Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Amphibi merupakan kelompok hewan dengan fase daur hidup yang
berlangsung di air dan di darat. Amphibi merupakan kelompok vertebrata yang
pertama keluar dari kehidupan dalam air. Amphibi mempunyai kulit yang selalu
basah dan berkelenjar, berjari 4-5 atau lebih sadikit, tidak bersirip. Mata
mempunyai kelopak yang dapat digerakkan, mata juga mempunyai selaput yang
menutupi mata pada saat berada dalam air (disebut membran miktans).
Daerah mulut terdapat gigi dan lidah yang dapat dijulurkan. Pada saat
masih kecil (berudu) bernapas dengan insang. Setelah dewasa bernapas dengan
menggunakan paru-paru dan kulit. Suhu tubuh berubah-ubah sesuai dengan
keadaan lingkungan (poikioterm).
Amphibia umumnya merupakan makhluk semi akuatik, yang hidup di
darat pada daerah yang terdapat air tawar yang tenang dan dangkal. Tetapi ada
juga amphibia yang hidup di pohon sejak lahir sampai mati, dan ada juga yang
hidup di air sepanjang hidupnya. Amphibia banyak ditemukan di areal sawah,
daerah sekitar sungai, rawa, kolam, bahkan di lingkungan perumahan pun bisa
ditemukan.
Amphibi merupakan makhluk hidup yang sudah memiliki struktur yang
sempurna. Berbeda halnya dengan hewan invertebrata. Dikarenakan amphibi
telah memiliki segala sistem organ di dlam tubuhnya. Seperti sistem respirasi,
sistem reproduksi, sistem ekskresi, sistem peredaran darah, dan lain-lain. Di
samping itu, amphibi merupakan hewan yang habitatnya sangat mudah untuk
kita temui dalam kehidupan seharian kita, Amphibi umumnya merupakan makhluk
semi akuatik, yang hidup di darat pada daerah yang terdapat air tawar yang tenang dan
dangkal. Tetapi ada juga amphibi yang hidup di pohon sejak lahir sampai mati, dan ada
juga yang hidup di air sepanjang hidupnya. Amphibi banyak ditemukan di areal sawah,
daerah sekitar sungai, rawa, kolam, bahkan dilingkungan perumahan pun bisa
ditemukan.

Maka dari itu sangatlah penting dalam melakukan kegiatan praktikum


yang berkaitan dengan filum Amphibi. Dengan melakukan praktikum ini
mahasiswa bisa mengenal berbagai macam spesies dan pada kelompok mana

spesies tersebut dikelompokkan. Jika tidak ada kegiatan praktikum mahasiswa


akan terlalu pasif dalam pembelajaran.
A Tujuan
Mengamati ciri, struktur dan peranan organisme yang tergolong kedalam
filum Amphibi.
B Manfaat
Mahasiswa mampu mengetahui ciri, struktur dan peranan organisme yang
tergolong kedalam filum Amphibi.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Amfibi adalah hewan yang secara taksonomi dikelompokkan dalam kelas
Amphibia. Secara singkat amfibi atau amfibia bisa diberikan pengertian sebagai
hewan bertulang belakang (vertebrata), berdarah dingin (poikiloterm), dan berkaki
empat (tetrapoda) yang hidup di dua alam, yaitu di air dan daratan. Kata Amphibia
sendiri berasal bahasa Yunani yaitu amphi yang berarti rangkap dan bios yang
berarti kehidupan. Umumnya seekor amfibi bertelur dan menempatkan telurnya di
dalam air atau di tempat yang memiliki tingkat kelembapan yang tinggi. Setelah
menetas dan menjadi larva (berudu) amfibi hidup di air atau tempat basah dan
bernafas dengan menggunakan insang. Setelah beberapa waktu, berudu mengalami
metamorfosis (berubah bentuk) menjadi hewan dewasa yang hidup di daratan
(tempat lebih kering) dan bernafas menggunakan paru-paru. Amfibi (amphibia)
terbagi menjadi tiga ordo yaitu anura (kodok dan katak), caudata (salamander), dan
gymnophiona (Sakira, 2014).
Menurut Andi Munisa (2015), ciri umum amphibi :
1. Kulitnya berlendir
2. Alat pernapasan dengan insang (fase pra dewasa), paru-paru dibantu kulit (fase
dewasa)
3. Memiliki dua pasang kaki untuk berjalan atau berenang
4. Terdapat 2 lubang hidung yang berhubungan dengan rongga mulut. Pada lubang
hidung terdapat klep
5. Matanya mempunyai kelopak yang dapat digerakkan
6. Lembar gendang pendengaran terdapat di sebelah luar
7. Mulut bergigi dan berlidah
8. Rangka tubuh sebagian besar disusun oleh tulang keras
9. Fertilisasi secara eksternal dan internal.
Ordo Anura, dikenal juga sebagai kodok atau katak. Ordo ini terdiri atas
sekitar 55 famili dengan jumlah spesies mencapai 6.455 di seluruh dunia. Indonesia
memiliki 351 spesies kodok dan katak yang telah teridentifikasi. Contoh amfibi
dari ordo Anura yang hidup di Indonesia antara lain Katak Pelangi (Ansonia
latidisca), Katak Bertaring (Limnocetes sp.), Katak Darah (Leptophryne cruentata),

Bangkong Sungai (Phrynoidis aspera), Kongkang Jeram (Huia masonii), Kodok


Pohon Kaki Putik (Philautus pallidipes), Kodok Sawah (Fejervarya cancrivora),
Bancet Hijau (Occidozyga lima), Precil Jawa (Microhyla achatina), dan Kodok
Pohon Jawa (Rhacophorus javanus). Ordo Caudata, dikenal juga sebagai
salamander. Ordo ini terdiri atas 10 famili dengan total spesies mencapai 671 jenis.
Ordo ini tidak terdapat di Indonesia. Contoh hewan amfibi dari ordo Caudata antara
lain Salamander Raksasa Cina (Andrias davidianus) yang hidup di China,
Salamander punggung merah (Plethodon cinereus) di Amerika Utara, dan Asiatic
Salamanders (Hynobius kimurae). Ordo Gymnophiona, dikenal juga sebagai
Sesilia. Ordo ini erdiri atas 10 famili dengan total spesies mencapai 200 jenis.
Amfibi anggota ordo Gymnophiona yang hidup di Indonesia (pulau Sumatera,
Jawa, dan Kalimantan) adalah dari genus Ichthyophis sp. Beberapa jenis yang
hidup di Indonesia antara lain : Indonesia Caecilian (Ichthyophis bernisi), Billiton
Island Caecilian (I. billitonensis), Elongated Caecilian (I. elongatus), Javan
Caecilian (I. hypocyaneus), Java Caecilian (I. javanicus), Black Caecilian (I.
monochrous), Kapahiang Caecilian (I. paucidentulus), Yellow-banded Caecilian (I.
paucisulcus), dan Sumatra Caecilian (I. sumatranus) (Sakira, 2014).
Fertilisasi berlangsung secara eksternal pada sebagian besar amfibia. Jantan
memegang erat-erat betina dan menumpuhkan spermanya di atas telur-telur yang
sedang dikeluarkan oleh betina. Amfibia biasanya bertelur di dalam air atau
dilingkungan

darat

yang

lembap.

Telur

tidak

memiliki

cangkang

dan

cepatmengering di dalam udara kering. Beberapa spesies amfibia bertelur dalam


jumlah yang sangat banyak dan mortalitas telurnya sangat tinggi. Sebaliknya,
spesies-spesies yang bertelur dalam jumlah yag relatif sedikit membawa telurtelurnya di punggung (Campbell, 2008).
Kebanyakan amfibi hidup di air tawar, bukan air garam. Habitat mereka
dapat mencakup wilayah yang dekat dengan mata air, sungai, parit, danau, rawa
dan kolam. Mereka dapat ditemukan di daerah lembab di hutan, padang rumput dan
rawa-rawa. Amfibi dapat ditemukan hampir di mana saja ada sumber air tawar.
Meskipun tidak ada amfibi air asin sejati, beberapa dapat hidup di air payau
(sedikit asin). Beberapa spesies tidak membutuhkan air sama sekali, dan beberapa
spesies juga telah beradaptasi untuk hidup di lingkungan kering. Kebanyakan

amfibi masih membutuhkan air untuk bertelur. Tahap telur, telur Amfibi dibuahi
dalam sejumlah cara. Fertilisasi eksternal, yang digunakan oleh sebagian besar
katak dan kodok, melibatkan jantan yang mencengkeram betina di punggungnya,
hampir seolah-olah ia memeras telur keluar dari dirinya. Pelepasan sperma jantan
pada telur betina yang mereka diletakkan. Metode lain yang digunakan oleh
salamander, dimana menyimpan paket sperma jantan ke tanah. Betina kemudian
menarik ke dalam kloaka nya, pembukaan tunggal untuk sistem organ internalnya.
Oleh karena itu, pembuahan terjadi secara internal. Sebaliknya, caecilian dan katak
berekor menggunakan fertilisasi internal, seperti reptil, burung, dan mamalia.
Menyimpan sperma jantan langsung ke kloaka betina. Tahap larva, ketika telur
menetas, organisme adalah berkaki, tinggal di air, dan bernafas dengan insang,
menyerupai nenek moyang evolusi mereka (Ani,2015).

BAB III
METODOLOGI
A. Waktu dan tempat
Hari/tanggal

: Selasa/ 22 Deseber 2015

Pukul

: 09.00 - 11.00 WITA

Tempat

: Laboratorium Biologi lantai 3 sebelah barat

B. Alat dan bahan


1

Alat
a

Alat bedah

Petridies

Cutter

Bahan
a

Kodok (Bufo sp.)

C. Prosedur kerja
1

Organisme yang termasuk kedalam filum Amphibia

Diberikan keterangan habitat tempat ditemukan yaitu pada saat mengambil

Organism tersebut dikumpulkan, kemudian dikelompokkan

Hasil pengamatan digambar dan diberikan keterangan pada bagian-bagian


tubuhnya.

Organism tersebut diawetkan dan di klasifikasikan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
1. Bufo sp
Gambar Pembanding

Sumber

Gambar Hasil Pegamatan

dokumentasi pribadi

Keterangan
Morfologi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Mata
Tulang paha
Paha
Kloaka
Kaki bagian belakang
Kaki bagian depan
Mulut
Anatomi

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Paru paru
Hati
Lambung
Kloaka
Saluran telur
Empedu
jantung

Kingdom

Klasifikasi
: Animalia

Filum

: Chordata

Kelas

: Amphibia

Ordo

: Anura

Famili

: Bufonidae

Genus

: Bufo

Species

: Bufo sp

Sumber: www.wikipedia.com

A Pembahasan
1

Bufo sp
a

Morfologi
Bagian morfologi katak berupa cepal, trunkus, dan abdomen. Pada
cepal, terdapat organon visualyang berfungsi sebagai panca indera, Bulbus
Oculis sebagai selaput mata dan palpebra. Pada Rana cancarivora terdapat
membran niktitans atau kelopak bagian depan), dan rima oris. Pada bagian
tuncus terdapat dorsum (punggung), toraks(dada), abdomen (perut), aplica
dernalis (lipatan lidah), dan anus (saluran pembuangan). Kemudian pada
ekstrimitas terbagi atas dua, yaitu eksrimitas anterior (alat gerak bagian
depan) yang terdiri dari branchium(lengan atas), ante branchium (lengan
bawah), manus, digiti (jari ), dan ekstrimitas posterior (alat gerak bagian
belakang) yang terdiri dari femur (paha), crus (betis), pes, selaput renang
dan digiti.

Anatomi
Di belkang mata kodok terdapat membrane tympani untuk
menerima getaran suara. Pada akhir tubuh terdapat anus yang berfungi
sebagai pintu pelepasan feses. Kodok memiliki organ dalam berupa,
jantung, paru-paru, hati, usus halus, usus besar, dan yang terakhir kantung
empedu.

Habitat
Kodok biasanya ditemukan pada tempat yang lembab seperti rawa
ataupun sawah

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan
bahwa katak pada bagian dorsal terdiri dari mata (orbita), hidung (nares),
cavum oris, telinga (tympani), kaki depan, dan kaki belakang. Anatomi katak
terdiri atas sistem pencernaan, sistem peredaran darah, sistem pernapasan dan
sistem urogenitalia. Sistem pencernaan katak terdiri dari mulut, esofagus,
lambung, usus halus, usus besar, kloaka, hati, pankreas, dan empedu. Sistem
pernapasan katak meliputi lubang hidung dan paru-paru yang terdiri atas
bronchus, bronchiolus, alveolus, dan pleura. Sistem peredaran darah katak
meliputi jantung yang terdiri atas aorta, atrium kanan dan kiri, ventrikel, serta
perikardium dan pembuluh darah yang terdapat diseluruh bagian tubuh. Sistem
ekskresi katak melibatkan ginjal, ureter, bledder, dan kloaka.
B. Saran
Untuk asisten, sebaiknya lebih memperhatikan praktikan saat melakukan
praktikum guna meminimalisir kesalahan yang dilakukan praktikan. Untuk
praktikan, sebaiknya lebih teliti, sabar dan disiplin dalam melakukan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Ani. 2015. Ciri-ciri umum hewan Amphibi. http://fungsi.web.id/2015/09/ciri-ciriumum-hewan-amfibi.html. Diakses pada tanggal 28 Desember 2015 pukul
19.00.
Campbell, Neil A. 2008. Biologi Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Munisa Andi, dkk. 2015. Penuntun Praktikum Biologi Sistematika Hewan.
Makassar: Universitas Negeri Makassar.
Sakira.

2014. Mengenal Amfibi, Ciri-Ciri, dan Jenis Amfibi Indonesia.


http://alamendah.org/2014/10/11/mengenal-amfibi-ciri-ciri-dan jenisamfibiindonesia/. Diakses pada tanggal 28 Desember 2015 pukul 19.00.