Anda di halaman 1dari 29

REPRODUKSI VERTEBRATA

(DOMBA)

OLEH :
ADRIANI (1214141008)
LIANARTI (1214141005)
BIOLOGI SAINS

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Domba adalah salah satu komoditas ternak ruminansia kecil dengan rambut
tebal dan dikenal banyak

orang karena dipelihara untuk dimanfaatkan

dagingnya.

Selain dimanfaatkan dagingnya, domba dapat dimanfaatkan susu dan rambutnya


sebagai bahan baku di industri tekstil. Di

pedesaan

banyak

masyarakat

yang

memelihara domba, namun cara pemeliharaannya masih sederhana dengan jumlah


kepemilikan

sedikit dan domba tersebut merupakan usaha sampingan dan sebagai

tabungan. Sebenarnya domba merupakan salah satu ternak yang mempunyai potensi
dan prospek untuk dikembangkan karena domba mudah beradaptasi dan domba
setiap 2 tahun dapat beranak 3, setiap beranak bisa 1 atau 2 ekor. Domba termasuk
ternak yang suka berkelompok dalam hidupnya, memiliki rambut yang tebal, penampang
tanduk yang berbentuk segitiga, membelit atau berbentuk spiral, dapat hidup pada kondisi
pakan yang jelek, sehingga cocok untuk daerah yang gersang (Sosroamidjojo, 1983).
Domba di Indonesia dikelompokkan menjadi (1) domba ekor tipis (Javanese thin
tailed), (2) domba ekor gemuk (Javanese fat tailed), dan (3) domba Priangan atau
dikenal juga sebagai dom ba garut (Devendra dan McLeroy, 1982).Pengembangan
ternak domba dapat meningkatkan pendapatan, pendapatan yang meningkat dari
usaha peternakan akan memberikan motivasi untuk berusaha lebih baik. Suksesnya
suatu usaha beternak domba dipengaruhi oleh kemampuan ternaknya berproduksi, harga
inputproduksi,

serta

output

yang

dihasilkan. Agar

peternakan

domba

dapat

beroperasi dengan lancar dan menghasilkan keuntungan yang maksimal diperlukan


pengetahuan tentang manajemen usaha (Harianto et.al.,2010).
Manajemen

usaha

di

peternakan

domba

berguna

untuk meminimalkan

kemungkinan munculnya masalah atau kendala usaha, sehingga peternakan dapat


terus berkembang tanpa hambatan berarti. Manajemen usaha ternak domba meliputi
semua

hal

yang

berkaitandengan

peternakan,

dari

manajemen

permodalan,

manajemen produksi, sumber daya manusia (SDM), hingga pakan (Harianto et al.,
2010).Peternak domba pemula atau yang populasinya masih beberapa ekor bisa
menentukan ternaknya untuk dipasarkan pada saat Idul Adha sehingga bisa

langsung menjual ke konsumen akhir. Laba atau keuntungan menjual domba saat
Idul Qurban bisa mencapai Rp 200.000,00 per ekor. Jika populasi domba yang
dimiliki 100 ekor, maka laba yang akan diperoleh mencapai 20 juta rupiah (Harianto et
al., 2010). Prospek usaha ternak domba cukup menjanjikan mengingat pasarnya
masih terbuka luas, baik pasar di dalam negeri maupun di luar negeri. Permintaan
ternak ini meningkat pada hari-hari besar, terutama hari raya Idul Adha (Purbowati,
2011).
Saat Idul Qurban, banyak sekali penjual domba untuk Qurban di pinggiran
jalan raya. Modal usaha para penjual bisa berasal dari dana pribadi, modal
patungan, atau sumber lain seperti investor atau pinjaman dari lembaga keuangan.
Salah satu penjual domba untuk Idul Qurban yaitu Ternak Barokah bermitra
dengan Universitas Gadjah Mada. Mitra tersebut berupa peminjaman tempat untuk
mengembangkan usaha penjualan domba. Harga domba pada saat hari raya tidak berada
pada kisaran normalkarena bisa sekitar 20% lebih tinggi dibandingkan hari biasa. Harga
yang diberikan penjual kepada calon pembeli atau sohibul qurban bermacammacam
tergantung jenis domba dan berat badan domba. Jenis domba yang disediakan oleh
penjual

bervariasi

dari

ukuran

tubuh,

umur,

dan berat badan

domba yang

berpengaruh terhadap harga jual.


B. Tujuan
Untuk mengetahui mekanisme reproduksi yang terjadi pada domba serta
teknologi yang dikembangkan untuk meningkatkan produksi domba.
C. Manfaat
Mampu mengetahui mekanisme reproduksi yang terjadi pada domba serta
teknologi yang dikembangkan untuk meningkatkan produksi domba.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Kebutuhan akan daging saat ini sangat mendesak, untuk hal it u perlu upaya pemanfaatan
ternak semaksimal mungkin. Ternak domba salah satu di

antara jenis ternak yang dapat

dimanfaatkan dalam memenuhi kebutuhan daging. Akan tetapi banyak kendala dihadapi untuk
memenuhi targettersebut, di

antaranya tingkat reproduksi

yang tidak sesuai harapan.

Kegagalan reproduksi dapat terjadi tidak hanya dari aspek betina akan tetapi dari aspek pejantan
pun sering terj adi. Kegagalan re produksi berarti kegagalan ter hadap reproduksi ternak,
karena organ reproduksi yang berfungsi baik merupakan hal utama dalam menentukan
keberhasilan ternak.
Salah satu upaya untuk pelestarian sumberdaya genetik (plasmanutfah) suatu bangsa ternak
adalah melalui peningkatan populasi, dan hal tersebut tidak terlepas dari penampilan reproduksi
ternak yang bersangkutan. Berbicara reproduksi maka sistem perkawinan akan terlibat
didalamnya, baik kawin alam maupun suntik (IB). Kemudian waktu mengawinkan dan jumlah
perkawinan memegang peranan penting dalam menentukan efisiensi reproduksi ternak, karena
hal ini menyangkut jarak beranak yang akan ditimbulkannya. Salah satu penyebab rendahnya
efisiensi reproduksi adalah kegagalan perkawinan sehingga jumlah berkawinan meningkat.
Sejalan dengan fenomena tersebut, otomatis akan memperpanjang jarak beranak, yang pada
akhirnya akan menghambat peningkatan populasi suatu bangsa ternak akibat rendahnya efisiensi
reproduksi. SETIADI et al.(1995) melaporkan bahwa selang beranak ternak kambing pada
kondisi pedesaan relatif masih tinggi, yakni berkisar antara 915 bulan, sementara pada domba
9,9 bulan.
Domba merupakan salah satu ternak yang diusahakan oleh peternak dalam skala kecil di
pedesaan . TOELIHERE (1977) telah mengamati dan menyimpulkan bahwa kegiatan reproduksi
domba-domba betina lokal di Indonesia berlangsung sepanjang tahun, sehingga tidak ada
pengaruh musim atau iklim terhadap kegiatan reproduksi domba-domba lokal tersebut . Domba
dapat diternakkan dimana saja dan dapat berkembang biak sepanjang tahun . Sebelum
pengembangbiakkan dilakukan, perlu diketahui asal-usul mengenai induk dan pejantan yang
baik,karena apabila kita memiliki ternak dengan bibit yang baik, maka diharapkan akan
dihasilkan keturunan yang baik pula . Untuk mendapatkan keturunan yang baik, dapat dilakukan
seleksi atau persilangan dengandiikuti program perkawinan yang terarah .Untuk menghindari

penampilan anak atau keturunan yang makin jelek, sebaiknya dihindari perkawinan ternak yang
mempunyai hubungan keluarga dekat, oleh karena itu diperlukan catatan asal usul ternak .Ternak
hasil seleksi dapat dikembang biakkan dengan cara Insiminasi Buatan (IB) atau dengan cara
perkawinan alami .
A. Anatomi Reproduksi Domba
1. Anatomi alat reproduksi betina

a. Ovarium
Domba ovarinya di bagi atas 2 bagian utama. Ovarium berbentuk oval Fungsi dari
ovarium adalah menghasilkan telur. Hal ini sesuai dengan pendapat Wodzicka et all.,

(1991) yang menyatakan bahwa ovari pada domba betina berbentuk oval dengan panjang
kira-kira 1,5 cm. Ovari terdiri dari 2 bagian utama yaitu zona vaskular (medulla) dan
zona parenkima. Partodihardjo (1980) Ovarium atau gonad merupakan bagian alat
kelamin yang utama, ovarium menghasilkan telur, oleh karena itu dalam bahasa
Indonesia seringkali disebut induk telur.
b. Tuba falopii
Tuba falopii atau oviduct tersebut berbentuk tabung yang berkelok-kelok apabila
diluruskan panjangnya bisa mencapai lebih kurrang 15 cm, fungsi dari tuba falopii
tersebut adalah tempat terjadinya pembuahan tempat bertemunya spermaozoa dan sel
telur hal ini sesuai dengan pendapat Wodzicka et all., (1991) Tuba falopii atau oviduct ini
berkelok-kelok sehingga kelihatannya lebih pendek dari panjang sebenarnya (kira-kira 15
cm). Oviduct terbagi menjadi 3 bagian infundubulum yang merupakan perluasan dari
ujung ovarium , ampulla yang merupakan bagian tengan dari oviduct tempat terjadi
pembuahan, isthmus yang merupakan bagian terakhir dari oviduct yang terbuka langsung
ke bagian ujung runcing dari uterus. Partodihardjo (1980) menambahkan Saluran ini ada
sepasang merupakan saluran yang menghubungkan ovarium dan uterus. Bentuknya bulat,
kecil, panjang dan berkelok-kelok. Ukuran panjang dan kelok-keloknya berbeda setiap
hewan. Fungsi oviduct adalah menerima telur yang diovulasikan oleh ovarium, menerima
spermatozoa dari uterus, mempertemukan ovum dan spermatozoa, dan menyalurkan
ovum yang telah dibuahi ke dalam uterus.
c. Uterus
Uterus pada ternak sapi, domba berbentuk tanduk, pada domba bentuknya lebih pendek
dibandingkan dengan babi. Uterus dibagi atas badan dan kornua, hal ini sesuai dengan
pendapat Wodzicka et all., (1991) uterus terdiri atas bagian badan yang pendek (3-4 cm)
dan dua kornua (tanduk) yang menggulung dengan panjang kira-kira 10 cm. Kedua
kornua digabungkan beberapa sentimeter oleh suatu ligamentum sehingga bagian badan
kelihatannya agak lebih panjang. Partodihardjo (1980) Uterus pada hewan kebanyakan
terdiri atas sebuah korpus uteri dan 2 buah kornua uteri. Kornua umumnya berbentuk
panjang lancip, hanya pada jenis kera dan manusia berbentuk pendek sekali atau
beberapa pendapat mengatakan kornua pada bangsa primata tidak ada.
d. Serviks

Serviks memiliki dinding yang sangat tebal teretak diujung uterus dan diujung
vagina, pada serviks terdapat cairan yang berfungsi membantu jalannya spermatozoa.
Fungsi dari serviks adalah menutup lumen uterus dari gangguan mikrobia, hal ini sesuai
dengan pendapat yang dikemukakan oleh Partodihardjo, (1980) yang menyatakan bahwa
serviks adalah urat daging sphincter yang terletak diantara uterus dan vagina jadi serviks
dapat dianggap pintu masuk ke dalam uterus, karena dapat terbuka dan tertutup dan
tergantung pada fase siklus birahi hewan. Fungsi serviks adalah terutama menutup
lumen uterus sehingga tak memberi kemungkinan untuk masuknya jasad mikroskopik
maupun mikroskopik ke dalam uterus. Serviks mempunyai cairan serviks yang berfungsi
memberi jalan dan arah bagi spermatozoa yang disemprotkan oleh penis dalam vagina.
Spermatozoa akan berenang mengikuti asal arah cairan. Pada babi ujung penis sewaktu
kopulasi menerobos masuk ke dalam lumen serviks karena vagina babi biasanya pendek
15 cm. Pada sapi serviks itu demikian meluasnya sehingga segera setelah fetus
meninggalkan uterus sepintas lalu kita tidak dapat mengenal vagina, serviks atau uterus.
Saliasbury (1985) Serviks merupakan bagian dari alat reproduksi yang berdinding tebal
dengan panjang 5-10 cm dari tempat sambungan dengan uterus ke arah belakang yang
berkesinambungan dengan vagina yang berdinding tipis.
e. Vagina
Vaginaberada didalam pelvis, pada ternak betina normal akan terjadi perubahan
pada saat birahi hal ini sesuai degan pendapat Wodzicka et all., (1991) vagina terletak di
dalam pelvis Partodihardjo, (1980) Hewan betina yang nomal dan tidak bunting , epitel
mukosa vaginanya secara periodik berubah. Perubahan ini berada di bawah pengaruh
hormon yang disekresikan oleh ovarium.
f. Vulva
Vulva berada pada bagian paling luar organ reproduksi ternak betina pada vulva
terdapat bulu-bulu halus, vulva berfungsi sebagai tempat tempat masuknya penis ternak
jantan, hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Wodzicka et all., (1991)
labia vulva ditutupi oleh bulu-bulu yang jarang dan menjaga lubang luar saluran
reproduksi. Pada domba commisure dorsal nya agak membulat, sedangkan dari bagian
ventral labia diteruskan sebagai tonjolan di tengah-tengah. Saliasbury, (1985) vulva

merupakan alat kelamin betina bagian luar. Lubang luar alat reproduksi sapi betina
berada tepat di bawah anus.
1.4. Perbedaan AOR ternak betina pada Sapi, Kambing, Babi dan domba
Uterus pada sapi,babi dan domba perbedaannya terletak pada ukurannya. Ukuran
uterus pada babi lebih panjang diabndingkan dengan sapi dan domba, sehingga babi dapat
beranak lebih banyak dalam sekali melahirkan. Menurut Hafez (1972) Sapi dan domba
memiliki tipe uterus bipartitus. dangkal tubuh rahim pada sapi dan domba tampak lebih
besar daripada sebenarnya bisa karena bagian-bagian ekor dari tanduk terikat bersama oleh
ligamentum intercounal. Pada ruminansia, tanduk uterus secara khusus berkembang dengan
baik karena ini adalah di mana janin berada. Bentuk serviks pada sapi dan domba yaitu
berbentuk spiral. Pada sapi, spiral ini berbentuk seperti cincin dan terdiri dari empat buah.
Sedangkan pada Babi bentuknya seperti pembuka botol (setengah spiral). Menurut Hafez
(1972) struktur serviks berbeda secara rinci antara mamalia pertanian, dinding ditandai
dengan berbagai keunggulan. Pada ruminansia ini adalah dalam bentuk pegunungan
melintang atau spiral saling dikenal sebagai cincin melingkar, yang berkembang untuk
berbagai degress pada spesies yang berbeda. Mereka terutama menonjol dalam sapi (4
cincin) dan domba, di mana mereka masuk ke dalam setiap dekat otherto serviks aman. Pada
babi Betina, cincin ini berada di pengaturan pembuka botol yang disesuaikan dengan
memutar spiral ujung penis babi hutan itu. Ovarium pada sapi, domba dan babi berbeda darri
segi bentuknya. Bentuk ovarium sapi dan domba berbentuk seperti kacang almond,
sedangkan pada babi seperti anggur. Menurut Hafez (1972) ovarium, tidak seperti testis,
tetap dalam rongga perut. Ini performans kedua eksokrin dan sebuah fungsi endokrin.
Bentuk dan ukuran ovarium spesies withnthe kedua dan tahap siklus estrus. Pada sapi dan
domba ovarium ini berbentuk almond. Pada babi ovarium menyerupai sekelompok anggur,
folikel nyata menonjol dan corpora lutea.
B. Anatomi Reproduksi Jantan

a. Testes
Testes merupakan organ kelamin jantan yang sangat penting karena memiliki
fungsi yaitu menghasilkan sel kelamin jantan (sperma) dan hormon androgen, hal ini sesuai
dengan pendapat Partodihardjo (1980), yang menyatakan bahwa Fungsi testes ada 2 yaitu
menghasilkan sel benih jantan atau spermatozoa dan hormon - hormon jantan atau
androgen. Ditambahkan oleh Noviana et al.,(2007) yang menyatakan bahwa Testes
merupakan organ kelamin primer pada sistem reproduksi hewan jantan, karena di dalam
organ inilah sel-sel kelamin jantan (spermatozoa) dihasilkan.spermatozoa dihasilkan di
dalam tubuli seminiferi melalui proses spermatogenesis pada saat hewan mencapai usia
pubertas.
b. Epididymis

Epididimis merupakan organ reproduksi jantan yang terletak setelah tetes, yang
memiliki fungsi, transport, konsentrasi, maturasi, dan penyimpanan sperma. Epididymis
memiliki tiga bagian yaitu, caput (kepala), corpus (badan) dan cauda (ekor), hal ini sesuai
dengan pendapat Noviana et al., (2007) yang menyatakn bahwa Epididymis berbentuk
memanjang dan melekat erat pada testis dan dapat dibagi atas bagian kepala (caput), badan
(corpus) dan ekor (cauda). Caput epididymis membentuk suatu dasar dari ujung proksimal
testis dan membentuk huruf U, lebar caput semakin pipih dan mengecil menjadi bagian
yang lurus yang memanjang yaitu bagian corpus. Corpus epididymis diteruskan menjadi
bagian cauda yang menggantung di bagian distal testis. Ditambahkan oleh Toelihere (1981)
yang menyatakan bahwa fungsi epididymis yaitu Transport, yaitu spermatozoa diangkut
dari rele testes ke ductus effernts oleh tekanan cairan didalam testes. Konsentrasi, yaitu dari
suspense sperma encer yang berasal dari testes dengan konsentrasi 25.000 350.000
sel/mm3, air direabsorbsi kedalam sel-sel epitel selama perjalanannya melalui epididymis
caput dan ketika mencapai cauda konsentrasi suspense sperma menjadi 4.000.000 sel.
Maturasi yaitu sperma menjadi matang dalam epididymis dan sisa sitoplasma berpindah
dari pangkal kepala ke ujung bawah bagian tengah sperma. Penyimpanan yaitu menyimpan
sperma, tepatnya di cauda epididymis. Partodihardjo (1980) berpendapat bahwa Duktus
epididymis sejak dibagian kepala telah berkelok-kelok rapat sekali sehingga konsistensi
epididymis terasa kenyal.
c. Vas deferent
Vas deferens merupakan organ reproduksi yang menghubungkan epididymis dengan
uretra, sehingga sel sperma yang sudah matang dapat diteruskan ke uretra. Tekstur vas
deferens terasa padat, hal ini sesuai dengan pendapat Wodzicka et al., (1991) yang
menyatakan bahwa Vas deferens merupakan sambungan langsung dari bagian ekor
epididymis. Saluran ini lewat secara pararel menuju testis masuk ke spermatic cord
dibagian tengah dan mesorchium dan melalui lubang inguinal terus ke lipatan genital
peritoneum. Dinding vas deferent tebal dan berotot dengan lubang kecil sehingga terasa
padat dan dapat diraba (lewat kulit) dibagian leher skrotum dan dapat diikat atau dipotong
untuk membuat pejantan vasektomi. Ditambahkan oleh Toelihere (1981) tang menyatakan
bahwa Vas deferens merupakan saluran yang menghubungkan cauda epididymis dengan
uretra.

g. Uretra
Uretra merupakan organ reproduksi, yang berfungsi untuk jalannya semen menuju
penis, dan sebagai jalannya urine, hal ini sesuai dengan pendapat wodzicka et al., (1991),
yang menyatakan bahwa ureter berfungsi sekaligus sebagai saluran reproduksi dan
saluran air kencing , dan lumennya dilapisi oleh sel epitel peralihan. Ditambahkan oleh
Toelihere (1981), yang menyatakan bahwa uretra merupakan saluran ekskretori bersama
untuk urin dan semen. Uretra membentang dari daerah pelvis ke penis dan berakhir pada
ujung glans sebagai orificum uretra eksternal. Uretra dapat dibedakan menjadi tiga bagian
yaitu, bagian pelvis, bulbus uretra, dan penis.
h. Penis
Penis merupakan organ kopulasi, yang berfungsi untuk menyemprotkan semen dan
urine, hal ini sesuai dengan pendapat Partodihardjo (1980) yang menyatakan bahwa penis
mempunyai 2 fungsi yaitu menyemprotkan semen kedalam alat reproduksi betina, untuk
lewatnya urin. Ditambahkan oleh Toelihere (1981) yang menyatakan bahwa penis
merupakan organ kopulatoris. Penis terdiri dari tiga bagian, yakni bagian akar ( crush
penis), bagian badan ( corpus penis), dan bagian kepala (gland penis).

C. PROSES KAWIN DOMBA


Reproduksi adalah hal yang paling penting harus diperhatikan jika tujuan beternak
untuk mengembangkan ternak tersebut. Hal yang harus di ketahui oleh para peternak dalam

pengelolaan reproduksi adalah pengaturan perkawinan yang terencana dan tepat waktu.
Dewasa

kelamin,

yaitu

saat

ternak

domba

memasuki

masa

birahi

yang pertama kali dan siap melaksanakan proses reproduksi. Fase ini dicapai pada saat
domba berumur 6-8 bulan, baik pada yang jantan maupun yang betina. Dewasa tubuh,yaitu
masa domba jantan dan betina siap untuk dikawinkan. Masa ini dicapai pada umur 10-12
bulan pada betina dan 12 bulan pada jantan. Perkawinan akan berhasil apabila domba
betina dalam keadaan birahi (Anonim, 2001)Birahi domba Indonesia terjadi setiap 16-17
hari sekali sepanjang tahun, berbeda dengan domba yang hidup di Negara empat musim,
mereka birahi setahun sekali pada saat musim bunga. Usaha untuk pengembangan ternak
domba di awali dengan penyiapan betina yang subur dan sehat, serta bobotnya tidak kurang
dari 19 kg. hal itu dikarenakan agar betina ketika dewasa dan akan kawin kondisi tubuh dan
reproduksinya siap untuk menerima kebuntingan. Selanjutnya adalah penyiapan pejantan
yang sehat dan subur, organ reproduksi normal, dan fisiknya kuat.
Ovulasi umumnya terjadi di dekat akhir periode estrus (24 jam setelah birahi). Sel telur
akan memasuki saluran tuba, dan secara bertahap (72-96 jam setelah ovulasi) akan
memasuki rahim. Estrus sesuai dengan waktu optimal untuk kawin,memungkinkan untuk
waktu perjalanan sperma dan telur ke saluran tuba. Pembuahan telur oleh sperma umumnya
terjadi ketika telur di tuba falopi. Telur mampu dibuahi sekitar 10 sampai 25 jam setelah
ovulasi. Seperti domba-domba sering mengalami kelahiran kembar, lebih dari satu
telur dapat dilepaskan selama estrus dalam periode yang sama. Meskipun tidak semua
ovum (telur) yang dikeluarkan akan dibuahi, ada kemungkinan lebih besar ,beberapa
kehamilan jika tingkat ovulasi tinggi betina yang normal masa birahinya bersiklus setiap
15-17 hari. Satukan pejantanyang telah disiapkan dengan betina yang juga telah disiapkan
selama 2 siklus birahi.Pada hari pertama penyatuan antara betina dan pejantan ini, biasanya
pejantan sangat agresif mengejar betina. Sementara biasanya betina belum ada yang birahi.
Biarkansaja hal tersebut terjadi. Biasanya pada hari ketiga betina mulai tampak ada
yang birahi dan mengejarngejar pejantan. Setelah anak disapih dari induknya, ternak betina
ini perlu ditingkatkan kualitas dan kuantitas pakannya. Hal ini perlu dilakukan untuk
mempersiapkan induk-induk

ini untuk dikawinkan

kembali. Seperti pada

musim

perkawinan yang lalu betina-betina ini kembali dikelompokan dalam satukelompok


termasuk betina-betina yang gagal bunting pada musim perkawinan yang lalu. Setelah dua

minggu dalam

kondisi pakan

istimewa ini masukan

pejantan biarkan selama 2 siklus birahi (34 hari). Demikian kegiatan ini dilakukan berulang
seperti yang telah dilakukan pada musim perkawinan yang lalu (Inounu, 2006).Karena
masa birahi terjadi hanya beberapa saat, yaitu sewaktu hormone estrogenmencapai
puncaknya, berkisar hanya 24-48 jam, dan terjadinya birahi berikutnyasekitar 11-19 hari,
maka

untuk

mempermudah

tatalaksana

perkawinan,

sebaiknya pejantan dicampur dengan sekelompok betina selama 42 hari, sehingga bila ada
betina yang birahi, dapat langsung dikawini Selain kawin alami, domba juga dapat
diterapkan inseminasi buatan..
D. Sistem perkawinan
Dikenal dua sistem perkawinan pada ternak domba yaitu kawin alam dan kawin suntik
(IB), namun yang paling memungkinkan dilakukan petani adalah kawin alam. Hingga saat
ini kawin suntik (IB) belum dapat dilakukan secara mandiri oleh petani, walaupun tingkat
kebuntingan hasil IB dengan semen cair dapat mencapai 79,4 persen (ADIATIdan
SUPARYANTO, 2001).
Perkawinan alam ada dua macam yakni:
1. Ternak jantan dipisah dengan domba induk dan pejantan dikawinkan pada waktu
domba induk dalam keadaan berahi. Kelemahan pada sistem perkawinan ini adalah bila
petani terlambat mengetahui waktu berahi, maka kemungkinan besar waktu
mengawinkan

tidak

tepat

(terlambat),

akibatnya

kemungkinan

kecil

terjadi

kebuntingan. Jadi pada sistem perkawinan ini petani dituntut harus paham benar
mengenai tandatanda berahi
2. Sistem perkawinan kelompok, yaitu pejantan disatukan dengan kelompok induk secara
terus menerus, paling tidak selama dua bulan. Diharapkan selama dua bulan tersebut,
semua domba induk sudah bunting, baru kemudian pejantan ditempatkan pada kandang
yang terpisah.
Sistem perkawinan kelompok inilah kiranya yang cocok untuk diterapkan ditingkat petani,
karena mudah dan murah. Untuk menghemat waktu dan tenaga sebaiknya perkawinan
dilakukan secara alam dengan sistem kelompok, dengan perbandingan jantan : betina = 1 :
10 15 (LINDSAYdalam PAMUNGKAS et al., 1996). Agar waktu mengawinkan dan
melahirkan dapat seragam, maka perlu dilakukan penyerempakkan berahi yang sederhana

yang dapat dilakukan oleh peternak seperti penyerempakan berahi secara biologis.
Penyerempakan berahi secara hormonal merupakan hal yang sulit untuk dilakukan oleh
petani, karena memerlukan biaya yang cukup tinggi untuk ukuran peternak dipedesaan.
Penyerempakkan

berahi

secara

biologis

dapat

dilakukan

dengan

menggunakan

perangsangan pejantan. Proses tersebut diawali dengan menempatkan ternak betina secara
terpisah (tidak terlihat secara fisik dan tidak tercium bau) dari pejantan selama kurang lebih
34 hari (OLDHAM, yang dikutip SIANTURI et al., 1997). Selanjutnya ternak jantan
disatukan dengan betina, maka kehadiran pejantan tersebut menyebabkan rangsangan
fisiologis melalui penglihatan, suara dan bau terhadap proses ovulasi dan berahi. Pheromon
adalah bau spesifik yang diproduksi oleh kelenjar tubuh ternak jantan dan dikeluarkan
melalui kulit dan bulu. Diduga pheromon memegang peranan penting dalam proses
penyerentakan berahi secara biologis (KNIGHTdan LYNCH, dalam SIANTURI

et

al.,1997). Bagi induk induk yang tidak memperlihatkan tanda-tanda berahi (berahi tenang),
disarankan untuk disatukan dengan pejantan selama 6 hari. Proses tersebut menyebabkan
berahi akan terjadi dengan diikuti oleh ovulasi (PUSLITBANG PETERNAKAN, 1989).
Penelitian mengenai penyerempakkan berahi secara biologis yaitu dengan cara mengisolasi
sekelompok betina selama 3 minggu dari pejantan, kemudian setelah tiga minggu secara
tiba-tiba dimasukkan pejantan kedalam kelompok betina tersebut, maka sekitar 37 jam
kemudian akan timbul berahi secara bersamaan (ADIATI et al., 1997).
E.

Memperpendek jarak beranak


Usaha memperpendek jarak beranak ini erat hubungannya dengan aktivitas seksual, semakin
cepat berahi kembali stelah beranak, maka akan semakin cepat ternak tersebut kawinkan
kembali, sehingga akan memperpendek jarak beranak. Kenyataan di lapang jarak beranak
pada domba masih cukup panjang yakni 9,9 bulan (SUBANDRIYO et al., 1994). Hasil
penelitian PAMUNGKAS et al.(1996) menunjukkan bahwa di pedesaan jarak dikawinkan
kembali domba ekor gemuk setelah beranak cukup lama yaitu 87, 88 dan 87,23 hari masingmasing untuk dataran rendah dan sedang. Untuk memperpendek jarak beranak, hendaknya
domba induk dikawinkan kembali paling lama dua bulan setelah beranak, atau paling cepat
dua kali berahi setelah beranak, karena pada umur tersebut diharapkan keadaan uterus sudah
pulih

kembali

(normal).

Hasil

penelitian

HASTONOdan

MASBULAN(2001)

menunujukkan bahwa domba induk Garut dikawinkan kembali 54,07 dan 58,28 hari setelah
beranak, masingmasing untuk desa Sukawargi dan Tenjonegara Kabupaten Garut, sehingga
diperoleh jarak beranak 7,54 dan 8,14 bulan.
F. Mengandangkan ternak
Pengandangan ternak merupakan salah satu upaya peningkatan efisiensi reproduksi. Dengan
cara ini peternak akan lebih mudah melakukan pengamatan birahi dan tatalaksana
perkawinan. Dalam prakteknya manajemen pengandangan ternak dapat dilakukan sebagai
berikut:
1. Untuk domba dara dikandangkan pada umur pubertas yaitu pada umur antara 710 bulan
2. Untuk domba induk setelah beranak, dikandangkan terus-menerus selama dua bulan. Hal
ini bertujuan untuk mengetahui waktu berahi kembali setelah beranak.
3. Setelah dikawinkan, tujuannya adalah untuk memastikan keberhasilan perkawinan
(terjadi kebuntingan) atau tidak.
Domba merupakan salah satu ternak yang diusahakan oleh peternak dalam skala kecil di
pedesaan . TOELIHERE (1977) telah mengamati dan menyimpulkan bahwa kegiatan reproduksi
domba-domba betina lokal di Indonesia berlangsung sepanjang tahun, sehingga tidak ada
pengaruh musim atau iklim terhadap kegiatan reproduksi domba-domba lokal tersebut . Domba
dapat diternakkan dimana saja dan dapat berkembang biak sepanjang tahun . Sebelum
pengembangbiakkan dilakukan, perlu diketahui asal-usul mengenai induk dan pejantan yang
baik,karena apabila kita memiliki ternak dengan bibit yang baik, maka diharapkan akan
dihasilkan keturunan yang baik pula . Untuk mendapatkan keturunan yang baik, dapat dilakukan
seleksi atau persilangan dengandiikuti program perkawinan yang terarah .Untuk menghindari
penampilan anak atau keturunan yang makin jelek, sebaiknya dihindari perkawinan ternak yang
mempunyai hubungan keluarga dekat, oleh karena itu diperlukan catatan asal usul ternak .Ternak
hasil seleksi dapat dikembang biakkan dengan cara Insiminasi Buatan (IB) atau dengan cara
perkawinan alami .Menurut SUBANDRIYO ( 1992), sistim erkawinan alami bisa dilakukan
secara individu atau kelompok . Untuk sistim perkawinan individu, domba-domba ditempatkan
di kandang kelompok, dimana pemeriksaan birahi harus dilakukan setiap hari . Dengan sistim ini
akan memberikan informasi yang lengkap terhadap fertilitas diantara domba betina maupun
pejantan, serta lamanya kebuntingan . Pada sistim perkawinan kelompok, domba-domba betina
ditempatkan di kandang kelompok, dan kedalam kandang tersebut ditempatkan satu ekor
pejantan yang sudah diidentifikasi . Tatalaksana perkawinan alami akan berhasil dengan baik

apabila peternak memahami persyaratan atau tanda tanda kapan sebaiknya mulai dilakukannya
perkawinan.
Penyebab rendahnya efisiensi reproduksi ternak domba ditingkat petani di pedesaan diantaranya
adalah tidak tepat waktu, ketika mengawinkan ternak domba yang dipeliharanya. Hal ini
disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yaitu: a). Rendahnya pemilikan pejantan. Petani
beranggapan bahwa bila memelihara pejantan tidak menguntungkan karena tidak menghasilkan
anak (HASTONOdan MASBULAN, 2001). Hasil penelitian PAMUNGKAS et al. (1996)
menunjukkan bahwa terdapat rasio yang tidak seimbang antara pejantan dengan betina; yakni 1 :
24 sampai 1 : 27. Dengan tidak dimilikinya pajantan oleh sebagian besar petani, maka jika
domba induk berahi tidak dapat segera dikawinkan. Petani terlebih dahulu harus mencari
pejantan ketempat lain, biasanya dengan jalan menyewa. Akhirnya perkawinanpun terlambat
untuk dilakukan. b). Petani belum memahami, atau tidak peduli terhadap tandatanda berahi
sehingga perkawinan tidak tepat waktu. Selain itu karena sebagian besar petani tidak
mengandangkan ternak dombanya, terutama pada pagi hingga sore hari, maka berahi sulit untuk
diketahui. c). Pada umumnya para petani belum memiliki catatan mengenai reproduksi
ternaknya, sehingga tidak dapat menentukan kapan mulai mengamati untuk mengetahui apakah
domba induk atau dara yang dipeliharanya berahi kembali setelah dikawinkan. Bahkan tidak
dapat menentukan kapan domba induk yang sudah beranak dikawinkan kembali. Salah satu cara
agar penggunaan pejantan lebih efisien, adalah dengan kawin suntik (IB). Namun perkawinan
secara IB ini sangat sulit, Bila dilakukan oleh petani itu sendiri. Bagi petani, IB merupakan
pekerjaan yang sangat rumit. Jangankan di tingkat petani, hingga saat inipun para ilmuawan
masih terus melakukan penelitian mengenai kawin suntik (IB) pada ternak domba yang lebih
efektif dan efisien (mudah dan murah) agar dapat dilakukan oleh para petani secara mandiri.
Selain itu untuk menunjang keberhasilan IB agar lebih efektif dan efisien adalah dengan
penyerempakkan berahi. TOMASZEWSKA

et al. (1991) menyatakan bahwa salah satu

keuntungan dari penyerempakan berahi adalah dapat menekan biaya Inseminasi Buatan (IB).
Permasalahan dalam penyerempakan berahi ini adalah bila menggunakan hormon. Diketahui
bahwa penyerempakan berahi secara hormonal merupakan hal yang sulit untuk dilakukan oleh
petani, selain menyita waktu juga memerlukan biaya yang cukup tinggi untuk ukuran petani
dipedesaan.
A. PEMILIHAN PEJANTAN

Pejantan yang akan dipakai sebagai calon bibit, harus ditelusuri dahulu asal usulnya, ini
untuk menghindari terjadinya perkawinan sedarah . Keberhasilan perkawinan tidak hanya
tergantung pada kesiapan dan kesuburan ternak betina, akan tetapi dipengaruhi juga oleh
kesuburan pejantan . Menurut MULYONO .S ., 1998, pejantan mulai dipakai sebagai calon
bibit sebaiknya berumur antara 15 bulan hingga 5 tahun, pilih yang besar diantara pejantan
yang umurnya sama, dana lebar, tubuh relatip panjang, bagian tubuh sebelahbelakang lebih
besar clan lebih tinggi, tapi jangan yang terlalu gemuk, mata tidak rabun, pertumbuhan
relatif cepat, gerakannya lincah dan terlihat ganas, serta memiliki alat kelamin normal clan
simetris serta sering terlihat ereksi .
B. PEMILIHAN BETINA
Domba betina yang pubertas pertama (berahi pertama), biasanya terjadi pada umur 6-12
bulan . Masa birahi domba terjadi hanya 24-36 jam, dengan diikuti birahi berikutnya
memerlukan waktu 16-18 hari (MULYONO .S, . 1998) . Tanda birahi pada domba ditandai
dengan gelisah, ribut, nafsu makan berkurang, mencoba menaiki ternak lain, menggerak
gerakkan ekor clan sering kencing . Alat kelamin bagian luar sedikit membengkak, memerah
clan kadang kadang sedikit mengeluarkan lendir . Biasanya akan diam bila dikawini
pejantan . Induk domba yang akan dikawinkan sebaiknya berumur lebih dari satu tahun dan
telah birahi sebelum berumur satu tahun .
C. Mengetahui tandatanda berahi
Salah satu syarat agar perkawinan dapat dilakukan tepat waktu, khususnya pada perkawinan
dengan

sistem

hand

mating,

petani

hendak

mengetahui

tanda-tanda

berahi.

TOELIHERE(1993) menerangkan bahwa tandatanda berahi pada domba induk adalah


diam bila dinaiki pejantan, menggoyanggoyangkan ekornya, memperhatikan dan
mendekati pejantan.
D. Pencatatan (recording)
Untuk memudahkan petani dalam melakukan manajemen perkawinan maka pencatatan
reproduksi ternak mutlak diperlukan, antara lain menyangkut:
1. Waktu mengawinkan, pentingnya catatan ini adalah peternak dapat mengetahui apakah
ternaknya sudah bunting atau belum, dengan melihat apakah domba induk minta kawin
(berahi) lagi atau tidak setelah 14 19 hari dikawinkan. TOELIHERE(1993)
menerangkan bahwa siklus berahi pada domba, yang normal 14 19 hari, dengan rataan

17 hari. Apabila pada waktu siklus brahi berikutnya domba induk tidak berahi lagi setelah
dikawinkan, maka dapat dipastikan domba induk tersebut sudah bunting.
2. Waktu kelahiran, catatan ini penting, untuk mengetahui umur domba anak yang
dilahirkan secara tepat dan akurat, selain itu berguna untuk menentukan umur penyapihan
dan waktu mengawinkan kembali domba induk setelah beranak. Dengan adanya
pencatatan tersebut, peternak dapat memperoleh keuntungan seperti: peternak dapat
membuat beberapa perencanaan diantaranya menentukan waktu mengawinkan setelah
beranak agar jarak beranak dapat diperpendek, mengamati jika ada induk berahi kembali
setelah dikawinkan.
E. TANDA-TANDA DOMBA BUNTING
Setelah dilakukan perkawinan, cliharapkan domba akan bunting . Jika perkawinan telah
dilakukan clan hewan betina tidak lagi menunjukkan gejala birahi, maka ternak dianggap
bunting . Secara visual induk bunting akan menunjukkan perubahan fisik seperti perut
sebelah kanan semakin besar clibanding sebelah kiri, ambing mulai membesar dan menurun,
sering Temu Teknis Nasional Tenaga Fungsional Pertanian 2006 Pusat Penelitian dan
Pengembangan Peternakan menggosokkan perutnya pada dincling kandang, senang
menyendiri clan enggan didekati ternak lain, khususnya pejantan serta nafsu makan
meningkat . Menurut TOELIHERE (1977), periode kebuntingan pada berbagai domba
bervariasi dari 144-155 hari, walaupun lama kebuntingan normal individual dapat berkisar
antara 138-159 hari, clan masa kebuntingan biasanya lebih pendek pada kebuntingan kembar
daripada kebuntingan tunggal, clan makin memanjang dengan pertambahan umur induk
F. VOLUME SPERMA
TOELIHERE

(1993) menyatakan bahwa volume semen dipengaruhi oleh cara

pengambilan, pakan, frekuensi ejakulasi, bangsa dan umur. Hasil penelitian KAYA et al
(2002) menunjukkan bahwa frekuensi ejakulasi berpengaruh terhadap volume semen
dan konsentrasi spermatozoa. LANGFORD

et al (1998) memperoleh hasil bahwa

volume semen dan konsentrasi spermatozoa dipengaruhi oleh


ukuran
ini

lingkar skrotum.

perbadaan bangsa dan

Rataan kandungan testosteron domba Garut dalam penelitian

(3.46 3.2 ng/ml) lebih besar bila dibandingkan domba Malin (2.31 0.42

ng/ml) sebagaimana hasil penelitan WAHID

dan YUNUS (1995). Kandungan

testosteron dipengaruhi oleh bangsa, tipe kelahiran dan umur (LANGFORD et al. ,
1998)

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara lingkar
skrotum dengan volume semen, konsentrasi spermatozoa dan testosteron, masing
masing sebesar (r = 0,22; 0,17; dan 0,18) dengan persamaan regresi berturut turut Y =
-0,126 + 0,0327 X;
menunjukkan

bahwa

Y = -6638,53 + 393,96 X;
volume

Y = -1,88 + 0,26. Hal ini

semen dan kensentrasi spermatozoa tidak hanya

dipengaruhi oleh lingkar skrotum, akan tetapi kemungkinan dipengaruhi faktor lain,
misalnya oleh bangsa. NORAN dan MUKHERJEE (1997) menyatakan bahwa tidak
ada

hubungan

spermatozoa

antara

lingkar skrotum

dengan

volume

semen

dan

konsentrasi

pada kambing persilangan (betina lokal Kacang X jantan German Fawn).

LANGFORD et al (1998) mendapatkan bahwa bangsa domba berpengaruh terhadap


kadar testosteron.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh WAHID

dan YUNUS

(1994) menunjukkan bahwa pada domba temperate breed dan tropikal breed tidak
terdapat hubungan antara lingkar skrotum dengan konsentrasi spermatozoa.
G. TEKNOLOGI YANG DIKEMBANGKAN
1. Insemenasi Buatan
Inseminasi Buatan (IB) merupakan hal biasa. Biasanya dilakukan pada ternak sapi
dan telah terbukti memperbaiki produksi daging maupun susu. IB merupakan generasi
kedua dari teknologi reproduksi. Tetapi pemanfaatan praktis pada ternak kambing dan
domba masih memerlukan perubahan perilaku.
Potensi ternak domba dalam produksi adalah menyediakan bahan pangan asal
hewan berupa daging dan susu (dari kambing prahan). Umumnya petani sudah terbiasa
memelihara kambing yang akhirnya menjadi biasa-biasa saja. Yang belum dilakukan
adalah bagaimana memproduksi ternak kambing yang tidak seperti biasanya, hasilnya
lebih tinggi dan dagingnya lebih bermutu.
Teknik Inseminasi
Inseminasi berasal dari kata in yang berarti masuk atau memasukkan; kata semen berarti
cairan yang mengandung sel kelamin jantan, media nutritif dan non-nutritif. Akhiran asi
berarti proses atau kegiatan. Inseminasi buatan telah lama dikenal dengan istilah kawin
suntik. Semen untuk IB dibedakan menjadi 2 yakni semen cair dan semen beku.
Teknik IB dengan Semen Beku. Ini relatif mudah dilakukan. Peralatan yang diperlukan
berupa: Spekulum berbentuk paruh bebek untuk membuka vagina; Artificial Insemination

(AI) Gun untuk menembakkan semen ke dalam leher rahim; plastik sit untuk
menempatkan straw (kemasan semen beku); pinset untuk mengambil straw; gunting
untuk memotong ujung straw; dilengkapi dengan mangkok air untuk pencairan semen
dalam straw yang disebut tawing; kertas tissue.
Langkah kegiatan IB dengan menggunakan semen beku: Ambil straw dari dalam
termos atau container dengan hati-hati; Pegang pada ujung kemasan, baca label yang
tertera pada straw secara singkat; Lakukan tawing sekitar 5 detik; Ambil dan keringkan
dengan usapan tisu; Tempatkan straw pada ujung AI gun, gunting ujung kemasan straw;
Pasang plastik sit pada AI gun dan fiksasi agar posisi straw mantap; Bawa AI gun yang
telah siap dan spekulum ke kandang ternak betina; Dengan pertolongan perawat ternak,
angkat kedua kaki belakang kambing/domba sehingga badannya membentuk sudut 40
45 derajat terhadap lantai kandang; Buka vagina kambing dengan menggunakan
spekulum yang sudah diberi pelumas, lihat posisi lubang cervics, incarlah; masukkan AI
gun melalui lorong spekulum menuju ke lubang cervics, dorong hingga ke posisi empat
atau batas cervics tertahan sesuatau tekanan, ujung gun masuk sekitar 1 cm; Semprotkan
semen pada bagian tersebut, lalu tank AI gun perlahan-lahan; Tahan posisi kambing
dengan sudut 45 derajat, selama 5 menit; Lepas kedua kaki kambing sehingga dapat
berdiri kembali di kandang.AZ
Teknik IB dengan Semen Cair dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai
berikut : Lakukan penampungan semen dari seekor pejantan. Caranya siapkan seekor
betina perangsang (teaser) untuk dinaiki oleh pejantan kemudian tampung semen yang
dikeluarkan dengan menggunakan vagina buatan yang telah disiapkan; Segera bawa
semen ke tempat teduh atau ruangan untuk pengenceran; Jika volume semen 2 ml maka
dapat diencerkan dengan cairan fisiologis hingga menjadi 4 ml.
Selanjutnya, isap dengan spuit yang ujungnya disambung dengan plastik sit sebanyak 0,2
ml setiap dosis IB; Selanjutnya bawa ke tempat betina berahi untuk di-inseminasikan
dengan prosedur sama dengan teknik IB dengan menggunakan semen beku.
Cara ini lebih sederhana, tidak memerlukan perlakuan dan peralatan khusus. Sangat
praktis dipergunakan pada sebuah peternakan yang memiliki bibit unggul sendiri dengan
jumlah populasi hingga 50 ekor betina. Setiap kali penampungan semen dapat
dipergunakan untuk betina antara 12 sampai 20 ekor.

Hal-hal

yang

perlu

diperhatikan

oleh

seorang

kader

inseminator

IB

Kambing/Domba dalam menjalankan praktek: Lakukan secara halus; Hendaknya tidak


berbuat kasar terhadap ternak, penuh kasih sayang, tidak menyakiti, tidak melukai, buat
ternak merasa senyaman mungkin, cara mengangkat kaki belkang harus betul-betul tidak
membebani hewannya terlalu berat; Lakukan dalam waktu yang cepat; Untuk dapat
melayani dengan cepat, semua peralatan telah tersedia, dibarengi dengan ketrampilan
dalam melakukan setiap langkah kegiatan tersebut diatas. Hal ini bertujuan untuk tidak
terlalu lama memberikan beban tekanan stress pada ternak, karena juga berpengaruh pada
kondisi fisiologis, yaitu berjalannya fungsi normal organ-organ tubuh termasuk fisiologi
reproduksinya; Lakukan dengan teknik yang tepat : Artinya pada saat mengerjakan
langkah kegiatan, kita sudah dengan pasti mengerti tujuannya, sehingga sasaran organ
yang dituju tidak salah, ragu-ragu atau masih meraba-raba, mengira-ira. Untuk itu
pengetahuan anatomi perlu dimantapkan pemahamannya, jangan dilupakan begitu saja.
Disampaikan oleh drh. Harjuli Hatmono, M. Si (Dimuat dalam Tabloid Sinar Tani Edisi
18 24 Maret 2009 No. 3295 Tahun XXXIX).
Biasanya,insminasi buatan memiliki tujuan untuk mengefisiensikan semen beku
dari pejantandomba unggul. Semen yang telah dikoleksi, harus dikelola sedemikian rupa
meliputi5 penampungan, pengenceran dan penyimpanan. Cara penampungan semen yang
terbaik dengan menggunakan vagina buatan. Sekali penampungandapat dikumpulkandari
2-3

kali

ejakulasi.

Volume

semen

setiap

ejakulasi

sekitar

0,3-1,2

ml.

kepadatanspermatozoa yang aman untuk keberhasilan IB sekitar 100-200 juta/ml.


sedangkankepadatan spermatozoa semen domba per ejakulasi berkisar 2-4,5 milyar/ml.
maka pengenceran dapat dilakukan 10-15 kali dan dosis inseminasi 0,25
0,5 ml. semenyang telah dicampur dengan pengencer apabila digunakan dalam waktu
pendek (4-5hari) dapat disimpan pada suhu 4-7C atau ke dalam straw guna penyimpanan
padasuhu -192C dalam nitrogen cair untuk dibekukan. Saat teknik inseminasi
buatan,deposisi semen yang paling baik adalah di uterus, dengan menggunakan
spikulumvaginoscope dimasukkan ke dalam vagina dioles dengan vaselin steril, IB
dilakukandengan memasukkan cateter dari tabung penyemprot semen, semen
disemprotkansecara perlahan, jika menggunakan semen beku alat penyemprot dapat
menggunakangun IB seperti pada sapi (Anonim, 2012). Teknik IB dengan semen cair

memanglebih sederhana, tidak memerlukan perlakuan dan peralatan khusus. Cara ini
terbilangsangat praktis diterapkan pada peternakan yang memiliki bibit unggul dengan
jumlah populasi ternak betina mencapai 50 ekor atau lebih. Setiap kali melakukan kawins
untik, 12-20 ekor betina bisa memperoleh pelayanan secara bersamaan di waktuyang
sama
2. PENYERENTAKAN BIRAHI
Penyerentakan birahi diperlukan agar perkawinaan dapat dilakukan serentak sehingga
pemanfaatan pejantan dapat dilakukan secara optimal, saat kebuntingan dapat terjadi
dengan serentaksehingga manajemen pakan jadi seragam, dan yang paling penting
saatberanak menjadi serentak sehingga panen pun dapat dilakukan secara serentak.
Dengan demikian terjadi suatu efisien tenaga kerja dan keperluankandang beranak dan
kandang pembesaran. Di Indonesia birahi pada domba terjadi setiap 16-17 hari sekali
sepanjang tahun. Tidak seperti halnya di negara empat musim birahipada domba hanya
terjadii setahun sekali pada saat musim bunga. Penyerentakan birahi dapat dilakukan
secara hormonal memanfaatkan preparat hormon progestagen dapat dalam bentuk
spons ataupun intravaginal device yang disebut CIDR. Namun kedua preparat hormon
tadi tidak tersedia di pasar Indonesia perlu diimpor dari Australia, New Zealand, Amerika
atau dari Eropa, dengan demikian harganya menjadi sangat mahal untuk peternakan
Indonesia. Untuk kondisi iklim Indonesia penyerentakan birahi pada domba dapat juga
dilakukan secara alami. Teknologi yang dilakukan sangat mudah dan murah dapat
dilakukan oleh siapapun juga yang mencintai ternak.
a. Penyiapan Betina
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal perludilakukan pemilihan betina-betina yang
subur dan sehat. Domba yang subur ditandai dengan bentuk yang normal dari tubuhnya
maupun alat kelamin serta ambingnya. Kalau domba betina itu seekor betina muda maka
berat hidupnya haruslah tidak kurang dari 19 kg. hal ini diperlukan agar pada saat kawin
tubuh domba telah dewasa dan semua organ reproduksinya telah siap untuk menerima
kebuntingan. Domba yang baru saja menyapih anaknya, juga dapat dimasukan dalam
kelompok ini. Walaupun ada kecendrungan pejantan untuk memilih betina yang lebih
dewasa. Kalau jumlah domba cukup banyak sebaiknya
domba betina muda dengan domba betina dewasa.

memang dipisahkan antara

Kumpulkan dalam satu kelompok sekitar 20 ekor ternak betina dalam kandang tanpa
penyekat dengan ukuran luas sekitar 20 m2 ( 4x5 m2 atau 3x6 m2 ). Biarkan domba ini
dalam kandang tanpa pejantan sekitar satu bulan, dan beri makan secara cukup dan baik.
Kira-kira empat bagian rumput dua bagian dedaunan. Bila hal ini terlihat domba menjadi
lebih gemuk dan bulunya tampak lebih bersih dan berkilau.
b. Penyiapan Pejantan
Untuk perkawinan ini diperlukan pejantan yang sehat dan subur serta agresif. Perlu
dilakukan pemeriksaan terhadap organ reproduksi pejantan meliputi testis yang besar dan
bentuknya sama antara buah pelir kiri dan kanan serta mempunyai penis yang kokoh dan
normal.Kaki kokoh dan tidak cacat. Pejantan ini bila didekatkan dengan betina dia tidak
terlihat sangat agresif. Pejantan ini harus diberi makan yang cukup baik agar dapat
melaksanakan tugasnya mengawini banyak betina (kurang lebih 20 ekor betina). Letakan
pejantan ini dikandang yang jauh dari kandang betina yang akan dikawinkan. Kurang
lebih 30 m jauhnya, sehingga memungkinkan dititipkan di kandang tetangga.
c. Masa Perkawinan
Betina yang normal masa birahinya bersiklus setiap 15-17 hari. Satukan pejantan yang
telah disiapkan dengan betina yang juga telah disiapkan selama 2 siklus birahi. Pada hari
pertama penyatuan antara betina dan pejantan ini, biasanya pejantan sangat agresif
mengejar betina. Sementara biasanya betina belum ada yang birahi. Biarkan saja hal
tersebut terjadi. Biasanya pada hari ketiga betina mulai tampak ada yang birahi dan
mengejar-ngejar pejantan. Makanan pada saat ini harus cukup dan baik agar tidak ada
ternak yang kelaparan dan kekurangan makan karena konsentrasi ternak terhadap
makanan biasa kurang pada saat ini.Dengan demikian perlu upaya khusus agar makanan
tetap ada dalam tempat makanannya. Setelah hari ke 34, ternak jantan dapat
dikeluarkan,ditukarkan dengan pejantan tetangga yang sama baiknya. Kalau saat itu
harga ternak baik dapat juga ternak ini dijual. Namun berarti untuk keperluan perkawinan
yang akan datang kita perlu mencari lagi pejantan lain yang lebih baik.
d. Perawatan Selama Kebuntingan
Dengan sistem penyerentakan birahi ini, umur kebuntingan kelompok ternak ini akan
relatif sama, sehingga fase fisiologisnya juga sama. Dengan demikian perawatan selama
kebuntingan menjadi lebih mudah karena kebutuhan pakan baik kualitas maupun
kuantitas antara individu ternak yang satu dengan yang lainnya relatif sama. Pada saat
kebuntingan induk memerlukan tingkat protein yang lebih tinggi. Untuk itu saat ini perlu

diberikan 3 bagian rumput dan tiga bagian dedaunan . berat tubuh induk harus terus
bertambah pada saat kebuntingan ini. Masa kebuntingan seekor ternak domba adalah
sekitar 150 hari. Sekitar 6 minggu sebelum beranak kualitas pakan haruslebih
ditingkatkan lagi. Untuk itu perlu ditambah dengan biji-bijian atau dedak padi sebanyak
2-3 gelas per ekor per hari. Pada saat ini ternak yang tidak bunting sudah dapat terlihat
jelas. Dengan demikian ternak-ternak yang tidak bunting ini dikeluarkan dari kelompok
ini. Beri pakan yang lebih rendah kualitasnya agar tidak terjadi pemborosan atau dapat
juga dijual.
e. Perawatan Selama Kelahiran
Sekitar 150 hari setelah ternak dikawinkan maka kelompok ternak ini akan mulai
menunjukan tanda-tanda kelahiran yaitu vulva membengkak mengeluarkan cairan bening
yang kental, ternak mulai gelisah dan menggaruk-garuk lantai. Pada saat ini perlu
perhatian khusus, untuk membantu apabila ada ternak yang mengalami kesulitan
kelahiran, atau indukyang tidak mau menyusui anaknya. Ternak yang sudah beranak
segera masukan ke dalam sekat dengan luas 1 x 1 m2, agar induk dan anak mempunyai
hubungan khusus, tidak terganggu oleh induk lainnya. Biarkan dalam kandang bersekat
ini selama tiga hari. Beri pakan secukupnya. Setelah tiga hari dapatdigabungkan kembali
dengan ternak lainnya.
f. Penjualan Ternak Lepas Sapih
Produksi susu induk pada saat anak berumur 3 bulan sudah sangat menurun. Dengan
demikian anak domba dapat disapih dari induknyapada umur 3-4 bulan. Setelah
penyapihan ini anak domba dapat dijual kepada peternak lain yang ingin melakukan
pembesaran/ penggemukan untuk selanjutnya dijadikan ternak yang siap dipotong.
Apabila kita fasilitas modal yang cukup maka periode pembesaran ini dapat juga
dilakukan oleh kita sendiri. Namun berarti kita sudah memperpanjang masa perputaran
modal kita.
g. Perkawinan Kembali Setelah Beranak
Setelah anak disapih dari induknya, ternak betina ini perlu ditingkatkan kualitas dan
kuantitas pakannya. Hal ini perlu dilakukan untuk mempersiapkan indukinduk ini untuk
dikawinkan kembali. Seperti pada musim perkawinan yang lalu betina-betina ini kembali
dikelompokan dalam satu kelompok termasuk betinabetina yang gagal bunting pada
musim perkawinan yang lalu. Setelah dua minggu dalam kondisi pakan istimewa ini

masukan pejantan biarkan selama 2 siklus birahi (34 hari). Demikian kegiatan ini
dilakukan berulang seperti yang telah dilakukan pada musim perkawinan yang lalu.
h. Keuntungan Perkawinan Dengan Penyerentakan Birahi
Seperti telah kita perhatikan dengan seksama, untuk suksesnya suatu kegiatan
pengembangan ternak domba diperlukan tahap-tahap yang runut. Sederhana, tetapi kalau
tidak terencana dengan baik, tidak ada penyerentakan birahi, ternak kita dapat kawin
kapan

sajadan

beranak kapan

saja. Hal

ini akan

menyulitkan

manajemen,

perkawinan,manajemen pakan, manajemen kebuntingan,


manajemen kelahiran sapih dan penjualan ternak yang tidak terprediksi jumlah maupun
waktunya. Dengan sistem penyerentakan birahi ini kita dapat merencanakan kapan dan
berapa jumlah ternak yang akan kita jual. Kapan dibutuhkan pakan dan berapa jumlahnya
dan bagaimana kualitasnya. Apabila hal ini dilakukan dengan cara berkelompok dalam
satu desa, akan lebih baik lagi. Dalam penjualan ternak kita akan dapat lebih hemat dalam
biaya produksi karena dilakukan secara massal. Jumlah produksi ternak pun dapat
direncanakan dengan baik, sehingga tidak ada kelebihan produksi di suatu saat dan
kekurangan produksi di saat yang lain.
3. KLONNING DOMBA
Kloning berasal dari kata clone, artinya mencangkok. Secara sederhana bisa dipahami,
teknik ini adalah cara reproduksi vegetatif buatan yang dilakukan pada hewan dan atau
manusia. Seperti yang kita ketahui bahwa mayoritas hewan (termasuk manusia) hanya bisa
melakukan reproduksi generatif (kawin) yang dicirikan adanya rekombinasi gen hasil proses
fertilisasi ovum oleh sperma. Sedangkan pada reproduksi vegetatif tidak ada proses tersebut,
karena individu baru (baca: anak) berasal dari bagian tubuh tertentu dari induknya.Dengan
teknik kloning, hewan dan manusia bisa diperbanyak secara vegetatif (tanpa kawin).Teknik
ini melibatkan dua pihak, yaitu donor sel somatis (sel tubuh) dan donor ovum (sel gamet).
Meskipun pada proses ini kehadiran induk betina adalah hal yang mutlak dan tidak mungkin
dihindari, tetapi pada proses tersebut tidak ada fertilisasi dan rekombinasi (perpaduan) gen
dari induk jantan dan induk betina. Ini mengakibatkan anak yang dihasilkan memiliki sifat
yang (boleh dikatakan) sama persis dengan induk donor sel somatis.Untuk lebih jelas,
berikut ini uraian dasar proses kloning pada domba Dolly beberapa tahun lalu. Perhatikan
gambar berikut. Langkah kloning dimulai dengan pengambilan sel puting susu seekor
domba. Sel ini disebut sel somatis (sel tubuh). Dari domba betina lain diambil sebuah ovum
(sel telur) yang kemudian dihilangkan inti selnya. Proses berikutnya adalah fusi (penyatuan)

dua sel tersebut dengan memberikan kejutan listrik yang mengakibatkan terbukanya
membran sel telur sehingga kedua sel bisa menyatu. Dari langkah ini telah diperoleh sebuah
sel telur yang berisi inti sel somatis. Ternyata hasil fusi sel tersebut memperlihatkan sifat
yang mirip dengan zigot, dan akan mulai melakukan proses pembelahan.
Sebagai langkah terakhir, zigot tersebut akan ditanamkan pada rahim induk domba betina,
sehingga sang domba tersebut hamil. Anak domba yang lahir itulah yang dinamakan Dolly,
dan memiliki sifat yang sangat sangat mirip dengan domba donor sel puting susu tersebut di
atas.Dolly lahir dengan selamat dan sehat sentausa. Sayangnya selama perjalanan hidupnya
dia gampang sakit dan akhirnya mati pada umur 6 tahun, hanya mencapai umur separoh dari
rata-rata masa hidup domba normal. Padahal kloning yang dilakukan pada hewan spesies lain
tidak mengalami masalah.Dari hasil penyelidikan kromosomal, ternyata ditemui bahwa Dolly
mengalami pemendekantelomere. Telomere adalah suatu pengulangan sekuen DNA yang
biasa didapati diujung akhir sebuah kromosom. Uniknya, setiap kali sel membelah dan
kromosom melakukan replikasi, sebagian kecil dari ujung kromosom ini selalu hilang entah
kemana. Penyebab dan mekanismenya juga belum diketahui sampai sekarang.Masalah
pemendekan telomere ini diketahui menyebabkan munculnya sinyal agar sel berhenti
membelah. Hal inilah yang diduga berhubungan erat dengan percepatan penuaan dan
kematian. Pemendekan telomere ini ternyata disebabkan oleh aktivitas enzim yang dikenal
dengan telomerase.Sejalan dengan perkembangan teknik kloning, para ilmuwan telah mampu
membuka harapan besar untuk menghidupkan kembali satwa-satwa yang telah punah.
Seorang profesor Biologi asal Jepang, Teruhiko Wakayama, berhasil membuat kloning dari
seekor mencit yang telah beku selama dua dekade. Keberhasilan ini memicu kemungkinan
terobosan yang lebih spektakuler lagi, yakni membangkitkan kembali makhluk hidup yang
telah punah! Misalnya burung Dodo (Raphus cucullatus), serigala Tasmania (Thylacinus
cynocephalus), Quagga (Equus quagga), sampai beberapa subspesies dari harimau yang telah
punah (Panthera tigris balica, Panthera tigris sondaicus). Ini bukan isapan jempol belaka!
Para ilmuwan di San Diego telah mengambil sedikit jaringan dari spesimen awetan banteng
Jawa yang telah mati selama beberapa tahun, kemudian mengisolasi DNA banteng Jawa
tersebut dan memasukkan inti sel sintesis ke sel telur sapi biasa. Hasilnya, dua ekor banteng

Jawa berhasil dilahirkan dari rahim sapi biasa. Jadi impian menghidupkan spesies yang telah
punah, seperti Jurassic Park, tidak lagi dianggap science-fiction belaka.

Cara kloning domba Dolly yang dilakukan oleh Dr. Ian Willmut adalah sebagai berikut:

Mengambil sel telur yang ada dalam ovarium domba betina, dan mengambil kelenjar
mamae dari domba betina lain.

Mengeluarkan nukleus sel telur yang haploid.

Memasukkan sel kelenjar mamae ke dalam sel telur yang tidak memiliki
nukleus lagi.

Sel telur dikembalikan ke uterus domba induknya semula (domba donor sel
telur

Sel telur yang mengandung sel kelenjar mamae dimasukkan ke dalam uterus
domba, kemudian domba tersebut akan hamil dan melahirkan anak hasil dari kloning.

Jadi, domba hasil kloning merupakan domba hasil perkembangbiakan secara vegetatif karena
sel telur tidak dibuahi oleh sperma.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dalam meningkatkan produksi domba ada beberapa hal yang harus diperhatikan
diantaranya pemilihan pejantan, pemilihan betina, masa birahi, masa kebuntungan dll. Selain
itu, ada beberapa teknik yang dikembangkan untuk meningkatkan produksi domba
diantaranya insemenasi buatan, penyerentakan birahi dan klonning.
B. Saran

Sebaiknya pemahaman masyarakt terhadap mekanisme reproduksi domba lebih


ditingkatkan agar produksi domba pun dapat meningkat.