Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

ASWAJA MENURUT PANDANGAN


NU, MADZAB DAN BIDAH

Dosen pengampu :
H. ALI AS`AD, S.Sy., S.Pd.I, M.Pd.I.
Mata Kuliah:

Agama 2 (Ahlussunnah wa al Jama'ah)


Di susun oleh :
Muhammad Nasukha Mahali (151240000376)
Prodi :
Tehnik Informatika

UNIVERSITAS ISLAM NAHDLATUL ULAMA JEPARA

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga
makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan
banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan
memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih
banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan
saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Penyusun

Daftar Isi

Kata Pengantar ..................................................................................... i


Daftar Isi................................................................................................. ii
BAB I Pendahuluan
I.
II.

Latar Belakang.............................................................................. 1
Rumusan Masalah........................................................................ 2

BAB II Pembahasan
1.
2.
3.
4.
5.

Pengertian Aswaja menurut pandangan NU...............................................3


Pengertian Madzab........................................................................................4
Bidah............................................................................................................5
Memakai Sorban............................................................................................6
Mantra-mantra...............................................................................................8

BAB III Penutup


A. Kesimpulan........................................................................................ 9
B. Penutup............................................................................................. 10
Daftar Pustaka........................................................................................ 11

BAB I
PENDAHULUAN
I.

LATAR BELAKANG
Ahlusunnah wal jama'ah atau yang lebih sering kita kenal dengan aswaja
memang merupakan satu istilah yang mempunyai banyak makna, sehingga banyak
golongan dan faksi dalam islam yang mengklaim dirinya sebagai golongan
"ahlusunnah wal jama'ah".

Ahlusunnah wal jam'ah itu merupakan golongan mayoritas umat Islam di


dunia sampai sekarang, yang secara konsisten mengikuti ajaran dan amalan(sunnah)
Nabi Muhammad SAW serta sahabat-sahabatnya dan membela serta memperjuangkan
berlakunya ditengah-tengah kehidupan masyarakat Islam. Untuk dapat memahami
aswaja secara utuh tidak mungkin hanya menggunakan pendekatan secara doktrinal
saja namun juga melalui pendekatan historial dan kultural. Tiga pendekatan tersebut
akan membantu memahami Ahlusunnah wal jama'ah secara utuh sebagai suatu
perangkat aqidah, suatu citra gerakan, suatu karakter sosial, dan suatu model budaya.
Dalam makalah ini kami akan membahas Aswaja-NU, dan keadaan
masyarakat pada saat ini. Ahlusunnah Wal Jamaah yang diikuti olah Bamon Islam
yaitu NU, secara subtansi, ajaran Aswaja sangat menekankan dan mengajarkan
tentang

prinsip-prinsip

Tawassuth-itidal

(keseimbangan-keadilan),

tasammuh

(toleran), tawazun (moderat), dan amar maruf nahi al-mungkar. Ketika sekelompok
orang mengatasnamakan Aswaja, tetapi membentuk karakter yang ekstrim (tatharruf)
dan radikal, maka jelas ajaran itu bukan ajaran Aswaja ala Nahdhatul Ulama (NU).
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai amalan-amalan yang
sering diperdebatkan oleh orang sesama muslim, yang satu mengatakan tidak sesuai
dengan ajaran Rasulullah, dan satu pihak menyatakan mengikuti sunnah Rasulullah,
manakah yang sebenarnya?, apa yang menjadi dasar mereka?, dalam makalah ini
akan dibahas secara singkat tentang Aswaja menurut pandangan NU dan amalanamalannya yang dianut.

II.

RUMUSAN MASALAH
1. Pengertian Aswaja menurut pandangan NU
2. Pengertian Madzab
3. Bidah
4. Memakai Sorban
5. Mantra-mantra

BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Aswaja menurut pamdangan NU
Istilah ahlussunnah wal jamah sudah tidak asing lagi bagi kita. Seperti yang
sudah pernah kita ketahui bahwa pengertian ahlussunnah wal jamaah berasal dari
kata:
- ahlu : golongan atau keluarga atau kelompok.
- assunnah : segala sesuatu yang disandarkan pada nabi muhammad baik perkataan,
perbuatan maupun taqrir beliau.
- al jamaah: kebersamaan atau apa-apa yang sahabat sepakati.[1]
Dari penjabaran diatas maka pengertian ahlussunnah wal jamaah berarti
golongan pengikut Nabi Muhammad SAW baik perkatan, perbuatan, maupun
ketetapan beliau sesuai dengan kesepakatan para sahabat.
Dalam kitab Al-Mausu'ah al-Arabiyah al-Muyassarah sebuah eksiklopedi
ringkas, memberikan definisi Ahlussunnah sebagai berikut: "Ahlussunnah adalah
mereka yanag mengikuti dengan konsisten semua jejak langkah yang berasal dari
Nabi Muhammad SAW dan membelanya. Mereka mempunyai pendapat tentang

masalah agama baik yang fundmental (Ushul) maupun divisional (furu'). Sebagai
pembanding Syi'ah. Diantara mereka ada yang disebut 'salaf' yakni generasi awal
mulai dari sahabat, tabi'in, dan tabi'it tabi'in dan ada juga yang disebut 'kholaf' yaitu
generasi yang datang kemudian. Diantara mereka ada yang yang toleransinya luas
terhadap peran akal, dan ada pula yang membatasi peran akal secara ketat. Diantara
mereka juga ada yang bersifat reformatif (mujaddidun) dan diantaranya lagi bersikap
konservatif (muhafidhun). Golongan ini merupakan mayoritas umat Islam".
Hakekat Nahdlatul 'Ulama (NU) dengan memahami arti dari kata "Nahdlatul"
yang mempunyai makna kebangkitan, maka dapat dimengerti bahwa hakikat NU
adalah Nahdlatul (kebangkitan) dan harakah (gerakan).[2]

Mushofifin, disampaikan pada saat pengantar kuliah aswaja, Tanggal 6 oktober 2013,
kaliwungu.
[2] Mudhofir dkk. Ke NU an.2011. Kendal: TB.Unggul. Hal 15
[1]

Nahdlatul 'Ulama sebagai organisasi keagamaan besar, dan mugkin terbesar dalam
jumlah anggotanya di indonesia, sejak berdirinya pada tanggal 31 Januari 1926 M,
telah menyatakam diri sebagai golongan beraliran "Ahlussunah wal jama'ah" yang
dalam aqidah mengikuti aliran Asy'ariyah-Maturidiyah dalam syari'ah atau fiqih
mengikuti salah satu madzhab empat hanafi-hambali-syaf'i dan maliki, dan dalam
tashawwuf mengikuti Al-junaid dan Al-Ghozali.[3]
Kepemimpinn NU selama ini dipercayakan kepada 'Ulama yang dipandang
memiliki dimensi kepemimpinan yang memadai, yakni dimensi kepemimpinan
ilmiah,

kepemimpinan

sosial,

kepemimpinan

spiritual,

dan

kepemimpinan

administratif.
2. Pengertian Madzab
Madzhab dari asal kata (etimologis) berarti jalan, aliran pendapat, ajaran, dan
doktrin. Dan dalam kajian Islam, pengertian madzhab seperti dipaparkan dalam AlMusu'ah al-Arabiyah al-muyassarah adalah "metode memahami ajaran-ajaran islam,
di dalam Islam ada beberapa macam madzhab, ada yang politis, utamanya adalah
khawarij, syi'ah dan Ahlusunnah. Dan ada yang teologis (kalamiyah) utamanya
adalah Mu'tazilah, Asy'ariyah dan maturidiyah. Dan ada yang fiqhiyah, utamanya
adalah Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah dan Hambaliyah".

Bermadzhab pada dasarnya ialah mengikuti ajaran atau pendapat Imam


Mujtahid yang diyakini mempunyai kompetensi (kewenangan atau kemampuan)
berijtihad. Menurut

Prof. Dr. Said Ramadlon Al-Buthi, bermadzhab ialah

mengikutinya orang awam atau orang-orang yang tidak mencapai kemampuan


ijtihad, kepada pendapat atau ajaran seorang Imam mujtahid tertentu secara tetap,
atau dalam hidupnya dia berpindah dari seorang mujtahid kepada seorang mujtahid
lain.[4]
Pola bermadzhab akan selalu melibatkan dua pihak, yaitu pihak yang diikuti
pendapatnya (mujtahid) atau ijtihadnya dan pihak yang mengikuti pendapat atau hasil
ijtihad para mujtahid.
[3] Hasan, Muhammad Tholkhah.2005. Ahlussunah Wal-Jama'ah Dalam Persepsi NU. Jakarta: Lantabora Press.
[4]

Ibid. Hal 77
3. Bidah
Perbedaan yang terjadi dalam masyarakat tentang masalah biah sangatlah
hangat sebagai bahan pembicaraaan,. Bidah menurut Al-Amam Izzuddin Abdul Aziz
bin Abdissalam mendefinisikan bidah dalm kitabnya Qawaid al-Ahkam fi Mashalih
al-Aman.
Bidah adalah mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dikenal pada masa
Rasulullah[5]
Sedangkan menurut al-Imam Muhyiddin Abu Zakariyah Yahya bin Syaraf alNawawi mengungkapkan hal yang hampir sama bahwa bidah adalah mengerjakan
suatu yang baru, yang belum ada pada masa Rasulullah. Sedangkan seorang ulama
yang dikagumi oleh orang wahabi al-Imam Muhammad bin Ismail al-Shanani dalam
sebuah kitabnya Subul al-Salam Syarh Bulugh al-Maram mengatakan bidah menurut
bahasa adalah sesuatu yang dikerjakan tanpa mengikuti contoh sebelumnya. Yang
dimaksud disini adalah sesuatu yang dikerjakan tanpa didahului pengakuan syara
melalui Alquran dan Sunnah.
Menurut para ulama bidah dalam ibadah dibagi dua: yaitu bidah hasanah
dan bidah dhalalah. Di antara para ulama yang membagi bidah ke dalam dua
kategori ini adalah:
a.

Imam Syafii.

Menurut Imam Syafii, bidah dibagi dua; bidah mahmudah dan bidah
madzmumah. Jadi bidah yang mencocoki sunah adalah mahmudah, dan yang tidak
mencocoki

sunah

adalah

madzmumah.

Bidah hasanah atau mahmudah dibagi menjadi dua. Yang pertama adalah bidah
wajib, kedua adalah bidah sunah.
[5]

Muhammad Idrus Ramli, 2010, Membedah Bidah dan Tradisi, Surabaya: Khalista, hlm

1-2.

b.

Imam al-Baihaqi
Bidah menurut Imam Baihaqi dibagi dua; bidah madzmumah dan ghairu
madzmumah. Setiap Bidah yang tidak menyalahi Alquran, Sunah, dan Ijma adalah
bidah mahmudah atau ghairu madzmumah. Sedangkan bidah yang tercela
(madzmumah) adalah bidah yang tidak memiliki dasar syari sama sekali.

c.

Imam Nawawi
Bidah menurut Imam Nawawi dibagi menjadi dua, bidah hasanah dan
bidah qabihah.

d.

Imam al-Hafidz Ibnu Atsir


Ibnu Atsir juga membagi Bidah menjadi dua; bidah yang terdapat petunjuk
nash (teks al-Quran/hadits) di dalamnya, dan bidah yang tidak ada petunjuk nash di
dalamnya.
Jadi setiap bentuk bidah yang menyalahi kitab dan sunah adalah tercela dan
harus diingkari. Akan tetapi bidah yang mencocoki keumuman dalil-dalil nash, maka
masuk

dalam

Lalu bagaimana dengan hadits


Setiap bidah adalah sesat.
Berikut ini adalah pendapat para ulama:
1. Imam Nawawi

kategoti

terpuji.

Hadits di atas adalah masuk dalam kategori am (umum) yang harus


ditakhshish (diperinci).
2. Imam al-Hafidz Ibnu Rajab
Hadits di atas adalah dalam kategori am akan tetapi yang dikehendaki adalah
khash (am yuridu bihil khash). Artinya secara teks hadits tersebut bersifat umum,
namun dalam pemaknaannya dibutuhkan rincian-rincian.
4. Memakai Sorban
Sorban yang sering dipakai oleh orang laki-laki ketika ibadah seringkali
diperbincangkan, sering muncul pertanyaan dari kaum awam, tentang hukum dan
manfaat memakai sorban. Penggunaan sorban yang seringkali hanya dipakai oleh
para 'Ulama sebenarnya dianjurkan. Hal ini sesuai dengan hadits:
Abu darda' berkata: sesungguhnya Allah memberi Rahmat dan malaikat mendoakan orangorang yang memakai sorban pada hari jumat. (R. Atthabrani)[6]
Pada prinsipnya syariat Islam telah mewajibkan seorang muslim laki-laki
untuk menutup auratnya baik saat solat, diluar solat yang mana antara pusar sampai
dengan lutut. Sedangkan memakai pakaian yang melebihi menutupi aurot itu adalah
terserah masing-masing orang boleh memakainya atau tidak. Namun, bagi seseorang
yang hendak melakukan solat dianjurkan untuk berpakaian sesuai dengan kepantasn
yang telah berlaku disuatu daerah tertentu. Seperti halnya jika di suatu daerah tertentu
biasa menggunakan songkok, berbaju koko dan sarung maka dianjurkan pula
mengikuti traadisi tersebuat.
Hal tersebut juga selaras dengan firman allah dalam Qs. Al-araf 7;31 yang
artinya:
hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah disetiap (memasuki) masjid,
makan dan minumlah , dan jangan berlebih-lebihn. Sesungguhnya allah tidak
menyukai orang- orang yang berlebihan.
Dari ayat tersebut jelas sekali bahwa saat melakukan solat hendaklah
memakai pakaian yang pantaas. Adapun salah satu pakaian yang pantas saat
melakukan solat seperti memakai tutup kepala dengan memaki sorban, atau songkok
atau kopiah. Dalam kitab al- mausuah al- fiqiyah dikatakan juga:
tidak ada perbedaan (khilaf) ulama atas sunnahnya menutup kepala saat solat bagi
lki-laki baik dengan soraban atau yang serupa dengan itu karena nabi melakukan itu
saat solat.

Jadi, menutup kepala saat solat bagi seorang laki- laki baik berupa sorban,
ataupun yang sama fungsinya seperti songkok, dan kopiah adalah sunah. Namun tentu
saja sebagian orang ingin menutup kepala nya saat melakukan solat yang dianggap
paling pantas menurut anggapan masyarakat mereka, artinya tidak harus sorban.
[6]

Bahreisy, Salim. 1977. Terjamah Irsyadul Ibad ilaa Sabilirrasyad Petunjuk Ke Jalan Lurus.
Surabaya: Darussaggaf, PP. Alawy. Hal 127

Akan tetapi sebagian orang yang berpendapat memakai sorban itu sunnah. mungkin
pendapat tersebut berdasarkan pada atsar (perkataan sahabat) ibnu umar yang mana konon
katanya beliau mengatakan:
sekali sholat dengan memakai sorban itu sama dengan 70 kali sholat tanpa
sorban. Atau berdasarkan riwyat anas:sama dengan 10000 kebaikan.
5. Mantra-mantra
Mantra adalah bunyi, suku kata, kata atau sekumpulan kata-kata yang
dianggap mau menciptakan perubahan ( misalnya perubahan spiritual).[7] Pada
dasarnya jenis dan kegunan mantra berbeeda-beda tergantung pada filsafat yang
terkait dengan mantra tersebut.
Dalam kamus besar bahasaa indonesia , mantra diartikan sebagi susunan kata
yang berunsur puisi ( seperti rima dan irama) yang dianggap mengandung kekuatan
gaib, biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang untuk menandingi kekuatan gaib
yang lain.[8]
Menurut ulama, ruqyah atau mantra atau jampi Islami (syar'i) harus
memenuhi 3 (tiga) syarat:
a.

Bacaan yang dibaca berasal dari Alquran atau dari hadits.

b. Harus memakai bahasa Arab, kecuali bagi yang tidak bisa


c.

Harus meyakini bahwa ruqyah tidak ada pengaruhnya tanpa kuasa Allah.
Ruqyah berfungsi sebagai tawassul (perantara) untuk meminta sesuatu
kepada Allah. Sedangkan tawassul sendiri hukumnya dibolehkan dalam arti
bertawassul hanya kepada Allah tidak dengan selain Allah. Para ulama bersepakat
bahwa hukum ruqyah itu boleh, hal ini sesuai dengan beberapa dalil yaitu:
Sahih riwayat Muslim:

Artinya: Ruqyah itu boleh asal tidak mengandung syirik.


Jadi, dari pemaparan diatas jelas sekali bahwa hukum rukyah bisa
diharamkan dan juga bisa diperbolehkan tergantung dari tujuan orang tersebut. Jika
tujuannya untuk bertawashul kepada Allah, maka ruqyah diperbolehkan, akan tetapi jika
mengandung kemusyrikan maka ruqyah adalah haram.
[7] Feuerstein, G. The Deeper Dimension of Yoga.Shambala Publications, Boston, MA. 2003.
[8]

^ http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php kamus bahasa indonesia. diakses tanggal


10 oktober 2013.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

A.
1.

Nahdlatul 'Ulama sebagai organisasi keagamaan besar, dan mugkin terbesar dalam
jumlah anggotanya di indonesia, sejak berdirinya pada tanggal 31 Januari 1926 M,
telah menyatakam diri sebagai golongan beraliran "Ahlussunah wal jama'ah" yang
dalam aqidah mengikuti aliran Asy'ariyah-Maturidiyah dalam syari'ah atau fiqih
mengikuti salah satu madzhab empat hanafi-hambali-syaf'i dan maliki, dan dalam
tashawwuf mengikuti Al-junaid dan Al-Ghozali

2. Madzhab dari asal kata (etimologis) berarti jalan, aliran pendapat, ajaran, dan doktrin.
Dan dalam kajian Islam, pengertian madzhab seperti dipaparkan dalam Al-Musu'ah
al-Arabiyah al-muyassarah adalah "metode memahami ajaran-ajaran islam, di dalam
Islam ada beberapa macam madzhab, ada yang politis, utamanya adalah khawarij,
syi'ah dan Ahlusunnah. Dan ada yang teologis (kalamiyah) utamanya adalah
Mu'tazilah, Asy'ariyah dan maturidiyah. Dan ada yang fiqhiyah, utamanya adalah
Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah dan Hambaliyah".
3. Bidah adalah mengerjakan suatu yang baru, yang belum ada pada masa Rasulullah
4.

Pada prinsipnya syariat Islam telah mewajibkan seorang muslim laki-laki untuk
menutup auratnya baik saat solat, diluar shalat yang mana antara pusar sampai dengan
lutut. Sedangkan memakai pakaian yang melebihi menutupi aurot itu adalah terserah
masing-masing orang boleh memakainya atau tidak.

5. Mantra adalah bunyi, suku kata, kata atau sekumpulan kata-kata yang dianggap mau
menciptakan perubahan ( misalnya perubahan spiritual).[9] Pada dasarnya jenis
dan kegunan mantra berbeeda-beda tergantung pada filsafat yang terkait dengan
mantra tersebut.
B.

PENUTUP
Demikianlah makalah yang kami susun ini, semoga dapat bermanfaat bagi
penyusun khususnya dan pembaca umumnya, kami mohon maaf bila makalah kami
ini memiliki banyak kekurangan, karena kami masih dalam taraf belajar, oleh sebab
itu kami tunggu kritik dan saran yang membangun dari para teman-taman sekalian,
untuk kesempurnaan makalah kami selanjutnya.

[9] Feuerstein, G. The Deeper Dimension of Yoga.Shambala Publications, Boston, MA. 2003.

DAFTAR PUSTAKA
Abdusshomad Muhyiddin, 2008, Hujjah NU Akidah-Amaliah-Tradisi, Surabaya: Khalista.
Muchtar Masyhudi, dkk, 2007, Aswaja An-Nahdliyah, Surabaya: Khalista.
Zaki Hadziq Moh, 2009, Konsep Aswaja Ala Mbah Hasyim Asyari, Jombang: Maktabah
Pustaka Warisan Islam.
Lim Press Lirboyo, 2007, Gerbang Pesantren Pengantar Memahami Ajaran Ahlusunnah wal
Jamaah, Kediri: Bidang Penelitian dan Pengembangan Lembaga Ittihadul
Mubalighin Pon Pes Lirboyo.
Abbas Siradjuddin, 1969, Iitiqad Ahlussunnah wal Jamaah, Jakarta: Pustaka Tarbiyah.
Royyan Danial Muhammad, 2011, Membedah Intisari Ahlissunnah wal Jamaah, Jogjakarta:
Menara Kudus.
Hidayat Muhammad Nur, 2012, Benteng Ahlussunah wal Jamaah, Kediri: Nasyrul ilmi.
Ismail Ibnu, 2011, Islam Tradisi, Kediri: Tetes Publisking Tempias Tinta Emas.
Idrus Ramli Muhammad, 2010, Membedah Bidah dan Tradisi, Surabaya: Khalista.