Anda di halaman 1dari 6

© Desember 2008, Profesor Omar Hasan Kasule Sr Republished by Unismuh on Kasule`s CopyRights

0901P-PENGOBATAN ALA NABI1


Makalah ini dipresentasikan pada seminar yang diselenggarakan di Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Palembang, bulan Januari 2009, oleh Dr Omar Hasan Kasule Sr. MB ChB (MUK), (MPH)
Harvard, DrPH(Harvard) Profesor Epidemiologi dan Kedokteran Islam Universitas Brunei Darussalam dan
Profesor Tamu Epidemiologi Universitas Malaya. EM omarkasule@yahoo.com WEB:
http://omarkasule.tripod.com

KARAKTERISTIK DASAR PENGOBATAN ALA NABI

Definisi: Thibbun Nabawi mengacu pada kata dan tindakan Rasul yang terkait dengan usaha
menanggulangi wabah penyakit, penyembuhan penyakit, dan perawatan pasien. Termasuk
ucapan Rasul mengenai masalah kesehatan, tindakan medis yang dipraktekkan orang lain
pada masa Rasulullah, tindakan medis yang dipraktekkan oleh Nabi pada diri Beliau sendiri
dan orang lain, tindakan medis yang diamati oleh Rasul, prosedur kedokteran yang Rasul
dengar dan ketahui tentangnya dan tidak melarang, atau praktek-praktek kedokteran umum
yang harus diketahui Rasulullah. Pengajaran Pengobatan Ala Nabi khusus untuk tempat,
populasi, dan waktu tertentu. Termasuk juga pedoman umum kesehatan fisik dan mental yang
bisa digunakan pada semua tempat, waktu dan segala kondisi. Thibbun nabawi bukan satu-
satunya sistem kesehatan sistematis monolitik sebagaimana beberapa orang ingin kita
mempercayainya. Hal ini bervariasi sesuai kondisi, meliputi pengobatan pencegahan,
pengobatan kuratif, keadaan mental yang baik, spiritual yang terjaga, ruqyah, perawatan
kesehatan dan praktik bedah. Thibbun nabawi menyatu dengan pikiran dan badan, ruh dan
jasad.

Penelitian Metode Penyembuhan: Rasul mengatakan sebuah prinsip dasar dalam pengobatan
untuk setiap penyakit adalah perawatan (ma anzala allahu daa; illa anzala lahu shifa'a-
Kitaab al Tibb, al Bukhari). Hal ini mendorong kita untuk mencari cara pengobatan. Dengan
demikian, tradisi pengobatan ala Nabi tidak hanya berhenti pada pengajaran pengobatan oleh
Rasulullah ,melainkan untuk mendorong manusia agar terus mencari dan bereksperimen
dengan ilmu pengobatan baru. Hal tersebut merupakan implikasi bahwa pengobatan ala Nabi
tidaklah statis. Ada ruang untuk berkembang , bahkan memunculkan dasar ilmu yang baru.
Implikasi-implikasi lainnya dari hadist ini adalah pengobatan tidak bertentangan dengan
qadar (ketentuan awal). Keduanya baik penyakit maupun penyembuhannya adalah bagian
dari qadar.

SUMBER THIBBUN NABAWI

Pengobatan Arab pada Masa Sebelum Islam: Thibbun nabawi mempunyai beberapa sumber:
wahyu; pengalaman empiris Rasulullah, pengobatan tradisional pada masa itu di

                                                            
1
 Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ummi Ashim Azzahra dan Anisa Eka Trihastuti, Mahasiswa 
Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Semarang,  

cp : 081318681994, e‐mail : yusibnuyassin@yahoo.com 

  1
© Desember 2008, Profesor Omar Hasan Kasule Sr Republished by Unismuh on Kasule`s CopyRights

semenanjung Arab, serta sangat mungkin ilmu pengobatan dari komunitas lain telah diketahui
di Mekkah dan Madinah pada masa Rasulullah.

Al Qur’an sebagai salah satu sumber Thibbun nabawi : Banyak ayat dalam Al Qur’an yang
berhubungan dengan penyakit dalam tubuh dan pikiran serta cara penyembuhannya.. Al
Qur’an berbicara tentang kesehatan fisik dan mental yang buruk/ penyakit hati. Al Qur’an
memuat tentang do’a untuk kesehatan yang baik sebagaimana panduan terapi khusus seperti
madu, hanya memakan makanan yang sehat dan halal, menghindari makanan yang haram
dan tidak sehat, serta tidak makan dalam jumlah yang berlebihan. Al Qur’an bukanlah buku
teks kesehatan tetapi sebuah kitab bimbingan moral. Berisikan informasi dan pedoman dasar
mengenai masalah kesehatan yang memberikan kesempatan manusia untuk melakukan
penelitian dan menambah keterangan lebih detail. Menyempitkan jenis obat hanya sesuai
dengan ayat-ayat Al Qur’an akan membuatnya sangat terbatas karena Al Qur’an sangat
selektif dalam pengawasan secara khusus terhadap hal-hal mendetail yang memungkinkan
lahan terbuka bagi manusia untuk berobservasi, mencari tanda-tanda kebesaran Allah di
muka bumi, aayaat al llaah fi al ardh.

Hadist Sebagai Sumber thibbun nabawi: Berikut ini adalah bentuk-bentuk dari pengajaran
kesehatan oleh Rasulullah: Sabda Rasul tentang masalah pengobatan, perawatan medis yang
dipraktekkan orang lain pada masa Rasulullah, perawatan medis yang diamati Rasul,
prosedur medis yang Rasul dengar/ketahui tentangnya dan tidak melarang. Jumlah
keseluruhan hadist tentang pengobatan sekitar 300; Banyak yang tidak mencapai tingkatan
hasan. Bukhari dalam Sahihnya menceritakan 299 hadist yang secara langsung berhubungan
dengan pengobatan. Beliau menyumbangkan dua buah buku kesehatan: kitaab al tibb dan
kitaab al mardha. Banyak hadist Bukhari lainnya yang secara tidak langsung berhubungan
dengan kesehatan. Para akademisi telah mengumpulkan hadist-hadist ini dan beberapa
diantara mereka menghubungkannya dengan ilmu kedokteran yang telah ada . Hadist
mengenai pengobatan fisik berdasarkan pada wahyu maupun pengalaman empiris. Dalam
banyak kasus, kita tidak dapat memisahkan dua sumber hukum tersebut, kecuali ada indikasi
khusus bahwa wahyu dibutuhkan, misalkan dalam hadist pemakaian maduuntuk mengobati
penyakit perut ringan seorang shahabat. Jadi, hadist yang tidak menjelaskan wahyu bersifat
tidak mengikat, ghair mulzimat. Akan tetapi, semua hadist mengenai penyembuhan jiwa dari
penyakit adalah wahyu dan wajib, mulzimat

Buku-buku tentang thibbun nabawi: Banyak buku telah ditulis mengenai al thibb al nabawi
selama beberapa abad :

al Tibb al Nabawi ditulis oleh Ibn al Qayyim al Jauziyyah (d. 751H / 1350 M), al Hafidh Abu
Abd al llaah Syamsudiin Muhammad bin Ahmad al Dhahabi (d. 748H), Abu al Qasim al
Husain bin Muhammad bin Habiib al Naisapuuri (d. 206H), Abu al Sunni Abu Bakar Ahmad
bin Muhammad al Dainawiri (d. 364H), Abu Nu’aim Ahmad bin Abd al llaah al Asfahani (d.
430H), Abu al ‘Abbaas Ja’afar bin al Mu’utazz al Mustansiri (d. 433H), Dhia al Ddiin
Muhammad bin ‘Abd al Waahid al Maqdasi (d. 643H), Syamsudiin Abu Abd al llaah
Muhammad bin Abi al Fath al Ba’ali (d. 709H), Abu Abd al llaah Muhammad bin Yusuf al
Sanuusi (d.. 895H), Abu al Hasan Nuruddiin Ali Bin Muhammad al Jazaar al Masri (d..

  2
© Desember 2008, Profesor Omar Hasan Kasule Sr Republished by Unismuh on Kasule`s CopyRights

914H), Qaisuufi Zaadet Muhammad Badrudiin (d. 1020H), Abdul Waziir al Abhari.
Jamaaluddiin Daud,

Mukhtasar al tibb al nabawi ditulis oleh Jalaluddin al Suyuti.

Al Ahkaam al Nabawiyyat fi al sina’at an tibiyyat ditulis seorang dokter Ali bin Tarkhaan.
Kitaab al tibb fi al hadiith oleh Abu ‘Ubaid bin al Hasan al Harraani (d. 369H).

Al Ahkaam al Nabawiyyah fi al sina’at al tibiyyat oleh Ali bin Abdul Karim al Hamawi (d.
720H).

Al Rahmat fi al Tibb wa al Hikmat oleh Mahdi bin Ali al Sabiiri (d. 815H),

Al Sayr al Qawi fi al Tibb al Nabawi oleh Muhammad bin And al Rahman al Sakhaawi (d.
902H),

Al Manhaj al Sawi a al Manhal al rawi fi al Tibb al Nabawi oleh Jalaluddiin Abdul Rahman
bin Abu Bakar al Suyuti (d.911H).

Al Rahmat fi al Tibb wa al Hikmat dari Jalaluddiin Abdul Rahman bin Abu Bakar al Suyuti
(d.911H).

Rawdh al Insan fi Tadaabiir Sihhat al Abdaan oleh Khair al Ddiin Khidhr bin Mahmud al
‘Atuufi al Murzaifuuni (d. 948H).

Al Masaabih al Sunniyyat fi Tibb Khair al Bariyyat oleh Shihaabuddiin Abu al ‘Abbaas


Ahmad bin Ahmad bin Salamah al Qalyuubi (d. 1069H).

Sihhat Aabaad oleh Utsman Zadeh Thaib Ahmad (d. 839H).

Mukhtasar al Tibb al Nabawi oleh Mur’ish ZadehQudduus Ahmad Affendi (d. 1265H).

thibbun nabawi Membutuhkan Buku-buku Baru: Dalam bukunya Thibb al Nabawi, Imaam
Ibnul Qayim al Jauziyah menyebutkan banyak kondisi kesehatan yang pedomannya telah
disediakan oleh Rasulullah. Beliau menafsirkan hadist menggunakan pengetahuan yang telah
ada pada masanya. Buku ini membutuhkan penulisan kembali dan akan terlihat sangat
berbeda jika tulisannya menafsirkan tradisi Rasulullah menggunakan pengetahuan medis
terkini. Dengan pengetahuan medis modern kita bisa mengidentifikasi lebih banyak hadist
yang relevan dengan dunia kedokteran.

KLASIFIKASI THIBBUN NABAWI:

Thibbun nabawi Preventif (Pencegahan): Klasifikasi tradisi yang berhubungan dengan


pengobatan tergantung pada kondisi ilmu pengetahuan serta perubahannya mengikuti ruang
dan waktu. Jalaluddin al Suyuti menulis sebuah buku tentang thibbun nabawi dan membagi
pengobatan menjadi 3 jenis: tradisional, spiritual dan pencegahan. Kebanyakan thibbun
nabawi merupakan pencegahan. Konsepnya tergolong ilmu pengetahuan yang sangat maju
pada masa hidup Rasulullah serta diyakini merupakan ilham yang turun langsung dari Allah.
Al Suyuti (1994) menguraikan langkah medis preventif seperti makanan dan olahraga.

  3
© Desember 2008, Profesor Omar Hasan Kasule Sr Republished by Unismuh on Kasule`s CopyRights

Langkah medis preventif lainnya yang diajarkan di dalam hadist meliputi: karantina untuk
penderita wabah, hijr sihhi, melarang urinasi pada air yang tenang / tidak mengalir,
penggunaan sikat gigi, siwaak, perlindungan rumah pada malam hari dari kebakaran dan
penyakit pes, meninggalkan sebuah Negara karena keadaan air dan iklimnya, kesehatan
mental dan pernikahan, kesehatan pernikahan dan seksual, kontrol diet untuk mencegah berat
badan berlebihan, menjaga kebersihan dan mencegah najis.

thibbun nabawi Spiritual: Penelitian thibbun nabawi menyatakan bahwa ada aspek-aspek
spiritual dari pennyembuhan dan pemulihan. Doa, pembacaan Al Qur’an, dan mengingat
Allah sebagai satu-satunya sesembahan. Penyakit psikosomatik dapat merespon pendekatan
spiritual. Penggunaan ruqyat (surat al fatiha, al mu’awadhatain) jatuh di antara proses
penyembuhan fisik dan spiritual. Bagian penyembuhan dari ruqyat bisa difahami dalam
istilah modern : bahwa jiwa mampu mengendalikan mekanisme kekebalan tubuh yang
mencegah penyakit.

thibbun nabawi Kuratif (Penyembuhan): Ibnul Qayim al Jauziyah menyebutkan banyak


penyakit yang tindakan medisnya direkomendasikan dari thibbun nabawi. Penyakit-penyakit
oleh thibbun nabawi dapat diobati dengan pengobatan alami: demam, humma; pergeseran
bowl, istitlaq al batan; dropsy, istisqa; luka, jarh; epilepsi, sar’a; sciatica, ‘irq al nisa;
tekanan darah tinggi, tabau’; iritasi kulit, hakk al jism; pleurisy / radang selaput dada, dhaat
al janb; sakit kepala dan hemikrania, sidau and shaqiiqat; radang tenggorakan, ‘adhrat;
pembesaran jantung, al maf’uud; ; ophthalmia, al ramad; catalepsy, khudran al kulli; iritasi,
bathrat; erupsi kulit, awraam; keracunan makanan, sum; pengaruh sihir, sihr; dan kutu
kepala. Beliau juga menyebutkan penyakit-penyakit lainnya seperti: pes, leprosy, penyakit
mata, tenggorokan dan tonsil, diare, penyakit lambung, demam, gigitan ular, gigitan
kalajengking, keracunan makanan dengan gejala pening, sakit kepala, hidung berdarah, gigi,
batuk, dropsy, sprain / keseleo, fracture / patah, gigitan anjing rabies, dan mata merah..
Perawatan medis yang disebutkan adalah madu, al 'asal; air dingin untuk demam, al mau al
barid; diet, ghadha; susu, al laban; susu unta, urine unta. Biji gelap, al habba al sauda, yang
dijelaskan khususnya. Perawatan bedah yang disebutkan adalah: bekam, al hijaam;
kauterisasi, al kayy; veneseksidengan kauterisasi qatiu al uruuq wa al kayy.

APLIKASI THIBBUN NABAWI UNTUK ZAMAN SEKARANG

Pertimbangan umum: Ada 3 aspek yang berhubungan dengan aplikasi modern thibbun
nabawi. (a) apakah thibbun nabawi bagian dari syariah? (b) apa cakupan dari thibbun
nabawi? (c) perubahan ruang dan waktu (d) penelitian empiris tentang thibbun nabawi.

Thibbun nabawi Sebagai Bagian dari Syari’at: Syari’at dapat dibedakan menjadi dua
pengertian: (a) peraturan yang tetap dan kokoh, yang bisa diaplikasikan untuk segala tempat
dan waktu, dan (b) prinsip-prinsip umum yang aplikasi detailnya berubah mengikuti tempat
dan waktu. Jika kita mengambil arti syari’at dalam (b) di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa
pengobatan ala Nabi adalah bagian dari syari’at Islam yang bisa berubah dan tumbuh
menggunakan ijtihad dan penelitian empiris untuk mengaplikasikan prinsip umum syari’at
pada kondisi yang berubah-ubah.

  4
© Desember 2008, Profesor Omar Hasan Kasule Sr Republished by Unismuh on Kasule`s CopyRights

Cakupan thibbun nabawi: Telah dijelaskan bahwa Thibbun Nabawi tidak mencakup seluruh
penyakit yang mungkin terjadi pada masa Rasulullah, juga tidak bisa mencakup semua
penyakit ringan zaman sekarang atau masa depan di berbagai belahan dunia. Hal ini sangat
mudah difahami, konteksnya adalah saat mempraktikkan ilmu kedokteran misi utama beliau
bukanlah ilmu kedokteran dan beliau bukan sepenuhnya seorang dokter. Hadist Rasul
seharusnya tidak dilihat sebagai buku teks pengobatan, tetapi digunakan untuk penyakit-
penyakit yang berhubungan dengannya. Cara yang paling sesuai untuk mendapatkan
tambahan ilmu pengobatan adalah melalui penelitian dan mencari tanda-tanda kebesaran
Allah di alam semesta.

Perubahan Ruang dan Waktu: Apapun yang Rasul katakan atau lakukan adalah benar dan
harus diikuti karena Beliau tidak pernah berkata dusta bahkan bercanda. Ijtihad Rasul hingga
dalam masalah-masalah duniawi pun dilindungi, ma'suum. Bukti otentik hadist yang kita
punyai sangatlah valid, baik dalam masalah 'aqidah ataupun keduniawian.Usaha untuk
membedakan antara ilmu pengobatan yang diajarkan pada zaman Rasulullah dengan
kehidupan Arab pada masa itu bukanlah hal yang signifikan. Pertanyaannya adalah apakah
semua atau beberapa dari thibbun nabawi harus dipakai pada zaman sekarang. Jika diagnosis
dari suatu penyakit dan semua kondisi di sekitarnya jelas seperti pada zaman Rasulullah,
maka kita tidak akan ragu mengatakan bahwa thibbun nabawi harus digunakan. Pada
kenyataannya, sulit untuk meyakini bahwa keadaannya sama. Perubahan patologi penyakit,
perubahan kelompok genetika pasien, perubahan kelompok genetika tanaman kesehatan,
kondisi cuaca dan iklim adalah faktor-faktor tidak tetap yang mungkin membuat pengobatan
tertentu yang direkomendasikan oleh Rasulullah tidak sesuai untuk kondisi kesehatan saat ini.
Kondisi waktu dan tempat telah berubah. Penggunaan acak ilmu pengobatan secara historis
dapat menyebabkan penggunaan obat yang benar untuk penyakit yang salah. Bahkan ada pula
permasalahan linguistik, karena makna kata-kata telah berubah. Apa yang disebut demam
pada abad 1 H mungkin tidak sama seperti makna zaman sekarang. Bahkan tanaman
kesehatan seperti black seed mungkin bukan tanaman yang sama. Oleh karena itu, kita bisa
menyimpulkan bahwa ajaran dari thibbun nabawi hanya bisa menjadi fondasi untuk
membimbing dan menguatkan penelitian ilmiah untuk terapi pengobatan yang tepat pada
zaman kita.

Penelitian Empiris pada thibbun nabawi: Banyak perhatian ilmiah dalam ajaran Rasulullah
saw mengenai pengobatan. Jinten hitam (nigella sativa) adalah salah satu contoh pengobatan
ala Nabi yang telah dipelajari secara luas oleh umat Muslim dan non-Muslim.

Kesimpulan dan Tantangan Masa Depan: Dari survey di atas kita bisa menyimpulkan bahwa
thibbun nabawi adalah sistem kesehatan yang otentik dan valid. Prinsip umum dari sistem ini
adalah dapat diaplikasikan di segala tempat dan waktu. Ilmu pengobatan khusus yang
diajarkan Nabi Muhammad saw adalah benar dan bermanfaat. Namun tidak akan dapat
digunakan pada zaman sekarang tanpa penelitian empiris lebih lanjut.

  5
© Desember 2008, Profesor Omar Hasan Kasule Sr Republished by Unismuh on Kasule`s CopyRights

  6