Anda di halaman 1dari 16

Peningkatan Kompetensi BPK-RI

Dalam Audit Lingkungan Berwawasan Pembangunan Berkelanjutan


Berbasis Teknologi Informasi

Dr. Ir. Herman Widyananda, SE, MSi


(Anggota BPK – RI)

0
Peningkatan Kompetensi BPK-RI
Dalam Audit Lingkungan Berwawasan Pembangunan Berkelanjutan
Berbasis Teknologi Informasi1

Oleh: Dr. Herman Widyananda.2

Filosofi Dasar BPK-RI

Berdasarkan UUD 1945, BPK-RI mempunyai kedudukan yang sangat penting,


karena merupakan lembaga negara tersendiri. Secara filosofis fungsi BPK mewujudkan
transparansi dan akuntabilitas seluruh aspek keuangan negara. BPK mempunyai tugas;
memeriksa besaran dan asal-usul penerimaan negara dari manapun sumbernya,
memeriksa dimana uang negara disimpan, serta memeriksa penggunaan uang negara
(termasuk tingkat efisiensi dan efektifitasnya dan berbasis kinerja).

BPK dan kita semua sangat menghargai pikiran cerdas Panja Komisi XI DPR-RI
tentang Undang-Undang BPK-RI yang bersama pemerintah menghasilkan Undang-
Undang No. 15/2006 tentang BPK RI menggantikan UU No. 5/1973. Dalam UU No.
15/2006 ditegaskan kemandirian dan independensi BPK secara formal. Pada bagian
lain dari Undang-Undang ini, BPK diminta memeriksa laporan pemeriksaan atas
pengelolaan dan tanggung-jawab keuangan negara kepada DPR, DPD, dan DPRD
sesuai kewenangannya, yang selanjutnya setelah diserahkan kepada lembaga perwakilan
tersebut dinyatakan terbuka untuk umum.

Dalam rangka mewujudkan transparansi dan akuntabilitas, BPK wajib sesegera


mungkin secara aktif memuat hasil pemeriksaan dalam website-nya untuk dapat diakses
masyarakat luas. Namun harus dipahami bahwa hasil tindak lanjut pemeriksaan
dilakukan oleh DPR, DPD, dan DPRD. Untuk keperluan tindak lanjut BPK juga
menyerahkan hasil pemeriksaan secara tertulis kepada presiden, gubernur,
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya. Sedangkan apabila ditemukan unsur
pidana, BPK wajib melaporkan temuan tersebut kepada instansi yang berwenang paling
lama 1 (satu) bulan sejak ditemukan unsur pidana tersebut, untuk dijadikan dasar
penyidikan oleh penegak hukum yakni kepolisian, kejaksaan, dan KPK.
1
Disampaikan pada Workshop Pengembangan Audit Lingkungan BPK-RI, 14 Juni 2007.
2
Anggota BPK-RI, Magister Perencanaan Lingkungan Univ. Indonesia, dan Doktor Rekayasa Sistem
Pembiayaan dan Kelembagaan, TIP-IPB.

1
Terciptanya transparansi dan akuntabilitas merupakan indikator terwujudnya good
governmence, dimana sampai saat ini masih menjadi tantangan bagi Indonesia yang
masuk dalam kategori negara terkorup di dunia. Transparency International telah
merilis hasil surveinya pada November 2006 yang menyatakan IPK (Indeks Persepsi
Korupsi) Indonesia tergolong sangat rendah dengan nilai 2.4 berada pada posisi 130 dari
163 negara yang disurvei. Untuk kawasan Asia Tenggara IPK Indonesia hanya lebih
baik dari 3 (tiga) negara termiskin yakni Kamboja (2.1), Timor Leste (2.1), dan
Myanmar (1.9) bahkan berada satu level dengan negara-negara miskin di kawasan
Afrika, yakni Zimbabwe, Togo, Ethiopia, dan Burundi. Kondisi ini sangat
memprihatinkan dan seharusnya membuat kita merenung untuk selanjutnya
merumuskan upaya sistematis untuk meningkatkan peran BPK.

Peningkatan Fungsi BPK

BPK mempunyai fungsi dan wewenang untuk memeriksa pengelolaan dan


tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah
daerah, lembaga negara lainnya, Bank Indonesia, BUMN, BUMD, badan layanan
umum, dan lembaga atau badan lain yang mengelola keuangan negara (UU No. 15/2006
pasal 6 ayat 1).

Keuangan negara selain tertuang dalam APBN, APBD, anggaran BI, juga dapat
diaudit dari laporan keuangan dan kinerja BUMN, BUMD, yayasan, dana pensiun,
perusahaan yang kegiatannya berhubungan dengan lembaga negara dan kedinasan, serta
bantuan dan subsidi kepada lembaga sosial swasta.

UU No. 15/2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab


Keuangan Negara telah memberikan BPK kekuasaan kuasi yudisial dalam pengenaan
ganti kerugian negara. Hal ini berarti secara eksplisit BPK harus menerbitkan surat
keputusan batas waktu pertanggung jawaban bendahara atas kekurangan kas ataupun
barang yang terjadi. Surat keputusan BPK bersifat final tanpa harus melalui proses
hukum di pengadilan. BPK juga sekaligus memantau penyelesaian ganti kerugian
negara tersebut, untuk itu BPK harus sesegera mungkin menyusun tata cara pengenaan
ganti kerugian negara, melalui konsultasi dengan pemerintah agar dapat dijadikan
pedoman dan jelas bagi semua pihak.

2
Paket 3 (tiga) Undang-Undang Keuangan Negara yakni UU No. 17/2003 tentang
Keuangan Negara, UU No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara, dan UU No.
15/2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara
memberlakukan penggunaan sistem akuntansi terpadu dan komputerisasi, serta
keharusan menerapkan desentralisasi pelaksanaan akuntansi secara berjenjang oleh unit-
unit akuntansi, baik di kantor pusat maupun daerah. Dalam hal pertanggung jawaban
mewajibkan pemerintah segera menyusun laporan keuangannya paling lambat 6 (enam)
bulan setelah tahun anggaran berakhir, selanjutnya menyerahkan kepada BPK-RI untuk
dilakukan pemeriksaan.

Sebagai implementasi UU No. 15/2004 pemeriksaan BPK seharusnya


ditingkatkan dan diperluas pada pemeriksaan audit kinerja, audit lingkungan dan
pembangunan berkelanjutan, serta audit lain seperti audit yang menghasilkan
rekomendasi bagi lembaga negara berkaitan dengan efektifitas dan efisiensi
pemanfaatan sumberdaya alam, juga rekomendasi bagi auditor dan masyarakat luas
dalam merancang kebijakan dan usahanya.

Disamping laporan Transparansi Internasional (Nov. 2006), sebelumnya bank


dunia dalam laporan akhir tahun 2003 menyatakan bahwa kondisi badan usaha di
Indonesia merupakan salah satu yang terburuk di Asia yakni hanya memperoleh bobot 3
(dari rentang nilai antara 1-10). Hal ini disebabkan sistem akuntansi Indonesia hanya
mendapatkan angka 5 dari rentang nilai yang sama. Akar permasalahannya adalah
sistem akuntansi yang dilakukan Indonesia masih relatif konvensional, tidak berbasis
kinerja, tanpa adopsi terhadap IT Interchange, serta tidak menerapkan audit lingkungan
dan pembangunan berkelanjutan.

INTOSAI (The International Organization of Supreme Audit Institution) pada


Fifth Meeting of Tre Steering Committee, Vancouver-Canada, Sept. 2006 mengeluarkan
rekomendasi bahwa untuk peningkatan mutu audit dan standarisasi audit antar negara
anggota, dirumuskan rekomendasi tentang keharusan menerapkan berbagai tipologi
audit yang harus dilakukan oleh SAI (Supreme Audit Institution) di masing-masing
negara anggota INTOSAI, dengan rumusan sebagai berikut:

3
Audit Mandate Suggested Audit Type
Financial Audit Financial management of policy/programme
implementation for specific WSSD-topic areas
Auditing externally-funded implementation projects or
programmes
Performance Audit Assessing whether delivery mechanisms are in place
Tracking action to develop a coordinated response e.g.
performance of national bodies/ departments/ agencies
with a responsibility for WSSD implementation
Performance in specific WSSD-topic areas
Compilance Audit Compilance with key commitments in the WSSD plan of
implementation e.g. the creation of a National
Sustainable Development Strategy
Compilance with international reporting requirements

Comprehensive Audit Any or all of the above

Berdasarkan perintah Undang-Undang yang berkaitan dengan BPK dan


rekomendasi INTOSAI tersebut, maka BPK wajib meningkatkan kompetensinya dalam
rangka mewujudkan transparansi dan akuntabilitas keuangan negara. Karena itu audit
yang dilakukan harus diperluas kepada audit kinerja serta audit lingkungan dan
pembangunan berkelanjutan, juga harus menerapkan sistem audit berbasis IT
Interchange.

Audit kinerja dan audit lingkungan berbasis pada model penilaian kualitatif dan
kuantitatif, selanjutnya diberi indeks penilaian. Teknik yang dilakukan antara lain: B/C
(benefit-cost ratio), multiplier effect, EPC (Exponential Pair-wise Comparison),
forecasting, Decision Making, Quality Management, Statistical Quality Control,
Product and Service Design, Process Planning and Technology Decision, Location
Analysis and Logistics Measurement, Design and Measurement Analysis, Agregate
Production and Capacity Planning, Waiting Land Model and Service Improovement,
yang merupakan hard system technique. Bila bersifat kompleks dan dynamic digunakan
teknik AHP (Analytical Hierarchy Process) atau ANP (Analytical Network Process)
bila informasi tidak terstruktur, serta digunakan teknik ISM (Interpretative Structural
Modeling), IPE (Independent Preference Evaluation), Cluster Analysis, Expert System,
serta Artificial Intelegence, yang merupakan soft system technique.

Teknik IT diatas dapat diimplementasikan ke dalam bentuk model dan software


berdasarkan teori atau postulat, misalnya untuk hard system technique sebagai berikut:

4
1. Benefit – Cost Ratio (B/C)

B/C merupakan pembandingan antara manfaat yang diperoleh dengan nilai


biaya yang dikeluarkan yang digunakan untuk menganalisis perbandingan antara
Present Value total dari laba bersih (positip) terhadap Present Value Total dari
biaya bersih Bt – Ct (negative). Menurut Kadariah et al. (1999), justifikasi
parameter B/C adalah bahwa jika B/C > 1 maka proyek/investasi layak dikerjakan,
sedangkan apabila Net B/C = 1 maka proyek/investasi mencapai titik impas, dan
jika Net B/C < 1 maka proyek/investasi tidak layak dikerjakan. B/C dirumuskan
sebagai berikut:

n
Bt
∑ (1 + r)
t =1
t
B/C ......................................................................................................... (1)
n
Ct
∑ (1 + r)
t =1
t

dimana, B/C : Benefit – Cost Ratio


Bt : Manfaat pada periode ke-t
Ct : Biaya pada periode ke-t
r : Discounted factor
n : Jumlah periode

2. Exponential Pair-wise Comparison (EPC)

EPC atau disebut juga MPE (Metode Perbandingan Eksponensial) digunakan


untuk membantu auditor dalam memilih beberapa alternatif berdasarkan kriteria yang
ditetapkan. Menurut Manning (1984), keuntungan metode MPE adalah nilai skor yang
menggambarkan urutan prioritas menjadi besar karena merupakan fungsi eksponensial,
sehingga urutan prioritas alternatif audit lebih nyata.

Menurut Eriyatno (1999), perhitungan nilai untuk masing-masing alternatif


dengan teknik EPC adalah sebagai berikut:

A i = ∑ (X ij ) j .......................................................................................................
n
α
(2)
j=1

dengan, Ai : Nilai alternatif ke i

5
Xij : Skor alternatif ke – i berdasarkan kriteria ke – j.
αj : Bobot kriteria ke – j

3. Analisis Fourier untuk Forecasting

Metoda Fourier merupakan salah satu metoda yang mempelajari hubungan antar
kejadian yang berurutan didasarkan pada representasi runtun waktu sebagai jumlahan
beberapa gelombang sinusoidal yang frekuensinya berbeda. Metoda ini menghasilkan
fungsi autokorelasi yang mirip dengan metoda Arima, hanya saja interprestasinya yang
berbeda tergantung dari sifat runtun waktunya (Setiawan, 1991). Beberapa rumusan
analisa Fourier disajikan sebagai berikut :

N
j=
^ 2
X = α 0 + ∑ [α j Cos(w j ) + β jSin(w j )] ................................................................... (3)
j=1

2π j
dengan w j =
N
Pemerkira Kuadrat Terkecil :
2 2
Ij = (α j + β 2j ) ; j = 1 ton
N
dimana :
α0 : intercept (setara dengan nilai rata-rata)
αj, βj : koefisien polinom trigonometri suku ke-j
wj : kemiringan / sudut suku ke-j
N : jumlah data
j : indeks iterasi

Teknik IT diatas juga dapat diimplementasikan ke dalam bentuk model dan


software berdasarkan teori atau postulat, misalnya untuk soft system technique sebagai
berikut:

1. Analytical Hierarchy Process (AHP)

Kehidupan yang semakin kompleks dengan berbagai interaksi dan saling


ketergantungan berbagai faktor, terlebih bilamana audit kinerja atas permasalahan
dilakukan secara kelompok dan dalam permasalahan yang belum jelas dengan beragam

6
kriteria memerlukan pendekatan yang dapat mewakili situasi tersebut. AHP yang
dikembangkan oleh Saaty (1993), merupakan suatu metode dalam memecahkan situasi
kompleks dan tidak berstruktur kedalam bagian komponen yang tersusun secara hirarki
baik struktural maupun fungsional. Proses sistemik dalam AHP memungkinkan auditor
mempelajari interaksi secara simultan dari komponen dalam hirarki yang telah disusun.
Keharusan nilai numerik pada setiap variabel masalah membantu auditor
mempertahankan pola pikiran yang kohesif dan mencapai suatu kesimpulan.
Penyusunan secara hirarki dalam AHP mencerminkan pemikiran untuk memilahkan
elemen sistem dalam berbagai tingkat berlainan dan mengelompokkan unsur yang
serupa pada tiap tingkat. Tingkat puncak yang disebut focus hanya satu elemen yaitu
sasaran keseluruhan yang sifatnya luas. Tingkat berikutnya masing – masing dapat
memiliki beberapa elemen. Dikarenakan elemen dalam suatu tingkat akan dibandingkan
satu dengan yang lainnya terhadap suatu kriteria yang berada di tingkat atas,maka
elemen dalam setiap tingkat harus dari derajat besaran yang sama.

2. Interpretative Structural Modeling (ISM)

Teknik ISM digunakan untuk merancang model struktural kelembagaan, guna


menganalisis interaksi yang kompleks dari suatu sistem, melalui pola yang dirancang
secara seksama dengan metode grafis dan formulasi kalimat (Eryatno, 1996). Struktur
dari sistem berjenjang diperlukan untuk menjelaskan pemahaman akan perihal yang
dikaji. Penentuan tingkat jenjang mempunyai lima kriteria yakni (1) Kekuatan pengikat,
(2) Frekuensi relatif terhadap guncangan dimana tingkat yang lebih rendah lebih cepat
mengalami goncangan, (3) Konteks dimana tingkat yang lebih tinggi beroperasi pada
jangka waktu yang lebih lambat, (4) Liputan tingkat yang lebih tinggi mencakup tingkat
yang lebih rendah dan (5) Kriteria terakhir adalah hubungan fungsional dimana tingkat
lebih tinggi menjadi peubah lambat yang mempengaruhi peubah cepat di tingkat
dibawahnya. Kemudian program yang telah disusun secara berjenjang kemudian dibagi
menjadi elemen. Menurut Saxena (1992) di dalam Eryatno (1996) program dapat dibagi
menjadi sembilan elemen yakni : sektor masyarakat yang terpenuhi, kebutuhan
program, kendala, perubahan yang dimungkinkan, tujuan program, tolok ukur menilai
tujuan, aktivitas yang akan dilaksanakan, ukuran aktivitas, dan lembaga yang terlibat
dalam pelaksanaan program.

7
3. Independent Preference Evaluation (IPE)

Teknik IPE adalah salah satu teknik audit kinerja untuk menetapkan prioritas
alternatif berdasarkan kriteria yang ditetapkan, dengan menggunakan penilaian skor
(ligusitic label). Teknik evaluasi pilihan bebas mengevaluasi kesukaan atau pilihan
yang dilakukan dengan metoda perhitungan non-numerik. Proses audit kinerja
kelompok fuzzy yang dilakukan melalui hasil kuesioner para pakar dan pengagregasian
dengan metoda non numerik multi-kriteria multi-pakar menurut Yager (1993), proses
audit kinerja dilakukan melalui langkah sebagai berikut:

Langkah 1, Tahap proses audit kinerja dilakukan pengumpulan set nilai (L) pada setiap
alternatif dan setiap kriteria dari setiap auditor dengan rumus:

L = { Vij (a1 ), Vij (a2 ), Vij (a3 ),……Vij (ak )} ............................................... (4)

vij (ak) adalah skor evaluasi terhadap setiap alternatif ke-i pada kriteria ke–k oleh
auditor ke-j .

Langkah 2, Penilaian terhadap setiap bobot elemen dilakukan berdasarkan negasi label
menggunakan rumus:

Neg (Wk) = Wq-k+1 ........................................................................................... (5)

W = bobot nilai,
q = jumlah item dari suatu set bobot penilaian, dan
k = item dari suatu bobot penilaian.

Langkah 3, Alternatif berdasarkan kuisioner dilakukan penilaian auditor (D) melalui


penyusunan matriks dan pengagregasian alternatif dengan rumus:

Vij = MIN [ Neg (Wak ) MAX Vij (ak ) ........................................................ (6)

k = 1,.,….l

Bobot setiap kriteria diberikan berdasarkan penilaian bobot Proses Hierarki


Analitik (PHA) pakar dan nilai bobot setiap kriteria dilakukan negasi. Selanjutnya

8
dilakukan iterasi Vij dari tiap matriks auditor i ( Di ). Hasil iterasi Vij dari para pakar
disusun dalam bentuk matriks dan diurutkan dari nilai yang besar ke nilai kecil.

Langkah 4, Pada tahap ini setiap auditor dilakukan pembobotan dengan menggunakan
rumus:

⎡ ⎛ q − 1 ⎞⎤
W j = Int ⎢1 + ⎜ j × ⎟ ......................................................................................
r ⎠⎥⎦
(7)
⎣ ⎝

Wj : bobot nilai pakar ke-j,


Int : Integer
j : Auditor ke-j,
q : Jumlah skala penilaian
r : Jumlah Auditor

Langkah 5, Penentuan solusi audit kinerja kelompok dilakukan dengan menggunakan


rumus:

Vi = MAX [ Wj MIN bj ] ................................................................................. (8)

f=1,.,….m

Hasil iterasi Vi menunjukkan solusi audit kinerja kelompok.

Indikator penilaian kinerja dilakukan terhadap Input (masukan), Output


(keluaran), Outcomes (hasil), Benefit (manfaat), dan Impact (dampak). Selanjutnya
masing-masing indikator diberi bobot penilaian, kemudian indikator penilaian dikalikan
bobot penilaian. Tahap berikutnya dilakukan penilaian terhadap standar dan target
pencapaian, berdasarkan jumlah dan satuan. Selanjutnya dilakukan penilaian kuantitatif
terhadap realisasi pencapaian.

Sebagai contoh yang sangat nyata bila audit kinerja dilakukan pada proyek
komputerisasi. Baik perangkat keras, perangkat lunak, dan brainware akan sia-sia bila
hanya dilakukan audit finansial berdasarkan laporan keuangan, dan hanya dilihat apakah
notebook atau PC maupun software ada dan berfungsi, serta expert dibayar sesuai
dengan laporan keuangan. Auditor wajib melakukan audit kinerja keseluruhan dan
mendalam terhadap perangkat keras, kinerja software harus berfungsi sebagaimana yang

9
ditargetkan, misalnya kesesuaian software pada sistem operasi yang digunakan, apakah
hyperlink atau tidak, apakah data yang diolah dinamis dan updatable. Juga apakah
pengguna sudah mampu mengoperasikan software yang digunakan. Bila tidak
memenuhi persyaratan kinerja tersebut, maka pada indikator penilaian kinerja di aspek
outcomes dan benefit harus diberi nilai nol (nihil), dan seluruh biaya yang dikeluarkan
harus dihitung sebagai total kerugian negara yang harus dipertanggung jawabkan.

Audit Berwawasan Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan

Konsep dari pembangunan berkelanjutan berdasarkan definisi WCED (World


Commission on Environment and Development) 1987 bahwa pembangunan
berkelanjutan merupakan pembangunan untuk dapat memenuhi kebutuhan saat ini tanpa
mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Tiga pilar utama penopang pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan holistik
yang terkait antara lingkungan hidup-ekonomi-sosial.

Pada konvensi WSSD (World Summit on Sustainable Development) Johanersburg,


Sept. 2007 dirumuskan agenda spesifik dan komitmen audit antara lain:

1. Pencanangan strategi pembangunan berkelanjutan.


2. Penurunan secara signifikan tingkat kehilangan biodiversity.
3. Pencanangan kerjasama antar lembaga untuk wilayah perairan.

Lingkungan hidup menjadi penentu terwujudnya pembangunan berkelanjutan,


yakni pembangunan yang berorientasi pada kepentingan generasi mendatang melalui
upaya secara terus menerus menjaga tingkat daya dukung lingkungan hidup.
berdasarkan pemikiran tersebut tingkat daya dukung dikaitkan dengan komponen:

1. Lingkungan biotik (biologi): manusia, hewan, dan tumbuhan


2. Lingkungan abiotik (fisika-kimia): air, tanah, dan udara
3. Ligkungan sosial-ekonomi-budaya
4. Komponen kesehatan masyarakat

Soemarwoto (1988) menyampaikan bahwa untuk menentukan audit lingkungan


dilakukan melalui empat komponen yaitu : 1) Komponen fisika – kimia, 2) komponen
biologi, 3) komponen sosial budaya – ekonomi, dan 4) Komponen kesehatan

10
masyarakat. Berdasarkan ke-4 komponen dilakukan penilaian skala Leupold dengan
nilai 1 sampai 5. Rumus penilaian adalah sebagai berikut :

Ni =
∑W i
× 100% .............................................................................................. (9)
5× ∑ w i

dimana, Ni : Nilai tiap komponen


Wi : Nilai skor komponen ke – i
wi : Nilai skor sub komponen ke – i
Nilai komponen (Ni) selanjutnya diubah menjadi nilai skala EQI (Equivalent

Quality Index) berdasarkan selang (0-20) % = 1, (21-40)% = 2, (41-60) % = 3, (61-80)


% = 4, dan (81-100) % = 5.
Dampak kegiatan perencanaan pembangunan diukur berdasarkan 3 tahapan,
yaitu : (1) pra kondisi, (2) konstruksi, dan (3) operasi. Total Nilai Akhir (TNA)
ditunjukkan pada rumus sebagai berikut:

TNA =
∑K i
× 100% ............................................................................................ (10)
5× ∑k i

dimana, TNAi : Total nilai akhir


Ki : Nilai skor kegiatan ke – i
ki : Nilai skor sub kegiatan ke – i

Nilai persen (TNA) diubah menjadi nilai skala EQI’ (Equivalent Quality Index Akhir)
berdasarkan selang (0-20)% = 1, (21-40)% = 2, (41-60) % = 3, (61-80) % = 4, (81-100)
% = 5.
Untuk menghitung Rona lingkungan perlu diukur perbedaan indeks kualitas
lingkungan berdasarkan = EQI’ – EQI, dikalikan BRL0 (Bobot rona lingkungan awal).
BRL1 = Bobot rona lingkungan akhir dan BRL0 = Bobot rona lingkungan awal
Rona Lingkungan Akhir ke 4 Komponen (BRL1) = (BRL0) X (EQI’)
Rencana pengelolaan lingkungan (RKL) diukur berdasarkan nilai (BRL1)
terkecil secara berurutan ke terbesar. Untuk menentukan rencana pemantauan

11
lingkungan (RPL) diukur berdasarkan skala dampak kegiatan ditunjukkan pada rumus
sebagai berikut:

DK =
∑D i
× 100% ............................................................................................. (11)
5× ∑d i

dimana, DKi : Persentase dampak kegiatan


Di : Nilai skor dampak ke – i
di : Nilai skor sub dampak ke – i

Nilai persen dampak kegiatan diubah menjadi nilai skala berdasarkan selang (0 – 20)
% = 1, (21 – 40) % = 2, (41 – 60) % = 3, (61 – 80) % = 4, (81 – 100) % = 5. Prioritas
RPL ditentukan berdasarkan skala terkecil ke secara berurutan ke terbesar.
Sementara Subandar (2003) menyatakan bahwa audit sumberdaya alam berupaya
untuk memberikan seluruh nilai ekonomi yang melekat pada sumberdaya alam tersebut
(total economic value). Keseluruhan ini tidak hanya terbatas pada nilai guna langsung
(direct use value) yang selama ini dipergunakan, namun juga meliputi nilai guna tidak
langsung (indirect use value), nilai pilihan (option value), dan nilai non-guna (non-use
value), yang dirumuskan sebagai berikut:

TEV = UV + NUV .................................................................................................... (12)

dimana, TEV : Total Economic Value


UV : Use Value (Direct + Indirect + Option)
NUV : Non-Use Value (Existence + Bequest)

1. Direct Use Value adalah nilai yang diperoleh melalui konsumsi langsung suatu
komoditas sumberdaya alam (SDA)
2. Indirect Use Value adalah nilai manfaat tidak langsung yang dihasilkan karena
adanya suatu SDA (misalnya bencana banjir oleh lautan, atau perlindungan pantai
oleh mangrove)
3. Option Value adalah nilai manfaat langsung dan tidak langsung suatu SDA di masa
datang
4. Existence Value adalah nilai atas keberadaan suatu SDA, lepas dari manfaat yang
mungkin bisa diperoleh dari keberadaan SDA itu sendiri.
5. Bequest Value adalah nilai atas kemungkinan mewariskan suatu SDA ke generasi
berikutnya.

12
Sedangkan Soerjani (1987) menyatakan bahwa sebagai dampak dari kondisi
(degenerasi) lingkungan, merumuskan teknik menghitung kualitas hidup manusia:

R
Q= ............................................................................................... (13)
N (Cp + Cs + Ct )

dimana, Q : Kualitas hidup


R : Sumberdaya yang tersedia (secara terbatas)
N : Populasi manusia yang semakin meningkat
Cp : Kebutuhan/ konsumsi primer
Cs : Kebutuhan sekunder
Ct : Kebutuhan tersier

Dari rumus/ postulat diatas dapat dihitung tingkat penurunan hidup yang linier
terbalik dengan perubahan waktu. Karena dengan keterbatasan sumberdaya yang
tersedia, dan dengan populasi manusia yang selalu bertambah, serta pola kebutuhan
yang selalu berubah dan meningkat, maka kualitas hidup manusia semakin menurun.
Audit lingkungan dapat juga dilakukan melalui beberapa aplikasi komputer
sebagaimana yang disebutkan pada topik audit kinerja, seperti location analysis, waiting
land models, statistical quality control, process planning and technology decision, EPC,
AHP, ANP, ISM, dan cluster analysis.
Dari laporan INTOSAI Sept. 2006 hampir seluruh anggota INTOSAI telah
menerapkan audit kinerja, hal ini tentu menggugah kompetensi BPK-RI. Di sisi lain
beberapa negara termasuk negara sedang berkembang telah menerapkan audit
lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

The SAI (Supreme Audit Institution) of Botswana telah menerapkan audit


maintenance terhadap pasokan air di wilayah pemukiman. The National Audit Office
of China melakukan audit proses pembuangan air limbah kota dan audit polusi industri
terhadap air bersih. The SAI of Ethiopia sedang melakukan audit lingkungan terhadap
pemukiman, pasokan air bersih, sanitasi, dan manajemen limbah. The SAI of Czech
Republic sedang melakukan audit pemanfaatan biofuels melalui analisis komparatif
terhadap keuangan negara yang dimanfaatkan untuk konsumsi BBM konvensional
dibandingkan dengan biofuel, juga audit program pemerintahannya terhadap
penyelamatan energi dan pemakaian sumber energi terbarukan. The SAI of Peru sedang

13
melakukan audit terhadap ekosistem termasuk diantaranya daerah aliran sungai, hutan,
dan taman nasional. Dari laporan tersebut menunjukkan begitu luas dan mendalamnya
audit keuangan negara yang dilakukan oleh negara-negara di dunia.

Kesimpulan

1. BPK-RI bersama lembaga negara lain di Indonesia berada pada barisan terdepan
untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat dalam membangun negara dan
bangsa Indonesia menuju masyarakat adil, makmur, dan sejahtera, secara
berkelanjutan.

2. BPK-RI seharusnya melakukan peningkatan kompetensinya sebagai pemeriksa


keuangan negara melalui penguatan sistem audit BPK yang diperluas ke arah audit
lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

3. Peningkatan kompetensi auditor BPK dalam audit lingkungan akan meningkatkan


kualitas dan kuantitas pemeriksaan keuangan negara, sehingga berdampak langsung
pada penyelamatan uang negara dan pembangunan ekonomi bagi generasi
mendatang.

4. Audit berbasis teknologi informasi dapat juga dirancang model ‘deteksi dini’ (early
warning system) lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan (Turban, 2005)
sehingga audit lingkungan dapat dilakukan.

5. Sebagai lembaga terdepan dalam perwujudan transparansi dan akuntabilitas dalam


pemeriksaan keuangan negara, BPK harus mampu mengarahkan sumberdayanya
untuk memiliki kualifikasi skill perancang rekayasa sistem, agar mampu
menciptakan model, teknik, software, dan tools sistem audit yang komprehensif.

REFERENSI

Eriyatno. 1996. Ilmu Sistem. Penerbit IPB Press, Bogor.


INTOSAI. 2006. Fifth Meeting of The Steering Commitee. Vancouver, Canada.
Kadariah, et al. 1978. Evaluasi Proyek Analisa Ekonomi. Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia, Jakarta.

14
Manning, W.A. 1984. Decision Making: How a Microcomputer Aids the Process.
Portland State University.
Marimin, Prof. 2002. Teori dan Aplikasi Sistem Pakar dalam Teknologi Manajerial.
IPB Press, Bogor.
Nasution, A. Prof. Dr. 2007. Meningkatkan Transparansi dan Akuntabilitas
Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Seminar Sehari
Pemeriksaan Sektor Publik. Balai Sidang Jakarta Convention Center, Jakarta.
Saaty TL . 1993. Audit kinerja Bagi Para Pemimpin. Penerjemah: Setiono L. Seri
Manajemen no.134. Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta.
Setiawan, S. 1991. Simulasi, Teknik Pemrograman dan Metode Analisis. Andi Offset,
Yogyakarta.
Soemarwoto, O. Prof. 1988. Analisa Dampak Lingkungan. Yogyakarta. Gajah Mada
University Press
Soerjani, M. Prof. et al. 1987. Lingkungan: Sumberdaya Alam dan Kependudukan
dalam Pembangunan. UI Press, Jakarta.
Subandar, A., Phd. 2003. Natural Resources and Environmental Accounting. BPFE,
Yogyakarta.
Turban, E. et al. 2005. Decision Support System and Intellegent Systems. Pearson
Education Inc., New Jersey.
Watson, H.J. dan J.H. Blackstone. 1989. Computer Simulation. John Wiley and Sons,
Inc, Singapore.
Yager R.R. 1993. Non numeric multi-criteria multi person decision making. J Group
Decision and Negotiation. v.2 : .81-93.

15