Anda di halaman 1dari 26

Tugas Individu; Paper Review Jurnal

Mata Kuliah : Produksi Bersih

APLIKASI PRODUKSI BERSIH (CLEANER


PRODUCTION)
PADA INDUSTRI NATA DE COCO

Oleh :
NAMA : IHSAN ARHAM
NRP : P052150411

PROGRAM STUDI
PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN
HIDUP
SEKOLAH PASCA SARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2016

A. Pendahuluan
Pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh industri dapat
berakibat buruk bagi kehidupan masyarakat sekitar. Limbah yang
terbuang ke alam bebas dapat mengganggu kesehatan masyarakat di
sekitar areal industri yang dapat berujung pada penurunan indeks citra
industri di mata masyarakat. Dengan demikian, perusahaan pelaku
industri pun harus menanggung beban dari dampak pembuangan limbah
tersebut.
Mahida (1984) menjelaskan bahwa limbah dapat membahayakan
lingkungan, kesehatan, kelangsungan hidup manusia atau makhluk hidup
lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal tersebut
disebabkan oleh bahan berbahaya atau beracun yang terkandung dalam
limbah karena sifat konsentrasi atau jumlahnya yang berinteraksi dengan
aktifitas metabolisme di setiap organisme yang berada di areal tercemar
limbah.
Pada hakikatnya, limbah perusahaan adalah sisa dari proses
produksi berupa bahan baku yang tidak termanfaatkan dengan secara
optimal. WHO mendefinisikan limbah sebagai sesuatu yang tidak
digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang dibuang
yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya.
Secara ideal, setiap kegiatan industri memaksimalkan output
produksinya. Konsep produksi bersih dilakukan agar terciptanya keadaan
yang ideal, dimana perusahaan dapat melangsungkan usahanya secara
berkesinambungan dengan tetap menjaga daya dukung lingkungan di
sekitarnya.
Tulisan ini merupakan telaah hasil penilitian mengenai penerapan
produksi bersih pada industri pembuatan Nata de Coco. Penelitian
tersebut dilakukan oleh Rini Hakimi bersama Daddy Budiman dari
Laboratorium Agribisnis, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas
Pertanian, Universitas Andalas. Pengkajian dilakukan berdasarkan hasil
peninjauan langsung di lapangan pada industri nata de coco di Kabupaten
Bogor. Aspek yang dikaji lebih dititikberatkan pada penerapan produksi
bersih pada industri nata de coco dengan terlebih dahulu mengkaji

tentang proses produksi dan aktivitas perusahaan untuk nanti dikaitkan


dengan kemungkinan penerapan produksi bersih.
B. Pembahasan
B.1. Gambaran Penelitian
Penelitian ini dilakukan oleh Rini Hakimi (Laboratorium
Agribisnis, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian,
Universitas Andalas) dan Daddy Budiman(Staf Pengajar Polieknik
Negeri Padang). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan OktoberNovember 2004 pada suatu industri nata de coco yang terletak di
Kabupaten Bogor.
Hasil dari penelitian tersebut dimuat dalam jurnal Jurnal Teknik
Mesin (ISSN 1829-8958) Vol. 3, No.2, Des 2006 halaman 90-98.
Adapun tujuan dari penelitian tersebut adalah untuk mengetahui
secara rinci proses pengolahan nata de coco; mengidentifikasi
kemungkinan munculnya limbah pada proses pengolahan, produk yang
dihasilkan, sisa produksi, kegagalan produksi dan kesalahan manajemen
perusahaan; memberikan alternatif pemecahan masalah limbah yang
muncul dengan menerapkan konsep produksi bersih.

B.2. Review
Industri Nata de coco merupakan usaha peemanfaatan air kelapa
menjadi produk pangan baru dalam bentuk padat. Selain menjanjikan
keuntungan dari nilai tambah air kelapa, industri ini juga menjanjikan
lapangan kerja yang cukup besar sehingga industri nata de coco semakin
marak dilakukan baik dalam skala usaha kecil mikro maupun industri
yang besar.
Meningkatnya jumlah industri nata de coco akan berdampak pada
semakin besarnya limbah yang berasal dari industri ini. Limbah yang
paling banyak dihasilkan berupa cairan (limbah cair) dan limbah padat.
Limbah yang dihasilkan ini dapat menimbulkan kerusakan bagi
lingkungan jika dibuang bukan pada tempatnya. Limbah ini bisa

mengakibatkan

terjadinya

pencemaran

air,

pencemaran

udara,

pencemaran lahan pertanian dan sebagainya.


Limbah yang dihasilkan dari industri nata dapat ditangani dengan
menerapkan konsep produksi bersih, sehingga mengurangi biaya
penanganan limbah, mengurangi kerusakan lingkungan dan dapat
mendatangkan keuntungan bagi industri nata de coco. Upaya penerapan
produksi bersih ini dapat dilakukan dalam seluruh kegiatan perusahaan.
Penerapan produksi bersih dilakukan terhadap sumber timbulnya
limbah ataupun terhadap limbah itu sendiri. Ketepatan dalam
memperhitungkan limbah yang ditimbulkan dari suatu kegiatan produksi
dapat diketahui dengan melakukan perhitungan neraca massa yang
menggambarkan jumlah input-output dalam setiap tahapan proses
produksi untuk menghasilkan nata de coco.
Hasil penelitian tersebut menawarkan opsi produksi bersih yang
mungkin dilaksanakan oleh industri nata de coco. Setiap opsi ini lebih
lanjut harus dilakukan studi kelayakan secara teknis untuk melihat
kemudahan dalam pelaksanaannya, studi kelayakan secara ekonomi
untuk melihat apakah opsi tersebut menguntungkan atau tidak dan studi
kelayakan secara lingkungan untuk melihat apakah opsi tersebut
memberikan pengaruh yang nyata terhadap lingkungan. Opsi yang
mendapat prioritas utama
Dalam tinjauan penulis melihat peneliti hanya terfokus pada
mendaur ulang atau memanfaatkan kembali limbah yang dihasilkan
industri pembuatan nata de coco dalam bentuk lain. Tindakan prefentive
(pencegahan) timbulnya limbah tidak terlihat dalam opsi yang diberikan
melalui proses wawancara ataupun analisa kelayakan aplikasi. Peneliti
hanya menggambarkan peluang-peluang untuk menerapkan Good
Housekeeping di industri nata de coco tersebut.
Pendekatan yang dilakukan peneliti sangat menitik beratkan pada
strategi end-of-pipe yang lebih pada perlakuan re-use. Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan melansir bahwa idealnya setiap
kegiatan industri berusaha untuk mencegah pencemaran sebelum
pencemaran itu terjadi (http://www.menlh.go.id/kebijaksanaan-produksi-

bersih-di-indonesia/). Oleh sebab itu strategi end-of-pipe treatment sudah


tidak tepat lagi dan harus beralih pada strategi Pollution Prevention.
Menurut Pudjiastuti (1999), produksi bersih diterapkan pada bagian
proses produksi yang mencakup peningkatan efisiensi dan efektivitas
dalam pemakaian bahan baku, energi dan sumberdaya lainnya serta
mengganti atau mengurangi penggunaan bahan berbahaya dan beracun
sehingga mengurangi jumlah dan toksisitas limbah dan emisi yang
dikeluarkan.
Proses produksi nata de coco yang dilakukan oleh industri yang
menjadi objek penelitian memanfaatkan pupuk ZA yang menjadi bahan
tidak biasa dalam makanan. Pupuk ZA dimanfaatkan sebagai bahan yang
dapat membersihkan air kelapa dari berbagai kotoran serta sebagai bahan
pencampur dalam pembuatan starter dan nata de Coco.
Menurut Ketua Jurusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian
(TPHP) UGM Dr Ir Muhammad Nur Cahyanto MSc, setiap pembuatan
makanan untuk dikonsumsi manusia, bahan-bahannya harus food grade
atau bahan yang aman bagi kesehatan. Demikian juga dalam pembuatan
nata de coco, amonium sulfat yang digunakan harus food grade
(http://www.krjogja.com/web/news/read/254820/pupuk_za_bahaya_untu
k_campuran_nata_de_coco). BPOM Jogjakarta menyebutkan bahwa
amonium sulfat atau disebut juga ZA (Zwavelzure Amoniak) dengan
rumus kimia (NH4)2S04 dan urea dengan rumus kimia CH4N2O
merupakan sumber nitrogen yang baik untuk pertumbuhan Acetobacter
xylinum. Amonium sulfat atau ZA dan Urea berfungsi sebagai bahan
penolong (processing aids) golongan nutrisi untuk mikroba (microbial
nutrients atau microbial adjusts)
(https://m.tempo.co/read/news/2015/04/09/060656517/ini-kata-bpomsoal-produk-nata-de-coco-mengandung-pupuk-za).
Yang dibutuhkan dalam proses produksi nata de coco adalah
amonium sulfat, pupuk ZA dipilih sebagai sumber kandungan tersebut
karena lebih murah. Padahal belum diketahui secara pasti kandungan
pencampur yang ada dalam pupuk tersebut, sehingga belum dipastikan
aman jika dikonsumsi oleh manusia.

Dalam rangka produksi bersih, peneliti mestinya menganalisa hal


tersebut.

Mencari

opsi

alternative

pengganti

pupuk

ZA yang

dimanfaatkan sebagai bahan penolong dalam pembuatan nata de coco.


Penulis menyambut baik atas upaya penulis menyampaikan
peluang-peluang untuk menerapkan Good Housekeeping di industri nata
de coco tersebut. Akan tetapi bagi penulis menganggap jika hal tersebut
telah melalui proses validasi maka penerapan Good Housekeeping
tersebut sangat perlu dilakukan analisis pemanfaatannya. Sehingga
produksi bersih dalam industri nata de coco dapat dilaksanakan secara
menyeluruh dan berkesinambungan.

Lampiran

APLIKASI
PRODUKSI BERSIH (CLEANER PRODUCTION)
PADA INDUSTRI NATA DE COCO
Rini Hakimi
(1)

(1)

, Daddy Budiman

(2)

Laboratorium Agribisnis, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas


Pertanian, Universitas Andalas

(2)

Staf Pengajar Polieknik Negeri Padang

ABSTRACT
Nata de coco industries produce wastes in solid, semi solid and liquid which are danger for
environment, so we need to apply the concept of clean production to it. After applying the
clean production concept there will be analyzing of feasibility in technical, economical and
environment. There are six option of clean production which can be applied to nata de coco
industries. They are 1. re-using of waste of filtering, boiling, surface disposing for fertilizer.
2. Re-using of the fluid fermentation. 3. Re-using of soaking fluid, surface washing fluid,
boiling fluid. 4. Re-using the waste of nata cutting for jelly industries. 5. Re-using the waste
of nata cutting for fertilizer. 6. Selling the waste of packaging. The first recommendation is
Re-using the waste of nata cutting for fertilizer because it is easy and give a benefit around
IDR 611582, 4. The pay back period are 0.4578 month and this activity giving the highest
effect for the environment.
Keywords: nata de coco, clean production, technical feasibility, environment feasibility.
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kelapa yang dibudidayakan di Indonesia
pada umumnya adalah kelapa dalam dan
kelapa hibrida. Buah kelapa terdiri dari
kulit luar, sabut, tempurung, kulit daging
(testa), daging buah, air kelapa dan
lembaga. Setiap butir kelapa dalam dan
hibrida mengandung air kelapa masingmasing sebanyak 300 dan 230 ml dengan
berat jenis rata-rata 1,02 dan pH agak
asam (5,6). Air kelapa mengandung sedikit
karbohidrat, protein, lemak dan beberapa
mineral. Kandungan zat gizi ini tergantung
kepada umur buah. Disamping zat gizi
tersebut, air kelapa juga mengandung
berbagai asam amino bebas.
Air kelapa dapat dimanfaatkan sebagai
bahan baku dalam pembuatan nata de
coco. Usaha ini selain berpotensi untuk
dikembangkan sebagai lahan usaha yang
mampu menyerap tenaga kerja dan
memberikan tambahan penghasilan
(http://www.kanisius.co.id/store/detail.asp?
id=025639).

Akhir-akhir ini pemanfaatan bahan baku air


kelapa untuk agroindustri nata de coco
mengalami peningkatan. Hal ini terlihat
dari banyaknya agroindustri yang membuat
nata de coco. Untuk wilayah Bogor,
agroindustri nata de coco terdapat di Kota
Bogor dan Kabupaten Bogor, jumlah

perusahaan yang terlibat dalam produksi


nata de coco sebanyak 23 perusahaan di
Kota Bogor dan sebanyak 15 perusahaan di
Kabupaten Bogor, dimana semuanya masih
merupakan industri kecil (Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Kota dan
Kabupaten Bogor, 2003).

Perkembangan jumlah agroindustri nata de


coco akan mengakibatkan semakin
besarnya limbah yang dihasilkan dari
industri ini. Berdasarkan tinjauan di
lapangan, limbah yang paling banyak
dihasilkan berupa cairan (limbah cair) dan
limbah padat. Limbah yang dihasilkan ini
dapat menimbulkan kerusakan bagi
lingkungan jika dibuang bukan pada
tempatnya. Limbah ini bisa mengakibatkan
terjadinya pencemaran air, pencemaran
udara, pencemaran lahan pertanian dan
sebagainya.
Limbah yang dihasilkan dari aktivitas
industri nata de coco pasti ada dan sulit
untuk dihindari, untuk penanganan limbah
ini biasanya butuh biaya yang besar,
sehingga banyak perusahaan yang
mengabaikan bahaya dari limbah ini.
Sebenarnya besarnya jumlah dan intensitas
limbah yang muncul bisa dikurangi dengan

menerapkan konsep produksi bersih pada


industri nata de coco. Penerapan konsep
produksi bersih ini akan memberikan
keuntungan
bagi
perusahaan
dan
mengurangi aktivitas penanganan limbah.
Oleh karena itu, industri nata de coco
sebagai salah satu industri yang banyak
terdapat di wilayah Bogor perlu
melakukan upaya untuk menerapkan
konsep produksi bersih yang sebaikbaiknya.
1.2 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui secara rinci proses pengolahan
nata
de
coco;
mengidentifikasi
kemungkinan munculnya limbah pada
proses
pengolahan,
produk
yang
dihasilkan, sisa produksi, kegagalan
produksi dan kesalahan manajemen
perusahaan; memberikan alternatif

Jurnal Teknik Mesin

Vol. 3, No.2, Des 2006

pemecahan masalah limbah yang muncul dengan


menerapkan konsep produksi bersih.
1.3 Ruang Lingkup
Pengkajian dilakukan berdasarkan hasil peninjauan
langsung di lapangan pada industri nata de coco di
Kabupaten Bogor. Aspek yang dikaji lebih
dititikberatkan pada penerapan produksi bersih pada
industri nata de coco dengan terlebih dahulu
mengkaji tentang proses produksi dan aktivitas
perusahaan untuk nanti dikaitkan dengan
kemungkinan penerapan produksi bersih.
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Nata de Coco
Gambaran Umum Nata de Coco
Nata de coco berasal dari Filipina. Hal ini bisa
dipahami karena Filipina merupakan salah satu
negara penghasil kelapa yang cukup besar di dunia.
Filipina termasuk negara yang paling banyak
mendapatkan devisanya dari produk kelapa
(Warisno, 2004).
Nata de coco merupakan suatu pertumbuhan yang
menyerupai gel yang terapung pada permukaan
medium yang mengandung gula dan asam yang
dihasilkan mikroorganisme Acetobacter xylinum.
Nata de coco merupakan makanan rendah kalori
yang cocok untuk penderita diabetes (Astawan dan
Astawan, 1991). Nata de coco adalah selulosa
bakterial yang mengandung air kurang lebih 98%
dengan tekstur yang agak kenyal (Theodula, 1976).
Berdasarkan hasil penelitian dari Balai Mikrobiologi
Puslitbang Biologi LIPI Bogor menyebutkan bahwa
nata de coco mengandung nilai nutrisi seperti pada
Tabel (1).
Tabel 1. Nilai Nutrisi Nata de Coco per 100 gram bahan

No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Bahan Baku
Air kelapa yang dipakai berasal dari kelapa yang
sudah tua. Air kelapa yang akan dijadikan nata de
coco jangan tercampur dengan benda lain. Jika
bercampur dengan air, kualitas nata de coco yang
dihasilkan akan rendah. Jika bercampur dengan
garam, tidak akan terbentuk nata de coco karena
bakteri Acetobacter xylinum tidak bisa tumbuh
dalam media yang asin. Air kelapa bisa diperoleh
dari pabrik-pabrik kopra, pasar tradisional dan
tempat-

ISSN 1829-8958

tempat pemarutan kelapa (Warisno, 2004).


Setiap satu liter akan mengasilkan 1 kg nata.
Bahan Penolong
Bahan penolong pada pembuatan nata de
coco adalah:
1.
2.
3.
4.

Gula pasir
Pupuk ZA atau Diamonium phosphat
Asam cuka
Bibit nata de coco (LIPI, 2000)

Peralatan Produksi
Peralatan yang digunakan untuk
kegiatan produksi nata de coco adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Panci stainless steel


Baki plastik
Sendok sayur besar
Saringan
Kertas roti/kertas koran
Kain kasa
Karet gelang
Kompor
Ember
Jerigen (LIPI, 2000)

2.2 Konsep Produksi Bersih


Produksi bersih (cleaner production) merupakan
suatu upaya mencegah dan mengurangi munculnya
dampak lingkungan dari suatu sistem pengolahan
akibat adanya penggunaan bahan-bahan berbahaya,
kesalahan pada proses pengolahan, serta lemahnya
pengendalian proses dan produk. Dampak yang
dimaksud adalah terjadinya pencemaran lingkungan
serta inefisiensi penggunaan bahan baku dan energi.
Menurut UNEP (2003), produksi bersih merupakan
strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat
pencegahan dan terpadu yang diterapkan secara terus
menerus pada proses produksi, produk dan jasa
untuk meminimalkan terjadinya resiko terhadap
manusia dan lingkungan. Menurut Pudjiastuti
(1999), produksi bersih diterapkan pada unsur-unsur
sebagai berikut :
1. Proses produksi
Pada bagian proses produksi, produksi bersih
mencakup peningkatan efisiensi dan efektivitas
dalam pemakaian bahan baku, energi dan
sumberdaya lainnya serta mengganti atau
mengurangi penggunaan bahan berbahaya dan
beracun sehingga mengurangi jumlah dan toksisitas
limbah dan emisi yang dikeluarkan.
2. Produk
Pada bagian produk, produksi bersih memfokuskan
pada upaya pengurangan dampak
90

Aplikasi Produksi Bersih (Cleaner Production) Pada Industri Nata De Coco (Rini Hakimi)

Teknologi produksi bersih


merupakan gabungan teknik
pengurangan limbah pada
sumber
pencemar
(source
reduction) dan teknik daur
ulang (USAID, 1997).

keseluruhan
daur
hidup
produk, mulai dari bahan
baku sampai pembuangan
akhir setelah produk tidak
digunakan.
3. Jasa
Untuk jasa, produksi bersih
menitikberatkan pada upaya
penggunaan
proses
3R
(Reduce, Reuse dan Recycle)
pada seluruh kegiatannya,
mulai dari penggunaan bahan
baku sampai dengan ke
pembuangan akhir.

Menurut
beberapa
penerapan
adalah :

1. Kendala ekonomi
Kendala ekonomi timbul bila
kalangan usaha tidak merasa
akan mendapatkan keuntungan
dalam penerapan produksi
bersih.

Menurut USAID (1997),


manfaat yang bisa diperoleh
dari pelaksanaan produksi
bersih adalah :
1.

2.
3.
4.
5.

6.
7.

Pengurangan
biaya
operasi, pengolahan dan
pembuangan limbah.
Peningkatan
mutu
produk.
Penghematan
bahan
baku.
Peningkatan keselamatan
kerja.
Perbaikan
kesehatan
umum dan lingkungan
hidup.
Penilaian konsumen yang
positif.
Pengurangan
biaya
penanganan limbah.

Produksi bersih diperlukan


sebagai
cara
untuk
mengharmoniskan
upaya
perlindungan
lingkungan
dengan
kegiatan
pembangunan
atau
pertumbuhan
ekonomi,
mencegah
terjadinya
pencemaran
lingkungan,
memelihara dan memperkuat
pertumbuhan ekonomi dalam
jangka panjang, mendukung
prinsip
environmental
equality,
mencegah
atau
memperlambat
terjadinya
proses degradasi lingkungan
dan
pemanfaaatan
sumberdaya alam melalui
penerapan daur ulang limbah
dan memperkuat daya saing
produk dipasar internasional
(Pudjiastuti, 1999).

Forlink
(2003),
kendala
dalam
produksi bersih

Contoh hambatan :

Biaya

peralatan

tambahan

Besarnya
modal/investasi
dibanding
kontrol
pencemaran
secara
konvensional sekaligus

2.

penerapan
produksi

bersih.
Kendala teknologi

Kurangnya
penyebaran informasi
tentang
konsep

produksi bersih.

Penerapan
sistem
baru
ada
kemungkinan tidak
sesuai dengan yang
diharapkan atau
malah
menyebabkan

gangguan.

Tidak
memungkinkannya
tambahan
peralatan, terbatasnya
ruang kerja/produksi.

3.

Kendala
manusia

sumberdaya

Kurangnya dukungan
dari
pihak
manajemen
puncak

Keengganan untuk
berubah
baik
secara
individu
organisasi

Lemahnya
komunikasi
intern tentang proses

produksi yang baik.

Pelaksanaan
manajemen
organisasi
perusahaan
yang kurang
fleksibel

Birokrasi
sulit
dalam

maupun

yang
terutama

pengumpulan

primer.

Kurangnya
dokumentasi
penyebaran

informasi.

data

dan

3 METODOGI

3.1 Kerangka Pemikiran


Industri nata de coco
merupakan
salah
satu
industri
pangan
yang
mengolah air kelapa untuk
dijadikan nata baik yang
siap dikonsumsi maupun
yang dijual kembali dalam
bentuk
mentah
untuk
digunakan oleh industri
lain. Kegiatan produksi dari
industri
nata
banyak
menghasilkan limbah yang
jika
dibuang
akan
membahayakan
bagi
lingkungan.
Limbah yang dihasilkan
dari industri nata dapat
ditangani
dengan
menerapkan
konsep
produksi bersih, sehingga

mengurangi
biaya
penanganan
limbah,
mengurangi
kerusakan
lingkungan
dan
dapat
mendatangkan keuntungan
bagi industri nata de coco.
Upaya penerapan produksi
bersih ini dapat dilakukan
dalam
seluruh
kegiatan
perusahaan.
Penerapan produksi bersih
dilakukan terhadap sumber
timbulnya limbah ataupun
terhadap limbah itu sendiri.
Ketepatan
dalam
memperhitungkan
limbah
yang ditimbulkan dari suatu
kegiatan produksi dapat
diketahui dengan melakukan
perhitungan neraca massa
yang
menggambarkan
jumlah input-output dalam
setiap
tahapan
proses
produksi untuk menghasilkan
nata de coco.
Berdasarkan
kegiatan
produksi yang sudah diamati,
maka dapat ditawarkan opsi
produksi
bersih
yang
mungkin dilaksanakan oleh
industri nata de coco. Setiap
opsi ini lebih lanjut harus
dilakukan studi kelayakan
secara teknis untuk melihat
kemudahan
dalam
pelaksanaannya,
studi
kelayakan secara ekonomi
untuk melihat apakah opsi
tersebut menguntungkan atau
tidak dan studi kelayakan
secara lingkungan untuk
melihat apakah opsi tersebut
memberikan pengaruh yang
nyata terhadap lingkungan.
Opsi yang mendapat prioritas
utama
91

Jurnal Teknik Mesin

Vol. 3, No.2, Des 2006

merupakan opsi yang direkomendasikan untuk


terlebih dahulu dilaksanakan dibandingkan opsi yang
lainnya.
3.2 Pemilihan Responden
Pada penelitian ini digunakan responden pakar yang
dianggap memiliki pengetahuan tentang industri nata
de coco. Responden pakar yang digunakan sebanyak
5 orang yang terdiri dari akademisi (1 orang),
birokrat (2 orang) dan praktisi industri (2 orang).
3.3 Metode Pengumpulan Data

ISSN 1829-8958

Studi Kelayakan Ekonomi


Studi kelayakan ekonomi dilakukan dengan
menghitung keuntungan dan payback period yang
diperoleh oleh setiap opsi produksi bersih.
Keuntungan =
Penghematan + Penghasilan - Biaya
Payback period =
Total Investasi / Keuntungan

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam


penelitian ini adalah :

Opsi yang memperoleh keuntungan tertinggi akan


mendapatkan skor tertinggi dan opsi yang memiliki
paybackperiod tercepat memperoleh skor tertinggi.

a.

Studi Kelayakan Lingkungan

b.

Pengumpulan data primer, yaitu dengan


melakukan wawancara dan pengisian kuisioner
oleh para pakar; serta melakukan pengamatan
langsung di lapangan pada industri nata de coco
untuk melihat secara langsung aktivitas yang
berkaitan dengan produksi bersih.
Pengumpulan data sekunder, yaitu melalui
penelusuran data internal dan penelusuran bukubuku, hasil-hasil penelitian, majalah, jurnal dan
sumber-sumber lain yang berhubungan.

Studi kelayakan lingkungan berkaitan dengan


pengaruh pelaksanaan opsi tersebut terhadap
lingkungan, disini dilakukan analisa manfaat
penerapan opsi tersebut terhadap lingkungan. Pada
analisa ini, setiap opsi dinilai dengan skala 1 = tidak
ada manfaatnya (pengaruhnya) terhadap lingkungan,
3 = besar manfaatnya (pengaruhnya) terhadap
lingkungan dan 5 = sangat besar manfaatnya
(pengaruhnya) terhadap lingkungan

3.4 Metode Pengolahan Data

3.5 Lokasi dan Waktu Penelitian

Metode pengolahan data dengan menggunakan


konsep produksi bersih kemudian dilakukan
penilaian kelayakan secara teknis, ekonomi dan
lingkungan.

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan OktoberNovember 2004 pada suatu industri nata de coco
yang terletak di Kabupaten Bogor.

Konsep produksi bersih dilakukan dengan tahapan


sebagai berikut :

4.1 Gambaran Umum Perusahaan

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Melakukan investigasi terhadap kegiatan


perusahaan.
Melakukan inspeksi keseluruh bagian produksi.
Mangamati titik-titik yang diduga sebagai
sumber masalah (sumber timbulnya limbah).
Mengumpulkan data kuantitatif dan membuat
neraca massa (kesetimbangan input-output).
Mengidentifikasi dan membuat langkah-langkah
penerapan produksi bersih.
Melakukan studi kelayakan teknis, ekonomi dan
lingkungan terhadap langkah-langkah atau opsi
produksi bersih.

Studi Kelayakan Teknis


Studi kelayakan teknis berkaitan dengan pelaksanaan
opsi tersebut, disini dilakukan analisa bagaimana
cara
penerapan
opsi
tersebut
dengan
menyesuaikannya dengan kondisi perusahaan. Pada
analisa ini, setiap opsi dinilai dengan skala 1 = sulit
untuk dilaksanakan, 3 = mudah untuk dilaksanakan
dan 5 = sangat mudah untuk dilaksanakan. Skala
yang digunakan ini untuk menentukan berapa skor
yang diperoleh oleh setiap opsi produksi bersih.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN


Industri nata de coco yang terletak di Kabupaten
Bogor ini berdiri tahun 1994 dengan tujuan awal
untuk memberikan lapangan pekerjaan bagi
penduduk yang berada disekitar lokasi industri. Pada
awal berdirinya, industri ini hanya berproduksi
sebesar 250-300 gelas plastik dalam sehari, namun
sekarang sudah memproduksi sebesar 1000-1200
gelas plastik dalam sehari dan memiliki berbagai
macam pilihan rasa dan warna, yaitu rasa strawbery
(warna merah), rasa nenas (warna kuning), rasa
melon (warna hijau) serta rasa lyche, vanila,
cocopandan dan melon (tidak bewarna atau bening).
Selain dalam bentuk siap dikonsumsi (gelas plastik),
industri ini juga menjual nata de coco mentah yang
telah dipotong-potong. Harga jual produk nata de
coco dalam bentuk kemasan gelas plastik adalah Rp.
12.000 Rp. 12500 per dus (24 cup), sedangkan
harga jual nata de coco mentah adalah Rp. 20002500 per kg.
Produk nata de coco dari industri ini dijual ke
wilayah Bogor, Tangerang, Jakarta dan Bekasi.
Penjualan produk tersebut dilakukan dengan dua
cara yaitu diantarkan langsung ke konsumen atau
dengan cara konsumen yang datang ke lokasi pabrik
untuk

9
2

Aplikasi Produksi Bersih (Cleaner Production) Pada Industri Nata De Coco (Rini Hakimi)

membeli produk yang mereka inginkan. Selain menjual produk nata de coco, dalam kondisi tertentu, industri ini
juga membeli lembaran nata de coco dari home industri yang berada di wilayah Bogor, hal ini dilakukan jika
kebutuhan akan bahan baku meningkat atau terjadinya kegagalan dalam produksi.
Jumlah tenaga kerja pada perusahaan ini sebanyak 20 orang yang bertugas pada pembuatan starter, pencucian
peralatan, pembuatan nata de coco, pembersihan nata, pemotongan nata, pembuatan sirop nata, pengepakan dan
penjualan nata atau mendistribusikan nata hasil produksi kepada konsumen diberbagai wilayah pemasaran.
4.2 Struktur Organisasi Perusahaan
Struktur organisasi perusahaan nata de coco ini masih sederhana, yaitu terdisri dari seorang pimpinan yang
dipegang oleh pemilik usaha dan merangkap bendahara, seorang sekretaris serta 20 orang tenaga kerja.
Pimpinan perusahaan dalam hal ini memiliki peranan yang sangat dominan, karena beliaulah pengambil
keputusan terhadap semua kegiatan perusahaan, mulai dari produksi sampai pemasaran produk.
4.3 Tata Letak Ruang Produksi
Ruangan produksi terletak di dua tempat, yaitu tempat produksi nata de coco (mulai dari pembuatan starter dan
nata sampai pemanenan) dan tempat pengemasan hasil produksi (mulai dari pemotongan sampai dengan
pengepakan produk siap untuk dijual). Jarak antara kedua tempat kegiatan industri ini lebih kurang 1 km,
dimana tempat produksi nata lebih dekat ke jalan raya, hal ini agar lebih memudahkan dalam penerimaan bahan
baku.
Adapun tata letak ruang produksi dan ruang pengemasan pada perusahaan nata de coco ini dapat dilihat pada
Gambar (1a) dan Gambar (1b).
Ruang Perebusan

KM

Kamar Karyawan

Ruang fermentasi

Ruang fermentasi
Tempat penjemuran
loyang

Gambar 1a. Tata Letak Ruang Produksi Nata de Coco

Ruang pemotongan
Nata de coco

Gambar 1b. Tata Letak Ruang Pengemasan Hasil Produksi Nata de Coco

4.3 Bahan Baku


Bahan baku yang digunakan pada pembuatan nata de coco adalah air kelapa. Air kelapa yang digunakan pada
industri ini diperoleh dari pabrik kopra dan dari pasar-pasar tradisional. Biasanya air kelapa ini diperoleh dari
wilayah Jakarta dan Bogor. Harga air kelapa ini bervariasi tergantung ketersediaan di lokasi pembelian,
biasanya berkisar antara Rp. 5000 - Rp. 6000 per jerigen plastik (kapasitas 40 liter). Penggunaan bahan baku
air kelapa ini sebanyak 1500 liter per hari.
Perusahaan memperoleh bahan baku ini dengan datang langsung ke lokasi penjualan bahan baku. Bahan baku
ini dibawa dengan menggunakan jerigen plastik (kapasitas 40 liter) dengan menggunakan mobil bak terbuka

untuk kemudian ditampung dalam drum plastik besar (kapasitas 150 liter). Untuk sumber bahan baku
terbanyak berasal dari Jakarta yaitu dari Cipulir, Pintu Air dan Bendungan, sedangkan dari pasar-pasar
tradisional di wilayah Bogor yaitu dari Pasar Bogor, Pasar Gunung Batu dan Pasar Ciampea, jumlahnya
terbatas.
4.4 Bahan Penolong
Bahan penolong yang digunakan dalam pembuatan nata de coco ini adalah gula pasir, pupuk ZA, asam cuka
dan starter/bibit nata. Adapun jenis bahan penolong dan keguanaannya dalam pembuatan nata de coco dapat
dilihat pada Tabel (2).
Tabel 2. Bahan Penolong yang Digunakan dalam Pembuatan Nata de Coco
No
1.Gula pasir

2.Pupuk ZA

3.Asam Cuka

Jurnal Teknik Mesin

Vol. 3, No.2, Des 2006

6.
7.

*Hanya digunakan dalam pembuatan starter

8.

4.5 Peralatan Produksi

9.

Alat-alat yang digunakan oleh perusahaan ini dalam


pembuatan nata de coco dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Daftar Peralatan yang Digunakan pada
Proses Produksi Nata de Coco

10.

11.
No
1.

12.

2.

13.

14.
3.
15.

4.
16.
5.

17.

ISSN 1829-8958

18.
19.

4.6 Proses Produksi dan Opsi Produksi Bersih


Untuk produksi nata de coco, terlebih dahulu telah
dipersiapkan starter yang akan digunakan dalam
fermentasi. Proses produksi nata de coco itu sendiri
terdiri dari penyaringan, perebusan, penempatan
dalam wadah fermentasi, pendinginan, penambahan
starter, fermentasi (pemeraman), pemanenan,
pembersihan kulit, pemotongan, perebusan dan
pengemasan. Proses produksi ini dapat dilihat pada
Gambar (2).
Berdasarkan proses produksi pembuatan nata de
coco dan starter, maka opsi produksi bersih dan
limbah yang dihasilkan dapat dilihat pada Tabel
(4).
Tabel 4. Opsi Produksi Bersih dan Total Limbah
untuk setiap Opsi
No
1.

2.
3.

4.

5.

6.

Selain dari opsi-opsi di atas, terdapat juga peluangpeluang untuk menerapkan Good Housekeeping di
industri nata de coco ini, yaitu :
1.

Menghindari tumpahan air kelapa pada saat


penyaringan, yaitu dengan tidak menggunakan
gayung dalam memindahkan air kelapa dari
wadah awal ke wadah penyaringan, tapi
menggunakan selang atau aliran kran sehingga
tumpahan air kelapa dapat dihindari.

2.

Menghindari terjadinya tumpahan bahan-bahan


pembuat nata de coco dan pembuat starter pada
saat memasukkannya ke dalam wadah

perebusan atau pada saat memasukkan ke dalam


wadah fermentasi.
3.

Menghemat aliran energi dengan cara


mematikan aliran listrik sealer pada saat tidak

digunakan, tapi tetap mempertimbangkan waktu


pemanasan sealer tersebut (15 menit).
9
4

Aplikasi Produksi Bersih (Cleaner Production) Pada Industri Nata De Coco (Rini Hakimi)

4.

Menghindari
terjadinya
tumpahan air rendaman
nata de coco.

5.

Membersihkan
semua
peralatan langsung pada
saat
telah
selesai
menggunakannya, tanpa
menunda-nunda, agar sisa
bahan atau kotoran yang
ada pada alat dapat segera
dihilangkan
sehingga
umur pakai peralatan
menjadi lama.

6. Mengatur setting peralatan


sesuai standar agar setiap
tenaga
kerja
dapat
mengoperasikan
peralatan
dengan baik.
7.

Menjaga kebersihan ruang


produksi dan ruang kantor
untuk
meningkatkan
kenyamanan
dalam
bekerja.

8.

Menstandarisasi pakaian
tenaga kerja termasuk
sepatu tenaga kerja untuk
mengurangi
terjadinya
kecelakaan kerja karena
kemungkinan
adanya
tumpahan
air
yang
mengakibatkan
ruangan
menjadi licin.

9.

Memberikan pengarahan
kepada
tenaga
kerja
tentang
pentingnya
kebersihan pada proses
produksi, karena ini juga
akan mempengaruhi mutu
nata de coco yang
dihasilkan.

10. Melakukan
material
handling dengan baik
untuk mencegah terjadinya
tumpahan atau bahan yang
tercecer.
11. Melakukan pengendalian
persediaan agar tidak ada
bahan
baku
yang
menumpuk yang bisa
mengakibatkan
bahan
baku terletak terlalu lama
sehingga masam dan tidak
dapat digunakan lagi.
12. Melakukan
pemisahan
limbah padat, semi padat

Rp. 12.000 Rp. 12500 per


dus (berisi 24 gelas atau cup).
Produk nata de coco daam
gelas ini memiliki aneka rasa
yaitu rasa strawbery (warna
merah), rasa nenas (warna
kuning), rasa melon (warna
hijau) serta rasa lyche, vanila,
cocopandan dan melon (tidak
bewarna atau bening).
Air Kelapa

da
n
cai
r
ag
ar
m
e
m
ud
ah
ka
n
da
la
m
pr
os
es
pe
m
an
fa
ata
nn
ya
.
13. M
en
gh
in
da
ri
ter
ja
di
ny
a
ke
bo
co
ra
n
pa

da
sa
at
pe
ng
e
m
as
an
de
ng
an
ge
las
ya
itu
de
ng
an
m
e
m
be
rik
an
pe
ng
ar
ah
an
da
n
pe
lat
ih
an
pe
ng
e
m
as
an
ya
ng
ba

ik
kep
ada
ten
aga
ker
ja
bag
ian
pen
ge
ma
san
.
14. Me
nca
tat
fak
torfak
tor
pen
yeb
ab
terj
adi
nya
ma
sal
ah
dal
am
pro
duk
si,
bai
k
dal
am
pe
mb
uat
an
star
ter

maupun dalam pembuatan


nata de coco, untuk
kemudian
dicari
pemecahannya.
Membuat
standar
operasi
proses
produksi
untuk
memudahkan karyawan yang
ingin meninjau ulang agar tidak
terjadi kesalahan dalam proses
produksi.

Gu
la,
As
am
cu
ka

Air

Peny
aring
an

Air

Penc
amp
uran

Air,
Energi
ZA
Ene
rgi

P
e
n
y
i
a
p
a
n
s
t
a
r
t
e
r

S
t
a
r
t
e
r
(
b
i
b
i
t
)

Plasti
k
penut
up
kema
san

Pere
busa
n

P
e
n
e
m
p
a
t
a
n

d
a
l
a
m

W
a
d
a
h

F
e
r
m
e
n
t
a
s
i

Pend
ingin
an
A
i
r

u
n

Pena
mba
han
Start
er

t
u
k

Ferm
entasi
(Pem
erama
n)

e
r
e
n
d
a
m

Pem
anen
an
dan
Pere
nda
man

Pembersihan kulit dan pencucuian

Si

Kot
ora
n

sa
po
to
ng

Pemotongan

an
Ai

Perebusan

Kot
ora
n
Uap

Sisa
cairan
fermentas
i Air sisa

Pengemasan

Nata de Coco dalam Gelas Plastik

Selain
itu,
melakukan
pengawasan tehadap jalannya
proses produksi
4.7 Deskripsi Produk
Produk yang dihasilkan berupa
nata de coco yang telah
dipotong-potong
(masih
mentah) yang dijual dengan
harga Rp. 2000 Rp 2500 per
kg. Selain itu juga dihasilkan
produk nata de coco yang siap
untuk dikonsumsi dengan dua
merek (jumlahnya 10% dari
hasil produksi per hari), yang
dijual dengan harga

Air
sisa
Lapisa
n kulit

r
si
sa

Air
sisa,
uap

Sisa
plast
ik

Gambar 2. Diagram Alir Proses


Pembuatan Nata de Coco

4.8 Studi Kelayakan Opsi


Produksi Bersih
Penerapan cleaner production
(produksi bersih) pada sebuah
perusahaan didasarkan kepada
kelayakan
dari
opsi-opsi
produksi
bersih
tersebut.
Untuk pengambilan keputusan
mengenai opsi produksi bersih
yang akan diterapkan, maka
dilakukan studi kelayakan dari
opsi tersebut. Studi kelayakan
yang dilakukan meliputi studi
kelayakan teknis, studi
95

Jurnal Teknik Mesin

Vol. 3, No.2, Des 2006

ISSN 1829-8958

kelayakan ekonomi dan studi kelayakan lingkungan. Tujuan dari dilakukannya studi kelayakan dari berbagai
aspek tersebut adalah untuk menentukan opsi-opsi produksi bersih yang mungkin diterapkan atau tidak, baik
ditinjau dari kemudahan dalam melaksanakan opsi tersebut, biaya yang dikeluarkan, manfaat dari penerapan
opsi dan pengaruhnya terhadap lingkungan setelah opsi diterapkan.
Studi Kelayakan Teknis
Adapun cara penerapan masing-masing opsi dan skornya dapat dilihat pada Tabel (5).
Tabel 5. Cara Penerapan Masing-masing Opsi dan Skornya
No

Opsi

1.

Pemanfaatan
kotoran hasil
penyaringan,
perebusan
dan limbah
pembersihan
kulit untuk
pembuatan
pupuk.

2.

Pemanfaatan
kembali sisa
cairan
fermentasi

3.

Pemanfaatan
kembali air
sisa
rendaman,
air
pembersihan
kulit dan
pencucian,
sisa air
perendam
potongan
nata serta air
perebusan
potongan
nata

4.

Pemanfaatan
sisa
potongan
nata untuk
pembuatan
minuman
jelly drink

5.

Pemanfaatan
sisa
potongan
nata untuk
pembuatan
pupuk

6. Menjual sisa
plastik
pengemasan

Studi Kelayakan Ekonomi

Kelayakan opsi produksi bersih secara ekonomi dapat dilihat pada Tabel (6).
Tabel 6. Studi Kelayakan Ekonomi pada Opsi produksi Bersih di Perusahaan Nata de Coco

NoOpsi dan Kelayakan Ekonomi


1.Pemanfaatan kotoran hasil penyaringan, perebusan dan
pembersihan kulit untuk pembuatan pupuk.
Total limbah yang diolah 78.0062 kg/ hari = 78.0062 x
26 hari = 2028.1612 kg/bulan
KEUNTUNGAN
PAY BACK PERIOD
16.326 hari
2.Pemanfaatan kembali sisa cairan fermentasi
Total limbah yang diolah 7.704 liter/ hari = 7.704
liter/hari x 26 hari = 200.304 liter/bulan = 200304
ml/bulan
KEUNTUNGAN
PAY BACK PERIOD
3.Pemanfaatan kembali air sisa rendaman, air pembersiha
kulit dan pencucian, sisa air perendam potongan nata
serta air perebusan potongan nata
Total limbah yang diolah 3480 liter/ hari = 3480
liter/hari x 26 hari = 90480 liter/bulan
PAY BACK PERIOD
4.Pemanfaatan sisa potongan nata untuk pembuatan
minuman jelly drink
Total limbah yang diolah 167.612 kg/ hari = 167.612
kg/hari x 26 hari = 4357.912 kg/bulan
KEUNTUNGAN
PAY BACK PERIOD
5.Pemanfaatan sisa potongan nata untuk pembuatan pupuk
Total limbah yang diolah 167.612 kg/ hari = 167.612
kg/hari x 26 hari = 4357.912 kg/bulan
KEUNTUNGAN
PAY BACK PERIOD
6.Menjual sisa plastik pengemasan
Total limbah plastik yang dijual 0.8 kg/ hari = 0.8
kg/hari x 26 hari = 20.8 kg/bulan
KEUNTUNGAN

Studi Kelayakan Lingkungan


Adapun manfaat masing-masing opsi bagi lingkungan dan penilaiannya dapat dilihat pada
Tabel (7).
Tabel 7. Manfaat Masing-masing Opsi bagi Lingkungan dan Skonya
No

Opsi

1.

Pemanfaatan kotoran hasil


penyaringan, perebusan
dan limbah pembersihan
kulit untuk pembuatan
pupuk.

2.

96

Pemanfaatan kembali sisa


cairan fermentasi

Aplikasi Produksi Bersih (Cleaner Production) Pada Industri Nata De Coco (Rini Hakimi)

4.Pem

untuk
drink

5.Pem

untuk

6.Me

5. KESIMPULAN DAN
SARAN
5.1 Kesimpulan
4.9 Prioritas Penerapan Opsi
Produksi Bersih
Berdasarkan hasil analisa
kelayakan dari masing-masing
opsi diatas, maka dapat
ditentukan
prioritas
dari
masing-masing opsi. Prioritas
dari masing-masing opsi dapat
dilihat pada Tabel (8).
Berdasarkan Tabel (8), maka
opsi
pemanfaatan
sisa
potongan
nata
untuk
pembuatan pupuk menjadi
opsi prioritas pertama untuk
dilaksanakan oleh perusahaan,
karena opsi ini secara teknis
sangat mudah dilaksanakan,
memberikan
keuntungan
tertinggi dengan payback
period tercepat dan memberi
manfaat yang sangat besar
bagi lingkungan.
Tabel 8. Prioritas dari Masingmasing Opsi
No

Proses pembuatan nata de


coco
diawali
dengan
pembuatan starter atau bibit
dengan tahapan proses adalah
penyaringan, pencampuran,
perebusan, penuangan larutas
ke dalam botol, pendinginan,
penambahan biakan murni dan
pemeraman.

Sedangkan proses pembuatan


nata
de
coco
adalah
penyaringan,
pencampuran,
perebusan, penempatan dalam
wadah
fermentasi,
pendinginan,
penambahan
starter,
fermentasi
(pemeraman),
pemanenan,
pembersihan
kulit,
pemotongan, perebusan dan
pengemasan.
Pada proses produksi nata de
coco dihasilkan limbah cair
berupa sisa cairan fermentasi
dan sisa penggunaan air selama
proses produksi. Limbah semi
padat berasal dari kotoran
berbentuk lendir dari hasil
perebusan, lapisan kulit nata
dan sisa potongan nata de coco
serta hasil panen nata yang
gagal (jika terjadi kegagalan
penen). Sedangkan limbah
padat berasal dari kotoran pada
waktu penyaringan, koran
penutup loyang atau botol yang
sudah tidak terpakai dan
plastik sisa penutup kemasan
gelas plastik/cup.
Opsi produksi bersih yang bisa
dilakukan adalah pemanfaatan
kotoran hasil penyaringan,
perebusan dan pembersihan
kulit untuk pembuatan pupuk,
pemanfaatan kembali sisa
cairan fermentasi, pemanfaatan
kembali air sisa selama proses,
pemanfaatan sisa potongan
nata untuk pembuatan jelly
drink,
pemanfaatan
sisa
potongan
nata
untuk
pembuatan pupuk dan menjual
sisa plastik pengemasan.
Berdasarkan
hasil
studi
kelayakan,
opsi
yang
memperoleh prioritas tertinggi
atau pertama adalah opsi
pemanfaatan sisa potongan
nata untuk pembuatan pupuk,
dengan total skor 15.5 serta
keuntungan Rp. 611582,4 dan
payback period 0,4578 bulan.
Sedangkan opsi yang mendapat
prioritas
terendah
adalah
pemanfaatan kembali air sisa
selama proses, karena nilai
ekonomi yang diberikan sangat
rendah serta payback periodnya
sangat lama yaitu 27.2866
bulan.
5.2 Saran

Berdasarkan hasil pengamatan


di lapangan dan hasil penilaian
yang dilakukan, maka penulis
memberikan beberapa saran,
yaitu :
1.

Perusahaan nata de coco


sebaiknya memanfaatkan
limbah
dari
proses
pembuatan nata de coco
sesuai dengan opsi yang
ditawarkan.

2.

Opsi
pertama
yang
sebaiknya dilaksanakan
adalah pemanfaatan sisa
potongan
nata
untuk
pembuatan pupuk karena
sangat
mudah
dilaksanakan,
memberikan
nilai
ekonomi tertinggi dan
berpengaruh sangat besar
terhadap lingkungan.

3.

Penerapan produksi bersih


dalam
bentuk
good
housekeeping seperti yang
telah diuraikan, perlu
dilakukan
untuk
meningkatkan
efisiensi
dan
efektivitas
perusahaan.

97

Jurnal Teknik Mesin

Vol. 3, No.2, Des 2006

PUSTAKA
1. Forlink. Paket Info Produksi Bersih. http://www.forlink.dml.or.id/pinfob/ 11.htm, 2000.
2. LIPI. Pedoman Pembuatan Nata de Coco dari Limbah Air Kelapa. Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia. Puslitbang Bioteknologi. Bogor, 1999.
3. Lapuz, M.M., E.G. Gulardo dan M.A. Palo.
The Nata Organism Cultural Requirement, Characteristic and Identity. Philipine J. of Sci. 96 (2) :
91-107, 1967.
4. Pudjiastuti, L. Produksi Bersih. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan. Jakarta, 1999.
5. Theodula K.A.M.S. The Productin of Nata from Coconut Water. Philipines, 1976.
6. United Nations Environment Programme (UNEP). Cleaner Production Assessment in Dairy
Processing. UNEP Publications. http://www.agrifood.forum.net/publications/guide /index.html,
2000.
7. United States Agency for International
Development (USAID). Panduan Pengintegrasian Produksi Bersih ke dalam Penyusunan
Program Kegiatan Pembangunan Depperindag. Jakarta. Di dalam Suartama, P. W. Adi.
Mempelajari Penerapan Produksi Bersih dan Penanganan Limbah di PT. Great Giant Pineaple
Company, Lampung Tengah. Laporan Praktek Lapang. Fateta IPB. Bogor, 1997. 2000.
8. Warisno. Mudah dan Praktis Membuat Nata de Coco. Agromedia Pustaka. Jakarta, 2004.
ISSN 1829-8958