Anda di halaman 1dari 49

6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Anak


2.1.1 Pengertian Tumbuh Kembang
Pertumbuhan adalah berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar,
jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa diukur
dengan ukuran berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang (cm, meter), umur
tulang dan keseimbangan metabolic (retensi kalsium dan nitrogen tubuh).
(Soetjiningsih. 2012).
Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan
fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan,
sebagai hasil dari proses pematangan. Disini menyangkut adanya proses
diferensiasi dari sel sel tubuh, jaringan tubuh, organ organ dan sistem organ
yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing masing dapat memenuhi
fungsinya. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual, dan tingkah laku
sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. (Soetjiningsih. 2012).
Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran fisik (anatomi) dan struktur
tubuh dalam arti sebagaian atau seluruhnya karena adanya multiplikasi
(bertambah banyak sel sel tubuh dan juga karena bertambahnya besarnya sel.
Adanya multiiplikasi dan pertambahan ukuran sel berarti ada pertumbuhan secara
kuantitatif dan hal tersebut terjadi sejak terjadinya konsepsi, yaitu bertemunya sel
telur dan sperma. Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dan struktur/
fungsi tubuh yang lebih komplek dalam pola yang teratur, dapat diperkirakan, dan

diramalkan sebagai hasil dari proses diferensiasi sel, jaringan tubuh, organ
organ, dan sistemnya yang terorganisasi. (Nursalam. 2005)
Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran ukuran tubuh yang meliputi
berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, lingkar dada, atau bertambahnya jumlah
dan ukuran sel sel pada semua sistem organ tubuh. Perkembangan adalah
bertambahnya kemampuan atau fungsi semua system organ tubuh sebagai akibat
bertambahnya kematangan fungsi fungsi sistem organ tubuh. (Nanny Lia Dewi.
2010).
2.1.2

Tahap Tumbuh Kembang


Pada dasarnya, manusia dalam kehidupannya mengalami berbagai tahapan

tumbuh kembang dan setiap tahap mempunyai ciri tertentu. Tahapan tumbuh
kembang yang paling memerlukan perhatian adalah pada masa anak anak.
Ada beberapa tahapan pertumbuhan dan perkembangan pada masa anak anak
menurut Soetjiningsih dalam Nursalam (2005).
1) Masa prenatal (konsepsi lahir), terbagi atas :
a) Masa embrio (mudigah) : masa konsepsi 8 minggu
b) Masa janin (fetus) : 9 minggu kelahiran
2) Masa Bayi
a) Masa neonatal usia 0 28 hari
(1) Neonatal dini (perinatal) : 0 7 hari
(2) Neonatal lanjut : 8 28 hari
b) Masa bayi
(1) Masa bayi dini : 1- 12 bulan
(2) Masa bayi akhir : 1 2 tahun
c) Masa prasekolah ( usia 2 6 tahun), terbagi atas :
(1) Prasekolah awal (masa balita): mulai 2 3 tahun
(2) Prasekolah akhir : mulai 4 6 tahun
d) Masa sekolah atau masa pubertas, terbagi atas :
(1) Wanita 6 10 tahun
(2) Laki laki 8 12 tahun
e) Masa adolensesi atau masa remaja, terbagi atas :
(1) Wanita 10 18 tahun
(2) Laki laki 12 20 tahun

Setiap anak akan melewati tahapan tersebut secara fleksibel dan


berkesinambungan. Misalnya, pencampaian kemampuan tumbuh kembang pada
masa bayi tidak selalu dicapai persis pada usia 1 tahun, tetapi dapat dicapai lebih
awal atau lebih terlambat dari satu tahun. Masing masing tahap memiliki ciri
khas dalam anatomi, fisiologi, biokimia, dan karakternya. Dari tahapan tahapan
tersebut, yang akan dibahas pencapaian tumbuh kembangnya adalah masa
prenatal, neonatal, masa bayi, masa balita, dan prasekolah.
1) Masa prenatal
a) Masa embrio yang dimulai sejak konsepsi sampai kehamilan delapan
minggu. Ovum yang telah dibuahi akan dengan cepat menjadi suatu
organisme yang berdiferensiasi secara pesat untuk membentuk
berbagai sistem organ tubuh.
b) Masa fetus yang dimulai sejak kehamilan 9 minggu sampai kelahiran.
Masa fetus ini terbagi menjadi dua. Yang pertama adalah masa fetus
dini (usia 9 minggu sampai trisemester dua), dimana terjadi
percepatan pertumbuhan dan pembentukan manusia sempurna, serta
alat tubuh mulai berfungsi. Yang kedua adalah masa fetus lanjut
(trisemester akhir) yang ditandai dengan pertumbuhan tetap yang
berlangsung cepat disertai dengan perkembangan fungsi fungsi.
Pada masa ini juga terjadi transfer immunoglobulin G (IgG) dari
darah ibu melalui plasenta. Pada 9 bulan masa kehamilan, kebutuhan
bayi bergantung sepenuhnya pada ibu. Oleh karena itu, kesehatan ibu
sangat penting untuk dijaga dan faktor faktor risiko terjadinya
kelainan bawaan/ gangguan penyakit pada janin yang dapat
berdampak pada pertumbuhan dan perkembangannya perlu dihidari.
2) Masa neonatal

Pada masa ini terjadi adaptasi terhadap lingkungan, perubahan sirkulasi


darah, serta mulai berfungsinya organ organ tubuh. Saat lahir, berat
badan normal dari bayi yang sehat berkisar antara 3.000 3.500 gram,
tinggi badan sekitar 500 cm, dan berat otak sekitar 350 gram. Selama
sepuluh hari pertama biasanya terdapat penurunan berat badan sekitar
sepuluh persen dari berat badan lahir, kemudin berat badan bayi akan
berangsur angsur mengalami kenaikan. Pada masa neonatal ini, reflek
reflek primitif yang bersifat fisiologis akan muncul. Di antaranya adalah
reflek moro, yatu reflek merangkul, yang akan menghilang pada usia 3
5 bulan, reflek menghisap (sucking refleks,), refleks menoleh (rooting
refleks), refleks mempertahankan posisi leher atau kepala (tonick neck
refleks), dan refleks memegang (palmar graps refleks) yang akan
menghilang pada usia 6 8 tahun. Fungsi pendengaran dan penglihtan
pada masa neonatal ini juga sudah mulai berkembang.
3) Masa bayi, 1 12 bulan
Pada masa bayi, pertumbuhan dan perkembangan terjadi secara cepat.
Pada umur 5 bulan, berat badan anak sudah 2 kali lipat berat badan lahir,
sementara pada umur 1 tahun, beratnya sudah 3 kali lipat. Sedangkan
untuk panjang lahir. Pertambahan lingkar kepala juga pesat. Pada enam
bulan pertama, pertumbuhan lingkar kepala sudah mencapai 50%. Oleh
karena itu, diperlukan pemberian gizi yang baik, yaitu dengan
memperhatikan prinsip menu gizi seimbang.
4) Masa balita (1 3 tahun)
Pada masa ini, pertumbuhan fisik anak relative lebih lambat
dibandingkan dengan masa bayi, tetapi pertahanan notoriknya berjalan
lebih cepat. Anak sering mengalami penurunan nafsu makan sehingga

10

tampak langsing dan berotot, dan anak mulai belajar jalan. Pada mulanya,
anak berdiri tegak dan kaku, kemudian berjalan dengan berpegangan.
Sekitar usia enam belas bulan, anak mulai belajar berlari dan menaiki
tangga, tetapi masih kelihatan kaku. Oleh karena itu, anak perlu diawasi,
karena dalam beraktivitas anak tidak memperhatikan bahaya.
5) Masa prasekolah akhir ( 3 5 tahun)
Menurut teori Erikson , pada usia tersebut anak berada pada fase inisiatif
vs rasa bersalah (initiative vs guilty). Pada masa ini, anak berkembang
rasa ingin tahu (courius) dan daya imaginasinya, sehingga anak banyak
bertanya
2.1.3

mengenai

segala

sesuatu

disekelilingnya

yang

tidak

diketahuinya.
Perkembangan Motorik, Bahasa, dan Adaptasi Sosial
1) Perkembangan Motorik Kasar
Perkembangan motorik kasar ditunjukkan dengan mencoba telungkup
pada alas dan mengangkat kepala dengan melakukan gerakan menekan
kedua tangan. Pada bulan ke empat biasanya sudah mulai berguling ke
kanan dan ke kiri, duduk dengan kepala tegak, mampu membalikkan
badan, bangkit dengan kepala tegak. (Hidayat.2013)
2) Perkembangan Motorik Halus
Perkembangan motorik halus ditandai dengan mulai mengamati benda,
menggunakan ibu jari dan jari telunjuk untuk memegang, mengeksplorasi
benda yang sedang dipegang, mengambil objek dengan tangan, mampu
menahan benda dengan kedua tangan secara stimultan, memindahkan
objek dari satu tangan ke tangan yang lain.(Hidayat.2013)
3) Perkembangan Bahasa
Perkembangan bahasa ditandai dengan adanya kemampuan bersuara dan
tersenyum, menirukan bunyi atau kata - kata, berceloteh, mulai mampu
mengucapkan kata baaa atau buuu tertawa dan menjerit, mengoceh
spontan, atau bereaksi dengan mengoceh. (Hidayat.2013)

11

4) Perkembangan Adaptasi Sosial


Perkembangan adaptasi sosial ditandai dengan adanya perasaan takut akan
kehadiran orang asing, mulai bermain dengan mainan, mudah frustasi dan
2.1.4

memukul lengan atau kaki jika kesal. (Hidayat.2013)


Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Tumbuh Kembang
1) Faktor internal/ Genetik
Faktor genetis akan mempengaruhi kecepatan pertumbuhan

dan

kematangan tulang, alat seksual, serta saraf, sehingga merupakan modal


dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang, yaitu :
a) Perbedaan ras, etnis atau bangsa
Tinggi badan orang Eropa akan berbeda dengan orang Indonesia atau
bangsa lainnya, dengan demikian postur tubuh tiap bangsa berlainan.
b) Keluarga
Ada keluarga yang cenderung mempunyai tubuh gemuk atau
perawakan pendek
c) Umur
Masa pranatal, masa bayi, dan masa remaja merupakan tahap yang
mengalami pertumbuhan cepat dibandingkan masa lainnya.
d) Jenis kelamin
Wanita akan mengalami masa prapubertas lebih dahulu dibandingkan
dengan laki laki.
e) Kelainan kromosom
Dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan, misalnya sindrom down
(Nursalam.2005)
2) Faktor Lingkungan
Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai atau
tindaknya

potensi

bawaan.

Lingkungan

yang

cukup

baik

akan

memungkinkan tercapainya potensi bawaan, sedangkan yang kurang baik


akan

menghambatnya.

Lingkungan

ini

merupakan

lingkungan

biopsikososial yang mempengaruhi individu setiap hari, mulai dari


konsepsi akhir hayatnya.
a) Faktor lingkungan pranatal
(1) Gizi, nutrisi ibu hamil akan mempengaruhi pertumbuhan janin,
terutama selama trimester akhir kehamilan.

12

(2) Mekanis. Posisi janin yang abnormal dalam kandungan dapat


menyebabkan kelainan kongenital, misalnya club foot.
(3) Toksin, zat kimia, radiasi
(4) Kelainan endokrin
(5) Infeksi TORCH atau penyakit menular seksual
(6) Kelainan imunologi
(7) Psikologis ibu
b) Faktor Kelahiran
Riwayat kelahiran dengan vakum ekstraksi atau forceps dapat
menyebabkan trauma kepala pada bayi sehingga beresiko terjadinya
kerusakan jaringan otak.
c) Faktor Pascanatal
Faktor yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak adalah gizi,
penyakit kronis/kelainan kongenital, lingkungan fisik dan kimia,
psikologis, endokrin, sosioekonomi, lingkungn pengasuhan, stimulasi,
dan obat-obatan.
(Nursalam.2005)
2.2 Konsep Penyakit Dengue Hemorrhagic Fever (DHF)
2.2.1 Pengertian
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) merupakan penyakit yang disebabkan
oleh karena virus dengue yang termasuk golongan abrovirus melalui gigitan
nyamuk aedes aegypti betina. Penyakit ini lebih dikenal dengan sebutan Demam
Berdarah Dengue (DBD). (A. Aziz Alimul H, 2006). Dengue Hemorrhagic Fever
(DHF) adalah penyakit menular yang menyerang pada semua orang dan dapat
mengakibatkan kematian, terutama pada anak. Penyakit ini juga dapat
menyebabkan kejadian luar biasa atau wabah. (Nursalam, 2005).
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh virus dengue dengan menisfestasi klinis demam, nyeri otot, dan
nyeri sendi yang disertai leukopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia, dan
diuresis hemoragik. Pada DBD terjadi perembesan plasma yang ditandai dengan

13

hemokonsentrasi (peningkatan hematocrit) atau penumpukkan cairang dirongga


tubuh. (Sudoyo Aru, dkk dalam Nanda Nic Noc, 2013).
2.2.2

Etiologi
Penyebab utama penyakit dengue hemorrhagic fever (DHF) adalah virus

dengue yang termasuk kelompok B Arthropod Borne Virus (Arboviroses) yang


sekarang dikenal sebagai flavivirus, family flaviviriciae. (Andra Saferi Wijaya.
2013). Virus dengue sampai saat ini terdapat 4 serotip virus yaitu DEN-1, DEN-2,
DEN-3, dan DEN-4. Keempatnya ditemukan di Indonesia dengan DEN-3 serotip
terbanyak. (Sudoyo Aru, dkk dalam Nanda Nic Noc, 2013). Infeksi salah satu
serotip akan menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotip bersangkutan,
tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotip lain. Virus dengue ini terutama
ditularkan melalui vector nyamuk aedes aegypti. ( Nursalam. 2005).
Ciri ciri nyamuk aedes aegypti menurut Nazedul (2007) dalam
Keperawatan Medikal Bedah 2013 adalah :
1)
2)
3)
4)

Badan kecil berwarna hitam bintik bintik putih


Jarak terbang nyamuk sekitar 100 meter
Umur nyamuk betina dapat mencapai sekitar 1 bulan
Menghisap darah pada pagi hari sekitar pukul 09.00 10.00 dan sore hari

pukul 16.00 17.00.


5) Nyamuk betina menghisap darah untuk pematangan sel telur, sedangkan
nyamuk jantan memakan sari sari tumbuhan
6) Hidup digenangan air bersih bukan di got atau comberan
7) Di dalam rumah dapat hidup di bak mandi, tempayan, vas bunga, dan
tempat air minum burung
8) Di luar rumah dapat hidup di tampungan air yang ada di dalam drum, dan
2.2.3

ban bekas
Manifestasi
Infeksi virus dengue mengakibatkan menisfestasi klinis yang bervariasi

mulai dari asimptomatik, yang merupakan penyakit yang paling ringan (mild

14

undifferentiated febrile illness), demam dengue (dengue fever), demam berdarah


dengue (DBD), atau dengue hemorrhagic fever (DHF) sampai syndrom syok
dengue (SSD). (Nursalam. 2005).
Manisfestasi menurut Suriadi (2006) :
1) Demam tinggi selama 5 7 hari
2) Pendarahan terutama perdarahan bawah kulit : petechie, ekimosis,
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)

hematoma.
Epistaksis, hematemesis, melena, hematuria
Mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, konstipasi
Nyeri otot, tulang sendi, abdomen, dan ulu hati
Sakit kepala
Pembengkakan sekitar mata
Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening
Tanda tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah
menurun, gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah).

Gejala Klinis untuk DBD menurut Andra Saferi Wijaya (2013) adalah:
1) Demam tinggi mendadak 2 7 hari ( 38oC 40oC)
2) Manisfestasi perdarahan dalam bentuk : uji tourniquet positif, petekie
(bintik- merah pada kulit), purpura (perdarahan kecil dalam kulit),
konjungtiva (perdarahan pada mata), epistaksis (perdarahan pada hidung),
perdarahan gusi, hematemesis (muntah darah), melena (BAB darah),
hematusi (adanya darah dalam urin).
3) Rasa sakit pada otot dan persendian, timbul bintik bintik merah pada kulit
akibat pecahnya pembuluh darah
4) Pembesaran hati (hepatomegali)
5) Rejan (syok), tekanan nadi menurun menjadi 20 mmhg atau kurang, tekanan
darah sistolik sampai 80 mmhg atau lebih rendah.
6) Gejala klinik lainnya yang sering menyertai yaitu anoreksia (hilangnya
2.2.4

nafsu makan), mual, muntah, sakit perut, diare, dan sakit kepala.
Klasifikasi Dengue Hemorrhagic Fever (DHF)

Menurut Suriadi (2006) klasifikasi demam berdarah dengue adalah :

15

1) Derajat 1 : Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji
tourniquet positif, trombositopenia, dan hemokonsentrasi.
2) Derajat II : Derajat I disertai perdarahan spontan di kulit dan atau
perdarahan lain.
3) Derajat III : Kegagalan sirkulasi, nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit
dingin lembab, gelisah.
4) Derajat IV : Renjatan berat, denyut nadi dan tekanan darah tidak dapat
2.2.5

diukur.
Patofisiologi Dengue Hemorrhagic Fever (DHF)
Infeksi virus dengue terjadi melalui gigitan nyamuk aedes aegypty, virus ini

akan memasuki aliran darah manusia untuk bereplikasi (memperbanyak diri).


Sebagai reaksi terhadap infeksi, terjadi aktivasi komplemen sehingga dilepaskan
anafilaktoksin

yang

mampu

membebaskan

histamin.

Proses

tersebut

menyebabkan permeabilitas kapiler meningkat yang ditunjukkan dengan


melebarnya pori pori pembuluh darah kapiler. Hal tersebut menyebabkan
bocornya sel sel darah, antara lain trombosit dan eritrosit. (Widoyono. 2008)
peningkatan dan perembesan plasma menyebabkan agregasi trombosit menurun,
apabila kelainan ini berlanjut akan menyebabkan kelainan fungsi trombosit,
kerusakan sel endotel pembuluh darah akan merangsang atau mengaktivasi faktor
pembekuan .(Mansjoer Arif. 2007)

Perdarahan hebat, terutama perdarahan

saluran gastrointestinal pada DHF. Yang menentukan beratnya penyakit adalah


meningginya permeabilitas darah, menurunnya volume plasma, terjadinya
hipotensi, trombositopenia dan diatesis hemoragik. Renjatan terjadi secara akut.
Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma melalui endotel
dinding pembuluh darah. Dan dengan hilangnya plasma klien mengalami

16

hypovolemik. Apabila tidak diatasi bisa terjadi anoksia jaringan, asidosis


metabolik dan kematian (Suriadi, 2006)

Arbovirus melalui nyamuk aedesBeredar


aegypti dalam aliran darah
Infeksi virus dengue(viremia)
Membentuk & melepaskan zatMengaktifkan
C3a,C5a
sistem komplement
PGE2 Hipothalamus
Hipertermi

Peningkatkan reabsorbsi Na+Permeabilitas


dan H2O
membran meningkat

Kerusakan Endotel pembuluh darah


Agregasi trombosit
Resiko syok hipovolemik
Trombositopeni
Merangsang & mengaktivikasi faktor
pembekuan
Renjatan
hipovolemik hipotensi

DIC
Resiko Perdarahan

Kebocoran plasma

Perdarahan
Resiko perfusi jaringan tidak efektif

Asidosis Metabolik

Hipoksia Jaringan

PATHWAY
Resiko
syok (hipovolemik)

Kekurangan Volume Cairan

Hepar

Paru-paru

Hepatomegali

Efusi pleura

Ke extravaskuler

Abdomen
Ascites
Mual-muntah

Ketidakefektifan pola nafas

Penekanan Intra abdomen


Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
Nyeri

17

Gambar 2.1 Patofisiologi DHF (Amin.2013)


2.2.6

Pemeriksan Penunjang

Menurut Suriadi (2006), pemeriksaan penunjang DHF antara lain :


1) Pemeriksaan darah lengkap : Hemokonsentrasi (hematocrit meningkat
20% atau lebih), trombositopenia (100.000/mm3 atau kurang).
2) Serologi : uji HI (hemoaglutination inhibition test)

18

Diambil 3x dengan memakai kertas saring (filter paper) yang pertama


diambil pada waktu pasien masuk rumah sakit, kedua diambil pada waktu
akan pulang dan ketiga diambil 1-3 minggu setelah pengambilan yang
kedua. Kertas ini disimpan pada suhu kamar sampai menunggu saat
pengiriman.
3) Rontgen thoraks : efusi pleura
2.2.7 Komplikasi
Menurut Djoni Djunaedi (2006) komplikasi DHF antara lain :
1)
2)
3)
4)

Enselopati Dengue
Komplikasi Iatrogenik
Kelainan Hati
Gagal Ginjal Akut

Sedangkan Komplikasi DHF menurut Nasronudin (2011) yaitu,


1)
2)
3)
4)

2.2.8

Sepsis
Pneumonia
Perdarahan otak
Sindrom syok dengue

Penatalaksanaan

Menurut Nabiel Ridha (2014) penatalaksanaan DHF antara lain :


1) Penatalaksanaan DHF
a)
Tirah baring
b) Makanan lunak dan diberi minum 1,5 2 liter dalam 24 jam
c) Untuk hiperpireksia dapat diberikan kompres
d) Berikan antibiotik bila terdapat kemungkinan terjadi infeksi
2) Pada pasien dengan tanda renjatan
a) Pemasangan infus RL/ Asering dan dipertahankan selama 12 48 jam
b)
2.2.9

setelah renjatan diatasi


Observasi keadaan umum (tanda tanda vital)
Pencegahan DHF

Menurut Andra Saferi Wijaya (2013) pencegahan DHF antara lain :


1) Menggunakan insektisida

19

a) Melathion untuk membunuh nyamuk dewasa (adultsida) dengan


pengasapan (thermal fogging) atau pengabutan (cold fogging)
b) Temephis (abate) untuk membunuh jentik (larvasida) dengan menabur
pasir abate ke bejana bejana tempat penampungan air bersih. Dosis
yang digunakan adalah 1 ppm atau 1 gram abate SG 1% per 10 liter
air
2) Tanpa insektisida
a) Menguras tempat

penampungan

air

minimal

1x

seminggu

(perkembangan telur nyamuk lamanya 7 10 hari)


b) Menutup tempat penampungan air rapat rapat
c) Membersihkan halaman rumah dari kaleng kaleng bekas, botol, dan
benda lain tempat nyamuk bersarang.
d) Perindungan perseorangan untuk mencegah gigitan nyamuk dengan
memasang kawat kasa dilubang angina diatas jendela, tidur dengan
kelambu.
2.3 Konsep Suhu
2.3.1 Pengertian
Suhu adalah rasa panas atau rasa dingin suatu zat. Suhu tubuh adalah
perbedaan antara panas yang dihasilkan tubuh dengan jumlah panas yang
dilepaskan ke lingkungan. Termogulasi adalah fungsi fisiologis tubuh untuk
mempertahankan agar suhu tubuh tetap konstan. Pengukuran suhu tubuh
didokumentasikan dengan satuan derajat (oC), misalnya 38oC. (Debora. 2011).
Suhu tubuh adalah perbedaan antara jumlah panas yang diproduksi oleh
proses tubuh dan jumlah panas yang hilang ke lingkungan luar.
(Potter, Patrici A. 2005).
2.3.2

Fisiologis Suhu
Hipotalamus adalah pusat integrasi utama untuk memelihara keseimbangan

energi dan suhu tubuh. Hipotalamus menerima informasi dari serabut aferen

20

mengenai suhu diberbagai bagian tubuh dan memulai penyesuaian terkoordinasi


yang sangat rutin dalam mekanisme penambahan dan pengurangan suhu sesuai
keperluan tubuh. Bagian depan hipotalamus mengatur proses pembuangan panas,
sedangkan bagian belakang hipotalamus mengatur proses penyimpanan panas.
Tingkat respons terhadap penyimpangan suhu tubuh disesuaikan secara
cermat sehingga panas yang dihasilkan atau dikeluarkan sangat sesuai dengan
kebutuhan untuk memulihkan suhu ke normal. Suhu tubuh dibagi menjadi dua,
yaitu suhu inti dan suhu kulit. Suhu inti adalah suhu dari jaringan tubuh yang ada
di dalam. Suhu ini hampir selalu konstan, kecuali seseorang sedang demam. Suhu
inti dipantau oleh termoreseptor sentral yang terletak di hipotalamus serta di
susunan saraf pusat dan organ abdomen. Suhu kulit naik dan turun sesuai suhu
lingkungan. (Debora. 2011). Ada beberapa cara yang dilakukan tubuh untuk
mengatur panas dalam tubuh, yaitu sebagai berikut :
1) Radiasi : perpindahan panas dari permukaan suatu objek ke permukaan
objek lain tanpa keduanya bersentuhan. Panas berpindah melalui
gelombang elektromagnetik aliran darah dari organ internal inti
membawa panas ke kulit dan kepembuluh darah permukaan.
2) Konduksi : perpindahan panas dari satu objek ke objek yang lain
dengan kontak langsung. Ketika kulit hangat menyentuh objek yang
lebih dingin, panas akan hilang.
3) Konveksi : perpindahan panas karena gerakan udara. Panas
dikonduksikan pertama kali pada molekul udara secara langsung dalam
kontak dengan kulit.
4) Evaporasi : keluarnya panas dari dalam tubuh melalui gas atau partikel
keringat secara terus menerus dari dalam tubuh. Air akan tetap keluar
dari tubuh meskipun kondisi sekitar tidak panas. Kehilangan air tubuh

21

bisa mencapai 450 600cc/ hari. Selain melalui keringat, kehilangan


panas tubuh juga bisa berasal dari kerja paru paru dan system

2.3.3

pernafasan.
(Potter, Patricia A. 2005)
Faktor Faktor yang Mempengaruhi Suhu Tubuh
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi suhu tubuh menurut

Debora

(2011) antara lain sebagai berikut :


1) Laju metabolisme basal semua sel tubuh
2) Laju cadangan metabolisme yang disebabkan oleh aktivasi otot,
termasuk kontraksi otot karena menggigil.
3) Metabolisme tambahan yang disebabkan oleh tiroksin terhadap sel
4) Metabolisme tambahan karena efek epinefrin, norepinefrin, dan
rangsangan simpatis terhadap sel.
5) Metabolisme tambahan akibat aktivitas kimiawi dalam sel, bila
temperature sel meningkat.
6) Hasil pengukuran suhu tubuh bisa bervariasi, bergantung pada berbagai
macam faktor. Berikut adalah rentang hasil pengukuran suhu
2.3.4

berdasarkan usia.
Hasil pengukuran Suhu Tubuh
Hasil pengukuran suhu tubuh bisa bervariasi, bergantung pada berbagai

macam faktor. Berikut adalah rentang hasil pengukuran suhu berdasarkan usia.
Tabel 2.1 Rentang Normal Suhu Tubuh.
Usia

Lokasi

Bayi baru lahir

Aksila

35.5-39.5

1 tahun
3 tahun
5 tahun

Oral
Oral
Oral
Oral
Aksila
Rektal
Oral

37.7
37.2
37.0
37.0
36.4
37.6
36.0

Dewasa
+70 tahun

Sumber : Dalaune dalam Oda Debora, 2012.

22

Secara umum, kelainan hasil pengukuran suhu tubuh dibagi menjadi dua,
yaitu hipotermia dan hipertermia. Hipotermia dinyatakan pada saat hasil
pengukuran suhu tubuh <35oC. Hipotermia ditandai dengan penurunan
metabolisme tubuh, menyebabkan penurunan frekuensi nadi, respirasi, dan
tekanan darah. Jika tidak ditangani dapat menyebabkan henti jantung. Hipertermia
dinyatakan pada aat hasil pengukuran suhu tubuh >37,6 oC. Hipertermia ditandai
dengan peningkatan metabolisme tubuh. Selain itu, ada beberapa istilah dalam
hasil pengukuran suhu tubuh (Tabel 2.2).
Tabel 2.2 Kelainan dalam Hasil Pengaturan Suhu Tubuh.
Kelainan

Letih
bahang
(heat exhaustion)

Heat stroke

Hipotermia

Pengertian
Peningkatan suhu tubuh (3
8-40 oC) karena kondisi
lingkungan yang panas,
menyebabkan
diaforesis
(berkeringat)
yang
berlebihan

Suhu tubuh yang mencapai


batas kritis (40-41oC) karena
paparan suhu lingkungan
yang sangat panas.

Suhu tubuh dibawah 35oC


karena
paparan
suhu
lingkungan yang sangat
panas.

Karakteristik
Ditandai
dengan
hilangnya air dan garam
yang
keluar
dari
keringat, menyebabkan
gejala
haus,
mual,
muntah dan disorientasi
Tanda yang penting
adalah kulit yang kering
dan
terasa
panas.
Penderita
menjadi
gelisah dan delirium,
merasa sangat haus,
nyeri pada abdomen,
kram otot dan gangguan
penglihatan.
Dapat
menyebabkan
penurunan
kesadaran
jika tidak ditangani.
Ditandai
dengan
penurunan metabolisme
yang
menyebabkan
gangguan
mental,
penurunan
nadi,
respirasi dan tekanan
darah.
Dapat
menyebabkan
gagal

23

Kelainan

Pengertian

Radang
dingin
(frostbite)

Pembekuan pada beberapa


jaringan
tubuh
karena
terkena suhu lingkungan
yang sangat dingin (daun
telinga, jari tangan dan kaki).

Karakteristik
jantung
jika
tidak
ditangani.
Ditandai
dengan
ketidakseimbangan
sirkulasi dan dapat
menyebabkan ganggren.

Sumber : Dalaune dalam Oda Debora.2012


2.3.5

Mengukur Suhu Tubuh Bayi/ Anak

Mengukur suhu tubuh bayi/ anak menurut Kusyati (2006).


1) Persiapan Alat
a) Termometer
b) Tiga wadah yang berisi air sabun, air bersih
c) Tisu
d) Bengkok
e) Sarung tangan bersih
f) Kom
g) Baki
h) Alas baki
i) Spidol/ pulpen merah biru
j) Buku untuk mencatat
2) Persiapan Klien
a) Jelaskan pada klien tentang tujuan tindakan yang akan dilakukan
b) Atur lingkungan sekitar klien
3) Prosedur pengukuran suhu thermometer aksila
a) Cuci Tangan
b) Dekatkan alat ke klien
c) Identifikasi klien
d) Jelaskan prosedur tindakan yang akan dilakukan
e) Periksa termometer apakah air raksa tepat pada angka di bawah 35oC
f) Atur posisi pasien sesuai kondisi pasien
g) Buka baju lengan pasien (jika perlu), lalu keringkan ketiak dengan tisu
h) Jepitkan termometer pada ketiak klien dengan reservoir tepat di tengah
ketiak dan lengan klien dilipatkan ke dada (awasi dan damping khusus
pada penderita tidak sadar dan anak anak).
i) Setelah 5 10 menit, termometer diangkat dan langsung dibaca,
j)
k)
l)
m)

kemudian dicatat
Bersihkan thermometer dengan cara
Celupkan termometer pada botol yang berisi disinfektan
Celupkan termometer pada botol yang berisi sabun
Masukkan pada botol yang berisi air bersih

24

n) Keringkan dengan tisu


o) Air raksa diturunkan kembali dan termometer diletakkan pada

2.3.6

tempatnya
p) Klien dikembalikan pada posisi semula
q) Rapikan alat
r) Cuci tangan
Mengukur Suhu Tubuh Bayi/ Anak

Menurut Standart Prosedur Operasional Rumah Sakit Baptis Kediri.


1) Pengertian
Mengukur suhu tubuh bayi/ anak dengan thermometer
2) Tujuan
Mengetahui suhu badan pasien untuk membantu menentukan diagnosa dan
menentukan langkah langkah keperawatan.
3) Prosedur
a) Siapkan alat
b) Alat alat dibawa kedekat pasien
c) Tanyakan nama pasien dan sesuaikan dengan gelang identitas pasien
d) Jelaskan kepada pasien tentang prosedur yang akan dilakukan
e) Anjurkan pasien supaya berbaring/ duduk dengan tenang
f) Ambil termometer dari tempat penyimpanan, sapu dengan tissue.
g) Baca kadar air raksa sambil memutar termometer dengan lembut sejajar
pandangan mata. Air raksa harus dibawah 35,5oC. Jika air raksa ada
diatas kadar yang diinginkan, goyangkan termometer lebih

bawah.

Pegang ujung atas termometer dengan aman dan jauhkan dari benda
benda lain. Kibaskan pergelangan tangan secara mencolok.
h) Singkirkan pakaian atau dari bahu dan lengan
i) Letakkan termometer di tengah aksila, turunkan lengan menjepit
termometer dan taruh lengan menyilang di dada pasien
j) Biarkan termometer selama 5 10 menit
k) Jangan meninggalkan pasien selama termometer ada di aksila pasien
l) Ambil termometer dan seka area aksila dengan tissue. Seka dengan cara
memutar dari jari kearah ujung termometer. Buang tisu
m) Baca termometer sejajar mata
n) Bari tahu pasien berapa suhunya

25

o) Cuci termometer di wastafel pada air mengalir dengan sabun/ semprot


dengan alkohol, keringkan dan taruh kembali pada tempatnya. Letakkan
diatas meja pasien.
p) Bantu pasien memasang gown atau baju kembali
q) Cuci tangan
r) Catat suhu tubuh pasien pada buku catatan dan dokumentasi pada status
pasien.
2.4 Tindakan Pemeliharaan Suhu Tubuh : Kompres
2.4.1 Pengertian
Kompres adalah metode pemeliharaan suhu tubuh dengan menggunakan
cairan atau alat yang dapat menimbulkan hangat atau dingin pada bagian tubuh
yang memerlukan. (Kusyati,2006)
2.4.2

Tujuan Kompres
Mencegah pasien untuk menggigil sehingga pasien tidak mengalami

peningkatan suhu tubuh akibat menggigilnya otot. Kompres hangat merangsang


vasodilatasi sehingga mempercepat proses evaporasi dan konduksi yang pada
akhirnya dapat menurunkan suhu tubuh. (Sodikin dalam Karina Indah. 2013).
2.4.3

Indikasi Kompres

Indikasi kompres menurut Kusyati (2006) antara lain :

2.4.4

1) Pasien yang kedinginan


2) Perut kembung
3) Mengatasi peradangan
4) Spasme otot (kekejangan otot)
5) Adanya abses, hematoma
Prosedur Kompres Hangat

Prosedur kompres hangat menurut Kusyati (2006)


1) Persiapan Alat
a) Kom berisi air hangat sesuai kebutuhan (40 46o C) / air dingin
b) Bak steril berisi pinset dua buah, kasa dengan beberapa potong dengan
ukuran yang sesuai
c) Kasa perban atau kain segitiga

26

d) Pengalas
e) Sarung tangan bersih
f) Bengkok
2) Prosedur
a) Berikan penjelasan kepada pasien tindakan yang akan dilakukan
b) Dekatkan alat alat dengan pasien
c) Perhatikan privacy pasien
d) Cuci tangan
e) Atur posisi yang nyaman
f) Pasang pengalas dibawah daerah yang dikompres
g) Pakai sarung tangan
h) Ambil potongan kasa dengan pinset masukkan ke dalam bak berisi air
i) Ambil kasa kemudian letakkan pada area yang akan di kompres
j) Lakukan perasat ini 15 30 menit, kompres tiap 5 menit
k) Lepas sarung tangan
l) Ambil pengalas
m) Atur posisi pasien yang nyaman
n) Bereskan alat alat dekat pasien
o) Cuci tangan
p) Dokumentasi tindakan
2.4.5 Prosedur Kompres Hangat
Prosedur kompres hangat menurut Standart Prosedur Operasional Rumah
Sakit Baptis Kediri.
1) Pengertian
Memberi rasa hangat dengan mempergunakan alat yang menimbulkan hangat
pada bagian tubuh yang memerlukan.
2) Tujuan
a) Memperlancar sirkulasi darah
b) Mengurangi/ menghilangkan rasa sakit
c) Memperlancar pengeluaran cairan (exudat)
d) Merangsang peristaltic
e) Memberi ketenangan dan kesenangan pada klien
3) Prosedur
a) Cuci tangan
b) Siapkan waskom/ember dan isi dengan air hangat
c) Bawa peralatan ke dekat pasien
d) Jelaskan kepada pasien dan keluarga tentang tindakan yang akan
dilakukan
e) Rendam waslap ke dalam waskom/ ember yang sudah disiapkan
f) Peras waslap kemudian tempelkan pada bagian yang akan dikompres
g) Anjurkan kepada keluarga untuk mau bekerjasama dalam melakukan
kompres hangat

27

h) Setelah selesai, rapikan pasien dan jelaskan bahwa tindakan sudah


selesai
i) Bereskan peralatan
j) Cuci tangan
k) Dokumentasikan tindakan dalam status pasien
2.5 Konsep Keseimbangan Cairan dan Elektrolit
2.5.1 Pengertian Cairan dan Elektrolit
Cairan dan Elektrolit merupakan komponen tubuh yang berperan dalam
memelihara fungsi tubuh dan proses hemostasis. Tubuh kita terdiri dari 60% air
yang tersebar di dalam sel maupun di luar sel. Namun demikian, besarnya
kandungan air tergantung dari usia, jenis kelamin, dan kandungan lemak.
(Tarwoto, 2010).
2.5.2 Cara Perpindahan Cairan Tubuh
1) Difusi
Difusi merupakan bercampurnya molekul molekul dalam cairan, gas, atau
zat padat secara bebas dan acak. Proses difusi dapat terjadi bila dua zat
bercampur dalam sel membrane. Dalam tubuh, proses difusi air, elektrolit,
dan zat zat lain terjadi melalui membrane kapiler yang permeable. Zat
dengan molekul yang besar akan bergerak lambat disbanding elekul kecil.
Molekul akan lebih mudah berpindah dari larutan dengan konsentrasi tinggi
ke larutan dengan konsentrasi rendah. Larutan dengan konsentrasi yang
tinggi akan mempercepat pergerakan molekul, sehingga proses difusi
berjalan lebih cepat.
2) Osmosis
Proses perpindahan zat kelarutan lain melalui membrane semipermeabel
biasanya terjadi dari larutan dengan konsentrasi yang kurang pekat ke
larutan dengan konsentrasi lebih pekat. Osmolaritas adalah cara untuk
mengukur kepekatan larutan dengan menggunakan satuan mol. Natrium
dalam NaCl 0,9% merupakan larutan isotonik karena larutan NaCl

28

mempunyai kepekatan yang sama dengan larutan dalam sistem vaskuler.


Larutan isotonik merupakan larutan yang mempunyai kepekatan sama
dengan larutan yang dicampur. Larutan hipotonik mempunyai kepekatan
lebih rendah dibanding larutan intasel. Pada proses osmosis dapat terjadi
perpindahan dari larutan dengan kepekatan rendah ke larutan yang
kepekatannya lebih tinggi melalui membran semipermiabel, sehingga
larutan yang berkonsentrasi rendah volumenya akan berkurang, sedang
larutan yang berkonsentrasi lebih tinggi akan bertambah volumenya.
3) Transpor Aktif
Proses perpindahan cairan tubuh dapat menggunakan mekanisme transport
aktif. Transport aktif merupakan gerak zat yang akan berdisfusi dan
berosmosis. Proses ini terutama penting untuk mempertahankan natrium
dalam cairan intra dan ekstrasel.
Hidayat (2009)
2.5.3

Kebutuhan Cairan Tubuh bagi Manusia


Kebutuhan cairan merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia secara
fisiologis, yang memiliki proporsi besar dalam bagian tubuh, hampir 90%
dari total berat badan tubuh. Sementara itu sisanya merupakan bagian padat
dari tubuh. Sementara keseluruhan, katagori persentase cairan tubuh
berdasarkan umur adalah : bayi baru lahir 75% dari total berat badan, dan
dewasa tua 45% dari total berat badan.
Tabel 2.3 Kebutuhan Air Berdasarkan Umur dan Berat Badan
Umur
3 Hari
1 Tahun
2 Tahun
4 Tahun
10 Tahun
14 Tahun

Kebutuhan Air
Jumlah air dalam 24 jam
Ml/kg berat badan
250 300
1150 1300
1350 1500
1600 1800
2000 2500
2200 2700

80 100
120 135
115 125
100 110
70 85
50 60

29

18 Tahun
Dewasa

2.5.4

2200 2700
2400 2600

40 50
20 30

Sumber : Behrman, RE, dkk, 1996 dalam Hidayat (2009)


Masalah Keseimbangan Cairan
1) Hiponatremia
Hiponatremia merupakan suatu keadaan kekurangan kadar natrium
dalam plasma darah yang ditandai dengan adanya kadar natrium dalam
plasma sebanyak < 135 mEq/lt, rasa haus berlebihan, denyut nadi yang
cepat, hipotensi, konvulsi, dan membrane mukosa kering. Hiponatremia
disebabkan oleh hilangnya cairan tubuh secara berlebihan, misalnya
ketika tubuh mengalami diare yang berkepanjangan.
2) Hipernatremia
Hipernatremia merupakan suatu keadaan di mana kadar natrium dalam
plasma tinggi, ditandai dengan adanya mukosa kering, oligari/ anusia,
turgor kulit buruk dan permukaan kulit membengkak, kulit kemerahan,
lidah kering, kemerahan, konvulsi, suhu badan naik, serta kadar natrium
dalam plasma lebih dari 145 mEq/lt. kondisi dapat disebabkan karena
dehidrasi, diare, pemasukan air yang berlebihan sementara asupan garam
sedikit.
3) Hipokalemia
Hipokalemia merupakan suatu keadaan kekurangan kadar kalium dalam
darah. Hipokalemia sering terjadi pada pasien yang mengalami diare
berkepanjangan, juga ditandai dengan lemahnya denyut nadi, turunnya
tekanan darah, tidak nafsu makan dan muntah muntah. Perut kembung,
lemah dan lunaknya otot tubuh, tidak beraturannya denyut jantung
(aritmia), penurunan bising usus, dan turunnya kadar kalium plasma
hingga kurang dari 3,5 mEq/lt.
4) Hiperkalemia

30

Hiperkalemia merupakan suatu keadaan di mana kadar kalium dalam


darah tinggi, sering terjadi pada pasien luka bakar, penyakit ginjal,
asidosis metabolic, pemberian kalium yang berlebihan melalui intravena
yang ditandai dengan mual, hiperaktivitas sistem pencernaan, aritmia,
kelemahan, sedikitnya jumlah urine dan diare, adanya kecemasan dan
iritabilitas, serta kadar kalium dalam plasma mencapai lebih 5 mEq/lt.
5) Hipokalsemia
Hipokalsemia merupakan kondisi kekuranga kadar kalsium dalam
plasma darah yang ditandai dengan adanya kram otot dank ram perut,
kejang, bingungkadar kalsium dalam plasma kurang dari 4,3 mEq/lt, dan
kesemutan pada jari dan sekitar mulut yang dapat disebabkan oleh
pengaruh pengangkatan kelenjar gondok, serta kehilangan sejumlah
kalsium karena sekresi instestinal.
6) Hiperkalsemia
Hiperkalsemia merupakan suatu keadaan kelebihan kadar kalsium dalam
darah yang dapat terjadi pada pasien yang mengalami pengangkatan
kelenjar gondok dan makan vitamin D secara berlebihan, ditandai
dengan dengan adanya nyeri pada tulang, relaksasi otot, batu ginjal,
mual mual, koma, dan kadar kalsium dalam plasma mencapai lebih
dari 4,3 mEq/lt.
7) Hipomagnesia
Hipomagnesia merupakan kondisi kekurangan kadar magnesium dalam
darah, ditandai dengan adanya iritabilitas, tremor, kram pada kaki dan
tangan, takikardi, hipertensi, disorientasi, dan konvulasi. Kadar
magnesium dalam darah mencapai kurang dari 1,3 mEq/lt.
8) Hipermagnesia

31

Hipermagnesia merupakan kondisi berlebihnya kadar magnesium dalam


darah, ditandai dengan adanya koma, gangguan pernafasan, dan kadar

2.5.5

magnesium mencapai lebih dari 2,5 mEq/lt.


Hidayat (2009)
Faktor Faktor yang Mempengaruhi Keseimbangan Cairan dan
Elektrolit
1) Umur, variasi usia berkaitan dengan luas permukaan tubuh, metabolisme
yang diperlukan dan berat badan.
2) Temperature lingkungan, panas yang berlebih menyebabkan berkeringat,
seseorang dapat kehilangan NaCL melalui keringatsebanyak 15-30
gram/ hari.
3) Diet, pada saat tubuh kekurangan nutrisi, tubuh akan memecah cadangan
energi, proses ini menimbulkan pergerakan cairan dari interstisial ke
intraseluler.
4) Stress, stress dapat menimbulkan peningkatan metabolisme sel,
konsentrasi darah dan glikolisis otot, mekanisme ini dapat menimbulkan
retensi sodium dan air. Proses ini dapat meningkatkan produksi ADH
dan menurunkan produksi urine.
5) Sakit, keadaan pembedahan, trauma jaringan, kelainan ginjal, dan

jantung, gangguan hormon akan mengganggu keseimbangan cairan.


2.6 Konsep Asuhan Keperawatan pada Pasien Dengue Hemorrhagic Fever
2.6.1 Pengkajian
Menurut Nursalam (2005), pengkajian pasien dengan Dengue Hemorrhagic
Fever.
1) Identitas Pasien
Nama, umur (pada DHF paling sering menyerang anak anak dengan usia
kurang dari 15 tahun), jenis kelamin, alamat, pendidikan, nama orang tua,
pendidikan orang tua, dan pekerjaan orang tua).
2) Keluhan Utama

32

Alasan/ keluhan yang menonjol pada pasien DHF untuk datang ke Rumah
Sakit adalah panas tinggi dan anak lemah
3) Riwayat Penyakit Sekarang
Didapatkan adanya keluhan panas mendadak yang disertai menggigil dan
saat demam kesadaran compos mentis. Turunnya panas terjadi diantara hari
ke-3 dan ke- 7, dan anak semakin lemah. Kadang kadang disertai dengan
keluhan batuk pilek, nyeri telan, mual, muntah, anoreksia, diare/ konstipasi,
sakit kepala, nyeri otot, dan persendian, nyeri ulu hati dan pergerakan bola
mata terasa pegal, serta adanya manisfestasi perdarahan pada kulit, gusi
(grade III,IV), melena atau hematemesis.
4) Riwayat Penyakit yang Pernah diderita
Penyakit apa saja yang pernah diderita. Pada DHF, anak bisa mengalami
serangan ulangan DHF dengan tipe virus lain.
5) Riwayat Imunisasi
Apabila anak mempunyai kekebalan yang baik, maka kemungkinan akan
timbulnya komplikasi dapat dihindari
6) Riwayat Gizi
Status gizi anak yang menderita DHF dapat bervariasi. Semua anak dengan
status gizi baik maupun buruk dapat beresiko, apabila terdapat faktor
predisposisinya. Anak yang menderita DHF sering mengalami keluhan
mual,muntah, dan nafsu makan menurun. Apabila kondisi ini berlanjut dan
tidak disertai dengan pemenuhan nutrisi yang mencukupi, maka anak dapat
mengalami penurunan berat badan sehingga status gizinya menjadi kurang.
7) Kondisi Lingkungan
Sering terjadi di daerah yang padat penduduknya dan lingkungan yang
kurang bersih (seperti air yang menggenang dan gantungan baju di kamar).
8) Pola Kebiasaan
a) Nutrisi dan metabolisme : frekuensi, jenis, pantangan, nafsu makan
berkurang dan nafsu makan menurun.

33

b) Eliminasi alvi (buang air besar). Kadang kadang anak mengalami


diare/ konstipasi. Sementara DHF pada grade III IV sering terjadi
melena.
c) Eliminasi urine (buang air kecil) perlu dikaji apakah sering kencing,
sedikit/ banyak, sakit/ tidak. Pada DHF grade IV sering terjadi
hematuria.
d) Tidur dan istirahat. Anak sering mengalami kurang tidur karena
mengalami sakit/ nyeri otot dan persendiaan sehingga kuantitas dan
kualitas tidur maupun istirahatnya kurang.
e) Kebersihan. Upaya keluarga untuk menjaga kebersihan diri dan
lingkungan cenderung kurang terutama untuk kebersihan tempat sarang
nyamuk aedes aegypy.
f) Perilaku dan tanggapan bila ada keluarga yang sakit serta upaya untuk
menjaga kesehatan.
9) Pemeriksaan fisik, meliputi inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi dari
ujung rambut sampai ujung kaki. Berdasarkan tingkatan (grade) DHF,
keadaan fisik anak adalah sebagai berikut :
(1) Grade I : kesadaran composmetis, keadaan umum lemah, tanda tanda
vital dan nadi lemah
(2) Grade II : kesadaran composmetis, keadaan umum lemah, ada
perdarahan spontan petekia, perdarahan gusi dan telinga, serta nadi
lemah, kecil, dan tidak teratur, serta tensi menurun.
(3) Grade III : kesadaran apatis, somnolen, keadaan umum lemah, nadi
lemah, kecil, dan tidak teratur, serta tensi menurun.
(4) Grade IV : kesadaran koma, tanda tanda vital : nadi tidak teraba, tensi
tidak terukur, pernafasan tidak teratur, ekstermitas dingin, berkeringat,
dan kulit tampak biru.
10) Sistem Integumen
a) Adanya petekie pada kulit, turgor kulit menurun, dan muncul keringat
dingin, dan lembab.

34

b) Kuku sianosis/ tidak


c) Kepala dan Leher
Kepala terasa nyeri, muka tampak kemerahan karena demam (flusy),
mata anemis, hidung kadang mengalamiperdarahan (epitaksis) pada
grade I, II, IV. Pada mulut didapatkan bahwa mukosa mulut kering,
terjadi perdarahan gusi, dan nyeri telan,. Sementara tenggorokan
mengalami hyperemia pharing dan terjadi perdarahan telinga (pada
grade II,III,IV).

d) Dada
Bentuk simetris dan kadang kadang terasa sesak. Pada foto thorax
terdapat adanya cairan yang tertimbun pada paru sebelah kanan (efusi
pleura), Rales +. Ronchi + yang biasanya terdapat pada grade III dan IV.
e) Abdomen
Mengalami nyeri tekan, pembesaran hati (hepatomegaly, dan asites
f) Ekstermitas
Akral teraba dingin, terjadi nyeri otot, sendi, serta tulang.
11) Pemeriksaan laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium darah pasien DHF akan dijumpai
a)
b)
c)
d)
e)

Hb meningkat (20%)
Trombositopenia (100.000/ml)
Leukopenia (mungkin normal/ leukositosis)
Ig. D dengan positif
Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan:

hipoproteinemia,

hipokloremia, dan hiponatremia.


f) Urium dan Ph darah mungkin meningkat
g) Asidosis metabolik : pCO2 < 35 40 mmHg dn HCO3 rendah
h) SGOT/ SGPT mungkin meningkat
(Nursalam. 2005)
2.6.2 Diagnosis Keperawatan
Menurut

Nabiel Ridha. 2014, diagnosa

Hemorrhagic Fever.

pasien dengan Dengue

35

1) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan


intravaskuler, interstisial, atau intraseluler.
2) Nyeri akut
3) Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.
4) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang
menurun
5) Kurang pengetahuan
Sedangkan Menurut Amin (2013), diagnosa keperawatan pada pasien
dengan Dengue Hemorrhagic Fever.
1) Ketidakefektifan perfusi jaringan parifer berhubungan dengan kebocoran
plasma
2) Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan jalan nafas terganggu
akibat spasme otot otot pernafasan, nyeri, hypoventilasi
3) Resiko syok (hypovolemik) berhubungan dengan perdarahan yang berlebih
pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler
4) Resiko perdarahan berhubungan dengan penurunan faktor faktor
pembekuan (trombositopeni)
2.6.3 Intervensi
1) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan
intravaskuler, interstisial, atau intraseluler.
Batasan Karakteristik :
a) Kelemahan
b) Haus
c) Penurunan tugor kulit/ lidah
d) Membrane mukosa/ kulit kering
e) Peningkatan denyut nadi, penurunan tekanan darah
f) Perubahan status mental
g) Konsentrasi urin meningkat
h) Temperature tubuh meningkat
i) Hematokrit meninggi
Faktor faktor yang berhubungan
a) Kehilangan volume cairan secara aktif
b) Kegagalan mekanisme pengaturan

36

NOC :
a) Fluid balance
b) Hydration
c) Nutritional status : food and fluid intake
Kriteria Hasil :
a) Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine
normal, HT normal.
b) Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal
c) Tidak ada tanda dehidrasi, elastisitas tugor kulit baik,membrane
mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebih.
NIC :
a) Timbang popok/ pembalut jika diperlukan
b) Pertahankan catatan intake dan output yang akurat

c) Monitor status hidrasi (kelembaban membrane mukosa, nadi adekuat,


tekanan darah ortostatik)
d) Monitor vital sign
e) Monitor masukan makanan/ cairan dan hitung intake kalori harian
f) Monitor status nutrisi
g) Kolaborasi pemberian cairan IV
2) Nyeri akut
Batasan karakteristik :
a) Gerakan melindungi
b) Tingkah laku berhati hati
c) Muka topeng
d) Gangguan tidur (mata sayu, tampak capek, menyeringai)
e) Tingkah laku ekspresif (contoh : gelisah, merintih, menangis, nafas
panjang)
f) Perubahan nafsu makan dan minum
Faktor yang Berhubungan :
Agen injuri (biologi, kimia, fisik, psikologis)
NOC :
a) Pain level

37

b) Pain control
c) Comfort level
Kriteria hasil
a) Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan
tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
b) Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen
nyeri
c) Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
d) Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
e) Tanda vital dalam rentang normal
NIC :
Pain management :
a) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitas
b) Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
c) Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman
nyeri pasien
d) Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
e) Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
f) Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan

lain

tentang

ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau


g) Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
h) Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu
i)
j)
k)
l)
m)
n)
o)

ruangan, pencahayaan, dan kebisingan.


Kurangi faktor pretisipasi nyeri
Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi)
Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
Evaluasi keefektifan control nyeri
Tingkatkan istirahat
Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak
berhasil

Analgesic administration :

38

a) Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum


pemberian obat.
b) Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi
c) Cek riwayat alergi
d) Pilih analgesic yang diperlukan atau kombinasi dari analgesic ketika
pemberian lebih dari satu
e) Tentukan pilihan analgesic tergantung tipe dan beratnya nyeri
f) Tentukan analgesic pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal
g) Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk obat nyeri secara teratur
h) Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesic
i) Berikan analgesic tepat waktu terutama saat nyeri hebat
j) Evaluasi efektivitas analgesic, tanda dan gejala (efek samping)
3) Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue
Batasan karakteristik :
a) Kenaikan suhu tubuh diatas rentang normal
b) Serangan atau konvulsi (kejang)
c) Kulit kemerahan
d) Pertambahan RR
e) Takikardi
f) Saat disentuh tangan terasa hangat
Faktor faktor yang berhubungan :
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)

Penyakit/ trauma
Peningkatan metabolisme
Aktivitas yang berlebih
Pengaruh medikasi/ anestesi
Ketidakmampuan/ penurunan kemampuan untuk berkeringat
Terpapar dilingkungan panas
Dehidrasi
Pakaian yang tidak tepat

NOC : thermoregulation
Kriteria Hasil :
a) Suhu tubuh dalam rentang normal
b) Nadi dan RR dalam rentang normal
c) Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing
NIC :
Fever treatmen
a) Monitor suhu sesering mungkin
b) Monitor IWL

39

c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)
j)
k)
l)
m)
n)
o)

Monitor warna dan suhu kulit


Monitor tekanan darah, nadi, RR
Monitor penurunan tingkat kesadaran
Monitor WBC, Hb, Hct
Monitor intake dan output
Berikan anti piretik
Berikan pengobatan untuk mengatasi penyebab demam
Selimuti pasien
Lakukan tapid sponge
Pemberian cairan intravena
Kompres pasien pada lipat paha dan aksila
Tingkatkan sirkulasi udara
Berikan pengobatan untuk mencegah terjadinya menggigil

Temperature regulation :
a)
b)
c)
d)
e)
f)

Monitor suhu minimal tiap 2 jam


Rencanakan monitoring suhu secara kontinyu
Monitor TD, Nadi, RR
Monitor warna dan suhu kulit
Monitor tanda tanda hipertermia dan hipotermia
Tingkatkan intake cairan dan nutrisi, selimuti pasien untuk mencegah

hilangnya kehangatan tubuh


g) Ajarkan pasien cara mencegah keletihan akibat panas
h) Diskusikan tentang pentingnya pengaturan suhu dan kemungkinan
efek negative dari kedinginan
i) Beritahukan tentang indikasi terjadinya keletihan dan penanganan
emergency yang diperlukan
j) Ajarkan indikasi dan hipotermi dan penanganan yang diperlukan
k) Berikan antipiretik jika perlu
Vital Sign Monitoring :
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)
j)

Monitor TD, nadi, suhu, RR


Catat adanya fluktuasi tekanan darah
Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingankan
Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan setelah aktivitas
Monitor kualitas dari nadi
Monitor frekuensi dan irama pernafasan
Monitor suara paru
Monitor pola pernafasan abnormal
Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit
Monitor sianosis parifer

40

k) Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang melebar, bradikardi,


peningkatan sistolik)
l) Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign
4) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Batasan Karakteristik :
a) Berat badan 20% atau lebih di bawah ideal
b) Dilaporkan adanya intake makanan yang kurang
c) Membrane mukosa dan konjungtiva pucat
d) Kelemahan otot yang digunakan untuk menelan/ mengunyah
e) Luka, inflamasi pada ronggo mulut
f) Muda terasa kenyang, sesaat setelah mengunyah makanan
g) Dilaporkan atau fakta adanya kekurangan makanan
h) Dilaporkan adanya perubahan sensasi rasa
i) Perasaan ketidakmampuan untuk mengunyah makanan
j) Miskonsepsi
k) Kehilangan BB dengan makanan cukup
l) Keengganan untuk makan
m) Kram pada abdomen
n) Tonus otot jelek
o) Nyeri abdominal dengan atau tanpa patologi
p) Kurang berminat terhadap makanan
q) Pembuluh darah kapiler mulai rapuh
r) Diare dan atau steatorrhea
s) Kehilangan rambut yang cukup banyak (rontok)
t) Suara usus hiperaktif
u) Kurangnya informasi, misinformasi
Faktor faktor yang berhubungan :
a)
b)
c)
d)

Kesulitan mengunyah atau menelan


Intoleransi makanan
Hilang nafsu makan
Mual dan muntah

NOC :
a) Nutritional status : food and fluid intake
b) Nutrional status : nutrient intake
c) Weight control
Kriteria Hasil :
a)
b)
c)
d)
e)

Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan


Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan
Tidak ada tanda tanda malnutrisi
Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan dari menelan
Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti

41

NIC :
Nutrition management
a) Kaji adanya alergi makanan
b) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan
nutrisi yang dibutuhkan pasien
c) Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C
d) Berikan substansi gula
e) Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah
konstipasi
f) Berikan makanan yang terpilih (sudah di konsultasikan dengan ahli
g)
h)
i)
j)

gizi)
Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian
Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan

Nutrition Monitoring :
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)
j)
k)
l)
m)
n)
o)
p)

BB pasien dalam batas normal


Monitor adanya penurunan berat badan
Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang bisa dilakukan
Monitor interaksi anak atau orang tua selama makan
Monitor lingkungan selama makan
Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan
Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
Monitor turgor kulit
Monitor kekeringan, rambut kusam, dan mudah patah
Monitor mual dan muntah
Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht
Monitor makanan kesukaan
Monitor pertumbuhan dan perkembangan
Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva
Monitor kalori dan intake nutrisi
Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papilla lidah, dan cavitas

oral.
q) Catat jika lidah berwarna magenta, scarlet.
5) Kurang pengetahuan
Batasan
karakteristik
:
memverbalisasikan

adanya

ketidakakuratan mengikuti instruksi, perilaku tidak sesuai.


Faktor yang berhubungan :
a) Keterbatasan kognitif

masalah,

42

b) Interpretasi terhadap informasi yang salah


c) Kurangnya keinginan untuk mencari informasi
d) Tidak mengetahui sumber sumber informasi
Kriteria hasil :
a) Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit,
kondisi, prognosis, dan pengobatan.
b) Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yan dijelaskan
secara benar.
c) Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan
perawat/ tim kesehatan lainnya.
NIC :
a) Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses
penyakit yang spesifik
b) Jelaskan patofisiologis dari penyakit dan bagaimana hal ini
berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat.
c) Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan
cara yang tepat.
d) Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat
e) Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan cara yang tepat
f) Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang
tepat
g) Hindari jaminan yang kosong
h) Sediakan bagi keluarga atau SO informasi tentang kemajuan pasien
dengan cara yang tepat.
i) Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk
mencegah komplikasi di masa yang akan dating dan atau proses
pengontrolan penyakit.
j) Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
k) Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second
opinion dengan cara yang tepat atau diindikasi.
l) Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan cara yang
tepat

43

m) Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada


pemberi perawatan kesehatan, dengan cara yang tepat.
Sedangkan Menurut Amin ( 2013), diagnosa keperawatan pada pasien
dengan Dengue Hemorrhagic Fever.
1) Ketidakefektifan perfusi jaringan parifer jaringan berhubungan dengan
kebocoran plasma
Batasan Karakteristik :
a) Tidak ada nadi.
b) Perubahan fungsi motorik.
c) Perubahan karakteristik kulit (warna, elastisitas, rambut, kelembaban,
d)
e)
f)
g)
h)
i)
j)
k)
l)

kuku, sensasi dan suhu).


Perubahan tekanan darah di ekstremitas.
Waktu pengisian kapiler >3 detik.
Warna tidak kembali ketungkai saat tungkai diturunkan.
Kelambatan penyembuhan luka perifer.
Penurunan nadi.
Edema.
Nyeri ekstremitas.
Pemendekan jarak total yang ditempuh dalam uji berjalan enam menit.
Pemendekan jarak bebas nyeri yang ditempuh dalam uji berjalan enam

menit.
m) Parestesia.
n) Warna kulit pucat saat elevasi.
Faktor yang berhubungan :
a)
b)
c)
d)
e)

Kemampuan hemoglobin untuk mengikat oksigen


Penurunan konsentrasi hemoglobin dalam darah
Hypervolemia
Hipovolemia
Hipoventilasi

Tujuan :
a) Circulation status
b) Tissue Perfusion : cerebral
Kriteria Hasil :
a) Tekanan sistole dan diastole dalam rentang normal.

44

b) Tidak ada tanda-tanda peningkatan intrakranial


Intervensi :
a) Monitor adanya daerah tertentu yang hanya peka terhadap panas,
dingin, tajam dan tumpul.
b) Monitor adanya parestesia
c) Instruksikan keluarga untuk mengobservasi kulit jika ada isi atau
laserasi
d) Gunakan sarung tangan untuk proteksi.
e) Batasi gerak pada kepala, leher dan punggung.
f) Monitor kemampuan Buang Air Besar.
g) Kolaborasi pemberian analgesik
h) Monitor adanya tromboplibitis
i) Diskusikan mengenai penyebab perubahan sensasi.
2) Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan jalan nafas terganggu
akibat spasme otot otot pernafasan, nyeri, hypoventilasi
Batasan karakteristik :
a) Perubahan kedalaman pernafasan.
b) Perubahan ekskursi dada.
c) Mengambil posisi tiga titik tumpu (tripod)
d) Bradipneu.
e) Penurunan tekanan ekspirasi.
f) Penurunan ventilasi semenit.
g) Penurunan kapasitas vital.
h) Dispneu.
i) Peningkatan diameter anterior-posterior.
j) Pernafasan cuping hidung.
k) Ortopneu.
l) Fase ekspirasi memanjang.
m) Pernafasan bibir.
n) Takipneu.
o) Penggunakan otot aksesorius untuk bernafas.
Faktor yang berhubungan :
a)
b)
c)
d)
e)

Ansietas
Posisi tubuh
Hiperventilasi
Obesitas
Kelelahan otot otot pernafasan.

Tujuan :
a) Status pernafasan : ventilation.

45

b) Airway patency.
c) Status vital sign.
Kriteria hasil :
a) Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak
ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu
bernafas dengan mudah dan tidak ada pursed lips).
b) Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik,
irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal dan tidak
ada suara nafas abnormal).
c) Tanda-tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah, nadi dan
pernafasan).
Intervensi :
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)
j)
k)

Buka jalan nafas, gunakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu.
Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi.
Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan.
Lakukan fisioterapi dada jika perlu.
Keluarkan sekret dengan batuk atau suction.
Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan.
Lakukan suction pada mayo.
Berikan bronkodilator bila perlu.
Berikan pelembab udara kassa basah NaCL lembab.
Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
Monitor respirasi dan status O2.

Terapi oksigen :
a) Bersihkan mulut, hidung dan sekret trakea.
b) Pertahankan jalan nafas yang paten.
c) Atur peralatan oksigenasi.
d) Monitor aliran oksigen.
e) Pertahankan posisi pasien.
f) Observasi adanya tanda-tanda hipoventilasi.
g) Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi.
Vital sign monitoring
a) Monitor TD, nadi, suhu dan RR.
b) Catat adanya fluktuasi tekanan darah.
c) Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan.
d) Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama dan setelah aktifitas.
e) Monitor kualitas dari nadi.

46

f)Monitor frekuensi dan irama pernafasan.


g) Monitor suara paru.
h) Monitor pola pernafasan abnormal.
i) Monitor suhu, warna dan kelembaban kulit.
j) Monitor sianosis perifer.
k) Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang melebar,
bradikardi dan peningkatan sistolik).
l) Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign.
3) Resiko syok (hypovolemik) berhubungan dengan perdarahan yang berlebih
pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler
Faktor Resiko :
a) Hipotensi.
b) Hipovolemi.
c) Hipoksemia.
d) Hipoksia.
e) Infeksi.
f) Sepsis.
g) Sindrom respons inflamasi sistemik.
Tujuan :
a) Syok preventif.
b) Syok managemen.
Kriteria Hasil :
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)
j)

Nadi dalam batas yang diharapkan.


Irama jantung dalam batas yang diharapkan.
Frekuensi nafas dalam batas yang diharapkan.
Irama pernafasan dalam batas yang diharapkan.
Natrium serum dalam batas normal.
Kalium serum dalam batas normal.
Klorida serum dalam batas normal.
Kalsium serum dalam batas normal.
Magnesium serum dalam batas normal.
PH darah serum dalam batas normal.

Hidrasi, indikator :
a)
b)
c)
d)

Mata cekung tidak ditemukan.


Demam tidak ditemukan.
TD dalam batas normal.
Hematokrit dalam batas normal.

Intervensi :

47

a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)

Monitor status sirkulasi TD, warna, kulit, suhu kulit, denyut jantung, nadi.
Monitor tanda inadekuat oksigenasi jaringan.
Monitor suhu dan pernafasan.
Monitor input dan output.
Pantau : Hemoglobin, Hematokrit, AGD dan elektrolit.
Monitor hemodinamika invasi yang sesuai.
Monitor tanda dan gejala asites.
Monitor tanda awal syok.
Tempatkan pasien pada posisi supine, kaki elevasi untuk meningkatkan

preload dengan tepat.


j) Lihat dan pelihara kepatenan jalan nafas.
k) Berikan cairan IV dan atau oral yang tepat.
l) Berikan vasodilator yang tepat.
m) Ajarkan keluarga dan pasien tentang tanda dan gejala datangnya syok.
n) Ajarkan keluarga dan pasien tentang langkah untuk mengatasi gejala syok.
Managemen Syok :
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)

Monitor fungsi neurologis.


Monitor fungsi renal (BUN)
Monitor tekanan nadi.
Monitor status cairan, input output.
Catat gas darah arteri dan oksigenasi dijaringan.
Monitor EKG.
Memanfaatkan pemantauan jalur arteri untuk meningkatkan akurasi

pembacaan tekanan darah.


h) Menggambar gas darah arteri dan memonitor jaringan oksigenasi.
i) Memantau tren dalam parameter hemodinamik (misalnya, CVP,
MAP, tekanan kapiler pulmonal/arteri).
j) Memantau faktor penentu pengiriman jaringan oksigenasi (misalnya,
PaO2 kadar hemoglobin SaO2, CO) jika tersedia.
k) Memantau tingkat karbon dioksida sublingual dan tonometry
lambung.
l) Memonitor gejala gagal pernafasan (misalnya, rendah PaO2
peningkatan PaCO2 tingkat, kelelahan otot pernafasan.
m) Monitor nilai laboratorium (misalnya, CBC dengan diferensial)
koagulasi profil, ABC, tingkat laktat, budaya dan profil kimia).
Masukan dan memelihara besarnya kebosanan akses IV.

48

4) Resiko perdarahan berhubungan dengan penurunan faktor faktor


pembekuan (trombositopeni).
Batasan Karakteristik :
a) Aneurisme
b) Sirkumsisi
c) Defisiensi pengetahuan
d) Koagulopati intravaskuler diseminata
e) Riwayat jatuh
f) Gangguan gastroinstestinal (misalnya : ulkus lambung)
g) Gangguan fungsi hati (sirosis, hepatitis)
h) Koagulopati inheren (trombositopenia)
Kriteria Hasil :
a)
b)
c)
d)
e)
f)

Tidak ada hematuria dan hematemesis


Kehilangan darah yang terlihat
Tekanan darah dalam batas normal sistol dan diastole
Tidak ada pendarahan pervagim
Tidak ada distensi abdominal
Hemoglobin dan hemotokrit dalam batas normal

Intervensi :
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)

Monitor ketat tanda tanda perdarahan


Catat nilai Hb dan Ht sebelum dan sesudah terjadinya perdarahan
Monitor nilai laboratorium (koagulasi) trombosit.
Monitor TTV
Pertahankan bedrest selama perdarahan
Lindungi pasien dari trauma penyebab perdarahan
Identifikasi penyebab perdarahan

Sedangkan Menurut Sari Kartika ( 2013), intervensi keperawatan pada


pasien dengan Dengue Hemorrhagic Fever.
1. Hipertermi

berhubungan

dengan

pelepasan

asam

arakidonat

pada

hipotalamus sekunder terhadap pelepasan zat pirogen.


Intervensi
a) Kaji saat timbulnya nyeri
Rasional : untuk mengidentifikasi pola demam
b) Kaji tanda tanda vital tiap 8 jam
Rasional : tanda vital dipakai sebagai pedoman untuk mengetahui
keadaan umum pasien
c) Beri penjelasan tentang penyebab demam

49

Rasional : penjelasan yang diberikan dapat membantu menurunkan


kecemasan
d) Beri penjelasan pada pasien/ keluarga tentang hal hal yang dapat
dilakukan untuk mengatasi demam
Rasional : keterlibatan keluarga dalam membantu proses penyembuhan
e) Pertahankan tirah baring
Rasional : mengurangi peningkatan metabolisme tubuh yang dapat
mempengaruhi peningkatan suhu tubuh
f) Anjurkan pasien untuk banyak minum 2,5 liter/ 24 jam
Rasional : dalam kondisi demam terjadi peningkatan evaporasi yang
memicu timbulnya dehidrasi sehingga memerlukan asupan cairan yang
adekuat.
g) Berikan kompres hangat
Rasional : menghambat pusat simpisis di hipotalamus sehingga terjadi
vasodilatasi

kulit

dengan

merangsang

kelenjar

keringat

untuk

mengurangi panas tubuh melalui penguapan


h) Anjurkan untuk memakai pakaian yang dapat menyerap keringat
Rasional : kondisi kulit yang lembab memicu timbulnya pertumbuhan
jamur serta mencegah timbulnya ruam kulit dan membantu proses
penguapan.
i) Kolaborasi untuk pemberian antipiretik
Rasional : untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada
hipotalamus.
2. Nyeri berhubungan dengan peningkatan stimulasi nosiseptor sekunder
terhadap peradangan (proses inflamasi).
Intervensi :
a) Mengkaji tingkat nyeri dengan rentang nyeri skala 0 10
Rasional : untuk mengetahui tingkat nyeri yang dialami pasien sesuai
dengan respon individu terhadap nyeri.
b) Beri posisi dan suasana yang nyaman
Rasional : membantu menurunkan ketegangan yang dapat meningkatkan
nyeri.
c) Kaji bersama pasien penyebab nyeri yang dialami

50

Rasional : membantu pasien dalam memilih cara yang nyaman untuk


mengurangi nyeri.
d) Ajarkan pada pasien metode distraksi dan relaksasi selama nyeri akut
Rasional : dapat membantu mengalihkan perhatian dan mengurangi
nyeri.
e) Ajarkan tindakan penurunan nyeri invasif
Rasional : mengurangi nyeri tanpa beban/ tanpa rasa yang menyakitkan
f) Kolaborasi dengan dokter pemberian analgetik
Rasional : dapat menurunkan nyeri secara optimal.
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan mual, anoreksia sekunder terhadap penekanan pada
daerah gaster.
Intervensi :
a) Kaji kebiasaan diit pasien
Rasional : mengetahui kecukupan asupan nutrisi
b) Kaji adanya keluhan mual
Rasional : membantu cara mengatasi mual
c) Beri makanan yang mudah dicerna
Rasional : mengurangi kelelahan saat makan
d) Hidangkan makanan sedikit tapi sering
Rasional : adanya hepatomegali dapat menekan saluran gastrointestinal
dan menurunkan kapasitasnya
e) Jelasakan manfaat nutrisi untuk proses penyembuhan
Rasional : meningkatkan pengetahuan pasien tentang nutrisi sehingga
motivasi untuk makan meningkat
f) Berikan reinforcement saat pasien mau dan berusaha menghabiskan
makanan yang disediakan
Rasional : motivasi meningkatkan kemauan makan
g) Pertahankan hygiene mulut baik sebelum dan sesudah makan
Rasional : akumulasi partikel dimulut dapat menambah baud an rasa tak
sedap yang dapat menurunkan nafsu makan
h) Timbang BB
Rasional : sebagai patokan untuk mengetahui kemajuan atau proses
penyembuhan.
4. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan plasma darah
sekunder terhadap reaksi immunologi
a) Kaji keadaan umum pasian dan tanda tanda vital

51

Rasional : menetapkan data dasar pasien untuk mengetahui dengan cepat


penyimpangan dan keadaan normal
b) Observasi adanya tanda tanda syok
Rasional : agar dapat segera dilakukan tindakan untuk menangani
c) Anjurkan pasien untuk banyak minum
Rasional : asupan cairan sangat diperlukan untuk menambah volume
cairan
d) Kaji tanda dan gejala dehidrasi
Rasional : untuk mengetahui penyebab deficit volume cairan tubuh
e) Observasi input dan output
Rasional : untuk mengetahui keseimbangan cairan
f) Kolaborasi pemberian cairan intravena
Rasional : pemberian cairan itravena sangat penting karena langung
masuk kepembuluh darah.
5. Resiko syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan sekunder
terhadap pembesaran kapiler
a) Monitor KU pasien
Rasional : untuk memantau kondisi pasien selama perawatan
b) Observasi tanda tanda vital
Rasional : observasi tanda vital terus menerus untuk antisipasi adanya
shock.
c) Monitor tand a- tanda perdarahan
Rasional : pendarahan yang cepat diketahui dapat segera ditangani
d) Jelaskan pada keluarga tentang perdarahan yang mungkin terjadi
Rasional : dengan memeberi penjelasan tanda tanda syok dan

2.6.4

perdarahan dapat segera diketahui.


e) Cek darah lengkap (Hb, HT)
Rasional : untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah
f) Kolaborasi untuk melakukan tindakan transfusi
Rasional : untuk mengganti komponen darah yang hilang
g) Kolaborasi pemberian hemostatikum
Rasional : untuk membantu menghentikan perdarahan
Evaluasi
Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang merupakan

perbandingan yang sistematis dan terencana antara hasil akhir yang teramati dan
tujuan atau kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan ( Asmadi, 2008).

52

1) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan


intravaskuler, interstisial, atau intraseluler.
Kriteria Hasil :
a) Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine
normal, HT normal.
b) Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal
c) Tidak ada tanda dehidrasi, elastisitas tugor kulit baik,membrane
mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebih.
2) Nyeri akut
Kriteria hasil
a) Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan
tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
b) Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen
nyeri
c) Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
d) Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
e) Tanda vital dalam rentang normal.
3) Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue
Kriteria Hasil :
a) Suhu tubuh dalam rentang normal
b) Nadi dan RR dalam rentang normal
c) Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing
4) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang
menurun
Kriteria Hasil :
a) Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan
b) Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan
c) Tidak ada tanda tanda malnutrisi
d) Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan dari menelan
e) Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti.
5) Kurang Pengetahuan
Kriteria hasil :
a)

Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit,

kondisi, prognosis, dan pengobatan.

53

b)

Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yan dijelaskan

secara benar.
c)
Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang
dijelaskan perawat/ tim kesehatan lainnya.
6) Ketidakefektifan perfusi jaringan parifer jaringan berhubungan dengan
kebocoran plasma
Kriteria Hasil :
a) Tekanan sistole dan diastole dalam rentang normal.
b) Tidak ada tanda-tanda peningkatan intrakranial
7) Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan jalan nafas terganggu akibat
spasme otot otot pernafasan, nyeri, hipoventilasi.
Kriteria hasil :
a) Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada
sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas
dengan mudah dan tidak ada pursed lips).
b) Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama
nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal dan tidak ada suara
nafas abnormal).
c) Tanda-tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah, nadi dan
pernafasan).
8) Resiko syok (hypovolemik) berhubungan dengan perdarahan yang berlebih
pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler
Kriteria Hasil :
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)
j)

Nadi dalam batas yang diharapkan.


Irama jantung dalam batas yang diharapkan.
Frekuensi nafas dalam batas yang diharapkan.
Irama pernafasan dalam batas yang diharapkan.
Natrium serum dalam batas normal.
Kalium serum dalam batas normal.
Klorida serum dalam batas normal.
Kalsium serum dalam batas normal.
Magnesium serum dalam batas normal.
PH darah serum dalam batas normal.

54

9) Resiko perdarahan berhubungan dengan penurunan faktor faktor


pembekuan (trombositopeni).
Kriteria Hasil :
a)
Tidak ada hematuria dan hematemesis
b)
Kehilangan darah yang terlihat
c)
Tekanan darah dalam batas normal sistol dan diastole
d)
Tidak ada pendarahan pervaginam
e)
Tidak ada distensi abdominal
f)Hemoglobin dan hemotokrit dalam batas normal