Anda di halaman 1dari 16

SMF/ Lab Obstetri dan Ginekologi

Referat

Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman

Kuretase

Disusun Oleh:
Chika Ahsanu Amala (0910015052)
Colin Bid

(0910015027)

Pembimbing:
dr. H. Handy Wiradharma, Sp.OG

Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik


Pada Bagian Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman
RSUD Abdul Wahab Syahranie
Samarinda
2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Prosedur kuretase adalah serangkaian proses pelepasan jaringan yang melekat pada
dinding kavum uteri dengan melakukan invasi dan manipulasi instrumen (sendok kuret)
ke dalam kavum uteri. Sendok kuret akan melepaskan jaringan tersebut dengan teknik
pengerokan secara sistematik.
Kuretase telah banyak dilakukan di seluruh negara untuk menghentikan perdarahan
pada wanita pasca persalinan atau kasus-kasus abortus. Selain itu, kuretase juga
digunakan untuk membantu menegakkan diagnostik dengan pengambilan jaringan
dalam rahim.

1.2 Tujuan
Tujuan dibuatnya referat ini adalah agar dokter muda mampu mengenali dan
memahami definisi, tujuan dan manfaat kuretase, indikasi, prosedur yang dilakukan, dan
komplikasi yang mungkin terjadi pasca kuretase. Dan diharapkan juga, dengan
membuat referat ini dapat menambah wawasan pengetahuan baik bagi penulis maupun
teman-teman sejawat lainnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian
Kuretase adalah cara membersihkan hasil konsepsi atau serangkaian proses
pelepasan jaringan yang melekat pada dinding kavum uteri dengan melakukan invasi
dan memanipulasi/menggunakan instrumen (sendok kuret) ke dalam kavum uteri.1
Kuretase adalah tindakan medis untuk mengeluarkan jaringan dari dalam rahim.
Jaringan itu sendiri bisa berupa tumor, selaput rahim, atau janin yang dinyatakan tidak
berkembang maupun sudah meninggal. Dengan alasan medis, tidak ada cara lain
jaringan semacam itu harus dikeluarkan.2
2.2 Tujuan
2.2.1 Kuret sebagai diagnostik suatu penyakit rahim
Yaitu mengambil sedikit jaringan lapis lendir rahim, sehingga dapat diketahui
penyebab dari perdarahan abnormal yang terjadi misalnya perdarahan pervaginam yang
tidak teratur, perdarahan hebat, kecurigaan akan kanker endometriosis atau kanker
rahim, pemeriksaan kesuburan/ infertilitas.
2.2.2 Kuret sebagai terapi
Kuret ditempuh oleh dokter untuk membersihkan rahim dan dinding rahim dari
benda-benda atau jaringan yang tidak diharapkan Kuret bertujuan untuk menghentikan
perdarahan yang terjadi pada abortus dengan cara mengeluarkan hasil konsepsi yang
telah gagal berkembang, menghentikan perdarahan akibat mioma dan polip dengan cara
mengambil mioma dan polip dari dalam rongga rahim, menghentikan perdarahan akibat
gangguan hormon dengan cara mengeluarkan lapisan dalam rahim, menghentikan
perdarahan dengan cara mengambil tertinggalnya sisa jaringan plasenta, atau mola
hidatidosa.

Meski tujuannya berbeda, tindakan yang dilakukan pada dasarnya sama saja.
Begitu juga persiapan yang harus dilakukan pasien sebelum menjalani kuret.
2.3 Indikasi
Beberapa indikasi kuretase meliputi
Indikasi Diagnostik :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Metroragia
Perdarahan uterus disfungsional
Infertilitas
Amenoresekunder (diduga adanya endometritis tuberkulosis)
Karsinomaendometrium
Polip Uteri
Perdarahan post molar (mungkin disebabkan oleh koriokarsinoma)

Indikasi Terapeutik :
1. Abortus inkomplit, abortus insipiens, missed abortion
2. Sisa jaringan plasenta pasca persalinan
3. Mola hidatidosa
2.4 Persiapan Sebelum Kuretase
2.4.1 Konseling pra Tindakan
a.

Memberi informed consent

b.

Menjelaskan pada klien tentang penyakit yang diderita

c.

Menerangkan kepada pasien tentang tindakan kuretase yang akan dilakukan:


garis besar prosedur tindakan, tujuan dan manfaat tindakan.

d.

Memeriksa keadaan umum pasien, bila memungkinkan pasien dipuasakan.

2.4.2 Persiapan pemeriksaan sebelum Kuretase


a. USG (ultrasonografi)
b. Mengukur tensi dan sistem pernafasan
c. Memeriksa Hb darah
d. Mengatasi perdarahan
2.4.3 Persiapan Pasien Sebelum Kuretase
4

a. Puasa
Saat akan menjalani kuretase, biasanya ibu harus mempersiapkan dirinya. Misal,
berpuasa 4-6 jam sebelumnya. Tujuannya supaya perut dalam keadaan kosong sehingga
kuret bisa dilakukan dengan maksimal.
b. Persiapan Psikologis
Setiap ibu memiliki pengalaman berbeda dalam menjalani kuret. Seperti halnya
persalinan normal, sakit tidaknya kuret sangat individual. Sebab, segi psikis sangat
berperan dalam menentukan hal ini. Bila ibu sudah ketakutan bahkan syok lebih dulu
sebelum kuret, maka munculnya rasa sakit sangat mungkin terjadi. Sebab rasa takut
akan menambah kuat rasa sakit. Bila ketakutannya begitu luar biasa, maka obat bius
yang diberikan bisa tidak mempan karena secara psikis rasa takutnya sudah bekerja
lebih dahulu. Sebaliknya, bila saat akan dilakukan kuret ibu bisa tenang dan bisa
mengatasi rasa takut, biasanya rasa sakit bisa teratasi dengan baik. Meskipun obat bius
yang diberikan kecil sudah bisa bekerja dengan baik. Untuk itu sebaiknya sebelum
menjalani kuret ibu harus mempersiapkan psikisnya dahulu supaya kuret dapat berjalan
dengan baik. Persiapan psikis bisa dengan berusaha menenangkan diri untuk mengatasi
rasa takut, pahami bahwa kuret adalah jalan yang terbaik untuk mengatasi masalah yang
ada. Sangat baik bila ibu meminta bantuan kepada orang terdekat seperti suami,
orangtua, sahabat, dan lainnya.
c. Minta Penjelasan Dokter
Hal lain yang perlu dilakukan adalah meminta penjelasan kepada dokter secara
lengkap, mulai apa itu kuret, alasan kenapa harus dikuret, persiapan yang harus
dilakukan, hingga masalah atau risiko yang mungkin timbul. Jangan takut memintanya
karena dokter wajib menjelaskan segala sesuatu tentang kuret. Dengan penjelasan
lengkap diharapkan dapat membuat ibu lebih memahami dan bisa lebih tenang dalam
pelaksanaan kuret (Fajar, 2007).
d. Mengosongkan kandung kemih
e. Membersihkan genitalia eksterna
f. Membantu pasien naik ke meja ginek
g. Lakukanlah pemeriksaan umum : Tekanan Darah, Nadi, Keadaan Jantung, dan Paru
paru dan sebagainya.
h. Pasanglah infus cairan sebagai profilaksis
i. Pada umumnya diperlukan anestesi infiltrasi local atau umum secara IV dengan
ketalar.
5

j. Cek adanya perdarahan Cek darah untuk mengetahui apakah pasien mengalami
gangguan perdarahan atau tidak. Jika ada indikasi gangguan perdarahan, kuret akan
ditunda sampai masalah perdarahan teratasi. Namun tak menutup kemungkinan kuret
segera dilakukan untuk kebaikan pasien. Biasanya akan dibentuk tim dokter sesuai
dengan keahlian masing-masing, dokter kandungan, dokter bedah, dokter hematologi,
yang saling berkoordinasi. Koordinasi ini akan dilakukan saat pelaksanaan kuret,
pascakuret, dan sampai pasien sembuh.
2.4.3 Persiapan Alat
Alat tenun
1) Baju operasi
2) Laken
3) Duk kecil
Alat kuretase
1) Spekulum Sims atau L 2 buah
2) Sonde penduga uterus (Penera kavum uteri/sondage)
a. Untuk mengukur kedalaman rahim
b. Untuk mengetahui lebarnya lubang vagina
3) Cunam muzeus atau cunam porsio, klem ovum
4) Berbagai ukuran busi (dilator) Hegar
5) Bermacam-macam ukuran sendok kerokan (kuret 1 set)
6) Cunam tampon 1 buah
7) Kain steril dan handscoon 2 pasang
8) Tenakulum 1 buah
9) kom
10) Lampu sorot
11) Larutan antiseptik
12) Tensimeter, stetoskop, sarung tangan DTT
13) Set infus, aboket, cairan infus
14) Kateter karet 1 buah
15) Spuit 3 cc dan 5 cc
6

16) Oksigen dan regulator (Yara, 2011).


2.4.4 Teknik Kuretase
Abortus bedah dilakukan mula-mula dengan mendilatasi serviks dan kemudian
mengosongkan uterus dengan mengerok isi uterus (kuretase tajam) secara mekanis,
melakukan aspirasi vakum (kuretase isap), atau keduanya. Teknik untuk vakum manual
dini baru-baru ini diulas MacIsaac dan Jones (2000). Kemungkinan terjadinya penyulit
termasuk perforasi uterus, laserasi serviks, perdarahan, pengeluaran janin dan plasenta
yang tidak lengkap, dan infeksi meningkat setelah trimester pertama. Atas alasan ini,
kuretase atau aspirasi vakum seyogyanya dilakukan sebelum minggu ke-14.1
Untuk usia gestasi di atas 16 minggu, dilakukan dilatasi dan evakuasi (D&E).
Tindakan ini berupa dilatasi serviks lebar diikuti oleh destruksi dan evakuasi mekanis
bagian-bagian janin. Setelah janin seluruhnya, digunakan kuret vakum berlubang besar
untuk mengeluarkan plasenta dan jaringan yang tersisa. Dilatasi dan ekstraksi (D&X)
serupa dengan D&E, kecuali bahwa pada D&X bagian janin pertama kali diekstraksi
melalui serviks yang telah membuka untuk mempermudah tindakan.1
Tanpa adanya penyakit sistemik pada ibu, kehamilan biasanya diakhiri dengan
kuretase atau evakuasi / ekstraksi tanpa rawat inap. Apabila abortus tidak dilakukan di
lingkup rumah sakit, perlu tersedia fasilitas dan kemampuan untuk resusitasi jantung
paru yang efektif dan akses segera segera ke rumah sakit.1
Teknik Dilatasi dan Kuretase
Sebelum dilakukan kuretase, biasanya pasien akan diberikan obat anestesi (dibius)
secara total dengan jangka waktu singkat, sekitar 2-3 jam. Setelah pasien terbius,
barulah proses kuretase dilakukan. Bibir serviks anterior dijepit dengan tenakulum
bergerigi. Uterus disonde dengan hati-hati untuk mengidentifikasi status os internum
dan untuk memastikan ukuran dan posisi uterus. Serviks diperlebar lebih lanjut dengan
dilator Hegar atau Pratt sampai kuret isap aspirator vakum dengan ukuran diameter yang
memadai dapat dimasukkan. Jari keempat dan kelima tangan yang memasukkan dilator
harus diletakkan di perineum dan bokong sewaktu dilator didorong melewati os
internum. Hal ini merupakan pengamanan tambahan agar tidak terjadi perforasi uterus.
7

Kemudian dilakukan kuretase isap untuk mengaspirasi produk kehamilan.


Aspirator vakum digerakkan di atas permukaan secara sistematis agar seluruh rongga
uterus tercakup. Apabila hal ini telah dilakukan dan tidak ada lagi jaringan yang
terhisap, dilakukan kuretase tajam dengan hati-hati apabila diperkirakan masih terdapat
potongan janin atau plasenta. Kuret tajam lebih efektif dan bahaya yang ditimbulkannya
seharusnya tidak lebih besar dari pada yang ditimbulkan oleh instrumen tumpul.
Perforasi uterus jarang terjadi pada saat kuret digerakkan ke bawah, tetapi dapat terjadi
saat memasukkan setiap instrumen ke dalam uterus.1
Ketika melakukan kuret, ada 2 pilihan alat bantu bagi dokter. Pertama, sendok
kuret dan kanula/selang. Sendok kuret biasanya dipilih oleh dokter untuk mengeluarkan
janin yang usianya lebih dari 8 minggu karena pembersihannya bisa lebih maksimal.
Sedangkan sendok kanula lebih dipilih untuk mengeluarkan janin yang berusia di bawah
8 minggu, sisa plasenta, atau kasus endometrium.
Alat kuretase baik sendok maupun selang dimasukkan ke dalam rahimlewat
vagina. Bila menggunakan sendok, dinding rahim akan dikerok dengan cara melingkar
searah jarum jam sampai bersih. Langkah ini harus dilakukan dengan saksama supaya
tak ada sisa jaringan yang tertinggal. Bila sudah berbunyi krok-krok (beradunya
sendok kuret dengan otot rahim) menunjukkan kuret hampir selesai. Sedikit berbeda
dengan selang, bukan dikerok melainkan disedot secara melingkar searah jarum jam.
Umumnya kuret memakan waktu sekitar 10-15 menit (Fajar, 2007).
Tentukan Letak Rahim
Yaitu dengan melakukan pemeriksaan dalam. Alat alat yang dipakai umumnya
terbuat dari metal dan biasanya melengkung karena itu memasukkan alat alat ini harus
disesuaikan dengan letak rahim. Gunanya supaya jangan terjadi salah arah (fase route)
dan perforasi.
Penduga Rahim (sondage)
Masukkan sonde sesuai dengan letak rahim dan tentukan panjang atau dalamnya
penduga rahim. Caranya adalah, setelah ujung sonde membentur fundus uteri, telunjuk
tangan kanan diletakkan atau dipindahkan pada portio dan tariklah sonde keluar, lalu
baca berapa cm dalamnya rahim.
8

Setelah pasien ditidurkan dalam letak litotomi dan dipersiapkan sebagaimana


mestinya, dilakukan pemeriksaan bimanual untuk sekali lagi menentukan besar dan
letaknya uterus serta ada atau tidaknya kelainan disamping uterus.
Sesudah premedikasi diberikan, infus glukosa 5 % intravena dengan 10 satuan
oksitosin dipasang dan diteteskan perlahan-lahan untuk menimbulkan kontraksi dinding
uterus dan mengecilkan bahaya perforasi. Kemudian anastesi umum, misalnya dengan
penthotal sodium, diberikan. Setelah spekulum vagina dipasang, satu atau dua serviks
menjepit dinding depan porsio uteri. Spekulum depan diangkat dan spekulum belakang
dipegang oleh seorang pembantu. Cunam dipegang dengan tangan kiri si penolong
untuk mengadakan fiksasi pada serviks uteri dan untuk dapat mengatur kekuatan untuk
dapat memasukkan busi Hegar melalui ostium uteri internum. Sonde uterus dimasukkan
dengan hati-hati untuk mengetahui letak dan panjangnya kavum uteri. Sesudah itu
dilakukan dilatasi kanalis servikalis dengan busi hegar dari nomer kecil hingga yang
secukupnya, tetapi tidak lebih dari busi nomer 12 pada seorang multipara. Panjang busi
yang dimasukkan tidak boleh melebihi panjang sonde uterus yang dapat masuk
sebelumnya. Dilatasi pada seorang primigravida lebih sulit dan mengandung lebih besar
terjadinya luka pada serviks uteri, sehingga lebih baik dilakukan pada kehamilan yang
lebih muda dan diadakan dilatasi yang sekecil-kecilnya.
Pada kehamilan sampai 6 atau 7 minggu pengeluaran isi rahim dapat dilakukan
dengan kuret tajam. Harus diusahakan agar seluruh kavum uteri dikerok, agar ovum
kecil tidak terlewat, kerokan dilakukan secara sistematis menurut puteran jarum jam.
Apabila kehamilan melebihi 6-7 minggu, digunakan kuret tumpul sebesar yang
dapat dimasukkan. Setelah hasil konsepsi untuk sebagian besar lepas dari dinding
uterus, maka hasil tersebut dapat dikeluarkan sebanyak mungkin dengan cunam abortus,
kemudian dilakukan kerokan hati-hati dengan kuret tajam yang cukup besar. Apabila
perlu, dimasukkan tampon kedalam kavum uteri dan vagina, yang harus dikeluarkan
esok harinya.
Dilatasi dengan dua tahap
Pada seorang primigravida, atau pada seorang multipara yang memerlukan
pembukaan kanalis servikalis yang lebih besar (misalnya untuk mengeluarkan mola
9

hidatidosa) dapat dilakukan dilatasi dalam dua tahap. Dimasukkan dahulu ganggang
laminaria dengan diameter 2-5 mm dalam kanalis servikalis dengan ujung atasnya
masuk sedikit kedalam kavum uteri dan ujung bawahnya masih di vagina, kemudian
dimasukkan tampon kasa kedalam vagina.
Ganggang laminaria memiliki kemampuan untuk mengabsorpsi air, sehingga
diameternya bertambah dan mengadakan pembukaan dengan perlahan-lahan pada
kanalis servikalis. Sesudah 12 jam ganggang dikeluarkan dan pembukaan dapat
dibesarkan dengan busi hegar, bahaya pemakaian ganggang laminaria adalah infeki dan
perdarahan mendadak.
Kuretase dengan cara penyedotan (suction curettage)
Dalam tahun-tahun terakhir cara ini lebih banyak digunakan oleh karena
perdarahan tidak seberapa banyak dan bahaya perforasi lebih kecil.Setelah diadakan
persiapan seperlunya dan letak serta besarnya uterus ditentukan dengan pemeriksaan
bimanual, bibir depan serviks dipegang dengan cunam serviks, dan sonde uterus
dimasukkan untuk mengetahui panjang dan jalannya kavum uteri. Anastesi umum
dengan penthotal sodium, atau anastesia paracervikal block dilakukan dan 5 satuan
oksitosin disuntikkan pada korpus uteri dibawah kandung kencing dekat pada
perbatasannya pada serviks. Sesudah itu, jika perlu diadakan dilatasi pada serviks agar
dapat memasukkan kuret penyedot yang besarnya didasarkan pada tuanya kehamilan
(diametr antara 6 dan 11 mm). Alat tersebut dimasukkan sampai setengah panjangnya
kavum uteri dan kemudian ujung luar dipasang pada alat pengisap (aspirator).
Penyedotan dilakukan dengan tekanan negatif antara 40-80 cm dan kuret
digerakkan naik turun sambil memutar porosnya perlahan-lahan. Pada kehamilan
kurang dari 10 minggu abortus dapat diselesaikan dalam 3-4 menit. Pada kehamilan
yang lebih tua, kantong amnion dibuka dahulu dengan kuret dan cairan serta isi lainnya
diisap keluar. Apabila masih ada yang tertinggal, sisa itu dikeluarkan dengan kuret
biasa.
Cunam Abortus

10

Pada abortus inisipiens, dimana sudah kelihatan jaringan, pakailah cunamabortus


untuk mengeluarkannya yang biasanya diikuti oleh jaringan lainnya. Dengan demikian
sendok kuret hanya dipakai untuk membersihkan sisa sisa yang ketinggalan saja.
Perhatian : Memegang, memasukkan dan menarik alat alat haruslah hati hati.
Lakukanlah dengan lembut sesuai dengan arah dan letak rahim.
Langkah Klinik
1. Persetujuan tindakan medis
2. Persiapan sebelum tindakan
a. Pasien
Cairan dan selang infus sudah terpasang. Perut bawah dan lipat paha sudah
dibersihkan dengan air dan sabun
Uji fungsi dan kelengkapan peralatan resusitasi kardiopulmoner
Siapkan kain alas bokong, sarung kaki, dan penutup perut bawah
Medikamentosa
o Analgetika

(Pethidin

1-2mg/kgBB,

Ketamin

HCL

0,5mg/kgBB,

Tramadol 1-2mg/kgBB)
o

Sedativa (Diazepam 10mg)

Sulfas atropin (0,25-0,50mg)

Larutan antiseptik (Povidon Iodine 10%)


Oksigen dengan regulator
Instrumen (Lihat pada persiapan alat di atas)
Penolong (operator dan asisten)
o Baju kamar, apron, masker dan kacamata pelindung 3 set
o Sarung tangan DTT/steril
o Alas kaki (sepatu boot)
o Instrumen (lampu sorot, mangkok logam, penampung darah dan
jaringan)
3. Tindakan
1.

Instruksikan asisten untuk memberikan sedatif dan analgetik

2.

Pethidin hanya diberikan apabila tersedia antidotum dan alat resusitasi


11

3.

Lakukan kateterisasi kandung kemih

4.

Lakukan pemeriksaan bimanual ulangan untuk menentukan bukaan serviks,


arah, konsistensi, dan besar uterus.

5.

Periksa kemungkinan penyulit dan kondisi patologis lainnya

6.

Bersihkan dan lakukan dekontaminasi sarung tangan dengan larutan klorin 0,5%

7.

Pakai sarung tangan DTT/steril yang baru

8.

Dengan satu tangan memasukkan spekulum Sims/L secara vertikal ke dalam


vagina

9.

Setelah itu putar ke bawah sehingga posisi bilah menjadi transversal


a. Minta asisten untuk menahan spekulum bawah pada posisinya
b. Dengan sedikit menarik spekulum bawah (hingga lumen vagina tampak jelas)

10. Masukkan bilah spekulum atas secara vertikal kemudian putar dan tarik ke atas
hingga jelas terlihat serviks
a. Minta asisten untuk memegang spekulum atas pada posisinya
b. Bersihkan jaringan dan darah dalam vagina (dengan kapas antiseptik yang
dijepit dengan cunam tampon, tentukan bagian serviks yang akan dijepit (jam
11)
11. Jepit serviks dengan tenakulum pada tempat yang telah ditentukan
12. Setelah penjepitan terpasang dengan baik, keluarkan spekulum atas. Lakukan
pemeriksaan kedalaman dan lengkung uterus dengan penera kavum uteri
(sonde). Pegang gagang tenakulum, masukkan klem ovum yang sesuai dengan
bukaan serviks hingga menyentuh fundus (keluarkan dulu jaringan yang tertahan
pada kanalis).
a. Bila dilatasi serviks cukup besar, lakukan pengambilan jaringan dengan klem
ovum (dorong klem dalam keadaan terbuka sehingga menyentuh fundus
kemudian tutup dan tarik).
b. Pilih klem yang mempunyai permukaan cincin yang halus dan rata, agar tidak
melukai dinding dalam uterus.
13. Keluarkan klem ovum jika dirasakan sudah tidak ada lagi jaringan yang terjepit
atau keluar

12

14. Pegang gagang sendok kuret dengan ibu jari dan telunjuk, masukkan ujung
sendok kuret (sesuai lengkung uterus), melelui kanalis serviks ke dalam uterus
hingga menyentuh fundud uteri.
15. Lakukan kerokan dinding uterus secara sistemik dan searah jarum jam, hingga
bersih seperti mengenai bagian bersabut.
a. Untuk dinding kavun uteri yang berlawanan dengan lengkung kavum uteri,
masukkan sendok kuret sesuai dengan lengkung uteri, setelah mencapai
fundus putar gagang sendok 180o, baru lakukan pengerokan.
16. Keluarkan semua jaringan dan bersihkan darah yang menggenangi lumen vagina
bagian belakang.
17. Selesainya kerokan ditandai dengan keluarnya buih/busa pink, kerokan terasa
halus, adanya kontraksi uterus yang ditandai dengan terjepitnya sendok kuret,
dan perdarahan berhenti.
18. Lepaskan jepitan tenakulum pada serviks
19. Lepaskan spekulum bawah
20. Kumpulkan jaringan untuk dikirim ke laboratorium Patologi.
4. Dekontaminasi
5. Mencuci tangan pasca tindakan
2.5 Perawatan post Prosedur
Berikut merupakan perawatan post kuretase
1. Periksa kembali tanda vital pasien, segera lakukan tindakan dan beri instruksi
2.
3.
4.
5.
6.
7.

8.

apabila terjadi kelainan atau komplikasi.


Pemberian antibiotik untuk menghindari infeksi
Berikan Analgetik seperti Paracetamol 500 mg per oral
Menganjurkan ibu untuk makan, minum dan berjalan sesuai keinginannya
Konseling pasca tindakan
Pada kasus tanpa komplikasi pasien dapat pulang dalam waktu 1-2 jam
Berikan nasihat agar pasien memperhatikan
- rasa keram
- perdarahan jika lebih dari 2 minggu
- perdarahan menstruasi tidak normal
- nyeri yang berat
- demamdan malaise
- pingsan.
Bagi pasien yang ingin mengupayakan kehamilan, dapat mencoba kembali
setelah melewati 2-3 kali fase haid. Hal ini bertujuan untuk menormalkan
13

kembali dinding rahim yang menipis akibat kuretase sehingga risiko terjadinya
perlekatan plasenta pada dinding rahim saat melahirkan dapat diminimalisasi.
2.6 Komplikasi
2.6.1 Perforasi
Dalam melakukan dilatasi dan kerokan harus diingat bahwa selalu ada
kemungkinan terjadinya perforasi dinding uterus yang dapat menjurus ke rongga
peritoneum, ke ligatum latum, atau ke kandung kencing. Oleh sebab itu letak uterus
harus ditetapkan terlebih dahulu dengan seksama pada awal tindakan, dan pada dilatasi
serviks jangan digunakan tekanan yang berlebihan. Pada kerokan kuret dimasukkan
dengan hati-hati, akan tetapi penarikan kuret keluar dapat dilakukan dengan tekanan
yang lebih besar.
Bahaya perforasi adalah perdarahan dan peritonitis. Apabila terjadi perforasi
atau diduga terjadi peristiwa itu, penderita harus diawasi dengan seksama dengan
mengamati keadaan umum, nadi, tekanan darah, kenaikan suhu, turunnya hemoglobin
dan keadaan perut bawah. Jika keadaan meragukan atau ada tanda-tanda bahaya,
sebaiknya dilakukan laparatomi percobaan dengan segera.
2.6.2 Luka Pada serviks uteri
Apabila jaringan serviks keras dan dilatasi dipaksakan maka dapat timbul
robekan pada serviks dan perlu dijahit. Apabila terjadi luka pada ostium uteri internum,
maka akibat yang segera timbul adalah perdarahan yang memerlukan pemasangan
tampon pada serviks dan vagina. Akibat jangka panjang ialah kemungkinan tibulnya
incompetent cervix.
2.6.3 Perlekatan dalam kavum uteri
Melakukan kerokan secara sempurna memerlukan pengalaman. Sisa-sisa hasil
konsepsi harus dikeluarkan, tetapi jaringan miometrium jangan sampai terkerok, karena
hal itu dapat menyebabkan terjadinya perlekatan dinding kavum uteri di beberapa
tempat. Sebaiknya kerokan dihentikan pada suatu tempat apabila ditempat tersebut
dirasakan bahwa jaringan tidak begitu lembut lagi.

14

2.6.4. Perdarahan
Kerokan pada kehamilan agak tua atau pada mola hidatidosa ada bahaya
perdarahan. Oleh sebab itu, jika perlu hendaknya diselenggarakan transfusi darah dan
sesudah kerokan selesai dimasukkan tampon kassa kedalam uterus dan vagina.

Gambar 1. Gambaran Kuretase


DAFTAR PUSTAKA
1. Cunningham, FG, Norman; Leveno, KJ; dkk. 2005. Obstetri Williams. Jakarta.
EGC.
2.

http://hetv.org/resources/reproductivehealth/impac/Procedures/Dilatetion_P61_P63.html

15

3.

Dorland. 1998. Kamus Saku Kedokteran Dorland. Jakarta : Penerbit Buku


Kedokteran EGC.

4. Saifuddin, A. B., dkk. 2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan


Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
5. Supono. 1983. Ilmu Kebidanan Bagian Tindakan. Palembang : Bagian Obstetri
dan Ginekologi Rumah Sakit Umum FK Unsri.
6. Prawirohardjo, S. 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.
7. Manjoer, A., dkk. 2002. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta. Fakultas
Kedokteran UI, Media Aesculapius

16

Anda mungkin juga menyukai