Anda di halaman 1dari 16

RSUD Kota Bandung

Jl. Rumah Sakit No.22 Bandung


Telp.(022) 7811794 Fax.7809581
Kode Pos : 40612

VOLUNTARY COUNSELING AND TESTING (VCT)


(KONSELING SUKARELA DAN TESTING)
DI RSUD KOTA BANDUNG
No. Dokumen :

Tanggal Terbit

STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL

No. Revisi :

Halaman :

1/3

Ditetapkan :
Direktur RSUD Kota Bandung

dr. Taat Tagore Diah Rangkuti M.KKK


NIP. 1962 10 10 1990 111 003

PENGERTIAN

TUJUAN

KEBIJAKAN

Kegiatan konseling yang bersifat sukarela dan rahasia antara


konselor dari Tim Penanggulangan HIV AIDS RSUD
Kota Bandung dengan orang yang ingin mengetahui status
HIVnya atau orang yang berisiko tertular HIV
Disebut telah menjalani VCT apabila sudah menjalani :
konseling pre tes, testing dan konseling pasca tes
Konseling adalah saran, anjuran, nasehat professional yang
diberikan yang diberikan kepada seseorang yang
mempunyai masalah/problem
Konselor adalah petugas yang memiliki keterampilan
konseling dan pemahaman akan seluk beluk HIV/AIDS
Prosedur Pelaksanaan VCT adalah alur pelayanan yang
wajib dilalui oleh semua orang yang akan menjalani VCT di
RSUD Kota Bandung.
1. Sebagai acuan bagi petugas medis dan non medis di RSUD
Kota Bandung dalam pelaksanaan VCT.
2. Sebagai acuan bagi orang yang akan menjalani tes HIV
3. Sebagai pedoman pelaksanaan pemeriksaan tes HIV di
RSUD Kota Bandung.
Dasar Hukum
1. Surat Keputusan Menkes no 21 tahun 2013
2. Pedoman Nasional Penanganan HIV AIDS tahun 2011
3. Peraturan Walikota tentang tarif dan waktu pelayanan
tahun 2011
Tempat dan waktu
1. Tempat pelaksanaan di Rumah SakitUmum Daerah Kota
Bandung
2. Waktu pelaksanaan pada jam kerja yang telah ditentukan di
masing-masing tempat
Dilaksanakan oleh :
1. Konselor dari Tim Penanggulangan HIV/AIDS
yang telah mendapatkan pelatihan HIV-AIDS dan mendapat
Surat Tugas dari Direktur RSUD Kota Bandung.

2. Biaya pelaksanaan pelayanan VCT adalah sesuai


dengan ketentuan RSUD Kota Bandung tentang biaya
klinik rawat jalan dan biaya pemeriksaan laboratorium.
PROSEDUR

1. Klien atau pasien yang akan menjalani VCT baik datang


sendiri atau rujukan terlebih dahulu mendaftar di tempat
pendaftaran Klinik VCT.
2. Klien menjalani konseling pra tes
3. Apabila setuju untuk diperiksa tes HIV, klien menanda
tangani informed Consent yang disediakan di Klinik VCT

4. Klien menjalani tes di laboratorium RSUD Kota Bandung


5. Untuk pembukaan hasil tes anti HIV, klien menjalani
konseling pasca tes.
6. Bagi pasien yang belum setuju untuk menjalani tes pada
saat itu dianjurkan untuk kunjungan ulang pada waktu yang
disepakati.
Dari RSUD Kota Bandung :
Rawat inap
Rawat jalan
UGD
MCU
Laboratorium

Dari Luar RSUD Kota


Bandung
KLINIK VCT

Pendaftaran

Konseling Pre Tes


(3)
Tidak

Kesediaan tes

Laboratorium

Hasil

Konseling pasca tes

UNIT TERKAIT

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Instalasi Rawat Jalan


Instalasi Rawat Inap
Unit Rekam Medik
Instalasi Farmasi
Instalasi Laboratorium
Poliklinik CST

Ya
1. .Pendatanganan
Informed consent
2. Formulir
permintaan test

DOKUMEN TERKAIT

RSUD Kota Bandung


Jl. Rumah Sakit No.22 Bandung

1. Pedoman Nasional Perawatan Dukungan Dan Pengobatan


Bagi ODHA, Dirjen pemberantasan Penyakit Menular &
Penyehatan Lingkungan DEPKES RI tahun 2005.
2. Pedoman Pelayanan Konseling dan Testing HIV / AIDS
Secara Sukarela, Dirjen Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan, DEPKES 2005.
3. Modul VCT, DEPKES 2004
4. Ketentuan tentang biaya Rawat jalan dan Rawat Inap
RSUD Kota Bandung.
5. Formulir Informent Consent RSUD Kota Bandung
6. Formulir Laporan Pajanan RSUD Kota Bandung
7. Buku Register Pasien VCT/CST RSUD Kota Bandung

PROFILAKSIS PASCA PAJANAN (PPP)


DI RSUD KOTA BANDUNG

Telp.(022) 7811794, Fax.7809581


Kode Pos : 40612

No. Dokumen :

No. Revisi :

Halaman :

PROSEDUR TETAP

Tanggal Terbit

1/3

Ditetapkan :
Direktur RSUD Ujungberung Kota Bandung

dr. Taat Tagore Diah Rangkuti M.KKK


NIP. 1962 10 10 1990 111 003
PENGERTIAN

a. Pajanan
-

Setiap perlukaan yang menembus kulit seperti tusukan


jarum, luka iris atau kontak dengan lapisan mukosa /
kulit yang tidak utuh (kulit yang luka, pecah, lecet atau
sedang terserang dermatitis)

Kontak dengan darah / cairan tubuh lain pada kulit


yang utuh dengan kontak yang lama

Pajanan dapat melalui :

Parenteral berupa tusukan, luka dan lain-lain

Percikan pada mukosa mata, hidung atau mulut

Percikan pada kulit yang tidak utuh (pecah-pecah,


lecet atau exematosa)

b. Profilaksis Pasca Pajanan


-

Selanjutnya

disingkat

PPP

adalah

tindakan

pengobatan yang diberikan kepada petugas / keluarga


atau orang sehat lain setelah terpajan oleh cairan tubuh
/ darah ODHA atau terduga ODHA.
TUJUAN

Tujuan Pembuatan Protap :


Sebagai

acuan

tenaga

medis

dan

konselor

(tim

Penanggulangan HIV AIDS dalam menangani orang yang


terpajan
Tujuan Penanganan :
Melindungi petugas medis / non medis atau orang sehat lain
di RSUD Kota Bandung dari akibat pajanan ditempat kerja
dan mengurangi resiko penularan pada petugas kesehatan

KEBIJAKAN

1. Petugas yang menangani adalah dokter atau perawat


Klinik VCT pada hari kerja
2. Diluar jam kerja agar menghubungi Haris Samsudin, Sri
Rahayu atau Martin Kurniawan
3. Petugas yang terlapor kemudian menghubungi dokter
Peny. Dalam untuk menentukan tindakan selanjutnya
4. Profilaksis yang diberikan adalah profilaksis penularan
HIV sedang profilaksis untuk Hepatitis B ditangani di Poli

PROSEDUR

Peny. Dalam
Alur Profilaksis Pasca Pajanan ( Terlampir)
Pajanan

Lapor Tim HIV AIDS


- Konseling
- Analisa
1. Sumber Pajanan (KS 1 & KS 2)
2. Kategori Pajanan (KP 1 KP 3)

Perlu Tindak
Lanjut

Tidak Perlu
Tindak Lanjut

Pencatatan &
Pelaporan

Bagi Individu Yang Terpajan

Tindakan pertama pada setiap pajanan adalah mencuci


dengan air mengalir dan sabun anti septik.

Bila tertusuk jarum segera bilas dengan air mengalirr atau


air dalam jumlah yang banyak dengan sabun / antiseptik.

Bila darah mengenai kulit yang utuh tanpa luka atau


tusukan, cuci dengan sabun dan air mengalir

Bila darah mengenai mulut ludahkan dan kumur-kumur


dengan air beberapa kali.

Kalau terpecik pada mata cucilah mata dengan air


mengalir (irigasi) atau dengan garam fisiologis (NaCl
0,9%).

Jika darah memercik ke hidung, hembuskan keluar dan


bersihkan dengan air.

Jari yang tertusuk tidak boleh dihisap dengan mulut.

Setiap pajanan dicatat dan dilaporkan secepatnya (kurang


dari 4 jam) kepada tim penanggulangan HIV / AIDS
RSUD Kota Bandung.

Bagi Petugas Yang Menangani


Orang terpajan diperlukan seperti dalam keadaan darurat
dan mengisi formulir laporan pajanan Klinik VCT bagian
awal sampai V (Katagori status HIV pasien KS).
Bila status sumber pajanan tidak diketahui, petugas
melakukan analisa sumber pajanan (bagian VI).
Bila hasil analisa sumber pajanan tidak dapat ditentukan
maka Kode sumber pajanan adalah KS HIV tidak tahu
Pemberian Prolaxis adalah sebagai berikut :
KP1 dengan KS1 : Obat tidak dianjurkan.
KP1 dengan KS1 : Pertimbangkan pemberian Duviral
(Lamivudin dan Zidovudin) 2x1 tab selama 28 hari.
KP2 dengan KS1 : Dianjurkan Duviral (Lamivudin dan
Zidovudin) 2x1 tab selama 28 hari.
KP2 dengan KS2 perlakuanya sama dengan
KP3 dengan KS3
Dianjurkan duviral 2x1 tab + Efaviren 1x600 mg selama
28 hari
Catatan : Efavirenz tidak diberikan pada wanita hamil.
Terpajan menjalani VCT
DOKUMEN TERKAIT

a. Instruksi MenKes Republik Indonesia No 72 / Menkes /


instr / II / 1988.
b. Protap Pemberian ARV Pada PPP Tahun 2007.
c. Pedoman Nasional Perawatan, Dukungan dan Pengobatan
Bagi ODHA Tahun 2006.
d. Pedoman Pelaksanaan Kewaspadaan Universal di pelayanan
kesehatan Depkes, 2006.
e. Formulir laporan pajanan Klinik VCT RSUD Kota Bandung

RSUD Kota Bandung


Jl. Rumah Sakit No.22 Bandung
Telp.(022) 7811794 Fax.7809581
Kode Pos : 40612

PROSEDUR TETAP
PELAYANAN PMTCT
RSUD KOTA BANDUNG
No. Dokumen :
No. Revisi :
Halaman :
.

Tanggal Terbit

1/3

Ditetapkan :
Direktur RSUD Ujungberung Kota Bandung

PROSEDUR TETAP
DR. Taat Tagore Diah Rangkuti M.KKK

PENGERTIAN

NIP. 1962 10 10 1990 111 003


Pencegahan penularan dari ibu HIV positif kepada bayi
yang dikandungnya adalah kegiatan yang termasuk dalam
PMTCT (Prevention Mother-to-Child Transmission) dari
Tim Penanggulangan HIV / AIDS RSUD Kota Bandung.

Prosedur pelaksanaan PMTCT adalah alur pelayanan yang

wajib dilalui oleh ibu hamil, sebelum dan sesudah tes HIV.
1. Mencegah terjadinya penularan HIV pada perempuan usia
TUJUAN PELAKSANAAN
PMTCT

reproduksi
2. Mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu
HIV positif.
3. Mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu hamil HIV
positif ke bayi yang dikandungnya.
4. Memberikan dukungan psikologis, sosial dan perawatan
kepada ibu HIV positif beserta bayi dan keluarganya
a. Ibu hamil yang datang ke poli Obgin RSUD Kota

PROSEDUR

Bandung atas kehendak sendiri atau tanpa rujukan dari


dokter atau fasilitas kesehatannya lainnya.
b. Ibu hamil yang datang atas rujukan dokter atau fasilitas
kesehatan lainnya.
c. Status HIV ibu hamil positif adalah : bila didapatkan hasil
positif pada pemeriksaan laboratorium secara serologis
dengan 3 cara pemeriksaan yang berbeda.
d. Status HIV ibu hamil negatif adalah : bila didapatkan hasil
negatif pada pemeriksaan laboratorium secara serologis
dengan 3 cara pemeriksaan yang berbeda. Pemeriksaan
diulang 3 bulan kemudian, untuk memastikan tidak dalam
kondisi window periode.
e. Ibu hamil yang belum diketahui status HIV, dilakukan
VCT atau PITC.

f. VCT (Voluntory Counseling and Testing) adalah kegiatan


konseling bersifat sukarela dan rahasia, antara konselor
professional/mahir dari Tim Penanggulangan AIDS RSUD
Kota Bandung dengan ODHA atau orang terduga HIV.
g. Ibu hamil yang menolak VCT, akan diupayakan konseling
ulang, pada kunjungan berikutnya.
h. PITC (Provider Insiated Testing and Counseling) adalah
testing dan konseling yang diinisiasi oleh petugas
kesehatan untuk kepentingan tes diagnostic dan routine
affer.
i. ARV diberikan pada ibu hamil dengna HIV (+), mengacu
pada prosedur tetap ARV.
j. Antepartum : masa kehamilan mulai dari konsepsi sampai
dengan awal proses persalinan.
k. Intrapartum : masa selama proses persalinan yang ditandai
dengan

kontraksi

rahim

yang

teratur

dan

terjadi

pembukaan jalan lahir.


l. Postpartum : masa setelah plasenta lahir hingga 40 hari
selanjutnya.
m. Seksio sesarea : proses persalinan dengan pembedahan
yang dilakukan pada usia kehamilan 38 minggu atau
sesegera mungkin bila pasien dating dalam keadaan
intrapartum (bila memungkinkan).
n. Bayi dari lahir Ibu HIV (+) yang lahir dengan Seksio
Sesaria, ditolong oleh PPDS perinatologi dan atau
konsulen yang bersangkutan.
o. Bayi yang lahir dari ibu HIV (+), mendapat ARV
pencegahan dalam 48 jam pertama kehidupan, yang
tersedia di klinik VCT pada jam kerja dan apotek RSUD
Kota Bandung di luar jam kerja.
p. Setelah bayi pulang, kontrol selanjutnya ke poli anak atau
kepada Konsulen yang bersangkutan, untuk mendapat
pelayanan : ARV pencegahan lanjutan sampai usia 6
minggu,

pencegahan

PCP

(Pneumocystic

carinii

Pneumonia) mulai umur 6 minggu sampai 6 bulan,


pemeriksaan kesehatan, imunisasi, pemantauan tumbuh
kembang dan nutrisi.
q. Bayi secepatnya ditentukan status HIV, dengan tes
laboratorium HIV dengan cara pemeriksaan virologist
(PCR) sejak umur 6 mg (bila memungkinkan ketersediaan
biaya, alat , dll) atau serologis mulai umur 12 bulan, dari

tes laboratorium akan didapatkan status HIV bayi : positif


atau negative.
r. Status HIV positif adalah : bila ditemukan hasil positif
pada 2x pemeriksaan PCR dengan jarak 1 bulan; atau hasil
pemeriksaan serologis positif pada usia > 18 bulan dengan
3 cara pemeriksaan yang berbeda.
s. Status HIV negative adalah : bila ditemukan hasil negative
2x pemeriksaan PCR dengan jarak 1 bulan; atau hasil
pemeriksaan serologis negative pada usia >18 bulan
dengan 3 cara pemeriksaan yang berbeda, dan klinis
negative.
t. Bayi dengan status HIV (+) dan ada indikasi untuk terapi
ARV, dirujuk ke klinik VCT RSUD Kota Bandung.
1. Pedoman Nasional Pencegahan dan Penularan HIV dari
DOKUMEN TERKAIT

Ibu ke Bayi, Depkes,2005.


2. Antiretriviral Drug for Treating Pregnant Women and
Preventing HIV Infection in infants in Resource Limites
settings: Toward Universal Access. Recommendation for a
Public Health Approach, WHO,2006.
3. Pedoman Pelayanan Konseling dan Testing HIV/AIDS
secara sukarela, Depkes, 2005.
4. Buku Register pasien VCT CST RSUD Kota Bandung

RSUD Kota Bandung


Jl. Rumah Sakit No.22 Bandung
Telp.(022) 7811794, Fax.7809581
Kode Pos : 40612

PROSEDUR TETAP
PROVIDER INITIATED TESTING AND COUNSELING
(PITC)
DI RSUD KOTA BANDUNG
No. Dokumen :
No. Revisi :
Halaman :
.

1/2

Tanggal Terbit

Ditetapkan :
Direktur RSUD Ujungberung Kota Bandung

PROSEDUR TETAP
DR. Taat Tagore Diah Rangkuti M.KKK

PENGERTIAN

TUJUAN PEMBUATAN
PROTAP

NIP. 1962 10 10 1990 111 003


Testing dan Konseling yang diinisiasi oleh petugas
kesehatan untuk kepentingan : Diagnostik (Diagnostik

testing) dan Tawaran rutin (Routine offer)


Untuk dapat dipakai sebagai acuan bagi petugas medis
yang akan melaksanakan PITC

Untuk diketahui oleh segenap petugas kesehatan tentang


pelaksanaan PITC.

TUJUAN PELAKSANAAN
PMTCT

Untuk memperluas cakupan VCT dilingkungan pelayanan


medis RSUD Kota Bandung

Agar setiap dokter di lingkungan RSUD Kota Bandung


dapat mengawali / menginisiasi testing, untuk kemudian
dilanjutkan dengan VCT.

KEBIJAKAN

Untuk dapat mendeteksi lebih dini status HIV pasien.


Pelaksanaan kegiatan PITC tetap mengacu kepada
Consent, Confidentiality, Counseling.

Permintaan awal untuk pemeriksaan tes antibody HIV


dapat dilakukan oleh dokter yang merawat pasien, namun
selanjutnya pasien tetap dianjurkan untuk menjalani
konseling oleh konselor Klinik VCT.

PROSEDUR

Dokter memeriksa atau merawat pasien menawarkan


pemeriksaan tes HIV kepada pasien.
Dokter memberikan informasi singkat tentang HIV dan
alasan menjalani tes.
Apabila pasien setuju untuk diperiksa maka pasien
menandatangani persetujuan tes pada kartu rekam medik.
Apabila pasien tidak setuju, dianjurkan untuk menjalani
VCT.
Bagi pasien yang mengambil darah pasien kemudian dibawa
ke laboratorium RSUD Kota Bandung.
Setelah hasil pemeriksaan laboratorium selesai, dokter yang
merawat meminta konselor untuk melakukan

konseling

pembukaan hasil pemeriksaan laboratorium.


Dokter Ruangan Rawat Inap
Curiga HIV - AIDS

1.
2.

Menawarkan Tes
Memberikan info pratest :
a. Penularan
b. Pencegahan HIV

setuju

Penandatangan Informed
Consent

Pengambilan sample darah oleh :


Dokter Ybs atau Petugas klinik VCT
Tidak Setuju
laboratorium
Konseling

Positif

Penanganan Lanjut

Hasil dibuka oleh dokter


pengirim atau petugas
Klinik VCT

Negatif

1. Pedoman Nasional Perawatan, Dukungan Dan


DOKUMEN TERKAIT

Pengobatan Bagi ODHA, Dirjen Pemberantasan


Penyakit Menular & Penyehatan Lingkungan
DEPKES RI tahun 2003.
2. Pedoman Pelayanan Konseling dan Testing
HIV

AIDS

Pengendalian

Secara
Penyakit

sukarela,
dan

Dirjend

Penyehatan

Lingkungan, DEPKES 2005.


3. SOP For Counseling and Testing in FHI
Supported Program Generic Version, June 2006.
4. Modul PITC, WHO 2006.
5. Prosedur Tetap Pelaksanaan VCT di RSUD Kota
Bandung
6. Buku Register VCT CST RSUD Kota Bandung

ALUR PROFILAKSIS PASCA PAJANAN ( TERLAMPIR)

Pajanan

Lapor Tim HIV AIDS

1.
2.

- Konseling & Testing


- Analisa :
Sumber Pajanan (KS 1 & KS 2)
Kategori Pajanan (KP 1 KP 3)

Perlu Tindak
Lanjut (PPP)

Tidak Perlu
Tindak Lanjut

1. Obat profilaksis
2. Konseling lanjutan
3. Adherence
4. Dukungan/Dampingan

Pencatatan &
Pelaporan

ALUR MENENTUKAN KATEGORI PAJANAN


( KP )

Sumber Pajanan Atau Alat Kesehatan


Yang Tercemar Sumber Pajanan

Tidak Perlu
PPP

Tidak
Ya

Macam Pajanan

Kulit Tidak Utuh /


Selaput Mukosa

Kulit Yang Utuh

Pajanan
Perkutaneus

Volume ?

Tidak Perlu
PPP

Seberapa Berat?

Sedikit
(satu tetes, waktu
singkat

Banyak
(bbrp tts, percikan
banyak dan atau lama

Tidak Berat
(Jarum solid / goresan
superficial)

KP 1

KP 2

KP 2

Berat
(Jarum bersaluran,
tusukan dalam, darah
terlihat bekas, jarum
bekas pasen

KP 3

MENENTUKAN KATEGORI / STATUS HIV SUMBER PAJANAN


(KS HIV)

Status Sumber
Pajanan

HIV (-)

HIV (+)

Tidak Diketahui

Tidak Diketahui
Sumbernya

Tidak Perlu
PPP

Pajanan Dengan
Titer Rendah
(Asimptomatik,
CD 4 Tinggi

KS HIV
1

Pajanan Dengan Titer Tinggi


( AIDS Lanjut,, Infeksi HIV
Primer, VL Yang Meningkat
atau Tinggi, CD 4 Rendah

KS HIV
2

KS HIV
Tidak Tahu

Pada Umumnya
Tidak Perlu PPP,
Perlu Telaah
Kasus per kasus

ALUR PPP PADA PAJANAN HIV


MENENTUKAN PENGOBATAN PROFILAKSIS PASCA PAJANAN
Kategori
Pajanan
(KP)

Kategori
Sumber Pajanan
(KS)

Rekomendasi Pengobatan

1 (Rendah)

Obat tidak dianjurkan


Risiko toksisitas obat > dari risiko terinfeksi HIV

2 (Tinggi)

Pertimbangkan AZT + 3TC + Indinavir


Pajanan memiliki risiko yang perlu dipertimbangkan

1 (Rendah

Dianjurkan AZT + 3TC + Indinavir


Kebanyakan pajanan masuk dalan kategori ini

2
Dianjurkan AZT + 3TC + indinavir atau nelfinavir

3
1 atau 2
Anjuran pengobatan selama 4 minggu dengan dosis:
AZT: 3 kali sehari @ 200 mg, atau 2 kali sehari @ 300mg
3TC: 2 kali sehari @ 150mg
Indinavir: 3x sehari @ 800mg 1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan dan
banyak minum, diet rendah lemah