Anda di halaman 1dari 2

MARI BERGURU KEPADA UIN MALIKI MALANG

Sebagai warga UIN Maliki, saya merasa bangga bisa menjadi salah satu dari mereka yang
dapat berkiprah dalam mengembangkan kampus UIN Maliki menjadi besar seperti sekarang.
Meskipun peran saya tidak besar, atau bahkan sangat kecil dibandingkan dengan pencapaian
yang diraih UIN Maliki pada saat ini, saya tetap merasa bangga karena saya memiliki para
pemimpin kampus yang gigih dan tanpa mengenal lelah. Tanpa perjuangan keras mereka,
tidak mungkin kampus yang 10 tahun yang lalu masih seperti kandang sapi itu, berubah
menjadi istana megah yang didambakan oleh setiap mahasiswa. Jika dulu, ketia masih
menjadi IAIN atau STAIN, setiap warga kampus ini malu-malu untuk menyebut dirinya
sebagai warga kampus ini, saya melihat pada saat ini semua sudah bangga menjadi warga
UIN Maliki. Meskipun kampus ini sempat beberapa kali terjadi perubahan nama, hingga
banyak yang mencemooh dengan mengatakan bahwa "namanya banyak - kampusnya satu",
tetapi semua itu adalah proses yang berujung pada kebahagiaan.

Suasana kerja di UIN Maliki juga cukup harmonis. Saya senang karena warga UIN Maliki
pada saat ini kelihatan begitu kompak. Dibandingkan 10 tahun yang lalu, kini sudah jauh
berbeda. Jika dulu di kampus ini banyak muncul friksi-friksi dan kelompok-kelompok minna
wa minkum, friksi-friksi itu terlihat sudah melebur dalam organisasi kampus yang lebih
besar. Tidak pernah terdengar lagi adanya perebutan jabatan antara kelompok NU-
Muhammadiyah, PMII-HMI dan sebagainya, kecuali hanya sayup-sayup tertiup angin. Saya
berharap nantinya, perbincangan di kampus UIN Maliki tidak lagi pada perebutan jabatan dan
politis, tetapi lebih banyak kepada perbincangan akademis dan keilmuan. Alhamdulillah,
suasana seperti ini mulai terbangun pada saat ini, apalagi setelah UIN Maliki panen doktor
akhir-akhir ini dan akan berlanjut hingga tahun 2010. Suasana pemilihan Rektor, Pembantu
Rektor, Dekan dan Pembantu Dekan juga cukup membanggakan. Tidak ada sama sekali
gejolak dari warga UIN Maliki dalam pemilu tersebut.

Bila PTAIN lain atau kampus-kampus lain, dalam pemilu Rektor dan Dekan penuh dengan
intrik dan gejolak politik hingga terjadi bentrokan antar pendukung dan kelompok, seperti
yang terjadi di Kendari, Ambon dan sebagainya, alhamdulillah kejadian seperti itu tidak
terjadi di UIN Maliki Malang. Pemilu Rektor berjalan dengan mulus dengan meloloskan Prof.
Imam Suprayogo sebagai Rektor dengan suara mayoritas dan tanpa gejolak. Pemilu pembantu
Rektor juga berjalan mulus tanpa gejolak meskipun terjadi suara draw pada pemilihan PR II,
antara pak Dr. Jamalulail dan Dr. Saifullah. Yang menarik adalah dalam penetapan siapa di
antara keduanya yang pantas menjadi PR II tatkala suara mereka sama. Bila itu terjadi di
kampus lain, mungkin akan terjadi intimidasi, pendekatan sana-sini, pemilu ulang dan
sebagainya seperti yang terjadi dalam pemilu gubernur Jatim antara Kaji dan Karsa, sehingga
menghabiskan waktu dan biaya. Tetapi di UIN Maliki berbeda. Rektor dengan penuh
kebijaksanaannya, memanggil kedua calon PR II itu secara terpisah dan bertanya kepada
mereka berdua, siapa di antara mereka berdua yang lebih berhak untuk menjadi Rektor. Yang
menjadikan kita bangga adalah kedua calon mengatakan bahwa lawannyalah yang lebih
berhak untuk menduduki jabatan itu. Dr. Jamalulail mengatakan bahwa Dr. Saifullah lebih
berhak dan sebalik Dr. Saifullah mengatakan bahwa Dr. Jamalulail lebih berhak untuk
menjadi PR II. Sungguh sikap yang luar biasa, seperti yang terjadi pada masa
Khulafaurrasyidin... Namun dengan penuh kebijaksanaannya, setelah meminta pendapat
kepada para anggota senat, akhirnya rektor memilih Dr. Saifullah untuk menjadi PR II, karena
secara administratif beliau lebih lengkap dan lebih memenuhi syarat daripada Dr Jamalulail.
sungguh proses yang mengharukan...
Dari sisi keilmuan, UIN Maliki tidak mau ikut-ikutan dengan PTAI lain atau perguruan tinggi
umum di Indonesia ataupun di luar negeri. Sejak ditetapkan menjadi STAIN Malang tahun
2007 yang lalu, para pimpinan UIN Maliki, yang diprakarsai oleh Rektornya Prof. Dr. H.
Imam Suprayogo, telah berpikiran cerdas untuk membuat sendiri bangunan ilmu yang jelas
dan berwawasan Islami. Bagi UIN Maliki, bangunan ilmu yang dikembangkan oleh
perguruan tinggi di Indonesia pada umumnya, baik yang berada di bawah naungan Depag
maupun Dikti, bersifat dikhotomis, sehingga tidak akan bisa menghasilkan lulusan yang
berwawasan ilmuwan yang ulama dan ulama yang ilmuwan profesional. Karena itu, UIN
Maliki membuat bangunan ilmu tersendiri yang dianggap dapat menjawab problem keilmuan
yang terjadi di dunia Islam pada umumnya yang disebut dengan “Pohon Ilmu”.

Bagi UIN Maliki, pengembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam sangat dikhotomis karena
mereka membedakan antara ilmu agama dan ilmu umum. Karena itu, dikhotomi tersebut
harus dihilangkan dengan membuat bangunan keilmuan yang menjamin tidak adanya
dikhotomi dalam pengembangan keilmuannya, yaitu menjadi Al-Qur’an dan Sunnah sebagai
dasar inspiratifnya, sedangkan ilmu-ilmu yang dikembangkan di fakultas-fakultas, seperti
fakultas Saintek, Fakultas Ekonomi, Fakultas Tarbiyah dan sebagainya merupakan buah dari
pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Sunnah tersebut, sehingga tidak ada lagi dikhotomi
antara keduanya. Karena itu, di UIN Maliki dikembangkan konsep integrasi ilmu dan agama
yang diterapkan dalam penulisan skripsi, thesis dan disertasi. Alhamdulillah konsep ini
mendapatkan sambutan yang positif dari berbagai perguruant inggi, baik dalam dan luar
negeri.

Tradisi kehidupan kampus yang dikembangkan UIN Maliki juga berbeda dengan tradisi yang
dikembangkan oleh PTAI atau perguruan tinggi lain pada umumnya. UIN Maliki percaya
bahwa untuk menciptakan lulusan yang memiliki wawasan keagamaan dan baik, mereka
harus merasakan hidup dalam suasana yang agamis, karena itu UIN Maliki memadukan
kehidupan tradisi perguruan tinggi yang modern dengan tradisi pesantren yang tradisional.
UIN Maliki membangun pondok pesantren mahasiswa, dengan mewajibkan kepada suluruh
mahaisswa barunya untuk tinggal di dalamnya minimal selama setahun. Diharapkan, setelah
setahun tinggal di dalam pesantren ini, mereka memiliki pengalaman keagamaan yang baik
sehingga berpengaruh terhadap mental dan akhlak mereka. Di samping itu, mereka juga diberi
bekal bahasa Arab yang harus ditempuh selama satu tahun penuh, sebagai bekal mereka untuk
mempelajari Islam dan mengantarkan mereka menjadi seorang ulama yang intelek dan
seorang intelek yang ulama profesional. Wallahu a’lam.