Anda di halaman 1dari 4

eBook oleh : www.ilma95.

net

Artikel Buletin An-Nur :

5 Prinsip dalam Menyikapi Faham Islam Liberal


Rabu, 07 April 04

Agama atau "dien" di dalam Bahasa Arab berarti aturan yang dipatuhi dan dijadikan
sebagai jalan hidup. Beragama, katakanlah beragama Islam, itu artinya kita memilih dan
menjadikan Islam yang diajarkan oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, sebagai
pedoman atau jalan hidup yang kita tempuh dan kita patuhi selama menjalani kehidupan
di dunia ini. Kita patuhi segala aturan dan ajarannya dengan penuh kesadaran, baik dalam
kehidupan individu maupun dalam kehidupan kolektif (masyarakat). Memilih Islam
sebagai jalan hidup itu juga berarti kita rela dengan segala konsekwensinya, kita yakini
dengan sepenuh hati dan penuh kesadaran jiwa dan akal akan apa yang diperintahkan
kepada kita untuk diyakini, dan kita laksanakan semua perintah-perintahnya dengan
penuh kesadaran pula, dan kita jauhi larang-larangnya dengan penuh keikhlasan dan
ketulusan hati kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala .

Maka seorang muslim yang baik adalah muslim yang selalu memelihara dan menjaga
komitmennya kepada keyakinannya, dan tetap berpegang teguh kepada pendirian dan
keyakinannya sebagaimana tercermin di dalam ajaran Islam yang ia anut, apa pun
resikonya. Itulah arti dari memilih Islam sebagai agama dan the way of life (jalan
kehidupan).

Berikut ini beberapa prinsip dasar yang harus tetap kita yakini dan kita pelihara di tengah
dahsyatnya kecamuk golombang pemikiran yang sesat dan menyesatkan yang
dihembuskan oleh sekelompok orang yang tergabung dalam lingkaran syetan JIL
(Jaringan Islam Liberal), pengusung faham Islam Inklusif atau pun Pluralisme. Mereka
berkeyakinan, bahwa semua agama adalah sama, tidak boleh mengatakan agama sendiri
(Islam) yang benar, sebab semuanya adalah benar, semua menuju Tuhan, hanya
penamaan Tuhan dan cara beribadahnya saja yang berbeda. Dengan memahami prinsip-
prinsip dasar agama Islam, mudah-mudahan kita tidak akan mudah diombang-ambingkan
oleh syubhat/kerancuan yang mereka lontarkan, insya Allah.

Prinsip-prinsip dasar yang dimaksud yakni:

• Prinsip pertama; Kita meyakini dengan sepenuh hati dan seyakin-yakinnya,


bahwa hanya Allah yang berhak kita sembah. Dia tidak beranak dan tidak pula
diperanakkan. Tidak ada sesuatu apa pun yang menyerupai-Nya.

Prinsip ini jelas manafikan segala macam sesembahan dan obyek ibadah selain
Allah, maka penamaan Tuhan (ilah) yang tidak berdasarkan keterangan yang
dijelaskan sendiri oleh Allah dan Rasulullah adalah batil. Itu tidak lebih
sebagaimana yang dikatakan Allah "asma' sammaitumuha antum wa abaukum"
sebutan (nama-nama) Tuhan yang kalian dan moyang kalian julukkan, sama
sekali tidak ada hujjah dan sulthan (kekuatan argumen) atasnya.

Oleh karena itu, menamakan Allah dengan nama Brahma atau Kristus misalnya,
serta beribadah kepadanya, maka jelas merupakan kebatilan, karena yang
demikian bertentangan dengan prinsip tauhid atau keesaan Allah. Berbeda halnya
ketika umat Islam menyebut ar-Rahman atau ar-Rahim, maka yang dituju dan
dimaksud tetap Allah juga, karena Allah sendiri telah menyatakan, bahwa Dirinya
memiliki nama demikian. Di samping itu, ada masalah yang lebih prinsip lagi
yaitu, bahwa masing-masing penyebutan Tuhan di dalam setiap agama memiliki
konsep, persepsi dan kaidah yang berbeda-beda yang jelas tidak mungkin bersatu
dengan konsep ketauhidannya kaum muslimin. Maka menyamakan prinsip
ketuhanan antara Islam dengan agama-agama yang lain, berarti menyamakan
Allah dengan ilah-ilah yang lain atau kalau itu diistilahkan dalam Bahasa Arab
namanya syirik alias menyekutukan Allah.

• Prinsip ke dua ; Kita yakini, bahwa satu-satunya jalan keselamatan yang dapat
mengantarkan kita kepada keridhaan Allah adalah menempuh jalan hidup di atas
ajaran Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, Shalallaahu alaihi wasalam .

Memegang prinsip ini berarti menolak tata cara ibadah yang tidak berdasarkan
tuntunan yang dibawa oleh Rasulullah, maka tidak berlaku slogan banyak jalan
menuju Roma, namun yang berlaku adalah beribadah hanya kepada Allah dengan
cara yang telah diajarkan Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam, inilah
makna syahadat la ilaha illallah Muhammad Rasulullah. Orang Islam tidak akan
mungkin menyembah Allah di Pura dengan tata cara ibadah Hindu, meskipun
dengan menyebut nama Allah, atau menyembah dewa Brahma, Kristus di dalam
masjid. Demikian pula orang Hindu tidak akan mungkin melakukan shalat di
masjid, meskipun dengan menyebut Tuhan mereka. Jika hal itu sampai dilakukan
oleh seorang muslim, maka persaksian la ilaha illallah Muhammad rasulullah
dengan sendirinya gugur dan batal, maka pengakuan seribu kali sebagai muslim
pun tidak berlaku sebelum ia betaubat serta meninggalkan sesembahan selain
Allah dan cara ibadah yang di luar Islam itu.

"Sesungguhnya agama (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam". (Ali Imran:
19)
"Barang siapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali Allah
tidak akan menerimanya, dan ia di akhirat kelak termasuk orang-orang yang
merugi". (Ali Imran: 85)
"Pada hari ini telah Kusempurna-kan bagimu agamamu dan telah
Kusempurnakan atasmu karunia-Ku dan Aku ridha Islam sebagai agama bagi
kamu". (al-Ma'idah: 3)

• Prinsip ke tiga; Kita yakin dengan sepenuh hati, bahwa Islam telah mewakili dan
sekaligus menghapus (muhaiminan `alaih) agama-agama yang pernah diturunkan
Allah sebelumnya.

Dan sebaliknya kita pula meyakini, bahwa agama lain sama sekali tidak dapat
dijadikan sebagai jalan menuju keselamatan, sekalipun kata pemeluknya
merupakan jalan menuju keselamatan. Karena al-Qur'an, kitab suci kita
menginformasikan kepada kita, bahwa ajaran dan kitab suci agama-agama
terdahulu (baca: Taurat dan Injil) telah tidak sempurna, mengalami perubahan
substansial, diselewengkan (tahrif). Yang demikian itulah yang diajarkan oleh
agama Allah. Dan kita wajib meyakini, bahwa siapa saja yang tidak beriman
kepada Islam, Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam, dan keesaan Allah
(tauhid) yang diajarkan oleh para nabi, adalah kafir dan tempatnya di neraka.
Sebab Allah Subhannahu wa Ta'ala. dan Rasul-Nya telah menyatakan demikian!

"Demi Allah yang jiwa Muhammad ada dalam genggaman-Nya, tiada seorang
Yahudi ataupun seorang Nasrani yang mendengar seruanku ini, lalu ia mati
(padahal) tidak beriman kepada ajaranku, melainkan ia adalah penghuni
neraka." (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

Nabi Shalallaahu alaihi wasalam telah mengisyaratkan bahwa siapa saja dari umat
yang dia dakwahi dan atau ia mendengarkan dakwah tersebut, namun tidak mau
beriman dengan risalah yang beliau bawa, maka dia pasti menjadi penghuni
neraka, tidak peduli Yahudi atau Nashrani.

Akan tetapi, meskipun kita meyakini, bahwa Islam adalah jalan satu-satunya yang
dapat mengantarkan kita kepada keselamatan, ia tidak boleh dipaksakan kepada
non muslim untuk meyakini dan mengamalkan ajarannya, apalagi memaksa
mereka supaya memeluknya. Sebab Allah telah menegaskan, “Tidak ada paksaan
di dalam agama". Namun tugas yang diembankan kepada kita, yaitu
menyampaikan dan menyosialisasikan ajaran Islam adalah harus dan wajib kita
lakukan dengan penuh hikmah, pelan-pelan dan memberikan kesempatan kepada
mereka untuk merenung dan berproses secara bertahap.

• Prinsip ke empat ; Kita wajib mengafirkan mereka (non muslim) atau menyebut
mereka sebagai orang kafir.

Karena Allah telah menyatakan kekafiran mereka, sebagaimana firman-Nya,


“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari Ahlu Kitab (Yahudi dan Nasrani)
dan orang-orang musyrik, bahwa mereka tidak akan meninggalkan agamanya
sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata". (al-Bayyinah:1)

"Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata "sesungguhnya Allah itu


ialah "Almasih putra Maryam". (al-Ma`idah: 72).
Demikian pula tentang aqidah trinitasnya kaum Nashara, Allah telah menjelaskan
dengan gamblang,
"Sesungguhnya kafirlah orang- orang yang mengatakan (berkeyakinan)
bahwasanya Allah itu salah satu dari yang tiga". (al-Ma`idah:73).

Meragukan kekafiran mereka adalah bentuk ketidakpercayaan kepada Allah dan


firman-Nya dan wujud ketidakberimanan kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi
wasalam. Maka dari itu para ulama menegaskan, bahwa di antara penyebab
seseorang itu murtad, keluar dari Islam adalah "Tidak mengafirkan atau
meragukan kekafiran orang-orang kafir", yaitu mereka yang dinyatakan oleh
Allah sebagai orang kafir.

• Prinsip ke lima ; Kita tidak boleh melakukan tindakan tidak beradab, anarkisme,
pembunuhan, perusakan dan kekerasan terhadap siapa pun, terhadap orang
muslim ataupun orang kafir.

Selagi orang-orang kafir itu tidak mengganggu atau memerangi kita dalam bentuk
apa pun. Bahkan sebaliknya Allah menganjurkan kepada kita agar kita berbuat
baik dan berlaku adil terhadap mereka.
"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-
orang (kafir) yang tidak memerangimu, karena agama dan tidak (pula)
mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
berlaku Adil". (al-Mumtahanah: 8)

Rasulullah, Shalallaahu alaihi wasalam pun telah bersabda: "Barang siapa yang
mengganggu seorang kafir dzimmi, maka aku adalah musuh-nya di Hari Kiamat
kelak". (al-Hadits).

Begitu indahnya ajaran Islam yang kita anut ini! Ajarannya penuh dengan keadilan,
kesejukan, keramahan dan ketegasan. Betapa indahnya eksklusifisme yang diajarkannya
kepada kita! Ia mengajak kita supaya menjadi muslim yang eksklusif! Muslim yang
benar-benar menampakkan jati diri, tidak mengkaburkan diri namun adil dan menjunjung
tinggi nilai-nilai budi pekerti yang luhur.

Eksklusif tapi tidak anarkis. Eksklusif tapi tidak memaksakan kehendak! Eksklusif tapi
tetap bersikap baik terhadap siapa pun selagi tidak disakiti, tidak diganggu dan tidak
diperangi! Eksklusif tapi adil! Eksklusif tapi tegas! Eksklusif tapi toleran dengan tidak
mencampur baurkan ajaran agamanya dengan ajaran agama lain!

Jika demikian, maka kita kaum muslimin harus bangga dengan Islam yang kita anut,
harus bangga menjadi seorang muslim yang eksklusif. "Katakanlah, saksikan, bahwa
sesungguhnya kami adalah orang-orang Islam!".