Anda di halaman 1dari 2

Materi Penyuluhan Parktik Profesi Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

Menurut Erikson, tugas utama anak usia sekolah adalah industri vs inferioritas. Pada masa ini anak-anak
mulai membentuk dan mengembangkan rasa kompotensi dan ketekunan. Anak usia sekolah termotivasi
oleh berbagai kegiatan yang membuatnya merasa berguna. Mereka berfokus pada upaya menguasia
berbagai keterampilan yang akanmembantu mereka berfungsi di dunia dewasa. meskipun berjuang keras
untuk ukses, anak pada usia ini selalu dihadapkan pada kemungkinan gagal yang dapat menimbulkan
perasaan inferior. Jika mencapai sukses pada tahap sebelumnya, mereka termotivasi untuk tekun dan
bekerja sama dengan anak-anak yang lain untuk mencapai tujuan umum.
Freud menggambarkan periode usia 6-12 tahun sebagai fase laten. Pada tahap ini, fokus perkembangan
adalah pada aktivitas fisik dan intelektual, sementara kecenderungan seksual seolah ditekan. Disekolah,
anak merasakan kekangan pada sistem sekolah terhadap perilaku mereka dan mereka belajar untuk
mengembangkan kontrol. Anak-anak membandingkan keterampilan mereka yang dimiliki oleh teman
sebayanya yang meliputi perkembangan motorik, perkembangan sensorik, perkembangan sosial dan
perkembangan bahasa. Perbandingan tersebut membantu mereka untuk membentuk konsep diri.
Saat bertambah besar, anak usia sekolah belajar untuk bermain dengan lebih banyak anak disaat yang
bersamaan. Biasanya anak di usia 6 dan 7 tahun merupakan anggota suatu kelompok teman sebaya yang
biasanya bersifat informal dan sementara dengan pola kepemimpinan yang berubah dari waktu ke waktu.
Selama periode sosialisasi dengan individu lain, anak secara bertahap mulai tidak memikirkan diri sendiri
dan lebih kooperatif serta sadara akan kelompok. Kelompok ini yang dapat memberi pengaruh yang lebih
besar dibandingkan dengan kelurga dalam mendidik sikap anak.
Konsep diri anak usia sekolah akan terus berkembang sampai dewasa. anak-ank mengetahui perbedaan
antara diri mereka dan anak-anak yang lain. Anak usia sekolah membandingkan diri mereka dengan orang
lain dan memperoleh umpan balik dari guru dan teman sebaya. Amal yang sukses dan menerima
pengakuan (dikenal) karena usaha mereka sendiri, memegang kompoen dan memegang kendali atas diri
mereka dan juga lingkungannya, anak yang measa tidak diterima oleh teman sebayanya akan merasa
lebih rendah diri dan tidak berguna. Meskipun faktor minat untuk anak usia seusia ini telah berpindah ke
sekolah, teman sebaya dan aktifitas lain, rumah tetap menjadi tmpat yang sangat penting bagi
perkembangan harga diri anak.
Kemampuan anak dan keluarga dalam perkembangan psikososial anak usia 6-12
tahun
1. Berteman dengan sesama jenis dan mempunyai teman bermain tetap
(kelompok) atau sahabat

2.
3.
4.
5.
6.

Ikut berperan dalam kegiatan kelompok


Berinteraksi secara baik dengan orang tuanya
Dapat mengendalikan keinginan atau dorongan yang kuat
Berkompetisi dengan teman atau saudara sebaya
Berusaha menyelesaikan tugas (rumah dan sekolah) yang diberikan dengan

sebaik-baiknya
7. Mengetahui nilai uang
8. Melakukan hobinya (main sepeda, baca komik, atau buku cerita)
9. Berpikir bahwa dirinya adalah orang yang menyenangkan dan sehat
A. Pre dan post test
1. Apa yang kamu lakukan jika kamu berada dalam kelompok diskusi
a. mendengarkan teman berbicara
b. membaca buku cerita
c. bercerita dengan teman yang lain
d. bertukar pikiran dengan teman kelompok
2. Saat kamu menonton film kartun yang kamu sukai dipagi hari, namun saat itu kamu juga
harus pergi sekolah, Apa yang kamu lakukan
a. melanjutkan menonton film kartun sampai habis
b. mematikan tv dan langsung berangkat sekolah
c. menonton sebentar meskipun datang terlambat kesekolah
d. terus menonton dan tidak masuk sekolah
3. Apa yang saya lakukan setelah pulang sekolah?
a. Membaca buku
b. Bermain sepeda
c. Bermain bola
d. Bermain Handphone/ tablet
4. Enam lembar uang seribuan dan 3 keping uang lima ratusan, senilai dengan
a. Rp. 6.300
b. Rp. 6.500
c. Rp. 7.300
d. Rp. 7.500
5. Saya paling suka bermain dengan
a. Perempuan
b. Laki-laki
c. Perempuan dan laki-laki
d. Tidak suka bermain