Anda di halaman 1dari 49

Bagian Ilmu Kesehatan Anak

Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman

Tutorial Klinik Respirologi

Wheezing Atopi + Pertussis Like Syndrome

Disusun oleh:
Andi Amalia Nefyanti (1410029033)

Pembimbing:
dr. Hj. Sukartini, Sp. A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2015

Tutorial Klinik

Wheezing Atopi + Pertussis Like Syndrome

Sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian stase Anak


Andi Amalia Nefyanti
1410029033

Menyetujui,

dr. Hj. Sukartini, Sp. A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2015

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
segala rahmat, hidayat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
Laporan yang berjudul Wheezing Atopi + Pertussis Like Syndrome.
Penulis menyadari bahwa keberhasilan penulisan referat ini tidak lepas
dari bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan
penghargaan dan ucapan terima kasih kepada :
1. dr. Hj. Sukartini, Sp. A., sebagai dosen pembimbing klinik selama stase anak.
2. Seluruh pengajar yang telah mengajarkan ilmunya kepada penulis hingga
pendidikan saat ini.
3. Rekan sejawat dokter muda angkatan 2014 yang telah bersedia memberikan
saran dan mengajarkan ilmunya pada penulis.
4. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu oleh penulis.
Akhir kata, Tiada gading yang tak retak. Oleh karena itu, penulis
membuka diri untuk berbagai saran dan kritik yang membangun guna
memperbaiki laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semuanya.
Mei, 2015

Penulis

RESUME
Pasien masuk RS pada tanggal 3 Mei 2015 melalui Instalasi Gawat
Darurat RSU A.W. Sjahranie Samarinda dan dirawat inap di Ruangan Melati.
Identitas:
Nama
Umur
Jenis kelamin
Alamat
Tanggal masuk
No. RM

:
:
:
:
:
:

An. R.G
6 bulan
Perempuan
Jl. Gunung Lingai RT 7, Samarinda
3 Mei 2015
2015 197746

Orang tua
Ayah
Ibu

: Bpk. A.P.S (35 th, Swasta)


: Ibu. M (30 th, Ibu Rumah Tangga)

A. RESUME IGD
Subyektif:
Pasien datang dengan keluhan sesak nafas yang didahului batuk lebih dari 2
minggu SMRS.
Obyektif:
1. Tanda-tanda vital
2. Kesadaran

4. Thorax
5. Abdomen

: Nadi 108x/menit, RR:42x/menit, T: 36,1 C


: GCS E4V5M6
3. Kepala
: anemis (-|-) , ikterik (-|-), sianosis
(-), napas cuping hidung (-)
: Retraksi intercosta (+), whe (-|-), rho (+|+)
: Flat, BU(+)N, timpani, nyeri tekan (-)
6. Ekstremitas : ekstremitas superior dan inferior
akral hangat, CRT <2 detik.

Assesment:
Suspek bronkopneumonia
Planning:
Pemeriksaan penunjang
Laboratorium darah lengkap
Lab
Haemoglobin
Leukosit
Trombosit

3/5/15
12,6
27.000
430.000

Nilai normal
11-16,5 g/dl
4000-10000/
150000-450000/
4

Hematokrit
Lymph

35,8
68,4%

37,0-54,0 %
19-48%

Foto thorax AP
Penatalaksanaan
Di IGD :
Nebulisasi Nacl 2 cc setelah di nebulisasi rhonki (-/-)
Konsul Sp.A, advice di ruangan :
1. IVFD D51/4NS 700cc/24 jam
2. Inj. Ampicilin 3x225 mg
3. Inj. Dexametason 3x1,25 mg
4. Paracetamol infus 4x70 mg bila demam

B. RESUME RUANGAN
Anamnesis:
1. Keluhan Utama
Sesak
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien dibawa ke IGD karena mengalami sesak napas. Sesak napas
sudah dirasakan sejak 1 minggu SMRS. Awal mulanya pasien mengeluhkan
batuk sejak 15 hari SMRS. Batuk pasien berdahak dengan warna bening
kental. Batuk semakin memberat dan akhirnya pasien menjadi sesak napas
setiap kali batuk. Batuk dan sesak terutama timbul pada malam dan dini hari,
sehingga mengganggu tidur pasien. Pasien batuk dengan nada tinggi dan jika
batuk mata pasien sampai berair dan susah untuk mengambil napas.
Pasien mengaku sudah berobat ke dokter namun sama sekali tidak
mengalami perubahan. Pasien akhirnya pasien dibawa ke RS karena sesak
dan batuk semakin parah pada hari Minggu (3/4/15) sore . Pasien dibawa ke
IGD RSUD AW Sjahranie dan diberi pengasapan lalu dirawat inap di ruang
melati.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien belum pernah mengalami keluhan serupa sebelumnya dan
belum pernah di rawat di rumah sakit. Riwayat infeksi saluran pernapasan
disangkal oleh keluarga.
5

4. Riwayat Penyakit Keluarga


Ibu dan ayah pasien memiliki riwayat alergi debu dan dingin, ayah dan
ibu pasien mengaku setiap menghirup debu atau berada ditempat yang dingin
selalu bersin-bersin dan pilek. Riwayat keluarga dari ayah pasien sendiri
banyak yang menderita asma yakni paman dan kakek pasien. Kakak pasien
berumur 4 tahun dan baru pulang 1 minggu yang lalu dari rawat inap di ruang
melati RSUD AWS dengan diagnosis bronkopneumonia.
5. Riwayat Lingkungan
Pasien tinggal di daerah yang jauh dari jalan raya. Daerah disekitar
rumah tidak ditemukan adanya bengkel atau tempat yang berisiko tinggi
menyebabkan polusi udara. Dalam rumah ditinggali oleh 4 orang. Tidak ada
hewan peliharaan dirumah.
Kebersihan di rumah menurut pengakuan keluarga cukup bersih.
Tidak ada anggota keluarga yang merokok. Kebiasaan anggota keluarga
adalah tidur menggunakan kipas angin yang langsung diarahkan kebadan serta
penggunaan bahan kapuk dan berbulu untuk perlengkapan tidur.
Anggota keluarga dirumah atau tetangga tempat pasien bermain tidak
ada yang sedang atau sering mengalami batuk seperti yang dialami pasien.

6. Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Post Persalinan


Ibu rutin melakukan pemeriksaan ANC ke bidan dan beberapa kali
memeriksakan kehamilannya ke dr. Sp.OG. Selama hamil ibu tidak
mengalami permasalahan, demam tidak ada, hipertensi tidak ada, diabetes
tidak ada, mengkonsumsi obat-obatan atau jamu tidak ada, mengkonsumsi
alkohol dan rokok tidak pernah.
Pasien anak kedua dari dua bersaudara, lahir spontan ditolong oleh
bidan. Pasien lahir aterm dengan BB 3400 gram, langsung menangis kuat, biru
atau kuning disangkal.
7. Riwayat Makanan & Minuman
ASI diberikan dari lahir sampai umur 1 minggu. ASI dihentikan
dengan alasan produksinya tidak mencukupi lagi untuk anaknya. Akhirnya
6

mulai pasien diberikan susu formula dari umur 1 minggu sampai sekarang.
Pasien selalu meminum susu formula X dan ibu pasien mengaku tidak pernah
mengganti susu formula karena tidak pernah muncul keluhan mencret. Pasien
mulai diberikan bubur susu mulai umur 5 bulan. Saat ini belum makan
makanan padat.
8. Riwayat Imunisasi
Imunisasi wajib belum lengkap
Hepatitis B : 2 kali
BCG
: 1 kali
Polio
: 2 kali
DPT
: 1 kali
Campak : belum

Pertumbuhan dan perkembangan anak


BB Lahir

: 3400 gram

BB sekarang

: 6,5 kg

PB Lahir

: 49 cm

PB sekarang

: 68 cm

Gigi keluar

: belum

Berdiri

:-

Tersenyum

: 2 bulan

Berjalan

:-

Miring

: 5 bulan

Berbicara 2 suku kata : -

Tengkurap

: 5 bulan

Masuk TK

:-

Duduk

:-

Masuk SD

:-

Merangkak

:-

Sekarang kelas

:-

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum
: tampak sakit sedang
Kesadaran
: composmentis
Tanda-tanda vital
1. Frekuensi nadi :
108x/menit

2. Frekuensi nafas
3. Suhu

: 42x/menit
: 36,1oC

Status Gizi
7

Berat Badan : 6,5 kg

Tinggi Badan : 68 cm
Status gizi

: gizi baik

Status generalisata
Kepala

Bentuk : Normochepali
Rambut : hitam, tidak mudah dicabut
Mata
:
konjungtiva tidak anemis, sklera tidak
ikterik, pupil isokor, refleks cahaya (+/+)
Hidung : nafas cuping hidung -|- , secret (-)
Mulut : mukosa basah, tidak pucat, faring tidak hiperemis

Leher

KGB

: tidak ada pembesaran kelenjar getah bening

Thorax

Inspeksi
Palpasi
Perkusi

: gerakan dinding dada simetris, retraksi (+)


: vokal fremitus sama kanan dan kiri
: sonor di semua lapangan paru
Auskultasi :
suara nafas vesikuler, wheezing (-/-),
Ronchi (+/+), bunyi jantung I & II normal, murmur (-)

Abdomen

Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

:
:
:
:

bentuk normal, simetris, datar, scar (-)


supel, tidak ada nyeri tekan, hepar dan lien tidak teraba
timpani
bising usus normal

Ekstremitas

Superior & Inferior : akral hangat, CRT <2 detik, tidak edema

Pemeriksaan Penunjang:

1. Foto Thorax

2. Darah lengkap

Lab

Haemoglob

in

Leukosit

3/5/15

12,6

30.55

g/dl

410.0

10000/

150000-

35,6

450000/

37,0-54,0

74,2

19-48%

0-1
1-3
2-6
50-70
20-40
2-8

Trombosit

430.000

Hematokrit

35,8

00

12,2

normal

11-16,5

Nilai

Lymph

27.000

4/5/1

68,4%

4000-

Hitung jenis leukosit (4/5/2015)


Basofil
Eosinofil
Stab
Segment
Limfosit
Monosit

Diagnosa Kerja Sementara:

Wheezing Atopi

1.
2.
3.
4.
5.

Penatalaksanaan:

IVFD D51/4NS 650cc/24 jam 9 tpm


Drip aminofilin 97,5 ml 3,1ml/kolf
Inj ampicillin 3x200 mg
Inj gentamicin 2x15 mg
PCT syr 3x1/2 cth

0%
1%
3%
19 %
74 %
4%

Prognosa
Dubia ad Bonam

4 Mei 2015

(Hari II)

Batuk (+),

5 Mei 2015

(Hari III)

Pilek (+)

Batuk (+),

6 Mei

7 Mei

2015

2015

(Hari

(Hari V)

IV)
Batuk

Batuk

Pilek (+)

(+),

(+),

Sesak (+),

Sesak (+),

Pilek (-)

Pilek (-)

Demam (-)

Demam (-)

Sesak

(+),

Demam

(+),

(-)

Composmen

tis

HR:

tis

110x/menit

RR:

55x/menit

T: 36,5 C
Kepala: ane

(-)

mentis

HR:

Compos
mentis

HR:

105x/me

105x/me

RR:

nit

nit

RR:

RR:

T: 36 C

60x/men

53x/men

Kepala: ane

it

it

(-), ikt (-),


sianosis (-),

napas

napas

T: 36,2

T: 36,2 C

Kepala:

Kepala:

ane (-),
ikt (-),

cuping

cuping

ane (-),

hidung (-)

hidung (-)

ikt (-),

sianosis

tonsil dan

sianosis

(-),

faring dbn

(-),

napas

Thorax:

napas

cuping

retraksi (-),

cuping

hidung

whe (+), rho

whe (-), rho

hidung

(-) tonsil

(-), s1s2

(+), s1s2

(-)

dan

tonsil

faring

faring dbn
Thorax:

retraksi (-),

tunggal

tunggal

reguler

reguler

dan

Abdomen:n

faring

Abdomen:n

dbn

Thorax:

dbn

retraksi

Thorax:

(-), whe

Ekstremitas:

retraksi

(-), rho

akral hangat,

akral

(-), whe

(),

CRT <2

hangat, CRT

(-), rho

s1s2

<2 detik

(+), s1s2

tunggal

tunggal

reguler

yeri tekan

yeri tekan

(-), BU (+)N

Compos

Demam

100x/menit

sianosis (-),

tonsil dan

HR:

52x/menit

(-), ikt (-),

Composmen

Sesak

Ekstremitas:

detik

(-), BU (+)N

reguler

n:nyeri

n:nyeri

tekan (-),

tekan

BU (+)N

(-), BU

Abdome

Abdome

Ekstremi

(+)N

tas: akral

Ekstrem

hangat,

itas:

CRT <2

akral

detik

hangat,
CRT <2

Wheezing

Wheezing

Atopi

Atopi

1.

IVFD D51/4NS 650cc/24

1.

IVFD D51/4NS 650cc/24

2.

jam 9 tpm
Drip aminofilin 97,5 ml

2.

jam 9 tpm
Drip aminofilin 97,5 ml

3.
4.
5.
6.

3,1ml/kolf
Inj ampicillin 3x200 mg
Inj gentamicin 2x15 mg
PCT syr 3x1/2 cth
Rhinofed tab + CTM

3.
4.
5.
6.

1.

2.

mg + Dexametason 1/5 tab


3x1 pulv
Ambroxol 3x1 ml

like

syndrom

syndrom

9 tpm
Drip aminofilin
ml

3.

3,1ml/kolf
Inj
ampicillin

4.

3x200 mg
Inj
gentamicin

5.

2x15 mg
Eritromisin

6.

3x2ml
PCT syr 3x1/2

7.

cth
Rhinofed tab +
CTM 0,6 mg +
salbutamol
mg

0,6
+

Dexametason 1/5
8.

tab 3x1 pulv


Ambroxol 3x1
ml

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

Pertusis

like
e
IVFD D51/4NS

97,5

Wheezin
g Atopi

Pertusis

650cc/24 jam

0,6 mg + salbutamol 0,6

7.

g Atopi

Pertusis like
syndrome

3,1ml/kolf
Inj ampicillin 3x200 mg
Inj gentamicin 2x15 mg
PCT syr 3x1/2 cth
Cek DL, LED, diff count

detik
Wheezin

1.
2.

e
Aff infus
Eritromisin

3.
4.

3x2ml
PCT syr 3x1/2 cth
CTM 0,6 mg +
salbutamol

0,6

mg + efedrin 3,5
mg + ambroxol
3,5 mg 3x1
pulv

1.
2.
3.
4.

WHEEZING ATOPI

Epidemiologi
Wheezing pada anak merupakan permasalahan kesehatan yang

sering dihadapi oleh dokter keluarga. Diperkirakan sekitar 25 sampai 30 persen


bayi pernah mengalami minimal satu kali episode wheezing. Dengan perjalan usia
hingga 3 tahun, episode wheezing dapat kembali berulang pada 40 persen anak.
Dan pada hampir separuh anak hingga usia 6 tahun pernah mengalaminya.
Penyebab tersering dari wheezing pada anak yaitu astma, alergi, infeksi, refluks
gastroesophageal, dan obstruktif sleep apnea. Penyebab yang jarang seperti
kelainan kongenital, aspirasi benda asing, dan cystic fibrosis. (Weiss, 2008)

Data yang lengkap mengenai riwayat pasien akan membantu dalam

penegakan diagnose. Data tersebut meliputi rwayat keluarga, onset munculnya


wheezing, gambaran dari wheezing, keterkaitan dengan musin, onset yang tibatiba, keterkaitan dengan makan, batuk, penyakit saluran napas, serta perubahan
posisi. Selain itu juga diperlukan pemeriksaan fisik dan uji diagnostic sebagai alat
penegakan diagnose. Contohnya, pada anak dengan wheezing yang berulang atau
hanya dengan satu episode wheezing yang tidak memberikan respon terhadap
bronkodilator memelukan pemeriksaan roentgen thorax. (Weiss, 2008)

Etiologi
Wheezing

terjadi

selama

fase

ekspirasi

yang

mengalami

perpanjangan yang diakibatkan dari penyempitan dari saluran napas. Anak-anak


akan lebih rentan mengalami wheezing dibandingkan dewasa dikarenakan
perbedaan anatomis. Pada bayi dan anak usia muda, ukuran bronkus lebih kecil,
sehingga menyebabkan resistensi jalan napas yang lebih tinggi. Dan pada
akhirnya, dengan adanya tambahan penyakit pada saluran napas akan memberikan
efek lebih besar terhadap resistensi saluran pernapasan. Bayi juga memiliki sifat
elastisitas jaringan / kemampuan recoil yang lebih rendah dibandingkan dewasa.
Sehingga akan lebih mudah terjadi onstruksi dan atelectasis. Tulang kosta, trakea,
dan bronkus pada bayi dan anak usia muda lebih compliant, posisi diafragma juga

lebih horizontal. Semua faktor tersebut meningkatkan risiko wheezing dan distress
pernapasan pada bayi dan anak usia muda. (Weiss, 2008)

Klasifikasi
Transient wheezing merupakan wheezing yang sudah muncul sejak

satu tahun pertama kehidupan. Umumnya wheezing ini tidak berhubungan dengan
riwayat astma dalam anggota keluarga ataupun riwayat alergi. Faktor primer yang
mempengaruhi munculnya gambaran wheezing ini adalah menurunnya fungsi paru
pada bayi dan akan menetap hingga umur 16 tahun. Faktor risiko lainnya
mencakup prematuritas, jenis kelamin laki-laki, paparan dengan saudara atau anak
lain ditempat penitipan anak, riwayat ibu yang merokok selama kehamilan, dan
paparan terhadap asap rokok setelah lahir. Transient wheezing ini akan membaik
dengan sendirinya pada usia 3 tahun (Philip, 2008; Weiss, 2008; IDAI, 2010).

Pada wheezing non atopi atau yang sering disebut viral wheezing,

serangan muncul diakibatkan oleh infeksi virus yang berulang. Fungsi paru pada
pasien dengan wheezing tipe ini umumnya normal namun akan terjadi obstruksi
saluran pernapasan seknder akibat infeksi dari virus. Penyebab utamanya masih
belum diketahui. Namun terdapat beberapa faktor seperti respon imun spesifik
dan terganggunya fungsi saluran napas yang terlihat secara histologis (Philip,
2008; Weiss, 2008; IDAI, 2010).

Grafik Wheezing berdasarkan Onset dan Perjalanannya (Philip,


2008).

Anak dengan wheezing atopi umumnya dikaitkan dengan

munculnya asma pada usia selanjutnya, khususnya episode pertama wheezing


muncul setelah satu tahun kehidupan, dengan gejala yang memburuk pada malam
hari, sering kambuh, memiliki riwayat keluarga asma, peningkatan serum IgE,
serta terjadinya eosinophilia pada pemeriksan darah lengkap dan hitung jenis.
Sebelum muncul gejala, funsi paru pasien diketahui normal, namun obstruksi
mulai terjadi dalam satu tahun pertama (Philip, 2008; Weiss, 2008; IDAI, 2010).

Wheezing tipikal
Transient early wheezing

Wheezing atipikal
GERD

Non atopi wheeze/ viral

Kelainan kongenital

wheeze

Cystic fibrosis

Wheezing atopi

Kelainan jantung

Aspirasi benda asing

Tuberculosis
Tabel Klasifikasi Wheezing (Anemmie, 2006)

Mekanisme

Wheezing adalah suara bernada tinggi, menyerupai siulan yang

terjadi ketika saluran pernapasan yang lebih kecil menyempit akibat terjadinya
bronkospasme, edema mukosa, produksi mucus dalam jumlah berlebih, atau
akibat dari inhalasi benda asing. Suara ini terdengar paling sering pada fase
ekspirasi sebagai akibat dari adanya obstruksi. Wheezing polifonik terjadi akibat
terjadinya sumbatan luas pada saluran napas sehingga menimbulkan suara dengan
nada beragam dengan level obstruksi yang berbeda seperti pada astma. Sedangkan
Wheezing monofonik merupaka suara dengan nada tunggal akibat obstruksi pada
saluran napas atas selama ekpirasi, seperti pada kasus trakeomalasia distal atau
bronkomalasia. Apabila obstruksi terjadi pada saluran napas ekstratorakal selama
inspirasi, maka suara yang ditimbulkan adalah stridor (Yehia, 2011).

Diagnosa Banding

Wheezing adalah suara pernapasan frekuensi tinggi nyaring yang

terdengar di akhir ekspirasi. Hal ini disebabkan penyempitan saluran respiratorik


distal. Untuk mendengarkan wheezing, bahkan pada kasus ringan, letakkan telinga
di dekat mulut anak dan dengarkan suara napas sewaktu anak tenang, atau
menggunakan stetoskop untuk mendengarkan wheezing atau crackles/ ronki
(Weiss, 2008).

Pada

umur

dua

tahun

pertama, wheezing pada

umumnya

disebabkan oleh infeksi saluran respiratorik akut akibat virus, seperti bronkiolitis
atau batuk dan pilek. Setelah umur dua tahun, hampir semua wheezing disebabkan
oleh asma. Kadang-kadang anak dengan pneumonia disertai dengan wheezing.
Diagnosis pneumonia harus selalu dipertimbangkan terutama pada umur dua
tahun pertama (WHO,2013).

Berikut ini daftar diagnose banding pada pasien dengan wheezing.

PENYEBAB WHEEZING PADA ANAK DAN BAYI


Tersering

Alergi

Astma

Refluks Gastroesophageal

Infeksi :
1.
2.
3.
4.

Bronkiolitis
Bronchitis
Pneumonia
Infeksi saluran napas atas

Obstruktif Sleep apnea

Lebih Jarang
Dysplasia Bronkopulmonal
Aspirasi Benda Asing
Jarang

Gagal jantung kongestif

Cystic Fibrosis

Masa Mediastinal

Primary ciliary dyskinesia

Anomali Trakeobronkial

Disfungsi Pita Suara


Tabel Penyebab Wheezing (Weiss, 2008)

Riwayat Keluarga
Apabila dari anamnesa didapatkan riwayat keluarga yang baru

terkena infeksi saluran pernapasan maka dapat dicurigai hal tersebut sebagai
penyebab dari wheezing pada anak. Misalnya pertussis, tuberculosis, infeksi virus
pada saluran pernapasan. Sedangkan bila dari anamnesa didapatkan adanya
riwayat keluarga dengan penyakit astma, alergi, eksema maka kecurigaan kearah
astma maupun wheezing atopi semakin kuat (Weiss, 2008).

Onset wheezing

Onset wheezing menentukan apakah hal tersebut disebabkan oleh

kelainan kongenital atau nonkongenital. Pada bayi, wheezing lebih sering


disebabkan oleh kelainan kongenital dibandingkan pada anak yang lebih besar
(Weiss, 2008).

Gambaran Wheezing
Gambaran dari wheezing sendiri juga dapat mengarahkan kita ke

penyebabnya. Episode wheezing yang bersifat musiman atau yang berkaitan


dengan paparan terhadap lingkungan mungkin disebabkan oleh astma ataupun
atopi. Wheezing yang bersifat persisten sejak lahir lebih mungkin disebabkan oleh
kelainan kongenital. Anak dengan gangguan saluran napas menetap sejak lahir
perlu dievaluasi lebih lanjut mengenai kemungkinan cystic fibrosis, dysplasia
bronkopulmonal, laringomalasia, maupun primary ciliary dyskinesia (Weiss,
2008).

Seasonal
Beberapa kasus wheezing bersifat seasonal. Infeksi saluran napas

atas dan bawah juga dapat menyebabkan wheezing. Respiratory syncytial virus
(RSV) merupakan menyebab wheezing tersering pada anak usia muda. Di
Amerika, infeksi RSV banyak terjadi pada bulan November sampai Mei, dengan
puncak pada bulan Januari dan Februari. RSV merupakan penyebab bronkiolotis
tersering pada anak, mencakup 80 persen kasus terjadi pada anak kurang dari satu
tahun. Virus lain yang dapat menyebabkan wheezing seperti Metapneumovirus,
menyerang bayi pad abulan Desember hingga April. Wheezing yang disebabkan
oleh croup sering terjadi pada musim gugur dan musim dingin. Sedangkan
wheezing yang berkaitan dengan allergen dari lingkungan sekitar lebih sering
terjadi pada musim semi dan gugur; allergen dalam rumah seperti tungau dan
binatang peliharan akan menyebabkan wheezing berulang dengan intensitas yang
sama sepanjang tahun. Wheezing yang disebabkan astma juga dapat dipicu oleh
perubaha iklim (Weiss, 2008).

Wheezing Setelah Pemberian Makan


Wheezing dapat disebabkan oleh refluks gastroesophageal.

Meskipun hingga saat ini maih banyak perbedaan pendapat. Sebuah penelitian
pada pasien GERD yang diberikan obat golongan inhibitor pompa proton tidak
mengurangi gejala dari asma (Weiss, 2008).

Onset Mendadak
Aspirasi benda asing dapat terjadi setiap saat. Namun hal ini paling

sering terjadi pada usia 8 bulan hingga 4 tahun. Obstruksi saluran napas atas akan
menyebabkan batuk, tersedak, dan bahkan wheezing. Benda asing yang masuk
didalam laringotrakeal umumnya akan ditemukan dalam 24 jam pada 90 persen
anak, dan terdiagnosa segera dalam 1 minggu pertama. Anak dengan gejala
berulang atau tidak ada perbaikan kemungkinan telah terjadi pneumonia akibat
infeksi sekunder pada atelectasis obstruktif (Weiss, 2008).

Batuk
Munculnya keluhan batuk setelah makan mungkin berkaitan

dengan GERD. Batuk kering yang tidak produktif dan memburuk pada malam
hari mungkin berhubungan dengan GERD, alergi, atau astma. Obstruktif sleep
apnea mungkin ditandai dengan anak yang terbatuk atau wheezing lalu terbangun
pada malam hari serta sering dijumpai snoring. Sleep apnea pada bayi sering
dikaitkan dengan anomaly kranifasial, dan pada anak yang lebih besar bisanya
berhubungan dengan hipertrofi adenotonsilar (Weiss, 2008).

Perubahan Posisi
Kelainan kongenital seperti trakeomalasia dan anomaly pembuluh

darah besar sering menyebabkan wheezing yang berkaitan dengan perubahan


posisi pada bayi (Weiss, 2008).

Gambar Alur Diagnosa Pasien Anak dengan Keluhan Wheezing


(Weiss, 2008).

Pemeriksaan Fisik
Anak yang datang dengan wheezing yang terdengar tanpa stetoskop
dan tidak ditemukan tanda distress pernapasan biasanya wheezing
yang terjadi disebabkan oleh kelainan kongenital. Pemeriksaan yang
dilakukan melihat apakah ada retraksi, pernapasan cuping hidung,
dan dengkuran yang merupakan tanda dari distress pernapasan.
Dengan auskultasi litas dapat menemukan lokasi wheezing, stridor
maupun rhonki. Namun kebanyakan suara ini tidak akan terdengar

apabila anak tidak bisa menarik napas dalam. Pemeriksaan juga


dilakukan

secara

tenggorokan.

menyeluruh

Tanda

dan

dari

gejala

kulit,
seperti

telinga,

hidung,

dermatitis

atopi,

lymphadenopati, murmur jantung, dan rhinorea dapat membantu


penegakan diagnosa. Jari tabuh dan warna kuku yang mengalami
perubahan menggambarkan suatu perjalanan penyakit saluran
pernapasan yang kronik (Weiss, 2008).

Geajala dan Tanda

Berkaitan dengan pemberian makan,


batuk, dan muntah

Berkaitan dengan perubahan posisi

Demam disertai ronki

Gejala episodic, batuk, respon terhadap


bronkodilator

Murmur, kardiomegali dan sianosis tanpa


distress pernapasan

Riwayat penyakit saluran pernapasan dan


gagal tumbuh

Seasonal patern, napas cuping hidung,


retraksi interkosta

Stridor dengan drooling

Mendadak dan tersedak

Kemungkinan Diagnosa

GERD

Trakeomalasi
Pneumonia
Asma

Kelainan jantung

Cystic fibrosis

Bronkiolitis, croup, alergi

Epiglotitis
Aspirasi benda asing

Gambar Hasil Pemeriksaan Fisik dengan Diagnosis Banding


(Weiss, 2008)

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang dilakukan menbyesuaikan dari usia dan etiologi

yang dicurigai. Pemasangan alat pengukur saturasi oksigen sangatlah berguna


pada bayi dan anak usia muda. Apabila terdapat kecurigaan mengenai infeksi
bakteri atau virus, maka dapat dilakukan swab, kultur sputum dan darah, uji
tuberculosis. Uji chloride dapat digunakan untuk mendiagnosis cystic fibrosis.
Untuk menyingkirkan kemungkinan GERD dapat dilakukan pemeriksaan pH,

barium enema, atau endoskopi. Uji allergen dapat dilakukan pada anak dengan
usia lebih dari 2 tahun (Weiss, 2008).

Pemeriksaan foto roentgen thorak diindikasikan untuk anak dengan


wheezing yang tidak berespon terhadap bronkodilator atau wheezing
yang sifatnya berulang. Foto polos dapat mengidentifikasi kelainan
kongenital, kelainan parenkim, jenis benda asing yang radioopaq,
dan kelainan jantung. Apabila hasil dari pemeriksaan foto thorak
normal, namun pasien tetap mengalami wheezing, maka disarankan
untuk dilakukakn pemeriksaan bronkoskopi (Weiss, 2008).

Diagnosa
Benda Asing

Obstruksi

-Tumor

-Pembesaran KGB

-Displasia
Bronkopulmoner

Herediter

Laringotrakeobronkomalasia

-Cystic Fibrosis

GERD

Fisik

Fisik

Cara Diagnosa
Pemeriksaan
Foto Thorax

Foto Thorax
Pemeriksaan
CT Scan, Biopsi

Laringoskop,
fluoroskopi

Pemeriksaan
Fisik, analisa Sweat
eleckrolit

pH, Endoskopi

Terapi
Bronkoskopi
Bedah

Terapi sesuai
penyebab

Terapi sesuai
penyebab

Terapi sesuai
penyebab

Trakeostomi

Terapi
inhalasi, fisioterapi

Medikasi

Gambar Diagnosa Banding Pasien Anak dengan Keluhan


Wheezing (Weiss, 2008)

Penatalaksanaan

Alur Penatalaksanaan di Pusat Layanan Primer (WHO, 2013)

Anamnesis

1. Sebelumnya pernah terdapat wheezing


2. Memberi respons terhadap bronkodilator
3. Diagnosis asma atau terapi asma jangka panjang.

Pemeriksaan

1. wheezing pada saat ekspirasi


2. ekspirasi memanjang
3. hipersonor pada perkusi
4. hiperinflasi dada
5. crackles/ronki pada auskultasi.

Respons terhadap bronkodilator kerja cepat


Jika penyebab wheezing tidak jelas, atau jika anak bernapas cepat

atau terdapat tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam selain wheezing, beri
bronkodilator kerja cepat dan lakukan penilaian setelah 20 menit. Respons
terhadap bronkodilator kerja cepat dapat membantu menentukan diagnosis dan
terapi.

Berikan bronkodilator kerja-cepat dengan salah satu cara berikut:

1. Salbutamol nebulisasi

Alat nebulisasi harus dapat menghasilkan aliran udara minimal 6-

10 L/ menit. Alat yang direkomendasikan adalah jet-nebulizer (kompresor


udara) atau silinder oksigen. Dosis salbutamol adalah 2.5 mg/kali
nebulisasi; bisa diberikan setiap 4 jam, kemudian dikurangi sampai setiap
6-8 jam bila kondisi anak membaik. Bila diperlukan, yaitu pada kasus
yang berat, bisa diberikan setiap jam untuk waktu singkat.
2. Salbutamol dengan MDI (metered dose inhaler) dengan spacer

Alat spacer dengan berbagai volume tersedia secara komersial.

Penggunaannya mohon lihat buku Pedoman Nasional Asma Anak. Pada


anak dan bayi biasanya lebih baik jika memakai masker wajah yang
menempel

pada spacer dibandingkan

memakai mouthpiece.

Jika spacertidak tersedia, spacer bisa dibuat menggunakan gelas plastik


atau botol plastik 1 liter. Dengan alat ini diperlukan 3-4 puff salbutamol
dan anak harus bernapas dari alat selama 30 detik.
3. Jika kedua cara tidak tersedia, beri suntikan epinefrin (adrenalin) secara
subkutan

Jika kedua cara untuk pemberian salbutamol tidak tersedia, beri

suntikan epinefrin (adrenalin) subkutan dosis 0.01 ml/kg dalam larutan 1:1
000 (dosis maksimum: 0.3 ml), menggunakan semprit 1 ml. Jika tidak ada
perbaikan setelah 20 menit, ulangi dosis dua kali lagi dengan interval dan
dosis yang sama. Bila gagal, dirawat sebagai serangan berat dan diberikan
steroid dan aminofilin.

Lihat respons setelah 20 menit. Tanda adanya perbaikan:

1. distres pernapasan berkurang (bernapas lebih mudah)


2. tarikan dinding dada bagian bawah berkurang.

Anak yang masih menunjukkan tanda hipoksia (misalnya: sianosis

sentral, tidak bisa minum karena distres pernapasan, tarikan dinding dada bagian
bawah sangat dalam) atau bernapas cepat, harus dirawat di rumah sakit.

PERTUSIS

Definisi
Pertusis (batuk rejan) disebut juga whooping cough, tussis quinta,

violent cough, dan di Cina disebut batuk seratus hari. (Soedarmo, Garna,
Hadinegoro, & Satari, 2010) Istilah pertussis (batuk kuat) pertama kali digunakan
oleh Sydenham pada tahun 1670. Nama pertusis lebih disukai daripada whooping
cough karena tidak semua pasien pertusis disertai bunyi yang khas. (Long, 2011)
Pertusis merupakan penyakit infeksi saluran nafas akut yang dapat menyerang
setiap orang yang rentan seperti anak yang belum diimunisasi atau orang dewasa
dengan kekebalan yang menurun.

Pertusis adalah infeksi akibat bakteri Gram-negatif Bordetella

pertusis pada saluran napas sehingga menimbulkan batuk hebat yang khas. (IDAI,
2011) Sindrom dengan karakteristik episode batuk yang parah dan menyerupai
batuk rejan (pertussis) juga diartikan sebagai
(Nataprawira, Cahayasari, & Kashmir, 2012)

Epidemiologi

pertussis-like syndrome.

Pertusis, disebut juga batuk rejan, merupakan infeksi saluran nafas

yang tingkat penularannya tinggi. Penularan penyakit ini melalui droplet pasien
pertusis atau individu yang belum diimunisasi atau imunisasi tidak adekuat, dengan
attack rate mencapai angka 100%. (IDAI, 2011) Dalam setahun terdapat 39 juta

orang tertular pertussis dan menyebabkan setidaknya 300.000 kematian per tahun
pada anak. Walaupun laporan epidemiologi pertussis pada Asia, Afrika dan
Amerika Selatan yang terbaru sangat terbatas, WHO memperkirakan bahwa di
daerah tersebut, termasuk Indonesia, mempunyai insidensi yang tinggi. (McIntyre,
2008) Sampai sekarang, sulit untuk mengkonfirmasi diagnosis pertussis, sehingga
muncul diagnosis terlambat dari pertussis atau pertussis-like syndrome. Dalam
banyak kasus, diagnosis kerja dibuat dengan gejala klinis yang kuat. Kesulitan
perkiraan prevalensi pertussis disebabkan oleh kurang jelasnya metode diagnostic,
misdiagnosis, kasus tak terlapor dan kriteria pelaporan yang berbeda dari tiap
negara. (Nataprawira, Cahayasari, & Kashmir, 2012)

Pertusis adalah penyakit endemik. Di Amerika Serikat antara tahun

1932-1989 telah terjadi 1.188 kali puncak epidemik pertusis. Pertusis dapat
menyerang semua golongan umur, yang terbanyak adalah anak umur 1-5 tahun.
Makin muda usianya makin berbahaya penyakitnya. Pertusis lebih sering terjadi
pada anak perempuan daripada anak laki-laki. Di Amerika Serikat kurang lebih
35% kasus terjadi pada usia < 6 bulan, termasuk bayi yang berumur 3 bulan.
Kurang lebih 45% penyakit terjadi pada usia < 1 tahun dan 66% < 5 tahun.
Kematian dan jumlah kasus yang dirawat tertinggi terjadi pada usia 6 bulan
pertama kehidupan. (Soedarmo, Garna, Hadinegoro, & Satari, 2010)

Imunisasi sangat mengurangi angka kejadian dan kematian yang

disebabkan oleh pertussis. Dengan kemajuan perkembangan antibiotik dan


program imunisasi maka mortalitas dan morbiditas penyakit ini mulai menurun.
Dalam beberapa dekade terakhir, program imunisasi pertusis pada bayi
menunjukkan hasil yang menggembirakan dalam menurunkan kejadian pertusis
berat di seluruh dunia. Pada tahun 2008, sekitar 82% bayi menerima 3 dosis
vaksin pertusis dan diharapkan mampu menekan angka kematian. (IDAI, 2011)

Etiologi

Genus Bordatela mempunyai 4 spesies yaitu B. pertussis,

B.parapertussis, B. bronkiseptika, dan B. avium. Bordatella pertussis termasuk


kokobasilus, Gram-negatif, kecil, ovoid, ukuran panjang 0,5-1 m dan diameter
0,2-0,3 m, tidak bergerak, tidak berspora. Dengan pewarnaan toloidin biru, dapat
terlihat granula bipolar metakromatik dan mempunyai kapsul. Untuk melakukan
biakan B. pertussis, diperlukan suatu media pembenihan yang disebut bordet
gengou (potato-blood-glycerol agar) yang ditambah penisilin G 0,5 g/ml untuk
menghambat pertumbuhan organisme lain B. pertussis dapat mati dengan
pemanasan pada suhu 500C selama setengah jam, tetapi bertahan pada suhu
rendah (0-100C). (Soedarmo, Garna, Hadinegoro, & Satari, 2010)

Bordetella pertussis adalah satu-satunya penyebab epidemi pertusis

dan penyebab biasa pertusis sporadis. B. parapertussis lebih jarang menyebabkan


pertussis yaitu kurang dari 5% dari isolat spesies Bordetella di Amerika Serikat.
B. parapertussis berkontribusi secara signifikan terhadap total kasus pertusis di
daerah lain seperti Skandinavia, Republik Ceko, Slowakia, dan Rusia. (Long,
2011)

B. pertussis dan B. parapertussis, merupakan patogen eksklusif

pada manusia, sedangkan B. bronchiseptica merupakan patogen pada hewan.


Namun selain menyerang hewan, B. bronchiseptica juga mampu mengakibatkan
infeksi

saluran

napas

pada

manusia

umumnya

menyerang

yang

imunocompromised seperti pada penderita HIV/AIDS atau pada anak yang sering
kontak dengan hewan. Batuk yang berlarut-larut dapat disebabkan oleh
Mycoplasma, parainfluenza atau influenza virus, enterovirus, RSV, atau
adenovirus. (Long, 2011)

Patogenesis
Bordatella pertussis setelah ditularkan melalui sekresi udara

pernafasan kemudian melekat pada silia epitel saluran pernafasan. Mekanisme


patogenesis infeksi oleh B. pertussis terjadi melalui 4 tingkatan yaitu perlekatan,
perlawanan terhadap mekanisme pertahanan penjamu, kerusakan lokal, dan
akhirnya timbul penyakit sistemik. (Soedarmo, Garna, Hadinegoro, & Satari,
2010) Hanya B. pertussis yang mengekspresikan pertussis toxin (PT) yang

merupakan major virulence protein. Toksin pertusis memiliki banyak aktivitas


biologik seperti histamine sensitivity, insulin secretion,dan leukocyte dysfunction
yang menyebabkan berbagai manifestasi. Toksin pertusis juga menyebabkan
terjadinya limfositosis (Long, 2011).

Filamentous hemaglutinin (FHA), lymphositosis promoting factor


(LPF)/ pertussis toxin (PT), dan protein 69-Kd berperan dalam
perlekatan B. pertussis pada silia. Setelah terjadi perlekatan B.
pertussis, kemudian bermultiplikasi dan menyebar ke seluruh
permukaan epitel saluran pernafasan. Proses ini tidak invasif, oleh
karena itu pada pertusis

tidak terjadi bakterimia. Selama

pertumbuhan B. pertussis, maka akan menghasilkan toksin yang


akan menyebabkan penyakit yang kita kenal dengan whooping
cough. Toksin terpenting yang dapat menyebabkan penyakit
disebabkan oleh karena pertussis toxin. Toksin pertusis mempunyai 2
sub unit yaitu A dan B. toksin sub unit B selanjutnya berikatan
dengan reseptor sel target kemudian menghasilkan sel unit A yang
aktif pada daerah aktivasi enzim membran sel. Efek LPF
menghambat migrasi limfosit dan makrofag ke daerah infeksi.
(Soedarmo, Garna, Hadinegoro, & Satari, 2010)

Toxin mediated adenosine disphosphate (ADP) mempunyai efek


mengatur sintesis protein di dalam membran sitoplasma, berakibat
terjadi perubahan fungsi fisologis dari sel target termasuk limfosit
(menjadi lemah dan mati), mengingkatkan pengeluaran histamin dan
serotonin, efek memblokir beta adrenergik, dan meningkatkan
aktivitas insulin, sehingga akan menurunkan konsentrasi gula darah.
(Soedarmo, Garna, Hadinegoro, & Satari, 2010)

Toksin menyebabkan peradangan ringan dengan hiperplasia


jaringan limfoid peribronkial dan meningkatkan jumlah mukus pada
permukaan silia, maka fungsi silia sebagai pembersih terganggu,
sehingga

mudah

terjadi

infeksi

sekunder

(tersering

oleh

Streptococcus pneumoniae, H. influenza, dan Staphylococcus


aureus). Penumpukan mukus akan menimbulkan plug yang dapat

menyebabkan obstruksi dan kolaps paru. Hipoksemia dan sianosis


disebabkan oleh gangguan pertukaran oksigenasi pada saat ventilasi
dan timbulnya apnea saat terserang batuk. Terdapat perbedaan
pendapat mengenai kerusakan susunan saraf pusat, apakah akibat
pengaruh langsung toksin ataukah sekunder sebagai akibat anoksia.
Terjadi perubahan fungsi sel yang reversibel, pemulihan tampak bila
sel mengalami regenerasi, hal ini dapat menerangkan mengapa
kurangnya efek antibiotik terhadap proses penyakit. (Soedarmo,
Garna, Hadinegoro, & Satari, 2010)

Tracheal cytotoxin, adenylate cyclase, dan dermonecrotic factor


menyebabkan kerusakan lokal epitel yang mengakibatkan adanya
gejala respirasi dan memfasilitasi absorbs dari toksin pertusis (Long,
2011).

Dermonecrotic toxin adalah heat labile cytoplasmic toxin

menyebabkan kontraksi otot polos pembuluh darah dinding trakea sehingga


menyebabkan iskemia dan nekrosis trakea. Sitotoksin bersifat menghambat
sintesis DNA, menyebabkan siliostasis, dan diakhiri dengan kematian sel.
Pertussis lipopolysaccharide (endotoksin) tidak terlalu penting dalam hal
patogenesis penyakit ini. Kadang-kadang B. pertussis hanya menyebabkan infeksi
yang ringan, karena tidak menghasilkan toksin pertussis. (Soedarmo, Garna,
Hadinegoro, & Satari, 2010)

Manifestasi Klinis
Masa inkubasi pertusis 910 hari (620 hari) yang terbagi atas 3

stadium, yaitu: 1) stadium kataral (2-7 hari); 2) stadium paroksismal (1-2 minggu,
namun bisa mencapai 8 minggu) adalah karakteristik batuk pertusis terutama
pasien anak usia 6 bulan s/d 5 tahun; dan 3) stadium konvalesens. Masa stadium
kataral sampai konvalesens dapat berlangsung sampai berbulan-bulan. Sindrom
pertusis memberikan tanda dan gejala mirip dengan pertusis, namun manifestasi
klinisnya ringan dan tidak memiliki stadium sebagaimana yang disebabkan B.
pertusis. Penyebab sindrom pertusis adalah virus dan bakteri lain diluar B.
pertussis. (IDAI, 2011)


1. Stadium Kataralis (1-2 minggu)

Gejala awal menyerupai gejala infeksi saluran napas bagian atas

yaitu :

rinore (pilek) dengan lendir yang cair dan jernih


injeksi pada konjungtiva
lakrimasi
batuk ringan
panas yang tidak begitu tinggi.
Pada stadium ini biasanya diagnosis pertusis belum dapat

ditetapkan karena sukar dibedakan dengan common cold. Selama stadium ini,
sejumlah besar organisme tersebar dalam inti droplet dan anak sangat infeksius,
pada tahap ini kuman paling mudah diisolasi. (Long, 2011)
2. Stadium Paroksismal/ Stadium Spasmodik (2-4 minggu)

Frekuensi dan derajat batuk bertambah, khas terdapat pengulangan

5-10 kali batuk kuat selama ekspirasi yang diikuti oleh usaha inspirasi masif yang
mendadak dan menimbulkan bunyi melengking (whoop). Selama serangan muka
merah dan sianosis, mata menonjol, lidah menjulur, lakrimasi, salivasi, dan
distensi vena leher bahkan sampai terjadi petekia di wajah (terutama di
konjungtiva bulbi). Episode batuk paroksismal dapat terjadi lagi sampai mucous
plug pada saluran nafas menghilang. Muntah sesudah batuk paroksismal cukup
khas, sehingga seringkali menjadi tanda kecurigaan apakah anak menderita
pertusis walaupun tidak disertai bunyi whoop. Anak menjadi apatis dan berat
badan menurun. Pada bayi < 3 bulan, apnea (henti nafas) dan tersedak lebih
sering terjadi dibandingkan dengan whooping chough karena kekuatan otot yang
kurang untuk membuat tekanan intratoraks negatif tiba-tiba. (Long, 2011)
3. Stadium Konvalesen (1-2 minggu)

Stadium penyembuhan ditandai dengan berhentinya whoop dan


muntah dengan puncak serangan paroksismal yang berangsur-angsur
menurun dan anak tampak merasa lebih baik. Batuk biasanya masih
menetap untuk beberapa waktu dan akan menghilang sekitar 2-3
minggu. Pada beberapa pasien akan timbul serangan batuk

paroksismal kembali. Episode ini terjadi berulang-ulang untuk


beberapa bulan dan sering dihubungkan dengan infeksi saluran nafas
bagian atas yang berulang. (Long, 2011)

Diagnosis
Menurut Centers of Disease Control (CDC) tahun 1997 yang

diperbarui tahun 2010, diagnosis dari pertussis didasarkan pada dua klasifikasi
kasus: (1) suspek, yaitu kasus yang sesuai dengan definisi klinis kasus (batuk
lebih dari 2 minggu dengan salah satu gejala: batuk tiba tiba, inspirasi yang
keras, atau muntah pasca-batuk, tanpa sebab yang jelas lainnya seperti yang
dilaporkan oleh profesi kesehatan), tidak dikonfirmasi dengan data laboratorium,
dan tidak terkait epidemiologi dengan kasus yang dikonfirmasi dengan
laboratorium; dan (2) terkonfirm B asi, yaitu kasus penyakit batuk akut dengan
durasi selama selama apapun, dengan isolasi B. pertussis dari specimen klinis,
atau kasus yang sesuai dengan definisi klinis kasus dan dikonfirmasi dengan
kultur atau PCR. (CDC, 2010)

Diagnosis ditegakkan berdasarkan atas anamnesis, pemeriksaan


fisik, dan pemeriksaan laboratorium.

Anamnesis

Keluhan utama serta gejala klinis pertussis (adakah serangan yang khas
yaitu batuk paroksismal dan bunyi whoop yang jelas. Pada bayi muda
mungkin tidak disertai whoop, akan tetapi batuk yang diikuti oleh

berhentinya napas atau sianosis atau napas berhenti tanpa batuk).


Riwayat kontak dengan pasien pertussis
Riwayat imunisasi. (WHO, 2009)

Pemeriksaan fisik

Gejala klinis yang didapat pada pemeriksaan fisik tergantung dari


stadium saat pasien diperiksa.

Pemeriksaan laboratorium

Diagnosis pasti apabila ditemukan organisme pada apus nasofaring (bahan


media Bordet-Gengou) dengan menggunakan media transpor (Regan-

Lowe).
Leukositosis (15,000-100,000 sel / mm3) karena limfositosis absolut

adalah karakteristik dalam stadium kataral.


Serologi terhadap antibosi toksin pertusis. Tes serologi berguna pada
stadium lanjut penyakit dan untuk menentukan adanya infeksi pada
individu dengan biakan. Cara ELISA dapat dipakai untuk menentukan
serum IgM, IgG, dan IgA terhadap FHA dan PT. Nilai serum IgM FHA
dan PT menggambarkan respons imun primer baik disebabkan oleh
penyakit atau vaksinasi. IgG toksin pertusis merupakan tes yang paling
sensitive dan spesifik untuk mengetahui infeksi dan tidak tampak setelah

pertussis. (IDAI, 2012).


Foto toraks dapat memperlihatkan infiltrat perihiler atau edema dan
atelektasis. Konsolidasi parenkim menunjukkan infeksi bakteri sekunder.
Pneumotoraks, pneumomediastinum, dan udara di jaringan lunak dapat
dilihat sesekali. (Long, 2011)

Diagnosis Banding Pertussis

Batuk spamodik pada bayi perlu dipikirkan bronkiolitis, pneumonia


bakterial, sistik fibrosis, tuberkulosis, dan penyakit lain yang menyebabkan
limfadenopati dengan penekanan di luar trakea dan bronkus. Pada
umumnya pertusis dapat dibedakan dari gejala klinis dan laboratorium.
Benda asing juga dapat menyebabkan batuk paroksismal, tetapi biasanya
gejalanya mendadak dan dapat dibedakan dengan pemeriksaan radiologik

dan endoskopi.
Infeksi B. parapertussis, B. bronkiseptika dan adenovirus dapat menyerupai
sindrom klinis B. pertussis. Dapat dibedakan dengan isolasi kuman
penyebab. (IDAI, 2011)

D
ia
g
n
os
is
T
u
b
er
k
ul
os
is

Gejala

- Riwayat kontak positif dengan pasien TB dewasa


- Uji tuberkulin positif ( 10 mm, pada keadaan
imunosupresi
5 mm)
- Berat badan menurun atau gagal tumbuh
- Demam ( 2 minggu) tanpa sebab yang jelas
- Pembengkakan kelenjar limfe leher, aksila,
inguinal yang
spesifik
- Pembengkakan tulang/sendi punggung, panggul,
lutut,
falang
- Tidak ada nafsu makan, berkeringat malam
-Riwayat wheezing berulang, kadang tidak
berhubungan dengan batuk dan pilek
- Hiperinflasi dinding dada
- Ekspirasi memanjang
- Respons baik terhadap bronkodilator
- Batuk dengan napas cepat
- Tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam
- Demam
- Crackles/ ronki
- Pernapasan cuping hidung
- Merintih/grunting

A
s
m
a
P
n
e
u
m
o
ni
a
B
e
n
d
a
as
in
g
B
ro

- Riwayat tiba-tiba tersedak


- Stridor atau distres pernapasan tiba-tiba
- Wheeze atau suara pernapasan menurun yang
bersifat
Fokal

-Riwayat tuberkulosis atau aspirasi benda asing


- Tidak ada kenaikan berat badan

n
ki
e
kt
as
is

- Sputum purulen, napas bau


- Jari tabuh

Diagnosis Banding Batuk Kronik (WHO, 2009)

Pengobatan
Kasus ringan pada anak-anak umur 6 bulan dilakukan secara

rawat jalan dengan perawatan penunjang. Umur < 6 bulan dirawat di rumah sakit,
demikian juga pada anak dengan pneumonia, kejang, dehidrasi, gizi buruk, henti
napas lama, atau kebiruan setelah batuk. (WHO, 2009) Tujuan rawat inap adalah
untuk menilai kemajuan penyakit dan kemungkinan kejadian yang mengancam
jiwa pada puncak penyakit, mencegah atau mengobati komplikasi, dan mendidik
orang tua tentang perjalanan penyakit dan perawatan yang akan diberikan di
rumah.

Untuk

kebanyakan

bayi

yang

tanpa

komplikasi,

keadaan

ini

disempurnakan dalam 48-72 jam. (Long, 2011) Beberapa agen terapeutik atau
medikamentonsa yang digunakan pada pasien pertussis adalah sebagai berikut :
1. Agen Antimikroba

Antimikroba selalu diberikan bila pertusis dicurigai atau

dikonfirmasi untuk menurunkan periode infeksius dan membatasi


penyebaran infeksi. Eritromisin (40-50 mg / kg / 24 jam per oral dalam
dosis terbagi empat; maksimum: 2 g / 24 jam) selama 14 hari adalah
pengobatan baku. Studi terbatas eritromisin dosis dua kali atau tiga kali
sehari selama 14 hari, eritromisin estolat (40 mg / kg / 24 jam dibagi
dalam dosis terbagi empat per oral; maksimum 1 g / 24 jam) selama 7 hari,
klaritromisin (15-20 mg / kg / 24 jam per oral dalam dosis terbagi dua;
maksimum 1 g / 24 jam) selama 7 hari, dan azitromisin (10 mg / kg / 24
jam sekali sehari per oral) selama 5 hari telah dibandingkan dengan
pengobatan standar untuk eliminasi organisme. Namun, efikasinya tidak

terbukti. Resistensi eritromisin oleh B. pertusis jarang dilaporkan. Dalam


studi klinis, eritromisin lebih unggul dari amoksisilin untuk eradikasi B.
pertusis dan adalah satu-satunya agen dengan efikasi yang telah terbukti.
(Long, 2011)

2. Salbutamol

Sejumlah kecil percobaan klinis memberi kesan stimulasi

2-adrenergik salbutamol (albuterol) dapat mengurangi gejala-gejala.


Namun, tidak ada percobaan klinis besar yang

menunjukkan adanya

manfaat dan terdapat satu penelitian kecil yang menunjukkan bahwa tidak
terdapat pengaruh. Pengobatan dengan aerosol memicu paroksismal.
(Long, 2011)
3. Kortikosteroid

Tidak ada blinded clinical trial besar yang telah dilakukan

untukan mengevaluasi penggunaan kortikosteroid dalam manajemen


pertussis. Penggunaannya secara klinis tidak dijamin. (Long, 2011)

Perawatan penunjang

Suportif umum (terapi oksigen dan ventilasi mekanik jika dibutuhkan)


Hindarkan sejauh mungkin segala tindakan yang dapat merangsang
terjadinya batuk, seperti pemakaian alat isap lendir, pemeriksaan

tenggorokan dan penggunaan NGT.


Jangan memberi penekan batuk, obat sedatif, mukolitik atau antihistamin.
Obat antitusif dapat diberikan bila batuk amat sangat mengganggu. Jika
anak demam ( 390 C) yang dianggap dapat menyebabkan distres, berikan
parasetamol. Beri ASI atau cairan per oral. Jika anak tidak bisa minum,
pasang pipa nasogastrik dan berikan makanan cair porsi kecil tetapi sering
untuk memenuhi kebutuhan harian anak. Jika terdapat distres pernapasan,
berikan cairan rumatan IV untuk menghindari risiko terjadinya aspirasi
dan mengurangi rangsang batuk. Berikan nutrisi yang adekuat dengan

pemberian makanan porsi kecil dan sering. Jika penurunan berat badan
terus terjadi, beri makanan melalui NGT. (WHO, 2009)

Komplikasi (WHO, 2009)

Pneumonia. Merupakan komplikasi tersering dari pertusis yang


disebabkan oleh infeksi sekunder bakteri atau akibat aspirasi
muntahan. Tanda yang menunjukkan pneumonia bila didapatkan
napas cepat di antara episode batuk, demam dan terjadinya distres
pernapasan secara cepat.

Kejang. Hal ini bisa disebabkan oleh anoksia sehubungan dengan


serangan apnu atau sianotik, atau ensefalopati akibat pelepasan
toksin.

Gizi kurang. Anak dengan pertusis dapat mengalami gizi kurang


yang disebabkan oleh berkurangnya asupan makanan dan sering
muntah.

Perdarahan dan hernia

Perdarahan subkonjungtiva dan epistaksis sering terjadi pada


pertussis akibat peningkatan intratoraks dan tekanan intra-abdomen
selama batuk. Hernia umbilikalis atau inguinalis dapat terjadi akibat
batuk yang kuat. Tidak perlu dilakukan tindakan khusus kecuali
terjadi obstruksi saluran pencernaan, tetapi rujuk anak untuk evaluasi
bedah setelah fase akut.

Pemantauan
-

Monitor kemungkinan gangguan respirasi, kesadaran, dehidrasi, serta


anoreksia pada kasus yang memerlukan tindakan rawat di Rumah Sakit

Amati apakah demam tidak membaik atau bahkan bertambah buruk


setelah terapi hari ke-3, karena mungkin terjadi infeksi sekunder

Isolasi terhadap kasus sampai hari ke-5 pemberian antibiotik

Pemberian antibiotik profilaksis kepada kontak erat. (IDAI, 2011)

Pencegahan

1. Imunisasi Pasif

Dalam imunisasi pasif dapat diberikan human hyperimmune

globulin, ternyata berdasarkan beberapa penelitian di klinik terbukti tidak


efektif sehingga akhir-akhir ini human hyperimmune globulin tidak lagi
diberikan untuk pencegahan.
2. Imunisasi Aktif

Diberikan vaksin pertusis dari kuman B. pertussis yang telah

dimatikan untuk mendapatkan kekebalan aktif. Imunisasi pertusis


diberikan bersama-sama dengan vaksin difteria dan tetanus. Dosis
imunisasi dasar dianjurkan 12 IU dan diberikan tiga kali sejak umur 2
bulan, dengan jarak 8 minggu. Jika prevalensi pertusis di dalam
masyarakat tinggi, imunisasi dapat dimulai pada umur 2 minggu dengan
jarak 4 minggu. Anak berumur > 7 tahun tidak lagi memerlukan imunisasi
rutin. Hasil imunisasi pertusis tidak permanen oleh karena proteksi
menurun selama adolesens, walaupun demikian infeksi pada pasien yang
lebih besar biasanya ringan hanya merupakan sumber infeksi B. pertussis
pada bayi non imun. Vaksin pertusis monovalen (0,25 ml, i.m.) telah
dipakai untuk mengontrol epidemi diantara orang dewasa yang terpapar.
Salah satu efek samping setelah imunisasi pertusis adalah demam.

Untuk mengurangi terjadinya kejang demam

dapat

diberikan antikonvulsan setiap 4-6 jam untuk selama 48-72 jam. Anak
dengan kelainan neurologik yang mempunyai riwayat kejang, 7,2 x lebih
mudah terjadi kejang setelah imunisasi DPT dan mempunyai kesempatan
4,5 x lebih tinggi bila hanya mempunyai riwayat kejang pada keluarga.
Maka pada keadaan anak yang demikian hendaknya tidak diberikan
imunisasi pertusis, jadi hanya diberikan imunisasi DT. (Soedarmo, Garna,
Hadinegoro, & Satari, 2010)

Kontraindikasi pemberian vaksin pertusis yaitu anak yang


mengalami ensefalopati dalam 7 hari sebelum imunisasi, kejang demam
atau kejang tanpa demam dalam 3 hari sebelum imunisasi, menangis > 3
jam, high pitch cry dalam 2 hari, kolaps atau hipotensif hiperesponsif

dalam 2 hari, suhu yang tidak dapat diterangkan > 40,5 0C dalam 2 hari.
Eritromisin efektif untuk pencegahan pertusis pada bayi baru lahir dari ibu
dengan pertussis. (Soedarmo, Garna, Hadinegoro, & Satari, 2010)

Kontak erat pada anak usia < 7 tahun yang sebelumnya


telah diberikan imunisasi hendaknya diberi booster. Booster tidak perlu
diberikan bila telah diberikan imuniasasi dalam waktu 6 bulan terakhir,
juga diberikan eritromisin 50 mg/kgBB/24 jam dalam 2-4 dosis selama 14
hari. Kontak erat pada usia < 7 tahun juga perlu diberikan eritromisin
sebagai profilaksis. (Soedarmo, Garna, Hadinegoro, & Satari, 2010)

Pengobatan eritromisin awal berguna untuk mengurangi


penyebaran infeksi dan mengurangi gejala penyakit. Seseorang yang
kontak dengan pasien pertusis tetapi belum pernah diimunisasi hendaknya
diberi eritromisin selama 14 hari setelah kontak diputuskan. Jika kontak
tidak dapat diputuskan hendaknya eritromisin diberikan sampai pasien
berhenti batuk atau setelah pasien mendapat eritromisin selama 7 hari.
Vaksin pertusis monovalen dan eritromisin diberikan pada waktu terjadi
epidemik. (Soedarmo, Garna, Hadinegoro, & Satari, 2010)

Kewaspadaan penularan melalui droplet sampai hari ke-5


pemberian antibiotik yang efektif dan sampai minggu ke-3 setelah timbul
batuk paroksismal, apabila tidak diberikan antibiotik. Terdapat 2 tipe
vaksin pertusis, yaitu: 1) vaksin whole-cell (wP) dengan basis B. pertusis
yang dimatikan dan 2) vaksin acellular (aP) dengan komponen organisme
highly purified. (IDAI, 2011)

Prognosis
Prognosis tergantung usia, anak yang lebih tua mempunyai

prognosis lebih baik. Pada bayi risiko kematian (0,5-1%) disebabkan oleh
ensefalopati. Pada observasi jangka panjang, apnea atau kejang akan
menyebabkan gangguan intelektual di kemudian hari (IDAI, 2012). Mortalitas
terutama oleh karena kerusakan otak (ensefalopati), pneumonia, dan penyulit paru
lain. Dapat timbul sekuele berupa wheezing pada saat dewasa (IDAI, 2011).

BAB 3

ANALISA KASUS

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, Pasien An.R usia 6

bulan datang bersama orang tuanya ke Instalasi Gawat Darurat RSU AWS
Samarinda pada 3 mei 2015 dengan keluhan utama sesak napas. Diagnosis masuk
pasien ini adalah suspek bronkopneumonia. Diagnosa diruangan menjadi
wheezing atopi dan pertussis like syndrome. Diagnosa ini ditegakkan berdasarkan
hasil dari anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium.

TEORI

ANAMNESIS

Wheezing atopi

Bulu

binatang,

suhu

lingkungan/cuaca,

Batuk sejak 15 hari SMRS

Batuk dan sesak terutama timbul


pada malam dan dini hari

infeksi

saluran

berair

pernapasan, makanan
Faktor risiko: riwayat keluarga,
daerah

geografi

perkotaan,
tempat

letak
tinggal,

Ibu dan ayah pasien memiliki


riwayat alergi debu dan dingin.
Kakek

dan

paman

pasien

menderita asma

tingkat sosial ekonomi rendah,


etnis,

Batuk dengan nada tinggi dan


jika batuk mata pasien sampai

aerosol/aroma

yang tajam, asap rokok, asap


perapian,

Sesak napas sudah dirasakan


sejak 1 minggu SMRS.

Sesak napas
Napas mengi
Batuk
Pilek
Gejala muncul dipicu:
Aktivitas, emosi, debu,
perubahan

KASUS

Kebiasaan tidur menggunakan


kipas

angin

yang

memelihara anjing atau kucing

diarahkan

dalam rumah, terpapar asap rokok

penggunaan bahan kapuk dan

berbulu
Pertusis like syndrome

tidur.

kebadan

langsung

untuk

serta

perlengkapan

Keluhan utama serta gejala


klinis

pertussis

(adakah

serangan yang khas yaitu batuk


paroksismal dan bunyi whoop
yang jelas. Pada bayi muda
mungkin tidak disertai whoop,
akan tetapi batuk yang diikuti
oleh berhentinya napas atau
sianosis atau napas berhenti

tanpa batuk).
Riwayat kontak dengan pasien

pertussis
Riwayat

imunisasi

tidak

lengkap

Gejala

berdasarkan

stadium

Stadium Kataralis (1-2


minggu)

rinore

(pilek)

lendir

yang

jernih,

dengan
cair

injeksi

konjungtiva,

dan
pada

lakrimasi,

batuk ringan, panas yang


tidak begitu tinggi.

Stadium

Paroksismal/

Stadium Spasmodik (24 minggu)

Frekuensi

dan

derajat

batuk bertambah, khas


terdapat pengulangan 510 kali batuk kuat selama
ekspirasi

yang

diikuti

oleh usaha inspirasi masif


yang

mendadak

menimbulkan

dan
bunyi

melengking

(whoop).

Selama serangan muka


merah dan sianosis, mata
menonjol, lidah menjulur,
lakrimasi, salivasi, dan
distensi

vena

leher

bahkan

sampai

terjadi

petekia

di

wajah

(terutama di konjungtiva
bulbi).

Stadium Konvalesen (12 minggu)

Berhentinya whoop dan


muntah dengan puncak
serangan
yang

paroksismal

berangsur-angsur

menurun

dan

tampak

merasa

anak
lebih

baik.

PEMERIKSAAN FISIK

Wheezing atopi

Kesadaran

menurun
Takipneu atau bradipneu (pada

kasus yang mengancam nyawa)


Takikardi atau bradikardia

normal

atau

Pasien nampak kesadarannya

penuh.
Takipneu
Pada
auskultasi
didapat

kan

thorax
wheezing

ekspirasi pada hari pertama

(pada kasus yang mengancam

dan didapatkan rhonki pada

nyawa)

hari kedua dan seterusnya.

Penggunaan

napas
Retraksi dinding dada
Wheezing

otot-otot

bantu

Pertusis like syndrome

Gejala

klinis

yang

didapat pada pemeriksaan


fisik

tergantung

stadium

dari

saat

pasien

diperiksa.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Wheezing atopi

Pemeriksaan
leukositosis

laboratorium:
yang

ditandai

Laboratorium:

limfositosis
Pemeriksaan

kecuali wheezing disebabkan


oleh

kelainan

kongenital,

bronkiolitis, obstruksi benda

asing.
Apabila terdapat
infeksi

kecurigaan

bakteri/viral

dapat

dilakukan pemeriksaan swab


RSV,

sputum,

dan

uji

tuberculin.

Pertusis like syndrome

Diagnosis
ditemukan

pasti
organisme

apabila
pada

apus nasofaring (bahan media


Bordet-Gengou)

dengan

hitung

jenis

leukosit ditemukan limfosit

dengan peningkatan eosinophil


>4%
Foto thoraks: biasanya normal,

leukositosis,

yang tinggi
isolasi B. pertussis
dilakukan

tidak

menggunakan media transpor

(Regan-Lowe).
Leukositosis (15,000-100,000
sel / mm3) karena limfositosis
absolut

adalah

karakteristik

dalam stadium kataral.


Serologi terhadap antibosi
toksin pertusis. Tes serologi
berguna pada stadium lanjut
penyakit

dan

untuk

menentukan

adanya

infeksi

pada individu dengan biakan.


Cara

ELISA dapat dipakai

untuk menentukan serum IgM,


IgG, dan IgA terhadap FHA
dan PT. Nilai serum IgM FHA
dan

PT

respons

menggambarkan

imun

primer

baik

disebabkan oleh penyakit atau


vaksinasi. IgG toksin pertusis
merupakan tes yang paling
sensitive dan spesifik untuk
mengetahui infeksi dan tidak

tampak setelah pertussis.


Foto
toraks
dapat
memperlihatkan
perihiler

atau

atelektasis.

infiltrat
edema

dan

Konsolidasi

parenkim menunjukkan infeksi


bakteri

sekunder.

Pneumotoraks,
pneumomediastinum,

dan

udara di jaringan lunak dapat

dilihat sesekali.

DIAGNOSIS

Wheezing Atopi
Umur kurang dari 2 tahun,

Pasien berumur 6 bulan

apabila lebih dari 2 tahun dapat

dengan wheezing.
Batuk 15 hari dengan nada

didiagnosa asma bronkiale.


Memiliki
riwayat
atopi

keluarga.
Terbagi

menjadi

dua

berdasarkan onsetnya, yaitu :


Early (sebelum 3 tahun) dan

late onset (sesudah 3 tahun)


Penegakan
diagnosis
menggunakan

pemeriksaan

penunjang seperti spirometry


tidak dianjurkan karena sulit
dilakukan pada anak dibawah 5
tahun dan hasilnya dinilai tidak
akurat sebelum anak mencapai

usia 8 tahun.

Pertusis like syndrome


Batuk paroksismal dengan nada
tinggi, sering, hingga mata

pasien berair
Imunisasi pasien belum lengkap
Leukositosis (15,000-100,000
sel / mm3) karena limfositosis

absolut
Diagnosis

pasti

apabila

ditemukan organisme pada apus


nasofaring

tinggi dan jika batuk mata

(bahan

media

pasien sampai berair


Ibu dan ayah pasien
memiliki

riwayat

alergi

debu dan dingin.


Kakek dan paman pasien
menderita asma

Bordet-Gengou)

dengan

menggunakan media transpor


(Regan-Lowe).

PENATALAKSANAAN

Pemberian

cairan

nutrisi yang adekuat.

Oksigenasi
sesuai

1. IVFD

bila

berlu

dengan

hasil

dari

pulse

saturasi
oksimetri.

Penanganan

dan

wheezing

mengikuti etiologinya.

Penatalaksanaan:
D51/4NS

650cc/24

jam 9 tpm
2. Drip aminofilin 97,5 ml
3.
4.
5.
6.
7.

3,1ml/kolf
Inj ampicillin 3x200 mg
Inj gentamicin 2x15 mg
PCT syr 3x1/2 cth
Eritromisin 3x2ml
Rhinofed tab + CTM 0,6
mg + salbutamol 0,6 mg +

Berikan

bronkodilator

kerja-cepat dengan salah


satu cara berikut:
1.

Salbutamol nebulisasi

Alat nebulisasi harus dapat

menghasilkan aliran udara minimal


6-10

L/

menit.

direkomendasikan

Alat

yang

adalah jet-

nebulizer (kompresor udara) atau


silinder oksigen. Dosis salbutamol
adalah 2.5 mg/kali nebulisasi; bisa
diberikan setiap 4 jam, kemudian
dikurangi sampai setiap 6-8 jam
bila kondisi anak membaik. Bila
diperlukan, yaitu pada kasus yang
berat, bisa diberikan setiap jam
untuk waktu singkat.
2.

Salbutamol

dengan

MDI

Dexametason 1/5 tab 3x1


pulv
8. Ambroxol 3x1 ml

(metered dose inhaler) dengan


spacer

Alat spacer dengan

berbagai

volume tersedia secara komersial.


Penggunaannya mohon lihat buku
Pedoman Nasional Asma Anak.
Pada anak dan bayi biasanya lebih
baik jika memakai masker wajah
yang

menempel

pada spacer dibandingkan


memakai mouthpiece.
Jika spacertidak
tersedia, spacer bisa

dibuat

menggunakan gelas plastik atau


botol plastik 1 liter. Dengan alat ini
diperlukan 3-4 puff salbutamol dan
anak harus bernapas dari alat
selama 30 detik.
3.

Jika kedua cara tidak tersedia,


beri suntikan epinefrin (adrenalin)
secara subkutan

Jika

pemberian

kedua

cara

untuk

salbutamol

tidak

tersedia, beri suntikan epinefrin


(adrenalin) subkutan dosis 0.01
ml/kg dalam larutan 1:1 000 (dosis
maksimum: 0.3 ml), menggunakan
semprit 1 ml. Jika tidak ada
perbaikan setelah 20 menit, ulangi
dosis dua kali lagi dengan interval
dan dosis yang sama. Bila gagal,
dirawat sebagai serangan berat dan

diberikan steroid dan aminofilin.

Pemberian
steroid

golongan

hanya

apabila

wheezing tidak membaik


setelah

pemberian

nebulisasi bronkodilator.
Dosis yang diberikan 0,10,2 mg/ kg/ dosis, I.V.

Edukasi

untuk

menghindari

pajanan

dengan faktor risiko yang


dimiliki pasien.

Pemberian

antibiotik

hanya apabila terdapat


kecurigaan

terjadinya

infeksi sekunder.

Pemberian antikolinergik
belum

dapat

diketahui

secara jelas manfaatnya.

Pemberian
resptor

antagonis
leukotriene

menunjukkan perbaikan,
namun

masih

belum

terdapat data yang cukup


untuk
penggunaan

mendukung
obat

ini

sebagai terapi pertama.

Pertusis like syndrome

Antimikroba selalu diberikan


bila pertusis dicurigai atau

dikonfirmasi

untuk

menurunkan periode infeksius


dan

membatasi

penyebaran

infeksi. Eritromisin (40-50 mg /


kg / 24 jam per oral dalam
dosis

terbagi

empat;

maksimum: 2 g / 24 jam)

selama 14 hari
Belum ada penelitian besar
yang

menunjukan

penggunaan

manfaat

salbutamol

dan

kortikosteroid

DAFTAR PUSTAKA

Annemie, B., & Peter, M. (2006). Medscape. Retrieved from Astma


Therapy

for

Children

Under

Years

of

Age:

http://www.medscape.com/viewarticle/520040

CDC. (2010). Centers for Disease Control and Prevention. Retrieved May
9, 2015, from Case Definitions for Infectious Condition Under Public
Health Surveillance: www.cdc.gov/pertusis.surv-reporting.html

IDAI. (2010). Buku Ajar Respirologi Anak. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.

IDAI. (2011). Pedoman Pelayanan Medis. Jakarta: Badan Penerbit Ikatan


Dokter Anak Indonesia.

Long, S. S. (2011). Pertussis (Bordetella pertussis and B. parapertussis). In


R. Kliegman, B. Stanton, & R. Behrman, Nelson Textbook of Pediatrics
19th Edition (pp. 908-912). Washington DC: Elsevier.

McIntyre, W. N. (2008). Pertussis : review of epidemiology, diagnosis,


management and prevention. . Paeditr Respir Rev, 201.

Nataprawira, H. M., Cahayasari, F., & Kashmir, A. (2012). Pertussis-like


syndrome or pertussis : a delay diagnosis. Paediatrica Indonesiana, 28-31.

Philip, P. (2008). Wheeze in Infants and Young Children. 264-269.

Soedarmo, S., Garna, H., Hadinegoro, S., & Satari, H. (2010). Pertusis. In
Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis. Jakarta: Balai Penerbit IDAI.

Weiss, L. N. (2008). The Diagnosis of Wheezing in Children. American


Family Physician.

WHO. (2009). Buku Saku Pedoman Kesehatan Anak di Rumah Sakit.


Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.