Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN KEGIATAN F6

Upaya Pengobatan Dasar

GERD (Gastroesophageal Reflux Disease)

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Program Internship

USAHA KESEHATAN MASYARAKAT


DOKTER INTERNSHIP INDONESIA

Oleh:
dr. Bethari Pusponing Fadli

Pusat Kesehatan Masyarakat Kapuan


Kabupaten Blora - Jawa Tengah
Periode Maret 2016 Juli 2016

LATAR
BELAKANG

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD/ Penyakit Refluks


Gastroesofageal) adalah suatu keadaan patologis yang disebabkan
oleh kegagalan dari mekanisme antireflux untuk melindungi mukosa
esophagus terhadap refluks asam lambung dengan kadar yang
abnormal dan paparan yang berulang.
Refluks asam sendiri merupakan suatu pergerakan dari isi
lambung dari lambung ke esophagus. Refluks ini sendiri bukan
merupakan suatu penyakit, bahkan keadan ini merupakan keadaan
fisiologis. Refluks ini terjadi pada semua orang, khususnya pada saat
makan banyak, tanpa menghasilkan gejala atau tanda rusaknya
mukosa esophagus.
Pada GERD sendiri merupakan suatu spectrum dari penyakit
yang menghasilkan gejala heartburn dan regurgitasi asam. Telah
diketahui bahwa refluks kandungan asam lambung ke esophagus
dapat menimbulkan berbagai gejala di esophagus, seperti esofagitis,
striktur peptik, dan Barrets esophagus dan gejala ekstraesophagus,
seperti nyeri dada, gejala pulmoner, dan batuk.
Prevalensi GERD meningkat pada orang tua 40 tahun.
GERD terjadi pada sebagian umum laki-laki daripada wanita. Rasio
kejadian laki dan perempuan untuk esophagitis adalah 2:1 - 3:1.
Rasio kejadian laki dan perempuan untuk Barrett esofagus adalah
10:1.
Di Indonesia sendiri belum ada data epidemiologi mengenai
penyakit ini, namun di Divisi Gastroenterohepatologi Departemen
IPD FKUI- RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta, didapatkan kasus
esofagitis sebanyak 22,8% dari semua pasien yang menjalani
pemeriksaan endoskopi atas indikasi dyspepsia.

PERMASALAHAN Kasus
Identitas
Nama

: Ny. SS

Usia

: 53 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Alamat

: Wado, Kedungtuban

No Reg

: 001961774134

Anamnesis
RPS
Pasien mengeluh muntah kecoklatan sebanyak 3 kali sehari sebelum
periksa, disertai rasa mual, hingga pasien tidak memiliki nafsu
makan. Pasien sudah mengeluhkan adanya keluhan sering muntah
ini sejak 1 bulan yang lalu, keluhan muntah kecoklatan ini disertai
rasa terbakar di dada yang tidak disertai penjalaran baik ke lengan
maupun ke punggung. Pasien juga merasakan rasa pahit di mulut.
Tidak ada nyeri maupun kesulitan menelan. Pasien mengeluhkan
sering merasa cairan dari perutnya naik ke tenggorokan saat
berbaring,sehingga kadang-kadang pasien terbangun dan sulit tidur,
Pasien juga mengeluhkan sering bersendawa dan perutnya terasa
kembung serta cepat terasa kenyang ketika makan. Pasien tidak
mengeluhkan adanya batuk dan demam. BAB pasien normal dan
BAK normal
Riwayat alergi (-)
Riwayat asma (-)
Riwayat darah tinggi (-)
Riwayat kencing manis (-)
Konsumsi obat anti nyeri (-)
Konsumsi kopi (-)
Konsumsi makanan berminyak (+)
Pemeriksaan Fisik
Tekanan darah

: 130/80 mmHg

Respiration Rate : 24 x/menit

Nadi

: 80 x/menit

Suhu

: afebril

Status gizi

: Kesan gizi cukup

BB / TB

: 80 kg / 150cm

BMI

: 35,55 (obesitas)

Keadaan Umum : compos mentis


Kepala

: Konjungtiva pucat (-/-), sclera ikterik (-/-)

Leher

: JVP tidak meningkat

Thorax
-

Inspeksi

tidak tampak, retraksi (-)


Palpasi
: ictus cordis teraba di SIC 5 LMCS
Perkusi
: sonor (+/+)
Auskultasi : SDV (+/+), rhonkhi (-/-), wheezing (-/-), bunyi

: simetris, tidak ada gerakan tertinggal, ictus cordis

jantung I-II tunggal, bising (-)


Abdomen
-

Inspeksi : normal
Auskultasi : bising usus 12x/menit
Perkusi : timpani di seluruh lapang
Palpasi : supel, nyeri tekan epigastium (+)

Ekstremitas

PERENCANAAN

- Akral hangat (+/+)


- Oedem (-/-)
Diagnosis:

DAN PEMILIHAN - Anamnesis


INTERVENSI

- Pemeriksaan fisik
- Penatalaksanaan:
1. Non medikamentosa :
1. Edukasi atau penjelasan kepada pasien Meninggikan posisi
kepala pada saat tidur serta menghindari makan sebelum
tidur dengan tujuan umuk meningkatkan bersihan asam
selama tidur serta mencegah refluks asam dari lambung ke
esophagus

2. Mengurangi konsumsi lemak serta mengurangi jumlah


makanan yang dimakan karena keduanya dapat menimbulkan
distensi lambung
3. Menurunkan berat badan pada pasien kegemukan serta
menghindari pakaian ketat sehingga dapat mengurangi
tekanan intra abdomen
4. Menghindari makanan/minuman

seperti

coklat,

teh,

peppermint, kopi dan minuman bersoda karena dapat


menstimulasi sekresi asam
5. Jika memungkinkan menghindari obat-obat yang dapat
menurunkan torus LES seperti anti kolinergik, teofilin,
diazepam, opiat, antagonis kalsium, agonist beta adrenergik,
progesteron.
2. Medikamentosa :
- Antasida,golongan obat ini cukup efektif dan aman dalam
menghilangkan gejala GERD tetapi tidak menyembuhkan
-

lesi esophagitis
Antagonis reseptor H2 yang termasuk golongan obat ini
adalah simetidin, raniditin, famotidin dan nizatidin.
Sebagai penekan sekresi asam, golongan obat ini efektif
dalam pengobatan penyakit refluks gastroesofageal jika
diberikan dosis 2 kali lebih tinggi dan dosis untuk terapi

ulkus.
Prokinetik secara teoritis, obat ini paling sesuai untuk
pengobatan GERD karena penyakit ini dianggap lebih
condong ke arah gangguan motilitas. Metoklopramid :

Obat ini bekerja sebagai antagonis reseptor dopamin.


Sukralfat berbeda dengan antasid dan penekan sekresi
asam, obat ini tidak memiliki efek langsung terhadap

asam lambung.
Pompa proton inhibitor Golongan ini merupakan drug of

choice dalam pengobatan GERD.


PELAKSANAAN

Diagnosis:
Diagnosis GERD ditetapkan berdasarkan atas anamnesis dan
pemeriksaan fisik
1. Terapi non medikamentosa :
Pasien diberikan edukasi untuk menurunkan berat badan dan
setelah makan dianjurkan untuk tidak langsung berbaring
minimal 1 jam setelah makan, mengurangi makanan
asam,coklat, soda, teh karena dapat meningkatkan asam
lambung dan harus berhati-hati jika mengkonsumsi obatobatan selain dari dokter.
2. Terapi medikamentosa
:
Antasida 3 x 1 sebelum makan
Omeprazole 1x 20 mg
Pasien diminta untuk rutin kontrol ke puskesmas jika obat

MONITORING
DAN EVALUASI

habis bila keluhan belum membaik dan tambah parah maka pasien
akan dirujuk.

Komentar /Umpan Balik:

Kapuan, Juni 2016


Peserta,

Dokter Pendamping,

dr. Bethari Pusponing Fadli

dr. Budy Cahayany Halimatun N

Anda mungkin juga menyukai