Anda di halaman 1dari 51

1

BAB I
PENDAHULUAN

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah RNA retrovirus yang


menyebabkan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), di mana terjadi
kegagalan sistem imun progresif. Penyebab terbanyak adalah HIV-1. Virus ini
ditransmisikan melalui hubungan seksual, darah, produk yang terkontaminasi
darah, dan transmisi dari ibu ke bayi baik intrapartum, perinatal, atau ASI.1
Infeksi virus penyebab defisiensi imun (HIV-1) pada anak dapat terjadi
melalui transfuse darah atau komponennya yang tercemar. Makin sering transfuse
dilakukan makin besar kemungkinan terjadinya infeksi1
Menurut CDC Amerika, 13% kasus AIDS pada anak adalah penerima
transfuse darah atau komponennya, 5% di antaranya ternyata terinfeksi dalam
pengobatan hemophilia atau gangguan pembekuan darah yang lain. Dengan
diterapkan system uji tapis yang lebih ketat terhadap donor darah, penularan
melalui transfuse ini telah berkurang, sehingga penularan pada umumnya lebih
sering terjadi akibat infeksi perinatal (vertical), yaitu sekitar 50-80% baik
intrauterine, melalui plasenta, selama persalinan melalui pemaparan dengan darah
atau secret jalan lahir, maupun yang terjadi setelah lahir (pasca natal) yaitu
melalui air susu ibu (ASI). Penularan pasca natal terjadi melalui pemaparan yang
erat dengan darah, ekskret atau secret, masih belum dapat dipastikan oleh karena
angka kejadiannya terlampau kecil. Penularan melalui plasenata (intra natal),
diduga dapat terjadi pada periode kehamilan yang sangat dini, oleh karena pernah
ditemukan adanya antigen terhadap virus pada janin yang berusia 13-20 minggu,
disamping ditemukannya dismorfisme seperti kelainan kraniofasial, mikrosephali,
dahi yang menonjol dan berbentuk kotak, hipertelorisme okuler, jembatan hidung
yang datar, mata yang miring, fisura palpebralis yang panjang dan lain-lainnya.2
Pada tahun 2009, 1,4 juta wanita hamil di negara berpendapatan menengah dan rendah terdiagnosis HIV.3 Lebih dari 90% infeksi HIV pada bayi dan
anak ditransmisikan oleh ibu selama kehamilan, kelahiran, atau ASI. Tanpa

intervensi apapun, 15-45% bayi yang lahir dari ibu dengan HIV menjadi terinfeksi
(5-10% selama kehamilan, 10-20% selama kelahiran, dan 5-20% lewat ASI).
Sekitar 50% bayi yang terinfeksi HIV dari ibunya meninggal sebelum usia 2
tahun. Transmisi infeksi HIV dari ibu ke bayi dapat diturunkan jika obat
antiretroviral diberikan pada ibu selama kehamilan dan kelahiran dan bayi setelah
kelahiran.3
Di Indonesia, infeksi HIV merupakan salah satu masalah kesehatan utama
dan salah satu penyakit menular yang dapat mempengaruhi kematian ibu dan
anak. Data kementrian kesehatan (2011) menunjukkan dari 21.103 ibu hamil yang
menjalani tes HIV, 534 (2,5%) di antaranya positif terinfeksi HIV. 4
Penularan HIV dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayinya juga cenderung
meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah perempuan HIV positif yang
tertular baik dari pasangan maupun akibat perilaku yang berisiko. Meskipun
angka prevalensi dan penularan HIV dari ibu ke bayi masih terbatas, jumlah ibu
hamil yang terinfeksi HIV cenderung meningkat. Prevalensi HIV pada ibu hamil
diproyeksikan meningkat dari 0,38% (2012) menjadi 0,49% (2016), Demikian
pula jumlah anak berusia di bawah 15 tahun yang tertular HIV dari ibunya pada
saat dilahirkan ataupun saat menyusui akan meningkat dari 4.361 (2012).
Kecenderungan peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS dari tahun ke tahun
tersebut membutuhkan pena-nganan serius.4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian HIV


HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sejenis virus yang
menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan dapat menimbulkan AIDS. HIV
menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih yang bertugas menangkal
infeksi. Sel darah putih tersebut terutama limfosit yang memiliki CD4 sebagai
sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel limfosit. Karena
berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel
darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan dalam mengatasi infeksi yang
masuk ke tubuh manusia. Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai
CD4 berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan
yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai CD4 semakin lama
akan semakin menurun (bahkan pada beberapa kasus bisa sampai nol).5
Virus HIV diklasifikasikan ke dalam golongan lentivirus atau retroviridae.
Virus ini secara material genetik adalah virus RNA yang tergantung pada enzim
reverse transcriptase untuk dapat menginfeksi sel mamalia, termasuk manusia, dan
menimbulkan kelainan patologi secara lambat. Virus ini terdiri dari 2 grup, yaitu HIV1 dan HIV-2. Masing-masing grup mempunyai lagi berbagai subtipe, dan masingmasing subtipe secara evolusi yang cepat mengalami mutasi. Diantara kedua grup
tersebut, yang paling banyak menimbulkan kelainan dan lebih ganas di seluruh dunia
adalah grup HIV-1.6

2.2. Pengertian AIDS


AIDS adalah singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome, yang
berarti kumpulan gejala atau sindroma akibat menurunnya kekebalan tubuh yang
disebabkan infeksi virus HIV. Tubuh manusia mempunyai kekebalan untuk

melindungi diri dari serangan luar seperti kuman, virus, dan penyakit. AIDS
melemahkan atau merusak sistem pertahanan tubuh ini, sehingga akhirnya
berdatanganlah berbagai jenis penyakit lain.7
HIV adalah jenis parasit obligat yaitu virus yang hanya dapat hidup dalam
sel atau media hidup. Seorang pengidap HIV lambat laun akan jatuh ke dalam
kondisi AIDS, apalagi tanpa pengobatan. Umumnya keadaan AIDS ini ditandai
dengan adanya berbagai infeksi baik akibat virus, bakteri, parasit maupun jamur.
Keadaan infeksi ini yang dikenal dengan infeksi oportunistik.6
2.3 Epidemiologi
Kasus pertama AIDS di Indonesia dilaporkan dari Bali pada bulan April
tahun 1987. Penderitanya adalah seorang wisatawan Belanda yang meninggal di
RSUP Sanglah akibat infeksi sekunder pada paru-parunya. Sampai dengan akhir
tahun 1990, peningkatan kasus HIV/AIDS menjadi dua kali lipat.
Jumlah perempuan yang terinfeksi HIV dari tahun ke tahun semakin
meningkat, seiring dengan meningkatnya jumlah laki-laki yang melakukan
hubungan seksual tidak aman, yang selanjutnya akan menularkan pada pasangan
seksualnya.
Infeksi HIV pada ibu hamil dapat mengancam kehidupan ibu serta ibu
dapat menularkan virus kepada bayinya. Lebih dari 90% kasus anak terinfeksi
HIV, ditularkan melalui proses penularan dari ibu ke anak atau Mother To Child
Hiv Transmission (MTCT). Virus HIV dapat ditularkan dari ibu yang terinfeksi
HIV kepada anaknya selama kehamilan, saat persalinan dan saat menyusui. Data
kementrian kesehatan (2011) menunjukkan dari 21.103 ibu hamil yang menjalani
tes HIV, 534 (2,5%) di antaranya positif terinfeksi HIV. 4
Penularan HIV dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayinya juga cenderung
meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah perempuan HIV positif yang
tertular baik dari pasangan maupun akibat perilaku yang berisiko. Prevalensi HIV
pada ibu hamil diproyeksikan meningkat dari 0,38% (2012) menjadi 0,49%
(2016). Demikian pula jumlah anak berusia di bawah 15 tahun yang tertular HIV

dari ibunya pada saat dilahirkan ataupun saat menyusui akan meningkat dari 4.361
(2012).4

2.4. Faktor yang berperan dalam penularan HIV dari ibu ke anak
Ada tiga faktor utama yang berpengaruh pada penularan HIV dari ibu ke
anak, yaitu faktor ibu, bayi/anak, dan tindakan obstetrik.
1. Faktor Ibu
-

Jumlah virus (viral load)


Jumlah virus HIV dalam darah ibu saat menjelang atau saat

persalinan dan jumlah virus dalam air susu ibu ketika ibu menyusui
bayinya sangat mempengaruhi penularan HIV dari ibu ke anak. Risiko
penularan HIV menjadi sangat kecil jika kadar HIV rendah (kurang dari
1.000 kopi/ml) dan sebaliknya jika kadar HIV di atas 100.000 kopi/ml.
-

Jumlah sel CD4


Ibu dengan jumlah sel CD4 rendah lebih berisiko menularkan HIV

ke bayinya. Semakin rendah jumlah sel CD4 risiko penularan HIV


semakin besar.
-

Status gizi selama hamil


Berat badan rendah serta kekurangan vitamin dan mineral selama

hamil meningkatkan risiko ibu untuk menderita penyakit infeksi yang


dapat meningkatkan jumlah virus dan risiko penularan HIV ke bayi.
-

Penyakit infeksi selama hamil


Penyakit infeksi seperti sifilis, infeksi menular seksual,infeksi

saluran

reproduksi

lainnya,

malaria,dan

tuberkulosis,

berisiko

meningkatkan jumlah virus dan risiko penularan HIV ke bayi.


-

Gangguan pada payudara


Gangguan pada payudara ibu dan penyakit lain, seperti mastitis,

abses, dan luka di puting payudara dapat meningkatkan risiko penularan


HIV melalui ASI.

2. Faktor Bayi
-

Usia kehamilan dan berat badan bayi saat lahir


Bayi lahir prematur dengan berat badan lahir rendah (BBLR) lebih

rentan tertular HIV karena sistem organ dan sistem kekebalan tubuhnya
belum berkembang dengan baik.
-

Periode pemberian ASI


Semakin lama ibu menyusui, risiko penularan HIV ke bayi akan
semakin besar.

Adanya luka di mulut bayi


Bayi dengn luka di mulutnya lebih berisiko tertular HIV ketika
diberikan ASI.

3. Faktor obstetrik
Pada saat persalinan, bayi terpapar darah dan lendir ibu di jalan
lahir. Faktor obstetrik yang dapat meningkatkan risiko penularan HIV
dari ibu ke anak selama persalinan adalah:
-

Jenis persalinan
Risiko penularan persalinan per vaginam lebih besar daripada
persalinan melalui bedah sesar (seksio sesaria).

Lama persalinan
Semakin lama proses persalinan berlangsung, risiko penularan HIV
dari ibu ke anak semakin tinggi, karena semakin lama terjadinya
kontak antara bayi dengan darah dan lendir ibu.

Ketuban pecah lebih dari 4 jam sebelum persalinan meningkatkan


risiko penularan hingga dua kali lipat dibandingkan jika ketuban

pecah kurang dari 4 jam.


Tindakan episiotomi, ekstraksi vakum dan forseps meningkatkan
risiko penularan HIV karena berpotensi melukai ibu atau bayi.

2.5. Patogenesis dan patofisiologi HIV/ AIDS


2.5.1. Struktur Genomik HIV
Acquired immune defficiency syndrome (AIDS) dapat diartikan sebagai
kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh
akibat infeksi oleh virus HIV (Human Immmunodeficiency Virus) yang termasuk
famili retroviridae, AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi HIV (Djoerban, 2007).
HIV adalah retrovirus, anggota genus Lentivirus, dan menunjukkan banyak gambaran
fisikomia yang merupakan ciri khas famili. Genom RNA lentivirus lebih kompleks
daripada genom RNA Retrovirus yang bertransformasi. Virus mengandung tiga gen
yang dibutuhkan untuk replikasi retrovirus gag, pol, dan env.8

Gambar 2.1. Peta genome dari Lentivirus Sumber: Osmand, 2002


Virion HIV-1 berbentuk icosahedral dan memiliki ujun tajam eksternal
sebanyak 72. Lebih kompleks dibandingkan HTLV-1 dan HTLV-2. Produk gen
dapat dibagi menjadi tiga kelompok.
2.5.2. Siklus Hidup HIV dan Internalisasi HIV ke Sel Target

HIV

merupakan

retrovirus

obligat

intraselular

dengan

replikasi

sepenuhnya di dalam sel host. Perjalanan infeksi HIV di dalam tubuh manusia
diawali dari interaksi gp120 pada selubung HIV berikatan dengan reseptor
spesifik CD4 yang terdapat pada permukaan membran sel target (kebanyakan
limfosit T-CD4+). Sel target utama adalah sel yang mempu mengekspresikan
reseptor CD4 (astrosit, mikroglia, monosit-makrofag, limfosit, Langerhans

dendritik).
Gambar 2.2. Poin potensial dari intervensi pada siklus hidup HIV Sumber:
University of Washington, 2004
2.6. Patogenesis & Patofisiologi
Awalnya terjadi perlekatan antara gp120 dan reseptor sel CD4, yang
memicu perubahan konformasi pada gp120 sehingga memungkinkan pengikatan

dengan koreseptor kemokin (biasanya CCR5 atau CXCR4). Setelah itu terjadi
penyatuan pori yang dimediasi oleh gp41.9

Gambar 2.3. Patofisiologi HIV Sumber: Castillo, 2005

10

Setelah berada di dalam sel CD4, salinan DNA ditranskripsi dari genom
RNA oleh enzim reverse transcriptase (RT) yang dibawa oleh virus. Ini
merupakan proses yang sangar berpotensi mengalami kesalahan. Selanjutnya
DNA ini ditranspor ke dalam nukleus dan terintegrasi secara acak di dalam genom
sel pejamu. Virus yang terintegrasi diketahui sebagai DNA provirus. Pada aktivasi
sel pejamu, RNA ditranskripsi dari cetakan DNA ini dan selanjutnya di translasi
menyebabkan produksi protein virus. . Poliprotein prekursor dipecah oleh
protease virus menjadi enzim (misalnya reverse transcriptase dan protease) dan
protein struktural. Hasil pecahan ini kemudian digunakan untuk menghasilkan
partikel virus infeksius yang keluar dari permukaan sel dan bersatu dengan
membran sel pejamu. Virus infeksius baru (virion) selanjutnya dapat menginfeksi
sel yang belum terinfeksi dan mengulang proses tersebut. Terdapat tiga grup
(hampi semua infeksi adalah grup M) dan subtipe (grup B domina di Eropa) untuk
HIV-1 (Mandal, 2008)
Pada saat hamil, sirkulasi darah janin dan sirkulasi darah ibu dipisahkan
oleh beberapa lapis sel yang terdapat di plasenta. Plasenta melindungi janin dari
infeksi HIV. Tetapi, jika terjadi peradangan, infeksi ataupun kerusakan pada
plasenta, maka HIV bias menembus plasenta, sehingga terjadi penularan HIV dari
ibu ke anak. Penularan HIV dari ibu ke anak pada umumnya terjadi pada saat
persalinan dan pada saat menyusui. Risiko penularan HIV pada ibu yang tidak
mendapatkan penanganan PPIA saat hamil diperkirakan sekitar 15-45%. Risiko
penularan 15-30% terjadi pada saat hamil dan bersalin, sedangkan peningkatan
risiko transmisi HIV sebesar 10-20% dapat terjadi pada masa nifas dan menyusui.4
Apabila ibu tidak menyusui bayinya, risiko penularan HIV menjadi 2030% dan akan berkurang jika ibu mendapatkan pengobatan ARV. Pemberian ARV
jangka pendek dan ASI eksklusif memiliki risiko penularan HIV sebesar 15-25%
dan risiko penularan sebesar 5-15% apabila ibu tidak menyusui (PASI). Akan
tetapi, dengan terapi antiretroviral (ART) jangka panjang, risiko penularan
HIV dari ibu ke anak dapat diturunkan lagi hingga 1-5%, dan ibu yang menyusui
secara eksklusif memiliki risiko yang sama untuk menularkan HIV ke anaknya
dibandingkan dengan ibu yang tidak dapat terjadi pada masa nifas dan menyusui.4

11

2.7. MANIFESTASI KLINIS


Manifestasi klinis infeksi bervariasi antara bayi, anak-anak dan remaja.
Pada kebanyakan bayi pemeriksaan fisik biasanya normal. Gejala inisial dapat
sangat sedikit, seperti limfadenopati, hepatosplenomegali, atau yang tidak spesifik
seperti kegagalan untuk tumbuhm diare rekuren atau kronis, pneumonia
interstitial. Di Amerika dan Eropa sering terjadi gangguan paru-paru dan sistemik,
sedangkan di Afrika lebih sering terjadi diare dan malnutrisi.
Terdapat berbagai klasifikasi klinis HIV/AIDS 2 diantaranya menurut enter for
Disease Control and Prevention (CDC) dan World Health Organization (WHO).
Klasifikasi HIV menurut CDC pada anak menggunakan 2 parameter yaitu status
klinis dan derajat gangguan imunologis, lihat tabel .
.

12

DEFINISI STATUS
IMUNOLOGIS
1. Nonsuppressed
2.Moderate

KATEGORI IMUNOLOGIS
JUMLAH CD4+ DAN PERSENTASI
LIMFOSIT TERHADAP USIA
0 1 tahun
1-5 tahun
L
%
L
%
1500
25
1000 25
750500-

TOTAL

6-12 tahun
L
%
500
25
200-

suppression
1499
15-24 999
15-24 499
15-24
3. Severe suppression <>
<15
<>
<15
<>
<15
Tabel 2.3.Klasifikasi HIV pada Anak Kurang dari 13 Tahun Berdasarkan Jumlah
CD4 dan
Persentasi Total Limfosit Terhadap Usia(1),(10)
Klasifikasi Secara Klinis
DEFINISI
STATUS N : Tanpa A : Gejala B : Gejala C : Gejala
Gejala dan dan Tanda dan Tanda dan Tanda
IMUNOLOGIS
Tanda
Ringan
Sedang
Berat
1. Nonsuppressed
N1
A1
B1
C1
2. Moderate suppression A2
C2
B2
C2
3. Severe suppression
A3
C3
B3
C3
Tabel 2.4. Klasifikasi HIV menurut CDC pada Anak Kurang dari 13 Tahun Secara
Klinis(1)
Kriteria klinis untuk infeksi HIV pada anak-anak kurang dari 13 tahun. (1),(11)
Kategori N : pasien-pasien asimptomatik. Tidak ditemukan tanda maupun
gejala yang menunjukkan adanya infeksi HIV, atau pasien hanya dapat ditemukan
satu bentuk kelainan berdasarkan kategori A.
Kategori A : pada pasien dapat ditemukan dua atau lebih kelainan, tetapi tidak
termasuk kategori B atau C :

13

Lymphadenopathy ( 0.5 cm pada dua tempat atau lebih, dua KGB yang
bilateral dianggap sebagai satu kesatuan).

Hepatomegali

Splenomegali

Dermatitis

Parotitis

URTI berulang atau persisten

Kategori B: moderately symptomatic. Pasien menunjukkan gejala-gejala yang


tidak termasuk ke dalam keadaan-keadaan pada kategori A maupun C, dan gejalagejala yang terjadi merupakan akibat dari terjadinya infeksi HIV

Anemia

(<8g/dl)

neutropenia (<

1000/ul),

trombositopenia

(<100.000/ul)menetap > 30 hari

Meningitis bakterial, pneumonia, atau sepsis (terjadi dalam satu episode).

Candidiasis orofaring yang terjadi lebih dari dua bulan pada anak-anak
berusia enam bulan atau kurang.

Kardiomiopati.

Infeksi CMVyang terjadi lebih dari satu bulan.

Diare

Hepatitis

14

Stomatitis yang disebabkan oleh HSV (rekuren, minimal terjadi 2 kali


dalam satu tahun).

Bronkitis yang disebabkan oleh HSV, pneumonitis, atau esofagitis yang


terjadi sebelum usia satu bulan.

Herpes zoster yang terjadi dalam dua episode berbeda pada satu
dermatom.

Leiomyosarcoma

Pneumonia limfoid interstitiel, atau hiperplasia kelenjar limfoid pulmonal


kompleks.

Nefropati.

Nocardiosis.

Demam yang berlangsung selama satu bulan atau lebih.

Toksoplasmosis yang timbul sebelum usia satu bulan.

Varicella diseminata atau dengan komplikasi.

Kategori C: pasien-pasien dengan gejala-gejala penyakit yang parah dan


ditemukan pada pasien AIDS.

Kandidiasis bronki, trakea, dan paru

Kandidiasis esofagus

Kanker leher rahim invasif

15

Coccidiomycosis menyebar atau di paru

Kriptokokus di luar paru

Retinitis virus sitomegalo

Ensefalopati yang berhubungan dengan HIV

Herpes simpleks dan ulkus kronis > 1 bulan

Bronkhitis, esofagitis dan pneumonia

Histoplasmosis menyebar atau di luar paru

Isosporiasi intestinal kronis > 1 bulan

Sarkoma Kaposi

Limfoma Burkitt

Limfoma imunoblastik

Limfoma primer di otak

Mycobacterium Avium Complex (MAC) atau M. Kansasii tersebar di luar


paru

M. Tuberculosis dimana saja

Ikobacterium jenis lain atau jenis yang tidak dikenal tersebar atau di luar
paru

Pneumonia Pneumoncystitis carinii

16

Pneumonia berulang

Leukoensefalopati multifokal progresif

Septikemia salmonella yang berulang

Toksoplasmosis di otak

Sedangkan klasifikasi WHO pada anak ialah :


Stadium Klinis 1

Tanpa gejala (asimtomatis)

Limfadenopati generalisata persisten

Stadium Klinis 2

Hepatosplenomegaly persisten tanpa alasani

Erupsi papular pruritis

Infeksi virus kutil yang luas

Moluskum kontagiosum yang luas

Infeksi jamur di kuku

Ulkus mulut yang berulang

Pembesaran parotid persisten tanpa alasan

17

Eritema lineal gingival (LGE)

Herpes zoster

Infeksi saluran napas bagian atas yang berulang atau kronis (ototis media,
otore, sinusitis, atau tonsilitis)

Stadium Klinis 3

Malanutrisi sedang tanpa alasan jelas tidak membaik dengan terapi baku

Diare terus-menerus tanpa alasan (14 hari atau lebih)

Demam terus-menerus tanpa alasan (di atas 37,5C, sementara atau terusmenerus, lebih dari 1 bulan)

Kandidiasis oral terus-menerus (setelah usia 6-8 minggu)

Oral hairy leukoplakia (OHL)

Gingivitis atau periodonitis nekrotising berulkus yang akut

Tuberkulosis pada kelenjar getah bening

Tuberkulosis paru

Pneumonia bakteri yang parah dan berulang

Pneumonitis limfoid interstitialis bergejala

Penyakit paru kronis terkait HIV termasuk brokiektasis

Anemia (<8g/dl),>

18

Stadium Klinis 4ii

Wasting yang parah, tidak bertumbuh atau malanutrisi yang parah tanpa
alasan dan tidak menanggapi terapi yang baku

Pneumonia Pneumosistis (PCP)

Infeksi bakteri yang parah dan berulang (mis. empiema, piomisotis, infeksi
tulang atau sendi, atau meningitis, tetapi tidak termasuk pneumonia)

Infeksi herpes simpleks kronis (orolabial atau kutaneous lebih dari 1 bulan
atau viskeral pada tempat apa pun)

Tuberkulosis di luar paru

Sarkoma Kaposi

Kandidiasis esofagus (atau kandidiasis pada trakea, bronkus atau paru)

Toksoplasmosis sistem saraf pusat (setelah usia 1 bulan)

Ensefalopati HIV

Infeksi sitomegalovirus: retinitis atau infeksi CMV yang mempengaruhi


organ lain, yang mulai pada usia lebih dari 1 bulan)

Kriptokokosis di luar paru (termasuk meningitis)

Mikosis diseminata endemis (histoplasmosis luar paru, kokidiomikosis)

Kriptosporidiosis kronis

Isosporiasis kronis

19

Infeksi mikobakteri non-TB diseminata

Limfoma serebral atau non-Hodgkin sel-B

Progressive multifocal leucoencephalopathy (PML)

Nefropati bergejala terkait HIV atau kardiomiopati bergejala terkait HIV

Catatan:
i Tanpa alasan berarti keadaan tidak dapat diakibatkan oleh alasan lain.
ii Beberapa penyakit khusus yang juga dapat dimasukkan pada klasifikasi wilayah
(misalnya penisiliosis di Asia)
2.8. DIAGNOSIS
Seperti penyakit lain, diagnosis HIV lain juga ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan klinis dan hasil pemeriksaan laboratorium.
Anamnesis yang mendukung kemungkinan adanya infeksi HIV ialah :

1. Lahir dari ibu resiko tinggi atau terinfeksi HIV


Bayi-bayi yang terlahir dari ibu-ibu yang terinfeksi HIV akan tetap
mempertahankan status seropositif hingga usia 18 bulan oleh karena
adanya respon antibodi ibu yang ditransfer secara transplacental. Selama
priode ini, hanya anak-anak yang terinfeksi HIV saja yang akan
mengalami respon serokonversi positif pada pemeriksaan dengan enzyme
immunoassays (EIA),immunofluorescent

assays (IFA)

1 antibody western blots (WB).


2. Lahir dari ibu pasangan resiko tinggi atau terinfeksi HIV

atau

HIV-

20

3. Penerima transfusi darah atau komponennya dan tanpa uji tapis HIV
4. Penggunaan obat parenteral atau intravena secara keliru (biasanya pecandu
narkotika)
5. Kebiasaan seksual yang keliru, homoseksual atau biseksual.

Gejala klinis yang sesuai dengan penjelasan sebelumnya, pada bagian


manifestasi klinis. Sedangkan untuk diagnostik pasti dikerjakan pemeriksaan
laboratorium.
Tes untuk mendiagnosis virus harus dilakukan dalam 48 jam kehidupan
pertama. Hampir 40% bayi dapat didiagnosis pada masa ini. Disebabkan karena
banyak bayi yang terinfeksi HIV mempunyai perkembangan penyakit yang cepat
sehingga memerlukan terapi yang progresif pula. Pada anak yang terpapar HIV
dengan tes virologis yang negatif pada 2 hari pertama, beberapa pendapat
mengusulkan perlu untuk dilakukan pemeriksaan kembali pada hari ke-14 untuk
memaksimalkan deteksi dari virus ini.
Terdapat beberapa tes HIV yang cepat dengan sensitivitas dan spesifisitas
yang baik. Kebanyakan dari tes-tes ini hanya membutuhkan satu step pengambilan
sampel dan hasilnya didapat lebih cepat pada 2 hari pertama kehidupan, dan 90%
pada usia 2 minggu kehidupan. Uji RNA HIV plasma, yang mendeteksi replikasi
virus lebih sensitif daripada PCR DNA untuk diagnosis awal, namun data yang
menyatakan seperti itu masih terbatas. Kultur HIV mempunyai sensitivitas yang
hampir sama dengan PCR HIV DNA, namun tekniknya lebih sulit dan mahal, dan
hasilnya sulit didapat pada beberapa minggu, dibandingkan dengan PCR yang
membutuhkan hanya 2-3 hari. Uji antigen p24 bersifat lebih spesifik dan mudah
untuk dilakukan namun kurang sensitif dibandingkan dengan uji virologis lainnya.

21

Seorang bayi yang terpapar oleh virus HIV dapat dinyatakan positif terinfeksi
HIV jika pada pemeriksaan serologis dari 2 (dua) sampel darah yang berbeda pada
bayi (tidak termasuk darah yang berasal dari pusat, karena adanya risiko
terkontaminasi oleh darah ibu); baik dua kali hasil positif pada pemeriksaan kultur
HIV darah perifer untuk sel-sel mononuklear (peripheral blood mononuclear
cell (PMBC)), dan/atau satu hasil positif untuk DNA atau RNA polymerase chain
reaction (PCR) assay dan satu hasil postif pada kultur PMBC HIV. Pemeriksaanpemeriksaan terebut harus dilakukan pada dua waktu yang berlainan pada bayibayi yang belum pernah diberi ASI sebelumnya.
Seorang bayi yang terlahir dari seorang ibu pengidap infeksi HIV dapat
dinyatakan tidak terinfeksi HIV jika tes-tes di atas tetap memberikan hasil negatif
sampai usia bayi lebih dari empat bulan dan bayi tidak mendapat ASI.
1.

Pemeriksaan serologi HIV


Berdasarkan pengamatan atas penderita AIDS secara terus menerus
selama sakitnya maka dapat dibuat suatu hipotesa mengenai lama dan
relatif konsentrasi antigen (HIV) dan antibodi dalam darah penderita.
Gambaran parameter serologi infeksi HIV1 tampak pada Grafik 1, dan
dapat dipakai sebagai patokan dalam menginterpretasi hasil pemeriksaan
serologi HIV.
Pada bulan pertama setelah terjadi infeksi, dalam darahpenderita masih
ditemukan virus HIV (viremia pertama). Pemeriksaan untuk isolasi HIV
pada periode ini sangat jarang berhasil, karena sulit mengetahui kapan
infeksi terjadi, lagipula viremia hanya berlangsung sebentar, sekitar 2
bulan. Padaakhir bulan ke 2 tubuh mulai membentuk antibodi
terhadap envelope dan

disusul

dengan

pembentukan

antibodi

terhadap core (inti). Pada saat itu pemeriksaan antibodi HIV mulaimenjadi
positif untuk jangka waktu lama, kecuali pada antiboditerhadap core yang
dapat menurun setelah beberapa tahunkemudian, tergantung dari frekuensi
infeksi ulang. Ini berartibahwa selama paling sedikit 2 bulan penderita
tampak sehatdan dalam darahnya antibodi HIV tidak terdeteksi

22

olehpemeriksaan serologi; periode ini disebut window period. Setelah 5


10 tahun HIV mulai ditemukan dalam darahuntuk kedua kalinya (viremia
kedua),

di

samping

itu

jugaditemukan

antibodi

terhadap envelope. Tampak bahwa antiboditerhadap envelope selalu dapat


ditemukan dalam darahdibanding dengan antibodi terhadap core.
Grafik 1. Parameter Serologi Infeksi 11 IV1 Konsentrasi Relatif

Pemeriksaan antibodi HIV paling banyak menggunakan metoda


ELISA/EIA (enzyme

linked

immunoadsorbent

assay). ELISA

pada

mulanya digunakan untuk skrening darah donordan pemeriksan darah


kelompok risiko tinggi/tersangka AIDS. Pemeriksaan ELISA harus
menunjukkan hasil positif 2 kali (reaktif) dari 3 test yang dilakukan,
kemudian dilanjutkan denganpemeriksaan konfirmasi yang biasanya
dengan memakaimetoda Western Blot. Test'konfirmasi lain yang jarang
dipakailagi

adalah

RIPA (Radioimmunoprecipitation

Assay),

IFA

(Immunofluorescence Antibody Technique).Berbagaimacam testkonfirmasi


tersebut tidak lebih sensitif dari ELISA, sulit dikerjakan,mahal, lama dan
masih dapat memberi hasil tidak benar, false positive, false negative,
indeterminate. Penggabungan

test

ELISA yang sangat sensitif dan Western Blot yang sangat spesifik mutlak
dilakukan untuk menentukan apakah seseorang positif AIDS.

23

Enzym immunoassay (EIA) digunakan sebagai uji penapis antibodi HIV.


Uji penapis yang positif memiliki sensitivitas lebih dari 99,5 persen. Uji
positif

dikonfirmasi

dengan western

blot atau immunofluorescence

assay (IFA). Walaupun sangat positif, western blot kurang sensitif


dibandingkan dengan immunoassay, karena untuk memberi hasil positif
diperlukan lebih banyak antibodi. Dengan demikian immunofluorescence
assay dapat digunakan untuk memastikan sampel yang positif-EIA tetapi
hasil western blot-nya meragukan. Menurut Center for Diseases and
Prevention (1998B) antibodi dapat dideteksi pada 95% pasien dalam
waktu 6 bulan setelah infeksi, dan karenanya pemeriksaan antibodi tidak
dapat menyingkirkan infeksi yang terjadi lebih dini. Untuk infeksi HIV
primer akut, diperlukan identifikasi antigen inti P24 atau RNA Virus. Hasil
konfirmasi yang positif palsu jarang terjadi dan pada satu penelitian
terhadap hampir 300.000 donor darah, dengan menggunakan biakan virus,
tidak terdeteksi adanya hasil positif palsu wester bot.
Hasil western blot yang meragukan dapat terjadi karena faktor-faktor yang
mencakup:

Individu baru terinfeksi, sehingga sedang mengalami


serokonversi

Penyakit HIV stadium akhir

Bayi yang terpajan secara perinatal dan sedang mengalami


serokonversi

Reaksi nonspesifik pada wanita tidak terinfeksi yang


sedang atau pernah hamil.

2.

Pemeriksaan ELISA/EIA

24

ELISA dari berbagai macam kit yang ada di pasaran mempunyai cara kerja
hampir sama. Pada dasarnya, diambil virus HIV yang ditumbuhkan pada
biakan sel, kemudian dirusak dan dilekatkan pada biji-biji polistiren atau
sumur microplate. Serum atau plasma yang akan diperiksa, diinkubasikan
dengan antigen tersebut selama 30 menit sampai 2 jam kemudian dicuci.
Ella terdapat IgG (immunoglobulin G) yang menempel pada biji-biji atau
sumur microplate tadi maka akan terjadi reaksi pengikatan antigen dan
antibodi. Antibodi anti-IgG tersebut terlebih dulu sudah diberi label
dengan enzim (alkali fosfatase,horseradish peroxidase) sehingga setelah
kelebihan enzim dicuci habis maka enzim yang tinggal akan bereaksi
sesuai dengankadar IgG yang ada, kemudian akan berwarna bila ditambah
dengan suatu substrat. Sekarang ada test EIA yang menggunakan ikatan
dari heavy dan light chain dari Human Immunoglobulin sehingga reaksi
dengan antibodi dapat lebih spesifik, yaitu mampu mendeteksi IgM
maupun IgG.
Pada setiap tes selalu diikutkan kontrol positif dan negatif untuk dipakai
sebagai

pedoman,

sehingga

kadardi

atas cut-offvalue atau

di atasabsorbance level spesimen akan dinyatakan positif. Biasanya lama


pemeriksaan adalah 4 jam. Pemeriksaan ELISA hanya menunjukkan suatu
infeksi HIV di masa lampau. Tes ELISA mulai menunjukkan hasil positif
pada bulan ke 23 masa sakit. Selama fase permulaan penyakit (fase akut)
dalam darah penderita dapat ditemukan virus HIV/partikel HIV dan
penurunan jumlah sel T4.
Setelah beberapa hari terkena infeksi AIDS, IgM dapat dideteksi,
kemudian setelah 3 bulan IgG mulai ditemukan. Pada fase berikutnya
yaitu pada waktu gejala major AIDS menghilang (karena sebagian besar
HIV telah masuk ke dalam sel tubuh) HIV sudah tidak dapat ditemukan
lagi dari peredaran darah dan jumlah Sel T4 akan kembali ke normal. Hasil
pemeriksan ELISA harus diinterpretasi dengan hati-hati, karena tergantung

25

dari fase penyakit. Pada umumnya, hasil akan positifpada lase timbul
gejalapertama AIDS (AIDS phase) dan sebagian kecil akan negatif pada
fase dini AIDS (Pre AIDS phase).
Beberapa hal tentang kebaikan test ELISA adalah nilaisensitivitas
yang tinggi: 98,1% 100%, Western Blot memberinilai spesifik 99,6%
100%. Walaupun begitu, predictive value hasil test positif tergantung dari
prevalensi HIV di masyarakat.Pada kelompokpenderita AIDS,predictive
positive value adalah100% sedangkan pada donor darah dapat antara 5%
100%. Predictive value dari hasil negatif ELISA pada masyarakat sekitar
99,99% sampai 76,9% pada kelompok risiko tinggi. Di samping
keunggulan, beberapa kendala path test ELISA yang perlu diperhatikan
adalah:
1)

Pemeriksaan ELISA hanya mendeteksi antibodi, bukan antigen


(akhir-akhir ini sudah ditemukan test ELISA untuk antigen). Oleh
karena itu test uji baru akan positif bila penderita telah mengalami
serokonversi yang lamanya 23 bulan sejak terinfeksi HIV, bahkan
ada

yang

bulan

atau

lebih

(pada

keadaan immunocompromised). Kasus dengan infeksi HIV laten


dapat temp negatif selama 34 bulan.
2)

Pemeriksaan ELISA hanya terhadap antigen jenis IgG. Pen-Cermin


Dunia Kedokteran No. 75, 1992 15 derita AIDS pada taraf
permulaan hanya mengandung IgM, sehingga tidak akan terdeteksi.
Perubahan dari IgM ke IgG membutuhkan waktu sampai 41
minggu.

3)

Pada umumnya pemeriksaan ELISA ditujukan untuk HIV 1. Bila


test ini digunakan pada penderita HIV-2, nilai positifnya hanya
24%. Tetapi HIV2 paling banyak ditemukan hanya di Afrika.

26

4)

Masalah false positive pada test ELISA. Hasil ini sering ditemukan
pada keadaan positif lemah, jarang ditemukan pada positif kuat. Hal
ini disebabkan karena morfologi HIV hasil biakan jaringan yang
digunakan dalam test kemurniannya berbeda dengan HIV di alam.
Oleh karena itu test ELISA harus dikorfirmasi dengan test lain. Tes
ELISA mempunyai sensitifitas dan spesifisitas cukup tinggi
walaupun hasil negatif tesini tidak dapat menjamin bahwa seseorang
bebas 100%dari HIV-1 terutama pada kelompok resiko tinggi.

Akhir-akhir ini test ELISA telah menggunakan recombinant antigen yang


sangat

spesifik

terhadap envelope dan core.Antibodi

terhadap envelope ditemukan pada setiap penderita HIV stadium apa saja
(Graf k). Sedangkan antibodi terhadap p24 (proten dari core) bila positif
berarti penderita sedang mengalami kemunduran/deteriorasi
3.

Pemeriksaan Western Blot


Pemeriksaan

Western

Blot cukup

sulit,

mahal,

interpretasinya

membutuhkan pengalaman dan lama pemeriksaan sekitar24 jam.Cara


kerja

test Western

Blot yaitu

dengan

meletakkan

HIVmurni

pada polyacrylamide gel yang diberi anus elektroforesis sehingga terurai


menurut berat protein yang berbeda-beda, kemudian dipindahkan
ke nitrocellulose.

Nitrocellulose ini

diinkubasikan

dengan

serum

penderita. Antibodi HIV dideteksi dengan memberikan antlbodi antihuman yang sudah dikonjugasi dengan enzim yang menghasilkan wama
bila diberi suatusubstrat. Test ini dilakukan bersama dengan suatu bahan
dengan profil berat molekul standar, kontrol positif dan negatif.
Gambaran band dari bermacam-macam proteinenvelope dan core dapat
mengidentifikasi macam antigen HIV.

27

Antibodi

terhadap protein core HIV (gag) misalnya

p24 dan

protein precursor (p25) timbul pada stadium awal kemudian menurunpada


saat

penderita

mengalami

deteriorasi. Antibodi

terhadap envelope

(env) penghasil gen (gp160) dan precursornya (gp120) dan protein


transmembran (gp4l) selalu ditemukan pada penderita AIDS pada stadium
apa saja. Beberapa protein lainnya yang sering ditemukan adalah: p3 I,
p51, p66, p14, p27, lebih jarang ditemukan p23, p15, p9, p7.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa bila serum mengandung antibodi
HIV yang lengkap maka Western blot akan memberi gambaran profil
berbagai macam band protein dari HIV antigen cetakannya. Definisi hasil
pemeriksaan Western

Blot

menurut

profit

dari band

protein dapat

bermacam-macam, pada umumnya adalah:


1. Positif:
a)

Envelope : gp4l, gpl2O, gp160.

b)

Salah satu dari band : p 15, p 17, p24, p31, gp4l, p51, p55, p66.

2. Negatif : Bila tidak ditemukan band protein.


3. Indeterminate : Bila ditemukan band protein yang tidak sesuai dengan
profil positif.
Hasil indeterminate diberikan setelah ditest secara duplo dan penderita
diberitahu untuk diulang setelah 23 bulan. Hal ini mungkin karena infeksi
masih terlalu dini sehingga yang ditemukan hanya sebagian dari core antigen
(p17, p24, p55). Akhir-akhir ini hasil positif diberikan bila ditemukan paling
tidak p24, p31 dan salah satu dari gp41 atau gpl60. Dengan makin ketatnya !
criteria Western Blot maka spesifisitas menjadi tinggi, dan sensitifitas turun
dari 100% dapat menjadi hanya 56% karena hanya 60% penderita AIDS
mempunyai p24, dan 83% mempunyai p31.

28

Sebaliknya cara ini dapat menurunkan angka false positive pada kelompok
risiko tinggi, yang biasanya ditemukan sebesar 1 di antara 200.000 test
padahal test tersebut sudah didahului dengan test ELISA. Besar false negative
Western Blot belum diketahui secara pasti, tapi tentu tidak not. False
negative dapat terjadi karena kadar antibodi HIV rendah, atau hanya
timbulband protein p24 dan p34 saja (yaitu pada kasus dengan infeksi HIV
2). False negative biasanya rendah pada kelompok masyarakat tetapi dapat
tinggi pada kelompok risiko tinggi. Cara mengatasi kendala tadi adalah
dengan menggunakanrecombinant HIV yang lebih murni

4.

Pemeriksaan Penunjang HIV AIDS lainnya:


1) Foto Thoraks
2) Pemeriksaan Fisik
a)

Penampilan umum tampak sakit sedang, berat

b)

Tanda vital

c)

Kulit terdapat rush, steven jhonson

d)

Mata merah, icterik, gangguan penglihatan

e)

Leher: pembesaran KGB

f)

Telinga dan hidung; sinusitis berdengung

g)

Rongga mulut: candidiasis

h)

Paru: sesak, efusi pleura, otot bantu

29

i)

Jantung: pembesaran jantung

j)

Abdomen: ascites, distensi abdomen, pembesaran hepar

k)

Genetalia dan rectum: herpes

l)

Neurologi: kejang, gangguan memori, neuropati

3) Mantoux test
4) Pemeriksaan Laboratorium Darah (Kadar CD4, Hepatitis, Paps Smear,
Toxoplasma, Virus load)

2.9. PENATALAKSANAAN
2.9.1. Terapi Anti Retroviral (ARV)
Terapi saat ini tidak dapat mengeradikasi virus namun hanya untuk mensupres
virus untuk memperpanjang waktu dan perubahan perjalanan penyakit ke arah
yang kronis. Pengobatan infeksi virus HIV pada anak dimulai setelah
menunjukkan adanya gejala klinis. Gejala klinis menurut klasifikasi CDC.
Pengobatan ARV diberikan dengan pertimbangan :

1. Adanya bukti supresi imun yang ditandai dengan menurunnya jumlah CD4
atau persentasenya.
2. Usia
3. Bagi anak berusia > 1 tahun asimtomatis dengan status imunologi normal,
terdapat 2 pilihan :
a. Awali pengobatan tidak bergantung kepada gejala klinis.

30

b. Tunda pengobatan pada keadaan resiko progresifitas perjalanan


penyakit rendah atau adanya faktor lain misalnya pertimbangan
lamanya respon pengobatan, keamanan dan kepatuhan.
Pada kasus seperti ini faktor lain yang harus dipertimbangkan ialah :

Peningkatan viral load

Penurunan dengan cepat CD4 baik jumlah atau presentasi supresi imun
(Kategori Imun 2 pada tabel )

Timbulnya gejala klinis

Keputusan untuk memberikan terapi antiretrovirus harus memenuhi kriteria


sebagai berikut : (7)
1) Tes HIV secara sukarela disertai konseling yang mudah dijangkau untuk
mendiagnosis HIV secara dini.
2) Tersedia dana yang cukup untuk membiayai Anti Retrovirus Terapi
(ART) selama sedikitnya 1 tahun
3) Konseling bagi pasien dan pendamping untuk memberikan pengertian
tentang ART, pentingnya kepatuhan pada terapi, efek samping yang
mungkin terjadi, dll.
4) Konseling lanjutan untuk memberi dukungan psikososial dan mendorong
kepatuhan serta untuk menghadapi masalah nutrisi yang dapat timbul
akibat ART
5) Laboratorium untuk memantau efek samping obat termasuk Hb, tes
fungsi hati, dll.

31

6) Kemampuan untuk mengenal dan menangani penyakit umum dan infeksi


oportunistik akibat HIV
7) Tersedianya obat yang bermutu dengan jumlah yang cukup, termasuk
obat untuk infeksi oportunistik dan penyakit yang berhubungan dengan
HIV.
8) Tersedianya tim kesehatan termasuk dokter, perawat, konselor, pekerja
sosial, dukungan sebaya. Tim ini seharusnya membantu pembentukan
kelompok

dukungan

Orang

Dengan

HIV/AIDS

(ODHA)

dan

pendampinya.
9) Adanya pelatihan, pendidikan berkelanjutan, pemantauan dan umpan
balik tentang penatalaksanaan penyakit HIV yang efektif termasuk sistem
untuk menyebarluaskan informasi dan pedoman baru.
10) Obat ARV digunakan secara rasional sesuai pedoman yang berlaku.
Perjalanan penyakit infeksi HIV dan penggunaan ART pada anak adalah serupa
dengan orang dewasa tetapi ada beberapa pertimbangan khusus yang dibutuhkan
untuk bayi, balita, dan anak yang terinfeksi HIV.
Efek obat berbeda selama transisi dari bayi ke anak. Oleh karena itu dibutuhkan
perhatian khusus tentang dosis dan toksisitas pada bayi dan anak. Kepatuhan
berobat pada anak menjadi tantangan tersendiri.
Terapi ARV memberi manfaat klinis yang bermakna pada anak yang terinfeksi
HIV yang menunjukkan gejala. Uji klinis terhadap anak sudah menunjukkan
bahwa ART memberi manfaat serupa dengan pemberian ART pada orang dewasa.
Saat ini ada 3 (tiga) golongan ART yang tersedia di Indonesia:

32

1. Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NRTIs): Obat ini dikenal


sebagai analog nukleosida yang menghambat proses perubahan RNA virus
menjadi DNA. Proses ini diperlukan agar virus dapat bereplikasi. Obat
dalam golongan ini termasuk Zidovudine (AZT), Lamivudine (3TC),
Didanosine (ddl), Stavudine (d4T), Zalcitabin (ddC), Abacavir (ABC).
2. Non-Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NNRTI): obat ini
berbeda dengan NRTI walaupun juga menghambat proses perubahan RNA
menjadi DNA. Obat dalam golongan ini termasuk nevirapine (NVP),
Efavirenz (EFV), dan Delavirdine (DLV).
3. Protease Inhibitor (PI): Obat ini bekerja menghambat enzim protease
yang memotong rantai panjang asam amino menjadi protein yang lebih
kecil. Obat dalam golongan ini termasuk Indinavir (IDV), Nelfinavir
(NFV), Saquinavir (SQV), Ritonavir (RTV), Amprenavir (APV), dan
Lopinavir/ritonavir (LPV/r).

Regimen obat yang diusulkan di Indonesia ialah :


Salah satu dari Kolom A dan salah satu kombinasi dari
Kolom B
Kolom A
Nevirapine (NVP)
Nelfinavir (NVF)

Kolom B
AZT + ddl
ddl+3TC
d4T + ddl
AZT + 3TC
d4T + 3TC
Tabel 2.4. Regimen ART yang diusulkan di Indonesia
Untuk neonatus, regimen obat yang diberikan berupa 2 nucleoside reverse
transcriptase inhibitors (NRTIs) atau nevirapine dengan 2NRTIs atau protease
inhibitor dengan 2NRTIs. Selain itu, juga direkomendasikan pemberian

33

zidovudine dengan didanosine atau zidovudine dengan lamivudine dikombinasi


dengan nelfinavir atau ritonavir. Untuk bayi-bayi yang lebih tua dan anak-anak,
direkomendasikan beberapa regimen antiretroviral. Protease inhibitor sebagai
pilihan

utama

dengan

2NRTIs. Nonnucleoside

reverse

transcriptase

inhibitor yang paling direkomendasikan untuk anak-anak berusia lebih dari tiga
tahun adalah 2NRTIs dengan efavirenz (dapat disertai dengan atau tanpa protease
inhibitor). Untuk anak-anak berusia kurang dari tiga tahun yang belum dapat
mendapat

tablet,

regimennonnucleoside terpiliih

adalah

2NRTIs

dengan

nevirapine. Alternatif pemberian regimen terapi nucleoside analogue adalah


zidovudine dengan lamivudine dan abacavir.
2.9.2. Pemantauan pengobatan
Pemantauan pengobatan diperlukan untuk melihat :
1. Kepatuhan minum obat.
2. Gejala baru yang timbul akibat efek samping obat maupun dari perjalanan
penyakit itu sendiri.
Pemantauan sebaiknya dilakukan setelah 1 bulan pengobatan dimulai dan
selanjutnya setiap 3 bulan sekali.
Pemantauan keberhasilan dan toksisitas ART:
1. Secara klinis
a. Berat badan meningkat
b. Tidak kena infeksi opportunistik, atau kalau pun terkena, infeksi tidak berat
c. Anamnesis gejala yang berhubungan dengan HIV seperti batuk lebih dari 2
minggu, demam, diare, dll disertai pemeriksaan fisik.
2. Pemeriksaan laboratorium
Tes darah rutin termasuk tes darah lengkap, SGOT/SGPT, kreatinin, gula darah,
kolesterol dan trigliserid dibutuhkan untuk memantau efek samping obat dan

34

perjalanan penyakit. Jenis tes yang dibutuhkan bergantung pada regimen obat
yang digunakan. Tes jumlah CD4 setiap 6 bulan sekali diperlukan untuk
menentukan kapan profilaksis dapat dihentikan. Bila tes ini belum dapat
dilakukan maka dapat dipakai hitung limfosit total.
Indikasi untuk Mengganti Regimen atau Berhenti ART
Mengganti regimen akibat toksisitas obat dapat dilakukan degan mengganti satu
atau lebih obat dari golongan yang sama dengan obat yang dicurigai
mengakibatkan toksisitas. (11)
Mengganti terapi akibat kegagalan, untuk hal ini terdapat kriteria khusus untuk
penggantian terapi menjadi regimen yang baru secara keseluruhan (masingmasing obat dalam kombinasi diganti dengan yang baru) atau penghentian terapi
penggantian atau penghentian dilakukan apabila :
1. ODHA pernah menerima regimen yang sama sekali tidak efektif lagi
misalnya monoterapi atau terapi dengan 2 nukleosida Nucleosida
reverse transcriptase inhibitor (NRTI)
2. Viral load masih terdeteksi setelah 4-6 bulan terapi, atau bila viral load
menjadi terdeteksi kembali setelah beberapa bulan tidak terdeteksi.
3. Jumlah CD4 terus-menerus menurun setelah dites 2 kali dengan interval
beberapa minggu
4. Infeksi opportunistik dengan immune reconstitution syndrome/sindrom
pemulihan kembali kekebalan.

2.9.3.Asuhan Gizi
Asuhan gizi merupakan komponen penting dalam perawatan individu yang
terinfeksi HIV. Mereka akan mengalami gangguan pertumbuhan dan penurunan
berat badan dan hal ini berkaitan dengan kurang gizi. Penyebabnya multifaktorial

35

antara lain karena anoreksia, gangguan penyerapan sari makanan pada saluran
cerna, hilangnya cairan tubuh akibat diare dan muntah, dan gangguan
metabolisme. Jika seseorang dengan HIV mempuyai status gizi yang baik maka
daya tahan tubuh akan lebih baik sehingga menghambat memasuki tahap AIDS.
Asuhan gizi dan terapi gizi bagi ODHA sangat penting bagi mereka yang
mengkonsumsi ARV. Makanan yang dikonsumsi mempengaruhi penyerapan ARV
dan obat infeksi opoortunistik dan juga sebaliknya, sehingga mmerlukan
pengaturan diet seperti obat ARV dimakan ketika saat lambung kosong.
Prinsip gizi medis pada ODHA ialah tinggi kalori tinggi protein (TKTP)
diberikan secara oral, juga kaya vitamin meneral dan cukup air. Berdasarkan
beberapa penelitian, pemberian stimulan nafsu makan, seperti megestrol
acetate dan human recombinant growth hormone dapat memberikan kenaikan
berat badan dan pertumbuhan.
Seiring dengan berkembangnya penyakit, akan terjadi penurunan berat
badan yang sangat drastis (drastic wasting) dan terhambatnya pertumbuhan anak.
Berkurangnya cadangan protein dapat diatasi dengan meningkatkan intake asam
amino, terutama threonine dan methionine.
Pemilihan makanan bayi harus didahului dengan konseling tentang risiko
penularan HIV melalui ASI. Konseling diberikan sejak perawatan antenatal atau
sebelum persalinan. Pengambilan keputusan oleh ibu dilakukan setelah mendapat
informasi secara lengkap. Pilihan apapun yang diambil oleh ibu harus didukung.

36

Ibu dengan HIV yang sudah dalam terapi ARV memiliki kadar HIV sangat
rendah, sehingga aman untuk menyusui bayinya. Dalam Pedoman HIV dan Infant
Feeding (2010), World Health Organization (WHO) merekomendasikan
pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan untuk bayi lahir dari ibu yang HIV dan
sudah dalam terapi ARV. untuk kelangsungan hidup anak (HIV-free and child
survival). Eksklusif artinya hanya diberikan ASI saja, tidak boleh dicampur
dengan susu lain (mixed feeding). Setelah bayi berusia 6 bulan pemberian ASI
dapat diteruskan hingga bayi berusia 12 bulan, disertai dengan pemberian
makanan padat.
Bila ibu tidak dapat memberikan ASI eksklusif, maka ASI harus
dihentikan dan digantikan dengan susu formula untuk menghindari mixed feeding.
Beberapa studi menunjukkan pemberian susu formula memiliki risiko
minimal untuk penularan HIV dari ibu ke bayi, sehingga susu formula diyakini
sebagai cara pemberian makanan yang paling aman. Namun, penyediaan dan
pemberian susu formula memerlukan akses ketersediaan air bersih dan botol susu
yang bersih, yang di banyak negara berkembang dan beberapa daerah di Indonesia
persyaratan tersebut sulit dijalankan. Selain itu, keterbatasan kemampuan keluarga
di Indonesia untuk membeli susu formula dan adanya norma sosial tertentu di
masyarakat mengharuskan ibu menyusui bayinya.
Sangat tidak dianjurkan menyusui campur (mixed feeding, artinya
diberikan ASI dan PASI bergantian). Pemberian susu formula yang bagi dinding
usus bayi merupakan benda asing dapat menimbulkan perubahan mukosa dinding
usus, sehingga mempermudah masuknya HIV yang ada di dalam ASI ke
peredaran darah.
Ibu hamil dengan HIV perlu mendapatkan informasi dan edukasi untuk
membantu mereka membuat keputusan apakah ingin memberikan ASI eksklusif
atau susu formula kepada bayinya. Mereka butuh bantuan untuk menilai dan
menimbang risiko penularan HIV ke bayinya. Mereka butuh dukungan agar
merasa percaya diri dengan keputusannya dan dibimbing bagaimana memberi
makanan ke bayinya seaman mungkin. Agar mampu melakukan hal itu, tenaga

37

kesehatan perlu dibekali pelatihan tentang informasi dasar HIV dan pemberian
makanan untuk bayi.

2.10. PROGNOSIS
Viremia plasma dan hitung limfosit CD4 sesuai usia dapat menentukan resiko
perjalanan penyakit dan komplikasi HIV. Prognosis yang buruk pada infeksi
perinatal berhubungan dengan terjadinya encephalofati, infeksi, perkembangan
menjadi AIDS lebih awal, dan berkurangnya jumlah limfosit CD4 yang cepat.
Tanpa terapi, kurang lebih 30% bayi yang terinfeksi berkembang menjadi gejala
klinis berat kategori C atau kematian dalam 1 tahun kehidupan. Dengan terapi
yang optimal angka mortalitas dan morbiditas menjadi rendah
2.11. PENCEGAHAN
1.

Penatalaksanaan selama kehamilan


Konseling merupakan keharusan bagi wanita positif-HIV. Hal ini
sebaiknya dilakukan pada awal kehamilan, dan apabila ia memilih untuk
melanjutkan kehamilannya, perlu diberikan konseling berkelanjutan.
Perkembangan penatalaksanaan selama kehamilan mengikuti kemajuankemajuan dalam pengobatan individu non hamil dengan HIV.
Konsekuensi penyakit yang tidak diobati sangat merugikan, terjadi
pergeseran dari fokus yang semata-mata untuk melindugi janin menjadi
pendekatan yang lebih berimbang berupa pengobatan ibu dan janinnya.
Banyak terjadi kemajuan dalam pengobatan HIV. Sejumlah penelitian
membuktikan bahwa kombinasi analog nukleosida-zidovudin, zalsitabin,
atau lamivudin yang diberikan bersama dengan suatu inhibitor proteaseindinavir, ritonavir, atausakuinavir sangat efektif untuk menekan kadar
RNA HIV. Pada pasien HIV yang diberi kemoterp triple, angka
kelansungan hidup jangka panjang meningkat dan morbiditas berkurang.

38

Center for Disease Control and Prevention (1998) menganjurkan untuk


menawarkan terapi antiretrovirus (ARV) kombinasi pada wanita hamil.
Petunjuk ini diperbarui oleh Perinatal HIV Guidelines Working Group
(2000,2001). Working Group merekomendasikan pemeriksaan hitung
CD4+ limfosit T dan kadar RNA HIV kurang lebih tiap trimester, atau
sekitar setiap 3 sampai 4 bulan. Hasil pemeriksaan ini dipakai untuk
mengambil keputusan untuk memulai terapi ARV, mengubah terapi,
menentukan rute pelahiran, atau memulai profilaksis untuk pneumonia
Pneumocystis carinii.
Bahkan dengan pengobatan, penyulit non-infeksi menigkat pada para
wanita dan bayi. Wanita hamil yang diterapi dua inhibitor transcriptase
mengalami efek merugikan dan sering terjadi pelahiran preterm.
Pada ibu juga dilakukan pemeriksaan untuk penyakit menular seksual lain
dan tuberculosis (TB). Pasien diberi vaksininasi untuk hepatiis B,
influenza, dan mungkin juga infeksi pneumokokus. Apabila hitung CD4+
kurang dari 200 /ul, dianjurkan pemberian profilaksis primer P.carinii.
Pneumonia diterapi dengan pentamidin atau sulfametoksazol-trimetoprin
oral atau intravena. Infeksi oportunistik simtomatik lain yang mungkin
timbul adalah toksoplasmosis, herpes, dan kandidiasis.

2.

Penatalaksanaan Persalinan
Seksio Sesarea
European Collaborative Study Group (1994) melaporkan bahwa seksio
sesarea elektif dapat mengurangi risiko penularan vertikal sekitar 50 %.
Apabila dianalisis berdasarkan terapi ARV, tidak terdapat perbedaan yang
bermakna dalam angka penularan pada wanita yang mendapat zidovudin
dan menjalani seksio sesarea versus per vaginam.
Internasional Perinatal HIV Group (1999) baru-baru ini melaporkan
penularan HIV vertikal secara bermakna menurun menjadi kurang dari
separuh apabia saksio sesarea dibandingkan dengan cara pelahiran lain.
Apabila pada masa prenatal, intrapartum, dan neonatal juga diberikan

39

terapi ARV dan dilakukan seksio sesarea, kemungkinan penularan vertikal


akan berkurang sebesar 87 % disbanding dengan cara pelahiran lain dan
tanpa terapi ARV.
Berdasarkan temuan ini, American College of Obstetricians and
Gynecologists (2000) menyimpulkan bahwa seksio sesarea terencana
harus dianjurkan bagi wanita terinfeksi HIV dengan jumlah RNA HIV-1
lebih dari 1000 salinan/ml. Hal ini dilakukan tanpa memandang apakah
pasien sedang atau belum mendapat terapi ARV. Persalinan terencana
dapat dilakukan sebelum 38 minggu untuk mengurangi kemungkinan
pecahnya selaput ketuban.
Penulis-penulis lain mengungkapkan kekhawatiran morbiditas mungkin
meningkat secara bermakna pada wanita terinfeksi HIV yang menjalani
seksio sesarea. Mereka menyimpulkan bahwa terapi ARV kombinasi
dapat menurunkan resiko penularan vertikal sampai serendah 2 %.
Morris,dkk tidak melaporkan adanya penularan perinatal pada 76 wanita
yang mendapat terapi ARV sangat aktif (High active antiretroviral
therapy, HAART).

PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU KE BAYI


Program untuk mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu ke bayi, dilaksanakan
secara komprehensif dengan menggunakan empat prong, yaitu:
a)

Prong 1

Mencegah terjadinya penularan HIV pada perempuan usia

reproduktif;
b)

Prong 2

Mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu HIV

positif;
c)

Prong 3

Mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu hamil HIV

positif ke bayi yang dikandungnya;

40

d)

Prong 4

Memberikan dukungan psikologis, sosial dan perawatan

kepada ibu HIV positif beserta bayi dan keluarganya.


Pada daerah dengan prevalensi HIV yang rendah, diimplementasikan Prong 1 dan
Prong

2.

Pada

daerah

dengan

prevalensi

HIV

yang

terkonsentrasi,

diimplementasikan semua prong. Ke-empat prong secara nasional dikoordinir dan


dijalankan oleh pemerintah, serta dapat dilaksanakan institusi kesehatan swasta
dan lembaga swadaya masyarakat.
Pedoman baru dari WHO mengenai pencegahan penularan dari ibu-kebayi(preventing mother-to-child transmission/PMTCT) berpotensi meningkatkan
ketahanan hidup anak dan kesehatan ibu, mengurangi risiko (mother-to-child
transmission/MTCT) hingga 5% atau lebih rendah serta secara jelas memberantas
infeksi HIV pediatrik.
Pedoman itu memberikan perubahan yang bermakna pada beberapa tindakan di
berbagai bidang. Anjuran kunci adalah:

ART untuk semua ibu hamil yang HIV-positif dengan jumlah CD4 di
bawah 350 atau penyakit WHO stadium 3 atau penyakit HIV stadium 4,
tidak menunda mulai pengobatan dengan tulang punggung AZT dan 3TC
atau tenofovir dan dengan 3TC atau FTC.

Penyediaan antiretroviral profilaksis yang lebih lama untuk ibu hamil yang
HIV-positif yang membutuhkan ART untuk kesehatan ibu.

Apabila ibu menerima ART untuk kesehatan ibu, bayi harus menerima
profilaksis nevirapine selama enam minggu setelah lahir apabila ibunya
menyusui, dan profilaksis dengan nevirapine atau AZT selama enam
minggu apabila ibu tidak menyusui.

41

Untuk pertama kalinya ada cukup bukti bagi WHO untuk mendukung
pemberian ART kepada ibu atau bayi selama masa menyusui, dengan
anjuran bahwa menyusui dan profilaksis harus dilanjutkan hingga bayi
berusia 12 bulan apabila status bayi adalah HIV-negatif atau tidak
diketahui.

Apabila ibu dan bayi adalah HIV-positif, menyusui harus didorong untuk
paling sedikit dua tahun hidup, sesuai dengan anjuran bagi populasi
umum.

Untuk mencegah penularan pada bayi, yang paling penting adalah mencegah
penularan pada ibunya dulu. Harus ditekankan bahwa bayi hanya dapat tertular
oleh ibunya. Jadi bila ibunya HIV-negatif, maka bayi juga tidak terinfeksi HIV.
Status HIV ayah tidak mempengaruhi status HIV bayi. Hal ini dapat dijelaskan
karena sperma ayah yang menderita HIV tidak mengandung virus, yang
mengandung virus adalah air mani. Oleh sebab itu, telur ibu tidak dapat ditularkan
sperma. Jelas, bila perempuan tidak terinfeksi, dan melakukan hubungan seks
dengan laki-laki tanpa kondom dalam upaya buat anak, ada risiko si perempuan
tertular. Dan bila perempuan terinfeksi pada waktu tersebut, dia sendiri dapat
menularkan virus pada bayi. Tetapi laki-laki tidak dapat langsung menularkan
janin atau bayi. Hal ini menekankan pentingnya kita menghindari infeksi HIV
pada perempuan.
Tetapi untuk ibu yang sudah terinfeksi, kehamilan yang tidak diinginkan harus
dicegah. Bila kehamilan terjadi, harus ada usaha mengurangi viral load ibu di
bawah 1.000 agar bayi tidak tertular dalam kandungan, mengurangi risiko kontak
cairan ibunya dengan bayi waktu lahir agar penularan tidak terjadi waktu itu, dan
hindari menyusui untuk mencegah penularan melalui ASI. Dengan semua upaya
ini, kemungkinan si bayi terinfeksi dapat dikurangi jauh di bawah 8%.
1. PMTCT dengan antiretroviral penuh

42

Untuk mengurangi viral load ibu, cara terbaik adalah dengan memakai terapi
antiretroviral penuh sebelum menjadi hamil. Ini akan mencegah penularan pada
janin. Terapi antiretroviral dapat diberikan walaupun tidak memenuhi kriteria
untuk mulai terapi antiretroviral; setelah melahirkan bisa berhenti lagi bila masih
tidak dibutuhkan.
Pedoman baru dari WHO melonggarkan kriteria terapi antiretroviral untuk
perempuan hamil. WHO mengusulkan perempuan hamil dengan penyakit stadium
klinis 3 dan CD4 di bawah 350 ditawarkan ART (antiretroviral therapy). Jelas bila
CD4 di bawah 200, atau mengalami penyakit stadium klinis 4, sebaiknya si
perempuan memakai ART.
Namun ada sedikit keraguan dengan rejimen yang sebaiknya diberikan pada
perempuan. Perempuan hamil tidak boleh diberikan efavirenz pada triwulan
pertama. Selain itu, ada masalah dengan pemberian nevirapine pada perempuan
dengan CD4 yang masih tinggi: efek samping ruam dan hepatotoksisitas
(keracunan hati) lebih mungkin dialami oleh perempuan dengan di atas 250. Jadi
dibutuhkan pemantauan yang lebih ketat, sedikitnya pada beberapa minggu
pertama, bila nevirapine diberikan pada perempuan dengan CD4 di atas 250.(26)
2. PMTCT mulai dini
Namun sering kali si ibu baru tahu dirinya terinfeksi setelah dia hamil. Mungkin
ARV tidak terjangkau. Seperti dibahas, ibu hamil tidak boleh memakai efavirenz
pada triwulan pertama, tetapi mungkin nevirapine menimbulkan efek samping.
Bila dia pakai terapi TB (tuberculosis), diusulkan dihindari nevirapine, walaupun
boleh tetap dipakai NNRTI (non nucleoside reverse transcriptase inhibitor) ini
bila tidak ada pilihan lain. Dan apa dampak bila ART diberikan pada perempuan
tetapi tidak pada suami yang terinfeksi juga? Apakah si perempuan akan kasih
obatnya pada suami, atau lebih buruk lagi, obatnya dibagi dengan dia? Bila
menghadapi beberapa masalah ini, atau si perempuan tetap tidak memenuhi
kriteria untuk mulai ART penuh, sebaiknya dia ditawarkan protokol yang berikut.

43

Tabel 6. Rezimen PMTC Dini


AZT dan 3TC diteruskan setelah melahirkan untuk mencegah timbulnya resistansi
pada nevirapine, karena walaupun hanya satu pil diberikan waktu persalinan,
tingkat nevirapine dapat tetap tinggi dalam darah untuk beberapa hari, jadi serupa
dengan monoterapi dengan nevirapine. Hal yang serupa pada bayi dicegah dengan
pemberian

AZT

setelah

dosis

tunggal

nevirapine.

Sekali lagi, protokol ini membutuhkan diagnosis dan perawatan agak dini, dan
obat harus tersedia. Bila ibu diberikan AZT untuk kurang dari empat minggu
sebelum melahirkan, AZT pada bayi sebaiknya diteruskan selama empat minggu,
bukan

tujuh

hari.(26)

3. PMTCT mulai lambat


Bila baru dapat mulai pengobatan waktu persalinan yang dapat dipaka sebagai
berikut

Tabel 7. Rezimen PMTC Lambat


4. Makanan bayi

44

Sampai 10% bayi dari ibu HIV-positif tertular melalui menyusui, tetapi jauh lebih
sedikit bila disusui secara eksklusif. Sebaliknya lebih dari 3% bayi di Indonesia
meninggal akibat infeksi bakteri, yang sering disebabkan oleh makanan atau botol
yang tidak bersih. Ada juga yang diberi pengganti ASI (PASI) dengan jumlah
yang kurang sehingga bayi meninggal karena malnutrisi. ASI memberi semuanya
yang dibutuhkan oleh bayi untuk tumbuh dan melawan infeksi. Jadi sering kali
bayi lebih berisiko bila diberi PASI daripada ASI dari ibu HIV-positif. Oleh
karena itu usulan sekarang adalah agar bayi diberi ASI eksklusif untuk enam
bulan pertama, kemudian disapih mendadak, kecuali bila dapat dipastikan bahwa
PASI secara eksklusif dapat diberi dengan cara AFASS
A

Affordable (terjangkau)

Feasible (praktis)

Acceptable (diterima oleh lingkungan)

Safe (aman)

Sustainable (kesinambungan)

Itu berarti tidak boleh disusui sama sekali. Ada banyak masalah: mahalnya harga
susu formula, sehingga sering bayi tidak diberi cukup; kalau bayi menangis, ibu
didesak untuk menyusuinya; ibu yang tidak menyusui dianggap kurang
memperhatikan bayi, atau melawan dengan asas; air yang dipakai tidak bersih,
atau campuran tidak disimpan secara aman; dan apakah PASI dapat diberi terusmenerus.
ASI eksklusif berarti bayi hanya diberi ASI dari saat lahir tanpa makanan atau
minuman lain, termasuk air. ASI adalah sangat halus, mudah diserap oleh
perut/usus. Makanan lain lebih keras sehingga lapisan perut/usus membuka agar
diserap, membiarkan HIV dalam ASI menembus dan masuk darah bayi. Jadi
risiko penularan tertinggi bila bayi diberi ASI yang mengandung HIV, bersamaan
dengan makanan lain. Harus ada kesepakatan sebelum melahirkan antara ibu,
ayah dan petugas medis agar bayi langsung disusui setelah lahir, sebelum diberi

45

makanan/minuman lain. Setelah enam bulan, sebaiknya disapih secara mendadak


(berhenti total menyusui).

46

BAB III
KESIMPULAN

Human

Immunodeficiency

Virus

(HIV)

adalah

RNA

retrovirus

yang

menyebabkan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), di mana terjadi kegagalan


sistem imun progresif. Sedangkan AIDS adalah singkatan dari Acquired Immuno

Deficiency Syndrome, yang berarti kumpulan gejala atau sindroma akibat


menurunnya kekebalan tubuh yang disebabkan infeksi virus HIV. Dalam
penularan vertikal HIV dari ibu ke anak ada tiga faktor utama yang berpengaruh,
yaitu faktor ibu, bayi/anak, dan tindakan obstetrik.
Manifestasi klinis infeksi bervariasi antara bayi, anak-anak dan remaja.
Pada kebanyakan bayi pemeriksaan fisik biasanya normal. Gejala inisial dapat
sangat sedikit, seperti limfadenopati, hepatosplenomegali, atau yang tidak spesifik
seperti kegagalan untuk tumbuhm diare rekuren atau kronis, pneumonia
interstitial. Di Amerika dan Eropa sering terjadi gangguan paru-paru dan sistemik,
sedangkan di Afrika lebih sering terjadi diare dan malnutrisi.
Diagnosis HIV ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis dan
hasil pemeriksaan laboratorium. Anamnesis meliputi apakah anak ahir dari dari
ibu resiko tinggi atau terinfeksi HIV, Lahir dari ibu pasangan resiko tinggi atau
terinfeksi HIV. Tes untuk mendiagnosis virus harus dilakukan dalam 48 jam
kehidupan pertama. Tes tes yang dapat dilakukan berupa pemeriksaan serologi
virus, ELISA, dan Western Blot. Seorang bayi yang terpapar oleh virus HIV dapat
dinyatakan positif terinfeksi HIV jika pada pemeriksaan serologis dari 2 (dua)
sampel darah yang berbeda pada bayi (tidak termasuk darah yang berasal dari
pusat, karena adanya risiko terkontaminasi oleh darah ibu); baik dua kali hasil
positif pada pemeriksaan kultur HIV darah perifer untuk sel-sel mononuklear
(peripheral blood mononuclear cell (PMBC)), dan/atau satu hasil positif untuk
DNA atau RNA polymerase chain reaction (PCR) assay dan satu hasil postif pada
kultur PMBC HIV.

47

Tata laksana awal adalah membri konseling pada orangtua kondisi infeksi
HIV dan resiko infeksi oporunistik, pemberian nutrisi yang cukup, pengawasan
tumbuh kembang, imunisasi, dan pemberian awal obat anti retroviral (ARV).
Perjalanan penyakit infeksi HIV dan penggunaan ART pada anak adalah
serupa dengan orang dewasa tetapi ada beberapa pertimbangan khusus yang
dibutuhkan untuk bayi, balita, dan anak yang terinfeksi HIV. Efek obat berbeda
selama transisi dari bayi ke anak. Oleh karena itu dibutuhkan perhatian khusus
tentang dosis dan toksisitas pada bayi dan anak. Kepatuhan berobat pada anak
menjadi tantangan tersendiri.
Infeksi HIV pada umumnya berjalan progresif akibat belum ditemukannya
cara yang efektif untuk menangulanginya, maka pada umumnya penyakit berjalan
progresif hingga prognosisnya umumnya buruk.

48

ABSENSI PENYULUHAN
HIV PADA BAYI BARU LAHIR
Nama Coass : Widya P. Siahaan

No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

NIM

: 110100365

Tanggal

Nama

Tanda Tangan

49

50

DAFTAR PUSTAKA

1. Yogev R, Chadwick EG. Acquired immunodeficiency syndrome (human


immunodeficiency virus). Dalam: Kliegman RM, Behrman RE, Jenson
HB, Stanton BF, penyunting. Nelson textbook of pediatrics. Edisi ke-18.
New York: Elseviers; 2007. 1022-32.
2. Soedarmo S S, Garna H, Hadinegoro S R, Satari H I. Human
Imunodeficiency Virus. Dalam: Soedarmo S S, Garna H, Hadinegoro S R,
Satari H I. Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis. Edisi ke-2. Ikatan Dokter
Anak Indonesia. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. 2008. 243 247.
3. UNICEF. Prevent mother-tochild transmission of HIV. 2010. Diunduh dari
http://www.childinfo.org/hiv_aids_mother_to_child.html.
4. Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit
dan Penyehatan Lingkungan Pedoman nasional pencegahan penularan
HIV dari ibu ke anak,-- jakarta : Kementerian Kesehatan RI. 2011.
5. Komisi Penanggulangan AIDS, 2007. Apa Gejala Orang-orang yang
Terinfeksi

HIV

menjadi

AIDS.

Diperoleh

dari

http://AIDSina.org/modules.php?
name=FAQ&MYFAQ=YES&idcat=1&categories=HIV-AIDS.
6. Zein, Umar, dkk., 2006. 100 Pertanyaan Seputar HIV/AIDS Yang Perlu
Anda Ketahui. Medan: USU press; 1-44.
7. Yatim, Danny Irawan, 2006. Dialog Seputar AIDS. Jakarta: PT Gramedia
Widiasarana Indonesia; 5

8.

Brooks, Geo. F., Butel, Janet S., dan Morse, Stephen A., 2005. AIDS dan
Lentivirus. Dalam: Sjabana, Dripa, ed. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta:
Salemba Medika; 292-300.

9.

Brooks, Geo. F., Butel, Janet S., dan Morse, Stephen A., 2005. AIDS dan
Lentivirus. Dalam: Sjabana, Dripa, ed. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta:
Salemba Medika; 292-300.

51

10. Prof. Subowo, dr. Msc.Phd. 2010.Imunologi Klinik.CV. SAGUNG SETO.


P.177.Jakarta

11. Jaringan pencegahan HIV dari ibu ke anak. Kebijakan PMTCT Indonesia:
PMTCT.net; 2008. h.1.