Anda di halaman 1dari 46

PPG

Status Gizi RISKESDAS

FIRDHA SYAVIRA
MIRA HARIYANTI
MIRANTI MULYA DIANI
ALWANISA ZULFA A
INTAN CORNELIA FEBRIYANI
MICHELLE CAROLINE
WIENA ARYNDA

METODOLOGI RISKESDAS
(Metode Sampling)

n
o

variab
el

Definisi
operasional

Cara ukur

Alat ukur

Hasil
ukur

skala

Status
gizi

Kondisi fisik individu sebagai akibat


dari penggunaan asupan zat gizi

Membanding
kan antara
hasil
pengukuran
berat badan
dan tinggi
badan

Berat badan :
timbangan bayi
dengan kapasitas
10,0 kg dan
ketelitian 0.1 kg

Kurang
(<-3 SD)
Normal (2 SD sd
+2 SD)
Lebih
(>+2 SD

Ordinal

Tinggi badan :
mikrotois
kapasitas 200 cm

IMT

Penilaian status gizi dengan Indeks


Massa Tubuh yaitu ukuran
beratdisesuaikan untuk tinggi,
dihitung sebagai berat dalam
kilogram dibagi dengan kuadrat
tinggi dalam meter (kg/m2)

BB/TB2

kg/m2

rasional

Tinggi
badan

Hasil jumlah pengukuran ruas-ruas


tulang tubuh, meliputi tungkai
bawah, tulang panggul, tulang
belakang, tulang leher, dan
kepala diukur dengan stadiometer
Seca 206
yang distandarisasi dengan
ketelitian 0,1 cm.
Pengukuran dilakukan dengan
posisi bidang datar Frakfort
(Frankfort horizontal plane)

tinggi badan
diukur
dengan alat
ukur tinggi
badan
Multifungsi
dengan
kapasitas
ukur dua
meter dan
ketelitian 0,1
cm.

microtoa

cm

rasio

no

variabel

Definisi
operasional

Cara ukur

Alat ukur

Hasil
ukur

skala

Berat
badan

Massa tubuh meliputi otot, tulang,


lemak, cairan tubuh, organ, dan
lain
lain yang diukur
menggunakan timbangan digital
Seca 881
dengan ketelitian 0,01
kg

berat badan
diukur dengan
timbangan berat
badan digital
merek Fesco

Timbangan
Fesco

kg

rasio

Usia/umu
r

Suatu angka yang mewakili


lamanya
kehidupan seseorang. Usia
dihitung
saat pengumpulan data,
berdasarkan
tanggal kelahiran. Apabila
kelebihan
hingga 14 hari maka dibulatkan
kebawah, sedangkan kelebihan 15
hari maka dibulatkan keatas.

wawancara

kuesioner

tahun

nominal

no variabel

Definisi
operasional

Cara ukur

Alat
ukur

Hasil ukur skala

LILA

LILA adalah
pengukuran status gizi
yang menggambarkan
tentang keadaan
jaringan otot dan
lapisan lemak dibawah
kulit lengan

Pengukuran
lingkar perut
dan LILA
menggunakan
satu alat
medline, alat
ukur yang
didisain untuk
mengukur
lingkar lengan
dan lingkar
perut

Pita LILA

cm

rasio

Lingkar
perut

Lingkar perut adalah


angka yang
menunjukkan keliling
perut dalam satuan cm
yang diukur satu jari
diatas pusar
mengelilingi perut

meteran

cm

rasio

Jenis
kelamin

Jenis kelamin adalah


perbedaan bentuk, sifat,
dan fungsi biologis

wawancara

kuesioner Perempuan
/laki-laki

nominal

Kerangka Sampel
Tahap pertama

Tahap kedua

Daftar primary sampling


unit (PSU) dalam master
sampel.

Seluruh bangunan sensus


yang
didalamnya
terdapat rumah tangga
biasa tidak termasuk
institutional household
(panti asuhan, barak
polisi/militer,
penjara,
dsb)

Jumlah
PSU
dalam
master sampel adalah
30.000
yang
dipilih
secara
probability
proportional
to
size
(PPS) dengan jumlah
rumah
tangga
hasil
sensus penduduk (SP)
2010.

Populasi dan Sampel


Populasi dalam
Riskesdas 2013 adalah
seluruh rumah tangga
biasa yang mewakili 33
provinsi.

Sampel rumah tangga


dalam Riskesdas 2013
dipilih berdasarkan
listing Sensus Penduduk
(SP) 2010.

Proses pemilihan rumah


tangga ditentukan oleh
BPS yang memberikan
daftar bangunan sensus
terpilih yang berasal dari
Blok Sensus terpilih

Alat Pengumpul Data dan


Cara Pengumpulan Data

1. Pengumpulan data rumah tangga

Dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan


Kuesioner RKD13.RT dan Pedoman Pengisian Kuesioner

Responden adalah Kepala Keluarga atau Ibu rumah tangga


atau ART yang dapat memberikan informasi.

Dalam Kuesioner RKD13.RT terdapat keterangan tentang


apakah seluruh anggota rumah tangga diwawancarai
langsung, didampingi diwakili, atau sama sekali tidak
diwawancarai.

2. Pengumpulan data individu pada


berbagai kelompok umur
Dilakukan
dengan
teknik
wawancara
menggunakan Kuesioner RKD13.IND dan
Pedoman Pengisian Kuesioner.
Responden adalah setiap anggota rumah tangga.
Khusus untuk anggota rumah tangga yang
berusia kurang dari 15 tahun, dalam kondisi
sakit maka wawancara dilakukan terhadap
anggota
rumah
tangga
yang
menjadi
pendampingnya.

Klasifikasi

Klasifikasi status gizi berdasarkan indeks


BB/U

Gizi buruk : Zscore < -3,0


Gizi kurang : Zscore -3,0 s/d Zscore < -2,0
Gizi baik : Zscore -2,0

Klasifikasi status gizi berdasarkan


indikator TB/U
Sangat pendek : Zscore <-3,0
Pendek
: Zscore - 3,0 s/d Zscore < -2,0
Normal
: Zscore -2,0

Klasifikasi status gizi berdasarkan indikator BB/TB

Sangat kurus : Zscore < -3,0


Kurus
: Zscore -3,0 s/d Zscore < -2,0
Normal
: Zscore -2,0 s/d Zscore 2,0
Gemuk
: Zscore > 2,0

Klasifikasi status gizi berdasarkan


gabungan indikator TB/U dan BB/TB
Pendek kurus : Zscore TB/U <-2,0 dan Zscore BB/TB <-2,0
Pendek-normal : Zscore TB/U <-2,0 dan Zscore BB/TB
antara -2,0 s/d 2,0
Pendek-gemuk : Zscore -2,0 s/d Zscore 2
TB Normal-kurus : Zscore TB/U -2,0 dan Zscore BB/TB <2,0 TB Normal-normal : Zscore TB/U -2,0 dan Zscore BB/TB
antara -2,0 s/d 2,0
TB Normal-gemuk : Zscore TB/U -2,0 dan Zscore BB/TB >2,0

Cara Ukur

Berdasarkan indikator BB/U:


Prevalensi gizi buruk : ( Balita gizi buruk/ Balita) x 100%
Prevalensi gizi kurang : ( Balita gizi kurang/ Balita) x 100%
Prevalensi gizi baik : ( Balita gizi baik/Balita) x 100%
Berdasarkan indikator TB/U
Prevalensi sangat pendek : ( Balita sangat pendek/ Balita) x
100%
Prevalensi pendek : ( Balita pendek/ Balita) x 100%
Prevalensi normal : ( Balita normal/Balita) x 100%

Berdasarkan indikator BB/TB:


Prevalensi sangat kurus : ( Balita sangat kurus/ Balita) x
100%
Prevalensi kurus
: ( Balita kurus/ Balita) x 100%
Prevalensi normal : ( Balita normal/ Balita) x 100%
Prevalensi gemuk : ( Balita gemuk/ Balita) x 100%

Berdasarkan gabungan indikator TB/U dan BB/TB


Prevalensi pendek-kurus : ( Balita pendek-kurus/ Balita) x
100%
Prevalensi pendek-normal : ( Balita pendek-normal/ Balita)
x 100%
Prevalensi pendek-gemuk : ( Balita pendek-gemuk/ Balita) x
100%
Prevalensi TB normal-kurus : ( Balita normal-kurus/ Balita)
x 100%
Prevalensi TB normal-normal : ( Balita normal-normal/
Balita) x 100%
Prevalensi TB normal-gemuk : ( Balita normal-gemuk/
Balita) x 100%

Daerah status gizi indikator BB/U

Daerah status gizi indikator TB/U

Daerah status gizi indikator BB/TB

Secara nasional prevalensi kurus (menurut IMT/U) pada anak umur


5-12 tahun adalah 11.2 persen, terdiri dari 4,0 persen sangat kurus
dan 7,2 persen kurus. Prevalensi sangat kurus paling rendah di Bali
(2,3%) dan paling tinggi di Nusa Tenggara Timur (7,8%).

Secara nasional masalah gemuk pada anak umur 5-12 tahun masih
tinggi yaitu 18,8 persen, terdiri dari Gemuk 10,8 persen dan
sangat gemuk (obesitas) 8,8 persen. Prevalensi gemuk terendah
di Nusa Tenggara Timur (8,7%) dan tertinggi di DKI Jakarta
(30,1%).

2. Status gizi remaja umur 13 -15 tahun

Secara nasional, prevalensi pendek pada remaja adalah 35,1 persen


(13,8% sangat pendek dan 21,3% pendek. Prevalensi sangat pendek
terendah di DI Yogyakarta (4,0 %) dan tertinggi di Papua (27,4%).

Prevalensi kurus pada remaja umur 13-15 tahun adalah 11,1


persen terdiri dari 3,3 persen sangat kurus dan 7,8 persen kurus.
Prevalensi sangat kurus terlihat paling rendah di bangka
belitung (1,4 %) dan paling tinggi di nusa tenggara timur (9,2%).

Prevalensi gemuk pada remaja umur 13-15 tahun di


Indonesia sebesar 10.8 persen, terdiri dari 8,3 persen
gemuk dan 2,5 persen sangat gemuk (obesitas).

3. Status gizi remaja umur 1618 tahun

Secara nasional prevalensi pendek adalah 31,4 persen


(7,5% sangat pendek dan 23,9% pendek).

Prevalensi kurus pada remaja umur 16-18 tahun secara


nasional sebesar 9,4 persen (1,9% sangat kurus dan 7,5%
kurus)

Prevalensi gemuk pada remaja umur 16 18 tahun


sebanyak 7,3 persen yang terdiri dari 5,7 persen gemuk
dan 1,6 persen obesitas. Provinsi dengan prevalensi
gemuk tertinggi adalah DKI Jakarta (4,2%) dan terendah
adalah Sulawesi Barat (0,6%).

4. Kecenderungan status gizi (IMT/U) remaja


umur 1618 tahun tahun 2010 dan 2013

kecenderungan prevalensi remaja kurus relatif sama tahun 2007 dan


2013, dan prevalensi sangat kurus naik 0,4 persen. Sebaliknya prevalensi
gemuk naik dari 1,4 persen (2007) menjadi 7,3 persen (2013).

Status Gizi Dewasa


Status gizi dewasa ( >18 tahun) menurut
1.
indeks masa tubuh (IMT)
perhitungan IMT adalah sebagai berikut:
IMT=berat badan(kg ) tinggi badan(cm

Kategori kurus IMT < 18,5


Kategori normal IMT 18,5 - <24,9
Kategori BB lebih IMT 25,0 - <27,0
Kategori obesitas IMT 27,0

Prevalensi penduduk umur dewasa menurut IMT/U di masing


masing provinsi. Prevalensi kurus 8,7 persen, terendah di provinsi
sulawesi utara(5,6%) dan tertinggi di Nusa Tenggara Timur (19,5%).
Prevalensi berat badan lebih 13,5 persen dan obesitas 15,4 persen,
terendah di provinsi Nusa tenggara Timur (6,2%) dan tertinggi di
Sulawesi Utara (24,0%).

Prevalensi obesitas penduduk laki-laki dewasa (>18 tahun) di


masing-masing provinsi tahun 2007, 2010 dan 2013. Tahun
2013 sebanyak 19,7 persen, prevalensi terendah di Nusa
Tenggara Timur (9,8%) dan tertinggi di provinsi Sulawesi Utara
(34,7%). Tahun 2007 (13,9%) . Tahun 2010 (7,8%)

Tahun 2013 sebanyak 32,9 persen, Tahun 2007 (13,9%) , Tahun


2010 (15,5%). Prevalensi obesitas terendah di Nusa Tenggara
Timur (5,6%), dan prevalensi obesitas tertinggi di provinsi
Sulawesi Sulawesi Utara (19,5%).

Status Gizi Dewasa Menurut Komposit TB Dan IMT

Terlihat tidak terlalu banyak perubahan status gizi normal dari tahun 2007
ke tahun 2013 (<40%), selebihnya adalah variasi masalah pendek-gemuk,
serta normal-gemuk. Terlihat kecenderungan meningkat untuk pendek
gemuk, dan normal gemuk.

2. Status gizi dewasa berdasarkan indikator lingkar perut (LP)

Prevalensi obesitas sentral penduduk umur 15 tahun.


Dinyatakan sebagai obesitas sentral (WHO Asia-Pasifik,
2005 :
laki-laki dengan LP >90 cm
perempuan dengan LP >80 cm
Secara nasional, prevalensi obesitas sentral adalah 26.6
persen,
tahun 2007 (18,8%). Prevalensi obesitas sentral terendah
di Nusa Tenggara Timur (15,2 %) dan tertinggi di DKI
Jakarta (39,7 %).

3. Status risiko kurang energi kronis (KEK) pada wanita usia


subur (WUS) 1549 tahun

prevalensi risiko KEK wanita hamil umur 1549


tahun
secara nasional sebanyak 24,2 persen, terendah
di Bali (10,1%) dan tertinggi di Nusa Tenggara
Timur (45,5%).

Prevalensi risiko KEK wanita usia subur (tidak hamil).


Secara nasional sebanyak 20,8 persen, terendah di Bali
(14%) dan tertinggi di Nusa Tenggara Timur (46,5%).

Prevalensi wanita usia subur risiko (KEK) menurut umur tahun 2007 dan
2013. Secara keseluruhan, prevalensi risiko kurang energi kronis naik pada
semua kelompok umur dan kondisi wanita (hamil dan tidak hamil).
Pada wanita tidak hamil kelompok umur 15-19 tahun prevalensinya naik
15,7 persen. Pada wanita hamil kelompok umur 45-49 tahun naik 15,1
persen.

4. Wanita hamil berisiko tinggi

Prevalensi wanita hamil berisiko tinggi yaitu


wanita hamil dengan tinggi badan<150 cm (WHO
2007).
Prevalensi wanita hamil berisiko tinggi sebesar
31,3 persen, terendah di Bali (12,1%) dan tertinggi
di Sumatera Barat (39,8%).

THANKYOU