Anda di halaman 1dari 16

2.

2 Embriologi Pembentukan Palatumdimulai dari embriologi pembentukan wajah dst


hingga pembentukan palatum sekunder
Secara embriologis, pembentukan wajah terjadi pada minggu ke-5 sampai dengan
minggu ke-10. Pada saat minggu ke-5, dua prosesus akan tumbuh dengan cepat, yaitu
prosesus nasal medial dan lateral. Prosesus nasal lateral akan membentuk alae hidung,
sedangkan prosesus medial akan membentuk (1) bagian tengah hidung, (2) bagian tengah
bibir atas, (3) bagian tengah rahang atas, serta (4) seluruh langit-langit primer. Secara
simultan, prosesus maxillaris akan mendekati prosesus nasal lateral dan medial akan tetapi
tetap tidak menyatu karena dipisahakn oleh suatu lekukan yang jelas (Saddler, 1997).
Selama 2 minggu berikutnya, terjadi perubahan bermakna pada wajah. Prosesus
maxillaris terus tumbuh ke arah medial dan menekan prosesus nasal ke arah midline.
Selanjutnya terjadi penyatuan prosesus-prosesus nasal dengan prosesus maxilla di sisi lateral.
Jadi bibir bagian atas dibentuk oleh 2 prosesus nasal dan 2 prosesus maxilla (Saddler, 1997).
Prosesus yang menyatu di bagian medial, tidak hanya bertemu di daerah permukaan,
tetapi terus menyatu sampai dengan bagian yang lebih dalam. Struktur yang dibentuk oleh 2
prosesus yang menyatu ini dinamakan segmen intermaxillaris. Bagian ini terdiri dari (1)
bagian bibir yang membentuk philtrum dna bibir atas, (2) komponen rahang atas yang
mendukung empat gigi insisif, (3) komponen palatum yang membentuk segitiga palatum
primer. Di bagian atas, segmen intermaxillaris menyatu dengan septum nasal yang dibentuk
oleh prominentia frontalis (Saddler, 1997).
Palatum sekunder terbentuk dar pertumbuhan 2 prosesu maxilla yang disebut palatine
shelves. Pada minggu ke-6, palatine shelves tumbuh miring ke arah bawah di kedua sisi lidah.
Pada minggu ke-7 posisinya horizontal di atas lidah dan kemudian kedua sisinya menyatu
dan membentuk palatum sekunder. Di bagian anterior, terjadi penyatuan dengan palatum
primer, pada titik pertemuan ini terjadi foramen incisivum.
Pada saat yang sama, septum nasal tumbuh ke arah bawah dan bergabung dengan
permukaan atas palatum yang baru terbentuk. Palatine shelves saling menyatu dan juga
menyatu dengan palatum primer pada minggu ke-7 dan ke-10 pada masa pertumbuhan
embrio (Saddler, 1997).
Embriologi wajah diawali dengan perkembangan kepala dan leher, gambaran yang paling
khas dalam perkembangan kepala dan leher adalah terbentuknya lengkung brankialis atau
lengkung faring. Lengkung lengkung ini tampak dalam perkembangan minggu ke-4 dan ke5. Lengkung faring tidak ikut membentuk leher, tetapi memiliki peranan penting dalam

pembentukan kepala. Pada akhir minggu ke-4, bagian pusat wajah terbentuk oleh stomodeum,
yang dikelilingi oleh pasangan pertama lengkung faring. Ketiga mudigah berusia 4 minggu,
dapat dikenali lima buah tonjolan mesenkim yaitu : (Sadler,T.W, 2000)
Lengkung faring pertama ( tonjolan tonjolan mandibula ), disebelah kaudal
stomodeum.
Lengkung faring kedua ( tonjolan tonjolan maksila ), terletak disebelah lateral
stomodeum.
Lengkung faring ketiga ( tonjolan tonjolan frontonasal ), suatu tonjolan yang agak
memebulat d isebelah kaudal stomodeum.
Lengkung faring keempat dan kelima yang unsur rawannya bersatu membentuk tulang rawan
thyroidea, cricoidea, corniculata, dan cuneiforme dari laring.
Lengkung pertama terdiri atas satu bagian dorsal, yang dikenal sebagai prominensia
maksilaris, yang meluas dibawah daerah mata, dan satu bagian ventral, prominensia
mandibularis atau tulang rawan Meckel. Pada perkembangan selanjutnya, tulang rawan
Meckel menghilang, kecuali dua bagian kecil diujung dorsal dan masing masing
memebentuk inkus dam malleus. Mesenkim prominensia maksilaris selanjutnya membentuk
premaksila, maksila, os zigomatikus, dan bagian os temporalis melalui penulangan
membranosa. Mandibula juga terbentuk melalui penulangan membranosa jaringan mesenkim
yang mengelilingi tulang rawan Meckel (Saddler,T.W, 2000).
Pada akhir minggu ke-4 , mulai tampak tonjolan tonjolan wajah yang terutama dibentuk
oleh mesenkim yang berasal dari krista neuralis dan terutama dibentuk oleh pasangan
lengkung faring pertama. Tonjolan maksila dapat dikenali disebelah lateral stomodeum dan
tonjolan mandibula disebelah kaudal stomodeum. Prominensia frontonasalis, yang dibentuk
oleh proloferasi mesenkim disebelah ventral vesikel otak, merupakan tepi atas stomodeum. Di
sisi kanan dan kiri prominensia frontonalis, muncul penebalan penebalan setempat dari
ektoderm permukaan, yaitu plakoda nasal (olfaktorius ), di bawah pengaruh induksi bagian
ventral otak depan (Sadler, T.W, 2000).
Selama minggu ke-5 plakoda plakoda hidung tersebut mengalami invaginasi
membentuk lobang hidung. Dalam hal ini, plakoda hidung ini membentuk suatu rigi jaringan
yang mengelilingi masing masing lobang dan memebentuk tonjolan hidung. Tonjolan yang
berada ditepi luar lubang adalah tonjolan hidung lateral dan yang berada ditepi dalam adalah
tonjolan hidung medial (Sadler, T.W, 2000).

Gambar 3. Permukaan frontal wajah. A. Mudigah lima minggu. B. Mudigah eman minggu
tonjol tonjol hidung berangsur angsur terpisah dari tonjol maksila oleh alur yang dalam.
Selama dua minggu selanjutnya, tonjolan maksila terus bertambah besar ukurannya. Serantak
dengan itu, tonjolan ini tumbuh kearah medial, sehingga mendesak tonjol hidung ke medial
ke arah garis tengah. Selanjutnya, celah antara tonjol hidung medial dan tonjol maksial
hilang, dan keduanya bersatu. Oleh karena itu bibir atas dibentuk oleh tonjolan hidung
medial dan kedua tonjol maksila itu. Tonjol hidung lateral tidak ikut dalam pembentukan
bibir atas. Bibir bawah dan rahang bawah dibentuk dari tonjolan mandibula yang menyatu
digaris tengah (Sadler, T.W, 2000)

Gambar 4. Aspek frontal wajah A. Embrio yang berusia tujuh minggu. Tonjol maksila telah
bersatu dengan tonjol medial B. Embrio yang berusia sepuluh minggu.
Mula mula, tonjol maksila dan tonjol hidung lateral terpisah oleh sebuah alur yang dalam,
alur nasolacrimal. Ektoderm ditantai alur ini membentuk sebuah tali epitel padat yang
melepaskan diri dari ektoderm dibawahnya. Setelah terjadi kanalisasi, tali ini membentuk
duktus nasolacrimalis ujung atasnya melebar untuk membentuk sacus lacrimalis. Seletah
lepasnya tali tersebut, tonjolan maksila dan tonjolan hidung lateral saling menyatu. Duktus
lacrimalis kemudian berjalan dari tepi medial ke meatus inferior rongga hidung ( Sedler, T.W,
2000).
Tulang pipi merupakan artikulasi dari tulang zigomatikus dan prosesus zigomatikus dari
tulang temporal. Pusat penulangan tersebut berasal dari membran lateral dan mengikuti

perkembangan dari mata pada akhir bulan kedua. Bentuk wajah orang dewasa dipengaruhi
oleh perkembangan sinus paranasale, conchae nasales dan gigi geligi ( Sadler, T.W, 2000 )
Palatum primer dan palatum sekunder terbentuk berdasarkan

perkembangan

embriologi. Palatum primer atau premaksila merupakan daerah triangular pada


bagian anterior langitan keras, meluas secara anterior ke insisif foramen
sampai ke lateral insisif kanan dan kiri, termasuk bagian alveolar ridge gigi-gigi
insisif maksila. Palatum sekunder terdiri dari sisa bagian palatum keras dan
semua palatum lunak (gambar 2.1).

Gambar 2.1. Anatomi Bibir dan Langitan


Sumber: Millard, Ralph D., Jr. Cleft Craft. Boston: Little, Brown, 1977.

Menurut Alberry, perkembangan wajah terjadi pada minggu keempat setelah

fertilisasi, dengan penampakan lima buah penonjolan atau swelling yang


mengelilingi stomotodeum. Swelling ini disebut juga facial processes. Facial
processes

tersebut merupakan hasil akumulasi sel mesenkim yang berada di

bawah permukaan epitel. Mesenkim ini merupakan ektomesenkimal dan


berkontribusi terhadap perkembangan struktur orofasial seperti saraf, gigi, tulang,
mukosa mulut. Swelling yang berada diatas stomodeum disebut frontonasal
process dimana berkontribusi dalam perkembangan hidung dan juga bibir atas. Di
bagian bawah dan di lateral stomodeum terdapat dua buah mandibular processes
yang berkontribusi dalam perkembangan rahang bawah dan bibir dan di atas
mandibular processes terdapat

maxillary
2

processes yang berkontribusi dalam perkembangan rahang atas dan bibir. Pada
sisi
inferior frontonasal prosessus akan muncul nasal (olfactory) placodes. Proliferasi
ektomesenkim pada tiap kedua sisi placode akan menghasilkan pembentukan
medial dan lateral nasal prosessus. Diantara pasangan prosessus tersebut terdapat
cekungan yaitu nasal pit yang merupakan primitive nostril.

14

Sedangkan menurut Petterson, perkembangan embriologi hidung, bibir dan


langitan terjadi antara minggu ke-5 hingga ke-10. Pada minggu ke-5, tumbuh dua
penonjolan dengan cepat yaitu lateral processes dan median nasal processes.
Maxillary swelling secara bersamaan akan mendekati medial dan lateral nasal
prossesus tetapi tetap akan terpisah dengan batas groove yang jelas. Selama dua
minggu selanjutnya maxillary processus akan meneruskan pertumbuhannya ke
arah
tengah dan menekan median nasal prosessus ke arah midline. Kedua penonjolan
10

ini akan bersatu dengan maxillary swelling dan terbentuklah bibir.

Dari maxillary processes akan tumbuh dua shelflike yang disebut palatine
shelves. Palatine shelves akan terbentuk pada minggu ke-6. Kemudian pada
minggu ke-7, palatine shelves akan naik ke posisi horizontal di atas lidah dan
berfusi satu sama lain membentuk palatum sekunder dan dibagian anterior
penyatuan dua shelf ini dengan triangular palatum primer, terbentuklah foramen
insisif. Penggabungan kedua
palatine shelf dan penggabungan dengan palatum primer terjadi antara minggu ke11

7 sampai minggu ke-10. Pada anak perempuan, pembentukkan palatum sekunder


ini terjadi 1 minggu kemudian, karena itu celah langitan lebih sering terjadi pada

anak perempuan (gambar 2.2 dan 2.3).

Gambar 2.2 Aspek frontal dari wajah. A, Embrio 5 minggu. B, Embrio 6 minggu.
Tonjol nasal sedikit demi sedikit terpisah dari tonjol maxila dengan alur yang dalam. C,
Embrio 7 bulan. D, Embrio 10 bulan. Tonjol maksila berangsur-angsur bergabung dengan
lipatan nasal dan alur terisi dengan mesenkim. (Sumber: Langman J: Medical embriology,
ed 3, Baltimore, 1975, Williams & Wilkins.)

Pertumbuhan dan Perkembangan Rongga Mulut


Pertumbuhan dan perkembangan oromaksilofasial (muka & rongga mulut)
dimulai pada minggu ke-3 intra uterin. Mula-mula masih terbentuk tube dan
terdiri dari 3 unsur yaitu ectoderm, mesoderm dan endoderm/entoderm.

Pertumbuhan dan perkembangan oral / mulut dimulai dengan proses invaginasi


lapisan ectoderm di bagian caudal dan Processus Prontonasalis dan disebut
Stomodeum (Primitive Oral Cavity). Di samping itu terjadi pula proses invaginasi
pada lapisan endoderm yang disebut Primitive Digestive Tract. Selanjutnya POC
dan PDT saling mendekat hingga bertemu pada membran yang tipis disebut :
Membrana Bucco Pharyngeal. Membran tersebut akhirnya pecah dan terjadilah
hubungan yang sempurna antara POC dan PDT.

Pertumbuhan dan Perkembangan Branchial Apparatus


Selain proses tersebut terjadi pula pula proses pertumbuhan dan perkembangan
pembentukan Branchial Apparatus, yaitu terdiri dari :
Pertumbuhan dan Perkembangan Branchial Arches Llengkungan)
Mula-mula dibentu Branchial Arch I / Pharyngeal Arch I, kemudian dibentuk
Branchial Arch I hingga IV, namun Branchial Arch V rudimenter / hilang sehingga
Branchial Arch IV bergabung dengan Branchial IV. Dari Branchial Apparatus inilah
akan dibentuk organ-organ, rahang atas, rahang bawah, lidah larynx, pharynx,
os hyoid, otot-otot wajah, ligamentum, arteri, vena, nervus, dll.
Pertumbuhan dan Perkembangan Branchial Pouches (Konjungsi)
Yang pertama dibentuk adalah:
Cavum tympanica
Antrum
Mastoideum
Telinga tengah
Tuba Eustachii
Lalu lapisan Endoderm berdiferensiasi membentuk Tonsila Palatina dan Fossa
Supratonsilaris. Bagian Dorsal berdirensiasi membentuk glandula parathyroid
inferior lalu bermigrasi ke arah dorsal glandula thyroid. Sedangkan bagian
ventral berdiferensiasi membentuk primordial glandula thymus kemudian
bermigrasi kea rah Caudal & Medial selanjutnya bagian kanan & kiri berfusi
membentuk glandula thymus.
Bagian dorsal berdirensiasi membentuk glandula parathyroid superior kemudian
bermigrasi ke dorsal glandula thyroid. Bagian ventral berdiferensiasi membentuk
ultimo branchial body lalu bermigrasi dan berfusi dengan glandula thyroid.
Pertumbuhan dan Perkembangan Branchial Groove (Celah)
Branchial Groove I akan membentuk meatus acusticus externus, sedangkan
Branchial Groove yang lain akan hilang sehinga leher rata.

Pertumbuhan dan Perkembangan Branchial Membrane (Selaput)


Branchial Membrane I akan membentuk membrane tympanica sedangkan
branchial membrane yang lain menghilang.

Pertumbuhan dan Perkembangan Fasial (Muka)


Pertumbuhan dasn perkembangan fasial (muka) berasal dari 5 buah Fasial
Promordia, yaitu :
1. Sebuah tonjolan Processus Fronto Nasalis di atas Stomodeum
2. Sepasang tonjolan Processus Maxillaris yang berasal dari Branchial Arch I,
terlet,ak di Cranio Lateral Stomodeum.
3. Sepasang tonjolan Processus Mandibularis yang juga berasal dari
Branchial Arch I, terletak di Caudal Stomodeum.
Pertumbuhan dan Perkembangan Processus Fronto Nasalis
Dimulaik pada minggu ke-4, yaitu sebagai dua buah penebalan ectoderm yang
terletak di latero processus fronto dan di atas stomodeumm disebut Nasal
Placode. Setelah embrio berumur 5 minggu, terjadi lagi dua buah penonjolan
yang mengelilingi Nasal Placoda yang berbentuk tapal kudas yang disebut :
Processus Nasalis Medialis (medial)
Processus Nasalis lateralis (lateral)
Selanjutnya Nasal Placoda akan menjadi dasar lekukan ke dalam dan
membentuk Nasal Pit yang nantinya akan merupakan lubang hidung atau Nostril.
Sedangkan kedua Processus nasalis medialis akan berfusi membentuk
intermaxillary segment. Intermaxillary segmente akan mengalami pertumbuhan
dasn pertumbuhan perkembangan dalam 2 arah yaitu :
Ke arah caudal akan membentuik Phitrum
Ke arah medial akan membentuk Septum nasi, Palatum Primer (processus
palatinus medialis), Premaxilla (yaitu tulang rahange atas bagian tengah yange
menunjang gigi-gigi
Sedangkan processus nasalis lateralis akan membentuk Ala Nasi (yang akan
dipisahkan dari processus maxillaries oleh sulcus naso lacrimalis).

Pertumbuhan dan Perkembangan Cavum Nasi


Dimulai pada embrio umur kurang dari 6 minggu, sebagai proses invaginasi pada
nasal placode sebagai dasar lekukannya. Mula-mula dibentuk nasal pit,
kemudian lekukan semakin meluas membentuk Saccus Nasalis. Soccus nasalis
ini masih belum berhubungan dengan cavum oris karena masih dipisahkan oleh
membrane oro nasal. Setelah embrio berusia 7 minggu itu., membrane oro nasal
pecah, hingga terjadilah hubunan antara Cavum Nasi dan Cavum oris. Batas

hubungan Cabum Nasi dan Cavum oris di belakang Palatum Primer disebut
Primitive Choanae.
Selain proses tersebut di atas, pada dinding Cavum Nasi terbentuk pula tonjolantonjolan yang disebut :
Concha Nasalis Superior
Concha Nasalisi Medius
Concha Nasalis Inferior
Dan dinding epitel atas Cavum Nasi (lapisan ectoderm) juga mengalami
diferensiasi membentuk serabu-serabu syafaf N, Olfaccorlus. Setelah palatun
sekunder kanan dan kiri selesai berfusi dengan septum nasi, maka terbentuklah
Cavum Nasi yang sempurna. Dengan demikian batas hubungan Cavum Nasi dan
Cavum Orls kini di belakang palatum sekunder dan disebut Definitive Chonchae.

Pertumbuhan dan Perkembangan Tulang Rahang Atas


Tulang rahang atas (os maxilla) berasal dari Branchial Arch I bagian atas. Disebut
pula Processus Maxillaris. Pusat ossifikasi terletak pasda percabangan N. infra
orbitalis menjadi N. alveolaris superior anterior dan N. alveolaris superior
medius. Kemudian proses ossifikasinya berlanjut mula-mula ke arah posterior
membentuk Processus Zygomaticus Ossis Maxillaris, kemudian ke arah Caudal
membentuk Processus Alveolaris Ossis Maxillaris dan ke arah medial membentuk
Processus Palatinus Ossis Maxillaris. Selama proses pertumbuhan dan
perkembangan tersebut, di bagian pusat ossifikasinya membentuk Corpus
Maxillia, hingga terbentuklah Os Maxilla yang lengkap.

Pertumbuhan dan Perkembangan Palatum


Pertumbuhan dan Perkembangan palatum terjadi melalui beberapa tahap :
Palatum Primer (Processus Palatinus Medialis)
Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa palatum primer dibentuk oleh
Intermaxillary Segment (fusi dari processus nasalis medialis) yang berkembang
ke arah medial dan caudal membentuk Palatum primer,septum nasi, premaxilla
(tulang rahang atas yang menunjang gigi , philtrum (alur vertical pada bagian
tengah bibir atas).
Palatum Sekunder (Processus palatines lateralis)
Palatum sekunder (processus palatines lateralis) berasal dari processus
maxillaries. Mula-mula palatum sekunder berkembang ke arah bawah karena
masih adanya lidah embrional. Namun setelah rahang bawah (os mandibula)
berkembang, maka ruang bertambah besar, sehingga lidah turun ke bawah. Hal

ini mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan palatum sekunder dapat


berkembang ke arah mid line dan berfusi. Selain itu septum nasi juga
mengadakan fusi tangan kedua palatum sekunder (kanan dan kiri).
Pertumbuhan dan Perkembangan Selanjutnya dari Paltum Sekunder
1. Dorsal palatum primer
Terjadi proses ossifikasi disebut : Processus Palatinus Ossis Maxillari.
2. Dorsal ad1
Terjadi pula ossifikasi disebut Os Palatinum
3. Dorsal ad.2
Pertumbuhan dan perkembangan pada dorsal ad.2 tidak mengalami
proses ossifikasi, disebut : Palatum Molle dan Uvulia.

Pertumbuhan dan Perkembangan Os Palatinum


Berasal dari bagian medial tulang rawan nasal capsul. Nasal capsul merupakan
tulang rawan yang pertama kali dibentuk di daerah muka atas dan analog
dengan tulang rawan Meckel rahang bawah. Atas nasal capsul, bagian lateral
membentuk Os Ethmoidale, bagian posterior membentuk septal cartilage (pars
perpendicularis ossis ethmoidalis). Keduanya mengalami ossifikasi setelah lahir.
Bawah nasal capsul bagian lateral membentuk concha nasalis inferior sedangkan
di antaranya mengalami atropi bagian medial membentuk os palatinum .
Ossifikasi : pada minggu ke 7-8. Lokasi di dekan N. Palatinus Descendeus
Ossifikasi ke arah vertical disebut pars perpendicularis ossis palatine, yang akan
berfusi dengan os maxillaries membentuk dinding medial sinus maxillaries.
Ossifikasi ke arah horizontal disebut pars horizontal ossis palatine yang akan
berfusi dengan prosessus palatines ossis maxillaries.

Pertumbuhan dan Perkembangan Sinus Maxillaris


Pada bulan ke-4 i.u., mula-mula terbentuk kantong mukosa kecil di daerah lateral
cavum nasi. Kantong tersebut mula-mula terpisah dari maksila oleh tulang rawan
nasa capsul. Setelah nasal capsul bagian bawah atropi, kantong mukosa tersebut
menerobos masuk ke dalam os maxilla di atas processus palatines lateral
sehingga terbentuk maxillaries. Sinus ini terus berkembang hingga ukuran
dewasa. Perkembangan seterusnya ke arah processus alveolaris.
Proses Pertumbuhan dan Perkembangan Tulang Rahang Bawah
Tulang rahang bawah (os mandibula) berasal dari Branchial Arch I bawah atau
mandibulaj Arch dan disebut pula Processus Mandubularis. Mula-mula dibentuk

tulang rawan Meckel di bagian lingual Processus Mandibularis. Pertumbuhan dan


perkembangan tulang Meckel ini berada dekat dengan pembentukan N.
Mandibularis. Pada saat N. Mandibularis dibentuk mencapai 1/3 dorsal tulang
rawan Meckel, kemudian bercabang menjadi N. Alveolaris inferior ke arah
anterior dan bercabang lagi menjadi N.Mentalis dan N. Incisivus. Di Tempat
lateral percabangan inilah jaringan ikat pada fibrosa mengalami ossifikasi
(minggu ke-7). Pusat ossifikasinya sekitar for. Mentale. Kemudian pertumbuhan
dan perkembangan posterior membentuk rumus mandibulae hingga terbentuk
mandibula hingga terbentuk mandibula yang lengkap, sedang tulang rawan
Meckle menghilang.

Pertumbuhan dan Perkembangan Temoro Mandibular Joint


Mula-mula os temporalis masih terpisah jauh dari os mandibula. Setelah
pertumbuhan conovius mandibula jaringan, dibentuk jaringan ikat padat yang
tipis disebut Discus Articularis. Selanjutnya Tuberculum Articulare baru tampak
pada saat lahir. Bentuknya khas setelah pembentukan gigi sulung.

Pertumbuhan dan Perkembangan Lidah


Pertumbuhan dan perkembangan lidah dimulai pada akhir minggu ke-4. Mulamula dibentuk sebuah tonjolan di dasar pharynx, anterior foramen caecum
disebut Tuberculum Impar. Kemudian dibentuk pula 2 tonjolan di daerah lateral
dari Tuberculum Impar, disebut Tonjolan Lateral Lidah. Ketiga tonjolan tersebut
berasal
dari
Branchial
Arch
I.5
Kemudian tonjolan lateral lidah berfusi membentuk 2/3 anterior lidah dengan
garis fusi pada :
Sulcus lingualis media (luar)
Septum lingual (dalam)

Pertumbuhan dan perkembangan Papilla dan Taste Buds pada Lidah


Mula-mula dibentuk papilla filiformis tanpa ada induksi syaraf sehingga tidak ada
taste buds. Saat umur 54 hari dibentuk Papilla Circum Vallatae, lalu Papilla
Foliatae Fungiformis yang diinduksi oleh chorda tympani (N. VII). Ketiganya
terdapat taste buds.

Pertumbuhan dan Perkembangan Kelenjar Saliva

Pada embrio minggu ke 6-7 dibentuk Glandula Parotis yang berasal dari jaringan
ektodermal berlokasi di tepi stomodeum. Sel-sel berpoliferasi membentuk tali
padat dan ujung bulat. Tali tersebut berkembang membentuk tumen dan
selanjutnya terbentuk duktus, sedangkan ujung yang bulat berdiferensiasi
membentuk acini (khusus menghasilkan saliva) yang akan mengeluarkan
secret.5
Glandula Submandibularis yang berasal dari jaringan endodermal berlokasi di
dasar mulut di latero-caudal lidah. Cara pembentukannya sama dengan GI.
Parotis. Glandula sublingualis berkembang agak akhir, juga berasal dari jaringan
endodermal sebagai multiple buds yang nantinya membentuk lobus mayor dan
lobus minor. Lokasinya di latero-caudal lidah.

Pertumbuhan dan Perkembangan Glandulaj Thyroid


Glandulaj Thyroid dari penebalan jaringan endodermal di belakang tuberculum
impar kemudian melekuk ke caudal yang disebut thyroid diverticulum yang lalu
bermigrasi (lidah berkembang) ke caudal. Pada saat bermigrasi ke caudal
terbentuklah Ductus Thyroglossus. Ductus Thyroglossus ini akan tersisa sebagai
foramen caecum dan lobus Pyramidalis GI. Tyreodea. Bagian ductus yang lain
menghilang sedangkan Thyroid Diverticulum yang bermigrasi ke caudal
membentuk 2 lobus yaitu GI Thyroidea dan akhir migrasinya berada di antara
lateral Trachea.
Sedangkan tuberculum impar tidak membentuk bangunan yang khas.
Pertumbuhan dan perkembangan 1/3 posterior lidah dimulai dengan dibentuknya
tonjolan Copula (berasal dari pharyngeal arch ke II) kemudian dibentuk lagi
tonjolan Hypobranchial (Branchialk Arch III IV). Caudal dari foramen Caecum.
Namun proses selanjutnya tonjolan Copula mengalami rudimeter dan
menghilang. Sedangkan tonjolan Hypobranchial tetap berperan membentuk 1/3
posterior lidah dan selanjutnya berfusi dengan 2/3 anterior lidah. Garis fusinya
pada Sulcus Terminalis Linguae. Sehingga terbentuklah lidah yang lengkap dan
pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya ke arah atas dan depan.

EMBRIOLOGI
Proses pembentukan tulang frontonasal sesuai dengan perkembangan premaksila
sementara rongga palatum berasal dari sisa pembentukan tulang palatum. Rongga palatum
tumbuh ke arah medial sedangkan bagian lateralnya terhambat oleh pembentukan lidah.
Awalnya palatum berkembang ke arah vertikal kemudian ke bawah menuju dasar mulut. Pada
saat memasuki minggu ke 7 intrauterin terjadi transformasi rongga palatum. Mereka merubah
yang awalnya vertikal menjadi posisi horizontal. Penyatuan rongga palatum di kanan dan kiri
terjadi pada minggu ke 8,5 kehidupan intrauterin. Awalnya kedua rongga palatum dilapisi
oleh lapisan epitel, karena mereka bergabung, maka terjadilah degenerasi epitel dan terbentuk
jaringan penghubung antara rongga palatum dan terjadi hubungan antara rongga-rongga

palatum tersebut. Seluruh bagian palatum tidak melakukan perubahan dalam waktu yang
sama. Perubahan pertama terjadi pada area medial palatum sekunder posterior sampai ke
premaksila. Dari sini perubahan melanjut ke anterior dan posterior palatum. Pada daerah tepi
terjadi perubahan antara bagian bawah septum nasal dan membagi menjadi 2 bagian yaitu
nasofaring dan orofaring.15 Ossifikasi palatum terjadi pada minggu ke 8 kehidupan intrauterin
dengan tipe intramembranous, ossifikasi palatum sebagian besar berasal dari pembentukan
tulang maksilla namun baggian posterior palatum tidak terbentuk ossifikasi dan menjadi
palatum mole, sutura palatum pada bagian medial terbentuk 12-14 tahun.15
Secara embriologi ruge palatal terbentuk secara sempurna pada bulan ke 3
perkembangan intrauterin berasal dari jaringan ikat yang menutupi proses pembentukan
palatina pada tulang maksila. Pertumbuhan dan perkembangannya dikontrol oleh interaksi
timbal balik epitel-mesenkimal, dimana molekul matriks ekstraseluler dibentuk selama
pengembangannya.
Pada masa embrionik manusia, ruge palatal dapat dilihat dengan sangat jelas karena
memenuhi sebagian besar panjang lapisan palatum saat elevasi. Saat perkembangan
embrionik di tahap 550mm terdapat 5-7 tonjolan yang cenderung simetris dengan bagian
anterior menuju ke arah rafe mediana sedangkan bagian lainnya ke arah lateral. Menjelang
akhir kehidupan intrauterin, pola dari ruge menjadi lebih ireguler, bagian posterior
menghilang dan bagian anterior menjadi jelas dan padat.
Embriogenesis palatum dapat dibagi dalam dua fase terpisah yaitu pembentukan
palatum primer yang akan diikuti dengan pembentukan palatum sekunder. Pertumbuhan
palatum dimulai kira-kira pada hari ke-35 kehamilan atau minggu ke-4 kehamilan yang
ditandai dengan pembentukan processus fasialis. Penyatuan processus nasalis medialis
dengan processus maxillaries, dilanjutkan dengan penyatuan processus nasalis lateralis
dengan processus nasalis medialis, menyempurnakan pembentukan palatum primer.
Kegagalan atau kerusakan yang terjadi pada proses penyatuan processus ini menyebabkan
terbentuknya celah pada palatum primer.
Pembentukan palatum sekunder dimulai setelah palatum primer terbentuk sempurna,
kira-kira minggu ke-9 kehamilan. Palatum sekunder terbentuk dari sisi bilateral yang
berkembang dari bagian medial dari processsus maxillaries. Kemudian kedua sisi ini akan
bertemu di midline dengan terangkatnya sisi ini. Ketika sisi tersebut berkembang kearah
superior, proses penyatuan dimulai. Kegagalan penyatuan ini akan menyebabkan
terbentuknya celah pada palatum sekunder.

Gambar 1. Deskripsi pertumbuhan wajah manusia (James W. Clark, Management of


the cleft lip and palate patient, Philadelphia, 1985, hal. 3)
Celah ini terjadi antara minggu keenam dan kesepuluh pada masa embrio. Selama
minggu keenam dan ketujuh, prosessus maksilaris dari lengkung brankial pertama tumbuh ke
depan dan bersatu dengan prosesus nasalis-lateralis lalu berlanjut bersatu dengan prosessus
nasalis medialis membentuk bibir bagian atas, dasar hidung, dan palatum primer. Semua

struktur ini berkembang cepat, lidah membesar dan berdiferensiasi tumbuh vertikal mengisi
kavum stomodealis primitivum. Pada minggu kedelapan sampai kesembilan, tulang palatum
meluas ke medial untuk berkontak pada midline menghubungkan anterior ke posterior
membentuk tulang palatum yang memisahkan hidung dan rongga mulut.
Jaringan-jaringan wajah, termasuk didalamnya bibir dan palatum berasal dari
migrasi, penetrasi, dan penyatuan mesenkimal dari sel-sel cranioneural kepala. Ketiga
penonjolan utama pada wajah (hidung, bibir, palatum) secara embriologi berasal dari
penyatuan processus fasialis bilateral. Secara embriologis palatum utama terdiri dari semua
struktur anatomi anterior ke foramen incisivus, disebut alveolus dan bibir atas. Palatum
sekunder didefinisikan sebagai sisa palatum di belakang foramen incisivus, dibagi dalam
palatum durum dan lebih ke belakang lagi merupakan palatum molle.
Gambar 2.3 Gambaran Frontal Kepala Embrio Usia 6 Minggu-10 Minggu. A,
Gambaran frontal embrio usia 6 1/2 minggu. Palatine shelves berada di posisi vertical
pada tiap sisi lidah. B, Gambaran ventral embrio usia 6 minggu. C, Gambaran frontal
kepala embrio usia 7 minggu. Lidah sudah bergerak turun dan palatine shelves
mencapai posisi horizontal. D, Gambaran ventral kepala embrio usia 7 minggu. E,
Gambaran frontal kepala embrio usia 10 minggu. Kedua palatine shelves sudah bersatu
satu sama lain juga dengan nasal septum. Sumber : Petterson. Contemporary Oral and

Maxillofacial

Surgery

2nd

Ed.1993.

hal-627.