Anda di halaman 1dari 13

USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

Efektivitas Senyawa Bioaktif Anti-Aging Pada Ekstrak Sarang Semut


(Myrmecodia sp.) Terhadap Radiasi Sinar UV
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
(PKM-P)

Diusulkan Oleh:
PUTRI TRI NINGSIH

NIM 1210421006

RIKA FENESIA APRIYANTI

NIM 1211014011

PENGESAHAN PROPOSAL PKM-PENELITIAN


1. Judul Kegiatan

2. Bidang Kegiatan
3. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap
b. NIM
c. Jurusan
d. Universitas
e. Alamat Rumah dan No Tel./HP

: Efektivitas Senyawa Bioaktif Anti-Aging


Pada Ekstrak Sarang Semut (Myrmecodia
sp.) Terhadap Radiasi Sinar UV
: PKM-P
: Putri Tri Ningsih
: 1210421006
: Biologi
: Universitas Andalas
: Jl. Koto Tua Kel. Kepalo Koto Kec. Pauh
082284546890
: putritri2@gmail.com
: 2 orang

f. Alamat Email
4. Anggota Pelaksana Kegiatan
5. Dosen Pendamping
a. Nama Lengkap dan Gelar
: M. Syukri Fadil, M.Si
b. NIDN
: 0028066805
c. Alamat Rumah dan No Tel./HP: Griya Kharisma Permai 3 Blog G No. 10
Kubu Dalam Parak Karakah, Padang/
081267170004
6. Biaya Kegiatan Total
: Rp. 11.753.000
a. Dikti
: Rp,b. Sumber lain
:7. Jangka Waktu Pelaksanaan
: 5 bulan
Padang, 24 September 2014
Menyetujui,
Ketua Jurusan

Ketua Pelaksana Kegiatan

(Dr. Jabang Nurdin, M.Si)


NIP. 197007051999031002

(Putri Tri Ningsih)


NIM. 1210421006

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan

Dosen Pendamping

(Dr. Ir. H. Aprisal M.Si)


NIP.196304211990021001

(M.Syukri Fadil, M.Si )


NIDN. 0028066805

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
BAB III. METODE PELAKSANAAN
BAB IV. RANCANGAN BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

Ringkasan

Saat ini semakin maraknya makanan yang tidak sehat, polusi lingkungan, stres,
faktor kemiskinan, radikal bebas dan sinar UV yang dapat menyebabkan proses
penuaan dini. Penimbunan radikal bebas dan sinar UV akan menyebabkan stres
oksidatif yang pada akhirnya dapat menimbulkan kerusakan, bahkan kematian sel
dalam tubuh (Goldman dan Klantz, 2003). Penuaan kulit merupakan suatu
fenomena yang berkelanjutan dan multifaktorial yaitu terjadinya pengurangan
baik dalam ukuran maupun jumlah dari sel-sel dan pengurangan kecepatan
berbagai fungsi organik baik pada tingkat seluler ataupun molekuler (Breinneisen,
et al., 2002). Penggunaan antioksidan merupakan salah satu upaya yang sering
dilakukan untuk mencegah penuaan (Ardhie, 2011). Oleh karena itu perlunya
asupan makanan yang kaya antioksidan, vitamin C, vitamin E dan betakaroten
serta senyawa fenolik sebagai penangkal radikal bebas di dalam tubuh. Salah satu
tumbuhan yang kaya anti oksidan adalah sarang semut (Myrmecodia sp),
pengujian kandungan kimia dari tumbuhan sarang semut yang telah dilakukan
adalah adanya senyawa triterpenoid, flavonoid, saponin, kuinon, tanin, tokoferol
(vitamin E), karbohidrat, dan glikosida serta terdapat beberapa mineral yang
terkandung di dalamnya yaitu kalsium, natrium, kalium, seng, besi, fosfor dan
magnesium (Subroto dan Saputro, 2008).
Penelitian tentang Efektivitas Senyawa Bioaktif Anti-Aging Pada Ekstrak
Sarang Semut (Myrmecodia sp.) Terhadap Radiasi Sinar UV dilakukan dengan
tujuan untuk mengetahui potensi antioksidan dan dosis yang efektif pada ekstrak
sarang semut (Myrmecodia sp) sebagai penurun kadar malondialdehid akibat
radiasi sinar UV. Target dari penelitian ini adalah adanya informasi potensi ekstrak
sarang semut (Myrmecodia sp) sebagai anti-aging akibat radiasi sinar UV dalam
bentuk jurnal nasional. Kemudian yang menjadi target lain adalah menjadikan
sarang semut (Myrmecodia sp) sebagai tanaman yang bernilai ekonomis tinggi
yang dimanfaatkan oleh masyarakat luas sebagai fitofarmaka untuk pengobatan
penuaan kulit yang teruji secara ilmiah. Penelitian ini memakai metode
eksperimental murni (true experimental) menggunakan empat perlakuan yaitu
kontrol negatif tanpa perlakuan, kontrol positif dengan pemberian sinar UV,
perlakuan pemberian ekstrak sarang semut dan sinar UV dengan dosis 100 mg,
dan perlakuan pemberian ekstrak sarang semut dan sinar UV dengan dosis 200 mg
setiap 2 hari sekali selama 6 minggu. Parameter yang digunakan pada pengamatan
ini yaitu pengukuran kadar MDA dan perubahan jaringan kulit epitel dan kolagen.

BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Saat ini semakin maraknya makanan yang tidak sehat, polusi lingkungan, stres,
faktor kemiskinan, radikal bebas dan sinar UV yang dapat menyebabkan proses
penuaan dini. Penimbunan radikal bebas dan sinar UV akan menyebabkan stres
oksidatif yang pada akhirnya dapat menimbulkan kerusakan, bahkan kematian sel
dalam tubuh (Goldman dan Klantz, 2003). Penuaan kulit merupakan suatu
fenomena yang berkelanjutan dan multifaktorial yaitu terjadinya pengurangan
baik dalam ukuran maupun jumlah dari sel-sel dan pengurangan kecepatan
berbagai fungsi organik baik pada tingkat seluler ataupun molekuler (Breinneisen,
et al., 2002). Penggunaan antioksidan merupakan salah satu upaya yang sering
dilakukan untuk mencegah penuaan (Ardhie, 2011). Antioksidan adalah suatu
senyawa yang dapat menetralkan dan meredam radikal bebas dan menghambat
terjadinya oksidasi pada sel sehingga mengurangi terjadinya kerusakan sel, seperti
penuaan dini (Hernani, 2005).
Menjadi tua atau aging adalah suatu proses menghilangnya kemampuan
jaringan secara perlahan-lahan untuk memperbaiki atau mengganti diri dan
mempertahankan struktur, serta fungsi normalnya. Akibatnya tubuh tidak dapat
bertahan terhadap kerusakan atau memperbaiki kerusakan tersebut
(Cunnningham (2003) cit Nofianty (2008). Tubuh kita tidak mempunyai
cadangan antioksidan dalam jumlah berlebih, sehingga jika terjadi paparan radikal
bebas yang berlebih maka tubuh membutuhkan antioksidan dari luar (Rohdiana,
2001). Oleh karena itu perlunya asupan makanan yang kaya antioksidan, vitamin
C, vitamin E dan betakaroten serta senyawa fenolik sebagai penangkal radikal
bebas di dalam tubuh. Salah satu tumbuhan yang kaya anti oksidan adalah sarang
semut (Myrmecodia sp), pengujian kandungan kimia dari tumbuhan sarang semut
yang telah dilakukan adalah adanya senyawa triterpenoid, flavonoid, saponin,
kuinon, tanin, tokoferol (vitamin E), karbohidrat, dan glikosida serta terdapat
beberapa mineral yang terkandung di dalamnya yaitu kalsium, natrium, kalium,
seng, besi, fosfor dan magnesium (Subroto dan Saputro, 2008).
Berdasarkan uraian di atas kandungan antioksidan dan tokoferol dapat
dijadikan senyawa aktif untuk melindungi tubuh dari sinar UV dan radikal bebas
untuk mencegah penuaan dini. Sehingga perlu dilakukan penelitian untuk
mengetahui efektivitas senaywa bioaktif anti-aging pada ekstrak sarang semut
terhadap radiasi sinar UV.
1.2 Perumusan Masalah

Permasalahan yang akan dijawab melalui penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Apakah ekstrak sarang semut (Myrmecodia sp) dapat menurunkan kadar
malondialdehid akibat stres oksidatif?
b. Berapa dosis ekstrak sarang semut (Myrmecodia sp) yang lebih efektif sebagai
penurunan kadar malondialdehid akibat stres oksidatif?

1.3 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk :
a. Mengetahui potensi antioksidan pada ekstrak sarang semut yang dapat
menurunkan kadar malondialdehid.
b. Mengetahui dosis yang efektif pada ekstrak sarang semut (Myrmecodia sp)
sebagai penurun kadar malondialdehid akibat radiasi sinar UV.
1.4 Luaran Yang Diharapkan
Luaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah adanya sebuah jurnal nasional
yang berisikan informasi tentang potensi ekstrak sarang semut (Myrmecodia sp)
sebagai anti-aging yang dapat menurunkan kadar malondialdehid akibat stres
oksidatif. Kemudian yang menjadi target lain adalah menjadikan sarang semut
(Myrmecodia sp) sebagai tanaman yang bernilai ekonomis tinggi yang
dimanfaatkan oleh masyarakat luas sebagai fitofarmaka untuk pengobatan
penuaan kulit yang teruji secara ilmiah.
1.5 Manfaat
Manfaat dari penelitian ini adalah meningkatnya penelitian mengenai
pemanfaatan sarang semut (Myrmecodia sp) yang ternyata memiliki potensi yang
besar dalam berbagai bidang, terutama dalam bidang kesehatan.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penuaan
Penuaan dapat digambarkan sebagai proses penurunan fungsi fisiologis tubuh
secara bertahap yang mengakibatkan hilangnya kemampuan tumbuh dan kembang
serta meningkatnya kelemahan (Suwandi, 2012). Penuaan bukan lagi merupakan
suatu keadaan normal yang memang harus terjadi, namun dianggap sama sebagai
suatu penyakit, yang dapat dan harus dicegah atau diobati bahkan dikembalikan
ke keadaan semula, sehingga usia harapan hidup manusia dapat menjadi lebih
panjang dengan kualitas hidup yang baik (Pangkahila, 2007). Proses penuaan ini
akan terjadi pada seluruh organ tubuh meliputi organ dalam tubuh, seperti jantung,
paru-paru, ginjal, indung telur, otak, dan lain-lain, juga organ terluar dan terluas
tubuh, yaitu kulit (Cunnningham (2003) cit Nofianti (2008). Proses penuaan yang
terjadi akibat berbagai faktor dari luar tubuh, seperti sinar UV (Baumann &
Saghari, 2009), kelembaban udara (Cunnningham (2003) cit Nofianti (2008),
suhu, polusi, dan lain-lain. Perubahan kulit yang terjadi tidak menyeluruh dan
tidak sesuai dengan usia sebenarnya. Proses penuaan dini dapat dihambat atau
dicegah dengan menghindari faktor yang mempercepat proses ini (Cunnningham
(2003) cit Nofianti (2008).
2.2 Sarang semut (Myrmecomedia sp)

Sarang semut merupakan tumbuhan epifit yang menempel di pohon-pohon besar


(Alam dan Waluyo, 2006). Penyebaran tumbuhan sarang semut banyak
ditemukan, mulai dari Semenanjung Malaysia hingga Filipina, Kamboja, Sumatra,
Kalimantan, Jawa, dan Papua. Sarang semut merupakan salah satu tumbuhan
epifit dari bangsa Rubiaceae yang dapat berasosiasi dengan semut.
Di Indonesia tumbuhan sarang semut sudah banyak dimanfaatkan sebagai
tumbuhan obat seperti pada masyarakat Papua sejak lama dilakukan. Sarang
semut sangat berpotensi dalam pengobatan tradisional sehingga banyak menarik
minat masyarakat tersebut (Alam dan Waluyo, 2006). Tidak hanya di Papua, saat
ini sarang semut sudah banyak dikonsumsi oleh masyarakat di pulau Jawa,
Singapura bahkan sampai ke Australia (Alam dan Waluyo, 2006; Subroto dan
Saputro, 2008). Berdasarkan penelitian terdahulu kandungan antioksidak pada
ekstrak sarang semut (Myrmecodia sp.) dapat mengobati kanker payudara
(Sumarno, 2010), hiperurisemia (Roslizawati, 2013), dan sebagai imunostimulan
(Hendarsula, 2011).
Pengujian kandungan kimia dari tumbuhan sarang semut yang telah
dilakukan adalah adanya senyawa antioksidan yang sangat kuat, triterpenoid,
flavonoid, saponin, kuinon, tanin, tokoferol, karbohidrat, dan glikosida serta
terdapat beberapa mineral yang terkandung di dalamnya yaitu kalsium, natrium,
kalium, seng, besi, fosfor dan magnesium (Subroto dan Saputro, 2008). Menurut
Winarsih (2007), tokoferol (vitamin E) merupakan antioksidan alami yang paling
efektif sebagai zat antipenuaan, tokoferol menjadi pemusnah radikal bebas yang
dapat mengendalikan reaksi metabolisme dalam tubuh ke keadaan normal.
Terkendalinya radikal bebas dapat memperlambat lajunya proses penuaan.
Manfaat lain dari tokoferol yaitu memelihara stabilitas jaringan ikat di dalam sel,
seperti serat elastin antara dermis dan kolagen dan melindungi kulit dari bahaya
radiasi sinar matahari. Penggunaan vitamin E baik oral maupun topikal dapat
menjaga elastisitas kulit dsehingga mencegah penuaan dini.
2.3 Dampak Fisiologis Stres Oksidatif dan Sinar UV terhadap Proses Penuaan

MDA merupakan produk akhir dari peroksidasi lipid, dan biasanya digunakan
sebagai biomarker biologis untuk menilai stres oksidatif (Suryohudoyo, 2000).
Pada proses peroksidasi lipid, selain MDA terbentuk juga radikal bebas yang lain,
tetapi radikal bebas tersebut mempunyai waktu paruh yang pendek sehingga sulit
diperiksa dalam laboratorium (Suwandi, 2012). Pengukuran kadar MDA serum
dapat dilakukan dengan Test thiobarbituric acid-reactive subtance (TBARS) yang
berdasar pemeriksaan reaksi spektrofotometrik (Konig dan Berg, 2002).
Stres oksidasi menyebabkan kerusakan oksidatif terhadap lemak, protein,
dan DNA. ROS dapat memicu proses peroksidasi terhadap lipid. Peroksida lipid
tidak saja bertanggung jawab atas perusakan makanan, tetapi yang lebih penting
adalah perusakan jaringan tubuh in vivo, sehingga dapat menimbulkan berbagai
macam penyakit, seperti penyakit kanker, inflamasi, aterosklerosis, dan proses

penuaan. Untuk mengetahui terjadinya peroksida lipid salah satunya adalah


dengan mengukur kadar MDA (Suryohudoyo, 2000).
Pengaruh sinar UV yang menghasilkan radikal bebas akan menimbulkan
kerusakan protein dan asam amino yang merupakan struktur utama kolagen dan
elastin pada kulit, kerusakan pembuluh darah kulit dan menimbulkan pigmentasi
kulit (Rieger (2000) cit Nofianty (2008). Meningkatnya ROS sebagai akibat
radikal bebas karena sinar UV-B ini dapat menyebabkan naiknya peroksidasi
lipid. Tingginya kadar radikal bebas dalam tubuh dapat ditunjukkan oleh
rendahnya aktivitas enzim anti oksidan dan tingginya malondialdehid (MDA)
(Zakaria dkk , 2000). Senyawa ROS ini juga berperan dalam metabolisme
kolagen, sebab dapat menghancurkan kolagen dan menginduksi beberapa enzim
yang berperan dalam degradasi kolagen yaitu matriks metaloproteinase (MMPs),
sehingga mengakibatkan kolagen kulit mengalami penurunan (Pinnell, 2003).
BAB 3. METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan selama lima bulan di Laboratorium Riset Fisiologi
Hewan, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Andalas, Padang.
3.2 Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode eksperimental murni (true experimental) yang
mengacu pada penelitian Wahyono (2011) dengan menggunakan 6 mencit sebagai
kontrol negatif tanpa perlakuan, kontrol positif dengan pemberian sinar UV,
perlakuan pemberian ekstrak sarang semut dan sinar UV dengan dosis 100 mg,
dan perlakuan pemberian ekstrak sarang semut dan sinar UV dengan dosis 200
mg. Mencit yang digunakan adalah mencit jantan dan setiap perlakuan diberikan
tiap 2 hari sekali selama 6 minggu. Sebelum perlakuan (H1) mencit diambil
darahnya untuk pemeriksaan kadar MDA dengan menggunakan mikrohematokrit
melalui pleksus retroorbitalis. Pada hari ke-43 mencit diperiksa kembali kadar
MDA nya dan dimatikan bersama setelah mendapatkan pembiusan dengan eter
untuk pengambilan jaringan.
3.3 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah alat tulis, alat bedah, kandang mencit, masker, sarung
tangan, tabung sampel darah, sonde lambung, tabung mikrohematokrit, jarum
suntik, kaca objek, cover glass, pipet tetes, kotak sinar uv dengan panjang
gelombang 366 nm, spektrofotometer, timbangan analitik, blender, rotary
evaporator, kertas saring, dan corong. Sedangkan bahan yang digunakan adalah
pakan mencit, aquades, albumin. Entelan, asam pikrat, xylol, alkohol 100%,
alkohol 96%, alkohol 80%, alkohol 70%, parafin, haemotoxylin, eosin dan etanol.

3.4 Prosedur Kerja


3.4.1 Di lapangan
Sarang semut (Myrmecodia sp.) diambil dari habitat aslinya di daerah Pesisir
Selatan dengan menggunakan parang dan gunting tanaman lalu sampel
dimasukkan kedalam plastik sampel untuk di ekstrak di laboratorium.
3.4.2 Di Laboratorium
3.4.2.1 Pembuatan Ekstrak Sarang Semut (Myrmecodia sp.)
Semua sampel yang didapatkan akan diolah di Laboratorium. Sampel berupa
Myrmecodia sp. dibersihkan dan diambil umbinya saja. Sarang semut dikeringkan
lalu di haluskan hingga menjadi bubuk. Pembuatan ekstrak menggunakan etanol
dengan metode maserasi. Penggunaan dosis ekstrak etanol berdasarkan pengaruh
etanol sarang semut (Myrmecodia sp.) terhadap aktivitas proliferasi sel dan indeks
apoptosis kanker payudara mencit CH (Sumarno, 2010). Sarang semut yang sudah
dikeringkan, dirajang kecil-kecil, dimasukkan ke dalam blender digiling sampai
halus. Hasil blender yang sudah menjadi serbuk dimasukkan ke dalam stoples
yang bersih. Sarang semut dicuci bersih dan ditiriskan, kemudian dikering
anginkan di bawah sinar matahari tidak secara langsung. Sarang semut yang sudah
kering, dihaluskan sampai menjadi serbuk dengan blender. Serbuk kemudian
dimaserasi dengan larutan etanol 70% dan diambil fitratnya dengan metode
penyaringan. Hasil saringan kemudian diuapkan dalam vacum rotary evaporator
pada temperatur 64 C, sampai diperoleh ekstrak sarang semut tersebut.
3.4.2.2 Penyediaan Hewan Uji Mencit Putih (Mus musculus)
Hewan uji mencit putih jantan usia 2,5 bulan dengan berat rata-rata 25 gram,
diaklimatisasi terhadap lingkungan kandang di laboratorium selama 7 hari.
Selama penelitian, mencit diberi makan berupa makanan dan pemberian minum
secara ad libitum
3.4.2.3 Perlakuan pada Hewan Uji
Perlakuan pada hewan uji adalah pemberian sinar UVB setiap 2 hari sekali selama
6 minggu .
3.4.2.3.1 Pengukuran Kadar MDA
Pemeriksaan kadar MDA sebagai indikator pada kadar senyawa yang terbentuk
akibat peristiwa oksidasi yang terjadi pada lipid yang mengandung asam lemak
dengan banyak ikatan rangkap di membran plasma sel pada kulit punggung
mencit saat sebelum dan setelah pemberian perlakuan dengan menggunakan
mikrohematokrit dan pemeriksaa kadar MDA dengan menggunakan
spektrofotometer.
3.4.2.3.2

Pemberian Radiasi Sinar UV

Dua puluh lima ekor mencit terlebih dahulu di cukur bulu bagian punggungnya
ukuran 2,5 cm x 2,5 cm. Setelah itu, diberi pajanan sinar UV dengan panjang
gelombang 366 nm selama 1 jam sampai terlihat kerutan. Pemberian radiasi
sinar UV tersebut dilakukan tiap 2 hari sekali selama 6 minggu.
3.4.2.3.3 Pengamatan Perubahan Jaringan Kulit Mencit
Pengamatan perubahan jaringan kulit mencit dilakukan dengan membuat preparat
sayatan kulit dengan metoda blok paraffin yaitu dengan cara menanam organ kulit
pada paraffin agar dapat disayat dan ditempel pada kaca objek. Proses ini yang
proses fiksasi, dehidrasi, penjernihan, infiltrasi , penanaman, penyayatan dan
selanjutnya penempelan pada kaca objek . Hasil yang diperoleh diwarnai dengan
pewarnaa Haemotoxilin Eosin (Sutasurya, 1981). Selanjutnya dilakukan
pengamatan terhadap perubahan yang terjadi pada jaringan kulit tersebut yang
meliputi perubahan epitel dan kolagen.
3.5 Parameter Pengamatan
Parameter yang digunakan pada pengamatan ini yaitu pengukuran kadar MDA
dan perubahan jaringan kulit epitel dan kolagen.
3.6 Analisis Data
Pengukuran perbedaan antara berbagai perlakuan terhadap kadar MDA dengan
menggunakan uji statistik One Way Anova Sedangkan pengamatan perubahan
jaringan kulit mencit digunakan metode deskriptif.
BAB IV. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN
4. 1 Rancangan Biaya
Rekapitulasi biaya penelitian seperti pada Tabel 1. Sedangkan rincian detail
terdapat pada Lampiran 3.
Tabel 1. Rekapitulasi Biaya Penelitian
No.

Pengeluaran

1.

Peralatan penunjang PKM

2.
3.
4.

Bahan habis pakai


Biaya perjalanan (pengoleksian sampel)
Proposal , Publikasi, seminar, laporan
Total

Jumlah (Rp)
2.938.250
4.113.550
2.938.250
1.762.950
11.753.000

4.2 Jadwal Penelitian


Tabel 2 . Jadwal Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan menurut jadwal dibawah ini :

Persiapan Penelitian
Pengoleksian Sampel dan hewan uji
Kegiatan

Bulan ke 5

Perlakuan terhadap hewan uji

Bulan ke 4
Bulan ke 3

Pengumpulan dan analisis data

Bulan ke 2
Bulan ke 1

Penulisan laporan
0

20 40 60

Jumlah Hari

DAFTAR PUSTAKA
Alam, S., dan Waluyo, S. 2006. Sarang Semut Primadona Baru Dari Papua.
Nirmala,. 76-78.
Ardhie, M.A. (2011). Radikal Bebas dan Peran Antioksidan dalam Mencegah
Penuaan, Jakarta. Scientific Journal Of Pharmaceutical Development and
Medical Application. 24(1): 4.
Baumann, L & Saghari, S 2009, Photoaging. in: Baumann L, Saghari, S, Weisberg
(eds). Cosmetic dermatology principles and practice. McGraw-Hill. .New
York.
Cunningham, W. 2003, Aging and photo-aging. in: Baran R, Maibach HI, (eds).
Textbook of Cosmetic Dermatology, 2nd edn. London: Martin dunitz, pp.
455-67.
Goldman, R., Klantz. 2003. The New Anti-Aging Revolution. Australasian Edition
p. Australia
22-24, 191-194.
Hendarsula, A.R. 2011.Uji Aktivitas Imunostimulan Ekstrak Etanol Umbi Sarang
Semut (Myrmecodia archboldiana Merr.&L.M. Perry) Pada Tikus Putih
Jantan. Skripsi. FMIPA. Universitas Indonesia.
Hernani dan Raharjo. (2005). Tanaman Berkhasiat Antioksidan. Penebar
Swadaya. Jakarta
Konig, D., Berg, A. 2002. Exercise and Oxidative Stress: is there a need for
additional antioxidant. Osterreichisches J Fur Sportmedizin 3: 6-15.
Nofianty, T. 2008. Pengaruh Formulasi Sediaan Losio Terhadap Efektifitas
Minyak Buah Merah Sebagai Tabir Surya Dibandingkan Terhadap Sediaan
Tabir Surya Yang Mengandung Oktinoksat. Skripsi. FMIPA. Universitas
Indonesia. Depok.
Pangkahila, W. 2007. Memperlambat Penuaan Meningkatkan Kualitas Hidup.
Anti-Aging Medicine. Cetakan ke-1. Jakarta. Penerbit Buku Kompas. hal: 811.

Pinnell S.R. 2003. Cuteneous photodamage, oxidative stres and topical


antioxidant protection. J Am Acad Dematol; 48: 19.
Rohdiana, D. 2001. Aktivitas daya tangkap Radikal Polifenol Dalam Daun Teh.
Majalah Farmasi Indonesia. 12 (1): 2.
Roslizawaty. 2013. Pengaruh Ekstrak Etanol Sarang Semut (Myrmecodia sp.)
Terhadap Gambaran Histopatologi Ginjal Mencit (Mus musculus) Jantan
Yang Hiperurisemia. Jurnal Medika Veterinaria 7(2): 116-120.
Subroto, M.A., dan Saputro, H. 2008. Gempur Sarang Semut. Swadaya. Jakarta.
Sumarno. 2010. Pengaruh Ekstrak Sarang Semut (Myrmecodia pendens Merr. &
Perry) Terhadap Aktifitas Proliferasi Sel dan Indeks Apoptosis Kanker
Payudara Mencit C3H. Tesis. Fakultas Kedokteran. Universitas Diponegoro.
Semarang.
Suryohudoyo, P. 2000. Kapita Selekta Ilmu Kedokteran Molekuler. Perpustakaan
Nasional RI. Jakarta. Penerbit CV Sagung Seto. hal: 31-47.
Sutasurya, L. 1981. Teknik Pembuatan Preparat awet, Institut Teknologi
Bandung. Bandung.
Suwandi, T. 2012. Pemberian Ekstrak Kelopak Bunga Rosela Menurunkan
Malondialdehid Pada Tikus Yang Diberi Minyak Jelantah. Tesis. Fakultas
Kedokteran. Universitas Udayana. Denpasar.
Wahyono, P. 2011. Efek Jus Buah Tomat (Lycopersicum pyriforme) terhadap
Pencegahan Fotoaging Kulit Akibar Radiasi Sinar Ultraviolet-B. JBP 13
(3):169-178.
Winarsi, H. 2007. Antioksidan Alami & Radikal Bebas. Kanisius.Yogyakarta.