Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Karbohidrat atau sakarida adalah segolongan besar senyawa organik yang
tersusun hanya dari atom karbon, hidrogen dan oksigen. Bentuk molekul
karbohidrat paling sederhana terdiri dari satu molekul gula sederhana. Terdapat
tiga golongan utama karbohidrat yaitu monosakarida, oligosakarida dan
polisakarida. Monosakarida atau gula sederhana, terdiri dari hanya satu unit
polihidroksi aldehida atau keton. Oligosakarida terdiri dari rantai pendek unit
monosakarida yang digabungkan bersama-sama oleh ikatan kovalen. Polisakarida
terdiri dari rantai panjang yang mempunyai ratusan atau ribuan unit monosakarida
(Umar, 2008).
Karbohidrat tersebar luas dalam tumbuhan dan hewan; senyawa ini
memiliki peran structural dan metabolic yang penting. Pada tumbuhan, glukosa
disintesis dari karbondioksida dan air melalui fotosintesis dan disimpan sebagai
pati (kanji, starch) atau digunakan untuk menyintesis selulosa dinding sel
tumbuhan. Hewan dapat menyintesis karbohidrat dari asam

amino, tetapi

sebagian besar karbohidrat hewan terutama berasal dari tumbuhan. (Murray,


2006).
Karbohidrat merupakan bahan yang sangat diperlukan tubuh manusia,
hewan, dan tumbuhan di samping lemak dan protein. Senyawa ini dalam jaringan
merupakan cadangan makanan atau energy yang disimpan dalam sel. Sebagian
besar karbohidrat yang ditemukan di alam terdapat sebagai polisakarida dengan
berat molekul tinggi. Beberapa polisakarida berfungsi sebagai bentuk pentimpan
bagi monosakarida, sedangkan yang lain sebagai penyusun struktur di dalam
dinding sel dan jaringan pengikat. (Sirajuddin, 2011).
B. Tujuan
Mengidentifikasi hasil hidrolisis sukrosa dan amilum (pati).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kata karbohidrat berasal dari kata karbon dan air. Secara sederhana
karbohidrat didefinisikan sebagai polimer gula. Karbohidrat adalah karbon yang
mengandung sejumlah besar gugus hidroksil. Karbohidrat paling sederhana bisa
berupa aldehid (disebut polihidroksi aldehid atau aldosa) atau berupa keton
(disebut polihidroksiketon atau ketosa). Berdasarkan pengertian diatas berarti
diketahui bahwa karbohidrat terdiri atas atom C, H dan O. Adapun rumus umum
dari karbohidrat adalah Cn(H2O)n atau CnH2nOn (Wiratmaja, 2011).
Umumnya makanan mengandung tiga unsur yaitu karbohidrat, lemak dan
protein. Dari ketiga unsur tersebut yang merupakan sumber energi utama ialah
karbohidrat. Karbohidrat ialah senyawa organik dengan fungsi utama sebagai
sumber energi bagi kebutuhan sel-sel dan jaringan tubuh. Peran utama karbohidrat
di dalam tubuh ialah menyediakan glukosa bagi sel-sel tubuh, yang kemudian
diubah menjadi energi. Glukosa merupakan jenis karbohidrat terpenting bagi
tubuh manusia. Karbohidrat dibutuhkan oleh tubuh sebagai sumber utama tenaga
untuk bergerak, membentuk glukosa otot sebagai energi cadangan tubuh dan juga
membentuk protein dan lemak (Djakani, 2013).
Dalam karbohidrat dikenal beberapa pengujian untuk menentukan
kandungan yang terdapat dalam karbohidrat tersebut. Salah satu test yang
digunakan untuk menentukan ada tidaknya karbohidrat adalah test Molisch.
Ketika ada beberapa larutan yang tidak dikenal secara pasti bahwa larutan tersebut
mengandung karbohidrat atau tidak, test ini bisa dilakukan untuk menentukan
adanya kandungan karbohidrat. Larutan yang bereaksi positif akan memberikan
cincin yang berwarna ungu ketika direaksi dengan alphanaftol dan asam sulfat
pekat. Diperkirakan, konsentrasi asam sulfat pekat bertindak sebagai agen
dehidrasi yang bertindak pada gula untuk membentuk furfural dan turunannya
yang kemudian dikombinasi dengan alphanaftol untuk membentuk produk
berwarna (Pranata, 2004).
Golongan karbohidrat antara lain: gula, tepung dan selulosa berasal dari
tumbuhan. Molekul kaarbohidrat tersusun atas unsure-unsur Karbon (C),
hydrogen (H), dan oksigen (O). sesuai dengan kekomplekan susunan dan jumlah

molekulnya, karbohidrat yang terdapat dalam makanan digolongkan menjadi


empat yaitu (Irianto, 2004):
1.

Monosakarida.

Monosakarida merupakan jenis karbohidrat sederhana yang terdiri dari


satu gugus cincin. Monosakarida ini tidak dapat dihidrolisis menjadi karbohidrat
yang lebih sederhana. Contoh dari monosakarida yang banyak terdapat di dalam
sel tubuh manusia adalah glukosa, fruktosa dan galaktosa. Glukosa di dalam
industri pangan lebih dikenal sebagai dekstrosa atau juga gula anggur. Di alam,
glukosa banyak terkandung di dalam buah-buahan, sayuran dan juga sirup jagung.
Fruktosa dikenal juga sebagai gula buah dan merupakan gula dengan rasa yang
paling manis. Di alam fruktosa banyak terkandung di dalam madu (bersama
dengan glukosa), dan juga terkandung diberbagai macam buah-buahan.
Sedangkan galaktosa merupakan karbohidrat hasil proses pencernaan laktosa
sehingga tidak terdapat di alam secara bebas. Selain sebagai molekul tunggal,
monosakarida juga akan berfungsi sebagai molekul dasar bagi pembentukan
senyawa karbohidrat kompleks pati (starch) atau selulosa (Irawan, 2007).
Monosakarida memiliki sifat-sifat seperti kelarutan dalam air, oksidasi,
dan reduksi. Penjelasan atas sifat-sidat tersebut di ats yaitu (Purba, 2006):
A.) Kelarutan dalam air.
Semua monosakarida merupakan zat padat berwarna putih yang mudah
larut dalam air. Sifat ini berkaitan dengan terdapatnya gugus-gugus OH yang
polar, sehingga antar molekulnya maupun dengan molekul air terbentuk ikatan
hydrogen yang kuat.
B.) Oksidasi.
Semua monosakarida, baik aldosa maupun ketosa, merupakann reduktor
sehingga disebut pula pereduksi. Larutan monosakarida bereaksi positif dengan
pereaksi Fehling atau pereaksi Benedict maupun dengan pereaksi Tollens.
Pereaksi Benedict digunakan untuk mendeteksi glukosa dalam darah atau dalam
urin.

C.) Reduksi.
Reduksi gugus karbonil (gugus aldehida atau keton) dan monosakarida
menghasilkan alcohol polivalen yang disebut alditol.
2.

Disakarida.

Disakarida merupakan jenis karbohidrat yang banyak dikonsumsi oleh


manusia di dalam kehidupan sehari-hari. Setiap molekul disakarida akan terbentuk
dari gabungan 2 molekul monosakarida. Contoh disakarida yang umum digunakan
dalam konsumsi sehari-hari adalah sukrosa yang terbentuk dari gabungan satu
molekul glukosa dan fruktosa dan juga laktosa yang terbentuk dari gabungan satu
molekul glukosa & galaktosa . Di dalam produk pangan, sukrosa merupakan
pembentuk hampir 99% dari gula pasir atau gula meja (table sugar) yang biasa
digunakan dalam konsumsi sehari-hari sedangkan laktosa merupakan karbohidrat
yang banyak terdapat di dalam susu sapi dengan konsentrasi 6.8 gr / 100 ml
(Irawan, 2007).
Disakarida terbentuk dari kondensasi dua molekul monosakarida. Ikatan
yang mneghubungkan unit-unit monosakarida dalam disakarida, juga dalam
polisakarida, disebut ikatan glikosida. Pembentukan ikatan glikosida melibatkan
dua gugus OH dengan melepas satu molekul air. Disakarida terpenting adalah
sukrosa, maltose, dan laktosa (Purba, 2006).
3.

Oligosakarida

Oligosakarida merupakan produk kondensasi tiga sampai sepuluh


monosakarida. Sebagian besar oligosakarida tidak dicerna oleh enzim dalam
tubuh manusia (Murray, 2006). Oligosakarida yang umum adalah disakarida, yang
terdiri atas dua satuan monosakarida dan dapat dihidrolisis menjadi monosakarida.
Contohnya antara lain sukrosa, maltose, dan laktos (Sirajuddin dkk, 2011).
4.

Polisakarida

Polisakarida

adalah

produk kondensasi

lebih

dari sepuluh unit

monosakarida, contohnya pati dan dekstrin yang mungkin merupakan polimer


linier atau bercabang. Polisakarida kadang-kadang diklasifikasikan sebagai

heksosan dan pentosan, bergantung pada identitas monisakarida pembentuknya.


Selain pati dan dekstrin, makanan mengandung beragam polisakarida lain yang
secara kolektif dinamai polisakarida nonpati; zat ini tidak dicerna oleh enzim
manusia, dan merupakan komponen utama serat dalam makanan, contohnya
selulosa dari dinding sel tumbuhan (suatu polimer glukosa) dan inulin, yaitu
simpanan karbohidrat pada beberapa tumbuhan (suatu polimer fruktosa) (Murray,
2006).
Polisakarida terdiri dari banyak molekul monosakarida. Polisakarida
terpenting, yaitu amilum, glikogen, dan selulosa, adalah polimer dari D-Glukosa.
Semua polisakarda sukar larut dalam air dan tidak mereduksi pereaksi Fehling,
Benedict, atau Tollens (Purba, 2006).
Pada umumnya, karbohidrat berupa serbuk putih yang mempunyai sifat
sukar larut dalam pelarut nonpolar, tetapi mudah larut dalam air, kecuali
polisakarida bersifat tidak larut dalam air (Sirajuddin dkk, 2011).
Amilum dengan air dingin akan membentuk suspense dan bila dipanaskan
akan terbentuk pembesaran berupa pasta dan bila didinginkan akan membentuk
koloid yang kental semacam gel. Suspense amilum akan memberikan warna biru
dengan larutan iodium. Hal ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi adanya
amilum dalam suatu bahan. Hidrolisis sempurna amilum oleh asam atau enzim
akan menghasilkan glukosa (Sirajuddin dkk, 2011).
Glikogen merupakan struktur empiris yang serupa dengan amilum pada
tumbuhan. Pada proses hidrolisis, glikogen menghasilkan pula glukosa karena,
baik amilum maupun glikogen, tersusun dari sejumlah satuan glukosa. Glikogen.
Dalam air akan membentuk koloid dan memberikan warna merah dengan larutan
iodium. Pembentukan glikogen dari glukosa dalam sel diatur oleh hormone
insulin dan prosesnya disebut glycogenesis. Sebaliknya, proses hidrolisis glikogen
menjadi glukosa disebut glycogenolysis (Sirajuddin dkk, 2011).
Semua jenis karbohidrat, baik monosakarida, disakarida, maupun
polisakarida, akan berwarna merah ungu bila urutannya dicampur beberapa tetes
larutan -fenol dalam alcohol dan ditambahkan asam sulfat pekat, sehingga tidak

bercampur. Warna ungu akan tampak pada bidang batas antara kedua cairan. Sifat
ini dipakai sebagai dasar uji kualitatif adanya karbohidrat dalam suatu bahan dan
dikenal dengan uji Molish (Sirajuddin dkk, 2011).
Monosakrida dan disakarida memiliki rasa manis, sehingga sering disebut
gula. Rasa manis dari gula disebabkan oleh gugus hidroksilnya. Kebanyakan
monosakarida dan disakarida, kecuali sukrosa, adalah gula pereduksi. Sifat
mereduksi disebabkan oleh adanya gugus aldehida atau keton bebas dalam
molekulnya. Larutan gula bereaksi dengan pereaksi Fehling, pereaksi tollens,
maupun pereaksi benedict. Sebaliknya, kebanyakan polisakarida adalah gula non
pereduksi (Sirajuddin dkk, 2011).
Karbohidrat mempunyai beberapa fungsi utama yang tidak digantikan oleh
zat makanan lain. Misalnya sel-sel otak dan lensa mata serta jaringan saraf secara
spesifik bergantung pada glukosa sebagai sumber energy. Karbohidrat juga
berperan penting dalam proses metabolisme, menjaga keseimbangan asam dan
basa, dan pembentukan struktur sel, jaringan dan bagian tubuh. Bahkan bagian
karbohidrat dalam makanan yang tidak dapat dicernakan, seperti selulosa
memberikan kegunaan-kegunaan khusus dalam tubuh. Fungsi khusus lain,
misalnya laktosa membnatu penyerapan kalsium. Ribose adalah monosakarida
yang mempunyai 5 atom karbon merupakan komponen penting dalam asam
nukleat (Irianto, 2004).
Rumus struktur rantai-lurus dapat menjelaskan sebagian sifat glukosa,
tetapi struktur siklik lebih termodinamis dan menjelaskan sifat-sifat yang lain.
Struktur siklik yang biasa digambar yaitu proyeksi Haworth, merupakan molekul
dilihat dari samping dan atas bidang cincin; ikatan-ikatan yang terletak paling
dekat dengan pengamat digambar lebih tebal dan gelap, dan gugus hidroksil
terletak di atas atau bawah bidang cincin. Cincin segienam yang mengandung satu
atom oksigen ini sebenarnya terbentuk seperti kursi (Murray, 2006).
Uji Iod digunakan untuk memisahkan amilum atau pati yang terkandung
dalam larutan. Reaksi positifnya ditandai dengan adanya perubahan warna
menjadi biru. Warna biru yang dihasilkan diperkirakan adalah hasil dari ikatan
kompleks antara amilum dengan Iodin. Sewaktu amilum yang telah ditetesi Iodin

kemudian dipanaskan, warna yang dihasilkan sebagai hasil darireaksi yang positif
akan menghilang. Dan sewaktu didinginkan warna biru akan muncul kembali
(Monruw, 2010).
Uji Benedict bertujuan untuk mengetahui adanya gula pereduksi dalam
suatu larutan dengan indikator yaitu adanya perubahan warna khususnya menjadi
merah bata. Benedict reagen digunakan untuk menguji atau memeriksa kehadiran
gula pereduksi dalam suatu cairan. Monosakarida yang bersifat reduktor, dengan
diteteskannya reagean akan menimbulkan endapanmerah bata. Selain menguji
adanya gula pereduksi, juga berlaku secara kuantitatif, karena semakin banyak
gula dalam larutan maka semakin gelap warna endapan (Wahyudi, 2005).

BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan


1. Alat
a. Alat pemanas
b. Tabung reaksi
c. Pipet ukur
d. Penjepit tabung
2. Bahan

a. Larutan sukrosa 1%
b. Pereaksi benedict
c. Larutan HCL pekat
d. Larutan NaOH 2%
e. pH paper
f. Larutan amilum 1%
g. Larutan HCL 2 N
B. Prosedur Kerja
1. Hidrolisis sukrosa
Dimasukkan 5 ml sukrosa 1% ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan
5 tetes HCL pekat.
Dicampur dengan baik, lalu dipanaskan dalam penangas air mendidih
selama 30 menit.

Setelah didinginkan, dinetralkan larutan dengan NaOhH 2% dan di uji


dengan pH paper.

Selanjutnya di uji dengan benedict 5 tetes.

Disimpulkan apa yang dihasilkan dari hidrolisis sukrosa.


2. Hidrolisi pati.
Dimasukkan ke dalam tabung reaksi 5 ml amilum 1%, kemudian
ditambahkan 2 ml HCL 2 N.

Dicampur dengan baik, lalu dimasukkan dalam penangan air mendidih.

Setalah 3 menit, diuji dengan iodium dengan diambil 2 tetes larutan


ditambah 2 tetes iodium dalam tabung reaksi dicatat perubahan warna
yang terjadi.

Dilakukan uji iodium setiap 3 menit sampai hasil warna kuning pucat.

Dilanjut hidrolisis selama 5 menit lagi.

Setelah didinginkan, diambil 2 ml larutan hasil hidrolisis, lalu


dinetralkan dengan NaOH 2% uji dengan pH paper.

Kemudian uji dengan benedict 5 tetes.

Disimpulkan apa yang dihasilkan hidrolisis pati.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil pengamatan
1. Hidrolisis sukrosa
Perlakuan
Uji
5 ml sukrosa + 5 tetes Benedict.

Hasil uji
Warna
larutan

HCL

berubah

pekat

pemanasan.

menjadi

biru muda terang,


harusnya berwarna
merah.

2. Hidrolisi pati
Perlakuan

Hidrolisis (menit)

Hasil uji iodium

5 ml amilum 1%

3
6
9
12
15
18
21

Biru tua
Biru tua
Biru tua
Biru tua
Biru tua
Biru tua
Biru tua

+ 2,5 ml HCL
pekat + pemanas

Hasil
hidroslis

Biru
bening

B. Pembahasan
Pada hidrolisis sukrosa kami melakukan uji benedict. Dimana 5 ml
sukrosa kami masukan ke dalam tabung reaksi kemudian kami menambahkan nya
5 ml HCL pekat. Setelah itu kami mencampurkan nya ke dalam penagas air
selama 30 menit. Setelah itu kami diinginkan dan kami netralkan dengan NaOH 2
% lalu kami uji dengan pH paper dan dihasilkan larutan yang biru muda terang.
Hal ini tidak sesuai dengan literature yang mengatakan bahwa hasil hidrolisis
seharusnya berwarna merah. Uji Benedict berdasarkan pada gula yang
mengandung gugus aldehida atau keton bebas akan mereduksi ion Cu2+ dalam
suasana alkalis, menjadi Cu+, yang mengendap sebagai Cu2O (kupro oksida)
berwarna merah bata. Gula pereduksi merupakan gula yang memiliki gugus
alkalis atau keton bebas atau terdapat gugus OH glikosidis pada strukturnya
(Sumardjo, 2006).
Pada hidrolisis pati kami melakukan uji dengan pemanasan setelah selang
beberapa menit. Kami memasukan kedalam tabung reaksi 5 ml amilum 1%,
kemudian menambahkan 2,5 ml HCL lalu mencampurkan dengan baik, dan
memanaskan dalam penagas air mendidih.Setelah 3 menit kemudian di uji dengan
iodium dengan mengambil 2 tetes larutan ditambah 2 tetes iodium dalam porselen
tetes dan dicatat warna yang terjadi.kemudian melakukan uji iodium setiap 3
menit hasil berwarna biru tua sampai di percobaa 21 menit, setelah itu dihidrolisis
selama 5 menit lagi. Setelah mendinginkan diambil 2 ml larutan hasil hidrolisis,
lalu kami menetralkan dengan NaOH 2%. Kemudian di uji dengan pH paper dan
di hasilkan hidrolisis yng mempunyai pH 7 yang berarti larutan tersebut bersifat

netral. Hasil warnanya adalah biru bening. Hal ini sesuai dengan literartur karena
sukrosa oleh HCl dalam keadaan panas akan terhidrolisis, lalu menghasilkan
glukosa dan fruktosa.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Karbohidrat atau sakarida adalah segolongan besar senyawa organik
yang tersusun hanya dari atom karbon, hidrogen dan oksigen.
2. Pada hidrolisis sukrosa uji benedict dihasilkan larutan berwarna biru
muda terang. Hal ini tidak sesuai dengan literature yang mengatakan
bahwa hasil hidrolisis seharusnya berwarna merah.
3. Pada hidrolisis pati kami melakukan uji dengan pemanasan setelah
selang beberapa menit sampai penetralan menggunakan NaOH 2% dan
diuji dengan pH paper hasil warnanya adalah biru bening. Hal ini
sesuai dengan literartur karena sukrosa oleh HCl dalam keadaan panas
akan terhidrolisis, lalu menghasilkan glukosa dan fruktosa.
B. Saran
1. Praktikan harus lebih diawasi dan dibimbing lagi oleh asisten
praktikum.
2. Untuk jadwal praktikum tidak berdekatan dengan praktikum yang lain.

DAFTAR PUSTAKA
Djakani, H, dkk. 2013. Gambaran kadar Gula Darah Puasa pada laki-laki Usia 4059 Tahun. Jurnal e-Biomedik. Vol. 1 (1): 71-75.
Irawan, M.Anwari. 2007. Jurnal Glukosa dan Metabolisme Energi. Volume
01(2007) No.06.
Irianto, Kus.2004. Struktur dan Fungsi Tubuh Mannusia untuk Paramedis. Yrama
Widya. Jakarta.
Manruw, 2010. Pengantar Biokimia. UI Press. Jakarta.
Murray, 2006. Biokimia Harper. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Pranata, C.F, 2004. Kimia dasar 2 : commoa Textbook. UM Press. Malang.
Purba, Michael.2006.Kimia. PT. Gelora Aksara Pratama. Jakarta.
Sirajuddin, Saifuddin & Najamuddin, Ulfa.2011.Penuntun Praktik Biokimia.
Laboratorium Biokimia. Makassar.
Sumardjo, Darmin.2006. Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa
Kedokteran dan Program Strata 1 Fakultas Bioeksata. EGC.
Jakarta
Wahyudi, 2005. Kimia Organik II. UM Press. Malang.
Wiratmaja, I. G., dkk., 2011. Pembuatan Etanol Generasi Kedua dengan
Memanfaatkan Limbah Rumput Laut Eucheuma cattonii sebagai
Bahan Baku. Jurnal ilmiah teknik mesin. Vol. 5 (1): 75-84.
Umar, S. 2008. Analisis Karbohidrat. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

LAMPIRAN