Anda di halaman 1dari 22

PEMANFAATAN TONGKOL JAGUNG (Zea mays L.

)
MENJADI BIOETANOL
SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF
PENGGANTI BAHAN BAKAR FOSIL
PROPOSAL PENELITIAN

OLEH :
YUSRAN TRIANA SANDI
A1C4 13 059

JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur Penyusun panjatkan kehadirat ALLAH SWT yang telah


memberikan Rahmat, Hidayah, serta InayahNya, sehingga penyusun dapat
menyelesaikan proposal penelitian ini. Penyusun juga tidak lupa menyampaikan
shalawat serta salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta
keluarga dan para sahabat yang tetap setia hingga akhir zaman.
Ucapan terima kasih penyusun sampaikan kepada Dosen Pembimbing
yang telah membantu menjelaskan tata cara penulisan (penyusunan) proposal dan
menjelaskan isi materi terkait proposal penelitian ini dengan judul penelitian yaitu
Pemanfaatan Tongkol Jagung Menjadi Bioetanol sebagai Energi Alternatif
Pengganti Bahan Bakar Fosil.
Demikianlah pengantar dari penyusun. Semoga proposal penelitian ini
dapat bermanfaat bagi teman-teman pembaca serta penyusun pribadi. Mohon
maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan proposal penelitian ini.
Penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun dari paca
pembaca sekalian. Selamat membaca

Kendari, 06 Januari 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

i
ii
iii

BAB I : PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
1
1.2. Identifikasi Masalah
1.3. Batasan Masalah
4
1.4. Rumusan Masalah
1.5. Tujuan Penelitian
5
1.6. Manfaat Penelitian

4
5
5

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Jagung
2.2. Sistematika Tumbuhan Jagung
7
2.3. Lignin
2.4. Hemiselulosa
2.5. Selulosa
8
2.6. Mikroba
9
2.7. Bioetanol
10

6
7
7

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN


3.1. Waktu dan Tempat
3.2. Alat dan Bahan
11
3.3. Prosedur Kerja
12
3.3.1. Penghancuran Tongkol Jagung
3.3.2. Pembuatan Media
3.3.3. Kurva Pertumbuhan
3.3.4. Pembuatan Bioetanol
3.3.5. Penentuan Densitas
DAFTAR PUSTAKA

11

12
12
13
15
15
16

LAMPIRAN

17

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kebutuhan akan bahan bakar minyak (BBM) saat ini semakin meningkat
karena BBM sudah merupakan kebutuhan vital bagi manusia. Sebagian besar atau
bahkan hampir semua teknologi yang digunakan menggunakan bahan bakar
minyak sebagai sumber energi. Tetapi BBM yang kita gunakan saat ini semakin
langka. Hal ini dikarenakan kuantitas minyak bumi pada lapisan bumi terus
menipis akibat dari eksploitasi terus-menerus. Satu kelemahan dari minyak bumi
adalah sifatnya yang tidak mudah diperbaharui. Proses pembentukan minyak bumi
membutuhkan waktu berjuta-juta tahun. Hal tersebut mengakibatkan harga
minyak bumi semakin meningkat (Simamora, 2008).
Salah satu sumber energi yang bisa dimanfaatkan sebagai energi
alternatif adalah bioetanol. Selain bisa menjadi pengganti BBM bioetanol juga
mampu sebagai Octane Booster, artinya alkohol mampu menaikkan nilai oktan
dengan dampak positif terhadap efisiensi bahan bakar dan menyelamatkan mesin.
Fungsi lain adalah oxigenating agent, yakni mengandung oksigen sehingga
menyempurnakan pembakaran dengan efek positif meminimalkan pencemaran
udara. Bahkan berfungsi sebagai Fuel extender, yakni menghemat bahan bakar
fosil. Campuran bioetanol 3% saja, mampu menurunkan emisi karbon monoksida
menjadi hanya 1,35% (Prihandana, 2007).

Menurut Bustaman (2008) penggunaan etanol sebagai bahan bakar


mempunyai beberapa keunggulan dibanding dengan bensin, yaitu :
1. Kandungan oksigen yang tinggi mencapai 35% sehingga jika dibakar sangat
bersih.
2. Ramah lingkungan karena emisi gas karbon monoksida lebih rendah yakni
sekitar 19-25% dibanding BBM sehingga tidak memberikan kontribusi pada
akumulasi karbon dioksida di atmosfer dan bersifat terbarukan, sedangkan
BBM akan habis karena bahan bakunya fosil.
3. Sumber daya dapat diperbaharui (renewable resources).
4. Bioetanol aman digunakan sebagai bahan bakar, karena titik nyala etanol tiga
kali lebih tinggi dibandingkan bensin.
5. Emisi hidrokarbon lebih sedikit.
6. Konsumsi bahan bakar mengalami pemurnian seiring dengan meningkatnya
kandungan etanol.
Banyak sumber daya alam (SDA) yang dapat digunakan berpotensi
sebagai bahan bakar alternatif dari bioetanol, salah satunya adalah tongkol jagung
yang selama ini merupakan sampah yang masih belum banyak dimanfaatkan
menjadi produk yang memiliki nilai tambah (added value) (Prisanto, 2009).
Tongkol jagung yang termasuk biomassa mengandung lignoselulosa sangat
dimungkinkan untuk dimanfaatkan menjadi bioetanol karena memiliki kandungan
selulosa yang cukup banyak. Apalagi jagung adalah salah satu produk pertanian
yang banyak dihasilkan di negara Indonesia. Pada tahun 2004 produksi jagung
nasional mencapai 11.225.243 ton dan meningkat menjadi 12.523l.894 ton pada
tahun 2005. Pemanfaatan jagung saat ini sangat beraneka ragam mulai dari bahan
pangan hingga bioenergi. Buah jagung terdiri dari 30% limbah yang berupa
tongkol jagung. Jika dikonversikan dengan jumlah produksi jagung pada tahun

2004 maka negara Indonesia berpotensi menghasilkan tongkol jagung sebanyak


3.757.000 ton pada tahun 2005. Jumlah limbah tersebut dapat dikatakan sangat
banyak dan akan menjadi sangat potensial jika dapat dimanfaatkan secara tepat.
Proses pembuatan bioetanol terjadi dalam tiga tahap. Tahap pertama
adalah persiapan bahan baku, yang berupa proses hidrolisa selulosa menjadi
glukosa dengan cara enzimatis atau dengan asam encer atau pekat. Tahap kedua
berupa proses fermentasi yaitu mengubah glukosa menjadi etanol dan CO2
sedangkan tahap ketiga yaitu pemurnian hasil dengan destilasi (Gozan, 2007).
Dalam proses pembuatan bioetanol ini, calon peneliti melibatkan biakan
mikroba Trichoderma reesei dan Zymomonas mobilis. Dimana Trichoderma
reesei digunakan untuk mengubah selulosa menjadi glukosa. Sedangkan
Zymomonas mobilis berfungsi untuk mengubah glukosa menjadi etanol.
Trichoderma reesei merupakan mikroorganisme yang mampu menghancurkan
selulosa dan memiliki kemampuan mensintesis beberapa faktor essensial untuk
melarutkan bagian selulos yang terikat kuat dengan ikatan hidrogen. Untuk
Zymomonas mobilis, biakan ini mampu hidup pada kondisi kadar glukosa tinggi
serta pertumbuhannya cepat. Diduga juga sebagai mikroorganisme paling ideal
penghasil etanol karena memproduksi etanol terbanyak, toleran terhadap etanol
konsentrasi tinggi dan pH rendah. Zymomonas mobilis merupakan bakteri anaerob
fakultatif yang memanfaatkan glukosa, sukrosa dan fruktosa untuk menghasilkan
etanol dengan jalur metabolisme Enter - Deudoroff Pathway.
Keuntungan Zymomonas mobilis daripada S. cerevisia yakni; asupan gula
dan hasil etanol lebih tinggi, produksi biomasa yang lebih rendah, toleransi

terhadap etanol lebih tinggi, dan tidak memerlukan tambahan kontrol oksigen
selama fermentasi. Berdasarkan penjelasan tersebut, calon peneliti merasa tertarik
melakukan penelitian ini.
1.2. Identifikasi Masalah
1.

Bahan bakar minyak merupakan kebutuhan vital bagi manusia dan


sekarang jumlahnya semakin berkurang.

2.

Tongkol jagung merupakan sampah yang dapat mengakibatkan


pencemaran lingkungan.

3.

Tongkol jagung merupakan biomassa yang mengandung lignoselulosa


yaitu berupa selulosa yang dapat diolah menjadi bioetanol.

1.3. Batasan Masalah


1. Tongkol jagung yang digunakan yaitu tongkol jagung Zea mays L.
2. Mikroba yang digunakan untuk tahapan hidrolisis adalah Trichoderma reesei.
3. Mikroba yang digunakan untuk fermentsi adalah Zymomonas mobilis.
4. pH yang digunakan pada pertumbuhan mikroba adalah 3 6.
5. Suhu yang digunakan adalah suhu kamar (27 0C).

1.4. Rumusan Masalah


1. Berapakah kondisi hidrolisis optimum dari limbah tongkol jagung dengan
menggunakan mikroba Trichoderma viride ?
2. Berapakah kondisi fermentasi optimum dengan menggunakan mikroba
Zymomonas mobilis ?
3. Berapakah kadar bioetanol yang dihasilkan dari 1 Kg tongkol jagung ?
1.5. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui kondisi hidrolisis optimum dari limbah tongkol jagung dengan
menggunakan mikroba Trichoderma viride.

2. Mengetahui kondisi fermentasi optimum dengan menggunakan mikroba


Zymomonas mobilis.
3. Mengetahui kadar bioetanol yang dihasilkan dari 1 Kg tongkol jagung.
1.6. Manfaat Penelitian
1. Dapat mengubah sampah tongkol jagung menjadi bioetanol sebagai solusi
alternatif pengganti bahan bakar minyak yang dapat diperbaharui.
2. Memberikan wawasan dan peluang bisnis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Jagung
Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang
terpenting, selain gandum dan padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di
Amerika Tengah dan Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di
Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura
dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok.
Seiring dengan kebutuhan jagung yang cukup tinggi, maka akan
bertambah pula limbah yang dihasilkan dari industri pangan dan pakan berbahan
baku jagung. Limbah yang dihasilkan di antaranya adalah tongkol jagung yang

biasanya tidak dipergunakan lagi ataupun nilai ekonominya sangat rendah.


Umumnya tongkol jagung dipergunakan sebagai pakan ternak sapi, ataupun di
daerah pedesaan tongkol jagung ini dapat dimanfaatkan sebagai obat diare.
Tongkol jagung tersusun atas senyawa kompleks lignin, hemiselulose dan
selulose. Masing-masing merupakan senyawa-senyawa yang potensial dapat
dikonversi menjadi senyawa lain secara biologi. Selulose merupakan sumber
karbon yang dapat digunakan mikroorganisme sebagai substrat dalam proses
fermentasi untuk mengahsilkan produk yang mempunyai nilai ekonomi tinggi
(Suprapto dan Rasyid, 2002).

2.2. Sistematika Tumbuhan Jagung


Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Sub kingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)


Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Liliopsida (berkeping satu/monokotil)

Sub Kelas

: Commelinidae

Ordo

: Poales

Famili

: Poaceae (suku rumput-rumputan)

Genus

: Zea

Spesies

: Zea mays .L

2.3. Lignin
Lignin adalah polimer aromatik kompleks yang terbentuk melalui
polimerisasi tiga dimensi dari sinamil alkohol (turunan fenil propane) dengan
bobot melekul mencapai 11. Dengan kata lain, lignin adalah makromolekul dari
polifenil. Polimer lignin dapat dikonversi ke monomernya tanpa mengalami
perubahan pada bentuk dasarnya. Lignin yang melindungi selulosa bersifat tahan
terhadap hidrolisis karena adanya ikatan arilalkil dan ikatan eter.
2.4. Hemiselulosa
Hemiselulosa terdiri atas 2 7 residu gula yang berbeda. Hemiselulosa
berbeda dengan selulosa karena komposisinya teridiri atas berbagai unit gula,
disebabkan rantai molekul yang pendek dan percabangan rantai molekul. Unit
gula (gula anhidro) yang membentuk hemiselulosa dapat dibagi menjadi
kompleks seperti pentosa, heksosa, asam keksuronat dan deoksi-heksosa (Fengel
dan Wegener, 1995; Nishizawa, 1989).
Hemiselulosa ditemukan dalam tiga kelompok yaitu xylan, mannan, dan
galaktan. Xylan dijumpai dalam bentuk arabinoxylan, atau arabino
glukurunoxylan. Mannan dijumpai dalam bentuk glukomannan dan
galaktomannan. Sedangkan galaktan yang relative jarang, dijumpai dala bentuk
arabino galaktan (Cole dan Fort, 2007).
2.5. Selulosa
Selulosa merupakan struktur dasar sel-sel tanaman, oleh karena itu
merupakan bahan alam yang paling penting yang dibuat oleh organisme hidup.

Selulosa merupakan polimer linier dengan berat molekul tinggi yang tersusun
seluruhnya atas -D-glukosa (Fenger dan Wegner, 1995).
Selulosa hampir tidak pernah ditemui dalam keadaan murni di alam
melainkan selalu berikatan dengan bahan lain yaitu lignin dan hemiselulosa. Serat
selulose alami terdapat di dalam dinding sel tanaman dan material vegetatif
lainnya.
Seluosa murni mengandung 44,4% C; 6,2% H dan 49,3% O. Rumus
empiris selulosa adalah (C6H10O5)n, dengan banyaknya satuan glukosa yang
disebut dengan derajat polimerisasi (DP), dimana jumlahnya mencapai 1.200
10.000 dan panjang molekul sekurang-sekurangnya 5.000 nm. Berat molekul
selulosa rata-rata sekitar 400.000 mikrofibril selulosa terdiri atas bagian amorf
(15%) dan bagian berkristal (85%). Struktur berkristal dan adanya lignin serta
hemiselulosa disekeliling selulosa merupakan hambatan utama untuk
menghidrolisa selulosa (Sjostrom, 1995). Pada proses hidrolisa yang sempurna
akan mengahasilkan glukosa, sedangkan proses hidrolisa sebagian akan
menghasilkan disakarida selebiosa (Cole dan Fort, 2007).
2.6. Mikroba
Dalam proses hidrolisis mikroba yang digunakan adalah Trichoderma
reesei, dan untuk proses fermentasi menggunakan Zymomonas mobilis.
Komponen utama dari sistem selulase Trichoderma reesei adalah kedua jenis
enzim selobiohidrolasenya, yaitu CBHI dan CBHII, yang berjumlah total 80%
dari total protein selulase yang dihasilkan. Trichoderma reesei dapat tumbuh
optimum pada suhu 35-37 C, dengan suhu minimum 6-8 C, dan suhu

maksimum 45-47 C. Selain itu, dalam proses pertumbuhannya fungi ini


memerlukan oksigen yang cukup (aerobik). Dan pada proses fermentasi
(mengubah glukosa menjadi etanol) digunakan Zymomonas mobilis. Keuntungan
Zymomonas mobilis daripada S. cerevisia yakni: asupan gula dan hasil etanol lebih
tinggi, produksi biomas yang lebih rendah, lebih tinggi toleransi terhadap etanol,
dan tidak memerlukan tambahan kontrol oksigen selama fermentasi.
Selain itu, Zymomonas mobilis diduga juga sebagai mikroorganisme
paling ideal penghasil etanol karena memproduksi etanol terbanyak, toleran
terhadap etanol konsentrasi tinggi dan pH rendah. Zymomonas mobilis merupakan
bakteri anaerob fakultatif yang memanfaatkan glukosa, sukrosa dan fruktosa
untuk menghasilkan etanol dengan jalur metabolisme Enter - deudoroff Pathway.

2.7. Bioetanol
Bioetanol merupakan bahan bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat
menyerupai minyak premium. Untuk pengganti premium, terdapat alternatif
gasohol yang merupakan campuran antara bensin dan bioetanol. Adapun manfaat
pemakaian gasohol di Indonesia yaitu : memperbesar basis sumber daya bahan
bakar cair, mengurangi impor BBM, menguatkan security of supply bahan bakar,
meningkatkan kesempatan kerja, berpotensi mengurangi ketimpangan pendapatan
antar individu dan antar daerah, meningkatkan kemampuan nasional dalam
teknologi pertanian dan industri, mengurangi kecenderungan pemanasan global
dan pencemaran udara (bahan bakar ramah lingkungan) dan berpotensi
mendorong ekspor komoditi baru.

10

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di Laboratorium Jurusan Pendidikan Kimia,
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Halu Oleo. Adapun yang
menjadi alasan dari pemeilihan tempat bahwa calon peneliti merupakan
mahasiswa Jurusan Pendidikan Kimia sehingga untuk memudahkan akses
penelitian. Waktu penelitian selama 4 bulan, mulai dari bulan Maret 2016 sampai
bulan Juli 2016.
3.2. Alat dan Bahan

11

Alat-alat yang akan digunakan dalam penelitian ini terdiri dari: (1)
Peralatan gelas seperti gelas piala, erlenmeyer, gelas ukur, gelas alroji, corong
kaca, pengaduk, tabung reaksi, botol, dan pipet tetes, (2) Alat penunjang lain
seperti oven, pemanas listrik, lumping dan alu, neraca analitik, autoklaf, blender,
termometer, alat destilasi, jarum ose, piknometer, cawan petri, spektronik-20, dan
GC.
Bahan- bahan yang akan digunakan pada penelitian ini adalah tongkol
jagung, toge, agar bakto, KI 10%, HCl 0,1 M, H2SO4 25%, NaOH 0,1 M, kapang
Tricoderma reesei, bakteri Zymomonas mobilis, (NH4)2HPO4 10%, alkohol, bakto
pepton, NaCl, glukosa, sukrosa, Na2SO4 0,1 N, larutan kanji, Pb-Asetat, larutan
Luff-Schoorl, dan aquades.

3.3. Prosedur Kerja


3.3.1. Penghancuran tongkol jagung
Perlakuan fisika terhadap tongkol jagung meliputi pencucian,
pengeringan, dan pengayaan. Pencucian dilakukan untuk menghilangkan bahanbahan yang terikut dalam tongkol seperti tanah, cangkang dan kotoran lain.
Pengeringan dilakukan pada suhu 100 oC di dalam oven selama 1 hari dan dicapai
kadar air 14,79 %. Pengeringan ini dilakukan untuk memudahkan dalam proses
penggilingan serat tongkol jagung, karena pada keadaan lembab tongkol jagung
sukar untuk dihancurkan. Tahap penghancuran bertujuan untuk memperkecil
ukuran tongkol jagung. Alat yang digunakan adalah blender, tongkol yang sudah
dihancurkan kemudian diayak dengan ukuran berturut-turut adalah 25, 50, dan
100 mesh.

12

3.3.2. Pembuatan media


3.3.2.1.
Media padat
Media padat terdiri dari 10% ekstrak toge (4 mg toge dimasak selama 1
jam dalam 40 mL aquades, setelah itu diangkat dan disaring, lalu ditambah
aquadet hingga 40 mL), 2,4 g sukrosa dan 0,8 g agar bakto. Kemudian disterilkan
dalam autoklaf selama 1 jam pada tekanan 0,12 psi dan 120 0C.
3.3.2.2.

Media cair
Media cair dibuat dengan memasak 25 g toge dalam 250 mL aquadest

selama 1 jam, kemudian diangkat dan disaring, lalu ditambahkan aquades hingga
250 mL. Setelah itu disterilkan dalam autoklaf selama 1 jam pada tekanan 0,12 psi
dan 120 0C.
3.3.3. Kurva pertumbuhan
3.3.3.1.
Lama waktu pertumbuhan
Lama waktu pertumbuhan dilakukan pada suhu kamar dan pH 7.
Trichoderma reesei dibiakan dalam media cair. 10 mL media cair dimasukkan ke
dalam 10 erlenmeyer. Petumbuhan jamur diamati dengan spektronik. Sebelumnya,
media cair yang telah steril diambil untuk menentukan panjang gelombang
maksimun yaitu pada 300 nm, 400 nm 450 nm, 500 nm, 550 nm, dan 600 nm.
Petumbuhan jamur diamati pada panjang gelombang maksimun mulai dari hari 1
sampai hari 10.
3.3.3.2.

pH (keasaman)
pH optimum ditentukan dengan menggunakan waktu pertumbuhan

optimum pada suhu kamar dengan variasi pH 3, 4, 5, dan 6. Selanjutnya


ditentukan pH optimum berdasarkan nilai absorbansinya oleh spektronik UV.

13

3.3.3.3.

Pengaruh penghilangan lignin terhadap kadar glukosa


Pada proses ini dibuat 2 media, media hidrolisis pertama terdiri dari 150

mL ekstrak toge, 7,5 g serbuk tongkol jagung dan 15 mL media cair yang telah
diberi Trichoderma reesei. Untuk media kedua dibuat dengan komposisi yang
sama, sebelumnya serbuk tongkol jagung diberi perlakuan pendahuluan
(penghilangan lignin) yaitu sebanyak 7,5 g tongkol jagung yang telah menjadi
serbuk direndam dengan NaOH 0,1 M sebanyak 15 mL selama 24 jam. Kemudian
disaring dan dibilas dengan HCl 0,1 M lalu dimasukkan ke dalam media
hidrolisis. Pada proses ini menggunakan kondisi optimum Trichoderma reesei.
Hasil hidrolisis ditentukan kadar glukosa dengan metode Luff-Schoorl
yaitu;
1. Ditimbang 10,3 g serbuk tongkol jagung dan dimasukkan ke dalam labu ukur
2.
3.
4.
5.

250 mL dan ditambahkan sedikit aquades lalu dikocok.


Ditambahkan Pb-asetat 1 mL dan digoyangkan.
Diteteskan satu tetes larutan (NH4)2HPO4 10% hingga timbul endapan putih.
Ditambahkan aquasdes hingga tanda batas.
Dipipet 10 mL larutan hasil penyaringan dan dimasukkan ke dalam

Erlenmeyer 500 mL.


6. Ditambahkan 15 mL aquades dan 25 mL larutan Luff-Schoorl serta beberapa
batu didih.
7. Dihubungkan Erlenmeyer dengan pendingin tegak, dipanaskan di atas
pemanas listrik, diusahkan dalam waktu 3 menit sudah harus mulai mendidih.
8. Dipanaskan terus selama 10 menit kemudian diangkat dan segera dinginkan
dalam bak berisi es (tidak digoyangkan).
9. Setelah dingin, ditambahkan 10 mL larutan KI 20% dan 25 mL larutan H 2SO4
25% (dilakukan secara hati-hati karena terbentuk gas CO2).
10. Dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0,1 N dengan larutan kanji 0,5 % sebagai
indikator, misalkan V1 mL Na2S2O3 0,1 N.

14

11. Dikerjakan penetapan blanko dengan 25 mL air dan 25 mL larutan LuffSchoorl, misalkan dibutuhkan V2 mL Na2S2O3 0,1 N (Lampiran 2).

Perhitungan:
(V2 - V1) mL Na2S2O3 yang dibutuhkan diubah menjadi mL Na2S2O3 0,1 N.
% glukosa =
Ket:

FP x W 1
x 100
W

W1 = berat glukosa (mg)


W = berat sampel (mg)
FP = faktor pengenceran (Mulyono, 2005).

3.3.4. Pembuatan Bioetanol


Pada proses fermentasi, dibuat secara campur (S) dan terpisah (T) untuk
yang serentak dibuat dengan menambahkan 25 g serbuk tongkol jagung dalam
500 mL ekstrak toge dan 50 mL media cair yang telah diberi Trichoderma reesei.
Setelah itu ditambahkan bakteri Zymomonas mobilis sedang terpisah dibuat
dengan komposisi yang sama tetapi sebelum penambahan bakteri Zymomonas
mobilis, serbuk tongkol jagung disaring. Kemudian filtrat ditambahkan bakteri
Zymomonas mobilis. Hasil fermentasi kemudian didestilasi pada suhu 78-90 0C.
Bioetanol yang dihasilkan ditentukan kadarnya dengan gas kromatografi (GC).
3.3.5. Penentuan Densitas
Piknometer kosong yang bersih dan kering ditimbang (G0). Kemudian
diisi dengan sampel bioetanol, lalu tutup kapiler dimasukkan sampai tanda batas
lalu ditimbang (G). Harga densitas dapat dihitung dengan persamaan :

15

P=

GG0
Vt

Dimana: P = Densitas (g/cm3)


G = Berat piknometer dan sampel
G0 = Berat piknometer kosong
Vt = Volume piknometer (Mulyono, 2005)

16

DAFTAR PUSTAKA
Bustaman, S. (2008). Kebijakan Pengembangan Bahan Bakar Nabati (Bioetanol)
di Maluku. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan, 1 (17), 89 106.
Cole, B. dan Fort, R. (2007). http://Chemistry_umeche_maine.edu/Fort/coleFort.html.(diakses Januari 2016).
Fengel, D. dan Wegener, G. (1995). Kayu: Kimia, Ultra Struktur, Reaksi. Gadjah
Mada University Press: Yogyakarta.
Gozan, M. (2007). Sakarafikasi dan Fermentasi Bagas Menjadi Etanol
Menggunakan Enzim Sellulase dan Enzim Sellobiase. Jurnal Teknologi,
2 (8), 43 47.
Mulyono. (2005). Membuat Reagen Kimia. Bumi Aksara: Bandung.
Nishizawa, K. (1989). Degradation of cellulose and Hemicelluloses Biomass
Handbook. Gordon & Breach Science Publisher: New York.
Prihandana, R. (2007). Bioetanol Ubi Kayu Bahan Bakar Masa Depan. PT
Agromedia Pustaka: Jakarta.
Prisanto, F. (2009). Pemanfaatan Biomassa Tongkol Jagung Menjadi Bioetanol.
http://eprints.undip.ac.id/3019/1/Abstrak_final.pdf (diakses Januari
2016).
Simamora, S. (2008). Membuat Biogas Penggaanti Bahan Bakar Minyak Dan
Gas. Agromedia: Jakarta.
Sjostrom, E. (1995). Kimia Kayu: Dasar-dasar dan Penggunaan. Gadjah Mada
University Press: Yogyakarta.
Suprapto, H.S. dan Rasyid, M.S. (2002). Bertanam Jagung. Penebar Swadaya:
Jakarta.

17

Lampiran 1. Jadwal Kegiatan Progam

No
.
1.

2.

3.

Jadwal kegiatan yang akan dilakukan diuraian dalam bentuk Bar-chart berikut ini:
Bulan KeUraian kegiatan
I
II
III
IV
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3
Persiapan:
Koordinasi dengan
dosen pendamping
Mempersiapkan alat
dan bahan
Pelaksanaan:
Pembuatan Media
(Media Padat dan
Medai Cair)
Pembuatan Kurva
Pertumbuhan kapang
Trichoderma viride
Pengaruh
Penghilangan Lignin
Terhadap Glukosa
Pembuatan Bioetanol
Penentuan Densitas
Penyusunan laporan:

18

Lampiran 2. Tabel Penetapan Gula Menurut Luff Schoorl


Na2S2O3 0,1 N (mL)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22

Glukosa, Fruktosa
Gula inverse (mg)
2,4
4,8
7,2
9,7
12,2
14,7
17,2
19,8
22,4
25,0
27,6
30,3
33,0
35,7
38,5
41,3
44,2
47,1
50,0
53,0
56,0
59,1

Laktosa (mg)

Maltosa (mg)

3,6
7,3
11,0
14,7
18,4
22,1
25,8
29,5
33,2
37,0
40,8
44,6
48,6
52,2
56,0
59,9
63,8
67,7
71,1
75,1
79,8
83,9

3,9
7,8
11,8
15,6
19,6
23,5
27,5
31,5
35,5
39,5
43,5
47,5
51,6
55,7
59,8
63,9
68,0
72,2
76,5
80,9
85,4
90,0