Anda di halaman 1dari 57

Referat Ilmu Kedokteran Forensik

ASPEK MEDIKOLEGAL
KEBIRI PADA PELAKU
PERKOSAAN
PENGUJI :

PEMBIMBING :

DR. INTARNIASIH NR SP.KF, MSI.MED

DR. AGUNG HADI PRAMONO, MH

Disusun Oleh :

Budiono - UKRIDA

Cindy Purnama - UKRIDA

Jhony Susanto UKI

Suci Ventasamia - UKI

Fransiska Sinurat - UKI

Rumusan Masalah

Apakah ruang lingkup kejahatan seksual dan perkosaan?

Bagaimana aspek hukum dan medikolegal kejahatan seksual?

Bagaimanakah hukuman kebiri terhadap kejahatan seksual?

Bagaimanakah yurisprudensi secara nasional dan global serta


tanggapan tokoh/instansi terkait hukuman kebiri terhadap kejahatan?

Tujuan

Mengetahui ruang lingkup kejahatan seksual dan perkosaan.

Mengetahui dan menjelaskan aspek hukum dan medikolegal kejahatan


seksual.

Mengetahui hukuman kebiri terhadap pelaku kejahatan seksual.

Mengetahui yurisprudensi secara nasional dan global serta tanggapan


tokoh/instansi terkait hukuman kebiri terhadap kejahatan seksual

Manfaat
Bagi Mahasiswa

Meningkatkan kemampuan dalam penyusunan suatu masalah dari berbagai sumber dan teknik
penulisan.

Melatih kerjasama tim dalam penyusunan suatu masalah.

Menambah pengetahuan dalam bidang ilmu kedokteran forensik.

Bagi Instansi Terkait

Menambah bahan referensi bagi dokter dalam proses hukum kejahatan seksual dalam bidang ilmu
kedokteran forensik.

Bagi Masyarakat

Memberikan informasi dan pengetahuan kepada masyarakat bagaimana hukuman pada pelaku
tindak pidana kejahatan seksual yang terjadi di masyarakat para korban maupun pelaku pada
kasus tindak pidana yang terjadi di masyarakat.

Tinjauan Pustaka
1. Kejahatan

Seksual

Definisi : Menurut IASC (Inter Agency standing comitte) 2005,


kejahatan seksual merupakan semua tindakan seksual, percobaan
tindakan seksual, komentar yang tidak diinginkan, perdagangan
seks dengan menggunakan paksaan, ancaman, paksaan fisik oleh
siapa saja tanpa memandang hubungan dengan korban, dalam
situasi apa saja, termasuk tapi tidak terbatas pada rumah dan
pekerjaan

PERKOSAAN
Perkosaan
adalah
persetubuhan
yang
dilakukan
seorang
lelaki
kepada seorang perempuan yang
bukan istrinya dengan kekerasan
atau ancaman kekerasan. (pasal 285
KUHP)

Selingkuh
Perkosaan
Senggama

VS wanita tidak berdaya


VS Wanita dibawah
umur

Incest

K
S
Non
Senggama

Perbuatan Cabul

SENGGAMA/PERSETUB
UHAN
Definisi : Penetrasi penis kedalam Vagina
baik sebagian maupun total ke dalam
vagina, yang disertai maupun tidak disertai
dengan ejakulasi

LEGAL

ILEGAL

SENGGAMA
LEGAL

Ada izin / consent dari wanita yg disetubuhi ,

Wanita tersebut ;

Cukup umur ,

Sehat akal ,

Tidak terikat perkawinan dg lelaki lain ,

Bukan anggota keluarga terdekat dari pelaku

Izin / consent sah secara


hukum

1.
2.
3.
4.

Sadar (conscius) ,
Wajar (naturally) ,
Tidak ada keraguan (unequivocal) ,
Atas kemauan sendiri (voluntary)

Izin tidak sah ;


1.Paksaan (force) ,
2.Tipu daya (fraud) ,
3.Ketakutan (fear)

PERKOSAAN
Tindak pidana perkosaan di Indonesia harus memenuhi unsurunsur sebagai berikut (Sofwan Dahlan,2000):
unsur pelaku, yaitu :

harus orang laki-laki

mampu melakukan persetubuhan


unsur korban, yaitu :

harus orang perempuan

bukan istri dari pelaku


unsur perbuatan, yaitu :

persetubuhan dengan paksa ( against her will )

pemaksaan tersebut harus dilakukan dengan


menggunakan kekerasan fisik atau ancaman kekerasan

EMERIKSAAN YANG DAPAT DILAKUKAN DOKTER

Korban Perkosaan,
-

yaitu:

Memastikan korban seorang perempuan,


Mencari tanda-tanda persetubuhan,
Mengungkap identitas laki-laki yg menyetubuhinya
tanda-tanda akibat kekerasan fisik.

Tersangka / Terdawa Pelaku Perkosaan , yaitu:


- Memastikan pelaku seorang laki-laki
- Mengetahui pelaku mampu melakukan senggama

Barang Bukti Yang Ditemukan,


- untuk mengungkap identitas pelaku (misalnya
dengan memriksa sperma, darah, rambut, gigi dll)

yaitu:

Menentukan ada tidaknya persetubuhan

Tanda tidak langsung

Tanda langsung

Adanya robekan selaput dara

Luka lecet atau memar di liang senggama

Adanya sperma

Kehamilan

Penyakit hubungan seksual

Pasal-pasal pada tindak pidana


seksual
1.

Perselingkuhan & berzina (Ps.284 KUHP)

2.

Perkosaan (Ps.285 KUHP)

3.

Persetubuhan dengan wanita yg tidak berdaya (Ps.286 KUHP)

4.

Persetubuhan dg wanita dibawah umur (Ps.287 & 288 KUHP)

5.

Berbuat cabul sesama jenis (Ps.292 KUHP)

6.

Persetubuhan dengan anak sendiri, anak tiri, anak angkat


(Ps.294 KUHP)

Pembuktian tanda-tanda Kekerasan

Kekerasan fisik
yang berada
diluar alat
kelamin.
(SEXUAL
ORIENTED
INJURIES)
Penggunaan
obat-obat yang
mengakibatkan
korban tidak
sadar (Abdul

Kekerasan
adalah
tindakan
pelaku yang
bersifat fisik
yang
dilakukan
dalam rangka
memaksa
korban agar
dapat
disetubuhi

PEMERIKSAAN

ANAMNESIS
Pertanyaan yang Mengacu
Pada Kesehatan Umum

Pertanyaan Yang Mengacu


Pada Forensik
1. Diskripsi kejadian

1.

Identitas

2.

2.

Riwayat kesehatan/
pembedahan

Jumlah dan identitas


pelaku,

3.

Tanggal dan waktu


kejadian

3.

Riwayat pengobatan

4.

Riwayat PMS

4.

5.

Riwayat hubungan
seksual terakhir

Lokasi dimana
kejadiannya

5.

Jenis tidakan seksual yang


dilakukan

6.

Tempat disalurkan
ejakulasi

6.

Riwayat menstruasi

7.

Riwayat kehamilan

7. Penggunaan benda dalam


melakukan penetrasi
8. Apakah korban sudah mengganti
pakaian
9. Pengunaan senjata tajam
10. Apakah korban sudah mandi

PEMERIKSAAN FISIK
TUJUAN : Untuk menemukan adanya rambut,
serat, dan cairan tubuh pelaku yang merupakan
sumber yang paling penting dalam kasus
pembuktian kasus perkosaan
Trauma Fisik Non
Genital

Trauma Fisik
Genital

TRAUMA FISIK NON GENITAL

Bite marks

Tendangan

Memar

Cekikan

PEMERIKSAAN FISIK NON-GENITAL


Kuku Jari

Cavum Oral

Rambut Pubis

Benda asing pada kuku


memungkinkan sel kulit dari pelaku
sehingga perlunya di lakukan
pengambilan sampel di bawah
kuku.

Pengambilan swab pada cavum oral


serta gigi-geligi diperlukan apabila
terjadi ejakulasi di mulut.

Dilakukan pengambilan swab pada


rambut pubis yang dicurigai adanya
bercak semen atau rambut yang
terlepas pada pelaku.

PEMERIKSAAN FISIK GENITAL

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

MENENTUKAN ADANYA SPERMA


Bahan: cairan
Bahan: cairan
vagina
vagina

Pewarnaan :
Pewarnaan :
Malachite-green
Malachite-green

Hasil : bagian basis kepala sperma berwarna uangu, bagian hidung


Hasil : bagian basis merwarna
kepala sperma
berwarna
merah
muda uangu, bagian hidung
merwarna merah muda

PEMERIKSAAN SPERMA PADA PAKAIAN

Menentukan adanya
toksikologi

Menentukan golongan
darah

Bahan pemeriksaan:
Darah dan urine

Bahan pemeriksaan:
cairan vaginal yang berisi air mani dan darah.

Metode:

TLC

Mikrodiffusi

Hasil yang diharapkan :


Adanya obat untuk menurunkan atau
menghilangkan kesadaran

Metode:
Serologi (ABO grouping test)
Hasil yang diharapkan :
golongan darah dari air mani berbeda dengan
golongan darah dari korban.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM TERHADAP PELAKU

TEKNIK PEMERIKSAAN PADA ANAK

Frog-Leg

Frog-Leg &
dipangku

Knee-Chest

HUKUMAN
KEBIRI

2003 PASAL 23 DAN 35 2014


PASAL 23 KE PASAL 1 2016

PROSES DAN
PERBANDINGAN

Definisi

Tindakan bedah atau kimia yang bertujuan untuk menghilangkan fungsi


testis pada jantan atau fungsi ovarium pada betina

Kebiri yang digunakan dalam hukuman pelaku kejahatan seksual adalah


kebiri kimiawi

SEJARAH KEBIRI
Abad

ke-20, kebiri secara bedah telah dilakukan pada pelaku


tindakan kejahatan seksual di Amerika Serikat dan beberapa
negara di Eropa

Tingkat

terulangannya tindak kejahatan seksual 2,5-7,5%


setelah kebiri bedah, dibandingkan 60-84% pada pelaku
tindak kejahatan seksual yang tidak di terapi

SEJARAH KEBIRI (2)

Sejak tahun
1960an kebiri
bedah di ganti
dengan kebiri
kimiawi yang
reversibel

Medroxyprogest
erone asetat
(MPA) di Amerika
Serikat,
Cyproterone
asetat (CPA) di
Eropa

Menurunkan
hasrat seksual
pada pria
dewasa

HUKUM KEBIRI TERHADAP KEJAHATAN SEKSUAL


Tahun 1996 Negara
Bagian California
menerapkan
hukuman kebiri
kimiawi pada pelaku
kejahatan seksual

Tahun 1997 Negara


Bagian Florida
menerapkan
hukuman kebiri
kimiawi

Negara Bagian
Lainnya Georgia,
Iowa, Lousiana,

Montana, Oregon,
Texas, Wisconsin

Di Indonesia, Presiden Jokowi sudah menandatangani


Perppu Nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua
atas UU Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan
Anak
Perubahan pada Pasal 81 tentang kekerasan seksual dan Pasal
82 tentang pencabulan
Hukuman ditambah sepertiga dari ancaman pidana, seumur
hidup, pengumuman identitas pelaku, serta kebiri kimia dan
alat deteksi elektronik

PERPPU KEBIRI
PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANGUNDANG NOMOR 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK.
Ketentuan Pasal 81 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 81
(1) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76D dipidana dengan
pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
(2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku pula bagi setiap Orang yang dengan
sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak melakukan persetubuhan
dengannya atau dengan orang lain.
(3) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh orang tua, wali, orangorang yang mempunyai hubungan keluarga, pengasuh anak, pendidik, tenaga kependidikan, aparat yang
menangani perlindungan anak, atau dilakukan oleh lebih dari satu orang secara bersama-sama, pidananya
ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

PERPPU KEBIRI (2)


(4) Selain terhadap pelaku sebagaimana dimaksud pada ayat (3), penambahan 1/3 (sepertiga) dari ancaman
pidana juga dikenakan kepada pelaku yang pernah dipidana karena melakukan tindak pidana sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 76D.
(5) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76D menimbulkan korban lebih dari 1 (satu)
orang, mengakibatkan luka berat, gangguan jiwa, penyakit menular, terganggu atau hilangnya fungsi reproduksi,
dan/atau korban meninggal dunia, pelaku dipidana mati, seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 10
(sepuluh) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun.
(6) Selain dikenai pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5), pelaku dapat
dikenai pidana tambahan berupa pengumuman identitas pelaku.
(7) Terhadap pelaku sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) dapat dikenai tindakan berupa kebiri kimia
dan pemasangan cip.
(8) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) diputuskan bersama-sama dengan pidana pokok dengan
memuat jangka waktu pelaksanaan tindakan.
(9) Pidana tambahan dan tindakan dikecualikan bagi pelaku Anak.

PERPPU KEBIRI (3)

Di antara Pasal 81 dan Pasal 82 disisipkan 1 (satu) pasal yakni Pasal 81A yang berbunyi sebagai
berikut:

Pasal 81A
(1) Tindakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 81 ayat (7) dikenakan untuk jangka waktu
paling lama 2 (dua) tahun dan dilaksanakan setelah terpidana menjalani pidana pokok.
(2) Pelaksanaan tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di bawah pengawasan secara
berkala oleh kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum,
sosial, dan kesehatan.
(3) Pelaksanaan kebiri kimia disertai dengan rehabilitasi.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan tindakan dan rehabilitasi diatur
dengan Peraturan Pemerintah.

PERPPU KEBIRI (4)

Ketentuan Pasal 82 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 82
(1) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima
belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)
(2) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh orang tua,
wali, orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga, pengasuh anak, pendidik, tenaga
kependidikan, aparat yang menangani perlindungan anak, atau dilakukan oleh lebih dari
satu orang secara bersama-sama, pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana
sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Selain terhadap pelaku sebagaimana dimaksud pada ayat (2), penambahan 1/3
(sepertiga) dari ancaman pidana juga dikenakan kepada pelaku yang pernah dipidana
karena melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E.

PERPPU KEBIRI (5)

(4) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E menimbulkan korban
lebih dari 1 (satu) orang, mengakibatkan luka berat, gangguan jiwa, penyakit menular,
terganggu atau hilangnya fungsi reproduksi, dan/atau korban meninggal dunia, pidananya
ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(5) Selain dikenai pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4),
pelaku dapat dikenai pidana tambahan berupa pengumuman identitas pelaku.
(6) Terhadap pelaku sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sampai dengan ayat (4) dapat
dikenai tindakan berupa rehabilitasi dan pemasangan cip.
(7) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) diputuskan bersama-sama dengan pidana
pokok dengan memuat jangka waktu pelaksanaan tindakan.
(8) Pidana tambahan dikecualikan bagi pelaku Anak.

PERPPU KEBIRI (6)

Di antara Pasal 82 dan Pasal 83 disisipkan 1 (satu) pasal yakni Pasal 82A yang berbunyi sebagai berikut:
Pasal 82A
(1) Tindakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 ayat (6) dilaksanakan selama dan/atau
setelah terpidana menjalani pidana pokok.
(2) Pelaksanaan tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di bawah pengawasan secara
berkala oleh kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum, sosial,
dan kesehatan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan tindakan diatur dengan Peraturan
Pemerintah.
Pasal II
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik
Indonesia.

Patofisiologi Kebiri
Testosterone Homeostatis, sexual drive dan ciri seks pria
Regulasi testosterone Leydig cell, testosterone, estrogen, diet, siklus tidur bangun,
usia, hipotalamus, thalamus, pituitary
Hukuman Kebiri Mengganggu produksi testosterone dalam tubuh pria sehingga kadar
testosterone serum dalam tubuh menurun dengan antiandrogen. Mengurangi atau
menghilangkan libido serta menyebabkan infertilitas sementara sampai dengan
permanen
Agent untuk hukuman Medroxyprogesterone asetat (MPA) di Amerika Serikat,
Cyproterone asetat (CPA) di Eropa

YURISPRUDENSI SECARA NASIONAL DAN


GLOBAL
SERTA TANGGAPAN TOKOH/INSTANSI
TERKAIT
HUKUMAN KEBIRI TERHADAP KEJAHATAN
SEKSUAL

Rusia, Polandia, Korea Selatan, Macedonia, Estonia, dan Moldova


keharusan atau paksaan untuk dikastrasi
Korea Kejahatan seks terhadap anak di bawah usia 16 tahun bisa dihukum
kebiri kimia pada pelaku yang korbannya berumur di bawah 19 tahun.
Belanda, Jerman, Perancis, Belgia, Swedia, Denmark, dan Ceko
pelaku kejahatan seksual boleh memilih hukuman baginya
California, Florida, Iowa, dan Louisiana,
memperbolehkan kastrasi kimia dan bedah (sukarela).
Skandinavia
Kastrasi mengurangi tingkat pengulangan kejahatan seksual oleh pelaku
yang sama hingga 35%.

Charles Scott dan Trent Holmberg, dalam artikelnya di


Journal of the American Academy of Psychiatry and the
Law, pada September 1996, menyebutkan bahwa California
menjadi negara bagian di AS pertama yang mengizinkan
penerapan kebiri terhadap penjahat seks tertentu yang telah
tuntas menjalani masa tahanannya.

Ahli psikologi forensik, Reza Indragiri


Amriel,
alumnus

The

University

of

Melbourne,

Autralia
"Di balik itu ada amarah, dendam, kebencian
yang berkobar-kobar,
"Justru kastrasi hormonal bisa membuat si
predator semakin eksplosif," (26/10/2015).

Prof. Muhammad Mustofa, Guru


Besar Kriminologi UI
Kebiri

tidak menyelesaikan masalah.

Kekerasan

dibalas dengan kekerasan.

Melemahnya

pengendalian sosial masyarakat mengenai tingkah laku

seksual.
Negara

gagal melakukan kontrol sosial.

Pusat Kajian Gender dan Seksualitas FISIP Universitas


Indonesia
pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas yang komprehensif,
terbukti dapat memberikan kemampuan bagi anak dan remaja untuk
memahami otoritas tubuhnya, mengenali tindak kekerasan seksual
dan mengajarkan prinsip anti kekerasan sehingga anak dan remaja
dapat terhindar dari bahaya kekerasan seksual. Selain itu pendidikan
kesehatan reproduksi dan seksualitas ini juga memberikan kemampuan untuk
mengendalikan dorongan seksual, memberikan informasi seputar
kesehatan reproduksi kepada sesama teman sebaya, serta mencegah
anak dan remaja melakukan hubungan seksual berisiko.

Pandangan Ulama Terhadap Kebiri


Menurut hukum islam, laki-laki dengan penampilan perempuan tidaklah diperbolehkan begitu
juga sebaliknya, pada kastrasi, ciri tubuh pria dapat berubah dikarenakan ketidakseimbangan
hormonal, sehingga hukuman kebiri secara kimiawi menurut islam tidak diperbolehkan.
Pandangan Seto Mulyadi, pemerhati anak
Secara psikologis, pelaku yang dikebiri ini dapat bertindak lebih agresif.
Jadi tidak hanya melakukan kekerasan seksual, tapi dapat melakukan ke
kekerasan berbagai aspek.

Ahok, Gubernur DKI Jakarta


Berbeda dengan praktisi kesehatan dan aktivis
perempuan, Gubernur DKI Jakarta setuju dengan
sikap pemerintah pusat apabila undangundangnya telah berlaku

Pandangan HM. Prasetyo, Jaksa Agung


HM. Prasetyo menilai bahwa kejahatan kekerasan seksual terhadap
anak harusnya menjadi kejahatan luar biasa, atau extraordinary
crime, sehingga harus ada penanganan proses hukum yang luar
biasa

Badrodin Haiti, Kepala Polisi RI


Kepala polisi RI menyambut baik usulan tersebut, karena hukuman
tambahan dinilai dapat memberikan efek jera pada predator anak

Arist Merdeka Sirait, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak


Arist yakin hukuman dikebiri sebagai pemberatan hukuman dapat
mengurangi kasus kekerasan anak, hukuman tersebut dinilainya lebih
efektif dengan ditambahkanya sanksi sosial dengan menyebarluaskan
serta menempel foto pelaku di tempat tempat umum

PENDAPAT AHLI TENTANG KEBIRI

Komisi Perlindungan Anak :


Hukuman kebiri dapat
menurunkan tindakan
kejahatan seksual pada
anak

Komnas HAM : hukuman


kebiri berpotensi
merendahkan martabat
manusia, tidak etis dilakukan
di Indonesia

Presiden Jokowi : kejahatan


seksual terhadap anak
ditetapkan sebagai kejahatan
luar biasa karena mengandung
mencam dan membahayakan
jiwa anak.

PENDAPAT AHLI TENTANG KEBIRI

Di Korea : kebiri kimia


menciptakan beban sosial
ekonomi yang luar biasa,
dengan biaya USD
4.650/orang/tahun untuk
pengobatan dan
pemantauan

Medis : terapi psikoterapi


dikombinasikan dengan
farmakologi lebih baik
dibanding monoterapi.

Contoh Kasus :

Ilustrasi Kasus :
1.Seorang ibu telah menikah, mengaku diperkosa,
bagaimana cara membuktikanya ?
2.Seorang anak berusia 15 tahun mengaku diperkosa
5 bulan yang lalu dan sekarang hamil
bagaimana pembuktianya ?

Kesimpulan
1.

Kejahatan oleh pelaku kejahatan seksual terdahulu, hukuman kejahatan


seksual belum menimbulkan efek jera.

2.

Hukuman kebiri yang dilakukan di Indonesia adalah dengan cara kimiawi.

3.

Hukuman kebiri pada pelaku kejahatan seksual diberlakukan apabila


korban adalah anak-anak.

4.

Hukuman kebiri sudah diberlakukan di berbagai negara lainya

5.

Terdapat banyak pro-kontra terhadap hukuman kebiri di Indonesia dan


secara internasional.

6.

Hukuman kebiri dinilai mampu untuk menimbulkan efek jera pada pelaku
pencabulan dan kejahatan seksual di luar negeri.

TERIMA KASIH