Anda di halaman 1dari 83

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA TN. A YANG MENGALAMI EFUSI PLEURA E.C


TUBERKULOSIS PARU DI INSTALASI TERATAI LANTAI IV
SELATAN RSUP FATMAWATI JAKARTA

Karya Tulis Ilmiah ini disusun sebagai syarat menyelesaikan


Program DIII Keperawatan

Oleh :
Ela Ameliawati
NIM. P17120013017

PRODI KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAKARTA I
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
JUNI 2016

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. A YANG


MENGALAMI EFUSI PLEURA E.C TUBERKULOSIS PARU
DI INSTALASI TERATAI LANTAI IV SELATAN
RSUP FATMAWATI

Karya Tulis Ilmiah ini disusun sebagai syarat menyelesaikan


Program DIII Keperawatan

Oleh :
Ela Ameliawati
NIM. P17120013017

PRODI KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAKARTA I
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
JUNI 2016

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN PENULISAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini, Mahasiswa Program Pendidikan Diploma
III Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta I :
Nama : Ela Ameliawati
NIM

: P17120013017

Dengan ini menyatakan bahwa Karya Tulis Ilmiah saya yang berjudul :
Asuhan Keperawatan Pada Tn.A yang Mengalami Efusi Pleura e.c
Tuberculosis Paru Di Lantai IV Selatan Di Instalasi Teratai
RSUP Fatmawati Jakarta

1. Disusun dan diselesaikan oleh saya sendiri.


2. Bukan merupakan salinan sebagian atau seluruhnya dari karya tulis ilmiaH
yang pernah disusun oleh orang lain.
Pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya. Apabila di kemudian hari
pernyataan ini terbukti tidak benar, maka saya bersedia kelulusan saya dibatalkan.

Jakarta, 27 Juni 2016

Ela Ameliawati
NIM. P17120013017

LEMBAR PERSETUJUAN

Karya Tulis Ilmiah ini dengan judul ASUHAN KEPERAWATAN PADA


TN.A YANG MENGALAMI EFUSI PLEURA E.C TUBERCULOSIS PARU
DI LANTAI IV SELATAN INSTALASI TERATAI RUMAH SAKIT
UMUM PUSAT FATMAWATI JAKARTA ini telah disetujui untuk diujikan
pada Ujian Sidang Karya Tulis Ilmiah dihadapan Tim Penguji.

Jakarta, 24 Juni 2016


Pembimbing,

Ratna Aryani, S.Kep., Ns., MKep


NIP. 19800416 200501 2 001

LEMBAR PENGESAHAN
Karya Tulis Ilmiah ini dibuat dengan judul Asuhan Keperawatan Pada Tn.A
Yang Mengalami Efusi Pleura e.c Tuberculosis Paru Di Lantai 4 Selatan
Instalasi Teratai Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati Jakarta. ini telah
berhasil dipertahankan di hadapan Tim Penguji dan dinyatakan LULUS pada
Ujian Sidang Karya Tulis Ilmiah Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan
Kementerian Kesehatan Jakarta I.

Penguji I,

Penguji II,

Penguji III,

Mumpuni, SKp., M.Biomed

Ratna Aryani, S.Kep.,Ns.,MKep

NIP. 19710124199903 2 001

NIP.19800416 200501 2 001

Ns.Maryanih, S.Kep
NIP. 196810701990032003

Mengetahui,
Direktur Poltekkes Kemenkes Jakarta 1

Ketua Jurusan Keperawatan

Ani Nuraeni, S.Kp., M.Kes

Ns.Tarwoto, S.Kep., M.Kep

NIP. 196108281984102001

NIP. 197002091995031001

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah tentang Asuhan
Keperawatan Pada Tn.A Yang Mengalami Efusi Pleura e.c Tuberculosis
Paru Di Lantai IV Selatan Instalasi Teratai Rumah Sakit Umum Pusat
Fatmawati Jakarta. Karya Tulis Ilmiah ini disusun dalam rangka untuk
memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan program Diploma III
Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta 1 Jurusan Keperawatan
Dalam menyusun karya tulis ilmiah ini penulis menemukan beberapa
hambatan, akan tetapi berkat bimbingan, pengarahan dan dukungan dari berbagai
pihak, semua hambatan dapat penulis lalui sehingga karya tulis ilmiah dapat
terselesaikan dengan baik.
Pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan terimakasih kepada semua
pihak yang telah memberi bantuan berupa bimbingan, pengarahan dan dukungan
baik moral maupun materi sehingga karya tulis ilmiah ini dapat terselesaikan.
Terima kasih ini penulis ucapkan kepada:

1. Ibu Ani Nuraeni, S.Kp., M.Kes, Selaku Direktur Politeknik Kesehatan


Kementerian Kesehatan Jakarta I.
2. Dr. Andi Wahyuningsih Attas, SpAn, KIC, MARS, Selaku Direktur
Utama RSUP Fatmawati.
3. Bapak Ns. Tarwoto, S.Kep., M.Kep. Selaku Ketua Jurusan Keperawatan
Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta I.
4. Ibu Rospa Hetharia, S.ST., MA.Kes, Selaku Wali Kelas Tahun Angkatan
2013 jurusan Keperawatan
5. Ibu Bara Miradwiyana SKp., MKM. Selaku Dosen Pembimbing
Akademik Jurusan Keperawatan

6. Ibu Ratna Aryani S.Kep., Ns., M.Kep, Selaku Dosen Pembimbing


Penyusunan Laporan Kasus serta Penguji Sidang II Jurusan Keperawatan
Politeknik Kemenkes Jakarta 1.
7. Ibu Mumpuni, SKp., M.Biomed Selaku Dosen Penguji Sidang I Jurusan
Keperawatan Politeknik Kemenkes Jakarta 1.
8. Ibu Ns. Maryanih, S.Kep, Selaku Penguji Sidang III Ujian Akhir Program
dari RSUP Fatmawati Jakarta Selatan
9. Ibu Ii Solihah, S.Kp., MKM, Selaku Koordinaror Ujian Akhir Program
Bagian Praktek dan Bagian Sidang
10. Ibu Ns.Dinny Atin Amanah S.Kep Selaku Panitia Ujian Sidang Jurusan
Keperawatan Tahun 2016
11. Seluruh dosen pengajar beserta staf Jurusan Keperawatan Politeknik
Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta 1
12. Kepala ruangan beserta perawat-perawat Gedung Teratai Lantai IV
Selatan IRNA RSUP Fatmawati yang telah membantu penulis selama
praktik pengambilan kasus
13. Kedua Orangtua tercinta (Musri dan Arja Sawung) yang telah senantiasa
memberikan doa yang tiada hentinya serta memberikan dukungan moral,
spiritual, dan material yang tidak bisa penulis ganti dengan apapun serta
seluruh perjuangan kedua orang tua yang penulis sangat cintai.
14. Kakak kakakku (Abdul Nendra, Prastyo Toto Sumarto, Andi Suwandi,
Asep Somantri) beserta keluarga kecilnya yang tidak bisa penulis tuliskan
satu persatu yang selalu mendukung penulis untuk menyelesaikan program
DIII ini.
15. Teman terbaik (Megiya Permana) yang selalu mendukung, memberikan
doa dan semangatnya sejak awal penulis memasuki perkuliahan di WK
dan terimakasih atas kebaikannya.
16. Sahabat yang selalu mendukung, memberikan motivasi, dan menjaga
pertemanan baik selama ini (Rima Andani, Nuraeni, Mina Widya, Selly
Septi).

17. Sahabat tersayang dan terbaik di kampus WK ana uhibb ya rifaq kepada
(Yusza, Anggiw, Anisa mpus, Anggita, Diana, Dije, Uwi, Mimi, Nisa,
Numuthia, Rachma) yang selalu bersama selama tiga tahun melewati masa
perkuliahan dalam

susah maupun senang dan terimakasih atas

kebersamaannya .
18. TIM KMB (Yusza, Atika, Chairunnisa, Rosalina, Helda) untuk
perjuangan, doa, pengorbanan yang tidak akan terlupakan.
19. Serta teman-teman Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Jakarta I
angkatan XII tahun 2013 yang selalu bersama menyemangati, memotivasi
satu sama lain melewati pengalaman-pengalaman yang tidak akan
terlupakan selama proses perkuliahan.
20. Bapak satpam (Pak.Dadi dkk) yang selalu membantu penulis dalam
mengumpulkan laporan ataupun makalah selama perkuliahan.

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan karya tulis ilmiah ini masih
banyak terdapat kekurangan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran
untuk perbaikan karya tulis ilmiah ini di masa yang akan datang.

Jakarta , Juni 2016

Penulis

DAFTAR ISI

JUDUL
HALAMAN JUDUL................................................................................................i
LEMBARAN PERNYATAAN KEASLIAN PENULISAN.................................ii
LEMBAR PERSETUJUAN DIUJIKAN..............................................................iii
LEMBAR PENGESAHAN....................................................................................iv
KATA PENGANTAR.............................................................................................v
DAFTAR ISI..........................................................................................................viii
DAFTAR GAMBAR...............................................................................................x
DAFTAR TABEL...................................................................................................xi
DAFTAR SKEMA.................................................................................................xii
DAFTAR LAMPIRAN.........................................................................................xiii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...............................................................................................1
B. Tujuan Penulisan............................................................................................2
C. Manfaat Penulisan..........................................................................................3
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Konsep Dasar Tuberkulosis
1. Anatomi Fisiologi Pernapasan................................................................4
2. Definisi Efusi Pleura...............................................................................5
3. Definisi Tuberkulosis..............................................................................6
4. Etiologi Tuberkulosis..............................................................................6

5. Etiologi Efusi Pleura...............................................................................6


6. Manifestasi Efusi Pleura.........................................................................8
7. Pemeriksaan Diagnostik Efusi Pleura....................................................9
8. Pemeriksaan Diagnostik Tuberkulosis....................................................9
9. Komplikasi Tuberkulosis........................................................................10
10. Penatalaksanaan Efusi Pleura.................................................................11
11. Patofisiologi Tuberkulosis......................................................................12
12. Patofisiologi Efusi Pleura.......................................................................12
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan.......................................................................15
2. Diagnosa Keperawatan..........................................................................16
3. Intervensi Keperawatan..........................................................................16
4. Implementasi Keperawatan....................................................................16
5. Evaluasi Keperawatan............................................................................22
BAB III TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian Keperawatan..............................................................................23
B. Diagnosa, Intervensi, Implementasi dan Evaluasi Keperawatan.................26
BAB IV PEMBAHASAN
A. Pengkajian Keperawatan.............................................................................30
B. Diagnosa Keperawatan................................................................................33
C. Intervensi dan Implementasi Keperawatan..................................................34
D. Evaluasi Keperawatan..................................................................................37
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan...................................................................................................39
B. Saran.............................................................................................................41
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR GAMBAR

2.1 Gambar Anatomi Fisiologi paru ..................................................................4


2.1 Gambar Anatomi rongga pleura...................................................................5

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Gambaran Mikroskopik ..................................................................7

DAFTAR SKEMA

Skema 2.1 Patofisiologi Tuberculosis Paru..........................................................13


Skema 2.2 Patofisiologi Efusi Pleura..............................................................14

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Laporan Asuhan Keperawatan


Lampiran 2 Penatalaksanaan Obat OAT
Lampiran 3 Lembar Konsultasi
Lampiran 4 Daftar Riwayat Hidup

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tuberkulosis

adalah

suatu

penyakit

menular

disebabkan

oleh

Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis merupakan infeksi saluran nafas


bawah, yang biasanya ditularkan melalui inhalasi percikan ludah (droplet),
dari satu individu ke individu lainnya (Corwin 2009 h. 545).
Efusi pleura adalah suatu keadaan ketika rongga pleura dipenuhi oleh
cairan (terjadi penumpukan cairan dalam rongga pleura) (Somantri 2012
h.106). Efusi pleura banyak disebabkan oleh penyakit gagal jantung kongestif,
malignansi, dan emboli paru. Prevalensinya di dunia cukup tinggi termasuk di
negara industri, dengan distribusi etiologi berhubungan dengan penyakitnya.
Di Indonesia, tuberkulosis paru merupakan penyebab utama efusi pleura yang
disusul oleh keganasan.
Pada tahun 2013 diperkirakan 9 juta orang mengembangkan TB aktif ,
dengan 1,5 juta kematian disebabkan oleh penyakit tersebut. Menurut
Organisasi Kesehatan Dunia kejadian TB paru di beberapa daerah terdapat
1.000 kasus per 100.000 orang. Sekitar 25 % TB paru menyerang kelenjar
getah bening dan pleura. Terkait TB paru, penyakit efusi pleura terjadi pada
sekitar 2 % sampai 10 % dari pasien TB , dengan perbandingan laki-laki dan
perempuan rasio 2 : 1. Bahkan dengan perawatan rutin , pleuritis tuberkulosis
dapat berkembang ke empiema tuberkulosis , semacam gejala sisa kronis dan
fatal.
Sebagai tenaga kesehatan seorang perawat memiliki peran dan fungsi
untuk mengatasi masalah keperawatan pada klien efusi pleura dan

tuberkulosis paru, yaitu sebagai pemberi asuhan keperawatan, edukator,


kolaborator, fasilitator, dan konselor.
Berdasrkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk membahas kasus
Tuberkulosis paru dengan lebih spesifik untuk mendapatkan gambaran lebih
jelas dengan melakukan Asuhan Keperawatan pada Tn.A dengan Efusi
Pleura et causa Tuberculosis paru yang di rawat di ruang IRNA B Teratai
Lantai IV Selatan RSUP Fatmawati Jakarta.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mampu

mengetahui gambaran pengelolaan asuhan keperawatan pada

klien Tn.A dengan Efusi Pleura e.c Tuberkulosis paru yang dirawat di
ruang IRNA B teratai Lantai IV Selatan Ruang HCU isolasi RSUP
Fatmawati Jakarta.
2. Tujuan Khusus
Memberikan gambaran nyata tentang :
a) Pengkajian pada Tn.A yang mengalami Efusi Pleura.
b) Menegakkan diagnosa keperawatan yang muncul pada Tn.A yang
mengalami Efusi Pleura.
c) Menyusun rencana keperawatan pada Tn.A yang mengalami Efusi
Pleura .
d) Melakukan implementasi keperawatan pada Tn.A yang mengalami
Efusi Pleura .
e) Mengevaluasi hasil akhir pada Tn.A yang mengalami Efusi Pleura .

C. Manfaat Penulisan

Adapun manfaat dari penulisan ini adalah sebagai berikut :


1. Institusi pendidikan keperawatan
Sebagai sumber informasi dan bahan bacaan pada kepustakaan institusi
dalam meningkatkan suatu pendidikan pada masa yang akan datang di
bidang keperawatan.
2. Institusi pelayanan kesehatan
Sebagai masukan bagi perawat pelaksana di unit pelayanan
keperawatan medikal bedah dalam rangka mengambil kebijakan untuk
meningkatkan mutu pelayanan kesehatan khususnya pada klien yang
mengalami masalah Efusi Pleura .

3. Penulis
Sebagai tambahan pengetahuan dan pengalaman bagi penulis dalam
penerapan ilmu yang telah didapatkan selama pendidikan.

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar

1. Anatomi Fisiologi
Sistem pernapasan berperan dalam menjamin ketersediaan oksigen
untuk kelangsungan metabolisme sel-sel tubuh dan pertukaran gas. Salah
satu organ sistem pernafsan yaitu paru-paru, paru-paru terletak di rongga
dada bagian atas, bagian samping di batasi oleh otot dan rusuk sedangkan
bagian bawah di batasi oleh otot diafragma.

Gambar 2.1 Anatomi paru-paru


Paru-paru terbagi menjadi dua yaitu paru kanan yang terdiri dari
tiga lobus terdiri dari bagian atas, tengah dan bawah sedangkan paru-paru
kiri terdiri dari 2 lobus yaitu lobus atas dan bawah. Bagian atas puncak

paru disebut apeks yang menjorok ke atas arah leher dan pada bagian
bawah disebut basal. Paru paru dilapisi oleh selaput pleura.

Gambar 2.2
Anatomi rongga pleura

Selaput bagian dalam yang langsung menyelaputi paru paru dalam


pleura viseralis dan yang menyelimuti rongga dada yang bersebelahan
dengan tulang rusuk disebut pleura parieralis. Antara selaput luar dan
selaput dalam terdapat rongga yang berisi cairan pleura berasal dari
plasma darah yang masuk secara eksudasi. Dinding rongga pleura
bersifat permeable terhadap air dan zat-zat lain. (Tarwoto,2009)

2. Definisi
Efusi pleura adalah akumulasi cairan tidak normal di rongga pleura yang
diakibatkan oleh transudasi atau eksudasi yang berlebihan dari permukaan
pleura. Efusi pleura selalu abnormal dan mengindikasikan terdapat
penyakit yang mendasainya (Khairani, 2012).

Tuberkulosis paru yaitu penyakit infeksius yang menyerang


parenkim paru-paru. Penyakit ini juga dapat menyebar ke organ lain
seperti meningen, ginjal, tulang dan nodus limfe (Somantri 2012, h.67).

3. Etiologi TB Paru
Muttaqin (2014, h.126 ) menjelaskan dalam asuhan keperawatan
system pernafasan bahwa cairan pleura terbentuk 3 jenis ,yaitu :
a. Transudat dapat disebabkan oleh kegagalan jantung kongestif (gagal
jantung kiri), sindrom nefrotik, asites (oleh karena sirosis hepatis),
sindrom vena kava superior, tumor, dan sindrom meigs
b. Eksudat disebabkan oleh infeksi, TB pneumonia, tumor, infrak paru,
radiasi, dan penyakit kolagen
c. Efusi hermoragi dapat disebabkan oleh adanya tumor, trauma, infrak paru,
dan tuberkulosis.

Dalam keadaan normal seharusnya tidak ada rongga kosong antara


kedua pleura tersebut, karena biasanya ditempat ini hanya terdapat sedikit
(10-20cc) cairan yang merupakan lapisan tipis serosa dan selalu bergerak
secara teratur. Cairan yang sedikit ini sebagai pelumas antara kedua
pleura, sehingga memudahkan pleura tersebut bergeser satu sama lain
(Somantri 2012, h.108).
Menurut Perhimpunan Doktor Paru Indonesia menyampaiakn salah
satu etiologi efusi pleura yaitu didapatkan dari pemeriksaan komposisi
selular cairan pleura. Efusi pleura disertai darah yang tampak dengan mata
telanjang (kadar eritrosit >100.000/mm3 disebabkan oleh trauma, infark
pulmonal atau keganasan. Pemeriksaan lain bisa dilihat pada tabel di
bawah ini.

Tabel 2.1
gambaran mikroskopik
Pemeriksaan

Nilai

Kondisi yang biasanya berkaitan

abnormal
Jumlah

Eritrosit > 100.000

Malignansi, trauma, emboli pulmonary

Leukosit > 10.000

Infeksi pyogenik

(/mm3)
Jumlah
(/mm3)

Neutrofil (%)

> 50

Pleuritis akut

Limfosit

> 90

Tuberkulosis, keganasan

Eosinofilia

> 10

Asbestos effusion, pneumotoraks, sembuh


dari infeksi

Nihil

Tuberkulosis

Protein (CP/S)*

> 0,5

Eksudat

LDH (CP/S)

> 0,6

Eksudat

LDH (IU)**

> 200

Eksudat

Glukosa (mg/dl)

< 60

Empyema,

Sel mesotelial

Tuberkulosis,

malignansi,

rheumatoid arthritis
Ph

< 7,20

Efusi parapneumonik dengan komplikasi,


empyena, ruptur oesofagus, tuberculosis,
kganasan, rheumatoid arthritis

Amilase (CP/S)

> 1

Pankreatitis

Bakteriologik

Positif

Disebabkan infeksi

Sitologi

Positif

Diagnosis malignansi

*CP/P = rasio kadar dalam cairan pleura dibandingkan dengan dalam serum
**IU = kadar dalam International Units

4. Manifestasi Klinis Efusi Pleura


Manifestasi klinisnya adalah yang disebabkan penyakit dasar seperti
pneumonia, Tuberculosis paru dll. Efusi pleura yang luas akan
menyebabkan sesak nafas. Area

yang mengandung cairan atau

menunjukkan bunyi napas minimal atau tidak sama sekali menghasilkan


bunyi datar, pekak saat diperkusi. Deviasi trakea menjauhi tempat yang
sakit dapat terjadi jika penumpukan cairan pleural yang signifikan. Bila
terjadi efusi pleural kecil sampai sedang, dipsnea mungkin saja tidak
terdapat. Berikut tanda dan gejala:
1. Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena
pergesekan, setelah cairan cukup banyak rasa sakit hilang. Bila cairan
banyak, penderita akan sesak napas.
2. Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam, menggigil,
dan nyeri dada pleuritis (pneumonia), panas tinggi (kokus), subfebril
(tuberkulosis), banyak keringat, batuk dan banyak dahak.
3. Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika
terjadi penumpukan cairan pleural yang signifikan.
4.

Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan

berlainan, karena cairan akan berpindah tempat. Bagian yang sakit


akan kurang bergerak dalam pernapasan, fremitus melemah (raba dan
vocal), pada perkusi didapati daerah pekak, dalam keadaan duduk
permukaan cairan membentuk garis melengkung (garis Ellis
Damoiseu).
5. Didapati segitiga Garland, yaitu daerah yang pada perkusi redup
timpani dibagian atas garis Ellis Domiseu. Segitiga Grocco-Rochfusz,
yaitu daerah pekak karena cairan mendorong mediastinum kesisi lain,
pada auskultasi daerah ini didapati vesikuler melemah dengan ronki.

5. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diadnostik pada Efusi Pleura menurut Muttaqin,2014
a. Efusi pleura
1) Pemeriksaan diagnostic
Pada Fluoroskopi maupun foto thoraks PA cairan yang kurang dari
300 cc tidak terlihat. Pada Efusi pleura subpulmonal, meskipun
cairan pleura lebih dari 300cc, frenicocostalis tampak tumpul dan
diagfragma

kelihatan

meninggi.

Pemeriksaan

foto

thoraks

diperlukan sebagai monitor atas intervensi yang diberikan dimana


keadaan keluhan klinis yang membaik dapat lebih dipastikan
dengan penunjang foto thoraks.
2) Biopsy pleura
Biopsy ini berguna untuk mengambil spesimen jaringan pleura
melalui biopsy jalur perkutaneus. Biopsy ini dilakukan untuk
mengetahui adanya sel-sel ganas atau kuman-kuman penyakit
(biasanya kasus pleurisy tuberculosa dan tumor pleura)
3) Pengukuran fungsi paru (Spipometri)
Penurunan kapasitas vital, peningkatan rasio udara residual ke
kapasitas total paru, dan penyakit pleural pada tuberculosis kronis
tahap lanjut
4) Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratoriun yang spesifik adalah dengan memeriksa
cairan pleura agar dapat menunjang intervensi selanjutnya.

b. Tuberculosis Paru
Menurut Price (2012, h.854) dalam melakukan pemeriksaan
diagnostik TB paru ada beberapa macam yaitu :
1) Tes Tuberkulin Intradermal (Mantoux)

Digunakan

untuk

mendeteksi

invasi

dan

berkembangnya

Mycobacterium tuberculosa. Caranya yaitu dengan menyuntikan


Purified Protein Derivate (PPD) secara intradermal.
2) Vaksinasi BCG
Bacille Calmette Guerin (BCG) yaitu vaksin yang biasanya
menimbulkam sensitivitas terhadap tes tuberkulin. Pada vaksin
BCG, organisme ini disuntikan ke kulit berkapur, berdinding dan
berbatas tegas.
3) Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi seringkali memperlihatkan adanya TB,
tetapi untuk mendiagnosis TB Paru bukan hanya pemeriksaan ini
saja.

Pemmeriksaan

radiologi

ini

dapat

terlihat

adanya

pembentukan kavitas dan gambaran penyakit yang menyebar dan


biasanya bilateral.
4) Pemeriksaan bakteriologik
Pemeriksaan yang paling penting yaitu sputum, sediaan yang
positif memberikan petunjuk awal untuk menegakan diaganosis ,
tetapi suatu sediaan yang negatif tidak menutup kemungkinan
adanya infeksi penyakit yang lain.

6. Komplikasi TB Paru
Adapun komplikasi yang diakibatkan oleh TB paru menurut
Mayon(2008) terbagi menjadi dua yaitu :
a. Akut : gagal napas, hemoptisis (kadang masif), efusi pleura,
empiema, efusi perikardial, laringitis.
b. Kronik : fibrosis paru, aspergiloma
7. Penatalaksanaan
a. Efusi pleura

Pengelolaan efusi pleura ditujukan untuk pengobatan penyakit


dasar dan pengosongan cairan (thorakosentesis). Indikasi untuk
melakukan thorakosintesis adalah
1) Menghilangkan sesak nafas yang disebabkan oleh akumulasi
cairan dalam rongga pleura
2) Bila terapi spesifik pada penyakit primer tidak efektif atau
gagal
3) Bila terjadi reakumulasi cairan
Pengambilan pertama cairan pleura, tidak boleh lebih dari 1000cc,
karena pengambilan cairan pleura dalam waktu singkat dapat
menimbulkan edema paru yang ditandaidengan batuk dan sesak.
Kerugian thorakosintesis adalah :
1) Dapat menyebabkan kehilangan protein yang ada di dalam
cairan pleura
2) Dapat menimbulkan infeksi di rongga pleura
3) Dapat terjadi pneumothoraks

b. Tuberculosis paru
Menurut Sumantri (2009, h.71) penatalakasanaan yang bisa diberikan
pada penderita TB Paru berupa metode preventif dan kuratif yang
meliputi cara-cara seperti berikut ini :
1) Penyuluhan
2) Pencegahan
3) Pemberian obat-obatan (OAT)
4) Fisioterapi dan rehabilitasi, dan konsultasi secara teratur.

8. Patofisiologi
Menurut Mutaqqin (2008, h.87) Seseorang yang mengalami
tuberkulosis paru ketika batuk, bersin atau berbicara maka s\ecara tidak

sengaja keluar kuman Mycobacterium tuberculosa. Apabila terhisap oleh


orang yang sehat, maka orang tersebut berpotensi terkena infeksi . Bakteri
yang terhisap masuk ke saluran pernapasan, infeksi dapat menyebar ke
organ lain melalui berbagai jalan yaitu, percabangan bronkus, sistem
saluran limfe, aliran darah kemudian bakteri menjadi dorman sehingga
bakteri muncul beberapa tahun kemudian jika daya tahan tubuh penderita
melemah. Ia bisa sembuh dengan fibrotik atau inflamasi yang membentuk
kavitas dan akan merusak parenkim paru yang kemudian dapat terjadi
edema trakea/faring, peningkatan produksi sekret, pecahnya pembuluh
darah pada jalan nafas (batuk produktif), sesak napas dan penurunan
kemampuan batuk efektif. Apabila terjadi penurunan jaringan efektif paru,
atelektasis, kerusakan membran alveolar-kapiler, merusak pleura dan
perubahan cairan intrapleura maka. akan mengakibatkan komplikasi
tuberkulosis paru yaitu efusi pleura.
Patofisiologi

terjadinya

Efusi

pleura

bergantung

pada

keseimbangan antara cairan dan protein dalam rongga pleura. Dalam


keadaan normal cairan pleura dibentuk secara lambatsebagai filtrasi
melalui pembuluh darah kapiler. Filtrasi ini terjadi karena perbedaan
tekanan osmotik plasma dan jaringan interstisial submesotelial, kemudian
melalui sel mesotelial masuk ke dalam rongga pleura. Efusi yang
berhubungan dengan pleuritis disebabkan oleh peningkatan permeabilitas
pleura parietalis sekunder terhadap peradangan atau adanya neoplasma.
Luas efusi pleura yang mengancam volume paru, sebagian akan
bergantung pada kekakuan relatif paru dan dinding dada. Pada volume
paru dalam batas pernapasan normal, dinding dada cenderung rekoil ke
luar sementara paru-paru cenderung rekoil ke dalam.

Skema 2.1
Patofisiologi TB Paru (Sumber : Muttaqin, Arif, 2008, h. 89 )

Skema 2.2
Patofisiologi Efusi pleura
skema 2.2

patofisiologi Efusi pleura

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian
Berdasarkan Doengoes (2012, h.240) pengkajian tuberkulosis paru yaitu:
a. Aktivitas/istirahat
Gejala : Kelelahan umum dan keletihan, nafas pendek karena kerja,
kesulitan tidur pada malam hari atau demam malam hari, menggigil
dan berkeringat, menggigil dan berkeringat.
Tanda : Takikardi, takipnea/dispnea, kelelahan otot, nyeri dan sesak.
b. Makanan/cairan
Gejala : Kehilangan nafsu makan, tidak dapat mencerna, penurunan
berat badan.
Tanda : Turgor kulit buruk, kering/bersisik, kehilangan otot/hilang
lemak subkutan
c. Nyeri/kenyamanan
Gejala : nyeri dada meningkat karena batuk berulang
Tanda : Berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi, gelisah
d. Pernafasan
Gejala : Batuk, produktif atau tidak produktif, nafas pendek, riwayat
tuberkulosis/terpajan pada individu terinfeksi
Tanda: Peningkatan frekuensi pernafasan , pengembangan pernafasan
tak simetris(efusi pleura), perkusi pekak dan penurunan taktil fremitus
(cairan pleura atau penebalan pleura), bunyi nafas menurun, inspirasi
cepat setelah batuk pendek, karakteristik sputum : hijau/purulen atau
bercak darah.
e. Keamanan
Gejala : Adanya kondisi penekanan imun, contoh : AIDS, kanker, tes
HIV positif
Tanda: Demam rendah atau sakit panas akut
f. Interaksi sosial
Gejala : Perasaan isolasi/penolakan karena penyakit menular,
perubahan pola biasa dalam tanggung jawab/perubahan kapasitas fisik
untuk melakukan peran

g. Penyuluhan / pembelajaran
Gejala : riwayat keluarga TB, ketidakmampuan umum/status kesehatan
buruk, gagal untuk membaik/kambuhnya TB, tidak berpartisipasi
dalam terapi

2. Diagnosa Keperawatan
Menurut Doengoes(2012, h.242) diagnosa keperawatan yang dirumuskan
yaitu :
a. Resiko infeksi (penyebaran/aktivasi berulang) berhubungan dengan
pertahan primer tidak adekuat, penekanan proses inflamasi
b. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan secret
kental, kelemahan batuk
c. Resiko tinggi kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan
penurunan permukaan efektif paru
d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan kelemahan, sering batuk/produksi sputum, anoreksia.
e. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, aturan tindakan dan
pencegahan berhubungan dengan kurang terpajan informasi, salah
interpretasi informasi, keterbatasan kognitiff.

3. Intervensi Keperawatan
a. Risiko infeksi (penyebaran/aktivasi berulang)

berhubungan dengan

pertahan primer tidak adekuat, penekanan proses inflamasi


Intervensi mandiri
1) Kaji patologi penyakit dan penyebaran infeksi melalui batuk,
bersin
Rasional : Membantu pasien agar mau mengerti dan menerima
terapi yang diberikan untuk mencegah komplikasi
2) Identifikasi orang lain yang beresiko terhadap anggota
keluarga,teman

Rasional : Orang-orang yang terpajan ini perlu program terapi


obat untuk mencegah terjadinya penyakit
3) Anjurkan pasien menutup mulut dan membuang dahak di tempat
penampungan yang tertutup jika batuk
Rasional : Kebiasaan ini untuk mencegah terjadinya penularan
infeksi
4) Kaji tindakan kontrol infeksi sementara (masker)
Rasional : Dapat membantu menurunkan rasa terisolasi pasien
5) Monitor temperatur suhu
Rasional : Febris merupakan indikasi terjadinya infeksi
6) Identifikasi faktor resiko individu terhadap pengaktifan berulang
tuberkulosis
Rasional : Pengetahuan tentang faktor ini membantu pasien
untuk

mengubah

pola

hidup

dan

menghindari

insiden

tuberkulosis
7) Motivasi untuk rutin minum OAT,anjurkan tidak mengehentikan
terapi
Rasional : Resisten obat dapat terjadi jika penghentian terapi
sebelum waktunya
Kolaborasi :
8) Pemberian OAT sesuai instruksi dokter
Rasional: Obat pilihan bagi Tuberculosis paru
9) Monitor sputum BTA
Rasional : Pasien yang 3 usapan negatif (3-5 bulan) perlu
mentaati program obat.

b. Ketidakefektifan

bersihan

jalan

napas

berhubungan

dengan

bronkospasme
Intervensi mandiri :
1) Kaji fungsi pernafasan : bunyi nafas, kecepatan, irama, kedalaman
dan penggunaan otot aksesoris

Rasional : Penurunan bunyi nafas dapat menunjukan atelektasis,


ronkhi indikasi akumulasi sekret/ketidakmampuan membersihkan
jalan nafas, sehingga otot aksesoris di gunakan dan kerja pernafsan
meningkat.
2) Catat kemampuan dalam mengeluarkan mukosa/batuk efektif, catat
karakter, jumlah sputum, adanya haemoptisis
Rasional : Pengeluaran sangat sulit bila sekret sangat tebal. Sputum
berdarah kental atau darah cerah diakibatkan oleh kerusakan
(kavitasi) paru atau luka bronkial dan dapat memerlukan
evaluasi/intervensi lanjut.
3) Beri pasien posisi semi atau fowler, bantu pasien untuk latihan nafas
dalam dan batuk efektif.
Rasional : Posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan
menurunkan upaya pernafasan. Ventilasi maksimal membuka area
atelektasis dan meningkatkan gerakan sekret ke dalam jalan nafas
besar untuk di keluarkan.
4) Bersihkan sekret dari mulut dan trakea, penghisapan sesuai
keperluan
Rasional : Mencegah obstruksi/aspirasi. Penghisapan dapat dapat
diperlukan bila pasien tak mampu mengeluarkan sekret.
5) Pertahankan masukan cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali
kontraindikasi
Rasional : Pemasukan tinggi cairan membantu untuk mengencerkan
sekret, dan mudah dikeluarkan
Kolaborasi
6) Berikan obat-obatan sesuai indikasi: Agen mukolitik,contoh
asetilsisten

(Mucomyst),

Bronkodilator,

contoh

okstrifillin

(Choledyl), teofilin kortikosteroid (prednison)


Rasional : Agen mukolitik menurunkan kekentalan dan perlengketan
sekret paru untuk memudahkan pembersihan.

Bronkodilator

meningkatkan

ukuran

lumen

percabangan

trakeobronkial, sehingga menurunkan tahanan terhadap aliran udara.


Berguna pada adanya keterlibatan luas dengan hipoksekmia dan bila
respon inflamasi mengancam hidup.
7) Periksa BTA
Rasional : Mengetahui kemajuan penyakit
8) Bersiap untuk membantu intubasi darurat
Rasional : Intubasi diperlukan pada kasus jarang bronkogenik TB
dengan edema laring atau perdarahan paru akut.

c. Resiko tinggi kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan


permukaan efektif paru
Intervensi mandiri
1) observasi dispnea, takipnea, bunyi pernapasn abnormal.
Rasional : Tuberculosis paru dapat menyebabkan meluasnya
jangkauan dalam paru yang berasal dari bronkopneumonia yang
meluas menjadi inflamasi, nekrosis, efusi pleura dan meluasnya
fibrosis dengan gejala-gejala respirasi distress
2) observasi tanda-tanda sianosis dan perubahan warna kulit
Rasional : Akumulasi sekret dapat menangkap oksigenasi di organ
vital dan jaringan
3) Anjurkan bernapas bibir selama ekspirasi
Rasional : Membuat tahanan melawan udara luar, untuk mencegah
kolaps/penyempitan

jalan

napas,

sehingga

membantu

menyebarkan udara melalui paru dan menurunkan napas pendek


4) Tingkatkan tirah baring/batasi aktivitas
Rasional :

Menurunkan konsumsi oksigen selama periode

penurunan pernapasan dapat menurunkan beratnya gejala


Kolaborasi :
5) Monitor AGD

Rasional

Menurunnya

kandungan

oksigen

(PaO2)atau

meningkatnya PaCO2 menunjukkan kebutuhan untuk intervensi


perubahan program terapi
6) Beri oksigen tambahan yang sesuai
Rasional : Untuk membantu memperbaiki hipoksemia yang dapat
terjadi terhadap penurunan ventilasi/menurunnya permukaan
alveolar paru

d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


kelemahan, sering batuk/produksi sputum, anoreksia.
Intervensi mandiri :
1) Observasi turgor kulit, timbang berat badan, integritas mukosa
mulu
Rasional : Berguna mendefinisikan derajat masalah dan intervensi
yang tepat
2) Pastikan pola diet yang di sukai pasien
Rasional : Membantu dalam mengidentifikasi kebutuhan khusus,
dan memperbaiki masukan diet
3) Awasi masukan / pengeluaran dan berat badan secara periodik
Rasional : Berguna dalam mengukur keefektifan nutrisi dan
dukungan cairan
4) Observasi adanya anoreksia
Rasional : Dapat mempengaruhi pilihan diet dan mengidentifikasi
area pemecahan masalah untuk meningkatkan nutrien
5) Berikan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernafasan
Rasional : Menurunkan rasa tidak enak karena sisa sputum atau
obat untuk pengobatan respirasi yang merangsang pusat muntah
6) Anjurkan makan sedikit tapi sering
Rasional : Memaksimalkan masukan nutrisi tanpa kelemahan yang
tak perlu
7) Monitor intake output secara periodic

Rasional : Mengukur keefektifan nutrisi dan cairan


8) Ukur TSF, MAC, IMT, BB ideal dan timbang berat badan
Rasional : Mengetahui perkembangan status nutrisi
Kolaborasi
9) Rujuk ke ahli gizi untuk menentukan komposisi diit
Rasional : Memberikan bantuan dalam perencanaan diit dengan
nutrisi adekuat untuk kebutuhan metabolic dan diit
10) Awasi pemeriksaan laboratorium (BUN, Protein serum, dan
albumin)
Rasional : Nilai rendah menunjukan malnutrisi dan perubahan
program terapi

e. Kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, pencegahan


berhubungan dengan tidak ada yang menerangkan, interpretasi yang
salah, terbatasnya pengetahuan/kognitif
Intervensi mandiri :
1) Observasi kemampuan belajar pasien
Rasional : Kemampuan belajar berkaitan dengan keadaan emosi
dan kesiapan fisik.
2) Identifikasi gejala yang harus dilaporkan ke perawat (hemoptisis,
nyeri dada, kesulitan bernafas,demam, kehilangan pendengaran,
vertigo)
Rasional : dapat menunjukan kemajuan atau pengaktifan ulang
penyakit atau efek obat yang memerlukan evaluasi lanjut.
3) Tekankan pentingnya menjaga protein tinggi dan diet karbohidrat
Rasional

memnuhi

kebutuhan

metabolik

membantu

meminimalkan kelemahan dan meningkatkan penyembuhan


4) Jelaskan dosis obat, frekuensi pemberian, dan alasan pengobatan
lama
Rasional : meningkatkan kerja sama dalam program pengobatan
dan mencegah penghentian obat sesuai perbaikan kondisi pasien

5) Kaji potensi efek samping pengobatan (mulut kering, konstipasi,


gangguan penglihatan, sakit kepala)
Rasional : mencegah menurunkan ketidaknyamanan sehubungan
dengan terapi
6) Tekankan kebutuhan untuk tidak minum alkohol saat minum INH
Rasional : kombinasi INH dan alkohol telah menunjukan
peningkatan insiden hepatitis
7) Rujuk untuk pemeriksaan mata setelah memulai dan kemudian tiap
bulan selama minum etambutol
Rasional : efek samping utama menurunkan penglihatan
8) Anjurkan untuk tidak merokok
Rasional : meskipun tidak merangsang berulangnya TB, tapi
meningkatkan disfungsi pernapasan.
9) Kaji bagaimana TB ditularkan
Rasional : pengetahuan dapat menurunkan risiko penularan atau
reaktivasi ulang.

4. Evaluasi Keperawatan
a. Infeksi tidak menjadi aktual.
b. Bersihan jalan napas menjadi efektif.
c. Pertukaran gas tidak terganggu.
d. Nutrisi tubuh seimbang.
e. Pengetahuan pemahaman tentang penyakit bertambah

BAB III
TINJAUAN KASUS

Pada Bab ini penulis akan menguraikan Asuhan Keperawatan


Pada Tn.A dengan Efusi Pleura e.c Tuberculosis Paru yang di rawat di
ruang IRNA B Teratai Lantai IV selatan RSUP Fatmawati Jakarta :
Asuhan Keperawatan yang dilaksanakan selama 3 hari sejak tanggal
30 mei 2016 sampai 1 juni 2016, yang disusun berdasarkan tahapan
proses keperawatan yang meliputi : pengkajian keperawatan, Diagnosa
keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi keperawatan, dan
evaluasi keperawatan .

A. Pengkajian Keperawatan

Nama klien Tn.A (55 tahun) berjenis kelamin laki-laki status


perkawinan sudah menikah, agama Islam, pendidikan terakhir SLTP,
dan pekerjaan klien yaitu berjualan tanaman hias. Klien dirawat mulai
dari tanggal 28 mei 2016 dengan diagnosa medis Tuberkulosis paru.
Klien datang melalui IGD RS Fatmawati dengan keluhan sesak, kepala
pusing, dan paru terasa panas. Timbulnya keluhan secara mendadak
faktor pencetus jika klien merubah posisi lamanya keluhan 10 menit
dan akan berkurang jika klien istirahat. Klien mengatakan awalnya
klien mengalami sesak saat bicara dan beraktivitas, lalu klien merasa
sesak nafas dan di bawa ke RS Sari Asih lalu di lakukan torakosentesis
pada dada kanan cairan berwarna putih kekuningan. Keluhan di sertai
batuk berdahak warna kuning kehijauan kental sejak dua minggu yang
lalu. Demam naik turun sejak 1 minggu yang lalu.
Riwayat batuk darah bercampur dahak sejak juli 2014 , lalu klien
minum OAT (lepasan) selama 2 minggu, klien berhenti karena gatalgatal putus obat selama kurang dari 2 bulan. Kemudian pada bulan
januari 2016 klien mendapat obat dari puskesmas FDC untuk 8 bulan
dan tidak terdapat keluhan . Klien riwayat pemasangan WSD pada
bulan Maret 2016 di RS Fatmawati.

Saat dilakukan pemeriksaan fisik didapatkan data kesadaran compos


mentis, tekanan darah 123/88 mmHg, nadi 107x/menit, irama ireguler,
nadi teraba kuat dan suhu klien 36C, pernafasan 28x/menit, saturasi
O2 100%. Berat badan klien sebelum sakit 62 kg, BB saat ini 46 kg
klien mengalami penurunan berat badan sebanyak 16 kg, tinggi badan
160 cm, saat di inspeksi konjungtiva anemis, sklera anikterik, pupil
isokor, tidak ada pembesaran kelenjar getah bening, jalan nafas ada
sumbatan, warna kulit kecokelatan, area kulit tidak ada jejas, ada luka
post pemasangan selang WSD di ICS 5-6, pengembangan dinding dada
asimetris, bentuk dada normal, menggunakan otot bantu pernapasan,
frekuensi 28x/menit, irama teratur, kedalaman dangkal, batuk
mengeluarkan

sekret

warna

kuning

konsistensi

kental,

klien

menggunakan therapi oksigen nasal kanul 4 lpm. Saat dipalpasi kulit


teraba hangat, tidak ada nyeri tekan saat di palpasi, taktil fremitus paru
bagian kiri lebih bergetar di banding paru sebelah kanan di posterior,
pengembangan

paru

kanan

kurang

maksimal,

pengembangan

diafragma 1 cm saat inspirasi. Saat di perkusi terdapat bunyi resonan di


kedua lapang paru anterior dan posterior, tidak ada nyeri ketuk. Saat di
auskultasi terdengar bunyi wheezing di paru kanan kiri posterior.

Hasil pemeriksaan diagnostik pada tanggal 28 mei 2016 Hemoglobin


12,2g/dl ( N : 13,2-17,3), Hematokri37% (33-45), Leukosit
11,7ribu/ul ( N:5,0-10,0), Trombosit 328ribu/ul ( N : 150-440) ,
Eritrosit 4,40juta/ul (N : 4,40-5,90), VER 83,3fl (N : 80,0-100,0), HER
27,8pg ( N : 26,0-34,0), KHER 33,4Gg/dl (N : 32,0-36,0), RDW
16,8% (N : 11,5-14,5) , SGOT 26u/l (N : 0-34) , SGPT 19U/l (N : 040) , Ureum darah 19Mg/dl (N : 20-40), kreatinin darah 0,5Mg/dl
(N : 0,6-1,5) , glukosa darah sewaktu 74Mg/dl (N : 70-140), pH 7,35
(N:7,370-7,440),PCO2 67,2mmHg (N:35,0-45,0), PO2 146,3mmHg
(83,0-108,0), BP 760,0mmHg, HCO 339,0mmol/L (N : 21,028,0),Saturasi O2 98,7% (N:95,0-99,0), BE 10,8 mmol/L (N : -2,5

2,5), total CO2 41,1Mmol/L (N : 19,0-24,0), natrium 136Mmol/L


(N:135-147), Kalium 2,75Mmol/L (N : 3,10-5,10), Klorida 91
Mmol/L (N : 95-108).
Pada tanggal 23 Maret 2016 Hasil pemeriksaan BTA nanah lendir pada
pagi hari positif, nanah lendir sewaktu hasilnya positif , pemeriksaan
nanah lendir pagi negatif. Pemeriksaan biakan mikoorganisme
menggunakan bahan sputum dengan hasil pembiakan Acinetobacter
baumanii yaitu suatu bakteri gram-negatif yang dapat menyebabkan
infeksi nosokomial pada manusia, bakteri ini resisten terhadap
antibiotik. Pemeriksaan mikroskopik : sel epitel 3-5 , leukosit 18-24
ribu/ul .

Pemeriksaan radiologi pada tanggal 28 mei 2016 didapatkan hasil


kesimpulan Fibroinfiltrat di lapangan atas kedua paru dan infiltrat di
kedua paru yang tervisualisasi tampak perselubungan. Pemeriksaan
USG Thorak pada tanggal 31 mei 2016 kesimpulan USG Thorax
bilateral. Paru kanan terdapat efusi pleura berseptasi, tidak diberi
marker . Paru kiri tidak tampak efusi pleura .

Penatalaksanaan medis yang diberikan pada klien yaitu terapi cairan


Nacl 0,9% 500cc + KCl 25 mEq/12 jam 14 tpm, Dextrose 5% + 2 ml
Bricasma 50cc/24 jam on siringe pump 2cc/jam. Klien mendapat terapi
diet TKTP 1700 kalori/hari. Terapi farmakologis yang didapatkan oleh
Tn.A yaitu Ambroxol 3 x 30 mg PO (jam 07.00, jam 12.00, jam 18.00)
, Salbutamol 3 x 2 mg PO (jam 07.00, jam 12.00, jam 18.00) , KSR 2 x
600 mg PO ( jam 07.00, jam 18.00), Rifampisin 1 x 450 mg PO ( jam
06.00 ) , INH 1 x 300 mg PO ( jam 06.00 ), Metilprednison 2 x 62,5
mg via IV bolus (jam 10.00, jam 22.00), Ranitidin 2 x 1 mg IV (jam
10.00, jam 22.00), Levofloxacin 1 x 750 mg IV (jam 10.00) , terapi
inhalasi Barotec : Bisolvon : Nacl 0,9% ( 1 cc : 1 cc : 1 cc) setiap
3x/hari (jam 07.00, jam 12.00, jam 18.00) selama 15 menit.

B. Diagnosa,

Perencanaan,

Implementasi

dan

Evaluasi

Keperawatan
Berdasarkan hasil pengkajian keperawatan yang telah dilakukan pada
Tn.A tanggal 30 mei 2016 1 juni 2016 dapat dirumuskan 3 masalah
keperawatan, berikut ini penulis uraikan sesuai dengan prioritas
masalah

pasien

yaitu

ketidakefektifan

bersihan

jalan

nafas,

ketidakefektifan pola pernafasan dan gangguan pertukaran gas.

1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan


menumpuknya sekret
Data yang mendukung diagnosa tersebut adalah sebagai berikut
Data subjektif : Klien mengeluh batuk dahak, kental, berwarna
kuning. Data Objektif : Sputum kental berwarna putih
kekuningan, klien terlihat lemah, klien tidak bisa melakukan batuk
efektif.
Berdasarkan diagnosa tersebut maka dibuat perencanaan
keperawatan dengan tujuan, kriteria hasil, dan intervensi sebagai
berikut : Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
3 x 24 jam klien akan menunjukan jalan nafas yang efektif.
Kriteria hasil : RR 16-20 x/menit, suara nafas vesikuler, dapat
melakukan tarik nafas dalam dan batuk efektif, sekret berkurang
atau tidak ada. Intervensi dengan tindakan mandiri observasi
frekuensi nafas, irama, kedalaman, penggunaan otot bantu nafas,
suara nafas, lakukan ausukultasi suara paru, ajarkan tarik nafas
dalam dan batuk efektif, beri cairan 1500 ml/hari (air hangat).
Intervensi dengan tindakan kolaborasi Beri obat ambroxol 30
mg sesuai dosis, Periksa BTA, Beri nebulizer bisolvon dan barotec
3x/hari. Implementasi keperawatan yang telah dilakukan dari
tanggal 30/05/16 sampai 01/06/16 yaitu mengobservasi frekuensi
nafas, irama, kedalaman, penggunaan otot bantu nafas, suara nafas,

melakukan auskultasi suara paru, mengajarkan tarik nafas dalam


dan batuk efektif, berkolabirasi dalam pemberian obat ambroxol 30
mg sesuai dosis, melakukan pemeriksaan BTA, berkolaborasi
dalam pemberian terapi nebulizer dengan bisolvon dan barotec
3x/hari. Evaluasi Keperawatan dari tanggal 30/05/16-01/06/16
yaitu data subjektif : Klien mengatakan masih batuk dan sudah
bisa mengeluarkan dahaknya dan data objektif
(+),

klien

mampu

batuk

efektif

batuk (+) sekret

Analisa

masalah

ketidakefektifan bersihan jalan nafas belum teratasi sehingga


planning : Lanjutkan intervensi diagnosa ketidakefektifan bersihan
jalan nafas .

2. Ketidakefektifan

pola

napas

berhubungan

dengan

penurunan ekspansi paru


Data yang mendukung diagnosa tersebut yaitu data subjektif :
Klien mengatakan sesak jika banyak bergerak atau merubah posisi
dan data objektif : RR : 28x/menit, irama teratur, nafas dangkal,
pola napas dypsnea, tachypnea, menggunakan otot bantu
pernafasan, taktil fremitus pada paru kiri lebih jelas getarannya
dibanding dengan paru kanan, posisi saat dilakukan pengkajian
ortopneu .
Berdasarkan diagnosa tersebut maka dibuat perencanaan
keperawatan dengan tujuan, kriteria hasil, dan intervensi sebagai
berikut : Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
3 x 24 jam klien akan menunjukan pola nafas yang efektif.
Kriteria hasil : RR 16-20 X/menit, sesak nafas klien berkurang
atau tidak ada, klien mampu nafas dalam dan batuk efektif, nyaman
dengan posisinya . Intervensi mandiri : observasi pola pernafasan,
irama pernafasan, beri posisi fowler atau semifowler, anjurkan
klien untuk nafas dalam dan batuk efektif. Intervensi kolaborasi :
Beri therapi oksigen tambahan nasal kanul 4lpm,

Beri obat

bricasma 1 ml dan D5% . Implementasi keperawatan yang telah


dilakukan

dari

tanggal

30/05/16

sampai

01/06/16

yaitu

mengobservasi pola pernafasan, irama pernafasan, memberi posisi


fowler atau semifowler, menganjurkan klien untuk nafas dalam dan
batuk efektif, berkolaborasi dalam pemberian therapi oksigen
tambahan nasal kanul 4lpm, berkolaborasi dalam pemberian obat
bricasma 1 ml dan D5%. Evaluasi keperawatan dari tanggal
30/05/16 sampai 01/06/16 yaitu data subjektif : klien mengatakan
sesak kadang timbul atau bahkan berkurang dan data objektif :
pernafasan 25x/menit , irama teratur, nafas dangkal, dyspnea(-),
tacypnea(-). Analisa : Masalah ketidakefektipan pola pernafasan
belum teratasi sehingga planning : Lanjutkan intervensi

3. Gangguan

pertukaran

gas

berhubungan

dengan

Ketidakseimbangan perfusi ventilasi


Data yang mendukung diagnosa tersebut adalah sebagai berikut
Data subjektif : Klien mengatakan sesak. Data Objektif :
klien terlihat lemah, TD : 123/88 mmHg, RR : 28x/menit, N :
107x/menit, S :36C SaO2: 100% , hasil Analisa Gas Darah pH
: 7,304, PCO2 : 83,2, HCO3 : 40,4 .

Berdasarkan diagnosa tersebut maka di buat perencanaan


keperawatan dengan tujuan, kriteria hasil, dan intervensi
sebagai berikut : Tujuan : Setelah di lakukan tindakan
keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan pertukaran gas
klien tidak terganggu. Kriteria hasil :

peningkatan ventilasi

dan oksigenasi yang adekuat, mampu batuk efektif dan suara


napas yang bersih,

mampu mengeluarkan sputum, mampu

bernapas dengan mudah, AGD dalam batas normal. Intervensi


mandiri : observasi kedalaman, irama nafas, penggunaan otot
bantu tambahan,observasi suara napas, observasi pola napas,

auskultasi suara napas. Intervensi kolaborasi : pemeriksaan


darah arteri. Implementasi keperawatan : mengobservasi
kedalaman, irama nafas, penggunaan otot bantu tambahan,
mengobservasi suara napas, mengobservasi pola napas,
mengauskultasi suara napas, melakukan pemeriksaan AGD .
Evaluasi keperawatan dari tanggal 30/05/16-01/06/16 yaitu
data subjektif : Sesak kadang timbul atau bahkan berkurang
dan data objektif : pernafasan 25x/menit , irama teratur, nafas
dangkal, dyspnea(-), tacypnea (-), pemeriksaan AGD PCO2
65,6

mmHg,

HCO3

37,8mmol/L

Analisa

Masalah

ketidakefektipan pola pernafasan belum teratasi sehingga


planning : Lanjutkan intervensi diagnosa gangguan pertukaran
gas dan Evaluasi keperawatan dari tanggal 30/05/16-01/06/16
yaitu data subjektif : klien mengatakan sesak kadang timbul
atau bahkan berkurang dan data objektif : TD: 90/60 mmHg,
N: 90x/menit , pernafasan 28x/menit , Hasil analisa gas darah
Ph : 7,379 , PCO2 : 65,6 mmol, HCO3 : 37,8 mmol . Analisa :
masalah gangguan pertukaran gas belum teratasi
Lanjutkan intervensi : pantau pemeriksaan AGD.

BAB IV
PEMBAHASAN

planning :

Pada bab ini penulis akan membahas mengenai pelaksanaan asuhan


keperawatan pada Tn.A yang mengalami Efusi Pleura e.c Tuberculosis Paru
dengan membandingkan teori dengan fakta yang di dapatkan mulai dari
pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi dan evaluasi keperawatan,
serta menguraikan persamaan yang ditemukan dan rasionalnya.
A. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian keperawatan merupakan langkah utama dari proses keperawatan.
Kegiatan yang dilakukan pada saat pengkajian adalah mengumpulkan data,
memvalidasi data, mengorganisasi data dan mencatat data yang diperoleh
Dinarti et al (2009, h.79). Data pengkajian dapat diperoleh melalui anamnesa,
pemeriksaan fisik, dan data penunjang. Sumber data adalah pasien, keluarga,
perawat ruangan dan rekam medik.
Adapun fokus pengkajian yang dibahas pada bab ini adalah :
1. Keluhan batuk berdahak
Klien mengeluhkan batuk berdahak berwarna putih kekuningan. Batuk yang di
alami klien sudah lebih dari 3 minggu karena sebelum dirawat klien sudah
sering batuk-batuk. Hal ini sesuai dengan yang di kemukakan oleh somantri
(2009, h.69) bahwa pasien TB paru akan mengalami gejala batuk berdahak
lebih dari 3 minggu.
Batuk berdahak pada penderita tuberculosis disebabkan karena terjadinya
iritasi pada bronkus sehingga merangsang untuk terjadinya batuk dan
mengeluarkan produksi radang (sputum), disamping itu batuk dengan sputum
menunjukan bahwa saluran pernafasan mengalami infeksi dari virus yang
masuk ke dalam tubuh. Bila dikeluarkan dahak akan keluar banyak, kental dan
biasanya berwarna agak kekuningan atau kehijauan.

2. Keluhan sesak nafas


Klien mengeluhkan sesak nafas yang semakin memberat 1 hari sebelum
masuk rumah sakit. Sesak akan semakin memberat saat klien beraktifitas.
Davey (2006) menyebutkan bahwa salah satu komplikasi dari TB Paru yaitu
efusi pleura. Efusi pleura yaitu terkumpulnya cairan pada rongga pleura yang
salah satu gejalanya yaitu menunjukan adanya sesak nafas.
Sesak muncul karena terjadinya komplikasi efusi pleura dari tuberkulosis .
Gejala ini muncul karena infeksi pada saluran pernafasan disertai dengan
adanya penumpukan cairan, jika di biarkan saja volume cairan akan bertambah
yang menyebabkan udara tidak bisa masuk hingga dasar paru-paru karena
tertahan cairan sehingga pasien mengalami sulit bernapas. Penumpukan cairan
juga dapat menutup jalan nafas sehingga suply oksigen ke paru-paru
berkurang hal inilah yang menimbulkan terjadinya sesak. Berdasarkan hasil
pemeriksaan AGD pada tanggal 30 mei 2016 hasil pH : 7,304, PaCO2 :
83,2mmHg dan HCO3 40,4 mmol/L berdasarkan hasil tersebut menunjukan
adanya asidosis respiratorik yaitu keasaman darah yang berlebihan karena
penumpukan karbondioksida dalam darah sebagai akibat dari fungsi paru paru
yang buruk atau pernapasan yang lambat.
3. Keluhan Penurunan berat badan, nafsu makan menurun, dan mual
Pada saat melakukan pengkajian klien mengatakan bahwa berat badan saat ini
46 kg, dan sebelum sakit berat badan klien 62 kg. Sebelum dibawa ke lantai 4
klien dilakukan pengukuran berat badan di IGD RS Fatmawati dan tinggi
badan klien 160 cm. Klien mengalami penurunan berat badan 16 kg, dan saat
dirumah memang nafsu makan klien jadi menurun ditambah klien mengalami
mual dan muntah.
Menurut Doengoes (2012, h.240) mengemukakan bahwa pada pasien dengan
tuberkulosis akan mengalami penurunan berat badan, nafsu makan berkurang
, tidak dapat mencerna, sedangkan hasil penelitian Tambunan (2016, h.232)

mengatakan bahwa manifestasi klinis pada penderita TB yaitu status nutrisi


buruk, anoreksia, penurunan berat badan, IMT rendah, dan kadar albumin
rendah. Menurut Djojodibroto (2009) bahwa seseorang yang mengalami
tuberkulosis selalu menyebabkan hilangnya nafsu makan dan penurunan berat
badan (weight loss). Involuntary weight loss adalah turunnya berat badan
sebanyak 5% dari berat badan awal dalam waktu selama 6 bulan .
Penurunan berat badan hal ini terjadi karena klien sering batuk-batuk yang
menyebabkan klien mual,muntah dan tidak nafsu makan sehingga asupan
nutrisi klien tidak adekuat yang menyebabkan kondisi klien mengalami
kelemahan dan terjadi penurunan berat badan, dibuktikan dengan hasil IMT
yang rendah diperoleh nilai yaitu 17,9 analisanya berat badan klien kurang.
Didukung dengan hasil laboratorium pada tanggal 28/05/2016

yaitu

hemoglobin hasilnya 12,2 g/dL (N : 13,2-17,3) menunjukan kadar Hb kurang


dari normal. Data ini menunjukan bahwa penderita tuberkulosis paru akan
mengalami masalah nutrisi.
4. Riwayat putus obat
Istri klien mengatakan bahwa Tn.A mengalami putus obat selama 2 minggu,
karena klien mengeluh gatal-gatal. Saat penulis menanyakan nama obatnya
klien lupa dengan nama obatnya.
Bagiana (2010) menyatakan bahwa putus obat yang dialami oleh penderita
tuberkulosis diakibatkan karena efek samping yang ditimbulkan yaitu maslah
pencernaan, gatal-gatal pada kulit.
Pada kasus yang dialami oleh Tn.A seharusnya tidak bisa dibiarkan karena
penderita TB paru yang

malas minum obat atau putus obat sebelum

penyakitnya sembuh, maka kemungkinan penyakit akan berubah menjadi


lebih berbahaya yang dikenal sebagai MDR -TB(Multiple drug resistenc
Tuberculosis). MDR-TB bisa terjadi dikarenakan Mycobacterium tuberculosa
menjadi resisten atau kebal terhadap OAT yang biasa.

B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan hasil akhir dari pengkajian yang di
rumuskan atas dasar interpretasi data yang tersedia (Dinarti 2009). Menurut
Doengoes (2012) diagnosa yang ditemukan pada Tuberkulosis paru ada 5
diagnosa

keperawatan

yaitu:

(1)

Resiko

penyebaran

infeksi

(2)

Ketidakefektifan bersihan jalan nafas (3) Kerusakan pertukaran gas (4)


Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, (5) Kurang pengetahuan . Dari
5 diagnosa keperawatan yang ada di dalam teori, penulis mengambil 3
diagnosa yang sesuai dengan teori dan 2 diagnosa yang tidak penulis temukan
di teori.
1. Ketidakefektifan

bersihan

jalan

napas

berhubungan

dengan

akumulasi sekret
Definisi : suatu keadaan ketika seorang individu mengalami suatu ancaman
yang nyata atau potensial pada status pernapasan sehubungan dengan
ketidakmampuan untuk batuk efektif (Carpenito moyet, 2007 h.381).
Karakteristik mayor : batuk tak efektif, ketidakmampuan mengeluarkan
sekresi jalan napas dan karakteristik minor : bunyi napas abnormal,
frekuensi, irama, kedalaman abnormal. Yang terdapat pada Tn.A yaitu klien
tidak mampu melakukan batuk efektif, sputum kental berwarna kuning, bunyi
nafas weezing di apeks posterior sinistra dan dextra, RR 28X/m, irama teratur,
kedalaman dangkal.
2. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan

penurunan

ekspansi paru
Definisi : keadaan ketika seseorang individu mengalami kehilangan ventilasi
yang aktual atau potensial yang berhubungan dengan perubahan pola
pernapasan (Carpenito 2007, h.383). diagnosa ini tidak diambil dari teori,
penulis memilih ini sebagai diagnosa ke dua karena melihat data yang
mendukung . Karakteristik mayor : perubahan dalam frekuensi atau pola
pernafasan, perubahan pada nadi (frekuensi, irama,kualitas) dan karakteristik

minor : ortopnea, takipnea, hiperpnea, hiperventilasi). Yang ditemukan pada


Tn.A yaitu pola pernafasan tachypnea, Nadi 107x/m, RR : 28X/m, posisi
ortopnea, menggunakan otot bantu pernafasan.
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan
ventilasi perfusi
Definisi : keadaan ketika seorang individu mengalami penurunan jalannya gas
(oksigen dan karbondioksida) yang aktual (atau dapat mengalami potensial)
antara alveoli paru-paru dan sistem vaskular. Karakteristik mayor : dispnea
saat melakukan aktifitas dan karakteristik minor : cenderung mengambil
posisi 3 titik(duduk, 1 tangan pada setiap lutut, condong ke depan), bernapas
dengan bibir dengan fase ekspirasi yang lama, letargi dan keletihan,
penurunan oksigen, penururunan saturasi oksigen, peningkatan PaCO2,
sianosis. Yang terdapat pada Tn.A yaitu adanya sesak jika berbicara, posisi
ortopnea, klien lemah, saturasi O2 100%, pH 7,304, PaCO2 8,32 mmHg,
HCO3 40,4mmol/L.

C. Intervensi dan Implementasi Keperawatan


Rencana keperawatan adalah prekripsi untuk perilaku spesifik yang diharakan
dari klien untuk membantu klien dalam mencapai hasil yang diharapkan
(Doengoes et all 2000, h.10). Menurut Dinarti (2009) implementasi
keperawatan adalah proses keperawatan terdiri yang terdiri dari rangkaian
aktivitas keperawatan dari hari ke hari yang harus dilakukan dan di
dokumentasikan secara cermat.

1. Ketidakefektifan
akumulasi sekret

bersihan

jalan

napas

berhubungan

dengan

Untuk melakukan asuhan keperawatan pada Tn.A dengan diagnosa tersebut


maka penulis melakukan intervensi keperawatan sesuai dengan fokus keluhan
utama klien yaitu : mengajarkan teknik nafas dalam dan batuk efektif,
mengauskultasi paru, berkolaborasi dalam pemberian obat ambroxol sesuai
dosis, memeriksa sputum BTA, beri inhalasi nebulizer dengan bisolvon dan
barotec.
Auskultasi dilakukan untuk mengetahui letak penumpukan sekret sehingga
bisa dilakukan perencanaan berikutnya yaitu mengajarkan tekhnik nafas dalam
dan batuk efektif karena dapat membuka ventilasi maksimal sehingga dapat
membuka jalan nafas dan batuk yang efektif dapat memudahkan pengeluaran
sekret yang menempelm dijalan nafas, dilakukanpemeriksaan BTA untuk
mengetahui adanya infeksi dari kuman . terapi Ambrxol bekerja dengan cara
memecah serat asam mukopolisakarida yang membuat dahak lebih encer dan
mengurangi adhesi lendir pada dinding tenggorokan sehingga mempermudah
pengeluaran lendir pada saat batuk(Farmasiana.com).
Intervensi kolaborasi kedua yang dilakukan yaitu melakukan terapi inhalasi
dengan bisolvon dan barotec (1 : 1), Bromhexine memiliki efek sekretolitik
dan sekretomotor pada daerah saluran bronkus, yang dapat mempermudah
pengeluaran dahak dan batuk. Bekerja sebagai mukolitik untuk meredakan
batuk berdahak. Indikasi dari berotec yaitu sebagai terapi simtomatik asma
bronkhial dan kondisi lain yang disertai dengan penyempitan saluran
pernafasan yang bersifat reversibel.
2. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan

penurunan

ekspansi paru
Untuk melakukan asuhan keperawatan pada Tn.A dengan diagnosa tersebut
maka penulis melakukan intervensi keperawatan sesuai dengan fokus keluhan
utama klien yaitu : Dengan memberikan klien posisi semifowler bertujuan
untuk mengurangi resiko stasis sekresi pulmonar dan mengurangi sekresi
dinding dada, Intervensi lain yaitu memberikan terapi oksigenasi nasal kanul

4lpm, manfaatnya untuk membantu menurunkan kerja nafas , dan


meningkatkan laju pernafasan klien . Intervensi kolaborasi yaitu memberikan
obat bricasma 1 ml dan salbutamol 2 mg . bricasma yaitu diindikasikan untuk
asma bronkial, bronkial, bronkitis kroonik, emfisema, penyakit paru lain.
Salbutamol merupakan obat yang menimbulkan relaksasi bronkus, maka
salbutamol dapat digunakan dengan efektif untuk mengatasi gejala sesak
napas yang timbul akibat adanya penyempitan bronkus seperti pada penyakit
asma bronkial, bronkitis asmatis dan emfisema paru, baik untuk penggunaan
akut maupun kronik.

3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan


ventilasi perfusi
Untuk melakukan asuhan keperawatan pada Tn.A dengan diagnosa tersebut
maka penulis melakukan intervensi keperawatan sesuai dengan fokus keluhan
utama klien yaitu : auskultasi suara nafas, observasi pola napas, anjurkan
untuk tirah baring , pantau hasil AGD untuk mengetahui kadar PCO2 yg
abnormal, beri terapi oksigen nasal kanul 4lpm. manfaatnya untuk membantu
menurunkan kerja nafas

4. Fokus perencanaan keperawatan untuk mengatasi keluhan mual pada Tn.A


Yaitu dengan menganjurkan untuk makan sedikit tapi sering . memberikan
makan dalam jumlah sedikit tapi sering tidak menjadi stimulus timbulnya
mual pada pasien, sehingga asupan klien tetap adekuat. Kolaborasi dalam
pemberian ranitidin 1 mg , untuk menteralisir ketorolac yang menimbulkan
efek samping mual .

5. Fokus perencanaan keperawatan yaitu riwayat putus obat

Saat seseorang yang mengalami tuberkulosis paru lalu putus obat ada
beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya putus obat yaitu komunikasi
yang baik antara petugas kesehatan dengan pasien menentukan keberhasilan
pengobatan. Adapun perencanaan yang bisa dilakukan yaitu pemantauan ketat
guna memastikan efek samping OAT, dukungan psikososial merupakan
komponen tata laksana efek samping. Di sinilah peran terpenting tenaga
sukarela (PMO), yakni memberikan edukasi dan semangat kepaa pasien untuk
terusmelanjutkan pengobatan, bilaperlu mengadakan pertemuan kelompok
pendukung ini merupakan salah satu bentuk dukungan psikososial bagi pasien.

D. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan didokumentasikan sesuai dengan diagnosa keperawatan
yang telah dibuat, dan untuk evaluasi yaitu meliputi data subjektif (S),
Objektif (O), analisa permasahlahan (A), klien berdasarkan S dan O, serta
perencanaan ulang (P) dari setiap diagnosa keperawatan.
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
Pada saat pengkajian keperawatan klien mengatakan batuk berdahak ,
berwarna putih kekuningan, konsistensi kental, dahak yang dikeluarrkan
tidak bisa diukur. Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24
jam batuk klien masih berdahak dan dahak bisa dikeluarkan.
2. Ketidakefektifan pola nafas
Pada saat pengkajian klien mengeluh sesak napas, nafas dirasakan
memberat saat klien merubah posisi atau berbicara. Setelah dilakukan
tindakan keperawatan selam 3 x 24 jam klien mengatakan sesak kadang
timbul atau bahkan berkurang. Dibuktikan dengan hasil 25x/menit, irama
teratur, nafas dangkal, dyspnea (-), tacypnea (-) .

3. Ketidakseimbangan nutrisi

Pada saat pengkajian klien mengeluh mual dan tidak nafsu makan. Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam klien mengatakan
nafsu makan baik dan mual sudah tidak ada. Klien juga menghabiskan
makannya, mual tidak ada.

4. Riwayat putus obat


Setelah dilakukan asuhan keperawatan selam 3 x 24 jam klien mengatakan
selama dirumah sakit ataupun dirumah klien akan fokus terhadap
pengobatannya, karena klien mempunyai keinginan untuk bisa sembuh
kembali karena adanya dukungan istri dan anak yang membuat klien
menjadi termotivasi.

BAB V

PENUTUP

Pada bab ini penulis akan membahas secara rinci kesimpulan Setelah
dilakukan asuhan keperawatan sejak tanggal 30 mei 2016 sampai 1 juni 2016
didapatkan data pengkajian klien dirawat mulai dari tanggal 28 mei 2016 dengan
diagnosa medis Efusi Pleura e.c Tuberkulosis paru. Pembahasan pada bab ini
meliputi

pengkajian,

diagnosa,

intervensi,

implementasi

dan

evaluasi

keperawatan.
A. Kesimpulan
Pengkajian pada pasien dilakukan pada tanggal 30 mei 2016 , penulis
melakukan pengkajian dengan metode pemeriksaan fisik terhadap klien, dan
metode wawancara terhadap klien dan keluarga klien, perawat ruangan dan
data rekam medik klien. Dari data hasil pengkajian didapatkan data klien
mengeluh sesak, batuk berdahak, terasa lemah, saat dilakukan pemeriksaan
fisik didapatkan data kesadaran compos mentis, tekanan darah 123/88 mmHg,
nadi 107x/menit, irama ireguler, nadi teraba kuat dan suhu klien 36C,
pernafasan 28x/menit, saturasi O2 100%. Jalan nafas ada sumbatan, warna
kulit kecokelatan, area kulit tidak ada jejas, ada luka post pemasangan selang
WSD di ICS 5-6, pengembangan dinding dada asimetris, bentuk dada normal,
menggunakan otot bantu pernapasan, frekuensi 28x/menit, irama teratur,
kedalaman dangkal, batuk mengeluarkan sekret warna putih kekuuningan
konsistensi kental, klien menggunakan therapi oksigen nasal kanul 4 lpm. Saat
dipalpasi kulit teraba hangat, tidak ada nyeri tekan saat di palpasi, taktil
fremitus paru bagian kiri lebih bergetar di banding paru sebelah kanan di
posterior. Saat di perkusi terdapat bunyi resonan di kedua lapang paru anterior
dan posterior, tidak ada nyeri ketok. Saat di auskultasi terdengar bunyi
wheezing di paru kanan kiri posterior.

Berdasrkan hasil pengkajian keperawatan pada Tn.A dapat dirumuskan diagnosa


keperawatan sebanyak 3 diagnosa prioritas yaitu : (1) Ketidakefektifan bersihan
jalan nafas berhubungan dengan penumpukan secret (2) Ketidakefektifan pola
napas berhubungan penurunan ekspansi paru (3) Gangguan pertukaran gas
berhubungan ketidakseimbangan ventilasi perfusi
Perencanaan keperawatan yang disusun untuk setiap masalah keperawatan pada
Tn.A disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan klien sehingga disusun intervensi
keperawatan dari ke tiga diagnosa ini adalah : Kaji fungsi pernafasan bunyi nafas,
kecepatan, irama, kedalaman dan penggunaan otot aksesoris, Catat kemampuan
dalam mengeluarkan mukosa/batuk, jumlah sputum, adanya hemoptisis, Beri
pasien posisi semi atau fowler tinggi, bantu pasien untuk latihan nafas dalam dan
batuk efektif, bersihkan sekret dari mulut dan trakea, kolaborasi dalam
memberikan obat-obat sesuai indikasi, periksa BTA, Observasi pola pernafasan,
beri therapi oksigen tambahan(nasal kanul 4lpm), untuk membantu menurunkan
kerja nafas, dan meningkatkan nafas klien, beri obat bricasma 1 ml dan D5% ,
observasi tanda-tanda sianosis dan perubahan warna kulit, anjurkan bernapas bibir
selama ekspirasi , tingkatkan tirah baring/batasi aktivitas , kolaborasi dengan ahli
laboratorium untuk periksa AGD.
Implementasi

keperawatan

yang

dilakukan

sudah

berdasarkan

intervensi

keperawatan yang telah di buat dan disesuaikan dengan kondisi Tn.A . intervensi
mandiri semuanya dapat dilakukan dan untuk intervensi kolaborasi ada beberapa
yang belum dilakukan seperti kolaborasi dalam pemeriksaan BTA , dan
pemeriksaan Hemoglobin, karena belum ada program dari dokter untuk
dilakukannya tindakan tersebut . pemberian KCL sudah tidak diberikan pada
tanggal 31/5/2016.
Evaluasi keperawatan yang dilakukan sampai dengan tanggal 1 juni 2016 dari 5
diagnosa yang dirumuskan, belum ada masalah yang teratasi.

B. Saran

Selama melaksanakan asuhan keperawatan dari tanggal 30 mei 2016 sampai


dengan 1 juni 2016 , ada beberapa saran yang dapat ingin penulis sampaikan
untuk meningkatkan asuhan keperawatan yang akan datang, yaitu :
1. Untuk Institusi Poltekkes Jakarta 1 khusunya Jurusan Keperawatan agar
tetap

menjadi unggulan dengan staf pengajar yang baik dan kompeten

dalam memberikan pendidikan supaya menjadikan mahasiswa/i yang cerdas


dan berkualitas.
2. Untuk Institusi Poltekkes Jakarta 1 diharapkan melakukan pengembangan
kepustakaan agar mahasiswa/i lebih banyak mendapatkan sumber referensi
terbaru dalam memenuhi penulisan laporan karya tulis ilmiah.
3. Untuk RSUP Fatmawati untuk terus mempertahankan dan mengembangkan
kinerja, kekompakan serta caring kepada pasien dalam melakukan asuhan
keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L.J. Dan Moyet.(2007) Buku Saku Diagnosis Keperawatan


Ed.10.Jakarta : EGC
Corwin, J.E.(2009) Buku Saku Patofisiologi, Ed.3.Jakarta: EGC.
Dinarti, Aryani,R., Nurhaeni, H., Chairani, R.(2009) Dokumentasi Keperawatan,
Jakarta : TIM.
Doengoes, M.E. dan Moorhouse, M.F dan Geissler, A.C. (2012) Rencana Asuhan
Keperawatan Ed. 3. Jakarta: EGC.
Instalasi rekam Medis dan Pusat Data Informasi Umum Rumah Sakit
Fatmawati.(2015) Laporan 10 besar Penyakit Rawat Inap RSUP
Fatmawati SMF Paru, Jakarta . RSUP Fatmawati
Perhimpunan Dokter Paru
Perhimpunan

Indonesia (2006) Analisis Cairan Pleura ,

Dokter

Paru

Indonesia

[online],

melalui

http://www.klikparu.com/2013/07/ html [di akses pada tanggal 29 Juni


2016]
Muttaqin, A. (2008) Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan, Jakarta: Salemba Medika.
Nurarif, A.H Dan Kusuma, H. (2015) Aplikasi Asuhan Keperawatan berdasarkan
Diagnosa Medis dan NANDA-NIC-NOC Panduan Penyusunan Asuhan
Keperawatan Profesional 2015 Jilid 3, Yogyakarta: Mediaction Jogja.

Somantri, I. (2012) Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem


Pernapasan, Jakarta: Salemba Medika.
Sylvia, A.P Dan Mary, P.S.(2012) Patofisiologi : Konsep klinis proses-proses
penyakit, Jakarta : EGC.
Departemen Kementrian Kesehatan RI (2007) Pedoman Nasional Pengendalian
Tuberkulosis, ed 9. [online] melalui digilib.unimus.com [di akses pada
tanggal 13 Juni 2016]
Khairani. R, Syahruddin E, Partakusuma, L.G.2012 Karakteristik Efusi Pleura di
Rumah Sakit Persahabatan. Melalui Jurnalrespirologi.org [di akses
pada tanggal 28 Juni 2016]

ANALISA DATA
Nama Klien/Umur

: Tn.A/55 tahun

Ruangan/No.Kamar

: HCU Isolasi 427.A

No. Register : 01440049

No.
Dx 1

Data

Etiologi

DS:

Penumpukan sekret
-

Klien mengeluh batuk batuk

Dahak kental berwarna putih

Masalah
Ketidakefektifan
bersihan jalan nafas

kekuningan
DO:
-

Keadaan umum : sakit sedang

Kesadaran : compos mentis

TTV : TD : 123/88 mmHg


N : 107 X/menit
RR : 28 X/menit
S : 36C
SaO2 : 100%

Sputum kental berwana putih


kekuningan

Klien terlihat lemah

Klien tidak mampu melakukan


batuk efektif

Inspeksi :tidak ada jejas, luka


post WSD di ICS 5-6

Palpasi : tidak ada nyeri tekan,


taktil fremitus pada lapang paru
kiri

lebih

jelas

getarannya

dibanding lapang paru kanan,


pengembangan paru 2 cm
-

Perkusi : bunyi resonan di


lapang paru

Auskultasi : saat diauskultasi


terdengar bunyi weezing di
apeks posterior

Dx.2

DS :
-

Klien mengatakan sesak nafas

DO :
-

RR : 28x/menit, irama teratur,


nafas dangkal

Pola napas dipsnea, tachypnea

Menggunakan

otot

bantu

Penurunan ekspansi

Ketidakefektifan pola

paru

pernafasan

pernafasan
-

Taktil fremitus pada paru kiri


lebih jelas getarannya dibanding
dengan paru kanan

Dx.3

Posisi ortopnea

DS :

Ketidakseimbangan

Gangguan pertukaran

perfusi ventilasi

gas

Penurunan asupan

Perubahan nutrisi

Klien mengatakan tidak nafsu

oral :

kurang dari kebutuhan

makan, mual

ketidaknyamanan

tubuh

Klien mengatakan lemas

Kepala terasa pusing

Klien mengeluh sesak

DO :
-

Klien terlihat lemah

RR : 28x/menit, irama teratur,


nafas dangkal

Pola napas tachypnea

Menggunakan

otot

bantu

pernafasan
-

Hasil AGD :

Ph : 7,35 (N : 7,370-7,440)
PCO2 : 67,2(N :35,0-45,0
PO2 : 146,3(N:83,0-108,0)
HCO3 : 39,0 (N: 21,0-28,0)
Dx.4

DS :
-

Klien

hanya

menghabiskan

makan porsi
DO :
-

Klien terlihat lemah


Antropometri

TB : 160 cm
BB sebelum sakit 62 kg
BB saat ini 46 kg
Penurunan BB 16 kg
BBI 54-60
IMT

: 17,9

(Gizi kurang)

Biochemical
-

Hemoglobin 12.2 g/dl (N : 13,2-

mulut (mual )

17,3)
Clinical Sign

Dx.5

Konjungtiva anemis

Sklera anikterik

Klien terlihat kurus

Mukosa mulut kering

Diit : TKTP 1700 Kalori

DS :
-

Kelemahan umum

Intoleransi aktifitas

Pertahanan primer

Resiko penyebaran

tidak adekuat

infeksi

Klien mengatakan sesak makin


memberat jika banyak bergerak
atau merubah posisi

DO :
-

Klien terlihat sesak

Posisi klien orthopnea

Aktifitasnya

dibantu

oleh

perawat dan keluarga


-

Klien membatasi pergerakan

Kekuatan otot

5 555 5555
5555

Dx.6

5555

DS :
-

Klien

mengatakan

batuknya

berdahak
-

Klien pernah dirawat di RS 3


bulan yang lalu karena batuk
batuk

DO :
-

Jika

batuk

klien

menutup

mulutnya
-

Klien membuang dahaknya ke


tempat yang tertutup

Klien terlihat lemah

Klien konsumsi OAT (INH dan


Rifampicin)

Klien pernah putus obat >2

bulan

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Nama Klien/ Umur

: Tn. A / 55tahun

Ruangan/No.Kamar

: HCU isolasi 427 A

No. Dx
1.

No. Register : 01440049

Diagnosa Keperawatan
Ketidakefektifan bersihan jalan nafas

Tanggal
Ditemukan
30/05/2016

b.d penumpukan sekret

2.

Tanggal
Teratasi

Paraf
Ela Ameliawati

Ketidakefektifan pola pernafasan b.d


Penurunan ekspansi paru

Ela Ameliawati
30/05/2016

Ela Ameliawati

3.

Gangguan

pertukaran

gas

b.d

ketidakefektifan perfusi ventilasi

30/05/2016
Ela Ameliawati

4.

Perubahan

nutrisi

kurang

dari

kebutuhan tubuh b.d Penurunan asupan

30/05/2016

01/06/2016

30/05/2016

oral : ketidaknyamanan mulut (mual )

5.

Intoleransi aktifitas b.d kelemahan

Ela Ameliawati

umum
Ela Ameliawati
6.

Resiko penyebaran infeksi b.d

30/05/2016

pertahanan primer tidak adekuat

INTERVENSI KEPERAWATAN

01/06/2016

Nama Klien/ Umur

: Tn.A /55 tahun

Ruangan/No.Kamar

: HCU isolasi 427.A

Tanggal
30 Mei
2016

No.
Dx
1

Tujuan dan Kriteria


Hasil
Tujuan :
Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan selam
3 x 24 jam klien
akan menunjukan
jalan nafas yang
efektif
Kriteria hasil :
- RR 16-20 x/menit
- Suara
nafas
vesikuler
- Dapat melakukan
tarik nafas dalam
dan batuk efektif
- Sekret berkurang
atau tidak ada

No. Register : 01440049

Rencana Tindakan
Dan Rasional
Mandiri :
1. Menghitung frekuensi nafas
R/: Peningkatan RR terjadi karena
akumulasi sekret berlebih
2. Monitor
irama
,
kedalaman,
penggunaan otot bantu nafas , suara
nafas
R/: Takipnea, pernapasan dangkal,
adanya ronchi menunjukan akumulasi
sekret dan gerakan dinding dada tidak
simetris
terjadi
karena
ketidaknyamanan gerakan dada
3. Mengausukultasi suara paru
R/: pada saat inspirasi dan ekspirasi
terdengar suara crekles, ronchi,weezing
menandakan adanya pengumpulan
sekret/cairan
4. Ajarkan tarik nafas dalam dan batuk
efektif
R/: Untuk memudahkan ekspansi paru
dan mekanisme pembersihan jalan
nafas
5. Beri cairan 1500 ml/hari (air hangat)
R/: cairan hangat dapat membantu
memobilisasi untuk mengeluarkan
sekret
Kolaborasi :
1. Beri ambroxol 30 mg sesuai dosis
R/: untuk membantu mengencerkan
dahak
2. Monitor hasil pemeriksaan BTA
R /: Mengetahui kemajuan penyakit
3. Lakukan nebulizer dengan mukolitik
R/: Bekerja dengan cara memecah
ikatan
kimia
mukoprotein
dan
mukopolisakarida pada dahak sehingga
dahak menjadi lebih encer dan tidak
lengket, hal ini kemudian akan
mempermudah pengeluaran dahak dari
saluran napas

INTERVENSI KEPERAWATAN

Paraf

Ela

Ela

Ela

Ela

Ela

Ela

Ela

Ela

Nama Klien/ Umur

: Tn.A /55 tahun

Ruangan/No.Kamar

: HCU isolasi 427.A

Tanggal
30 Mei
2016

No.
Dx
2

Tujuan dan Kriteria


Hasil
Tujuan :
Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan selam
3 x 24 jam klien
dapat menunjukan
pola nafas yang
efektif
Kriteria hasil :
- RR
16-20
X/menit
- Sesak nafas klien
berkurang
atau
tidak ada
- Klien
mampu
nafas dalam dan
batuk efektif
- Tidak
menggunakan
otot
bantu
pernafasan

No. Register : 01440049

Rencana Tindakan
Dan Rasional

Paraf

Mandiri :
Ela
1.

2.
3.

4.

Catat irama pernafasan


R/: nafas cepat menunjukan terjadinya
hipoksia
Monitor pola pernafasan
R/: pola nafas menunjukan fungsi paru
Beri posisi fowler atau semifowler
R/: dapat memaksimalkan ekspansi
paru
Anjurkan klien untuk nafas dalam dan
batuk efektif
R/: untuk meningkatkan upaya
pernafasan

Ela

Ela
Ela

Kolaborasi :
1.

2.

3.

Beri
therapi
oksigen
tambahan(nasal kanul )
R/: untuk membantu menurunkan
kerja nafas, dan meningkatkan
nafas klien
Beri Bricasma 1 ml dan D5% 50cc
R/: untuk menghilangkan efek
bronkhodilatasi
Beri salbutamol 2mg
R/: untuk merelaksasi otot bronkus

INTERVENSI KEPERAWATAN

Ela

Ela

Ela

Nama Klien/ Umur

: Tn.A /55 tahun

Ruangan/No.Kamar

: HCU isolasi 427.A

Tanggal

30 Mei
2016

No. Register : 01440049

No.

Tujuan dan Kriteria

Rencana Tindakan

Dx

Hasil

Dan Rasional

Tujuan :
Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan selam
3
x
24
jam
diharapkan
gangguan
pertukaran
gas
dapat
teratasi
dengan
Kriteria hasil :
- Sesak
berkurang
- Pola
nafas
normal
- Suara nafas
vesikuler
- Hasil
AGD
dalam rentang
normal
Ph :7,37-7,44
PCO2:35,0-45,0
HCO3 : 21-28

Mandiri :
1. Monitor kedalaman , irana nafas
penggunaan otot bantu nafas
R:/
Untuk
mengetahui kondisi
pernafasan klien
Auskultasi suara nafas
R:/ pada saat inspirasi dan ekspirasi
terdengar
suara
crekles,
ronchi,wheezing menandakan adanya
pengumpulan sekret/cairan

Ela

3.

Observasi pola napas


R:/ pola nafas menunjukan fungsi paru

Ela

4.

Anjurkan tirah baring


R:/untuk mempertahankan kebutuhan
oksigen

Ela

Kolaborasi :
5. Periksa / pantau hasil AGD
R:/ untuk mengetahui nilai pH , PCO2
dan HCO3

: Tn.A /55 tahun

Ela

2.

INTERVENSI KEPERAWATAN
Nama Klien/ SUmur

Paraf

No. Register : 01440049

Ela

Ruangan/No.Kamar
Tanggal
30 Mei
2016

No.
Dx
4

: HCU isolasi 427.A

Tujuan dan Kriteria


Hasil
Tujuan :
Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan selam
3 x 24 jam klien
dapat menunjukan
peningkatan nutrisi
yang adekuat
Kriteria hasil :
- Klien
tidak
lemah
- Berat badan naik
0,5-1kg setiap 3
hari
- Mual berkurang
atau tidak ada
- Nafsu
makan
klien meningkat
- Makan habis 1
porsi

Rencana Tindakan
Dan Rasional
Mandiri :
1. Monitor status nutrisi, turgor kulit,
mual,
sklera,
mukosa
mulut,
konjungtiva
R/: berguna untuk menetapkan
derajat masalah dan pilihan intervensi
yang tepat
2. Beri porsi makan sedikit tapi sering
R/: dilatasi gas dapat terjadi bila
pemberian makanan terlalu cepat
3. Anjurkan klien untuk melakukan oral
hygiene
R/: mulut yang bersih dapat
meningkatkan nafsu makan klien
4. Timbang berat baan 3 hari sekali
R/: indikator nutrisi
5.

Ukur IMT, BB Ideal


R /: mengetahui
nutrisi

Paraf

Ela

Ela

Ela

Ela

Ela
perkembangan

Kolaborasi :
1.

2.

3.

Kolaborasi dengan ahli gizi untuk


diet TKTP 1700 kalori
R/: meningkatkan intake kebutuhan
nutrisi
Periksa Hemoglobin
R/: menilai kemajuan terapi

Ela

Kolaborasi pemberian ranitidin 1 mg


R/: sebagai antiemetik

Ela

INTERVENSI KEPERAWATAN

Ela

Nama Klien/ Umur

: Tn.A /55 tahun

Ruangan/No.Kamar

: HCU isolasi 427.A

Tanggal
30 Mei
2016

No.
Dx
5

Tujuan dan Kriteria


Hasil
Tujuan :
Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan selam
3
x
24
jam
diharapkan
klien
dapat
mentoleran
kebutuhan
aktifitasnya
Kriteria hasil :
- Sesak tidak ada
saat beraktifitas
- TD
dalam
rentang normal
: 110-120/ 7080 mmHg
- RR
1620X/menit
- Nadi
60100x/menit

No. Register : 01440049

Rencana Tindakan
Dan Rasional
Mandiri :
1. Ukur tanda tanda vital
R/:
perubahan
frekuensi
TD
menunjukan pasien mengalami nyeri,
TD menurun menunjukan adanya
kelemahan

Paraf

Ela

Ela
2.

Beri lingkungan yang tenang dan batasi


pengunjung
R/: situasi yang tenang dapat
menurunkan stress dan meningkatkan
istirahat

3.

Bantu klien dalam posisi yang nyaman


untuk istirahat
R/: memberikan rasa nyaman saat
istirahat

Ela

4.

Bantu aktifitas perawatan diri yang


diperlukan
R/: maksimalkan kelelahan dan
membantu keseimbangan kebutuhan
oksigen

Ela

INTERVENSI KEPERAWATAN

Nama Klien/ Umur

: Tn.A /55 tahun

Ruangan/No.Kamar

: HCU isolasi 427.A

Tanggal
30 Mei
2016

No.
Dx
6

Tujuan dan Kriteria


Hasil
Tujuan :
Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan selam
3
x
24
jam
diharapkan
klien
dapat menurunkan
atau
mencegah
resiko
tinggi
penyebaran infeksi
Kriteria hasil :
- Dapat
menunjukan/me
lakukan
perubahan pola
hidup
untuk
meningkatkan
lingkungan
yang aman

No. Register : 01440049

Rencana Tindakan
Dan Rasional
Mandiri :
1. Review patologi penyakit
fase
aktif/tidak aktif, penyebaran infeksi
melalui bronkus dan resiko infeksi
melalui batuk, bersin, meludah dan
tertawa
R/: membantu pasien agar mau
mengerti dan menerima terapi yang
diberikan
2. Identifikasi orang-orang yang beresiko
terkena infeksi seperti anggota
keluarga,teman,orang
dalam
satu
perkumpulan
R/: orang-orang yang beresiko perlu
program terapi obat untuk mencegah
penyebaran infeksi
3. Anjurkan klien menutup mulut dan
membuang
dahak
di
tempat
pembuangan yang tertutup jika batuk
R/: kebiasaan ini untuk mencegah
terjadinya penularan infeksi
4. Gunakan masker setiap melakukan
tindakan
R/: mengurangi risiko penyebaran
infeksi
5. Monitor suhu
R/:
febris
merupakan
indikasi
terjadinya infeksi
Kolaborasi :
1. Beri terapi INH 300mg, Rifampisin
400 mg
R/: INH adalah obat pilihan bagi
penyakit Tuberculosis primer di
kombinasikan
dengan
obat-obat
lainnya
Rifampisin untuk mengobati infeksi
tuberkulosis
2. Kolaborasi
dalam
pemberian
metilprednisolon
62,5mg
dan
levofloxacin 750mg
R
/:
metilprednisolon
mampu
mengurangi gejala peradangan
Levofloxacin bekerja untuk mengobati
berbagai macam infeksi

PELAKSANAAN KEPERAWATAN

Paraf

Ela

Ela

Ela

Ela

Ela

Ela

Nama Klien/ Umur

: Tn.A / 55 th

Ruangan/No.Kamar

: HCU isolasi 427.A

Waktu
(Tgl, Jam)
30/05/16

No.
Dx
5

08.00

No. Register :01440049

Tindakan Keperawatan dan Respon

Paraf dan nama


jelas

Mengukur tanda-tanda vital klien


R/: TD: 123/88 mmHg

Ela

Nadi : 107 X / menit


RR : 28 X / menit
S : 36 C
Sa.O2 : 100%
08.20

1,2,

Mengkaji irama nafas dan kedalaman ,penggunaan otot bantu

nafas

Ela

R /: RR 28x/menit , irama nafas teratur, kedalaman dangkal,


menggunakan otot bantu pernafasan
08.30

1,3

Mengauskultasi area paru

Ela

R/: suara paru terdengar wheezing di bagian apeks, dan paru


kanan kiri
09.00

2,3

Mengobservasi pola pernafasan

Ela

R/: pola nafas tachypnea, RR 34x/menit, klien mengatakan sesak


09.30

Kolaborasi dalam pemberian terapi inhalasi

Ela

R/: inhalasi diberikan dengan obat barotec : bisolvon : Nacl


(1:1:2) klien terlihat tenang
09.30

Mengobservasi tugor kulit, konjungtiva, mukosa mulut, sklera

Ela

R/: turgor kulit elastis, konjungtiva anemis, mukosa mulut kering,


sklera anikterik
10.00

4,6

Berkolaborasi dalam pemberian obat


-

Metil prednisolon 62,5 mg via IV bolus

Ranitidin 1 mg via IV bolus

Levofloxacin 750 mg via IV line

Ela

R/ : obat masuk semua via IV bolus, tidak ada reaksi alergi


ataupun rembes, obat levofloxacin masuk via IV line infus
ditangan kanan, tidak ada rembes, aliran infus lancar
11.00

Mengukur BB, IMT,BB Ideal

Ela

R/: klien mengatakan mengalami penurunan BB 16 kg. BB saat


ini 46kg, TB: 160 cm, IMT : 17,9 (Gizi kurang), BBI : 54-60
Memotivasi klien untuk makan
12.00

R/: klien makan dengan mandiri, makanan habis porsi, klien

Ela

mengatakan mual
12.15

1,2

Berkolaborasi dalam pemberian

Ela

- Ambroxol 30 mg via oral


- Salbutamol 2mg via oral
- KSR 600mg via oral
R/: obat diminum semua tidak ada yang dimuntahkan, klien
mengatakn sesak masih terasa
14.00

1,2

Mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam dan batuk efektif

Ela

R/: Klien mengatakan sudah mengerti cara teknik nafas dalam


dan batuk efektif, saat melakukan batuk efektif klien terlihat
lemah dan belum bisa melakukannya dengan benar
15.00

2,5

Membantu klien merubah posisi yang nyaman

Ela

R/: klien merubah posisi fowler, sesak berkurang dan klien


terlihat nyaman
16.00

Membantu klien memenuhi ADL : mandi

Perawat
ruangan

R/: klien mandi dibantu oleh istrinya, klien merasa lebih


nyaman setelah mandi
17.00

Memotivasi klien untuk makan sedikit tapi sering


R/: klien mengatakan menghabiskan makanannya porsi, dan

Perawat
ruangan

makan snack nya lebih banyak


18.00

Melakukan kolaborasi dalam terapi inhalasi


R/: inhalasi dilakukan obat yg diberikan barotec:bisolvon:Nacl

Perawat
ruangan

(1:1:2 cc) saat di inhalasi klien merasa sesak


18.15

1,2

Memberikan therapi O2 Nasal kanul


R/: Klien mendapat therapi O2 Nasal kanul 4liter/menit, sesak

Perawat
ruangan

berkurang , klien terlihat nyaman


19.00

1,5

Menganjurkan klien untuk istirahat dan mengurangi banyak


gerakan

Perawat
ruangan

R/: klien mengatakan sudah ngantuk tapi matanya tidak bisa


merem
22.00

4,6

Berkolaborasi dalam pemberian obat


-Metil prednisolon 62.5mg
-Ranitidin 1mg
R/: obat diberikan via IV bolus, tidak ada rembesan, obat masuk
semua

Perawat
ruangan

PELAKSANAAN KEPERAWATAN
Nama Klien/ Umur

: Tn.A / 55 tahun

Ruangan/No.Kamar

:HCU isolasi 427.A

Waktu
(Tgl, Jam)
31/5/2016

No.Dx

06.00

No. Register :01440049

Tindakan Keperawatan dan Respon

Paraf dan
nama jelas

Kolaborasi dalam pemberian obat TB

Perawat

R/: klien meminum obat TB, INH 300 mg, Rimfampisin

ruangan

450mg , obat diminum semua tidak dimuntahkan


08.00

Mengukur hemodinamik

Ela

R/: TD :92/61 mmHg, Nadi : 106x/m, RR 24 x/m, S :36C,


Sa.O2 : 100%
09.00

Motivasi klien makan sedikit tapi sering

Ela

R/: klien makan mandiri porsi , klien juga sudah makan


biskuit sebelumnya
10.00

Mengobservasi hasil pemeriksaan BTA

Ela

R/: hasi BTA negatif

10.15

4,6

Berkolaborasi dalam pemberian obat


-

Metil prednisolon 62,5 mg via IV bolus

Ranitidin 1 mg via IV bolus

Levofloxacin 750 mg via IV line

Ela

R/ : obat masuk semua via IV bolus, tidak ada reaksi alergi


ataupun rembes, obat levofloxacin masuk via IV line infus
11.00

Berkolaborasi dalam melakukan USG Throax

Ela

R/: klien diantar ke ruang USG Thorax menggunakan kursi


roda
12.00

1,2

Ela
Berkolaborasi dalam pemberian therapi obat
-Ambroxol 30 mg PO
-Salbutamol 2mg PO
R/: Obat habis semua diminum tidak ada yang

13.00

dimuntahkan, klien mengatakan sesak berkurang


Mengganti vemplon klien
R/: klien dipasang vemplon ditangan kanan, karena di

Ela

14.00

tangan kiri alirannya sudah tidak bagus.

Ela

Berkolaborasi dengan ahli gizi untuk diet klien


15.00

1,2,3

R/: klien mendapat diet TKTP 1700 kalori

Perawat

Mengobservasi pernafasan klien


R/: RR klien 26x/m , irama nafas teratur, kedalaman nafas
16.00

1,2

dangkal

Perawat

Menganjurkan klien tarik nafas dalam dan batuk efektif

ruangan

R/: klien mampu nafas dalam dan batuk efektif


17.00

Perawat
Memberi dan memotivasi klien untuk makan

ruangan

R/:klien menghabiskan makanannya porsi, klien


18.00

1,2

mengatakan mual

Perawat

Berkolaborasi dalam pemberian obat

ruangan

Ambroxol 30mg, Salbutamol 2 mg,


18.20

R /: obat diminum semua tidak dimuntahkan

Perawat

Memberikan lingkungan yang tenang


R/: klien merasa nyaman, karena tidak berisik sehingga
19.00

22.00

4,6

klien bisa untuk beristirahat

Perawat

Membantu klien merubah posisi yang nyaman untuk

ruangan

istirahat
R/: klien merubah posisi semifowler, sesak tidak ada

Perawat

Kolaborasi dalam pemberian obat

ruangan

-Metil prednisolon 62.5mg


-Ranitidin 1mg
R/: obat diberikan via IV bolus, tidak ada rembesa, obat
masuk semua

PELAKSANAAN KEPERAWATAN
Nama Klien/ Umur

: Tn.A / 55 tahun

Ruangan/No.Kamar

:HCU isolasi 427.A

No. Register :01440049

Waktu
(Tgl, Jam)
01/06/2016

No.Dx

06.00

Tindakan Keperawatan dan Respon

Paraf dan
nama jelas

Kolaborasi pemberian obat TB (INH 300mg, Rifampicin

Perawat

450mg)

ruangan

R/: obat diminum semua, tidak ada yang dibuang


08.00

Mengukur hemodinamik klien

Ela

R/: TD ;90/50 mmHg. Nadi : 90x/m, RR : 25x/m, S:36c

09.00

Memberikan klien makan pagi

Ela

R/: makan klien habis porsi


10.00

1,2,3

Mengobservasi frekuensi nafas, irama

Ela

R/: pernafasn 25x/m , irama teratur, nafas dangkal


10.00

4,6

Kolaborasi pemberian obat

Ela

-Ranitidin 1 mg
-Metil prednison 62,5mg
-Levofloxacin 750mg
R/: obat masuk semua lewat IV bolus tidak ada rembesan
10.30

Mengganti cairan infus

Ela

R/: klien mendapat Nacl 0,9 % 500cc/12 jam


11.00

(21tetes/menit)
Kolaborasi pemberian bricasma 2 ampul

Ela

R/: Obat masuk on syringe pump dicampur D5% 50cc ,


11.30

obat masuk (2cc/jam)

Ela

Mengobservasi kemampuan klien mengeluarkan sekret


R/: klien mengatakan dahak keluar dan langsung dibuang
12.00

1,2

ke tempat sampah yang tertutup

Ela

Memberikan posisi nyaman


13.00

R/: klien merubah posisi fowler, klien merasa nyaman

Ela

dengan posisi duduk


13.30

1,2

Memotivasi klien untuk makan sedikit tapi sering

Ela

R/: Klien mengtakan makannya habis porsi, mual tidak


ada
Berkolaborasi dalam memberikan obat
-Ambroxol 30 mg
14.00

-Salbutamol 2mg
R/: Obat habis semua dimnum tidak ada yang

Ela

dimuntahkan,, klien mengatakan sesak tidak ada


Mengingatkan klien dan keluarga untuk patuh konsumsi
obat TB
R/: klien mengerti dan akan melakukannya saat dirumah

EVALUASI KEPERAWATAN

Nama Klien/ Umur

: Tn.A /55 tahun

Ruangan/No.Kamar

: HCU - isolasi 427.A

Waktu

No.Dx

No. Register : 41040049

SOAP

Paraf dan
Nama Jelas

30/05/16

1.

14.00
O

A
P

30/05/16

2.

14.00

S
O

A
P

30/05/16

3.

14.00
O

Klien batuk-batuk dari semalam hingga tidak


bisa tidur
- Klien mengatakan batuknya berdahak
- Klien belum bisa batuk efektif
- Klien terlihat lelah
Suara weezing di bagian apeks, dan paru kanan
kiri
Masalah ketidakefektifan bersihan jalan nafas belum
teratasi
Lanjutkan intervensi Dx.1
- Observasi irama nafas
- Lanjutkan therapi
Klien mengatakan masih merasa sesak
Pola nafas dispnea dan tacypnea
RR : 34 X/menit, irama nafas teratur,
kedalaman dangkal, penggunaan otot bantu
nafas (+)
- Klien mengatakan sudah mengerti cara teknik
nafas dalam dan batuk efektif
Masalah ketidakefektifan pola nafas belum teratasi
Lanjutkan intervensi Dx.2
- Observasi pola napas
- Lanjutkan therapi

Ela ameliawati

Klien mengatakan sesak masih terasa

Kepala masih terasa pusing

Pernapasan 34x/m

Klien terlihat lemas

Posisi klien ortopnea, Kedalaman dangkal,


irama nafas ireguler, menggunakan otot bantu
pernafasan

Hasil AGD : ph : 7,304 ; PCO2 :83,2 mmHg ;


HCO3 : 40,5mmol/L

Ela ameliawati

Ela ameliawati

A
Masalah gangguan pertukaran gas belum teratasi
P

30/05/16

4.

Lanjutkan Intervensi

Klien mengatakan semenjak sakit mengalami


penurunan BB 16kg

Nafsu makan kurang, mual (+)

14.00

Ela ameliawati

30/05/16

5.

14.00

S
O

Turgor kulit elastis, Konjungtiva anemis

Mukosa mulut kering, Sklera anikterik

BB : 46, TB: 160 IMT : 17,9 (Gizi kurang)

BBI : 54-60

Klien hanya makan porsi

Masalah nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh belum


teratasi
Lanjutkan intervensi Dx.3
- Anjurkan makan sedikit tapi sering
- Kolaborasi dengan ahli gizi

Klien mengatakan lemas saat merubah posisi


Klien tidur dengan posisi semifowler

Klien akan timbul sesak jika merubah posisi

ADL dibantu oleh keluarga dan perawat

TD: 123/88mmHg, N : 107x/m, RR:28x/m,


S:36c

Ela ameliawati

Masalah intoleran aktifitas belum teratasi


A
P

30/05/16

6.

Lanjutkan intervensi
- Bantu ADL
- Hindari aktifitas berat

Klien mengatakan
memakai masker

dirumah

tidak

pernah

Keluarga klien tidak memakai masker


Jika batuk klien membuang dahak ditempat
yang terbuka
Jika batuk klien menutup mulutnya
Klien rutin meminum obat TB selama di Rumah
sakit
Masalah resiko tinggi penyebaran infeksi belum
teratasi

14.00

Ela ameliawati
O

Lanjutkan Intervensi
Ingatkan untuk selalu patuh minum obat

EVALUASI KEPERAWATAN
Nama Klien/ Umur

: Tn.A /55 tahun

No. Register : 41040049

Ruangan/No.Kamar
Waktu

: HCU - isolasi 427.A

No.

SOAP

Paraf dan

Dx

Nama Jelas

31/05/16
16.00

Klien mengatakan sudah bisa melakukan batuk

Ela

efektif
O

Batuk berdahak

hemodinamik
R/: TD :92/61 mmHg, Nadi : 106x/m, RR 24 x/m,
S :36C, Sa.O2 : 100%

klien sudah bisa melakukan batuk efektif dan


nafas dalam

batuk mengeluarkan dahak , dahak keluar 1 cc,


warna putih , konsistensi kental

Masalah ketidakefektifan bersihan jalan nafas belum


teratasi

31/05/16

16.00

Lanjutkan intervensi Dx.1

klien mengatakan sesak berkurang

Sesak berkurang saat klien diberi posisi fowler

Klien terlihat nyaman

pernafasan 26x/m , irama nafas

Ela

teratur, nafas

dangkal

31/05/16

Masalah ketidakefektipan pola nafas belum teratasi

Lanjutkan intervensi Dx.2

Observasi irama nafas

Lanjutkan therapi

Klien mengatakan sesak masih terasa

Kepala masih terasa pusing

Pernapasan 26x/m

Klien terlihat lemas

Posisi klien ortopnea, Kedalaman dangkal, irama

16.00

Ela

nafas

ireguler,

menggunakan

otot

bantu

pernafasan
-

Hasil AGD : ph : 7,311 ; PCO2 :77,4mmHg ;


HCO3 : 38,2mmol/L

Masalah gangguan pertukaran gas belum teratasi

P
31/05/16
16.00
S
O

31/05/16
16.00
S
O

Ela
ameliawati

31/05/16
16.00

31/05/16

16.00

Lanjutkan Intervensi Dx.3

Klien mengatakan nafsu makannya lebih baik

klien makan mandiri porsi , klien juga sudah

makan biskuit sebelumnya


-

Ela

Masalah

klien mendapat diet TKTP 1700 kalori


nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh belum

teratasi
P

31/05/16

16.00

S
O

Lanjutkan intervensi Dx.4


-

Anjurkan makan sedikit tapi sering

Kolaborasi dengan ahli gizi

Klien mengatakan lemas saat merubah posisi

TD :92/61 mmHg, Nadi : 106x/m, RR 24 x/m, S

:36C, Sa.O2 : 100%


Klien tidur dengan posisi fowler

Klien akan timbul sesak jika merubah posisi

ADL dibantu oleh keluarga dan perawat

Ela

A
Masalah intoleran aktifitas belum teratasi
P
Lanjutkan intervensi

31/05/16
16.00

6.

S
O

Klien mengatakan pagi ini sudah minum obat TB

hasil BTA negatif

Jika batuk klien membuang dahak ke kantong


plastik dan langsung dibuang

Saat batuk, klien selalu menutup mulutnya

Masalah resiko tinggi penyebaran infeksi teratasi


Lanjutkan Intervensi

P
-

Ingatkan untuk selalu patuh minum obat TB

Ela

EVALUASI KEPERAWATAN
Nama Klien/ Umur

: Tn.A /55 tahun

No. Regiser 41040049

Ruangan/No.Kamar
Waktu

: HCU - isolasi 427.A

No .Dx

SOAP

Tanda
tangan

01/06/16

14.00

Klien mengatakan masih batuk dan sudah bisa


mengeluarkan dahaknya

Klien masih batuk-batuk

Sekret ada

Klien mampu melakukan batuk efektif

Ela

Masalah ketidakefektifan bersihan jalan nafas belum


teratasi

01/06/16

Lanjutkan intervensi Dx.1

14.00

Klien mengatakan sesak kadang timbul atau

Ela

bahkan berkurang
O

pernafasan 25x/m , irama teratur, nafas


dangkal

Dispnea dan tacypnea tidak ada

Masalah Ketidakefektipan pola pernafasan belum


teratasi

01/06/16

Lanjutkan intervensi Dx.2

14.00

Klien mengatakan sesak berkurang atau


kadang tidak ada

Pernapasan 25x/m

Klien terlihat lemas

Kedalaman dangkal, irama nafas ireguler,


menggunakan otot bantu pernafasan

Hasil AGD : ph : 7,379 ; PCO2 :65,6 mmHg ;


HCO3 : 37,8mmol/L

Masalah gangguan pertukaran gas belum teratasi

Lanjutkan Intervensi Dx.3

Ela

01/06/16

Lanjutkan terapi yang dsesuai dx

Klien mengatakan nafsu makan baik dan mual

14.00

Ela

sudah tidaak ada


O

Klien mengtakan makannya habis porsi,


mual tidak ada

Maslah perubahan nutrisi kurang dari tubuh sudah


teratasi

01/06/16

14.00

Intervensi dihentikan

Klien mengatakan lemas saat merubah posisi

TD ;90/50 mmHg. Nadi : 90x/m, RR : 25x/m,


S:36c
- Klien terlihat nyaman dengan posisi fowler

Ela

- ADL dibantu oleh keluarga dan perawat

01/06/16

6.

Masalah intoleran aktifitas belum teratasi

Lanjutkan intervensi Dx.5

14.00
O

Klien mengatakan akan patuh minum obat

Klien dan keluarga memakai masker

Saat batuk, klien menutup mulutnya

Obat selalu diminum habis

Ela

Masalah resiko penyebaran infeksi teratasi

Intervensi dihentikan

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

A. Data Pribadi
Nama Lengkap

: Ela Ameliawati

Nama Panggilan

: Ela

Jenis Kelamin

: Perempuan

Tempat, Tanggal Lahir

: Kuningan, 10 November 1995

Kewarganegaraan

: Indonesia

Status Perkawinan

: Belum menikah

Agama

: Islam

Alamat Lengkap

: Jl. Olahraga No.120 Dusun.Bina Loka RT :


02/01Kecamatan.Pasawahan,

Kabupaten

Kuningan Jawa Barat


No. Telpon/Hp

: 083894756503

Alamat email

: elaamelia10@gmail.com

B. Pendidikan
2001-2007

: SDN 01 Kaduela

2007-2010

: SMPN 1 Pasawahan

2010-2013

: SMAN 1 Pasawahan

2013-2016

: Program Diploma III Keperawatan Politeknik Kesehatan


Kementerian Kesehatan Jakarta 1