Anda di halaman 1dari 3

Jenis kegiatan : Membaca jurnal dengan membuat resume

Reviewer : Novia Agita Febriana


Judul jurnal : Recognition of Allergic Conjunctivitis in Patients with Allergic
Rhinitis
Latar Belakang :
Konjungtivitis alergi umumnya memberikan gejala berupa gatal, mata
merah/mata berair dimana gejala tersebut merupakan gejala-gejala yang terdapat
dalam perhitungan TOSS (Total Ocular Symptom Scores).
Angka kejadian terjadinya konjungtivitis alergi pada negara berkembang
adalah 20% dengan disertai adanya rhinitis alergi.Prevalensi konjungtivitis alergi
masih belum bisa dideteksi bahkan pada pasien yang sudah diketahui menderita
rhinitis alergi namun ditaksir mencapai persentase 25-60%.
Secara klinis dengan jelas terlihat pasien konjungtivitis alergi memiliki
tingkat sensitivitas yang tinggi, terdapat kecenderungan untuk mengedipkan mata
lebih sering ditambah sakit kepala di daerah frontal.Kebiasaan menggosok-gosok
kelopak mata juga dapat memicu terjadinya dermatitis yang menyebabkan pasien
lebih berfokus pada gejala dermatitisnya daripada gejala yang dirasakan pada
konjungtivanya.
Olopatadin hidroklorida 0,1% merupakan obat terpilih untuk mengobati
konjungtivitis alergi dengan efek samping yang minimal dan onset cepat (5 menit
setelah masuknya obat).
Tujuan :
Untuk mengetahui angka kejadian konjungtivitis alergi pada pasien dengan
rhinitis alergi.
Metodologi :
Pasien anak-anak dan dewasa sejumlah 187 selama musim panas dengan
diagnosis rhinitis alergi datang ke klinik di Southport, Gold Coast.Pasien-pasien
ini telah diperiksa terlebih dahulu untuk memastikan mempunyai rhinitis alergi
dengan menanyakan gejala mata merah dan mata berair yang diukur skor nya
menggunakan TOSS.Pasien juga ditanyai tentang gejala tidak langsung yang
mungkin berkontribusi terhadap terjadinya konjungtivitis alergi seperti dermatitis
pada kelopak mata, mata yang sensitif, sakit kepala di daerah frontal dan
seringnya mengkedip-kedipkan mata.Pasien juga diberikan tetes mata olopatadin
hidroklorid pada setiap mata untuk membantu mencari penyakit yang tidak
terdeteksi.

Pasien yang diduga memiliki rhinitis alergi berdasarkan dari hasil


anamnesis, pemeriksaan fisik dan prick test yang dilakukan oleh dokter ahli
diinstruksikan untuk tidak meminum antihistamin selama 48 jam.
Dua puluh pasien sebagai control telah dipilih dengan tidak memiliki
riwayat konjungtivitis alergi atau rhinitis alergi untuk diberikan olopatadin .Hal
ini untuk mengetahui ada tidaknya efek non spesifik pada pemberian olopatadin
hidroklorid.
Peneliti tidak menemukan riwayat operasi lasik atau adanya pterigium pada
pasien-pasien tersebut ataupun penggunaan kontak lens pada pasien-pasien yang
mengikuti penelitian ini.
Persetujuan etik atas penelitian ini telah didapatkan dari Griffith University
Human Research Ethics Committee.Penelitian ini telah didaftarkan di Australia
New Zealand Clinical Trials Registry (ANZCTR).
Data dianalisis menggunakan Microsoft Excel dengan uji t-test berpasangan
untuk sebelum dan setelah TOSS dengan olopatadin.Koefisien korelasi Pearson
digunakan untuk membandingkan hubungan antara skor TOSS dengan ada
tidaknya gejala tambahan.Juga digunakan untuk menilai hubungan antara
timbulnya gejala dengan respon pada pemberian olopatadin.
Hasil :
Sebanyak 53% pasien menilai diri mereka mempunyai konjungtivitis alergi
ketika ditanyai mengenai gejala spesifik yang terdapat pada lembar pertanyaan
TOSS.Gejala tambahan yang mungkin berhubungan dengan konjungtivitis alergi
didapati seperti mengkedipkan mata sebesar 52%, sakit kepala di daerah frontal
(60%) dan dermatitis pada kelopak mata (45%).
Penggunaan olopatadin mengurangi skor TOSS dalam 5 menit selama
proses terapi (1,34 +/- 1,66 vs 0,486 +/- 0,83 p<0,01).Sebanyak 146 pasien
(78,1%) diketahui mengalami perbaikan, 41 pasien (21,9%) tercatat tidak
mengalami perubahan gejala di matanya.Berdasarkan anamnesis pada pasien yang
tidak memiliki riwayat konjungtivitis alergi dan skor TOSS 0 ,pemberian terapi
olopatadin mengidentifikasi ada 77 pasien (41,2% ) yang menderita konjungtivitis
alergi yang tidak terdeteksi.
Tidak ditemukan efek samping yang berarti pada pasien kontrol yang diberi
terapi olopatadin.
Sebanyak 166 pasien (88,8%) konjungtivitis alergi diidentifikasi melalui
gejala yang ada pada lembar pertanyaan TOSS.

Gejala tidak langsung konjungtivitis alergi didapatkan pada 158 pasien


(84,5%).Kombinasi keduanya yaitu gejala tambahan dan gejala umum yang
biasanya terjadi pada pasien konjungtivitis alergi ditemukan pada 177 pasien
(94,7%).Adanya gejala tambahan yang muncul berkorelasi dengan TOSS dan efek
terapi olopatadin (r=0,60 ,P<0,05).
Kesimpulan :
Pertanyaan umum yang digunakan untuk mencari gejala yang ada pada
konjungtivitis alergi hanya melacak setengah dari pasien konjungtivitis
alergi.Tidak adanya riwayat konjungtivitis alergi tidak membuat kita
menyingkirkan pemeriksaan terhadap konjungtiva.Sebagai tambahannya peneliti
menyarankan bahwa untuk memeriksa gejala seperti mengkedip-kedipkan mata,
dermatitis pada kelopak mata, sakit kepala di daerah frontal serta penggunaan
tetes mata olopatadin hidroklorid untuk mengidentifikasi pasien dengan gejala
yang tersembunyi.
Rangkuman dan Hasil Pembelajaran :
Untuk menilai pasien konjungtivitis alergi yang juga mempunyai rhinitis
alergi tidak hanya dilihat dari gejala mata merah/berair namun dapat juga dilihat
dari gejala tambahan seperti mengkedip-kedipkan mata, dermatitis pada kelopak
mata, sakit kepala di daerah frontal dan menggunakan tetes mata olopatadin.

Anda mungkin juga menyukai