Anda di halaman 1dari 66

One-Compartment Model

Nur Illiyyin Akib

Asumsi
1.

2.

Satu kompartemen

Pembauran/
pencampuran cepat

Kesetimbangan antara obat dlm darah


dan ekstravaskular terjadi cepat
Konsentrasi obat dalam jaringan dan
cairan tubuh sebanding dgn dalam
darah sepanjang waktu

Obat tercampur dgn sangat cepat di


dalam darah atau plasma, dalam
hitungan menit

3.

Model linier

eliminasi obat mengikuti kinetika orde


satu
Laju perubahan konsentrasi obat
berbanding terbalik dengan
konsentrasi obat yang tersisa

Disposisi Obat
Produk Obat
Jaringan

Obat dlm Darah


Sisi jaringan dan reseptor

Ekskresi

Metabolisme

Obat juga berinteraksi dgn reseptor dan menimbulkan respon terapi atau pun respon toksik.
Kinetika obat dapat diperhitungkan dengan menggunakan model matematik sederhana.

Model satu kompartemen

Perubahan kadar obat dalam darah perubahan kadar


obat dalam jaringan
Eliminasi mengikuti kinetika orde pertama kecepatan
eliminasi setiap saat sebanding dengan jumlah kadar
obat yang tersisa di dalam tubuh pada saat itu
Jumlah obat yang dieliminasi berubah sesuai jumlah yang
masih berada di dalam tubuh fraksi atau persentase
obat yang dieliminasi dari tubuh akan tetap setiap saat

PROFIL FARMAKOKINETIKA KADAR


OBAT DALAM DARAH:

1.
2.
3.

Penggunaan Bolus Intravena


Penggunaan Infus Intravena Kontinyu
Penggunaan Ekstravaskular

1. Penggunaan Bolus Intravena


Bentuk umum kurva perkembangan kadar obat dalam darah
menurut model satu kompartemen setelah pemberian obat

Semua obat akan masuk sekaligus ke dalam sistem peredaran darah,


kemudian jumlah obat dalam darah akan menurun karena obat
mengalami proses distribusi dan eliminasi (metabolisme dan ekskresi).

2. Penggunaan Infus Intravena Kontinyu


Bentuk umum kurva perkembangan kadar obat dalam darah
menurut model satu kompartemen setelah pemberian obat secara
infus dimana infus dihentikan setelah kesetimbangan dicapai

3. Penggunaan Ekstravaskular
Bentuk umum kurva perkembangan kadar obat dalam darah
menurut model satu kompartemen setelah pemberian obat
secara secara ekstravaskular (oral, rektal, dan lain-lain)

Obat akan masuk ke dalam sistem peredaran darah secara


perlahan-lahan melalui suatu proses absorpsi sampai mencapai
puncaknya, kemudian kadarnya akan menurun karena obat
tereliminasi.

1. Intravenous Bolus
Administration

Injeksi Bolus Intravena

Manfaat
Cara

paling sederhana menggambarkan


proses distribusi dan eliminasi obat di dalam
tubuh
Obat disuntikkan/masuk sekaligus ke dalam
suatu kompartemen, lalu tersebar dengan
spontan dan cepat ke seluruh kompartemen
tsb.
Eliminasi juga langsung terjadi setelah
pemberian obat.

Parameter Farmakokinetika
Konsentrasi

obat dalam plasma (Cp)


Volume distribusi (Vd)
Waktu paro eliminasi (t )
Tetapan laju eliminasi (k)
Jumlah total obat di dalam tubuh (AUC)

Konsentrasi obat dalam plasma (Cp)

Obat mengalami kesetimbangan cepat di dalam


tubuh
Sampel dari plasma / cairan biologik dinyatakan
dalam konsentrasi, bukan jumlah
Bobot obat di dalam volume plasma (mg/L) dalam
1L cairan tubuh ada sejumlah mg obat.
Contoh 40 mg/L

Volume Distribusi (Vd)

Jumlah obat dalam suatu lokasi dpt dihubungkan


dengan konsentrasi dgn perbandingan yang tetap,
volume distribusi (Vd)
Vd mencerminkan volume cairan tempat obat
terlarut bukan volume sebenarnya tapi volume
model kompartemen
Berapa banyak cairan tubuh yang ada obatnya.
Volume plasma dewasa 3 L. Jika Vd > 3 L artinya
obat terdistribusi hingga ke jaringan
Jumlah obat dalam tubuh tidak dapat ditentukan
secara langsung. Penentuan melalui sampling
darah.

Volume Distribusi (Vd)


Cp Cp e
0

kt

Substitusi pada persamaan


DB menghasilkan :

Bila Cp0 ditentukan dgn


ekstrapolasi, Volume distribusi
dapat dihitung:
Cp 0

D B Vd Cp

D 0B
Dosis
Vd

0
Cp
Cp 0

Cp0 bukan kadar sebenarnya


ekstrapolasi y.
Sulit mendapat Cp0 yg
sebenarnya pengambilan
sampel dilakukan sesegera
mungkin

Volume Distribusi (Vd)

Vd = D/C
Semakin tinggi konsentrasi obat (larut air, ikatan O-P
plasma meningkat, ikatan O-P jaringan menurun)
menurunkan Vd
Semakin rendah konsentrasi obat (larut lipid, ikatan
O-P plasma menurun, ikatan O-P jaringan
meningkat) menurunkan Vd

Waktu Paro Eliminasi (t1/2)

waktu yang diperlukan


agar kadar obat dalam
sirkulasi sistemik
berkurang menjadi
setengahnya.
the elimination half life is
also a constant for a
drug and is independent
of the administered
dose and the route of
drug administration

t1/2 = 0,693/K

choose any two


concentration values (read
off the y-axis of the
concentration versus time
plot) that are one half of
each other and the
corresponding time values
(from the x-axis of the
plot).
The difference between
the two time values
represents the elimination
half life of the drug.

Tetapan Laju Eliminasi (K atau Kel)


Laju eliminasi mencakup jumlah dari semua proses
pengeluaran obat dari tubuh, yang terdiri dari dua
proses utama :
Metabolisme (hepatik), km
Ekskresi (uriner), ke
Dgn asumsi semua dalam kinetika orde satu
Kel = 0,693 / t1/2

Kel = fraksi obat yang terdapat dalam suatu waktu


yang tereliminasi dalam suatu satuan waktu.
Misal Kel = 0,05/jam artinya 5% dari obat dieliminasi
dalam waktu 1 jam

Model farmakokinetik obat yang diberikan IV bolus cepat

IV

Obat di
dlm tubuh
(DB, Vd)

k
Obat
tereliminasi

Laju penurunan jumlah obat akibat karena eliminasi :

Untuk memperoleh perubahan kadar obat didalam tubuh di setiap waktu sampling:
Integrasi menghasilkan :

dD B
kD B
dt

D B D 0B e kt

(pers. Eksponensial)

Untuk memperoleh garis lurus (perubahan kadar obat dengan laju eliminasi orde I:

ln D B ln D 0B kt

(pers. Linier logaritmik)

Hubungan Vd dgn AUC


D B Vd Cp

menghasilkan

disubstitusi pada persamaan

dD B
kVdCp
dt

Karena k dan Vd adalah konstanta,


integrasi memberikan :

lalu

dD B
kD B
dt

dD B kVdCp dt

D0

dD B k Vd Cp dt

D 0 k Vd AUC 0

Vd

D0

k AUC

10,0
9,00
8,00
7,00
6,00

Contoh A

Cp0 = 5 mg/l

5,00
4,00

Suatu antibiotik diberikan kepada


seorang wanita 50 kg dengan
dosis IV tunggal 20 mg/kg.
Sampel darah diambil secara
periodik untuk menentukan kadar
obat. Data diperoleh sebagai
berikut :

DB0 = 20 mg/kg x 50 kg = 1000 mg

Vd

D 0B 1000 mg

200 L
Cp 0 5 mg / L

3,00

t1/2=(2,3 1,3)jam = 1 jam

2,00

Cp (mg/L)

1,00
0,90
0,80
0,70

1,3

2,3

k = 0,693/t1/2= 0,693/1 jam-1

0,60
0,50

= 0,693 jam-1

0,40
x

0,30

Cp = 5e

-0,693t

0,20

Hitung volume distribusi, tetapan


laju eliminasi, waktu paruh, dan
tuliskan pesamaan kurvanya !
Vd

D 0B
Dosis

0
Cp
Cp 0

0,10
0,09
0,08
0,07
0,06

0,05
0,04
0,03

0,02

t (jam)
0,01
0

10
9
8 ** *
7
6
5

Contoh B
Seorang wanita 50 kg
diberi antibakteri dosis
tunggal iv dosis 6
mg/kgBB. Sampel darah
diambil pada beberapa
interval waktu. Diperoleh
data di bawah:

Cp0=8,5 mg/L
*

3
2

Konsentrasi plasma, Cp (mg/L)

4,5 jam

a. Berapa Vd, k, dan t1/2


antibakteri tsb?
b. Antibakteri ini tidak
efektif pada Cp di bawah
0,4 mg/l. Berapa durasi
efek dari obat tersebut ?
c. Berapa lama waktu
yang diperlukan agar
obat tereliminasi 99,9%?

Db0=6 mg/kgx50 kg = 300 mg

8,5 jam

1
0,9
0,8
0,7
0,6
0,5

t1/2 = (8,5 4,5) jam


= 4 jam

k= 0,693/t1/2
= 0,693/4 jam
= 0,173 jam-1

0,4
0,3
0,2

Cp = 8,5.e-0,173t

0,1
0

10

12

15

Waktu , t (jam)

18

PR 2016
3. Suatu obat baru diberikan dengan dosis tunggal IV 200 mg kepada
pasien pria 80 kg. Setelah 6 jam, konsentrasi obat dalam plasma
terukur 1,5 mg/100 ml plasma. Diketahui volume distribusinya 10%
dari berat badan. Hitung jumlah total obat di dalam cairan tubuh
setelah 6 jam ! Berapa waktu paruh dari obat tsb.?
4. Suatu obat memiliki waktu paruh 6 jam dan mengikuti kinetika orde
satu. Jika dosis tunggal 200 mg diberikan kepada pasien pria dewasa
(68 kg) dengan IV bolus, berapa persen dosis yang hilang setelah 24
jam?
5. Suatu suntikan IV bolus yang mengandung 500 mg sefamandol
nafatat diberikan kepada pasien wanita dewasa (63 tahun, 55 kg)
untuk mengatasi infeksi septisemik. Volume distribusinya diketahui
0,1 L/kg BB dan waktu paruh eliminasi 0,75 jam. Dengan
menganggap obat dieliminasi dengan kinetika orde satu dan model
kompartemen satu, hitunglah :
a. Konsentrasi awal obat di dalam plasma
b. Jumlah obat di dalam tubuh setelah 4 jam
c. Waktu dibutuhkan oleh obat untuk menurun hingga 0,5 g/ml

Luas Daerah di Bawah Kurva (AUC)

Setelah diketahui Cp0 dan k AUC model dapat


dihitung mulai dari t=0 sampai t = tak berhingga
AUC = Cp0/k
AUC model diturunkan dari model kompartemen
AUC bisa dihitung dengan metode trapezoid
AUC menggambarkan jumlah total obat yang
terabsorbsi dan masuk ke sirkulasi.
Satuannya massa.waktu/volume
Hitung AUC contoh A

Klirens (Cl)

Pembersihan obat dari volume plasma per waktu..


Berapa volume darah yang dibersihkan dari obat per
satuan waktu. (L/jam)
Klirens beda dengan kecepatan eliminasi
k = Cp x Cl k berubah sesuai kadar obat dalam
darah
Cl = Div/AUC

Hitung klirens contoh A

Klirens (Cl)

K = Cl/Vd
Karena t 1/2 = 0,693 / k t 1/2 = (0,693 x Vd)/Cl
Nilai CL dan Vd mempengaruhi waktu paro obat.
Nilai Cl dan Vd bisa berubah tergantung kondisi seseorang.
Nilai Cl bisa berubah ketika pasien dalam kondisi patologik,
misalnya karena perubahan kecepatan aliran darah sistemik
yang berakibat pada kecepatan keluarnya obat, disfungsi hati
(cirrhosis hepatis), disfungsi ginjal akut atau kronis, dan lain
sebagainya.
Harga Cl dan Vd ini bisa berubah searah ataupun juga
berlainan arah, misalnya Cl nya naik tapi Vd nya turun, dengan
besaran yang bisa sama ataupun juga bisa berbeda.

Multiple Dose Akumulasi Obat


Jika

dosis ke-2 diberikan dalam jarak waktu


yang lebih pendek daripada waktu yg
dibutuhkan untuk mengeliminasi dosis ke-1
obat terakumulasi.
Jika dosis ke-2 diberikan dalam jarak waktu
yang lebih panjang daripada waktu yg
dibutuhkan untuk untuk mengeliminasi dosis
ke-1 obat tidak terakumulasi.

Injeksi Intravena Berulang

Jumlah maksimum obat dalam tubuh:


D = D0 e-Kt

Jumlah obat yang tertinggal di dalam tubuh:


D = D0 e-K

= interval waktu pemberian (waktu antara dosis


pertama dengan dosis selanjutnya)
Fraksi (f) dosis yang tertinggal di dalam tubuh:
f = D/D0 = e-K

Contoh: Inveksi IV berulang


Seorang pasien diberikan injeksi iv setiap 6 jam
sejumlah 1.000 mg antibiotik, yang diketahui t1/2 = 3
jam. Vd = 20 L. Tentukan kumulatif jumlah obat
maksimum dan minimum
Penyelesaian
f = e-K fraksi dosis obat yg telah tereliminasi
selama interval waktu tsb
K = 0,693/t1/2 = 0,693/3 = 0.231 jam -1

f = e-(0.231)(6) = 0,25
1.000 mg diberikan sebagai D0. Pada akhir jarak
pemberian (sebelum dosis ke-2 diberikan) jumlah
obat tertinggal adalah 25% dari jumlah obat yang
diberikan

Maka

dilihat dari tabel jumlah minimum adalah 333


mg dan jumlah maksimum 1.333 mg.
D0 = Dmaks Dmin terbukti??

Dmaks
Cp

= D0/1-f terbukti??

pada 3 jm setelah dosis ke-2:

Cp

pada 3 jam setelah dosis terakhir

2. Continuous Intravenous
Infusion

Infus intravena kontinyu

Bentuk umum kurva perkembangan kadar obat dalam darah


menurut model satu kompartemen setelah pemberian obat secara
infus dimana infus dihentikan setelah kesetimbangan dicapai

Kurva infus iv kontinyu


Semula tidak ada obat
di dalam tubuh pada
waktu nol
Kadar tunak (steady
state), Cpss

Waktu (jam)

Kadar obat meningkat


sampai mencapai
konsentrasi tunak
(kurva datar)
Pada keadaan tunak
obat yang
meninggalkan tubuh
sama dengan obat
yang masuk (laju infus)

Parameter yang Digunakan

Volume

distribusi

Klirens
Waktu

paro eliminasi

Infus intravena pemberian berulang dengan


kecepatan dan dosis yang sama.
Misal 50 mg/menit 1 menit ada 50 mg obat yang
masuk ke dalam tubuh dari botol infus.
Mudah mengatur banyaknya obat yang masuk
dengan hanya memutar krannya, sehingga kadar
obat di dalam darah dapat diatur sesuai keperluan
pasien.
Menghasilkan kadar obat yang tetap di dalam darah,
sehingga dapat diatur pada kisaran rentang
teraupetik fluktuasi kadar obatnya pun minimum,
pemberian obat-obat rentang terapi sempit.
Lama infus bisa kita atur sesuai keperluan dan
mudah dihentikan jika terjadi ketoksikan.

Proses

masuknya obat pada infus intrvena


mengikuti prinsip orde nol, karena pada infus
intravena pertambahan jumlah obat yang
masuk tiap waktu adalah tetap.
Sedangkan kecepatam eliminasinya
mengikuti proses orde satu.
Perubahan jumlah obat dalam tubuh setiap
saat (dDb/dt) merupakan kecepatan input
dikurangi kecepatan output

Infus Intravena Kontinyu

Proses masuknya obat mengikuti prinsip orde nol


pertambahan jumlah obat yang masuk tiap waktu
adalah tetap.
Kecepatam eliminasinya mengikuti proses orde satu.
Perubahan jumlah obat dalam tubuh setiap saat
(dDb/dt) merupakan kecepatan input (R) dikurangi
kecepatan output (k.Db)
dDb/dt = R - (k.Db)

Persamaan Matematika Model


Satu Kompartemen

Pada infus IV, 2 proses yang terjadi : masuknya obat (laju


infus, R), dan tetapan laju eliminasi kDB

Perubahan jumlah obat selama infus dapat dinyatakan


sebagai :
0

dD B
R kD B
dt

Vd

DB
Dosis

Cp 0
Cp 0

Bila DB disubstitusi dgn Cp.Vd lalu diintegralkan diperoleh


persamaan :

dCp
R

kCp
dt
Vd

R
Cp
(1 e kt )
Vd.k

R
kt
Cp
(1 e )
Vd.k

Vd adalah volume
distribusi dan t adalah
lama pemberian infus

semakin cepat klirens


obat, maka semakin
rendah pula kadarnya di
dalam darah, jika
dosisnya tidak dirubah.
jika klirens pada individu
meningkat, maka harus
diimbangi dengan
naiknya dosis infus.

jumlah obat di dalam darah


sejak pemberian obat
secara infus, tetapi belum
mencapai kadar tunak.
kadar dalam darah
berbanding lurus dengan
dosis obat serta
berbanding terbalik
dengan nilai k x Vd (klirens
).

Contoh
Suatu

obat diberikankepada seorang pasien


melalui infus intravena dengan kecepatan
tetap (50 mg/jam) selama 4 jam. Diketahui
waktu paro eliminasi dan volume
distribusinya adalah 8 jam dan 5 L. Berapa
kadar obat dalam darah 4 jam sejak
pemberian infus?

Penyelesaian
Tentukan

nilai k
k = 0,693/t1/2
= 0,693/8 = 0,0866 /jam
C4 = 50 x (1 - e(-0,0866 x 4)) / 0,0866 x 5
= 33,81 mg/L

R
kt
Cp
(1 e )
Vd.k

Konsentrasi Tunak, Cpss

Infus berlangsung hingga waktu tak terhingga t =


sehingga e-kt mendekati nol
Semakin lama maka kadar akan mendekati 100%.
Ketika t = waktu tak terhingga maka e-k t = 0

R
Cp
(1 e )
Vd.k
R
R
Cp ss

Vd.k Cl
Cl

= klirens obat

Besar dosis dapat


diatur hingga kadar
tunak tidak melampaui
MTC.
Semakin besar klirens
maka kadar tunak
menurun jika dosisnya
tetap

Konsentrasi Tunak Cpss


Cara

lain untuk memperoleh Cpss

dCp R

kCp
dt
Vd
Pada keadaan tunak
ma
ka

Bergantung pada :
- Volume distribusi
- Tetapan laju eliminasi
- Laju infus

Obat m
asuk =
o

dCp
0
dt

bat kel
ua

R
kCp 0
Vd
R
kCp
Vd
R
Cp ss
Vd.k

Perkiraan praktis waktu


tercapainya konsentrasi tunak
Untuk

langkah praktis di klinik, aktivitas obat


teramati jika konsentrasi obat mendekati kons
tunak yang diinginkan
Perkiraan berdasarkan waktu paruh obat
% Cpss tercapai

Perkalian waktu paruh

90
95
99

3,32
4,32
6,65
Bagaimana cara menghitungnya ??

Berapa kali waktu


paruh yang
diperlukan untuk
mencapai 99%
konsentrasi tunak
dalam plasma ?

Jika Kons 99% tunak :

Cp 99%Cp ss

Kons seblm tunak:

R
Cp
(1 e kt )
Vd.K

R
R
(1 e kt ) 0,99
Vd.k
Vd.k
1 e kt 0,99

Kons tunak:

ln e kt ln 0,01

R
Cp ss
Vd.k

kt 4,605
4,605 4,605
t 99%ss

t1 / 2 6,645.t1/2
k
0,693

e kt 1 0,99 0,01

Konsentrasi Tunak (Cpss)

Menurut Leon Shargel : Waktu


yang diperlukan untuk mencapai
90% keadaan tunak 3,3 kali
t1/2
Sedangkan 99% konsentrasi
tunak 6,6 kali t1/2
Jarak pemberian obat yang
pendek memperbaiki keadaan
tunak.
Misalnya suatu obat memiliki
waktu paro eliminasi 4 jam,
maka butuh waktu 4 x 7 = 28 jam
agar tunak sempurna.

%
Waktu Paro
Pencapaian
Eliminasi
Css
1
2
3
3,32
4
4,32
5

50
75
87,5
90
93,75
95
96,88

6
6,6
7

98,44
99
99,22

Konstanta laju eliminasi

Pasien diinfus dengan dosis R dan diambil darahnya


ketika kadar obat masih menaik, yaitu antara 0,5-1,5
kali waktu paro eliminasi, dan diambil lagi ketika
telah tercapai keadaan tunak.
k = Ln (1 ((C1.Cl) / R)) / t1

Contoh Perhitungan

Suatu antibiotik memiliki volume distribusi 10 L dan


tetapan laju eliminasi 0,2 jam-1. Konsentrasi tunak yang
diperlukan sebesar 10 g/ml.
Berapa laju infus yang harus diatur?
Gunakan rumus

R
Cp ss
Vd.k

Jika terjadi perubahan k, maka harus dihitung R baru

Contoh Soal
Pasien

diberikan obat melalui infus intravena


dengan dosis (50 mg/jam). Delapan jam
kemudian darah disampling dan diperoleh
kadar obat 58 mg/L. Setelah tercapai
keadaan tunak, darah disampling dan
diperoleh kadar obat 115,5 mg/L.
Hitung klirens, tetapan laju eliminasi, dan
volume distribusi

Cl
k

= R / Cpss = 50 / 115,5 = 0,433 L/jam

= Ln (1 - ((C1.Cl) / R)) / t1
k = Ln (1 - ((58 x 0,433) / 50)) / 8
k = 0,0861/jam
Vd = Cl / k = 0,433 / 0,0861 = 5,029 L

Metode infus menghitung t1/2


Dari persamaan infus

R
Cp
(1 e kt )
Vd.K
Di mana

Cp Cp ss (1 e kt )
Cp Cp ss Cp ss .e kt
Cp ss Cp Cp ss .e kt
e

Cp ss

R
Vd.k

Cp adalah kadar plasma yang


diambil pada waktu t
Cpss pada pasien

Maka

kt

Cp ss Cp

Cp ss

Cp ss Cp
kt ln
Cp ss
1 Cp ss Cp
k ln
t
Cp ss
di mana
0,693
t1/2
k

Dosis muat, DL
Dosis

bolus awal diberikan untuk capai


kons yang diinginkan dgn secepat mungkin
Kons. setelah iv bolus :

C1
Kons.

0 kt
C p .e

D L kt

e
Vd

setelah infus :

R
kt
C2
(1 e )
Vd.K

Dosis muat, DL
Bila

bolus dan infus diberikan / mulai pada


saat yg sama maka konsentrasi plasma :

Cp C1 C 2
D L kt
R
kt
Cp
e
(1 e )
Vd
Vd.k
R
R kt
DL
Cp

.e
Vd.k Vd Vd.k

Dosis muat, DL
Kalau

dosis muat sama dgn jumlah


obat di dalam tubuh pada keadaan
tunak,
maka DL=Cpss.Vd

Cpss.Vd

= R/k

R
Sehingga: D L
k

Contoh
Berapa

konsentrasi
obat 6 jam setelah
pemberian dosis
muat 10 mg
bersamaan dengan
infus IV dengan laju
2 mg/jam (diketahui
obat tsb memiliki t
3 jam dan volume
distribusi 10 L)?

Diketahui :
t = 6 jam; DL = 10 mg; R = 2
mg/jam; t1/2 = 3 jam; Vd = 10 L
Ditanyakan : Cp6 = ?
Penyelesaian :
Gunakan persamaan infus plus
dosis muat :

DL
R
R
Cp

Vd .k Vd
Vd .k
dengan k = 0,693/t1/2

.e kt

PR 2016
Seorang

dokter akan memberikan suatu anestetik


dengan laju infus IV 2 mg/jam. Diketahui tetapan
laju eliminasinya 0,1 jam 1, dan volume
distribusinya (model satu kompartemen) 10 L.
Berapa dosis muat yang seharusnya diberikan jika
dokter tersebut ingin segera mencapai kadar
plasma 2 g/mL?

Bagaimana Bila Infus Dihentikan ??


b = lama infus
t = total waktu sejak awal infus
t b = waktu setelah infus dihentikan

Cpss
Cpb

Saat infus
dihentikan maka
Cp = Cpss
Selanjutnya krn tdk
ada input obat
maka Cp menurun:
Cp = Cpss . e-kt

Cpt

PR 2016
Seorang

pasien diinfus selama 6 jam dengan


suatu obat yang diketahui k = 0,01 jam 1 dan
Vd = 10 L, dengan laju infus 2 mg/jam.
Berapa konsentrasi obat di dalam tubuh 2
jam setelah infus dihentikan ?

Kasus 1

Seorang laki-laki dewasa penderita asma (BB 78 kg, umur


48 thn) dengan riwayat perokok berat diberi infus IV
aminofillin dgn laju 0,5 mg/kg per jam. Suatu dosis muat 6
mg/kg diberikan dengan bolus IV sesaat sebelum infus
dimulai. Pada waktu 2 jam setelah infus mulai, kadar
plasma teofillin diukur dan didapat sebesar 5,8 g/mL. Vd
teofillin adalah 0,45 L/kg. Aminofillin adalah garam
etilendiamin dari teofillin dan mengandung 80% teofillin
basa.
Karena pasien tersebut kurang memberi respon terhadap
terapi aminofillin, maka dokter ingin meningkatkan kadar
plasma teofillin pada pasien hingga 10 g/mL. Berapa
dosis yang anda rekomendasikan kepada dokter tsb?
Adakah dosis muat lain yang anda rekomendasikan?

Kasus 2
Suatu antikonvulsan diberikan dalam (a) dosis
tunggal IV, dan (b) Infus IV. Konsentrasi obat dalam
serum diberikan pada tabel di samping.
a. Berapa kadar tunak dalam plasma ?
b. Berapa lama waktu diperlukan untuk mencapai
kadar 95% kadar tunak dalam plasma?
c. Berapa klirens obat?
d. Berapa kadar plasma 4 jam setelah infus
dihentikan ? (infus dihentikan setelah 24 jam.)
e. Berapa laju infus pada pasien 75 kg untuk
mempertahankan kadar tunak 10 g/mL?
f. Berapa kadar obat dalam plasma 4 jam setelah
dosis IV 1 mg/kg yang diikuti dengan infus
dengan laju 0.2 mg/kg per jam?

Concentration in
Plasma (g/mL)
Constant
Time
IV
Single IV
(hr)
Infusion
Dose (1
(0.2
mg/kg)
mg/kg
per hr)

0
2
4
6
8
10
12
18
24

10.0
6.7
4.5
3.0
2.0
1.35

0
3.3
5.5
7.0
8.0
8.6
9.1
9.7
9.9

Kasus 3
Suatu

antibiotik diberikan melalui infus IV


disertai dengan dosis muat 250 mg. Menurut
literatur, obat ini memiliki waktu paruh eliminasi
5 jam dan volume distribusi 10 liter. Setelah
tercapai kadar tunak beberapa lama, infus lalu
dihentikan. Setelah 35 jam dari awal pemberian
obat, kadar plasma obat diketahui 2,5 mg/l.
Hitunglah lama infus sebelum dihentikan !

3. Extravascular
Administration

Penggunaan Ekstravaskular