Anda di halaman 1dari 38

,PENGARUH PARTISIPASI ANGGARAN TERHADAP SLACK

ANGGARAN MELALUI ASIMETRI INFORMASI SEBAGAI


VARIABLE INTERVENING DAN KETIDAKPASTIAN KARIR
SEBAGAI VARIABEL MODERATING

PROPOSAL SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Sarjana (S1) pada
Program Sarjana Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Universitas Diponegoro
Disusun oleh :
MEIDINTA RINDA TANIA
NIM. 12030112140092

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG 2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Anggaran merupakan komponen penting dan bermanfaat bagi suatu organisasi.
Anggaran dapat memaksa suatu organisasi untuk merencanakan masa depan,
mengembangkan arah organisasi secara menyeluruh, mengantisipasi masalah, dan
mengembangkan kebijakan untuk masa depan (Hansen&Mowen:2004). Dari
anggaran suatu entitas dapat memutuskan apa yang seharusnya dilakukan di periode
mendatang, sesuai dengan Mardiasmo (2004) yang menjelaskan bahwa anggaran
berisi estimasi mengenai apa yang akan dilakukan organisasi di masa yang akan
datang karena setiap anggaran memberikan informasi mengenai apa yang hendak
dilakukan dalam beberapa periode yang akan datang.
Pada sektor swasta, anggaran merupakan bagian dari rahasia perusahaan yang
tertutup untuk publik, namun sebaliknya pada sektor public anggaran justru harus
diinformasikan kepada publik karena anggaran sektor public merupakan instrument
akuntabilitas atas pengelolaan dana public dan pelaksanaan program-program yang
dibiayai dengan uang publik. Adapun fungsi utama dari anggaran sektor publik
adalah sebagai alat perencanaan, alat pengendalian, alat kebijakan fiscal, alat politik,
alat koordinasi dan komunikasi, dan alat penilaian kinerja (Mardiasmo, 2004).

Anggaran digunakan sebagai alat penilaian kinerja. Dalam hal ini, anggaran
merupakan wujud komitmen dari eksekutif (budget holder) kepada legislatif
(pemberi wewenang).

Kinerja eksekutif akan dinilai berdasarkan pencapaian

target anggaran dan efisiensi pelaksanaan anggaran. (Mardiasmo,2004). Dalam


anggaran sektor publik untuk daerah di Indonesia, yang bertindak sebagai pihak
eksekutif adalah Satuan kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan yang bertindak
sebagai pihak legislatif adalah DPRD. Pencapaian kinerja eksekutif dinilai
berdasarkan realisasi pencapaian dan pelaksanaan anggaran yang dilakukan oleh
eksekutif dengan anggaran yang telah dibuat sebelumnya. Hal tersebut dapat
mendorong eksekutif untuk tidak mengungkapkan kapabilitas yang sesungguhnya
dimiliki atau membuat budgetary slack (kesenjangan anggaran). Hal ini dapat
dicerminkan dari sumber pendapatan yang datang dari Budget surplus atau biasa
disebut SILPA (Sisa Lebih Perhitungan Anggaran) yang didapatkan dari realisasi
pendapatan yang lebih tinggi dari yang dianggarkan, atau dari efisiensi
pengeluaran anggaran (Widanaputra, 2014).
Penyusunan anggaran dapat dilakukan dengan pendekatan top-down atau
bottom-up. Pada penganggaran yang dilakukan dengan sistem top-down, rencana
dan jumlah anggaran telah ditetapkan oleh atasan/pemegang kuasa anggaran
sehingga bawahan/pelaksana anggaran hanya melakukan apa yang telah disusun
(Omposunggu dan Bawono, 2006:2). Penerapan sistem top-down budgeting
sering menimbulkan permasalahan, penerapan sistem ini mengakibatkan kinerja
bawahan/pelaksana anggaran kurang efektif karena jumlah anggaran yang

direncanakan cenderung terlalu menuntut dan tidak sesuai dengan kapasitas dan
kapabilitas yang dimiliki oleh pelaksana anggaran. Hal ini didukung oleh
pendapat (Lasdi, 2007:2) yang mengatakan bahwa Penyusunan anggaran
keuangan tradisional, top-down budgeting, biasanya berpotensi menimbulkan
masalah. Sebaliknya, pendekatan bottom-up memungkinkan terjadinya negosiasi
antar para manajer untuk mencapai tujuan organisasi (Sardjito, 2005:13).
Meskipun dapat menciptakan komitmen manajemen bawah, namun anggaran
bottom-up

tetap

mempunyai

kelemahan,

yaitu

seringkali

tidak

mempertimbangkan keselarasan tujuan, kurang terkendali dan tujuan yang ingin


tercapai terlalu mudah (R.A Supriyono, 2000; 55).
Berdasarkan kelemahan-kelemahan yang dimiliki sistem top-down budgeting
& bottom-up budgeting, maka organisasi mulai menerapkan sistem pendekatan
penyusunan anggaran yang dapat menanggulangi permasalahan kedua sistem
tersebut, yaitu pendekatan partisipatif. Menurut French et.al (1960) dalam
Omposunggu dan Bawono (2006) partisipasi merupakan proses kerjasama dalam
pengambilan keputusan antara dua kelompok atau lebih yang berpengaruh pada
pengambilan keputusan itu sendiri di masa yang akan datang, dengan kata lain
bawahan/pelaksana anggaran mempunyai andil di dalam pengambilan keputusan.
Melalui sistem penganggaran partisipatif ini, bawahan/pelaksana anggaran
dilibatkan dalam proses penyusunan anggaran sehingga tercapai kesepakatan
antara

atasan/kuasa

(Abdulrohman, 2013).

anggaran

dengan

bawahan/pelaksana

anggaran.

Di Indonesia, penyusunan anggaran public untuk daerah dilakukan dengan


pendekatan partisipatif. Sesuai dengan UU No 17 Tahun 2003 pasal 19 tentang
keuangan negara,penyusunan anggaran untuk daerah di Indonesia dimulai dari
Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sebagai pihak eksekutif yang selanjutnya
akan meminta persetujuan dari pihak legislatif (DPRD). Selanjutnya, anggaran
tersebut akan digunakan sebagai dasar untuk mengevaluasi pihak eksekutif
dengan cara membandingkan realisasi anggaran dengan anggaran yang telah
disusun sebelumnya. Kondisi tersebut memberikan celah bagi pihak eksekutif
untuk menciptakan budgetary slack dengan tujuan mempermudah terealisasinya
anggaran.
Salah satu hal yang dapat mendorong terciptanya budgetary slack adalah
asimetri informasi atau perbedaan informasi yang dimiliki oleh pihak kuasa
anggaran dan pihak pelaksana anggaran. Asimetri informasi muncul ketika
pelaksana anggaran mempunyai informasi yang relevan berkaitan dengan
keputusan mengenai anggaran yang tidak dimiliki oleh kuasa anggaran (Evans,
Hannan,

Krishnan,

&

Moser,

2001;

Kren

&

Liao,1988).

Partisipasi

eksekutif/pelaksana anggaran dalam proses penyusunan anggaran memberikan


kesempatan pada legislatif/kuasa anggaran untuk memperoleh informasi privat
ketika pelaksana anggaran mengkomunikasikan atau mengungkapkan informasi
privat yang mereka miliki (Baiman & Evans, 1983; Covaleski et al., 2003). Oleh
karena itu, partisipasi dianggap merupakan solusi untuk asimetri informasi,

dimana diharapkan semakin tinggi partisipasi pada penyusunan anggaran,


semakin rendah asimetri informasi yang terjadi.
Selain perbedaan informasi, terdapat kondisi yang mempengaruhi pelaksana
anggaran menciptakan budgetary slack. Menurut Widanaputra (2014), terjadinya
ksesenjangan anggaran juga dapat dimungkinkan oleh seberapa pasti pelaksana
anggaran ditempatkan di posisi yang sama pada tahun berikutnya. Semakin pasti
pelaksana anggaran yakin bahwa ia akan ditempatkan pada posisi yang sama,
maka semakin tinggi kemungkinan kesenjangan anggaran akan dibuat.
Berbagai penelitian yang menguji pengaruh partisipasi anggaran terhadap
kesenjangan anggaran telah banyak dilakukan tetapi menunjukkan hasil yang
tidak sama bahkan bertentangan. Penelitian terdahulu yang pernah dilakukan
dengan tema ini diantaranya Onsi (1973), Merchant (1985), Abdullah (2004),
Lowe dan Shaw (1968), Dunk (1993), Young (1985) dan Collins (1978).
Penelitian yang dilakukan oleh Onsi (1973), Merchant (1985), dan Abdullah
(2004) menunjukkan bahwa partisipasi anggaran mempunyai pengaruh negatif
terhadap kesenjangan anggaran. Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh
Lowe dan Shaw (1968) dalam Yuwono (1998) dan Young (1985) menunjukkan
bahwa partisipasi anggaran mempunyai pengaruh positif terhadap kesenjangan
anggaran. Collins (1978) menemukan bahwa partisipasi anggaran tidak
berpengaruh terhadap kesenjangan anggaran.
Govindarajan (1986) mempercayai bahwa pendekatan yang berbeda penting
dilakukan untuk menjelaskan ketidakkonsistenan antara variabel yang diteliti. Hal
tersebut mendorong para peneliti untuk menguji variabel lain yang dapat

menjelaskan ketidakkonsistenan hubungan antara partisipasi anggaran dan


kesenjangan anggaran. Widanaputra (2014) menyatakan bahwa pendekatan yang
berbeda dapat dilakukan melalui model agensi atau dengan menggunakan
berbagai model kontinjensi sebagai prediktor. Contohnya, Ikhsan (2007) menguji
pengaruh partisipasi anggaran terhadap kesenjangan anggaran melalui lima
variable moderator, menyimpulkan bahwa variable Kecukupan Anggaran
merupakan pure moderator sementara Gaya Kepemimpinan, Komitmen
Organisasi, Ketidakpastian Lingkungan, Ketidakpastian strategis merupakan
quasi moderator dalam hubungannya antara partisipasi anggaran dan kesenjangan
anggaran. Selanjutnya Apriyandi (2011) menguji pengaruh partisipasi anggaran
terhadap kesenjangan anggaran melalui asimetri informasi sebagai variable
moderating. Hasil penelitian tersebut adalah asimetri informasi dapat memoderasi
hubungan antara partisipasi anggaran dengan partisipasi anggaran. Penelitianpenelitian yang telah dilakukan menambah faktor-faktor lain yang diduga dapat
mempengaruhi hubungan antara partisipasi anggaran dan kesenjangan anggaran.
Factor-faktor tersebut diuji sebagai variable moderating atau variable intervening.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh partisipasi anggaran terhadap
kesenjangan anggaran. Pada penelitian ini digunakan satu variable moderating
yaitu asimetri informasi dan satu variable intervening yaitu ketidakpastian karir
untuk menjelaskan ketidakkonsistenan penelitian-penelitian yang telah dilakukan
sebelumnya. Penelitian ini dilakukan di Pemerintah Kota Semarang. Penelitian ini
disusun dengan judul Pengaruh partisipasi anggaran terhadap Kesenjangan

anggaran dengan Ketidakpastian Karir sebagai variable Intervening dan Asimetri


Informasi sebagai variable Moderating.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan diatas, maka
permasalahan yang menjadi pusat perhatian dalam penelitian ini dapat dirumuskan
sebagai berikut:
1. Apakah partisipasi anggaran berpengaruh terhadap kesenjangan anggaran?
2. Apakah terdapat pengaruh partisipasi anggaran terhadap asimetri
informasi?
3. Apakah terdapat pengaruh asimetri informasi terhadap kesenjangan
anggaran?
4. Apakah ketidakpastian karir memoderasi hubungan antara partisipasi
anggaran dan kesenjangan anggaran?
1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
1. Untuk menganalisis pengaruh partisipasi anggaran terhadap kesenjangan
anggaran pada organisasi sektor publik SKPD Kota Semarang.
2. Untuk menganalisis pengaruh partisipasi anggaran terhadap asimetri
informasi pada organisasi sektor publik SKPD Kota Semarang.

3. Untuk menganalisis pengaruh asimetri informasi terhadap kesenjangan


anggaran pada organisasi sektor publik SKPD Kota Semarang.
4. Untuk menganalisis pengaruh ketidakpastian karir dalam hubungan antara
partisipasi anggaran dan kesenjangan anggaran pada organisasi sektor publik
SKPD Kota Semarang..
1.3.2

Kegunaan Penelitian

1.Bagi Sektor Publik


Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk

pemerintahan

dalam menerapkan sistem penyusunan penganggaran yang efektif.


2.Bagi Akademisi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan
teori terutama dalam bidang akuntansi manajemen dan memberikan kontibusi dalam
perkembangan literatur penelitian akuntansi.
3.Bagi Pembaca
Hasil penelitian ini dapat memberikan pengetahuan kepada pembaca terkait dengan
partisipasi anggaran dalam hubungannya dengan kesenjangan anggaran.
BAB II
TELAAH PUSAKA

2.1 Landasan Teori dan Penelitian Terdahulu


2.1.1 Landasan Teori
1.Teori Agensi (Agenchy Theory)
Teori Agensi (Agenchy Theory) merupakan teori yang menjelaskan hubungan
antara Agen dan Prinsipal. Agen merupakan pihak yang diberikan tanggung jawab
untuk melakukan kepentingan prinsipal dan prinsipal merupakan pihak yang
memberikan tanggung jawab. (Anthony dan Govindarajan, 1995:569). Teori Agensi
memiliki asumsi bahwa agen dan prinsipal merupakan dua economic agent yang
masing-masing termotivasi untuk memaksimalkan utility yang dimilikinya sehingga
menimbulkan konflik kepentingan.
Adanya konflik kepentingan tersebut dapat menyebabkan munculnya masalah
keagenan dimana prinsipal kesulitan memastikan bahwa agen bertindak untuk
memaksimumkan kesejahteraan prinsipal. Agen mempunyai lebih banyak informasi
mengenai lingkungan organisasi karena agen bertugas secara langsung dalam
mengelola organisasi. Sedangkan prinsipal tidak memiliki informasi yang cukup
tentang kinerja agen. Hal inilah yang mengakibatkan adanya ketidakseimbangan
informasi antara principal dan agen. Ketidakseimbangan informasi inilah yang
disebut dengan asimetri informasi (Ujiyantho, 2007).
2.1.1.2 Pengertian Anggaran

Anggaran

merupakan

pernyataan

mengenai

apa

yang

diharapkan,

direncanakan,diperkirakan terjadi dalam periode tertentu yang direncanakan yang


terjadi di masa yang akan datang (Lowe, 1970 dalam Zain, 2003). Sedangkan definisi
anggaran menurut Munandar (2001:1), Suatu rencana yang disusun secara sistematis
yang meliputi seluruh kegiatan perusahaan, yang dinyatakan dalam unit (kesatuan)
moneter dan berlaku untuk jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang.
Menurut Mulyadi (2001), Anggaran merupakan suatu rencana kerja yang
dinyatakan secara kuantitatif, yang diukur dalam satuan moneter standar dan satuan
ukuran yang lain, yang mencakup jangka waktu satu tahun. Anggaran merupakan
suatu rencana kerja jangka pendek yang disusun berdasarkan rencana kerja jangka
panjang yang ditetapkan dalam proses penyusunan program.

2.1.1.3 Karakteristik Anggaran:


Anggaran mempunyai karakteristik:
1. Anggaran dinyatakan dalam satuan keuangan dan satuan selain keuangan.
2. Anggaran bersifat formal, disusun dengan sengaja dan bersungguh-sungguh
dalam bentuk tertulis.
3. Anggaran bersifat sistematis, disusun berurutan dan berdasarkan suatu
logika.
4. Anggaran umumnya mencakup jangka waktu tertentu,satu atau beberapa
tahun.
5. Anggaran berisi komitmen atau kesanggupan manajeman untuk mencapai
sasaran yang ditetapkan.

6.

Usulan angggaran ditelaah dan disetujui oleh pihak yang berwenang lebih

tinggi dari penyusunan anggaran.


7. Sekali disusun, anggaran hanya dapat diubah dalam kondisi tertentu.
2.1.1.4 Prinsip-Prinsip Anggaran Sektor Publik
Menurut Mardiasmo (2004) prinsip-prinsip anggaran sektor publik antara lain:
1.Otorisasi oleh legislative
Anggaran publik harus mendapat otorisasi dari legislatif terlebih dahulu
sebelum eksekutif membelanjakan anggaran tersebut.
2.Komprehensif
Anggaran harus menunjukkan semua penerimaan dan pengeluaran
pemerintah. oleh karena itu, adanya dana non anggaran pada dasarnya
menyalahi prinsip anggaran yang bersifat komprehensif.
3.Keutuhan anggaran
Semua penerimaan dan belanja pemerintah harus terhimpun dalam dana
umum (general fund)
4.Nondiscretionary appropriation
Jumlah yang disetujui oleh dewan legislatif harus dimanfaatkan secara
ekonomis, efisien dan efektif

5.Periodik
Anggaran merupakan suatu proses yang periodik dapat bersifat tahunan
maupun multitahunan

6.Akurat
Estimasi anggaran hendaknya tidak memasukkan cadangan yang tersembunyi
yang dapat digunakan sebagai pemborosan dan inefisiensi anggaran serta
dapat mengakibatkan munculnya underestimate pendapatan dan overestimate
pengeluaran.
7.Jelas
Anggaran hendaknya sederhana, dapat dipahami masyarakat dan tidak
membingungkan
8.Diketahui publik
Anggaran harus diinformasikan kepada masyarakat luas.

Anggaran sektor publik merupakan instrumen akuntabilitas atas pengelolaan


dana publik dan pelaksanaan program-program yang dibiayai dengan uang publik.
Penganggaran sektor publik terkait dengan proses penentuan jumlah alokasi dana
untuk tiap-tiap program (Mardiasmo,2004).

2.1.1.4 Partisipasi Anggaran


Brownel (1982) menyatakan bahwa Partisipasi anggaran merupakan suatu
proses yang melibatkan individu-individu secara langsung di dalamnya dan
mempunyai pengaruh terhadap penyusunan tujuan anggaran yang prestasinya akan
dinilai dan kemungkinan akan dihargai atas dasar pencapaian tujuan anggaran
mereka. Melalui partisipasi dalam proses persiapan anggaran, principal akan

memperoleh

kesempatan

mendapatkan

informasi

dari

agen

yang

dapat

dikomunikasikan dan lebih akurat berupa lokal informasi yang nantinya akan
digunakan sebagai standar yang dapat memberikan keuntungan dalam pengukuran
kinerjanya nanti (Magee, 1980; Baiman, 1982; Baiman & Evans, 1983).

2.1.1.5 Asimetri Informasi


Asimetri informasi merupakan perbedaan atau ketidakseimbangan informasi
yang dimiliki oleh atasan dan bawahan. Seperti yang diungkapkan oleh Ompusunggu
dan Bawono (2006:6), Asimetri informasi adalah keadaan dimana salah satu pihak
mempunyai pengetahuan lebih daripada pihak lainnya terhadap suatu hal. Dalam hal
ini, biasanya pihak agen (bawahan) lebih mempunyai banyak informasi daripada
pihak principal (atasan). Hal ini didukung oleh pendapat Baiman (1982), Chow et.al
(1988), Blanchard & Chow (1983) dan Waller (1988) menyatakan bahwa di beberapa
organisasi, bawahan memiliki informasi lebih akurat yang dapat mempengaruhi
pengukuran kinerja dibandingkan atasannya.

2.1.1.6 Ketidakpastian Karir


Ketidakpastian karir dapat diartikan sebagai tingkat keyakinan setiap anggota
bahwa mereka akan tetap menempati posisi yang sama ketika anggaran dibuat dan
direalisasikan.

Tingkat keyakinan ini sangat mempengaruhi pengungkapan saat

anggaran dibuat. (Widanaputra, 2014)

2.1.1.7 Kesenjangan Anggaran


Onsi (1973) menyatakan bahwa senjangan anggaran menggambarkan jumlah
sumber daya tambahan yang sengaja dibangun manajer dalam anggarannya atau
berarti dengan sengaja mengecilkan kemampuan produktifnya. Sementara Young
(1985) mendefinisikan kesenjangan anggaran sebagai pelaporan jumlah anggaran
yang dengan sengaja dilaporkan melebihi sumber daya yang dimiliki perusahaan dan
mengecilkan kemampuan produktivitas yang dimilikinya. Anthony dan Govindarajan
(1998) mengartikan Kesenjangan Anggaran sebagai perbedaan antara laporan yang
dianggarakan yang sesuai dengan estimasi terbaik perusahaan.
Senjangan anggaran tidak selalu dipandang negatif tetapi dalam kejadian
tertentu dapat dipandang sebagai sesuatu yang positif. Schiff & Lewin (1968) dalam
Ramdeen et.al (2006) menemukan bahwa manajemen dapat dan bisa menciptakan
senjangan anggaran untuk mencapai anggaran yang harus dicapai dan untuk
mengamankan sumber daya untuk kepentingan dan tujuan mereka dimasa yang akan
datang.

2.2 Penelitian Terdahulu


1. Leslie Kren, Adam

Maiga

(2007)

melakukan

penelitian

untuk

menganalisis pengaruh variable intervening Asimetri Informasi dalam


hubungan antara partisipasi anggaran dan kesenjangan anggaran. Data
yang diperoleh diolah menggunakan Path Analysis. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara partisipasi anggaran

dan kesenjangan anggaran. Asimetri Informasi terbukti merupakan


variable intervening dalam hubungan antara partisipasi anggaran dan
kesenjangan anggaran.
2. Widanaputra & Mimba (2014) melakukan penelitian untuk menganalisis
pengaruh variable moderating Ketidakpastian Karir dalam hubungan
antara partisipasi anggaran dan kesenjangan anggaran. Data yang
diperoleh diolah menggunakan Analisis Regresi Berganda. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara
partisipasi anggaran dan kesenjangan anggaran. Ketidakpastian Karir
terbukti merupakan variable Moderating dalam hubungan antara
partisipasi anggaran dan kesenjangan anggaran.
3.

Ikhsan (2007) melakukan penelitian untuk menganalisis pengaruh

variable pengaruh partisipasi anggaran pada senjangan anggaran


menggunakan 5 variabel moderating.
menggunakan

Regresi

linear

Data yang diperoleh diolah

sederhana

Hasil

penelitian

ini

menunjukkan bahwa bahwa ketidakpastian lingkungan, ketidakpastian


strategi, komitmen organisasi dan gaya kepemimpinan berfungsi sebagai
quasi moderator dalam hubungan antara partisipasi anggaran dan
senjangan anggaran.
4.Apriyandi (2011) melakukan penelitian untuk menganalisis pengaruh
anggaran partisipatif terhadap budgetary slack dan untuk mengetahui
pengaruh informasi asimetri terhadap hubungan antara anggaran

partisipatif dengan budgetary slack. Data yang diperoleh diolah


menggunakan Analisis Regresi Linier Berganda. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan antara anggaran
partisipatif dengan budgetary slack dengan arah negative dan informasi
asimetri memoderasi hubungan antara anggaran partisipatif dengan
budgetary slack.
5.Falikhatun (2007) melakukan penelitian untuk menganalisis pengaruh
partisipasi anggaran pada senjangan anggaran dengan menggunakan
asimetri informasi, budaya organisasi dan Group Cohesiveness sebagai
variable moderating. Data yang diperoleh diolah menggunakan Analisis
Regresi Berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Asimetri
Informasi dan Group Cohesiveness terbukti merupakan variable
moderating antara hubungan partisipasi anggaran dan senjangan
anggaran, tetapi budaya organisasi tidak mempunyai pengaruh variable
moderating dalam hubungan antara parisipasi anggaran dan senjangan
anggaran.

Tabel 2.1
Ringkasan Penelitian Terdahulu

N
o
1.

Peneliti
Leslie
Kren,
Adam
Meiga

Ikhsan

Tahu
n
2007

2007

Variabel

Alat Uji

Independen:
Partisipasi
Anggaran
Dependen:
Kesenjangan
Anggaran
Intervening:
Asimetri
Informasi

Path
Analysis

Independen:
Partisipasi
Anggaran
Dependen:
Kesenjangan
Anggaran
Moderating:
Gaya
Kepemimpina
n, Komitmen
Organisasi,
Ketidakpastia
n
Lingkungan,
Ketidakpastia
n
strategis,
Kecukupan
anggaran.

Regresi
Linier
sederhan
a,
Moderat
ed
Regressi
on
Analysis
(MRA)

Hasil
1. Partisipasi Anggaran
berpengaruh positif
terhadap kesenjangan
anggaran
2. Asimetri
Informasi
merupakan variable
intervening
dalam
hubungan
antara
partisipasi anggaran
dan
senjangan
anggaran.
1. Partisipasi anggaran
mempunyai pengaruh
positif
terhadap
kesenjangan anggaran.
2. Variabel Kecukupan
anggaran
berlaku
sebagai
pure
moderator
dalam
hubungannya antara
partisipasi anggaran
dan
kesenjangan
anggaran
3. Variabel
Ketidakpastian
strategik,
ketidakpastian
lingkungan, komitmen
organisasi dan gaya
kepemimpinan
berlaku sebagai quasi
moderator
dalam
hubungannya antara
partisipasi anggaran

dan
kesenjangan
anggaran
3

Falikhatun

2007

Independen: Analisis
Partisipasi
Regresi
Anggaran
Berganda
Dependen:
Kesenjangan
Anggaran
Moderating:
Ketidakpastia
n lingkungan,
Group
Cohesiveness

4.

Apriyandi

2011

Independen:
Partisipasi
Anggaran
Dependen:
Kesenjangan
Anggaran
Moderating:
Asimetri
Informasi

Analisis
Regresi
Linier

Widanaput 2014
ra
&
Mimba

Independen:
Partisipasi
Anggaran
Dependen:
Kesenjangan
Anggaran
Moderating:
Ketidakpastia
n Karir

Analisis
Regresi
Berganda

1. Partisipasi Anggaran
mempunyai pengaruh
positif
terhadap
Kesenjangan
Anggaran.
2. Ketidakpastian
Lingkungan
dan
Group Cohesiveness
tidak
memoderasi
hubungan
antara
partisipasi anggaran
dan
kesenjangan
anggaran.
1. Terdapat
pengaruh
negatif
partisipasi
anggaran
terhadap
kesenjangan anggaran.
2. Asimetri
Informasi
memoderasi
hubungan
antara
partisipasi anggaran
dengan kesenjangan
anggaran
1. Terdapat pengaruh
positif partisipasi
anggaran terhadap
kesenjangan
anggaran.
2. Ketidakpastian
karir merupakan
variable
yang
memoderasi
hubungan antara
partisipasi
anggaran dengan

kesenjangan
anggaran.

2.2.Kerangka Pemikiran
Dalam penelitian ini partisipasi anggaran dianggap secara langsung mampu
mempengaruhi kesenjangan anggaran dan secara tidak langsung mempengaruhi
kesenjangan anggaran melalui asimetri informasi. Leslie Kren and Adam S. Maiga
(2007) menemukan bahwa partisipasi anggaran mempunyai hubungan negatif dan
signifikan terhadap Asimetri Informasi, sejalan dengan pernyataan Baiman & Evans
(1983) dan Covaelski et al., (2003) yang mengungkapkan bahwa partisipasi anggaran
dapat memberi atasan kesempatan untuk menggali akses tentang informasi lokal jika
bawahan mengkomunikasikan atau memberitahukan informasi prifat yang dapat
mengurangi asimetri informasi.
Seseorang yang dilibatkan dalam penyusunan anggaran dan mempunyai
partisipasi tinggi dalam penyusunan anggaran serta menghadapi ketidakpastian karir
yang rendah akan cenderung menciptakan senjangan dalam anggaran karena ia
mampu mengatasi ketidakpastian dan mampu memprediksi masa mendatang, sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Widanaputra (2014) yang mengungkapkan
bahwa ketidakpastian karir dapat mempengaruhi hubungan antara partisipasi
anggaran dan senjangan anggaran.
Adapun kerangka pemikiran dalam penelitian ini digambarkan sebagai berikut:

GAMBAR 1
Bagan Kerangka Pemikiran Penelitian

Ketidakpasti
an Karir
H
PARTISIPA
SI
ANGGARA

Kesenjan
gan
Anggaran

H
Asimetri
Informasi

2.3 Hipotesis
2.3.1 Partisipasi Anggaran dan Kesenjangan Anggaran
Penelitian yang mencoba menghubungkan partisipasi anggaran dengan
kesenjangan anggaran sering menghasilkan hasil yang tidak konsisten. Asersi ini
didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Falikhatun (2007), Young (1985),

Yuwono (1999), Hansen, Otley, Van der Stede (2003) yang membuktikan bahwa
partisipasi anggaran berpengaruh positif signifikan terhadap kesenjangan anggaran.
Semakin tinggi partisipasi anggaran yang ada dalam pembuatan anggaran, maka
semakin tinggi kemungkinan bawahan/pelaksana anggaran melakukan senjangan
anggaran.

Namun penelitian yang dilakukan Baiman (1982) dan Dunk (1993)

membuktikan bahwa partisipasi cenderung mengurangi budgetary slack, sejalan


dengan penelitian yang dilakukan Onsi (1973); Camman (1976); Merchant (1985)
yang menunjukkan bahwa partisipasi dalam penyusunan anggaran dapat mengurangi
senjangan anggaran.
Dalam penelitian ini, perumusan hipotesis mengacu pada penelitian yang
dilakukan oleh Young (1985), Falikhatun (2007), Yuwono (1999), dan Hansen, Otley,
Van der stede (2003) dimana partisipasi anggaran berpengaruh positif terhadap
budgetary slack. Alasan yang mendasari hal tersebut adalah Pada penyusunan
anggaran daerah yang bersifat partisipatif, anggaran disusun oleh pihak eksekutif
yang disetujui oleh pihak legislatif. Anggaran ini selanjutnya akan menjadi basis
penilaian untuk evaluasi pihak eksekutif setelah anggaran direalisasikan. Mardiasmo
(2002) menyatakan bahwa Kinerja eksekutif akan dinilai berdasarkan pencapaian
target anggaram dan efisiensi pelaksanaan anggaran. Kinerja manajer publik dinilai
berdasarkan berapa yang berhasil ia capai dikaitkan dengan anggaran yang telah
ditetapkan. Widanaputra (2014) menerangkan bahwa dalam kondisi seperti itu,
terdapat kemungkinan pihak eksekutif sebagai pelaksana anggaranmembuat
kesenjangan pada anggaran untuk mempermudah terealisasinya anggaran.

Temuan tersebut mengarahkan pada hipotesis hubungan antara Partisipasi


Anggaran dan Senjangan Anggaran sebagai berikut:
H1. Terdapat pengaruh positif antara partisipasi anggaran dan
senjangan anggaran.

2.3.2 Partisipasi Anggaran dan Asimetri Informasi


Asimetri Informasi muncul ketika bawahan mempunyai informasi yang
relevan terkait dengan proses keputusan penganggaran yang tidak dipunyai oleh
atasan (Evans, Hannan, Krishnan, & Moser, 2001; Kren & Liao, 1988). Asimetri
informasi terjadi ketika agen sebagai pihak yang bertugas untuk mengelola suatu
organisasi memiliki informasi lebih banyak mengenai kapasitas diri, lingkungan
kerja, dan organisasi secara keseluruhan. Sedangkan prinsipal tidak memiliki
informasi yang cukup tentang kinerja agen.
Partisipasi bawahan pada proses pembuatan anggaran memberi atasan
kesempatan untuk menggali akses tentang informasi local jika bawahan
mengkomunikasikan atau memberitahukan

private informasi (Baiman & Evans,

1983; Covaleski et al., 2003). Berdasarkan hal tersebut, Partisipasi adalah solusi
organisasi terhadap asimetri informasi, dimana diharapkan ketika partisipasi
meningkat dalam pembuatan anggaran, maka asimetri informasi akan semakin
menurun. Partisipasi Anggaran diharapkan mempunyai hubungan negatif dengan
asimetri informasi karena dalam partisipasi terdapat mekanisme dimana atasan dapat

mengetahui private informasi dari bawahan. Dengan partisipasi yang semakin tinggi,
Informasi yang didapatkan akan semakin banyak dan semakin berguna untuk atasan.
Temuan tersebut mengarahkan pada hipotesis hubungan antara Asimetri Informasi
dengan Kesenjangan Anggaran sebagai berikut:
H2. Terdapat pengaruh negatif antara partisipasi anggaran dan asimetri
informasi
2.3.3 Partisipasi Anggaran, Ketidakpastian Karir dan Kesenjangan Anggaran
Dalam penyusunan anggaran, perilaku membuat senjangan anggaran dapat
juga dipengaruhi oleh tingkat keyakinan yang dihadapi karyawan bahwa ia akan
menempati posisi yang sama pada tahun berikutnya. Semakin tinggi tingkat
keyakinan seseorang karyawan bahwa ia akan menempati posisi yang sama pada
tahun berikutnya, maka akan semakin tinggi kemungkinan karyawan tersebut untuk
membuat senjangan anggaran. Tingkat keyakinan ini dapat berbeda bagi setiap
individual karena tidak adanya peraturan mengenai mutasi karyawan di
pemerintahan. Ketidakadaan peraturan mengenai mutasi ini dapat menyebabkan
ketidakpastian karir dihadapi oleh eksekutif terutama ketika anggaran dibuat.
(Widanaputra, 2014). Dengan itu, ketidakpastian karir yang dihadapi oleh karyawan
dapat mempengaruhi hubungan antara partisipasi anggaran dan senjangan anggaran.
Temuan tersebut mengarahkan pada hipotesis hubungan antara Partisipasi
anggaran, Ketidakpastian karir, dan Kesenjangan anggaran sebagai berikut:

H3. Ketidakpastian karir berpengaruh terhadap hubungan antara


partisipasi anggaran dan kesenjangan anggaran.
2.3.4 Asimetri Informasi dan Kesenjangan Anggaran
Ketika Asimetri Informasi lebih rendah, atasan mempunyai informasi lebih
banyak tentang kinerja para bawahan,hal itu berarti atasan mempunyai banyak
informasi private yang dipegang oleh bawahan. Young (1985) menjelaskan bahwa
Rendahnya Asimetri Informasi antara atasan dan bawahan dapat mengakibatkan
berkurangnya kesenjangan anggaran. Hal ini sejalan dengan Kren (1993) yang
melaporkan bahwa alat pengendalian formal seperti pre-action reviews, hubungan
dengan atasan, varians, yang dianggap dapat meningkatkan kemampuan untuk
mendeteksi kesenjangan anggaran (menurunkan asimetri informasi) berhubungan
negative dengan kesenjangan anggaran.
Temuan tersebut mengarahkan pada hipotesis hubungan antara Asimetri
Informasi dengan Kesenjangan Anggaran sebagai berikut:
H4.

Terdapat

Kesenjangan Anggaran.

pengaruh

positif

antara

asimetri

informasi

dan

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
3.1.1. Variabel Penelitian
Variabel adalah apapun yang dapat membedakan atau membawa variasi
pada suatu nilai (Sekaran, 2006). Dalam penelitian ini, digunakan tiga macam
variabel penelitian.
1. Variabel Terikat (Dependent Variable)
Variabel terikat (dependent variable) merupakan variabel yang menjadi
perhatian utama peneliti (Sekaran, 2006). Variabel terikat dalam penelitian
ini adalah Kesenjangan Anggaran (Budgetary Slack).
2. Variabel Bebas (Independent Variable)
Varibel bebas (independent variable) adalah variabel yang mempengaruhi
variabel lain baik secara positif maupun negatif (Sekaran, 2006). Variabel
bebas dalam penelitian ini adalah partisipasi anggaran (Budgetary
participation).
3. Variabel Antara (Intervening Variable)
Variabel antara (intervening variable) merupakan variabel yang berperan
menjadi mediasi antara variabel bebas dan variabel terikat (Sekaran,

2006). Variabel antara dalam penelitian ini adalah asimetri informasi


(information asymmetry).
4. Variabel Moderator (Moderating Variable)
Variabel Moderator (Moderating Variable) adalah variable yang mempunyai
pengaruh ketergantungan (contingent effect) yang kuat dengan hubungan
variable terikat dan variable bebas. (Sekaran,2006). Variabel Moderator dalam
penelitian ini adalah ketidakpastian karir (career uncertainty).

3.1.2 Definisi Operasional


3.1.2.1 Partisipasi Anggaran
Partisipasi anggaran adalah keterlibatan manajer dan luasnya pengaruh
dalam proses penyusunan anggaran (Milani, 1975; Bronell, 1982; Nouri dan
Parker, 1998; Poon, Pike, dan Tjosvold, 2001 dalam Supriyono 2005). Menurut
French et.al (1960) dalam Puspaningsih (2002), partisipasi merupakan proses
kerjasama dalam pengambilan keputusan antara dua kelompok atau lebih yang
berpengaruh pada pengambilan keputusan itu sendiri di masa yang akan datang
Partisipasi anggaran diukur dengan menggunakan daftar pertanyaan yang disusun
oleh Milani (1975). Daftar pertanyaan tersebut terdiri atas enam butir pertanyaan
yang digunakan untuk menilai tingkat partisipasi responden dan pengaruhnya
pada proses penyusunan anggaran. Jawaban responden atas daftar pertanyaan
tersebut didesain menggunakan skala Likert dengan alternatif jawaban dari satu
sampai dengan tujuh. Alternatif jawaban 1 berarti partisipasi rendah sedangkan

alternatif jawaban 7 berarti partisipasi tinggi.


Pertanyaan pada variabel partisipasi anggaran antara lain mengenai:
1. Seberapa besar keterlibatan para manajer dalam proses penyusunan
anggaran
2. Tingkat kelogisan alasan atasan untuk merevisi usulan anggaran yang
dibuat manajer
3. Intensitas manajer mengajak diskusi tentang anggaran
4. Besarnya pengaruh manajer dalam anggaran
5. Seberapa besar manajer merasa mempunyai kontribusi penting terhadap
anggaran
6. frekuensi atasan meminta pendapat manajer dalam penyusunan anggaran.
3.1.2.2 Asimetri Informasi
Asimetri Informasi adalah perbedaan atau ketidakseimbangan informasi yang
dimiliki antara pihak subordinate dan pihak superior. Asimetri informasi muncul
ketika pihak subordinate memiliki informasi yang lebih banyak berkaitan dengan
anggaran daripada yang dimiliki oleh pihak superior.
Asimetri Informasi diukur dengan menggunakan daftar pertanyaan yang
disusun oleh Dunk (1993) dan Jaworsi dan Young (1992). Daftar pertanyaan tersebut
terdiri atas enam butir pertanyaan yang diajukan pada pihak superior dan digunakan
untuk menilai tingkat asimetri informasi. Jawaban responden atas daftar pertanyaan
tersebut didesain menggunakan skala Likert dengan alternatif jawaban dari satu
sampai dengan tujuh. Alternatif jawaban 1 berarti asimetri informasi rendah
sedangkan alternatif jawaban 7 berarti asimetri informasi tinggi.

Pertanyaan pada variable Asimetri Informasi antara lain mengenai:


1. Dibandingkan dengan superior, subordinate mempunyai informasi lebih baik
berkaitan dengan aktivitas yang menjadi tanggung jawab subordinate.
2. Dibandingkan dengan superior, subordinate lebih mengetahui tentang
hubungan

antara

input

dan

output

dalam

area

yang

subordinate

pertanggungjawabkan.
3. Dibandingkan dengan superior, subordinate lebih mengetahui tentang potensi
kinerja yang ada pada area yang subordinate pertanggungjawabkan.
4. Dibandingkan dengan superior, subordinate lebih mengetahui secara teknis
tentang area yang subordinate pertanggungjawabkan.
5. Dibandingkan dengan superior, subordinate lebih dapat untuk menilai dampak
factor dari luar pada area yang subordinate pertanggungjawabkan.
6. Dibandingkan dengan superior, subordinate mempunyai pemahaman yang
lebih dalam tentang apa yang dapat dicapai pada area yang subordinate
pertanggungjawabkan.

3.1.2.3 Ketidakpastian Karir (Career Uncertainty)


Ketidakpastian karir (Career Uncertainty ) adalah tingkat keyakinan
seseorang bahwa dia akan tetap menduduki posisi yang sama ketika anggaran dibuat
dan direalisasikan.(Widanaputra,2014) Tingkat keyakinan ini dapat mempengaruhi
pengungkapan pada saat anggaran dibuat.
Ketidakpastian

Karir

diukur

dengan

menggunakan

instrumen

yang

dikembangkan oleh Riyanto (2001) dengan beberapa modifikasi. Jawaban responden


atas daftar pertanyaan tersebut didesain menggunakan skala Likert dengan alternatif

jawaban dari satu sampai dengan lima. Alternatif jawaban 1 berarti Ketidakpastian
Karir rendah sedangkan alternatif jawaban 5 berarti ketidakpastian karir tinggi.

3.1.2.4 Kesenjangan Anggaran (Budgetary Slack)


Kesenjangan Anggaran adalah tindakan bawahan yang mengecilkan
kapabilitas produktifnya ketika dia diberi kesempatan untuk menentukan standar
kerjanya (Young,1985). Kesenjangan Anggaran (Budgetary Slack) juga dapat
didefinisikan sebagai sebagai perbedaan antara laporan yang dianggarakan yang
sesuai dengan estimasi terbaik organisasi. (Anthony dan Govindarajan (1998) dalam
Darlis (2000)). Hansen & Mowen (2004:448) juga menjelaskan bahwa Budgetary
Slack dapat muncul ketika seseorang memperkirakan pendapatan rendah atau
meninggikan biaya secara sengaja.
Kesenjangan Anggaran diukur dengan menggunakan daftar pertanyaan yang
disusun oleh Dunk (1993). Daftar pertanyaan tersebut terdiri atas enam butir
pertanyaan yang digunakan untuk menilai kesenjangan anggaran.. Jawaban responden
atas daftar pertanyaan tersebut didesain menggunakan skala Likert dengan alternatif
jawaban dari satu sampai dengan tujuh. Alternatif jawaban 1 berarti Kesenjangan
Anggaran rendah sedangkan alternatif jawaban 7 berarti Kesenjangan Anggaran
tinggi.
Pertanyaan pada variabel kesenjangan anggaran antara lain mengenai:
1. Standar yang digunakan dalam anggaran mendorong produktivitas yang tinggi
di wilayah tanggung jawab (manager/subordinate)

2. Anggaran

dalam

terlaksana.
3. Karena adanya

departemen
keterbatasan

(manager/subordinate)
jumlah

anggaran

dapat
yang

dipastikan
disediakan,

(manager/subordinate) harus memonitor setiap pengeluaran-pengeluaran yang


menjadi wewenang (manager/subordinate)
4. Anggaran yang menjadi tanggung jawab (manager/subordinate), tidak begitu
tinggi tuntutannya.
5. Adanya target anggaran yang harus (manager/subordinate) capai, tidak
membuat saya ingin memperbaiki tingkat efisiensi.
6. Sasaran yang dijabarkan dakam anggaran sangat susah untuk dicapai atau
direalisasikan.

3.2 Populasi dan Sampel


Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,2012).

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
yang berada di wilayah Semarang. Satuan Kerja Perangkat Daerah di Kota Semarang
Tahun Anggaran 2015 sebanyak 234 satuan kerja yang terdiri dari 19 Dinas, 7 Badan,
4 Kantor, 5 Sekretariat, 1 RSUD, 16 Kecamatan, 177 Kelurahan, dan 5 Perusahaan
Daerah. Pemilihan SKPD

dalam

penelitian ini karena SKPD termasuk dalam

organisasi public yang menerapkan sistem anggaran partisipatif.

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi, apa yang dipelajari dalam sampel kesimpulannya dapat diberlakukan untuk
populasi (Sugiyono,2012). Sampel dalam penelitian ini dipilih dengan menggunakan
metode purposive sampling. dimana sampel dipilih berdasarkan kriteria tertentu
sehingga dapat mendukung penelitian ini. Kriteria pemilihan sampel adalah pejabat
structural di Satuan Kerja Perangkat Daerah Pemerintah Kota Semarang yang
memiliki peran dalam proses penyusunan anggaran dan memiliki masa kerja minimal
satu tahun dalam periode penyusunan anggaran.
.Jenis dan sumber data
Jenis data penelitian ini adalah data primer, data penelitian yan didapatkan dan
dikumpulkan langsung dari sumber asli (tanpa perantara). Sumber data primer dalam
penelitian ini diperoleh dari jawaban atas kuesioner yang dibagikan kepada
responden.

3.3 Metode Pengumpulan Data


Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode
survey menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada responden di SKPD kota
Semarang. Kuesioner adalah daftar pernyataan tertulis yang tersusun secara
sistematis, dengan standar yang sama yang berkaitan dengan variabel-variabel
penelitian. Kuesioner merupakan alat pengumpulan data yang efektif karena dapat

diperolehnya data standar yang dapat dipertanggungjawabkan untuk keperluan


analisis menyeluruh tentang karakteristik populasi yang diteliti (Supranto, 2000).

3.4 Metode Analisis Data


Analisis statistik deskriptif digunakan dalam penelitian ini untuk memberikan
gambaran tentang variable-variabel penelitian yaitu: partisipasi anggaran,asimetri
informasi,ketergantungan tugas,kesenjangan anggaran. Penelitian ini menggunakan
tabel distribusi frekuensi yang menunjukkan kisaran teoritis, kisaran aktual, nilai ratarata (mean) dan standar deviasi (Ghozali, 2006).
3.4.1

Uji Kualitas Data


Uji kualitas data bertujuan untuk mengetahui seberapa tingkat konsistensi dan

akurasi data yang dikumpulkan dari penggunaan instrument penelitian. Pengujian


Kualitas data penelitian ini dilakukan dengan uji validitas dan uji reabilitas.
3.4.2

Uji Validitas Data


Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu

kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu
untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Validitas
item-item pertanyaan kuesioner dapat diukur dengan melakukan korelasi antara skor
item pertanyaan dengan total skor variabel atau konstruk. Apabila korelasi antara
masing-masing item atau indikator terhadap total skor variable menunjukkan hasil
probabilitas <0,01 atau <0,05 berarti angka probabilitas tersebut signifikan sehingga

dapat disimpulkan bahwa masing-masing itempertanyaan adalah valid (Ghozali,


2006).
3.4.3

Uji Reabilitas
Reabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan

indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal
jika jawaban responden terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu
ke waktu. Tingkat reliabel suatu variabel atau konstruk penelitian dapat dilihat dari
hasil uji statistik Crobach Alpha (). Menurut kriteria Nunnally (1960) yang
dinyatakan dalam Ghozali (2006), variabel atau konstruk dikatakan reliabel jika nilai
Cronbach Alpha > 0,60. Semakin nilai alphanya mendekati satu maka nilai
reliabilitas datanya semakin terpercaya. untuk masing-masing variabel.

3.4.4

Uji Asumsi Klasik


Uji asumsi klasik terhadap model regresi yang digunakan dalam penelitian

dilakukan untuk menguji apakah model regresi tersebut baik atau tidak. Dalam
penelitian ini, uji asumsi klasik yang digunakan adalah uji normalitas, uji
multikolonieritas, uji heteroskedastisitas dan uji sobel.
3.4.5

Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel
terikat (dependent) dan variabel bebas (independent) memiliki distribusi normal.
Model regresi yang baik adalah jika distribusi data normal atau mendekati normal.
Untuk menguji apakah data terdistribusi normal atau tidak dapat dilakukan dengan
analisis grafik dan uji statistik. Analisis grafik merupakan cara yang mudah untuk
mendeteksi normalitas yaitu dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu
diagonal dari grafik normal probability plot. Pengambilan keputusan dalam uji
normalitas menggunakan analisis grafik ini didasarkan pada:
1. Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti garis
diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi mormalitas.
2. Jika data menyebar jauh dari diagonal dan atau tidak mengikuti arah
garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
Untuk melengkapi hasil analisis grafik normal probability plot digunakan uji
statistik non-parametik Kolmograv-Smirnov (K-S). Pada uji statistik onesample
Kolmograv-Smirnov dapat dilihat probabilitias signifikan terhadap variabel. Jika
probabilitas signifikan di atas 0,05, maka variabel tersebut terdistribusi secara normal
(Ghozali, 2006).

3.4.6

Uji Multikolonieritas
Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi

ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independent). Model regresi yang
baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel bebas. Jika variabel bebas

saling berkorelasi, maka variabel-variabel tersebut tidak ortogonal. Variabel ortogonal


adalah variabel bebas yang nilai korelasi antar sesama variable independen sama
dengan nol. Pengujian ada atau tidaknya multikolonieritas didalam model regresi
dapat dilakukan dengan melihat nilai tolerance dan nilai variance inflation factor
(VIF). Nilai yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolonieritas adalah
nilai tolerance < 0,10 atau nilai VIF > 10 (Ghozali, 2006).

3.4.7

Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi

terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang


lain. Jika variance dari residual satu pengamtan ke pengamatan yang lain tetap, maka
disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi
yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi keteroskedastisitas. Untuk
mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat
grafik Plot antara nilai prediksi variabel terikat (dependent) dengan residualnya.
Dasar analisis grafik Plot adalah sebagai berikut:
1. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu
yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit),maka mengindikasikan
telah terjadi heteroskedastisitas.
2. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan dibawah
angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas. (Ghozali, 2006)

3.4.8

Analisis Data
Pengujian hipotesis yang telah disusun dalam penelitian ini menggunakan

analisis path (analisis jalur). Analisis path adalah penggunaan analisis regresi untuk
menaksir hubungan kausalitas antar variabel yang telah ditetapkan (Ghazali,2006).

Gambar 2

Diagram path di atas memberikan secara eksplisit hubungan kausalitas antar variabel
yang ditunjukkan oleh anak panah. Setiap nilai p menggambarkan jalur dan koefisien
path. Nilai koefisien path tersebut dihitung dengan menggunakan analisis regresi
(Ghozali, 2006).