Anda di halaman 1dari 3

Belajar Bahasa Arab itu Perlu Sabar dan Istiqamah

Sebagian besar mahasiswa atau pelajar di mana-mana, bahasa Arab


dianggap sebagai salah satu mata pelajaran yang menakutkan, bahkan
ada sebagian mahasiswa atau pelajar yang menganggap bahasa Arab
sebagai momok yang menakutkan. Bahkan pernah ada mahasiswa yang
setiap masuk perkuliahan bahasa Arab selalu pingsan di dalam kelas,
sehingga harus dirawat di rumah sakit.

Pandangan negatif di kalangan mahasiswa atau pelajar bahwa bahasa


arab adalah bahasa yang sulit, menakutkan, seperti momok dan
sebagainya, mungkin salah satunya terjadi karena kesalahan guru dalam
mengajar. Guru atau dosen bahasa Arab biasanya memang
berpenampilan kurang menarik; tua, lusuh, wajah menakutkan, kereng,
menggunakan metode tradisional dan monoton, sehingga baru melihat
dosen atau gurunya saja, mahasiswa atau pelajar sudah ketakutan,
ditambah lagi dengan materi bahasa arab yang rumit. Karena itu, tidak
heran jika muncul anggapan-anggapan yang negatif terhadap
pembelajaran bahasa arab. Karena itu, guru atau dosen bahasa arab
harus memiliki penampilan dan strategi pembelajaran yang baik agar
mereka bisa mengajarkan bahasa arab dengan cara yang menyenangkan,
menggembirakan dan membisakan.

Sebagai seorang muslim, seharusnya bahasa arab menjadi bahasa yang


lebih familiar daripada bahasa inggris, karena bahasa arab sudah
diperkenalkan kepada mereka sejak mereka masih kanak-kanak. Sejak
berusia tiga atau empat tahun, seorang muslim sudah diperkenalkan
dengan bahasa arab, seperti doa-doa, membaca surat-surat pendek dalam
Al-Qur’an, membaca Al-Qur’an dan sebagainya. Tetapi sayangnya, mereka
tidak diajarkan bahasanya, tetapi sekedar membaca tulisan arab yang
tidak diketahui maknanya. Sehingga meskipun mereka telah membaca Al-
Qur’an dan mengkhatamkan hingga ratusan kali, bahkan banyak di antara
mereka yang hafal Al-Qur’an, tetapi tidak mengetahui isi dan makna yang
dikandungnya. Karena itu orang Arab sendiri heran kepada masyarakat
Indonesia, mereka pandai membaca Al-Qur’an dan fasih melafalkan ayat-
ayat Al-Qur’an tetapi tidak memahami isinya.

Pertanyaannya adalah di mana sebenarnya letak kesalahan kita dalam


mengajarkan bahasa Arab? Bahasanya yang sulit ataukah metode belajar
kita yang keliru?

Coba kita bandingkan dengan belajar bahasa Inggris. Ketika siswa SD


dikenalkan dengan bahasa Inggris, mereka tidak diajari membaca tulisan
Inggris terlebih dahulu, tetapi mereka langsung diajari kosa kata baru
yang mencakup cara membacanya dan sekaligus maknanya, sehingga
ketika mereka mengenal kata “student”, mereka langsung tahu bahwa
kata “student” artinya pelajar. Begitu juga kata-kata yang lain, siswa
langsung disuruh menghafalkan kata-kata itu dan mempraktekkannya di
dalam kelas, sehingga bahasa Inggris jauh lebih mudah difahami dan
dimengerti oleh pelajar. Karena itu, berdasarkan pengalaman dari teman-
teman saya, belajar bahasa Inggris lebih mudah dan lebih singkat
daripada belajar bahasa Arab.

Banyak informasi yang masuk kepada saya bahwa para mahasiswa UIN
Maliki yang belajar bahasa Inggris 3 bulan di Pare Kediri, pada masa
liburan, jauh lebih banyak hasilnya daripada mereka belajar bahasa arab
selama setahun di PKPBA. Mendengar laporan seperti ini, saya sebagai
pengajar bahasa Arab di PKPBA, seperti disambar petir, karena seakan-
akan mereka mengatakan bahwa pembelajaran bahasa arab selama
setahun di PKPBA itu tidak efektif dan tidak membisakan.

Memang ada banyak faktor yang menyebabkan kebisaan mahasiswa


dalam belajar bahasa arab, ada faktor internal dan faktor eksternal. Faktor
internalnya adalah kemauan mahasiswa untuk belajar. Tidak semua
mahasiswa UIN Maliki punya greget yang kuat untuk belajar bahasa Arab.
Banyak di antara mereka yang belajar bahasa arab sekedar untuk
menjalankan kewajiban dan melaksanakan rutinitas. Ketika masuk kelas,
pikiran mereka kosong dan tidak mau diajak berpacu untuk belajar bahasa
arab. Ada juga yang mojok di belakang dan tidur pulas tatkala
pembelajaran berlangsung. Sedangkan faktor eksternalnya adalah faktor
guru atau dosen dan faktor lingkungan. Memang tidak semua dosen
PKPBA memiliki kemampuan yang baik dalam PBM. Masih banyak di
antara mereka yang belum memiliki pengalaman mengajar yang banyak
dan masih ada yang baru lulusan S-1. Karena itu, kegiatan-kegiatan
workshop dan pelatihan strategi dan pembelajaran bahasa Arab harus
selalau diadakan setiap tahunnya, untuk mengupgrade kembali
kemampuan mereka dalam mengajar, sehingga kemampuan mereka
dalam mengajar selalu meningkat setiap tahunnya dan akhirnya bisa
menghasilkan outpun yang baik.

Dari aspek lingkungan, saya kira di UIN Maliki sudah cukup memadai.
Tersedianya ma’had yang di dalamnya mahasiswa tinggal 24 jam,
merupakan lingkungan yang sangat bagus untuk menghidupkan bi’ah
arabiyah. Bila sampai sekarang bi’ah arabiyah itu belum bisa berjalan,
maka masalahnya bukan ada pada tempatnya, tetapi ada pada
manajemennya. Menurut saya, perlu dibangun sistem manajemen yang
sistemik untuk menghidupkan bi’ah arabiyah di Ma’had Sunan Ampel Al-
Ali. Seluruh Kyai, murabi, musyrif dan santri, harus memiliki satu
komitmen yang kuat untuk menghidupkan bi’ah tersebut. Bila komitmen
itu tidak dijaga dan dilaksanakan oleh masing-masing pemegang sistem,
maka jangan harap bi’ah arabiyah itu akan berhasil dijalankan.

Menurut saya, mahasiswa UIN Maliki yang belajar bahasa Arab di PKPBA
dan menetap di Ma’had Ali selama setahun penuh, tetapi tetap tidak bisa
bahasa Arab, ibaratnya seperti ayam mati di dalam lumbung. Mereka
telah diberi fasilitas yang sedemikian lengkap, laboratorium bahasa yang
memadai, SAC, bahasa arab corner, banyak guru dan dosen yang bisa
dijadikan sebagai konsultan, lingkungan bahasa yang hidup dan
sebagainya. Jika semua fasilitas itu tidak dimanfaatkan dalam belajar
bahasa arab dan mereka tetap tidak bisa setelah keluar dari ma’had, tidak
ada kata yang pantas bagi mereka kecuali wassalam.

Mengapa? Karena mereka telah diberikan kemudahan dalam berbagai


macam aspek untuk belajar bahasa arab, mulai dari fasilitas, sarana
prasarana pembelajaran, waktu yang cukup dan pengajaran yang
memadai. Jika mereka punya greget yang kuat untuk belajar bahasa arab,
dalam waktu tidak lebih dari setahun, saya yakin mereka sudah bisa
menguasai dan ahli dalam bahasa arab. Tetapi di samping unsur
mahasiswa, seluruh dosen di PKPBA dan Ma’had juga harus melakukan
introspeksi diri yang mendalam dalam masalah ini. Dimulai dari niat kita
sendiri-sendiri, bahwa mengajar bahasa arab di UIN Maliki atau PKPBA,
bukan hanya sekedar menjalankan kewajiban, tetapi harus diniatkan
untuk membisakan mahasiswa berbahasa arab baik aktif maupun pasif,
agar kelak mereka bisa bermanfaat bagi masyarakat dan agama. Wallahu
a’lam.