Anda di halaman 1dari 23

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Bullying adalah tipe spesifik dari agresi yang dimaksudkan untuk mengganggu atau
menyakiti pihak lain yang lebih lemah secara berulang-ulang oleh kelompok atau
individu yang lebih kuat (Nansel, Overpeck, Haynie, Ruan, & Scheidt, 2003). Sebelum
teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat, mayoritas penelitian hanya
menyelidiki bullying pada ruang lingkup sekolah, atau disebut dengan bullying
tradisional.
Olweus (2012) berasumsi bahwa fenomena bullying di dunia maya atau
cyberbullying memiliki tingkat prevalensi yang masih rendah dan tidak meningkat dari
waktu ke waktu. Meta analisis pada 80 studi yang relevan membuktikan bahwa
cyberbullying memiliki tingkat prevalensi yang lebih rendah daripada bullying
tradisional (Modecki, Minchin, Harbaugh, Guerra, & Runions, 2014). Meski demikian,
secara umum cyberbullying telah menjangkit anak-anak dan remaja di berbagai negara
terlepas dari latar belakang budaya, agama, dan politik. Pada tahun 2012 lembaga riset
global Ipsos bekerjasama dengan Reuters merilis hasil survey online mengenai
cyberbullying

dengan

melibatkan

18.687

responden

di

24

negara.

Ipsos

mengungkapkan, 12% dari responden mengaku bahwa anak mereka telah mengalami
cyberbullying dan 26% mengaku telah mengetahui seorang anak di komunitas atau
lingkungan mereka mengalami hal yang serupa.
Cyberbullying juga telah menggejala di masyarakat Indonesia. Survey dari
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo, 2013) yang didukung oleh
UNICEF pada tahun 2011 dan 2012 terhadap 400 anak-anak di 11 provinsi Indonesia
menemukan, 13% dari responden, baik yang ada di desa maupun di kota, telah menjadi
korban cyberbullying selama tiga bulan sebelumnya. Mayoritas responden mengaku
bahwa mereka sering mendapat ejekan dan ancaman secara online. Survey global dari
Ipsos (2012) mengungkapkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke dua setelah India
dalam kasus cyberbullying. Mayoritas responden di Indonesia mengaku jika
cyberbullying sering diekspresikan melalui jejaring sosial facebook dan sangat jarang
terjadi di dalam media email. Pada penelitian dengan sampel 102 siswa SMP di
Yogjakarta juga ditemukan sebanyak 80% siswa memiliki pengalaman sebagai korban
cyberbullying (Safaria, 2016).
1

Beberapa studi empiris membuktikan bahwa cyberbullying merugikan korban


dan pelaku cyberbullying itu sendiri. Setelah meninjau 1.365 penelitian, Kowalski,
Giumetti, Schroeder, & Lattanner (2014) menyimpulkan, korban cyberbullying
berkorelasi secara positif dengan stres, depresi, keinginan bunuh diri, kecemasan,
kesepian, simtom somatik, permasalahan perilaku dan emosi, konsumsi alkohol dan
narkoba serta berkorelasi negatif dengan kepuasan hidup, harga diri (self-esteem), dan
perilaku prososial. Dampak yang dialami pelaku cybebullying hampir sama dengan
korban cyberbullying, yaitu peningkatan pada konsumsi alkohol dan narkotika,
kecemasan, depresi, dan kesepian serta penurunan pada kepuasan hidup, harga diri, dan
prestasi akademik.
Menurut Hemphill, Kotevski, & Heerde (2015) penelitian terdahulu termasuk
penelitian-penelitian yang telah direview oleh Kowalski et al. (2014) tidak dapat
dijadikan acuan dalam memahami dampak cyberbullying. Penelitian tersebut rata-rata
masih terkontaminasi dengan faktor-faktor lain yang terkait dengan permasalahan
perilaku dan mental. Melalui penelitian longitudinal selama satu tahun dan mengontrol
faktor risiko yang berasal dari diri sendiri, teman sebaya, dan keluarga, Hemphill et al
(2015) melaporkan bahwa korban cyberbullying cenderung mengalami peningkatan
simtom depresi dibandingkan keinginan bunuh diri dan konsumsi obat-obatan terlarang
dan alkohol. Sedangkan pelaku cyberbullying terkait positif dengan pencurian (>$10
item) dan tidak berkorelasi dengan konsumsi alkohol atau narkotika, simtom depresi,
dan prestasi akademik. Bukti empiris tentang risiko cyberbullying telah menegaskan
bahwa fenomena cyberbullying patut memperoleh perhatian dari praktisi dan akademisi,
khususnya di Indonesia.
Indonesia sebagai negara dengan budaya kolektif memiliki jumlah pelaku yang
lebih banyak dibandingkan dengan korban cyberbullying itu sendiri (Kowalski et al.,
2014). Hal tersebut memberikan peluang bagi peneliti di Indonesia untuk mereduksi
pelaku cyberbullying di Indonesia. Dengan mereduksi jumlah pelaku cyberbullying
secara tidak langsung dapat mereduksi korban cyberbullying.
Sejauh

ini

telah

banyak

ditemukan

penelitian

yang

bertujuan

untuk

mengidentifikasi faktor penentu pelaku cyberbullying. Studi terkait faktor penentu


cyberbullying adalah penting, karena mereka memungkinkan peneliti lainnya untuk
membuat profil dari pelaku dan dengan demikian memberikan kebijakan dan praktisi

sekolah dengan informasi berharga tentang target intervensi. Faktor terkait jenis kelamin
menunjukkan hasil yang tidak konsisten dari tiap penelitian cyberbullying (Heirman &
Walrave, 2012). Melalui studi meta analisis, Kowalski et al. (2014) menyimpulkan
bahwa perbedaan jenis kelamin tidak berdampak signifikan pada kecenderungan
cyberbullying. Barlett & Coyne (2014) menegaskan, perbedaan jenis kelamin dapat
menjelaskan cyberbullying apabila dimoderasi oleh usia. Perempuan melakukan
cyberbullying pada awal sampai pertengahan masa remaja dibandingkan dengan lakilaki sementara laki-laki melakukan cyberbullying selama masa remaja akhir. Secara
keseluruhan, hasil menunjukkan bahwa laki-laki lebih berpeluang menjadi pelaku
cyberbulling daripada perempuan.
Berangkat dari teori sosial kognitif yang dipelopori oleh Bandura, Renati,
Berrone, & Zanetti (2012) menemukan adanya korelasi antara moral dissengagement
dan pelaku cyberbullying. Diketahui bahwa cyberbullying merupakan tindakan amoral,
namun ketika seseorang memiliki tingkat moral dissengagement yang tinggi dia
cenderung merestrukturisasi pikiran tentang cyberbullying agar diterima secara moral
tanpa merubah perilaku dan standar moral. Almeida, Correia, Marinho, & Garcia (2012)
menambahkan bahwa keterkaitan moral dissengagement dan pelaku cyberbullying lebih
signifikan pada remaja awal dibandingkan remaja pertengan sampai akhir.
Ada kecenderungan bagi pelaku bullying tradisional untuk beralih ke
cyberbullying melalui mekanisme moral dissengagement. Bauman (2010) berasumsi
bahwa ketidakmampuan seseorang untuk mengamati reaksi korban secara langsung
dapat membangun kepercayaan bahwa perbuatannya hanya lelucon dan tidak merugikan
korban serta menganggap tindakannya tidak berbahaya karena tidak ada serangan fisik
seperti pemukulan. Sebaliknya, bagi individu yang telah melakukan cyberbullying tidak
melanjutkan tindakannya di dunia nyata atau melakukan bullying langsung (face to
face). Pola tersebut selaras dengan hasil penelitia dari Rey, Elipe, & Ortega-Ruiz
(2012), bahwa walaupun bullying tradisional dapat memprediksi cyberbullying, namun
sebaliknya cyberbullying tidak mampu memprediksi bullying tradisional.
Teori strain umum menjelaskan, kecenderungan penyimpangan perilaku
dipengaruhi oleh frustasi dan kemarahan (Patchin & Hinduja, 2011). Faktanya, frustasi
dan kemarahan cenderung diproduksi dari pengalaman menjadi korban bullying. Oleh
karena itu korban bullying berpotensi menjadi pelaku cyberbullying, karena mereka

menganggap bahwa cyberbullying merupakan salah satu bentuk adaptasi atau


mekanisme coping yang digunakan dalam merespon emosi negatif, seperi frustasi dan
kemarahan (Den Hamer, Konijn, & Keijer, 2013).
Faktor

terkait

teknologi

komunikasi

turut

menyumbang

peningkatan

cyberbullying. Walrave & Heirman, 2011 menyatakan bahwa frekuensi penggunaan


internet lebih dari satu jam per hari dan ketrampilan mengaplikasikan internet dan
komputer merupakan penentu cyberbullying. Sementara Mishna et al. (2012)
menyimpulkan bahwa prediktor cyberbullying adalah kecenderungan memberikan
informasi pribadi pada orang asing dan membagi password email pada teman.
Dilihat dari karakteristiknya, cyberbullying adalah bagian dari agresi karena ada
unsur kesengajaan untuk melukai atau merugikan orang lain. Beberapa penelitian
lainnya menggunakan teori agresi untuk mengungkapkan prediktor cyberbullying. Salah
satu teori agresi yang digunakan adalah teori belajar sosial milik Bandura. Di dalam
teori tersebut menekankan pentingnya panutan sebagai media belajar seseorang untuk
memahami, menafsirkan, menyikapi, dan menanggapi peristiwa di lingkungan fisik dan
sosial.
Secara umum, remaja awal dan pertengahan (usia 11-17 tahun) cenderung
mencari panutan dari media (Konijn, Bijvank, & Bushman, 2007). Milla (2006)
meyakini bahwa media audio-visual memiliki pengaruh yang lebih kuat pada khalayak.
Kekuatan pengaruh media audio-visual disebabkan media jenis ini tidak hanya mampu
mengoptimalkan pesan melalui pendengaran, melainkan juga penglihatan dan gerakan
sekaligus. Pesan bergerak memiliki daya tarik lebih dibandingkan pesan statis.
Media tidak hanya mengandung konten positif tapi juga negatif, seperti perilaku
kekerasan dan antisosal. Sayangnya, konten kekerasan dan antisosial tersebut dikemas
menjadi tontonan yang menghibur bagi remaja. Jadi tidak menutup kemungkinan jika
remaja lebih tertarik dengan tayangan negatif dibandingkan tayangan positif dan
edukatif (Strasburger, Jordan, & Donnerstein, 2010) dan dimungkinkan untuk
bereksperimen dengan berbagai perilaku amoral di kehidupan nyata.
Hasil penelitian membuktikan adanya dampak negatif yang ditimbulkan oleh
eksposur tayangan kekerasan. Anderson dan Bushman (2002) menemukan bahwa
partisipan yang memperoleh eksposur tayangan kekerasan mengalami peningkatan pada
pikiran agresi, perasaan marah, dan perilaku agresi. Villani (2001) menyatakan bahwa

eksposur tayangan kekerasan bukan hanya berdampak pada peningkatan agresi dan
kekerasan, tapi juga perilaku berisiko dan pergaulan bebas. Pada akhirnya, penelitian
pada konteks cyberbullying juga menemukan bukti ilmiah tentang korelasi yang positif
antara eksposur tayangan kekerasan dan cyberbullying (Calvete, Orue, Estevez,
Villardon, & Padilla, 2010; Fanti, Demetriou, & Hawa, 2012; Lam, Cheng, & Liu,
2013; Dittrick, Beran, Mishna, Hetheringtone, Shariff, 2013). Den Hamer et al. (2013)
menambahkan bahwa cyberbullying juga dapat diprediksi oleh eksposur pada tayangan
anti sosial. Tayangan antisosial memiliki ruang lingkup yang lebih luas daripada
kekerasan. Contoh tayangan antisosial yaitu kekerasan, pencurian, penyalahgunaan zat
terlarang, dan intimidasi seksual.
Meskipun efek eksposur media diyakini dapat memberi kontribusi pada
pembentukan agresi (termasuk cyberbullying), namun para ahli melihat bahwa hanya
dalam beberapa kondisi tertentu efek tersebut dapat berpengaruh secara substansial
(Ferguson & Kilburn, 2009). Penelitian meta analisis dari Milla (2006) mengungkapkan
bahwa jenis kelamin, situasi sosial dan jenis media audiovisual mampu memoderasi
hubungan eksposur media dan agresi. Bukti empiris lainnya juga menemukan adanya
peran kepribadian sebagai moderator eksposur media. Menurut Markey & Sherer (2009)
peserta dengan peningkatan level psychoticism cenderung mengalami permusuhan dan
memiliki tingkat kognisi agresi yang lebih tinggi setelah memperoleh eksposur tayangan
kekerasan daripada individu dengan tingkat psychoticism yang lebih rendah. Bushman
(1995) menyatakan, individu yang agresif juga lebih mungkin merasa marah dan
mengekspresikan perilaku bermusuhan setelah menonton rekaman video kekerasan
daripada individu yang memiliki tingkat trait agresivitas rendah.
Salah satu dimensi Big Five Personality, yaitu agreeableness dapat dijadikan
pertimbangan dalam menentukan efek negatif eksposur media. Costa, McCrae, & Dye
(1991) menyatakan bahwa psychoticism berhubungan dengan tingkat agreeableness
yang rendah (misalnya, tidak peduli dengan perasaan orang lain dan dingin) dan
conscientiousness yang rendah (misalnya, melanggar peraturan, tidak menepati janji,
dan bertindak tanpa berpikir). Penelitian lain juga menunjukkan bahwa trait agresi
berhubungan dengan tingkat neurotisme yang tinggi (misalnya, mudah marah, depresi,
dan emosional) dan agreeableness yang rendah (Sharpe & Desai, 2001). Karena
agreeableness cenderung berasosiasi dengan psychoticism dan trait agresivitas maka

diperkirakan bahwa agreeableness juga dapat memoderasi efek negatif dari eksposur
media, yaitu individu yang rendah pada tingkat agreeableness mudah terpengaruh oleh
eksposur media dibandingkan dengan individu yang memiliki tingkat agreeableness
tinggi. Lebih khusus, agreeableness ditengarai mampu memoderasi hubungan eksposur
tayangan antisosial dan cyberbullying. Oleh karena itu, pada penelitian ini mencoba
untuk menggunakan perspektif baru dalam memahami hubungan antara eksposur
tayangan antisosial dan cyberbullying. Apabila penelitian sebelumnya mayoritas
mengeksplorasi asosiasi sederhana antara eksposur media dan cyberbullying, maka
penelitian ini berfokus pada peran moderator yang dimainkan oleh agreebleness
terhadap eksposur tayangan antisosial dan cyberbullying.
Berangkat dari latar belakang yang telah diuraikan, rumusan masalah pada
penelitian ini adalah: Apakah eksposur tayangan antisosial berhubungan dengan
cyberbullying? dan Apakah hubungan eksposur tayangan antisosial dan cyberbullying
dimoderasi oleh agreeableness?. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
hubungan eksposur tayangan antisosial dan cyberbullying dan mengetahui hubungan
eksposur tayangan antisosial dan cyberbullying yang dimoderasi oleh agreeableness.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi ilmu
pengetahuan di bidang psikologi sosial, khususnya sebagai bahan referensi bagi
penelitian selanjutnya mengenai pengaruh agreeableness untuk memoderasi eksposur
tayangan antisosial dan cyberbullying. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat
menjadi bahan masukan bagi para praktisi dan profesional untuk mereduksi dan
mencegah cyberbullying di kalangan remaja.

TINJAUAN PUSTAKA
Cyberbullying
Fenomena cyberbullying muncul seiring dengan perkembangan teknologi dalam dekade
terakhir. Sebagai fenomena baru, belum ada kesepakatan dari para peneliti mengenai
definisi cyberbullying. Tokunaga (2010) melakukan meta sintesa pada definisi
cyberbullying, dia menyimpulkan bahwa cyberbullying merupakan semua perilaku yang
dilaksanakan melalui media elektronik atau digital, oleh individu atau kelompok secara
berulang kali untuk menimbulkan kerugian atau ketidaknyamanan pada orang lain.
Beberapa ahli berdasarkan hasil penelitian empiris menyarankan jika komponen
cyberbullying harus terintegrasi dengan bullying. Dari definisi cyberbullying yang telah
disimpulkan oleh Tokunaga (2010) hanya memuat dua komponen bullying, yaitu
agresivitas dan frekuensi perilaku. Perbedaan kekuatan yang dimaksudkan di dalam
cyberbullying tidak mengacu pada fisik, popularitas, dan psikologis. Dua aspek yang
mungkin memberikan perbedaan kekuatan antara pelaku dan korban cyberbullying
adalah anonimitas dan kompetensi di dalam menggunakan teknologi (Slonje, Smith, &
Frisen, 2012). Dengan demikian cyberbullying didefinisikan sebagai semua perilaku
yang dilaksanakan melalui media elektronik atau digital, oleh individu atau kelompok
secara berulang kali untuk menimbulkan kerugian atau ketidaknyamanan pada korban
yang tidak bisa dengan mudah melindungi dirinya.
Cyberbullying dimanifestasikan melalui perilaku spesifik. Willard (2007)
memaparkan kategori cyberbullying mencakup (1) flamming, menggambarkan
penggunaan pesan elektronik dengan bahasa permusuhan dan vulgar; (2) slandering,
menyiratkan penghinaan secara online misalnya, mengirim gambar penghinaan atau
rumor tentang orang lain untuk merusak reputasi mereka atau hubungan sosial; (3)
impersonation / hacking, yaitu infiltrasi ke akun seseorang untuk mengirim pesan yang
membuat korban malu, menyebabkan kesulitan atau membahayakan korban, dan
merugikan reputasi korban dan persahabatan; (4) dafarmation, yaitu menyebarkan
rahasia atau informasi memalukan tentang seseorang; (5) exclusion, yaitu sengaja
mengeluarkan korban dari kelompok online; (6) harassment, yaitu berulangkali
mengirim pesan ancaman dan menakutkan. Sementara menurut Rivers & Noret (2010)
terdapat 10 kategori cyberbbullying, terutama pada media pesan tertulis dan email, yaitu

10 kategori utama mereka adalah: ancaman kekerasan fisik, kematian, kasar atau
kebencian, memberikan julukan, mengakhiri hubungan platonis, pelecehan seksual,
tuntutan / perintah, ancaman untuk merusak hubungan yang ada, ancaman terhadap
rumah / keluarga, dan ancaman melalui pesan berantai.
Hubungan Eksposur Tayangan Antisosial dan Cyberbullying
Media berperan penting pada khalayak. Media memberikan materi-materi pengetahuan
untuk dikonstruksi menjadi skema ke dalam fikiran manusia. Permasalahannya adalah
media bukan hanya menampilkan konten positif, tapi juga negatif. Media mengemas
unsur antisosial menjadi tayangan menarik.
Remaja rentan terhadap tayangan media karena memiliki otonomi dalam
mengakses media, seperti televisi dan internet (Strasburger et al., 2010). Hal tersebut
semakin diperparah dengan adanya ketertarikan yang lebih bagi remaja pada tayangan
antisosial (Strasburger et al., 2010). Dilihat dari karakteristik perkembangannya, remaja
cenderung mencari panutan menarik untuk melakukan identifikasi dan media
memberikan solusi atas kondisi tersebut (Konijn et al., 2007).
Penelitian empiris telah dilakukan untuk mengetahui dampak eksposur media
pada bullying. Dua penelitian telah menunjukkan peran penting eksposur tayangan
kekerasan dalam peningkatan perilaku bullying secara tatap muka (fisik dan verbal)
(Fanti et al., 2012; Dittrick et al., 2013). Selanjutnya, tiga penelitian lainnya
menemukan hubungan positif antara eksposur tayangan kekerasan dan perilaku
cyberbullying (Calvete et al., 2010; Lam et al., 2013). Penelitian cross-sectional
menyarankan bahwa cyberbullying tidak hanya dipengaruhi oleh eksposur tayangan
kekerasan, namun lebih luas dipengaruhi oleh eksposur media dengan konten antisosial
(Den Hamer et al., 2013).
Beberapa teori psikologi sosial atau kognisi dapat dijadikan acuan untuk
memberikan penjelasan mengenai efek eksposur media pada cyberbullying yang marak
terjadi di kalangan remaja. Teori belajar sosial menyarankan bahwa individu secara
vikarius belajar dari media. Model antisosial atau kekerasan yang ditayangkan di dalam
media bukan berarti secara serta merta ditiru. Perilaku cyberbullying diwujudkan atau
meningkat apabila lebih banyak memperoleh konsekuensi positif dibanding konsekuensi

negatif dari tayangan antisosial atau kekerasan (Calvete et al., 2010; Den Hamer et al.,
2013).
Sementara menurut kerangka priming kognitif eksposur tayangan kekerasan
mampu membentuk persepsi dan interpretasi bahwa dunia adalah tempat yang
berbahaya. Ketika seseorang dihadapkan oleh suatu konflik di kehidupan nyata maka
dia akan bereaksi secara agresi, dalam hal ini melakukan cyberbulying. Teori
neoasosiasi kognitif, (Berkowitz, 1984) menambahan bahwa tayangan antisosial
diinterpretasikan secara berbeda-beda oleh setiap orang. Seseorang cenderung memiliki
sikap positif terhadap cyberbullying apabila tindakan tersebut dianggap tepat
menguntungkan, dan dibenarkan secara moral.
Anderson & Bushman (2002) memperkenalkan General Aggresion Model untuk
menjelaskan efek eksposur media. GAM sangat bergantung pada struktur pengetahuan
kognitif (yaitu, skrip dan skema) dan menekankan tiga episode: input pribadi dan
situasional (eksposur tayangan antisosial); rute kognitif, afektif, dan penggerak
(arousal) yang mempengaruhi kondisi internal; dan proses penilaian dan pengambilan
keputusan yang mengarah pada hasil perilaku (Anderson & Bushman, 2002). Menurut
GAM input situasional (eksposur tayangan antisosial) mempengaruhi kondisi internal
seseorang melalui tiga rute langsung: kognisi, afeksi, dan penggerak. Setelah
memperhitungkan input situasional dan kondisi internal, individu kemudian terlibat
dalam penilaian dan proses pengambilan keputusan yang mengarah pada perilaku
cyberbullying.
Eksposur Tayangan Antisosial, Cyberbullying, dan Agreeableness
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa eksposur pada kekerasan dan tayangan
antisosial berpotensi dalam meningkatkan perilaku agresi, terutama cyberbullying.
Meski demikian hasil penelitian meta analisis meragukan, apakah eksposur media
memang berdampak buruk pada perilaku seseorang (Ferguson & Kilburn, 2009).
Asumsinya, tidak semua orang yang melakukan eksposur pada tayangan kekerasan pasti
mendapatkan efek negatif. Penelitian pada konteks agresi telah menemukan beberapa
faktor yang diidentifikasi dapat dijadikan sebagai prediktor dari efek media terhadap
agresivitas. Seperti studi yang dilakukan oleh Grana, Crusado, Andreul, Rivas, Pena, &

Brain, (2004), menemukan peran jenis kelamin sebagai prediktor dalam hubungan
antara eksposur media dengan agresivitas.
Faktor kepribadian dapat dijadikan pertimbangan sebagai prediktor hubungan
antara eksposur media dan cyberbullying. Salah satu dimensi kebribadian yang
mencerminkan motivasi individu untuk mempertahankan hubungan interpersonal yang
harmonis, dan untuk meminimalkan konflik interpersonal adalah agreeableness.
Dibandingkan dengan individu yang memiliki tingkat agreeableness rendah, individu
dengan tingkat agreeableness tinggi menanggapi konflik interpersonal secara lebih
konstruktif (Graziano, Jensen-Campbell, & Hair, 1996). Tingkat agreeableness tinggi
dapat mengontrol sumber temperamen sehingga seseorang lebih memilih untuk
menghindari taktik agresi, baik secara langsung maupun tidak langsung, ketika
dihadapkan pada konflik (Gleason, Jensen-Campbell, & Richardson, 2004).
Studi pada sampel Italia mengungkapkan bahwa anak-anak dan remaja yang
memiliki tingkat agreeableness rendah dan pencemas yang lebih tinggi cenderung
melakukan bullying (Menesini, Camodeca, & Nocentini, 2010; Tani et al., 2003).
Sebuah studi di antara anak-anak Amerika kembali menemukan korelasi negatif dengan
agreeableness, tapi tidak ada hubungan dengan Neuroticism (Bollmer, Harris, & Milich,
2006). Hasil yang sama juga ditemukan pada penelitian cyberbullying (Kokkinos et al.,
2013).
Kesimpulannya, cyberbullying merupakan perilaku agresi yang dilakukan secara
berulang melalui media komunikasi dan melibatkan ketidakseimbangan dari pelaku dan
korban. Perilaku cyberbullying dapat terjadi karena adanya eksposur tayangan
antisosial. Walaupun demikian, data empiris telah menunjukkan bahwa tidak selamanya
eksposur media berdampak pada sikap dan perilaku individu. Dimungkinkan ada faktor
lain yang mempengaruhi hubungan kedua variabel. Agreeableness diduga memainkan
paranan penting dalam memfasilitasi (agreeableness rendah) atau menghambat
(agreeableness tinggi) hubungan antara eksposur tayangan antisosial dan cyberbullying.

10

Kerangka Berpikir Penelitian


Gambar 1 mengilustrasikan kerangka berpikir dari hubungan langsung variabel
eksposur tayangan antisosial (X) terhadap variabel cyberbullying (Y) dan pengaruh
moderasi dari variabel agreeableness (M) terhadap hubungan variabel eksposur
tayangan antisosial (X) ke variabel cyberbullying (Y).
Gambar 1
Model Konseptual
Agreeableness
(M)
Eksposur
Tayangan Antisosial
(X)

Cyberbullying
(Y)

Hipotesis
H1: Eksposur tayangan antisosial berpengaruh terhadap cyberbullying.
H2: Agreeableness berpengaruh terhadap cyberbullying.
H3: Agreeableness memoderasi hubungan eksposur tayangan antisosial dan
cyberbullying.

11

METODE PENELITIAN
Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Prosedur dari metode penelitian
kuantitatif yang dipilih adalah desain korelasional. Desain korelasional bertujuan untuk
mengukur tingkat asosiasi (atau hubungan) antara dua variabel atau lebih dengan
menggunakan prosedur statistik (Creswell, 2012).
Subjek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di tiga Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang ada di Kota
Malang. SMP di bagi menjadi dua ketegori, yaitu SMP negeri dan dan SMP swasta.
Secara proporsional, diperoleh satu SMP negeri (SMPN 26) dan dua SMP swasta (SMP
Muhammadiyah 1 dan SMP Taman Siswa). Teknik pengambilan sampel yang
digunakan adalah purposive sampling. Purposive sampling dikenakan pada sampel yang
karakteristiknya sudah ditentukan dan diketahui lebih dulu berdasarkan ciri dan sifat
populasinya (Winarsunu, 2015). Kriteria sampel yang ditetapkan dalam penelitian ini
adalah sampel memiliki ponsel atau laptop/komputer.
Dari 328 siswa yang telah mengisi skala penelitian, diperoleh 314 sampel
penelitian yang memenuhi kriteria. Deskribsi subjek secara keseluruhan adalah berjenis
kelamin laki-laki dan perempuan, tercatat sebagai pelajar SMP kelas tujuh dan delapan,
serta memiliki rentang usia 12-16 tahun. Jumlah dan prosentase terkait karakteristik
subjek disajikan pada tabel 1.
Tabel 1
Deskribsi subjek penelitian (n = 314)

Karakteristik Subjek
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Jenjang Kelas
Tujuh (VII)
Delapan (VIII)
Usia
12 tahun
13 tahun
14 tahun
15 tahun
16 tahun

Jumlah

Prosentase

(subjek)

(%)

165
149

52.55
47.45

162
152

51.59
48.41

13
142
127
31
1

4.14
45.22
40.45
9.87
.32
12

Instrumen
The Cyberbullying Questionnaire (CBQ; Calvete et al., 2010) digunakan untuk
mengukur berbagai kategori cyberbullying. Terdapat tujuh ketegori cyberbullying di
dalam CBQ, yaitu flamming, outing, denigration, impersonation, picture/video clip
bullying, exclusion, dan harassement. CBQ memiliki Cronbachs sebesar .96.
Terdapat dua media cyberbullying di dalam CBQ, yaitu ponsel dan internet. Mengingat
saat ini ponsel memiliki fungsi yang beragam dan telah terkoneksi dengan internet maka
beberapa item di dalam CBQ yang tumpang tindih dikombinasikan. Dari 16 item yang
ada di CBQ dimodifikasi menjadi 12 item. Contoh modifikasi item Menulis gosip atau
lelucon mengenai seseorang dikombinasikan dengan Menyebarkan gosip atau lelucon
mengenai seseorang, Merekam atau memotret dengan HP saat seseorang sedang
dipaksa untuk bertingkah konyol dikombinasikan dengan Menyebarluaskan
foto/video tersebut (seseorang yang sedang dipaksa untuk bertingkah konyol),
Merekam atau memotret dengan HP saat seseorang sedang menyakiti orang lain secara
fisik dikombinasikan dengan Menyebarluaskan foto/video tersebut (seseorang yang
sedang menyakiti orang lain secara fisik), dan Merekam atau memotret dengan HP
saat seseorang sedang bermesraan dikombinasikan dengan Menyebarluaskan
foto/video tersebut (seseorang sedang bermesraan). Pertimbangan lain adalah terkait
penggunaan media komunikasi yang sering digunakan. Menurut survey Ipsos (2012)
menunjukkan bahwa pelaku cyberbullying di Indonesia lebih sering menggunakan
jejaring sosial (seperti facebook) dan sangat jarang menggunakan email untuk
menyerang korban. Contoh modifikasi item Mengirim komentar yang berisi ancaman
atau hinaan melalui email diganti dengan Mengirim komentar yang berisi ancaman
atau hinaan melalui jejaring sosial?. Terdapat lima pilihan jawan di setiap item, yaitu:
tidak pernah (1), 1-2 kali dalam dua bulan (2), 2-3 kali per bulan (3), 1-2 kali per
minggu (4), hampir setiap hari (5). Rentangan skor dalam skala adaptasi ini adalah 1260, semakin tinggi skor mengindikasikan semakin tinggi frekuensi cyberbullying. Hasil
pilot test pertama (sebelum modifikasi) menghasilkan nilai Cronbachs sebesar .67
dan terdapat delapan item yang harus dieliminasi. Hasil pilot test kedua menunjukkan
semua item tidak dieliminasi. Nilai Cronbachs pada skala pilot test kedua adalah .72
dengan rentangan corrected item-total correlation adalah .23 hingga .63.

13

Eksposur tayangan antisosial diukur dengan Content-based Media Exposure Scale


(C-ME; Den Hamer et al., 2013). C-ME terdiri dari 14 item pertanyaan yang
menggambarkan tayangan antisosial, prososial, dan netral. Tayangan antisosial yang
dimaksudkan di dalam C-ME mencakup kekerasan, seks, penyalahgunaan narkoba,
mengemudi secara ugal-ugalan, dan perilaku antisosial umum (misalnya, mencuri dan
menghancurkan properti seseorang). Tiga item yang memuat tayangan prososial dan
netral (seperti, berita) disertakan sebagai penyeimbang bagi 11 item terkait tayangan
antisosial. Cronbachs untuk 11 item yang merefleksikan konten media antisosial
adalah .84. Tipe skala yang digunakan adalah likert 5-titik dengan pilihan jawaban
sebagai berikut: tidak pernah (1), 1-2 kali dalam dua bulan (2), 2-3 kali per bulan (3), 12 kali per minggu (4), hampir setiap hari (5). Skala ini memiliki rentang skor 11-55,
semakin tinggi skor pada item yang terkait konten antisosial menunjukkan bahwa
semakin tinggi tingkat eksposur seseorang pada tayangan antisosial. Menurut C-ME,
eksposur diwujudkan melalui TV dan Internet, padahal saat ini ada banyak media yang
berpotensi mengandung tayangan antisosial. Sehingga di dalam penelitian ini
menggunakan internet, televisi, ponsel, DVD, dan game sebagai sumber tayangan
antisosial. Contoh item, Melalui televisi/internet, berapa kali Anda menyaksikan
adegan baku tembak? dirubah menjadi Melalui televisi/internet/game/HP/DVD,
berapa kali Anda menyaksikan adegan baku tembak?. Hasil pilot test menunjukkan
semua item tidak tereliminasi. Nilai Cronbachs pada skala adaptasi ini adalah .89
dengan rentangan corrected item-total correlation adalah .44 hingga .77.
Agreeableness diukur dengan Big Five Inventori (BFI; John & Srivastava, 1999)
yang telah diadaptasi oleh Ramdhani (2012) dengan nilai Cronbachs .76. Dimensi
agreeableness terdiri dari enam komponen, yaitu trust (pemaaf), keterusterangan (tidak
menuntut), altruisme (hangat), kepatuhan (tidak keras kepala), kesederhanaan (tidak
menunjukkan diri/pamer), dan lembut (simpatis). Dari sembilan item yang ada, lima
item bersifat favorable dan sisanya unfavorable. Pilihan jawaban dari setiap item
dimulai dari sangat tidak sesuai (1) hingga sangat sesuai (5). Contoh item, Saya adalah
seorang yang suka menyalahkan orang lain. Rentang skor pada skala adalah 9-45,
semakin tinggi skor menunjukkan semakin tinggi tingkat agreeableness seseorang.
Hasil pilot test pertama menunjukkan nilai Cronbachs .63 dan terdapat empat item
yang harus dieliminasi. Hasil pilot test kedua (setelah diperbaiki) menunjukkan bahwa

14

tidak ada item yang dieliminasi. Nilai Cronbachs total item adalah .70 dan rentangan
corrected item-total correlation adalah .21 hingga .58.
Prosedur Penelitian
Setelah meyerahkan surat penelitian dan memperoleh izin dari kepala sekolah dan guru
BK untuk melaksanakan penyebaran skala di sekolah yang bersangkutan, peneliti
menentukan rombongan belajar di masing-masing jenjang kelas secara acak. Pengisian
skala dilaksanakan di dalam kelas oleh peneliti sendiri. Meski di dalam lembar skala
sudah dijelaskan prosedur pengisian, peneliti tetap memberikan penjelasan kepada
siswa. Siswa diberikan batasan waktu untuk mengerjakan selama 15 menit dan
menghimbau

mereka

untuk

bertanya

apabila

ada

pernyataan

yang

masih

membingungkan. Peneliti memberikan permen pada siswa yang menyelesaikan semua


skala sebagai ucapan terima kasih.
Analisis Data
Analisis dalam penelitian ini menggunakan uji regresi berganda untuk menjelaskan efek
variabel agreeableness (M) dalam mempengaruhi kekuatan hubungan variabel eksposur
tayangan antisosial (X) terhadap variabel cyberbullying (Y) dengan persamaan:
Y = i5 + 1X + 2M + 3XM + e5
Pada persamaan tersebut menunjukkan bahwa Y merupakan fungsi dari koefisien
X (1), M (2), serta interaksi X dan M (3), yang divisualisasikan pada Gambar 2.
Prosedur analisis ini didukung oleh PROCESS yang dikembangkan oleh Hayes (2013).
PROCESS menggunakan regresi logistik atau ordinary least square (OLS) berbasis
kerangka path analytic untuk menyelidiki dan memvisualisasikan dua dan tiga kondisi
interaksi (efek kondisional variabel bebas pada berbagai nilai variabel moderator yang
berasal dari standar error) dalam model moderasi.
Gambar 2
Model statistik
X
1

M
XM

15

HASIL PENELITIAN
Pada hasil penelitian dibahas mengenai deskribsi variabel, deskribsi hubungan antar
variabel, dan hasil uji hipotesis. Data analisis berdasarkan uji outlier multivariat pada
tiga variabel berdasarkan mahalanobis distance, dengan kriteria >13.82; cooks
distance, dengan kriteria >.019; dan centered leverage value, dengan kriteria >.028.
Data point yang mengandung outlier harus dikeluarkan, sehingga diperoleh 285 subjek.
Deskribsi Variabel
Deskribsi variabel yang disajikan pada Tabel 1 memperlihatkan rentangan, rata-rata
(M), dan standar deviasi (SD) variabel cyberbullying, eksposur, dan agreeableness
sebagai landasan dalam menentukan klasifikasi skor subjek, yaitu rendah, sedang, atau
tinggi. Penentuan klasifikasi skor subjek diperoleh dari perbandingan antara rata-rata
skor subjek dengan rentangan skor variabel. Adapun hasil klasifikasinya adalah:
kecenderungan cyberbullying pada remaja berada dalam kategori rendah, M = 14.63
(SD = 3.52), Range = 12-60; kecenderungan eksposur berada dalam kategori rendah, M
= 26.4 (SD = 9.69), range = 11-55; dan tingkat agreeableness berada dalam kategori
sedang M = 33.21 (SD = 3.67), range = 9-45.
Tabel 2
Deskribsi variabel penelitian

Cyberbullying
Eksposur

Rentangan
12 - 60
11 - 55

M
15.05
23.14

SD
3.15
6.21

9 - 45

31.10

3.41

Tayangan
Antisosial
Agreeableness

Deskribsi Hubungan Antarvariabel


Untuk menguji hubungan antarvariabel digunakan metode product moment pearson
dengan p <.05 sebagai kriteria signifikansi. Tabel 3 memperlihatkan hasil analisis
berupa koefisien korelasi pearson beserta taraf signifikansinya. Interpretasi dari hasil
tersebut adalah cyberbullying memiliki hubungan yang signifikan dengan eksposur pada
media antisosial (r = .31, p = .00) dan agreeableness (r = -.12, p = .036). Di lain pihak,
hubungan tidak signifikan ditemukan pada eksposur dan agreeableness (r = -.004, p = .
95).

16

Tabel 3
Hubungan antarvariabel

Cyberbullying
Eksposur
Agreeableness

Cyberbullying
-

Eksposur
.31***
-

Agreeableness
-.12*
-.004
-

Catatan: * p<.05, *** p<.001.

Sumbangan Efektivitas Variabel


Tabel 4 memperlihatkan hasil analisis untuk sumbangan efektivitas variabel melalui
analisis regresi berjenjang. Pada langkah pertama diketahui bahwa variabel eksposur
mampu menjelaskan varians variabel cyberbullying sebesar 10% (R2 = .096) dan
terbukti signifikan (F = 29.949; p = .000). Ketika variabel agreeableness dimasukkan
pada langkah kedua, ditemukan R2 = .111 dengan Fchange = 4.799 yang signifikan (p = .
029). Hal ini berarti bahwa variabel agreeableness secara signifikan memiliki andil
sebesar 1% dalam menjelaskan varians dari variabel cyberbullying. Selanjutnya pada
langkah terakhir interaksi variabel eksposur dan agreeableness dimasukkan dan
diketahui R2 = .132 dengan Fchange = 6.745 yang signifikan (p = .010). Hal ini berarti
bahwa interaksi variabel eksposur dan agreeableness secara signifikan memiliki andil
dalam menjelaskan varians variabel cyberbullying sebesar 2%. Secara keseluruhan
dapat disimpulkan bahwa variabel eksposur, agreeableness, dan interaksi keduanya
(eksposur*agreeableness) mampu menjelaskan varians dari variabel cyberbullying
sebesar 13% (R2 = .132) dan sebesar 87% dijelaskan oleh variabel-variabel lain.
Tabel 4
Sumbangan efektivitas variabel

R2

Fchange

Eksposur
Langkah 2

.096

29.949***

Eksposur

.111

4.799*

.132

6.745**

Langkah 1

Agreeableness
Langkah 3
Eksposur
Agreeableness
Eksposur*Agreeableness
Catatan: * p<.05, ** p<.01, *** p<.001.

17

Uji Hipotesis
Uji Hipotesis Satu
Hasil uji pengaruh eksposur pada media antisosial terhadap cyberbullying menunjukkan
adanya pengaruh positif yang signifikan ( = .157; p = .000), artinya semakin tinggi
eksposur pada media antisosial maka semakin meningkat cyberbullying dan sebaliknya
semakin rendah eksposur pada media antisosial maka semakin menurun cyberbullying.
Dengan demikian H1 diterima. Hasil tersebut diilustrasikan pada Gambar 2.
Gambar 2
Pengaruh eksposur terhadap cyberbullying

Eksposur

Cyberbullying
= .157

***

Catatan: *** p<.001.

Uji Hipotesis Dua


Hasil uji pengaruh agreeableness pada cyberbullying menunjukkan adanya pengaruh
negatif yang signifikan ( = -.115; p = .036), artinya semakin tinggi agreeableness maka
semakin menurun cyberbullying dan sebaliknya semakin rendah agreeableness maka
semakin meningkat cyberbullying. Dengan demikian H2 diterima. Hasil tersebut
diilustrasikan pada Gambar 3.
Gambar 3
Pengaruh agreeableness terhadap cyberbullying
Eksposur

= -.115

Cyberbullying

Uji Hipotesis Tiga


Hasil uji moderasi variabel agreeableness terhadap hubungan eksposur dengan
cyberbullying menunjukkan adanya efek moderasi yang signifikan, yang diketahui dari
adanya pengaruh signifikan interaksi eksposur dan agreeableness pada cyberbullying (
= -.022; p = .005). Dengan demikian H3 diterima. Berdasarkan Gambar 4 diketahui
bahwa pada tingkat agreeableness sangat rendah (persentil 10th = 26.2410), rendah
(persentil 25th = 28.4980), sedang (persentil 50th = 30.8540), dan tinggi (persentil 75th =
33.7020), eksposur pada media antisosial memiliki pengaruh positif yang signifikan
pada cyberbullying. Di lain pihak pada tingkat agreeableness sangat tinggi (persentil
90th = 35.6020), eksposur pada media antisosial tidak memiliki efek yang signifikan

18

pada cyberbullying. Kesimpulannya adalah semakin rendah nilai cyberbullying maka


semakin kuat hubungan eksposur dan cyberbullying dan sebaliknya semakin tinggi nilai
agreeableness maka semakin lemah hubungan eksposur dan cyberbullying.
Gambar 4
Kondisi interaksi moderasi

19

DAFTAR RUJUKAN
Almeida, A., Correia, I., Marinho, S., & Garcia, D. (2012). Virtual but not less real: A
study of cyberbullying and its relations to moral disengagement and empathy. In
Q. Li, D. Cross, & P. K. Smith (Eds.), Cyberbullying in the global playground:
Research from international perspectives (pp. 223244). Malden, MA: Blackwell.
Anderson, C. A., & Bushman, B. J. (2002). Violent video games and hostile
expectations : A test of the general aggression model. Personality and Social
Psychology Bulletin, 28(12), 16791686.
Barlett, C., & Coyne, S. M. (2014). A meta-analysis of sex differences in cyber-bullying
behavior: The moderating role of age. Aggressive Behaviour, 40, 474488.
Bauman, S. (2010). Cyberbullying in a rural intermediate school: An exploratory study.
Journal of Early Adolescence, 30, 803833.
Berkowitz, L. (1984). Some effects of thoughts on anti- and prosocial influences of
media events: A cognitive neoassociation analysis. Psychological Bulletin, 95,
410427.
Bollmer, J. M., Harris, M. J., & Milich, R. (2006). Reactions to bullying and peer
victimization: Narratives, physiological arousal, and personality. Journal of
Research in Personality, 40, 803828.
Bushman, B. J. (1995). Moderating role of trait aggressiveness in the effects of violent
media on aggression. Journal of Personality and Social Psychology, 69, 950960.
Calvete, E., Orue, I., Estevez, A., Villardon, L., & Padilla, P. (2010). Cyberbullying in
adolescents: modalities and aggressors profile. Computers in Human Behavior,
26(5), 11281135.
Costa, P. T., McCrae, R. G., & Dye, D. A. (1991). Facet scales for agreeableness and
conscientiousness: A revision of the NEO Personality Inventory. Personality and
Individual Differences, 12, 887898.
Den Hamer, A., Konijn, E. A., & Keijer, M. G. (2013). Cyberbullying behavior and
adolescents' use of media with antisocial content: a cyclic process model.
Cyberpsychol Behav Soc Netw, 17(2), 74-81.
Dittrick, C. J., Beran, T. N, Mishna, F., Hetherington, S., & Shariff, S. (2013). Do
children who bully their peers also play violent video games? A Canadian national
study. J Sch Violence, 12, 297-318.
Fanti, K. A., Demetriou, A. G., & Hawa, V. V. (2012). A longitudinal study of
cyberbullying: Examining riskand protective factors. European journal of
developmental psychology, 9(2), 168-181.

20

Ferguson, C. J., & Kilburn, J. (2009). The Public health risks of media violence: a metaanalytic review. Journal of Pediatrics, 154(5), 759763.
Gleason, K. A., Jensen-Campbell, L. A., & Richardson, D. S. (2004). Agreeableness as a
predictor of aggression in adolescence. Aggressive Behavior, 30, 4361.
Grana, J. L., Cruzado, J. A., Andreu1, J. M., MunozRivas, M. J., Pena, M. E., Brain, P.
F. (2004). Effects of viewing videos of bullfights on spanish children. Aggressive
Behavior, 30, 1628.
Graziano, W. G., Jensen-Campbell, L. A., Hair, E. C. (1996). Perceiving interpersonal
conflict and reacting to it: The case for agreeableness. J Pers Soc Psychol, 70,
820835.
Heirman, W., & Walrave, M. (2012). Predicting adolescent perpetration in
cyberbullying: An application of the theory of planned behavior. Psicothema,
24(4), 614-620.
Hemphill, S. A., Kotevski, A., & Heerde, J. A. (2015). Longitudinal associations
between cyber-bullying perpetration and victimization and problem behavior and
mental health problems in young Australians. Int J Public Health, 60, 227237.
Ipsos. (2012). One in ten (12%) parents online, around the world say their child has
been cyberbullied, 26% say they know of a child who has experienced same in
their
community.
Retrieved
from
http://www.ipsos-na.com/newspolls/pressrelease.aspx?id=5462.
Kokkinos, M. (2013). Cyber-bullying, personality and coping among pre-adolescents
constantinos. International Journal of Cyber Behavior, Psychology and Learning,
3(4), 55-69.
Kemenkominfo. (2013). Pengguna internet di Indonesia 63 juta orang. Retrieved from
http://kominfo.go.id/index.php/content/detail/3415/Kominfo+
%3A+Pengguna+Internet+di+Indonesia+63+Juta+Orang/0/berita_satker#.Vt70On
197rd.
Konijn, E. A., Bijvank, M. N., & Bushman, B. J. (2007). I wish i were a warrior: The
role of wishful identification in the effects of violent video games on aggression in
adolescent boys developmental psychology. The American Psychological
Association, 43(4), 10381044.
Kowalski, R. M., Giumetti, G. W., Schroeder, A. N., Lattanner, M. R. (2014). Bullying
in the digital age: a critical review and meta-analysis of cyberbullying research
among youth. Psychol Bull, 104, 10731137.
Lam, L. T., Cheng, Z., & Liu, X. (2013). Violent online games exposure and
cyberbullying/victimization among adolescents. Cyberpsychology, Behavior, and
Social Networking, 16, 159165.

21

Liana, L. (2009). Penggunaan MRA dengan spss untuk menguji pengaruh variabel
moderating terhadap hubungan antara variabel independen dan variabel dependen.
Jurnal Teknologi Informasi DINAMIK, 14(2), 90-97.
Markey, P. M., & Scherer, K. (2009). An examination of psychoticism and motion
capture controls as moderators of the effects of violent video games. Computers
in Human Behavior, 25, 407411.
Menesini, E., Camodeca, M., & Nocentini, A. (2010). Bullying among siblings: The
role of personality and relational variables. British Journal of Developmental
Psychology, 28, 921939.
Milla, M, N. (2006). Pengaruh terpaan kekerasan media audiovisual pada kognisi
agresif dan afeksi agresif studi metaanalisis. Jurnal Psikologi, 33(2), 116.
Mishna, F., Khoury-Kassabri, M., Gadalla, T., & Daciuk, J. (2012). Risk factors for
involvement in cyber bullying: Victims, bullies and bullyvictims. Children and
Youth Services Review, 34, 6370.
Modecki, K. L., Minchin, J., Harbaugh, A. G., Guerra, N. G., & Runions, K. C. (2014).
Bullying prevalence across contexts: A meta-analysis measuring cyber and
traditional bullying. Journal of Adolescent Health, 55, 602-611.
Nansel, T. R., Overpeck, M. D., Haynie, D. L., Ruan, W. J., & Scheidt, P. C. (2003).
Relationships between bullying and violence among U.S. youth. Archives of
Pediatric Adolescent Medicine, 157, 348-353.
Olweus, D. (2012). Cyberbullying: An overrated phenomenon? European Journal of
Developmental Psychology, 9, 520 538.
Patchin, J. W., & Hinduja, S. (2011). Traditional and nontraditional bullying among
youth: A test of general strain theory. Youth & Society, 43, 727751.
Ramdhani, N. (2012). Adaptasi bahasa dan budaya inventori big five. Jurnal Psikologi,
39(2), 189 207.
Renati R, Berrone C, Zanetti M. A. (2012). Morally disengaged and unempathic: Do
cyberbullies fit these definitions? An exploratory study, 15(8), 391-398.
Rey, R. D., Elipe, P., & Ortega-Ruiz, R. (2012). Bullying and cyberbullying:
Overlapping and predictive value of the co-occurrence. Psicothema, 24(4), 608613.
Rivers, I., & Noret, N. (2010). I h8 u: Findings from a five-year study of text and
email bullying. British Educational Research Journal, 36, 643671.

22

Safaria, T. (2016). Prevalence and impact of cyberbullying in a sample of Indonesian


Junior High School students. The Turkish Online Journal of Educational
Technology, 15(1), 82-91.
Sharpe, J. P., & Desai, S. (2001). The revised Neo Personality Inventory and the MMPI2 Psychopathology Five in the prediction of aggression. Personality and
Individual Differences, 31, 505518.
Slonje, R., Smith, P. K., & Frisn, A. (2012). Processes of cyberbullying, and feelings of
remorse by bullies: A pilot study. European Journal of Developmental
Psychology, 9, 244259.
Strasburger, V. C., Jordan, A. B., Donnerstein, E. (2010). Health effects of media on
children and adolescents. Pediatrics, 125(4), 756-67.
Tani, F., Greenman, P. S., Schneider, B. H., & Fregoso, M. (2003). Bullying and the big
five a study of childhood personality and participant roles in bullying incidents.
School Psychology International, 24(2), 131-146.
Tokunaga, R. S. (2010). Following you home from school: A critical review and
synthesis of research in cyberbullying victimization. Computers in Human
Behavior, 26(3), 277-287.
Villani, S. (2001). Impact of media on children and adolescents: A 10-year review of the
research. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry, 40, 392401.
Walrave, M., & Heirman, W. (2011). Cyberbullying: Predicting victimisation and
perpetration. Children & Society, 25(1), 59-72.
Willard, N. (2007). Educators guide to cyberbullying and cyberthreats. Eugene, OR:
Center for Safe and Responsible Internet Use,
http://www.cyberbully.org/docs/cbcteducator.pdf (diakses Januari 2016).
A General Model for Testing Mediation
and Moderation Effects
Amanda J. Fairchild & David P. MacKinnon Prev Sci (2009) 10:8799

23