Anda di halaman 1dari 3

Saya pernah bertemu dengan seseorang yang setiap tahunnya berangkat

haji ke Makkah Al-Mukarramah. Dia bercerita bahwa tidak hanya haji saja,
tetapi setiap bulan Ramadan, terutama sepuluh hari terakhir di bulan
Ramadan, dia juga selalu umrah bersama keluarganya untuk
menghabiskan 'asyrul awakhir di Masjidil Haram. Katanya dia selalu
merindukan Masjidil Haram dan ingin selalu balik kesana meskipun harus
menghabiskan ratusan juta rupiah setiap tahunnya. Kegiatan seperti ini
sudah rutin dilakukannya setiap tahun, hingga ketika dia bercerita kepada
saya itu, dia telah melakukannya sejak 15 tahun yang lalu. Saya berpikir
bahwa orang tersebut pasti sangat kaya dan sholeh, karena dia mampu
mengeluarkan biaya yang sedemikian besar setiap tahunnya untuk
memenuhi kebutuhan spiritualnya dan dia pasti orang shaleh karena tidak
mungkin orang rela setiap tahunnya mengeluarkan uang sedemikian
.besarnya, kalau tidak memiliki kesalehan yang luar biasa

Namun saya tidak sempat bertanya bagaimana perannya di masyarakat,


apakah perhatiannya terhadap orang-orang di sekitarnya juga sebesar
perhatiannya terhadap masalah spiritual tersebut. Menurut saya, ibadah
haji yang diwajibkan kepada umat Islam hanya sekali dalam seumur
hidup, sedangkan umrah boleh dikerjakan berkali-kali. Karena itu,
pemerintah Saudi memiliki kebijakan melarang warganya untuk
melaksanakan ibadah haji secara berturut-turut, karena jumlah jama’ah
haji setiap tahunnya membludak, sehingga Masjidil Haram tidak bisa lagi
.menampung tumpukan jama’ah yang semakin bertambah setiap tahun

Secara sepintas, apa yang dilakukan oleh orang shaleh di atas


menggambarkan betapa dia seorang yang memiliki kesalehan luar biasa,
sehingga hatinya senantiasa terpaut dengan Masjidil Haram dan ingin
selalu hadir kesana untuk memenuhi kerinduannya kepada Allah. Memang
menurut pengalaman orang yang pernah melaksanakan haji dan shalat di
Masjidil Haram, dia akan selalu merindukannya dan ingin selalu hadir
kesana untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Tetapi
apakah tindakannya itu tidak terlalu berlebihan bila ditinjau dari kacamata
.agama dan sosial

Menurut hemat saya, tindakan orang tersebut terlalu berlebihan bila


ditinjau dari kacamata agama Islam, karena melaksanakan ibadah haji
hingga berkali-kali, apalagi lebih dari sepuluh kali sama sekali tidak
disyari’atkan. Bahkan mungkin dapat dikategorikan sebagai pemborosan
yang bertentangan dengan ajaran Islam yang mengharamkan
pemborosan, karena pemborosan merupakan perbuatan syetan. Alangkah
lebih bermanfaat jika uang ratusan juta rupiah yang dikeluarkannya tiap
tahun itu, bisa dimanfaatkan untuk kepentingan lain yang lebih
bermanfaat bagi masyarakat Islam, seperti untuk kepentingan pendidikan
anak-anak muslim yang terlantar. Saya kira, uang ratusan juta rupiah itu,
jika diberikan kepada anak-anak yang tidak mampu untuk kepentingan
pendidikan, bisa mengantarkan mereka menjadi generasi muslim yang
berguna dan bermanfaat di masa mendatang. Saya kira, tindakan ini jauh
lebih bermanfaat daripada hanya dihambur-hamburkan untuk memenuhi
kepentingan pribadi dan memuaskan kehausan spiritual yang tidak
disyariatkan. Akan tetapi, masih banyak di antara kita yang berpikiran
bahwa ibadah haji lebih mulia dan lebih banyak pahalanya daripada
membantu anak-anak yang tidak mampu sekolah atau anak-anak yang
.terlantar

Apalagi jika dikaitkan dengan beberapa musibah yang menimpa bangsa


Indonesia akhir-akhir ini. Banyak di antara saudara-saudara kita yang
kelaparan, kehilangan tempat tinggal, tidak bisa lagi melanjutkan sekolah
dan sebagainya, sangat membutuhkan uluran tangan orang-orang
tersebut. Alangkah baiknya, orang-orang yang sudah berkali-kali
melaksanakan ibadah haji itu, membatalkan niatnya untuk ibadah haji
pada tahun ini, dan mengalihkan uang yang akan digunakan haji itu, untuk
membantu saudara-saudara kita yang tertimpa musibah di Padang dan
Jambi. Saya kira, pahala yang akan mereka terima, jauh lebihbesar
daripada jika mereka melaksanakan ibadah haji, karena ibadah haji yang
mereka laksanakan itu tidak disyariatkan lagi, sementara membantu
orang-orang yang kesusahan, merupakan perintah yang sangat dianjurkan
.oleh Allah dan Rasul-Nya

Di sisi lain, banyak kita dapati dalam masyarakat kita, orang-orang yang
ringan tangan, senang sekali membantu orang-orang yang tidak mampu
di sekitarnya dan bahkan dia rela mengabdikan seluruh hidupnya untuk
kepentingan masyarakatnya. Jika dimintai bantuan untuk kepentingan
sosial, dia tidak segan-segan untuk membantu kegiatan itu siang dan
malam, meskipun harus mengorbankan jiwa dan raganya. Tetapi di sisi
lain, orang tersebut tidak rajin dalam menjalankan ibadah. Shalatnya
kedodoran, jarang melaksanakan puasa wajib, dan enggan untuk diajak
dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat keagamaan. Baginya hidup ini yang
penting bisa bermanfaat bagi orang lain, meskipun tidak melaksanakan
.kewajiban-kewajibannya kepada Penciptanya

Saya juga sering menjumpai masyarakat yang jika diajak untuk kerja bakti
memperbaiki masjid atau mushalla, mereka sangat rajin dan
bersemangat. Bahkan karena semangat mereka yang menggebu-gebu itu,
mereka lupa tidak melaksanakan shalat dhuhur dan ashar. Mereka rela
kepanasan di atas genting untuk memperbaiki atap masjid yang bocor,
tetapi tidak sempat menyisihkan waktu lima menit untuk menghadap sang
.Khaliq yang telah menciptakannya
Di sinilah letak keseimbangan antara kesalehan spiritual dan kesalehan
sosial. Kesalehan spirutual harus diimbangi dengan kesalehan sosial,
karena jika seseorang hanya mementingkan kesalehan spirutal tanpa
.diikuti dengan kesalehan sosial, akan mendapatkan laknat di sisi Allah swt