Anda di halaman 1dari 99

BA

B
I

RUANG LINGKUP DAN


KAJIAN ANTROPOLOGI

1.1. PERKEMBANGAN ILMU ANTROPOLOGI


Antroplogi timbul dari adanya rasa ingin tahu manusia terhadap manusia
lain. Melalui logikanya, manusia selalu bertanya apa, mengapa, dan
bagaimana proses terjadi manusia, baik yang masih hidup maupun yang
sudah musnah. Rasa ingin tahu ini mendorong manusia untuk mengadakan
perjalanan ke daerah lain, di luar tempat tinggalnya.
Perjalanan jauh di pelopori oleh bangsa Eropa dengan tujuan yang
beragam, di antaranya adalah:
1. Ada yang betul betul di dorong oleh rasa ingin tahu akan daerah
sekitaranya;
2. Mencari daerah jajahan;
3. Mencari bahan mentah dan pasaran hasil industri;
4. menyebarkan agama.
Dari perjalanan tersebut, wawasan kehidupan masyarakat di luar dirinya
semakin luas. Dengan demikian, timbul kesadaran akan adanya perbedaan
bentuk fisik manusia, seperti ada yang berkulit hitam, kuning, rambutnya
keriting, lurus dan sebagainya. Selain itu, adapula pebedaan bahasa, tingkat
teknologi, cara hidup, dan adat istidat.
Mengapa ada perbedaan tersebut? Faktor faktor apa yang
menyebabkannya? Kapan manusia berada di muka bumi? Mengapa terjadi
perubahan fisik manusia dan perubahan kebudayaan?
Pertanyaan - pertanyaan itu telah mendorong mereka untuk mempelajari
manusia secara lebih khusus melalui penelitian secara ilmiah, sehingga
lahirnya ilmu Antropologi. Koentjaraningrat menyusun perkembangan ilmu
Antropologi menjadi 4 fase, yaitu:
1. Fase Pertama, ( sebelum tahun 1800-an )
Pada tahun 1400-an orang Eropa barat mulai menjelajahi sebagai penjuru
dunia seperti Afrika, Asia, Amerika, Australia, dan Selandia Baru. Hasil dari
perjalanan perjalanan tersebut, berupa buku-buku yang menceritakan
kehidupan suku bangsa diluar bangsa Eropa. Gambaran tentang ciri-ciri fisik,
adat istiadat, bahasa, mata pencaharian, dan kebiasaan-kebiasaan lainnya itu
disebut Etnografi. Ethnos artinya bangsa sedangkan Grafien artinya gambaran
atau uraian (deskripsi).
Bahan Etnografi ini menarik perhatian para pelajar sehingga mereka
terdorong untuk mempelajari suku bangsa secara lebih jauh. Secara umum,
orang Eropa sendiri menafsirkan tulisan tersebut bermacam-macam. Ada yang
menganggap orang diluar bangsa Eropa adalah manusia liar sehingga timbul
istilah bagsa primitif. Ada pula yang menganggap manusia di luar dirinya itu
adalah orang-orang yang masih jujur, belum tahu kejahatan dan keburukan.
Ada pula orang Eropa tertarik pada benda-benda hasil suku bagsa primbumi
itu sehingga didirikanlah museum-museum.
2. Fase Kedua ( tahun 18000-an )
Pada tahap ini timbl karangan-karangan yang menyusun bahan Etnografi
berdasarkan cara berfikir evolusi. Mereka menganggap bahwa masyarakat
dan kebudayaan berubah secara lambat dalam waktu yang lama. Mulai dari
1

tingkat rendah sampai tingkat tinggi. Mereka menganggap bangsa yang


termasuk tingkat rendah adalah suku-suku pribumi yng mereka temukan,
sedangkan bagsa dengan tingkat tinggi adalah orang Eropa saat itu.
Tujuan mempelajari Antropologi saat itu adalah mempelajari masyaraka dan
kebudayaan primitive dengan maksud untuk mendapatkan suatu gambaran
tentang sejarah evolusi dan penyebaran kebudayaan manusia.
3. Fase Ketiga ( awal tahun 1900-an )
Pada abad ini, negara-negara Eropa telah menjadi bangsa penjajah di
berbagai penjuru dunia. Ilmu Antropologi mempunyai kedudukan yang sangat
penting, yaitu untuk mengetahui latar belakang kehidupan dan kebudayaan
penduduk pribumi. Dengan pengetahuan itu dapat disusun strategi untuk
mengusahai dan mempengaruhi penduduk tersebut.
Pada saau itu, Antropologi menjadi ilm yang praktis, yaitu yang mempelajari
masyarakat dan kebudayaan bangsa-bangsa di luar Eropa untuk kepentingan
menjajah dan untuk memperoleh suatu pengertian tentang masyarakat masa
kini yang kompleks.
4. Fase Keempat ( setelah tahun 1930-an)
Pada saat itu, terjadi perubahan besar. Bangsa-bangsa pribumi sudah
banyak yang mendapat pengaruh kebudayaan Eropa, sehingga kebudayaan
aslinya sudah mulai hilang. Selain itu, akibat perang dunia ke-II, timbul
kebencian terhadap Negara yang dijajah.
Perhatiaan ilm antroplogi beralih kepada suku-suku yang hidup di pedesaan
didalam wilayah Negara Eropa sendiri seperti, suku bangsa Soami, Flam,
Lapp, dan sebagainya. Demikian pula di Negara Amerika.
Tujuan utama antropologi secara keilmuan adalah memperoloh pengertian
tentang manusia dengan mempelajari keanekaragaman bentuk fisik dan
kebudayaannya. Secara praktis, antropologi bertujuan untuk mempelajari
suku bangsa gna meningkat kesejahteraan suku bangsa tersebut. Sejak saat
itu, timbullah antropologi yang di khususkan untuk tujuan pembangunan,
seperti antropologi penduduk, antropologi kesehatan, antropologi pendidikan,
antroplogi ekonomi, antropologi politik, antropologi perkotaan, dan antropologi
pedesaan.
1.2. RUANG LINGKUP DAN CABANG ANTROPOLOGI
Antropologi berasal dari bahasa yunani, yaitu antropos yang artinya
manusia, dan logos yang berarti ilmu. Jadi, Antropologi adalah ilmu tentang
umat manusia atau ilmu yang mencoba memahami umat manusia baik dari
segi fisik maupun sosial budayanya.
Agar pengertian Antopologi lebih jelas, simaklah kutipan di bawah ini:
Pergaulan hidup yang satu berbeda dengan pergaulan hidup lainnya.
Peter B Hammond: Studi tentang umat manusia.
Carol Ember dan Melvin Ember, ilmu yang mempelajari keanekaragaman
manusia yang hidup sekarang, tapi juga manusia yang sudah musnah dan
hidup jutaan tahun yang lalu.
David Hunter: ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas
tentang umat manusia.
2

Koentjaraningrat: mengartikan Antropologi sebagai ilmu yang mempelajari


umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna bentuk
fisiknya, masyarakat serta kebudayaannya.

Defenisi yang dikemukakan oleh Peter Hammond dan David Hunter


sangatluas. Defenisi itu bisa dikatakan tepat. Tepatnya karena ahli Antropologi
berusaha mencari jawaban dari asal usul manusia, perbedaan bentuk fisik
manusia dan perubahan secara lambat (evaluasi) dari bentuk fisik manusia.
Selain itu, Antropologi juga menaruh perhatian terhadap kapan dan di mana
manusia mulai muncul di permukaan bumi? Mengapa timbul perbedaan
kebiasaan, tindakan, dan cara-cara manusai dalam memenuhi berbagai
kebutuhan hidupnya?
Sedangakan alasan defenisi itu kurang tepat karena cakupannya
terlampau luas. Mencakup berbagai bidang yang dipelajari oleh ilmu-ilmu
sosial, seperti Sosiologi, Geografi, Psikologi, Politik, Sejarah, Ilmu Kesehatan,
dan Ilmu Kemanusiaan lainnya.
Dengan demikian, ruang lingkup atau bidang kajian Antropologi adalah
mempelajari:
1. Asal usul manusia,
2. Evolusi fisik manusia,
3. Keanekaragaman bentuk fisik manusia atau ras,
4. Kebudayaan, termasuk unsur-unsur kebudayaan, perkembangan, dan
penyebarannya, serta
5. Berbagai kemampuan manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Dalam mengadakan kajiannya tentang manusia, Antropologi dibantu
oleh ilmu-ilmu sosial lainnya terutama Sejarah, Geografi, Geologi, Ekonomi,
Bahasa, Sosiologi, Psikologi, Politik, dan Ilmu Hukum, serta Kesehatan
Masyarakat.
Dalam mengadakan kajian Antropologi. Hal ini menyebabkan tidak
mungkin seseorang dapat menyelesaikan penelitian terhadap aspek-aspek
manusia yang begitu kompleks. Oleh karena itu, Antropologi memiliki banyak
cabang atau bagian-bagiannya (lihat bagan berikut ini)

Gambar halaman 3

1.3. PERBEDAAN KAJIAN ANTROPOLOGI FISIK (RAGAWI) DENGAN


ANTROPOLOGI BUDAYA
Manusia dapat dinilai dari dua sudut, yaitu sebagai makhluk biologis
dan sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk biologis manusia mempunyai
ciri-ciri fisik sebagai hasil pembawaan dan adaptasinya dengan lingkungan.
Misalnya, raut wajah, warna kulit, tinggi badan, warna rambut, kecerdasan,
minat, dan bakat. Ciri-ciri fisik ini sangat khas dan berbeda satu dengan yang
lainnya. Contohnya saudara kembar, walaupun serupa tapi tetap ada
perbedaannya. Sebagai makhluk sosial, manusia senantiasa membutuhkan
orang lain. Sejak lahir sampai meninggal, manusia selalu membutuhkan orang
lain untuk membantu memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya. Melihat begitu
luasnya kehidupan manusia itu, antropologi dibagi memjadi dua cabang besar,
yaitu Antropologi fisik atau Ragawi dan antropologi budaya.
1. ANTROPOLOGI FISIK (Ragawi)
Antropologi fisik atau ragawi adalah cabang antropologi yang khusus
mempelajari manusia dari sudut biologis atau jasmani seperti, asal usul
manusia, evolusi organ tubuh manusia, struktur tubuh manusia dan kelompokkelompok manusia berdasarkan perbedaan fisik atau ras.
Ahli antropologi fisik senantiasa bertanya, kapankah manusia muncul,
bagaimana struktur tubuh manusia, bagaimana berevolusi, dan mengapa
timbul keanekaragaman biologis manusia? Untuk menjawab pertanyaan
tersebut, antropologi mengadakan penelitian dan penggalian terhadap
manusia yang telah musnah. Penulurusan manusia itu dilakukan melalui fosil.
Fosil adalah bekas dan sisa-sisa mahkluk hidup termasuk manusia ynag telah
membantu dan tertimbun dalam lapisan bawah bumi. Dari tebalnya timbunan
lapisan bumi dapat diketahui umur manusia itu, dan dengan mengadakan
rekontruksi (penyusunan kembali) dapat diperkirakan bentuknya, kecerdasan
fungsi organ tubuh khususnya, serta tangan dan kaki.
Dengan membandingkan fosil-fosil yang ditemukan di berbagai daerah,
dapat diketahui perubahan atau perkembangan bentuk fisik manusia
Dalam kepustakaan, Antropologi fisik terbagi lagi kedalam dua bagian, yaitu:
a. Paleo Antropologi ialah cabang antropologi yang mengkaji asal usul
manusia dan terjadinya evolusi manusia.
b. Somatologi ialah cabang antropologi yang mencoba mencapai pengertian
tentang terjadinya aneka warna mahkluk manusia dipandang dari segi ciriciri fisiknya.
Dalam melakukan penelitiannya itu, antropologi selalu mengaitkannya
dengan kondisi iklim, lingkungan alam, tumbuhan dan hewan pada saat fosil
itu masih hidup. Dengan demikian, perilaku, kebiasaan, dan mata
pencahariannya dapat diperkirakan.
Semua manusia yang pernah hidup dipermukaan bumi berasal dari satu
spesies, yaitu Homo sapien (ingat pelajaran sejarah). Timbul pertanyaan,
mengapa ada manusia yang tinggi dan pendek, ada yang hitam, kuning, dan
putih, ada yang hidup didaerah yang sangat dingin dan panas. Bagaimana
manusia bisa menyesuaikan diri (beradaptasi) secara fisik dengan
lingkungannya.
4

Untuk menjawab pertanyaan tersebut Antropologi bekerja dengan bidang


ilmu:
A. Genetika Manusia adalah ilmu yang mempelajari ciri dan sifat manusia
secara gen (keturunan)
B. Biologi Penduduk mempelajari hubungan dan efek lingkungan terhadap
karakter penduduk
C. Epidemologi adalah ilmu tentang penyakit. Bagaimana penyakit menyebar,
akibat yang ditimbulkannya, dan mengapa efek suatu penyakit berbeda
pada kelompok penduduk.
Dengan bantuan ilmu tersebut, Antropologi dapat menjelaskan mengapa
manusia berbeda secara biologis. Berdasarkan bidang kajiannya Harsajo
membagi Antropologi fisik menjadi beberapa cabang yang lebih khusus, yaitu:
A. Palaeontologi Primad adalah ilmu yang mempelajari keanekaragaman
manusia manusia yang telah musnah dan mempelajari mahkluk hidup
yang ada kaitannya dengan manusia
B. Evolusi manusia adalah ilmu yang mempelajari perkembangan fisik
manusia, dari mahkluk yang bukan manusia sampai manusia sekarang.
C. Antropometri adalah ilmu yang mempelajari tentang teknik pengukuran
tubuh manusia
D. Somatologi adalah ilmu yang mempelajari keanekaragaman manusia yang
masih hidup, termasuk perbedaan fisik manusia secara perorangan dan
kelompok atau ras
E. Antropologi Raisal adalah ilmu yang mempelajari pengelompokkan
manusia berdasarkan perbedaan fisik (Ras), sejarah ras, dan percampuran
ras.
F. Studi perbandingan tentang pertumbuhan organic dan Antropologi
kontitusional adalah ilmu yang mempelajari kecenderungan (predis-posis)
dari berbagai tipe tubuh manusia terhadap suatu penyakit tertentu dan
mempelajari tingkah laku khusus seperti tingkah laku criminal.

Gambar 1.1. halaman 4

A. Keanekaragaman Ras
Ras adalah kategori individu yang secara turut, temurun memiliki ciri-ciri
fisik dan biologis tertentu yang sama. Ras merupakan pengklasifikasian
manusia yang didasarkan pada ciri-ciri kebudayaan, seperti halnya suku
bangsa (Beruce J.Cohen, 1982).
Pada garis besar, tanda-tanda fisik untuk pembagian ras adalah:
1. Bentuk badan;
2. Bentuk kepala;
5

3.
4.
5.
6.
7.
8.

Bentuk muka, Tulang rahang bawah;


Bentuk hidung,
Warna kulit;
Warna mata;
Dan warna rambut;
Serta bentuk rambut

Dalam mengklasifikasikan aneka ras manusia di dunia, para ahli


melihatnya dari segi morfologi atau lahiriah. Ciri-ciri morfologi, pada dasar
merupakan ciri-ciri fenotif (tampak), yang terdiri atas:
1. Ciri-ciri kualitatif, yakni warna kulit, rambut, dan lipatan mata.
2. Ciri-ciri kwantatif, yakni bentuk badan, berat badan, indeks kepala, dan
sebagainya.
Berdasarkan konsepsinya itu, A.L. Krober, seorang antropologi
mengemukakan pembagian ras manusia sebagai berikut:
a. Ras kaukasoid terbagi atas:
Nordicyang terdapat di Eropa Utara dan sekitar Laut Baltik.
Alpin yang terdapat di Eropa Tengah dan Timur.
Mediteranian yang terdapat di sekitar Laut Tengah, Afrika Utara,
Armerica, Arabia, Iran.
Indic yang terdapat di India, Pakistan, dan Srilangka.
b. Ras Mongoloid terbagi atas:
AsiaticMongoloid terdapat di Asia Utara, Tengah, dan Timur.
Malayan Mongoloid terdapat di Asia Tenggara, Kepulauan Indonesia,
Malaysia dan Filiphina.
American Mongoloid terdapat di Amerika Utara (orang sekimo) dan
penduduk Terra del Fuego di Amerika selatan.
c. Ras Negroid terbagi atas:
African Negroid terdapat di Benua Afrika.
Negrito terdapat di Afrika Tengah, Semenanjung Malaka, dan Filipina.
Malanesia yang terdapat di Irian dan Kepulauan Malanesia.
d. Ras-ras khusus terdiri atas:
Bushmen terdapat di daerah Gurun Kalahari di Afrika Selatan.
Weddoid terdapat di pedalaman Srilangka dan Sulawesi Selatan.
Australoid, yaitu penduduk asli Australia yang terkenal dengan nama
Aborigin.
Ainu terdapat di Pulau Karafuto, Hokkaido di Jepang Utara.
b. Ciri-ciri Fisik Orang Indonesia
Dengan ciri-ciri fisik yang dikemukakan di atas, orang Indonesia dapat
dibagi atas 4 golongan:
1. Papua Melanesoid
Ciri-cirinya rambut keriting kecil berbibir tebal, serta kulit hitam, yang
termasuk golongan ini ialah penduduk Pulau Iran, Kai dan Aru.
2. Golongan Negroid
Dari warnanya, kita dapat menduga bahwa golongan ini mempunyai
sifat luar negro, seperti yang terdapat di Afrika, tetapi bukan berarti mereka
6

ini tetapi bukan berarti mereka ini keturunan negro. Ciri-cirinya, rambut
keriting, perawakan kecil, dan berkulit hitam.
Contoh: Orang semang di semenanjung MAlaka dan orang Mikopsi di Pulau
Andaman.
3. Golongan Weddoid
Kata ini berasal dari bangsa Weda di Srinlangka Karena, beberapa sifat
luar golongan ini sama dengan bangsa Weda yang ada di Srilangka. Ciricirinya perawakan keci, kulit sawo matang, dan rambut bergelombang.
Contoh: Orang Sakai (di Siak), orang Kubu (di Jambi), orang Enggano,
Mentawai, Toala, Tokea, dan orang Tomuna (di Pulau Muna).
4. Golongan Melayu Mangoloide
Golongan ini datang ke Indonesia di duga pada zaman batu
(Ineolithicum) atau pada zaman perunggu. Golongan ini adalah golongan
terbesar yang ditemukan di Indonesia dan dianggap sebagai nenek moyang
bangsa Indonesia. Ciri-cirinya. Rambut ikal da lurus dan muka agak bulat.
Golongan ini di bagian atas:
Golongan Melayu Tua (Proto Melayu), Contoh: Suku Bangsa Batak, Toraja,
dam Dayak.
Golongan Melayu Muda (Deutro Melayu), Contoh: Jawa, Bali, Madura, Banjar,
dan sebagainya.
2. ANTROPOLOGI BUDAYA
Antropologi Budaya mempelajari kebudayaan bangsa di dunia serta
perubahannya. Kebudayaan yang di pelajari tidak hanya kebudayaan manusia
yang masih hdiuo tetapi juga kebudayaan dari manusia yang sudah mati.
Manusia dengan akalnya menciptakan kebudayaan untuk melindungi
diri dan memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya. Melalui kebudayaan,
manusia melindungi diri dari cuaca dengan membuat baju, rumah, dan
berbagai senjata untuk melindungi diri dari binatang buas serta musuh.
Melalui kebudayaan pula, manusia memanfaatkan alam untuk memenuhi
kebutuhan makan, pakaian, obat-obatan, perumahan, dan kebutuhan lainnya.
Antropologi Budaya mempelajari seluruh cara hidup manusia di berbagai
tempat di dunia.
Manusia adalah makhluk sosial. Dalam melakukan hubungan dengan
individu lain atau dengan kelompok lain, manusia mempergunakan budaya,
seperti bahasa, sopan santun, dan adat istiadat tertentu. Dengan demikian,
tercipta tata pergaulan yang harmonis dan saling kerjasama. Manusia
mempunya kemampuan untuk belajar, baik secara langsung maupun belajar
dengan cara meniru. Karena kemampuan itu, kebudayaan pun senantiasa
berkembang.
Mengingat lingkungan alam dan sosial manusia berbeda satu sama lain,
kebudayaan pun berbeda natara satu kelompok masyarakat dengan kelompok
masyarakat lainnya. Antropologi Budaya mempelajari keanekaragaman
budaya manusia tersebut. Ahli Antropologi Budaya senantiasa bertanya
bagaimana cara hidup suatu masyarakat, dan hubungan manusia dengan alat
serta struktur fisiknya dalam memanfaatkan alam. Mengapa timbul
keanekaragaman budya serta bagaimana kebudyaan dapat berubah dan
berkembang?
1.4. BIDANG KAJIAN ANTROPOLOGI BUDAYA
7

Berdasarkan bidang kajiannya, NAtropologi budaya pun dibagi lagi


berdasarkan khusunya, yaitu:
1. Arkeologi
Arkeologi mempelajari kebudayaan sebelum manusia mengenal tulisan
termasuk di dalamnya perkembangan dan penyebaran kebudayaan.
Pengkajian kebudayaan pada masa lalu dilakukan melalui artefak, yaitu
sisa-sisa peninggalan berupa benda atau alat-alat yang tertimbun dalam
lapisan bumi. Penemuan itu dapat berupa batu, tulang, tembikar, atau besi.
Melalui penemuan benda atau alat ini, dapat di tafsirkan kapan manusia itu
hidup dan bagaimana cara-cara hidupnya. Misalnya, kebudayaan batu lebih
tua bila dibandingkan dengan kebudayaan tembikar atau besi. Dari
pengolongan batu itu (sudah halus atau masih kasar) dapat ditafsirkan
termasuk zaman batu tua atau batu muda. Karena merekamempergunakan
batu, maka dapat dipastikan bahwa mereka hidup dnegna cara berburu atau
mengumpulkan batu-batuan yang berarti berpindah-pindah. Tulang mencabik
daging atau menggali umbi-umbian dalam tanah.

Gambar 1.2 halaman 7

Dengan demikian, para arkelog senantiasa mengadakan penggalianpenggalian untuk menemukan dan mengumpulkan hasil untuk mengumpulkan
hasil kebudayaan yang bersifat material di dalam tanah atau di gua-gua. Dari
penemuan benda material itu dapat di perkirakan unsur kebudayaan lain,
seperti kepercayaan, sistem sosial, politik, dan kesenian. Mereka senantiasa
bertanya di mana manusia dapat hidup dan berkembang, serta bagaimana
mereka hidup.
Dalam melakukan pekerjaannya itu, ahli arkelogi bekerja sama dengan
ahli geografi untuk mengetahui lokasi dan keadaan alam yang mendukung
perkembanganmanusia. Hal ini di dukung pula oleh ahli geologi untuk
mengetahui umur lapisan bumi, ahli sejarah untuk mengetahui peristiwa
berdasarkan urutan waktu, dan ahli kimia untuk mengetahui keaslian bendabenda tersebut.

2. Antropologi Linguistik
Antropologi Linguistik memepelajari bahasa berbagai suku bangsa di
dunia. Behasa memegang peranan dalam mempelajari kebudayaan suatu
masyarakat. Karena melalui bahasa, kebudayaan dapat diturunkan dari
generasi ke generasi berikutnya.
Antropologi Linguistik mempelajari sejarah munculnya bahsa, berbagai
jenis bahasa termasuk strukturnya, perubahan bahasa dari masa kemasa,
keanekaragaman dan penyebaran bahasa di permukaan bumi. Dalam
8

mengkaji bahsa hanya dapat ditelusuri dari manusia yang masih hidup atau
bahasa, yang tertulis dalam prasasti. Mengenai bahasa manusia yang belum
mengenal tulisan sangatlah sulit. Karena, dengan musnahnya manusia itu,
musnah pula gambaran bahasa yang digunakan.
Bahasa yang belum mengenal tulisan hanya dapat di tafsirkan dari
gambar yang ditemukan pada Artefak, itupun kalau ada. Antropologi Linguistik
mengumpulkan daftar kata, melukiskan ciri dan tata bahasa berbagai
kelompok bangsa. Dengan mengenal bahasa secara teoritis, maka para
antropolog budaya dapat memepelajari kebudayaan dan perubahannya.
3. Etmologi
Etmologi adalah cabang AntropologiBudaya yang mempelajari bangsabangsa di dunia yaitu tentang cara berpikir dan cara berlaku yang sudah
membaku pada orang-orang masa sekarang dan masa lampau, serta
memahami sebab dari perbedaan itu.
Dengan kata lain, etmologi mempelajari pola-pola kelakuan, seperti
adat-istiadat, perkawinan, struktur kekerabatan, sistem politik, ekonomi,
agama, cerita-cerita rakyat, kesenian, dan music. Selain itu, etnologi
mempelajari dinamika kebudayan, bagaimana kebudayaan berkembang dan
berubah, serta bagaimana kebudayaan tersebut dan kebudayaan lain saling
mempengaruhi, termasuk interaksi antara berbagai kepercayaan dan caracara melaksanakannya serta efeknya pada kepribadian seseorang. Contoh:
dalam setiap masyarakat, istilah kekerabatan mewujudkan banyak bentuk
yang berbeda-beda. Seperti: kekerabatan yang bersifat unilateral (patrilineal
dan matrilineal) serta kekerabatan yang bersifat bilateral / parenteral. Setiap
suku bangsa beranggapan bahwa sistem sendirilah yang jelas, logis, dan
sederhana. Walaupun bagi orang luar atau suku bangsa lain, sulit untuk
mengikutinya. Selama tata cara yang berlaku di pahami dan di ikuti,
kemantapan penata itu terjamin. Karena, kebudayaan berubah. Perubahan
kadang-kadang menyentuh bentuk pratama.
4. Antropologi sosial
Sejak permulaan abad 20, perkembangan antropologi berjalan lebih
cepat. Spesialisasi yang tumbuh dari NAtropologi umum, khususnya Etnologi
dan Etnografi di Inggris ialah Antropologi Sosial. Dalam rangka spesialisasi
inilah, makin jelas perbedaan nataraetnologi dan Antropologi Sosial. Etnologi
di sebut sebagai ilmu yang mengklasifikasikan suku-suku bangsa berdasarkan
sifat ras dan kebudayaannya serta penyebarannya pada masa yang lampau.
Sedangkan Antropologi Sosial menurut Evan Pritehard mempelajari tingkah
laku sosial dalam bentuk yang sudah terkembangkan, seperti: keluarga,
sistem kekerabatan, kultus keagamaan, organisasi politik dan tata cara
hukum.
Jadi, kalau etnologi tertarik pada masalah penyebaran, difusi, dan
kontak kebudayaan pada masa lampau. Sedangkan antropologi sosial, tertarik
pada masalah kehidupan sosial suku-suku bangsa pada masa sekarang.
Di Indonesia dan juga Negara-negara lain. Antropologi sosial dan
budaya seringkali di padukan menjdai Antropologi sosial budaya mengingat
antara masyarakat (sosial) dengan budaya tidak dapat di pisahkan. Tidak ada
masyarakat yang dapat hidup tanpa budaya dan tidak ada kebudayaan tanpa
di dukung oleh masyarakat. Jadi, keduanya merupakan satu-kesatuan.

1.5. KAJIAN ANTROPOLOGI SOSIAL BUDAYA DI SMU DAN TUJUANNYA


9

1.

2.
3.
4.

Antropologi sosial budaya yang di bahas di SMU meliputi:


Pengertian kebudayaan, sistem sosial budaya, sifat budaya, adaptasi
kebudayaan terhadap
lingkungan alam dan sosial.
Perubahan kebudayaan dalam era globalisasi di Indonesia.
Perubahan budaya kontek integritas nasional dan proses pembangunan
nasional Indonesia.
Sistem sosial budaya berbagai suku di Indonesia.

Secara umum, pendidikan Nasional No. 2 tahun 1989, pasal 4 tentang


tujuan pendidikan di Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan
mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, memeiliki pengetahauna dan
ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, berkepribadian mantap dan
mandiri serta bertanggung jawab terhadap masyarakat dan bangsa.
Tujuan pendidikan tersebut, di jabarkan dalam Peraturan Pemerintah No.29
tahun 1990, tentang tujuan pendidikan menengah (SMU) yaitu:
1. Meningkatkan pengetahuan siswa untuk melanjutkan pendidikan ke
jenjang yang lebih tinggi dan untuk mengembangkan diri sejalan
dengan pengembangan ilmu pengetahuan teknologi dan kesenian,
2. Meningkatkan kemampuan siswa sebagai anggota masyarakat dalam
mengadakan hubungan timbul balik dengan lingkungan sosial, budaya
dan alam sekitarnya.
Dengan melihat tujuan tersebut, maka secara lebih khusus mata pelajaran
Antropologi di SMU bertujuan untuk:
1. Meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan YME; dan memupuk rasa cinta
terhadap tanah air. Dengan memepelajari keanekaragaman budaya di
berbagai daerah, kesadaran akan kebesaran Tuhan semakin tinggi,
sehingga ketakwaan terhadap Tuhan YME semakin meningkat. Dengan
kebesaran kebudayaan bangsa sendiri, timbul pula rasa bangga dan cinta
terhadap tanah air.
Semua itu adalah modal untuk:
a. Membentuk kepribadian yang mantap,tidak mudah dipengaruhi oleh
budaya luar yang belum tentu lebih baik ;
b. Mengembangkan
sikap
kemandirian
dalam
arti
berusaha
membangun bangsa dan Negara berdasarkan kekuatan sendiri, tidak
tergantung pada orang lain;
c. Mengembangkan budi pekerti luhur dan bertanggung jawab untuk
bertanggung jawab untuk membangun bangsa sendiri sejajar
dengan bangsa maju lainnya di dunia.
2. Meningkatkan pengetahuan siswa agar dapat melanjutkan pendidikan ke
jenjang yang lebih tinggi, yaitu di perguruan tinggi, antropologi di pelajari
secara khusus di bawah jurusan Antropologi kelompok humaniora. Siswa
yang ingin mengkaji lebih jauh tentang ilmu Antropologi dapat melanjutkan
studinya ke jurusan tersebut.
3. Mampu beradaptasi (menyesuaikan diri) dengan lingkungan yang berbeda
budanya. Dengan adanya pengetahuan dan kesadaran bahwa setiap
kelompok masyarakat mempunyai kebudayaan senidri. Maka, siswa
10

diharapkan dapat beradaptasi dengan baik di lingkungan dimana ia tinggal


baik pada mencari ilmu maupun saat bekerja.
4. Memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Setiap kebudayaan
mempunyai fungsi. Karena itu, ada kebudayaan yang lebih rendah atau
lebih tinggi antara satu dengan yang lain. Kesadaran ini memupuk rasa
solidaritas dan menghindarkan diri dari etnosentrisme yaitu mengganggap
kebudayaan sendiri paling baik, kebudayaan orang lain di ukur dari
kebudayaan sendiri. Melalui kesadaran ini pula, kira dapat menggalang
kerjasama dengan berbagai bangsa di dunia.

RANGKUMAN - - - - Antropologi lahir dari adanya rasa ingin dari adanya rasa ingin tahu
manusia terhadap manusia lain. Perkembangan ilmu Antropologi di bai atas 4
tahap, yaittu sebagai berikut.
Pertama, tahun 1940-an, awal penjajahan orang Eropa ke berbagai
penjuru dunia. Dari perjalanan itu terkumpul berbagai gambaran tentang suku
bangsa di luar Eropa;
Kedua, tahun 1800-an, tujuan Antropologi yaitu mengkaji suku bangsa
untuk mendapatakan pengertian tentang evolusi kebudayaan;
Ketiga, tahun 1990-an, Antropologi menjadi ilmu praktis, mempelajari
suku bangsa untuk kepentingan mempengaruhi dan menjajah masyarakat;
Keempat,
tahun
1930-an,
tujuan
utama
antropologi
untuk
pembangunan suku-suku yang masih terbelakang.
Antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia seperti, asal usul
manusia, evolusi fisik manusia, keanekaragaman bentuk fisik manusia,
kebudayaan dan berbagai kemampuan manusia untuk menyesuaikan diri
dengan lingkungan.
Antropologi di bagi 2 cabang besar, yaitu Antropologi Fisik (Ragawi) dan
Antropologi budaya. Antropologi fisik mempelajari manusia dari sudut biologis
yaitu asal-usul manusia, evolusi manusia, evolusi organ tubuh manusia,
struktur tubuh manusia dan ras. Antropologi budaya mempelajari berbagai
kebudayaan berbagai bangsa di dunia dan perubahannya. Antropologi Budaya
dibagi lagi menjadi Arkeologi, Antropologi Linguistik, Etnologi, dan Antropologi
Sosial.
Tujuan memepelajari Antropolog Sosial Budaya di SMU adalah
meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan YME, dapat melanjutkan ke jenjang
yang lebih tinggi, mampu beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda
dengan budayanya, baik pada saat menuntut ilmu maupun bekerja,
membentuk kepribadian mantap, mandiri, berbudi pekerti luhur dan
memperkokoh persatuan serta kesatuan bangsa.

SOAL SOAL LATIHAN


A. Jawablah pertanyaan di bawah ini!
1. Cobalah uraikan tentang latar belakang berkembangnya ilmu Antropologi?
2. Mengapa orang Eropa mengadakan penjajahan ke berbagai daerah di
dunia?
3. Buatkan Bagan atau Skema tentang cabang-cabang ilmu Antropologi
beserta uraian singkatnya?
4. Apa yang menjadi ruang lingkup atau kajian ilmu Antropologi?
11

5. Sebutkan cabang-cabang Antropologi Fisik dengan penjelasannya?


6. Apa yang ketahui tentang Ras? Jelaskan!
7. Dilihat dari ciri-ciri fisiknya orang Indonesia dapat dibagi menjadi beberapa
golongan. Sebutkan penggolongan ras-ras orang Indonesia?
8. Cobalah anda bandingkan beberapa pendapat tentang ilmu antropologi
yang menjadi kelemahannya dan buatkan pengertian Antropologi menurut
pendapatmu?
9. Apa perbedaan dan persamaan ilmu antropologi sosial budaya dengan
etnografi?
10.Mengapa ilmu antropologi dapat membantu kita untuk beradaptasi dengan
lingkungannya? Jelaskan dengan rinci !

B. Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar !


1. Antropologi berasal dari kata antropos yang artinya
a. manusia
c. suku bangsa
b. kebudayaan
d. makhluk hidup
hidup

e.lapisan

2. Tujuan praktis ilmu Antropologi pada awal tahun 1990-an adalah untuk
kepentingan
a. pengembangan ilmu
c. memahami evolusi kebudayaan
b. menjajah
d. pembangunan suku terasing.
e.memahami
evolusi fisik
3. Di bawah ini terdapat bidang kajian Antropologi, kecuali
a. evolusi fisik
c. asal usul manusia
b. revolusi kebudayaan
d. kebudayaan
e. adaptasi manusia
terhadap lingkungan
4. Orang Eropa mengadakan perjalanan jauh dengan tujuan di bawah ini,
kecuali
a. mencari daerah jajahan
c. menyebar agama
b. mencari pasar
d. ingin tahu
e. mencari harta karun
5. Cabang Antropologi yang khusus mempelajari manusia dari sudut biologis
adalah
a. Arkeologi
c. Antropologi biologi
b. Antropologi fisik
d. Somatologi
e. Etnografi
6. Bekas dan sisa makhluk hidup yang telah membantu dan tertimbun dalam
lapisan tanah, disebut
a. artefak
c. evolusi
b. fosil
d. somatology
e. palaeontologi
7. Untuk mengetahui adaptasi maupun fisik manusia dengan lingkungan,
Antropologi bekerjasama dengan ilmu di bawah ini, kecuali
a. Politik
c. Geografi
b. Epidomologi
d. Genetika
e. Biologi

12

8. Ilmu yang mempelajari keanekaragaman manusia dan makhluk hidup yang


ada kaitannya dengan manusia adalah
a. Somatologi
c. Antropometri
b. Arkeologi
d. Palaeontologi
e. Ras
9. Cabang Antropologi Budaya diantaranya
a. Antropologi Ras
c. Etnologi
b. Somatologi
d. Antropometri

e. Evolusi manusia

10. Bagaimana cara manusia hidup dan memanfaatkan lingkungan dipelajari


oleh Antropologi
a. Languistik
c. Etnologi
b. Sosial Budaya
d. Arkeologi
e. Somatologi
11. Mempelajari bahasa atau suku bangsa sangat penting untuk mempelajari
lebih lanjut tentang
a. evolusi manusia
c. kebudayaan
b. adaptasi manusia
d. kondisi fisik manusia e. kesenian
dan
peralatan
12. Di bawah ini terdapat tujuan siswa SMU mempelajari Antropologi, kecuali

a. Melanjutkan pendidikan
c. kepribadian mantap
b. beradaptasi dengan lingkungan
d. agen perubahan budaya
e. memperkokoh persatuan kesatuan
13. Salah satu factor yang menyebabkan kebudayaan berbeda antar suku
bangsa adalah adanya perbedaan
a. perbedaan fisik manusia
c. peralalatan yang digunakan
b. lingkungan dimanusia hidup
d. teknologi
e. bahasa
14. Arkeologi mempelajari kebudayaan melalui
a. batu tua
c. fosil
b. arrtefak
d. museum

e. teknologi

15. Fase dimana antropologi kebudayaan bertujuan untuk pembangunan


adalah tahun
a. 1300-an
c. 1400-an
b. 1900-an
d. 1970-an
e. 2000-an

13

BA
B
II

KEBUDAYAAN

2.1 PENGERTIAN
Manusia adalah makhluk hidup yang berakal. Dengan akalnya itu,
manusia menciptakan berbagai alat dan cara untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Segala cara dan alat yang lahir atas akal manusia disebut
kebudayaan.
Tidak ada manusia yang dapat hidup tanpa bantuan budaya dan tidak
ada budaya tanpa penciptaan manusia. Budaya mengusai kehidupan manusia.
Oleh karena itu, kebudyaan disebut superorganik. Contoh, manusia
membutuhkan makan. Apa yang dimakan bergantung pada lingkungan alam.
Apakah lahannya cocok untuk tanaman gandum, jagung, padi atau sagu.
Memanfaatkan lingkunganpun bergantung pada budaya. Misalnya, pada saat
makan, apakah kita akan memakai tangan, garpu atau pisau. Demikian pula
dengan perumahan, mata pencaharian, sistem sosial dan sebagainya. Semua
itu bergantung pada budaya masyarakat suatu tempat.
Kebudayaan dimiliki oleh setiap masyarakat. Oleh karena itu,
kebudayaan bersifat universal. Kebudayaan berbeda anatara satu masyarakat
dengan masyarakat lain. Cara makan orang padang berbeda dengan orang
sunda, manado, dan orang Eropa. Walaupun tujuan makan dimanapun sama,
yaitu demi kelangsungan hidup.
Kebudayaan atau budaya berasal daribahasa sansekerta buddyah
yang artinya akal atau budi. Dalam bahasa inggris kebudayaan disebut
culture yang berasal dari kata colere yang artinya mengolah atau
mengerjakan. Jadi, kebudayaan adalah segala akal manusia untuk memenuhi
kebutuhan hidup. Untuk lebih jelasnya, berikut ini akan dikutip bebebrapa
pengertian kebudyaan:
1. Koentjaraningrat (1990)
14

Kebudayaan adalah kesekuruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil


karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia
dengan belajar.
2. E.B. Taylor (1871)
Kebudayaan adalah keseluruhan yang komplek termasuk didalamnya
ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hokum, adat-istiadat, dan
kemampuan lainny, serta kebiasaan yang didapatkan manusia sebagai
anggota masyarakat.
3. Dauglas Jackson (1985)
Kebudayaan
adalah
akumulasi
pengalaman
manusia
yang
ditransmisikan dari generasi ke generasi dan difungsikan dari satu kelompok
ke kelompok lainnya di permukaan bumi.
4. Spuhler (1965)
Kebudayaan adalah adaptasi biologis yang di transmisikan secara
magnetic.
5. Kluckhohn dan Keily (1945)
Kebudayaan adalah semua rencana hidup yang tercipta secara histori
baik yang eksplisit maupun implisit, rasional, dan irasional yang ada pada
suatu waktu sebagai pedoman prilaku manusia.
6. Ralp Linton (1940)
Kebudayan adalah sejumlah pengetahuan sikap, dan kebiasaan
berprilaku yang terpola dan dimiliki serta diwariskan oleh antara anggota
suatu masyarakat.
7. Selo Sumardjan (1984)
Kebudayaan adalah hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Dalam
definisi, dikemukakan oleh Selo Sumardjan, kita dapat melihat bahwa
kebudayaan itu merupakan hasil dari usaha manusia untuk memenuhi
kebutuhan jasmani dan rohani agar hasilnya dapat digunakan untuk keperluan
masyarakat, Misalnya:
a. Karya (Kebudyaan materil), yaitu kemampuan manusia untuk
menghasilkan benda atau lainnya yang berwujud benda.
b. Rasa, di dalamnya termasuk, agama, ideology, kebatinan, kesenian dan
semua unsur ekspresi jiwa manusia yang mewujudkan nilai-nilai sosial
dan norma-norma sosial.
c. Cipta, merupakan kemampuan mental dan berfikir yang menghasilkan
ilmu pengetahuan.
Dari pengertian tersebut, kita dapat mneyimpulkan bahwa ciri-ciri
kebudayaan adalah sebagai berikut:
1. Kebudayaan diciptakan oleh manusia melalui perasaan (rasa), kemauan
(Karsa) dan karya (hasil).
2. Kebudayaan dibutuhkan oleh manusia untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungannya untuk memenuhi berbagai kebutuhan.
3. Kebudayaan diperoleh manusia melalui belajar.
4. Kebudayaan diwariskan dari generasi ke generasi secara nongenetis.
5. Kebudayaan dimiliki dan di akui oleh masyarakat.
6. Kebudayaan berubah-ubah (dinamis).
7. Kebudayaan dapat berupa gagasan (ide) tindakan (prilaku) dan hasil
kerya yang berbentuk material (kebendaan).

15

2.2 WUJUD KEBUDAYAAN


Dari defenisi diatas, kebudayaan dapat berwujud gagasan (ide), atau
tindakan (prilaku), dan hasil karya yang berbentuk kebendaan (material).
Namun untuk lebih jelasnya tentang wujud kebudayaan itu, marilah kita
melihat pendapat para ahli Antropologi berikut ini.
Julian hoxley (1997-1975) seorang ahli biologi inggris membagi
kebudayaan atas 3 wujud,yaitu:
a. Mentifact adalah kebudyaan yang bersifat abstrak atau tidak tampak,
yaitu berupa aspek mental yang melandasi prilaku dan hasil kebendaan
manusia, termasuk di dalamnya ide, gagasan, pemikiran, kepercayaan,
ideology, sikap dan pandangan-pandangan manusia terhadap alam
semesta.
b. Sosiofact adalah kebudayaan yang menempatkan manusia sebagai
anggota masyarakat. Seperti, prilaku manusia yang disesuaikan dengan
sistem nilai, moral, norma dan adat istiadat yang berlaku dalam
masyarakat.
c. Artifact adalah kebudayaan material atau kebendaan seperti rumah,
pakaian, perkakas rumah tangga dan peralatan bekerja.
Kroeber (1958) pernah menganjurkan untuk membedakan secara tajam
wujud untuk kebudayaan sebagai suatu rangkaian tindakan atau aktivitas
manusia dan artefak (material). Koenthjanigrat berpendapat bahwa ada tiga
wujud kebudayaan, yaitu:
1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilainilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya.
2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas dan tindakan
berpola dari manusia bermasyarakat.
3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Untuk lebih memudahkan anda memahami wujud kebudayaan, lihat bagan
berikut dibawah ini:

Gambar halaman 15. 1982

Dari gambar/ kerangka kebudayaan tersebut, kita dapat melihat bahwa


unsur-unsur kebudayaan universal seperti, sistem ilmu pengetahuan, sistem
16

organisasi sosial, sistem ekonomi, sistem teknologi, bahasa, religi dan


kesenian. Hal ini dapat dipandang dari ketiga wujud kebudayaan.
1. Kebudayaan yang bersifat abstrak (sistem gagasan/ide)
Akal merupakan ciri khas dan kelebihan manusia bila dibandingkan
dengan makhluk hidup lainnya di permukaan bumi. Dengan akalnyaa,
manusia selalu mempunyai ide atau gagasan dalam memenuhhi kebutuhan
hidup secara optimal dan untuk mempertahankan diri.dengan akalnya pula,
manusia dapat memilih tempat yang paling sesuai untuk hidupnya. Dalam
tahap-tahap tertentu ia pun menciptak berbagai gagasan untuk memodifikasi
(mengubah) alam agar lebih nyaman untuk dijadikan tempat tinggal.
Misalnya, gagasan untuk menciptakan AC, pemanas ruangan, listrik dan
sebagainya.
Walaupun tidak tampak oleh mata, gagasan atau ide mempunyai
peranan yang sangat pentin. Hal ini karena akal dapat melatarbelakangi
setiap gerak manusia, baik yang berhubungan dengan orang lain, maupun
dalam memanfaatkan alam untuk gerak manusia sebetulnya di arahkan oleh
otak sebagai pencetus ide atau gagasan. Gagasan yang cemerlang akan
mendorongbebragai prilakuuntuk menghasilkan suatu yang berkualitas baik.
Dengan demikian, baik atau jeleknya sesuatu yang sifatnya konkret (tampak
mata) bergantung kepada ide atau gagasan. Pengertian baik atau jelek ini,
tentu saja relatif, bergantung kepada norma-norma yang berlaku dalam
masyarakat.
Gagasan merupakan suatu sistem. Sistem adalah rangkaian dari unsur
atau komponen yang saling terkait atau sama lain sehingga memebentuk
suatukesatuan. Sebagai suatu sistem, ide atau gagasan sangat bergantung
pada unsur pengetahuan, pengalaman, kecerdasan, bakat, minat dan
kemauan.
Sekolah, kursus-kursus dan lembaga pendidikan lain adalah tempat
untuk melatih dan mengembangkan bakat serta kecerdasan itu. Kecerdasan
dan bakat ini sering tampak dari besar kecilnya minat terhadap sesuatu.
Contoh
Tono waktu kecil senang dan penuh minat terhadap komponen mobil-mobilan.
Ia sering bongkar pasang mainan itu. Karena minatnya itu, ia memilih jurusan
mesin dan dapat lulus dengan baik. Sekarang, ia pun bekerja di pabrik mobil
bagian mesin. Sudah banyak komponen-komponen mobil yang ia hasilkan.
Contoh lain
Ani tidak pernah menyadari kalau ia punya bakat menyanyi. Suatu saat guru
kesenian menyuruh menyanyi. Teman dan gurunya memuji suara ani yang
bagus dan tidak fals. Ia dianjurkan ikut group kesenian. Dengan berbekal
pengalaman di group kesenian, ia pun serius melatih vocal, belajat not balok,
dan mendalami music di sanggar music terkenal. Dengan berbekal bakat,
pengetahuan, pengalaman, dan kemauan, akhirnya Ani berhasil menjadi
penyanyi terkenal. Ia telah merekam suaranya di beberapa kaset dan CD.
Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa ide atau gagasan yang
dilatarbelakangi oleh pengetahuan, pengalaman, kecerdasan, bakat dan minat
telah mendorong seseorang untuk berperilaku dan menghasilkan sesuatu
kebudayaan yang bersifat kongkret.
Demikian pula halnya dengan unsur-unsur kebudayaan lain yang
berlaku dalam masyarakat. Semua itu berawal dari ide atau gagasan para
anggotanya yang ada di masyarakat.

17

2. Kebudayaan yang Bersifat Kongkret


1. Perilaku
Perilaku adalah tingkah laku seseorang bila saling berhubungan
(berinterelasi) dengan orang lain atau dengan lingkungan alam. Dalam
perilaku, manusia selalu mengikuti norma. Norma, adalah aturan-aturan
tentang apa yang harus dan tidak boleh dilakukan. Apabila norma tersebut
dilanggar akan ada sanksinya. Berat ringannya sanksi bergantung kepada
besar kecilnya penyimpangan atau kesalahan yang dilakukan. Sangsi dapat
beru@) pa celaan, teguran, diasingkan oleh anggota masyarakat, siksaan
badan atau kerugian-kerugian lainnya.
a. Norma Agama
Dalam setiap agama, ada aturan-aturan untuk berperilaku mengenai
hal yang boleh dan harus dikerjakan, serta yang tidak boleh dikerjakan oleh
umatnya. Sanksi-Sanksi bagi yang melanggar norma itu diatur sesuai dengan
agama yang bersangkutan.
b. Norma Masyarakat
Norma masyarakat berupa adat istiadat yang biasanya tidak tertulis
Misalnya, jika bertamu kita harus mengucapkan salam atau mengetuk pintu.
Jika berbicara dengan orang tua, suaranya diperlembut da tidak boleh kasar.
Di sekolah, kita harus menggunakan seragam. Pada saat akan melamar gadis
pun ada aturan-aturan yang harus dipenuhi. Kalau aturan-aturan tersebut
dilanggar, ia akan mendapat sanksi berupa celaan, teguran, atau diasingkan
dalam masyarakat.
c. Norma Hukum Negara
Norma ini biasanya tertulis dan bersifat formal. Seperti tidak boleh
mencuri. Kalau seseorang mencuri, sanksinya akan dihukum sekian bulan
penjara. Penjara adalah sanksi fisik yang lamanya ditentukan oleh besar
kecilnya pencarian tersebut.
Norma bersifat relative, artinya di setiap agama, suku bangsa dan
Negara berbeda aturannya. Norma di manapun bertujuan sama, yaitu untuk
membatasi perilaku-perilaku para anggotanya sehingga tercipta suasana yang
aman dan tertib. Contoh, berpakaian adalah kebutuhan setiap manusia. Akan
tetapi, yang disebut keindahan dalam berpakaian, sangat relatif. Ada yang
menganggap lebih indah memakai kebaya, celana jeans, rok, celana pendek,
atau koteka saja seperti di Irian. Jadi, semua itu tergantung kepada tempat,
situasi, atau waktu pemakaiannya.
Dalam berperilaku dengan alam, ada juga norma-normanya, baik yang
bersifat agama, masyarakat, maupun hukum Negara. Misalnya dalam agama
islam, ada anjuran bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Di dalam
norma masyarakat dan juag pemerintah daerah, ada ketentuan bahwa
membuang sampah sembarangan tidak dibenarkan dan tidak boleh
menebang pohon sembarangan. Bertani di daerah miring harus
mempergunakan sengkedan (terasering). Di daerah tangkapan hujan dan
peresapan air (catchment area and recharge area) tidak boleh dibangun
rumah. Semua itu adalah sopan santun terhadap alam agar alam tidak
memberikan sanksi berupa banjir, longsor, dan kekeringan yang dapat
merugikan manusia itu sendiri.
d. Bahasa
Berbahasa adalah kemampuan khas yang dimiliki makhluk yang
bernama manusia. Bahasa adalah lambang-lambang yang mengandung arti.
Bahasa berisikan berbagai symbol atau lambang untuk menginformasikan ide,
18

gagasan, pemikiran, keinginan, tujuan atau maksud. Karena bahasa adalah


alat komunikasi, maka bahasa mempunyai kaitan yang sangat erat dengan
pewarisan kebudayaan.
Seorang bapak mewariskan kebudatyaan berburu, bertani, mengayam,
cara melakukan ibadah, berpakaian, melangsungkan perkawinan dan
berbahasa (seperti bahasa Sunda, Jawa dan sebagainya) tidak hanya melalui
perilaku tapi juga dengan bahasa.
Basaha itu sendiri dapat berupa:
- Bahasa isyarat, seperti gerakan tangan, anggukan, lambaian tangan, bunyi
kentongan atau beduk.
- Bahasa lisan melalui mulut.
- Bahasa tulisan melalui gambar atau huruf atau simbol-simbol lainnya yang
ditulis diatas batu,
candi, daun, kulit, kertas dan media lainnya.
Supaya tujuan, ide, gagasan dan keinginan kita dapat diterima dengan
baik, bahasa yang kita dapat terima dengan baik, bahasa yang kita
pergunakan harus dimengerti oleh kedua belah pihak. Oleh karena itu, di
dalam berbahasa terlibat factor pengetahuanwawasan kebudayaan dan
keterampilan. Cobalah anda bayangkan apa yang akan terjadi kalau anda
akan pergi ke suatu tempat. Di tengah jalan ada orang yang memberitahu
bahwa di tempat itu ada harimau mengamuk. Atau jalannya terkena longsor
atau mengerti bahasa (isyarat atau lisan) yang disampaikan orang itu.
Karena itu, kalau ingin menyampaikan gagasan atau keinginan,
pertama-tama harus tahu dulu bahasa apa yang harus dipergunakan agar
dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Kemudian, mencari cara agar dapat
saat kita menyampaikannya mudah dimengerti dan direspon dengan baik.
Cara menyampaikan sesuatu bagi orang Batak mungkin akan berbeda dengan
orang Sunda atau Jawa. Oleh karena itu, wawasan budaya suku bangsa atau
bangsa harus dipakai agar tidak menimbulkan salah pengertian.

Gambar 2.1 halaman 17

e. Kebendaan (Material, artefak)


19

Kebendaan adalah wujud kebudayaan kongkret yang dapat dengan mudah


kita lihat. Berdasarkan fungsinya, barang-barang itu dapat dikelompokkan
atas:
a. Perlindungan, seperti rumah, pakaian dan berbagai jenis senjata;
b. Produksi, batu, kapak, cangkul, tombak, mesin-mesin dan sebagainya;
c. Konsumsi, makanan, dan minuman;
d. Bahan bakar, kayu, batu bara, arang, minyak, gas, dan sebagainya;
e. Keagamaan dan kepercayaan, sesajen, candi, pura, masjid, gereja, kitab
suci, dan sebagainya;
f. Kesenian, lukisan, patung, ukiran, dan sebagainya.
Selain barang-barang di atas, masih banyak kebendaan lain yang
fungsinya sebagai pelengkap untuk mempermudah dan mepernyaman hidup.
Pada masyarakat modern, barang-barang itu pun seringkali mempunyai
fungsi ganda. Seperti candi, fungsi utamanya untuk keagamaan, tetapi juga
mempunyai nilai seni tinggi dan berfungsi sebagai objek wisata. Barangbarang pun tidak hanya mempunyai nilai guna tetapi juga mempunyai nilai
status atau prestise. Seperti rumah, fungsi atau kegunaan utamanya yaitu
untuk berlindung, tetapi sekarang ini luas runah, bentuk rumah, landscaping
rumah, lokasi rumah, menentukan kepribadian dan status seseorang. Makan,
tujuan utamanya adalah untuk kelangsungan hidup, tetapi sekarang ini apa
yang dimakan, tempat makan, tata cara makan menentukan status
seseorang. Demikian pula berpakaian, perkakas rumah tangga dan kebendaan
lainnya.

2.3 SUBSTANSI (ISI) KEBUDAYAAN


Setiap masyarakat memiliki kebudayaan. Oleh karena itu, kebudayaan
bersifat universal. Akan tetapi, kebudayaan berbeda antara masyarakat yang
lain. Kebudayaan pun mempunyai substansi atau isi, yaitu berupa
pengetahuan, nilai, pandangan hidup, kepercayaan, persepsi, dan etos.
1. Pengetahuan
Setiap manusia mempunyai naluri ingin mengetahui sesuatu yang ada
di sekitarnya. Misalnya, perbedaan alam, perbedaan bentuk fisik manusia,
adat istiadat, kebiasaan berpakaian, berbahasa, mata pencaharian, bentuk
rumah, dan sebagainya. Semua itu, telah mendorong manusia untuk mencari
jawaban dari setiap pertanyaan apa, mengapa, bagaimana dan siapa yang
telah melahirkan sistem pengetahuan.
Pengetahuan ini kemudian disusun secara sistematis melalui aturanaturan tertentu sehingga timbullah ilmu pengetahuan. Pengetahuan dan ilmu
pada dasarnya adalah usaha untuk memenuhi kebutuhan spiritual atau batin
manusia yaitu ingin tahu. Kemudian, pengetahuan itu diterapkan dalam
bentuk karya kebendaan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sehingga lahirlah
yang disebut dengan teknologi. Teknologi adalah berbagai cara dan alat yang
dipergunakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Seperti tombak,
cangkul, busur dan panah, jarring untuk menangkap ikan, bertani, industry,
pesawat dan sebagainya. Jadi, teknologi bukan hanya hasil mesin-mesin
modern saja. Teknologi pada dasarnya adalah semua cara dan alat untuk
memenuhi kebutuhan manusia yang bersifat kebendaan.
20

Antara teknologi dan pengetahuan tidak dapat dipisahkan dalam


kebudayaan
masyarakat.
Karena,
seseorang
yang
mempunyai
pengetahuanlah yang dpat menghasilkan berbagai ide, gagasan yang
dituangkan dalam bentuk cara atau benda. Pengetahuan ini tidak seluruhnya
hasil dari pengalaman sendiri. Ada pengetahuan yang diperoleh dengan
belajar dari orang lain dan peniru. Oleh karena itu, untuk memperoleh
pengetahuan, hal ini tidak dapat dipisahkan dari kehidupan berkelompok dan
berhubungan dengan oarng lain. Seperti budaya uang, perbankan, sistem
huruf, dan mode berpakaian. Semua itu berkembang di Indonesia dan
merupakan bentuk peniruan dari budaya asing.
2. Nilai
Nilai adalah sesuatu yang dianggap berguna, berfungsi, dan berharga.
Sesuatu yang dianggap bernilai dapat berupa benda (material) dan bukan
benda.
Nilai benda diukur dari:
- Nilai guna yaitu fungsi, manfaat atau kegunaannya,
- Nilai tukar, semakin tinggi kegunaan atau fungsi suatu benda bagi
kehidupan manusia, semakin tinggi nilainya. Seperti cangkul bagi
petani, buku dan pulpen bagi pelajar, mesin hitung bagi pegawai bank,
termasuk benda yang bernilai. Jadi, nilai kegunaan suatu barang sangat
tergantung kepada peran dan status seseorang di masyarakat.
Pada masyarakat Trobriand di Kepulauan Melansia, sebelah timur Papua
Nugini, barang yang dianggap bernilai adalah kalung dan gelang yang dbuat
dari kerang merah. Benda ini bernilai karena dapat meningkatkan status
seseorang yang memilikinya. Karena itu, dalam proses pertukarannya (barter),
ada tata cara tersendiri. Kalung, dalam arah pertukarannya harus searah
dengan jarum jam, yaitu dari utara-timur-selatan-barat dan seterusnya.
Sedangkan gelang, harus sebaliknya, dari utara-barat-selatan-timur dan
seterusnya. Setiap masyarakat mempunyai barang yang dianggap bernilai.

Gambar.2.2 halaman 19

Selain itu, barang pun dapat diukur dari nilai tukarnya. Semakin besar
nilai tukar suatu barang, semakin berharga barang itu. Seperti emas, emas
21

dianggap barangberharga karena 1 kilogram emas dapat ditukar dengan


beberapa puluh kilogram singkong atau beras.
Nilai bukan material dapat berupa nilai kerohanian, seperti nilai
keindahan, nilai kebaikan, nilai keagamaan, nilai kebenaran dan sebagainya.
Karena sifatnya yang abstrak, nilai hanya dapat diukur dari perasaan,
keyakinan kehendak.
Manusia selalu mencari sesuatu yang bernilai. Nilai menjadi landasan
dalam berprilaku. Nilai yang berharga, yang baik, dan indah, menjadi ukuran
dalam berperilaku. Sebaliknya nilai yang tidak baik, tidak benar dan tidak
indah, akan dihindari karena membahayakan individu, baik sebagai anggota
masyarakat maupun hamba Tuhan.
3. Pandangan Hidup
Pandangan hidup adalah seperangkat nilai yang dianut oleh seseorang
atau masyarakat. Nilai-nilai yang dianut tersebut sudah berdasarkan
pemilihan (seleksi) menurut pengetahuan dan pengalaman sehingga diyakini
akan kebenarannya. Pandangan hidup dijadikan arah dalam mencapai tujuan
hidup, menjadi pedoman dalam berperilaku, berkarya, dan dalam
memecahkan masalah.
Tujuan hidup merupakan tujuan ideal yang diharapkan atau dicitacitakan oleh seseorang atau masyarakat. Contoh, pandangan hidup Tono
adalah mengejar prestasi dunia dan akhirat. Pandangan hidup ini sudah
diyakini oleh Tono sebagai suatu kebenaran dan keyakinan. Karena, Tono
melihat pengalaman sendiri dan juga pengalaman orang lain, bahwa menyianyiakan waktu dengan banyak bermain atau melakukan sesuatu yang kurang
bermanfaat tidak akan mendatangkan kebaikan. Perilaku Tono selalu megarah
kepada usah-usaha umtuk mencapai prestasi sebaik mungkin, seperti rajin
beribadah, tekun, rajin belajar, senang berdiskusi dan melakukan kegiatankegiatan yang bermanfaat lainnya.
Negara kita pun punya pandangan hidup, yaitu Pancasila. Setiap usaha
pembangunan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia selalu mengarah kepada
pencapaian butir-butir yang tertuang pada Pancasila. Pancasila menjadi arah
perilaku setiap warganegara yang bermasyarakat dan bernegara.
4. Kepercayaan
Kepercayaan merupakan sekumpulan sikap yang berlandaskan pada
keyakinan terhadap sesuatu yang dianggap menguasai kehidupan
(supernatural). Dalam kepercayaan ada beberapa unsur penting yaitu:
- Adanya sesuatu yang diyakini,
- Adanya keanggotaan dan pimpinan yang membimbing keyakinan
tersebut,
- Adanya tindakan-tindakan yang mencerminkan kepatuhan dan
pemujaan,
- Adanya Hasil kebendaan, seperti rumah ibadah, sesaji dan ayat suci,
serta,
- Adanya emosi, seperti rasa takut, cinta, haru dan sebagainya.
Tujuan dari kepercayaan ini adalah memelihara hubungan dengan
supernatural agar tetap memelihara hidup mereka dan menjaga dari segala
sesuatu yang mendatangkan kesulitan.
5. Persepsi
Persepsi (Perseption) diterjemahkan sebagai pengliatan, pengamatan,
pemahaman dan tanggapan terhadap sesuatu obyek. Persepsi adalah proses
mental yang menghasilkan bayangan atau penafsiran seseorang tentang
22

sesuatu obyek. Persepsi mengandung dua pengertian, yaitu menunjukkan


proses dan menunjukkan hasil.
Persepsi bermula pada pengideraan, terhadap suatu informasi atau
benda atau kondisi, kemudian diterima oleh panca indera, diolah oleh otak
berupa pemikiran, daya nalar, pengetahuan dan pengalaman masing-masing
individu yang akhirnya menghasilkan interpretasi (penafsiran) terhadap
obyek/situasi/informasi tadi. Persepsi dipengaruhi oleh:

Pengalaman,
Kecerdasan,
Kemampuan menghayati rangsangan (respon),
Ingatan,
Disposisi kepribadian kecenderungan-kecendrungan kepribadian yang
sifatnya relative tetap seperti pemarah, sentimental, otoriter dan
sebagainya,
Sikap,
Kecemasan atau penguasaan diri, dan
Pengharapan

Berdasarkan sensorik yang dipergunakan, ada 2 macam persepsi yaitu:


1. Persepsi sensorik pancaindera, yaitu dala mengamati suatu objek, manusia
mempergunakan alat pancaindera, diolah oleh otak dan akhirnya
ditafsirkan;
2. Persepsi ekstra sensorik, yaitu dalam mengamati sesuatu tanpa
mempergunakan salah satu dari pancaindera. Ektra sensorik ini ada 2
macam yaitu:
a. Clairvoyance, Yaitu kemampuan melihat peristiwa atau kejadian di
tempat lain yang jauh dari orang/obyek yang bersangkutan
b. Telepati, yaitu kemampuan mengetahui kegiatan mental individu lain.

Gambar 2.3 halaman 21

.
6. Etos
Etos (ethos) adalah watak atau jiwa kebudayaan dalam suatu
masyarakat yang dipancarkan dari luar sehingga memberikan kesan positif
atau negative
Koentjaraningrat mengungkapkan bahwa etos dalam kebudayaan
adalah ciri khas atau watak khas kebudayaan suatu bangsa yang dilihat dan
dinilai oleh orang lain sebagai pihak luar
23

Jiwa atau watak khas kebudayaan ini tampak dari unsur kebudayaan
seperti cerita rakyat, warna yang digemari masyarakat, gerak gerik, sopan
santun dalam pergaulan, hasil karya dan sebagainya. Kalau di dalam suatu
kebudayaan cerita lucu dan menggembirakan, warna yang disukainya warna
muda dan menyala, gerak geriknya lincah dan dinamis, maka etos
kebudayaan demikian memberikan kesan gembira. Sebaliknya, bila cerita
rakyatnya menyedihkan dan serius, gemar warna gelap, gerak-geriknya
lamban, sopan santunya kaku da tertutup, etos kerjanya suram.
Koentjaraningrat, telah berhasil merekam etos budaya orang Jawa.
Menurut orang Batak, Kebudayaan Jawa memancarkan keselarasan,
kesuraman, ketengan yang berlebih-lebihan, sehingga cenderung lamban,
gemar sesuatu yang berbelit-belit, rinci atau ngejelimet. Kesan itu diamati dari
Bahasa Jawa. Hal ini tampak pula dari orang Jawa yang gemar warna gelap,
suara gamelan yang perlahan dan lamban, hiasan yang rumit, padat, dan
semakin mengecil.
Etos budaya orang Sunda yang ditangkap oleh orang Batak., hamper
sama, hanya tidak serumit orang Jawa. Orang Sunda lebih tenang warnawarna muda dan menyala, suara gamelan lebih keras dan lagu-lagunya lebih
polos.
Clifford Geertz, menulis buku yang berjudul Religion of Jawa, dia
menggambarkan etos kepercayaan orang Jawa.Kepercyaan orang Jawa dapat
dikelompokkan atas 3 golongan yaitu:
a. Abangan, yaitu para petani yang menganut kepercayaan animisme,
b. Santri, yaitu para pedagang menganut agama islam,
c. Priyayi, yaitu kaum bangsawan menganut agama hindu,
Kesan ini diperoleh dari asal mulanya penyebaran agama tersebut,
kebiasaan-kebiasan yang dilakukan, dan struktur masyarakat.
Contoh lain adalah Ruth Benedict, yangmengadakan penelitian di
Suku Crow, Zuni, Kwakiutl dan Dobu.Berdasarkan sopan santun, upacara
keagamaan, cerita dewa-dewa, hasil kerajinan dan kesenian, maka sifat
keempat suku itu dapat dikelompokkana atas:
a. Sifat agresif, ketat, suka menyiksa diri dalam memperkuat rohani,
disebut watak Dionysian, terdapat pada suku Crown.
b. Sifat yang tenang, suka damai, suka bergotong royong dan pasif,
disebut watak Applonian yang terdapat pada suku Zuni.
c. Sifat curiga, licik, pengecut, penuh tipu muslihat dan sering
merugikan orang lain, disebut watak Schizoperh, terdapat pada suku
Dubo.
d. Sifat agresif, suka berkelahi, sombong dan pembual disebut watak
Megalomaniac Paranoid, terdapat pada suku Kwakiutl.
Etos kerja setiap masyarakat pun sering pula dinilai oleh pihak luar.
Seperti orang jepang, mereka termasuk suku yang ulet, tekun, rajin dan kuat
memegang tradisi. Wanita Jawa, Sunda dan Aceh pun mempunyai etos kerja
yang tersendiri.

RANGKUMAN - - - - 24

Kebudayaan adalah segala cara dan alat yang lahir dari akal manusia
untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kebudayaan diciptakan oleh manusia
melalui perasaan (rasa), kemauan (karsa) dan karya (hasil). Kebudayaan
dibutuhkan oleh manusia untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Kkebudayaan diperoleh melalui belajar, dan diturunkan dari satu generasi ke
generasi berikutnya secara nongenetis.Kebbudayaan dimiliki dan diakui oleh
masyarakat. Kebudayaan bersifat dinamis.
Kebudayaan dapat berupa abstrak, yaitu sistem gagasan atau ide dan
dapat pula bersifat kongkret atau artefak, yaitu berupa perilaku, bahasa dan
kebendaan. Menurut Yulian Hoxley, kebudayaan dapat berupa mentifact yaitu
berupa mental, sosiofact yang menempatkan manusia sebagai anggota
kelompok dalam masyarakat, dan artifact berupa kebudayaan kebendaan.
Kebudayaan mempunyai isi yang berupa pengetahuan, nilai,
pandangan hidup, kepercayaan, persepsi dan etos. Sistem pengetahuan
timbul karena adanya naluri ingin tahu manusia terhadap sesuatu. Dari usaha
mencari tahu itulah, lahir sistem pengetahuan ini lahir barbagai ide, gagasan,
dan hasil budaya kebendaaan. Nilai adalah sesuatu yang diaanggap berharga,
berguna, bermanfaat dan berfungsi bagi kehidupan manusia. Sesuatu yang
bernilai tersebut dapat berupa nilai material non material. Pandangan hidup
adalah sperangakat nilai yang dianut oleh seseorang atau masyarakat yang
diambil berdasarkan pengalaman, pengetahuan, dan seleksi. Pandangan hidup
menjadi arah dalam berperilaku. Kepercayaan merupakan sekumpulan sikap
yang berlandaskan pada keyakinan terhadap sesuatu yang menguasai
kehidupan. Persepsi adalah proses mental yang menghasilkan penafsiran
seseorang terhadap suatu objek, sedangkan etos budaya adalah jiwa, ciri khas
atau watak kebudayaan sesuatu masyarkat yang dipancarkan keluar dan
ditangkap, dilihat, dan dinilai oleh orang lain.

SOAL SOAL LATIHAN


A.
1.
2.
3.
4.
5.

Jawablah pertanyaan di bawah ini!


Jelaskan pengertian kebudayaan!
Mengapa manusia membutuhkan kebudayaan?
Bagaimnana pendapat Yulian Hoxley tentang wujud kebudayaan?
Apa yang dimaksud dengan kebudayaan universal? Jelaskan !
Bagaimana manusia dapat menghasilkan kebudayaan material dan
nonmaterial?
6. Bagaimana keterkaitan antara wujud kebudayaan abstrak dengan
kebendaan?
7. Mengapa prilaku manusia selalu terikat dengan norma dan ada berapa
macam nnorma yang berlaku dalam masyarakat?
8. Apa yang di maksud dengan nilai dan bagaimana cara mnegukur nilai itu?
9. Mengapa persepsi seseorang terhadap suatu obyek dapat berbeda-beda?
Faktor apa saja yang dapat mempengaruhi persepsi?
10.Apa yang dimaksud dengan etos budaya, dan bagaimana etos belajarmu
menurut teman sebangkumu?
25

Cobalah anda saling menilai etos belajar masing-masing, baik yang positif
maupun negatif. Tuliskan jawabannya dalam selembar kertas. Setelah selesai,
ditukar dan didiskusikan, bagaimana usaha untuk memperbaiki etos yang
berkesan negatif tentang dirimu itu.
B. Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar!
1. Kebudayaan diciptakan oleh manusia, tapi budaya menguasai kehidupan
manusia, karena itu disebut sebagai
a. superior
c. Supersonik
b. superorganik
d. supercultur
e.
superhuman
2. Kebudayaan berasal dari kata buddayah yang artinya
a. akal
c. gagasan
b. fikiran
d. peralatan
e. peradaban
3. Kebudayaan adalah hasil karya, rasa, dan cipta, pendapat itubersumber
dari
a. Koentjaranigrat
c. Dauglas Jackson
b. Taylor
d. Selo sumardjan
e.Spuler
4. Dibawah ini terdapat ciri-ciri kebudayaan, kecuali
a. hasil belajar
c. dinamis
e.
dimiliki
masyarakat
b. genetik
d. terdiri dari ide, prilaku dan kebendan

oleh

5. Kepercayaan, ideologi dan pandangan hidup termasuk


a. artifact
c.mentifact
b. sosiofact
d.culterfact
e. infact
6. Sistem gagasan dipengaruhi oleh unsur dibawah ini, kecuali
a. pengalaman
c. bakat
b. kecerdasan
d. kemauan
e. kelengkapan adat
7. Pengendalian prilaku seseorang dalam masyarakat, disebut
a. gagasan
c. sanksi
b. norma
d. nilai
e. etika
8. Di bawah ini terdapat factor yang perlu
berkomunikasi dengan orang lain, kecuali
a. bahasa
c. pengetahuan
c. wawasan budaya
d. ketrampilan
ketrampilan

diperhatikan

kalau

kita

d.

9. Manakah yang tidak termasuk pada barang perlinfungan


a. rumah
c. tombak
b. pakaian
d. mesin
e. pistol
10. Pada masyarakat modern, barang tidak Pada masyarakat modern, barang
tidak hanya dilihat dari fungsinya saja tapi juga symbol dari
a. kegunaan
c. pelengkapan
b. kekuasaan
d. status
e. wewenang
11. Kebudayaan di miliki oleh setiap masyarakat, disebut
26

a. universal
b. superorganik

c. dinamis
d. status

12. Dibawah ini termasuk teknologi kecuali


a. cangkul
c. buku
b. tombak
d. bertani
13. Nilai nonmaterial dapat berupa nilai
a. keagamaan
c. guna
b. tukar
d. manfaat

e. wewenang

e. pesawat

e. fungsi

14. Serangkaian nilai yang dianut oleh masyarakat yang menjadi tujuan dan
arah dalam berprilaku disebut
a. persepsi
c. etos
b. norma
d. kepercayaan
e. pandangan hidup
15. Di bawah ini terdapat factor yang dapat mempengaruhi persepsi, kecuali

a. kepercayaan
c. kecerdasan
b. pengalaman
d. ingatan
e. respon

BAB
III

SISTEM SOSIAL BUDAYA

3.1. PENGERTIAN
Apakah yang dimaksud dengan sistem/Dalam pengertian sehari-hari,
kita sering menafsirkan sistem sebagai cara atau mteode. Misalnya, sistem
bermain, sistem belajar, sistem berpakaian, dan sistem berkomunikasi. Apa
yang kita artikan tersebut memang betul, tetapi dalam konteks ilmiah,
khususnya dalam bidang ilmu sosial. Sistem menunjukkan pada suatu
rangkaian peristiwa, rangkaian kejadian/gejala atau keseluruhan komponen
yang saling berkaitan sehingga merupakan kesatuan yang terintegritas.
Dalam kamus bahasa Indonesia, sistem adalah sebagai berikut:
A. Sekelompok bagian-bagian yang bekerja bersama-sama untuk
melakukan suatu maksud.
B. Sekelompok dari pendapat, peristiwa, kepercayaan dan sebagainya
yang disusun dan diatur secara baik.
27

C. Cara atau metode yang di atur untuk melakukan sesuatu


(W.J.S. Poerwaderminto, 1982)
Kata sosial budaya menunjuk pada isi sistem. Dimana sistem itu
berisikan struktur. Kebudayaan itu dapat dibagi-bagi ke dalam unsur-unsur
seperti: cultural universal, cultural activities, traits complexes, traits dan item.
Untuk memudahkan anda dalam memahami struktur kebudayaan. Anda
bisa melihat dengan berikut ini:

Bagan Struktur Kebudayaa

Gambar halaman 25

Struktur kebudayaan yang tersusun dari item sampai dengan cultural


universal merupakan kesatuan yang terintegritasi. Dimana setiap
unsur0unsur/ bagian dari struktur bekerja saling berhubungan/berkaitan.
Itulah yang disebut sistemkebudayaan.
1. Cultural universal adalah kebudayaan yang universal atau kebudayaan
semesta. Misalnya, bahasa, kesenian, sistem kepercayaan, kekerabatan,
mata pencaharian, peralatan dan pelengkapan hidup/teknologi, dan sistem
pengetahuan.
2. Cultural activities yaitu kegiatan kebudayaan setempat. Misalnya, sistem
mata pencaharian itu bermacam-macam, ada pertanian atau perladangan,
berternak, berburu, nelayan dan perdagangan. Salah satu bagian dari mata
pencaharian itu disebut cultural activities.
3. Traits Complexes yaitu unsur-unsur kebudayaan yang rumit, unusr
kebudayaan
yang
lebih
kecil,
daripada
kegiatan
kebudayaan
setempat.Traits compelexes adalah alat-alat yang melengkapi kebudayaan
setempat. Misalnya, dalam rangka kegiatan kebudayaan pertanian
terdapat kompleks unsur-unsur. Seperti: sistem pengolahan tanah, sistem
irigasi, sistem pemilikan tanah dan sebagainya.
4. Traits adalah unsur-unsur pelengkap yang lebih kecil dari pada
traitscomplexes, tetapi masih bida di bagi-bagi lagi. Misalnya, bajak
tradisional terdiri dari 3 unsur, yakni: bajak, kerbau dan manusia sebagai
kusirnya.
28

5. Items adalah unsur-unsur terkecil yang sudah tidak bisa dibagi-bagi/dirinci


lagi. Misalnya, alat bajak terdiri dari tiang penarik dan pisau bajak.
Demikian pula binatang penariknya, yaitu kerbau. Manusia sebagai
kusirnya tentu tidak bisa lagi dirinci/diuraikan organisme tubuhnya.

3.2 SISTEM SOSIAL BUDAYA


Kebudayaan terdiri dari berbagai unsur yang saling terkait. Perubahan
satu unsur akan berpengaruh pada unsur lainnya. Karena itu disebut sistem
sosial budaya. Unsur-unsur kebudayaan itu adalah:
1. Teknologi
2. Sistem ekonomi
3. Sistem sosial
4. Sistem kepercayaan
5. Sistem bahasa
6. Sistem kesenian
7. Sistem pengetahuan
1. Teknologi
Teknologi adalah semua cara dan alat yang dipergunakan manusia dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya. Teknologi meliputi:
a. Tata cara dan alat yang dipergunakan untuk memperoleh makanan.
Misalnya, cara-cara berburu-buru, bertani, industry dan sebagainya.
b. Tata cara dan alat yang dipergunakan untuk perlindungan seperti
pakaian dan perumahan.
c. Tata cara dan alat yang di pergunakan untuk transportasi, yaitu delman,
mobil, kareta api dan lain-lain.
d. Tata cara dan alat dipergunakan untuk pengolahan baik pengolahan
makanan, pakaian, maupun barang-barang lainnya.
Lewis Henry Morgan (1963) mengemukakan tentang perubahan teknologi
manusia sebagai berikut:
Zaman liar bawah (lower savagery), yaitu sejak manusia ada di permukaan
bumi sampai ia mengenal bahasa.
- Zaman liar tengan (middle savagery) yaitu ditandai dengan adanya
kemampuan membuat api dan berakhir dengan adanya kemampuan
manusia membuat busur dan panah.
- Zaman liar atas (upper savagery) dari mulai membuat busur dan panah
sampai menemukan peralatan tembikar.
- Zaman beradab bawah (lower berbarisan) mulai dari kemmapuan
membuat tembikar sampai mengenal budidaya tumbuhan dan
pemeliharaan binatang ternak.
- Zaman beradab tengah (middle berbarisan) mulai dari pengenalan
budidaya tanaman dan hewan sampai kemampuan bertani secara
menetap dan mengenal sistem irigasi.
- Zaman beradab atas (upper berbasrisan) mulai dari kemampuan
membuatirigasi yang berarti pula sudah mulai mengenal pengolahan
besi sampai mengenal sistem alfabeth (huruf).
29

Zaman peradaban (civilatation) ditandai dengan penggunaan bahasa


tulisan dan percetakan sampai sekarang.

Teknologi merupakan unsur kebudayaan yang sangat penting. Perubahan


teknologi akan berpengaruh pada unsur kebudayaan lain.
Contoh, perubahan teknologi dari berburu ke pertanian. Pada saat berburu,
jumlah anggotanya sedikit, berpindah pindah, peralatan sederhana dan
mudah di bawa, perumahan tidak permanen. Dengan di temukannya
pertanian, mereka relative menetap, peralatan lebih banyak dan beragam,
jumlah penduduk semakin bertambah dan rumah permanen. Dengan adanya
kemampuan berproduksi, timbul perbedaan hasil. Ada orang yang hasil
panennya banyak, ada pula yang sedikit sehingga timbul pelapisan hasil
mneurut kekayaan.
Sejak itu pula, mereka mengenal adanya waktu luang disaat menunggu
panenya. Maka, berkembanglah kerjainan tangan dan aspek berkembanglah
kerajinan tangan dan aspek kesenian lain. Karena kebutuhan aturan0aturan
tentang alokasi tenaga kerja dan keahlian. Transportasi dan perdagangan
mulai dibutuhkan.
2. Sistem Ekonomi
Sistem ekonomi berhungan dengan alokasi produksi, tenaga kerja, dan
distribusi. Harus diperhatikan siapa yang mempunyai ketrampilan
bereproduksi? Dimana memproduksinya dan bagaimana cara bereproduksi?
Hal ini termasuk ke dalam pengorganisasian produksi. Dalam keluarga
misalnya,ayah adalah orang yang berproduksi atau yang bekerja. Misalnya
bekerja di perusahaan X sebagai montir. Sebagai montir ada alat dan tata
kerja sendiri yang berbeda dengan pekerjaan lain.
Distribusi berkenan dengan penyaluran barang dan jasa. Berdasarkan
tingkat teknologi yang dipergunakan, sistem produksi dapat dibagi atas:
a. Masyarakat berburu dan meramu (Hunting and Gathering)
Ciri-cirinya: hidup berpindah-pindah tempat, ketergantungan terhadap
alam tinggi, hidup dalam kelompok kecil, peralatan yang dipergunakan
sederhana, perbedaan sosial berdasarkan jenis kelamin dan usia, pemilikan
barang bersama (komunal), dan biasanya bersifat eksogamous (perkawinan
dengan anggota di luar kelompoknya).
b. Pertanian berpindah-pindah atau berladang (primitive Farming)
Kelompok ini sudah mengenal pembudidayaan tumbuhan walaupun masih
mengandalkan hujan sebagai sumber pengairan. Mereka belum mengenal
pupuk atau pemilihan benih. Lahan pertanian dipilih dari hutan-hutan asli
dekat sumber air. Tumbuhan hutan di tebang, ranting, dan daunnya dibakar.
Tanah tersebut langsung ditanami tanpa diolah lebih dahulu. Merekan
menggunakan peralatan sederhana. Penggunaan lahan relative pendek 2 atau
3 kali panen, lalu di tinggalkan untuk mencari lahan hutan baru demi
memenui kebutuhan sendiri.
c. Pertanian Intensif (intensive Farming)
Pertanian dengan cara ini masyarakatnya sudah hidup menetap
(silinder). Mereka sudah mempergunakan alat bantu hewan, mengenal
30

pemeliharaan tanaman, irigasi, usaha peningkatan kesuburan, dan pemilihan


benih.
d. Industri (manufacturing)
Usaha pengolahan bahan mentah menjadi barang setengah jadi atau
barang jadi. Industri ini bercirikan mempergunakan mesin-mesin mulai dari
sederhana sampai modern.
Alokasi tenaga kerja ada 3 jenis, yaitu:
Sukarela
Paksaan atau perbudakan
Sistem gaji/upah melalui perjanjian.
Pendistribusian hasil produksi ada 3 macam, yaitu:
Barter atau Tukar Menukar Barang
Terdapat pada masyarakat pemburu dan peramu. Seseorang yang
mempunyai singkong menukarkan barangnya dengan daging. Dalam
pertukaran ini, mereka tidak melihat nilai barang yang penting
kebutuhannya berpindah.
Dalam Antropologi ada yang disebut reciprocity, yaitu pemberian yang
menghasilkan balasan dalam bentuk barang yang berbeda atau sama
dalam waktu yang berbeda pula. Reciprocity nasih ada pada masyarakat
modern. Misalnya, Gita diundang oleh temannya Susan, ia datang dan
mengirim kado. Dengan harapan kalau gita nanti masyarakat perkawinan
atau perayaan lain, Susan akan diundang dan mengirim sesuatu pula.
Redistribusi
Barang-barang produksi dikumpulkan oleh seseorang atau sekelompok
orang berwenang, kemudian di bagikan lagi. Pada masyarakat modern,
redistribusi tampak pada sistem pajak. Uang dikumpulkan oleh badan
tertentu, kemudian disalurkan kembali kemasyarakat dalam bentuk jalan,
pembangunan sekolah dan sebagainya. Zakat dalam agama islam
termasuk juga dalam sistem redistribusi.
Sistem Pasar
Sistem pasar, yaitu proses menjual dan membeli barang di suatu tenpat
dengan mempergunkan lata tukar uang. Sistem pasar diduga mulai timbul
pada masyarakat bertani menetap.
Pertukaran jasa, timbul dari adanya keterbasan manusia untuk
memproduksi semua barang yang dibutuhkan. Sejak dikenalkan pertanian
menetap, diduga timbul spesialisasi kerja. Pada saat itu kebutuhan terhadap
alat pertanian semakin bertambah seperti pacul, bajak, golok dan sebagainya.
Padahal, tidak semua orang mampu membuatnya dan tidak semua tempat
ada bahan mentahnya. Saat itu, timbullah pertukaran jasa dan barang. Orang
yang ahli membuat pacul menjual produksinya ke petani, petani menjual
padinya ketukang pacul, begitu seterusnya sehingga timbul kerjasama antara
individu yang keahlianya berbeda-beda.
Pada saat pertanian menetap, masyarakat sudah mengenal adanya
surplusatau kelebihan produksi. di suatu tempat ada yang surplus padi,
sedangkan di lain tempat ada yang mempunyai surplus ikan, kain, kayu,
ataupun jenis barang lainnya. Perbedaan produksi dan keahlian ini
31

menimbulkan
adanya perdangangan. Walaupun dalam perdangangan
tersebut tidak secara langsung, tetapi sudah dilakukan oleh orang yang punya
keahlian dagang. Sehingga, timbullah hubungan dan ketergantungan antara
satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Sejak transportasi dan
komunikasi diperlukan, muncullah kebutuhan akan supir, bengkel, pembuat
jalan dan bermacam-macam dan saling ketergantungan. Pertukaran dan
hubungan antarmasyarakat tidak hanya dalam satu tempat tetapi
antarwilayah dan antar Negara.
3. Sistem Sosial
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat sebagai satu
kesatuan. Karena itu dalam sistem, sosial terdapat pengaturan tentang
perkawinan, tempat tinggal dan sistem kekerabatan.
Keluarga mengatur jaringan sosial antar individu berdasarkan
perkawinan (affinity) dan keturunan darah (consanguinity).
Perkawinan adalah hubungan permanen antara laki-laki dan perempuan
yang diakui sah oleh masyarakat. Mengingat setiap masyarakat mempunyai
tata cara tersendiri, maka sahnya suatu perkawinan berbeda anatara satu
masyarakat dengan masyarakat lain. Perkawinan mengesahkan hubungan
laki-laki dengan perempuan serta melegalkan kedudukan hokum atas
pengasuhan anak serta pewarisan.
Walaupun pada dasarnya perkawinan adalah 2 individu yang berbeda
jenis kelaminnya. Akan tetapi, perkawinan akan melibatkan hubungan kerabat
masing-masing pasangan. Di dalam perkawinan, terlibat emosi seperti kasih
saying, hubungan ekonomi, politik, agama dan pendidikan.
Perkawinan akan menghasilkan keluarga batih atau keluarga inti
(nuclear family) yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak mereka yang belum
menikah. Apabila dua keluarga inti mengalami penggabungan, atau keluarga
inti mengalami penggabungan, atau keluarga inti keluarga mengalami
penambahan anggota keluarga dari luar, misalnya, adik ibu, adik ayah, atau
anak yang sudah menikah tapi masih tinggal dalam satu rumah disebut
keluarga luas (extended family).
Setiap masyarakat mempunyai aturan mengenai dengan siapa anggotanya
boleh dan tidak boleh melangsungkan perkawinan. Ada dua macam aturan
perkawinan, yaitu endogamy dan eksogami.
Endogami adalah kebiasaan masyarakat yang mengharuskan
anggotanya kawin dengan orang yang berasal dari dalam kelompok
yang sama.
Eksogami adalah kebiasaan masyarakat yang mengharuskan
anggotanya kawin dengan orang yang berasal dari luar kelompoknya.
Beberapa masyarakat ada yang membolehkan anggotanya melakukan
ganda atau poligami. Poligami adalah mempunyai istri atau suami leih dari
satu. Poligami akan membentuk dua keluarga inti atau lebih bergantung
kepada banyaknya istri atau suami. Bila suami memepunyai 2 istri atau lebih
disebut Poligini, dan bila istri mempunyai dua suami atau lebih disebut
poliandri. Dalam masyarakat manapun di dunia ada disebut incest yaitu
perkawinan sumbang atau larangan kawin dengan keluarga dekat.
32

Setiap masyarakat umumnya mempunai atauran tentang tempat tinggal


pasangan yang baru menikah. Aturan tersebut adalah:
1. Endogami adalah kebiasaan masyarakat yang mengharuskan
anggotanya kawin dengan
orang yang berasal dari dalam kelompok yang sama.
2. Eksogami adalah kebiasaan masyarakat yang mengharuskan
anggotanya kawin dengan orang yang berasal dari luar kelompoknya.
Beberapa masyarakat ada yang membolehkan anggotanya melakukan
perkawinan ganda atau poligami. Poligami adalah mempunyai istri atau suami
lebih dari satu. Poligami akan membentuk dua keluarga inti atau lebih
bergantung kepada banyaknya istri atau suami. Bial suami mempunyai 2 istri
atau lebih disebut poligini, dan bila istri mempunyai dua suami disebut incest
yaitu perkawinan sumbang atau larangan kawin dengan keluarga dekat.
Setiap masyarakat umumnya mempunyai aturan tentang tempat tinggal
pasangan yang harus menikah. Aturan tersebut adalah:
a. Matrilokal: pasangan baru menetap ditempat ibu si istri atau kerabat istri
yang disebut juga dengan uxorilokal.
b. Patrilokal: pasangan baru menetap di tempat ayah si suami atau kerabat
suami.
c. Bilokal: pasangan baru secara bergantian di kerabat suami dan kerabat
istri disebut juga putri-matri local.
d. Ambilokal: pasangan baru mempunyai kebebasan untuk memilih, mau
tinggal di kerabat istri atau suami, disebut juga ut rolokal.
e. Avunkulokal: pasangan baru tinggal di tempat saudara laki-laki ibu dari
suami.
f. Natulokal: pasangan baru tinggal di tempat kelahiran masing-masing
pasnagan.
g. Neolokal: pasangan baru tinggal di tempat yang baru, tidak di kerabat
suami maupun istri.
Selain itu, di setiap masyrakat pun ada aturan tentang kekerabatan.
Kekerabatan adalah garis keturunan yang berdasarkan pertalian darah, sering
pula disebut kindred atau sanak saudara. Sistem kekerabatan ada yang
bersifat:
1. Unilinial: keturunan ditelusuri melalui satu garis keturanan saja melalui
ayah atau ibu.
Matrilineal: garis keturunan dari pihak istri atau ibu.
Contoh: suku Minangkabau
Patrilinial: garis keturunan dari pihak suami atau bapak.
Contoh: suku Batak
2. Bilinial: garis keturunan ditelusuri melalui garis ibu dan ayah secara
bersama-sama.

Contoh: suku Sunda


Sistem kekerabatan bersifat unilinial yang masih dapat ditelusuri ikatan
darahnya oleh individu (ego) disebut lineage. Sedangkan mereka yang masih
menganggap satu garis keturunan tapi sudah tidak dapat ditelusuri lagi
disebut clan (marga).
33

Contoh, marga Singarimbun dalam suku Batak masih tetap merasa atau
keturunan tapi masing-masing individu sudah tidak dapat melacak lagi karena
jumlahnya sudah sangat banyak.
Kekerabatan yang lebih luas adalah suku.
Suku menurut
Koentjaraningrat adalah suatu golongan manusia yang terikat oleh
kesamaan indentitas akan persatuan kebudayaan atau keseragamaan
kebudayaan seperti bahasa, sistem kekerabatan dan adat istiadat lainnya.
Dalam kehidupan masyarakat dikenal pula sistem politik. Sistem politik
diartikan sebagai jalan, cara dan adat alat yang bdieprgunakan untuk
mencapai tujuan tertentu.
Dalam politik terkandung pengertian wewenang individu atau kelompok
individu yang diebri kepercayaan oelh seluruh masyarakat untuk menjalankan
usaha sehingga tercipta masyarakat yang tertib, aman, tentram, adil dan
makmur.
Dengan demikian, fungsi dari pranata politik adalah sebagai berikut:
1. Mengatur, membatasi, mengenadalikan prilaku antarindividu dan kelompok.
2. Memberikan sanksi kepada orang yang tidak mematuhi aturan yang telah
disepakati bersama.
3. Menentukan dan melaksanakan keputusan-keputusan yang sudah
disepakati.
Berarti, dalam sistem politik ada seseorang atau sekelompok orang
yang dipercaya untuh memerintah da nada pula yang diperintah; ada
pengusaha dana da yang dikuasai; ada pengatur da nada yang diatur. Orang
yang menguasai disebut pemimpin, sedangkan orang yang dikuasai adalah
pengikut. Walaupun penguasa, pemerintah arau mengatur memepunyai
kewenangan untuk menguasai dan memerintah orang lain, bukan berarti dia
bisa bertindak sewenang-wenang. Akan tetapi, harus tetap berlandaskan
kepada nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Segala prilakunya harus
dipertanggungjawabkan kepada masnyarakat. Dengan demikian, dalam
pranata politik ada unsur kekeuasaan dan wewenang.
Kekuasaan dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mengendalikan
orang lain. Dalam usaha mengendalikan tersebut mengandung paksaan dan
ancaman untuk menjaga keutuhan dan kestabilan hidup bersama. Ada
beberapa alas an mengapa seseorang diangkat menjadi pemegang kekuasaan
(menjadi penguasa), yaitu karena adanya kepercayaan, rasa cinta, rasa takut,
dan adanya unsur pemujaan.
Wewenang adalah kekuasaan seseorang atau sekelompok orang yang
diakui dan di dukung oleh masyarakat. Kewenangan dapat bersifat
menyeluruh dan dapat pula terbatas. Kewenangan yang menyeluruh
umumnya terdapat pada masyarakat yang masih sederhana. Di mana seorang
pemimpin punya kewenangan mengurus segala kebutuhan masyarakatnya
sendiri.
Pada masyarakat yang teknologinya adalah kompleks, seorang
pemimpin umumnya mempunyai kekuasaan dan wewenang yang bermacammacam dan terpusat (multicentris).
34

Sedangkan pada masyarakat yang sudah kompleks karena kebutuhan


dan kepentingannya wadah beragam. Maka, seringkali dikelompokkan menjadi
beberapa bidang seduai dengan bidang kerjanya. Contoh MPR, DPR, DPA, MA
dan BPK mempunyai wewenang dan kekuasaan yang berbeda.
4. Sistem Kepercayaan
Kesadaran akan adanya keterbatasan diri manusia telah ada sejak
manusia itu ada. Keterbatasan dalam memahami kejadian alam seperti gempa
bumi, banjir gunung meletus dan sebagainya. Keterbatasan manusia
memahami peristiwa-peristiwa dalam kehidupan seperti kelahiran, kematian,
sakit dan mimpi dalam tidur. Keterbatasan memahami sifat-sifat individu
seperti pada orang yang jahat, sombong, kikir dan prilaku-prilaku lainnya yang
menyimpang dengan norma yang ada. Kesadaran inilah yang menyadarkan
diri dengan manusia akan adanya kekuatan di luar dirinya. Usaha-usaha untuk
mendekatkan diri dengan kekuatan tersebut dilakukan dengan berbagai cara,
misalnya dengan mengadakan upacara dan memberikan sesaji agar kekuatan
jahat tidak mendatangkan bencana yang merugikan. Dari adanya kesadaran
akan kekuatan supernatural itulah, lahir sistem kepercayaan. Seperti,
kepercayaam pada roh nenek moyang (animism), kepercayaan kepada
kekuatan alam (dinamisme), kepercayaan yang menggangap suci binatang
tertentu (totemisme), dan pemujaan kepada pelaksanaan upacara
(shamamisme).

Gambar 3.1 halaman 31

Agama berbeda dengan aliran kepercayaan. Agama adalah keyakinan


yang mutlak dan harus diterima oleh umatnya. Dalam ajaran agama
terkandung berbagai macam aturan tentang sesuatu yang harus di patuhi
oleh umatnya. Jadi, agama berisi pedoman-pedoman tentang apa yang harus
dan tidak boleh dilakukan agama bersifat menuntun umatnya agar mendapat
35

keselamatan didunia dan di akhirat. Agama berasal dari bahasa Sansekerta


yang artinya a:tidak, gama:kacau, jadi agama artinya tidak kacauatau
teratur. Agama yang di akui oleh pemerintah Indonesia adalah Islam, Kristen,
Hindu, dan Budha.
Agama menjadi indentitas setiap individu. Agama memberikan
dorongan spiritual bagi individu dalam berprilaku di masyarakat. Dengan
adanya ketaatan menjalankan agama akan tercipta kedisipkinan, ketekunan,
rasa kebersamaan, saling hormat menghormati, jujur dan tenang. Semua itu
sangat diperlukan dalam meningkatkan kualitas diri baik selaku individu
dengan individu, maupun individu dengan masyarakat.
5. Sistem Kesenian
Kesenian adalah sarana yang dipergunakan untuk mengekspresikan
rasa keindahan dari dalam jiwa manusia. Pada awal perkembangannya,
kesenian mempunyai kaitan erat dengan usaha mempertahankan diri dan
kepercayaan. Seperti menggambar anggota tubuh (tato) tujuannya adalah
untuk menyamrkan diri dari musuh dan binatang buruan.

Gambar 3.2 halamaan 31

Pada saat upacara, mereka biasanya menggambari anggota tubuh. Bagi


mereka hal ini merupoakan salah satu usaha unttuk mendektakan diri pada
roh-roh nenek moyang. Seni patung, seni pahat (relative pada candi), seni tari
yang berkembang di Pulau Jawa dan Bali tidak dapat dipisahkan dari agama
Budha dan Hindu. Demikian pula kesenian kaligrafi dalam agama Islam.
Semakin berkembangnya teknologi semakin bervariasi pula usaha
manusia untuk mengekspresikan rasa kehidupannya dalam bentuk berbagai
jenis kesenian. Perkembangan yang pesat pada sistem kesenian di duga pada
saat manusia mengenal pertanian menetap. Pada saat itu orang sudah
menetap dan memiliki waktu luang yang lebiih banyak di sela menunggu
padai panen.
Kesenian umumnya dapat dibedakan atas:
1. Seni rupa berupa seni patung, seni pahat, seni lukis, seni rias.
2. Seni suara termasuk seni vocal (suara), seni music, seni sastra seperti
puisi prosa, novel dan cerita lainnya.
3. Seni gerak seperti drama, pantonim, seni tari dan sebagainya.
36

Mengingat kesenian adalah


usaha untuk memenuhi
kebutuhan rohani, maka kesenian
ini dinikmati oleh perasaan.

Gambar 3.3 halaman 32

6. Sistem bahasa
Terdapat keterkaitan yang sangat erat dengan bahasa dengan
kebudayaan. Bahasa adalah salah satu alat yang sangat penting dalam
mempelajari kebudayaan dan warisan kebudayaan.
Bahasa terdiri dari symbol atau lombang untuk mengkomunikasikan ide,
gagasan, pemikiran, dan perasaan kepada orang lain. Symbol-simbol tersebut
harius dipahami oleh kedua belah pihak. Misalnya lambang huruf lima adalah
5, satu adalah 1, huruf A,B,C, dan seterusnya. Bahasa isyarat misalnyabunyi
kentongan, satu kali tanda ada bahaya, dua kali ada pertemuan, bunyi terus
menerus ada pencuri dan sebagainya. Pemaknaan lambang atau symbol
tersebut sesuai dengan kesepakatan masing-masing masyarakat.
Bahasa itu dapat dibedakan atas:
(1) Bahasa isyarat, misalnya bunyi kentongan, gerakan tangan, anggukan
atau gelengan kepala dan siyarat lainnya yang diterima berdasarkan
kesepakatan suatu masyarakat.
(2) Bahasa lisan diucapkan melalui mulut.
(3) Bahasa tulisan melalui buku gambar, surat, Koran dan sebagainya.

7. Sistem Pengetahuan
Sistem pengetahuan adalah unsur kebudayaan yang paling dasar.
Karena, kebudayaan abstrak maupun kongkret lahir dari adanya sistem
pengetahuan.
Dalam Bab I telah dijelaskan bahwa pengetahuan lahir dari adanyarasa
ingin tahu manusia terhadap sesuatu. Naluri ingin tahu ini lahir dari akal
manusia. Akal inilah yang membedakan manusia dengan makhluk hidup
lainnya.yang ditemuinya.
Makhluk akalnya, manusia senantiasa bertanya apa, mengapa, dan
bagaimana terhadap segala sesuatu yang ditemuinya, baik yang berhubungan
dengan alam maupun perbedaan manusia itu senidri. Melalui akal pula
manusia selalu mencaro jawaban-jawaban tersebut tentu saja berbeda sesuai
dengan daya nalar masing-masing. Namun, melalui jawaban itu lahirlah
sistem pengetahuan.
37

Sistem pengetahuan ada yang diperoleh dari hasil pengalaman sendiri


dan ada pula dari hasil pengalaman sendiri dan ada pula hasil belajar dari
orang lain.hasil belajar dari orang lain itu ada yang langsung bertatap muka
(face to face), dapat pula melalui perantara seperti tulisan, gambar, telivisi,
radio dan sebagainya.
Sistem pengetahuan yang dimiliki manusia umumnya dapat dibedakan atas
pengetahuan:
a. Alam yang terdiri dari:

Iklim : pengetahuan tentang pengertian musim, arah angina, tandatanda akan hujan,
musim kemarau, dan sebagainya,

Ruang
: pengetahuan tentang jarak dan arah suatu tempat
dengan tempat tinggalnya,

Waktu
: pengetahuan tentang penanggalan dan pergantian
tahun,

Hewan
: pengetahuan tentang dimana dan kapan binatang
berkumpul, biasanya
dihubungkandengan musim-musim tertentu. Binatang apa
yang enak untuk
dimakan dan tidak membahayakan, tulang-tulang binatang
apa yang cukup kuat
untuk dijadikan senjata, perkakas dan sebagainya,

Tumbuhan : pengetahuan tumbuhan apa yang dapat dimakan


tumbuhan untuk obat, pakaian
,rumah dan sebagainya,

Gejala alam lain seperti terjadinya gerhana, gunung meletus dan


sebagainya.
Seperti fungsi organ tubuh, manusia selalu berusaha memelihara
kesehatan. Mengklasifikasikan keturunan dan sistem kekerabatan. Manusia
pun mempunyai tata cara untuk memenuhi kebutuhan hidup, peralatan yang
dapat dipergunakan, dan kebutuhan hidup lainnya sebagai makhluk hidup
sosial.

RANGKUMAN - - - - -

Kebudayaan dimiliki oleh suatu masyarakat dan terdiri dari unsur-unsur


yang saling terkait. Perubahan satu unsur akan berpengaruh terhadap unsur
lainnya karena itu disebut sistem sosial budaya.
Unsur-unsur kebudayaan itu adalah teknologi, sistem ekonomi, sistem
sosial, sistem kepercayaan, sistem bahasa, sistem kesenian dan sistem
pengetahuan.
Teknologi adalah semua cara dan alat yang dipergunakan manusia
untuk memenuhi kebutuhann hidupnya. Teknologi meliputi tata cara dan alat
yang dipergunakan makanan, perlindungan, transportasi dan pengolahan.
Sistem ekonomi berhubungan dengan alokasi produski, tenaga kerja,
dan distribusi.
38

Alokasi peroduksi dapat berupa meramu dan memburu, bertani normad,


bertani menetap dan industri. Alokasi tenaga kerja dapat berupa sukarela,
paksaan atau perbudakan dan sistem gaji atau perjanjian, distribusi barang
dapat berupa barter atau reciprocity redistribusi dan sistem pasar.
Sistem sosial berhubungan dengan pengaturan perkawinan, tempat
tinggal dan kekerabatan. Aturan perkawinan ada dua macam yaitu eksogami
dan endogamy. Aturan tempat tinggal setelah perkawinan ada yang bersifat
matrilokal, patrilokal, bilokal, ambilokal, avumlokal, natalokal dan neolokal.
Sistem kekerabatan ada yang bersifat unilinial dan bilinial.
Sistem kepercayaan timbul dari adanya keterbatasan manusia dalam
memahami kejadian alam dan kehidupan manusia. Kesadaran ini
menyadarkan manusia akan adanya kekuatan dari luar dirinya atau
supernatural. Ada kepercayaan terhadap roh nenek moyang atau animisme,
kepercayaan kepada kekuatan alam atau dinamisme, kepercayaan kepada
binatang tertentu atau totemisme dan pemujaan terhadap pelaksana upacara
atau shamanisme.
Agama beda dengan kepercayaan. Agama mengandung aturan-aturan
tentang sesuatu yang harus dipatuhi oleh umatnya, dan keyakinan itu mutlak
harus diterima.
Sistem
kesenian
adalah
sarana
yang
dipergunakan
untuk
mengekspresikan diri akan keindahan. Kesenian pada masyarakat mempunyai
ketertaitan erat dengan usaha mempertahankan diri, kepercayaan dan
agama.
Bahasa adalah alat yang sangat penting untuk pembelajaran dan
peristiwa kebudayaan. Bahasa mengandung symbol-simbol atau lambanglambang untuk mengkomunikasikan gagasan, ide, pemikiran atau perasaan.
Bahasa dapat berupabahasa isyarat, lisan dan tulisan.
Sistem pengetahuan adalah sumber dari adanya kebudayaan baik yang
bersifat abstrak maupun kongkret. Sistem pengetahuan lahir dari adanya
naluri ingin tahu manusia tentang sesuatu. Pertanyaan apa, mengapa, dan
bagaimana ada selalu dalam pikiran manusia kalau menemukan sesuatu. Dari
pertanyaan itu lahir sistem pengetahuan sesuai dengan daya nalarnya. Sistem
pengetahuan manusia dapat berupa pengetahuan tentang alam dan
kehidupan manusia itu sendiri.

SOAL SOAL LATIHAN


A.
1.
2.
3.

Jawablah pertanyaan di bawah ini!


Jelaskan pengertian sistem?
Jelaskan maksud kebudayaan merupakan sistem dan berikan contoh!
Apa yang dimaksud dengan sistem sosial budaya dan jelaskan bagaiamana
kaitanya?
4. Bagaimanakah pendapat Lewis Morgan tentang perubahan teknologi
manusia?
39

5. Apa bedanya barter dengan reciprocity?


6. Jelaskan tentang berbagai atauran tempat tinggal bagi pasangan yang
baru menikah?
7. Gambarkan sistem kekerabatan patririnial dan matrinial sebanyak empat
generasi?
8. Mengapa timbul sistem kepercayaan pada manusia?
9. Apa fungsi kesenian terhadap masyarakat yang teknologinya masih
positif ?
10.Mengapa semua unsur kebudayaan lahir dari adanya sistem pengetahuan?
B. Pililah salah satu jawaban yang paling benar!
1. Manusia adalah makhluk sosial, artinya manusia selalu membutuhkan
a. teman
b. masyarakat
b. kebudayaan
c. sistem sosial
e. makanan
2. Di bawah ini termasuk teknologi, kecuali
a. cara memperoleh makanan c. transportasi
b. perlindungan
d. reproduksi
pengolahan

e.

3. Zaman beradab (berbarisan) dimulai sejak manusia mengenal


a. Tembikar
c. huruf
b. Pertanian
d. busur dan panah
e. api
4. Sistem produksi dapat berupa
a. Berantai
c. meramu
b. Berburu
d. industry

e. distribusi

5. Pemberian barang kepada orang lain dengan mengharapkan balasan,


dalam bentuk barang dan waktu yang mungkin berbeda, disebut
a. Barter
c. reciprocity
b. Distribusi
d. pasar
e. pajak
6. Keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan disebut
a. Afinity
c. extended family
b. Consanguinity
d. poligami
e. eksogami
7. Bila suami mempunyai dua istri atau lebih disebut
a. monogamy
c. duogami
b.eksogami
d. poligami
e. poligini
8. Suku Batak menganut sistem kekerabatan ...
a. matrilineal
c. neolinial
b. unilinial
d. patrilineal

e. ambilinial

9. Kepercayaan terhadap binatang tertentu yang dianggap suci disebut


a. animism
c. totemisme
b. dinamisme
d. shamanisme
e.
monoteisme
10. Sistem kepercayaan timbul dari adanya keterbatasan manusia untuk
memahami
40

a. kejadian alam
b. kebudayaan

c. keturunan
d. perkawinan

e. agama

11. Agama berbeda dengan kepercayaan, agama mengandung berbagai ..


a. upacara
c. dorongan spiritual
b. aturan yang harus dipatuhi d. kebersamaan
e. pandangan hidup
12. Mereka yang masih rnenganggap satu keturunan, tapi sudah tidak dapat
dilacak lagi karena
terlalu jauh disebut
a. ego
c. lineage
b. marga
d. bilinial
e. unilinial
13. Pasangan yang baru menikah harus menetap di lingkungan istrinya,
disebut ..
a. bilokal
c. matrilokal
b. ambilokal
d: patrilokal
e. avurikulokal
14. Sistem pengetahuan lahir dari naluri manusia untuk
a. menjelajahi daerah lainc. bergaul
b. ingin tahu
d. memiliki barang e. mempunyai teknologi
15. Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak yang belum menikah disebut
a. keluarga inti
c. keluarga kecil
b. keluarga luas
d. keluarga besar e. keluarga tunggal

41

BA
B
IV

SIFAT SIFAT BUDAYA

Pada Bab II telah dijelaskan bahwa kebudayaan adalah segala cara dan
alat
yang lahir dari akal manusia untuk memenuhi
kebutuhan hidup. Kebuday aan diciptakan oleh manusia melalui rasa
(perasaan), karsa (kemauan) dan karya (hasil). Karena itu, kebudayaan dapat
berbentuk abstrak yang berupa ide dan kongkret berupa perilaku, bahasa, dan
kebendaan (artefak). Kebudayaan diturunkan dan generasi ke generasi
berikutnya secara ongenetis yaitu tidak diturunkan secara gen (hubungan
darah), tapi harus melalui proses belajar. Kebudayaan pun bersifat dinamis
sebagai akibat dan akal manusia yang senantiasa berkembang.
Di bawah ini akan dibahas tentang sifat - sifat budaya yang meliputi:
1. Kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat.
2. Kebudayaan yang cenderung bertahan dan berubah,
3. Kebudayaan membantu manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup
sebagai hasil adaptasi dan upaya manusia dalam memanfaatkan
lingkungan,
4. Kebudayaan yang diperoleh melalui proses belajar.
4.1 KEBUDAYMN YANG DIKILIKI OLEH MASYARAKAT
Antara kebudayaan dan masyarakat tidak dapat dipisahkan.
Kebudayaan dihasilkan oleh akal pikiran manusia. Kebudayaan membantu
manusia dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya baik kebutuhan
ekonomi, sosial, maupun psikologis yang sangat bergantung kepada
kebudayaan. Mayarakat adalah wadah atau tempat kebudayaan itu ada dan
berkembang, sedangkan kebudayaan adalah isi dari setiap sudut kehidupan
manusia dalam bermasyarakat.
Jadi manusia + kebudayaan = masyarakat
Tidak ada manusia yang dapat bertahan hidup tanpa kebudayaan dan
tidak akan ada kebudayaan tanpa dukungan masyarakat. Antara manusia,
kebudayaan, dan masyarakat adalah tiga sudut yang tidak terpisahkan.

42

Gambar 4.1 Hubungan antara kebudayaan, masyarakat, dan manusia yang


merupakan satu kesatuan

Kebudayaan yang berkembang di masyarakat, berbeda antara satu


kelompok
dengan kelompok lain. Kelompok yang harus mendukung
kebudayaan itu tidak ada batasnya, tetapi minimal harus 2 orang dapat
disebabkan oleh adanya perbedaan.
a. Lingkungan alam
Lingkungan alam seperti iklim, kesuburan lahan, keberadaan air, bentuk
laha, keadaan hewan dan tumbuhan. Orang yang hidup di daerah dingin hidup
dari hasil buruan binatang saja. Orang yang berdiam di daerah sedang dan
tropis dapat membudidayakan tanaman. Akan tetapi jenis tanaman yang di
budidayakan di kedua tempat tersebut berbeda. Karena, setiap tumbuhan
mempunyai persyaratan tertentu untuk tumbuh dan berkembang dengan
baik.
b. Kebiasaan
Manusia cenderung untuk mempertahankan kelangsurgan hidupnya
berdasarkan pengalaman yang sifatnya turuntemurun. Karena kondisi alam,
kemampuan dan pengalaman manusia berbeda-beda, maka dalam
kebudayaan pun jadi beragam.
c. Keterbukaan suatu tempat
Daerah yang terisolasi (tertutup) cenderung mempunyai kebudayaan
yang khas dan berbeda dengan daerah sekitarnya. Daerah yang sulit
dijangkau karena daerahnya dipagari oleh gunung yang tinggi, lembah yang
curam, sungai yang dalam, atau tidak memiliki sarana penghubung dengan
daerah lain, perbedaan kebudayaan antarkelompoknya cenderung tinggi.
Seperti di Irian, kebudayaan antar keompok sangat beragam karena
medannya yang sulit dijangkau dan tidak mendukung untuk terjadinya
komunikasi antarsuku. Sebaliknya, di daerah yang terbuka, sarana komunikasi
dan transportasi mudah sehingga kebudayaan masyarakat sekitarnya
mempunyai banyak persamaan.

4.2 KEBUDAYAAN CENDERUNG BERTAHAN DAN BERUBAH DENGAN


MASYARAKAT YANG
BERSANGKUTAN
Fungsi utama kehudayaan adalah untuk menunjang kelangsungan hidup
manusia. Apabila kebudayaan tersebut sudah dapat memenuhi kebutuhan
secara optimal, maka kebudayaan itu cenderung dipertahankan sesuai
43

dengan fungsi kebuayaan sebagai pedoman hidup. Pentingnya kebudayaan


dapat kita lihat dan pendapat Banislaw Molinowski seorang pakar Antropologi.
Ia menyatakan bahwa segala sesuatu yang terdapat di dalam masyarakat.
ditentukan oleh adanya kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat yang
bersangkutan. Teori ini dikenal dengan nama Cultural Determinism. Hanya
saja apakah kebutuhan manusia itu tetap sepanjang zaman, baik dilihat dari
jenisnya, jumlahnya maupun kualitasnya? Tentu tidak bukan, karena
mempunyai alasan- alasan sebagai berikut :
-

Kebutuhan manusia selalu bertambah karena inemang jumlah (kuantitas)


manusia pun terus bertambah,
Kemampuan akal manusia untuk menghasilkan ide, gagasan, dan karya
senantiasa berkembang.
Kepuasan manusia tidak pernah ada batasnya.

Karena alasan tersebut, maka kebudayaan pun senantiasa mengalami


perubahan. Hanya ada perubahan kebudayaan yang lambat, ada yang cepat,
ada yang besar pengaruhnya, ada yang kecil, ada perubabahan yang
dikehendaki, adapula perubahan yang tidak dikehendaki.
Kebudayaan yang bersifat abstrak atau mental, seperti keparcayaan,
pandangan hidup, ideologi, sikap dan adat istiadat umumnya berubah secara
lambat dan bertahap bila dibandingkan dengan kebudayaan. Sedangkan
kebudayaan kebendaan seperti model pakaian, bentuk rumah, perkakas
rumah tangga, sarana transportasi, dan alat produksi dan sebagainya,
cenderung cepat berubah. Perubahan kebudayan kebendaan ini, lambat laun
akan mempengaruhi kebudayaan yang bersifat abstrak. Bila kebudayaan
abstrak telah berubah, dampak perubahan pada setiap aspek kehidupan akan
besar. Perubahan yang dikehendaki, umumnya sudah direncanakan oleh
seseorang atau lembaga yang berwenang. Strategi, tahapan, dan tujuannya
nun sudah ditentukan dan awal misalnya merubah pandangan masyarakat
tentang banyak anak banyak rezeki melalui program KB. Perubahan yang
tidak dikehendaki adalah akibat negatif yang timbul di luar kontrol
masyarakat, seperti dampak kenakalan remaja akibat intensifnya film barat
atau akibat banyaknya kaum wanita yang bekerja diluar rumah.
Perubahan salah satu unsur kebudayaan, akan diikuti oleh perubahan
unsur lainnya. Karena, setiap unsur dalam budaya bersifat interdependensi
(saling ketergantungan).
Contoh, listrik masuk desa, akan membawa perubahan besar terhadap
kehidupan petani. Pertama-tama dirasakan adalah kebutuhan akan kebendaan
seperti radio, TV, alat-alat produksi, tuntutan untuk dapat membaca atau
memahami bahasa Indonesia. Biasanya pukul 19.00 mereka sudah tidur,
tetapi dengan adanya listrik, mereka masih dapat bekerja di rumah. Sarana
komunikasi ini, akan menimbulkan pengaruh-pengaruh yang dikehendaki
seperti memperluas wawasan, pengetahuan, dan peningkatan produksi. Selain
itu, ada pula pengaruh yang tidak dikehendaki di antaranya bahasa-bahasa
kasar, brutalisme, kejahatan, kenakalan remaja, pemborosan dan contohcontoh kurang baik yang seringkali disiarkan di TV atau radio.
44

Penemuan. Cara bercocok tanam dan pengembalaan ternak, telah


membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Sejak saat itu, mereka
hidup menetap (sidenter) rumah dibangun lebih kokoh dan permanen,
perkakas rumah tangga menjadi semakin banyak. Karena keadaan lahan dan
keahlian bertani berbeda, timbul perbedaan produksi, terjadi pelapisan sosial
menurut kekayaan, yang kaya menjadi dihormati, yang miskin dianggap lebih
rendah. Keahlian semakin beragam, ada pambuat perkakas pertanian, ada
petani, pedagang, dan sebagainya. Kontrol sosial semakin dibutuhkan untuk
menghindari serangan dan penyimpangan. Mereka yang mempunyai waktu
luang lebih banyak saat menunggu panen, mengembangkan keahlian lain
seperti membuat tembikar dan kesenian. Sejak saat itulah timbul istilah
perkotaan dan kehidupan yang lebih kompleks lainnya.

4.3 KEBUDAYAAN
MANUSIA.

BERFUNGSI

MEMENUHI

KEBUTUHAN

HIDUP

Pada dasarnya, manusia mempunyai 3 macam kebutuhan yaitu:


1. Kebutuhan biologis berupa makanan, minuman, perlindungan, dan sexual.
2. Kebutuhan sosial, yaitu berkomunikasi dengan individu lain dan
bermasyarakat.
3. Kebutuhan psikologois berupa rasa aman, dihargai, dihormati, dilindungi,
kepuas
Kebudayaan berfungsi memenuhi kebutuhan hidup manusia yang meliputi:
Kebudayaan material yang bersifat jasmaniah, meliputi ciptaan manusia
dan alat-alat perlengkapan.
Kebudayaan nonmaterial bersifat rohaniah meliputi segala sesuatu
yang tidak dapat diraba, misalnya kepercayaan (religi), ilmu pengetahuan,
bahasa, dan lain-lain.
1. Kebudayaan Berfungsi Memenuhi Kebutuhan Biologis
Untuk memenuhi kebutuhan makan, minum, dan perlindungan,
manusia memanfaatkan alam. Hanya bagaimana alam dimanfaatkan,
ditentukan oleh budaya. Ada penduduk yang hidup dan hasil meramu
(gathering), pemburu (hunting), bertani (farming), atau industri (industry),
dagang, guru, dokter, karyawan dan sebagainya, adalah lapangan pekerjaan
yang lahir dan kebutuhan dan tuntutan manusia yang semakin beragam.
Perlindungan, pada dasarnya untuk memenuhi kebutuhan manusia
akan rasa aman, baik dari cuaca maupun gangguan binatang.
Keanekaragaman bahan yang dipergunakan bergantung pada alam. Ada yang
terbuat dan kayu, bambu, kulit, lumpur, bata dan as. Mode pakaian, bentuk
rumah, dan perlengkapan senjata ditentukan oleh budaya. Di daenah arid
(iklim kening), rumah-rumah banyak yang dibuat dan kulit, pakaian panjang,
dan seringkali memakai pelindung muka. Karena, udara panas, angin bertiup
kencang dan banyak mengandung pasir. Di daerah tropis, rumah - rumah
penduduk dibuat dari berbagai bahan kayu atau bambo, karena alamnya
memang banyak menyediakan tumbuhan. Model atapnya berbentuk kerucut
45

atau segitiga karena banyak hujan dan memudahkan air jatuh dengan cepat.
Lantainya pun bertonggak atau berkolong tinggi karena karena banyak
terdapat binatang buas. Didaerah iklim sedang, atap rumah dibuat rata atau
rata saja, sedangkan didaerah eskimio, rumh dibuat bulat atau setengah
lingkaran, agar sirkulasi udara tetap. Bahan rumah pun dibuat dari balok
balok es.
Keanekaragaman makanan dan minuman, serta usaha
untuk
memperoleh rasa aman ini akan akan lebih mudah diperoleh kalau manusia
hidup berkelompok.

4.4 . KEBUDAYAAN DIPEROLEH MELALUI BELAJAR


Manusia adalah mahluk yang paling pintar. Namun untuk mewujudkan
potensi manusia harus berinteraksi dan belajar dan manusia lain. Manusia
yang dibesarkan di lingkungan binatang, perilakunya akan seperti binatang
yang mengasuhnya. Seperti mencakar, mengambil makanan langsung dengan
mulut, tidak bisa berbicara, tidak bisa berkarya dan sebagainya. Ia tidak akan
pernah tahu cara mengolah makanan atau memilih makanan yang sehat bagi
tubuhnya. Memilih makanan hanya mengandalkan insting atau nalurinya saja.
Bagi dirinya, makan hanya sekedar mengisi perut lapar. Kepintaran manusia
yang lainnya pun tidak akan berkembang.
Bagaimana cara rnemilih makanan yang baik, mengolah makanan, cara
mmakannya, mernbuat rumah, cara mencangkul dan pengetahuan ainnya
yang berguna untuk kelangsungan hidup. harus diperoleh dan belajar.
Kemampuan belajar adalah kemampuan khas dan nanusia. Dalam proses
belajar itu, ia memenlukan orang lain yang lebib tahu atau lebih dewasa.
Seperti, orang tua, kakak dalam lingkungan keuarga, guru di lingkungan
sekolah atau orang lain yang lebih dulu tahu dalam kehidupan masyarakat
adalah pewaris kebudayaan.
Belajar merupakan usaha untuk meningkatkan pengetahuan,
mengembangkan kemampuan mental, dan meningkatkan keterampilan.
Dalam proses belajar, selalu mengarah kepada perubahan.

pengetahuan (knowledge)
sikap (afektif)
prilaku (behavior)
keterampilan (psikomotor)

RANGKUMAN - - - - -

Perubahan hasil proses belajar selalu menuju ke arah yang lebih baik
dari sebelumnya. Karena, belajar adalah suatu proses yang sengaja dan
disadari sebgai suatu kebutuhan. Pengetahuan, sikap, dan keterampilan itu
dapat digunakan untuk menyesuaikan din dalam kehidupan sehari-hari guna
mempertahankan hidup dan menjadi substansi kebudayaan.
Antara kebudayaan dan tidak dapat dipisahkan karena dihasilkan oleh
akal pikiran manusia. Setiap masyarakat membutuhkan kebudayaan, tapi
kebudayaan antara satu masyarakat dengan masyarakat lain berbeda.
Perbedaan ini dapat disebabkan oleh lingkungan alam, kebiasaan, dan
hambatan geografis.
46

Fungsi utama kebudayaan adalah untuk maka kebutuhan manusia


selalu meningkat. Selain itu, kepuasan manusia dalam memenuhi kebutuhan
pun tidak pernah ada batasnya. Maka kebudayaan pun senantiasa berubah.
Kebudayaan yang berifat abstrak cenderung berubah secara lambat,
sedangkan kebudayaan kebendaan lebih cepat. Perubahan salah satu unsur
kebudayaan akan berpengaruh terhadap unsur lainnya.
Kebutuhan manusia dapat dikelompokkan atas kebutuhan biologis,
sosial, dan psikologis. Semua kebutuhan itu baru berkembang bila belajar.
Dalam proses belajar manusia membutuhkan orang lain dan dalam proses
interaksi diperlukan budaya. Dalam proses belajar terjadi peningkatan
pengetahuan, sikap mental, dan keterampilan-keterampilan membuat benda.
Pengetahuan, sikap, keterampilan adalah substansi dan kebudayaan.

SOAL SOAL LATIHAN


A.
1.
2.
3.
4.

Jawablah pertanyaan di bawah ini !


Bagaimana manusia dapat menghasilkan kebudayaan?
Mengapa kebudayaan antarmasyarakat berbeda?
Bagaimana cirri-ciri kebudayaan?
Jelaskan unsure kebudayaan apa yang dapat berubah dengan cepat dan
lambat? Mengapa?
5. Jelaskan ada berapa macamkah kebutuhan manusia itu?
6. Jelaskan bagaimana pengaruh alam terhadap kehidupan manusia?
7. Mengapa kebudayaan diperoleh harus melalui belajar?
8. Berikan contoh kebudayaan yang dikehendaki dan yang tidak dikehendaki,
disertai unsur pengubahnya?
9. Apa yang menjadi karakteristik belajar?
10.Bagaimana akibatnya kalau manusia tidak mau belajar dari manusia lain,
sanggupkah bertahan hidup, jelaskan?
11.
B. Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar!
1. Kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat, sebab
kebudayaan
a. dihasilkan oleh akal pikiran manusia
d. dipelajari oleh manusia
b. dibutuhkan oleh manusia
e. diwariskan oleh
manusia
c. dikembangkan oleh manusia
2. perbedaan sosial yang berpengaruh terhadap perbedaan kebudayaan
adalah di bawah ini, kecuali
a. pengalaman
c.kecerdasan
b. kebiasaan
d. keterbukaan geografis
e. adat istiadat
3. Faktor alam yang paling dominant mempengaruhi kebudayaan adalah
a. iklim
c.fauna
b. flora
d. tata air
e. kesuburan tanah
4. Persamaan unsure kebudayaan dapat disebabkan oleh .
a. hidup dalam planet yang sama
c. keterbukaan
b. kebutuhan
d. kondisi geografis
transportasi
47

e.

5. Dibawah ini adalah


kecuali.
a. jumlah penduduk
b. kebutuhan
pernah puas

penyebab

kebudayaan

mengalami

c. kebudayaan bekembang
d. kualitas manusia
e.

perubahan,

manusia

tidak

6. contoh kebudayaan yang cenderung lambat berubah..


a. ideology
c. gaya hidup
b. model rumah
d. model pakaian
e. perkakas
7. Perubahan salah satu unsur kebudayaan akan berpengaruh pada unsur
lainnya, karena kebudayaan merupakan
a. quniversal
c. dinamis
b. superorganik
d. abstrak
e. sistem
8. Makanan dan perlindungan termasuk kebutuhan.
a.Psikologis
c.budaya
b.Sosial
d.biologi
e.kongkret
9. dibawah ini termasuk kebutuhan psikologis, kecuali.
a. dihargai
c. kepuasan
b. dihormati
d. keindahan
e. berkomunikasi
10. Jenis makanan dan perlindungan yang digunakan sangat tergantung
pada
a. alam
c. kebudayaan
b. kebiasaan
d. adat istiadat
e. flora dan fauna
12.Salah satu cermin bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa orang lain,
adalah adanya
a. kebudayaan
c. komunikasi
b. mata pencaharian
d. perumahan
e. perkawinan
13.Manusia ditambah kebudayaan adalah
a. individu
c. masyarakat
b. bangsa
d. kehidupan

e. peradapan

14.dalam proses belajar kebudayaan selalu terlibat factor dibawah ini,


kecuali
a. kecerdasan
c. keterampilan
b. perilaku
d. pengetahuan
e. masyarakat
15.Dibawah ini terdapat karakteristik belajar, kecuali
a. sengaja
c. perubahan positif
b. disadari
d. membosankan e.
pengetahuan
16.Kebudayaan kongkret cenderung bersifat
a. harmonis
c. dinamis
b. statis
d. konstan
e. beragam

BA
B
V

ETNOGRAFI INDONESIA
48

peningkatan

5.1 PENGERTIAN ETNOGRAFI


Etnografi berasal dan kata ethnos artinya bangsa, dan grafein artinya
gambaran atau deskripsi. Etnografi berarti gambaran atau uraian tentang
kebudayaan suatu suku bangsa di suatu tempat. Etnografi merupakan kajian
yang sangat panting dalam Antropolgi. Melalui Etnografi para ntropolog
dapat mengetahui kehidupan suatu masyarakat secara lebih mendalam.
Bab ini akan membahas kebudayaan beberapa suku yang hidup ini Indonesia,
yaitu:
1.
Kebudayaan Batak di Sumatra Utara,
2.
Kebudayaan Minangkabau di Sumatra Barat,
3.
Kebudayaan Sunda di Jawa Barat,
4.
Kebudayaan Jawa di Jawa Tengah dan Timur,
5.
Kebudayaan Bali di Pulau Bali,
6.
Kebudayaan Sawu di Nusa Tenggara,
7.
Kebudayaan Dayak di Kalimantan,
8.
Kebudayaan Bugis dan Makasar di Sulawesi,
9.
Kebudayaan Halmahera di Maluku,
10.
Kebudayaan Dani di Pegunungan Jaya Wijaya Irian,
11.
Kebudayaan Asniat di pantai selatan Irian.
Aspek yang akan diuraikan sacara rinci dalam kebudayaan suku bangsa
tersebut adalah:
1.
sistem kepercayaan atau religi,
2.
sistem kekerabatan,
3.
sistem ekonomi,
4.
sistern kesenian.
5.2 KEBUDAYAAN BATAK
1. Keadaan Geografis
Suku Batak umumnya berdiam di Propinsi Sumatra Utara, khususnya di
Kabupaten Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Simalungun,
Karo, Dairi dan Kabupaten Asahan. Luas Sumatra Utara itu sendiri mencapai
71.680 km. Wiiayahnya berbatasan dengan:

Propinsi Aceh di sebelah utara,

Selat Malaka di sebelah timur,

Propinsi Riau dan Sumatra Barat di sebelah selatan, serta

Samudera Hindia di sebelah barat.


Pegunungan Bukit Barisan memanjang dan utara ke selatan membentuk
dataran pantai yang sempit di sebelah barat. Semakin ke timur wilayahnya
berbukit - bukit dan akhirnya menjadi daratan pantai yang luas di bagian
timurnya. Danau Toba terletak di bagian tengah pada ketinggian 900 m di atas
permukaan laut. Panjang Danau Toba rnencapai 100 km, lebar 13 kni, dengan
kedalaman 500 m. Di tengah Danau Toba terletak Pulau Samosir.

49

Jumlah penduduk Sumatra Utara pada tahun 1990 mencapai 10,2juta


orang dengan pertumbuhan penduduk 2,08 persen, dan kepadatanya
mencapai 145 orang/km2.
Suku Batak dibagi atas sub-sub suku yaitu:
Batak Karo meliputi dataran Tinggi Karo, Langkat Hulu, Deli Hulu dan
sebagian Dairi;
Batak Simalungun meliputi daerah Simalungun;
Batak Toba meliputi Danau Toba termasuk Pulau Samosir, Daratan Tinggi
Toba ; Asahan, Silindung, Daerah Pahae, Habinsaran, dan daerah anatara
Barus dan Sibolga.
Batak Pakpak meliputi daerah Dairi;
Batak Angkola, meliputi daerah Angkola, Sipirok, dan sebagian Siboga.
Batak Toru dan Padang Lawas.
Batak Mandailing, meliputi Mandailing, Ulu, Pakatan, dan bagian Selatan
Padang Lawas.

Bahasa yang dipergunakan adalah bahasa Batak dengan beberapa


logat seperti logat Karo oleh Batak Karo, logat Pakpak oleh orang Pakpak,
logat Toba oleh orang Toba, Angkola, dan Mandailing, logat Simalungun oleh
orang Simalungun. Logat bahasa tersebut banyak persamaannya kecuali
Batak Karo dan Toba.
2. Sistem Kepercayaan
Sistem kepercayaan tradisional suku Batak adalah animisme. Dalam
hubungannya dengan jiwa dan roh, suku Batak mengenal beberapa konsep
yaitu:
1. Tondi, yaitu jiwa atau roh yang ada pada setiap orang hidup .Tondi
diperoleh sejak manusia dalam kandungan.
2. Sahala atau Sumangat dalam bahasa Karo, yaitu kualitas kekuatan yang
ada dalam jiwa atau roh tersebut. Sahala dapat menentukan kedudukan
seseorang dalam masyarakat.
3. Begu adalah rohnya atau tondinya orang yang sudah meninggal.
Dalam masyarakat Batak dikenal beberapa macam begu, yaitu:
a. Batara guru atau begu perkakun jabu, yaitu begu bayi yang meninggal
masih dalam kadungan.
50

b. Bicara guru, yaitu begu anak yang meninggal sebelurn tumbuh gigi, begu
ini akan menjaga kerabat ayahnya.
c. Mate Kayat-Kayaten, yaitu begu yang mati muda.
d. Mate Sada Wari, yaitu begu yang meninggal secara tidak wajar, seperti
bunuh diri.
Begu tersebut melakukan kegiatan seperti manusia hanya kalau
kegiatan begu pada malam hari, sedangkan manusia hidup di siang hari.
Begu-begu tersebut sering dipuja dan diberi sajian (pelean).
Begu yang paling dihormati oleh orang Batak adalah begu sumangot ni
ompu (begu nenek moyang). Selain itu, ada begu lain yang disegani yaitu:
Sombaon: begu yang bertempat tinggal di pegunungan atau hutan rimba
yang gelap,
Solohean: begu yang menguasai tempat tertentu dar To0ba,
Silan: begu yang menempati pohon besar atau batu yang aneh,
Ganjang: begu yang dapat dipelihara dan dapat mencelakakan orang yang
dibenci oleh pemeliharanya. Begu ini sangat ditakuti oleh masyarakat.
Orang Batak percaya akan adanya perkampungan begu. Orang yang mati,
setelah 4 hari begunya akan masuk ke perkampungan begu. Oleh karena itu,
setelah 4 hari meninggal sering diadakan ziarah pertama ke kuburan sebagai
simbol perpisahan dengan begu. Selain begu jahat, mereka pun percaya akan
adanya begu baik yang suka membantu manusia. Mereka berdiam di gua-gua
dan tebing sungai yang curam.
Berbicara mengenai konsepsi alam, orang Batak meyakini bahwa benua ini
merupakan tritunggal antara benua atas (benua ginjang), benua tengah
(benua tonga), dan benua bawah (benua toru). Benua atas dihuni oleh sang
pencipta yang disebut Mula Jadi Na Bolon atau disebut juga Ompu Raja MulaMula. Ompu Raja Mula-Mula ialah yang menguasai dan mengatur kehidupan
manusia dan alam. Sebagai penguasa dunia bagian atas, ia disebut Tuan Bubi
Na Bolon atau Mangala Bulan atau Debata Asiasi. Sebagai penguasa benua
tengah Mula Jadi Na Bolon menjelma menjadi Silaon Na Bolon atau Raja
Pinangkabo. Sebagai penguasa benua bawah, ia disebut Pane Na Bolon.
Benua tengah adalah alam fana, yaitu alam yang dihuni oleh manusia. Benua
bawah adalah tempat roh-roh.
Adanya pengaruh agama dan luar khususnya Hindu, Buddha, Islam, dan
Kristen menyebabkan banyak suku Batak yang menganut agama tersebut.
Omang Batak yang berdiam di pinggir pantai dan berbatasan dengan Sumatra
Barat banyak yang menganut agama Islam, sedangkan yang berdiam di
daerah utara atau pegunungan banyak yang beragama Kristen.
3. Sistem Kekerabatan
Orang Batak percaya bahwa mereka satu keturunan yaitu keturunan Si
Raja Batak. Si Raja Batak mempunyai dua orang anak yaitu Guru Taeabulan
dan Raja Isumbaon. Guru Tateabulan mempunyai 5 orang anak, sedangkan
Raja Isumbaon mempunyai 3 orang anak.

51

Dari cicit Si Raja Batak inilah muncul marga-marga Batak, seperti Saniburaja
yang mempunyai anak Raja Lontung dan Raja Borbor. Rain Lontung
mempunyai anak Situmorang, Sinaga, Pandiangan, NainggoIan, Simatupang,
Siregar, dan Aritonang. Raja Borbor mempunyai anak Pasaribu, Harahap,
Lubis, Parapat, Matondang, Sipahutar, Rambe, Batubara, Tarihoran, Saruksuk,
dan Habeahan. Di Dairi, Sima lungun, dan Karo terdapat puluhan marga.
Karena adanya keyakinan satu turunan tersebut, maka perkawinan
orang Batak harus eksogami, yaitu tidak boleh semarga. Ganis
keturunan/kekerabatan patrilineal dapat memberikan arah dengan siapa ini
boleh kawin dan tidak boleh kawin.

Marga ayah dipakai pada setiap nama anak, seperti Samsul Pulungan,
Rinto Harahap, Rita Butarbutar, dan sebagainya.
Perkawinan ideal adalah seorang lakilaki dengan anak perempuan
saudara laki - laki ibu, Perkawinan ini disebut kawin pariban. (Toba) atau
rimpal (Karo). Perkawinan tidak hanya mengikat secara resmi antara laki-laki
dan perempuan, tetapi juga mengikat kaum kerabat laki-Iaki (paranak dalam
bahasa Toba atau sipempokan dalam bahasa Karo) dengan kerabat kaun
perempuan (sinereh dalam bahasa Karo, parboro dalam bahasa Toba).
Orang Batak menganut perkawinan tunggal (monogami). Tidak
mempunyai anak seringkali dijadikan alasan untuk poligini. Acara perkawinan
biasanya didahului acara :
52

Martandang : bertemunya muda-mudi dalam suatu acara;


tanda hata: memberikan tanda mata kalau keduanya saling akrab dan
setuju untuk meneruskan hubungan secara lebih serius;

nungkani (Karo) atau marhusip: kunjungan lamaran;

ngembah manuk (Karo) atau marhata sinamot (Toba) acara


perundingan untuk rnenentukan maskawin, hari perkawinan, dan sejumlah
hadiah yang harus diberikan kepada pihak perempuan (saudara laki-laki
dan perempuan ayah dan ibu, dan saudara laki-laki calon pengantin)
sebagai tanda pembelian karena ia akan pindah marga.

marunjuk (Karo) atau manguhuti (Toba): acara perkawinan, berupa


pemberian maskawin dan sejumlah harta yang telah ditentukan kepada
pihak perempuan. Selanjutnya, pihak perempuan menyerahkan kain ulos
kepada pihak laki laki.
Selain perkawinan tersebut, dalam suku Batak dikenal adanya kawin lari
(mangalua). Hal ini terjadi bila salah satu pihak tidak ada kesesuaian tentang
mas kawin atau harta yang harus dibagikan.
Sehari sebelum perkawinan, biasanya kaum keraba laki-laki mengirim
utusan untuk memberi tahu bahwa anak perempuannya akan kawin. Setelah
beberapa hari perkawinan, diadakan upacara manuruk nuruk atau minta maaf
ke pihak istri. Kemudian diadakan pesta perkawinan.
Keluarga yang memberi gadis disebut hula-hula, keluarga penerima
gadis disebut boru. Pasangan yang baru menikah harus tinggal di kerabat
suami (virilokal). Pasangan batih atau keluarga batih itu disebut jabu (Karo)
atau ripe (Toba).
Dalam adat Batak seorang istri yang ditinggal mati oleh suaminya tidak
dapat begitusaja kawin lagi dengan lain marga. Ia harus kawin secara levirat,
yaitu kawin dengan saudara laki-laki dari suami, atau mangabia, kawin
dengan kaum kerabat dari suami. Kalau istrinya ingin cerai secara adat, ia
harus mengajukan cerai ke pihak suami, dan yang berhak menceraikan itu
adalah anak kandung laki-laki, cucu laki - laki, dan kerabat laki-laki dan pihak
suami. Kalau istrinya yang meninggal, suami dapat kawin secara solorat yaitu
kawin dengan saudara perempuan istri.

4. Sistem Ekonomi
Suku Batak umumnya hidup dari hasil pertanian. Sawah berirgasi
banyak terdapat di Deli Serdang, Simalungun dan Tapanuli Selatan.
Perkebunan banyak terdapat di daerah Asahan, Deli Serdang, Labuan Batu,
Langkat, Simalungun dan Tapanuli Selatan. Jenis tanaman perkebunan adalah
kelapa sawit, tembakau, karet, dan kopi.
Hasil hutan berupa kemenyan, rotan dan durian banyak terdapat di
Dairi, Labuan Batu, Langkat Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Utara.
Di daerah pantai dan Danau Toba banyak orang yang hidup dan
menangkap ikan. Peternakan babi dan kerbau banyak dilakukan oleh
penduduk, baik sebagai usaha sampingan, maupun sebagai mata pencaharian
pokok.
53

Dominannya pertanian sebagai sumber kehidupan orang Batak, tampak


dan pembagian lahan garapan berdasarkan marga. Huta (Toba) atau Kuta
(Karo) adalah kesatuan teritorial yang dihuni oleh keluarga satu marga. Setiap
keluarga dapat menggarap lahan tersebut, tetapi tidak boleh menjualnya.
Dalam huta terdapat sederetan rumah, lumbung padi, dan tempat untuk
melangsungkan upacara-upacara. Di daerah Karo, Simalurigun dan Mandailing
sering dilengkapi dengan Balai Desa tempat musyawarah. Kelompok pendiri
kuta (marga Taneh) umumnya mendapatkan bagian yang lebih luas.
Selain tanah ulayat (tanah adat) tersebut di atas, ada juga tanah yang
dimiliki secara perorangan, yaitu:
tanah panjaen: tanah yang diberikan orang tua kepada anak laki-laki
sesudah nikah,
tanah pauseang: tanah yang diterima dan orang tua istri pada hari
pernikahan
tanah parbagian: tanah warisan kalau orang tua meninggal
tanah mangarimba: tanah yang diperoleh dari usaha sendiri dengan
membuka hutan.
Dalam masyarakat Batak istilah gotong royong dikenal dengan nama
raron (Karo) a tau marsiurupan (Toba): Pembagian kerja antara perempuan
dan laki-laki dibagi berdasarkan bobot kerjanya. Kaum perempuan umumnya
menanam, menyiangi dan menuai, sedangkan kaum laki-Taki membuka hutan,
mencangkul, dan membuat saluran irigsi. Alat-alat pertanian seperti ani-ani,
sabit, cangkul, bajak, dan mesin-mesin lainnya digunakan oleh petani yang
sudah maju.

5. Kesenian
Orang Batak mengenal berbagai kesenian, seperti. seni sastra, seni suara,
seni tari dan seni bangunan.
a.
seni sastra : cerita tentang binatang, Si Jenaka
Pelibur Lara, cerita Si Bodoh dan mitos lainnya. Sajak dan pantun sering
dilantunkan pada acara perkawinan dan keagamaan. Datu dipandang
sebagai orang yang istimewa, ia berfungsi sebagai sastrawan dan juga
penghapal mantra-mantra yang sangat dihormati.
b.
seni suara: orang Batak dikenal sebagai orang
yang suka menyanyi baik kelompok maupun perorangan. Lagu Batak yang
terkenal antara lain Butet, Piso Surit, Sitolu-tolu dan Lisoi. Alat musik yang
digunakan pun bervariasi. Alat musik tradisional sering digunakan pada
upacara tortor upacara adat, atau upacara kepercayaan.
c.
seni tani : seni tari pada masyarakat Batak
mempunyai kaitan erat dengan kepercayaan animisme. Tari Tongkat Sihir
yang dimainkan oleh seorang dukun sambil memegang tongkat yang
disebut tunggal panalunan, Tari upacara Bius untuk memuja dewa, Tari
Silaturahmi, Tari Pergaufar. dan sebagainya. Tari Tortor Hoda-hoda, Tortor
Sigalegale, Tortor Soinbah, Tortor Tumba adalah jenis tarian yang
dipertunjukan sesuai dengan jenis acara.
54

d.

seni
bangunan:
seni
bangunan
Batak
mempunyai corak tersendiri. Rumah yang mempunyai ukiran tradisional
disebut rumah gorga. Rumah dibangun tiga tahap, yaitu bagian kolong
meaggambarkan benua bawah, bagian tengah melukiskan dunia tengah,
dan atap yang lancip membentuk kepala kerbau menggambarkan dunia
atas. Pada tiang dan dinding teukir macam- macam motif yang indah dan
bernuansa kekuatan spiritual. Motif-motif itu dicat warna merah, putih dan
hitam sebagai lambang tritunggal.

Motif-motif yang indah tampak pula pada ulos. Ulos adalah semacam kain
tenun dengan motif-motif tersendiri. Motif dan warna ulos dapat
mencerminkan kapan harus dipakai. Pada acara keagamaan, mengunjungi
orang yang sedang berduka, atau hari-hari tertentu menurut pesta adat. Ulos
ini menjadi ciri khas orang Batak yang tidak boleh sembarangan dipakai.

5.3 KEBUDAYAAN MINANGKABAU


1. Keadaan Geografis
Suku Minangkabau.termasuk daerah Propinsi Sumatra Barat. Kepulauan
Mentawai termasuk Propinsi Sumatra Barat dan dihuni oleh suku Mentawai.
Luas keseluruhan Sumatera Barat adalah 42.779 km2, daerahnya berbatasan
dengan:
Propinsi Sumatra Utara di bagian utara.
Propinsi Riau di sebelah timur.
Propinsi Jambi dan Bengkulu di sebelah selatan.
Samudera Hindia di sebelah barat.
Pegunungan Bukit Barisan membujur dan utara ke selatan dan melebar di
bagian selatannya, ketinggiannya antara 1597-3800 meter dengan puncak
tertinggi Gunung Kerinci. Di kawasan Sumatra Barat terdapat 4 danau yaitu
Danau Singkarak, Danau Maninjau, Danau Diatas, dan Danau dibawah.
Orang banyak menyebut suku Minangkabau dengan sebutan orang
Padang. Padahal, Padang adalah salah satu kota di Sumatra Barat yang
penghuninya belum tentu orang Minang. Suku Minangkabau terdiri. atas
beberapa kian atau marga, yaitu Guci, Jambak, Piliang, Caniago, Tanjung Koto,
Panjalai, Pisang, dan Sikumbang.
Penduduknya pada tahun 1990 berjumlah 3,99 juta, komposisinya lebih
banyak perempuan daripada laki-laki Salah satu penyebabnya adalah kaum
pria banyak yang merantau. Diperkirakan jumlah yang merantau sama
banyaknya dengan jumlah penduduk yang ada di Sumatra Barat. Merantau
bagi orang Minangkabau adalah gengsi. mereka merasa malu kalau belum
pernah merantau. Penyebab lain adalah berlakunya sistem matrilinial. Sistem
ini telah mendorong kaum laki-1aki mencari identitas diri di luar
lingkungannya.

2. Sistem Kepercayaan
55

Sebagian besar (97,9 %) orang Minangkabau beragama Islam. Oleh


karena itu hampir seluruh kehidupannya menceriminkan kebudayaan Islam.
Hanya sebagian kecil di antara mereka khususnya yang hidup di pedesaan
percaya terhadap roh-roh. Mereka percaya akan adanya hantu yang
mendatangkan bencana dan penyakit, kuntilanak (puntianak) yaitu hantu
perempuan yang suka mengisap darah bayi melalui ubun-ubun, dan mereka
pun percaya akan adanya santet atau menggasing, yaitu mencelaka kan
orang dari jarak jauh dengan mengirim racun melalui udara. Dukun dianggap
orang yang mempunyai kemampuan untuk menghilangkan pengaruh jahat itu
melalui mantera-mantera Dulu mereka suka mengadakan upacara-upacara di
bawah ini.
a. Tabuik: upacara memperingati kematian Hasan dan Husain,terdapat di
daerah pesisir terutama Pariaman dan Padang.
b. Kitan dan katam: upacara untuk memperingati masa peralihan dalam
lingkaran kehidupan seperti:
turun tanah (turun mandi) : upacara pertama kali bayi menginjak
tanah,
kekah: upacaya petama kali rambut bayi dipotong,
c. Tahlil: upacara mendoakan orang yang telah meninggal dan dilaksanakan
pada bari ke-7, 40, 100 dan 1000 hari
Upacara-upacara tersebut sudah banyak ditinggalkan. Upacara
keagamaan seperti Idul Fitri, Idul Adha, naik haji, dan upacara keagamaan
yang berhubungan dengan peristiwa Islam biasa dilakukan.

3. Sistem Kekerabatan
Sistem kekerabatan suku Minangkabau sangat khas dan sudah jarang
dipakai oleh masyarakat lain., yaitu matrilinial. Garis keturunan
diperhitungkan menurut garis ibu. Seorang ayah berada di luar istri dan
anaknya. Tanggung jawab untuk memperhatikan kepentingan keluarga berada
di tangan naniek mamak atau mamak, yaitu saudara laki-laki pihak. ibu. Anak
perempuan adalah penerus keturunan sedangkan anak laki-laki akan ikut pada
klen istrinya.

56

Dalam masyarakat Minangkabau, keluarga batih tidak merupakan


kesatuan yang mutlak. Kesatuan keluarga yang terkecil adalah satu pariuk
(satu perut) atau satu semandai (satu ibu) yang terdiri dan ibu dan anakanaknya, Kesatuan mi benarbenar bersifat geneologis.
Kaum kerabat ibu yang terdiri dari ibu dan anak - naknya (laki-laki dan
perempuan), saudara laki-aki dan perempuan ibu, nenek dan ibu, serta
saudara laki-laki dan perempuan nenek. Mereka tinggal dalam rumah adat
yang disebut rurnah gadang. Paman yang paling tua disebut kepalo pariuk
atau tungganai. Beberapa pariuk yang saling berkerabat membentuk satu
kampung dikepalai oleh salah satu kepalo pariuk. Kepala kampung mi disebut
pula andiko atau kepala kampung. Beberapa karipung meinbentuk nagari
(desa). yang dikepalai oleh wali nagari.
Pada masa lalu berlaku adat bahwa sedapat mungkin anak laki-laki
hurus kawin dengan anak perempuan marnaknya, tetapi endogami lokal ini
sudah ditinggalkan. Setiap muda-mudi mempunyai kekebasan untuk menilih
jodoh.
Perkawinan pada masyarakat Minangkabau laki-laki menyerahkan mas
kawin pada perempuan. Di beberapa daerah justru sebaliknya, perempuanlah
yang harus memberi uang jemputan kepada laki-laki. ini mempunyai kaitan
erat dengan sistern matrilinial, di mana ayah di luar istri dan anaknya dalam
kaitan dengan garis keturunan. Pertukaran barang atau keris dan kedua belah
pihak sangat penting dalam adat perkawinan Minangkabau.
Pesta diadakan di keluarga istri dan pengantin tinggal di rumah gadang
kerabat istri. Kalau rumah gadang utamanya sudah penuh, biasanya boleh
mendirikan rumah gadang baru dekat rumah gadang induk.
Rumah gadang umumnya sangat luas, dan jumlah kamarnya selalu
ganjil, yaitu sampai 5, 7 bahkan 17 buah kamar. Bentuknya persegi panjang,
berkolong, dan atapnya dan injuk yang dibuat lancip. Atapnya itu disebut
gonjong. Ada gonjong yang jumlahnya 4 disebut gajah maarem, gonjong yang
jumlahnya 6 disebut aceh. Dekat rumah gadang biasanya ada lumbung padi
(rangkiang) dan rumah tabuah (rumah bedug) untuk mengundang anggota
masyarakat kalau ada upacara atau bahaya.

4. Sistem Ekonomi
Sebagian besar orang Minangkabau bermata pencaharian di Ladang
pertanian. Daerahnya yang subur dan curah hujan yang cukup banyak
digunakan untuk pertanian sawah. Pertanian sawah ini banyak terdapat di
Kabupaten Pasanian, Tanah Dalar, Agam dan Padang Pariaman.
57

Di daerah yang agak tinggi, banyak ditanami sayuran, palawija, dan


buah-buahan. Perkebunan karet, kelapa, kayu manis, dan cengkih adalah
komoditi utamanya. Jenis ternak yang banyak dipelihara adalah - sapi, kerbau,
kuda, dan ayam. Di daerah pinggir pantai dan danau banyak orang yang hidup
dan menangkap ikan.
Dagang adalah keahlian dan orang Minangkabau. Di daerah rantau,
orang Minangkabau umumnya hidup dan usaha dagang. Kerajinan perak bakar
dan Koto Gadang dan songket Silungkang sangat terkenal dan menjadi oleholeh khas Minangkabau.
5. Kesenian
Seni rnusik dan nyanyian Minangkabau bernuansakan keagamaan
seperti nyanyian tradisional salawat talam dan berzikir, adalah cerita-cerita
Islam yang disampaikan Iwat nyanyian. Alat musiknya seperti saluang,
suliang, bansi, serunai, gong dan rebab.
Tarian tradisional yang terkenal adalah tari piring. Penarinya berdiri di
atas piring sambil membawa lilin yang menyala. Ada juga tan patung dan
banyak tari lainnya.
Seni teater tradisional yang disebut randai adalah drama yang
disampaikan dengan diselingi nyanyian, pantun, dan gerakan tari yang
berlandaskan pencak silat. Suku Minangkabau pun terkenal dengan untaian
pantunnya. Di Payakumbuh terdapat sejenis cerita yang disebut basijobang.
Cerita ini populer di daerah Pariaman.
Seni ukir yang berupa patung, di daerah Minangkabau tidak
berkembang. Ukiran pada rumah, pakaian, atau kain tenun, biasanya bermotif
binatang atau tumbuhan. Hal ini mungkin karena adanya pengaruh Islam yang
melarang menggambarkn Tuhan atau Nabi dalam bentuk gambar atau patung.

5.4 KEBUDAYAAN SUNDA


Suku Sunda berdiam di wilayah Jawa Barat dengan luas 4.300km2. Oleh
karena itu, wiiayah Jawa Barai mi sering disebut Tanah Pasundan atau Tatar
Sunda. Jumlah penduduknya mencapai 35,4juta orang pada tahun 1990.
Daerahnya berbatasan dengan:
Laut Jawa dan DKI Jakarta di sebelah utara
Samudera Hindia di sebehah selatan
Selat Sunda di sebelah barat, dan Propinsi Jawa Tengah di sebelah timur
Secara budaya, Tatar Sunda ini dipisahkan oleh Sungai Cilosari dan Sungai
Citanduy. Secara fisik, wilayah Jawa l3arat dapat dibedakan atas 4 bentukan,
yaitu dataran rendah di bagian utara, kemudian beralih ke perbukitan, dataran
tinggi Bandung dan akhirnya pegunungan di bagian selatan.
Suku Sunda mempergunakan bahasa Sunda sebagai alat komunikasi.
Bahasa Sunda menunjukkan tingkatan-tingkatan atau unduk usuk basa, yaitu
bahasa halus, kasar, dan sedang. Di daerah utara, Bahasa Sunda sudah
banyak yang bercampur dengan bahasa Jawa, demikian pula di daerah
perbatasan Jawa Barat dengan Jawa Tengah. Di bagian barat, khususnya
Serang, Pandeglang, dan Banten bahasa Sundanya relatif kasar. Di daerah
pedalaman seperti Ciamis, Cianjur, Sukabumi, Bandung, Garut, dan Sumedang
masih relatif murni, belum banyak campuran. Bahasa Sunda Cianjur dikenal
sebagai bahasa Sunda yang terhalus.

1. Sistem Kepercayaan
58

Sebagian besar (97,7%) suku Sunda beragama Islam. Upacara-upacara


adat banyak diwarnai oleh keagamaan. Seperti, acara kaulan atau salametan,
yaitu acara yang diseienggarakan kalau mendapatkan kebahagiaan. Hal ini
biasanya diselenggarakan malam Jumat. Diisi dengan pengajian atau ceramah
keagamnan dengan mengundang tokoh agama, ustad, kyai atau ajengan yang
sangat dihormati oleh masyarakat. Hidangan yang disajikan berupa tumpeng,
yaitu nasi berbentuk gunung, diberi warna kuning (kunyit), dan didalamnya
ada kentang, telur, dan daging ayam.
Upacara lain yang erat kaitannya dengan agama adalah akekah, yaitu
memotong kambing sebelum bayi berumur 40 hari. Satu ekor kambing untuk
bayi perempuan dan 2 ekor kambing untuk bayi laki-laki. Selain itu, upacara
keagamaan lainnya adalah sunatan dan tahlilan untuk mendoakan orang yang
meninggal. Tahlilan dilaksanakan pada hari ke 3, 7, 40, 100 dan 1000 setelah
hari meninggalnya orang tersebut.
Pada acara tertentu, seringkali kebudayaan yang bersifat tradisional
dilaksanakan dengan alasan nurutkeun tali parani karuhun, artinya menikuti
kebudayaan nenek moyang. Misalnya pada acara sebagai berikut.
a. Tujuh bulanan, yaitu saat wanita yang sedang mengandung usia
kehamilannya mencapai usia tujuh bulan. Wanita hamil tersebut
memakai kain sampai batas dada dan disirarn dengan air kembang
yang berisi belut oleh para orang tua secara bergiliran. Setelah mandi,
ada acara jual rujak kepada kaum kerabat, uangnya adalah pecahan
genteng yang dibulatkan. Acara memecahkan kelapa muda dengan
berbagai bunga dan kendi di perempatan atau pertigaan jalan (jalan
ngolecer), sebagai simbol kelancaran dalam melahirkan.
b. Acara. sembilan bulanan: pada saat usia kehamilan mencapai usia 9
bulan, diadakan acara saling mencoreng muka dengan bedak
antarkerabat. Dilanjutkan dengan pembagian bubur lolos (bubur yang
diberi tepung beras yang diberi santan, sebagian diberi gula sebagian
tidak, sehingga warnanya menjadi merah putih).
c. Acara puput puser: mengeringnya tali pusar bayi plasenta yang
dianggap sebagai saudaranya bayi. Sehingga pada saat bayi lahir,
plaserta dijaga dengan baik sebelum dikubur atau. digantung di atas
langit-langit dapur (hal ini bergantung pada letak usus hayi pada
plasenta).
d. Acara-acara dalam perkawinan, misalnya dalam acara siraman yaitu
mandi seperti pada acara tujuh bulanan hanya air kembang tidak pakai
belut, ngeuyeuk seureuh dilaksanakan malam sebelum akad nikah,
acara, saweran, dan ketuk pintu setelah akad nikah.
Di beberapa tempat seperti di Cirebon, acara Maulid Nabi atau Muludan
sering dipergunakan untuk acara membersihkan barang-barang yang
dianggap keramat seperti keris, batu, dan sebagainya. Pada zaman dulu,
beberapa masyarakat di pedesaan mempunyai kepercayaan terhadap roh
halus seperti hantu, jung, genderuwo, dan kuntilanak. Roh halus tersebut suka
berbuat jahat terhadap manusia. Acara kukusan, bakar kemenyan dengan
mengucapkan sejumlah mantera, pemberian congcot manik (tumpeng kecil) di
tempat - tempat tertentu adalah usaha untuk menetralisir kekuatan jahat
tersebut.

2. Sistem Kekerabatan
Sistem kekerabatan suku Sunda adalah bilinial. Garis keturunan
diperhitungkan menurut ayah dan ibu. Dalam masyarakat Sunda, tidak
membedakan kerabat pihak laki-laki (ayah) dengan pihak perempuan (ibu).
Sistem kekerabatan ini dalam Antropologi disebut kindred.
59

Pengertian keluarga dalam masyarakat Sunda sangat luas. Selama ada


ikatan perkawinan (afiniti) dan pertalian ikatan darah (konsnguinity) baik dan
pihak ayah maupun ibu disebut dulur urang atau wargi (keluarga).
Dalam masyarakat Sunda dikenal istilah sabondoroyot, artinya 7
turunan atau generasi. Istilah untuk menyebut turunan dan atas ke bawah
tersebut adalah:
1. kolot,
2. embah,
3. buyut,
4. bao,
5. tanggawareng,
6. udeg-udeg, dan
7. gantung siwur.
Sedangkan dari bawah ke atas adalah:
1. anak,
2. incu,
3. buyut,
Jawa memiliki beberapa variasi, seperti dialek Tegal, Banyumas, Surabaya,
Jombang, dan Semarang.
1. Sistem Kepercayaan
Sebagian besar (95%) suku Jawa menganut agama Islam. Sisanya
menganut agama Hindu, Buddha, dan Kristen. Penganut agama Islam di Jawa,
umumnya dapat dibedakan antara Islam santri yang betul-betul menjalankan
kaidah Islam dan- Islam kejawen. Islam kejawen adalah percampuran antara
agama Islam dengan kepercayaan tradisional. Selain keempat agama
tersebut, mereka pun banyak yang menganut aliran kebatinan dan
kepercayaan. Sebelum ditertibkan, di daerah Jawa ada sekitar 300 i1iran
kebatinan. Aliran yang penganutnya paling banyak tersebar di seluruh
Indonesia di antaranya adalah aliran Sumarah, Pangestu, dan Subud.
Sebagian orang Jawa pun percaya akan adanya makhluk halus, seperti
dedemit, lelembut, tuyul, dan jin. Makhluk itu ada disekitar manusia, dan
dapat mendatangkan gangguan jiwa, sakit, kematian bahkan kebahagiaan.
Untuk menghindarkan diri dari gangguan jahat tersebut maklus halus itu
harus diberikan sesajen pada malam Jumat kliwon dan Selasa kliwon. Usaha
lain untuk mengusir mereka adalah dengan berpantang melakukan sesuatu,
puasa atau prihatin. Mereka pun masih banyak yang percaya akan adanya
kekuatan Ratu Pantai Selatan atau Nyai Roro Kidul. Pada hari- hari tertentu,
kerabat keraton dan juga masyarakat pantai sering mengadakan acara labuh
laut untuk memberikan sesajen kepada Ratu.
Upacara-upacara adat yang sering dilakukan berkenaan dengan
kepercayaan tradisional adalah:
upacara kehamilan, yaitu selamatan pada kehamilan bulan pertama
dengan rajian utama adalah bubur, bulan kedua dan ketiga sajian
utamanya adalah nasi putih-, bulan keempat nasi kuning, kelima nasi
pecel, ketujuh rujak, kedelapan serabi dan kiepon, dan bulan
kesembilan bubur. Apabila pada bulan kesembilan belum lahir juga
maka diadakan selamatan lagi dengan hidangan utamanya cendol.
upacara kelahiran, yaitu puput puser, potong rambut, menindik
(melubangi kuping pada bayi perempuan), dan injak bumi.
upacara bersih desa, yaitu, menghilangkan gangguang-gangguan
makhluk halus kepada warga desa secara keseluruhan.
60

upacara kematian, yaitu mendoakan arwah yang meninggal pada han


ke 3, 7,40,100 dan 1000.

Suku Jawa pun ada yang masih percaya kepada kekuatan-kekuatan


sakti suatu benda (kasakten), seperti keris, kereta stana, gamelan. batu-batu,
dan perkakas lainnya. Pada acara maulid diadakan sekatenan, yaitu
pembersihan barang-barang yang dianggap kermat tersebut. Di lingkungan
kerajaan, seminggu sebelum acara maulid tersebut diadakan pasar malam di
sekitar keraton dan digelar berbagai kesenian rakyat.
Di Jawa Timur, tepatnya di daerah Gunung Bromo, hidup suku Tengger.
Bahasa dan kebudayaan lainnya hampir sama dengan suku Jawa. Hal yang
berbeda dan sangat khas adalah kepercayaannya. Mereka termasuk Aliran
Hindu Mahayana yang sangat khas. Purnama Sidhi atau bulan purnana penuh
mempunyai nilai magis yang tinggi bagi suku Tengger, serta menyimpan
sejarah panjang asal muasal suku Tengger.
Adapun upacara adat yang biasa dilakukan suku Tengger adalah:
a. Upacara Kasodo diselenggarakan pada tanggal 14 atau saat bulan
purnama dengan mempersembahkan berbagai hasil bumi pada kawah
Gunung romo.
b. Upacara Karo, yaitu upacara kelahiran manusia oleh Sang Pencipta.
c. Upacana Unan-Unan, yaitu upacara yang dilaksanskan lima tahun sekali
yang ditandai dengan pemotongan hewan sebagai simbol pengorbanan
untuk menghindarkan diri dari malapetaka. Upacana tersebut di
selenggarakan di setiap pura. Penyerahan hasil bumi kepada kawah
Gunung Bromo itu erat kaitannya dengan janji nenek moyang mereka,
yaitu Putri Prabu Brawijaya dan kerajaan Majapahit. Putri itu bernama
Roro Anteng yang menikah dengan Joko Tengger turunan Brahmana
(Nama Tengger berasal dan AnTeng dan tengGer). Ketika agama Islam
masuk, mereka menyingkir dan tinggal di daerah Gunung Bromc.
Mereka hidup rukun dan makmur tapi tidak punya anak. Maka, mereka
bersemedi dan berikrar. kalau mereka punya anak, anak bungsunya
akan diserahkan kepada Sang Hyang Widi. Akhirnya mereka berputra
25 orang dan anak bungsunya itu yang tercakap dan terpintar Mereka
sangat sayang dam lupa akan janjinya. Untuk menghindari janjinya itu
mereka berniat pergi dan Gunung Bromo. Tibatiba terdengar gemuruh
kawah dan menyeburkan lahar. Anehnya, lahar itu hanya membawa
putra bungsu mereka. Setelah gemuruh hilang, ada suara yang
mengatakan agar mereka selalu menyerahkan sebagian hasil bumi ke
kawah Ganurg Bromo tersebut.
Dengan demikian, kepercayaan Suku Jawa sangat kompleks, perpaduan
antara agama Islam, Hindu, Buddha, Kristen, kebatinan, dan kepercayaan
animisme serta dinamisme.
2. Sistem Kekerabatan
Sistem kekerabatan Suku Jawa adalah bilninal. Mereka mengakui
kekerabatan dan pihak ayah dan ibu. Berarti Suku Jawa pun menganut sistem
keluarga luas atau kindred.
Seorang gadis atau perauda dapat memilih jodoh sesuai dengan pilihan
mereka. Khusus untuk kaum bangsawan sangat dianjurkan untuk memilih
pasangan dan golongan yang sama, agar keaslian turunan mereka dapat
terpelihara. Diawali dengan acara melamar, yaitu kunjungan resmi kerabat
suami kepada pihak perempuan unuk mengetahui keinginan dan persetujuan
akan perkawinan. Bila pihak laki-laki belum mengenal calon istrinya, terutama
kalau perkawinan itu dijodohkan, ada acara nontoni. Si calon suami mendapat
61

kesempatan untuk melihat calon istrinya, Setelah keduanya, setuju, maka


mereka sepakat untuk melanjutkan hubungan kekerabatan lebih serius ke
jenjang perkawinan. Hari perkawinan ditentukan melalui macam-macam
hitungan adat Jawa. Setelah ditentukan hari perkawinan, sehari sebelumnya,
kaum kerabat perempuan mengadakan kunjungan ke makam nenek leluhur
untuk meminta restu. Sore harinya di adakan selamatan dengan mengundang
tetangga dan malam harinya ada acara midodareni. Acara asok tukar atau
seserahan adalah acara penyerahan mas kawin, barang, dan uang kepada
pihak perempuan. Setelah akad nikah diadakan sawer, saling lempar sirih
yang diikuti acara sungkeman dan ucapan,selamat para tamu kepada kedua
mempelai.
Bila tempat tiaggal pengantin laki-laki cukup jauh setelah beberapa hari
perkawinan biasanya suka diadakan ngunduh mantu, yaitu perayaan pesta di
orang tua lelaki dengan mengundang tetangga dan kerabat pihak laki-laki.
Pasangan yang baru menikah umumnya tinggal di rumah kerabat istri.
Satu rumah ada yang diisi satu somah (keluarga inti) ada juga beberapa
somah.
3. Sistem Ekonomi
Pertanian adalah mata pencaharian utama suku Jawa. Sawah terdapat
di daerah-daerah yang subur, relative datar, dan cukup air. Usaha mengolah
lahan sama dengan di daerah tatar Surida atau daerah lainnya di Indonesia.
Hanya istilahnya saja yang mempergunakan bahasa Jawa. Di daerah yang
curah hujannya kurang banyak, lahan kering digunakan untuk ladang. Palawija
adalah jenis tanaman utamanya. Selain itu, ada juga tanaman padi.
Pranata Mangsa adalah kalender pertanian untuk suku Jawa. Para petani
tradisional masih banyak yang menggunakan sistem kalender ini. Jenis
tanaman yang diusahakan, berselingan antara palawija dan padi dengan
ketetapan setahun dibagi 12 musim.

Pertama adalah kasa, mulai tanggal 22 Juni, lamanya 21 hari, lahan


ditanami palawija,
Kedua adalah karo, lamanya 23 han palawija diairi,
Ketiga adalah katiga mulai 26 Agustus, lamanya 24 hari saat palawija
berbuah,
Keempat adalah kapat mulai 19 September, lamanya 25 hari, palawija
dipanen,
Kelima adalah kalima mulai 13 Oktober, lamanya 27 hari, sawah
dikerjakan,
Keenam adalah kanem, mulai 9 November, lamanya 43 hari, padi disemai,
Ketujuh adalah kapitu, mulai 22 Desember, lamanya 43 hari, padi ditanam,
Kedelapan adalah kawola, mulai 3 Februari, lamanya 27 hari, padi
menghijau,
Kesembilan adalah kasanga mulai 1 Maret, lamanya 25 hari, padi mulai
menguning,
Kesepuluh adalah kesepulah mulai 26 Maret, lamanya 24 hari, padi
dipanen,
Kesbelas adalah desta mu)ai 19 April, lamanya 23 hari, padi dipanen,
Keduabelas adalah sadha lamanva 41 hari mulai 12 Mei sawah dikerjakan
untuk ditanami palawija.

Kedatangan setiap musim itu ditandai dengan arah angin, suhu udara,
dan keadaan mata air khususnya sungai, curah hujan, keadaan pohon
khususnya pergantian daun dan kemunculan bunga atau buah, jenis serangga
62

yang berterbangan, dan keadaan burung (berkicau, membuat sarang, bertelur


dan mengeram).
Industri rumah tangga seperti membuat tempe, minyak, membatik,
kerajinan perak dan emas (Kota Gede), membuat tikar dart anyaman lain
adalah pekerjaan sampingan yang banyak dilakukan oleh masyakakat Jawa
Berkembangnya kepariwisataan telah semakin memacu pertumbuhan industri
rumah tangga tersebut.
4. Kesenian
Suku Jawa mempunyai karya seni yang kaya, mulai dan seni tari , ukir,
pahat, dan lukis. Wayang adalah jenis kesenian yang digemari oleh hampir
semua lapisan masyanakat Jawa. Wayang kulit, wayang beber dan wayang
orang selalu ditampilkan pada setiap perayaan. Misalnya hari ulang tahun
lembaga, peringatan 17 Agustus, perkawinan dan acara lainnya. Ceritera
wayang biasanya disesuaikan dengan acara yang digelar. Peranan dalang
dalam hal ini sangat penting dalam menarik penonton. Gamelan adalah
seperangkat musik yang mengiringi pagelaran tersebut.
Tari klasik diantaranya Tari Langenman-drawanara yang mengisahkan
Ramayana, Tari Langedriyan yang mengisahkan Damarwulan, Tari Topeng
melukiskan kisah zaman Airlangga dan Majapahit. Tari Gatotkaca, Tari Modern
Bagong Kussudiardjo sekarang ini sangat populer.
Seni teater berupa ludruk dan ketoprak secara rutin dipertunjukkan di
gedung-gedung kesenian rakyat. Reog Ponorogo yang mengandung magis
sering pula digelarkan pada acara tententu. Kepala reog disebut warok.
Seni suara yang dapat dibedakan atas 3 nada, yaitu slendro, pelog, dan
barang miring. Berdasarkan kata-katanya, tembang terdiri dari tembang
macapat, tengahan, dan gede.Tembang yang termasuk macapat adalah
gambuh, pucung, mijil dan megatruk termasuk macapat. Nyanyian dolanan
anak-anak. yang cukup populer di antaranya gambang suling dan suwe era
jamu. Keroncong langgam Jawa, seriosa dan jenis hiburan banyak
berkembang.
Sastra dapat dilihat dan kitab Candrakarana, Nitisruti, kitab Nitipraja
dan Kitab Sewaka. Berdininya kerajaan majapahit telah banyak menghasilkan
berbagai kitab sastra.
Nilai seni ukir, dapat dilihat pada candi. Daerah Jawa Tengah dan Jawa
Timur sangat kaya akan kebudayaan candi dengan berbagai gaya ukir. Patung
dan relief, serta ukiran kayia dapat kita lihat di berbagai hotel, kantor
pemerintahan, dan bangunan lainnya. Kerajinan batik, keramik, bambu,
anyaman, perak dan emas mempunyai nilai seni ukir yang tinggi. Seniniansenirnan unggul di bidang lukisan seperti Affandi, Edi Sunarso, Sapto Hudoyo
dan Amri Yahya dibesarkan di kawasan alam Jawa.
Seni bangunan tampak pada rumah-rumah tradisional dan keraton. Ada
yang berbentuk limas, srotong, dan joglo. Joglo umumnya dihuni oleh kaum
bangsawan.

5.6 BUDAYA BALI


1. Keadaan Geografi
63

Pulau Bali sangat terkenal di dunia karena kekhasan budaya dan


keindahan panoramanya. Luas Pulau Bali mencapai 5 633km2, dengan jumlah
penduduk 2,77juta orang. Pulan Bali terletak di sebelah timur Pulau Jawa,
wilayahnya berbatasan dengan:

Laut Bali di sebelah utara


Propinsi NTT di sebelah timur
Samudera Hindia di ebelah selatan
Selat Bali di sebelah barat

Pegunungan membujur dan barat ke timur di bagian tengah.


Pegunungan tersbut melebar ke utara sehingga membentuk dataran pantai
yang sempit di bagian uara. Di ujung selatan terdapat semenanjung yang
disebut Jazirah Bukit.
Propinsi Bali selain Pulau Bali yang paling besar, ada pulau-pulau kecil
lainnya eperti Pulau Serangan dekat Jazirah Bukit, Pulau Ntsa Penida, Nna
Leinongan, Pulau Ceningan di sebelah tenggara yang dipisahkan oleh Selat
Badung dengan Pulau Bali.
Suku Bali 95% beragawa Hindu. Kesamaan agama tersebut menjadi
pengikat yang kuat bagi anggotanya. Berdasarkan pengaruh kebudayaan Jawa
yang masuk, maka masyarakat Bali dapat dibedakan atas:
Masyarakat Bali Aga, artinya Bali pgunungan, karena itu mereka senang
disebut Bali mula atau Bali asli. Kelompok ini tidak atau sedikit sekali
mendapatkan pengaruh Jawa dan umumnya berdiam di daerah
pegunungan seperti Sembiran, Cempaga Sidatapa, Pedawa Tigawasa,
Kabupaten Beleleng, Kabupaten Karangasem.
Masyarakat Bali Majapahit, merupaka kelompok yang sudah banyak
mendapatkan pengaruh Jawa,dan berdiam di dataran rendah Pulau Bali.
Pegunungan mempunyai peranan yang ngenting bagi pandangan hidup
dan percayaan masyarakat Bali. Pegunungan dijadikan petunjuk arah. Kerja
adalah arah menuju gunung, sedangkan kelod berarti ke arah laut. Karena
pegunungan terletak di tengah-tengah pulau, maka pengertian kaja bagi
orang Bali yang berdiam di sebelah vtara dengan sebelah selatan menjadi
berlainan. Kaja bagi orang Bali yang berdiam di utara artinya ke selatan,
sedangkan bagi orang Bali yang berdiam di pantai selatan artinya ke utara.
Demikian pula pengertian kelod. Kelod bagi penduduk pantai utara artinya ke
utara, sedangkan bagi penduduk di selatan artinya ke selatan. Karena laut dan
gunung menjadi arah dalam mendirikan pura (tempat ibadat) dan upacara
keagamaan. Maka posisi bangunan dan pelaksanaan pacara antara orang
Bali Utara dengan orang Bali di selatan menjadi tidak sama.
Bahasa di Bali menunjukkan adanya tingkatan-tingkatan, yaitu bahasa
halus, sedang dan kasar. Pelapisan ini mempunyai kaitan erat dengan struktur
masyarakat Hindu yang berlapis-lapis, yaitu golongan Brahrna, Ksatria, Waisa
dan Sudra. Bahasa halus ada dua, yaitu halus sor dan halus singgih. Bahasa
sor dipakai oleh orang yang kedudukannya tinggi kepada yang lebih rendah.
Bahasa halus singgih digunakan oieh orang yang bea kedudukan lebih rendah
kepada yang lebih tinggi. Bahasa Bali Madya dipakai oleh orang yang
64

kedudukannya sama. Bali kasar dipakai oleh lapisan bawah atau oleh orang
yang sedang marah.
2. Sistem Kepercayaan
Suku Bali adalah menganut agama Hindu. Tetapi Agama Hindu di Bali ini
sudah banyak mengalami akulturasi dengan kebudayaan lokal, sehingga
coraknya berbeda dengan di India, Thailand atau di Indonesia pada umumnya.
Agama Hindu pada dasarnya adalah kepercayaan kepada dewa, seperti
Dewa Agni (api), Desa Wahyu (angin), Dewa Chan. dra (bulan), Dewa Indra
(perang), Dewa Brahma (pencipta), Dewa Wisnu (pemelihara) dan Dewa Siwa
(perusak). Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa adalah dewa tertinggi yang disebut
tritunggal. Dewa tersebut mendapatkan pemujaan yang lebih tinggi bila
dibandingkan dengan dewa-dewa lainnya. Mereka pun percaya akan adanya
karma, yaitu akibat dari setiap perbuatan, dan punarbawa, yaitu penitisan
atau kelahiran kembali dari setiap jiwa, bila manusia itu masih mempunyai
dosa. Ia baru terbebas dari lingkaran kehidupan kembali kalau sudah tidak
punya dosa.
Tempat ibadah umat Hindu adalah pura. Di setiap desa ada ratusan
pura. Kompleks pura yang ada di setiap desa disebut Kayangan Desa yang
terdiri dari: pura puseh, pura bale agung, dan pura dalam. Pura puseh dan
bale agung sering menjadi satu disebut pura desa. Pura dalam adalah tempat
diselenggarakannya upacara kematian, letaknya mengarah ke laut.
Sedangkan pura puseh dan bale agung adalah tempat upacara yang
berhubungan dengan kekeramatan, letaknya mengarah ke gunung. Demikian
pula dengan letak rumah dan desa, di Bali selalu disesuaikn dengan arah laut
dan gunung.
Tempat pemujaan seketurunan yang berupa klen kecil (keluarga batih)
dan, keluarga luas disebut sanggah. Kuilnya disebut pura paibon atau panti.
Pura dan sanggah masing-masing mempunyai hari upacara tertentu sesuai
dengan perayaan leluhur mereka. Hari perayaan di Bali dihitung berdasarkan
2 macam penanggalan yaitu:
1. Sistem penanggalan Hindu Bali yang terdiri dari 12 bulan dan rata-rata 355
hari. Bulan mulai terbit disebut tanggal, dan mulai mengecil disebut
panglong. Bulan penuh disebut purnama, dan bulan -mati disebut tilem.
Setiap bulan purnama dan tilem suka ada acara keluarga Upacara-upacara
lainnya slalu berkenaan dengan bulan purnama dan tilem. Tahun baru saka
jatuh pada tanggal 1 bulan kesepuluh (kedasa). Disebut dengan hari Nyepi
yaitu larangan untuk menyalakan api dan melakukan kegiatan lainnya.
Sehari sebelum hari nyepi diadakan acara korban (pecauran berupa
Butayadnya).
2. Sistem penanggalan Bali Jawa terdiri dari 210 hari. Perayaan besar yang
berdasarkan penanggalan ini adalah upacara hari raya Galungan dan
Kuningan.
Berdasarkan dua sistem penanggalan tersebut, ada 5 macam upacara
(panca yadnya), yaitu sebagai berikut.
1. Manusia yadnya, upacara yang berhubungan dengan siklus hidup yaitu
dimulai dari kelahiran, kanak-kanak dan dewasa.
65

2. Pitra yadnya, upacara terhadap roh leluhur, dari mulai kematian sampai
menyucian roh leluhur.
3. Dewa yadnya, upacara di kuil umum dan kuil keluarga.
4. Resi yadnya, upacara pentahbisan pendeta (mediksa).
5. Buta yadnya, upacara yang ditujukan kepada ruh pengganggu, yaitu
kala dan buta.
Orang yang bertugas menyelenggarakan upacara disebut sulinggih.
Sulinggih dari kasta brahmana disebut pedanda, dan dari kasta ksatria disebut
resi. Kuil yang bersifat umum, seperti kuil desa, banjar, dan subak dipelihara
oleh pejabat agama yang disebut pemangku.
3. Sistem Kekerabatan
Perkawinan adalah penistiwa yang sangat penting dalam kehidupan
suku Bali. Karena melalui perkawinan, seseorang diakui scara sah oleh
masyarakat. Ia akan memperoleh hak dan kewajiban sebagai anggota kerabat,
ia dapat ikut rapat di bale desa.
Dalam perkawinan suku Bali, dipergunakan sistem klan (dadia) dan
kasta. Perkawinan harus dilaksanakan dengan orang sekian dan sekasta. Jadi,
perkawinan tersebut bersifat endogami klan dan kasta. Perkawinan ideal
adalah antara anak dan dua saudara-laki-laki. Di Bali terdapat 3 klen, yaitu
tunggal kawitan, tunggal dadia, dan tunggal sanggah. Tunggal artinya satu
keturunan atau darah. Satu klan berarti, mempunyai tingkatan atau
kedudukan yang sama. Kawitan artinya asal, sedangkan dadia dan sanggah
rnenunjukkan kesamaan tempat pemujaan leluhur yang dikeramatkan oleh
agama.
Mereka yang kawin dengan kasta yang lebih rendah dianggap
mempermalukan martabat keluarga. Terutama bagi wanita, ia akan diusir
daridadianya dan secara fisik suami istri itu akan dibuang (maselong) ke
tempat yang jauh untuk beberapa lama.
Perkawinan lainnya yang dianggap penting adalah antara saudara
perempuan suami dengan saudara laki-laki istri. Perkawinan ini akan
mendatangkan bencana.
Perkawinan masyarakat Bali ada dua cara yaitu:
1. mamandik atau nginndik, yaitu cara meminang biasa.
2. mrangkat atau, ngrorod,a yaitu kawin lari
Suami istri yang baru nikah dapat tinggal secara:
1. virilokal: di daerah kerabat suami, berarti keturunnya diperhitungkan
secara patrilinial. Mereka berhak atas dadia dan harta pusaka klan
suami;
2. uxorilokal: tinggal di daerah kerabat istri. Garis keturunan
diperhitungkan secara matrilinial. Mereka menjadi dadia istrinya dan
berhak mernperoleh harta pusaka kedudukan istrinya. Istri semacam:
itu disebut sentani (pelanjut keturunan).
3. neolokal: tinggal di. da keturunan diperhitun patninilial, berarti anakanakikut dadia suami dan berhak mendapatkan wanisan dari klan
ayahnya.
66

Dalam satu rumah dapat diisi oleh beberapa keluarga batih. Nama anak
urnumnya menunjukkan urutan kelahiran dan kasta.
- Anak nomor 1 gelarnya Ngurah atau Gde
- Anak nomor 2 gelarnya Made
- Anak nomr 3 gelarnya Nyoman
- Anak nomor 4 gelarnya Ketut
- Anak nomor 5 gelarnya Ngurah atau Gde lagi,
- Anak nomor 6 sama dengan nomor 2 dan seterusnya.
Suku Bali berlapis-lapis menurut Kasta, yaitu kasta Brahmana, Ksatrya,
Waisya dan Sudra. Lapisan pertama dan ketiga disebut ti iwangsa, sedangkan
Sudra disebut jaba. Anak kasta Brahmana bergelar Ida Eagus untuk laki-laki
dan Ida Ayu.untuk perempuan. Kasta Ksatj-ia bergelar Cokorda Kasta Waisya
Gusti. Selain itu, ada gelar-gelar lain yangkurangjela.s kedudukannya dalam
wangsa tersebut. Mereka sering beranggapan bahwa gelar yang satu lebih
rendah dan gelar yang dimilikinya.
Kesatuan tempat tinggal disebut desa. Desa dapat clibagi atas
beberapa kesatuan adat disebut banjar. Keanggotaan banjar dapat berupa
penduduk asli atau pendatang dari banjar lain. Bale banjar adalah tempat
pertemuan dan belajar para anggota banjar. banjar dikepalai oleh Klian Banjar.
Organisasi lain yang ada di Bali adalah Seka. Seka merupakan
organisasi yang bergerak dalam bidang-bidang tertenu, seperti kepemudaan
adalah seka truna, perkumpulan gadis adalah seka gadis, ska tan, seka panen,
seka gamelari dan sebagainya. Seka-seka tersebut ada di setiap banjar.
Subak adalah organisasi pemakai air di sawah. Seseorang dapat
menjadi anggota subak dan banjar yang sama. Bila seseorang mempunyai
lahan yang lokasinya menyebar.
4. Sistem Ekonomi
Mata pencaharian penduduk Bali adalah petanian, perikanan dan
kerajinan. Sekitar70 % penduduk Bali hidup dalam bidang per tanian. Lahan
sawah banyak terdapat dibagian selatan. Lahan yang agak tinggi dengan,
cerah hujan yang sedikit yaitu dibandiang barat dan timur. Lahan ini lebih
banyak digunakai untuk kopi, kelapa, buah buahan dan palawija. Hasilnya
lehih banyak dijual ke luar Pulau Bali. Pohon kelapa bagi masyarakat Bali
mempunyai peranan yang sangat penting bgi upacara keagamaan dan
kerajinan.
Pengairan sawah diatur oleh organisasi rakyat yang disebut subak.
Subak selain kelompok pengairan sawah. Bila airnya cukup banyak terus
menerus ditanami padi,dan bila airnya sedikit, diselingi dengan palawija dtau
padi gogo. Para anggotanya juga merupakan satu kesatuan pura dan upacara
keagamaan.
Usaha peternakan yang paling banyak adalah peternakan sapi dan babi.
Sapi selain diambil susu dan dagingnya, juga merupa kan hewan pembantu di
sawah. Perikanan darat dilakukan sebagai usaha selingan disawah. Sedangkan
penduduk yang berdiamdi pinggir laut banyak yang menjadi nelayan.
67

Pulau Bali sangat terkenal dengan kerajinannya. Seperti kerajinan


ukiran kayu, emas, perak dan besi. Anyaman, kain tenun, dan seni lukis
adalah kerajinan lainnya yang banyak dikembangkan oleh pendduk
Bali.Banyaknya wisatawan, baik Nusantara maupun mancanegara elah hanyak
mendorong semakin .berkembangnya kerajhau tersebut. Keindahan alamnya
dan kekhasan budaya nya tlah banyak memberikan aspirasi kepada seniman.
maka a dapat menjadi anggota beberapa subak. Gotong royong di Bali
disebut ngoupin, misalnya jotong royong dalam membuat rumah, sumur,
panen dan sebagainya.
5. Kesenian
Kesenian yang bel-kembang pada suku Bali mempunyai kaitan yang
sangat erat dengan upacara keagamaan. Tari Sankghyang Baris. tari Barong,
tari Kecak, Rejang, dan Gambuh adalah kesenian keagamaan yang sekarang
ini sening dipertontonkan pada wisatawan.
Tari modern seperti topeng, kebyar tarunaj aya, kebyar duduk,
margapati, tambulilingan, tenun. dan nelayan. Mat musik gong gede untuk
mengiringi upacara sakral (suci): Sedangkan angklung dan gambang
digunakan untuk menginingi, pacara yang meninggal dan ngaben
(pembakaran mayat). Gender wayang dan seniara pegulingan untuk
mengiring upacara ulang tahun, potong gigi dan perkawinan. Balaganjur atau
pelaganjur untuk menginingi upacara meracu, yaitu kurban suci untuk
penjaga alani bawah dan dewayadnya, kurban suci untuk Saghiyang Widhi.
Karya sastra Bali hasil peninggalan masa lalu berupa prosa puisi berupa
kikidung, guguritan,dan parikan. Satua ada!ah cerita- cenita rakyat.
Seni rupa Bali tampak pada hiasanhiasan pura yang sarat akan nilai
seni tinggi. Pura Besakih adalah yang terbesar dan termegah. Batu, tulang,
tanduk, dan kayu adalah bahan yang sening dipergunakan sebagai bahan seni
ukir.

5.7 KEBUDAYAAN SEWU


1. Kondisi Geografis
Suku Sawu (Savu atau Sabu) berdiam di Kepulauan ,Sawu dan Raijua
Propinsi Nusa Tenggara Timur. Kepulauan tersebut termasuk Kep. Sunda Kecil,
yaitu rangkaian j kepulauan sebelah timur Puldu Jawa. Pulau Sawu khususnya
terieiak di antara Pulan Sumba dan Timor, membentuk rangkaian busur luar
bersaina-sama dengan Pulau Sumba, Raijua, Sawu, Ndao, Rote, Semau dan
Timor.
Daerahnya berbatasan dengan sebelah utara dan barat dengan Laut
Sawu sebelah selatan- dan timur dengan S. Hindia. Luasnya mencapai 540
km2, jumlah penduduknya pada tahun 1971 adalah 51.608 omang.
Pertumbuhan penduduknya kecil, disebabkan besamnya angka kematian dah
banyaknya orang yang pindahke luar Pulau Sawu menuju Pulau Sumba.
Daerah Sawu mempunyai musim kemarau yang panjang. Musim hujan
hanya pada bulan Januari, Februari dan Maret, selanjutnya adalah musim
kering. Curah hujan banyak di sebelah utara, sehingga daerah utara lahannya
lebih hijau dan ada beberapa .mata air:Mata air alam dan sungai itulah yang
68

menjadi sumber air utarna penduduk Sawu. Hampir seluruh pulau mi adalah
pulau kapur dan tanahnya tidak subur. Beberapa bukit memanjang dengan
ketinggian tidak lebih dan 250 m.
Orang Sawu di Pulau Sawu terdiri dan orang .Haba, Mahara, Liae, dan
Dinu. Mereka menganggap sebagai satu keturunan. Orang Hiba sebagai
kakk tua, Mahara dan Liae anak tengah dan Dimu anak bungsu. Orng Sawu
yang berdiarn di P. Raijua dianggap sebagai kakak tertua oleh semue orang P.
Sawu.
2. Sistem Kepercayaan
Orang Sawu selalu melihat alam ini sebagai makhluk hidup. Orang
Sawu membandingkan pulaunya (rai Hawu) sebagai makhluk hidup yang
membujur dan barat ke timur. Mahara di bagian barat sebagai kepala, Haba
dan Liae di bagian tengah sebagai bagian perut dan dada, sedangkan Dimu di
bagian timur sebagai ekor. Bagian barat (Mahara) diibaratkan sebagai
aziungan perahu sedangkan Dimu di bagian timur sebagai buritan. Persepsi ini
menjadi acuan dalam pembuatan rumah, pola perkampungan dan pembagian
ruang dalam rumah. Langit digolongkan sebagai kaum lelaki, laut sebagai
perempuan, matahari sebagai lelaki, bulan sebagai perempuan, petir laidlaki
kilat perempuan, awan perempuan dan hujan adalah laki-laki.
Pengertian tentang terjadinya sesuatu diibaratkan sebagai proses
pertumbuhan tanaman. Bermul dan sesuatu yang tak tampak (akar di
bawah) benkembang menjadi tamak (batang atau daun), kemudian membesar
dan berbuah (melahirkan dalam kehidupan manusia) dan membesarkanhya
Asal mula yang tak tampak itu adalah Deo Ama (Dewa Bapa). Dan Dewa Bapa
inilah, pangkal segalanya. Ia menurunkan Riru Bala (langit), Rai BalaXtanah
atau bumi) dan Dahi Bala (laut). Dan Rai Bala timbul Nata dai yaitu pangkal
terjadinya makhluk hidup, dan Dara dai, yaitu pangkal terjadinya gejala-gejala
angkasa. Makhluk hidup di bumiini diciptakan secara berpasangpasangan
yaitu laki-laki dan perempuan. Atas dasar itulah, benda-benda angkasa dan
gejala-gejala alam diasosiasikan dengan laki-laki dan perempuan.
Upacara kepercayaan yang dilakukan oleh suku Sawu di antaranya:
1. Upacara kehamilan: waktu usia kehamilan mencapai 3 bulan, disebut
hap, kebake, harus menyembelih 2 ekos babi. Bagian hati, kepala, dan
tulang rusuk dipersembahkan kepada roh leluhur, .diletakkan pada
tamu (tiang upacara dalam rumah) agar para leluhur datang dan
memberkati janin. Upacara 7 bulan, ibu mandi dengan air ramuan yang
telah dipersiapkan dalam periuk. Selain itu ibu hamil kalau pemgi harus
membawa benda tajam seperti pisau, sisir tanduk, paku dan
sebagainya untuk mengusir roh jahat. Calon bapak pun pantang
melakukan sesuatu seperti menggali kuburan, memakan makanan
upacara kematian, bekerja di tempat yang banyak pepohonan dan
sebagainya.
2. Upacara kelahiran: dilakukan pada hari kelahiran sampai hari kelima.
Biasanya dilakukan upacara pemotongan kambing yang dikalungi sirih
pada hari pertama. Hari kedua, acara menengok bayi oleh para kerahat.
Hari ketiga, upacara yang dipusatkan pada kehidupan hanya seperti
mencukur rambut, membawa bayl keluar rumah melewati pintu dan
69

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

digendung oleh pihak perempuan. Han keempat, pemberian hadiah dan


kaum kerabat, biasanya hewan ternak, kemudian disembelih dan
dibagikan lagi kepaca kaum kerabat. Hari kelima adalah acara mandi
persembahan makanan (biasanya kambing) kepada Deo. Seteah
upacara ke lima ini, bayi diterima penuh sebagai anggota keluarga.
Pemandian ana: dilaksanakan setiap tahun pada hari ke 13 bulan Daba
(pada sistem penanggalan orang Sawu, biasanya antara Eulan Maret
dan April).
Acara sunat atau belah: dilakukan oleh kaum lelaki yang dianggap
sudah besar. Dilakukan secant tidak resmi, yaitu hanya .ssama kaum
lelaki yang dipandang sebaya. Kaum lelaki akan merasa malu kalau
belurn disunat.
Memasah gigi: dilakukan oleh laki-laki yang sudah menginjak remaja
atau dewasa. Sebagai lambang ia sudah bukan ana kecil lagi. Msa1nya,
niemakan sirih, mengosokkan batu paca gigi atau menghitamkan gigi
sebagai perhiasan, dan memanjangkan rambut.
Perkawinan: Mulai acara pelamaran, penyerahan harta
pesta
perkawinan, istri makan di rumah orang tan sebagai perpisahan, dan
rnakan bersarna di rumah suami sebagai tanda inenerima kaum kerabat
suami terhadap anggota baru.
Upacara sakit: mengusir penyakit yang ditimbulkan oleh sihir dari
suanggi. Sihir penyakit yang datang melalui perantara seperti makanan,
rambut, susur dan sebagainya. Sedangkan suanggi yaitu rnasuknya roh
jahat melalui kuku, rambut, den sebagainya. Jadi, sesuatu yang
langsung melalui tubuh seseorang.
Upacara kematian: ada dua macam kematian, yaitu mati manis (made
nata) dmi mati asin (made haro) Mati mania dieebebkan oleh hal-hal
yang wajar seperti tua atau mengalami sakit yang terus menerus. Mati
manis ini pun ada dua macam, ada yang kehendak dewa, adapula yang
mati karena dibuat orang (sihir atau suanggi). Mati asin disebabkan
kecelakaan, atau bunuh din. Perbedaan cara mati ini menyebabkan
adanya perbedaan dalam upacara kematian. Penentuan upacara
kematian ini ditentukan secara musyawarah diantara para anggota
keluarga dan kemampuan ekonomi keluarga. Orang meninggal dikubur
di kolong balai-balai tanah (kelaga rai). Orang yang mati manis,
kuburannya rnelingkar dan mayatnya ditekuk ke dada, laki-laki ke arah
barat, sedangkan perempuan ke arah timur. Orang mati asin,
kuburannya persegi empat, memotong panjang rumah, dikubur
terlentang dan wajahnya menghadap tanah (bawah).
Upacara yang berhubungan dengan pertanian. seperti: memanggil nira
memasak gula lontar, prahihan niusim kemarau dan musim hujan,
upacara pembersihan ladang, upacara menanam, upacara panen,
upacara pengantan hasil pane.n (hole).

Upacara tersebut dipimpin oleh salah satu Imam Laki-laki yang Tujuh (Ratu
Mone Pidu), yaitu:
- Deo Rai (Dewa Tanah) adalah permimpin upacara musim hujan.
70

Pulodo Wadu (leluhur matahari Kemarau) pemimpin upacara musim


kemarau.
Rue (BaJa atau Malang) pemimpin upacara-upacara untuk menghapus
hal-hal buruk atau kemalangan.
Do Heleo (pengawas) bertugas mengawasi pelaksanaan upacara secara
tepat waktu agar tidak menimbulkan bencana atau kerugian.
Pulodo Muhu (Pulodo Musuh) upacara yang berhubungan dengan
peperangan.
Pulodo Dahi (Pulodo Laut) pemimpin upacra keberangkatan perahu
atau pengharapan hasil laut.
Duae Bangu Udu adalah orang besar dan kepala keluarga patrilinial

3. Sisem Kekerabatan
Sistem kekerabatan orang Sawu adalah patrilinial, anak menjadi klan
ayahnya. Tetapi kedudukan istri dalam keluarga tidak dianggap lebih rendah.
Bile suami menyimpang, seperti bila hak istri dalam mengarus rumah tidak
diberikan oleh suami; maka kerabat istri dapat rnengambil kembali anaknya
itu. Sistem pengawasan dari pihak istri tersebut dapat mengembalikan
kedudukan istri dalam kehidupan rumah tangga dan karabat suami.
Perkawinan dalam adat sawu bukan hanya untuk memperoleh
keturunan saja. Kebutuhan itu dapat diproleh melalui ana pa amu atau anak
dalan rumah. Seorang parempuan (gadis atau janda) dapat mempunyai anak
tanpa melalui perkawinan sah. Anak itu diberi nama atau klan berdasarkan
kelompok patiilinial ibunya (marga ayah si ibu atau kakek si anak): Anak
tersebut mempunyai hak yang sama. Anak tersebut mempunyai hak yang
sama dengan anggota keluarga lainnya. Cara ini diakui secara turun temurun.
Lelaki yang terbukti tidak mau mengawini perempuan yang telah di hamilinya
dinilai rendah martabatnya oleh masyarakat. Cara perolehan anak semacam
itu, mempunyai kaitan erat dengan terbatasnya jumlah anggota keluarga
sebagai tenaga keja.
Peluang untuk bertemu antara seorang gadis dengan pemuda sangat
besar, dapat di lading, dirumah atau saat upacara. Gadis yang siap kawin
disebut pana nai (panas tembakau), artinya besar daya tariknya. Kalau
keduanya sudah sepakat, maka di lanjutkan dengan pinangan resmi pihak
laki-laki ke pihak perempuan. Lodoli adalah sebutan untuk acara pinangan
yang biasanya di lakukan oleh juru bicara, yaitu mae atau maiki (kaka atau
saudara laki-laki ayah). Pada waktu kunjungan, pihak laki-laki membawa sirih
pinang atau rukenana sebagai lambang pinangan. Proses pembicaraan ini
disebut peli. Bila pihak perempuan menerima pinangan tersebut, maka ia
akan memakan sirih tersebut sebagai ikatan awal. Pada hari itu, biasanya
dibicarakan pula mengenai harga atau kubue yaitu sebuang kalung perak,
uang perak dan hewan ternak yang harus disediakan oleh pihak laki-laki.
Hari perkawinan di awali dengan berkunjungnya rombongan pengantin
laki-laki ke pihak perempuan dengan membawa sejumlah rukenana. Setelah
rukenana diperiksa oleh kaum perempuan dan dinyatakan lengkap. Pergilah
pengantin itu ke rumah pihak laki-laki. Rombongan diberi pala atau berupa
bingkisan makanan.
71

Sehari setelah itu, untuk menandai si istri keluar dari dara amu atau
keluarga pihak istri. Suami istri baru di iringi teman-temannya berkunjung ke
rumah orang tuanya yang menyelenggarakan upacara nuhi amu yaitu makan
bersama pengantin perempuan dengan keluarganya sebagai perpisahan
karena nanti ia akan menjadi warga suaminya. Setelah acara selesai, mereka
berpamitan dan dibekali tempat makanan (beka), dan tikar (tapi) sebagai
tanda keluarnya dia dari rumah orang tuanya.
Di rumah suaminya, diadakan upacara serupa, yaitu niakan bersama
sebagai tanda masuknya istri dalam keluarga laki-laki. Rumah orang Sawn
diibaratkan sebagai perahu yang ditelungkupkan, baik bentuk maupun
penigaturan bagian-bagian dalam rumah. Rdmah mempunyai anjungan dan
bunitan, balok-balok kayu dipasang persis seperti dalam perhu. Rumah pun
dlanggap mempunyai rob sehingga selalu diasosiasikan sebagni makhluk
hidup. Mereka selalu membagi secara tegas antara ruangan lakilaki (daru) dan
perempuan (wui). Warna hitam, kelabu atau ge!ap serta tertutup seringkali di
asosIasikan
dengan
perempuan
sebagai
lambang
kesuburan
dan
perlindungan, sedangkan warna terang atau ruangan terbuka di asosiasikan
dengan Iaki-laki. Anjungan sebagai tempat laki-laki, selalu terbagi berdasarkan
ketentuan, yitu bagian kanan atau depan untuk kakak (senior), kiri atau
belakang untuk adik (yunior). Sedangkan untuk kaum perempuan, dan agian
depan untuk kakak (iebih tua) dan di belakang untuk adik (yumor). Perempuan
yang sudah dewasa atau janda yang kembali lagi kepada orang tuanya,
dibuatkan rumah kecil) yang terpisah dan rumah induk.
Rumah sawu mempunyai 3 panggung (kelaga atau balai) yaltu kelaga
ae (balai besar), kelaga rai (balai tanah) dan Kelaga damu (balai loteng).
Kelaga rai terletak di bagian paling depan atau kanan rurnah. Kalaga rai dibagi
dua yaitu sebagian untuk perempuan dan sebagian untuk laki-laki. Ketinggian
ruangan sekitar 0,5 - 0,75 m di atas tanah.

Gambar 14.3 halaman 158

Kelaga ae terletak di bagian utama balok rumah, ketinggianrya antara


1-1,5 m di atas tanah. Bagian ini juga dibagi dua bagian atas bagian duru
(laki-]aki) dan perempuan (wui) di sinilah anggota keluarga makan dan tidur.
Bagian paling atas adalah loteng yang merupakan tempat barang-barang
yang dimiliki oleh peremlpuan seperti peralatan makan, tenun, dan benang.
Loteng ditutupi oleh pintu dan hanya kaum perempuanlah yang. boleh masuk.
72

Perkampuat Sawu berbentuk elip di daerah punggung bukit. Rumah


berbentuk persegi empat dan selalu membujur barat dan timur. Masuk ke
perkampungan pun hanya ada dua gerbang, yaitu gerbang barat (toka Wa)
dan gerbang timur (toka dimu). Di tengah kampung ada halaman yang bias.
Di tengahnya terdapat altar kanpung berupa susunan batu melingkar pohon
beringin (madiri) atau bidara cina (ko) tau nitas (kepaka). Di tempat itulah,
berlang sungnya upacara yang dilengkapl dengan 3 batu, yaitu:
wowadu rai bala batu, yaitu bumi lebar
wowadu riru baJa atau batu langit
wowodu dahi bala, yaitu hatu laut
4. Sistem Ekonomi
Orang Sawu umumnya hidup dari ladang, menyadap nira (air dan pohon
lontar, yang dibuat untuk gula) dan mengembalakan ternak. Pembagian kerja
antara laki-laki dan perempuan tampak saling melengkapi secara serasi. Pada
musim kemarau, mereka lebih banyak menyadap nira dan memasak gula.
Kaum lelaki menyiapkan pohon lontar untuk disadap, seperti membersihkan
baang, mengiris pusuk, dan memasang alat penyadap. Setelah air cukup
terkumpul, kemudian dibawa ke rumah untuk dimasak oleh kaum perempuan
dan mendistribusikanaya kepada perminat. Kalau kaum lelaki pada musim
hujan mempersiapkan ladang untuk ditanami, membuat pagar, menebang
pohon untuk keperluan rumah, membuat alat-alat tajam dan kerangka rumah,
maka kaum perempuan menanam benih, mengurus padi dan ternak,
memanen, meganyam tikar, mengumpulkaan kayu untuk bahan bakar,
mengumpulkan siput di pantai, menenun dan membuat berbagai alat rumah
tangga. Alat yang dipergunakan dalam sistem pertanian yaitu pacul, linggis,
sekop dan tugal.
.
5. Kesenian
Orang Sawu hidup dan upacara yang satu ke upacara yang lainnya.Tani
Pedea di antaranya adalah tarian yang digelar pada acara pengantaran
lambang panen (hole). Acra mi biasanya diselenggarakan setelah acara
sabung ayam.
Kain tenun dani Sawu dikenal dengan keindahannya. Tenun Sawu
dipergunakan pada upacara kesenian, perkawinan, dan upacara adat lainnya.
Menenun adalah keahlian turun temurun kaum pirempuan.

5.8 KEBUDAYAAN DAYAK


1. Keadaan Geografis
Suku Dayak berdiam di Propinsi Kalimantan Tengah. Mereka berdiam di
sepanjang sungai besar dan kecil, seperti sungai barito, Kapuas, kahyan,
katingan, mentayan, dan seruyan. Dulu, mereka berdiam di pinggir pantai,
tapi karena terdesak oleh para pendatang dan bermacam-macam sebab,
mereka akhirnya semakin menjauh ke pedalaman sungai. Karena itu, sungai
hulu. Rumah suku dayak dibangun sejajar dengan sungai atau jalan yang
73

juga sejajar dengan sungai. Sungai adalah prasarana transportasi yang sangat
penting.
Luas Propinsi Kalimantan Tengah secara keseluruhan adalah 153.800
km2, dengan jumlah penduduk tahun 1990 sebanyak 1,4 juta jiwa. Daerahnya
berbatasan dengan Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Kalimantan
Selatan di sebelah barat, utara dan timur. Laut Jawa di bagian selatannya.
Sebelah utara dan barat dibatasi oleh Pegunungan Muller Schwaaner,
sedangkan di sebelah timur dengan Peg. Muller. Sebagian besar wilayahnya
berupa dataran yang sangat luas dan masih berupa hutan tropis.
Menurut Musdi Umberan. dan kawan kawan (1994) dalam bukunya
Sejarah Kebudayaan Kalimantan yang diterbitkan oleh Depdikbud, Suku
Dayak dapat dibagi atas beberapa kelompok yaitu:
1. Ngaju, terbagi atas 4 sub suku, dan terabagi lagi menjadi 9 suku
kekeluargaan,
2. Apu Kayan, terbagi atas 3 anak suku, masing-masing terbagi lagi menjadi
3, dan terbagi lagi menjadi 60 suku kekeluargaan,
3. Iban, terbagi menjadi 11 anak suku,
4. Klemantan, terbagi menjadi 2 anak suku, dan terbagi lagi menjadi 87 suku
kekeluargaan,
5. Murut, terbagi menjadi anak suku dan terbagi lagi menjadi 44 suku
kekeluargaan,
6. Punan terbagi rpenjadi 52 anak suku,
7. Ot Danum terbagi menjadi 61 anak suku.
Dengan demikian Suku Dayak itu terbagi menjadi 405 sub suku yang
tersebar di seluruh P. Kalimantan.
1. mata pencaharian berladang,
2. pengaturan garis keturunan bersifat ambilinial,
3. peralatan yang digunakan hampir sama seperti parang (mandau) dan supit
(sipet),
4. Dasar kepercayaannya adalah perpaduan kepercayaan terhadap roh.
halus, roh nenek moyang, kekuatan gaib dandewa,
5. Waktu pelaksanaan dan perlengkapan upacara selalu bersamaan.
Suku Dayak Ngaju adalah suku yang paling maju bila dibandingkan dengan
lainnya. Dayak yang berdiam di daerah pinggir pantai banyak yang sudah
mengIami perubahan kebudayaan, akibat akulturasi dengan suku pendatang
seperti Bugis, Makasar, Madura, dan Cina.
2. Sistem Kepercayaan
Sistem kepercayaan Suku Dayak adalah perpaduan antara kepercayaan
terhadap roh halus, roh nenek moyang, kekuatan gaib dan desa. Kepercayaan
itu disebut Kaharingan.
Guci seringkali dianggap mempunyai kekuatan gaib karena itu selalu
diperlakukan istimewa dan mempunyai kedudukan penting dalam upacara
adat. Guci disimpan dalam setiap rumah, diberi baju, dan diperlakukan
sebagai benda bernyawa. Benda lain yang dianggap keramat atau punya
kekuatan gaib lainnya adalah senjata, gong, pantak, mandau, batu besar,
74

pohon, binatang tertentu dan lain-lain. Kuku kepala, rambut dan bagian
tumbuh lainnya pun di anggap mempunyai kekuatan gaib. Rambut manusia
pun seringkali dianggap mempunyai kekuatan. Oleh karena itu. sering dipakai
sebagai hiasan hulu mandau (sejenis senjata).
Menurut kepercayaan orang Dayak asli, dunia ini penuh dengan
makhluk halus. Makhluk itu disebut ganan. Yang berada di tanah, di udara
disebut sangiang, di batu disebut timang, di bunga disebut tondoi, di pohon
disebut kujang, di mandau disebut longit, di rumah dan masih banyak lagi.
Makhluk halus itu ada yang suka mengganggu manusia seperti jin, hantu,
setan dan iblis, ada pula yang suka membantu manusia seperti sangiang.
naju, dan jusus. Untuk menghormati makhluk tersebut mereka sering
memberikan sesaji dan kadangkadang menyembelih binatang kurban. Di
depan pintu keluar, di gantungkan mangkuk atau botol yang diberi silang
putih berisi air sebagai tolak baja.
Orang Dayak pun sangat menghormati roh nenek rnoyang mereka.
Mereka percaya roh itu tetap ada di sekitar rnereka dan melihat setiap
perbuatan rnereka Oleh karena itu, mereka pun sering meminta rezeki,
panjang urnur, dan minta tolong kepada roh tersebut untuk dijauhkan dan
segala bahaya. Tengkorak nenek moyang disimpan di bubungan rumah atau di
tempat tertentu. Di bawahnya sering diberi sesaji dan dibakar kemenyan.
Mereka beranggapan bahwa orang meninggal tidak Iangsung mencapai dewa
tertinggi (ranying) tapi berdiam dulu dengan sesarna manusia.
Orang yang meninggal akan disimpan dalam peti. Setelah menjadi
tulang belulang, baru diadakan pembakaran mayat. Upacara pernbakaian mi
disebut tiwah oleh suku Ngaju, daro Ot Danum atau ijambe oleh Maayan.
Upacara pembakaran mayat diselenggarakan secara besar-besaran dan
membutuhkan biaya yang sangat tinggi. Karena seringkali dilaksanakan
secara massal, beberapa jenazah seketurunan dalam waktu tertentu dibakar
secara bersama-sama. Biasanya 7 atau 8 tahun sekali. Abu jenazah disimpan
dalam bangunan indah yang disebut iambak. Para balian (ahli upacara) saat
upacara pembakaran mayat menyanyikan bermacam nyanyian bersifat
mitologi dan menguraikan silsilah keluarga secara panjang lebar.
Mereka pun percaya kepada dewa. Dewa mempunyai tugas dan
kekuatan
masingmasiag.
Pada
setiap
peristiwa,
mereka
selalu
menghubungkannya dengan kekuatan dewa. Seperti Dewa Bumi, Dewa Hujan,
Dewa Halilintar, dan sebagainya. Mereka pun percaya akan adanya dewa
tertinggi (ranying), tapi dalam kesehariannya jarang sekali ada upacara yang
berhubungan dengan penyembahan dewa-dewa tersebut. Upacara-upacara
kelahiran, pemotongan rambut bayi, menindik anak (melobangi telinga untuk
anting), kematian, penguburan mayat dan sebagainya selalu dihubungkan
dengan kepercayaan kepada ruh.

3. Sistem Kekerabatan
Orang Dayak menganut sistem kekerabatan ambilinial, yaitu sebagian
kelompok garis keturunan diperhitungkan menurut ayah dan sebagian
kelompok lagi menurut garis ketururnan ibu. Mereka yang baru nikah pun
dapat tinggal di rumah orang tua. Sehingga rumah betang yaitu rumah asli
75

suku Dayak yang berbentuk persegi panjang mempunyai banyak kamar.


Bahkan, ada yang mencapai 50 kamar. Di sana tinggal anak-anaknya, laki-laki,
dan perempuan yang sudah menikah beserta cucu-cucunya.
Perkawinara adalah peristiwa penting dalam kehidupan masyarakat
Dayak. Perkawinan ideal adalah antara dua sepupu yang kakeknya saudara
kandung (disebut hajenan), dan sepupu yang ibunya saudara kandung.
Perkawinan yang dianggap sangat memalukan adalah perkawinan antara
gadis dengan mamaknya. Perkawinan ini akan mendatangkan tulah atau
bencana besar. Keduanya akan dihukum adat berupa makan di dulang babi
sambil merangkak dan ditonton oleh warga desa yang sengaja diundang.
Suku Dayak umumnya memberikan kebebasan kepada anak-anaknya
untuk memilih jodoh. Akan tetapi kalau ada seorang gadis dengan laki-laki
ngobol mereka tidak boleh berduaan harus, ada pihak ketiga. Demikian pula
laki-laki atau perempuan yang sudah bersuami atau beristri. Kalau hal itu
terjadi akan diberi sanksi adat.
Dulu, perjodohan anak di tangan orang tua. Pada saat pemuda umur 20
tahun atau gadis umur 18 tahun akan dicarikan jodoh oleh orang tuanya.
Diawali dengan pengiriman hakumbang auch (Ngaju) yaitu melamar dengan
membawa uang dan pihak laki-laki ke perempuan. Selama beberapa waktu,
pihak perernpuan diberi kesempatan untuk menilal calon menantunya. Apakah
dan keturunan baik-baik atau tidak. Kalau dianggap tidak memenuhi syarat
uang hakumbang auch akan dikembalikan. Bila setuju dilanjutkan dengan
acara perundingan. Dalam acara perundingan itu diserahkan kenangkenangan berupa bahalai (sarung panjang untuk wanita), bahan kain, minyak
wangi, cincin emas dan barang-barang lainnya sesuai dengan kemampuan
pihak laki-laki. Saat itu dirundingkan tentang mas kawin, biaya perkawinan
dan hari perkawinan. Perkawinan dapat gagal kalau tidak ada persetujuan
mengenai mas kawin. Sebaliknya di daerah Ngaju, uang mas kawin (pataku)
dapat dikembalikan kalau suami berkelakuan tidak baik. Selain itu pihak lakilaki pun harus menyediakan saput, yaitu kenang-kenangan kepada kakak lakilaki gadis, dan kakak perempuan gadis kalau ada yang belum nikah.
Selain itu, dalam suku Dayak mengenal kawin Ian (ijari) di mana atas
kesepakatan berdua sepakat untuk kawin. Mereka dengan datang ke rumah
penghulu atau ke rumah tokoh masyarakat untuk minta dinikahkan. Pesta
perkawian diselenggarakan kalau mereka sudah punya biaya. Binatang yang
umum disembelih pada upacara perkawinan adalah babi. Penyembelihan
ayam pada upacara tersebutdianggap menghina.
Suku Dayak umumnya penganut monogami. Perceraian terjadi kalau
salah satu pihak ada yang menyeleweng. Kemandulan bukan alasan
perceraian, karena pengadopsian anak sudah diterima secara luas oleh suku
Dayak.
4. Sistem Ekonomi
Berladang adalah mata pencaharian utama suku Dayak. Cara berladang
hampir sama dengan tempat lainnya di Indonesia. Membuka ladang umumnya
dilakukan pada bulan Mei dan Juli. Penebangan hutan dan pembersihan ladang
umumnya dilakukan secara gotong royong oleh 12 sampai 15 orang. Bulan
Agustus sampai September, ladang dibersihkan dengan cara membakar
76

ranting dan daun-daunnya. Abu basil pembakaran tersebut ditaburkan sebagai


pupuk. Awal musim hujan biasanya Oktober, ladang mulai ditanami. Laki-laki
membuat lubang dengan tugal, dan perempuan berada di belakangnya untuk
memasukkan benih.
Selama masa tumbuh tanaman ladang itu dijaga oleh keluarga. Mereka
tinggal di rumah ladang (dangau); Untuk menghindari binatang penganggu
seperti babi, rusa dan kera. Mereka membuat perangkap dengan panah atau
tombak yang diberi racun. Pada bulan Februari atau Maret mereka mulai
panen. Jenis tanaman yang di usahakan selain padi, juga upi, keladi, buahbuahan dan sayuran.
Berburu binatang seperti rusa dan babi hutan, meramu hasil hutan
seperti rotan dan karet, menangkap ikan dan mendulang emas di sungai
adalah pekerjaan yang banyak dilakukan oleh suku Dayak. Kaum perempuan
biasanya menganyam tikar, keranjang, topi dan menenun.
Mandau, yaitu senjata khas orang Dayak. Dibuat dan lempengan besi
yang berbentuk pipih panjang seperti parang, bemujung runcing, dan bagian
atasnya berlekuk datar. Sisi bagian dalam diasah tajam, sedangkan bagian
luar sedikit tebal dan tumpul. Gagang mandau dibuat dari kulit rusa dan diukir
indah. Mandau memakai sarung yang dibuat dari kulit, dilapisi tulang, dan
bagian tengahnya dililit dengan rotan sebagai penguat. Sumpitan (sipet)
adalah senjata khas lainnya. Dipergunakan untuk berburu atau berperang.
Berbentuk bulat dan berlubang di tengahnya dengan diameter 1 cm dengan
panjang sekitar 2 meter. Anak supitan dibuat dari bambu, ujungnya runcins
dan diberi racun. Cara rnenggunakannya di masukkan ke sumpitan dan ditiup.
Blantik, senapan lantak, tangkin adalah senjata lainnya yang digunakan untuk
memotong dan berburu.
5. Sistem Kesenian
Sistem kesenian masyarakat Dayak beranekaragam yang paling
terkenal adalah sastra lisan. Menurut isinya, sastra lisan Dayak. terbagi atas 4
kelompok yaitu:
1. Kesusastraan suci atau sastra kaharingan, seperti kisah Tempun Telon,
Balian Hantera dan Tandak-Tndak Sangen;
2. Epos sejarah yaitu hikayat pahiawan, seperti Tambun Bungai;
3. Sansaaa, cerita tentang tokoh-tokh terkemuka seperti Sasana Bandar;
4. Cerita-cerita jenaka seperti Bapa. Paluy, Sangumang dan sebagainya.
Seni ukir tampak pada patung kayu yang dipergunakan pada upacara
panen, ukiran gagang mandau, seni arsitektur pada rumah, dan topengtopeng penolak bala. Lukisan pada tubuh (tato), dinding, pakaian, dan manikmanik pada kalung, gelang, cincin, pakaian adat, dan sebagainya. Cerminan
akan tinggniya pengertian suku Dayak terhadap seni lukis, pada awalnya
mempunyai kaitan erat dengan sistem kepercayaan mereka.
Demikian pula dengan seni tari, seni musik, dan seni drama. Di
pengaruhi oleh kehidupan ritual dan adat suku Dayak. Seperti tari Giring,
Kenyah, Manasay dan Kanjan. Musik pengiringnya berupa gong. Tari Gantar
adalah tarian untuk menyambut tamu. Tari ini mencerminkan cara menanam
tanaman berupa biji-bijian.
77

5.9 KEBUDAYAAN BUGIS DAN MAKASAR


1. Keadaan Geografis
Suku Bugis dan Makasar berdiam di Propinsi Sulawesi Selatan. Sulawesi
Selatan ini sebetulnya dihuni pula oleh suku lain yaitu Mandar dan Toraja.
Akan tetapi, orang Bugis dan Makasar lah yang paling banyak. Orang Bugis,
Makasar, dan Mandar berdiam di daerah pesisir, kebudayaannya banyak
memiliki persamaan. Oleh karena itu, orang sering mengatakan orang Bugis
Makasar saja. Orang Toraja berdiam di daerah pedalaman bahkan ada yang
termasuk Sulawesi Tengah. Kebudayaannya agak berbeda.
-

Secara geografis, Propinsi Sulawesi Selatan berbatasan dengan:


Propinsi Sulawesi Tengah di sebelah utara,
Propinsi Sulawesi Tenggara dan teluk Bone di sebelah timur,
Laut Flores di sebelah selatan, dan
Selat Makasar di sebelah barat.

Luas keseluruhannya mencapai 62.482 km2. Jumlah penduduknya secara


keseluruhan pada tahun 1990 adalah 6,98 juta orang. Orang Bugis banyak
berdiam di Kabupaten Bulukumba, Soppeng, Sinjai, Bone, Wajo, DidenrengRappang, Pinreng, Polewali Mamasa, En rekeng, Luwu, Pare-Pare, Barru,
Pangkajene dan Maros. Sedangkan orang Makasar di Gowa Takalar, Jeneponto,
Bantaeng, Maros dan Pangkajene.
Di sebelah utara wilayahnya merupakan pegunungan. Di bagian tengah
semenanjung terdapat pegunungan yang membujur dari utara ke selatan,
sehingga membentuk dataran pantai yang sempit di sebelah barat dan
timurnya. Di sela pegunungan terdapat danau seperti DanauTempe, Matana
dan Tewuti.
Bahasa yang dipergunakan oleh orang Bugis adalah Ugi, sedangkan
orang Makasar adalah Mangasara. Keduanya mempergunakan aksara lontara.
2. Sistem Kepercayaan
Orang Bugis dan Makasar sebagian besar (90%) beragama Islam sehingga
norma dan tata cara melakukan upacara diwarnai oleh agama tersebut. Dulu
sebelum kedatangan agama Islam. Kehidupan sehari harinya terikat pada
sistem norma & adat yang dinilai keramat atau sakral. Kumpulan sistem
norma tersebut dikenal dengan pannga-derreng atau panngadakkang
(Makasar). Sistem keramat itu berdasarkan 5 unsur pokok, yaitu sebagai
berikut.
1.

Ade (ada dalam Bahasa Makasar), terdiri dari 2 bagian yaitu:


a. Ade akkalabinengeng: norma mengenai pengaturan perkawiran, sistem
kekerabatan, hak, dan kewajiban rumab tangga, serta sopan santun
antar kaum kerabat;
b. Ade Tana: norma mengenai pemerintahan negara, adat, dan tata
negara. Pembinaan ade dilakukan oleh pejabat adat yang disebut
pakka-tenni ade, puang ade, pampawa ad dan parewa ade.
2.
Bicara: segala sesuatu yang berhubungan dengan pengadilan, seperti
hak dan kewajiban harus dilakukan oleh seorang penggugat dan
sebagainya.
3.
Rappang: hukum adat, sifatnya tidak tertulis dan berhubungan dengan
berbagai aspek kehidupan;
4.
Wari aturan tentang pengelompokkan benda dan peristiwa berdasarkan
kegunaannya, susunannya dan peletakannya dalam setiap upacara.
78

Seperti di mana raja harus duduk, benda pelengkap raja itu apa saja, dan
harus disimpan di sebelah mana.
5.
Sara: berhubungan dengan hokum-hukum Islam yang menjadi
pelengkap ke empat aturan tersebut di atas.
Sistem kepercayaannya sebelum Islam datang adalah Sure Galigo yang
mengandung kepercayaan pada dewa tunggal, hal ini tercermin dari ungkapan
Dewata seuwae (dewa ang tunggal).
Pemujaan terhadap roh nenek moyang, juga pernah berkembang. Hal
ini dapat dilihat dari adanya pemeliharaan tempat keramat (saukeng),
upacara turun ke sawah, pemilihan tempat untuk rumah, mendirikan tunah,
dan sebagainya. Konsep yang sifatnya turun menurun, hasil perpaduan antara
unsur pangadereng yang banyak mempengaruhi pandangan hidup orang
Bugis dan Makasar adalah sin. Sin merupakan konsep diri yang dianut oleh
setiap orang Bugis-Makasar sehingga mempunyai daya dorong yang kuat
untuk melakukan suatu tindakan. Pengertian sin tercermin dari ungkapan
seperti:
- siri emmi rionrowang nilino: hanya untuk sinilah kita tinggal di dunia,
- mate ri sirina: mati dalam sin, atau mati untuk menegakkan martabat
diri, dianggap sesuatu yang terhormat,
- mate sin artinya mati sin, atau orang yang hilang martabat dirinya
adalah seperti bangkai hidup.
Adanya konsepsi diri ini, seringkali menimbulkan dampak negatif, seperti
bunuh membunuh, rela dibunuh atau membunuh, dengan alasan demi sin.
3. Sistem Kekerabatan
Perkawinan yang dianggap ideal menurut adat orang Bugis dan
Makasar adalah perkawinan antara saudara sepupu baik dan pihak ayah
maupun ibu. Sedangkan yang dianggap tabu atau sumbang (salimara) adalah
perkawinan antara saudara dekat seperti anak dengan ibu. atau dengan ayah,
antar saudara sekandung, menantu dan mertua, cucu dengan kakek.
Perkawinan dilangsungkan melalui sederetan kegkitan yaitu berupa,
Mappucepuce yaitu suatu pemeriksaan apakah peminangan dapat dilakukan
atau tidak oleh pihak laki-laki ke perempuan yang terdiri dan beberapa
ketentuan berikut ini.
- Massuro (assuro Makasar): kunjungan pinangan, ditentukan pula hari
pernikahan, jenis mas kawin, dan biaya perkawinan.
- Madduppa (ammuntuli Makasar): pemberitahuan kepada kaum kerabat
bahwa upacara perkawinan akan diselenggarakan.
- Mappuenre balanja: pada hari perkawinan, rombongan kerabat laki-laki
datang ke rumah perempuan dengan membawa mas kawin, macammacam barang dan makanan.
- Agaukeng (pagaukang Makasar):. penyelenggaraan pesta perkawinan,
kaum kerabat dan para tamu menyerahkan kado atau uang (soloreng).

- Setelah pernikahan selesai, pengantin mengunjungi orang tua suami


dengan membawa bermacam-macam oleh-oleh dan tinggal untuk
beberapa lama di keluarga suami.
- Pergi ke orang tua istri juga membawa berbagai hadiah.
- Nalaoanni: tinggal di rumah baru sebagai tanda mereka sudah punya
rumah tangga sendiri.
Selain perkawinan di atas, ada juga kawin lari atau silariang. Terjadi bila
tuntutan mas kawin terlalu tinggi, biaya perkawinan terlalu tinggi, atau ditolak
lamaran laki-1aki karena alasan tertentu. Kerabat gadis akan mencari dan
79

mengejar kedua mempelai. Dalam proses pencarian tersebut (tomasiri),


mereka harus sembunyi sampai berbulanbulan. Karena kalau ditemukan,
pemudanya akan dibunuh. Penyelesaian akhir dari kawin lari tersebut adalah
mencari perlindungan pada tokoh-tokoh adat yang disegani masyarakat. Tokoh
tersebut kalau berkenan, akan mendatangi keluarga gadis dan meredakan
kemarahan kerabat gadis sehinga mereka mau menerima perkawinan
tersebut. Penerimaan pihak gadis disebut maddeceng (Bugis) atau abbadji
(Makasar).
Suku Bugis dan Makasar, berlapis-lapis yaitu lapisan atas, kaum
keturunan raja, di sebut anakarung (ana karaeng bahasa Makasar), gelaryna
Karaenta, Puatta, Andi dan Daeng. Lapisan menengah (to Maradeka) orang
merdeka, yaitu sebagian besar penduduk Sulawesi Selatan, dan ata, yaitu
para budak. Budak ini berasal dari ratupasan perang, orang yang tidak dapat
membayar hutang, atau orang yang melanggar pantangan adat. Walaupun
gelar-gelar lapisan atas tarsebut masih dipakai, tapi dalam kehidupan
masyarakat sudah bersosialisasi.
Berdasarkan lapaisan sosial di atas, rumah orang Bugis-Makasar
umumnya dapat dibedakan menjadi:
- sao raja (balla bahasa Makasar); rumahnya besar, bertingkat, dan
atapnya berusun tiga,
- sao piti (tarata bahasa Makasar): lebih kecil dan atapnya beransun dua;
- bola: rumah rakyat pada umumnya.
Rumah orang Bugis-Makasar umumnya berpanggung, bagian bawah
atau kolong dipergunakan untuk menyimpan alat pertanian dan kandang
ternak, bagian tengah untuk tempat tinggal, danbagian atas (di bawah-atap)
untuk menyimpan padi atau benda-benda pusaka. Di depan pintu rumah
depan biasanya ada teras (tamping) sebagai ruang tamu. Kumpulan rumahrumah antara 10 sampai 200 rumah disebut kampung, dikepalai oleh matowa
(jannang).
4. Sistem Ekonomi
Orang Bugis dan Makasar sejak dulu terkenal sebagai pelaut ulung
Keberaniannya dalam mengarungi lautan telah menghasilkan kebudayaan
manitim. Hukum laut yang dikenal adalah Amanna Gappa. Mereka beragang
dan mencari ikan sampai ke Srilangka (sebelah selatan India), Filipina,
Thailand, dan Malaysia. Perahu layarnya yang terkenal tangguh adalah tipe
Pinisi dan Lambo.
Mata pencaharian utama orang Bugis dan Makasar yang ada di pinggir
pantai adalah menangkap ikan dan berdagang. Tripang adalah jenis
tangkapan dan komoditinya yang utama.
Mereka yang berdiam di padalaman, hidup sebagai petani. Tata cara
bertani tidak berbeda dengan masyarakat lainnya di Indonesia. Jenis
tanamannya adalah padi dan jagung. Daerah lumbung padinya adalah Siden,
Rappang, Soppeng. Pinrang dan Wajo.
5. Kesenian
Tari-tarian yang tengolong klasik di antaranya tari Edentua, sebuah tari
perang yang dapat membangkitkan semangat. Tari Ganrang Sub adalah jenis
tarian bersuka ria untuk menyambut kedatangan tamu.Tarian rakyat yang
dimodifikasi dan sangat populer di Indonesia adalah tar mamiri, tarian yang
melukiskan kerinduan seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya.
Seni drama yang berupa. Kondo buleng (bangau putih) masih sering
dipentaskan. Sandiwara ini sering dipentaskan bersama tarian, lawakan dan
lagu-lagu.
80

Seni arsitektur Bugis dan Makasar mendapatkan pengaruh kuat dari


kebudayaan Islam. Hal ini dapat dilihat dari mesjid dan makam raja-raja. Kain
tenun sutra Bugis dan Makasar sangat terkenal karena kehalusannya. Sarung
tenun Bugis Makasar dipergunakan .untuk kaum lelaki dan perempuan

5.10 KEBUDAYAAN HALMAHERA


1. Keadaan Geografis
Pulau Halmahera adalah salah satu dari 998 buah pulau yang ada di
Propinsi Maluku. Pulau Halmahera berbentuk huruf K yang merupakan pulau
kedua terbesar di Maluku setelah Pulau Seram. Luasnya mencapai 18.000 km,
daerahnya berbatasan dengan:
- Samudera Pasifik di sebelah utara dan timur
- Laut Maluku di sebelah barat
- Laut Seram di sebelah selatan
Secara administrasi Pulau Halmahera dibagi atas dua bagian, yaitu
Kabupaten Maluku Utara bagian Semenanjung Selatan dan Utara. Ibukotanya
Ternate. Kedua semenanjung bagian tengah termasuk Kabupaten Halmahera
Tengah, ibukotanya Suasiu di Pulau Tidore.
Suku Tugutil terdapat di Pulau Halmahera bagian utara dan tengah,
tepatnya di Kecamatan Galela, Kecamatan Tobejo, Kecamatan Kao di Maluku
Utara (Pulau Halmahera bagian utara) dan di Halmahera Tengah.
Suku Tugutil umumnya hidup berpindah-pindah tempatnya di daerah
dataran sampai pegunungan. Wilayah tersebut banyak terdapat sungai dan
rawa, serta sebagian besar masih ditutupi oleh hutan. Sehingga sulit
diperkirakan jumlah penduduk yang sebenarnya. Diduga jumlahnya tidak
kurang dan 1.500 orang, menyabar membentuk kesatuan-kesatuan kecil
antara 2 sampai 7 rumah. Mereka yang hidup di daerah pinggir pantai ada
yang sudah menetap, mengikuti program permukiman yang diselenggarakan
oleh pemerintah.

2. Sistem Kepercayaan
Dasar kepercayaan suku Tugutil adalah kepada roh-roh nenek moyang.
Menurut pandangan mereka, orang yang telah meninggal rohnya akan tetap
berada di sekitar mereka. Karena itu mereka sering menyisihkan sebagian
kecil makanan di para-para (ruangan bawah atap) untuk makan roh halus.
Kadang-kadang mereka pun masak secara khusus untuk para roh leluhur.
Makhluk halus berasal dari roh yang telah meninggal itu. Roh tersebut
menempati setiap benda yang ada di sekitar mereka seperti pohon, batu,
rumah, tombak, tanah , gua, sungai dan sebagainya. Mereka memperlakukan
benda mati itu seperti manusia hidup. Karena, mereka pun percaya bahwa
benda-benda itu dapat mempengaruhi aktivitas kehidupan sehari-hari. Mereka
pun percaya akan adanya kekuatan tertinggi yang disebut jou ma datu yang
artinya tuan pemilik, atau disebut juga o gikiri moi yang artinya nyawa yang
utama. Tapi anehnya, mereka tidak pernah melakukan upacara atau kegiatan
yang berhubungan dengan penyembahan kekuatan tinggi tersebut. Upacaraupacara adat hanya ditujukan kepada penghormatan dan penyembahan ruh
leluhur. Seperti terwujud dari upacara kehamilan, kelahiran, menyembuhkan
sakit, menghadapi musuh, membuka hutan untuk ladang dan pekerjaanpekerjaan berat lainnya.
Makhluk halus yang ada di sekitar mereka dapat dikelompokkan atas dua
macam yaitu :
81

makhluk halus yang baik: berasal dari ruh leluhur (o gomanga),


terutama orang yang baik, kuat, dan luar biasa
makhluk halus yang jahat ( o hetena): berasal dari roh orang yang jahat
dan mati secara tidak wajar, seperti bunuh diri, tenggelam, jatuh,
melahirkan dan sebagainya. Mereka tergolong pada arwah penasaran.

Roh jahat ini ada tiga macam, yaitu:


a. o meki: roh jahat penghuni hutan lebih senang tinggal di pohon besar, batu
besar atau sungai yang dalam, Untuk menghindarkan pengaruh jahatnya
itu mereka harus hati-hati jangan sampai tersinggung. Mereka pun harus
minta izin dan mohon maaf kalau memasuki daerah roh halus tersebut.
b. o putiana : roh jahat wanita yang mati karena melahirkan. Ruh ini tinggal
dalam hutan dan di rumah. Ruh ini senang mengganggu wanita hamil dan
anak kecil. Karena itu, wanita hamil harus memakai jimat.
c. suanggi : roh jahat yang suka mengganggu orang tapi melalui perantara,
yaitu orang. Orang perantara itu disebut juga suanggi. Bila dalam orang
yang bertingkah laku aneh dan dicurigai sebagai suanggi maka orang itu
akan dijauhi.
3. Sistem Kekerabatan
Bila seorang gadis dan pemuda telah sepakat untuk membina rumah
tangga, pemuda akan datang ke orang tua gadis pada malam tertentu untuk
mengutarakan maksudnya. Setelah mengutarakan maksudnya itu dan mohon
izin dari orang tua gadis, mereka seterusnya dapat hidup bersama. Suami
tinggal di rumah keluarga istrinya sampai berlangsungnya upacara
perkawinan. Orang tua gadis memanggil mantu, dan pemuda harus bekerja
seperti di rumahnya sendiri. Pemuda hanya sekali-kali pulang tanpa istri,
bahkan kadang-kadang tidak pernah sama sekali. Hubungan terputus ini
tergantung kepada lamanya saat upacara perkawinan.
Upacara perkawinan diselenggarakan bila pemuda dan orang tuanya,
sudah membayar mas kawin (huba) dan sejumlah barang atau uang
tambahan sebagai o mayeke ma dadatoko (penutup malu), kepada pihak
perempuan. Kalau mas kawin dan barang itu sudah siap, mereka datang ke
pihak perempuan duduk berbadaphadapan, kemudian menyerahkan barang
tersebut dan saling berjabatan tangan. Upacara telah dianggap selesai, lalu
dilanjutkan dengan acara makan bersama diiringi dengan kesenian cakal lele
dan denge-denge.
Setelah upacara perkawinan tersebut, suami baru akan membawa
istrinya untuk menetap di kaum kerabat suami (virilokal). Pada kenyataannya,
banyak pasangan baru tinggal di kerabat istri (uxorilokal) karena keluarga istri
tidak mempunyai anak laki-laki, atau suami tidak dapat membayar mas kawin.
Orang Tugutil, melarang perkawinan kerabat dekat, yaitu dua generasi
ke atas, dan dua generasi ke bawah. Prisip perkawinan bersifat monogami.
Para perempuan Tugikil memilih lebih baik bercerai dari pada dimadu.
Perceraian bila terjadi salah satu pasangan berbuat serong.
Satu rumah dihuni oleh satu keluarga inti (o tau moi ma nyawa). Rumah
yang paling sederhana berukaran 1,5 X 2 m, diberi atap, para digunakan
sebagai tempat menyimpan sesaji dan sisi-sisinya dibiarkan terbuka. Isi rumah
hanya ada bale-bale untuk tidur, makan, menerima tamu, dan kegiatan
lainnya. Dapur hanya berupa tungku api. Rumah besar terdiri dari beberapa
gubuk tempat anak-anaknya yang belum nikah tidur dan ruangan yang agak
besar tempat menerima tamu atau menyelenggarakan upacara.
Kumpulan rumah (2 sampai 7) membentuk kesatuan permukiman.
Kesatuan permukiman ini uumunya terdapat di pinggir sungai. Kesatuan,
perukiman ini bersifat tidak tetap karena setiap keluarga inti dapat pindah
82

kapan saja. Kesatuan yang lebih luas dan lebih bersifat permanen dan suku
Tuguti1 adalah ksatuan hutan (o hongana). Dalam kehidupan sehari-hari,
mereka sering menyebet dirinya sebagai o hongana ma nyawa (orang hutan).
Secara tradisional, ada dua kesatuan hutan yaitu kesatuan hutan Tutuling dan
Dodaga.
Dalam masyarakat Tugutil tidak mengenal seorang pemumpin puncak
dan pemimpin tetap. Dalam kesatuan hutan yang terluas pun tidak
terorganisir secara nyata oleh seorang pemimpin. Dalam kehidupan seharihari, kepala keluarga inti (o domino) adalah pemimpin mereka dalam
lingkungan keluarga masing-masing. Gabungan beberapa keluarga inti yang
merasa dirinya satu asal, memilih orang yang paling senior sebagai pemimpin.
Berdasarkan kemampuan seseorang, biasanya mereka menentukan orang
yang mengurus keamanan secara umum (o kapita) dan urusan pelaksanaan
upacara adat (o adati ma). Batas kekuasan kepala urusan itu tidak tetap,
dalam satu kesatuan hukurn kadang-kadang mereka mempunyi sepasang
kepala adat.
4. Sistem Ekonomi
Mata pencaharian utama suku Tugutil adalah meramu sagu, berburu,
dan menangkap ikan. Sagu adalah makanan pokok mereka. Mereka dapat
memanfaatkan hutan sagu yang biasa di daerah hilir sungai. Babi dan rusa
adalah binatang buruan utama. Alat berburu berupa jerat, tombak, kayu atau
bambu runcing. Anjing adalah hewan penting sebagai teman berburu.
Menangkap ikan dilakukan di sungai atau rawa. Pekerjaan ini merupakan mata
pencaharian sampingan. Menangkap ikan dilakukan langsung dengan tangan,
memanah atau menombaknya sambil menyelam. Jenis binatang air lainnya
yang sering mereka tangkap adalah kerang, udang, kepiting belut dan katak.
Dalam meramu sagu, berburu atau menangkap ikan, mereka hanya
mengambil secukupnya saja untuk keperluan beberapa hari atau bahkan
hanya untuk keperluan satu hari. Karena, mereka memang belum mengenal
alat penyimpanan agar lebih tahan lama.
Orang Tugutil yang berdiam di hutan ada juga yang bertani secara
sederhana dan berpindahpindah. Jenis tanamannya adalah ubi jalar, pepaya,
tebu dan pisang. Orang yang berdiam di pinggir pantai tertentu ada yang
sulah membuka hutan untuk kebun kelapa. Tanduk rusa, telur burung, dan
damar sering mereka tukar dengan orang kampung untuk memenuhi
kebutuhan lainnya.

5.11 KEBUDAYAAN DANI


1. Keadaan Geografis
Suku Dani berdiam di Lembah Baliem Pegunungan Jaya Wijaya. Lembah
tersebut bentuknya memanjang dan barat ke timur sekitar 45 km, lebar 15
km, pada ketinggian sekitar 1600 m di atas permukaan laut. Lembah Baliem
termasuk wilayah yang subur dan ditumbuhi hutan hujan tropis yang lebat.
Sungai yang mengalir di lembah ini adalah Sungai Baliem yang
bersumber dari puncak Trikora dan Sungai Idenburg cabang dari Sungai
Membramo dan puncak Jaya Wijaya.

83

Suku Dani termasuk ras Melanesia dengan tubuh hitam, pendek, dan
tegap. Bahasa yang dipergunakan termasuk salah satu rumpun
nonAustronesia.
2. Sistem Kepercayaan
Kepercayaan utama suku Dani adalah kepada roh nenek moyang. Atau
adalah kekuatan sakti para nenek moyang yang diturunkan secara patrilinial.
Kaum wanita juga mempunyai kekuatan tersebut hanya tidak diturunkan. Atau
mempunyai kekuatan untuk menolak bahaya, penyakit, menyuburkan tanah,
memberi tenaga dan semangat hidup. Kekuatan atou teritu. Mereka
lambangkan dalam batu keramat berupa kapak lonjong disebut kaneke.
Kaneke ini disimpan dalam lemari kecil di honae laki-laki (rumah laki-laki) dan
dibungkus dengan daun, Kanee dikeluarkan pada upacara penting dan
pantang untuk dilihat oleh perempuan.
Suku Dani sangat menghormati mo atau matahari. Tapi tidak ada
upacara khusus untuk menyembah mo tersebut Mo hanya diungkapkan lewat
cerita atau dongeng suci yang digambarkan sebagai pencipta alam dan segala
isinya.
Upacara kepercayaan berhubungan dengan lingkaran kehidupan,
(kelahiran, kematian, dan perkawihan) dan upacara menjelang panen, dan
keselamatan hidup.
Pesta babi (ebe ako) adalah upacara keselamatan yang dilakukan
secara besar-besaran. Mereka memotong lebih dari 100 babi dan berton-ton
ubi dan keladi.
Upacara kematian diselenggarakan cukup besar. Orang yang telah
meninggal di dudukan pada kursi yang dihias. Para pelayat datang dengan
dilumuri oleh lumpur putih sebagai tanda berduka. Keluarga inti yang
meninggal menjalani pemotongan seruas jari mereka oleh dukun dengan
bambu. Kemudian, mereka memanggang babi dalam tanah sebagai sesaji
kepada roh yang meninggal. Sebelum dibakar, perhiasan mayat dilepas,
dilumuri lemak babi, dan dibakar. Sisa daging babi dimakan bersama-sama.
3. Sistem Kekerabatan
Suku Dani menganut sistem kekerabatan patrilinial. Mereka
memperhitungkan garis keturunan pihak ayah sampai 7 generasi. Mereka
yang memperhitungkan garis keturunan (ukul) tinggal dalam satu wilayah
secara berkelompok. Satu wilayah permukiman (uma) dihuni oleh beberapa
ukul. Penggabungan 2 ukul ini disebut ebe. Suku Dani terbagi atas 2 ebe, yaitu
ebe Waira dan ebe Wara. Perkawinan harus eksogami, yaitu dengan anggota
di luar ebenya.
Menurut mitologi, semua suku Dani berasal dari orang tua yang sama
yaitu suami istri yang mempunyai anak bernama Waita dan Wara. Orang
tuanya mengharuskan keturunan Waita untuk mencari jodoh dan keturunan
Wara. Demikian seterusnya, sehingga mereka harus menikah secara
eksogami. Proses pencarian jodoh tidak melalui proses yang rumit. Tapi
hubungan di luar nikah dianggap tidak baik. Perkawinan ganda banyak
dilakukan oleh kaum lelaki (poligini).

84

Rumah dihuni oleh beberapa keluarga batih. Saudara pria sekandung


umumnya tinggal dalam satu rumah. Pasangan yang baru nikah, membawa
istrinya untuk tinggal di kerabat suami (virilokal).
Rumah mereka berbentuk bulat, disebut honae. Dindingnya dibuat dan
kayu, atapnya dan rumput, diikat dengan rotan. Rumah tersebut berkolong
pendek, demikian pula pintunya. Sehingga, bila masuk harus merangkak. Di
rumah itulah, kaum laki-laki tidur.
Kaum perempuan dan anaknya tinggal dalam rumah khusus yang
disebut abe-abe. Kadang-kadang suami mereka pun tinggal di abe-abe. Anakanak suku Dani sampai umur 3 tahun biasanya dibawa-bawa ke kebun dengan
kantung jaring yang diikatkan pada punggung ibunya. Kalau sudah berumur 3
tahun, anak perempuan diberi baju jerami untuk menutupi bagian bawah,
sedangkan anak laki-laki dengan koteka pada alat kelaminnya. Anak laki-laki
pada umur 7 tahunan, mengadakan upacara waya hagat abin, yaitu upacara
untuk menumbuhkan semangat perang. Sejak saat itulah, anak laki-laki harus
tidur di honae. Anak perempuan tidak melaksanakan waya hagat abin. Tapi
pada saat mengalami haid pertama ada upacara hotale.
Stratifikasi sosial berdasarkan usia dan jabatan. Orang yang berusia
lanjut, biasanya punya pengalaman yang banyak dan sangat dihormati.
Pimpinan mereka pun dipilih dan para senior tersebut.
4. Sistem Ekonomi
Mata pencaharian suku Dani adalah bertani. Jenis tanamannya adalah
ubi kayu dan keladi. Kebun mereka terletak di halaman samping rumah,
kebun-kebun di daerah dataran secara menetap, dan di lereng-lereng
pegunungan secara tidak tetap.
Lahan pertanian umumnya dikuasai oleh sekelompok atau beberapa
kelompok yang mempunyai hubungan kerabatan. Batas alam seperti sungai,
lembah, gunung atau bukit menjadi batas alam lahan pertanian antar
kelompok luas lahan yang harus digarap oleh setiap orang ditentukan secara
musyawarah. Apabila ada orang luar yang ingin menggarap lahan itu, maka
dia harus memberikan upah sewa yang umumnya berupa babi.
Pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan dilakukan secara
bergiliran sesuai dengan berat ringannya pekerjaan itu. Menebang pohon,
mencangkul, dan membuat saluran air adalah tugas laki-laki, sedangkan
perempuan bertugas membersihkan lading dari sisa pembakaran,
menghancurkan gumpalan tanah menjadi gembur, menanam, memelihara
tanaman dan ternak. Babi adalah binatang ternak yang umum dipelihara.
Ternak babi mempunyai kegunaan yang banyak, seperti:
- dagingnya untuk dimakan
- tulangnya untuk perkakas dan hiasan
- darahnya dipakal untuk upacara kepercayaan
- sebagai alat tukar
- lambang perdamaian, kalau ada suku yang berselisih, sebagai lambang
perdamaian diberikan babi.
5. Kesenian
Alat kesenian yang digunakan oleh suku Dani sangat terbatas. Sejenis
harpa kecil mereka gunakan untuk mengiringi nyanyian kalau ada waktu
85

senggang. Nyanyian dan tarian sering mereka tampilkan pada upacara


kematian, mau perang dan merayakan kemenangan. Gerakan tarian hanya
melompat-lompat kecil sambil bergerak secara berputar, teriakan-teriakan
sering mereka lontarkan pada saat menari tersebut.
Suku Dani tidak banyak mengenal seni, Mereka hanya melukis atau
menghias tubuh bagi kepala suku menghias senjata dan pakaian upacara.

5.12 KEBUDAYAAN ASMAT


1. Keadaan Geografis
Berbeda dengan suku Dani, suku Asmat sangat terkenal dengan seni
patung dan seni ukirnva. Suku Asmat berdiam di pantai sebelah selatan Pulau
Irian. Tepatnya di pantai Flamingo, pantai Kasuarina, daerah hulu sungai Undir
dan Asewetsy.
Daerah pantai terdiri dari dataran yang ditumbuhi hutan yang sangat
lebat diselingi dengan rawa yang ditumbuhi oleh hutan sagu. Semakin ke
pedalaman, daerahnya berbukit sampai bergunung. Tumbuhannya makin
jarang. Hutan lebat banyak terdapat di hulu sungai. Penduduk Asmat
diperkirakan sekitar 5000 jiwa, dan umumnya dapat dibedakan atas 3
kelompok, yaitu:
1. Asmat Pantai Flamingo terdiri kelornpok Kainak, Simaj, Bisman dan
Betjebub.
2. Asmat Pantai Kasuarina terdiri dari kelompok Batia dan Sapan.
3. Asmat hulu sungai terdiri dari kelompok Keenok (Jopmagau), Kaimo dan
Pesechem.
Bahasa yang dipergunakannya sangat khas, berbeda dengan rumpun
Austronesia lainnya.
2. Sistem Kepercayaan
Orang Asmat sangat percaya, bahwa mereka adalah turunan dewa yang
turun ke dunia gaib tempat di mana matahari terbit. Oleh orang Asmat yang
berdiam di Pantai Flamingo, dewa itu disebut Fumeripitsy. Dewa nenek
moyang itu turun di pegunungan. Dalam penjalanannya ke hilir, tempat di
mana suku Asmat berdiam, banyak mengalami petualangan. Seperti diserang
oleh buaya hingga terluka. Untung, seekor burung flamingo menolongnya.
Setelah sembuh, kemudian ia membuat rumah (yew), membuat dua patung
indah dan genderang em. Kemudian, ia menari dan terus menari diiringi
genderang. Dari tariannya itu, keluar kekuatan magis yang membuat dua
patung itu menjadi hidup. Patung itulah yang menjadi nenek moyang suku
Asmat.
Orang Asmat pun percaya, bahwa roh orang yang meninggal masih tetap
berada di sekitar mereka sebelum diangkat ke dunia di ufuk timur. Roh itu
suatu saat akan hidup kembali dalam tubuh seorang bayi. Roh yang hidup di
sekitar mereka umumnya dikelompokkan atas:
86

1. yi-ow: roh yang bersifat baik, berasal dari keturunannya.


2. osbopan: roh jahat yang membawa penyakit dan bencana,
3. dambin ow: roh yang mati tidak wajar.
Untuk menghindari roh jahat tersebut, mereka harus membuat sesaji dan
melakukan serangkaian pantangan. Kepada roh yi-ow, secara berulang-ulang
diberikan sesaji. Upacara yang dilakukan untuk menghormati nenek moyang
di antaranya:
1. mbismbu yaitu. membuat patung nenek moyang yang bersusun ke
atas, sehingga berbentuk seperti tiang. Tiang itu disebut mbis,
2. yeatpokmbu, membuat dan mengukuhkan rumah yew,
3. tsymbu, membuat, dan mengukuhkan perahu lesung,
4. mbipokumbu ialah upacara topeng.
Selain upacara yang bersifat umum dan melibatkan seluruh warga desa,
ada juga upacara yang diselenggarakan oleh setiap keluarga. Sejarah
perjalanan dewa selalu diceritakan ulang, diiringi tarian dan suara genderang.

3. Sistem kekerabatan
Keluarga inti adalah dasar bagi pembentukan kelompok. Pasangan yang
baru nikah tinggal secara uxorilokal (rumah kerabat istri) atau avunkulokal
(saudara laki-laki dan pihak ibu pihak istri). Satu rumah dapat dihuni oleh
beberapa keluarga inti Sehingga, satu rumah ada 2 atau 3 keluarga senior dan
2 atau 3 keluarga yunior.
Rumah suku Asmat disebut tsyem. Tsyem merupakan rumah panggung
berukuran kecil, Di sanalah seluruh keluarga melangsungkan kegiatannya,
tempat menyimpan alat pertanian, berburu dan perang.
Di sekitar tsyem terdapat kebun-kebun kecil keluarga. Selain itu, ada
juga rumah keluarga klan yang disebut yew. Rumah ini lebih luas yang disebut
pula sebagai rumah keramat karena digunakan sebagai tempat penyimpanan
berbagai upacara kepercayaan. Yew terletak di tengah-tengah sistem.
Biasanya di antara 10 sampai 15 tsyem, ada 1 yew. Pintu yew selalu
menghadap ke laut, sungai atau danau. Jumlah perapian yang ada di yew
sama dengan jumlah keluarga inti yang ada dalam klan.
Seperti halnya suku Dani, Suku Asmat terbagi atas 2 kelompok besar
yang disebut aipem. Ketua aipem dipilih dari orang yang berani dan pandai
berperang. Antar aipem, sering menunjukkan persaingan dalam segala hal.
Sehingga, mereka selalu terdorong untuk berusaha lebih baik dan aipem
lainnya. Persaingan aipein tampak pada setiap upacara dan pesta.
4. Sistem Ekenomi
Suku Asmat yang ada di pinggir pantai hidup dan meramu saga
menangkap ikan, berburu binatang dan menanam umbiumbian, walaupun
secara kecil-kecilan di sekitar halaman rumah atau di tengah hutan. Suku
Asmat yang berdiam di daerah hulu sungai, selain berburu dan menangkap
ikan, juga menanam sagu. Alat yang dipergunakan untuk bertani tersebut
masih sederhana.
87

Ukiran dan lukisan Asmat, sekarang ini sangat terkenal di


mancanegara. Dengan semkin meluasnya lukisan dan ukiran tersebut,
diharapkan dapat membuka peluang untuk meningkatkan pendapatan
meraka.
5. Sistem Kesenian
Benda kesenian Asmat yang terkenal adalah mbis dan perisai. Mbis
adalah patung bersusun, diukir dalam sebuah batang kayu. Susunan patung
ini menunjukkan silsilah nenek moyang mereka. Tiang mbis ini sangat
berperan dalam upacara kesuburan lahan dan menolak bencana.
Perisai bergambar hiasan phallus, burung atau topeng. Perisai itu
diperkaya dengan motif-motif yang beragam tapi umumnya gambar tubuh
binatang. Diberi warna merah, putih atau hitam.
Perisai ini sudah tersebar ke berbagai negara Eropa dan Amerika,
disimpan dalam museum-museum.

RANGKUMAN - - - - -

Indonesia mempunyai keanekaragaman suku. Setiap suku mempunyai


budaya yang tersendiri. Semua itu adalah aset utama bagi pembangunan
khususnya di bidang kepariwisataan. Sebagian kecil di antaranya adalah suku
Batak di Sumatera Utara, Minangkahau di Sumatera Barat, Sunda di Jawa
Barat, Jawa di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta, Bali di Pulau Bali,
Sawu di Pulau Sawu, Dayak di Kalimantan Tengah, Bugis dan Makasar di
Sulawesi Selatan, Tugutil di Pulau Halmahera, Dani dan Asmat di Irian.
Sebagian besar suku-suku tersebut menganut sistem kekerabatan
patrilinial, kecuali Minangkabau bersifat matrilinial, Jawa dan Sunda bilinial
dan Dayak bersifat ambilinial. Mata pencaharian utama suku-suku tersebut
adalah pertanian, dan sistem pertanian yang paling sederhana yaitu
berladang sampai yang sudah mempergunakan pengairan teratur seperti
sawah. Di Irian, Halmahera, dan Sawu selain bertani secara sederhana
mereka pun menjadi peramu, pemburu, dan penangkap ikan. Beternak adalah
mata pencaharian sampingan yang dilakukan oleh semua suku-suku tersebut
di atas. Binatang ternak yang banyak dipelihara adalah kerbau, sapi, babi,
kambing dan ayam. Suku Bugle dan Makasar yang berdiam di wilayah pantai
terkenal dengan pelaut-pelaut ulung. Mereka telah menghasilkan kebudayaan
maritim yang sangat khas.
Sistem kepercayaan tradisional, umumnya adalah perpaduan antara
animisme dan dinamisme. Sistem kepercayaan ini tampak pada serangkaian
upacara yang dilakukan dalam menghadapi lingkaran kehidupan seperti
kelahiran, perkawinan, dan kematian. Selain itu, upacara adat sering dilakukan
pada saat menebang hutan untuk lahan pertanian, menanam, dan panen.
Kesenian setiap suku sangat beragam. Keanekaragam ini tampak dan
seni musik, tari sastra, ukir, lukis dan arsitektur bangunan. Kesenian tersebut
mempunyai kaitan erat dengan upacara sistem kepercayaan.

SOAL SOAL LATIHAN


A. Jawablah pertanyaan di bawah ini!
88

1. Jelaskan perbedaan sistem kekerabatan suku Batak dan Minangkabau


secara rinci serta buat bagannya?
2. Apa yang dimaksud dengan todi, sahala dan begu dalam kepercayaan
orang Batak?
3. Apa yang dimaksud dengan kindred dalam sistem kekerabatan suku Sunda
dan Jawa?
4. Apa yang dimaksud dengan subak, banjar dan seka dalam suku Bali?
5. Bagaimana konsep kepercayaan suku Tugutil dan macam-macam roh yang
mereka yakini keberadaannya?
6. Jelaskan tentang sistem penanggalan orang Jawa yang berkaitan dengan
usaha bercocok tanam?
7. Jelaskan 5 unsur pokok yang dijadikan acuan dalam sistem norma dan
dianggap keramat oleh suku Bugis dan Makasar?
8. Bagaimana mitologi suku Asmat tentang nenek moyang mereka?
9. Apa yang dimaksud dengan kepercayaan Kaharingan pada suku Dayak?
10.Upacara- upacara apa saja yang dilakukan oleh orang Sawu dan siapa
pemimpin upacaranya?
B. Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar!
1. Di bawah ini terdapat sub suku Batak, kecuali
a. Pakpak
c.Simalungun
b. Karo
d. Samosir

e. Angkola

2. Kesatuan toritorial suku Batak disebut


a. huta
c. klan
b. marga
d. muta

e. todi

3. Sistem gotong royong dalam suku Batak Karo dikenal dengan istilah
a.raroa
c. panjaen
b.marsiurupan
d. pauseang
e. mangalua
4. Sistem kekerabatan suku Minangkabau ditelusuri secara
a. patrilineal
c. bilinial
b.matrilineal
d. ambilinial
e. unilinial
5. Rumah khas suku Minang adalah
a. piliang
c. gadang
b. tabuik
d. rangkiang

e. ninik mamak

6. Tarian khas suku Minang yang sangat terkenal di antaranya


a. tortor
c. piring
b. sedate
d. tabuik
e.saluang
7. Upacara tradisional suku Sunda yang mendapat pengaruh kuat dari
kepercayaan agama Islam adalah dalam acara
a. syukuran
c. melahirkan
b. 7 bulanan
d. menanam padi
e.
ngeuyeuk
seureuh
8. Sebutan untuk turunan ke tujuh dan suku Sunda adalah
a. kolot
c. janggawareng
b. buyut
d. bao
e. gantungsiwur
89

9. Bahasa Sunda yang terkenal sangat halus terdapat di daerah


a. Pandeglang
c. banten
b. Cirebon
d.cianjur
e. bandung
10.Sistem kekerabatan orang Sunda bersifat
a. patrilineal
c. ambilinial
b. matrilineal
d. unilinial

e. bilinial

11.Bahasa yang dipergunakan oleh kerabat raja dalam suku Jawa adalah
a. krama inggil
c. krama desa
b. krama kedaton
d.krama ngoko
e.krama sepuh
12.Percampuran antara kebudayaan Islam dengan kepercayaan dinamisme
tampak pada acara
a. Kejawen
c. pujan
b. Kasodo
d. sekaten
e. memedi
13.Rumah yang dihuni oleh kaum bangsawan Jawa umumnya berbentuk .
a. Srontong
c. joglo
b. Limas
d. gajah mendeem e.julang mapak
14.Mata pencaharian penduduk suku Jawa, sebagian besar adalah pertanian,
hal ini didukung oleh faktor di bawah ini, kecuali
a. tanahnya subur
c. pengairan teratur
b. banyak curah hujan
d. penduduk banyak
c. dataran aluvial cukup luas
15.Upacara yang berhubungan dengan penghormatan kepada roh leluhur,
dilakukan pada upacara
a. manusia yadnya
c. dewa yadnya
b. pitra yadnya
d. resi yadnya
e. buta yadnya
16.Bila pasangan yang baru nikah tinggal secara uxorilokal, maka garis
keturunan diperhitungkan menurut
a. Patrilineal
c. ambilinial
b. Matrilineal
d. bilinial
e. unilinial
17.Kesatuan tempat tinggal yang dapat mencerminkan satu kesatuan adat
dikenal dengan istilah
a. Subak
c. seka
b. Banjar
d. dadia
e. sanggah
18.Di bawah ini adalah mata pencaharian yang banyak dilakukan oleh suku
Sawu, kecuali
a. Lading
c. menyadap nira
b. meramu kerang
d. sawah
e. beternak
19.Upacara adat di Sawu dipimpin oleh Imam Laki-Laki yang Tujuh (Ratu Mone
Pidu), salah satunya adalah Dewa Tanah yang memimpin upacara ..
a. musim hujan
c. menghapus kemalangan
b. musim kemarau
d. peperangan
e. labuh laut
20.Walaupun suku Dayak dapat dibagi atas 405 sub suku, tapi umumnya
mempunyai kesamaan budaya. Persamaan tersebut terdapat di bawah ini
kecuali .
90

a. menganut poligini
d. senjata mandau dan sumpit
b. mata pencaharian bertanie. kepercayaan kaharingan
c. kekerabatan ambilinial
21.Perkawinan yang dianggap ideal oleh suku Dayak adalah antara dua
sepupu yang kakeknya saudara sekandung, disebut dengan.
a. Ranying
c. danum
b. Murut
d. hajenan
e. ijari
22.Tidak mempunyai anak atau kemanduan bukan alasan untuk terjadinya
perceraian pada suku Dayak, karena.
a. peranan anak dalam keluarga tidak penting
b. mereka menyukai poligini
c. orientasi kehidupan pada masa lalu (ruh leluhur)
d. upacara kelahiran membutuhkan banyak biaya
e. pengadopsian anak sudah diterima secara luas
23.Di bawah ini terdapat suku-suku yang berdiam di Sulawesi Selatan kecuali
.
a. Bugis
c. Toraja
b. Mandar
d. Makasar
e. Minahasa
24.Sistem norma adat yang dianggap keramat bagi suku Bugis dan Makasar
adalah
a. Siri
c. panngaderreng
b. Maddereng
d. sao piti
e.rappang
25.Mata pencaharian utama mata pencaharian suku Bugis dan Makasar yang
ada di pinggir pantai adalah
a. peramu tripang
d. nelayan dan berdagang
b. nelayan dan bertani
e. bertani dan berdagang
c. nelayan dan berburu
26.Kepercayaan utama suku Tugutil di Halmahera adalah kepada
A. Dewa
c. benda keramat
B. roh leluhur
d. dedemit
e. patung mbis
27.Bila seorang suami belum membayar mas kawin, maka pasangan yang
baru nikah dalam suku Tugutil tinggal secara
a. Virilokal
c. uxorilokal
b. Ambilokal
d. patrilokal
e. neolokal
28. Suku Asmat sanga terkenal di dunia karena.
a. Kotekanya
c. Ukirannya
b. Hanoenya
d. keprimitifan teknologinya
tariannya

e. keanekaragaman

29. Patung bersusun yang mencerminkan urutan nenek moyang mereka,


dikenal
dengan tiang
a. kayu
c. Yew
b. mbis
d. Tysem
e. osbopan
30.Kalau suku Asmat berdiam di daerah pantai. maka suku Dani berada di
Pegunungan Jaya Wijaya, yaitu di lembah
91

a. Flamingo
b. Kasuarina

BA
B
VI

c. Baliem
d. Kaimo

e. Undir

PENELITIAN ETNOGRAFI

6.1. Pengertian Penelitian Etnografi


Penelitian merupakan salah satu cara untuk memenuhi keingintahuan
manusia terhadap sesuatu. Tujuan utama penelitian adalah untuk menemukan
kebenaran dan kejelasan tentang sesuatu masalah. Oleh karena itu penelitian
dilakukan harus secara sistematis, hati-hati, mempergunakan pemikiran yang
kritis, dan cara atau metode tertentu.
Menurut kamus Webster, penelitian adalah penyelidikan yang hati-hati
dan kritis untuk mencari fakta dan prinsip. Sedangkan Whitney
mengemukakan bahwa penelitian adalah pencarian sesuatu secara sistematis
untuk memecahkan suatu masalah. Winarno Surakhmad (1980), lebih jauh
menjelaskan bahwa:
- penyelidikan adalah kegiatan ilmiah mengumpulkan pengetahuan baru
dari sumber-sumber primer;
- penelitian mempergunakan teknik-teknik yang teliti dan sistematis;
- penelitian berhubungan dengan mengolah dan mengorganisir data;
92

penelitian dilaporkan secara logis, mengandung penjelasan, penjelasan


hasil di lapangan dan kesimpulan.

Dengan demikian, penelitian. Etnografi berarti kegiatan yang dilakukan


secara sistematis, hati-hati, da kritis untuk memperoleh data tentang
kebudayaan suatu masyarakat.
Metode yang dipergunakan adalah metode deskriptif yaitu
mendeskripsikan atau menguraikan, menggambarkan secara rinci dan faktual
tentang kebudayaan yang dianut oleh suatu masyarakat. Teknik yang
dipergunakan dalam metode deskriptif dapat berupa:
1. survai: penyelidikan yang diadakan untuk mencari keterangan-keterangan
atau penjelasan-penjelasan secara faktual tentang kebudayaan suatu
kelompok masyarakat. Informasi diperoleh melalui wawancara dari
sejumlah orang yang dianggap dapat mewakili keseluruhan masyarakat
(sampel).
2. deskriptif kesinambungan: penyelidikan yang dilakukan secara terus
menerus, untuk mengetahui perkembangan suatu aspek kebudayaan dari
satu periode ke periode berikutnya.
3. studi kasus: mempelajari kebudayaan masyarakat secara mendalam
(intensif) dan rinci. Penelitian ini membutuhkan waktu yang relatif lama
dan peneliti umumnya berpartisipasi secara langsung dalam kehidupan
suatu masyarakat. Untuk lebih intensifnya penelitian, obyek penelitian
biasanya dibatasi pada salah satu unsur budaya saja. Dari penelitian ini
akan ditarik kesimpukan-kesimpulan yang berlaku secara umum.
Dalam melakukan penelitian, seorang peneliti harus mempunyai sikap
dan pengetahuan seperti di bawah ini:
1. dapat bekerjasama, baik dengan sesama teman maupun dengan anggota
masyarakat yang sedang diteliti,
2. sehat dan bersemangat,
3. konsentrasi harus tinggi dan semangat nya harus tetap (konsisten) tidak
cepat bosan atau jenuh,.
4. sehat fisik, sabar dan tekun dalam mencari data,
5. mempunyai daya ingat dan daya nalar yang cukup, agar dapat
menangkap, merekam, menginterpretasi, dan menyimpulkan semua
permasalahan yang sedang diamati secara cermat,
6. jujur, bertanggung jawab dan bermoral tinggi,
7. objektif, mencatat, dan menafsirkan data apa adanya, serta tidak bersifat
etnosentrisme, yaitu mengukur kebudayaan suatu masyarakat dengan
ukuran atau acuan kebudayaan sendiri.
6.2. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Data Etnografi dapat dikumpulkan melalui dua cara, yaitu di
perpustakaan dan di lapangan:
a. Studi perpustakaan (library study): bertujuan untuk memperoleh
gambaran secara teoritis tentang kebudayaan suatu masyarakat yang
akan kita jadikan obyek penelitian. Dengan berbekal pengetahuan itu,
kita dapat menyesuaikan diri (beradaptasi) dengan masyarakat
tersebut di lapangan dan mempersiapkan alat-alat yang dipergunakan
di lapangan, khususnya alat wawancara, observasi, dan peta
perjalanan.
b. Studi lapangan (field study): dapat dilakukan melalui :
- Observasi, yaitu mengamati secara langsung terhadap kehidupan
suatu masyarakat dengan mempergunakaa alat indera. Termasuk di
93

dalamnya mengamati keadaan alam, hasil-hasil kebudayaan yang


bersifat material, aktivitas yang dilakukan, cara-cara dalam
melakukan suatu kegiatan dan sebagainya.
Wawancara : berkomunikasi secara langsung dengan tokoh dan
anggota masyarakat.

Agar penelitian terarah, diperlukan alat yang sudah dipersiapkan


sebelumnya Alat tersebut dapat berupa:
1. Pedoman Observasi
Berisi unsur-unsur yang harus diamati dan diisi di lapangan. Untuk
mengisi daftar observasi ini, kita tidak hanya terpaku kepada data yang
bersifat primer saja, tapi dapat diisi dari laporan kepala desa yang berupa
monografi desa. Monografi desa adalah gambaran tentang kondisi alam dan
penduduk suatu desa. Setiap desa mempunyai catatan tersebut.
Contoh :
A. Keadaan geografis
1. Letak
: ..
Desa
: ..
Kecamatan : ..
Kabupaten : ..
Propinsi
: ..
2. Batas wilayah
Utara
: ..
Selatan
: ..
Barat
: ..
Timur
: ..
3. Keadaan alam
a. dataran
b. perbukitan
c. pegunungan
4. Curah hujan : ..
5. Sungai yang mengalir
6. Penggunaan lahan
Sawah
: .. ha/ %
Rumah : .. ha/ %
Industri : .. ha/ %
Lain-lain : .. ha/ %

7. Mata pencaharian penduduk :


Bertani %
Berladang %
8. Jenis tanaman utama :
9. Jenis tanaman sampingan :
10.Jumlah penduduk : ..orang
11.Pertumbuhan penduduk ..%
12.Komposisi penduduk : ..
Laki-laki : ..orang
94

Perempuan : ..orang
Usia ..
13.Kepadatan penduduk : .
14.Penyebaran penduduk : .
II. Perumahan
1. Penyebaran rumah : mengelompok, memanjang, dan menyebar
2. Bahan untuk membuat rumah :..
3. Bentuk rumah bubungan (atap) .
Lantai : panggung/bukan
4. Orientasi bangunan rumah: memanjang barat-timur, utara-selatan,
tidak beraturan dan seterusnya,
5. Tata ruang rumah (buat sketsanya): ..
6. Fungsi ruangan:
7. Bangunan bukan rumah yang ada di desa dan fungsinya :
III.

Teknologi
1. Peralatan yang digunakan untuk bertani : .
2. Cara mengolah lahan, menanam, panen, penyimpanan : .
3. Pantangan-pantangan dalam bertani : .
4. Upacara yang dilakukan :
5. Peralatan rumah tangga : ..
6. Senjata :

IV.

Organisasi sosial
1. Sistem kekerabatan :
2. Istilah-istilah dalam kekerabatan :
3. Aturan perkawinan dan memilih jodoh
4. Upacara adapt dalam perkawinan :
5. Aturan tempat tinggal :
6. Sistem pengaturan kekuasaan dan nama pimpinannya :
7. Organisasi kemasyarakatan dan pimpinannya :

V.

Bahasa
1. Bahasa yang dipergunakan :
2. Penguasaan bahasa Indonesia :
3. Hubungan bahasa dengan pelapisan sosial :

VI.

Sistem pengetahuan
1. Pengetahuan tentang penciptaan alam :
2. Pengetahuan tentang musim :
3. Pengetahuan bertani dan usaha untuk mempertahankan hidup

VII. Sistem kepercayaan


1. Nama kepercayaan :
2. Upacara kepercayaan dan agama :
3. Waktu pelaksanaannya :
4. Perlengkapan yang harus ada :
5. Berbagai jenis kepercayaan yang masih dianut (misalnya roh halus,
kebendaan dan sebagainya):
95

VIII. Kesenian (jenis, peralatan dan waktu pagelarannya)


1. Seni vocal
2. Seni musik
3. Seni ukir
4. Seni sastra, cerita rakyat dsb :
5. Kerajinan tangan :
IX.

Pakaian laki-laki dan perempuan


1. Sehari-hari
2. Pakaian adat
3. Upacara adat

X.

Sejarah, asal usul masyarakat tersebut. Beberapa pantangan-pantangan


yang masih berlaku dalam bergaul, membuat rumah, bertani dan
sebagainya

Lain-lain
Sistem pengetahuan, berisi tentang wawasan atau pengetahuan
masyarakat tentang penciptaan alam semesta, makhluk hidup, macammacam penanggaian, musim, pembuatan alat-alat produksi dan pengetahuan
lainnya yang biasanya diperoleh secara turun temurun.
Kesenian yang dimiliki oleh suatu suku bangsa dapat berupa seni vokal,
seni ukir, seni tari atau seni peran. Kesenian tersebut umumnya mempunyai
kaitan erat dengan kepercayaan. Oleh karena itu, dalam membahas kesenian
tersebut, hendaknya dijelaskan pula kapan kesenian itu digelar, peralatan apa
yang khas, dan bagaimana bentuknya. Untuk memperjelas deskripsi tentang
kesenian, lampirkanlah foto atau gambar.
XI.

RANGKUMAN - - - - Penelitian bertujuan untuk mencari penjelasan dan, kebenaran tentang


suatu masalah. Oleh karena itu, harus dilakukan secara sistematis, cermat,
hati-hati dan kritis. Penelitian Etnografi, artinya kegiatan yang dilakukan
secara sistematis, hati-hati, kritis untuk memperoleh data tentang
kebudayaan suatu masyarakat.
Metode
yang
dipergunakan
adalah
deskriftif.
Teknik
yang
dipergunakannya dapat melalui survei, deskritif kesinambungan dan studi
kasus. Data dapat dikumpulkan dengan dua cara, yaitu studi literatur dan
studi lapangan. Studi lapangan dapat dilakukan melalui observasi
(pengamatan indrawi) dan wawancara, langsung dengan tokoh atau anggota
masyarakat. Untuk mengarahkan obeservasi dan wawancara dipergunakan
pedoman observasi dan wawancara.
Dalam melakukan wawancara, penanya hendaknya bersikap cermat,
jeli, jujur, objektif, konsentrasi, netral, menunjukkan perhatian yang tinggi,
ramah dan sopan. Usahakan agar responden yang ditanya agar tetap tenang,
santai, akrab, nyaman dan tidak tegang.
Kerangka laporan dapat disusun berdasarkan urutan sebagai berikut
kata pengantar, daftar isi, pendahuluan, kondisi geografi, sejarah suku
bangsa, sistem kepercayaan, teknologi, sistem ekonomi, sistem sosial, sistem
pengetahuan, kesenian, kesimpulan dan saran. Jangan lupa lampirkan pula
daftar pustaka, foto, gambar, peta dan sketsa untuk memperjelas gambaran
tentang kebudayaan.

SOAL SOAL
LATIHAN
96

A. Jawablah pertanyaan dibawah ini !


1. Apa yang dimaksud dengan penelitian Etnografi, inetode dan teknik apa
yang dapat dipergunakan?
2. Bagaimana seharusnya seorang peneliti bersikap? Baik secara umum
maupun dalam melakukan wawancara!
3. Bagaimana data dapat dikumpulkan oleh peneliti Etnografi?
4. Data apa saja yang dapat dikumpulkan melalui observasi, dan data apa
yang harus dikumpulkan melalui wawancara?
5. Buatlah 10 pertanyaan untuk diajukan kepada responden dalam
wawancara penelitian Etnografi?
6. Apa manfaat peta dan sketsa dalam penelitian Etnografi?
7. Mengapa kita perlu mengetahui kondisi geografis dalam penelitian
Etnografi?
8. Susunlah langkah-langkah penelitian Etnografi secara sistematis, baik yang
menyangkut akademis maupun teknis, di saat kita akan mengadakan
perjalanan ke suatu masyarakat di tempat yang agak jauh?
9. Buatlah proposal penelitian Etnografi yang berisi tentang latar belakang
perlunya diadakan penelitian Ftnografi ke suatu obyek, tema, tujuan,
manfaat, peserta rombongan, susunan panitia dan alokasi dananya?
10.Buatkan sistematika laporan penelitian itu secara rinci dan jelas!
B. Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar.
1. Tujuan utama penelitian Etnografi adalah untuk memperoleh gambaran
tentang
A. masalah yang dihadapi oleh suatu masyarakat
B. hambatan perubahan kebudayaan
C. gambaran faktua tentang kebudayaan suatu masyarakat
D. sejauh mana modernisasi suatu masyarakat
E. pola adaptasi masyarakat terhadap lingkungannya
2. Metode yang dipergunakan dalam penelitian Etnografi adalah
A. Evaluative
c. analitik
B. Deskriptif
d. ekperimen
e. kausalitas
3. Di bawah ini terdapat sikap yang dituntut dari seorang peneliti, kecuali
A. Jujur
c. bermoral
B. Objektif
d. etnosentris
e.
bersemangat
4. Di bawah ini terdapat manfaat studi kepustakaan, sebelum terjun ke
lapangan, kecuali
A. pedoman dalam beradaptasi
B. memberikan arah dalam membuat daftar pertanyaan
C. Penggantian observasi di lapangan
D. Memberikan gambaran umum kebudayaan
E. Mengetahui lokasi masyarakat yang akan diteliti
5. Mengamati secara langsung dengan mempergunakan alat indera disebut :
A. Interview
c. Observasi
97

B. Wawancara

d. Ekperimen

e. Uji coba

6. Dibawah ini unsur yang harus ada dalam menguraikan keadaan alam,
kecuali
A. penduduk
d. morfologi
B. letak
e. batas wilayah
C. penggunaan lahan
7. Dalam menguraikan organisasi sosial dibahas tentang unsur dibawah ini
kecuali
A. sistem kekerabatan
d. pengaturan tempat tinggal
B. sistem peralatan
e. organisasi kemasyarakatan
C. perkawinan
8. Dalam melakukan wawancara, responden harus diusahakan
A. Tenang
c. Nyaman
B. Tegang
d. Santai
e. Akrab
9. Alat yang dapat dipergunakan sebagai perekam data adalah
A. buku catatan
c. kamera
B. kuesioner
d. tape
e. cendera mata
10.Pertanyaan tertutup artinya pertanyaan yang
A. sudah ditentukan jawabannya, responden tinggal memilih
B. tidak perlu dijawab oleh responden
C. rahasia dan tidak boleh diketahui orang lain
D. diberikan dalam sampai tertutup
E. pertanyaan hanya untuk orang tertentu

DAFTAR PUSTAKA
Ember, R. Carol and Melvin Ember. 1981. Anthropology. New Jersey: Pentice
hall inc.
Ensikiopedi Nasional Indonesia. 1980. Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka.
98

Hammond, B Peter. 1978. An Introduction to cultural and social anthropology.


New York: United State of America.
Hunter, David E.K dan Philip Whitten. 1975. Anthropology contemporary
perspectives. Toronto: Little Brown and Company.
Harsoyo.1966 Pengantar Antropotogi. Bandung: Bina Cipta.
..1985. Kebudayaan Sunda. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia.
Jakarta: Djambatan.
..J. Dananjaya. 1985 Kebudayaan penduduk Kalimantan Tengah dalam
Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan
Koentjaraningrat. 1989. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.
... 1985. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.
1993. Masyarakat Terasing di Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
... 1985. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.
... 1985. Kebudayaan Penduduk Pantai Utara Irian Jaya. Kebudayaan di
Indonesia. Jakarta: Djambatan.
..1985. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.
Kessing M. Roger. 1989. Antropologi Budaya Suatu Perspektif Kontemporer
(Terjemahan). Jakarta: Erlangga.
Lewis Oscar. 1984. Kebudayaan Kemiskinan dalam Kemiskinan di Perkotaan,
(Terjemahan). Jakarta: Yayasan Obor Sinar-Kasih.
Matulada. 1985. Kebudayaan Bugis-Mahasar dalam Manusia dan Kebudayaan
di Indonesia. Jakarta: Djambatan.
Oxford Ensiklopedi Pelajar. 1995. Jakarta: PT Widyarasa.
Sumardjan, Selo dan S. Soeleman. 1964. Setangkai Bunga Sosiologi. Jakarta:
Universitas Indonesia.
World book Encyclopedia 1995. Chicago: World Book Inc.

99