Anda di halaman 1dari 20

Kajian Kebijakan Pertambangan Mineral dan Batubara

Abstrak
Dari pembahasan ini kita dapat mengetahui bahwa ada beberapa
kajian mengenai pertambangan min eral dan batu bara dan juga kita dapat
mengetahui bahwa ada beberapa pendukung agar pemanfaatan dari batu bara
itu dapat di gunakan di masa depan.
Sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, Kajian Kebijakan
Pertambangan Mineral dan Batubara adalah melaksanakan kajian teknoekonomi dan regulasi di bidang pertambangan mineral dan batubara, di mana
kegiatannya merupakan paduan (sinergi) dari aspek teknologi, ekonomi, sosial,
dan budaya untuk meningkatkan optimalisasi, efisiensi dan efektivitas dalam
pengembangan mineral dan batubara.
Sebagai unsur pendukung dalam kegiatan litbang di lingkungan
Puslitbang tekMIRA, Kelompok ini diharapkan mampu memberi masukan
mengenai aspek keekonomian dan kebijakan mineral dan batubara bagi
Kelompok lain di Puslitbang tekMIRA. Dalam spektrum yang lebih luas, hasil
kajian Kelompok ini dapat memberikan arah bagi stakeholders dalam
pengusahaan mineral dan batubara, serta memberikan masukan tentang
aspek kebijakan kepada Pemerintah.
Untuk mendukung kebijakan pemanfaatan batubara di masa
depan,munculah berbagai kajian, yaitu dantaranya, Kajian regulasi pencairan
batubara, Kajian pengadaan stok nasional batubara berikut kemungkinan
pembentukan badan usahanya, Evaluasi kelayakan pengusahaan kokas, karbon
aktif, dan gasifier, Evaluasi kelayakan pengusahaan kokas, karbon aktif, dan
gasifier, Analisis kebutuhan briket di berbagai daerah/sentra-sentra UKM, Studi
perubahan persepsi dan perilaku masyarakat dan UKM terhadap penggunaan
briket batubara, Evaluasi kelayakan harga batubara untuk proses pencairan
batubara, Analisis potensi kebutuhan batubara, kokas, dan gasifier,dan yang
terakhir adalah Analisis potensi kebutuhan batubara, kokas, dan gasifie.

Kata Kunci:mineral,batubara,kajian

KATA PENGHANTAR
Puji syukur kehadirat ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia nya serta
hidayahnya sehingga kita dapat melakukan aktifitas sehari hari dengan baik.Penyusun juga
mengucapkan shalawat dan salam kepada baginda besar Nabi Muhammad SAW yang telah
membawa kita kepada kemajuan dunia sehingga makalah dengan judul Kebijakan Pertambangan
Penulis menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak kekurangan yang terletak di
dalamnya.Oleh karena itu,penyusun mengharapkan kritik dan saran demi kebaikan yang akan
datang
Akhirnya,semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi semua yang membutuhkan

DAFTAR ISI

ABSTRAK
.......................... I

...........................................................................................

KATA
PENGHANTAR .......................................................................................................
..............
DAFTAR
ISI
.............

.........................................................................................................

1.PENDAHULUAN
........................1

...............................................................................................

1.1. Latar
Belakang .............................................................................................................
...........1
1.2. Ruang
Lingkup ..............................................................................................................
..........4
1,3.
Tujuan
......................4

...................................................................................................

1.4.
Saran
..................................................................................................
........................4
2.Pembahasan
2.1. Sumberdaya dan Cadangan Mineral

Logam ............................................................................4
2.2. Kebijakan Peningkatan Nilai
Tambah
........................................................................... 7

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki
berbagai sumber daya komoditas tambang (mineral dan batubara) di samping
cadangannya cukup besar juga karena kualitasnya sangat baik sehingga
menjadi incaran para investor dari luar negeri dan investor lokal (dalam
negeri). Sebagai contoh data sumber daya dan cadangan bauksit masingmasing 626,6 ton Al dan 161,6 juta ton Al, sumber daya dan cadangan nikel
1.716,5 juta ton Ni dan 555,1 juta ton Ni, sumber daya dan cadangan besi
1.984,7 juta ton Fe dan 87,5 juta Fe, dan sumber daya dan cadangan tembaga
masing-masing 69,8 juta ton Cu dan 44,1 juta ton Cu. Selain itu, jenis mineral
yang dimiliki ternyata bernilai ekonomi tinggi dan dibutuhkan oleh beberapa
industri hilir, seperti mesin dan suku cadang otomotif, kontruksi, badan
pesawat terbang, komponen dan perangkat elektronik dan peralatan rumah
tangga. Beberapa di antaranya tembaga, emas, perak, bauksit, nikel, besi dan
mangan. Mineral tersebut sudah diusahakan baik oleh perusahaan pemerintah
(BUMN), swasta nasional,maupun internasional.
Pada saat ini, komoditas hasil tambang di Indonesia dijual ke pasaran
internasional dalam bentuk yang bervariasi. Beberapa produk tambang
diekspor dalam bentuk bijih, seperti bauksit, besi, nikel, dan mangan, sebagian
lagi dalam bentuk konsentrat dan logam seperti tembaga. Pengolahan
dan/atau pemurnian mineral (dalam bentuk konsentrat atau logam) di

Indonesia masih terbatas dilakukan oleh perusahaan berskala besar terhadap


mineral unggulan, seperti nikel dan tembaga. Sedangkan perusahaan berskala
kecil, dengan berbagai alasan, hanya mampu mengekspor komoditas mineral
dalam bentuk material kasar/wantah. Pada sisi lain, industri pengguna mineral
di dalam negeri yang membutuhkan bahan baku hasil olahan (setengah jadi
atau bahan jadi) komoditas hasil tambang terus tumbuh dan berkembang. Hal
ini mengakibatkan impor bahan baku tersebut mengalami peningkatan dari
tahun ke tahun, yang pada akhirnya banyak menyedot devisa negara,
mengurangi daya tahan dan daya saing industri lokal, serta merugikan negara
karena nilai tambah atas pengolahan atau pemurnian komoditas tambang
diambil oleh negara lain (pengimpor). Dari kondisi di atas cukup ironis, di satu
sisi Indonesia yang memiliki sumber daya mineral yang cukup besar, dikenal
sebagai pengekspor mineral (dalam bentuk bahan mentah), tetapidi sisi lain
menjalankan peran sebagai negara pengimpor mineral (dalam bentuk
bahansetengah jadi dan bahan jadi). Terlebih lagi, baik ekspor maupun impor
dari tahun ketahuncenderung meningkat baik dari segi jumlah maupun nilai.
Bukan tidak mungkin, devisanegara yang kesedot lebih besar daripada
perolehan devisa dari menjual komoditi yang diekspor. Hal ini karena komoditi
yang diimpor lebih mahal daripada yang diekspor, yang notabene komoditi
tersebut juga berasal dari Indonesia.Pengaturan mengenai perlunya dilakukan
peningkatan nilai tambah komoditas mineral danbatubara telah diatur dalam
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 (UU No 4/2009) tentang Pertambangan
Mineral dan Batubara, yang kemudian dijabarkan dalam pasal-pasal Peraturan
Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 (PP No 23/2010) yang mengamanatkan
kepada pemegang izin pertambangan (KK, PKP2B dan KP) untuk melakukan
pengolahan dan pemurnian di dalam negeri dalam jangka waktu paling lambat
5 (lima) tahun sejak berlakukannya UU No 4/2009. Artinya tidak ada lagi
barang mentah (raw material) hasil tambang Indonesia yang dijual ke luar
(ekspor). Smelter dan pengolahan harus dilakukan di dalam negeri, untuk
mendapatkan nilai tambah (added Value). Pengolahan dan pemurnian akan
diatur oleh Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
mengenai tata cara peningkatan nilai tambah mineral dan batubara.
Peningkatan nilai tambah bertujuan untuk meningkatkan dan mengoptimalkan
nilai tambang, tersedianya bahan baku di dalam negeri, serta meningkatkan
penyerapan tenaga kerja dan penerimaaan negara.Sudah jelas dan terang
benderang, jika pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) mineral itu
dibangun di Indonesia, maka berbagai peluang akan di dapat, seperti
kesempatan kerja, peluang usaha, dan penerimaan negara lebih besar, serta
yang tidak kalah penting adalah industri di dalam negeri tidak tergantung pada
bahan baku impor, sehingga kelangsungan industri tetap terjamin, yang pada
gilirannya mampu menjamin keberlanjutan pembangunan nasional. Sudah
barang tentu untuk mewujudkan amanah UU No 4/2009 diperlukan upaya atau
langkah-langkah strategis sekaligus tantangan bukan saja oleh perusahaan dan
pemerintah tetapi juga stakeholders lainnya. Mulai dari pemetaan potensi
untuk produk nilai tambah hingga pembuatan regulasi yang selaras untuk
mendorong tersinerginya rantai industri.

Secara umum kebijakan peningkatan nilai tambah mineral dan


batubara seperti pada Dalam rangka dukungan pelaksanaan peningkatan nilai
tambah mineral sebagai amanah yang terkandung dalam UU No. 4/2009
tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, serta dikaitkan dengan koridor
ekonomi Indonesia, yaitu Masterplan Perluasan dan Percepatan Pembangunan
Ekonomi Indonesia (MP3EI), akan dilakukan Pengkajian Tekno-ekonomi dan
Kebijakan Peningkatan Nilai Tambah Bauksit, Nikel, Besi, Mangan dan
Tembaga/Anode Slime, dengan dasar pertimbangan sebagai berikut :

PROS
ES
NILAI TAMBAH
Gambar 1.1 : Kebijakan Peningkatan Nilai Tambah
1) Bauksit diekspor 100% dalam bentuk bijih dan mengimpor alumina 100%
untuk bahan
baku pabrik pengolahan aluminium (PT. Inalum) di dalam negeri. Ada rencana
pembangunan pabrik pengolahan bauksit, yaitu Smelting Grade Alumina (SGA)
di
Mempawah dan Chemical Grade Alumina di Tayan, Kalimantan Barat oleh PT
Aneka
Tambang, dan rencana pembangunan SGA di Ketapang oleh PT Harita Prima
Abadi
Mineral. Perlu upaya pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian atau
custom
plant di area sekitar penambangan bauksit (KP/IUP). Tentunya memerlukan
investasi
yang sangat besar dan perlu dukungan infrastuktur antara lain energi listrik
yang sangat
besar.
2) Bijih nikel baru sebagian kecil yang diolah menjadi ferronikel dan nikel
matte, sedangkan

sebagian besar masih diekspor dalam bentuk bijih. Perlu adanya investasi
untuk
pengembangan industri dan custom plant pengolahan ferro nikel atau produk
olahan
lainnya, misalnya minimal untuk pemrosesan crude ferro nickel (5-10% Ni),
yang
Kajian Tekno-ekonomi dan Kebijakan Peningkatan Nilai Tambah Bauksit, Nikel,
Bijih Besi,
selanjutnya dapat diproses menjadi ferronikel seperti yang dilakukan PT Aneka
Tambang.
3) Besi diekspor dalam bentuk bijih dan mengimpor pelet untuk bahan baku
industri
besi/baja di dalam negeri. Oleh karena itu, perlu upaya membangun industri
pengolahan dan pemurnian besi untuk menghubungkan mata rantai industri
hulu hilir
berbasis mineral besi. Ada upaya ke arah itu, seperti rencana yang dilakukan
PT
Krakatau Steel, PT Aneka Tambang dan Pemerintah Daerah melalui Jonit
Venture
membentuk PT Meratus Jaya Iron and Steel (PT MJIS) dengan bahan baku dari
tambang tambang marginal di Kalimantan Selatan untuk mendirikan pabrik
pengolahan sponge
iron.
4) Mangan diekspor sebagian besar dalam bentuk bijih dan mengimpor produk
olahan
dari mangan untuk bahan baku industri besi/baja di dalam negeri. Perlu
pembangunan
pabrik pengolahan seperti yang dirintis di Kupang-NTT oleh PT. Setia Lestari
Permai
dalam pembangunan yang bertahap untuk memproduksi mangan kimia
berteknologi
tinggi.
5) Konsentrat tembaga produk PT Freeport Indonesia dan PT Newmont Nusa
Tenggara
sebagian besar (70%) di ekspor dan 30% diolah oleh Smelting Gresik menjadi
katoda
tembaga, sementara anode slime yang mengandung unsur ikutan yang bernilai
ekonomi diolah di luar negeri.

1.2 Ruang Lingkup


Ruang lingkup kegiatan kajian Tekno Ekonomi dan Kebijakan Peningkatan Nilai Tambah

Bauksit, Nikel, Bijih Besi, Mangan dan Anode Slime untuk tahap pertama (2011)
meliputi :
Analisis Pasar :
Gambaran Umum pasar
Potensi pemasokan dan permintaan dalam dan luar negeri
Analisis Potensi Ekonomi
Potensi peningkatan nilai tambah
Potensi peningkatan penerimaan negara
Analisis Kebijakan yang diperlukan
1.3 Tujuan
Melakukan kajian keekonomian dan kebijakan peningkatan nilai tambah bauksit, nikel,
bijih
besi, mangan dan anode slime, untuk mendukung kebijakan pelaksanaan kewajiban
pengolahan dan pemurnian di dalam negeri.
1.4 Sasaran
a) Diketahuinya kondisi pasar mineral utama dan mineral/ unsur ikutan dari bauksit,
nikel, bijih besi, mangan dan anode slime,
b) Diketahuinya nilai keekonomian atau nilai tambah dari bauksit, nikel, bijih besi,
mangan
dan anode slime dalam rangka optimalisasi penerimaan negara,
c) Mendukung kebijakan pemerintah tentang peningkatan nilai tambah.
II. Pembahasan
Pada bagian ini akan dibahas tinjauan kondisi pertambangan di Indonesia saat
ini dan arah
pengembangan ke depan, tinjauan pustaka terkait dengan potensi sumberdaya dan
cadangan,
perkembangan tingkt produksi dan ekspor, serta perkembangan haraga mineral logam
terutama
menyangkut mineral bauksit, nikel, besi, mangan dan tembaga (konsentrat dan abode
slime).
2.1 Sumberdaya dan Cadangan Mineral Logam
Di Sektor Pertambangan, Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya dengan
kandungan
mineral. Sehingga Indonesia menempati posisi produsen terbesar kedua untuk
komoditas timah,
posisi terbesar keempat untuk komoditas tembaga, posisi kelima untuk komoditas
nikel, posisi
terbesar ketujuh untuk komoditas emas dan posisi kedelapan untuk komoditas
batubara.
Berdasarkan data dari Pusat Sumber Daya Geologi, hingga tahun 2010 telah
diidentifikasi
beberapa mineral logam baik dari sisi sumberdaya maupun dari sisi cadangan (Tabel
2.1).
Disisi lain, saat ini kondisi pertambangan Indonesia dinilai masih belum dapat meraih
peluang,
dimana kegiatan eksplorasi hanya 2% dari eksplorasi dunia. Oleh karena itu, kondisi ini
perlu

segera diperbaiki, mengingat jika tidak ada kegiatan eksplorasi maka produksi mineral
Indonesia
akan menghadapi kesulitan dalam mempertahankan kelangsungannya. Oleh karena
itu
pemetaan di Sektor Pertambangan ini penting dilakukan mengingat peranannya yang
penting
dalam memberi manfaat bagi pembangunan nasional.

Saat ini Indonesia memiliki sumber daya dan cadangan bauksit sangat besar dengan
rincian,sumber daya hipotetik sebesar 30,33 juta ton, terduga 5,00 juta ton, indikasi
sebesar 75,06 juta ton, dan sumber daya terukur sebesar 828,33 juta ton, sedangkan
jumlah cadangan diketahui mencapai 107,72 juta ton tereka dan 115,73 juta ton
terbukti (total keseluruhan 1,16 miliar ton) dengan kadar Al2O3 berkisar 27- 55
persen.Sumber daya dan cadangan bauksit Indonesia tersebar di Propinsi Kepulauan
Riau, PropinsimBangka Belitung dan Propinsi Kalimantan Barat, dengan rincian :

1) Riau :

a) Tanjung Pinang (kandungan Al2O3 = 15,05 58,10%),


b) P.Bulan, P.Bintan (kandungan SiO 2 = 4,9%, Fe2O3 = 10,2%, TiO2 = 0,8%, Al2O3 =
54,4%),
c) P.Lobang (kepulauan Riau), P.Kijang (kandungan SiO 2 = 2,5%, Fe2O3 = 2,5%, TiO2 =
0,25%, Al2O3 = 61,5%, H2O = 33%). Sumber daya dan cadanga buksit di Kepulauan
Riau, merupakan akhir pelapukan lateritic setempat.
d) Selain ditempat tersebut terdapat juga di daerah lain yaitu, Galang, Wacopek,
Tanah

Merah,dan Searang.

2) Kalimantan Barat :
a) Tayan dan sekitarnya, Tipe endapan laterit. Cadangan= 560 juta ton kadar Al 2O3 =
2730%
b) Sandai, Tipe endapan laterit. Cadangan = 95 juta ton kadar Al 2O3 = 29.4 %
c) Air Upas & Riam, Tipe endapan laterit. Cadangan = 90 juta ton kadar Al 2O3 = 28-35
%
d) Kendawangan, Tipe endapan laterit. Cadangan = 98 juta ton kadar Al 2O3 = 31 %
e) Kab. Sambas, Kec. Sei Raya, Cadangan = 2 juta ton, kadar AL 2O3 = 47-53%
f) Kab. Ketapang dan Sanggau , Mungguk Pasir, Kusik, Simpang Dua, P.Kunyit, Balai
Bekuak, Pantah, S. Dawak, S. Semandang . Deposit terdapat pada kedalaman 2 m
dengan
ketebalan antara 1,5 -2 m.

3) Bangka Belitung : Sigembir.

Sumber daya bauksit di Kalimantan Barat telah diselidiki dan meliputi tiga daerah
yaitu
Kendawangan, Air Upas, Sandai-Jago dan Sungai Kapuas (Tayan, Munggu Pasir, Pantas,
Simpang
Dua). Di daerah Kendawangan, laterit alumina terdapat di dekat pantai. Sumber daya
yang
ditemukan cukup besar seperti di daerah lainya. Di daerah Sandai-Jago, walaupun
eksplorasi
tidak dilanjutkan, Sumber daya yang terbukti menunjukkan bahwa daerah ini
merupakan
sumber laterit alumina cukup tinggi untuk ditambang secara besar-besaran
Untuk cadangan yang cukup besar ditemukan di daerah Sungai Kapuas. Endapan
batuan didaerah ini berserakan di bukit-bukit setinggi 30 - 40 meter dan merupakan
sisa erosi yangmemiliki lereng-lereng landai. Hasil penelitian terbaru menunjukkan
bahwa cadangan bauksit didaerah Kalimantan berupa cadangan tereka mencapai
90,86 juta ton, dan cadangan terbukti mencapai 108,13 juta ton sehingga total
cadangan mencapai 200 juta ton.Sementara itu, sumber daya bauksit di Propinsi
Kepulauan Riau sebagian besar berada di daerah Pulau Bintan dimana sumber daya
terukur sebesar 146,29 juta ton dan sumber daya terduga sebesar 5,01 juta ton, lihat
Tabel 2.3 (Pusat Sumber Daya Geologi, 2009).
Dari data yang disampaikan Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara,
Kementerian ESDM, ada14 lokasi di tiga provinsi (Propinsi Kepulauan Riau, Propinsi
Kalimantan Barat dan Propinsi Kepulauan Bangka Belitung), yang memiliki deposit
bauksit. Data dari Kementerian ESDM dan Pusat Sumber Daya Geologi, menyebutkan,
sumber daya bauksit di Indonesia sebanyak 938.347.654,00 ton, cadangan sebanyak
223.456.017,00 ton sehingg total sumber daya dan cadangan mencapai
1.161.803.671,00 ton, selengkapnya lihat Tabel 1 (Pusat Sumber Daya Geologi, 2009).
Sementara itu, Antam selaku produsen bauksit terbesar dan tertua di Indonesia
dalam laporannya menyebutkan, cadangan dan sumberdaya yang dimilikinya di tahun

2008 sebesar 201.200.000


sumberdaya di tahun 2009

ton

kemudian

terjadi

peningkatan

cadangan

dan

sebesar 73 persen atau 304.200.000 ton. Sementara cadangan terbukti dan terkira
sebanyak
70.900.000 ton di tahun 2008 kemudian mengalami kenaikan sebanyak 47 persen di
tahun 2009,
menjadi 104.500.000 ton. Kenaikan jumlah cadangan sumberdaya dan cadangan
terbukti dan
terkira milik Antam tersebut, karena adanya kegiatan eksplorasi yang terus dilakukan
di
beberapa wilayah di Kalimantan Barat. Eksplorasi yang dilakukan PT. Antam, karena
tambang
bauksit di Kijang, sejak 2009 lalu sudah tidak berproduksi lagi.
Jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya di dunia yang memiliki sumber daya
dan
cadangan bauksit, maka Indonesia merupakan negara dengan cadangan bauksit no 8
terbesar di
dunia dengan jumlah 1,16 miliar ton. Negara terbesar cadangannya adalah Guinea
sebesar 8,60
miliar ton, diikuti oleh Australia sebanyak 7,90 miliar ton, Vietnam sebesar 5,40 miliar
ton,
Jamaika dan Brasil dengan dengan jumlah yang sama sebesar 2,50 miliar ton, China
sebesar
2,30 miliar ton, serta India dengan cadangan sebesar 1,40 miliar ton
Sumber bahan baku untuk industri besi baja di Indonesia dapat diklasifikan menjadi
tiga jenis
yaitu :
1. Bijih besi metasomatik dengan deposit sebesar 320.462.611 ton yang tersebar di
Lampung, Sumatera Barat, Belitung, Kalimantan Selatan, Tanalang, Pleihari.
Bijih besi metasomatik adalah bijih besi magnetit-hematit dengan kadar yang sangat
bervariasi dari 25% Fe- 67% Fe.
2.
Besi besi lateritik dengan deposit yang sangat besar 1.391.246.630 ton yang
tersebar di
Kalimantan Selatan, Pomalaa, Halmahera. Bijih besi lateritik merupakan hasil
pelapukan
sehingga banyak didominasi oleh mineral-mineral gutit dan mengandung nikel. Kadar
bijih besi lateritik juga bervariasi umumnya berkadar sekitar 40% Fe dengan
kandungan
nikel mencapai 0,5%. Bijih besi latertik dapat juga ditingkatkan kadarnya dengan
berbagai
macam teknologi peningkatan kadar. Lurgi dan Crest Exploration Limited (Crest, 1965)
mengembangkan teknik magnetizing roasting untuk mengubah sifat diamagnetik dari
mineral besi hematit menjadi feromagnetik. Dilaporkan bahwa teknik ini cukup
berhasil
untuk meningkatkan kadar besi dari kadar 30% Fe menjadi 65% Fe. China
mengembangkan teknik hydrophobic floculation untuk meningkatkan kadar bijih
hematit
berkadar 30% Fe dan 55% SiO2 menjadi 60% Fe. India mengembangkan teknik flotasi
kolom untuk meningkatkan kadar besi menghasilkan konsentrat berkadar 67% Fe dan
2%

SiO2+Al2O3 dengan perolehan mencapai 85-90%.


Demikian halnya dengan mangan, unsur yang melimpah di kerak bumi. Namun
hanya jarang
ditemukan dalam konsentrasi cukup tinggi untuk membentuk deposit bijih mangan.
Sumber
daya mangan dunia saat ini diperkirakan hampir mencapai 5 miliar ton, kandungan
mangan
dalam bijih tersebut berkisar antara 20%-54%. Lebih dari 80% sumber mangan dunia
berada di
Afrika Selatan (80,73%) dan Ukraina (10,49%), sisanya berada di negara Cina,
Australia, Brazil,
gabon,India dan Meksiko
2.2Kebijakan Peningkatan Nilai Tambah
Pengaturan mengenai perlunya dilakukan peningkatan nilai tambah komoditas
mineral dan
batubara telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 (UU No 4/2009)
tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara, yang kemudian dijabarkan dalam pasal-pasal
Peraturan
Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 (PP No 23/2010) yang mengamanatkan kepada
pemegang
izin pertambangan (KK, PKP2B dan KP) untuk melakukan pengolahan dan pemurnian di
dalam
negeri dalam jangka waktu paling lambat 5 (lima) tahun sejak berlakuknya UU No
4/2009.
Pengolahan dan pemurnian akan diatur oleh Peraturan Menteri Energi dan Sumber
Daya Mineral
(ESDM) mengenai tata cata peningkatan nilai tambah mineral dan batubara.
Peningkatan nilai
tambah bertujuan untuk meningkatkan dan mengoptimalkan nilai tambang,
tersedianya bahan
baku di dalam negeri, serta meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan penerimaaan
negara.
Jika pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) mineral itu dibangun di Indonesia,
maka
berbagai peluang akan di dapat, seperti kesempatan kerja, peluang usaha, dan
penerimaan
negara lebih besar, serta yang tidak kalah penting adalah industri di dalam negeri
tidak
tergantung pada bahan baku impor, sehingga kelangsungan industri tetap terjamin,
yang pada
gilirannya mampu menjamin keberlanjutan pembangunan nasional (Gambar 2.1).
Sudah barang
tentu untuk mewujudkan amanah UU No 4/2009 diperlukan upaya atau langkahlangkah
strategis sekaligus tantangan bukan saja oleh perusahaan dan pemerintah tetapi juga
stakeholders lainnya. Mulai dari pemetaan potensi untuk produk nilai tambah hingga
pembuatan
regulasi yang selaras untuk mendorong tersinerginya rantai industri.

Ada dua dasar hukum dalam peningkatan nilai tambah, yaitu peraturan yang terkait
langsung
dengan peningkatan nilai tambah dan peraturan yang mendukung upaya untuk
peningatan nilai
tambah.
2.3.1 Peraturan tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral dan Batubara
1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009
Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara,
mengamanatkan peningkatan nilai tambah :
a) Pasal 5 ayat (1) : Untuk kepentingan nasional, Pemerintah setelah berkonsultasi
dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dapat menetapkan kebijakan
pengutamaan mineral dan/atau batubara untuk kepentingan dalam negeri.
Kajian Tekno-ekonomi dan Kebijakan Peningkatan Nilai Tambah Bauksit, Nikel, Bijih Besi, Mangan dan Anode Slime
2011

25
b) Pasal 95 huruf c: pemegang IUP dan IUPK wajib meningkatkan nilai tambah;
c) Pasal 102: pemegang IUP dan IUPK wajib meningkatkan nilai tambah dalam
pelaksanaan penambangan, pengolahan/pemurnian, dan pemanfaatan minerba;
d) Pasal 103 ayat (1) : Pemegang IUP dan IUPK Operasi Produksi wajib melakukan
pengolahan dan pemurnian hasil penambangan di dalam negeri.
e) Pasal 170 : Pemegang kontrak karya sebagaimana dimaksud dalam pasal 169 yang
sudah berproduksi wajib melakukan pemurnian sebagaimana dimaksud dalam Pasal
103 ayat (1) selambat-lambatnya 5 (lima) tahun sejak Undang-Undang ini
diundangkan.
2) Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010
Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha
Pertambangan Mineral dan Batubara
a) Pasal 93 : pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi mineral wajib
melakukan pengolahan/pemurnian untuk meningkatkan nilai tambah, langsung atau
kerja sama dengan perusahaan pemegang IUP dan IUPK lainnya;

b) Pasal 94: pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi
batubara
wajib melakukan pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah, langsung atau
kerja sama dengan perusahaan pemegang IUP dan IUPK lainnya;

c) Pasal 95 : komoditas tambang yang ditingkatkan nilai tambahnya adalah mineral


logam, bukan logam, batuan, atau batubara;
d) Pasal 96 : ketentuan tentang tata cara peningkatan nilai tambah mineral dan
batubara
diatur dengan Peraturan Menteri.
3) Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 25 Tahun 2008
Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 25 Tahun 2008 tentang
Tata
Cara Penetapan Kebijakan Pembatasan Produksi Pertambangan Mineral Nasional:
Kajian Tekno-ekonomi dan Kebijakan Peningkatan Nilai Tambah Bauksit, Nikel, Bijih Besi, Mangan dan Anode Slime
2011

26
a) Pasal 4 ayat (2): Kebijakan pembatasan produksi pertambangan mineral nasional
tertentu, antara lain dapat berupa timah, nikel, besi, emas, atau tembaga.
b) Pasal 6: Kebijakan pembatasan produksi pertambangan mineral tertentu nasional
untuk

jangka waktu 5 (lima) tahun dan dapat dievaluasi setiap tahun. Evaluasi didasarkan
atas
kajian terhadap asas konservasi, kapasitas produksi nasional, optimalisasi penerimaan
negara, peningkatan nilai tambah, kebutuhan ekspor, pasokan dalam negeri dan daya
dukung Iingkungan.
4) Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 34 Tahun 2009
Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 34 Tahun 2009tentang
Pengutamaan Pemasokan Kebutuhan Mineral dan Batubara untuk Kepentingan Dalam
Negeri:
a) Pasal 2 ayat (1): badan usaha pertambangan mineral dan batubara harus
mengutamakan pemasokan kebutuhan mineral dan batubara untuk kepentingan
dalam negeri;
b) Pasal 6 ayat (1): pemerintah (Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral)
merencanakan
kebutuhan mineral dan batubara untuk kepentingan dalam negeri untuk masa satu
tahun;
c) Pasal 9: harga mineral dan batubara yang dijual di dalam negeri mengacu pada
harga
patokan mineral dan batubara, baik untuk penjualan langsung (spot) atau penjualan
jangka tertentu (term).
2.3.2 Peraturan Pendukung (Terkait Solusi Peningkatan Nilai Tambah)
1) Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal
a. Pasal 3 ayat (2): tujuan penyelenggaraan penanaman modal, antara lain untuk:
a) Meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional;
b) Menciptakan lapangan kerja;
c) Meningkatkan kemampuan daya saing dunia usaha nasional;
d) Meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknologi nasional;
e) Mengolah ekonomi potensial menjadi kekuatan ekonomi riil dengan menggunakan
dana yang berasal, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri;
f) Meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
3. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
31 Kesimpulan
1. Indonesia memiliki sumber daya dan cadangan mineral logam yang cukup besar
dan dikenal
sebagai mining country, seperti halnya cadangan bijih bauksit 179,504 juta ton akan
habis,
bijih nikel 576,914 juta ton, bijih besi 106,030 juta ton, bijih mangan 4,078 juta ton,
dan
tembaga 4,161 milyar ton. Umur tambang diperkirakan untuk bauksit sekitar 22
tahun, nikel
30 tahun, besi 19 tahun, mangan 27 tahun, dan tembaga 41 tahun. Sebagian besar
mineral
tersebut diproduksi dan kemudian diekspor dalam bentuk bahan mentah, sedangkan
produk
melalui pengolahan (nilai tambah) masih terbatas pada mineral unggulan (tembaga,
nikel)

dan dilakukan oleh perusahan besar. Sedangkan di sisi lain Indonesia dikenal sebagai
negara
pengimpor bahan baku industri pengguna mineral (setengah jadi atau jadi), yang bisa
jadi
komoditi tersebut berasal dari Indonesia. Kenyataan memang membuktikan,
penerimaan
negara dari subsektor pertambangan mineral dan batubara mengalami peningkatan
secara
signifikan, seperti untuk tahun 2010 mencapai Rp. 64.332,7 meningkat 23,08% dari
tahun
sebelumnya. Memang, mengekspor komoditi dalam bentuk material kasar, bongkahan
atau
wantah (raw material) telah menghasilkan devisa bagi negara, tetapi mengimpor
komoditi
dalam bentuk bahan setengah jadi atau bahan jadi juga menyedot devisa negara yang
bukan
tidak mungkin lebih besar daripada sekedar memperoleh devisa dari menjual komoditi
yang
diekspor. Hal ini disebabkan harga komoditi yang diimpor lebih mahal daripada yang
diekspor, yang notabene komoditi tersebut juga berasal dari Indonesia. Falsafah
diterbitkannya UU No. 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara sebagai
pengganti Undang-Undang No. 11 Tahun 1967 Tentang Pokok-pokok Usaha
Petambangan
adalah adanya perubahan paradigma terhadap pengelolaan sumber daya alam, yang
semula
produk tambang mineral danbatubara (minerba) diekspor dalam bentuk material
kasar/wantah (raw ) menjadi bahan baku industri hasil olahan yang bernilai tambah.
Sesuai
dengan penjelasan pasal 95 ayat (2) PP No.23/2010, peningkatan nilai tambah
bertujuan
untuk meningkatkan dan mengoptimalkan nilai tambang, tersedianya bahan baku di
dalam
negeri, serta meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan penerimaan negara. Jelas
dari
Kajian Tekno-ekonomi dan Kebijakan Peningkatan Nilai Tambah Bauksit, Nikel, Bijih Besi, Mangan dan Anode Slime
2011

151
tujuan tersebut bahwa, dalam pengertian sempit, peningkatan nilai tambah
sebenarnya
diarahkan untuk keuntungan bagi seluruh pemangku kepentingan, yaitu bagi
perusahaan
tambanga berupa peningkatan nilai-jual sebuah tambang); perusahaan industri
manufaktur
berupa ketersediaan bahan baku yang berasal dari dalam negeri domestik yang
diharapkan
lebih murah dan terjamin; masyarakat luas berupa ketersediaan lapangan kerja dan
kesempatan berusaha baru akibat dibangunnya pabrik pengolahan/pemurnian; dan
bagi
pemerintah berupa peningkatan penerimaan negara. Dalam pengertian yang lebih
luas,
peningkatan nilai tambah pada dasarnya bermuara kepada upaya peningkatan
ketahanan
negara, baik di bidang industri maupun energi.

2. Adanya kecenderungan peningkatan kebutuhan dunia terhadap alumina sebagai


akibat
dari semakin pesatnya pembangunan di negara-negara berkembang maupun negara
maju, tentunya menjadi suatu keuntungan bagi Indonesia. Maka sangat tepat dan
beralasan jika ke depannya rencana pembangunan fasilitas pengolahan dan
pemurnian
bauksit di Indonesia (khususnya di Kalimantan Barat) dapat diwujudkan dan
dimatangkan. Secara simulasi perhitungan, nilai tambah dari bijih bauksit menjadi
alumina
US $ 215,31 per ton dan dari alumina menjadi aluminium ingot sebesar US $ 251,127
per ton
atau berturut-turut sekitar 23 kali dan 27 kali dari hanya menambang saja. Apabila
rencana
proyek SGA dan CGA PT Antam dan PT Harita Prima Mineral dapat terealisasi, maka
akan
tercipta nilai tambah sekitar US $ 581,326 juta di antaranya berupa penerimaan
negara US $
100,065 juta. Namun apabila tidak terealisasi, maka pemerintah akan kehilangan
pendapatan
dari pajak dan royalti sekitar US $ 43,408 juta.
3. Dari gambaran potensi pasar nikel dunia memberikan prospek yang positif bagi
tumbuhnya
industri pengolahan bijih nikel di Indonesia. Hal ini dapat mendukung PT Aneka
Tambang
yang akan melakukan pengembangan pabrik pengolahan FeNi di Halmahera Timur,
dan
pabrik pengolahan NPI di Mandiolo, serta PT Weda Bay akan melakukan pembangunan
pabrik pengolahan Nikel Hidroksida di Halmahera Tengah. Berdasarkan pendekatan
perhitungan simulasi, besarnya nilai tambah FeNi dengan volume penjualan 74,400
ton,
harga Rp 49.453.940/ton, adalah Rp 1,379 triliun atau Rp 18.536.871 per ton.
Sedangkan pada
proses pengolahan bijih nikel menjadi nikel mate dengan tingkat produksi 66,890.00
ton,
Kajian Tekno-ekonomi dan Kebijakan Peningkatan Nilai Tambah Bauksit, Nikel, Bijih Besi, Mangan dan Anode Slime
2011

152
harga Rp 101.043.000/ton, maka nilai tambah yang diperoleh sebesar Rp 2,290 triliun
atau Rp
34.245.127 per ton. Apabila diasumsikan jumlah produksi bijih nikel saat ini sebesar
10,8 juta
ton tersebut di atas diolah menjadi FeNi dan Nikel mate dengan komposisi FeNi 52%
dan
Nikel mate 48%, maka nilai tambah masing-masing yang tercipta Rp 1,939 triliun dan
Rp
3,272 triliun sehingga totalnya sebsar Rp 5,211 triliun dan di antaranya berupa
penerimaan
negara sebesar Rp 2,865 triliun. Namun apabila belum bisa diolah,maka pada saat
kebijakan
peningkatan nilai tambah diberlakukan 2014, maka penerimaan negara yang hilang
adalah

sebesar Rp 1,177 triliun.


4. Berdasarkan data historis periode 2001-2010, hingga kini neraca perdagangan bijih
besi tetap
defisit bahkan potensial meningkat. Hal tersebut disebabkan produksi bijih besi
diekpor
sedangkan pellet (sponge/pig iron) dan scrab sebagai bahan baku industri besi baja
mengimpor dari luar negeri dengan harga yang jauh lebih mahal dibandingkan bijih
besi
sebagai bahan bakunya. Demikian halnya dengan yang terjadi pada pola pemasokan
dan
kebutuhan besi baja di Indonesia yang cenderung terus meningkat, bahkan tahuntahun
mendatang diperkirakan akan terjadi kelebihan permintaan. Demikian pula melihat
adanya
peningkatan nilai tambah dari pengolahan bijih besi menjadi pellet sekitar 10 kali
dibandingkan hanya menambang saja, hal ini menjadikan dorongan kuat untuk
merealisasikan rencana pembangunan pabrik pengolahan bijih besi. Rencana
pembangunan
pengolahan bijih besi yang ada telah sejalan dan dapat terintegrasi baik ke sisi hulu
(penambangan) maupun ke sisi hilir (industri besi baja). Secara hitungan dari rencana
pendirian pabrik pengolahan bijih besi yang ada akan tercipta nilai tambah sekitar US
$
397,336 di antaranya sebagai penerimaan negara sekitar US$ 106,490 juta. Tetapi
apabila
sebaliknya, tahun 2014 pabrik pengolahan bijih besi belum operasional, maka akan
berdampak terhadap kehilangan pendapatan negara dari royalti penambangan sekitar
US $
4,78 juta artau sekitar Rp. 43,03 milyar.
5. Nusa Tenggra Timur merupakan salah satu perhatian dunia internasional terkait
pengelolaan
tambang mangan. Pasalnya, kebutuhan mangan untuk besi baja di Cina dan Korea
mulai
menipis. Perkembangan ekspor mangan NTT pada tahun 2009 tercatat 21.736 ton,
tetapi
pada tahun 2010 naik menjadi 78.489 ton, berarti naik sebesar 261,10% dalam satu
tahun.
Kajian Tekno-ekonomi dan Kebijakan Peningkatan Nilai Tambah Bauksit, Nikel, Bijih Besi, Mangan dan Anode Slime
2011

153
PT. AGB mining salah satu perusahaan yang berencana akan mendirikan pabrik
pengolahan
mangan di Kabupaten Kupang, dengan kapasitas produksi sekitar 5.000-6.000
ton/bulan
dengan kebutuhan bijih mangan 10.000-12.000 ton/bulan. Jenis produk yang akan
dihasilkan
adalah feromangan dan silika mangan, produknya dikirim ke Korea Selatan dan diolah
lanjut
oleh PT. Hunday GAGB. Energi yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan ini sekitar
20
MW tegangan minimum 22.900 Kv. Berdasarkan simulasi perhitungan , untuk usaha

penambangan mangan skala 150.000 per tahun dengan harga jual US $ 149, akan
didapat
nilai tambah sekitar US $ 121,43 dan penerimaan negara 37,527 per ton. Sehingga
kalau
kebijakan peningkatan diberlakukan tahun 2014 dan belum ada pabrik pengolahan,
maka
pemerintah akan kehilangan penerimaan negara sebesar US $ 5,629 ribu untuk
tingkat
produksi 150.000 ton mangan per tahun.
6. Peranan Indonesia dalam kancah dunia, berdasarkan tingkat produksi tambang
tembaga
sekitar 1 juta ton (70% PT Freeport Indonesia dan 30% PT Newmont Nusa Tenggara)
menduduki peringkat ke 5 (lima) dari 20 Negara teratas. 70% produk tambang
tembaga
berupa konsentrat tersebut diekspor dan 30%-nya diolah oleh PT Smelting. Pabrik
tersebut
mampu mengolah 656.000 ton/tahun konsentrat tembaga untuk menghasilkan
200.000
ton/tahun katoda tembaga, sedangkan emas dan perak hanya diproses setengah jadi
dalam
bentuk anode slime dan langsung dijual ke pembeli di luar negeri. Bahan baku lain
yang
dibutuhkan adalah 98.000 ton/tahun pasir silika, 43.000 ton/tahun batukapur dan
23.000
ton/tahun batubara serta oksigen kaya berkadar sekitar 50% (enriched oxygen).
Hingga kini,
untuk memenuhi permintaan logam tembaga katoda di pasar Indonesia dan Asia,
pada
tahun 2010 produksi tembaga katoda meningkat menjadi 254.000 ton/tahun. Nilai
tambang
tembaga secara nyata meningkat dari bijih tembaga diolah menjadi konsentrat
tembaga
sekitar US $ 8.534 per ton, di antaranya berupa penerimaan negara US $ 3.226 per
ton. Nilai
tambah dari pengolahan dan pemurnian konsentrat menjadi tembaga katoda dan
produk
sampingnya adalah sekitar US $ 2.721 per ton, dimana pendapatan negara
diantaranya
sekitar US $ 726 per ton.
5.2 Rekomendasi
Untuk terwujudnya program peningkatan nilai tambah dari sektor pertambangan
mineral dan
batubara sesuai dengan tujuan dari UU No.4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan
Mineral dan
Batubara diperlukan :
1. Intensifikasi dan ekstensifikasi pencarian sumber daya mineral. Intensifikasi dapat
dilakukan
pada wilayah-wilayah potensial yang sudah ada kegiatan eksplorasi sebelumnya dan

ekstensifikasi dilakukan pada wilayah-wlayah yang potensial,


berdasarkan data
geologi atau singkapan-singkapan yang muncul ke permukaan;

tetapi

hanya

2. Optimalisasi sistem informasi pertambangan terpadu, mulai dari tingkat


kabupaten/kota,
provinsi, sampai tingkat pusat. Adanya Sistem Informasi ini diharapkan juga akan
memberikan nilai tambah terhadap data, yaitu menjadi informasi, dan dapat juga
dikembangkan lebih jauh untuk dijadikan sebagai pengetahuan. Sistem ini juga
diharapkan
dapat menghilangkan perlakuan bahwa data masih dianngap sebagai komoditas;
3. Peningkatan koordinasi diantara para pemangku kepentingan, baik antara lembaga
pemerintah secara sektoral maupun antara lembaga pemerintah dengan pihak swasta
(perusahaan), yang merupakan prasyarat dalam merealisasikan kebijakan program
peningkatan nilai tambah tambang. Seperti halnya untuk menetapkan batasan yang
pasti
tentang proses pengolahan, yaitu berupa penetapan batasan dan spesifikasi dari
produk
tambang yang dapat diekpor;
4. Penciptaan iklim investasi yang lebih kondusif, karena pembangunan pabrik
pengolahan
mineral memerlukan investasi yang sangat besar, sarat dengan teknologi tinggi yang
kebanyakan masih harus diimpor, pengembalian modal cukup lama, dan beresiko.
Inisiatif
atau kegiatan diperlukan dilakukan untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif
seperti
pemberian insentif dengan paket yang telah ada dan dalam kasus tertentu, tidak
menutup
kemungkinan pemerintah mengeluarkan paket kebijakan insentif baru sejauh
pembangunan
sektor usaha tersebut memberi manfaat lebih bagi negara dan masyarakat;
5. Peningkatan peran litbang daik lembaga litbang maupun perguruan tinggi untuk
mengikuti
perkembangan iptek dalam rangka penguasaan teknologi, serta menggali
pemanfaatannya
sehingga risiko mengadopsi kemajuan iptek dapat diperkecil;
Kajian Tekno-ekonomi dan Kebijakan Peningkatan Nilai Tambah Bauksit, Nikel, Bijih Besi, Mangan dan Anode Slime
2011

155
6. Penyediaan dan peningkatan infrastruktur fisik seperti sarana dan prasarana
perhubungan
serta penyedian energi sebagai sarat utama di dalam pembangunan smelter.
Sedangkan non
fisik berupa data dan informasi penyediaan peraturan, dan bahkan pola pikir (mind
set)
dalam mengelola pertambangan minerba;
7. Pemanfaatan kerja sama bilateral dan multilateral, seperti ASEAN, AFTA, AFCTA, dan
lain-lain,

Indonesia juga perlu mengembangkan kerja sama dengan negara lain secara bilateral.
Kerja
sama Indonesia dengan Jepang, Korea, India, dan lain-lain akan sangat
menguntungkan
untuk memperluas pangsa pasar komoditas hasil tambang, terutama hasil pengolahan
sebagai dampak langsung dari kebijakan Indonesia menerapkan kewajiban
peningkatan nilai
tambah mineral dan batubara