEWS I

13

Seluruh Pengurus dan Anggota PMMC

Mengucapkan

Selamat Menunaikan Ibadah
Puasa Ramadhan 1437 Hijriah

hebat itu bukan apa yang kita miliki,
melainkan apa yang kita bisa berikan kepada yang
membutuhkan

Mei - Juni 2016

Pharma Materials Management Club

PMMCNEWS I

15

Related Interests