Anda di halaman 1dari 1

BAB I

PENDAHULUAN
Laringofaring atau hipofaring merupakan bagian paling kaudal dari faring dan
bercabang menjadi jalur pernapasan (laring) dan pencernaan (esofagus). Pada titik
ini, laringofaring berhubungan langsung/menyatu dengan esofagus secara
posterior. Laryngopharyngeal Reflux (LPR) adalah sebuah kondisi pada seseorang
yang mengalami Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) atau penyakit refluks
gastroesophageal, ketika asam lambung naik ke laringofaring dan menimbulkan
gejala iritasi di laring/hipofaring. LPR disebabkan oleh iritasi dan perubahan dari
faring sedangkan GERD disebabkan oleh refluks asam lambung kedalam
esofagus, yang menyebakan kerusakan jaringan atau esofagitis dan rasa terbakar.
Disfonia, disfagia ringan, batuk kronik, dan pembersihan tenggorokan yang tidak
produktif, dan merupakan gejala LPR yang sering dijumpai.
Prevalensi LPR di dunia sebesar 15-20% dan lebih dari 15% penderita tersebut
berobat ke dokter spesialis THT dengan manifestasi LPR yang berdampak
terhadap menurunnya kualitas hidup. LPR merupakan faktor predisposisi pada
penyakit asma, batuk kronik, pneumonia, laringospasme, dan rinosinusitis
(Belafsky dan Rees, 2008; Ozmen et al., 2008 dalam Kurniawati et al., 2012).
Dalam menentukan diagnosis LPR perlu dilakukan anamnesis yang teliti,
pemeriksaan penunjang seperti laringoskopi fleksibel, pH dan lain-lain.
Pengobatan LPR meliputi kombinasi diet, modifikasi perilaku, antasida, antagonis
reseptor H2, proton pump inhibitor (PPI) dan tindakan bedah (Belafsky et al.,
2001). Proton pump inhibitor (PPI) pada saat ini merupakan obat anti-LPR yang
paling efektif. Beberapa jenis PPI seperti omeprazol, lansoprazol, dan
esomeprazole sering digunakan untuk terapi RLF/GERD (Steward et al., 2004
dalam Kurniawati et al., 2012). Penanganan yang tepat pada kasus LPR sangat
diperlukan agar tidak terjadi komplikasi lebih lanjut, maka dari itu referat ini akan
membahas mengenai penegakan diagnosis LPR dan penatalaksanaan yang tepat
pada kasus LPR.