Anda di halaman 1dari 2

AKHLAK: ESENSI UTAMA PENDIDIKAN

Apa yang tersisa setelah seseorang lupa semua apa yang diperoleh di
sekolah?

--Albert Einstein—

Itulah pertanyaan yang pernah diungkapkan oleh Albert Einstein, seorang


ilmuwan terkenal tentang pendidikan. Menurutnya bahwa apa yang
diperoleh seorang siswa di sekolah dapat hilang setelah dia lulus. Ilmu
pengetahuan yang bermacam-macam, mulai ekonomi, biologi,
matematika dan sebagainya akan hilang dari ingatan kita, seiring dengan
kesibukan kita dengan hal-hal baru dalam kehidupan kita.

The education is not merely about reading books and getting marks. It
should be something that leads us to become a complete human
being.The education should give children moral essence in behaviour, an
edge towards humanity and ethical values which are very much missing in
todays world. If this can be done ,there will no more be terrorism on this
earth.A person cannot become complete without this moral education.A
broad step should be taken to implement this kind of subject to teach
moral values in students curriculum in the early childhood since their
hearts will be pure & tender in that age .Then there will be no more
Violence nor tears. The whole world will be enveloped in safe hands of
peace !

Kutipan di atas diambil dari sebuah buku yang berjudul “The Essence of
Education” yang ditulis oleh David Johnson, seorang ahli pendidikan abad
sekarang. Dia merasa bahwa pendidikan pada saat ini telah gagal dalam
mendidik siswa, karena pendidikan di sekolah bersifat transaksional,
seperti jual beli; siswa membayar guru memberi. Guru tidak pernah
memperhatikan bagaimana prilaku siswa-siswinya, bagaimana pergaulan
mereka dan sebagainya sehingga lahirlah prilaku masyarakat yang
amoral, karena pendidikan tidak mengajarkan moralitas, sehingga banyak
kejahatan muncul di mana-mana. Bahkan lebih parah lagi, akibat belajar
di sekolah, siswa-siswi kita menjadi nakal. Banyak kasus yang terjadi,
sebelum sekolah seorang anak terlihat patuh dan agamis, tetapi setelah
masuk sekolah, dia justru menjadi nakal dan tidak menurut kepada orang
tua. Di mana letak kesalahan pendidikan kita? Menurut Albert Einstein dan
David Johnson, semua itu terjadi karena pendidikan kita tidak
mengajarkan akhlak, padahal akhlak merupakan esensi dari pendidikan itu
sendiri.

Ribuan abad yang lalu, Rasulullah saw. Telah menjelaskan bahwa tujuan
dari pengangkatan dirinya menjadi Rasul adalah untuk menyempurnakan
akhlak manusia, menjadi akhlak yang mulia. Allah berfirman,

‫إنما بعثت لتمم مكارم الخلق‬

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

Sabda Rasulullah di atas menjelaskan bahwa esensi utama pendidikan


Rasulullah adalah menyempurnakan akhlak atau mengajarkan akhlak
yang mulia kepada manusia. Suatu tujuan pendidikan yang baru disadari
pentingnya oleh dunia Barat dewasa ini, setelah terjadi krisis akhlak yang
memperihatinkan di berbagai belahan dunia. Tetapi sangat disayangkan,
pengembangan pendidikan akhir-akhir ini, justru semakin menjauh dari
visi dan misi Rasulullah untuk menyempurkan akhlak mulia ini.

Model pendidikan yang ditawarkan oleh lembaga pendidikan kita, sangat


transaksional dan jauh dari nilai-nilai penanaman akhlak tersebut. Karena
itu, tidak heran jika para siswa kita, lebih senang bersikap hura-hura
dalam merayakan kesuksesan mereka dalam menempuh studi, daripada
melakukan tasyakuran dengan membaca Al-Qur’an atau bersedekah
kepada orang-orang miskin. Kita lihat bagaimana prilaku lulusan SLTP dan
SLTA setelah kelulusan mereka diumumkan. Mereka melakukan corat-
coret di baju-baju mereka, setelah itu mengadakan arak-arakan naik
sepeda motor dengan melanggar peraturan lalu lintas seperti, tidak
memakai helm, bergoncengan hingga tiga orang, berlenggak-lenggok
dalam berkendara dan sebagainya sehingga mengganggu jalannya lalu
lintas. Bahkan tidak jarang di antara mereka, yang merayakannya dengan
pesta minuman keras, pesta sabu-sabu, dan na’uzu billah ada juga yang
mengadakan pesta seks dengan sesama teman-teman mereka.

Menurut saya, arah pendidikan kita, perlu dievaluasi kembali. Jangan


sampai generasi kita terjerumus ke dalam akhlak yang tercela karena
kesalahan kita dalam memberikan pendidikan kepada mereka di sekolah.
Pendidikan akhlak perlu dipertegas kembali dalam rangka menyelamatkan
bangsa ini dari kehancuran. Bangsa ini boleh tidak lagi mengenal ilmu
matematika, boleh melupakan sains dan teknologi, tetapi mereka tidak
boleh melupakan akhlak, karena sesungguhnya jika akhlak itu hilang dari
mereka sesungguhnya mereka telah binasa meskipun jasad dan raga
mereka masih hidup di dunia. Wallahu a’lam bi shawab.