Anda di halaman 1dari 49

qwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwe

rtyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyui
opasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopa
sdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfg
Rumah Adat Suku Karo
hjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklz
traditional Karo hause
Kabupaten Karo, Sumatera Utara
Indonesia
xcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcv 5/14/2010

bnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnm
Dame Munthe

qwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwe
rtyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyui
opasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopa
sdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfg
hjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklz
xcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcv
bnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnm
qwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwe
rtyuiopasdfghjklzxcvbnmrtyuiopa
11111111111111111111111111111111111111222[Type text]
RUMAH ADAT SUKU KARO, Kabupaten Karo,
Sumatera Utara Indonesia

Desa Ajinembah, Kabupaten Karo, Sumatera Utara (1985)

Ajinembah village, Karo District, North Sumatra (1985)

2
Rumah Adat Suku Karo (RASK) umumnya didirikan untuk dihuni oleh delapan
rumahtangga. Bangunan terdiri dari kayu dan ijuk tanpa paku. Diperkirakan layak
huni 300 tahun. Abad 20 RASK mulai runtuh dan tak pernah dibangun kembali.
Abad 21 tinggal hitungan jari yang masih dihuni. Kehidupan di dalam RASK diatur
oleh adat dan sekali gus menjadi adat Suku Karo masa modren kini.

Rumah Adat Suku Karo (RASK) traditional Karo hause, generally


inhabited by eight households without a permanent wall.Barring
bedroom hooked mats only the stretch of bamboo, easy loading
tide.Not able to inhabit any RASK households, households may
inhabit regulated by custom. Life in the RASK also governed by
customs. RASK is the first region to apply Karo ancestral customs.
Customs was also applied to the village society and Karones
ethnic group when he met.The main material of wood RASK
intact, palm fiber from the sugar palm without using nails or iron.
Able to stand 300 years.
Dame Munthe, Jakarta 5 Mei 2010.

2
Katanya tahun 50 an Desa Lingga memiliki Rumah Adat Suku Karo (RASK) sebanyak
50 unit, kini 2009 tinggal dua unit yang dihuni. Dan kedua unit tersebut masih dihuni
karena ada perhatian Pemerintah dan merenovasi beberapa waktu yang lalu.
Ada beberapa masih berdiri seperti Rumah Tarigan, Rumah Bangun, Rumah Manik,
Rumah Mbelin, namun tinggal menunggu hari keruntuhan. Masa kokoh dan
kegagahannya mulai surut dimakan waktu yang terus berlalu.
Tampaknya RASK yang pernah ada dan besar kemungkinan setiap desa di Kabupaten
Karo pernah memiliki RASK.
Saat revolusi kemerdekaan banyak desa membumihanguskan RASK karena tak rela
digunakan oleh Belanda. Penduduk mengosongkan desa eksodus ke desa yang
dianggap aman. Lenyap karena dibumihanguskan maupun RASK yang runtuh karena
perjalanan waktu alias alamiah layak huni RASK sampai pada puncaknya tak pernah
terganti oleh pendirian bangunan baru RASK. Tepatnya barangkali abad 19 tidak ada
pembuatan RASK.
Bagi desa yang tidak pernah membumihanguskan desanya memang masih ada satu
dua RASK yang kini masih dihuni. Namun bangunan RASK tersebut tampak dimakan
usia juga. Padahal dugaan usia layak huni RASK sekitar 300 tahun.
Di Desa Paribun masih ada dua unit RASK dinamai Rumah Gugung dan satu lagi
dinamai Rumah Ligei keadaan 2009. Tahun lalu masih dihuni.
RASK sebenarnya tempat aplikasi adat kehidupan budaya suku Karo oleh leluhur Suku
Karo dahulu kala. Dalam hunian tersebut diterapkan langsung oleh seluruh penghuni
sebanyak delapan rumahtangga. Tidak sembarang orang dapat menempati salah satu
petak keluarga dari delapan petak keluarga tersedia..
Pendirian bangunan RASK juga melibatkan bayak keluarga pihak tertentu. Terlibat juga
guru ahli meramal dan segala mantera.
Pendirian bangunan RASK tampaknya tak sejalan dengan pemahaman suku Karo atas
agama dan disamping itu pergeseran budaya tempat tinggal yang cenderung
mendirikan bangunan hunian privat dan individu seperti layaknya masyarakat umumnya
disekitar mereka.

3
DAFTAR ISI

1. Foto RASK Desa Paribun……………………


2. Foto RASK Desa Lingga ……….................
3. Kehidupan di dalam RASK …………………
4.

2
Rumah Gugung. Desa Paribun, Kabupaten Karo, Sumatera utara (2009)

Rumah Gugung. Paribun village, Karo District, North Sumatra (2009)

1
2
Rumah Gugung, Desa Paribun, Kabupaten Karo, Sumatera Utara (2009)

Rumah Gugung. Paribun village, Karo District, North Sumatra (2009)

Rumah Ligei. Desa Paribun, Kabupaten Karo, Sumatera Utara (2009)

Rumah Ligei. Paribun village, Karo District, North Sumatra (2009)

1
2
Rumah Ligei, Desa Paribun, Kabupaten Karo (2009)

Rumah Gugung. Paribun village, Karo District, North Sumatra (2009)

1
Rumah Tarigan. Desa Lingga, Kabupaten Karo, Sumatera Utara (2009)

Rumah Tarigan. Lingga village, Karo District, North Sumatra (2009)

1
Rumah Manik .Desa Lingga, Kabupaten Karo, Sumatera Utara (2009)

Rumah Manik. Lingga village, Karo District, North Sumatra (2009)

1
Rumah … . Desa Lingga, Kabupaten Karo, Sumatera Utara (2009)

2
Rumah … . Lingga village, Karo District, North Sumatra (2009)

Rumah … . Desa Lingga, Kabupaten Karo, Sumatera Utara (2009)

Rumah … . Lingga village, Karo District, North Sumatra (2009)

2
2
Jambur, Desa Lingga. Kabupaten Karo, Sumatera Utara (2009)

Jambur (public meeting). Lingga village, Karo District, North Sumatra (2009)

Desa lingga. Kabupaten Karo, Sumatera Utara (2009)

Rumah … . Lingga village, Karo District, North Sumatra (2009)

2
Desa Lingga. Kabupaten Karo, Sumatera Utara (2009)

Rumah … . Lingga village, Karo District, North Sumatra (2009)

2
Rumah Jahe. Desa Lingga. Kabupaten Karo, Sumatera Utara (2009)

Rumah Jahe. Lingga village, Karo District, North Sumatra (2009)

2
2
Rumah Gerga. Desa Lingga. Kabupaten Karo. Sumatera Utara (2009)

1
Rumah Gerga. Lingga village, Karo District, North Sumatra (2009)

Ruamh Gerga. Desa Lingga. Kabupaten Karo, Sumatera Utara (2009)

2
Rumah Gerga. Lingga village, Karo District, North Sumatra (2009)

Ruam Manik. Desa Lingga. Kabupaten Karo, Sumatera Utara (2009)

Rumah Manik. Lingga village, Karo District, North Sumatra (2009)

3
3
Rumah Manik. Dinding sebelah kiri dilihat dari hilir. Lingga village, Karo District,
North Sumatra (2009)

1
Rumah Manik. Left wall seen from downstream. Linga village, Karo District, North
Sumatra (2009)

2
Rumah Mbelin. Desa Lingga. Kabupaten Karo, Sumatera Utara (2009)

1
Rumah Mbelin. Lingga village, Karo District, North Sumatra (2009)

KEHIDUPAN
DI DALAM RUMAH ADAT KARO

Besar kemungkinan, Suku Karo dulunya kalau membuka desa baru sebagai
hunian baru, berangkat dengan delapan keluarga atau kelipatannya. Ini
tampak dengan rumah adat yang dibangun mereka, dihuni dengan delapan
keluarga.

Memang ada juga rumah adat yang dihuni empat keluarga. Tapi, umumnya
hunian delapan keluargalah yang banyak didirikan.

Petak hunian per keluarga paling 2m X 3m. Disitu memasak, makan


sekeluarga termasuk cuci piring. Begitu pula tidur sekeluarga, ibu ayah dan
anak yang belum akilbalig. Anak yang sudah akilbalig, tidur di lumbung padi
buat anak laki dan perempuanya tidur di jambur semacam ruang pertemuan
warga desa. Dan disitu juga, menganyam tikar kalau kaum ibu belum
mengantuk.

Tiap petak punya jendela satu, kepala pun tak muat dikeluarkan melalui
jendela itu karena kecilnya. Tempat tidur hanya dibatasi tikar yang dipasang
seperti menjemur pada sebilah bambu. Gaya knock down. Mau tidur, rapikan
dulu tikar pembatas.

LIFE IN THE HOUSE ADAT KARO

It is probable, Karo Tribe once if opening a new village as a new dwelling, set
out with eight hauseholds or multiple. It seems with the traditional houses

They built, inhabited by eight hauseholds.

There is also a house inhabited by four indigenous hauseholds. But, generally

eight residential lots the family who founded.

3
Occupancy per hausehold plot at least 2m x 3m. There cooking, eating whole
family including the kitchen sink. So was sleeping family, mother father and
children who have grown oup age 15 on . Children who have of age, sleep in
barns for boys and jambur sleep for virgins in such a village meeting room.
Each plot has a single window, did not fit his head through the window was
excluded because of small. Bed mats are installed is limited only as drying
on bamboo blade. Knock down style. Going to bed, make up this first barrier
mats.

Dibakar

Di tahun empat lima, hunian tersebut ada yang dibakar, dibumi


hanguskan rumah adat sedesa. Tak rela digunakan oleh Belanda. Penghuni
sedesa mengungsi ke desa yang lebih aman. Anak mudanya dan kaum bapa
bergerilla menghambat kelancaran gerak pendudukan Belanda. Tak
ketinggalan gadis manisnya yang tidak membantu pengungsian, mereka jadi
palang merah .

Rumah adat punya pintu hanya dua. Satu di hulu dan satu lagi di hilir. Kedua
pintu itu punya ture atau kakilima. Ture terbuat dari bambu utuh sebesar
paha orang dewasa, disusun mendatar jadi lantai simetris dengan pintu.
Lurusan pintu, dibuat tangga menanjak tajam untuk naik ke ture setinggi
orang dewasa. Luas sekitar 3m X 2m.

Tepian ture sebelah kiri dan kanan, sering dijadikan anak balita jadi tempat
buang hajat. Biasanya pagi hari, mereka jongkok dengan hati hati karena
ture tak punya dinding pembatas. Anak yang masih kecil biasanya ditemanai
ibunya dengan memegang tangan sang anak. Atau sang anak duduk
diantara kedua kaki ibunya yang duduk di lantai bambu dengan posisi huruf
L. Jadi kloset alami yang sangat menyenangkan sang anak Begitu hajatnya
jatuh ke tanah, langsung bersih ulah babi yang berkeliaran di bawah yakni
langsung memakannya.

Burnt
In four of five, these residences have burned, scorch earth same village of
traditional houses. Not willing to be used by the Dutch. Same village
residents to flee to a safer village. Young child and the father of wage
guerrilla warfare to smooth movement of Dutch occupation. There was also

2
a sweet girl who does not help the guerrilla, they become red cross. Custom
house had a door just two. Both doors had terrace. Terrace made of bamboo
intact thigh for adults, arranged horizontally so the floor is symmetrical with
the doors. Made a sharp climb stairs to climb to as high as adults Ture. Area
of approximately 3m x 2m. Terrace margins left and right, often used as a
toddler so the place defecate. Usually the morning, they squat with caution
because Terrace had no boundary wall. Very young children usually take
care by his mother with the child's hand. Or the boy sitting between her legs
that sit on the floor of bamboo with the position of the letter L. So naturally a
very nice toilet boy fell to the ground Once his business, net direct act of pigs
that roam under the direct eating.

Cinta di ture

Malamnya, tempat itu jadi ajang muda mudi untuk saling mengenal. Mereka
duduk berdua duaan di tepian sisi ture. Masing masing menutupi seluruh
tubuhnya kecuali mukanya dengan kain sarung menahan dinginnya udara
malam. Kalau mereka lagi asik dan orang tua kebetulan mau masuk ke
rumah adat atau orang tua yang di dalam mau keluar. Maka orang tua itu
pura pura batuk , sebagai kode mau liwat. Memang ture gelap, paling
cahaya bulan kalau lagi tampak, belum ada listrik masuk desa kala itu.

Ada kode tersendiri hal kunjungan kekasih ke ture. Biasanya tempat duduk
kekasih yang melayani makan keluarganya, posisi duduk tetap dan dekat
tungku. Ada celah antar papan lantai. Dari celah itu dibuat sodokan mesra
dari lidi yang mengenai bogong kekasih. Biasanya waktu kunjungan pacar ini
agak serentak untuk semua anak gadis yang ada di rumah adat itu.
Bercengkramalah mereka di dua ture itu, ture hulu dan ture hilir. Kalau
malam mulai larut, sang gadis ke jambur untuk tidur, dan yang laki
merebahkan diri di atas lumbung padi.

Love at Terrace
That night, the place was so young arena helm to know each other. They sat
together on the shore side of a pair Terrace. Each cover her entire body
except the face with a cloth glove withstand the chill night air. If they're
more cool and the parents happen to want to get into custom homes or
parents who are in want out. Then the old man's temple cough, as a code to
ask permisson. Terrace dark indeed, the most light of the moon if longer
visible, enter the village had no electricity at that time.
There is a separate code that requests a lover to Terrace. Usually places that
serve lovers sat eating his family, remained seated position and near the

2
stove. There are gaps between the floorboards. From the slit made of sticks
that poke affectionate about bottom lover. Typically this time visit girlfriend
somewhat simultaneously to all girls in the house was customary.
Passionately loves them sweet heart in two's Terrace . If you start late at
night, the girl to jambur to sleep, and the men lay down on top of barns.

Milasi

Lumbung padi ada beberapa dibangun sekitar rumah adat. Bentuknya


bundar dindingnya terbuat dari anyaman kulit bambu. Bagian atasnya kayak
loteng sebagai tempat tidur remaja maupun pemuda dewasa. Biasanya
penghuni tetap kelompok kecil ini kompak kayak geng masa kini.

Kehadiran Mburakta malam ini sebagai tamu di lumbung itu. Penghuni


tetapnya beberapa remaja yang lebih tua dan salah satunya, sahabatnya
sebaya yang tidak sekolah ke kota.

Biasanya Mburakta masih tidur di rumah adat. Namun pulang kampung


Mburakta kali ini lain. Habis makan malam dengan ayah ibu serta dua
adiknya, dia pamit mau tidur di lumbung. Ayah dan ibunya senyum
mengerti, dua adiknya rada bingung.

“Besok pagi, abang kesini habis makan pagi. Kita sama sama ke ladang”
katanya kepada kedua adiknya.

Karena sahabat sebaya, banyaklah cerita, Mumpung penghuni lumbung


lainnya belum datang. Mungkin minum di kedai kopi atau sedang canda ria
dengan gadis pujaan di ture

“Aku sudah milasi” kata sahabatnya bangga setelah cerita sana sini.

“Milasi sinuan dilaki” maksudnya, istilah halus untuk sunat yang dilakukan
leluhur suku Karo.

Sengaja dua sahabat itu lebih cepat sampai di pemandian sepulang dari
ladang, besoknya. Dan bebaslah mereka berbicara.
Diambilnya sobekan daun pisang. Digulung selingkaran buah pisang.

2
“Ini bagian ujung ‘burung’ “ kata sahabat. Maksudnya bagian kulupnya laki-
laki yang dipegangnya dengan ibu jari dan telujuk tangan kiri.
Kemudian tangan kanannya membentuk ‘gunting’ jari telujuk di atas dan jari
tengah di bawah. Formasi gunting membelah lingkaran daun pisang bagian
atas.
“’Gunting” dibuat dari lidi daun enau. Lidinya dibersihkan, diserut dengan
pisau dan kemudian dipotong kurang lebih 5 cm”.
Diambilnya ranting sebagai alat peraga dan lanjutnya.
“Lidi ini dibelah sepanjang 3 cm. Bagian lidi yang terbelah diserut lagi hingga
tajam kayak segi tiga memanjang. Belahan yang tajam saling bertemu”.
Mburakta dengan seksama memperhatikan, dan lanjut sahabat..
“Dibagian tengah lidi, dipasang benang pengikat. Tapi jangan diikat mati.
Supaya nantinya setiap pagi ikatannya bisa dikencangkan. Lidi dibalur air
kunyit sebelum dipasang dan tiap pagi, teteskan air kunyit sambil
mengencangkan pengikatnya.
“Tidak sakit”
“Ah … lebih sakit digigit semut merah” Lima hari juga lidinya lepas sendiri.
Jawab sahabat dengan senyum sambil terjun ke air.

Circumcise “milasi” traditional


Barns are built around some traditional houses. It was round walls made of
woven bamboo skins. The top as storied as a bed loft teen or young adult.
Normally permanent residents of this small group of a compact like the gang
today.
Mburakta attendance this evening as guests at the barn. Permanent
residents some older teens and one of them, his friend the same age who
never attended school to the city.

Mburakta usually still asleep at the custom house. But this time his home
town Mburakta the other. After having dinner with my mom and dad of two
sister, he excused himself to sleep in the barn. His father and mother smiles
understand, the two sister are confused.
"Tomorrow morning, eat breakfast, we are out here to gether.

Because of friends the same age, many are stories, While residents of other
barns is yet to come. Maybe a drink at the coffee shop or were joking with
same one in Trreace
"I've milasi" said his friend was proud after the story here and there.
"Milasi sinuan dilaki" meaning, the term for circumcision performed subtle
Karonese ancestors.

Intentionally two friends arrived at the bathhouse faster coming home from
the fields, the next day. Be free and they talked.

1
He picked up scraps of banana leaves. As rolled banana.
"This is the end of the 'bird'" said the friend. That is part circumtance man
who held his thumb and left hand.
Then his right hand form a 'scissors' finger above and below the middle
finger. Formation of scissors cut the top of the circle of banana leaf.
"" Cut "was made from palm leaves, sticks. Stick cleaned, planed with a knife
and then cut approximately 5 cm ".
He picked up sticks as props and continued.
"Sticks was cleaved along the 3 cm. Part stick a planed split again until a
sharp triangular elongated kayaking. Sharp parts meet each other. "
Mburakta watched closely, and more friends ..
"The central leaf rib, placed a binder yarn. But do not be bound to die. Later
each morning so the knots can be fastened. Give the stick turmeric water
before used and reinstalling every morning, drops of water while tightening
araund turmeric.
"No pain"

"Ah ... a red ant bites hurt more" Five days off sticks also own. Friend replied
with a smile as he jumped into the water.

Makan Malam

“Panggil ayahmu” kata ibunya, begitu masakan telah siap. Nasi dalam
sumpit dibalut kain agar tetap hangat. Sayur dan lauk menyatu seadanya
masih dalam priuk diatas tungku. Ukat sendok terbuat dari bambu ada di
dalam alat masak itu, siap digunakan.

Gimut, sang anak yang disuruh cekatan ke papan tonggal yakni jalan tengah
rumah adat, terbuat dari satu lembar papan membelah rumah adat dari
pintu hulu menuju pintu hilir. Kemudian turun ke ture rumah adat dan
menapak ke kedai kopi.

Di dalam rumah adat hanya diterangi lampu minyak tanah. Dan di luar
menuju kedai, kalau bulan tidak ada cenderung gelap. Karena biasa, alias
tiap malam dilakukan maka tiada halangan bagi si anak menembus malam
untuk memanggil ayahnya.

Langsung lah kedai kopi sunyi berangsur angsur, bahkan bisa seketika.
Pelanggan masing masing bangkit dari duduknya menuju rumahnya untuk
makan malam.

2
Ayah dan anak, mereka bertiga duduk bersila dekat tungku. Begitu pula
keluarga petak sebelah kanannya. Tungku kedua keluarga ini menyatu.
Lima batu tungku disusun berdiri bentuk segitiga sedemikian rupa sehingga
satu batu tungku pada sudut bersinggungan dapat digunakan serentak oleh
kedua ibu.

Sang ibu kedua petak bersisian bisa duduk bersila saling membelakangi,
melayani keluarganya masing masing. Kalau ada lauk yang sedikit istimewa,
umpamanya dapat jeratan burung puyuh liar. Dibagi ke petak sebelah
maupun ke seluruh penghuni rumah adat, adalah hal yang biasa. Karena
rumahtangga di rumah adat masih kerabat dekat, ada pertalian darah antar
keluarga satu rumah adat.

Piring kaleng ayah diisi nasi maupun lauk, piring ibu juga demikian. Dan
capah, tempat nasi sang anak yang terbuat dari kayu dengan luas
permukaan dua kali piring kaleng.

Mungkin karena luasnya permukaan, isinya bisa banyak. Si anak maunya


pakai capah saja padahal selalu ada sisa makanannya. Soalnya kantuk
matanya membuat dia berhenti makan. Memang dia ikut ke ladang. Jalan
pulang pergi saja sudah capek.

Sisa makanan dikumpulkan sang ibu dalam satu wadah. Termasuk air
membilas piring kaleng maupun capah sang anak. Sisa ini akan dicampurkan
dengan dedak makanan ternak babi yang dipelihara model lepas di sekitar
pekarangan rumah adat, besok pagi.

Sang anak langsung nyenyak tidurnya, padahal baru saja merebahkan


dirinya. Sang ayah seperti biasanya kembali ke kedai kopi meneruskan
pembicaraan yang tadinya jeda karena masing masing makan malam.

Urusan dapur rampung, sang ibu belum kantuk maka diambilnya daun
pandan yang sudah kering. Cekatan jari jarinya menganyam tikar. Sambil
menganyam dia bisa mengenang pertemuan awal dengan suaminya.
Tampak senyum dia memandang kelelapan tidur anaknya. Mulai penat,
rebahlah tubuhnya di samping anak. Sekejab juga telah lelap.

Di kedai kopi memang lagi asik dibicarakan tentang TAVIP pidato Bung
Karno yang memukau, berapi api dan penuh semangat beberapa waktu
yang lalu.

1
Dan menjelang tengah malam kaum bapa akan kembali ke hunianya masing
masing. Besok pagi harus ke ladang lagi, termasuk pengusaha kedai kopi.
Rutinitas masyarakat warga desa.

Setibanya sang ayah, langsung rebah pula di sisi istrinya yang tidur lelap
memeluk anaknya. Dia rebah merapatkan tubuhnya ke punggung istrinya
agar ruang yang sempit itu terasa lebih hangat. Kehadirannya tidak
mengusik kelelapan sang istri. Tidak mengusik kelelapan tidur keluarga
sebelah, walau hanya tirai tikar pembatasnya.

Dinner
"Call your father" said his mother, so food is ready. Rice wrapped in cloth to
keep warm. Improvised blend of vegetables and side dishes are still in
anchoring above the stove. Ukat spoon made of bamboo is in the cooker,
ready to use.

Gimut, the children who were sent to the board deft middle road that is the
traditional house, made of one sheet of board split the custom house from
the upstream toward the downstream gate. Then go down to the custom
house and Terrace stepped into a coffee shop.

Inside the custom house lit only by kerosene lamps. And beyond toward the
tavern, if the moon did not exist tend dark. Because always, done so every
night there is no obstacle for the child through the night to call his father.
Proceeded slowly starting to quiet coffee shop, even instantly. Customers
rose from his seat each to his house for dinner.

Father and son, three of them were sitting cross-legged near the stove. So
did the family plot next to his right. The second furnace of this family
together. Five stone fireplace standing triangular shape arranged such that a
stone fireplace at an angle tangent can be used simultaneously by two
mothers.
The mother of the two plots next to each other can sit cross-legged backs to
each other, serve each family. If there are a few special dishes, for instance,
may trap wild quail. Divided into the plot next door to the entire household
or customary, are common. Because households in the traditional house is
still close relatives, there is consanguinity between single family custom
homes.

1
Tin plates filled with rice and side dishes father, mother plate, too. And
capah, rice where the child is made from wood with a surface area twice a
tin plate.
Maybe because of the extent of the surface, it can be a lot. The child just
wants to use capah though there are always leftovers. Because sleepy eyes
make him stop eating. Indeed she went to the fields. Road trip just been
tired.

His mother collected food scraps in a container. Including rinse water and
capah tin plate of the child. Time will be blended with the bran diet pigs that
are kept off the model around the traditional courtyard house, tomorrow
morning.
The sleep of children directly, but had just put his head down. The father as
usual back to the coffee shop to continue the conversation that was a break
for dinner, respectively.

Affairs of the kitchen completed, the mother is not sleepy, took it already
dried pandanus leaves. Fingers nimble fingers weave mats. While weaving
she could remember the initial meeting with the husband. Looks smile he
looked at his son sleeping. Starting tired, his body fell down beside the child.
Also been asleep instantly.

In the coffee shop was again talked about the TAVIP Bung Karno's speech a
riveting, fiery and passionate fire some time ago.

And just before midnight the father will return to household, respectively.
Tomorrow morning to go to the fields again, including a coffee shop
entrepreneurs. Routines village community.

On arrival of his father, also a direct fall on the side of his wife who slept
hugging her son. He pressed his body fell into his wife's back to the narrow
space feel warmer. Her presence does not disturb the wife sleeping. Do not
disturb the other sleeping family next haseholds, though only a curtain of
mats of its boundary.

Membuat cinta

Kayu singian kerin alat kayak pentungan pemukul gong. Kalau di


sangkutkan di para-para langit-langit tungku rumah adat, maka kepala

2
keluarga pada petak itu ditugasi menjaga rumah adat esok hari. Penjagaan
dapat digantikan oleh anaknya yang sudah dewasa.. Kayu singian kerin,
giliran jaga rumah adat.

Delapan petak atau delapan keluaga yang tinggal di rumah adat itu akan
bergiliran jaga rumah adat sepanjang masa. Keluarga lainnya tentunya ke
ladang, sawah atau ke hutan berburu mencari kayu bakar, cari rotan atau
nira untuk dijadikan gula. Mencari kebutuhan hidup di alam terbuka di
sekitar rumah adat, paling jauh sekitar empat km. Pergi pagi dan kembali
menjelang sore.

Biasanya sudah mandi di tengah perjalanan pulang. Mungkin di pancuran,


mungkin di tali air. Sang ibu, sesampai di rumah adat langsung menanak
nasi dengan lauk seadanya, maka empat dapur itu alias delapan pasang
tungku akan mengepulkan asap dari kayu yang dibakar naik keatas
menembus atap ijuk. Asap mengawetkan kayu dan ijuk. Asap
menghangatkan ruang rumah adat yang besar itu.

Kalau kaum bapak tidak langsung ke rumah adat sepulang dari ladang,
mereka singgah di kedai kopi desa. Kedai kopi ini juga, baru saja buka,
mengikuti rutinitas pulang dari ladang warga desa. Rutinitas untuk minum,
baca koran dan canda kaum bapak. Memang Suku Karo tidak dibuatin kopi
oleh istrinya. Dan besar kemungkinan tidak ada kopi atau gula di rumah.

Kalau muda mudinya, tak membersihkan diri pada perjalanan pulang dari
ladang. Biasa, cari kesempatanlah. Mereka berkelompok menuju sungai,
mandi berenang sambil curi pandang ke kelompok gadis yang berenang
sebelah sana. Bercada ria selagi masih muda. Anak gadisnya habis mandi,
cuci pakaian sepasang bekas dipakai sekalian mengambil air untuk
kebutuhan dapur.

Kayu singian kerin tersangkut di para-para tungku petak Gindo tempati.


Berarti dia tidak ke ladang besok .

Hatinya sebenarnya ingin ke ladang. Dia hanyut dalam kenangan indah


penuh kemesraan di ladang . Waktu itu hujan rintik rintik di luar sapo tempat
berteduh di ladang atap ilalang. Habis makan siang hujannya bukan mereda
malah tambah deras. Istrinya menggoda.

2
Tidak seperti di rumah, istrinya lebih suka menghindar. Mereka hanyut
mesra berdua tanpa hawatir menyentuh tikar pembatas.

Ingin juga hatinya, agar istrinya di rumah saja. Ikut menjaga rumah adat,
tapi saru, malu itu, katanya dalam hati sambil senyum. Jangankan tinggal
berdua di rumah, jalan berduaan dan dekatan saja rada tidak elok di
kampung. Biasanya istri jalan di depan, suaminya empat langkah di belakang
mengikuti atau sebaliknya.

Di rumah memang istrinya lebih suka menghindar. Pasalnya dinding pemisah


petak bersisian hanya tikar yang disangkutkan seperti menjemur tikar di
atas bambu yang dipasang mendatar. Memang dua tikarnya, satu yang sini
dan satu lagi tikar petak sana. Jadi lapis tikarnya bahkan menjadi empat,
karena masing masing petak membuat bambu mendatar tempat sangkutan.
Tapi kalau goyang tikarnya kan tak enak dipandang. Rumah adat memang
sepi suara sepi gerak sepi rumpi, kecuali balita yang belum tidur, kadang
mereka menangis.

Kalau sudah mendesak, ya dilakukan juga. Tentunya dengan gerak yang


sangat super tenang, terbuai kehangatan sisa bara api tungku makan
malam. Sepi, hangat, remang cahaya sampai pagi. Dan kembali tungku
menambah kehangatan karena para ibu kembali menanak nasi buat sarapan
dan untuk bekal makan siang di ladang.

Making love

Singian kerin, wooden batons equipment likes gong beater. If on the loose in
the loft ceiling fireplace custom house, then head of the hausehold in the
plot was tasked with maintaining the traditional house tomorrow. Custody
may be replaced by adult children who have singian kerin, shifts the
traditional house.

Eight plots or eight hauseholds who live in traditional houses that will keep
the custom house turns of all time. Another hauseholds of course to the
fields, rice fields or the woods to hunt for firewood, looking rattan or palm
wine to be made of sugar. Looking for outdoor living needs around the
traditional house, the most distant about four miles. Go in the morning and
return late in the afternoon.
Usually have a bath in the middle of the journey home. Maybe in the shower,

1
maybe in a rope water. The mother, Arriving at the customs house directly
cook the rice with toppings improvise, then the four kitchen stove will or
eight pairs of wood smoke from the burned palm rose up through the roof.
Smoke preserve wood and roofed. Smoke room warms the large custom
homes.
If the father did not direct to the traditional house back from the fields, they
stopped at the village coffee shop. This coffee shop, recently opened,
following a routine villagers came from the field. Routines for a drink, read
newspapers and the father joked. And it is probable there are no coffee or
sugar at home.
If young, not cleaned up on the way home from the fields. They are flocking
to the river, swimming baths while stealing of view to the next girl group who
swim there. Fun while still young. Daughter finished bathing, washing clothes
worn pair of former all take water for the kitchen.

Wood singian kerin lodged in the furnace-the plot Gindo occupy. Means he
does not to the field tomorrow. His heart really wanted to the field. He drifted
off into fond memories full of affection in the fields. It was raining outside
patter shelter in the fields thatch roof. After lunch totals not subsided even
more profusely. His wife was teasing. Unlike at home, his wife would prefer
to avoid. They were both cordial float without touching the mat barrier.

Hope his wife at home, but vague, shame it was, he thought, smiling. Not
only were alone at home, alone and approach roads is not only beautiful in
the village. Usually the road in front of his wife, four steps behind her
husband to follow, or vice versa.

At home are his wife would prefer to avoid. The reason is the dividing wall
plot hooked mats side by side just like hanging on a bamboo mat that is
placed horizontally. Indeed the two mat, one here and another there plot
mats. So even the four-layer mat, because each patch makes a horizontal
bamboo cradle place. But if it was not shake unsightly mat. The traditional
house was quiet lonely voice lonely motion, except for infants who have not
slept, sometimes they cry.

If it is urgent, it is also done. Obviously with the motion that was super quiet,
lost in the warmth of the remaining embers of the fire for dinner. Quiet,
warm, dim light till the morning. And again the stove adds warmth because
the mothers back for breakfast and rice for lunch in the fields.

2
Tengkar tanpa kata

Sederhana saja harta benda keluarga di hunian. Peralatan masak memasak


yang disusun atau disangkutkan di atas para para tungku. Ada empat para
para masak. Satu para para digunakan dua keluarga besisian.

Pakaian yang tidak digunakan dimasukkan ke koper kaleng dan ditaruh


rapat ke dinding dekat kepala kalau lagi berbaring.

Tampaknya konsep harta keluarga pun jadi sederhana pula. Lumbung padi.
Lumbung padi penuh tak habis dipakai oleh keluaga dalam setahun
merupakan dasar kebahagian dalam mengarungi kehidupan.

Memang ada tanaman keras di ladang, ada juga hewan di pelihara seperti
babi lepas di bawah rumah adat. Termasuk lembu kerbau yang setiap pagi
dituntun ke ladang. Kandang hewan itu juga dibangun sekitar rumah adat.
Hewan ini akan dijual untuk keperluan mendadak keluarga. Kotoran hewan
maupun kotoran babi lepas dikumpulkan jadi pupuk canggih tanaman keras.

Namanya juga keluarga, sudah punya anak atau belum punya anak. Tengkar
itu pasti ada. Di rumah adat ada ketentuan bahwa tengkar boleh dilakukan
tanpa suara.

Kalau bersuara dan mengganggu tetangga maka penghuni petak lain tidak
akan pernah melerai. Bahkan penghuni petak lain itu diberi wewenang
menghancurkan harta benda. Dan sasaran empuknya biasanya peralatan
dapur yang tersusun di para para tungku. Pecahlah periuk tanah peotlah
piring kaleng. Jadi, suami istri kalau mau tengkar ke ladang saja daripada
pecah periuk tanahnya.

Row without the words

Just a simple hauseholds in the residential property. Cooking utensils that


have been prepared or hooked at the top of the stove. There are four of the
cook. One of the two hauseholds used.

2
Clothes that do not use cans inserted into a suitcase and placed against the
wall near the head when lying down again.

Apparently the concept of the hauseholds fortune was so simple too.


Granary. Barns are full of never been used by keluaga in a year is the basis
of happiness in living life.

There is a strong crop in the fields, there are also animals such as pigs loose
to looking under the traditional house. Including buffalo calf was led into the
fields every morning. Animal cages were also built around the traditional
house. These animals will be sold for unexpected needs families. Animal
dung or pig manure is collected off the sophisticated fertilizer plants so hard.

Haushold, already have children or not having children. Arguing that there
must be. At the custom house any provision that maydone without a sound
argument.

If noise and disturb the neighbors, the inhabitants of the other plots will
never arbitrate. Even residents of other plots were given the authority to
destroy property. And targets usually composed of kitchen equipment at the
the furnace. Break the pot soil tin plates. So, husband and wife if you want to
fight to the fields instead of broken pot soil.

Kekerabatan

Ada delapan keluarga alias ada delapan ragam fungsi adat dalam rumah
adat Karo. Tiap fungsi diemban satu keluarga dan petak huniannya pun
sudah ditentukan oleh adat. Begitu pula hubungan kekerabatan dalam
rumah ditentukan oleh adat. Jadi tidak sembarang keluarga dapat
menempati, hal ini merupakan kekhasan dan sekali gus mencirikan rumah
adat Karo.

Searah jam, kalau masuk dari pintu hilir. Nama Jabatan Adat, Tugas dan
Fungsi, Hubungan Keluarga dengan Kepala Rumah Adat, sebagai berikut:

1. Sukut. Kepala Rumah Adat (KRA). Turunan pendiri desa.

1
2. Anakberu Minteri. Saksi keputusan musyawarah. Kelurga adik

perempuan dari mantu laki.

3.Kalimbubu, Mengajar dan menaikkan mantera. Orang yang

disegani/dukun

4. Kalimbubu, Penasehat dan memberi restu.Orang tua istri.

5. Anakberu. Pelaksana perintah dan Wakil KRA. Mantu laki.

6. Anakberu cekuh baka. Menyambut tamu. Anak dari Anakberu.

7. Puang Kalimbubu. Pemberi restu kesepakatan. Kalimbubu dari istri.

8. Sembuyak. Sumber informasi. Anak laki laki ayah bersaudara.

Rumah adat menjadi kesatuan warga penghuni yang dipimpin oleh Sukut.
Mereka bermusyawarah dengan melaksanakan masing masing tugas dan
fungsinya sebagai satu kesatuan.

Setiap penghuni akan mengemban satu jabatan adat pula pada pertemuan
adat diluar rumah adat. Misalnya mengemban jabatan adat sukut, kalau dia
mengawinkan anak atau memasuki rumah baru atau ada anggota keluarga
meninggal. Warga lainnya yang hadir masing masing mengemban fungsi
adat. Kekerabatan rumah adat Karo menjadi dasar kekerabatan Suku Karo
di luar rumah adat.

Kinship
There are eight families there are eight kinds of aliases in the traditional
functions of Karo traditional houses. Each carries a family function and plot
occupancy was already determined by custom. Similarly, phylogenetic
relationships within the home is determined by custom. So not just any
family can occupy, it was a very good specificity and characterize Karo
traditional houses.
Unidirectional hours, if the downstream entrance. Indigenous Name Position,
Duties and Functions, Family Relationships with Traditional Head House, as
follows:
1. Sukut. Head of Traditional House (KRA). Derivatives founder of the
village.
2. Anakberu Minteri. Witness the decision deliberation. Younger families
women than men-in-law.

2
3.Kalimbubu, Teaching and raise the incantation. People
respected / shaman
Fourth. Kalimbubu, Counsel and gave the old restu.Orang wife.
5. Anakberu. Executing commands and vice KRA. In-law male.
6. Anakberu cekuh immortal. Welcoming the guests. Son of Anakberu.
7. Puang Kalimbubu. Giver of consent agreements. Kalimbubu from his
wife.
8. Sembuyak. Sources of information. Boys father's brothers.

Custom house to be unity citizen residents, led by Sukut. They carry out
consultation with their respective duties and functions as a single entity.
Each occupant will also carry out a customs office at the customary meeting
outside the traditional house. For example assumed the role of customary
sukut, if he marries the child or entering a new house or a family member
died. Other residents who attended each carry out the customary functions.
Custom house Karo kinship is the basis of kinship outside the tribe Karo
traditional houses.

Incantation teachers
Establishment of the traditional houses are also quite complicated. Almost
every activity the teacher talked back to the worship of the Creator, the ruler
of nature, are involved. Teacher aka shaman bermantera takkala
establishment location choice, by inserting three pieces of betel leaf and
stick the knife in the hole dug deep as 30 cm. Similarly, every elected wood
building materials from the forest near the village, the teachers involved
incantations. Including the presence of a complete custom kinship must be
met.
And that's why the house called "House of Traditional Karo". Mode of
establishment, its residents and is governed by customary kinship
occupants. Fine shape with no nails or iron wire. Called a house of the joints.
The attached photo, looking downstream gate.
Apparently in the 19th century traditional house torn down because many
are unfit for human habitation, besides four of five burned down years.
Burned or torn down because it unfit for human habitation, never replaced.
He's no more than 250 years.
Occupancy may not appeal to the group again. New dwelling individuals who
tend to always established. Maybe also the involvement of teachers and the
complexity of the founding mantras traditional house is becoming obsolete
because of the influence of the entry of religious citizens.
Although torn down, the wood still looks solid. Photo attached.

Conclusion
Rice self-sufficiency and self-sufficiency in manure. Carry out the customary
functions of kinship in traditional houses as well as outside the customs

2
house. United with nature because nature give life and worship the Creator
of natural ruler who applied through the worship activities are also regulated
by custom.
Today, worship is regulated by changes over the entry of indigenous
religions.
Space is not roomy, everyday routines in custom homes tend to be the
same. Quiet, mutual respect. Silence, not worthy of laughter. Silence does
not deserve ngerumpi. Quiet, tend sahdu.
Now, occupancy group no longer interesting, more individual occupancy
preferred.
Unique kinship and tested for their wisdom and traditions of each family
carry out and perform the customary positions in a traditional house. The
wisdom and proficiency level in these timeless tradition of eating time.
Although now a private residential nature, but outside the residential
community remains Karo serve on indigenous customs and traditions in the
meeting .. Identity is necessary.

Jakarta 16-03-2008
Dame Munthe
dame@data-e.com

Contribute a better translation

Mantera guru

Pendirian rumah adat pun cukup rumit. Hampir setiap kegiatan mantera guru
penyembahan kepada Sang Pencipta penguasa alam, terlibat. Guru alias
dukun bermantera takkala pilihan lokasi pendirian, dengan memasukkan tiga
helai daun sirih dan menancapkan pisau pada lubang yang digali sedalam 30
cm. Begitu pula setiap kayu terpilih jadi bahan bangunan dari hutan dekat
desa, terlibat mantera guru. Termasuk juga kehadiran kekerabatan adat
lengkap harus dipenuhi.

3
Dan itulah sebabnya disebut rumah “Rumah Adat Karo”. Cara pendirian,
penghuni dan kekerabatan penghuni diatur oleh adat. Bentuknya gagah
tanpa ada paku kawat atau besi. Disebut rumah sendi. Foto terlampir,
tampak pintu hilir.

Tampaknya di abad 19 rumah adat banyak yang dirubuhkan karena tidak


layak huni, disamping dibumihanguskan tahun empat lima. Dihanguskan
maupun dirubuhkan karena tidak layak huni, tak pernah terganti. Umurnya
ada yang lebih dari 250 tahun.

Mungkin hunian kelompok tak menarik lagi. Hunian baru cenderung individu
yang selalu didirikan. Mungkin juga keterlibatan mantera guru dan kerumitan
pendirian rumah adat mulai ditinggalkan warga karena pengaruh masuknya
agama.

Walaupun dirubuhkan, kelihatan kayunya masih kokoh. Foto terlampir.

Kesimpulan

Swasembada padi dan swasembada pupuk kandang. Mengemban fungsi


adat dalam rumah adat maupun kekerabatan diluar rumah adat. Menyatu
dengan alam karena alam memberi kehidupan dan menyembah Sang
Pencipta penguasa alam yang diaplikasikan melalui kegiatan penyembahan
yang diatur juga oleh adat.

Kini, Penyembahan yang diatur oleh adat berubah seiring masuknya agama.

Ruang memang tidak lapang, rutinitas keseharian di dalam rumah adat


cenderung dibuat sama. Sepi, saling menghormati. Sepi, tak pantas canda.
Sepi tak pantas ngerumpi. Sepi, cenderung sahdu.

Kini, hunian kelompok tak menarik lagi, hunian individu lebih disuka.

Kekerabatan yang unik dan teruji karena kearifan dan tradisi tiap keluarga
mengemban dan melaksanakan jabatan adat dalam rumah adat. Kearifan
dan tradisi tesebut tak lekang dimakan waktu. Walau hunian sekarang
pribadi sifatnya, namun di luar hunian masyarakat Karo tetap mengemban
jabatan adat dalam pertemuan adat.. Identitas memang perlu.

1
Jakarta 16-03-2008

Dame Munthe

dame@data-e.com

1
Rumah Adat Suku Karo, Desa Ajinembah 1985

3
Tak Layak Huni Diruntuhkan, Desa Sarimunte 1985

He said the Village 50 years Linga has Karo Tribe Traditional House (RASK) 50
units, now in 2009 only two units are occupied. And both units are still
inhabited because there prhatian Government and renovating some time ago.

1
RASK actual applications where indigenous cultural life of the Karo tribe by the
ancestors
Karo tribe of yore. The occupancy is implemented directly by the whole
residents of eight households. Not just anyone can occupy
one of eight family plot family plot is available ..

2
3