Anda di halaman 1dari 16

KEMUNDURAN

TIGA KERAJAAN BESAR


(1700 – 1800 M)

Makalah ini Disusun untuk Memenuhi Tugas

Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam

Disusun Oleh :

Nama : M. Akhi Yusuf


NIM : 0809010010
Jurusan : Pendidikan Agama Islam

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM SWASTA

( STAIS ) LAN TABOER

JAKARTA 2010

KATA PENGANTAR

1
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan hidayah dan inayah-Nya
bagi kami melalui ilmu-Nya Yang Maha Luas dan Tak Terkira sehingga kami bisa sedikit
menuliskan setetes dari lautan ilmu-Nya kedalam sebuah makalah sederhana ini. Shalawat serta
salam kami tujukan kepada suri teladan kami, Nabi Muhammad SAW beserta seluruh
pengikutnya hingga akhir zaman.

Kami bersyukur bahwa akhirnya kontribusi dapat diwujudkan dengan diiringi kesadaran
bahwa segala keterbatasan masih mengiringi makalah yang masih perlu untuk terus dikoreksi ini
agar dapat mencapai kesempurnaan. Makalah ini dibuat tidak dengan proses yang instant namun
memerlukan proses yang cukup panjang untuk menciptakan sebuah makalah yang dapat
membuat pembaca semakin mengenal, mengerti dan memahami Pentingnya Al-Qur’an bagi
manusia dalam sejarah peradabanya yang bermula dari peradaban sejarah islam menuju
peradaban modern.

Akhirnya, kami berharap makalah ini menjadi kontributif yang positif yang tidak ada
hentinya. Tak henti untuk terus dikoreksi, tak henti untuk melahirkan berbagai motivasi dan
inovasi serta tak henti untuk memberikan inspirasi kepada orang lain untuk juga memberikan
kontribusi yang jauh lebih baik dari kami. Semoga.

Jakarta, Mei 2010

Penulis

DAFTAR ISI

2
Kata Pengantar ……………………………………………………………..………… i

Daftar Isi ……………………………………………………………………………… ii

BAB I : Pendahuluan …………………………………………………………... 1

BAB II : Pembahasan

a. Sejarah Singkat Kerajaan (Safawi, Mughal dan Usmani) …… 2

b. Kemunduran Tiga Kerajaan Besar (100-1800) ……………….. 4

BAB III : Kesimpulan……………………………………………………………. 10

BAB IV : Penutup ……………………………………………………………….. 11

Daftar Pustaka ….……………………………………………………………………… 12

BAB I

PENDAHULUAN

3
Setelah khalifah Abbasiyah di Baghdad runtuh akibat serangan tentara Mongol, kekuatan
politik islam mengalami kemunduran secara drastis. Wilayah kekuasaannya tercabik-cabik dalam
beberapa Kerajaan kecil yang satu sama lain bahkan saling memerangi. Beberapa peninggalan
budaya dan peradaban islam banyak yang hancur akibat serangan bangsa Mongol itu. Namun,
kemalangan tidak berhenti sampai di situ. Timur Lenk, sebagai mana telah disebut,
menghancurkan pusat-pusat kekuasaan islam yang lain.

Setelah Bani Abbas mengalami kehancuran, umat islam bangkit kembali dengan adanya
kerajaan-kerajaan Usmani, Mughal dan Safawi. Kerajan-kerajaan tersebut merupakan tiga
kerajaan terbesar pada masa itu. Akan tetapi dalam perjalanannya, ketiga kerajaan tersebut juga
mengalami kemunduran dan kehancuran. Apa penyebab kehancuran dan kemunduran ketiga
kerajaan tersebut ?

Makalah ini akan membahas bagaimana kehancuran dan kemunduran tiga kerajaan besar
bagi umat islam tersebut yaitu kerajaan Safawi, Mughal dan Usmani.

BAB II

PEMBAHASAN

4
A. Sejarah Singkat Kerajaan (Safawi , Mughal dan Usmani)

1. Kerajaan Safawi di Persia

Kerajaan safawi berasal dari sebuah gerakan tarekat di Ardabil, sebuah kota di
Azerbaijan. Tarekat ini diberi nama tarekat Safawiyah, di dirikan pda waktu yang
hampir bersamaan dengan berdirinya kerajaan usmani. Nama Safawiyah diambil dari
nama pendirinya, Safi Al-Din (1252-1334 M) dan nama safawi itu rerus
dipertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik. Bahkan, nama itu
dilestarikan setelah gerakan ini mendirikan kerajaan.

Safi Al-Din berasal dari keturunan orang yang berbeda dan memilih sufi sebaga
jalan hidupnya. Ia keturunan dari iman syi’ah yang ke enam. Musa Al-Kazim.
Gurunya bernama syaikh Taj Al-Din Ibrahim Zahidi (1216-1301 M) yang dikenal
dengan julukan Zahid Al-Din diambil menantu oleh gurunya tersebut. Safi Al-Din
mendirikan tarekat Safawiyah setelah ia menggantikan guru dan sekaligus
meertuanya yang wafat tahun 1301 M. Pengikut torekat ini sangat teguh memegang
ajaran agama. Pada mulanya gerakan tasawuf Safawiyah bertujuan memerangi oran-
orang ingkar.

2. Kerajaan Mughal di India

Kerajaan mughal berdiri seperempat abad sesudah berdirinya kerajaan Safawi.


Jadi, di antara tiga kerajaan besar Islam tersebut, kerajaan inilah yang termuda.
Kerajaan mughal bukanlah kerajaan Islam pertama anak benua India. Awal
kekuasaan islam di wilayah india terjadi pada masa kalifah Al-Walid, dari Dinasti
Bani Umayah, penaklukan wilayah ini dilakukan oleh tentara Bani Umayah di bawah
pimpinan Muhammad Ibn Qasim.

Kerajaan Mughal atau Mogul di India diasaskan oleh Babur pada tahun 1526,
apabila dia mengalahkan Ibrahim Lodi, sultan terakhir dalam kesultanan Delhi dalam
Pertempuran pertama Panipat. Kebanyakannya telah ditawan oleh Sher Shah semasa
pemerintahan Humayun, tetapi di bawah Akbar, ia berkembang dengan lebih luas,

5
dan terus berkembang sehingga akhir pemerintahan Aurangzeb. Selepas
kemangkatan Aurangzeb pada tahun 1707, kerajaan Mughal semakin lemah,
walaupun ia kekal sebagai kuasa memerintah di benua India selama 150 tahun
berikutnya. Dalam tahun 1739 ia dikalahkan oleh tentera Persia di bawah
pemerintahan Nadir Shah. Pada tahun 1756 tentera Ahmad Shah merompak Delhi
sekali lagi. Kekalahan terakhir ditangan Empire British pada tahun 1857, walaupun ia
telahpun menjadi gelaran kehormatan sahaja, tanpa kuasa pemerintahan sebenar.

3. Kerajaan Usmani.

Pendiri kerajaan ini adalah dari kabilah Oghuz yang mendiami daerah Mongol
dan daerah utara Cina. Dalam jangka waktu kira-kira tiga abad, mereka pindah ke
Turkistan kemudian Persia dan Irak. Mereka masuk Islam sekitar abad ke sembilan
atau kesepuluh, ketika mereka menetap di Asia Tengah. Di bawah tekanan serangan-
serangan Mongol pada abad ke 13 M, mereka melarikan diri ke daerah barat dan
mencari tempat pengungsian di tengah-tengah saudara-saudara mereka orang-orang
Turki Saljuk, di dataran tinggi Asia kecil. Di sana, di bawah pimpinan Erthogrul,
mereka mengabdikan diri ke Sultan Alaudin II, Sultan Saljuk yang kebetulan sedang
berperang melawan Bizantium. Berkat bantuan mereka, Sultan Alaudin mendapat
kemenangan. Berkat jasa baik itu, Alauddin menghadiahkan sebidang tanah di Asia
kecil yang berbatasan dengan Bizantium. Sejak itu mereka terus membina wilayah
barunya dengan memilih kota Syukud sebagai ibu kota.

Ertoghrul meninggal dunia tahun 1289 M. Kepemimpinan dilanjutkan oleh


putranya, Usman. Putra Ertoghrul inilah yang dianggap pendiri Kerajaan Usmani.
Usman memerintah antara tahun 1290 M dan 1326 M. Sebagaimana ayahnya ia
banyak berjasa kepada Sultan Aliuddin II dengan keberhasilannya ia menduduki
benteng-benteng Bizantium yang berdekatan dengan kota Broessa. Pada tahun 1300
M, bangsa Mongol menyerang Kerajaan Saljuk dan sultan Alauddin terbunuh.
Kerajaan Saljuk ini kemudian terpecah-pecah dalam beberapa Kerajaan kecil. Usman
pun menyatakan kemerdekaannya dan berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya.

6
Sejak itulah, kerajaan Usmani dinyatakan berdiri. Penguasa pertamanya adalah
Usman yang sering disebut juga Usman I.

Setelah Usman I mengumumkan dirinya sebagai Padisyah Al-Usman (raja besar


keluarga Usman) tahun 699 H (1300 M), setapak demi setapak wilayah kerajaan
dapat di perluasnya. Ia menyerang daerah perbatasan Bizantium dan menaklukan
kota Broessa tahun 1317 M, kemudian, pada tahun 1326 M dijadikan sebagai ibu
kota Kerajaan. Pada masa pemerintahan Orkhan (726 H/ 1326 M-761 H/ 1359 M)
Kerajaan Turki Usmani ini dapat menaklukkan Azmir (Smirna) tahun 1327 M,
Thawasyanli (1330M), Uskandar (1338 M), Ankara (1354 M), dan Gallipoli (1356
M) daerah ini adalah bagian benua Eropa yang pertama kali di duduki Kerajaan
Usmani.

B. KEMUNDURAN TIGA KERAJAAN BESAR (1700-1800 M)

1. Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Safawi

Sepeninggal Abbas I Kerajaan Safawi berturut-turut Diperintah oleh enam raja,


yaitu Safi Mirza (1628-1642 M), Abas II (1642-1667 M), Sulaiman (1667-1694 M),
Husain (1694-1722 M), Tahmasp II (1722-1732 M), dan abas III (1733-1736) pada
masa raja-raja tersebut kerajaan safawi tidak menunjukan grafik naik dan
berkembang, tetapi justru memperlihatkan kemunduran yang akhirnya membawa
kepada kehancuran.

Sebab-sebab kemunduran Kerajaan Safawi, antara lain:

1. Para Pemimpin yang lemah.

7
Safi Mirza, cucu abbas I, adalah seorang pemimpin yang lemah. Ia sangat kejam
terhadap pembesar-pembesar kerajaan karena sifat pencemburunya. Kemajuan yang
pernah dicapai oleh abbas I segera menurun. Kota Qondahar (sekarang termasuk
wilayah afganistan ) lepas dari kekuasaan kerajaan safawi, diduduki oleh kerajaan
mughal yang ketika itu dipimpin oleh Sultan Syah Jehan, sementara baghdad direbut
oleh kerajaan Usmani.

2. Para Pemimpin suka minum-minuman keras.

Abbas II adalah raja yang suka minum-minuman keras sehingga ia jatuh sakit
dan meninggal. Meskipun demikian, dengan bantuan wajir-wajirnya, pada masa kota
Qandahar dapat direbut kembali. Sebagaimana Abbas II, Sulaiman juga seorang
pemabuk. Ia bertindak kejam terhadap para pembesar yang dicurigainya. Akibatnya,
rakyat bersifat masa bodoh terhadap pemerintah. Ia diganti oleh Shah Husein yang
alim. Pengganti sulaiman ini meberi kekuasaan yang besar kepada para ulama Syi’ah
yang sering memaksakan pendapatnya terhadapa penganut aliran Sunni. Sikap ini
membangkitkan kemarahan golongan sunni Afhganistan, sehingga mereka berontak
dan berhasil mengakhiri kekuasaan dinasti Safawi.

3. adanya dekadensi moral yang melanda sebagian pemimpin. Hal ini juga turut
mempercepat proses kehancuran kerajaan Safawi.

4. konflik yang berkepanjangan dengan kerajaan Usmani yang beraliran Syi’ah.


karena pasukan ghulam (pasukan budak) yang dibentuk oleh Abbas I tidak
memiliki semangat perang yang tinggi seperti Qizilbash.

5. adanya konflik internal kerajaan, dalam bentuk perebutan kekuasaan di kalangan


keluarga istana.

2. Kemunduran dan Runtuhnya Kerajaan Mughal

Setelah satu setengah abad dinasti mughal berada dipuncak kejayaannya, para
pelanjut Aurangzeb tidak sanggup mempertahankan kebesaran yang telah dibina oleh
sultan-sultan sebelumnya. Pada abad ke 18 M kerajaan ini memasuki masa-masa
8
kemunduran. Kekuatan politiknya mulai merosot, suksesi kepemimpinan di tingkat
jpusat menjadi ajang perebutan, gerakan separatis Hindu semakin lama semakin
mengancam. Sememntara itu pedagang inggris untuk pertamakalinya diizinkan oleh
Jehangir menanamkan modal di India, dengan didukung oleh kekutan bersenjata
semakin kuat menguasai wilayah pantai.

Pada masa Aurangzeb, pemberontakan terhadap pemerintah pusat memang sudah


muncul tapi dapat diatasi. Pemberontakan ini bermula dari tindakan aurangzeb yang
dengan keras menerapkan pemikiran Puritanisme-nya. Setelah ia wafat, penerusnya
rata-rata ia lemah dan tidak mampu menghadapi problema yang ditinggalkannya.

Ada beberapa faktor juga yang menyebabkan kekuasaan dinasti mughal mundur
pada satu setengah abad terakhir dan membawa kepada kehancuran pada tahun
1858M, yaitu :

1. Kemerosotan moral dan hidup mewah dikalangan elit politik, yang


mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang negara.

2. Pendekatan Aurangzeb yang terlampau ”kasar” dalam melaksanakan ide-ide


puritan sehingga konflik antar agama sangat sukar diatasi oleh sultan sesudahnya.

3. Semua pewaris tahta kerajaan pada paruh terakhir adalah orang-orang lemah
dalam bidang kepemimpinan

4. Terjadi stagnasi dalam pembinaan militer sehingga oprasi militer inggris di


wilayah-milayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuatan maritim
Mughal.

3. Kemunduran Kerajaan Usmani

Setelah Sultan Sulaiman Al-Qanuni wafat ( 1566 M) kerajaan turki usmani mulai
mengalami fase kemundurannya. Akan tetapi, sebagai sebuah kerajaan yang sangat
besar dan kuat, kemunduran itu tidak langsung terlihat. Sultan Sulaiman Al-Qanuni
9
diganti oleh Salim II (1566-1573 M). Dimasa pemerintahannya terjadi pertempuran
antara armada laut kerajaan usmani dengan armada laut Bundukia , angkatan sri paus,
dan sebagian kapal para pendeta Malta yang dipimpin Don Juan dari sepanyol.
Pertempuran ini, Turki usmani mengalami kekalahan yang mengakibatkan Tunisia
dapat direbut oleh musuh. Baru pada masa sultan berikutnya, Sultan Murad III pada
tahun 1575 M tunisia dapat direbut kembali.

Banyak faktor yang menyebabkan Kerajaan Usmani itu mengalami kemundruan,


diantaran adalah :

1. Wilayah kekuasaan yang sangat luas. Administrasi pemerintahan yang sangat luas
wilayahnya sangat rumit dan kompleks, sementara administrasi kerajaan Usmani
tidak beres.

2. Heterogenitas penduduk. Dengan luasnya wilayah secara otomatis terdapat


perbedaan bangsa dan agama dari berbagai wilayah. Oleh karena itu, perbedaan
bangsa dan agama sering kali melatarbelakangi terjadinya pemberontakan dan
peperangan.

3. Kelemahan para penguasa. Sepeninggal Sulaiman al-Qanuni, Kerajaan Usmani


dipimpin oleh sultan-sultan yang lemah, baik dalam kepribadian maupun
kepemimpinannya, akibatnya pemerintah menjadi kacau dan tidak kondusif.

4. Budaya pungli atau kalau penulis boleh katakan dengan istilah “korupsi sudah
membudaya”. Setiap jabatan yang hendak diraih seseorang, maka harus “dibayar”
dengan sogokan kepada orang yang berhak memberikan jabatan tersebut.

5. Pemberontakan tentara Jenissari. Jernissari adalah tentara kerajaan Usmani yang


bertugas dalam ekspansi militer dalam memperluas wilayahnya. Akan tetapi,
tentara Jenissari sendiri melakukan pemberontakan. Bahkan pemberontakan
dilakukan sebanyak empat kali, yaitu pada tahun 1525 M, 1632 M, 1727 M dan
1826.

6. Merosotnya ekonomi. Hal ini dikarenakan perang yang tak pernah berhenti,
sehingga anggaran digunakan untuk kepentingan perang, sedangkan pendapatan
berkurang dan belanja negara banyak.
10
7. Terjadinya stagnasi dalam lapangan ilmu dan teknologi. Hal ini dikarenakan
kerajaan Usmani kurang berhasil dalam pengembangan ilmu dan teknologi, dan
hanya mementingkan pengembangan kekuatan militer.

Demikian beberapa faktor kemunduran atau kehancuran kerajaan Usmani, yang


pada waktu bersamaan pula, menjadi awal dari kekuatan-kekuatan Eropa untuk
menduduki wilayah-wilayah yang pernah diduduki oleh kerajaan Usmani.

4. Kemajuan Eropa (Barat)

Bersama waktunya dengan kemunduran tiga kerajaan Islam di periode


pertengahan sejarah Islam, Eropa Barat (biasa disebut dengan ”Barat” saja).
Sedangkan mengalami kemajuan dengan pusat. Hal ini berbanding terbalik dengan
masa klasik sejarah Islam. Ketika itu, perabadan Islam dapat dikatakan paling maju,
memamncarkan sinarnya ke seluruh dunia, sementara Eropa sedang berada dalam
kebodohan dan keterbelakangan.

Kemajuan Eropa (Barat) memang bersumber dari khazanah ilmu pengetahuan


dan metode berpikir Islam yang rasional. Di antara saluran masuknya peradaban
Islam ke Eropa itu adalah perang Salib, Sacilia, dan yang penting adalah Spanyol
Islam. Ketika islam mengalami kejayaan di Spanyol, banyak orang eropa yang
belajar ke sana kemudian menerjemahkan karya – karya ilmiah umat islam. Hal ini
dimulai sejak abad ke-12 M. Setelah mereka pulang ke negeri masing-masing,
mereka mendirikan universitas dengan meniru pola islam dan mengejarkan ilmu
yang dipelajari di universitas-universitas islam itu. Dalam perkembangan selanjutnya
keadaan ini melahirkan renaissance, repormasi, dan rasionalisme di Eropa.

Gerakan-gerakan renaisans melahirkan perubahan-perubahan besar dalam sejarah


dunia. Abad ke -16 dan 17 merupakan abad yang paling penting bagi Eropa,
sementara pada akhir abad ke-17 itu pula, dunia islam mulai mengalami kemunduran.
Dengan lahirnya renaisans, eropa bangkit kembali untuk mengejar ketinggalan
mereka pada masa kebodohan dan kegelapan.
11
Dengan organisasi dan persenjatan moderen pasukan perang Eropa mampu
melancarkan pukulan telak terhadap daerah-daerah kekuasaan islam, seperti ketika
kerajaan usmani berhadapan dengan kekuatan-kekuatan eropa dan kerajaan mughal
berhadapan dengan inggris. Daerah-daerah kekuasaan islam lainnya mulai berjatuhan
ketangan eropa, seperti asia tenggara, bahkan mesir, salah satu pusat peradaban islam
terpenting diduduki Napoleon Bonaparte dari Prancis pada tahun 1798 M.

Benturan-benturan antara kerajaan Islam dengan kekuatan eropa itu menyadarkan


umat islam bahwa mereka memang sudah jauh tertinggal dari Eropa. Kesadaran
itulah yang menyebabkan umat islam terpaksa harus banyak belajar dari Eropa.
Perimbangan kekuatan umat islam dan eropa berubah dengan cepat. Di antara
kemajuan Eropa dan kemunduran islam terbentang jurang yang sangat lebar dan
dalam. Dalam perkembangan berikutnya, daerah-daerah Islam hampir seluruhnya
berada di bawah kekuasaan bangsa Eropa.

BAB III

KESIMPULAN

Dari uraian singkat tentang kemunduran tiga kerajaan besar islam (Usmani, Mughal dan
Syafawi) di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa, tiga kerajaan tersebut merupakan kerajaan
islam terbesar, karena dalam waktu kurun yang panjang setelah Bani Abbas mengalami
keruntuhan dengan ditandainya jatuhnya kota Baghdad ke tangan bangsa Nongol pada tahun

12
1258 M, setelah itu umat islam mengalami kemunduran. Umat islam bangkit kembali dengan
adanya kerajaan Usmani yang mendiami daerah Nongol dan daerah utara Cina, kemudaian
kerajaan Safawi di Persia dan kerajaan Mughal di India.

Akan tetapi, dalam perjalanannya ketiga kerajaan tersebut mengalami kemunduran. Hal
yang paling urgen penyebab kemunduran ketiga kerajaan tersebut antara lain adalah :

a. Adanya dekadensi moral yang melanda para pemimpin


b. Semua pewaris tahta kerajaan pada paruh terakhir adalah orang-orang lemah dalam
bidang kepemimpinan
c. Adanya tradisi korupsi
d. Perebutan kekuasaan
e. Dan terjadinya stagnasi militer.

BAB IV

PENUTUP

Demikian makalah ini kami buat, semoga bermanfaat bagi kita semua. Dan kami sadar
makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mengharap saran dan
kritik dari pembaca budiman, demi kesempurnaan makalah ini.

13
DAFTAR PUSTAKA

Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Dirasah Islamiyah II, Jakarta: PT. Raja

Grafindo Persada, 1995

Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Rajawali Pers

Mubarok, Dr. H. Jaih, Sejarah Peradaban Islam, Bandung : Pustaka Bani Quraisy, 2004

14
http://warungbaca.blogspot.com/2008/09/masa-kemunduran-tiga-kerajaan-besar.html

KEMUNDURAN
TIGA KERAJAAN BESAR
(1700 – 1800 M)

Makalah ini Disusun untuk Memenuhi Tugas

Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam

Disusun Oleh :

15
Nama : M. Akhi Yusuf
NIM : 0809010010
Jurusan : Pendidikan Agama Islam

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM SWASTA

( STAIS ) LAN TABOER

JAKARTA 2010

16