Anda di halaman 1dari 28

UTILITAS

WATER TREATMENT

Oleh :
Nama

Canna Suprianofa

(061330401009)

Rifqi Munip

(061330401022)

Sarah Swasti Putri

(061330401024)

Kelas

5KD

Dosen Pembimbing

Ibnu Hajar, S.T., M.T.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
PALEMBANG
2015
Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah kami dapat
menyelesaikan makalah Water Treatment ini. Dan juga kami berterima kasih pada
bapak Ibnu Hajar, S.T., M.T., selaku Dosen mata kuliah Utilitas yang telah
memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai Water Treatment. Kami juga menyadari
sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh
dari apa yang kami harapkan. Untuk itu, kami berharap adanya kritik, saran dan
usulan demi perbaikan di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu
yang sempurna tanpa sarana yang membangun.
Semoga makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri
maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat
kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran
yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Palembang, September 2015

Penyusun

DAFTAR ISI
2

Halaman
Halaman Judul......................................................................................................................
1
Kata Pengantar.....................................................................................................................
2
Daftar Isi................................................................................................................................
3
Daftar Tabel.............................................................................................................................
4
Daftar Gambar......................................................................................................................
5
BAB I PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang ...............................................................................................................
6
1.2.
Rumusan Masalah ..........................................................................................................
6
1.3.
Tujuan Penulisan ............................................................................................................
7
1.4.
Manfaat Penulisan .........................................................................................................
7
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Water Treatment............................................................................................
8
2.2. Tujuan Water Treatment..................................................................................................
11
2.3. Parameter dalam Water Treatment..................................................................................
11
2.4. Proses Water Treatment...................................................................................................
13
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan
................................................................
28
3.2. Saran
................................................................
28
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................
29

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Batasan Air Limbah untuk Industri .................................................
8

DAFTAR GAMBAR
Halaman
4

Gambar 1. Sedimentasi dan tangki clarifier .............................................................


15
Gambar 2. Pressure sand filter .................................................................................
16
Gambar 3. Proses Koagulasi,Flokulasi,dan Filtrasi .................................................
18
Gambar 4. Proses Sedimentasi .................................................................................
19
Gambar 5. Proses Filtrasi .........................................................................................
20
Gambar 6. Trickling Filter........................................................................................
21
Gambar 7. Rotating Biological Contractor ..............................................................
23
Gambar 8. Diagram Proses RBC .............................................................................
24

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air merupakan salah satu komponen lingkungan yang mempunyai peranan
yang cukup besar dalam kehidupan. Bagi manusia air berperan dalam kegiatan
pertanian, industri, dan pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Air yang digunakan
harus memenuhi syarat dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Kualitas air dapat
ditinjau dari segi fisik, kimia, dan biologi. Kualitas air yang baik tidak selamanya
tersedia di alam. Perkembangan industri dan permukiman dapat mengancam
kelestarian air bersih.
Tujuan dari semua proses pengolahan air yang ada adalah menghilangkan
kontaminan dalam air, atau mengurangi konsentrasi kontaminan tersebut sehingga
menjadi air yang diinginkan sesuai kebutuhan (pengguna akhir) tanpa merugikan
dampak ekologis.
Proses-proses

yang

terlibat

dalam

pemisahan

kontaminan

dapat

menggunakan Proses Fisik seperti menetap dan penyaringan Kimia seperti


Desinfeksi dan Koagulasi. Selain itu proses Biologi juga digunakan dalam
pengolahan air limbah, proses-proses ini dapat meliputi, mencampur dengan
Udara, diaktifkan Lumpur atau Saringan pasir padat.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dari pembuatan makalah ini, yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan water treatment?
2. Mengapa perlu dilakukan water treatment?
3. Apa saja yang menjadi parameter pengolahan air?
4. Bagaimana proses pengolahan air?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini, yaitu:
1. Memahami definisi water treatment.
6

2. Memahami perlunya water treatment.


3. Menjelaskan parameter dalam Water Treatment.
4. Memahami proses pengolahan air.
1.4 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari pembuatan makalah ini, yaitu:
1. Dapat memahami definisi water treatment.
2. Dapat memahami perlunya water treatment.
3. Dapat menjelaskan parameter dalam Water Treatment.
4. Dapat memahami proses pengolahan air.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Water Treatment

Water Treatment adalah suatu cara/bentuk pengolahan air dengan cara


cara tertentu dengan tujuan untuk mencapai hasil yang diharapkan sesuai
kebutuhan. Water Treatment Plant adalah sebuah sistem yang difungsikan untuk
mengolah air dari kualitas air baku (influent) yang kurang bagus agar
mendapatkan

kualitas

air

pengolahan

(effluent)

standar

yang

di

inginkan/ditentukan atau siap untuk dikonsumsi. Berikut ini merupakan batasan


air limbah untuk industri.
Tabel 1 Batasan Air Limbah untuk Industri
Parameter
COD
BOD
Minyak nabati
Minyak mineral
Zat padat tersuspensi (TSS)
pH
Temperatur
Ammonia bebas (NH3)
Nitrat (NO3-N)
Senyawa aktif biru metilen
Sulfida (H2S)
Fenol
Sianida (CN)

Konsentrasi (mg/L)
100 300
50 150
5 10
10 50
200 400
6.0 9.0
38 40 [oC]
1.0 5.0
20 30
5.0 10
0.05 0.1
0.5 1.0
0.05 0.5

Pada umumnya gangguan terhadap suatu peralatan/ sistem yang bermedia


air disebabkan oleh zat-zat pengotor dalam air yang disebut kontaminan.
Kontaminan tersebut dapat berbentuk gas, cair, padatan, dan mikroorganisme.
a. Kontaminan gas
Beberapa kontaminan gas seperti karbondoksida, sulfur dioksida, oksigen, dan
lain-lain. Air yang mengandung gas-gas tersebut bersifat korosif dalam
reaksinya terbentuk senyawa asam yang kemudian bereaksi dengan peralatan
dari logam dengan reaksi sebagai berikut.
CO2 + H2O

H2CO3 + Fe
8

FeCO3 + H2

SO2 + O2
SO3
SO3 + H2O
H2SO4 + Fe
FeSO4 + H2
b. Kontaminan cair
Kandungan zat cair dalam air dapat berupa asam, seperti asam klorida (HCl),
asam sulfat (H2SO4) atau basa seperti ammonia cair (NH 4OH), minyak/ lemak
yang berasal dari kebocoran air yang masuk ke dalam sistem. Kandungan asam
dan basa dalam air akan bersifat korosif.
c. Kontaminan padatan
Berdasarkan besarnya ukuran partikel padatan terlarut, maka kontaminan
padatan dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu: padatan terlarut (TDS), padatan
tersuspensi (TSS), dan padatan sediment.
Padatan terlarut (TSS) terdiri dari senyawa organik dan anorganik yang larut
dalam air seperti kalsium karbonat, magnesium karbonat, kalsium sulfat,
magnesium sulfat, kalsium klorida, natrium silikat, dan lain-lain. Air yang
mengandung padatan terlarut sangat baik daya hantar listriknya.
Garam-garam kalsium dan magnesium menjadikan air bersifat sadah, dapat
menyebabkan kerak (CaCO3.CaSO4) dan defosit lumpur [(MgCO3.Mg(OH)2)]
pada pipa-pipa ketel uap (boiler).
CaCl2 + SO42CaCl2 + CO32MgSO4 + CO32MgCl2 + CO32MgCl2 + H2O

CaSO4 + 2ClCaCO3 + 2ClMgCO3 + SO42MgCO3 + 2ClMg(OH)3 + 2HCl-

Garam natrium silikat ( Na2SiO3 ) dalam air panas akan terhidrolisa


menghasilkan asam silikat pada temperatur diatas 200C akan menjadi kristal
keras yang sangat padat, kecil, dan rapat. Kristal ini yang menempelkan pada
pipa-pipa ketel uap. Silika hanya dapat dihilangkan dengan alat penukar ion di
unit demin plant.
Padatan tersuspensi ( TSS ) menyebabkan air keruh, tidak larut, tidak dapat
mengendap langsung seperti tanah liat, koloid silikat. Koloid silikat sering lolos
dalam proses koagulasi sehingga proses penghilangannya dapat menggunakan
alat penukar ion.

Padatan Sedimen adalah padatan yang langsung mengendap jika air


didiamkan. Padatan yang mengendap tersebut terdiri dari partikel-partikel
padat yang berukuran lebih besar dari padatan tersusupensi, relative besar dan
berat, seperti pasir dan lumpur. Padatan sering menimbulkan erosi pada
material dan menyumbat aliran air.
d. Kontaminan mikroorganisme
Kontaminan mikroorganisme seperti ganggang, lumut, jamur dan bakteri dapat
tumbuh dengan baik pada sistem air pendingin open circuit. Mikroorganisme
jenis ganggang dan lumut dapat menyumbat saringan-saringan air pendingin,
tube-tube kondensor, pompa-pompa dan mengurangi kecepatan pertukaran
panas. Bakteri merupakan salah satu jenis mikroorganisme dalam air yang
dapat merusak bangunan-bangunan menara pendingin yang terbuat dari beton.
2.2 Tujuan dari Water Treatment
Water Treatment secara umum bertujuan untuk mengelola air hasil
buangan dari proses industri dimana pengelolahan itu dimaksudkan supaya air
buangan industri itu tidak mencemari lingkungan atau bisa digunakan kembali
untuk proses industri dengan cara menghilangkan kontaminan atau memurnikan
kembali air tersebut.
2.3Parameter dalam Water Treatment
2.3.1 Parameter Fisik
Parameter fisik air biasanya dilihat dari unsur yang berhubungan dengan
indra manusia seperti penglihatan, sentuhan, rasa dan penciuman, yang meliputi
Turbidity (kekeruhan), warna, bau, rasa, dan suhu. Sistem pengolahan yang biasa
digunakan adalah Sistem Sedimentasi (Pengendapan), Filtrasi dan penambahan
desinfektan.
2.3.2 Parameter Kimia

10

Senyawa kimia yang sering di temukan pada air adalah Fe, Mn, Ca, Mg,
Na, SO4, CO3. Jika air memiliki kandungan senyawa kimia yang berlebihan (tidak
masuk standar konsumsi yang aman), pengolahan dapat dilakukan dengan sistem
filtrasi dengan menggunakan media tertentu misalnya system Reverse Osmosis
atau Demineralier dan Softener.
2.3.3 Parameter Biologi
Parameternya dilihat berdasarkan adanya mikroorganisme yang ada di
dalam air. Bila jumlah mikroorganisme di dalam air berlebihan biasanya akan
mengganggu kesehatan bila dikonsumsi. Pengolahan dapat dilakukan dengan
menggunakan desinfektan atau alat yang biasa digunakan, misalnya injeksi Chlor,
System UV dan System Ozone (O3).
-

Karakteristik kualitas air baku


1. Air tanah
Air tanah tersedia sebagai air tanah dangkal dan air tanah dalam. Air
tanah dangkal berada dalam lapisan pembawa air yang bagian atasnya tidak
dilapisi oleh lapisan yang impermeable sehingga kualitas dan kuantitas air
tanah dangkal juga dipengaruhi oleh aktivitas yang ada di permukaan tanah
bagian atasnya.
Air tanah dalam beberapa dalam lapisan pembawa air yang terletak
lebih bawah, biasanya lebih dari 60 m permukaan tanah setempat. Lapisan
pembawa airnya dilapisi oleh suatu lapisan bantuan impermeable sehingga
tidak memungkinkan air dari permukaan bagian atas menyerap sampai ke
lapisan pembawa air tanah dalam. Kualitas maupun kuantitas air tanah tidak
bergantung pada aktivitas di permukaan atas, tetapi pada daerah catchment
area (daerah tangkapan hujan) yang berhubungan dengan lapisan pembawa air
yang bersangkutan. Kualitas air tanah banyak dipengaruhi struktur geologi
setempat. Parameter dominan yang biasanya muncul adalah : mineral seperti
Ca, Mg, dan Fe serta gas terlarut seperti CO2. Air tanah biasanya hanya sedikit
mengandung padatan tersuspensi.
11

2. Air laut
Air permukaan yang sering dimanfaatkan adalah air danau dan air
sungai. Kualitasnya sangat bergantung dari aktifitas manusia yang berada di
daerah aliran sungai. Parameter yang cukup menonjol adalah mikroorganisme
dan kadar padatan tersuspensi atau kekeruhan.
3. Air permukaan
Air laut tersedia dalam jumlah yang melimpah dengan kualitas air yang
hampir sama dan tetap untuk jangka waktu tertentu. Parameter dominan yang
ada di air laut adalah garam mineral seperti NaCl (biasanya ditunjukkan dalam
kadar salinitas) yang sangat korosif terhadap peralatan proses produksi.
2.4 Proses Pengolahan Air pada Water Treatment.
Water treatmentmerupakan proses pengolahan air dimana air tersebut diolah
untuk menghilangkan kontaminan yang ada didalamnya. Proses pengolahan
air pada umumnya dikenal dengan dua cara, yaitu :
1. Pengolahan lengkap (complete treatment process)
Pengolahan lengkap yaitu air akan mengalami pengolahan lengkap,
baik fisik, kimiawi, dan biologi. Pengolahan ini biasanya dilakukan
terhadap air sungai kotor, keruh. Pada hakekatnya, pengolahan lengkap ini
dibagi dalam 3 lingkungan pengolahan, yaitu :

Pengolahan air secara kimia

Pengolahan air secara fisika

Pengolahan air secara biologi

2. Pengolahan sebagian (patril treatment process)


Pengolahan sebagian ini merupakan pengolahan air dimana hanya
dilakukan pengolahan kimiawi atau pengolahan bakteriologi saja.
Pengolahan ini biasanya dilakukan untuk :
-

Mata air bersih


Air sumur yang dangkal
12

2.4.1. Pengolahan air secara kimia


Pengolahan air bersih melalui beberapa tahapan proses yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Proses penyaringan
Proses koagulasi
Proses flokulasi
Sedimentasi
Aerasi
Penyaringan
Proses penambahan desinfektan
Proses pengolahan di mulai dari pemompaan air bahan baku dari sungai

yang kemudian dialirkan ke kolam sedimentasi atau ke clarifier tank, namun


sebelumnya diinjeksikan bahan kimia berupa alum dan soda ash oleh chemical
dosing pump. Bahan chemical tersebut akan mempercepat terjadinya pengendapan
dan juga untuk mendapatkan pH air yang sesuai. Dalam kolam sedimen maupun
dalam clarifier tank terjadi pemisahan secara gravitasi, partikel-partikel besar,
lumpur, pasir akan mengendap di dasar kolam, tangki. Sedangkan air yang berada
pada bagian atas dialirkan secara secara overflow ke kolam clarifier. Dalam
clarifier tank terjadi pengendapan partikel-partikel yang lebih halus dan lolos dari
proses pertama.
Air yang telah dilakukan pengendapan di clarifier pond dipompakan ke
sand filter menuju tower filtered water tank. Melalui sand filter kotoran halus
akan tersaring, sehingga air yang keluar sudah memenuhi standar air minum dan
digunakan juga sebagai air proses pengolahan seperti clarifikasi, cleaning, dan
boiler. Namun untuk boiler akan dilakukan pengolahan lebih lanjut.
EKSTERNAL TREATMENT
Eksternal treatment adalah proses menghilangkan kesadahan dan partikelpartikel asing dalam air. Pengedalian mutu air tergantung pada pada tujuan
penggunaan air. Umumnya air diproses untuk keperluan dengan persyaratan
tertentu:

13

1. Air Pengolahan, yang memerlukan air yang bebas dari logam-logam


katalisator perusak minyak sawit, dan senyawa-senyawa yang dapat
menurunkan mutu minyak sawit seperti suspensi kolloid.
2. Umpan Boiler, yang melerukan mutu khusus yakni bebas dari logam alkali
tanah yang dapat menyebabkan pembetukan kerak pada boiler. Maka perlu
dikontrol dengan baik kesadahan air yang keluar dari anion exchanger.
Bebas dari logam oksidator penyebab korosi dan bebas dari lumpur yang
dapat

merangsang

pembentukan

kerak

serta

dapat

mengurangi

perpindahan panas.
3. Air Rumah Tangga, yang memerlukan kesadahan yang rendah, warna yang
benin dan bebas dari bau, dan harus memenuhi persyaratan air minum.
a) RAW WATER PUMP
Raw water pump berfungsi untuk memompakan air bahan baku yang akan
dilakukan pengolahan.
b) SEDIMENTATION POND DAN CLARIFIER TANK
Kolam sedimentasi atau clarifier tank berfungsi untuk memisahkan
partikel-partikel berat seperti pasir, tanah dan lumpur dari air baku. Prinsip
kerja dari sedimentation pond ialah pengendapan secara alami (gravitasi),
dengan demikian proses pemisahan ini sangat tergantung dari retention time
selama berada di dalam kolam. Air jenih dialirkan secara overflow ke clarifier
pond.

Gambar 1. Sedimentasi dan tangki clarifier


14

c) CLARIFIER POND
Clarifier tank berfungsi untuk melakukan pengendapan partikel halus yang
tidak dapat diendapkan pada bak sedimentasi. Kolam ini bekerja memisahkan
partikel berat dengan prinsip sentrifugal. Dengan adanya gaya sentrifugal
tersebut partikel dengan berat jenis yang lebih berat akan bergerak
mengendap didasar tangki sedangkan yang lebih ringan akan bergerak ke
permukaan, yang kemudian ditangkap secara overflow untuk dialirkan pada
proses selanjutnya.
d) PRESSURE SAND FILTER
Filtrasi adalah suatu proses untuk menghilangkan zatzat yang
tidak larut di dalam air secara mekanis. Air mengalir ke bagian bawah grafity
filter melalui media penyaring mengandung lapisan pasir silika, partikelpartikel besar akan tertinggal dan melekat dipermukaan media, sedangkan air
jernih berkumpul di bagian bawah dan mengalir menuju tower.
Zatzat padat yang tidak terlarut bila telah banyak akan menghambat
proses penyaringan sehingga perlu dicuci, proses pencucian disebut Back
Wash. Back Wash dilakukan bila perbedaan tekanan in dan out filter telah
kurang dari 0.5 kg/cm2 dengan memakai air jernih dialirkan dari bawah
menuju ke atas sehingga kotoran terbuang keluar.

Gambar 2. Pressure sand filter

15

e) FILTERED WATER TOWER TANK


Filtered water tower tank berfungsi sebagai tempat penampungan
sementara air yang telah dilakukan penyaringan untuk kemudian dialirkan ke
masing-masing keperluan. Filtered water tank dibuat dengan ketinggian, yang
memadai untuk menjangkau ke semua lokasi yang menggunakan air dari
filtered water tank tersebut.

INTERNAL WATER TREATMENT


Internal treatment bertujuan untuk melakukan pengolahan lebih lanjut
dari hasil eksternal treatment, sebagai metoda perlindungan boiler dalam
proses pembentukan uap. Seluruh perlakuan diarahkan untuk menghindari
pembentukan kerak, korosi, dan carryover. Bahan kimia yang digunakan
adalah:
1. Catalized Sulfid yang berfungsi untuk mengikat oksigen dan gas-gas lain
yang masih terikut dalam air boiler serta mencegah terjadinya korosi pada
permukaan logam, khususnya pada bagian dalam pipa-pipa dan drum
boiler.
2. Adjunct HL yang difungsikan sebagai pengontrol total alkali dan pH air
boiler.
3. Advantage yang berfungsi untuk melindungi permukaan bagian dalam
pipa-pipa dan drum dengan membentuk lapisan film, sehingga terhidar
dari korosi dan deposit. Selain itu juga berfungsi untuk melarutkan lapisan
kerak yang sudah terbentuk pada permukaan dalam pipa dan drum seperti
silica.

Koagulasi dan Flokulasi

16

Benda-benda tersuspensi dalam air dapat berupa bahan-bahan kasar yang


dapat mengendap sampai pada bahan-bahan koloid lembut. Bahan-bahan tersebut
dapat bersatu dan mengendap dandisatukan menjadi lebih besar dengan bantuan
bahan penggumpal. Kumpulan benda-benda besar tersebut akan tertinggal di dasar
sedimentasi dan dihilangkan dengan cara penyaringan (filtrasi). Langkah-langkah
proses koagulasi dan flokulasi sebagai berikut :
1. Bahan kimia penggumpal dimasukkan ke dalam air, supaya bahan
kimia tersebut bereaksi secara seragam, bahan tersebut harus
ditaburkan secara merata . Hal ini memerlukan pengadukan yang
cepat atau pencampuran dengan air pada titik dimana penggumpalan
ditambahkan.
2. Rekasi-reaksi kimia dan kimia fisik dan perubahan-perubahan yang terjadi
mengarahkan pada koagulasi dan pembentukan partikel-partikel berukuran
mikroskopis.
3. Pengadukan

perlahan-lahan

menyebabkan

penyatuan

partikel menjadi kumpulan yang dapat terendapkan.

Gambar 3. Proses Koagulasi,Flokulasi,dan Filtrasi


2.4.2. Pengolahan air secara fisika
17

pertikel-

Sedimentasi

Sedimentasi adalah proses pemisahan padatan yang terkandung dalam


limbah cair oleh gaya gravitasi. Pada umumnya proses Sedimentasi dilakukan
setelah proses Koagulasi dan Flokulasi dimana tujuannya adalah untuk
memperbesar partikel padatan sehingga menjadi lebih berat dan dapat tenggelam
dalam waktu lebih singkat.
Sedimentasi bisa dilakukan pada awal maupun pada akhir dari unit sistem
pengolahan. Jika kekeruhan dari influent tinggi,sebaiknya dilakukan proses
sedimentasi awal (primary sedimentation) didahului dengan koagulasi dan
flokulasi, dengan demikian akan mengurangi beban pada treatment berikutnya.
Sedangkan secondary sedimentation yang terletak pada akhir treatment gunanya
untuk memisahkan dan mengumpulkan lumpur dari proses sebelumnya (activated
sludge, OD, dsb) dimana lumpur yang terkumpul tersebut dipompakan keunit
pengolahan lumpur tersendiri.
Sedimen dari limbah cair mengandung bahan-bahan organik yang akan
mengalami proses dekomposisi. Pada proses tersebut akan timbul formasi gas
seperti carbon dioxida, methane, dsb. Gas tersebut terperangkap dalam partikel
lumpur dimana sewaktu gas naik ke atas akan mengangkat pula partikel lumpur
tersebut. Proses ini selain menimbulkan efek turbulensi juga akan merusak
sedimen yang telah terbentuk. Pada Septic-tank, Imhoff-tank dan Baffle-reactor,
konstruksinya didesain sedemikian rupa guna menghindari efek dari timbulnya
gas supaya tidak mengaduk/merusak partikel padatan yang sudah mapan (settle)
didasar tangki, sedangkan pada UASB (Uplift Anaerobic Sludge Blanket)justru
menggunakan efek dari proses tersebut untuk mengaduk aduk partikel lumpur
supaya terjadi kondisi seimbang antara gaya berat dan gaya angkat pada partikel
lumpur, sehingga partikel lumpur tersebut melayang-layang/mubal mubal.
Setelah proses dekomposisi dan pelepasan gas, kondisi lumpur tersebut
tersebut sudah stabil dan akan menetap secara permanen pada dasar tangki,
18

sehingga sering juga proses sedimentasi dalam waktu yang cukup lama disebut
dengan proses Stabilisasi. Akumulasi lumpur (Volume) dalam periode waktu
tertentu(desludging-interval) merupakan parameter penting dalam perencanaan
pengolahan limbah dengan proses sedimentasi dan stabilisasi lumpur.

Gambar 4. Proses Sedimentasi

Filtrasi

Filtrasi adalah proses penyaringan air melalui media pasir atau bahan
sejenis untuk memisahkan partikel flok atau gumpalan yang tidak dapat
mengendap agar diperoleh air yang jernih.
Penyaring adalah pengurangan lumpur tercampur dan partikel koloid dari
air limbah dengan melewatkan pada media yang porous. Kedalaman penyaringan
menentukan derajat kebersihan air yang disaringnya pada pengolahan air untuk
minum.
Mekanisme yang dilalui pada filtrasi:
1. Air mengalir melalui penyaring glanular
2. Partikel-partikel tertahan di media penyaring
3. Terjadi reaksi-reaksi kimia dan biologis
Filtrasi yang berfungsi sebagai tempat proses penyaringan butir-butir yang
tidak ikut terendap pada bak sedimentasi dan juga berfungsi sebagai penyaring
mikroorganisme atau bakteri yang ikut larut dalam air. Bangunan filtrasi
19

biasanya menggunakan pasir silica yang berwarna hitam yang memiliki


ketebalan yang berbeda dan juga kerikil. Pasir ini digunakan karena lebih
berat dan lebih menempel flok-floknya.

Gambar 5. Proses Filtrasi


2.4.3. Pengolahan air secara biologi

Ticking Filter

Pengolahan air dengan cara trickling filter merupakan proses pengolahan


air dengan cara meyebarkan air kedalam suatu tumpukan unggun atau
media yang terdiri dari bahan batu pecah atau kerikil, bahan keramik, sisa
tanur (slag), medium dari bahan plastik atau lainnya. Dengan cara
demikian maka pada permukaan medium akan tumbuh lapisan biologis
(biofilm), seperti lender, dan lapisan biologis tersebut akan kontak dengan
air dan akan menguraikan senyawa polutan yang ada di dalam air limbah.

20

Gambar 6. Trickling Filter

Rotating biological contractor

Rotating

Biological

Contactors

(RBCs)

adalah

teknologi

pengolahanlimbah secara biologi yang menggunakan biofilm sebagai tempat


tumbuh mikroorganisme. RBCs berbentuk tangki horizontal setengah lingkaran,
didalamnya terdapat sejumlahcakram (disc) yang dirangkai secara paralel dengan
jarak yang berdekatan. Biofilm akan terbentuk dan tumbuh menempel pada
permukaan cakram. Cakram akan berputar dengan kecepatan tertentu. RBC terdiri
dari cakram (disc) yang tersusun secara seri dengan jarak antar cakram yang
relatif dekat.
Reaktor biologis putar (rotating biological contactor) disingkat RBC
adalah salah satu teknologi pengolahan air limbah yang mengandung polutan
organik yang tinggi secara biologis dengan sistem biakan melekat (attached
culture). Prinsip kerja pengolahan air limbah dengan RBC yakni air limbah yang
mengandung polutan organik dikontakkan dengan lapisan mikro-organisme
(microbial film) yang melekat pada permukaan media di dalam suatu reaktor.
Media tempat melekatnya film biologis ini berupa piringan (disk) dari
bahan polimer atau plastik yang ringan dan disusun dari berjajar-jajar pada suatu
poros sehingga membentuk suatu modul atau paket, selanjutnya modul tersebut

21

diputar secara pelan dalam keadaan tercelup sebagian ke dalam air limbah yang
mengalir secara kontinyu ke dalam reaktor tersebut.
Dengan cara seperti ini mikro-organisme misalnya bakteri, alga, protozoa,
fungi, dan lainnya tumbuh melekat pada permukaan media yang berputar tersebut
membentuk suatu lapisan yang terdiri dari mikro-organisme yang disebut biofilm
(lapisan biologis). Mikro-organisme akan menguraikan atau mengambil senyawa
organik yang ada dalam air serta mengambil oksigen yang larut dalam air atau
dari udara untuk proses metabolismenya, sehingga kandungan senyawa organik
dalam air limbah berkurang.
Pada saat biofilm yang melekat pada media yang berupa piringan tipis
tersebut tercelup kedalam air limbah, mikro-organisme menyerap senyawa
organik yang ada dalam air limbah yang mengalir pada permukaan biofilm, dan
pada saat biofilm berada di atas permuaan air, mikro-organisme menyerap okigen
dari udara atau oksigen yang terlarut dalam air untuk menguraikan senyawa
organik. Enegi hasil penguraian senyawa organik tersebut digunakan oleh mikroorganisme untuk proses perkembang-biakan atau metabolisme.
Senyawa hasil proses metabolisme mikro-organisme tersebut akan keluar
dari biofilm dan terbawa oleh aliran air atau yang berupa gas akan tersebar ke
udara melalui rongga-rongga yang ada pada mediumnya, sedangkan untuk
padatan tersuspensi (SS) akan tertahan pada pada permukaan lapisan biologis
(biofilm) dan akan terurai menjadi bentuk yang larut dalam air.
Pertumbuhan mikro-organisme atau biofilm tersebut makin lama semakin
tebal, sampai akhirnya karena gaya beratnya sebagian akan mengelupas dari
mediumnya dan terbawa aliran air keluar. Selanjutnya, mikro-organisme pada
permukaan medium akan tumbuh lagi dengan sendirinya hingga terjadi
kesetimbangan sesuai dengan kandungan senyawa organik yang ada dalam air
limbah.

22

Gambar 7. Rotating Biological Contractor

Gambar 8. Diagram Proses RBC

23

1. Bak Pemisah Pasir


Air limbah dialirkan dengan tenang ke dalam bak pemisah pasir, sehingga
kotoran yang berupa pasir atau lumpur kasar dapat diendapkan. Sedangkan
kotoran yang mengambang misalnya sampah, plastik, sampah kain dan lainnya
tertahan pada sarangan (screen) yang dipasang pada inlet kolam pemisah pasir
tersebut.
2. Bak Pengendap Awal
Dari bak pemisah/pengendap pasir, air limbah dialirkan ke bak pengendap
awal. Di dalam bak pengendap awal ini lumpur atau padatan tersuspensi sebagian
besar mengendap. Waktu tinggal di dalam bak pengendap awal adalah 2 - 4 jam,
dan lumpur yang telah mengendap dikumpulkan daan dipompa ke bak
pengendapan lumpur.
3. Bak Kontrol Aliran
Jika debit aliran air limbah melebihi kapasitas perencanaan, kelebihan debit
air limbah tersebut dialirkan ke bak kontrol aliran untuk disimpan sementara. Pada
waktu debit aliran turun / kecil, maka air limbah yang ada di dalam bak kontrol
dipompa ke bak pengendap awal bersama-sama air limbah yang baru sesuai
dengan debit yang diinginkan.
4. Kontaktor (reaktor) Biologis Putar
Di dalam bak kontaktor ini, media berupa piringan (disk) tipis dari bahan
polimer atau plastik dengan jumlah banyak yang dilekatkan atau dirakit pada
suatu poros, diputar secara pelan dalam keadaan tercelup sebagian ke dalam air
limbah. Waktu tinggal di dalam bak kontaktor kira-kira 2,5 jam. Dalam kondisi
demikian, mikro-organisme akan tumbuh pada permukaan media yang berputar
tersebut, membentuk suatu lapisan (film) biologis. Film biologis tersebut terdiri
dari berbagai jenis/species mikro-organisme misalnya bakteri, protozoa, fungi,
dan lainnya. Mikro-organisme yang tumbuh pada permukaan media inilah yang
akan menguraikan senyawa organik yang ada di dalam air limbah. Lapisan
biologis tersebut makin lama makin tebal dan kerena gaya beratnya akan
mengelupas dengan sendirinya dan lumpur organik tersebut akan terbawa aliran

24

air keluar. Selanjutnya lapisan biologis akan tumbuh dan berkembang lagi pada
permukaan media dengan sendirinya.
5. Bak Pengendap Akhir
Air limbah yang keluar dari bak kontaktor (reaktor) selanjutnya dialirkan
ke bak pengendap akhir dengan waktu pengendapan sekitar 3 jam. Dibandingkan
dengan proses lumpur aktif, lumpur yang berasal dari RBC lebih mudah
mengendap, karena ukurannya lebih besar dan lebih berat. Air limpasan (over
flow) dari bak pengendap akhir relatif sudah jernih, selanjutnya dialirkan ke bak
khlorinasi. Sedangkan lumpur yang mengendap di dasar bak dipompa ke bak
pemekat lumpur bersama-sama dengan lumpur yang berasal dari bak pengendap
awal.
6. Bak Khlorinasi
Air olahan atau air limpasan dari bak pengendap akhir masih mengandung
bakteri coli, bakteri patogen, atau virus yang sangat berpotensi menginfeksi ke
masyarakat sekitarnya. Untuk mengatasi hal tersebut, air limbah yang keluar dari
bak pengendap akhir dialirkan ke bak khlorinasi untuk membunuh mikroorganisme patogen yang ada dalam air. Di dalam bak khlorinasi, air limbah
dibubuhi dengan senyawa khlorine dengan dosis dan waktu kontak tertentu
sehingga seluruh mikro-orgnisme patogennya dapat dimatikan. Selanjutnya
dari bak khlorinasi air limbah sudah boleh dibuang ke badan air.
Bak Pemekat Lumpur
Lumpur yang berasal dari bak pengendap awal maupun bak pengendap
akhir dikumpulkan di bak pemekat lumpur. Di dalam bak tersebut lumpur diaduk
secara pelan kemudian dipekatkan dengan cara didiamkan sekitar 25 jam sehingga
lumpurnya mengendap, selanjutnya air supernatant yang ada pada bagian atas
dialirkan ke bak pengendap awal, sedangkan lumpur yang telah pekat dipompa ke
bak pengering lumpur atau ditampung pada bak tersendiri dan secara periodik
dikirim ke pusat pengolahan lumpur di tempat lain.

25

Aplikasi pengolahan air baku menjadi air bersih di PT Pusri Palembang


Air sungai dialirkan oleh pompa sungai dengan tekanan sekitar 4,7 kg/cm 2
dan normal flow 640 m3/jam. Sebelum masuk ke premix tank, river water
diinjeksikan NaOH dan alum yang banyaknya disesuaikan dengan input river
water yang bervariasi (flow, turbidity dan pH). Kemudian di premix tank, river
water dan alum dicampur dan diaduk sampai homogen dengan agitator
berputaran cepat sehingga terbentuklah flock -flock kecil.
1.

NaOH berfungsi menaikkan pH

2.

Alum

berfungsi

menghilangkan

kekeruhan/mengendapkan padatan tersuspensi, reaksinya :


Al2(SO4)3 + H2O

2Al+3 + 3OH + 3H2SO4 ................... (31)

Kemudianair diinjeksikan coagulant aid (separant) sebelum masuk ke


floctreator, dimana penambahan zat ini berfungsi untuk membantu proses
flokulasi, koagulasi dan pengendapan partikel floc di floctreator. Proses yang
terjadi adalah pengendapan lumpur hasil flokulasi dan koagulasi yang dibantu
agitator berputar pelan ( rpm) yang menyebabkan pembentukan lapisan lumpur
(sludge blanket) sehingga air yang jernih akan terpisah dari endapan floc. Pada
proses di dalam floctreator, pH dijaga 5,2 6,8 agar proses berjalan dengan baik
sedangkan setelah keluar dari floctreator,kandungan turbidity< 5 ppm. Setelah itu
dilakukan injeksi NaOH lagi untuk menaikkan pH menjadi 6,8 - 7,2 dan
ditampung di clear well.
Dari clear well, air dialirkan dengan pompa 4203JA/B/C menuju sand filter
yang berjumlah 6 vessel dan bekerja secara paralel, untuk menyaring pengotor
tersuspensi yang masih lolos dari tahap penjernihan. Pengotor yang disaring
diantaranya:

senyawa

organik,

partikel

halus,

senyawa

warna

dan

mikroorganisme. Kemudianhasil yang berupa filtered water ditampung di dalam


filtered water storage tank 4021-F yang mempunyai kapasitas 4129.88 m 3 dan
dapat didistribusikan ke demin plant, cooling tower dan perumahan.

26

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Water Treatment adalah suatu cara/bentuk pengolahan air dengan
cara cara tertentu dengan tujuan untuk mencapai hasil yang diharapkan
sesuai kebutuhan. Dalam mengolah air dapat ditinjau dari beberapa
parameter diantaranya parameter fisik, kimia,dan biologi.
Selain parameter terdapat beberapa proses pengolahan air yaitu
pengolahan air secara fisika, kimia, dan biologi. Secara fisika yaitu filtrasi
dan sedimentasi. Secara kimia yaitu koagulasi dan flokulasi, pelunakan air
serta ion exchange. Secara biologi yaitu trickling filter dan RBC (Rotating
Biological Contractor).
3.2 Saran
27

Dalam kehidupan sehari hari maupun dalam industri tidak


terlepas dari adanya limbah cair. Untuk mengatasi limbah tersebut perlu
adanya pengolahan air (Water Treatment). Dalam Water Treatmentproses
yang dilakukan untuk mengolah limbah cair tersebut sebaiknya dilakukan
sesuai dengan kontaminan yang terkandung di dalam limbah tersebut agar
pengolahannya menjadi lebih tepat dan efisien. Sehingga tidak
menimbulkan pengaruh yang lain terhadap lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
Zulkarnain, dkk. 2015. Modul Utilitas. Palembang : Politeknik Negeri Sriwijaya
http://envist2.blogspot.com/2009/05/filtrasi.html
http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-industri/limbahindustri/sedimentasi-pengendapan-pada-pengolahan-limbah-cair/
http://www.ionexchange.com/ion/en/processes/counterflow/multistep/

28