Anda di halaman 1dari 60

www.panoramio.

com

TUGAS AKHIR PENELITIAN


PELUANG DAN TANTANGAN PENERAPAN
TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT
PADA PENATAAN
KAWASAN STASIUN BOGOR
RATU RAHMI HILNA WULANDARI 37637

OUTLINE

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

BAB VI

Tujuan Penelitian
Batasan Penelitian

Tinjauan Pustaka
Kerangka Teori

Pendekatan Penelitian
Unit Amatan dan Unit Analisis

Variabel Penelitian
Cara Analisis Data

Seting dan konteks messo dari lokasi penelitian

Kondisi eksisting dan karakteristik kawasan


Komparasi kondisi eksisting dan karakteristik kawasan dengan teori TOD

Analisis SWOT
Strategi SWOT

Kesimpulan
Saran
2

Foto.inilah.com

BAB I

Latar Belakang
Rumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian

www.tempo.co

BAB I

LATAR BELAKANG
Kota Bogor sebagai
aglomerasi DKI
Jakarta

TOD sebagai konsep


untuk kawasan
transit
ntmc-korlantaspolri.blogspot.com

Tingkat mobilitas
Jakarta-Bogor yang
tinggi dan sebaliknya

Diperlukan
transportasi publik
massal yang
memadai
Kereta api sebagai
moda yang cocok

Sumber: Hasil Olahan Peneliti, 2015

Kota Bogor mulai


menata kawasan
stasiunnya

Kawasan Stasiun
Bogor yang masih
semrawut

Indentifikasi peluang
dan tantangan
penerapan TOD pada
penataan Kawasan
Stasiun Bogor

m.heibogor.com

antarabogor.com
4

RUMUSAN MASALAH
Kawasan stasiun
tidak lepas dari citra
yang tidak teratur
serta kekumuhan

Pemerintah kota sedang


berusaha melakukan
penataan terhadap stasiun
bogor dan kawasan
sekitarnya

Kawasan
stasiun masih
terlihat
semrawut

Teori-teori TOD yang ada saat ini masih mengacu pada kondisi negara maju,
untuk diterapkan di Indonesia butuh beberapa penyesuaian

PERTANYAAN PENELITIAN
Apa saja peluang dan tantangan penerapan konsep TOD pada penataan kawasan
stasiun Bogor?

TUJUAN PENELITIAN
1] Untuk membandingkan kondisi eksisting dan karakteristik kawasan Stasiun Bogor
dengan teori TOD
2] Untuk mengidentifikasi peluang dan tantangan penataan kawasan Stasiun Bogor
berbasis transit
3] Untuk merumuskan strategi penataan kawasan Stasiun Bogor berbasis transit

BATASAN PENELITIAN:
RUANG LINGKUP LOKASI

Deliniasi Kawasan Stasiun Bogor

Kawasan Stasiun Bogor dalam Skala Kota Bogor

Sumber: Google Maps, diolah 2015

Kawasan Stasiun Bogor dalam radius 400 m-500 m


dari stasiun sesuai dengan konsep walkable Transit
Oriented Development dan tingkat kenyamanan
pejalan kaki di Indonesia. Selain itu ruang lingkup
lokasi ini ditentukan berdasarkan deliniasi Kawasan
Stasiun Bogor pada RTBL Stasiun Bogor.

kabarbogor.net

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Transportasi
Transportasi erat kaitannya dengan ilmu perencanaan wilayah dan kota

Perencanaan Transportasi
Empat tahapan perencanaan transportasi: trip generation, trip
distribution, modal split dan traffic assignment

Perubahan paradigma transportasi


Supply follows demand menjadi demand follows supply

Interaksi transportasi dengan guna lahan


Transportasi akan mempengaruhi tata guna lahan, begitu juga sebaliknya
tata guna lahan akan mempengaruhi tranportasi

TOD
(1) Pengertian, (2) Manfaat, (3) Prinsip, (4) Tipologi Stasiun

Analisis SWOT

Deduksi teori
Prinsip Penting TOD

Kepadatan

Jarak

Keberagaman

Desain

Aksesibilitas

Parkir
Kerjasama

Bangunan
Perumahan
Lapangan kerja

Stasiun transit
dengan pusat
kegiatan
Stasiun transit
dengan tempat
pergantian moda
Guna lahan

ITDP (2013)

Peneliti
(2015)

Chen (2010)

Ditmar dan Ohland


(2004)

Dunphy, dkk (2003)

Stasiun
Kawasan
Pejalan kaki

Stasiun transit
Pedestrian
Pesepeda
Kendaraan
bermotor
Sepeda
Peran investor

Sumber: Hasil Olahan Peneliti, 2015

KERANGKA TEORI

10

Sumber: Hasil Olahan Peneliti, 2015

11

mbaratna.com

BAB III

PENDEKATAN PENELITIAN
Deduktif

Kuantitatif

UNIT AMATAN
Kawasan Stasiun Bogor yang
terdiri dari sebagian kelurahan
Cibogor, Kebon Kelapa, Pabaton
dan kelurahan Ciwaringin
Kecamatan Bogor Tengah

Kualitatif

UNIT ANALISIS
Prinsip keberhasIlan TOD yang
dideduksi dari teori-teori TOD
serta hubunganya dengan
karakteristik Kawasan Stasiun
Bogor

12

VARIABEL PENELITIAN
Tujuan
Mengidentifikasi Peluang

Variabel

Indikator

Parameter

Penataan Ruang

dan Tantangan Penerapan Kepadatan


TOD pada Penataan
(Density)

Kepadatan Bangunan

Bangunan/hektar

Semakin tinggi
kepadatan

Kawasan Stasiun Bogor

semakin baik
Kepadatan Perumahan

Perumahan/hektar

Semakin tinggi
kepadatan
semakin baik

Guna Lahan

Sirkulasi

Keberagaman Guna lahan

Jaringan jalan

Kepadatan lalu lintas

Variasi fungsi

Semakin banyak

Mixed Used Enthrophy

variasi fungsi

Index

semakin baik

Rendah

Semakin rendah
semakin baik

Kemudahan

Mudah disebrangi

Semakin mudah

pedestrian dan dilalui

semakin baik

kendaraan non bermotor


Kejelasan arah

Jelas

Semakin jelas
semakin baik

Pedestrian

Lebar pedestrian

Minimal 1 m

Semakin baik

Vegetasi pedestrian

Jarak antar vegetasi,

kualitas semakin
13
baik konektivitas

kerindangan vegetasi

VARIABEL PENELITIAN (2)


Tujuan
Mengidentifikasi Peluang

Variabel
Sirkulasi

Parkir

dan Tantangan Penerapan

Indikator

Parameter

Ketersediaan

Tersedia

Jika ter sedia maka baik

Kondisi

Fasilitas lengkap

Semakin lengkap fasilitasnya

TOD pada Penataan Kawasan

semakin baik

Stasiun Bogor

Kapasitas

Cukup untuk semua

Semakin banyak semakin

jenis transportasi

baik

Ketersediaan jenis

Semakin beragam semakin

moda

baik

Waktu headway

Semakin

<15 menit

tinggi

Integrasi Moda
Keberagaman jenis moda

Frekuensi moda

semakin baik
Konektivitas

Tinggi, titik

Semakin tinggi konektivitas

pemberhentian moda semakin baik


setiap 200m

Kerjasama Stakeholders
Peran Pemerintah

Ketersediaan

Semakin tersedianya

kebijakan dan rencana kebijakan atau rencana yang


Peran Operator

Ketersediaan rencana mendukung TOD semakin


baik

Peran Investor

Sumber: Analisis Peneliti, 2015

Keberadaan peran

14
Semakin berperan semakin

CARA ANALISIS

15

Sumber: Hasil Olahan Penulis, 2014

16

visitbogor.com

BAB IV

SETING DAN KONTEKS MESO


DARI LOKASI PENELITIAN

Stasiun Bogor
terletak di Kecamatan
Bogor Tengah
Stasiun bogor
letaknya berdekatan
dengan pusat-pusat
kegiatan dan tempattempat penting
Kawasan Stasiun
Bogor telah menjadi
pusat kegiatan
sekaligus simpul
17
pergerakan

18

tribunnews.com

BAB V

KONDISI EKSISTING DAN KARAKTERISTIK PENATAAN RUANG:


KEPADATAN BANGUNAN KAWASAN

Luas lahan terbagun


= 42% dan sisanya
adalah ruang
terbuka
Kepadatan
bangunan = 24
bangunan/Ha

19

KONDISI EKSISTING DAN KARAKTERISTIK PENATAAN RUANG:


KEPADATAN BANGUNAN KAWASAN (2)

KDB bangunanbangunan =
mayoritas 60%-80%
Ketinggian bangunan
= mayoritas 1-3
lantai

20

KONDISI EKSISTING DAN KARAKTERISTIK PENATAAN RUANG:


KEPADATAN HUNIAN KAWASAN

Hunian mayoritas
terletak di
Kelurahan
Pabaton dan
sebagian
Kelurahan
Cibogor
Kepadatan hunian
=12 unit/Ha
Presentase lahan
hunian = 12%
21

KONDISI EKSISTING DAN KARAKTERISTIK PENATAAN RUANG:


VARIASI GUNA LAHAN

Perdagangan dan
jasa = 49%
Hunian = 29%
Instansi
pemerintahan = 29%
Fasilitas publik =
10%

22

PERDAGANGAN DAN JASA

FASILITAS TRANSPORTASI, FASILITAS PENDIDIKAN, FASILITAS


TRANSPORTASI, FASILITAS PERIBADATAN, FASILITAS HIBURAN

HUNIAN

INSTANSI PEMERINTAHAN

23

Sumber: Dokumentasi peneliti, 2015

KONDISI EKSISTING DAN KARAKTERISTIK PENATAAN RUANG:


MIXED USE ENTROPY INDEX

Mixed use entropy


index kawasan = 0,4

24

KONDISI EKSISTING DAN KARAKTERISTIK PENATAAN RUANG:


JARINGAN JALAN

Penilaian kriteria
kepadatan lalu lintas
berdasarkan pada
nilai V/CR:
Tinggi (merah) =
>0,74
Sedang (jingga) =
0,45-0,74
Rendah (kuning) =
<0,45

25

No

Nama Jalan

Jalan Arteri
1 Jl. Sudirman
2 Jl. Ir H Djuanda
3 Jl. Kapten
Muslihat
4 Jl. Merdeka
5 Jl. Dr Semeru
Jalan Kolektor
6 Jl. MA. Salmun
7 Jl. Mayor Oking
8 Jl. Nyi Raja
Permas
9 Jl. Dewi Sartika
10 Jl. Sawo Jajar
11 Jl. Pengadilan
Jalan Lokal
12 Jl. Perintis
Kemerdekaan
13 Jl. Raya Mawar
14 Jl. Kartini
15 Jl. Ardio
16 Jl. CIbal Baru
17 Jl Sepatu
18 Gang Batu
19 Jl. Cibalok II
20 Jl. Pabaton
21 Gang Baru
22 Jl. Cibalok
23 Jl. Mekkah
24 Jl. Telepon
25 Jl. Gedong Sawah
26 Jl. Gedong Sawah IV
27 Jl. Gedong Sawah II

Jenis
Permukaan

Kondisi

V/C R

Aspal
Aspal
Aspal

Baik
Baik
Baik

0,45-0,74
0,45-0,74
>0,74

Aspal
Aspal

Baik
Baik

<0,45
<0,45

Aspal
Aspal
Aspal

Baik
Baik
Baik

<0,45
0,45-0,74
>0,74

Aspal
Aspal
Aspal

Baik
Baik
Baik

>0,74
0,45-0,74
>0,74

Aspal

Baik

>0,74

Aspal
Aspal
Aspal
Aspal
Aspal
Aspal
Aspal
Aspal
Aspal
Aspal
Aspal
Aspal
Aspal
Aspal
Aspal

Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik

<0,45
<0,45
<0,45
<0,45
<0,45
<0,45
<0,45
<0,45
<0,45
<0,45
<0,45
<0,45
0,45-0,74
0,45-0,74
<0,45

Kepadatan lalu lintas tinggi


di Jl Kapten Muslihat dan Jl Dewi Sartika

Kepadatan lalu lintas sedang


di J Ir H Djuanda dan Jl Gedong Sawah

Kepadatan lalu lintas rendah


di Jalan MA Salmun dan Jalan Cibalok
Sumber: Dokumentasi Peneliti 2015

26

KONDISI EKSISTING DAN KARAKTERISTIK PENATAAN RUANG:


JARINGAN JALAN (2)

Kemudahan bagi
para pejalan kaki :
ketersediaan media
untuk meyebrang
seperti jembatan
penyebrangan orang
(JPO) dan zebra
cross
Kemudahan bagi
pesepeda :
ketersediaan jalur
khusus untuk sepeda
27

KONDISI EKSISTING DAN KARAKTERISTIK PENATAAN RUANG:


JARINGAN JALAN (3)

Mayoritas jalan
memiliki pola
pergerakan dua arah

28

KONDISI EKSISTING DAN KARAKTERISTIK PENATAAN RUANG:


JALUR PEDESTRIAN MENUJU STASIUN TRANSIT

Lebar pedestrian
antara 1- 7 meter
Kategori pedestrian:
- Kondisi baik :
pedestrian dengan
kontruksi baik dan bisa
dilewati pejalan kaki
- Kondisi buruk :
pedestrian dengan
kondisi buruk dan/atau
tidak bisa dilewati
pejalan kaki
29

KONDISI EKSISTING DAN KARAKTERISTIK PENATAAN RUANG:


JALUR PEDESTRIAN MENUJU STASIUN TRANSIT (2)

Masih banyak
pedestrian yang
belum memiliki
peneduh
Sebagian besar
sudah memiliki
penerang

30

KONDISI PEDESTRIAN

Kondisi Pedestrian Baik


di Jalan Nyi Raja Permas dan Jalan Kapten
Muslihat
Pedestrian dengan peneduh dan penerang
di Jalan Kapten Muslihat dan Jalan Ir H Djuanda

Kondisi Pedestrian Buruk


di Jalan Dewi Sartika
Pedestrian Tanpa Peneduh dan Penerang
di Jalan MA Salmun dan Jalan Sawo Jajar

Sumber: Dokumentasi Peneliti 2015

KENYAMANAN PEDESTRIAN

31

KONDISI EKSISTING DAN KARAKTERISTIK PENATAAN RUANG:


PERPARKIRAN

Park and ride


Tempat parkir
khusus Taman Topi
Penitipan motor liar
Parkir on-street
Parkir on-street
rawan macet

32

PARK AND RIDE

Kondisi yang sangat baik


Lokasi di dalam stasiun
Jalur pedestrian yang nyaman
Pembayaran dengan e-money
Asuransi kendaraan
Atap peneduh untuk lahan parkir roda
empat
- Kapasitas : 3500 motor dan 500 mobil

Sumber: Dokumentasi Peneliti 2015

- Hanya menyediakan lahan untuk sepeda


motor
- Tarif lebih murah
- Atap peneduh
- Jasa cuci motor
- Jasa cuci helm
- Lebih mudah (tida menggunakan e-money)

TEMPAT PENITIPAN MOTOR LIAR

33

KONDISI EKSISTING DAN KARAKTERISTIK INTEGRASI MODA:


KETERSEDIAAN DAN FREKUENSI MODA

Angkutan kota : 15
trayek
Angkutan perkotaan
: 2 trayek
Paratransit ojek
Paratransit becak
Frekuensi angkot
rata-rata : 59
kendaraan/jam
Headway angkot
rata-rata : 1,47
menit
34

KONDISI EKSISTING DAN KARAKTERISTIK INTEGRASI MODA:


KONEKTIVITAS

35

KONDISI EKSISTING DAN KARAKTERISTIK


PERAN DAN KERJASAMA STAKEHOLDERS: PERAN PEMERINTAH
RTRW KOTA BOGOR 2011-2031

1] Rencana Struktur Ruang

Peremajaan kawasan
permukiman padat
tidak teratur

Pusat kota sebagai


kota lama (kawasan
bersejarah)
diarahkan kegiatan
perdagangan dan
jasa yang ada, pusat
perkantoran, dan
RTH skala kota

Recana
pengembangan
prasarana dan sarana
pejalan kaki
Rencana Jaringan Transportasi

Revitalisasi kawasan

WP A terletak di
kawasan
pemerintahan dan
perdagangan jasa
Rencana Penetapan Pusat
Pelayanan

Wilayah Pelayanan A

Pengendalian
perkembangan
kegiatan
perdagangan jasa

Pengembangan jalur
angkutan umum
massal dalam kota
Penataan Kawasan
Stasiun Bogor dan
sekitarnya.

36

KONDISI EKSISTING DAN KARAKTERISTIK


PERAN DAN KERJASAMA STAKEHOLDERS: PERAN PEMERINTAH (2)
2] Rencana Pola Ruang

3] Rencana Penetapan Kawasan Strategis

Perumahan berkepadatan sedang

Rencana Kawasan
Budidaya

Rencana Kawasan
Lindung

Stasiun bogor termasuk


kedalam kawasan
lindung cagar budaya

Kegiatan perdagangan dan jasa


skala kota dan regional di pusat
kota dengan konsep pengembangan
blok kawasan terpadu

Kegiatan perdagangan dan jasa


tematik yaitu jasa perkatoran
Membatasi penambahan
pendidikan tinggi di WP A
Penataan kawasan pemerintahan di
pusat kota

Kawasan Stasiun Bogor termasuk kedalam kawasan strategis kota (KSK) ekonomi dan
kawasan pusat kota
Menata kawasan perdagangan
Membangun taman kota di lahan Taman Topi dan Lembaga Pemasyarakatan Paledang
Penataan pedagang kaki lima
Pengembangan konsep Transit Oriented Development
37
Penyediaan prasarana sarana dan utilitas

RENCANA STRUKTUR RUANG

38

RENCANA POLA RUANG

39

RENCANA PENETAPAN KAWASAN


40
STRATEGIS

KONDISI EKSISTING DAN KARAKTERISTIK


PERAN DAN KERJASAMA STAKEHOLDERS: PERAN PEMERINTAH (3)
RENCANA PENATAAN LALU LINTAS DLLAJ
Penataan dan Pembangunan Infrastruktur
Optimalisasi JPO paledang-kapten muslihat
pemeliharan dan pemagaran median jalan mulai jembatan merah-perlintasan KA
Pembangunan shelter dan celukan samping LP Paledang
Pembangunan fasilitas pejalan kaki yang terintegrasi dengan JPO dan celukan angkot
Pembuatan jalur angkot di Jalan Mayor Oking
Pengecatan marka jalan
Pemasangan separator
Mobilisasi petugas pengatur lalu lintas yang jumlahnya disesuaikan dengan lokasi dan waktu

Penertiban dan penataan parkir di badan jalan


Penataan dan penertiban pedagang kaki lima
Pengalihan rute/re-routing sebagian trayek angkutan kota
Penataan dan penertiban pelayanan kendaraan tidak bermotor (becak)
Mengarahkan dan memfasilitasi pejalan kaki
Penindakan pelanggaran lalu lintas/law enforcement

41

KONDISI EKSISTING DAN KARAKTERISTIK


PERAN DAN KERJASAMA STAKEHOLDERS: PERAN OPERATOR

42

KONDISI EKSISTING DAN KARAKTERISTIK


PERAN DAN KERJASAMA STAKEHOLDERS: PERAN OPERATOR (2)

43

KONDISI EKSISTING DAN KARAKTERISTIK


PERAN DAN KERJASAMA STAKEHOLDERS: PERAN SWASTA
Sejauh ini belum ada kerjasama dengan investor, namun yang baru menawarkan
adalah yang mau membangun apartemen di dekat stasiun. Bapak Naufal, BAPPEDA
Kota Bogor (2015)
Kalau untuk rencananya ada seperti pihak swasta yang mau membangun apartemen
di Muria Plaza, darisitu kita bisa memberi kebijakan insentif dan disinsentif. Bapak
Kamal, Dinas Pengawasan Bangunan dan Permukiman Kota Bogor (2015)
Kalau untuk kerjasama dengan swasta secara langsung tidak, namun untuk swasta
lebih bekerjasama dengan pemerintah daerah. Bapak Herry, Wakil Kepala Stasiun
Bogor (2015)

Belum ada peran swasta sebagai investor


Namun sudah ada tawaran pembangunan apartemen dekat Stasiun Bogor

44

KOMPARASI KONDISI EKSISTING DAN KARAKTERISTIK KAWASAN


STASIUN BOGOR DENGAN TEORI TOD
TIPOLOGI TOD

Calthrope, Kawasan Stasiun Bogor termasuk kedalam tipologi urban TOD, karena dilalui jalur utama
transit yaitu kereta commuter line
Dittmar dan Poticha, Kawasan Stasiun Bogor termasuk kedalam tipologi pusat kota satelit, karena
peran Kota Bogor sebagai kota satelit DKI Jakarta
Reconnecting America, Kawasan Stasiun Bogor termasuk kedalam tipologi urban center, karena
memiliki kepadatan dan intensitas lebih rendah dari regional center dan sebagai hub komuter

PERBANDINGAN KONDISI EKSISTING DAN KARAKTERISTIK KAWASAN STASIUN BOGOR DENGAN


TEORI TOD
No.

Variabel Prinsip TOD

Penataan Ruang
1.
Kepadatan bangunan

Kondisi Eksisting dan Karakteristik Kawasan


Stasiun Bogor

Teori TOD

Tinggi dengan mayoritas ber-KDB 60-80%

Sedang hingga tinggi


Tinggi dengan kepadatan hunian pada urban TOD
minimal 30 unit/Ha

2.

Kepadatan hunian

Rendah dengan kepadatan 12 unit/Ha


Belum terdapat hunian vertikal

3.

Keberagaman guna lahan

Bervariasi, terdiri dari perdagangan jasa,


Penggunaan lahan bervariasi dengan
hunian, instansi pemerintahan, fasilitas
didominasi hunian, komersial, perkantoran
umum dan sosial (fasilitas transportasi,
dan jasa pemerintahan
fasilitas pendidikan, fasilitas

Karakteristik urban TOD


peribadatan, dan fasilitas hiburan)
Komersil = 30-70
Perdagangan dan jasa : hunian : fasilitas
Hunian = 20-60
45
publik : instansi pemerintahan = 49 : 29 :
Fasilitas publik = 5-15
11 : 10

No.
4.

Variabel Prinsip TOD

Kondisi Eksisting dan Karakteristik Kawasan Stasiun


Bogor

Kepadatan lalu lintas tinggi di jalan-jalan utama


maupun sebagian jalan lokal
5.
Kemudahan jaringan jalan

Tersedia sarana penyebrangan di jalan-jalan


utama, namun masih minim di jalan-jalan
kolektor

Hanya tersedia jalur khusus sepeda di sebagian


jalan arteri yaitu Jalan Kapten Muslihat dan
Jalan Ir H Djuanda
6.
Kejelasan arah jaringan jalan Tersedia signage penunjuk arah di titik-titik penting
jalan utama
7.
Lebar pedestrian
Sudah dapat menampung pejalan kaki, namun
sebagian terhalang pedagang
8.
Kondisi pedestrian
Sebagian besar pedestrian berkondisi baik dan dapat
dilalui pejalan kaki, namun pedestrian sekitar pasar
buruk dan terhalang pedagang
9.
Kenyamanan pedestrian
Sebagian besar pedestrian belum dilengkapi
peneduh dan penerang, hanya jalan-jalan utama
yang dilengkapi keduanya
10. Ketersediaan parkir pengguna Tersedia park and ride di dalam stasiun, tempat
stasiun
parkir khusus dekat stasiun dan tempat penitipan
motor liar
11. Kondisi tempat parkir
Park and ride memiliki kondisi yang baik namun
untuk lahan parkir motor belum memiliki atap
12. Kapasitas tempat parkir
Park and ride memiliki kapasitas yang besar dan
dapat menampung pengguna
Integrasi Moda

13.

Kepadatan lalu lintas

Ketersediaan jenis moda

Tersedia berbagai macam pilihan moda yaitu


angkot, ojek dan becak
Belum ada moda transportasi bus kota

Teori TOD
Rendah
Tersedia sarana penyebrangan bagi pejalan kaki
dan jalur khusus sepeda

Tersedia signage penunjuk arah

Minimal 120cm (PerMen PU) dan dapat


menampung pejalan kaki
Baik dan bisa dilalui

Tersedia peneduh dan penerang

Tersedia tempat parkir pengguna stasiun

Kondisi baik dengan fasilitas memadai


Dapat menampung pengguna tempat parkir

Tersedia berbagai jenis pilihan moda seperti bus


kota (BRT), feeder, paratransit
46

Variabel Prinsip TOD

Kondisi Eksisting dan Karakteristik Kawasan


Stasiun Bogor

14.

Frekuensi dan headway


moda

Frekuensi dan headway masing-masing moda


tinggi

Tinggi dan headway 5-15 menit (Reconnecing America,


2014)

16.

Konektivitas

Keberadaan halte masih minim

Tersedia tempat pergantian moda atau halte di setiap


titik, minimal setiap 200 m (Yeang dalam Irawati,
2013)

No.

Teori TOD

Peran Stakeholders
17.

Peran pemerintah

Tidak ada rencana khusus dan detail


Tersedia rencana yang mendukung TOD
tentang Kawasan Stasiun Bogor diarahkan
menjadi TOD
Rencana-rencana yang ada telah
mendukung konsep TOD seperti guna
lahan, pedestrian, moda transportasi dan
park and ride
Mendukung konsep TOD
Tersedia rencana yang mendukung TOD

18.

Peran operator (penyedia


jasa trasnportasi)

19.

Peran swasta

Belum ada peran swasta sebagai investor

Ada peran swasta sebagai investor untuk membangun


kawasan menjadi menarik

Sumber: Analisis Peneliti 2015

47

ANALISIS SWOT KAWASAN STASIUN BOGOR


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

8.
9.
1.

Strength (Kekuatan)
Terletak di pusat Kota Bogor
Memiliki kepadatan yang tinggi
Memiliki guna lahan yang bervariasi, dengan
mayoritas perdagangan dan jasa
Tersedia signage penunjuk arah, khususnya
penunjuk arah Stasiun Bogor
Tersedia jalur pedestrian yang memadai di sekitar
Stasiun Bogor
Mayoritas jalur pedestrian yang sudah bisa
menampung pejalan kaki
Tersedia park and ride yang memadai di Stasiun
Bogor
Pilihan moda transit yang bervariasi
Frekuensi dan headway moda transit yang tinggi
Opportunity (Peluang)
Pusat kegiatan masyarakat Kota Bogor

Aspek

Penataan Ruang

Integrasi Moda
Aspek

Penataan Ruang
2. Penyediaan BRT Transpakuan
3. Penawaran pihak swasta yang mau membangun
hunian vertikal
4. Tersedia payung hukum bahwa Kawasan Stasiun
Bogor sebagai kawasan TOD
5. Rencana PT KAI yang turut mendukung TOD

Weakness (Kelemahan)
1. Memiliki kepadatan hunian yang rendah
2. Belum adanya hunian vertical
3. Kepadatan lalu lintas yang tinggi di sebagian besar
jaringan jalan
4. Kemudahan non motorized transport yang masih
rendah
5. Jalur pesepeda yang masih sangat minim
6. Kenyamanan jalur pedestrian yang masih rendah
7. Keberadaan penitipan motor liar yang merusak
keindahan kawasan
8. Kawasan pasar kebon kembang dan pasar anyar
yang tidak teratur
9. Belum tersedianya moda transit BRT transpakuan
10. Minimnya halte pemberhentian moda
Threat (Ancaman)
1. Ketertiban PKL dan pedagang
2. Ketertiban supir angkutan kota
3. Ketertiban paratransit
4. Hunian kumuh

Integrasi Moda
Peran dan Kerjasama
Stakeholders

Sumber: Analisis Peneliti


48 2015

PELUANG DAN TANTANGAN PENERAPAN TOD


PADA PENATAAN KAWASAN STASIUN BOGOR
1.

Peluang
Pusat kegiatan masyarakat Kota Bogor

Aspek
Penataan Ruang

2. Penyediaan BRT Transpakuan


3. Penawaran pihak swasta yang mau membangun
hunian vertikal
4. Tersedia payung hukum bahwa Kawasan Stasiun
Bogor sebagai kawasan TOD
5. Rencana PT KAI yang turut mendukung TOD

1.
2.
3.
4.

Tantangan
Menertibkan PKL dan pedagang
Menertibkan supir angkutan kota
Menertibkan paratransit
Membangun hunin vertikal

Integrasi Moda
Peran dan Kerjasama
Stakeholders

Sumber: Analisis Peneliti 2015

49

STRATEGI SWOT KAWASAN STASIUN BOGOR


1.
2.

3.
Opportunity (Peluang)

4.

Strength (Kekuatan)
Menjaga dan menata pusat kegiatan
Menjalin kerjasama pemerintah
dengan pihak swasta untuk
membangun kawasan TOD
Membuat rencana detail Kawasan
TOD Stasiun Bogor
Mempererat kerjasama pemerintah
dengan PT KAI

1.
2.
3.
4.
5.
6.

1.

2.

Memaksimalkan fungsi jalur


pedestrian dan membuat pembatas
(barrier) dengan jalan raya
Mengarahkan pejalan kaki menuju
tempat pemberhentian moda (halte)

1.

2.
Threat (Ancaman)
3.
4.

Weakness (Kelemahan)
Mendukung pihak swasta dengan
membangun hunian vertical
Meningkatkan kemudahan non
motorized transport
Melengkapi fasilitas park and ride
Menyediakan tempat pemberhentian
moda (halte) di tempat-tempat penting
Menyediakan BRT Transpakuan yang
melalui kawasan stasiun
Menata kawasan pasar kebon kembang
dan pasar anyar sebagai peruntukkan
lahan campuran khususnya hunian dan
komersil
Menyediakan hunian vertical dengan
bangunan fungsi campuran komersil
yang menampung pedagang yang
membludak di Pasar Kebon Kembang
dan Pasar Anyar
Menjadikan angkutan kota sebagai
feeder yang tidak melewati jalan-jalan
utama
Menyediakan tempat khusus untuk PKL
yang tidak teratur
Menyediakan tempat/pangakalan
khusus paratransit yang letaknya dekat
dengan tempat pemberhentian moda
50
(halte)

Sumber: Analisis Peneliti 2015

51

railwayscorner.blogspot.com

BAB Vi

KESIMPULAN
KOMPARASI KONDISI EKSISTING DAN TEORI TOD
1] Ketiga aspek TOD yaitu penataan ruang, integrasi moda serta peran dan kerjasama stakehoders
belum ada yang sepenuhnya sesuai dengan teori TOD
2] Aspek penataan ruang merupakan aspek terbanyak yang memiliki ketidaksesuaian dengan teori TOD

ANALISIS SWOT DAN PELUANG TANTANGAN


3] Kelemahan dan ancaman Kawasan Stasiun mayoritas berasal dari aspek penataan ruang
4] Namun tidak sedikit pula kekuatan kawasan yang berasal dari aspek penataan ruang
5] Peluang kawasan mayoritas berasal dari aspek peran dan kerjasama stakeholders

6] Ancaman dan tantangan penerapan TOD berasal dari aspek penataan ruang.

STRATEGI SWOT
7] Keempat strategi berhubungan satu sama lain untuk mendukung tujuan utama TOD yaitu non
motorized transport
52

8] Strategi terbanyak yang dapat dilakukan adalah strategi W-O, dengan kata lain Kawasan Stasiun
Bogor memiliki peluang yang baik ntuk dapat memperbaiki kelamahan yang ada

Saran
PEMERINTAH KOTA BOGOR
1] Pemerintah Kota Bogor disarankan untuk membuat rencana detail tentang kawasan TOD Stasiun
Bogor dengan difokuskan pada aspek penataan ruang, karena berdasarkan analisis masih banyak
kelemahan untuk penerapan TOD
2] Pemerintah Kota Bogor disarankan untuk menjalin kerjasama yang baik dengan berbagai
stakeholders

PENELITIAN SELANJUTNYA
3] Meneliti dengan lingkup lokasi seluruh kota, agar integrasi dengan moda lain dapat lebih terlihat
4] Memperhatikan aspek kepemilikan tanah dan aspek politik, karena aspek tersebut merupakan aspek
tersulit untuk mengimplementasikan suatu rencana.
5] Memperhatikan aspek demand,agar dapat mengetahui bagaimana penerapan TOD dari sisi
pengguna stasiun

53

54

www.semboyan35.com

TERIMA
KASIH

DAFTAR PUSTAKA

Afrillita, N., 2013. Analisis SWOT Dalam Menentukan Strategi Pemasaran Sepeda Motor pada PT. Samekarindo Indah di Samarinda. eJournal Administrasi Bisnis 2013, 1(1), pp:
56-70.
Apriandes, E., Ranius, A.Y., dan Syakti, F., 2013. Analisis SWOT Guna Penyusunan Rencana Induk E-Government pada Pemerintahan Daerah Kabupaten Muara Enim. Jurnal
Ilmiah Teknik Informatika Ilmu Komputer, 17(2), pp: 1-11.
Badan Pusat Statistik Kota Bogor, 2014. Kota Bogor Dalam Angka 2014, Bogor: Badan Pusat Statistik Kota Bogor.
Black, J. & Dillon, H.S.S., 2008. Working Paper 06 Case Studies of Mass Rapid Transit (MRT), Bus Rapid Transit (BRT) and Transit Oriented Development (TOD), Yogykarta: Pusat
Studi Transportasi dan Logistik, Universitas Gadjah Mada.
Brown, B.B. dkk., 2009. Mixed land use and walkability: Variations in land use measures and relationships with BMI, overweight, and obesity. Health and Place, 15(4), pp.11301141. Tersedia di: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2778756/. Diakses pada 28 Oktober 2014 (12.00)
Chen, X, 2010. Prospect of The Transit-Oriented Development in China. Management Research And Practice, 2 (1), pp 89-93.
Curtis, C., Rene, J.L. & Bertolini, L., 2009. Transit Oriented Development: Making It Happen, England: Ashgate Publishing Ltd.
Dittmar, H. & Ohland, G., 2004. The New Transit Town: Best Practice in Transit-Oriented Development, Washington: Island Press.
Djunaedi, A. 2000. Ragam Penelitian. Tersedia di: http://mpkd.ugm.ac.id/weblama/homepageadj/support/materi/metlit-i/a02-metlit-ragam-lit.pdf. Diakses pada 9 Juni 2014
(19.45)
Dunphy, R., Myerson, D. & Pawlukiewicz, M., 2003. Ten Principles for Successful Development Around Transit, Urban Land Institute. Tersedia di: http://www.uli.org/wpcontent/uploads/2012/07/TP_DevTransit.ashx_.pdf. Diakses pada 28 Oktober 2014 (13.00)
Ikhsan, S. & Aid, A., 2011. Analisis SWOT untuk Merumuskan Strategi Pengembangan Komoditas Karet di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Jurnal Agribisnis
Perdesaan, 1(3), pp. 166-177.
Institute for Transportation & Development Policy, 2013. TOD STANDARD VERSION 2.0, New York: Institute for Transportation & Development Policy.
Irawati, N. A.2013. Masterplan Transit Oriented Development Stasiun Manggarai: Tinjauan Kesesuaian Terhadap Kondisi Ideal Teori dan Kondisi Eksisting Kawasan. Skripsi.
Program S1 Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta
Isa, M.H. & Handayeni, K.D.M.E., 2014. Keterkaitan Karakteristik Kawasan Transit Berdasarkan Prinsip Transit Oriented Development (TOD) terhadap Tingkat Pengguna Kereta
Komuter Koridor Surabaya-Sidoarjo. Jurnal Teknik Pomits, 3(2), pp.C196C201.
Jayadinata, T., 1999. Tata Guna Tanah dalam Perencanaan Perdesaan, Perkotaan dan Wilayah, Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Keputusan Walikota Bogor Nomor 551 11.45-244 Tahun 2013 Tempat Parkir di Tepi Jalan Umum dan Tempat Khusus Parkir di Kota Bogor. 2013. Bogor.
Manaugh, K. & Kreider, T., 2013. What is mixed use ? Presenting an interaction method for measuring land use mix. The Journal of Transport and Land Use, 6(1), pp.6372.
Mandala, Z. 2013. Pola Spasial Pergerakan Moda Transportasi Informal (Paratransit) di Kawasan Stasiun Lempuyangan Yogyakarta. Skripsi. Program S1 Universitas Gadjah
Mada. Yogyakarta
Munawar, A., 2005. Dasar-Dasar Teknik Transportasi, Yogykarta: Beta Offset.
Muttaqin. 2013. Analisis SWOT pada Pelaku Usaha Kerajinan Khas Daerah di Area Komplek Citra Niaga Samarinda. Jurnal Skripsi. Program S1 Universitas Mulawarman.
Samarinda.
Peraturan Daerah Kota Bogor Nomor 8 Tahun 2011 Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bogor 2011-2031. 28 Juni 2011. Bogor.
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 03/PRT/M/2014 Pedoman Perencanaan, Penyediaan dan Pemanfaatan Prasarana dan Sarana Jaringan Pejalan Kaki di Kawasan
Perkotaan. 11 Maret 2014. Jakarta.
Peraturan Walikota Bogor Nomor 22 Tahun 2009 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Bogor 2010-2014. 2009. Bogor.

55

DAFTAR PUSTAKA (2)

Permana, S. S. 2012. Peluang dan Tantangan Penerapan Transit Oriented Development di Kota Yogyakarta Pembelajaran Keberhasilan Kota Curitiba dan Bogota. Skripsi.
Program S1 Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta
Pratama, A., Alimah, I. & Sapitra, I., 2013. Kajian Kompatibilitas Green Transportation Untuk Kota Bogor. Tersedia di:
http://www.academia.edu/3840861/Kompatibilitas_Green_Transportation_Kota_Bogor. Diakses 5 April 2014 (10.30)
Pynkyawati, T., dkk., 2012. Kajian Desain Sirkulasi Ruang Luar Dan Ruang Dalam Bagi Penyandang Cacat Pada Kawasan Bangunan Ciwalk (Cihampelas Walk). Jurnal Arsitektur
Universitas Bandar Lampung, 1(3), pp.713.
Rahmat, P. S., 2009. Penelitian Kualitatif. EQUILIBRIUM, 5(9), pp. 1-8.
Reconnecting America and the Center for Transit-Oriented Development, TOD 101 - Why Transit-Oriented Development And Why Now, Reconnecting America and the Center
for Transit-Orieted Development. Tersedia di: http://www.reconnectingamerica.org/resource-center/books-and-reports/2007/tod-101-transit-oriented-development-andwhy-now/. Diakses pada 5 April 2014 (10.00)
Reconnecting America and the Center for Transit-Oriented Development, TOD 202 - Station Area Planning, Reconnecting America and the Center for Transit-Orieted
Development. Tersedia di: http://www.reconnectingamerica.org/resource-center/browse-research/2008/tod-202-station-area-planning-how-to-make-great-transit-orientedplaces/. Diakses pada 5 April 2014 (10.35)
Renne, J.L., 2008. Smart Growth and Transit- Oriented Development at the State Level : Lessons from California, New Jersey, and Western Australia. Journal of Public
Transportation, 11(3), pp.77108.
Retnowati, N.D., 2011. Analisis CSF, SWOT dan TOWS, Studi Kasus: PT Intan Pariwara Klaten. Jurnal Buana Informatika, 2(1), pp. 31-37.
Santoso, B.H. & Santosa, M., 2007. Kinerja Termal Bangunan pada Lingkungan Berkepadatan Tinggi dengan Variabel Atap , Dinding , Ventilasi dan Plafon. Gema Teknik, (1),
pp.113121.
Setyaningrum, N R.2013. Pola Pemilihan Moda Transportasi Komuter Perempuan yang Bekerja di Pasar Beringharjo Kota Yogyakarta. Skripsi. Program S1 Universitas Gadjah
Mada. Yogyakarta
Somantri, G. R., 2005. Memahami Metode Kualitatatif. Makara, Sosial Humaniora, 9(2), pp. 57-65.
Spears, S., dkk., 2014. Policy Brief on the Impacts of Land-Use Mix on Passenger Vehicle Use and Greenhouse Gas Emissions. Tersedia di:
http://www.arb.ca.gov/cc/sb375/policies/mix/lu-mix_brief.pdf. Diakses pada 28 Oktober 2014 (13.20)
Tambunan, H.T.H. 2010. Analisis Implementasi Transportation Demand Management Dalam Mengurangi Penggunaan Kendaraan Pribadi Di DKI Jakarta. Tesis. Program
Pascasarjana Universitas Indonesia. Jakarta.
http://dishub.jabarprov.go.id/ diakses pada 3 April 2014 pukul 10.15
http://www.reconnectingamerica.org/ diakses pada 3 April 2014 pukul 11.00
http://www.ukp.go.id/ diakses pada 5 April 2014 pukul 12.00
http://www.sutip.org/ diakses pada 3 April 2014 pukul 10.20
http://www.cnt.org/ diakses pada 10 Juni 2014 pukul 21.15
http://kbbi.web.id/ diakses pada 24 November 2014 pukul 23.00

56

KEASLIAN PENELITIAN
No. Nama

Judul

Tahun

Jenis

Lokasi

Fokus

Metode

1.

Septian Sofoewan

Peluang dan Tantangan

2012

Skripsi

Kota Yogyakarta,

Keberhasilan penerapan

Deduktif-

Permana

Penerapan Transit

Bogota dan Kota

TOD sebagai

kualitatif

Oriented Development di

Curitiba

pembelajaran

DKI Jakarta

Tinjauan masterplan

Deduktif-

Oriented Development

Transit Oriented

kualitatif

Stasiun Manggarai:

Development terhadap

Tinjauan Kesesuaian

kondisi ideal teori dan

Terhadap Kondisi Ideal

kondisi eksisting kawasan

Kota Yogyakarta
Pembelajaran
Keberhasilan Kota
Curitiba dan Bogota
2.

Nur Azizah Irawati

Masterplan Transit

2013

Skripsi

Teori dan Kondisi


Eksisting Kawasan
3.

Lukluk Zuraida Jamal

Walkability Pada Kawasan 2013

Tesis

Berbasis Transit Oriented

Kawasan Stasiun

Walkability pada Kawasan Kualitatif-

Lempuyangan

berbasis TOD

kuantitatif

Stasiun Pasar Nguter,

Pengembangan Stasiun

kuantitatif

berbasis jalur kereta api

Development
4.

Christian Nindyaputra

Pengembangan Kawasan 2013

Octarino

Sekitar Stasiun yang

Sukoharjo, Jawa

Berbasis Jaljur Kereta Api

Tengah

(Rail Oriented
Development)

Tesis

57

Kepadatan bangunan Bogor = 19 bang/Ha


Lahan hunian Bogor = 34,4%

Witarto dalam Retnowati (2011) menjelaskan bahwa analisis SWOT dilakukan untuk mengetahui kondisi internal yaitu
kekuatan dan kelemahan serta kondisi eksternal yaitu peluang dan ancaman dari suatu organisasi.
Rangkuty dalam Ikhsan dan Aid (2011) mendefinisikan analisis SWOT adalah metode perumusan strategi yang
digunakan untuk menyelesaikan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman untuk mencapai tujuan

Kekuatan dan kelemahan bersifat internal. Sedangkan peluang dan ancaman bersifat eksternal dan yang merupakan
kondisi di luar kendali pelaku (Ikhsan dan Aid, 2011)

Tunggal dalam Apriandes, dkk (2013)


Kekuatan adalah kelebihan relatif yang dimiliki terhadap pesaing
Kelemahan adalah keterbatasan internal dalam hal sumberdaya, keterampilan maupun kemampuan yang bisa
menghambat kinerja
Peluang adalah situasi menguntungkan yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan
Ancaman adalah situasi yang dapat menghambat tujuan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia


peluang adalah kesempatan
Tantangan adalah hal atau objek yg menggugah tekad untuk meningkatkan kemampuan mengatasi masalah;
rangsangan (untuk bekerja lebih giat dsb) atau hal atau objek yg perlu ditanggulangi.

Rangkuty dalam Muttaqin (2013)


Peluang dan kesempatan untuk mencapai suatu tujuan dapat diketahui dengan analisis lingkungan eksternal yaitu
peluang itu sendiri
58
Tantangan dapat dicari dengan analisis lingkungan eksternal yaitu ancaman

MANFAAT PENELITIAN
TEORITIS
menambah pengetahuan tentang apa saja peluang dan tantangan penataan kawasan Stasiun
yang berbasis transit sesuai dengan teori trasnportasi dan TOD, khususnya dalam konteks Kota
Bogor dan Indonesia

PRAKTIS
memberikan sumbangan pemikiran dan masukan-masukan yang bermanfaat bagi penataan
Stasiun Bogor atau stasiun lainnya dengan konsep Transit Oriented Development

BATASAN PENELITIAN
RUANG LINGKUP LOKASI

FOKUS PENELITIAN

Kawasan Stasiun Bogor yaitu dalam


radius 400 m-500 m dari stasiun sesuai
dengan konsep walkable Transit Oriented
Development dan tingkat kenyamanan
pejalan kaki di Indonesia. Selain itu ruang
lingkup lokasi ini ditentukan berdasarkan
deliniasi Kawasan Stasiun Bogor pada
RTBL Stasiun Bogor.

Analisis konsep TOD pada karakteristik dan


kondisi eksisting Kawasan Stasiun Bogor.

59

ntmckorlantaspolri.blogspot.com

www.tribunnews.com

Kemacetan Jalan Kapten Muslihat

PKL di pedestrian

antarabogor.com

m.heibogor.com

Kemacetan depan Stasiun

Angkot yang mengetem

wartakota.tribunnews.com

nasional.republika.co.id

Kemacetan di TOL Jagorawi

60
Kemacetan waktu pulang kerja