Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

Sebelum menyelidiki detail menakjubkan dari perang pertahanan yang berlangsung di


bagian terdalam tubuh kita, pertama-tama kita harus memiliki pandangan umum tentang sistem
pertahanan dan elemen penyusunnya.
Secara singkat, sistem kekebalan dapat didefinisikan sebagai pra-jurit yang sangat
disiplin, teratur dan pekerja keras yang melindungi tubuh dari cengkeraman musuh eksternal.
Dalam peperangan aneka rupa ini, tugas utama dari elemen yang berperang di garis depan adalah
untuk mencegah sel musuh, seperti bakteri atau virus, memasuki tubuh.
Kendati tidak gampang bagi organisme musuh untuk memasuki tubuh, mereka
menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan akhir-nya, yaitu menjajah tubuh. Kalau mereka
berhasil melakukannya, setelah mengatasi berbagai penghalang seperti kulit serta saluran
pernapasan dan pencernaan, mereka akan mendapati prajurit tangguh telah menanti. Para prajurit
tangguh ini dihasilkan dan dilatih di pusat khusus seperti sumsum tulang, limpa, timus, dan
kelenjar getah bening. Para prajurit ini adalah sel-sel pertahanan yang disebut makrofag dan
limfosit.
Pertama, berbagai jenis fagosit, yang disebut sel pemakan akan langsung beraksi.
Kemudian makrofag, jenis spesifik lain dari fagosit, mendapat gilirannya. Makrofag ini
menghancurkan semua musuh de-ngan jalan menelannya. Makrofag juga menjalankan tugas lain
seperti mengajak sel-sel pertahanan lainnya ke arena pertempuran, dan menaik-kan suhu tubuh.
Meningkatnya suhu tubuh atau demam di awal sakit sangat penting, karena orang yang
mengalaminya akan merasa kelelahan dan perlu beristirahat, hal ini menghemat energi yang
diperlukan untuk memerangi musuh.
Apabila unsur-unsur sistem kekebalan ini terbukti tidak memadai untuk musuh yang
memasuki tubuh, maka limfosit, sang jagoan sistem, ikut bermain. Ada dua jenis limfosit; sel B
dan sel T. Keduanya ini kemudian juga terbagi ke dalam dua kelompok.
Setelah makrofag, yang datang berikutnya adalah sel T penolong. Ia mungkin dianggap
agen administratif sistem. Setelah sel T penolong me-ngenali musuh, mereka memperingatkan

sel-sel lain supaya mengangkat kapak perang untuk melawannya. Begitu diberi tahu, sel T
pembunuh memainkan perannya menghancurkan musuh yang menyerbu.
Sel B merupakan pabrik senjata dalam tubuh manusia. Mengikuti rangsang dari sel T
penolong, sel B segera mulai memproduksi semacam senjata yang disebut antibodi.
Kalau tanda peringatan sudah berakhir, sel T penekan menghenti-kan kegiatan semua sel
pertahanan, dan karena itu mencegah pertem-puran berlangsung lebih lama daripada yang
diperlukan.
Akan tetapi, misi pasukan pertahanan ini belum berakhir. Sel-sel prajurit, yang disebut sel
pengingat, menyimpan informasi yang diperlu-kan tentang musuh itu dalam memori mereka
selama bertahun-tahun. Hal ini memungkinkan sistem kekebalan untuk segera menyusun pertahanan melawan musuh yang sama jika suatu saat nanti datang lagi.
Masih banyak faktor hebat dalam perincian sistem kekebalan, yang telah kita jabarkan secara
ringkas di atas. Sebagaimana dijelaskan sebe-lumnya, di dalam buku ini, peristiwa luar biasa
tersebut disampaikan dalam cara yang mudah dipahami.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Antigen
Sistem imun dibedakan antar self dan nonself melalui proses pengenalan yang
rumit. Antigen self (dari tubuh orang yang bersangkutan) biasanya ditoleransi oleh sistem
kekebalan tubuh, sedangkan antigen nonself atau dari luar tubuh diidentifikasi sebagai
penyusup dan diserang oleh sistem kekebalan tubuh. Gangguan autoimun timbul dari sistem
kekebalan tubuh yang bereaksi terhadap antigen diri sendiri/self. Substansi, seperti protein,
nukleoprotein, polisakarida, dan beberapa glikolipid, yang merangsang respon imun dan
memberi reaksi pada respon ini disebut antigen (Antibody Generator). Antigen merupakan
bahan asing yang dikenal dan merupakan target yang akan dihancurkan oleh sistem
kekebalan tubuh. Antigen ditemukan di permukaan seluruh sel, tetapi dalam keadaan normal,
sistem kekebalan seseorang tidak bereaksi terhadap selnya sendiri. Sehingga dapat dikatakan
antigen merupakan sebuah zat yang menstimulasi tanggapan imun, terutama dalam produksi
antibodi. Antigen biasanya protein atau polisakarida, tetapi dapat juga berupa molekul
lainnya, termasuk molekul kecil (hapten) dipasangkan ke protein-pembawa.
Sebagian antigen berukuran besar, molekulnya komplek dengan berat molekul
umumnya lebih dari 10.000. Kemampuan molekul untuk berfungsi sebagai antigen
bergantung pada ukuran, kekomplekan struktur, sifat kimia, dan tingkat keasingan terhadap
hospes.
Setiap antigen dapat memiliki beberapa antigenic determinant sites atau epitopes.
Epitope merupakan daerah atau sisi pada antigen yang berikatan dengan sisi
pengikatan antigen dari antibody yang spesifik atau dengan sebuah reseptor sel T.
Antigen dapat mempunyai satu atau lebih determinan. Suatu determinan mempunyai ukuran
lima asam amino atau gula. Antibody siap membentuk respon factor penentu dari molekul
luar atau terminal residu dari rantai polimer spesifik. Secara kimiawi, factor penentu tersebut
termasuk gula, asam dan basa organik, asam amino rantai samping, hidrokarbon, dan
kelompok aromatic.
Dua strain binatang dari spesies yang sama dapat merespon secara berbeda terhadap
antigen yang sama karena perbedaan komposisi gen respon imun. Respon imun tergantung

kepada banyaknya antigen yang diberikan, maka respon imun tersebut dapat
dioptmalkan dengan cara menentukan dosis antigen dengan cermat (termasuk jumlah
dosis), cara pemberian dan waktu pemberian (termasuk interval diantara dosis yang
diberikan). Peningkatan respon imun mungkin dilakukan dari suatu zat dengan
menggabungkannya dengan ajuvan. Ajuvan merupakan zat yang merangsang respon
imun.

Jumlah dari factor penentu sisi antigenic pada permukaan antigen disebut
dengan valance. Valance menentukan jumlah molekul antibody yang dapat bergabung
dengan antigen suatu saat. Jika satu sisi factor penentu muncul, antigen monovalent.
Kebanyakan antigen, bagimanapun, mempunyai lebih dari satu sisi faktor penentu
atau lebih dari satu salinan dari epitope yang sama, dan multivalent. Umumnya antigen
multivalent menghasilkan respon imun yang lebih kuat dari pada antigen monovalent.
Pada umumnya, antigen-antigen dapat di klasifikasikan menjadi dua jenis utama,
yaitu antigen eksogen dan antigen endogen. Antigen eksogen adalah antigen-antigen
yang disajikan dari luar kepada hospes dalam bentuk mikroorganisme, tepung sari,
obat-obatan atau polutan. Antigen ini bertanggungjawab terhadap suatu spektrum
penyakit manusia, mulai dari penyakit infeksi sampai ke penyakit-penyakit yang
dibenahi secara immologi, seperti pada asma. Virus influenza misalnya yang
merupakan penyebab utama epidemik penyakit saluran pernapasan pada manusia,
terdapat di alam dalam berbagai jenis antigenic yang dikenal sebagai A, B, dan C.
Jenis-jenis ini menggambarkan berbagai macam-macam mutasi virus. Populasi yang
rentan akan diinfeksi oleh serotype tertentu. Setelah sembuh dan imunitas terbentuk, virus
ini tidak lagi memperbanyak diri, karena mereka tidak cukup mendapat individu rentan untuk

mendapatkan infeksi lanjutan. Namun sesuai dengan tekanan selektif, virus ini diketahui
melakukan mutasi, kemudian akan melakukan mutasi, kemudian akan muncul varian baru
virus influenza. Varian baru ini, bila cukup virulen bertanggungjawab pada epidemik baru.
Dengan demikian manusia mampu mengatasi suatu epidemik, tetapi organisme menciptakan
epidemi baru.
Antigen endogen adalah antigen yang terdapat didalam tubuh dan meliputi
antigen-antigen berikut:antigen senogeneik (heterolog), antigen autolog dan antigen
idiotipik atau antigen alogenik (homolog). Antigen senogeneik adalah antigen yang
terdapat dalam aneka macam spesies yang secara filogenetik tidak ada hubungannya,
antigen-antigen ini penting untuk mendiagnosa penyakit. Kelompok-kelompok antigen
yang paling banyak mempunyai arti klinik adalah kelompok-kelompok antigen yang
digunakan untuk membedakan satu individu spesies dengan individu spesies yang
sama. Pada manusia determinan antigen semacam ini terdapat pada sel darah merah,
sel darah putih trombosit, protein serum, dan permukaan sel-sel yang menyusun
jaringan tertentu dari tubuh, termaksud antigen-antigen histokompatibilitas. Antigen
ini dikenal antigen polomorfik, karena adanya dua atau lebih bentuk-bentuk yang
berbeda secara genetik didalam populasi.
Secara fungsional antigen terbagi menjadi 2, yaitu:
1. Imunogen, yaitu molekul besar (disebut molekul pembawa). Bagian dari molekul antigen
besar yang dikenali oleh sebuah antibodi (oleh reseptor sel-T) atau bagian antigen yang
dapat membuat kontak fisik dengan reseptor antibodi, menginduksi pembentukan antibodi
yang dapat diikat dengan spesifik oleh bagian dari antibodi atau oleh reseptor antibodi, bisa
juga disebut determinan antigen atau epitop. Immunogen adalah tipe spesifik antigen.
Sebuah immunogen didefinisikan sebagai zat yang mampu merangsang respon imun
adaptif jika disuntikkan pada sendiri. Dengan kata lain, suatu immunogen mampu
menginduksi respon kekebalan, sedangkan antigen mampu menggabungkan dengan produk
respon imun setelah mereka dibuat.
2. Hapten, yaitu kompleks yang terdiri atas molekul kecil. Bahan kimia ukuran kecil
seperti dinitrofenol dapat diikat antibodi, tetapi bahan tersebut sendiri tidak dapat
mengaktifkan sel B (tidak imunogenik). Hapten merupakan sejumlah molekul kecil
yang dapat bereaksi dengan antibodi namun tidak dapat menginduksi produksi

antibodi. Untuk memacu respon antibodi, bahan kecil tersebut perlu diikat oleh
molekul besar.

Sifat-sifat umum imunogen


1. Keasingan
Kebutuhan utama dan pertama suatu molekul untuk memenuhi syarat sebagai imunogen
adalah bahwa zat tersebut secara genetik asing terhadap hospes. Secara alami respon imun
akan terjadi pada komponen yang biasanya tidak ada dalam tubuh atau biasanya tidak
terpapar pada sistem limforetikuler hospes.
2. Sifat-sifat Fisik
Agar suatu zat dapat menjadi imunogen, ia harus mempunyai ukuran minimum tertentu,
imunogen yang mempunyai berat molekul yang kecil, respon terhadap hospes minimal, dan
fungsi zat tersebut sebagai hapten sesudah bergabung dengan proten-proten jaringan. Hapten
dapat merangsang terjadinya respon imun yang kuat jika bergabung proten pembawa dengan
ukuran sesuai. Perlu diperhatikan bahwa hapten-proten diarahkan pada (1) hapten, (2)
pembawa, dan (3) daerah spesifikasi tumpang tindih. yang melibatkan hapten dan unsur yang
berdekatan lainnya. Pada imunitas humoral, spesifisitas diarahkan pada hapten, sedangkan
pada imunitas selular, reaktifitas diarahkan baik pada hapten maupun pada protein pembawa.
3. Kompleksitas.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kompleksitas imunogen meliputi baik sifat fisik
maupun kimia molekul. Keadaan agregasi molekul misalnya dapat mempengaruhi
imunogenitas. Larutan proten-protein monometrik dapat benar-benar merangsang terjadinya
keadaan refraktair atau tolerans bila berada dalam bentuk monometrik, tetapi sangat
imunogen bila dalam berada polimetrik atau keadaan agregasi.
4. Bentuk-bentuk (Conformation)
Tidak adanya bentuk dari molekul tertentu yang imunogen. Polipeptid linear atau
bercabang, karbohidrat linear atau bercabang, serta protein globular, semuanya mampu
merangsang terjadinya respon imun. Meskipun demikian antibodi yang dibentuk dari aneka
macam kombinasi struktur adalah sangat spesifik dan dapat dengan cepat mengenal

perbedaan-perbedaan ini. Bila bentuk antigen berubah, antibodi dirangsang dalam bentuk
aslinya yang tidak bergabung lagi
5. Muatan (charge)
Imunogenitas tidak terbatas pada molekuler tertentu; tidak terbatas pada molekuler
tertentu, zat-zat yang bermuatan positif, negatif, dan netral dapat imunogen. Namun
demikian imunogen tanpa muatan akan memunculkan antibodi yang tanpa kekuatan. Telah
terbukti bahwa imunitas dengan beberapa imunogen bermuatan positif akan menghasilkan
imunogen bermuatan negatif.
6. Kemampuan masuk
Kemampuan masuk suatu kelompok determinan pada sistem pengenalan akan
menentukan hasil respon imun. Perkembangan baru-baru ini telah memungkinkan penelitian
untuk mempersiapkan polipeptid imunogenik sintetik yang berisi sejumlah asam amino
terbatas dan yang susunan kimianya dapat ditentukan.
B. Mekanisme Masuknya Antigen
Dalam lingkungan sekitar kita terdapat banyak substansi bermolekul kecil yang bisa
masuk ke dalam tubuh. Substansi kecil tersebut bisa menjadi antigen bila dia melekat pada
protein tubuh kita. Substansi kecil yang bisa berubah menjadi antigen tersebut dikenal
dengan istilah hapten. Substansi-substansi tersebut lolos dari barier respon non spesifik
(eksternal maupun internal), kemudian substansi tersebut masuk dan berikatan dengan sel
limfosit B yang akan mensintesis pembentukan antibodi. Contoh hapten dia antaranya adalah
toksin poison ivy, berbagai macam obat (seperti penisilin), dan zat kimia lainya yang dapat
membawa efek alergik.
C. Keterkaitan Antigen dengan Pembentukan Antibodi
Antigen yang masuk ke dalam tubuh akan berikatan dengan reseptor sel limfosit
B. Pengikatan tersebut menyebabkan sel limfosit B berdiferensiasi menjadi sel plasma.
Sel plasma kemudian akan membentuk antibody yang mampu berikatan dengan
antigen yang merangsang pembentukan antibody itu sendiri. Tempat melekatnya
antibodi pada antigen disebut epitop, sedangkan tempat melekatnya antigen pada
antibodi disebut variabel.

D. Interaksi Antigen dan Antibodi


Secara garis besar, interaksi antigen-antibodi adalah seperti bagan berikut :
Antigen/hapten masuk ke tubuh melalui makanan, minuman, udara, injeksi,
atau kontak langsung Antigen berikatan dengan antibody Histamine keluar dari
sel mast dan basofil Timbul manifestasi alergi
Interaksi antigen-antibodi dapat dikategorikan menjadi tingkat primer, sekunder, dan
tersier.
1. Primer
Interaksi tingkat primer adalah saat kejadian awal terikatnya antigen dengan antibody
pada situs identik yang kecil, bernama epitop.
2. Sekunder
Interaksi tingkat sekunder terdiri atas beberapa jenis interaksi, di antaranya:
a. Netralisasi
Adalah jika antibody secara fisik dapat menghalangi sebagian antigen
menimbulkan effect yang merugikan. Contohnya adalah dengan mengikat toksin
bakteri, antibody mencegah zat kimia ini berinteraksi dengan sel yang rentan.
b. Aglutinasi
Adalah jika sel-sel asing yang masuk, misalnya bakteri atau transfuse darah yang
tidak cocok berikatan bersama-sama membentuk gumpalan.
c. Presipitasi
Adalah jika complex antigen-antibodi yang terbentuk berukuran terlalu besar,
sehingga tidak dapat bertahan untuk terus berada di larutan dan akhirnya
mengendap.
d. Fagositosis
Adalah jika bagian ekor antibody yang berikatan dengan antigen mampu
mengikat reseptor fagosit (sel penghancur) sehingga memudahkan fagositosis
korban yang mengandung antigen tersebut.
e. Sitotoksis
Adalah saat pengikatan antibody ke antigen juga menginduksi serangan sel
pembawa antigen oleh killer cell (sel K). Sel K serupa dengan natural killer cell

kecuali bahwa sel K mensyaratkan sel sasaran dilapisi oleh antibody sebelum
dapat dihancurkan melalui proses lisis membran plasmanya.
3. Tersier
Interaksi tingkat tersier adalah munculnya tanda-tanda biologic dari interaksi antigenantibodi yang dapat berguna atau merusak bagi penderitanya. Pengaruh menguntungkan
antara lain: aglutinasi bakteri, lisis bakteri, immnunitas mikroba,dan lain-lain. Sedangkan
pengaruh merusak antara lain: edema, reaksi sitolitik berat, dan defisiensi yang
menyebabkan kerentanan terhadap infeksi.
Contoh-contoh antigen antara lain:

Bakteri
Virus
Sel darah yang asing
Sel-sel dari transplantasi organ
Toksin

B. Zat Anti (Antibodi)


Sistem kekebalan atau sistem imun adalah sistem perlindungan pengaruh luar biologis
yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme. Jika sistem kekebalan
bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus,
serta menghancurkan sel kanker dan zat asing lain dalam tubuh. Jika sistem kekebalan
melemah, kemampuannya melindungi tubuh juga berkurang, sehingga menyebabkan
patogen, termasuk virus yang menyebabkan demam dan flu, dapat berkembang dalam tubuh.
Sistem kekebalan juga memberikan pengawasan terhadap sel tumor, dan terhambatnya
sistem ini juga telah dilaporkan meningkatkan resiko terkena beberapa jenis kanker. Dalam
faktanya kekuatan antibody seseorang tersebut dalam melawan antigen yang terdapat dalam
tubuh seseorang.
Immunoglobulin (antibodi) sebenarnya merupakan molekul glikoprotein, sebab selain
terdiri dari 82 96 % polipeptida juga mengandung 4 18 % komponen karbohidrat. Namun
demikian, aktivitas biologiknya sebagian besar terletak pada komponen polipeptidanya.
Berdasarkan struktur molekulnya, antibody memiliki diversitas yang begitu luas,
sehingga dalam serum terdapat sebagai campuran heterogen. Heterogenitas tersebut mudah
ditunjukkan dengan cara serologic, elektroforetik dan analisis susunan asam aminonya.

Dua penemuan besar yang mendahului terungkapnya secara rinci dalam penelitian
struktur immunoglobulin, yaitu : pertama, molekul immunoglobulin dapat dipecah-pecah
oleh enzim tertentu dan kedua, diketemukannya hubungan protein dalam serum dan urine
penderita penyakit multiple myeloma.
Sebuah molekul imunoglobulin monomer biasanya terdiri atas 4 rantai polipeptida
yang masing-masing diikat melalui ikatan disulfide. Unit dasar ini sebenarnya terdiri atas
sepasang rantai panjang dan rantai pendek polipeptida. Baik rantai panjang maupun rantai
pendek terdiri atas rangkaian asam-asam amino. Rantai panjang (Rantai H = Heavy chain)
mempunyai berat molekul kira-kira dua kali lipat rantai pendek (Rantai L = Light chain).
Baik rantai L maupun rantai H, terdapat penggal-penggal rangkaian asam amino yang
dipisahkan oleh ikatan sulfida intra rantai yang dinamakan domain. Penggal-penggal tersebut
sebenarnya membentuk lipatan-lipatan dalam ruang tiga dimensi sehingga berbentuk
globuler.
Berdasarkan susunan urutan asam aminonya, dalam setiap rantai dapat dibedakan 2
daerah atau Regio. Daerah pada ujung rantai dekat gugus NH2 susunan urutan asam
aminonya dari satu imunoglobulin lainnya tidak tetap, sedangkan pada ujung dekat gugus
COOH mempunyai susunan asam amino yang relatif tetap. Oleh karena itu daerah yang
susunan asam aminonya beragam dinamakan regio variabel (Regio V), sedangkan daerah
yang relatif tetap susunan asam aminonya dinamakan regio konstan (Regio C). Di regio V
tersebutlah terjadi ikatan antara antibodi dengan antigen atau epitop.
Untuk membedakan masing-masing domain regio V, diberikan lambang VH untuk
rantai H dan VL untuk rantai L. Sedangkan pada Regio C rantai H karena lebih dari satu maka
disebut masing-masing sebagai CH1, CH2, CH3, dan CH4. didekat ikatan sulfida antar Rantai
H, terdapat bagian imunoglobulin yang bersifat lentur sehingga daerah tersebut dinamakan
engsel.
Struktur dasar dari antibodi terdiri atas:

5.

Dua Rantai ringan (light chain) yaitu L dan dua rantai berat (heavy chain) yaitu H
Ikatan disulfida
Regio variabel (V) dan regio constant (C)
Regio engsel (hinge)
Domain, yaitu domain light chain (VL dan CL) dan domain heavy chain (VH, CH1,

6.

CH2, CH3, CH4)


Karbohidrat berupa oligosakarida yang umumnya terikat pada CH2

1.
2.
3.
4.

Apabila imunoglobulin dibubuhi enzim papain, maka molekul tersebut terputus pada
rantai H pada daerah engsel didepan ikatan sulfida sehingga pecah menjadi dua fragmen Fab
yang dibentuk oleh domain terminal-N dan sebuah fragmen Fc yang dibentuk oleh domain
terminal-C. Walaupun sudah pecah, namun setiap fragmen Fab masih tetap mampu mengikat
antigen, sedang fragmen Fc masih tetap dapat terikat pada reseptor Fc pada permukaan sel
yang memilikinya. Fragmen Fab dengan antigen binding site, berfungsi mengikat antigen
karena itu susunan asam amino di bagian ini berbeda antara molekul imunoglobulin yang
satu dengan yang lain dan sangat variabel sesuai dengan variabilitas antigen yang
merangsang pembentukannya. Sebaliknya fragmen Fc merupakan fragmen yang konstan.
Fragmen ini tidak mempunyai kemampuan mengikat antigen tetapi dapat bersifat sebagai
antigen (determinan antigen). Fragmen ini pulalah yang mempunyai fungsi efektor sekunder
dan menentukan sifat biologik imunoglobulin bersangkutan, misalnya kemampuan

imunoglobulin untuk melekat pada sel, fiksasi komplemen, kemampuan imunoglobulin


menembus plasenta, distribusi imunoglobulin dalam tubuh dan lain-lain.
Apabila dipakai enzim pepsin, molekul Ig akan putus pada rantai H dibelakang ikatan
disufida sehingga terbentuklah sebuah molekul baru sebagai fragmen F(ab)2, yang masih
tetap dapat mengikat antigen dan dua buah fragmen kecil rantai peptida di daerah ujung
karboksil.
Ikatan disufida (-S-S-) menghubungkan antar rantai dan di dalam rantainya sendiri
biasanya menghubungkan gugus cystein sehingga terbentuk struktur globuler.
Berdasarkan struktur rantai H antibodi dibedakan menjadi 5 kelas, yaitu rantai
membentuk kelas IgG, rantai membentuk kelas IgM, rantai membentuk kelas IgA, rantai
membentuk kelas IgD dan rantai membentuk IgE. Sebenarnya pada beberapa kelas masih
dibagi dalam sub kelas yaitu sebagai subkelas IgG1, IgG2, IgG3, IgG4, IgA1, IgA2, IgM1, IgM2.

Rantai L dibedakan menjadi dua tipe, yaitu tipe kappa () dan lamda (). Dalam
setiap molekul hanya mungkin adanya satu rantai L dari tipe yang sama dan rantai H dari
kelas/subkelas yang sama.
Sebagai molekul, antibodi dapat dipandang sebagai antigen apabila dikenal sebagai
konfigurasi asing sebagaimana konfigurasi lainnya. Dengan demikian molekul antibodi ini
pun memiliki epitop. Pada molekul antibodi dikenal 3 kategori epitop, yaitu :

1. Isotipe, merupakan epitop yang menentukan kelas, subkelas, apabila terletak pada rantai
CH, dan akan menentukan tipe dan subtipe dari antibodi apabila epitop tersebut terletak
pada rantai CL.
2. Alotipe, merupakan epitop yang diatur oleh alel yang bersifat polimorfik dan akan
diwariskan menurut hukum Mendel. Epitop ini ditemukan tidak pada setiap kelas yang
ada dan biasanya terdapat pada daerah C. Apabila epitop (alotipe) terdapat pada rantai ,
maka setiap alotipe mempunyai nomenklatur sebagai Gm1, Gm2, Gm3, dan sebagainya.
Apabila terdapat pada rantai , maka diberi simbol Am1, Am2. Sedangkan apabila pada
rantai , maka alotipenya diberi lambang Km1, Km2 dan sebagainya.
3. Idiotipe, merupakan epitop yang terdapat pada daerah variabel yang memberikan ciri
khas antibodi tersebut. Oleh karena idiotipe merupakan epitop yang terdapat pada daerah
pengikat antigen, maka apabila idiotipe ini menimbulkan respon imun humoral struktur
spesifisitas antibodi yang terbentuk (anti-idiotipe) akan mirip dengan epitop antigen
penyebab antibodi pertama. Apabila dapat diketemukan anti-idiotipe yang sesuai dengan
epitop dari suatu antigen untuk kepentingan vaksinasi, maka vaksinasi dapat
menggunakan anti-idiotop sebagai pengganti vaksinnya sendiri.
Epitop yang terdapat pada molekul Ig, baik pada rantai H maupun pada rantai L,
apabila dikenal asing oleh yang bersangkutan akan menimbulkan respon imun, sehingga
dapat diperoleh antibodi terhadap epitop-epitop yang bersangkutan. Dengan demikian,
apabila seseorang mendapatkan Ig baik murni maupun yang terdapat dalam transfusi, dapat
dikenal sebagai konfigurasi asing sehingga terbentuk antibodi terhadap molekul Ig yang
spesifik terhadap epitopnya masing-masing.
Sistem kekebalan atau sistem imun adalah sistem perlindungan pengaruh luar biologis
yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme. Jika sistem kekebalan
bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus,
serta menghancurkan sel kanker dan zat asing lain dalam tubuh. Jika sistem kekebalan
melemah, kemampuannya melindungi tubuh juga berkurang, sehingga menyebabkan
patogen, termasuk virus yang menyebabkan demam dan flu, dapat berkembang dalam tubuh.
Sistem kekebalan juga memberikan pengawasan terhadap sel tumor, dan terhambatnya
sistem ini juga telah dilaporkan meningkatkan resiko terkena beberapa jenis kanker. Dalam

faktanya kekuatan antibody seseorang tersebut dalam melawan antigen yang terdapat dalam
tubuh seseorang.
Antibodi ini dapat meng-inaktifkan antigen dengan cara:

Netralisasi, yaitu pengeblokan aktifitas biologis dari molekul target mereka, misalnya
toksin berikatan dengan reseptor

Opsonisasi, yaitu interaksi dengan reseptor khusus pada berbagai macam sel, termasuk
makrofag, netrofil, basofil, dan mast cells, membuat sel-sel tersebut mengenal dan
berespon terhadap antigen

Aktivasi Komplemen, menyebabkan lisis langsung oleh komplemen. Rekrutmen


komplemen juga menghasilkan fagositosis.

Fungsi dari antibodi adalah membantu imunitas melawan beberapa agen infeksi yang
disebarkan melalui darah seperti bacteria, virus, parasit, dan beberapa jamur karena
gamaglobulin mengandung sebagian besar antibody serum. Memberi aktifitas antibody
dalam jaringan Mengikat dan menghancurkan antigen, namun demikian pengikatan antigen
tersebut kurang memberikan dampak yang nyata kalau tidak disertai fungsi efektor sekunder.
Fungsi efektor sekunder yang penting adalah memacu aktivasi komplemen, di samping itu
merangsang pelepasan histamine oleh basofil atau mastosit dalam reaksi hipersensitivitas tipe
segera

C. Lima Macam Zat Anti


Zat anti dikeluarkan oleh Limfosit B yang telah berubah menjadi sel plasma dan
secara tidak langsung menyebabkan dekstruksi zat asing.
Berdasarkan aktivitas biologisnya, antibodi dibagi menjadi:
1.

Imunoglobulin G ( Ig G) disebut juga rantai (gamma)


Immunoglobulin yang paling banyak di dalam tubuh, dihasilkan dalam jumlah
besar ketika tubuh terpajan ulang ke antigen yang sama. Ia memberikan proteksi utama
pada bayi terhadap infeksi selama beberapa minggu setelah lahir karena IgG mampu
menembus jaringan plasenta. IgG yang dikeluarkan melalui

cairan kolostrum dapat

menembus mukosa usus bayi dan menambah daya kekebalan. IgG lebih mudah menyebar
ke dalam celah-celah ekstravaskuler dan mempunyai peranan utama menetralisis toksin
kuman dan melekat pada kuman sebagai persiapan fagosistosis serta memicu kerja
system komplemen. Dikenal 4 subklas yang disebut IgG1, IgG2, IgG3 dan IgG4.
Perbedaannya terletak pada rantai berat (H) yang disebut 1, 2, 3 dan 4.

2. Imunoglobulin A ( Ig A) disebut juga rantai (alpha)

IgA dihasilkan paling banyak dalam bentuk dimer yang tahan terhadap proteolisis
berkat kombinasi dengan suatu zat protein khusus, disebut secretory component, oleh selsel dalam membrane mukosa. Imunoglobin yang dikeluarkan secara selektif di dalam
sekresi air ludah, keringat, air mata, lendir hidung, kolostrum, sekresi saluran pernapasan
dan sekresi saluran pencernaan. IgA yang keluar dengan sekret juga diproduksi secara
lokal oleh sel plasma. Kehadirannya dalam kolostrum (air susu pertama keluar pada
mamalia yang menyusui) membantu melindungi bayi dari infeksi gastrointestinal. Fungsi
utama IgA adalah untuk mencegah perlautan virus dan bakteri ke permukaan epitel.
Fungsi IgA setelah bergabung dengan antigen pada mikroorganisme mungkin dalam
pencegahan melekatnya mikroorganisme pada sel mukosa.
3. Imunoglobulin M ( Ig M) disebut juga rantai (mu)
IgM adalah antibody pertama yang bersirkulasi sebagai respons terhadap
pemaparan awal ke suatu antigen. Konsentrasinya dalam darah menurun secara cepat.
Hal ini secara diagnostic bermanfaat karena kehadiran IgM umumnya mengindikasikan
adanya infeksi baru oleh pathogen yang menyebabkan pembentukannya. IgM terdiri dari
lima monomer yang tersusun dalam struktur pentamer. IgM berfungsi sebagai reseptor
permukaan sel B untuk tempat antigen melekat dan disekresikan dalam tahap-tahap awal
respons sel plasma. IgM sangat efisien untuk reaksi aglutinasi dan reaksi sitolitik, dan
karena timbulnya cepat setelah infeksi dan tetap tinggal dalam darah maka IgM
merupakan daya tahan tubuh penting pada bakterimia.
4. Imunoglobulin D ( Ig D) disebut juga rantai (delta)
munoglobulin ini tidak mengaktifkan system komplemen dan tidak dapat
menembus plasenta. IgD terutama ditemukan pada permukaan sel B, yang kemungkinan
berfungsi sebagai suatu reseptor antigen yang diperlukan untuk memulai diferensiasi selsel B menjadi plasma dan sel B memori.
5. Imunoglobulin E ( Ig E) disebut juga rantai (epsilon)
Dihasilkan pada saat respon alergi seperti asma dan biduran. Peranan IgE belum
terlalu jelas. Di dalam serum, konsentrasinya sangat rendah, tetapi kadarnya akan naik
jika terkena infeksi parasit tertentu, terutama yang disebabkan oleh cacing. IgE berukuran
sedikit lebih besar dibandingkan dengan molekul IgG dan hanya mewakili sebagian kecil
dari total antibodi dalam darah. Daerah ekor berikatan dengan reseptor pada sel mast dan

basofil dan, ketika dipicu oleh antigen, menyebabkan sel-sel itu membebaskan histamine
dan zat kimia lain yang menyebabkan reaksi alergi.

Sifat-sifat fisika dari lima kelas utama immunoglobulin


Nama (WHO)
Angka sedimentasi
Berat molekul
Jumlah

unit

IgG
7S

IgA
IgM
7S,9S, 11S* 19S
160.000 dan
900.000
dimmer

IgD
7S

IgE
8S

185.000

200.000

1, 2*

,
(22)1-2

22

(22) 1-2

(22)5

22

22

22

(22) 2S*

(22)5

2 2 (?)

2 2

10

0-0,4

17-450 **

0-1
13

0,002
12

150.000

4-peptida

dasar
Rantai berat (H)
Rantai ringan
Susunan molekul

(22) 2S*
Valensi untuk mengikat
antigen
Konsentrasi

2, 4

serum

8-16
1,4-4
0,5-2
normal (mg/ml)
% imunoglobulin total
80
13
6
% karbohidrat
3
8
12
* = bentuk dimmer dalam sekresi mempunyai komponen S
** = 1ng = 10-9 g

Sifat-sifat biologi lima kelas utama immunoglobulin manusia


IgG
Sifat utama

Ig

IgA
terbanyakIg

IgM

IgD

utamaAglutinin efektifTerdapat

dalam

cairandalam

tubuh

sekresi

produksi
reaksi imun

dinipada
permukaan

IgE
Timbul
infeksi

pada
parasit,

penyebab atopic

limfosit bayi allergy

Ikatan

komplemen
Tembus plasenta +

Melekat

+/-

pada -

mast cell dan sel


basofil
Daya pelekatan +
pada makrofag
D. Tempat Pembentukan Antibodi
Antibodi dibentuk oleh sel plasma yang yang berasal dari diferensiasi sel B
akibat adanya kontak dengan antigen. Selama berdiferensiasi menjadi sel plasma,
limfosit B membengkak karena retikulum endoplasma kasar (tempat sintesis protein
yang akan dikeluarkan) sangat berkembang. Karena antibodi adalah protein, sel-sel
plasma pada dasarnya menjadi pabrik protein yang produktif, menghasilkan sampai dua ribu
molekul antibodi per detik. Sedemikian besarnya komitmen perangkat pembuat protein di sel
plasma untuk menghasilkan antibodi membuat sel tersebut tidak mampu mempertahankan
sintesis protein untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhannya sendiri. Sebagai akibatnya,
sel plasma mati dalam rentang waktu lima sampai tujuh hari.
E. Cara Pembentukan Antibodi
1. Respon Imun Non Spesifik
Respon imun non spesifik disebut juga komponen nonadaptif atau innate, atau
imunitas alamiah, artinya mekanisme pertahanan yang tidak ditujukan hanya untuk satu jenis
antigen, tetapi untuk berbagai macam antigen. Imunitas alamiah sudah ada sejak individu
dilahirkan dan terdiri atas berbagai macam elemen non spesifik. Jadi , bukan merupakan
pertahanan khusus untuk antigen tertentu. Dilihat dari caranya diperoleh, respon imun non

spesifik disebut juga respon imun alamiah. Respon imun non spesifik pada tubuh kita adalah
kulit dengan kelenjarnya, lapisan mukosa dengan enzimnya, serta kelenjar lain dengan
enzimnya seperti kelenjar air mata. Demikian pula sel fagosit (sel makrofag, monosit) dan
komplemennya, berperan pada respon imun non spesifik.
2. Respon Imun Spesifik
Respon imun spesifik atau disebut juga komponen adaptif atau imunitas didapat
adalah mekanisme pertahanan yang ditujukan khusus terhadap satu jenis antigen, karena itu
tidak dapat berperan terhadap antigen jenis lain. Perbedaanya dengan pertahanan tubuh non
spesifik adalah pertahanan tubuh spesifik harus kontak atau ditimbulkan terlebih dahulu oleh
antigen tertentu, baru ia akan terbentuk. Sedangkan pertahanan tubuh non spesifik sudah ada
sebelum ia kontak dengan antigen.
Bila respon imum non spesifik tidak dapat mengatasi invasi mikroorganisme maka
imunitas spesifik akan terangsang. Mekanisme pertahanan (respon imun) spesifik adalah
mekanisme pertahanan yang diperankan oleh sel limfosit, dengan atau tanpa bantuan
komponen sistem imun lainnya seperti sel makrofag. Dilihat dari caranya diperoleh maka
mekanisme pertahanan spesifik disebut juga respons imun didapat (adaptive immunity).
Imunitas spesifik hanya ditujukan terhadap antigen tertentu yaitu antigen yang
merupakan ligannya. Di samping itu, respons imun spesifik juga menimbulkan memori
imunologis yang akan cepat bereaksi bila host terpapar kembali dengan antigen yang sama di
kemudian hari. Pada respon imun spesifik akan terbentuk antibodi dan limfosit efektor yang
spesifik terhadap antigen yang merangsangnya, sehingga terjadi eliminasi antigen.
Sel yang berperan dalam respon imun ini adalah sel yang mempresentasikan antigen
(APC = antigen presenting cell = makrofag) sel limfosit T dan sel limfosit B. Sel limfosit T
dan limfosit B masing-masing berperan pada imunitas selular dan imunitas humoral. Sel
limfosit T akan meregulasi respons imun dan melisis sel target yang dihuni antigen. Sel
limfosit B akan berdiferensiasi menjadi sel plasma dan memproduksi antibodi yang akan
menetralkan atau meningkatkan fagositosis antigen dan lisis antigen oleh komplemen, serta
meningkatkan sitotoksisitas sel yang mengandung antigen yang dinamakan proses antibody
dependent cell mediated cytotoxicy (ADCC).

Mekanisme sebenarnya dari pembuatan antibodi sebagai reaksi atas masuknya


antigen masih belum diketahui secara pasti. Hal ini memicu timbulnya beberapa teori yang
memberi gambaran mengenai sintesis antibodi ditinjau dari beberapa sudut.
I. Teori Selektif
Teori ini menyatakan bahwa pada permukaan setiap sel pembentuk antibodi di dalam
tubuh terdapat gugusan-gugusan kimia yang khas, yang disebut side chain, semacam
reseptor yang berfungsi seperti antibodi dan dapat mengikat antigen yang sesuai
untuknya. Antigen itu akan merusak reseptor yang berlebihan dan dilepaskan oleh sel ke
dalam serum sebagai antibodi. Teori ini kemudian ditinggalkan karena dianggap tidak
masuk akal bahwa untuk berbagai macam antigen yang tidak terbatas banyakya telah
disediakan resaptor yang sesuai pada permukaan sel.
II. Teori Instruktif
Teori ini menyatakan bahwa antigen bekerja sebagai cetakan atau template dan
persediaan gamma-globulin di dalam badan yang belum mempunyai bentuk tertentu
kemudian menyesuaikan bentuknya sehingga berupa bentuk komplementer dari antigen.
Bentuk ini kemudian dapat dipertahankan dengan ikatan-ikatan disulfida, ikatan-ikatan
hydrogen dan sebagainya. Teori ini tidak dapat dipertahankan setelah diketahui bahwa
sifat khas antibodi ditentukan oleh urutan asam amino di bagian variabel FAB (Fragment
Antigen Binding), yang pembentukannya ditentukan oleh suatu messenger RNA dan
perubahan mRNA tidak dapat terjadi secepat kontak dengan antigen.

III. Teori Seleksi Klonal


Teori ini berdasarkan kemampuan mutasi dan seleksi dari sel-sel tertentu di dalam
tubuh sesuai dengan kemampuan yang sama pada kuman. Sel yang berperan dalam reaksi
kekebalan, sel limfosit, hanya dapat mengikat satu jenis antigen. Kemampuan ini telah
ada sejak lahir dan merupakan sifat bawaaan. Dengan demikian maka sel-sel limfosit di
dalam tubuh merupakan kumpulan sel yang berlainan, ada yang dapat bereaksi dengan
satu antigen dan ada yang bereaksi dengan antigen lain. Bila antigen masuk ke dalam
tubuh ia diikat oleh reseptor pada permukaan limfosit yang cocok, dan sel limfosit itu
akan mengalami proliferasi dan membentuk satu clone. Sebagian dari sel clone ini akan

mengeluarkan antibodi dan sebagian lain akan menyebar melalui aliran darah dan limfe
ke dalam jaringan tubuh sebagai cadangan sel yang sensitif terhadap antigen itu (memory
cells). Antigen yang sama apabila masuk ke dalam tubuh untuk kedua kalinya akan
bertemu dengan sel cadangan ini dan mengakibatkan terbentuknya antibodi yang lebih
cepat dan lebih banyak.
Langkah awal pembentukan antibodi adalah fagositosis makrofag. Sel ini tidak
membentuk antibodi, tapi mereka membawa antigen dalam beberapa bentuk ke sel B. Hal
ini merangsang sel B berdiferensiasi membentuk plasma sel di mana sintesis rantai
immunoglobulin dimulai dalam poliribosom. Dengan antigen khusus, induksi respon
antibodi memerlukan kerja sama antara sel B dan sel T seperti makrofag. Mekanismenya
tidak diketahui.
a. Respon Primer
Ketika hewan atau manusia diinjeksi antigen, terjadilah respon imun primer
yang ditandai dengan munculnya IgM beberapa hari setelah pemaparan, sehingga ada
kenaikan pendeteksian antibodi dalam serum, bergantung pada rute infeksi dan dosis
serta antigen alami. Konsentrasi antibodi meningkat tajam dalam waktu 1-10 minggu,
kemudian turun di bawah level deteksi. Umumnya, IgM muncul lebih dahulu dari IgG
dalam respon primer. Saat antara antigen dan munculnya IgM disebut lag phase.
Kadar IgM mencapai puncaknya setelah kira-kira 7 hari. 6-7 hari setelah pemaparan,
dalam serum mulai dapat dideteksi IgG, sedangkan IgM mulai berkurang sebelum
kadar IgG mencapai puncaknya yaitu 10-14 hari setelah pemaparan antigen. Kadar
antibodi kemudian berkurang dan umumnya hanya sedikit yang dapat dideteksi 3-4
minggu setelah pemaparan
b. Respon sekunder
Ketika hewan atau manusia dinjeksi kembali dengan antigen yang sama
selama sebulan, atau beberapa tahun setelah level antibodi primer menghilang, terjadi
kenaikan tajam respon antibodi dari respon primer. Terjadilah respon imun sekunder
yang sering disebut sebagai juga respon anamestik atau booster. Baik IgM maupun
IgG cepat meningkat secara nyata dengan lag phase yang pendek. Puncak kadar IgM
pada respon sekunder ini pada umumnya tidak melebihhi puncaknya pada respon
promer, sebaliknya kadar IgG meningkat jauh lebih tinggi dan jauh lebih lama. Hal

ini agaknya berdasarkan pertahanan sejumlah memori antigen sensitif yang


substansial setelah kontak awal dengan antigen. Memori pada respon sekunder
terletak di sel B dan untuk beberapa antigen di kedua sel B dan T selama respon
kedua.
F. Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Antibodi
Perbedaan dalam respon imun primer dan sekunder , kadar antibodi yang
dibentuk, lamanya lag phase dan lain-lain sangat bergantung pada beberapa faktor,
antara lain :
1. Jenis antigen
2. Dosis antigen yang diberikan ke darah
3. Cara masuk antigen ke tubuh
4. Sensitivitas teknik yang digunakan untuk mengukur antibodi
Pembentukan antibodi tidak berlangsung tanpa batas, ada mekanisme control yang
mengendalikan dan menghentikaan pembentukan antibodi berlebihan. Beberapa di antara
mekanisme control itu adalah berkurangya kadar antigen, pengaturan oleh idiotip, dan
penekanan oleh sel T penekan.
G. Kegunaan Zat Anti
I. Imunodiagnosis
Pada imunodiagnosis ini dideteksi dengan menggunakan reaksi kekebalan hospes dan
antigen dari parasitnya. Reaksi kekebalan hospes spesifik yang dapat digunakan untuk
imunodagnosis terdiri dari 2 macam:
a. Reaksi humoral
Respon imun humoral, dipengaruhi oleh imunoglobulin, gammaglobulin dalam darah,
yang disintesis oleh hospes sebagai respon terhadap masuknya benda antigenik.
Imunodiagnosis dengan reaksi humoral adalah dengan mendeteksi zat anti
(imunoglobulin) yang ada dalam serum/plasma.Ada 5 kelas yaitu Ig G, Ig M, Ig D, Ig
A, Ig E. Diagnosis parasit secara imunologi terutama ditujukan pada Ig G, Ig A dan Ig
E, terutama Ig G. Hal ini disebabkan karena Ig G terdapat sebanyak 80% dari seluruh
Imunoglobulin, sebaliknya Ig E hanya 0,002% dan Ig M 13%.

Berikut adalah beberapa tes Imunodiagnosis Humoral:


1. IDT (Immunodiffusion test). Dalam agar antigen dan zat anti bermigrasi
berlawanan arah.Garis presipitasi akan terbentuk di tempat antigen bertemu
dengan zat anti (kompleks Ag Ab)
2. iCIEP (Counter Immuno Electrophoresis). Untuk mempercepat migrasi Ag dan
zat anti dalam lempeng agar dapat dibantu dengan aliran listrik. Garis Presipitasi
terbentuk bila serum berisi zat anti.
3. Haemaglutinasi Test. Larutan yang dikonjugasi dengan sel darah merah dan
direaksikan dengan serum penderita. Bila zat anti dalam serum positif akan
terbentuk aglutinasi sel darah merah-Ag-zat anti.
4. Fluororesensi test. Zat anti terhadap Ig manusia dikonjugasi dengan zat anti yang
berfluororesensi seperti rhodamin, kemudian direaksikan dengan antigen dan
serum penderita. Bila terbentuk ikatan antara Ag-Ig manusia_zat anti Ig manusia,
dengan mikroskop fluororesent akan terlihat fluororesensi.
5. ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay). Zat anti terhadap Ig manusia
dikonjugasi dengan enzim peroksidase dan fosfatase alkali, kemudian di reaksikan
dengan antigen dan serum penderita. Bila terbentuk ikatan Ag- Ig manusia- zat
anti Ig manusia akan terlihat perubahan warna jingga atau kehijaua etelah
ditambahkan sustrat yang sesuai. Hasil tes ini dapat dilihat dengan mata atau
spektrofotometer.
6. Radioimmunoassay
7. Test komplemen
b. Reaksi Selular
Respon imun selular, dilakukan secara langsung oleh limfosit yang berproliferasi
akibat masuknya antigen tersebut. Sel-sel ini bereaksi secara spesifik dengan antigen
(tanpa intervensi dari imunoglobulin). Imunodiagnosis dilakukan dengan cara
mengambil limfosit dari tubuh dan direaksikan dengan parasit atau antigen, dikatakan
positif bila jumlah limfosit yang berproliferasi atau menempel dengan antigen cukup
banyak.

DAFTAR PUSTAKA
Brooks, Geo. F. dkk. 2005. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta : Salemba Medika
Prescott, Lansing M. 2005. Microbiology Sixth Edition. New York : Mc Graw-Hill
Subowo. 1993. Imunobiologi. Bandung : Angkasa
http://pusatinformasiobat.wordpress.com/2009/12/19/antigen/
http://www.ners.unair.ac.id/materikuliah/DASAR%20IMUNOLOGI.pdf
http://biologi-staincrb.web.id/tags/tety-elisa
http://childrenallergyclinic.wordpress.com/2009/08/31/anafilaksis/

MAKALAH BIOLOGI SELULER DAN MOLEKULER


STRUKTUR-FUNGSI IMUNOGLUBULIN

Disusun Oleh
Biologi Swadana 2012

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2013

Anda mungkin juga menyukai