Anda di halaman 1dari 3

BILA PENDIDIKAN TELAH KEHILANGAN RUH DAN JIWA

Akhir-akhir ini, muncul isu-isu pendidikan yang tampaknya


menggembirakan bagi perkembangan dunia pendidikan, baik dari sisi
kualitas maupun kuantitas, tetapi pada hakikatnya justru sebuah
kemunduran. Lembaga-lembaga pendidikan melalukan pembenahan dari
berbagai macam sisi, mulai dari penampilan fisik hingga manajemen
pengelolaannya. Tetapi setelah mereka berbenah dan terkenal, ujung-
ujungnya adalah menarik dana yang besar dari masyarakat, sebagai
konsekuensi atas biaya pelayanan yang mereka berikan.

Mereka mengibaratkan pendidikan seperti supermarket dan mahasiswa


seperti pelanggan. Barang apapun yang diambil dari supermarket, harus
dibayar oleh pelanggan, sehingga para pelanggan diibaratkan seperti raja
dan para guru dan dosen adalah para pelayan. Karena itu, model
pendidikan yang berkembang pada saat ini lebih bersifat transaksional
dan jauh dari ruh pendidikan itu sendiri, yaitu ikhlas dan pengabdian.

Pendidikan sebenarnya bukan sekedar transfer ilmu pengetahuan. Dalam


pendidikan Islam ada dua tugas yang harus diemban oleh pendidikan,
yaitu ta’dib dan ta’lim. Sesungguhnya tugas utama pendidikan adalah
ta’dib, yaitu penanaman nilai-nilai moral kepada siswa agar mereka
mampu hidup sebagai manusia yang bermoral di masa yang akan datang.
Sedangkan tugas tambahannya adalah ta’lim, yaitu mentransfer ilmu
pengetahuan kepada siswa, sehingga mereka memiliki kemampuan
kognitif, afektif dan psikomotorik. Sehingga bisa dikatakan bahwa ta’dib
hukumnya wajib, sedangkan ta’lim hukumnya fardu kifayah.

Perkembangan pendidikan akhir-akhir ini justru telah berbalik arah.


Mereka lebih mementingkan tugas tambahan, yaitu mentransfer ilmu
pengetahuan saja daripada melaksanakan tugas utamanya, yaitu
menanamkan moralitas kepada siswa. Masyarakat sendiri tampaknya juga
tidak banyak yang menyadari masalah ini. Mereka melihat bahwa
lembaga pendidikan disebut berhasil dan sukses jika para siswanya bisa
mendapatkan nilai tinggi dalam Ujian Nasional, tanpa melihat apakah
moralitas mereka juga meningkat atau tidak. Seakan-akan mereka tidak
peduli jika ternyata anak-anak mereka, meskipun nilainya tinggi, senang
ugal-ugalan di jalan. Karena itu tidak heran jika para siswa dan juga para
mahasiswa, ketika lulus ujian bukannya mereka bersyukur kepada Allah
dengan berpuasa atau bersadaqah, melainkan corat-coret sana-sini dan
berkonfoi kendaraan tanpa mengenakan helm, sehingga mengganggu lalu
lintas di jalan.
Pendidikan yang transaksional seperti yang saya jelaskan di atas, akhirnya
berpengaruh pada tujuan pendidikan. Seperti yang ditulis oleh prof Imam
Suprayogo di Face Booknya pada tanggal 11 Oktober lalu bahwa tujuan
kebanyakan siswa belajar pada saat ini adalah mendapatkan ijazah.
Seakan-akan ijazah merupakan tujuan akhir pendidikan, yang melebihi
ilmu dan akhlak (moralitas) itu sendiri. Pada saat ini juga banyak guru dan
dosen yang tidak peduli dengan prilaku siswa atau mahasiswanya.
Seakan-akan tugas mereka hanya menyampaikan pelajaran atau mata
kuliah di dalam kelas, setelah itu mereka dibayar dan nanti pada akhir
perkuliahan mereka memberikan nilai atas penyerapan mahasiswa
terhadap materi yang disampaikan.

Mengelola pendidikan tidak seperti supermarket, lo jual gue beli. Memang


tidak ada larangan bagi para pengelola pendidikan untuk menarik uang
tambahan di luar SPP jika itu telah disepakati oleh sekolah dan
masyarakat, asalkan sekolah bisa menjamin terpenuhinya tugas
pendidikan yang utama, yaitu penanaman akhlak yang merupakan soft
skill siswa. Tetapi di samping itu, dari aspek keilmuan juga harus dapat
memberikan keunggulan yang terlihat dari hasil ebtanas, UAN, atau yang
sejenisnya. Kita bersyukur, akhir-akhir ini telah banyak bermunculan
sekolah-sekolah unggulan yang memperhatikan kedua aspek ini secara
seimbang.

Munculnya sekolah-sekolah unggulan seperti MIN Malang I, SD Sabilillah,


SD Insan Kamil dan sebagainya mungkin cukup menggembirakan bagi
warga Malang, karena mereka dapat memilih beberapa sekolah unggul
yang memperhatikan kedua aspek tersebut. Namun sayangnya, nilai-nilai
transaksionalnya terlalu tinggi di beberapa sekolah unggulan tersebut.
Mereka menawarkan sesuatu yang unggul tetapi harus dibayar mahal oleh
para penikmatnya, sehingga hanya orang-orang berduit saja yang dapat
menikmati fasilitas yang mereka berikan. Sedangkan masyarakat
menengah ke bawah, tentu tidak akan bisa menikmati pendidikan unggul
tersebut, karena mereka tidak memiliki biaya untuk memasukkan anak-
anak mereka ke sekolah-sekolah unggul itu.

Mestinya tugas pemerintahlah menyediakan sekolah-sekolah unggul


dengan biaya yang murah tersebut. Jika gaji guru di sekolah-sekolah
unggul itu telah terpenuhi tanpa harus menarik uang tambahan dari
masyarakat, tentu mereka bisa bekerja secara maksimal. Upaya
pemerintah untuk membuat Sekolah Berstandar Internasional (SBI)
misalnya, merupakan tindakan yang baik. Tetapi sayangnya, setelah suatu
sekolah mendapatkan satus SBI, maka banyak di antaranya yang
langsung menaikkan tarif biaya sekolah, mulai dari uang sumbangan,
uang pembinaan, uang kursus dan lain-lain. Meskipun pemerintah sudah
melarang keras sekolah-sekolah negeri untuk tidak menarik dana dari
masyarakat, tetapi mereka bisa saja mensiasatinya dengan berbagai
macam nama, seperti uang BOM, uang silaturahim dan sebagainya.

Menilik sejarah perkembangan madrasah dan sekolah dalam dunia Islam,


sebenarnya pantang bagi sekolah untuk menarik dana dari masyarakat.
Madrasah-madrasah yang dikelola negara Islam pada masa Abbasiyah
hingga Usmaniyah, seluruhnya dibebaskan dari SPP. Bahkan mereka diberi
beasiswa oleh pemerintah, tidak saja beasiswa pendidikan, tetapi juga
mencakup uang makan dan keperluan sekolah. Banyak juga di antara para
guru dan dosen yang tidak mau dibayar atas jasa mengajar yang
diberikan, karena mereka sudah mendapatkan gaji yang mencukupi dari
pemerintah. Hingga sekarang, kebanyakan negara-negara Islam di Timur
Tengah, seperti Saudi Arabia, masih menggratiskan sekolah kepada
penduduk asli mereka, terutama bagi mereka yang belajar agama karena
itu dianggap fardhu ain. Sedangkan untuk mereka yang belajar ilmu
umum, tidak semuanya digratiskan.

Dunia pendidikan sekarang memang tidak bisa lepas dari budaya


kapitalisme. Hanya saja diperlukan upaya-upaya untuk membendung
budaya itu, sehingga seluruh masyarakat Indonesia mampu mengenyam
pendidikan yang berkualitas dan murah, apalagi kalau gratis. Karena
secara tidak sadar, sebenarnya kapitalisme pendidikan itu dapat
mengurangi kualitas pendidikan itu sendiri. Dalam dunia kapitalisme
pendidikan, anak-anak cerdas dari golongan tidak mampu, tidak akan
pernah bisa mengenyam pendidikan yang unggul dan berkualitas itu,
sehingga mereka dan anak-anak mereka tetap akan menjadi seperti itu
dan tidak bisa terangkat martabat mereka melalui pendidikan yang layak.
Sementara itu, anak-anak orang kaya, meskipun mereka kurang cerdas,
karena bisa membayar, mereka bisa masuk ke sekolah-sekolah unggul
tersebut. Wallahu a’lam.