Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN KASUS

STROKE HEMORAGIK

Pembimbing:

dr. Sholihul M. Sp.S, M.Si.Med


Disusun Oleh:

Holy Fitria Ariani


FK UPH
NIM: 07120100080

KEPANITERAAN KLINIK
DEPARTEMEN SARAF
RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT GATOT
SOEBROTO
JAKARTA
BAB I
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN
No.Rekam Medik

: 825957

Nama

: Tn. S

Umur

: 74 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Status pernikahan

: Menikah

Suku bangsa

: Jawa

Pekerjaan

: Pensiunan TNI

Tanggal masuk

: 29-02-2016

Dirawat yang ke

: 1 (pertama) kali

Tanggal diperiksa

: 29-02-2016 (Perawatan hari ke-1)

II. ANAMNESIS
Autoanamnesa
Keluhan Utama

: Kelemahan pada anggota gerak sebelah kiri sejak 2 hari

SMRS
Keluhan Tambahan
: Bicara pasien pelo, sakit kepala
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke RSPAD dengan keluhan kelemahan yang terjadi secara mendadak pada
anggota gerak sebalah kiri sejak 2 hari SMRS. Kelemahan terjadi setelah pasien
membersihkan rumah dan menyetrika, lalu pasien berniat untuk sholat, saat hendak
memulai sholat, secara mendadak lengan dan tungkai kiri pasien terasa seperti tersetrum
dan pasien terjatuh, lalu pasien merasakan anggota gerak kirinya terasa lemah sulit
digerakkan. Pasien juga merasakan kepalanya terasa sakit diseluruh bagian, pasien
menyebutkan kepalanya cekot-cekot. Selain itu secara tiba-tiba bicara pasien menjadi
pelo dan sulit dimengerti. Keluhan mual muntah dan demam sebelumnya disangkal oleh
pasien. Gangguan BAB dan BAK disangkal oleh pasien. Karena keluhannya tersebut
pasien dibawa oleh keluarganya ke RS. Hermina Depok, lalu keesokannya pasien dirujuk
ke RSPAD.
Pasien mengatakan dirinya telah menderita hipertensi sejak 10 tahun yang lalu dan tidak
rutin meminum obat. Pasien meminum obat jika pasien merasa sakit kepala saja. Riwayat
2

penyakit DM dan jantung disangkal oleh pasien. Pasien memiliki gaya hidup kurang baik
karena pasien sering mengkonsumsi makanan bersantan. Selain itu pasien memiliki
riwayat merokok selama 25 tahun dan telah berhenti merokok sejak 10 tahun yang lalu.
Pasien mengatakan dirinya rajin berolah raga. Pasien merupakan seorang pensiunan TNI
dan kegiatan pasien sehari-hari hanya dirumah dan suka membantu membersihkan rumah.
Pasien menyangkal pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya, keluhan seperti ini
baru pertamakali dialami pasien.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Hipertensi

: Ada, sejak 10 tahun yang lalu dan tidak

terkontrol. Hanya bila tensi tinggi dan saat sakit kepala

pasien mengkonsumsi Amlodipin 10 mg.


Diabetes Mellitus : Disangkal.
Sakit Jantung
: Disangkal.
Trauma
: Disangkal.
Sakit kepala sebelumnya : Disangkal.
Kegemukan : Disangkal.
Pembedahan : Operasi prostat 10 tahun yang lalu.

Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak ada.
Riwayat Kelahiran / Pertumbuhan / Perkembangan :
Tidak ada.
III. PEMERIKSAAN FISIK
Status Internus

Keadaan Umum : Tampak sakit sedang


Gizi
: Baik
BB: 65 kg,TB: 168 cm, BMI : 23.03 (18.50-24.99) Normal
Tanda Tanda Vital
o Tekanan Darah Kanan
: 165 / 90 mmHg
o Tekanan Darah Kiri
: 160 / 90 mmHg
o Nadi Kanan
: 85 x / menit
o Nadi Kiri
: 80 x / menit
o Pernafasan
: 20 x / menit
o Suhu
: 36,7oC (per aksila)
Limfonodi
: Tidak teraba pembesaran KGB
Jantung
: Bunyi jantung I dan II regular, murmur (-), gallop (-).
Paru
: Suara nafas vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-).
Hepar
: Tidak teraba.
Lien
: Tidak teraba.
Ekstremitas
: Akral hangat, edema (-), sianosis (-), perfusi < 2 detik.

Status Psikiatris
3

Tingkah laku
Perasaan hati
Orientasi
Jalan fikiran
Daya ingat

: Baik, wajar.
: Euthym.
: Baik.
: Koheren.
: Baik.

Status Neurologis

Tingkah Kesadaran
Sikap tubuh
Cara berjalan
Gerakan abnormal

: Kompos mentis
E4M6V5
: Berbaring terlentang.
: Sulit dilakukan.
: tidak ada.

GCS15

Kepala

Bentuk
Simetris
Pulsasi
Nyeri tekan

: Normocepal.
: Simetris.
: Teraba pulsasi arteri temporalis (+/+).
: Tidak ditemukan.

Leher

Sikap
Gerakan
Vertebra
Nyeri tekan

: Normal.
: Bebas ke segala arah..
: Dalam batas normal.
: Tidak ditemukan.

Tanda Rangsang Meningeal


Kaku Kuduk
:
Laseque
:
Kernig
:
Brudzinsky I
:
Brudzinsky II
:

kanan

kiri
(-)

> 70
> 1350
(-)
(-)

> 700
> 1350
(-)
(-)

Nervi Cranialis

kanan

kiri

Normosmia

Normosmia

N. I (Olfaktorius)

Daya penghidu

N. II (Optikus)

Ketajaman penglihatan
Pengenalan warna
Lapang pandangan
Fundus

:
:
:
:

> 6/60
> 6/60
Baik
Baik
Sama dengan pemeriksa
Tidak dilakukan

N. III (Okulomotorius) / N. IV (Trokhlearis) / N. VI (Abdusens)

Ptosis
:
(-)
Strabismus
:
(-)
Nistagmus
:
(-)
Eksoftalmus
:
(-)
Enoftalmus
:
(-)
Gerakan Bola Mata
o Lateral
:
(+)
o Medial
:
(+)
o Atas Lateral
:
(+)
o Atas Medial
:
(+)
o Bawah Lateral
:
(+)
o Bawah Medial
:
(+)
o Atas
:
(+)
o Bawah
:
(+)
o Gaze
:
Pupil
o Ukuran Pupil
:
3 mm
o Bentuk Pupil
:
Bulat
o Isokor / Anisokor :
o Posisi
:
o Refleks Cahaya Langsung
:
(+)
o Refleks Cahaya Tidak Langsung :
(+)
o Refleks Akomodasi / Konvergensi :
(+)
N. V (Trigeminus)
kanan
Menggigit
:
(+)
Membuka mulut
:
(+)
Sensibilitas
o Atas
:
(+)
o Tengah
:
(+)
o Bawah
:
(+)
Refleks masseter
:
(+) normal
Refleks zigomatikus
:
(-)
Refleks kornea
:
(+)

(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(+)
(+)
(+)
(+)
(+)
(+)
(+)
(+)
Baik
3 mm
Bulat
Isokor
Di tengah
(+)
(+)
(+)
kiri
(+)
(+)
(+)
(+)
(+)
(+) normal
(-)
(+)
6

Refleks bersin

Tidak dilakukan

N.V II (Fasialis)
Pasif:
Kerutan kulit dahi
:
Kedipan mata
:
Lipatan nasolabial
:
Sudut mulut
:
Aktif:
Mengerutkan dahi
:
Mengerutkan alis
:
Menutup mata
:
Meringis
:
Menggembungkan pipi :
Gerakan bersiul
:
Daya pengecapan lidah 2/3 depan :
Hiperlakrimasi
:
Lidah kering
:

(+)
(+)

simetris
simetris
simetris
Simetris

(+)
(+)

(+)
(+)
(+)

simetris
simetris
simetris
simetris
simetris
simetris
normal

(+)
(+)
(+)

(-)

(-)
(-)

N. VIII (Akustikus)

Mendengar suara gesekan jari tangan:


Mendengar detik arloji :
Tes Schwabach
:
Tes Rinne
:
Tes Weber
:

N. IX (Glossofaringeus)

(+)
(+)

(+)
(+)
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

kanan

Arkus faring
:
Posisi uvula
:
Daya pengecapan lidah 1/3 belakang :
Refleks muntah
:

kiri

Simetris.
Di tengah (sentral), tidak deviasi.
Tidak dilakukan.
Tidak dilakukan.

N. X (Vagus)

Denyut nadi
Arkus faring
Bersuara
Menelan

:
:
:
:

Teraba reguler, ekual.


Simetris.
Jelas, tidak sengau.
Baik, tidak tersedak.

N. XI (Aksesorius)

Memalingkan kepala
Sikap bahu
Mengangkat bahu

:
:
:

Baik

Baik
Simetris, sama tinggi.

(+)

(+)

N. XII (Hipoglossus)
7

Menjulurkan lidah
Kekuatan lidah
Atrofi lidah
Artikulasi
Tremor lidah

:
:
:
:
:

Deviasi ke sebelah kiri


melemah (kurang)
Tidak ada
Disatria
Tidak ada

Motorik

Gerakan

Kekuatan

Tonus

Bebas
Bebas
5
5

Trofi

5
5

5
5

Terbatas
Terbatas
5
5

1
1

1
1

1
1

Normotonus

Normotonus

Normotonus

Normotonus

Refleks Fisiologis

1
1

:
:
:
:

eutrofi

kanan

kiri

(++)
(++)
(++)
(++)

(+++)
(+++)
(+++)
(+++)

Refleks Tendon

Refleks Biceps
Refleks Triceps
Refleks Patella
Refleks Achilles

:
:
:
:

Refleks Periosteum

Tidak dilakukan

Refleks Permukaan

Dinding perut
Kremaster
Sfingter Ani

:
:
:

(+)

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

(+)
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

Refleks Patologis

Hoffman Trommer
Babinski
Chaddock
Oppenheim
Gordon
Schaeffer
Rosollimo
Mendel Bechterew
Klonus paha
Klonus kaki

(-)
(+)
(+)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

Sensibilitas
Eksteroseptif

Nyeri
Suhu
Taktil

:
:
:

Baik
Baik
Baik

Baik
Baik
Baik

Proprioseptif

Vibrasi
Posisi
Tekan dalam

:
:
:

Koordinasi dan Keseimbangan

Tes Romberg
Tes Tandem
Tes Fukuda
Disdiadokokinesis
Rebound phenomenon
Dismetri
Tes telunjuk hidung
Tes telunjuk telunjuk
Tes tumit lutut

Tidak dilakukan
Baik
Baik

Baik
Baik

kanan

kiri

: tidak dapat dilakukan


: tidak dapat dilakukan
: tidak dapat dilakukan
: tidak dapat dilakukan
: tidak dapat dilakukan
: tidak dapat dilakukan
:
Baik
: tidak dapat dilakukan
: tidak dapat dilakukan

tidak dapat dilakukan

Fungsi Otonom
Miksi

Inkontinensia
: tidak dapat dinilai
Retensi
: tidak dapat dinilai
Anuria
: tidak dapat dinilai
*Pasien ini dipasang kateter

Defekasi

Inkontinensia
Retensi

: tidak ada
: tidak ada

Fungsi Luhur

Fungsi bahasa
Fungsi orientasi
Fungsi memori
Fungsi emosi

: baik
: baik
: baik
: baik
9

Fungsi kognitif

: baik

10

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 29 Februari 2016
Jenis Pemeriksaan

Hasil

Nilai Rujukan

Hematologi Rutin
Hemoglobin

13.5 g/dL

13 18 g/dL

Hematokrit

39 %

40 - 52%

Eritrosit

5,1 juta/L

4,3 6,0 juta/L

Leukosit

6330 /L

4000 10000 /L

Trombosit

212000 /L

150000 400000 /L

MCV

77 fL

80 96 fL

MCH

26 pg

27 32 pg

MCHC

34 g/dL

32 36 g/dL

Ureum

33 mg/dL

20 50 mg/dL

Kreatinin

0,8 mg/dL

0,5 1,5 mg/dL

Glukosa Darah (Sewaktu)

158 mg/dL

< 140 mg/ dL

Natrium (Na)

145 mmol/L

135 - 147 mmol/L

Kalium (K)

3.7 mmol/L

3,5 5,0 mmol/L

Klorida (Cl)

106 mmol/L

95 105 mmol/L

Aseton

+/ Positif

- / Negatif

Kimia Klinik

Hasil pemeriksaan CT Scan kepala non kontras tanggal 28 februari 2016


11

Kesan:
terdapat lesi hiperdens pada hemisfer serebri dextra yang biasanya menandakan adanya
perdarahan intraparenkim.
Hasil pemeriksaan Rontgen thoraks tanggal 29 februari 2016
Kesan: Kardiomegali dan aorta elongasi. Tak tampak kelainan pada paru.
V. RESUME
Pasien laki-laki 74 tahun datang ke RSPAD Gatot Soebroto dengan keluhan kelemaan
yang tejadi mendadak pada anggota gerak sebelah kiri sejak 2 hari yang lalu. Pasien
mengalami kelemahan setelah melakukan aktivitas yaitu membersihkan rumah dan
menyetrika. Pasien juga merasakan sakit kepala diseluruh bagian kepalanya. Mual muntah,
demam, gangguan BAB dan BAK disangkal oleh pasien. Pasien memiliki riwayat
hipertensi sejak 10 tahun lalu dan tidak terkontrol. Riwayat DM dan jantung disangkal.
Pasien pernah menjalani operasi prostat 10 tahun yang lalu. Gaya hidup pasien kurang
baik karena pasien sering mengkonsumsi makanan bersantan dan memiliki riwayat
merokok selama 25 tahun tetapi telah berhenti merokok sejak 10 tahun yang lalu. Pasien

12

Pada pemeriksaan fisik, keadaan umum baik, tekanan darah 165/90 mmHg. Suhu afebris.
Status internus lainnya ditemukan dalam batas normal. Status psikiatris dalam batas
normal. Status neurologis:

Kesadaran: kompos mentis GCS 15


Gerakan abnormal: (-)
Tanda rangsang meningeal: (-)
Nervus kranialis:
o N. XII : Lidah deviasi ke kiri saat dijulurkan, kekuatan otot lidah melemah,
dan artikulasi terganggu.

Motorik
o Gerakan: Bebas pada anggota gerak kanan dan sulit di gerakan pada
anggota gerak kiri.
o Trofi : tidak terdapat atrofi (eutrofi)
o Kekuatan:
5 5
5 5
o
Biceps
Triceps
Patella
Achiless

5 5 1 1
5 5 1 1
: (++) / (+++)
: (++) / (+++)
: (++) / (+++)
: (++) / (+++)

1
1

1
1

Refleks fisiologis

o Refleks patologis
Babinski
: (- / +)
Chaddock
: (- / + )
Sensibilitas:
o Eksteroseptif : taktil, nyeri, dan suhu baik di seluruh anggota gerak pasien.
o Prorioseptif : Posisi dan tekan dalam baik.
Koordinasi dan keseimbangan: tes telunjuk hidung menggunakan tangan kanan

dapat dilakukan dan baik.


Fungsi otonom: baik.
Fungsi luhur: baik.

Hasil pemeriksaan penunjang:

Laboratorium: Ht: 39%, MCV:77 fl, MCH: 26 pg, hiperglikemia

(GDS: 158 mg/dL), Hiperkloremia (106 mmol/L), Aseton +/postif.


CT Scan kepala :
Rontgen thoraks AP: Kardiomegali dan aorta elongasi. Tak tampak kelainan pada
paru.
VI. DIAGNOSIS

13

Diagnosa Klinis: Hemiparese sinistra tipe sentral, Parese N. XII

sinistra tipe sentral.


Diagnosa Topik: Hemisfer serebri dextra
Diagnosa Etiologi: Stroke Hemoragik
Diagnosa Sekunder : Hipertensi grade II, DM Ketosis

VII. PENATALAKSANAAN
Pengelolaan umum :
Breathing Diberikan Oksigen 2-4 L/menit
Blood pantau tekanan darah setiap jam 12 siang, jam 5 sore, jam 10 malam, dan jam 5
pagi.
Brain pemberian citicoline sebagai neuroprotektor.
Bladder pasien dipasang folley kateter untuk memudahkan urinasi.
Bowel Infus Ringer Asering 20 tpm. kebutuhan cairan dan kalori terus dipantau, dan
pasien memakai NGT.
Bone cegah terjadinya dekubitus, posisi pasien miring kanan dan kiri bergantian.
Pasien koperatif, tetapi pasien butuh bantuan karena adanya kelemahan pada sisi kiri
pasien.
Medikamentosa:
Inj. Citicoline 3x500 mg IV
Inj. As. Tranexamat 3x500 mg IV
Manitol 125 cc/6 jam
Non Medikamentosa:

Pengendalian faktor resiko, pada pasien ini adalah hipertensi dan DM. Dengan makan
makanan rendah garam, rendah kolesterol dan diet diabetes sesuai jumlah kebutuhan

kalori.
Fisioterapi ntuk mengoptimalkan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional pasien
stroke, sehingga mampu mandiri dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Penanganan
fisioterapi pasca stroke adalah kebutuhan yang mutlak bagi pasien untuk dapat

meningkatkan kemampuan gerak dan fungsinya.


Konsultasi kepada spesialis penyakit dalam atas dasar DM ketosis

Pemeriksaan Anjuran:

EKG
Analisa Gas Darah
Pemeriksaan GDS (ulang), GDP, G2PP, Hba1c
14

Profil lipid (kolesterol total, LDL, HDL, Trigliserida)

VIII. PROGNOSIS
Ad vitam

: Bonam

Ad fungsionam

: Dubia ad bonam

Ad sanam

: Dubia ad bonam

Ad cosmeticum

: Bonam

15

BAB II
ANALISA KASUS
Pada kasus ini diagnosis klinis hemiparese sinistra tipe sentral, parese N.XII tipe
sentral ditegakkan berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik yang dilakukan terhadap
pasien. Dari anamnesa pasien mengeluhkan kelemahan pada anggota gerak sebelah kiri yang
terjadi secara mendadak setelah pasien melakukan kegiatan yaitu membersihkan rumah dan
menyetrika. Kelemahan ini disertai sakit kepala diseluruh bagian kepalanya. Selain itu bicara
pasien mendadak menajadi pelo. Pada pemeriksaan fisik tampak kelemahan pada sisi kiri
tubuh pasien, kekuatan motorik dari pasien bernilai satu pada seluruh anggota gerak sinistra.
Pemeriksaan reflex fisiologis menunjukan hiperefleks pada anggota gerak sebelah kiri. Pada
pemeriksaan reflex patologis, positif pada babinski, dan chaddok. Kelemahan pada pasien ini
terjadi pada anggota gerak sebelah kiri, hal ini dapat disimpulkan bahwa lesi berada pada
hemisfer otak kanan karena kelemahan biasanya terjadi kontralateral dari lesi. Sehingga
didapatkan diagnosis topis hemisfer serebri dextra. Untuk lebih memastikan dibutukan
pemeriksaan penunjang CT-scan.
Untuk pemeriksaan fisik nervus kranialis, didapatkan juga parese N. XII sinistra tipe
sentral yang terlihat pada saat pasien berbicara terdapat gangguan artikulasi atau bicara
pasien menjadi pelo. Lalu saat pasien menjulurkan lidahnya, lidah pasien deviasi ke sebelah
kiri. Kekuatan dari lidah pasien juga sedikit melemah.
Diagnosa

etiologik

Stroke

Hemoragik

ditegakkan

berdarsarkan

anamnesa,

pemeriksaan penunjang, skor penilaian stroke, dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesa
didapatkan onset terjadi mendadak pada saat pasien habis beraktivitas, dalam hal ini pasien
mengalami kelemahan mendadak setelah pasien membersihkan rumah dan menyetrika. Hal
ini merupakan ciri khas dari stroke hemoragik yang terjadi saat pasien dalam keadaan
beraktivitas. Lalu melihat dari faktor resiko yang dimiliki pasien, pasien memiliki riwayat
hipertensi grade II yang tidak terkontrol sejak 10 tahun yang lalu. pasien mengatakan ia
hanya meminum obat apabila terasa sakit kepala saja, obat yang terkadang pasien minum
amlodipine 10 mg. Hipertensi kronis dapat menyebabkan pendarahan intraserebral. Pasien
memiliki riwayat merokok sejak 25 tahun yang lalu, tetapi pasien telah berhenti merokok
sejak 10 tahun yang lalu. Pasien sering mengkonsumsi makanan bersantan. Hal diatas
merupakan suatu faktor resiko yang mencetuskan terjadinya serangan stroke. Pada hasil CT16

Scan kepala pasien ini di terdapat lesi hiperdens pada hemisfer serebri dextra yang biasanya
menandakan adanya perdarahan intraparenkim.
Tanpa pemeriksaan CT-Scan kepala, diagnosa etiologik stroke hemoragik dapat
ditegakkan melalui pemakaian skoring stroke. Pada pasien ini saya menggunakan algoritma
stroke gajah mada. Pada algoritma stroke gajah mada ada 3 poin yang dinilai yaitu,
penurunan kesadaran, nyeri kepala, dan reflex Babinski. Pada pasien ini tedapat nyeri kepala
dan reflex patologis Babinski positif. Sesuai dengan algoritma stroke gajah mada, apabila 2
komponen dari 3 komponen postif, maka pasien ini di diagnosis sebagai stroke hemoragik.
Patofisiologis pada kasus ini adalah pembengkakan sel, pelepasan mediator
vasokonstriktor, dan penyumbatan lumen pembuluh darah oleh granulosit kadang-kadang
mencegah reperfusi, meskipun pada kenyataannya penyebab primernya telah dihilangkan.
Kematian sel menyebabkan inflamasi, yang juga merusak sel di tepi area iskemik
(penumbra). Gejala ditentukan oleh tempat perfusi yang terganggu, yakni daerah yang
disuplai oleh pembuluh darah tersebut.
Pada pemeriksaan hasil laboratorium didapatkan gula darah sewaktu yang melebihi
normal yaitu 158 mg/dl dan juga didapatkan keton + (positif). Hal ini menandakan bahwa ada
peningkatan gula darah dan terdapat ketosis. Perlu pemeriksaan gula darah puasa, guladarah 2
jam PP dan pemeriksaan ulangan gula darah sewaktu untuk memastikan bahwa pasien
menderita DM. Perlu dipertimbakan untuk konsultasi kepada spesialis penyakit dalam
endokrin.
Untuk medika mentosa, pemberian citicoline pada pasien ini diberikan sebagai
neuroprotektif, menjaga dan memperbaiki membran neuron, meningkatkan ketersediaan
neurotransmiter, meningkatkan metabolisme glukosa di otak dan meningkatkan aliran darah
otak, mengurangi stress oksidatif dan respon inflamasi yang berlebihan, menurunkan
konsentrasi glutamat yang meningkat, dan memperbanyak konsentrasi ATP yang menurun
pada saat terjadi iskemi.
Pemberian asam tranexamat dengan tujuan menhentikan pendarahan. Asam
tranexamat bekerja dengan cara menhambat pecahnya gumpalan darah sehingga pendarahan
tidak terjadi lagi. Pemberian obat asam tranexamat kurang lebih selama 10 hari.
Pemberian manitol dilakukan untuk menurunkan tekanan intracranial (TIK) pada
stroke hemoragik. Manitol menurunkan TIK dengan cara menurunkan semua isi air dan
volume cairan serebrospinal dan dengan menurukan volume darah berhubungan dengan
17

vasokonstriksi. Manitol juga meningkatakan perfusi serebral dengan menurunkan


viskositasnatau dengan mengubah reaksi sel darah merah.
Obat anti hipertensi tidak diberikan pada pasien ini karena tekanan darah pasien ini
165/90 mmHg. Tekanan darah diturunkan apabila pada stroke hemoragik dengan TDS>180,
TDD>120, MAP >130 serta volume darah bertambah.
Penatalaksanaan non-medikamentosa seperti fisioterapi sangat dianjurkan untuk
mengoptimalkan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional pasien stroke, sehinga mereka
mampu mandiri dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Program rehabilitasi ini bisa dibilang
merupakan program yang tidaklah mudah, karena setelah stroke terkadang menyisakan
kelumpuhan terutama pada sisi yang terkena, timbul nyeri, subluksasi pada bahu, pola jalan
yang salah dan masih banyak kondisi yang perlu dievaluasi oleh fisioterapis.

18

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

Stroke Hemoragik
Stroke adalah gangguan fungsi saraf yang disebabkan oleh gangguan aliran darah
dalam otak yang dapat timbul secara mendadak dalam beberapa detik atau secara cepat dalam
beberapa jam dengan gejala atau tanda-tanda sesuai dengan daerah yang terganggu. Definisi
menurut WHO: stroke adalah terjadinya gangguan fungsional otak fokal maupun global
secara mendadak dan akut yang berlangsung lebih dari 24 jam akibat gangguan aliran darah
otak. Dengan kata lain stroke merupakan manifestasi keadaan pembuluh darah cerebral yang
tidak sehat sehingga bisa disebut juga cerebral arterial disease atau cerebrovascular
disease.
Stroke hemoragik adalah stroke yang terjadi apabila lesi vaskular intraserebrum
mengalami ruptur sehingga terjadi perdarahan ke dalam ruang subaraknoid atau langsung ke
dalam jaringan otak
Etiologi Stroke Hemoragik
Penyebab stroke hemoragik sangat beragam, yaitu:

Perdarahan intraserebral primer (hipertensif)

Ruptur kantung aneurisma

Ruptur malformasi arteri dan vena

Trauma (termasuk apopleksi tertunda pasca trauma)

Kelainan perdarahan seperti leukemia, anemia aplastik, ITP,

gangguan

fungsi

koagulan,

hati,

komlikasi

obat

trombolitik

atau

anti

hipofibrinogenemia, dan hemofilia.

Perdarahan primer atau sekunder dari tumor otak.

Septik embolisme, myotik aneurisma

Penyakit inflamasi pada arteri dan vena

Amiloidosis arteri

O b a t v a s o p r e s s o r, k o k a i n , h e r p e s s i m p l e k s e n s e f a l i t i s , d i s e k s i
a r t e r i veretbral, dan acute necrotizing haemorrhagic encephalitis.
19

Patogenesis Stroke Hemoragik


A. Perdarahan Intraserebral
Perdarahan intraserebral paling sering terjadi ketika tekanan darah tinggi kronis
melemahkan arteri kecil, menyebabkannya robek. Penggunakan kokain atau amfetamin dapat
menyebabkan tekanan darah dan perdarahan sementara tapi sangat tinggi. Pada beberapa
orang tua, sebuah protein abnormal yang disebut amiloid terakumulasi di arteri otak.
Akumulasi ini (disebut angiopati amiloid) melemahkan arteri dan dapat menyebabkan
perdarahan.
Penyebab umum yang kurang termasuk kelainan pembuluh darah saat lahir, luka,
tumor, peradangan pembuluh darah (vaskulitis), gangguan perdarahan, dan penggunaan
antikoagulan dalam dosis yang terlalu tinggi.

Pendarahan gangguan dan penggunaan

antikoagulan meningkatkan resiko kematian dari perdarahan intraserebral.


B. Perdarahan Subaraknoid
Perdarahan subaraknoid biasanya hasil dari cedera kepala. Namun, perdarahan karena
cedera kepala menyebabkan gejala yang berbeda dan tidak dianggap sebagai stroke.
Perdarahan subaraknoid dianggap stroke hanya jika terjadi secara spontan yaitu, ketika
perdarahan tidak hasil dari kekuatan-kekuatan eksternal, seperti kecelakaan atau jatuh.
Sebuah perdarahan spontan biasanya hasil dari pecahnya aneurisma mendadak di sebuah
arteri otak, yaitu pada bagian aneurisma yang menonjol di daerah yang lemah dari dinding
arteri itu.
Aneurisma biasanya terjadi di percabangan arteri. Aneurisma dapat muncul pada saat
kelahiran (bawaan), atau dapat berkembang kemudian, yaitu setelah bertahun-tahun dimana
tekanan darah tinggi melemahkan dinding arteri. Kebanyakan perdarahan subaraknoid adalah
hasil dari aneurisma kongenital.
Mekanisme lain yang kurang umum adalah perdarahan subaraknoid dari pecahnya
koneksi abnormal antara arteri dan vena (malformasi arteri) di dalam atau di sekitar otak.
Sebuah malformasi arteri dapat muncul pada saat kelahiran, tetapi biasanya hanya
diidentifikasi jika gejala berkembang. Jarang sekali suatu bentuk bekuan darah pada katup
jantung yang terinfeksi, perjalanan (menjadi emboli) ke arteri yang memasok otak, dan
menyebabkan arteri menjadi meradang, arteri kemudian dapat melemah dan pecah.
Gejala Klinis Stroke Hemoragik
20

A. Perdarahan Intraserebral
Sebuah perdarahan intraserebral dimulai tiba-tiba. Di sekitar setengah dari jumlah
penderita, serangan dimulai dengan sakit kepala parah, sering selama aktivitas. Namun, pada
orang tua, sakit kepala mungkin ringan atau tidak ada. Gejala disfungsi otak menggambarkan
perkembangan yang terus memburuk sebagai perdarahan.

Beberapa gejala, seperti

kelemahan, kelumpuhan, hilangnya sensasi, dan mati rasa, sering hanya mempengaruhi satu
sisi tubuh. Orang mungkin tidak dapat berbicara atau menjadi bingung. Visi dapat terganggu
atau hilang.

Mata dapat menunjukkan arah yang berbeda atau menjadi lumpuh. Mual,

muntah, kejang, dan hilangnya kesadaran yang umum dan dapat terjadi dalam beberapa detik.
B. Perdarahan Subaraknoid
Sebelum robek, aneurisma yang biasanya tidak menimbulkan gejala kecuali menekan pada
saraf atau kebocoran sejumlah kecil darah, biasanya sebelum pecah besar (yang
menyebabkan sakit kepala), menghasilkan tanda-tanda peringatan, seperti berikut:

Sakit kepala, yang mungkin luar biasa tiba-tiba dan parah (kadang-kadang disebut
sakit kepala halilintar)

Sakit pada mata atau daerah fasial

Penglihatan ganda

Kehilangan penglihatan tepi

Penatalaksanaan Stroke Hemoragik


A. Penatalaksanaan di Ruang Gawat Darurat
1. Evaluasi cepat dan diagnosis
2. Terapi umum (suportif)
a. stabilisai jalan napas dan pernapasan
b. stabilisasi hemodinamik/sirkulasi
c. pemeriksaan awal fisik umum
d. pengendalian peninggian TIK
e. penanganan transformasi hemoragik
f. pengendalian kejang
g. pengendalian suhu tubuh
21

h. pemeriksaan penunjang
B. Penatalaksanaan Stroke Perdarahan Intra Serebral (PIS)
Terapi medik pada PIS akut:
a. Terapi hemostatik
Eptacog alfa (recombinant activated factor VII [rF VIIa]) adalah obat haemostasis
yang dianjurkan untuk pasien hemofilia yang resisten terhadap pengobatan faktor
VIII replacement dan juga bermanfaat untuk penderita dengan fungsi koagulasi
yang normal.
Aminocaproic acid terbuktitidak mempunyai efek menguntungkan.
Pemberian rF VIIa pada PIS pada onset 3 jam hasilnya adalah highly-significant,
tapi tidak ada perbedaan bila pemberian dilakukan setelah lebih dari 3 jam.
b. Reversal of anticoagulation
Pasien PIS akibat dari pemakaian warfarin harus secepatnya diberikan fresh
frozen plasma atau prothrombic complex concentrate dan vitamin K.
Prothrombic-complex concentrates suatu konsentrat dari vitamin K dependent
coagulation factor II, VII, IX, dan X, menormalkan INR lebih cepat dibandingkan
FFP dan dengan jumlah volume lebih rendah sehingga aman untuk jantung dan
ginjal.
Dosis tunggal intravena rFVIIa 10-90g/kg pada pasien PIS yang memakai
warfarin dapat menormalkan INR dalam beberapa menit. Pemberian obat ini harus
tetap diikuti dengan coagulation-factor replacement dan vitamin K karena efeknya
hanya beberapa jam.
Pasien PIS akibat penggunaan unfractionated atau low moleculer weight heparin
diberikan Protamine Sulfat, dan pasien dengan trombositopenia atau adanya
gangguan fungsi platelet dapat diberikan dosis tunggal Desmopressin, transfusi
platelet, atau keduanya.
Pada pasien yang memang harus menggunakan antikoagulan maka pemberian
obat dapat dimulai pada hari ke-7-14 setelah erjadinya perdarahan.
c. Tindakan bedah pada PIS berdasarkan EBM
Keputusan mengenai apakah dioperasi dan kapan dioperasi masih tetap
kontroversial.
Tidak dioperasi bila:
22

Pasien dengan perdarahan kecil (<10cm3) atau defisit neurologis minimal.


Pasien dengan GCS <4. Meskipun pasien GCS <4 dengan perdarahan
intraserebral disertai kompresi batang otak masih mungkin untuk life saving.
Dioperasi bila:
Pasien dengan perdarahan serebelar >3cm dengan perburukan klinis atau
kompresi batang otak dan hidrosefalus dari obstruksi ventrikel harus
secepatnya dibedah.
PIS dengan lesi struktural seperti aneurisma malformasi AV atau angioma
cavernosa dibedah jika mempunyai harapan outcome yang baik dan lesi
strukturnya terjangkau.
Pasien usia muda dengan perdarahan lobar sedang s/d besar yang memburuk.
Pembedahan untuk mengevakuasi hematoma terhadap pasien usia muda
dengan perdarahan lobar yang luas (>50cm3) masih menguntungkan.
Antihipertensi
a. Jaga Mean Arterial Pressure (MAP) sekitar 110 mmHg atau tekanan darah sistolik
(TDS) tidak lebih dari 160 dan tekanan darah diastolic (TDD) 90 mmHg (sebelum
tindakan operasi aneurisma clipping).
b. Obat-obat antihipertensi diberikan bila TDS lebih dari 160 mmHg dan TDD lebih dari
90 mmHg atau MAP diatas 130 mmHg.
c. Obat antihipertensi yang dapat dipakai adalah Labetalol (IV) 0,5-2 mg/menit sampai
mencapai maksimal 20 mg/jam atau esmolol infuse dosisnya 50-200 mcg/kg/menit.
Pemakaian nitroprussid tidak danjurkan karena menyebabkan vasodilatasi dan
memberikan efek takikardi.
d. Untuk menjaga TDS jangan meurun (di bawah 120 mmHg) dapat diberikan
vasopressors, dimana hal ini untuk melindungi jaringan iskemik penumbra yang
mungkin terjadi akibat vasospasme.

23

DAFTAR PUSTAKA
1. Baehr, M. dan Frotscher, M. Serebrum. Dalam: Diagnosis Topik Neurologis DUUS:
Anatomi, Fisiologi, Tanda, Gejala. Edisi ke-4. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Hlm. 292-309.
2. Price, A. Sylvia.2006 Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit edisi 4.
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
3. L. Hauser, Stephen. Disease of Nervous System : Harrisons Neurology in clinical
medicine. 3rd Edition. 2013 : Mc Graw Hill.
4. World Health Organization, 2006. STEP Stroke Surveillance. Available from:
http://www.who.int/entity/chp/steps/Section1_Introduction.pdf
5. Anonym. Pengenalan & Penatalaksanaan Kasus-kasus Neurologi. 2007. Edisi ke-2.
Jakarta: Departemen Saraf RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad.
6. S. Snell, Richard. Clinical Neuroanatomy, 7th edition. 2010 : Lippincott Willams and
Wilkins.