Anda di halaman 1dari 4

Fungsi Minyak Trafo

Saya fikir (berdasarkan pengalaman selama ini), fungsi minyak trafo paling tidak
ada dua; sebagai Isolasi dan sebagai Pendingin. Nah untuk memenuhi fungsi
ini, maka minyak Trafo paling tidak harus:

Dengan persyaratan-persyaratan tersebut, para Fabrikan (antara lain Pertamina) menyiapkan


jenis minyak Trafo yang memenuhi . Sepanjang yang saya ketahui jenis-jenis minyak trafo
yang pernah dipakai dan (mungkin) masih dipakai saat ini adalah; BEZ (buatan ), Diala C
dan Diala B (Pertamina), dan Univolt dari Esso. Ada juga dari Gulf, ini saya lihat di Ternate.
Mungkin saat ini sudah ada jenis lain ?.
Persyaratan Minyak Trafo tertuang dalam SPLN 49-1 : 1982 (sudah cukup lama yah, janganjangan sudah adah aturan yang baru?). Konon metode ujinya harus sesuai Standar IEC 296,
apa yang dimaksud dengan hal ini, tidak usah kita perpanjang. Persyaratan itu tertuang dalam
Tabel berikut.

Pada Trafo yang relatif besar, biasanya dipasangi konservator, yaitu semacam
tangki di atas Trafo dan berisi minyak trafo yang tersambung ke Bak Trafo.
Gunanya antara lain adalah untuk menghindari hubungan langsung minyak
(yang panas) dengan udara luar.
Biasanya dipasang juga tabung transparan untuk melihat level minyak trafo.
Level minyak trafo sebaiknya di atas level bushing trafo. Jika level minyak di

bawah bushing, dikhawatirkan di atas bushing akan terperangkap udara yang


bisa membuat gangguan dan kerusakan pada Trafo.
Apabila temperatur minyak lebih tinggi dari temperatur udara luar, maka ada
kecenderungan udara dari dalam trafo mengalir ke luar. Sebaliknya jika Trafo
dingin, ada kemungkinan udara luar mengalir ke dalam. Untuk mengatasi
masalah ini biasanya dipasang breather (pernafasan). Pernafasan ini ujungnya
diisi silicagel untuk menyerap kandungan uap air. Pada mulanya silicagel ini
berwarna biru (katanya karena mengandung cobalt chloride), tetapi jika sudah
lembab warnanya akan berubah (kemerah-merahan ?). Pada saat tersebut
silicagel harus dikeringkan di bawah sinar mata hari atau disangrai (digoreng
tanpa minyak goreng) supaya kembali normal.

Untuk Trafo Distribusi, pada umumnya tidak memakai silicagel dan sebahagian
juga tidak memakai konservator. Saya jadi bingung (sudah ketinggalan jaman
saya ini), jika minyak dikeluarkan, berarti bushing jadi kosong pada saat itu.
Kemudian kalau mau menambah minyak harus lewat lobang mana? .(Tanya dong
sama personil KCA).

Pengetesan Minyak Trafo


Contoh minya Trafo yang sudah diambil seharusnya ditest/diuji, paling tidak ada dua hal;
tegangan tembus dan keasaman.
Alat test tegangan tembus (foto di atas sebelah kiri) mempunyai dua electrode
yang diset jaraknya 2,5 mm. Kemudian kedua ujung electrode diberi tegangan
secara bertahap melalui regulator dan terpantau pada voltmeter di panel.
Apabila terjadi loncatan tegangan berarti pada tegangan tersebut minyak break
down/tembus. Nilai ini dicatat. Lakukan percobaan paling kurang lima kali baru
diambil nilai rata-rata. Misalnya nilai rata-ratanya 20 kV/2,5 mm, berarti nilai per
centimeter harus dikali empat sehingga nilainya menjdi 80 kV/cm. Sesuai Tabel
di atas, maka nilai ini berada di bawah standar yang 120 kV/cm. Jika nilai sudah
berada di bawah standar seharusnya minyak tersebut harus diflushing
(dikeluarkan uap air dan partikel-partikel kotoran yang ada di dalamnya), baru
kemudian diuji lagi, demikian seterusnya sampai didapatkan nilai yang baik.
Kalau tidak bisa dinaikkan nilainya, yah minya harus diganti.

Terhubungnya udara luar dengan minyak bisa mempercepat proses oksidasi. Terjadinya
oksidasi bisa merusak tembaga (kumparan) dan inti (besi) pada Trafo. Oleh karena itu
keasaman ini perlu juga dilakukan pengetesan. DSepanjang pengalaman saya, untuk Trafo
Distribusi tidak sejauh ini yang dilakukan tetapi untuk Trafo Pembangkit dan Gardu Induk
mungkin perlu dilakukan. Nilai keasaman sesuai Tabel SPLN di atas adalah < 0,4
mgKOH/gram.
Dari uraian-uraian di atas, mungkin secara praktis kita bisa usulkan bahwa
pengecekan Trafo Distribusi dilakukan secara menyeluruh dengan Megger.

Saya fikir jika kita melakukan pemegeran antara bagian yang bertegangan
(bushing) dengan body dan hasilnya baik, maka secara praktis Trafo dan
minyaknya masih layak dioperasikan. Yang kedua pada Trafo yang baru
dilakukan pemeriksaan minyak setelah terpasang 3 tahun. Yang ketiga, jika
didapati minyak Trafo jelek, langsung saja diganti secara menyeluruh, kemudian
bekas minyaknya dikumpul pada suatu tangki dan dilakukan flushing. Jika nilai
tegangan tembus (dan keasaman)nya sudah bagus, barulah dimasukkan lagi
pada Trafo yang minyaknya jelek. Tentunya usul ini adalah usulan praktis yang
mungkin tidak sesuai dengan standar (?).