Anda di halaman 1dari 9

DIALEK REGIONAL BAHASA JAWA

DI KABUPATEN GRESIK JAWA TIMUR

Oleh: Wahyu Lazuardi

A. Pendahuluan
Kabupaten Gresik merupakan salah satu daerah tingkat II di provinsi Jawa Timur.
Secara geografis Gresik terletak di pesisir utara Jawa Timur tepatnya berbatasan dengan
Surabaya dan Selat Madura di sebelah timur, Kabupaten Lamongan di sebelah barat, Laut
Jawa di sebelah utara, serta kabupaten Sidoarjo dan Mojokerto di sebelah selatan. Topografi
daerah Gresik meliputi daerah pesisir, dataran rendah, dan perbukitan kapur.
Bahasa Jawa merupakan bahasa pertama penduduk Jawa yang tinggal di Provinsi
Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarata, Jawa Timur, dll. Di Jawa Timur Wedhawati
(2010) membagi bahasa Jawa dalam dua dialek, yaitu dialek Osing dan dialek Jawa Timur
Non-Osing. Pembagian tersebut sedikit berbeda dengan pembagian yang dilakukan oleh
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2008) bahwa bahasa Jawa yang dituturkan di
Provinsi Jawa Timur terdiri atas empat dialek, yaitu (1) dialek Jawa Timur yang dituturkan di
Surabaya dan sekitarnya, (2) dialek Osing yang dituturkan di Banyuwangi, (3) dialek Tengger
yang dituturkan di daerah Tengger, dan (4) dialek Solo-Yogyakarta. Berdasarkan letak
geografis, wilayah tutur dialek Jawa Timur menyebar dari Surabaya ke arah timur hingga
Jember, ke arah utara sampai Malang, dan ke barat sampai Bojonegoro, termasuk Kabupaten
Gresik.
Dilihat dari faktor sejarah, Gresik merupakan kota bandar ternama yang ada sekitar
abad ke 111. Kota ini telah ramai dikunjungi oleh pedagang-pedagang nusantara maupun luar
negeri seperti Cina, Arab, Champa, Gujarat, Portugis, VOC, dll. Selain itu, Gresik merupakan
pintu masuk Islam pertama di Jawa, hal ini ditandai dengan ditemukan makam Fatimah binti
Maimun dan Maulana Malik Ibrahim. Pada era VOC Afdeeling Gresik terdiri dari Kabupaten
Gresik, Kabupaten Lamongan, dan Kabupaten Sedayu (sekarang Kec. Sedayu). Pada tahun
1934 Kabupaten Gresik dilebur menjadi Kabupaten Surabaya karena perkembangan

1 JAB Wisellius (via Widodo, 2004) melalui tulisannya yang berjudul Historiche Onderwek Naar De Gess
Telijke en Wereldlijke Supremative van Grissee op Midden en Oost Java Gedurende de 16e en 17e, serta Dr. N.
J. Krom (via Widodo, dkk. 2004) dalam bukunya yang berjudul Zaman Hindu menyebutkan bahwa sejak masa
Airlangga, wilayah Gresik sudah memiliki peranan dalam perdagangan lewat laut, di samping Tuban dan
Ujunggaluh (Surabaya).

Surabaya yang cukup pesat. Gresik memisahkan diri dari Surabaya setelah ada Peraturan
Pemerintah No. 38 tahun 1974 (Soetoko, dkk. 1984).
Bahasa Jawa yang digunakan di daerah Gresik (selanjutnya akan disingkat BJG)
memiliki keunikan yang berbeda dengan bahasa Jawa Yogyakarta (selanjutnya disingkat
BJY) yang notabene adalah daerah pusat bahasa Jawa. Bahkan ada yang menyebut bahwa
Gresik memiliki bahasa sendiri yang biasa disebut bahasa Gresikan. Asumsi tersebut menurut
penulis kurang tepat, karena berdasarkan penelitian Nurrohmah (2013) dan Soetoko (1984),
Bahasa Jawa yang digunakan di Kabupaten Gresik merupakan dialek dari Bahasa Jawa.
Adapun contoh kosakata yang digunakan di Kabupaten Gresik, misalnya glos kamu
di

Kecamatan

Gresik

terdapat

beberapa

variasi

kosa

kata,

yaitu

sedangkan di Kecamatan Panceng dikenal istilah


Jika di Kecamatan Dukun kata kamu disebut sedangkan di
Kecamatan Sidayu menyebut dengan kata
Berpijak dari uraian di atas, dapat dilihat bahwa Kabupaten Gresik sangat menarik
untuk dikaji dari segi variasi bahasa berdasarkan letak geografisnya. Menurut Wedhawati
(2010) geografi dialek adalah variasi pemakaian bahasa yang ditentukan oleh perbedaan
wilayah pemakaian. Geografi dialek adalah nama lain dari dialek geografis atau disebut juga
dialek regional (Nadra dan Reniwati, 2009).
Mengacu pada uraian di atas maka disusun makalah yang akan membahas mengenai
variasi bahasa berdasarkan letak geografis yang bertumpu pada analisis fonologi, morfologi,
variasi leksikon, dan tingkat tutur BJG dibandingkan dengan BJY. Bertolak dari latar
belakang penelitian tersebut, makalah penelitian ini diberi judul Dialek Regional Bahasa
Jawa di Kabupaten Gresik Jawa Timur.

B. Fonem Vokal dan Fonem Konsonan dalam BJG


Bunyi fonem vokal BJG pada dasarnya sama dengan BJY, terdapat enam macam
vokal, yaitu [i], [e], [], [a], [o], dan [u]. Kaidah penggunaan keenam fonem vokal tersebut
terdapat persamaan dan perbedaan dengan BJY. Persamaan kaidah fonem vokal antara BJG
dengan BJY menunjukkan bahwa BJG dan BJY merupakan satu bahasa yang sama.
Perbedaan antara BJG dan BJY menunjukkan bahwa keduanya memiliki variasi tersendiri
yang menunjukkan ciri-ciri pada masing-masing tuturan.
Persamaan dan perbedaan penggunaan fonem vokal antara BJG dan BJY dapat
diamati pada tabel berikut ini.
2

Tabel 1. Perbandingan Alofon Fonem Vokal BJG dan BJY


Fonem
Vokal
/a/
/i/
/u/
/e/
/o/
//
//
Berdasarkan tabel perbandingan

BJG

BJY

[a] []
[a] []
[i] [e]
[i] [I]
[u] [o]
[u] [U]
[e] []
[e] []
[o]
[o]
[]
[]
[]
[]
alofon fonem vokal antara BJG dengan BJY di atas,

dapat diketahui bahwa BJG memiliki persamaan dengan BJY. Persamaan tersebut meliputi,
penggunaan fonem /e/ yang direalisasikan menjadi dua variasi bunyi (alofon) vokal [e] dan
[], fonem /a/ direalisasikan menjadi dua variasi bunyi vokal [a] dan [], serta fonem /o/
direalisasikan atas dua variasi bunyi vokal [o] dan [].
Selain persamaan, antara BJG dan BJY juga terdapat perbedaan. Perbedaan tersebut
terlihat pada dua fonem yang berbeda realisasinya, yaitu fonem /i/ dan /u/. Fonem /i/ dalam
BJG memilik dua variasi bunyi [i] dan [e], sedangkan BJY [i] dan [I]. Di samping itu, fonem
/u/ memiliki variasi vokal berupa bunyi [u] dan [o], sedangkan BJY [u] dan [U]. Realisasi
kedua fonem tersebut beserta dengan variasi bunyinya dapat diamati pada contoh berikut.
Tabel 2. Perbandingan Realisasi Fonem /i/ dan /u/ dalam BJG terhadap BJY
Fonem Alofon BJG
/i/
[i]
[iwa] ikan; lauk
[tai] bangun
[ri] duri
[e]
[sekel] kaki
[mole] pulang
[laet] langit
/u/
[u]
[untu] gigi
[turu] tidur
[gulu] leher
[o]
[morop] menyala
[gono] gunung
[spolo] sepuluh
Fonem /i/ akan direalisasikan sebagai bunyi [i]

BJY
[iwa] ikan
[tai] bangun
[ri] duri
[sikIl] kaki
[mulIh] pulang
[laIt] langit
[untu] gigi
[turu] tidur
[gulu] leher
[murUp] menyala
[gunU] gunung
[spulUh] sepuluh
apabila terletak di awal kata atau di

akhir kata suku terbuka, sedangkan bunyi [e] terjadi pada posisi setelah bunyi konsonan atau
pada suku tertutup. Fonem /u/ akan direalisasikan sebagai bunyi [u] apabila dalam satu kata
terdiri atas dua bunyi vokal [u] yang terletak pada suku kata terbuka. Apabila pada suatu kata
terdapat suku kata terbuka pada posisi awal tetapi pada posisi suku akhir tertutup, maka
kedua fonem /u/ tersebut akan direalisasikan sebagai bunyi vokal [o]. Jika pada posisi awal
3

suku kata berupa fonem /u/ tetapi suku kata kedua bukan fonem /u/, fonem /u/ tersebut juga
akan direalisasikan sebagai bunyi vokal [o], seperti pada kata BJY [urIp]>[orep] hidup.
Pada bidang konsonan, antara BJG dengan BJY juga cenderung sama, tetapi
ditemukan bahwa fonem /h/ pada posisi akhir kata tidak pernah muncul dalam BJG.
BJY
[mulIh]

BJG
> [mole]

pulang

[spulUh] > [spolo] sepuluh


[uyUh]

> [oyo]

buang air kecil

[uyah]

> [uya]

garam

[gtIh]

> [gte]

darah

Selain itu ditemukan keunikan pada penggunaan fonem /w/ pada beberapa kata, yaitu
penghilangan fonem /w/ pada awal kata. penghilangan fonem /w/ tersebut bersifat mana suka
(tidak dapat dikaidahkan). Contoh kata yang mengalami penghilangan fonem /w/ dalam BJG
yaitu BJY [wrUh] > BJG [ro], BJY [wetan] > BJG [etan]. Contoh kata yang tidak
mengalami penghilangan fonem /w/ yaitu, [watu], [wdi], [wsi].
Meskipun dalam BJG tidak menggunakan fonem /h/ pada setiap akhir kata dan
penghilangan fonem /w/ di awal kata pada beberapa kata, berbeda dengan BJY, pada
dasarnya perbedaan tersebut hanya perbedaan pelafalan saja tetapi tidak mengubah makna
kata. Dengan kata lain, penghilangan fonem /h/ dan /w/ tersebut hanya sebatas variasi bahasa
Jawa yang dimiliki oleh BJG.

C. Sistem Morfologi dalam BJG


Sistem morfologi yang dimaksud dalam makalah ini adalah sistem pembentukan kata
dalam BJG. Proses pembentukan kata atau proses morfemis adalah proses terbentuknya kata
dari bentuk dasar menjadi bentuk turunan (Wedhawati, 2010). Dalam BJG, sedikitnya ada
sembilan proses pembentukan kata, yaitu (1) afiksasi (pembubuhan afiks), (2) modifikasi
vokal (perubahan vokal suku akhir menjadi vokal lebih tinggi), (3) pendiftongan (perubahan
vokal menjadi diftong), (4) reduplikasi (pengulangan), (5) pemajemukan (penggabungan dua
bentuk dasar menjadi dua atau lebih menjadi sebuah kata), (6) kombinasi (penggunaan dua
proses secara bersamaan), (7) pemanduan (memadukan dua kata menjadi satu kata baru yang
tidak ada kaitannya dengan makna unsur-unsurnya), (8) pemenggalan (penghilangan satu
atau beberapa suku kata sehingga menjadi pendek), dan (9) pengakroniman (perangkaian

huruf, suku kata, atau bagian kata menjadi satu kata dengan mempertahankan makna bentuk
kepanjangannya).
Proses morfologi dalam BJG pada dasarnya memiliki kesamaan dengan BJY. Namun,
ditemukan adanya perbedaan pada penggunaan sufiks antara BJG dengan BJY. Dalam BJG,
sufiks {-ke} atau {-ake} tidak ada, sebagai gantinya adalah penggunaan sufiks {-na}.
BJY

BJG

{golek} cari +{-(a)ke)

> {golek} cari +{-na}

{golekna} carikan

{tuku} beli+{-(a)ke)

> {tuku} beli+{-na}

{tukokna} belikan

{jikuk} ambil+{-(a)ke}

> {jukuk} ambil+{-na}

{jukukna} ambilkan

{uncal} lempar+{-(a)ke} > {uncal} lempar+{-na}

{uncalna} lemparkan

{tutup} tutup+{-(a)ke}

{tutupna} tutupkan

> {tutup} tutup+{-na}

Penggunaan sufiks {-na} dalam BJG sejajar dengan penggunaan sufiks {-(a)ke} dalam BJY.
Makna yang timbul dari penggunaan sufiks tersebut {-na} dan {-(a)ke} tersebut kurang lebih
sama, yaitu untuk membentuk kata perintah.
Dalam pembentukan kata yang bermakna sangat, BJG menambahkan kata seru,
sedangkan BJY cenderung menggunakan kata banget. Penggunaan kata seru dalam BJG,
misalnya adoh seru sangat jauh; jauh sekali, mblenek seru sangat memuakkan/menjijikkan;
memuakkan/menjijikkan sekali, dan cepet seru sangant cepat.
Di samping itu, BJG juga menggunakan morfem unik dalam membentuk makna
sangat. Morfem unik ini biasanya menempel pada kata sifat dan hanya berpasangan pada
satu kata saja. Pada dasarnya, morfem unik dalam BJG sedikit banyak sama dengan morfem
unik pada BJY. Penggunaan morfem unik dalam BJG, misalnya pait tir sangat pait, panas
kenthang-kenthang sangat panas (matahari), adhem nyep sangat dingin, dan peteng
dhedhet sangat gelap (gelap gulita).

D. Variasi Kebahasaan dalam Tataran Leksikon


Seperti pada tataran fonologi dan morfologi, BJG juga memperlihatkan kekhasan
pada tataran leksikon. Fakta tersebut sejalan dengan pernyataan Guiraud (dalam Ayatrohaedi,
1983) variasi bahasa yang digunakan pada suatu daerah lama-kelamaan akan mengalami
perubahan, baik itu berupa perbedaan cara pelafalan, tata bahasa, tata arti, dan setiap variasi
akan ditemukan suatu bentuk khusus. Pada tingkat variasi bahasa, perbedaan pada tata arti
dapat berupa perbedaan onomasiologis, yaitu perbedaan penyebutan suatu konsep karena
adanya perbedaan tempat (Guiraud, dalam ibid).

Tabel 3. Perbandingan Leksikon BJG dan BJY


BJG
siro, peno, keno,
awakmu, riko, koen,
kuwe, kowe
esun, aku, reang
cungur
lamuk
parek
pentis
weruh
engkok
pukang/pikang
cacak/kakak
igak; ndak
beluk
embong
sliden
longgoh
mari
yaopo
lapo
opoo
arek
sewek
mendhek
miber
maneng
mene
seru
iwak

BJY
kowe

Gloss
kamu

aku
irung
lemut
cedhak
kempol
ngerti
mengko
pupu
kakang
ora
kebul
dalan
ndelik
lungguh
bar
kepiye
ngopo to
ngopo
anak/bocah
jarik
ndodok
mabur
meneh
sisuk
banget
lawuh

saya; aku
hidung
nyamuk
dekat
betis
tahu
nanti
paha
kakak laki-laki
tidak
asap
jalan
sembunyi
duduk
setelah; dari
bagaimana
sedang apa; mengapa
mengapa
anak; bocah
jarit
jongkok
terbang
lagi
besok
sangat
lauk

Selain itu, ditemukan pula leksikon yang mengalami perubahan dengan pemendekan
kata (kontraksi). Bentuk pemendekan kata atau kontraksi dalam BJG ditemui pada kata
sebelas yang diucapkan sulas dalam BJG, sedangkan dalam BJY diucapkan sewelas.
Pemendekan dalam BJG tersebut dilakukan dengan penghilangan ewe- dalam sewelas
kemudian menggantikannya dengan bunyi vokal [u], sehingga terbentuk kata yang lebih
pendek, sulas. Pemendekan kata tersebut pada dasarnya tidak mengubah makna. Pemendekan
tersebut diduga karena adanya kepentingan untuk memudahkan dalam pelafalan semata
sebagai catatan, kata dasar bahasa Jawa pada umumnya cenderung bersuku dua (Ulhenbeck,
dalam Ekowardono, tanpa tahun).

E. Tingkat Tutur
Penutur BJG dalam menghormati lawan tuturnya dengan menggunakan level of
speech (tingkat tutur). BJG mengenal dua macam tingkat tutur, yaitu boso dan ndak boso.
Penutur BJG akan menggunakan ragam boso apabila berhadapan dengan orang yang lebih
tua, orang yang dihormati (orang tua, kakak, guru, kepala desa, kiai), orang yang baru
dikenal, dan pada saat suasana formal. Ragam ndak boso akan digunakan pada lawan tutur
sebaya atau berusia lebih muda dan teman sejawat pada saat berada dalam obrolan
nonformal.
Tingkat tutur dalam BJG ini berbeda dengan unda usuk dalam BJY (bahasa Jawa
baku). Dalam segi jumlah dan penyebutannya pun sudah terlihat perbedaannya, apalagi
sistem atau ketentuan tingkat tuturnya. BJG hanya mengenal dua tingkat tutur, boso dan ndak
boso, sedangkan BJY terdapat tiga tingkat tutur, yaitu ngoko, madya, dan krama.
Secara garis besar, ragam boso yang dimaksud dalam BJG meliputi tiga ketentuan
dasar. Pertama, pronomina atau kata ganti yang digunakan dalam BJG ragam boso hanya dua
macam, yaitu kula untuk kata ganti orang pertama, yang berarti saya; aku dan sampeyan
untuk kata ganti orang kedua, yang berarti kamu. Kedua, penyebutan kata ganti orang
keduaselain sampeyandalam komunikasi terhadap orang yang lebih tua dan orang yang
dihormati, dianggap tidak sopan (tidak boso). Ketiga, penambahan kata ganti sampeyan
sudah dianggap boso meskipun kata-kata lain yang mengikutinya tidak diubah dalam bentuk
krama. Dengan demikian, apabila ada tuturan yang tidak menerapkan ketiga kaidah tersebut,
bisa disebut menggunakan ragam ndak boso. Realisasi dari ketiga konsep boso dalam BJG
tersebut dapat diamati pada uraian contoh di bawah ini.
(1) Anak kula.
(1a) Sun anak.
Anak saya
(2) Keluarga sampeyan.
(2a) Keluargamu.
Keluargamu
(3) Endase sampeyan lagi lara ta?
Kepalamu sedang sakit ya?
(4) Matane ibu kelilipen bleduk.
Mata ibu kemasukan debu
(5) Matamu kelilipan ta, Bu?
Mata ibu kelilipan ya?
7

Tuturan (1), (2), (3), dan (4) merupakan contoh tuturan yang menggunakan ragam boso
sedangkan tuturan (1a), (2a), dan (5) menggunakan ragam ndak boso.
Dengan mengamati uraian mengenai konsep boso dan ndak boso kemudian dilengkapi
dengan uraian contoh di atas, dapat dilihat bahwa konsep bosoatau krama dalam BJY
sangatlah sederhana dan tidak rumit. Hal itu menunjukkan adanya perbedaan tingkat tutur
antara BJG dengan BJY atau bahasa Jawa Baku.
Perbedaan penggunaan tingkat tutur antara BJG dan BJY menunjukkan bahwa letak
geografis mempengaruhi perbedaan tuturan pada suatu wilayah. Dengan demikian, tingkat
tutur BJG berbeda dengan BJY karena adanya jarak tempat yang cukup jauhjauh dari pusat
pemerintahan (Yogyakarta).
Di samping adanya faktor jarak yang mempengaruhi perbedaan tingkat tutur,
Sudaryanto (1987) menguraikan tiga faktor yang mempengaruhi minimnya penggunaan
tingkat tutur pada saat ini. Pertama, mengutip pendapat R. Kartoamidjojo yang menyatakan
bahwa para pemuda banyak yang tidak menggunakan tingkat tutur karena takut keliru dalam
penggunaan tingkat-tingkat tuturnya, akibatnya nanti dicap sebagai orang yang tidak tau
sopan santun. Kedua, mengutip pendapat E. M. Ulhenbeck yang menyebutkan bahwa
banyaknya pemakai bahasa Jawa yang merasa tidak memiliki kemampuan untuk
menggunakan tingkat tutur dengan tepat. Menyikapi hal itu, sebelum Perang Dunia Kedua
masyarakat Jawa golongan atas biasa beralih ke bahasa Melayu dan Belanda. Ketiga,
mengutip pendapat G. Moedjanto yang menyatakan bahwa tingkat tutur adalah alat politik
untuk memperkuat kedudukan dan jarak sosial antara raja dengan bawahannya maka salah
satu cara untuk menghilangkan pembedaan tingkat sosial tersebut dengan penghilangan
tingkat tutur.

F. Simpulan
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa variasi bahasa
Jawa di Gresik dapat terjadi pada tataran fonologi, morfologi, leksikon, dan tingkat tutur.
Pada tataran fonologi, variasi kebahasaan terlihat pada alofon fonem /i/ dan /u/. selain itu,
terdapat pula variasi fonem konsonan /h/ yang mengalami penghilangan pada posisi akhir
kata. Pada beberapa kata, fonem /w/ pada posisi awal mengalami penghilangan yang bersifat
mana suka (tidak berakidah).
Pada tataran morfologi, variasi pembentukan kata dengan pembubuhan afiks terlihat
pada penggunaan sufiks {-na} yang digunakan dan dimaknai sejajar dengan sufiks {-(a)ke}
dalam BJY. Bahkan dalam BJG tidak menggunakan sufiks {-(a)ke} dalam pembentukan kata.
8

BJG membentuk kata sifat yang bermakna sangat dengan cara pembubuhan kata seru dan
pembubuhan morfem unik.
Pada tataran leksikon, ditemukan variasi kebahasaan yang berupa perubahan
onomasiologis dan kontraksi. Dari perubahan onomasiologis tersebut, dapat diamati secara
utuh perbedaan kosakata atau konsep antara BJG dan BJY dalam mengungkapkan suatu
makna. Perubahan leksikon berupa kontraksi dapat diamati pada pengungkapan kata sebelas
yang diucapkan sulas daripada sewelas.
BJG memiliki tingkat tutur yang berbeda dengan bahasa Jawa pada umumnya. Dalam
BJG hanya dikenal dua tingkat tutur, yaitu basa dan ndak basa. Tuturan disebut basa apabila
memenuhi tiga kaidah, yaitu (1) semua kalimat, frasa, dan kata diubah dalam bentuk krama;
(2) penggunaan kata ganti sampeyan atau penggunaan kata panggilan seperti cacak, bapak,
ibu, dan wakgus dengan tanpa mengubah bentuk krama pada kata-kata yang lain sudah
dianggap basa (sopan); dan (3) penggunaan kata ganti orang kedua selain sampeyan dan kata
panggilan, seperti sira, kena, pena, koen, dan awakmu dianggap ndak basa. Minimnya
penggunaan tingkat tutur bahasa Jawa pada saat ini kurang lebih dilatarbelakangi oleh jarak
dengan daerah pusat (Yogyakarta), takut keliru dan disebut tidak sopan, sedikitnya
pengetahuan mengenai tingkat tutur, dan adanya anggapan tingkat tutur sebagai pembeda
kelas sosial.

Daftar Pustaka
Ayatroahaedi. 1983. Dialektologi Sebuah Pengantar. Jakarta: Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa.
Nadra dan Reniwati. 2009. Dialektologi Teori dan Metode. Yogyakarta: Elmatera Publishing.
Nurrohmah, Okta Viana. 2013. Geografi Dialek Bahasa Jawa di Kabupaten Gresik Jawa
Timur. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Pusat Bahasa. 2008. Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan
Nasional
Soetoko. 1984. Geografi Dialek Bahasa Jawa di Kabupaten Surabaya. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Sudaryanto. 1987. Beberapa Cacatan tentang Kata Halus dan Bentuk Krama dalam Bahasa
Jawa dalam Kumpulan Makalah Masyarakat Linguistik Indonesia Tahun 5 No. 10.
Wedhawati. 2010. Tata Bahasa Jawa Mutakhir (Edisi Revisi). Yogyakarta: Penerbit
Kanisius.
Widodo, Dukut Imam, dkk. 2004. Grissee Tempo Doeloe. Jawa Timur: Pemerintah
Kabupaten Gresik.
Daftar Laman
Ekowardono, Karno B. (tanpa tahun). Perkembangan Dunia Penerjemahan Bahasa dan
Sastra Jawa. Diakses dari http://ki-demang.com/kbj5/index.php/makalah-kunci/1128-05perkembangan-dunia-penerjemahan-bahasa-dan-sastra-jawa pada hari Senin, 15 Februari
2016.
9