Anda di halaman 1dari 124

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

Propinsi Kepulauan Bangka Belitung

Triwulan IV - 2008

Kantor Bank Indonesia


Palembang
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan
karunia-Nya ”Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008”
dapat dipublikasikan. Buku ini menyajikan berbagai informasi mengenai perkembangan beberapa
indikator perekonomian daerah khususnya bidang moneter, perbankan, sistem pembayaran, dan
keuangan daerah, yang selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan internal Bank Indonesia juga
sebagai bahan informasi bagi pihak eksternal.

Selanjutnya kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah
memberikan data dan informasi yang diperlukan bagi penyusunan buku ini. Harapan kami,
hubungan kerja sama yang baik selama ini dapat terus berlanjut dan ditingkatkan lagi pada masa
yang akan datang. Kami juga mengharapkan masukan dari berbagai pihak guna lebih
meningkatkan kualitas buku kajian ini sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi
pihak-pihak yang berkepentingan.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan berkah dan karunia-Nya serta
kemudahan kepada kita semua dalam upaya menyumbangkan pemikiran dalam pengembangan
ekonomi regional khususnya dan pengembangan ekonomi nasional pada umumnya.

Palembang, Februari 2009

Ttd

Endoong Abdul Gani


Pemimpin
Halaman ini sengaja dikosongkan
This page is intentionally blank
Daftar Isi

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI iii
DAFTAR TABEL vii
DAFTAR GRAFIK xi
INDIKATOR EKONOMI xv

RINGKASAN EKSEKUTIF 1

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL 11


1.1. Sisi Penawaran 12
1.1.1. Sektor Pertanian 14
1.1.2. Sektor Pertambangan 16
1.1.3. Sektor Industri Pengolahan 16
1.1.4. Sektor Listrik, Gas, dan Air 18
1.1.5. Sektor Bangunan 19
1.1.6. Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran 20
1.1.7. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi 21
1.1.8. Sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa 23
1.1.9. Sektor Jasa – Jasa 23
1.2. Sisi Permintaan 24
1.2.1. Konsumsi 25
1.2.2. Investasi 27
1.2.3. Ekspor dan Impor 28

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI PANGKALPINANG 31


2.1. Inflasi Tahunan (yoy) 31
2.2. Inflasi Triwulanan (qtq) 33
2.2. Inflasi Bulanan (mtm) 34

SUPLEMEN 1 PROYEKSI INFLASI PANGKALPINANG 2009 39

Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008 iii
Daftar Isi

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH 43


3.1. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) 44
3.1.1. Penghimpunan DPK Secara Umum 44
3.1.2. Penghimpunan DPK Menurut Kelompok Bank 46
3.1.3. Penghimpunan DPK Menurut Wilayah 48
3.2. Penyaluran Kredit/Pembiayaan 49
3.2.1. Penyaluran Kredit/Pembiayaan Menurut Kelompok Bank 50
3.2.2. Penyaluran Kredit/Pembiayaan Secara Sektoral 52
3.2.3. Penyaluran Kredit/Pembiayaan Menurut Penggunaan 55
3.2.4. Penyaluran Kredit/Pembiayaan Menurut Wilayah 56
3.2.5. Penyaluran Kredit/Pembiayaan Mikro Kecil Menengah 58
3.3. Risiko Perbankan 60
3.2.1. Risiko Kredit Perbankan 60
3.2.2. Risiko Likuiditas Perbankan 61
3.2.3. Risiko Pasar 62

SUPLEMEN 2 HASIL PENELITIAN DASAR POTENSI EKONOMI


(BASELINE ECONOMIC SURVEY / BLS)
DI PROPINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG 64

BAB IV PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH 67


4.1. Rencana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah
(RAPBD) 2009 67
4.2. Anggaran Belanja Pemerintah Pusat
di Bangka Belitung Tahun 2009 68
4.3 Dana Perimbangan Kota/Kabupaten
di Propinsi Bangka Belitung Tahun 2009 70

BAB V PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN 73


5.1. Aliran Uang Masuk dan Aliran Uang Keluar 73

iv
Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008
Daftar Isi

5.2. Penyediaan Uang Layak Edar 74


5.4. Perkembangan Kegiatan Kliring Lokal 76
BAB VI PERKEMBANGAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT 79
6.1. Pendapatan Per Kapita 79
6.2. Kondisi Ketenagakerjaan 81
6.2.1. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja dan
Tingkat Pengangguran Terbuka 82
6.2.2. Lapangan Pekerjaan 83
6.2.3. Pengangguran Terselubung 85
6.3. Nilai Tukar Petani (NTP) 86
6.4. Jumlah Penduduk dan Penduduk Miskin 87

SUPLEMEN 3 TINGKAT KEYAKINAN KONSUMEN PANGKALPINANG


MASIH MENUNJUKKAN PESIMISME 93

BAB VII PERKIRAAN EKONOMI DAN INFLASI DAERAH 97


7.1. Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi 97
7.1.1. Sisi Penawaran 98
7.1.2. Sisi Permintaan 100
7.2. Perkiraan Inflasi 101

DAFTAR ISTILAH

Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008 v


Halaman ini sengaja dikosongkan
This page is intentionally blank
Daftar Tabel

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Pertumbuhan Sektor Ekonomi Tahunan Propinsi Kepulauan Bangka 12


Belitung (%)

Tabel 1.2 Pertumbuhan Sektor Ekonomi Triwulanan Propinsi Kepulauan Bangka 13


Belitung (%)

Tabel 1.3 Kontribusi Sektor Ekonomi Terhadap Pertumbuhan Sektor Ekonomi 13


Tahunan Propinsi Kepulauan Bangka Belitung (%)

Tabel 1.4 Pertumbuhan Tahunan Sub Sektor Pertanian (%) 15

Tabel 1.5 Produksi, Luas Panen, dan Produktivitas Tanaman Bahan Pangan 15

Tabel 1.6 Pertumbuhan Tahunan Sub Sektor Peradagangan, Hotel, dan Restoran 20

Tabel 1.7 Pertumbuhan Tingkat Hunian Kamar Hotel (%) 21

Tabel 1.8 Bongkar Muat di Pelabuhan Pangkal Balam (Ton) 21

Tabel 1.9 Pertumbuhan Tahunan Sub Sektor Pada Sektor Pengangkutan dan 22
Komunikasi

Tabel 1.10 Pertumbuhan Tahunan Arus Penumpang Laut dan Udara (%) 22

Tabel 1.11 Perkembangan Kegiatan Bank 23

Tabel 1.12 Pertumbuhan Tahunan Sisi Permintaan Propinsi Kepulauan Bangka 24


Belitung (%)

Tabel 1.13 Kontribusi Sisi Permintaan Terhadap Pertumbuhan Sektor Ekonomi 25


Tahunan Propinsi Kepulauan Bangka Belitung (%)

Tabel 1.14 Pertumbuhan Tahunan Pendaftaran Kendaraan Baru (%) 26

Tabel 1.15 Pertumbuhan Tahunan Ekspor Komoditas di Bangka Belitung(%) 29

Tabel 1.16 Pertumbuhan Ekspor Non Migas Propinsi Kepulauan Bangka Belitung 30
Berdasarkan Negara Tujuan (US$ Juta)

Kajian Ekonomi Regional Propinsi Sumatera Selatan Triwulan IV 2008 vii


Daftar Tabel

Tabel 2.1 Statistika Deskriptif Inflasi Tahunan Kota Palembang dan Nasional, 33
Januari 2003 - Desember 2008

Tabel 2.2 Komoditi yang Memberikan Andil Inflasi Terbesar 36


Bulan Oktober 2008 (%)

Tabel 2.3 Komoditi yang Memberikan Andil Deflasi Terbesar 36


Bulan November 2008 (%)

Tabel 2.4 Komoditi yang Memberikan Andil Inflasi Terbesar 37


Bulan Desember 2008 (%)

Tabel 3.1 Pertumbuhan Komponen DPK Perbankan Bangka Belitung Berdasarkan 45


Jenis Simpanan (%)

Tabel 3.2 Pertumbuhan Komponen DPK Perbankan Bangka Belitung 46

Berdasarkan Kelompok Bank Penghimpunan (%)

Tabel 3.3 Pertumbuhan Komponen DPK Perbankan Bangka Belitung Berdasarkan 48


Wilayah Penghimpunan (%)

Tabel 3.4 Pertumbuhan Penyaluran Kredit Berdasarkan Kelompok Bank Prop. 51


Kepulauan Bangka Belitung (%)

Tabel 3.5 Penyaluran Kredit Sektoral Prop. Kepulauan Bangka Belitung (Miliar 53
Rupiah)

Tabel 3.6 Pangsa Penyaluran Kredit Sektoral (%) 53

Tabel 3.7 Pertumbuhan Penyaluran Kredit Berdasarkan Sektoral (%) 53

Tabel 3.8 Pertumbuhan Penyaluran Kredit Menurut Penggunaan (%) 56

Tabel 3.9 Pertumbuhan Penyaluran Kredit Menurut Wilayah (%) 57

Tabel 3.8 Pertumbuhan Penyaluran Kredit Mikro, Kecil, dan Menengah (%) 58

Tabel 4.1 Anggaran Belanja Pemerintah Menurut Lokasi 68


di Propinsi Bangka Belitung (Rupiah)

viii Kajian Ekonomi Regional Propinsi Sumatera Selatan Triwulan IV 2008


Daftar Tabel

Tabel 4.2 Dana Perimbangan dan Dana Alokasi Umum Kabupaten/Kota di Bangka 70
Belitung (Rupiah)

Tabel 4.3 Dana Perimbangan Bangka Belitung Tahun 2009 (Juta Rp) 71

Tabel 5.1 Perputaran Kliring dan Cek/Bilyet Giro Kosong Propinsi Kepulauan 76
Bangka Belitung

Tabel 6.1 Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas yang Bekerja menurut 84
Lapangan Pekerjaan di Propinsi Kep. Bangka Belitung Tahun 2006-2008

Tabel 6.2 Garis Kemiskinan, Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Bangka 88
Belitung Maret 2007 – Maret 2008

Tabel 6.3 Garis Kemiskinan menurut Daerah dan Komponen di Bangka Belitung 89
Maret 2008 (Rupiah per Kapita per Bulan)

Tabel 6.4 Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan di 90


Bangka Belitung Maret 2007 - Maret 2008

Tabel 6.5 Alokasi Penerima BLT Tahun 2008 di Bangka Belitung (Rumah Tangga 91
Sasaran)

Tabel 6.6 Realisasi Pembayaran BLT Tahap I 2008 di Propinsi Kepulauan Bangka 91
Belitung

Tabel 6.7 Realisasi Pembayaran BLT Tahap II 2008 di Propinsi Kepulauan Bangka 92
Belitung

Tabel 7.1 Proyeksi Pertumbuhan Negara-Negara 101

Kajian Ekonomi Regional Propinsi Sumatera Selatan Triwulan IV 2008 ix


Halaman ini sengaja dikosongkan
This page is intentionally blank
Daftar Grafik

DAFTAR GRAFIK

Grafik 1.1 Pertumbuhan Perekonomian Tahunan (yoy) Propinsi Kepulauan Bangka 11


Belitung (%)

Grafik 1.2 Curah Hujan dan Jumlah Hari Hujan di Bangka Belitung 2007 – 2008 14

Grafik 1.3 Penggunaan BBM Non Subsidi 17

Grafik 1.4 Pertumbuhan Tahunan Ekonomi LGA dan Pertumbuhan Tahunan Kredit 18
LGA

Grafik 1.5 Penjualan Listrik Kepulauan Bangka Belitung 19

Grafik 1.6 Realisasi Pengadaan Semen 19

Grafik 1.7 Pertumbuhan Tahunan Ekonomi Bangunan dan Pertumbuhan Tahunan 20


Kredit Bangunan

Grafik 1.8 Pertumbuhan Tahunan Konsumsi VS IKESI 24

Grafik 1.9 Pendaftaran Kendaraan Baru 2007 – 2008 26

Grafik 1.10 Penggunaan BBM Subsidi 27

Grafik 1.11 Pertumbuhan Tahunan Investasi VS Pertumbuhan Tahunan Penyaluran 28


Kredit Investasi

Grafik 1.12 Pertumbuhan Tahunan Nilai Ekspor Propinsi Kepulauan Bangka Belitung 28

Grafik 1.13 Perkembangan Harga Timah di Pasar Internasional 29

Grafik 1.14 Perkembangan Harga CPO di Pasar Internasional 29

Grafik 1.15 Perkembangan Harga Karet di Pasar Internasional 30

Grafik 1.16 Perkembangan Harga Minyak di Pasar Internasional 30

Grafik 2.1 Perkembangan Inflasi Tahunan (yoy) Pangkalpinang, Palembang dan 31


Nasional

Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008 xi


Daftar Grafik

Grafik 2.2 Perkembangan Inflasi Tahunan per Kelompok Barang dan Jasa di 32
Pangkalpinang 2008 (%)

Grafik 2.3 Perbandingan Inflasi Tahunan Kota Palembang dan Nasional 33

Grafik 2.4 Perkembangan Inflasi Triwulanan per Kelompok Barang dan Jasa di Kota 34
Pangkalpinang 2008 (%)

Grafik 2.5 Perbandingan Inflasi Bulanan (mtm) di Kota Pangkalpinang, Kota 35


Palembang dan Nasional (%)

Grafik 2.6 Event Analysis Inflasi Kota Pangkalpinang 2008 (%) 35

Grafik 2.7 Arus Penumpang Pelabuhan 35 Ilir - Mentok 2007 – 2008 (Orang) 38

Grafik 3.1 Perkembangan Aset, DPK, dan Kredit Perbankan Propinsi Kep. Bangka 43
Belitung

Grafik 3.2 Jumlah Kantor Bank dan ATM di Propinsi Kep. Bangka Belitung 44

Grafik 3.3 Pertumbuhan DPK Perbankan di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung 45

Grafik 3.4 Pertumbuhan DPK Perbankan Berdasarkan Kelompok Bank 2007-2008 46


Propinsi Kepulauan Bangka Belitung

Grafik 3.5 Penghimpunan DPK oleh Bank Pemerintah 2007-2008 Propinsi 47


Kepulauan Bangka Belitung

Grafik 3.6 Penghimpunan DPK oleh Bank Swasta Nasional 2007-2008 Propinsi 47
Kepulauan Bangka Belitung

Grafik 3.7 Penghimpunan DPK oleh Bank Perkreditan Rakyat 2007-2008 Propinsi 47
Kepulauan Bangka Belitung

Grafik 3.8 Pertumbuhan DPK Perbankan (per wilayah) 2007-2008 Propinsi 48


Kepulauan Bangka Belitung

Grafik 3.9 Penyaluran Kredit Menurut Kelompok Bank di Provinsi Bangka Belitung 50

Grafik 3.10 Pertumbuhan Penyaluran Kredit Menurut Kelompok Bank di Provinsi 50

xii Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008
Daftar Grafik

Bangka Belitung

Grafik 3.11 Kredit Penggunaan Propinsi Kep. Bangka Belitung 55

Grafik 3.12 Kredit Perbankan Propinsi Kep. Bangka Belitung Berdasarkan Wilayah 56

Grafik 3.13 LDR Kep. Bangka Belitung Berdasarkan Wilayah 56

Grafik 3.14 Penyaluran Kredit Berdasarkan Penggunaan di Berbagai Wilayah Bangka 57


Belitung

Grafik 3.15 Kredit MKM Berdasar Penggunaan 59

Grafik 3.16 Kredit MKM Berdasar Wilayah 59

Grafik 3.17 Kredit Mikro, Kecil, dan Menengah 60

Grafik 3.18 Perkembangan NPL Gross Perbankan Bangka Belitung 60

Grafik 3.19 NPL Perbankan Bangka Belitung Tw IV 2008 Berdasarkan Sektor Ekonomi 61

Grafik 3.20 NPL Perbankan Bangka Belitung Tw IV 2008 Berdasarkan Sektor Ekonomi 61

Grafik 3.21 Perkembangan Risiko Likuiditas Perbankan Sumsel 62

Grafik 3.22 Penempatan Deposito dan Tabungan Berdasarkan Suku Bunga 63

Grafik 4.1 Komposisi Belanja Daerah RAPBD 2009 67

Grafik 4.2 Komposisi Pendapatan Daerah 2009 68

Grafik 4.3 Komposisi Belanja Daerah RAPBD 2009 68

Grafik 4.4 Belanja Operasi dan Belanja Modal Bangka Belitung (Rupiah) 70

Grafik 4.5 Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Tahun 2009 (Juta Rp) 71

Grafik 5.1 Perkembangan Kas Titipan Pangkalpinang Periode 2007-2008 74

Grafik 5.2 Perkembangan Pemberian Tanda Tidak Berharga di Pangkalpinang 75

Grafik 6.1 Perkembangan Pendapatan per Kapita Penduduk Bangka Belitung 80

Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008 xiii
Daftar Grafik

Grafik 6.2 Perkembangan Indeks Penghasilan dan Ketepatan Waktu Konsumsi 81


2007-2008

Grafik 6.3 Perkembangan TPAK dan TPT Propinsi Kep. Bangka Belitung 82

Grafik 6.4 Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja 2007 – 2008 86

Grafik 6.5 Perkembangan Nilai Tukar Petani 2008 (Indeks) 87

Grafik 7.1 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Bangka Belitung 97

Grafik 7.2 Proyeksi Inflasi Tahunan Bangka Belitung 102

xiv Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008
Indikator Ekonomi

INDIKATOR EKONOMI

A. INFLASI & PDRB

TAHUN 2007 TAHUN 2008


INDIKATOR
TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV
MAKRO

Laju Inflasi Tahunan (YoY %) 5.64 4.77 3.25 2.65 6.54 14.69 19.16 18.40

PDRB - harga konstan (miliar Rp) 2,295 2,339 2,359 2,471 2,468 2,484 2,543 2,537
- Pertanian 512 540 539 611 608 593 585 578
- Pertambangan & penggalian 377 368 355 367 365 386 391 382
- Industri pengolahan 518 530 538 540 541 544 551 549
- Listrik, gas dan air bersih 12 12 12 12 12 12 13 13
- Bangunan 128 129 134 153 152 154 158 164
- Perdagangan, hotel dan restoran 445 452 468 458 457 458 500 495
- Pengangkutan dan komunikasi 78 80 81 83 84 84 91 92
- Keuangan, persewaan dan jasa 77 78 79 87 87 87 89 89
- Jasa 148 151 152 161 162 165 166 175
Pertumbuhan PDRB (YoY %)
- Tahunan (yoy) % 3.48 4.80 3.85 7.06 7.58 6.17 7.82 2.65
- Triwulanan (qtq) % -0.56 1.91 0.83 4.77 -0.08 0.63 2.40 -0.25

Ekspor dan Impor


Nilai ekspor nonmigas (USD Juta) 49.20 123.08 560.77 41.86 733.30 304.92 761.66 172.69
Volume ekspor nonmigas (ribu ton) 88,811 15,435 122,456 300,708 298,952 399,274 333,822 144,717
Nilai impor nonmigas (USD Juta) - - - - - - -
Volume impor nonmigas (ribu ton) - - - - - - -

Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008 xv


Indikator Ekonomi

B. PERBANKAN
TAHUN 2007 TAHUN 2008
INDIKATOR
TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV*)
Bank Umum:
Total Aset (Triliun Rp) 5.34 5.82 6.23 6.80 6.60 7.59 7.54 7.62

DPK (Triliun Rp) 5.07 5.77 6.35 6.74 6.83 7.75 7.54 7.58
- Tabungan 2.23 2.45 2.59 2.99 3.03 3.34 2.36 2.29
- Giro 1.44 1.72 1.98 1.78 1.84 2.23 3.38 3.27
- Deposito 1.39 1.60 1.78 1.97 1.96 2.18 1.79 2.02

Kredit (Triliun Rp) - Berdasarkan lokasi proyek 2.50 2.43 1.73 1.84 1.89 3.16 3.56 3.29
- Modal Kerja 1.72 1.66 0.92 0.99 0.97 1.93 2.30 1.89
- Investasi 0.30 0.28 0.27 0.34 0.34 0.56 0.52 0.60
- Konsumsi 0.48 0.50 0.54 0.51 0.58 0.67 0.74 0.79
- LDR 49.40% 42.15% 27.24% 27.37% 27.61% 40.78% 47.22% 43.35%

Kredit (Triliun Rp) - Berdasarkan sektor ekonomi 2.50 2.43 1.73 1.84 1.89 3.16 3.56 3.29
Pertanian 0.21 0.21 0.19 0.26 0.21 0.14 0.05 0.14
Pertambangan 0.95 0.81 0.09 0.09 0.11 0.83 0.63 0.50
Industri 0.06 0.06 0.06 0.12 0.12 0.50 0.62 0.67
Listrik, gas dan air 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
Konstruksi 0.28 0.30 0.31 0.14 0.13 0.18 0.58 0.18
Perdagangan 0.43 0.47 0.45 0.60 0.61 0.70 0.80 0.83
Pengangkutan 0.02 0.02 0.02 0.03 0.04 0.04 0.04 0.03
Jasa dunia usaha 0.04 0.04 0.05 0.07 0.06 0.08 0.08 0.09
Jasa sosial 0.02 0.01 0.01 0.02 0.02 0.03 0.03 0.03
Lainnya 0.48 0.50 0.54 0.51 0.58 0.67 0.74 0.79

Kredit UMKM (Triliun Rp) 1.14 1.19 1.25 1.24 1.30 1.51 1.62 1.70
Kredit Mikro (< Rp 50 Juta) (Triliun Rp) 0.46 0.50 0.53 0.48 0.55 0.62 0.65 0.68
Kredit Kecil (Rp 50 <X 0.27 0.28 0.31 0.30 0.32 0.38 0.45 0.48
Kredit Menengah (Rp 500 Juta <X 0.40 0.41 0.41 0.46 0.44 0.51 0.52 0.54

NPL gross (%) 1.81 1.83 2.31 2.23 2.41 1.31 1.32 1.09

*) Data Sekda s.d November 2008

xvi Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008
Indikator Ekonomi

C. SISTEM PEMBAYARAN

Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008 xvii
Indikator Ekonomi

Halaman ini sengaja dikosongkan


This page is intentionally blank

xviii Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008
Ringkasan Eksekutif

RINGKASAN EKSEKUTIF

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

PROPINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG


TRIWULAN IV 2008

Perkembangan Ekonomi Makro Regional


Perekonomian Propinsi Kepulauan Bangka Belitung pada triwulan IV
Pertumbuhan
2008 diprediksi tumbuh melambat sebesar 2,65% (yoy) baik ekonomi tahunan
(yoy) Bangka
dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,82 % Belitung pada
1 triwulan IV 2008
(yoy) ataupun triwulan yang sama tahun 2007 yang sempat mencapai diperkirakan
sebesar 2,65%.
7,06% (yoy). Pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2008 merupakan
pertumbuhan ekonomi terendah kedua yang sebelumnya pernah
terjadi pada triwulan III 2006.
Dari sisi penawaran, perlambatan pertumbuhan ekonomi tahunan Dari sisi
yang terjadi pada triwulan IV 2008 dikarenakan melambatnya penawaran,
perlambatan
pertumbuhan beberapa sektor, diantaranya sektor yang langsung pertumbuhan
ekonomi tahunan
terkena dampak krisis finansial global yaitu sektor pertanian dan yang terjadi pada
triwulan IV 2008
pertambangan. Penurunan kinerja ke dua sektor ini diakibatkan oleh dikarenakan
melambatnya
turunnya harga komoditas unggulan Propinsi Bangka Belitung di pasar sektor pertanian
dan sektor
internasional. Sedangkan pertumbuhan tahunan pada sektor listrik,
pertambangan.
gas, dan air, sektor perdagangan, hotel, dan restoran, dan sektor
jasa-jasa mengalami kenaikan pertumbuhan dibanding triwulan
sebelumnya.

1
Pertumbuhan ekonomi triwulan III 2008 semula diperkirakan oleh BPS sebesar 8,75 % (yoy)

Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV2008 1


Ringkasan Eksekutif

PDRB Sumsel masih Dilihat dari sektor–sektor ekonomi yang memberi kontribusi,
ditopang oleh
sektor primer yakni pertumbuhan ekonomi propinsi Bangka Belitung masih didominasi dari
sektor pertanian
sektor primer (38,75%), diikuti dengan sektor tersier (32,71%), dan
serta sektor
pertambangan dan terakhir sektor sekunder (28,53%). Sektor pertanian merupakan sektor
penggalian dengan
pangsa sebesar dengan kontribusi penyumbang pertumbuhan ekonomi Bangka
38,75%.
Belitung yang terbesar. Terjadinya kontraksi sektor ini pada triwulan
IV 2008, mengakibatkan perlambatan pertumbuhan ekonomi yang
cukup signifikan jika dibanding triwulan sebelumnya.
Dilihat dari sisi permintaan, melesunya pertumbuhan ekonomi yang
terjadi pada triwulan IV 2008, dimana hampir semua komponennya
mengalami perlambatan. Hanya konsumsi lembaga swasta nirlaba
yang mengalami sedikit kenaikan pertumbuhan jika dibandingkan
Pertumbuhan
dengan triwulan sebelumnya. Perlambatan yang cukup besar dialami
propinsi Bangka
Belitung masih oleh konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan
didominasi dari
konsumsi rumah pembentukan modal tetap domestik bruto. Dilihat dari sektor – sektor
tangga (55,55%)
yang mengalami yang memberi kontribusi, pertumbuhan propinsi Bangka Belitung
perlambatan cukup
besar masih didominasi dari konsumsi rumah tangga (55,55%).
Pada triwulan IV 2008, konsumsi mengalami perlambatan yang cukup
besar. Namun dilihat dari tahunan, pertumbuhan tahun 2008 masih
lebih tinggi dari pertumbuhan tahun 2007.
Pertumbuhan tahunan investasi pada triwuan IV mengalami
penurunan menjadi 7,17% (yoy) dari 12,21% pada triwulan
sebelumnya. Namun untuk tahunan pertumbuhan tahun 2008 masih
lebih besar dibanding tahun 2007. Tahun 2008 investasi tumbuh
sebesar 9,56% (yoy) sedangkan tahun 2007 hanya sebesar 2,64%
Total nilai ekspor
(yoy).
non migas di
Propinsi Bangka Berdasarkan data nilai ekspor non migas menurut kelompok SITC Bank
Belitung sampai
dengan bulan Indonesia, total nilai ekspor non migas di Propinsi Bangka Belitung
November 2008
tercatat sebesar sampai dengan bulan November 2008 tercatat sebesar US$172.69 juta
US$172.69 juta
jatuh sebesar jatuh sebesar 77,33% dari US$761,66 juta pada triwulan III 2008.
77,33% dari
US$761,66 juta Penurunan ini terutama disebabkan ekspor timah menurun sebesar
pada triwulan III 79.57% (qtq) dibandingkan triwulan III 2008
2008

2 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV2008


Ringkasan Eksekutif

Perkembangan Inflasi
Inflasi tahunan (yoy) Kota Pangkalpinang pada tahun 2008 mencapai Inflasi tahunan
kota
sebesar 18,40%, jauh lebih tinggi dibanding inflasi nasional yang Pangkalpinang
pada Triwulan IV
tercatat sebesar 11,06 % maupun inflasi Kota Palembang yang 2008 mencapai
18,40% (yoy).
mencapai 11,15%.
Laju inflasi tahunan (yoy) tertinggi selama triwulan IV-2008 terjadi pada Inflasi tahunan
tertinggi terjadi
kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar pada kelompok
bahan makanan
30,71%, diikuti oleh kelompok bahan makanan 22,88% dan kelompok yakni sebesar
perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 16,68%. Kelompok 30,71%.

sandang dan kelompok kesehatan mencatat laju inflasi tahunan di atas


10% yakni masing-masing sebesar 11,91% dan 14,86%. Sementara,
kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga serta kelompok
transportasi, komunikasi dan jasa keuangan masing-masing mencatat
laju inflasi tahunan sebesar 9,29% dan 4,60%.
Inflasi tahunan Kota Pangkalpinang secara historis lebih fluktuatif
dibandingkan inflasi tahunan nasional dan Kota Palembang, yang
ditunjukkan oleh angka standar deviasi Kota Pangkalpinang yang
mencapai 6,42%, lebih tinggi dibandingkan standar deviasi Kota
Palembang dan nasional yang masing-masing tercatat sebesar, 4,31%,
dan 3,77%.

Perkembangan Perbankan Daerah


Perbankan Propinsi Bangka Belitung pada triwulan IV 2008 mengalami
Kinerja perbankan
perlambatan pertumbuhan tahunan dibandingkan triwulan di Propinsi Bangka
Belitung secara
sebelumnya, yang dicerminkan oleh beberapa indikator utama: yaitu tahunan (yoy) pada
triwulan IV 2008
(i) Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK), (ii) Total aset, dan (iii)Total dilihat dari
beberapa variabel
kredit/pembiayaan. Namun demikian pertumbuhan total aset dan DPK mengalami
perlambatan
triwulanan pada triwulan IV 2008 tumbuh meningkat dibanding dibanding triwulan
triwulan III 2008. Sedangkan penyaluran kredit mengalami penurunan III 2008.

jika dibanding triwulan III 2008.

Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV2008 3


Ringkasan Eksekutif

Total aset perbankan Bangka Belitung tumbuh sebesar 12,10% (yoy)


Pada triwulan IV
2008 aset atau 1,19% (qtq). Semula aset perbankan triwulan III 2008 tercatat
Perbankan Bangka
Belitung sebesar Rp 7.530.398,00 juta tumbuh menjadi Rp 7.619.810,00 juta
Rp7.619.810,00
juta, DPK pada triwulan IV 2008.
Rp7.581.982,52 Penghimpunan DPK tumbuh sebesar 12,56% (yoy) atau 0,61%
juta, penyaluran
kredit (qtq). Pada triwulan III 2008 DPK tercatat sebesar Rp 7.536.194,915
Rp3.286.473,01
juta. juta dan tumbuh menjadi Rp 7.581.982,52 juta pada triwulan IV
2008.
Sedangkan pertumbuhan penyaluran kredit/pembiayaan di Bangka
Belitung tumbuh 78.29% (yoy) dan secara triwulanan mengalami
penurunan sebesar 7.64%. Pada triwulan III 2008 2008 penyaluran
kredit/pembiayaan mencatat Rp 3.558.350,28 juta lalu menurun
menjadi Rp 3.286.473,01 juta pada triwulan IV 2008. Laju
pertumbuhan kredit/pembiayaan yang lebih rendah dibandingkan
pertumbuhan DPK, menyebabkan persentase LDR perbankan di
Bangka Belitung turun dari 47,22% pada triwulan III 2008 2008
menjadi 43,35% pada triwulan IV 2008. Rasio ini masih jauh dari rasio
ideal 85%-90%, untuk itu perlu ditingkatkannya penyaluran kredit.

Perkembangan Keuangan Daerah


Rencana
Anggaran
Hingga laporan diselesaikan belum terdapat laporan realisasi APBD
Pendapatan Propinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2008.
Daerah Propinsi
Kepulauan Rencana Anggaran Pendapatan Daerah Propinsi Kepulauan Bangka
Bangka Belitung
tahun anggaran Belitung tahun anggaran 2009 sebesar Rp 812,04 miliar, meningkat
2009 sebesar Rp
812,04 miliar, 8,79% dari tahun 2008 sebesar Rp 746,41 miliar. Komponen
meningkat
8,79% dari penyusun pendapatan daerah adalah pendapatan asli daerah, dana
tahun 2008
sebesar Rp
perimbangan, dan lain-lain pendapatan daerah yang sah. Pada RAPBD
746,41 miliar. 2009 Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, dana perimbangan masih
merupakan komponen utama pendapatan daerah dengan proporsi
sebesar 68,52%. Sedangkan pendapatan asli daerah hanya mencapai
31,48% dari pendapatan daerah.

4 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV2008


Ringkasan Eksekutif

Pada tahun 2009 pemerintah pusat menganggarkan dana sebesar


Rp1,24 triliun untuk lokasi di Propinsi Bangka Belitung, meningkat Pada tahun 2009
pemerintah
sebesar 11,94% dibanding tahun 2008 yang sebesar Rp 1,11 triliun pusat
menganggarkan
(lihat Tabel 4.2). Anggaran belanja ini terdiri atas belanja operasi dan dana sebesar
Rp1,24 triliun
belanja modal, masing-masing sebesar Rp0,89 triliun dan Rp0,36 triliun. untuk lokasi di
Propinsi Bangka
Belitung.
Perkembangan Sistem Pembayaran

Kegiatan kas titipan di Pangkalpinang pada triwulan IV 2008


mengalami net-inflow sebesar Rp235,93 miliar. Hal tersebut
berlawanan dengan kondisi pada triwulan III 2008, dimana tercatat net-
outfow sebesar Rp33,44 miliar. Net-inflow yang terjadi pada triwulan IV
2008 tersebut mengindikasikan penyetoran uang oleh perbankan di
Bangka Belitung ke kas titipan (inflow) lebih besar dibandingkan uang Pada triwulan ini
terjadi net-inflow
yang ditarik oleh perbankan dari kas titipan (outflow). Hal ini merupakan
sebesar Rp235,93
fenomena di luar kelaziman dimana di Bangka Belitung biasanya terjadi miliar

net-outflow. Kondisi yang terjadi pada triwulan IV 2008 tersebut tidak


terlepas sebagai imbas dari krisis keuangan global yang dampaknya juga
dirasakan oleh masyarakat Bangka Belitung terutama terkait dengan
penurunan harga komoditas primer Bangka Belitung yakni timah, karet
dan sawit.

Berbeda dengan aktivitas perkasan, perputaran kliring pada triwulan IV


2008 secara tahunan (yoy) mengalami peningkatan dari nilai nominal Pada triwulan ini
perputaran
dibandingkan dengan triwulan IV 2007, kendati dari jumlah warkat kliring
mengalami penurunan. Dari segi nominal, perputaran kliring mengalami mengalami
peningkatan
peningkatan sebesar 22,62% atau sebesar Rp118,47 miliar yakni dari sebesar 22,62%
atau sebesar
Rp523,57 miliar menjadi Rp642,02 miliar. Dari jumlah warkat, Rp118,47 miliar
yakni dari
perputaran kliring triwulan IV 2008 mengalami penurunan sebesar 1,3% Rp523,57 miliar
menjadi
atau sebanyak 201 lembar dari 15.441 lembar pada triwulan IV 2007 Rp642,02 miliar
menjadi 15.240 lembar pada triwulan IV 2008.
.

Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV2008 5


Ringkasan Eksekutif

Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan


Kesejahteraan

Pendapatan per kapita penduduk Bangka Belitung pada triwulan IV


Pendapatan
perkapita atas 2008 mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan triwulan
dasar harga
konstan 2000 sebelumnya. Pendapatan per kapita atas dasar harga berlaku pada
mencapai
Rp2,197 juta triwulan IV 2008 tercatat sebesar Rp5,089 juta meningkat sebesar
0,19% dibanding triwulan III 2008 yang mencapai Rp5,079 juta.
Sementara itu, apabila didasarkan atas harga konstan tahun 2000,
pendapatan per kapita pada triwulan IV 2008 mengalami penurunan
sebesar 0,68%dibanding triwulan sebelumnya yakni dari Rp2,212 juta
menjadi Rp2,197 juta

Terjadi peningkatan kondisi ketenagakerjaan Bangka Belitung pada


Terjadi
peningkatan bulan Agustus 2008 dibanding kondisi awal tahun 2008 (Sakernas
kondisi
ketenagakerjaan Februari 2008). Pada bulan Agustus 2008, jumlah angkatan kerja
pada bulan
Agustus 2008 mencapai 524.430 orang dari 501.386 orang pada bulan Februari
dibanding
2008, atau naik sebanyak 23.044 orang. Pada kurun waktu 3 tahun
Februari 2008
terakhir sektor primer masih tetap menjadi tumpuan utama dalam
penyerapan tenaga kerja dengan lebih dari 50 %tenaga kerja terserap
di sektor ini.

Jumlah angkatan kerja tercatat sebanyak 3.496.935 orang atau


meningkat sebesar 0,32 persen dibandingkan triwulan sebelumnya
yang sebanyak 3.485.779 orang. Peningkatan angkatan kerja
tersebut selain terkait dengan peningkatan jumlah penduduk usia
kerja, juga disebabkan oleh semakin bertambahnya jumlah
Jumlah
angkatan kerja penduduk yang menyelesaikan jenjang pendidikan yang ditempuh
menunjukkan
kecenderungan dan siap memasuki dunia kerja. TPAK pada bulan Agustus 2008
meningkat.
menunjukkan peningkatan apabila dibandingkan dengan TPAK pada
Februari 2008 dimana pada bulan Agustus 2008 TPAK mencapai
63,75 persen, yang meningkat dibanding bulan Februari 2008 yang
mencapai 61,36%. Hal tersebut menunjukkan bahwa dari penduduk
usia kerja atau penduduk berumur 15 tahun ke atas di Bangka

6 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV2008


Ringkasan Eksekutif

Belitung, sebanyak 63,75% aktif secara ekonomi. Tingkat Tingkat


Pengangguran
Pengangguran Terbuka (TPT) pada bulan Agustus 2008 tercatat Terbuka (TPT)
menunjukkan
sebesar 4,01%, menurun dibandingkan bulan Februari 2008 yang kecenderungan
menurun.
mencapai 5,79%.
Sejalan dengan menurunnya pendapatan per kapita atas dasar harga
Terjadi
konstan, indeks Nilai Tukar Petani (NTP) di Bangka Belitung pada bulan penurunan NTP
yang
November 2008 menunjukkan penurunan setelah sebelumnya sejak menunjukkan
tingkat
Juni 2008 mulai meningkat. Pada bulan November NTP mencapai kesejahteraan
91,99 yang mengalami penurunan dibandingkan bulan September petani
mengalami
yang tercatat sebesar 100,49. Penurunan nilai indeks tersebut penurunan

menunjukkan tingkat kesejahteraan petani mengalami penurunan


karena nilai pendapatan yang diterima petani lebih kecil dari angka
indeks yang harus dibayar oleh petani

Perkiraan Ekonomi dan Inflasi Daerah


Pertumbuhan ekonomi tahunan (yoy) di Propinsi Bangka Belitung pada Pertumbuhan
ekonomi tahunan
triwulan I 2009 diproyeksikan akan berada pada kisaran 2,06 ± 1%, (yoy) pada triwulan
I 2009 diperkirakan
sedikit melambat dibanding triwulan IV 2008 yaitu sebesar 2,65%. berada pada
kisaran 2,06 ± 1%
Sedangkan secara triwulan (qtq) mengalami penurunan pertumbuhan atau secara
triwulanan (qtq)
sebesar 0,71 ± 1%. diperkirakan
terkontraksi
Meskipun terjadi perlambatan pertumbuhan, pertumbuhan ekonomi
sebesar 0,71 ± 1%.
Bangka Belitung masih dapat ditopang oleh permintaan domestik.
Stimulus pada permintaan domestik diperkirakan berasal dari (1)
adanya kegiatan-kegiatan politik terkait dengan Pemilihan Umum
2009 yang berpotensi mempertahankan tingkat permintaan dari
kelompok grass-root, (2) Sinyal dari pemerintah untuk mempercepat
realisasi APBD pada triwulan pertama, sehingga stimulus pertumbuhan
yang berasal dari kebijakan pemerintah diprediksi lebih tinggi
dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya, (3) Dimulainya
musim panen di sub sektor tanaman bahan makanan yang menyerap
tenaga kerja secara temporer, (4) relatif rendahnya tingkat inflasi, dan

Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV2008 7


Ringkasan Eksekutif

(5) adanya penurunan harga BBM yang dapat mempertahankan daya


beli masyarakat.
Pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung dilihat dari sisi penawaran
masih tetap didominasi oleh sektor primer terutama sektor pertanian,
selain sektor sekunder yaitu sektor pengolahan yang berbasis pada
sumber daya alam. Pada beberapa sektor terjadi perlambatan
pertumbuhan ekonomi. Namun di sisi lain beberapa sektor masih
mengalami percepatan pertumbuhan yang didukung oleh pembiayaan
perbankan, yaitu sektor listrik, gas, dan air (LGA) , sektor
perdagangan, hotel, dan restoran (PHR), dan sektor pengangkutan
dan komunikasi.

Dilihat dari sektor-sektor yang memberi kontribusi, pertumbuhan


Bangka Belitung dari sisi permintaan diperkirakan masih didominasi
dari konsumsi rumah tangga. Pada triwulan I 2009 konsumsi dan
ekspor diperkirakan sedikit melambat dibandingkan dengan triwulan
sebelumnya. Sedangkan investasi pada triwulan I 2009, khususnya
yang bersumber dari Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman
Modal Dalam Negeri (PMDN) diperkirakan belum banyak berubah
dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

Pada triwulan I 2009, secara triwulananan kota Pangkalpinang


Tekanan inflasi
triwulanan
pada triwulan
(qtq)
I diprediksi akan mengalami inflasi yang lebih rendah dibanding
pada triwulan IV
2009
triwulan IV 2008. Penurunan harga-harga komoditas primer Bangka
2008
diperkirakan
diperkirakan
melemah Belitung di pasar dunia diperkirakan akan menurunkan tingkat
akan mencapai
3,30 ± 1 persen permintaan masyarakat terhadap konsumsi barang dan jasa. Selain
atau secara
tahunan (yoy) itu, dari sisi administered prices, terdapat penurunan harga Bahan
bisa mencapai
15,23 ± 1 Bakar Minyak (BBM) bersubsidi pada Desember 2008 dan Januari
persen.
2009. Kebijakan penurunan BBM akan menurunkan inflasi pada
kelompok transportasi, sejalan dengan penurunan tarif angkutan
umum. Hal yang perlu diwaspadai hingga saat ini adalah ketersediaan
pasokan barang dan jasa, faktor distribusi, dan perkembangan kondisi
perekonomian global.

8 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV2008


Ringkasan Eksekutif

Berdasarkan proyeksi serta mempertimbangkan perkembangan harga


Inflasi triwulan I
serta determinan utama inflasi di Sumatera Selatan, maka tekanan 2009
diperkirakan
inflasi triwulanan (qtq) pada triwulan IV 2008 diperkirakan akan akan mencapai
mencapai 0,78 ± 1% atau secara tahunan (yoy) bisa mencapai 13,40 ± 0,78 ± 1
(qtq)atau secara
1%. tahunan (yoy)
bisa mencapai
13,40 ± 1%..

Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV2008 9


Halaman ini sengaja dikosongkan
This page is intentionally blank

10 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV2008


Perkembangan Ekonomi Makro Regional

.
PERKEMBANGAN EKONOMI
1
MAKRO REGIONAL

Krisis keuangan global dunia telah


Grafik 1.1
memberikan dampak negatif Pertumbuhan Perekonomian Tahunan (yoy)
terhadap pertumbuhan ekonomi Propinsi Kepulauan Bangka Belitung (%)

Propinsi Kepulauan Bangka


9.00 
Belitung. Dampak negatif tersebut 8.00 
7.00  7.82
7.58 
tercermin dari melambatnya 6.00  7.06 
5.00  6.17
5.71 
pertumbuhan ekonomi pada 4.00  4.80 
3.00  4.02  3.85 
triwulan IV 2008 dibanding 3.39  3.48 
2.00  2.65
triwulan sebelumnya. Diprediksi 1.00  1.85 

pertumbuhan ekonomi Propinsi Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV

Bangka Belitung pada triwulan IV 2006 2007 2008

2008 tumbuh melambat sebesar Sumber : BPS Propinsi Kepulauan Bangka Belitung

2,65% (yoy) baik dibandingkan


1
triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,82% (yoy) ataupun triwulan yang sama tahun
2007 yang mencapai 7,06% (yoy). Pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2008 merupakan
pertumbuhan ekonomi terendah kedua yang sebelumnya pernah terjadi pada triwulan III
2006 akibat penertiban pertambangan timah.
Melambatnya pertumbuhan ekonomi Propinsi Kepulauan Bangka Belitung juga
terkonfirmasi oleh hasil survei konsumen, dimana Indeks Ekonomi Saat Ini (IKESI) yang
menurun sebesar 0,8% dibanding triwulan III 2008, dari 94,67 pada triwulan III 2008
menjadi 93,83 pada triwulan IV 2008. Nilai indeks mencerminkan tingkat pesimisme dari
konsumen di Bangka Belitung meningkat pada triwun IV 2008 dibanding triwulan
sebelumnya.

Dari sisi penawaran, perlambatan pertumbuhan ekonomi disumbang oleh


penurunan kinerja sektor pertambangan, sektor pertanian, sektor keuangan, persewaan

1
Pertumbuhan ekonomi triwulan III 2008 semula diperkirakan oleh BPS sebesar 8,75 % (yoy)

Kajian
Kajian Ekonomi
Ekonomi RegionalPropinsi
Regional Propinsi Kepulauan
Kepulauan Bangka
BangkaBelitung Triwulan
Belitung IV 2008
Triwulan III 2007 11
Perkembangan Ekonomi Makro Regional

dan jasa, serta sektor bangunan. Sementara itu dilihat dari sisi permintaan,semua
komponen pembentuknya mengalami perlambatan pertumbuhan kecuali konsumsi
lembaga swasta. Konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan investasi mengalami
perlambatan pertumbuhan yang cukup besar.

1.1. Sisi Penawaran

Perlambatan pertumbuhan ekonomi tahunan yang terjadi pada triwulan IV 2008


dikarenakan melambatnya pertumbuhan beberapa sektor, diantaranya sektor yang
langsung terkena dampak krisis finansial global yaitu sektor pertanian dan pertambangan.
Bahkan sektor pertanian mengalami pertumbuhan tahunan negatif sebesar -5,52%.
Penurunan kinerja ke dua sektor ini diakibatkan oleh turunnya harga komoditas unggulan
Propinsi Bangka Belitung di pasar internasional. Sedangkan pertumbuhan tahunan pada
sektor listrik, gas, dan air (dari 2,21% menjadi 5,06%), sektor perdagangan, hotel, dan
restoran (dari 6,80% menjadi 8,06%), dan sektor jasa – jasa (dari 8,82% menjadi 9,18%)
mengalami kenaikan pertumbuhan dibanding triwulan sebelumnya.

Tabel 1.1 Pertumbuhan Sektor Ekonomi Tahunan


Propinsi Kepulauan Bangka Belitung (%)
2007 2008
S E KTOR E KONOMI 2006 2007 2008
Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV
P ertanian 6.67 -0.98 2.59 1.43 21.10 4.71 19.51 9.90 8.58 -5.52 7.35
P ertambangan -2.25 3.70 2.87 -2.80 -9.63 -1.71 -2.62 4.78 10.13 4.15 3.91
Industri P engolahan 5.27 2.24 4.35 5.42 5.49 4.38 2.60 2.52 2.38 1.74 2.73
L istrik, gas dan air 2.21 4.12 3.88 4.27 2.43 3.67 1.96 2.03 2.21 5.06 2.82
B angunan 5.70 5.58 5.33 7.11 20.25 9.66 18.53 19.37 17.66 7.33 15.37
P HR 3.52 6.92 7.62 7.96 2.38 6.17 2.68 1.40 6.80 8.06 4.77
P engangkutan dan Komunikasi 7.00 7.28 8.06 9.13 7.99 8.12 7.25 5.96 12.18 10.72 8.91
Keu, P ersewaan dan J asa 2.61 2.62 2.80 3.10 12.83 5.38 13.90 12.62 13.01 2.58 10.20
J asa-jasa 6.61 10.45 10.32 6.65 10.07 9.35 12.29 9.18 8.82 9.18 9.19
P DR B 3.99 3.48 4.80 3.85 7.06 4.54 7.58 6.17 7.82 2.65 5.99
Sumber : BPS Propinsi Kepulauan Bangka Belitung , diolah

Meskipun terjadi perlambatan pertumbuhan tahunan pada triwulan IV 2008,


namun pertumbuhan tersebut masih positif. Apabila ditinjau dari pertumbuhan triwulanan,
pada triwulan IV 2008 terjadi pertumbuhan negatif yaitu sebesar - 0,25%. Penurunan
terbesar terjadi pada sektor pertambangan yaitu sebesar 2,41%, diikuti oleh sektor
pertanian sebesar 1,33%.

12 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Ekonomi Makro Regional

Tabel 1.2 Pertumbuhan Sektor Ekonomi Triwulanan


Propinsi Kepulauan Bangka Belitung (%)
2007 2008
S E KTOR E KONOMI
Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV
P ertanian 1.40 5.41 -0.10 13.40 0.08 -2.43 -1.30 -1.33
P ertambangan -7.18 -2.22 -3.51 3.19 0.02 5.66 1.42 -2.41
Industri P engolahan 1.30 2.32 1.45 0.31 -1.47 0.54 1.31 -0.32
L istrik, gas dan air 0.25 0.55 1.47 0.15 -0.21 0.61 1.65 2.94
B angunan 0.66 0.81 3.98 13.96 -0.78 1.53 2.49 3.96
P HR -0.40 1.50 3.52 -2.17 -0.11 0.23 9.03 -1.02
P engangkutan dan Komunikasi 1.90 1.61 1.83 2.42 1.20 0.99 7.80 1.09
Keu, P ersewaan dan J asa -0.58 1.12 1.30 10.79 0.36 0.33 1.65 0.56
J asa-jasa 1.55 1.77 1.03 5.42 3.60 1.39 0.69 5.78
P DR B -0.56 1.91 0.83 4.77 -0.08 0.63 2.40 -0.25

Sumber : BPS Propinsi Kepulauan Bangka Belitung , diolah

Dilihat dari sektor – sektor ekonomi yang memberi kontribusi, pertumbuhan


ekonomi Propinsi Bangka Belitung masih didominasi oleh sektor primer (38,75%), diikuti
oleh sektor tersier (32,71%), dan terakhir sektor sekunder (28,53%). Sektor pertanian
merupakan sektor dengan kontribusi penyumbang pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung
yang terbesar. Terjadinya kontraksi sektor ini pada triwulan IV 2008, mengakibatkan
perlambatan pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan jika dibanding triwulan
sebelumnya.

Tabel 1.3 Kontribusi Sektor Ekonomi Terhadap Pertumbuhan Sektor Ekonomi Tahunan
Propinsi Kepulauan Bangka Belitung (%)
2007 2008
S E KTOR E KONOMI 2006 2007 2008
Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV
P ertanian 23.23 22.30 23.07 22.85 24.74 23.27 24.63 23.88 23.02 22.77 23.56
P ertambangan 16.48 16.40 15.74 15.06 14.83 15.49 14.79 15.53 15.38 15.05 15.19
S E KTOR P R IME R 39.71 38.70 38.81 37.91 39.57 38.76 39.42 39.41 38.40 37.82 38.75
Industri P engolahan 22.50 22.58 22.67 22.81 21.84 22.47 21.91 21.89 21.66 21.65 21.78
L istrik, gas dan air 0.52 0.53 0.52 0.53 0.50 0.52 0.50 0.50 0.50 0.51 0.50
B angunan 5.48 5.57 5.51 5.68 6.18 5.74 6.14 6.20 6.20 6.46 6.25
S E KTOR S E KUNDE R 28.50 28.68 28.70 29.02 28.52 28.73 28.56 28.59 28.36 28.62 28.53
P HR 18.97 19.40 19.33 19.84 18.53 19.26 18.53 18.46 19.65 19.50 19.04
P engangkutan dan Komunikasi 3.29 3.41 3.40 3.44 3.36 3.40 3.39 3.40 3.58 3.62 3.50
Keu, P ersewaan dan J asa 3.36 3.34 3.32 3.33 3.53 3.38 3.53 3.52 3.49 3.52 3.52
J asa-jasa 6.18 6.45 6.44 6.46 6.50 6.46 6.58 6.63 6.52 6.91 6.66
S E KTOR TE R S IE R 31.79 32.61 32.49 33.07 31.91 32.51 32.02 32.00 33.24 33.56 32.71

Sumber : BPS Propinsi Kepulauan Bangka Belitung , diolah

Kajian
Kajian Ekonomi
Ekonomi RegionalPropinsi
Regional Propinsi Kepulauan
Kepulauan Bangka
BangkaBelitung Triwulan
Belitung IV 2008
Triwulan III 2007 13
Perkembangan Ekonomi Makro Regional

1.1.1 Sektor Pertanian


Grafik 1.2
Sektor pertanian pada Curah Hujan dan Jumlah Hari Hujan di Bangka
Belitung 2007 - 2008
triwulan IV 2008 mengalami
kontraksi sebesar 5,52% (yoy),
yang merupakan nilai terendah
sepanjang tahun 2008. Penyebab
utama terjadinya kontraksi berasal
dari subsektor tanaman
perkebunan. Hal ini terkait dengan
menurunnya harga komoditas
unggulan Bangka Belitung di pasar
dunia seperti karet dan kelapa Sumber : Badan Meteorologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi
Pangkalpinang
sawit.

Pada triwulan III 2008 sempat terjadi pertumbuhan pada sub sektor
tanaman perkebunan sebesar 10,29% (yoy) sedangkan pada triwulan IV terjadi
kontraksi yang cukup tinggi yaitu sebesar 11,63% (lihat tabel 1.1). Selain akibat dari
penurunan harga komoditas, penurunan ini juga dikarenakan meningkatnya curah hujan
pada triwulan IV 2008 yang cukup besar baik dibanding triwulan sebelumnya maupun
triwulan yang sama tahun sebelumnya (lihat grafik 1.2). Peningkatan curah hujan, hari
hujan, dan ditambah lagi masa gugur daun menyebabkan penurunan produktivitas karet.

Penurunan juga terjadi pada subsektor perikanan, pada triwulan IV 2008


terjadi kontraksi sebesar 0,16% (yoy). Hal ini dikarenakan tingginya gelombang laut
yang mencapai 3 meter sehingga membahayakan aktifitas pelayaran dan penangkapan
ikan.

14 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Ekonomi Makro Regional

Tabel 1.4 Pertumbuhan Tahunan Sub Sektor Pertanian (%)


2007 *) 2008 **)
S UB S E KT OR 2007 *) 2008 **)
Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV
T anaman B ahan Makanan 17.96 14.32 15.80 7.73 13.80 6.45 5.15 4.44 5.35 5.34
T anaman P erkebunan -7.03 -1.23 -4.09 29.87 3.82 29.43 11.98 10.29 -11.63 8.23
P eternakan dan Hasil-hasilnya 2.25 2.14 2.06 2.06 2.13 2.21 0.94 0.84 1.15 1.28
Kehutanan -1.56 -2.12 -2.69 -1.73 -2.03 -2.08 -1.35 -0.29 3.30 -0.12
P erikanan 2.18 5.20 6.07 16.61 3.76 13.38 10.22 8.94 -0.16 7.85
S E KTOR P E R TANIAN -0.98 2.59 1.43 21.10 4.71 19.51 9.90 8.58 -5.52 7.35
Sumber : BPS Propinsi Kepulauan Bangka Belitung , diolah

Sub sektor tanaman bahan makanan pada tahun 2008 diperkirakan


mengalami perlambatan pertumbuhan dari 13,80% (yoy) pada tahun 2007 menjadi
5,34% pada tahun 2008. Hal ini terlihat dari menurunnya produksi padi, jagung, dan
kacang tanah pada tahun 2008 jika dibandingkan tahun 2007 (lihat Tabel 1.5). Penurunan
produktivitas padi sebesar 9,60% diperkirakan disebabkan oleh berkurangnya penggunaan
pupuk akibat langka dan mahalnya harga. Penurunan juga terjadi pada produksi jagung
tahun 2008 yang diperkirakan akan turun sebesar 1.664 ton (60,80%) dibandingkan
produksi tahun 2007. Penurunan produksi tersebut diperkirakan terjadi karena pola panen
petani jagung yang beralih menjadi pemanenan jagung muda. Hal ini dikarenakan lebih
tingginya nilai ekonomi jagung muda dibandingkan jagung pipilan kering, selain itu panen
jagung muda juga mempunyai periode tanam yang lebih singkat sehingga perputaran
modal petani lebih cepat. Sedangkan untuk kacang tanah, penurunan produksi utamanya
karena penurunan luas panen yaitu sebesar 184 hektar (30,07%).

Tabel 1.5 Produksi, Luas Panen, dan Produktivitas Tanaman Bahan Pangan
PADI J AGUNG KACANG TANAH
UR AIAN
2007 *) 2008 **) Pertumbuhan (%) 2007 *) 2008 **) Pertumbuhan (%) 2007 *) 2008 **) Pertumbuhan (%)
P roduksi (ton) 24,390.00 22,056.00 -9.57 2,737.00 1,073.00 -60.80 568.00 389.00 -31.51
Luas P anen (ha) 9,010.00 9,013.00 0.03 904.00 352.00 -61.06 612.00 428.00 -30.07
P roduktivitas (ton/ha) 2.71 2.45 -9.60 3.03 3.05 0.68 0.93 0.91 -2.07
Sumber : BPS Propinsi Kepulauan Bangka Belitung , diolah
*) Angka Realisasi
**) Angka Ramalan III

Kajian
Kajian Ekonomi
Ekonomi RegionalPropinsi
Regional Propinsi Kepulauan
Kepulauan Bangka
BangkaBelitung Triwulan
Belitung IV 2008
Triwulan III 2007 15
Perkembangan Ekonomi Makro Regional

1.1.2 Sektor Pertambangan

Sektor pertambangan pada triwulan IV 2008 mengalami perlambatan pertumbuhan


dibandingkan triwulan III 2008 dimana sektor ini tumbuh 10,13% (yoy), menurun menjadi
4,15% pada triwulan IV 2008.

Terjadinya penurunan ini antara lain disebabkan oleh tingginya curah hujan yang
dapat menurunkan produktivitas penambangan timah dan penurunan harga komoditas
unggulan Bangka Belitung(timah). Rata –rata harga timah di pasar dunia pada triwulan IV
2008 menurun cukup tajam sebesar 36,56% dibanding triwulan sebelumnya, yaitu dari
20.342,32 USD / metrik ton menjadi 1.2904,45 USD / metrik ton.

Di sektor pertambangan komoditas minyak dan gas (migas), terjadi penurunan


produksi sumur Intan Widuri yang berada di perairan Bangka Selatan. Dalam upaya
peningkatan pertambangan migas, Pemerintah Propinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan
bekerja sama dengan beberapa lembaga seperti Dirjen Migas Kementerian Energi Sumber
Daya Mineral (ESDM), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan lembaga lain
melakukan pencarian cadangan potensi minyak di titik-titik tertentu seperti patahan
Natuna di bagian utara Bangka Belitung yang diproyeksikan menjadi lahan eksplorasi.

1.1.3 Sektor Industri Pengolahan

Pada triwulan IV 2008, sektor industri pengolahan mengalami perlambatan


pertumbuhan tahunan dari 5,49% pada triwulan IV 2007 menjadi 1,74%. Pada triwulan III
2008 sektor industri pengolahan sempat mencatat pertumbuhan sebesar 2,38%.

Penurunan pertumbuhan ini terkait dengan berkurangnya produktivitas karet akibat


kondisi musim yang memasuki gugur daun dan tingginya curah hujan yang mempengaruhi
hasil sadapan karet, selain itu juga tidak bisa terlepas dari jatuhnya harga karet di pasar
internasional yang telah memberikan disinsentif bagi pelaku usaha. Berdasarkan hasil Survei
Kegiatan Dunia Usaha yang dilakukan terhadap pelaku usaha industri pengolahan crumb
rubber di Bangka Belitung, kondisi usaha saat ini sangat berat karena meskipun bahan baku
tersedia namun pembeli produk tidak ada. Diperkirakan hingga 3-6 bulan mendatang
kondisi usaha crumb rubber masih belum dapat kembali normal. Satu hal yang sedikit

16 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Ekonomi Makro Regional

membantu perusahaan adalah turunnya harga solar sehingga dapat menekan biaya
operasional perusahaan. Penurunan ini juga dapat dilihat dari penurunan penggunaan BBM
non susbidi (lihat grafik 1.3)
Tambang Timah Inkonvensional (TI) merupakan tambang timah dengan hanya
menggunakan mesin penyedot tanah dan air dengan kebutuhan modal yang relatif tidak
besar. Pada tahun 2006 total ekspor logam timah Indonesia mencapai 123.500 ton. Dari
jumlah tersebut , kontribusi PT. Timah sebesar 43.000 ton, PT. Koba Tin 20.500 ton, dan
sisanya dari TI sebesar 60.000 ton. Dapat dilihat bahwa produksi TI relatif besar dalam
menyumbang ekspor. Ditambah lagi dengan adanya rencana pelegalan TI oleh Pemerintah
Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pada triwulan IV 2008, aktivitas TI menurun sebagai
dampak dari penurunan harga timah yang menyebabkan biaya operasional lebih besar dari
harga jual timah karena penambang timah merupakan pihak yang paling berat
menanggung turunnya harga timah. Penurunan aktifitas pertambangan tercermin dari
penurunan konsumsi BBM terutama solar yang selama ini sebagian besar tersedot untuk
kegiatan TI (lihat grafik 1.3).

Grafik 1.3 Penggunaan BBM Non Subsidi


80,000  30
70,000 
20
60,000 
10
50,000 
40,000  0
Kilo Liter

30,000 
Persen

‐10
20,000 
‐20
10,000 
‐ ‐30
Tw I  Tw II Tw III Tw IV Tw I  Tw II Tw III Tw IV

2007 2008

Solar Total
Pertumbuhan Solar (yoy) Pertumbuhan BBM Non Subsidi (yoy)

Sumber : Pertamina

Kajian
Kajian Ekonomi
Ekonomi RegionalPropinsi
Regional Propinsi Kepulauan
Kepulauan Bangka
BangkaBelitung Triwulan
Belitung IV 2008
Triwulan III 2007 17
Perkembangan Ekonomi Makro Regional

1.1.4 Sektor Listrik, Gas, dan Air

Di saat sektor lain Grafik 1.4


mengalami perlambatan, Pertumbuhan Tahunan Ekonomi LGA dan
Pertumbuhan Tahunan Kredit LGA
pertumbuhan sektor listrik, gas, 6.00  1,200.00 
dan air (LGA) mengalami 5.00  1,000.00 

Persen

Persen
4.00 
percepatan pertumbuhan 800.00 
3.00 
600.00 
tahunan baik dibanding triwulan 2.00 
400.00 
III 2008 ataupun triwulan yang 1.00 
200.00 

sama tahun sebelumnya. Pada
(1.00) Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV ‐
triwulan IV 2008, sektor ini tumbuh (2.00) (200.00)
2008
sebesar 5,06% (yoy), sedangkan
Pertumbuhan Ekonomi LGA (Axis Kiri)
triwulan III 2008 dan triwulan IV
Pertumbuhan Kredit LGA (Axis Kanan)
2007 masing-masing mencatat
pertumbuhan sebesar 2,21% (yoy) Sumber : BPS dan Sekda BI , diolah

dan 2,43% (yoy).

Subsektor listrik merupakan pendorong pertumbuhan sektor LGA. Subsektor ini


tumbuh sebesar 5,16% (yoy), sedangkan pada triwulan sebelumnya sektor ini hanya
tumbuh sebesar 2,24% (yoy). Peningkatan subsektor listrik, tercermin dari meningkatnya
penjualan listrik Bangka Belitung sebesar 2,13% (qtq) dari 89.551.418 kwh di triwulan III
menjadi 91.457.735 kwh di triwulan IV 2008. Selain itu juga pertumbuhan ekonomi sektor
listrik, gas, dan air ditopang oleh penyaluran kredit perbankan, dimana pergerakan
keduanya searah (lihat grafik 1.4). Peningkatan pertumbuhan tahunan penyaluran kredit
pada sektor ini memperlihatkan bahwa sektor ini memperoleh peningkatan pembiayaan
dari perbankan yang dapat digunakan dalam pengembangan sektor LGA.

18 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Ekonomi Makro Regional

Grafik 1.5 Penjualan Listrik Kepulauan Bangka Belitung


10000000 40

90000000 35 Pemerintah

80000000 30 Industri

70000000 25
Bisnis
60000000 20

Persen
Rumah Tangga
50000000 15
Kwh

Sosial
40000000 10

30000000 5 Pertumbuhan Penjualan Sosial (yoy)

20000000 0 Pertumbuhan Penjualan Rumah Tangga (yoy)

10000000 ‐5
Pertumbuhan Penjualan Bisnis (yoy)
0 ‐10
Tw I Tw II Tw III Tw IV Pertumbuhan Penjualan Industri (yoy)

Pertumbuhan Penjualan Pemerintah (yoy)
2008

Sumber : PLN

1.1.5 Sektor Bangunan


Grafik 1.6
Pertumbuhan tahunan
Realisasi Pengadaan Semen
sektor bangunan triwulan IV 2008
merupakan yang terendah
sepanjang tahun 2008 (lihat tabel
1.1). Hal ini sejalan dengan realisasi
pengadaan semen di Bangka
Belitung. Pada triwulan IV 2008,
baik pertumbuhan triwulanan
ataupun tahunan merupakan
pertumbuhan terendah sepanjang Sumber : Asosiasi Semen Indonesia , diolah

tahun 2008. Pada triwulan IV 2008,


realisasi pengadaan semen turun sebesar 12.57 % (yoy), sedangkan pada triwulan
sebelumnya dan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya pertumbuhan tahunan
masing-masing mencapai 17.52% (yoy) dan 16.32% (yoy). Dilihat dari pembiayaan sektor
ini juga mengalami perlambatan pertumbuhan (lihat Grafik 1.5).

Kajian
Kajian Ekonomi
Ekonomi RegionalPropinsi
Regional Propinsi Kepulauan
Kepulauan Bangka
BangkaBelitung Triwulan
Belitung IV 2008
Triwulan III 2007 19
Perkembangan Ekonomi Makro Regional

Grafik 1.7 Pertumbuhan Tahunan Ekonomi Bangunan dan


Pertumbuhan Tahunan Kredit Bangunan

20.00  100.00 

15.00  80.00 

Persen
60.00 

Persen
10.00 
40.00 
5.00 
20.00 

Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV ‐
(5.00)
(20.00)
2008
(10.00)
(40.00)

(15.00) (60.00)

(20.00) (80.00)
Pertumbuhan Ekonomi Bangunan (Axis Kiri)
Pertumbuhan Kredit Bangunan  (Axis Kanan)

Sumber : BPS dan Sekda BI , diolah

1.1.6 Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran

Sektor perdagangan, hotel, dan restoran mengalami peningkatan pertumbuhan


yang tertinggi. Pada triwulan IV 2008, tumbuh sebesar 8,06 % (yoy), sedangkan pada
triwulan sebelumnya sektor ini hanya tumbuh sebesar 6,80%.

Tabel 1.6 Pertumbuhan Tahunan Sub Sektor Peradagangan, Hotel, dan Restoran
2007 *) 2008 **)
S UB S E KT OR 2007 *) 2008 **)
Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV
P erdagangan B esar & E ceran 7.35 7.89 8.23 2.27 6.38 2.58 1.39 7.06 8.42 4.90
Hotel 5.30 4.87 3.93 3.29 4.34 5.31 7.64 10.62 11.49 8.79
R estoran 0.35 3.57 3.89 4.21 3.01 4.18 1.14 2.19 1.85 2.32
S E KTOR P E R DAGANGAN, HOTE L & R E S TOR AN 6.92 7.62 7.96 2.38 6.17 2.68 1.40 6.80 8.06 4.77

Sumber : BPS Propinsi Kepulauan Bangka Belitung , diolah

Subsektor perhotelan terus mengalami peningkatan pertumbuhan tahunan


pada tahun 2008 (lihat tabel 1.6). Pertumbuhan subsektor ini pada triwulan IV 2008 juga
terkait dengan adanya berbagai macam hari libur panjang keagamaan, diantaranya hari
libur Idul Fitri, Natal, tahun baru, dan libur sekolah. Peningkatan ini juga dapat dilihat dari
tingkat hunian hotel di tiga kabupaten, seperti yang terlihat pada tabel 1.7.

20 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Ekonomi Makro Regional

Tabel 1.7 Pertumbuhan Tingkat Hunian Kamar Hotel (%)


2008
Kabupaten Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV
J anuari F ebruari Maret April Mei J uni J uli Agus tus S eptember Oktober
B angka -8.95 -21.67 16.01 18.50 49.02 40.99 138.14 70.32 19.18 17.80
B elitung 44.93 9.13 81.62 171.27 95.41 41.55 62.19 37.84 -6.39 87.45
P angkal P inang 17.10 15.65 32.62 32.79 65.24 44.87 9.39 20.41 -4.72 23.99
TOTAL 6.22 -3.72 33.77 47.11 61.61 40.61 49.83 36.96 2.12 26.09
Sumber : BPS Propinsi Kepulauan Bangka Belitung , diolah

Subsektor perdagangan besar dan eceran masih mencatat pertumbuhan


yang positif sebesar 8,42% (yoy), meningkat jika dibanding triwulan sebelumnya yang
sebesar 7,06%. Namun pertumbuhan secara triwulanan pada triwulan IV 2008 mengalami
penurunan 1,11%. Penurunan perdagangan dialami oleh berbagai jenis barang, dari
barang primer sampai barang tersier. Penurunan perdagangan kedua jenis barang ini
dikarenakan adanya penurunan daya beli masyarakat. Menurunnya perdagangan barang
primer dapat dilihat dari omset pedagang barang primer di Bangka Belitung dan total
bongkar muat di Pelabuhan Pangkal Balam pada triwulan IV 2008 yang menurun sebesar
19,57% dibanding triwulan sebelumnya (lihat tabel 1.8). Selain itu penurunan juga terlihat
dari penjualan kendaraan bermotor yang menurun sangat tajam yakni sebesar 60%
semenjak berlangsungnya krisis ekonomi dunia.

Tabel 1.8 Bongkar Muat di Pelabuhan Pangkal Balam (Ton)


P eriode B ongkar Muat Total
Tw I 328,073 126,230 454,303
T w II 373,982 136,071 510,053
2008
T w III 395,333 122,581 517,914
T w IV 306,774 109,782 416,556
Sumber : PT Pelindo Cabang Pelabuhan Pangkal Balam , diolah

1.1.7 Sektor Pengangkutan dan Komunikasi

Sektor pengangkutan dan komunikasi pada triwulan IV 2008 tumbuh


melambat dibanding pada triwulan III 2008 (Tabel 1.9). Perlambatan ini juga diikuti
oleh sub sektor pendukungnya, yaitu sub sektor pengangkutan dan sub sektor komunikasi.
Pada triwulan III 2008, sub sektor pengangkutan tumbuh sebesar 12,33% (yoy), sedangkan
pada triwulan IV 2008 melambat menjadi 11,06% (yoy). Untuk subsektor komunikasi
terjadi perlambatan pertumbuhan yang lebih besar dibanding subsektor pengangkutan.

Kajian
Kajian Ekonomi
Ekonomi RegionalPropinsi
Regional Propinsi Kepulauan
Kepulauan Bangka
BangkaBelitung Triwulan
Belitung IV 2008
Triwulan III 2007 21
Perkembangan Ekonomi Makro Regional

Subsektor komunikasi tumbuh sebesar 11,23% (yoy) pada triwulan III kemudian melambat
menjadi 8,73% pada triwulan IV 2008.

Tabel 1.9 Pertumbuhan Tahunan Sub Sektor Pada Sektor Pengangkutan dan Komunikasi
2007 *) 2008 **)
S UB S E KT OR 2007 *) 2008 **)
Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV
P engangkutan 7.15 7.80 8.77 7.07 7.70 5.92 4.82 12.33 11.06 8.47
Komunikasi 8.11 9.72 11.37 13.84 10.81 15.82 13.19 11.23 8.73 11.68
P E NGANGKUTAN &
7.28 8.06 9.13 7.99 8.12 7.25 5.96 12.18 10.72 8.91
KOMUNIKAS I
Sumber : BPS Propinsi Kepulauan Bangka Belitung , diolah

Penurunan sektor pengangkutan dapat dilihat dari jumlah penumpang laut


(tabel 1.10). Pada triwulan IV 2008 total penumpang laut tumbuh melambat dari
106,34% (yoy) pada triwulan III menjadi 50,21%. Hal yang berbeda terjadi pada
pertumbuhan tahunan arus penumpang pesawat terbang. Pada triwulan IV 2008
pertumbuhannya mencapai 9,79% (yoy), meningkat dibanding triwulan III yang tumbuh
sebesar 4,54% (yoy). Peningkatan ini diperkirakan akan terus berlanjut di tahun 2009,
dikarenakan akan adanya penambahan jumlah maskapai penerbangan yang melayani rute
ke Pangkalpinang dan adanya pembangunan perluasan Bandar Udara Depati Amir yang
direncanakan selesai tahun 2010.

Tabel 1.10 Pertumbuhan Tahunan Arus Penumpang Laut Dan Udara (%)
P ertumbuhan T ahunan Arus
P ertumbuhan T ahunan Arus P enumpang
P enumpang L aut Dalam Negri di
di B andara Udara
P elabuhan 35 Ilir *)
P eriode

Kedatangan Keberangkatan T otal Kedatangan Keberangkatan T otal

T W. I 26.98 56.45 49.82 13.92 15.31 14.61


T W. II -18.02 73.95 46.24 5.13 3.23 4.16
2008
T W. III 122.01 99.20 106.34 3.23 5.81 4.54
TW. IV 59.87 46.92 50.21 8.74 10.87 9.79
*) Rute Angkutan Laut dari Pelabuhan 35 Ilir ke Bangka Belitung
Sumber : Pelabuhan 35 Ilir Palembang dan PT Angkasa Pura II Bandar Udara Depati Amir

22 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Ekonomi Makro Regional

1.1.8 Sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa

Pada triwulan IV 2008 sektor ini mengalami perlambatan pertumbuhan yang cukup
besar baik dibanding triwulan III 2008 ataupun triwulan yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan sektor ini pada triwulan IV 2008 sebesar 2,58% (yoy) sedangkan
pertumbuhan tahunan pada triwulan III 2008 dan triwulan IV 2007 masing-masing sebesar
13,01% dan 12,83%.

Penurunan subsektor keuangan dapat dilihat dari perkembangan kegiatan Bank,


pertumbuhan tahunan dana pihak ketiga (DPK), yang terdiri dari tabungan, simpanan
berjangka, dan giro, dan kredit yang penyalurannya berdasarkan lokasi proyek yang dibiayai
pada triwulan IV 2008 menurun jika dibanding triwulan sebelumnya. Penurunan juga
terjadi pada loan to deposit ratio (LDR) di triwulan IV 2008 jika dibanding triwulan
sebelumnya.

Tabel 1.11 Perkembangan Kegiatan Bank


2008
UR AIAN
Tw I Tw II Tw III Tw IV *)
Nominal (J uta R p) 6,831,596 7,746,856 7,536,195 7,581,983
DP K
P ertumbuhan T ahunan (%) 34.80 34.35 18.71 12.56
Nominal (J uta R p) 1,886,504 3,158,981 3,558,350 3,286,473
Kredit L okasi P royek
P ertumbuhan T ahunan (%) (24.66) 29.88 105.17 78.29
Nominal (J uta R p) 1,886,504 3,158,981 3,558,350 3,286,473
Kredit L okasi B ank
P ertumbuhan T ahunan (%) 6.93 89.26 183.24 219.08
NP L Gross (%) 2.41 1.68 1.31 1.09
L DR (%) 27.61 40.78 47.22 43.35

1.1.9 Sektor Jasa – Jasa

Pertumbuhan tahunan sektor jasa-jasa pada triwulan IV 2008 baik dibanding


triwulan sebelumnya maupun triwulan yang sama tahun sebelumnya, mengalami sedikit
kenaikan. Pada triwulan IV 2008 sektor ini tumbuh sebesar 9,36 % (yoy), sedangkan pada
triwulan III 2008 dan triwulan IV 2007 masing-masing tumbuh sebesar 8,58% dan 8,55%.
Pada tahun 2008, sektor ini memberikan kontribusi sebesar 6,66 % terhadap pertumbuhan
ekonomi Bangka Belitung.

Kajian
Kajian Ekonomi
Ekonomi RegionalPropinsi
Regional Propinsi Kepulauan
Kepulauan Bangka
BangkaBelitung Triwulan
Belitung IV 2008
Triwulan III 2007 23
Perkembangan Ekonomi Makro Regional

1.2. Sisi Permintaan

Melesunya pertumbuhan Grafik 1.8


ekonomi yang terjadi pada triwulan IV Pertumbuhan Tahunan Konsumsi VS IKESI

2008 dilihat dari sisi permintaan,


hampir semua komponennya
mengalami perlambatan. Hanya
konsumsi lembaga swasta nirlaba
yang mengalami sedikit kenaikan
pertumbuhan jika dibandingkan
dengan triwulan sebelumnya.
Perlambatan yang cukup besar dialami
oleh konsumsi rumah tangga,
konsumsi pemerintah, dan
pembentukan modal tetap domestik Sumber : BPS Bangka Belitung dan Survei Konsumen Bank Indonesia ,
diolah
bruto. Perlambatan pertumbuhan
konsumsi rumah tangga ini searah dengan hasil survei konsumen yang dilakukan oleh Bank
Indonesia Palembang. Survei tersebut menghasilkan salah satu indeks yakni Indeks Kondisi
2
Ekonomi Saat Ini (IKESI) . IKESI mengalami penurunan dari 94,67 pada triwulan III 2008
menjadi 93,83 pada triwulan IV 2008 (lihat Grafik 1.8). Hal ini memperlihatkan bahwa
konsumen semakin pesimis dalam melihat kondisi ekonomi pada triwulan IV 2008.
Tabel 1.12 Pertumbuhan Tahunan Sisi Permintaan
Propinsi Kepulauan Bangka Belitung (%)
2007 2008
S E KTOR E KONOMI 2007 2008
Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV
Konsumsi R umah T angga 3.58 4.54 5.47 7.02 5.17 8.10 8.21 11.24 8.45 9.01
Konsumsi L embaga S wasta Nirlaba -0.43 -0.94 -3.55 -3.38 -2.11 4.14 3.88 3.90 4.99 4.23
Konsumsi P emerintah 8.43 7.14 -0.55 4.38 4.66 15.26 14.05 12.84 6.19 11.91
P embentukan Modal T etap Domestik B ruto 6.93 8.42 -2.73 -0.77 2.64 8.14 10.88 12.21 7.17 9.56
P erubahan S tok -184.29 -77.78 -140.75 344.59 25.23 -102.10 102.92 589.96 101.30 323.33
E kspor B arang dan J asa 7.67 8.81 0.15 4.21 5.07 7.39 8.71 5.35 2.90 6.07
Impor B arang dan J asa 3.12 7.51 5.65 6.22 5.66 15.71 19.25 25.98 23.71 21.37
Keu, P ersewaan dan J asa 2.62 2.80 3.10 12.83 5.38 13.90 12.62 13.01 2.58 10.20
J asa-jasa 10.45 10.32 6.65 10.07 9.35 12.29 9.18 8.82 9.18 9.19
P DR B 3.48 4.80 3.85 7.06 4.54 7.58 6.17 7.82 2.65 5.99
Sumber : BPS Propinsi Kepulauan Bangka Belitung , diolah

2
Survei Konsumen menghasilkan beberapa indeks yang mencerminkan optimisme atau pesimisme konsumen, antara lain IKESI. Konsumen
dikatakan optimis jika indeks berada di atas 100 sebaliknya apa bila di bawah 100, konsumen berada dalam kondisi pesimis.

24 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Ekonomi Makro Regional

Dilihat dari sektor – sektor yang memberi kontribusi, pertumbuhan propinsi Bangka
Belitung masih didominasi dari konsumsi rumah tangga (55,55%) dan ekspor barang dan
jasa (51,83%).

Tabel 1.13 Kontribusi Sisi Permintaan Terhadap Pertumbuhan Sektor Ekonomi Tahunan
Propinsi Kepulauan Bangka Belitung (%)
2007 2008
S E KTOR E KONOMI 2007 2008
Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV
Konsumsi R umah T angga 53.88 53.76 54.51 53.91 54.01 54.17 54.79 56.24 56.95 55.55
Konsumsi L embaga S wasta Nirlaba 0.82 0.81 0.81 0.79 0.81 0.79 0.79 0.78 0.81 0.79
Konsumsi P emerintah 9.74 9.80 10.02 10.29 9.97 10.44 10.53 10.49 10.64 10.52
P embentukan Modal T etap Domestik B ruto 16.62 16.47 16.50 16.89 16.62 16.72 17.20 17.18 17.64 17.18
P erubahan S tok -1.42 0.45 0.79 3.01 0.75 0.03 0.86 5.07 5.91 3.00
E kspor B arang dan J asa 52.46 52.25 52.45 50.10 51.79 52.40 53.50 51.25 50.22 51.83
Impor B arang dan J asa 32.09 33.54 35.09 34.99 33.95 34.54 37.67 41.00 42.17 38.88
Sumber : BPS Propinsi Kepulauan Bangka Belitung , diolah

1.2.1. Konsumsi

Terdapat tiga pelaku ekonomi dalam kegiatan konsumsi, yaitu rumah tangga,
lembaga swasta nirlaba, dan pemerintah. Pada triwulan IV 2008 konsumsi mengalami
perlambatan yang cukup besar. Namun dilihat dari pertumbuhan tahunan, pada tahun
2008 pertumbuhan masih lebih tinggi dari tahun 2007.

Konsumsi rumah tangga pada triwulan IV 2008 mengalami pertumbuhan sebesar


8,45% (yoy) menurun cukup jauh jika dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar
11,24%. Survei konsumen mengkonfirmasi bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) akhir
triwulan IV 2008 (Desember) turun dari 103,00 pada triwulan III 2008 (September) menjadi
97,58 yang menunjukkan angka pesimis. Terdapat dua komponen pembentuk IKK, yaitu
Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKESI) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK).
Memburuknya Indeks Keyakinan Konsumen disebabkan memburuknya optimisme
konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dibanding 6 bulan yang lalu, yang
direpresentasikan oleh IKESI. Di akhir triwulan III yang tepatnya di bulan September 2008
indeks IKESI masih berada di level optimis 102.17 namun kemudian menurun menjadi
81.83 pada Desember 2008. Hal ini memperlihatkan bahwa terdapat penurunan keyakinan
terhadap perekonomian dari sudut pandang konsumen, namun di sisi ekspektasi,
konsumen masih memandang optimis kondisi perekonomian 6 bulan yang akan datang.

Kajian
Kajian Ekonomi
Ekonomi RegionalPropinsi
Regional Propinsi Kepulauan
Kepulauan Bangka
BangkaBelitung Triwulan
Belitung IV 2008
Triwulan III 2007 25
Perkembangan Ekonomi Makro Regional

Indikasi penurunan konsumsi


masyarakat antara lain juga dapat Grafik 1.9
Pendaftaran Kendaraan Baru 2007 - 2008
terlihat dari penurunan pembelian
kendaraan yang diindikasikan
dengan penurunan pendaftaran
kendaraan baru meliputi truk, mobil,
dan motor. Penurunan angka
pendaftaran kendaraan baru di Dinas
Pendapatan Daerah Bangka Belitung
pada triwulan IV 2008 merupakan
yang terendah sepanjang tahun
2008, dengan penurunan yang
Sumber : Dinas Pendapatan Daerah Bangka Belitung
cukup jauh dibanding triwulan III
2008.

Tabel 1.14 Pertumbuhan Tahunan Pendaftaran Kendaraan Baru (%)


P ertumbuhan Tahunan P endaftaran Kendaraan B aru (%)
P E R IODE
Truk Mobil Motor TOTAL
Tw I 122.86 794.29 96.00 99.52
Tw II 90.48 704.76 165.91 168.66
2008
Tw III 367.57 618.92 138.13 140.94
Tw IV 102.44 643.90 8.32 11.42
Sumber : Dinas Pendapatan Daerah Bangka Belitung , diolah

Selain dari penurunan pendaftaran kendaraan baru, indikasi penurunan konsumsi


masyarakat juga diperlihatkan dari pertumbuhan konsumsi total BBM bersubsidi pada
triwulan IV 2008 yang mengalami penurunan sebesar 95.65% (yoy), sedangkan pada
triwulan sebelumnya dan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya pertumbuhannya
masing-masing mencapai 27.27% dan 115.63%. Penurunan pertumbuhan tahunan ini
dialami seluruh BBM bersubsidi, seperti minyak tanah, solar, dan premium.

26 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Ekonomi Makro Regional

Grafik 1.10 Penggunaan BBM Subsidi

120,000  30

M. Tanah
100,000  20

Solar
80,000  10

Persen
Premium
60,000  0
Kilo Liter

Pertumbuhan Premium 
40,000  ‐10 (yoy)
Pertumbuhan Solar 
20,000  ‐20
(yoy)
Pertumbuhan Minyak 
‐ ‐30
Tanah (yoy)
Tw I  Tw II Tw III Tw IV Tw I  Tw II Tw III Tw IV
Pertumbuhan Total 
BBM Subsidi (yoy)
2007 2008

Sumber : Pertamina

1.2.2. Investasi

Pertumbuhan tahunan investasi pada triwuan IV mengalami penurunan menjadi


7,17% (yoy) dari 12,21% pada triwulan sebelumnya. Namun secara tahunan,
pertumbuhan tahun 2008 masih lebih besar dibanding tahun 2007. Tahun 2008 investasi
tumbuh sebesar 9,56% (yoy) sedangkan tahun 2007 hanya sebesar 2,64% (yoy).

Terjadinya peningkatan pertumbuhan investasi di tahun 2008, merupakan


dukungan pembiayaan baik dari perbankan di Bangka Belitung ataupun dari pemerintah
daerah melalui APBD. Pada tahun 2008 terjadi peningkatan penyaluran kredit investasi oleh
perbankan Bangka Belitung sebesar 70,26%, naik dari Rp 1,19 triliun menjadi Rp 2,02
triliun. Pembiayaan dari APBD juga meningkat tajam di tahun 2008 mencapai 737,59%,
dari Rp 0,12 triliun menjadi Rp 0,99 triliun.

Kajian
Kajian Ekonomi
Ekonomi RegionalPropinsi
Regional Propinsi Kepulauan
Kepulauan Bangka
BangkaBelitung Triwulan
Belitung IV 2008
Triwulan III 2007 27
Perkembangan Ekonomi Makro Regional

Pada grafik 1.11 dapat dilihat


Grafik 1.11
bahwa pergerakan pertumbuhan Pertumbuhan TahunanInvestasi VS
investasi dan penyaluran kredit investasi Pertumbuhan Tahunan
Penyaluran Kredit Investasi
oleh perbankan Bangka Belitung
memiliki tren yang sama, meskipun
terdapat lag satu triwulan. Lag ini dapat
dilihat pada saat penurunan
pertumbuhan tahunan kredit investasi di
triwulan III kemudian diikuti penurunan
pertumbuhan tahunan investasi pada
triwulan IV.

Sumber : BPS Bangka Belitung dan Sekda BI

1.2.3. Ekspor dan Impor


Berdasarkan data nilai ekspor non migas menurut kelompok Standard International
Trade Classification (SITC) Bank Indonesia, total nilai ekspor non migas di Propinsi Bangka
Belitung sampai dengan bulan November 2008 tercatat sebesar US$172.69 juta menurun
drastis sebesar 77,33% dari US$761,66 juta pada triwulan III 2008. Penurunan ini terutama
disebabkan ekspor timah yang turun sebesar 79.57% (qtq) dibandingkan triwulan III 2008.
Grafik 1.12
Pertumbuhan Tahunan Nilai Ekspor
Propinsi Kepulauan Bangka Belitung

25,000,000 
500,000,000 
USD

USD

20,000,000 
400,000,000 
15,000,000 
300,000,000 
10,000,000  200,000,000 

5,000,000  100,000,000 

‐ ‐
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov

2008

Minyak Sawit Rempah‐rempah Karet Timah (Axis Kanan)

28 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Ekonomi Makro Regional

Hal yang sama juga terjadi pada volume ekspor, meskipun penurunan yang dialami
tidak sebesar pada nilai ekspor. Pada triwulan IV 2008 (sampai bulan November 2008) total
volume ekspor mengalami penurunan sebesar 56.65% (qtq), dari 333.822,13 ton pada
triwulan III menjadi 144.716,92 ton pada triwulan IV. Penurunan ini merupakan dampak
dari krisis finansial dunia yang berimbas terhadap permintaan dunia. Diharapkan pada
tahun 2009 tidak terjadi penurunan kembali pada volume ekspor terkait rencana
pemerintah memperluas pasar komoditas ekspor ( seperti timah, kelapa sawit, dan karet)
di antaranya ke Timur Tengah. Pada volume ekspor, kontraksi terbesar juga dialami oleh
timah yaitu sebesar 69.78% (qtq). Pada tabel 1.15 dapat dilihat bahwa di tahun 2008
timah masih merupakan komoditas penyumbang ekspor terbesar Bangka Belitung. Selain
itu, penurunan yang cukup besar juga dialami oleh komoditas karet. Hal ini terkait
3
menurunnya permintaan karet khususnya untuk pembuatan ban mobil .

Tabel 1.15 Pertumbuhan Tahunan Ekspor Komoditas di Bangka Belitung(%)


Periode Timah Minyak S awit R empah-R empah Karet
TW I 89.38 5.18 3.19 1.29
TW II 83.75 9.79 1.94 1.27
2008
TW III 93.22 3.22 1.50 0.99
TW IV 83.99 9.97 2.70 1.57

Grafik 1.13
Grafik 1.14
Perkembangan Harga Timah
Perkembangan Harga CPO
di Pasar Internasional
di Pasar Internasional

3
Berdasarkan hasil Liaison yang dilakukan Kantor Bank Indonesia Palembang

Kajian
Kajian Ekonomi
Ekonomi RegionalPropinsi
Regional Propinsi Kepulauan
Kepulauan Bangka
BangkaBelitung Triwulan
Belitung IV 2008
Triwulan III 2007 29
Perkembangan Ekonomi Makro Regional

Grafik 1.15 Grafik 1.16


Perkembangan Harga Karet Perkembangan Harga Minyak
di Pasar Internasional di Pasar Internasional

Tabel 1.16 Pertumbuhan Ekspor Non Migas Propinsi Kepulauan Bangka Belitung
Berdasarkan Negara Tujuan (US$ Juta)
2007 2008
Wilayah
Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV
Afrika - - 0.01 0.08 0.46 - 0.01 0.01
Amerika 1.39 3.14 1.36 3.44 5.83 2.69 4.42 1.96
Asia 46.08 573.36 110.78 525.56 719.74 269.83 716.06 168.99
Australia - 5.54 - 5.33 - - 1.08 -
Eropa 1.73 54.19 10.92 26.35 7.26 32.40 40.08 1.74
Total 49.20 636.23 123.08 560.77 733.30 304.92 761.66 172.69
*) Data sampai November 2008

Berdasarkan negara tujuan, pasar ekspor pada tahun 2008 terbesar ke wilayah Asia,
kemudian diikuti oleh Eropa, kemudian Amerika, dan terakhir Afrika. Pangsa Asia sebagai
negara tujuan ekspor yang lebih besar dibanding pangsa Asia sebagai negara pembeli
menunjukkan bahwa negara Asia juga berperan sebagai perantara penjualan bagi
komoditas Bangka Belitung yang kemudian akan menjual kepada negara lain. Contoh
negara yang berperan sebagai broker adalah Singapura.

30 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Inflasi Pangkalpinang

.
PERKEMBANGAN INFLASI
2
PANGKALPINANG

2.1. Inflasi Tahunan (yoy)


Inflasi tahunan (yoy) Kota Pangkalpinang pada tahun 2008 mencapai 18,40%, jauh lebih
tinggi dibanding inflasi nasional yang tercatat sebesar 11,06 % maupun inflasi Kota
Palembang yang mencapai 11,15%.
Grafik 2.1 Laju inflasi tahunan (yoy)
Perkembangan Inflasi Tahunan (y-o-y)
Pangkalpinang, Palembang dan Nasional
tertinggi selama triwulan IV-2008
terjadi pada kelompok makanan jadi,
25 minuman, rokok dan tembakau
sebesar 30,71%, diikuti oleh
20 kelompok bahan makanan 22,88%
18.40
dan kelompok perumahan, air, listrik,
15
Persen

gas dan bahan bakar 16,68%.


11.15
Kelompok sandang dan kelompok
10 11.06
kesehatan mencatat laju inflasi
tahunan di atas 10% yakni masing-
5
masing sebesar 11,91% dan 14,86%.

- Sementara, kelompok pendidikan,


Tw I Tw II Tw III Tw IV rekreasi dan olahraga serta kelompok
transportasi, komunikasi dan jasa
2008
keuangan masing-masing mencatat
Pangkal Pinang Palembang Nasional
laju inflasi tahunan sebesar 9,29%
Sumber: BPS Propinsi Kepulauan Bangka Belitung dan 4,60%.

Laju inflasi tertinggi terjadi pada bulan Desember 2008, dengan komoditas pemberi
sumbangan inflasi ; daging ayam ras dengan sumbangan sebesar 0,29% diikuti oleh sawi
hijau 0,18%, cabe merah 0,15%, kue basah 0,14%, pisang 0,13% dan ikan
kembung/gembung 0,08%. Tingginya sumbangan inflasi yang diberikan oleh komoditas

Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008 31


Perkembangan Inflasi Pangkalpinang

tersebut secara langsung maupun tidak langsung merupakan dampak dari meningkatnya
permintaan masyarakat terkait dengan perayaan Idul Adha, Natal dan tahun baru, serta
kondisi cuaca yakni curah hujan yang tinggi. Hal ini berpengaruh terhadap penurunan
pasokan sayuran, dan penurunan aktivitas melaut nelayan akibat tingginya gelombang laut,
serta Idul Fitri dan Idul Adha sehingga ketersediaan ikan di pasar menurun.

Grafik 2.2
Perkembangan Inflasi Tahunan
per Kelompok Barang dan Jasa
di Pangkalpinang 2008 (%)
35
30 30.71
25 22.88
20
Persen

16.68
15 14.86
11.91
10
5 9.29
4.6
0
-5 Tw I Tw II Tw III Tw IV
Bahan makanan Makanan jadi Perumahan
Sandang Kesehatan Pendidikan
Transpor

Sumber: BPS Propinsi Kepulauan Bangka Belitung

Inflasi tahunan Kota Pangkalpinang secara historis lebih fluktuatif dibandingkan


inflasi tahunan nasional dan Kota Palembang, yang ditunjukkan oleh angka standar deviasi
Kota Pangkalpinang yang mencapai 6,42%, lebih tinggi dibandingkan standar deviasi Kota
Palembang dan nasional yang masing-masing tercatat sebesar, 4,31%, dan 3,77%.
Fluktuatifnya inflasi Kota Pangkalpinang merupakan akibat dari tingginya ketergantungan
kota tersebut terhadap kota lain dalam pemenuhan barang-barang terutama sembako.
Mayoritas pengangkutan barang-barang ini menggunakan jalur laut, dimana kondisi
perairan dan cuaca sangat berpengaruh terhadap kelancaran distribusi yang pada gilirannya
berdampak pada ketersediaan pasokan barang dan harga barang tersebut.
Rata-rata inflasi Kota Pangkalpinang, Kota Palembang dan inflasi nasional pada
periode Januari 2006 sampai dengan Desember 2008 masing-masing tercatat sebesar
10,81%, 11,91%,dan 10,05%. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada periode tersebut
Kota Pangkalpinang memiliki kecenderungan tingkat inflasi lebih tinggi dari nasional.

32 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Inflasi Pangkalpinang

Grafik 2.3 Tabel 2.1


Perbandingan Inflasi Tahunan Kota Statistika Deskriptif Inflasi Tahunan Kota
Palembang dan Nasional Palembang dan Nasional, Januari 2003 -
20.00
18.00
Desember 2008
16.00
14.00
12.00 Pangkalpinang Palembang Nasional Selisih PKP Selisih PKP
10.00 Uraian
8.00 (PKP) (PG) (Nas) dan PG dan Nas
6.00
4.00
Rerata 10.81 11.91 10.05 -1.10 0.75
2.00 Standar Deviasi 6.42 4.31 3.77 2.11 2.64
0.00
Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV
Maksimum 19.16 18.42 15.73 0.74 3.43
Minimum 2.65 6.55 5.77 -3.90 -3.13
2006 2007 2008
Sumber: BPS, diolah
Pangkalpinang Palembang Nasional 

Sumber: Biro Pusat Statistik

2.2. Inflasi Triwulanan (qtq)


Pada triwulan IV 2008, secara triwulanan Kota Pangkalpinang mencatat inflasi
sebesar 0,31% (qtq), atau menurun dibanding inflasi triwulanan pada triwulan III 2008
yang tercatat sebesar 4,26%, maupun inflasi triwulanan pada triwulan IV 2007 yang
mencapai 0,78%. Penurunan inflasi pada triwulan IV 2008 tersebut terkait dengan
normalnya tingkat permintaan masyarakat pasca bulan puasa, perayaan Idul Fitri dan
adanya krisis keuangan global yang semakin terasa pada triwulan IV 2008. Dampak krisis
keuangan global ditandai dengan turunnya harga komoditas primer Bangka Belitung
menyebabkan aktivitas ekonomi di Bangka Belitung menjadi lesu dan berdampak pada
menurunnya daya beli masyarakat. Pendapatan per kapita masyarakat Bangka Belitung
pada triwulan IV 2008 atas dasar harga konstan tercatat sebesar Rp2,197 juta, mengalami
penurunan sebesar 0,68% dibanding triwulan sebelumnya sebesar Rp2,212 juta.
Inflasi triwulanan tertinggi pada triwulan IV 2008 terjadi pada kelompok kesehatan
yaitu sebesar 5,34% diikuti oleh kelompok pendidikan 3,97 %, kelompok makanan jadi
2,9% dan kelompok perumahan, listrik, air dan bahan bakar 0,92%. Di sisi lain, kelompok
transportasi dan komunikasi serta kelompok bahan makanan justru mencatat deflasi
masing-masing sebesar 5,34 % dan 1,34 %.

Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008 33


Perkembangan Inflasi Pangkalpinang

Grafik 2.4
Perkembangan Inflasi Triwulanan per Kelompok Barang dan Jasa
di Kota Pangkalpinang 2008 (%)
31

26

21
Persen

16

11

-4
Tw I Tw II Tw III Tw IV
Umum 6.55 14.69 19.16 18.4
Bakan Makanan 8.89 22.46 25.18 22.88
Makanan Jadi 10.10 17.78 28.13 30.71
Perumahan 0.43 11.52 17.10 16.68
Sandang 14.62 10.99 13.91 11.91
Kesehatan 4.87 5.52 9.33 14.86
Pendidikan 11.69 10.77 5.58 9.29
Transportasi -1.09 6.18 9.68 4.60

Sumber: BPS Propinsi Kepulauan Bangka Belitung

2.3. Inflasi Bulanan (mtm)


Secara bulanan, perkembangan inflasi kota Pangkalpinang pada triwulan IV 2008
mengalami inflasi pada bulan Oktober 2008 sebesar 0,43% kemudian deflasi pada bulan
November 2008 sebesar 0,93% dan kembali mencatat inflasi pada bulan Desember 2008
sebesar 0,64 %.

34 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Inflasi Pangkalpinang

Grafik 2.5
Perbandingan Inflasi Bulanan (mtm)
di Kota Pangkalpinang, Kota Palembang dan Nasional (%)
5

4 Pangkalpinang
Palembang
3 Nasional

2
Persen

0
Jan
Feb

Jun

Aug
Sep

Jan
Feb

Jun

Aug
Sep
Mar

Mar
Apr

Oct

Apr

Oct
May

Nov
Dec

May

Nov
Dec
Jul

Jul
-1
2007 2008
-2

Sumber: BPS Propinsi Kepulauan Bangka Belitung

Grafik 2.6
Event Analysis Inflasi Kota Pangkalpinang 2008 (%)

Kenaikan
harga BBM

% m-t-m Kenaikan % y-o-y


Kenaikan harga harga bahan
5 makanan, 25
bahan
makanan, perumahan,
Kenaikan harga
makanan jadi, transportasi
makanan jadi,
tahun baru biaya tempat
4 Kenaikan
tinggal,
harga
pendidikan, 20
bahan
tahun ajaran
makanan,
baru sekolah
3 makanan
Kenaikan harga jadi, biaya
bahan makanan, transportasi
perayaan Imlek Kenaikan 15
2 harga
Kenaikan
bahan
harga
makanan,
bahan
Idul Adha
makanan Kenaikan dan tahun
1 biaya baru 10
pendidikan

0
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec

-1
Penurunan harga
bahan makanan
dan transportasi

-2 0

Sumber: BPS Propinsi Kepulauan Bangka Belitung

Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008 35


Perkembangan Inflasi Pangkalpinang

Pada bulan Oktober 2008, Kota Pangkalpinang mencatat laju inflasi bulanan
sebesar 0,43% (mtm) dengan kenaikan harga tertinggi terjadi pada kelompok pendidikan,
rekreasi dan olahraga sebesar 3,96%, diikuti oleh kelompok makanan jadi, minuman, rokok
dan tembakau sebesar 1,83%, kelompok perumahan, air, listrik dan gas 1,81%, kelompok
transportasi, komunikasi dan jasa keuangan 1,41%, kelompok kesehatan 0,38% dan
kelompok sandang 0,03%. Sementara itu, kelompok bahan makanan justru mencatat
penurunan harga sebesar 2,45%.
Berdasarkan komoditas penyumbang inflasi bulanan, terbesar terjadi pada bulan
Oktober 2008 adalah tukang bukan mandor dengan sumbangan sebesar 0,38%, mie
0,25%, jeruk 0,12%, angkutan udara 0,12% dan ikan tenggiri 0,11%. Sementara
komoditas yang menyumbang deflasi terbesar adalah daging ayam ras sebesar 0,31%
diikuti oleh sawi hijau 0,25%, cabe merah 0,09%, ikan kembung/gembung 0,08% dan
ikan tongkol 0,07%.

Tabel 2.2 Tabel 2.3


Komoditi yang Memberikan Komoditi yang Memberikan
Andil Inflasi Terbesar Andil Deflasi Terbesar
Bulan Oktober 2008 (%) Bulan November 2008 (%)
Perubahan Sumbangan Inflasi No. Komoditas Perubahan Sumbangan Deflasi
No. Komoditas
Harga (%) (%) Harga (%) (%)
1 Tukang Bukan Mandor 8.13 0.38 1 Angkutan Udara -36.96 -0.36
2 Mie 10.64 0.25 2 Daging Ayam Ras -8.79 -0.21
3 Jeruk 14.39 0.12 3 Minyak Goreng -11.90 -0.17
4 Angkutan Udara 13.60 0.12 4 Ikan Selar -10.29 -0.09
5 Ikan Tenggiri 10.00 0.11 5 Ikan Tongkol -19.33 -0.07
6 Telepon Seluler 9.64 0.08 6 Cumi-cumi -12.68 -0.07
7 Personal Komputer/Desktop 30.00 0.08 7 Kacang Panjang -15.00 -0.06
8 Kacang Panjang 21.21 0.07 8 Keramik -10.28 -0.06
9 Taman Kanak-kanak 40.00 0.07 9 Ikan Kembung/Gembung -6.25 -0.06
10 Keramik 11.11 0.06 10 Ikan Singkur -15.56 -0.05
Sumber: BPS Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Sumber: BPS Propinsi Kepulauan Bangka Belitung

Berbeda dengan bulan Oktober 2008, pada bulan November 2008, Kota
Pangkalpinang mencatat deflasi sebesar 0,93%. Kelompok yang mencatat penurunan
harga terbesar adalah kelompok bahan makanan yakni sebesar 2,74% diikuti oleh
kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan 2,38 %. Sedangkan kelompok yang
mengalami kenaikan harga dengan pencapaian tertinggi terjadi pada kelompok kesehatan
sebesar 4,92%, diikuti oleh kelompok sandang 0,32%, kelompok makanan jadi, minuman,

36 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Inflasi Pangkalpinang

rokok dan tembakau 0,17%, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,02%
dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,03%.
Berdasarkan komoditas, penyumbang deflasi bulanan terbesar pada bulan
November 2008 adalah angkutan udara dengan sumbangan inflasi sebesar 0,36%, diikuti
oleh daging ayam ras 0,21%, minyak goreng 0,17%, ikan selar 0,07% dan ikan tongkol
0,07%.
Pada bulan Desember 2008, Kota Pangkalpinang mencatat inflasi bulanan sebesar
0,64%. Kelompok yang kenaikan harga tertinggi adalah bahan makanan yakni sebesar
3,76%, diikuti oleh kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,89%,
sandang 0,58%, dan kelompok kesehatan 0,02%. Sementara itu, kelompok transportasi,
komunikasi dan jasa keuangan mencatat penurunan harga sebesar 4,38%, terkait dengan
penurunan harga BBM yang berdampak pada penurunan harga bensin sebesar 12,90%.
Selain itu kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga juga mencatat penurunan harga
sebesar 0,02% terkait dengan turunnya harga kamera sebesar 3,12%.

Tabel 2.4
Komoditi yang Memberikan
Andil Inflasi Terbesar
Bulan Desember 2008 (%)
No. K o m o d it a s P e ru b a h a n S u m b a n g a n In f la s i
H a rg a (% ) (% )
1 D a g in g A y a m R a s 1 3 .1 0 0 .2 9
2 S a w i H ija u 5 3 .8 4 0 .1 8
3 C a b e M e ra h 3 7 .2 3 0 .1 5
4 K u e B a sa h 6 .2 5 0 .1 4
5 P is a n g 4 7 .8 4 0 .1 3
6 Ik a n K e m b u n g /G e m b u n g 8 .3 4 0 .0 8
7 K e n ta n g 3 7 .5 0 0 .0 6
8 Kangkung 1 0 .0 0 0 .0 5
9 B e ra s 0 .9 7 0 .0 5
10 K a c a n g P a n ja n g 1 1 .7 7 0 .0 4

Sumber: BPS Propinsi Kepulauan Bangka Belitung

Dari sisi distribusi barang ke Bangka Belitung, pada bulan Desember 2008 frekuensi
kapal dengan rute Kota Palembang di Sumatera Selatan dengan tujuan Mentok di Bangka
Belitung mengalami penurunan sebesar 14,34% dibanding bulan sebelumnya (mtm).
Penurunan tersebut terkait dengan cuaca dan situasi di perairan Bangka Belitung yang

Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008 37


Perkembangan Inflasi Pangkalpinang

kurang kondusif untuk kegiatan pelayaran, sehingga mengganggu distribusi barang-


barang terutama sembako yang sebagian besar dipenuhi dari luar Bangka Belitung.

Grafik 2.7
Arus Penumpang Pelabuhan 35 Ilir - Mentok
2007 – 2008 (Orang)

16,000 20,000
14,000 18,000
16,000
12,000
14,000
10,000 12,000
Orang

Orang
8,000 10,000
6,000 8,000
6,000
4,000
4,000
2,000 2,000
0 0
Agust

Agust
Mar

Sept
Okt

Mar

Sept
Okt
Nov

Nov
Jan

Des
Jan

Des
Feb

Feb
April

Juni
Juli

April

Juni
Juli
Mei

Mei

2007 2008

Kedatangan (axis kiri) Keberangkatan (axis kanan) Total

Sumber: Pelabuhan 35 Ilir Kota Palembang

38 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Inflasi Pangkalpinang

Suplemen 1

PROYEKSI INFLASI PANGKALPINANG 2009

Inflasi merupakan suatu fenomena di mana terjadi kenaikan harga barang dan jasa
secara umum dan berlangsung secara terus menerus. Faktor penyebab inflasi bisa berasal
dari beberapa aspek, yakni dari sisi penawaran, permintaan, serta ekspektasi inflasi. Dari sisi
penawaran, inflasi disebabkan oleh beberapa hal seperti kenaikan dari administered price,
depresiasi nilai tukar, inflasi daerah lain, negative supply shock, kenaikan upah pekerja,
serta kenaikan pajak. Sedangkan dari sisi permintaan, faktor penyebab inflasi antara lain
berasal dari faktor musiman (misal: hari raya keagamaan), income dan PDRB (output).

Tekanan inflasi baik dari sisi penawaran dan permintaan pada tahun 2009 diprediksi
mengalami penurunan terkait dengan beberapa hal, yaitu: (1) adanya penurunan harga
komoditas unggulan Bangka Belitung sejak Oktober 2008 yang berpengaruh terhadap
menurunnya pendapatan masyarakat sehingga menurunkan konsumsi rumah tangga, (2)
adanya penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang ditetapkan oleh
pemerintah, (3) adanya ekspektasi apresiasi Rupiah yang berpotensi menurunkan biaya
bahan baku impor. Di sisi lain, kegiatan-kegiatan politik yang terkait dengan Pemilu
legislatif dan Pemilihan Capres/Cawapres pada tahun 2009 dapat memicu kenaikan harga.
Namun, hal ini diperkirakan tidak terlalu signifikan dalam mempengaruhi inflasi.

Dalam memperkirakan inflasi Kota Pangkalpinang tahun 2009, dilakukan


pertimbangan melalui isu kualitatif dan metode kuantitatif. Adanya perubahan tahun dasar
pembentukan Indeks Harga Konsumen (IHK) menjadi 2007=100 dari yang semula
2002=100 dapat menyebabkan nilai inflasi tahunan yang tidak konsisten. Sejak bulan Juni
tahun 2008, BPS tidak lagi menyediakan data IHK dengan tahun dasar 2002. Padahal,
proyeksi dengan metode ekonometrik mengharuskan adanya jumlah observasi yang cukup
panjang. Untuk itu, dilakukan penyesuaian IHK seperlunya sebelum dilakukan proses
estimasi.

Dalam memproyeksi IHK dan inflasi Pangkalpinang 2009 data yang digunakan
adalah data IHK dari triwulan I 2002 sampai triwulan IV 2008, dengan menggunakan
Survey Biaya Hidup (SBH) 2002. Dimulai triwulan II 2008, BPS menggunakan SBH 2007
dalam penghitungan IHK. Untuk itu dilakukan penyesuaian IHK mulai triwulan II 2008 dari
SBH 2007 menjadi SBH 2002 menggunakan acuan angka inflasi bulanan (mtm). Metode
yang digunakan dalam memproyeksi adalah ARIMA. Dari penghitungan akan dihasilkan
proyeksi besaran IHK yang dapat dilihat pada grafik 1 kemudian dari data tersebut
dilakukan perhitungan inflasi baik tahunan dan triwulanan yang hasilnya dapat dilihat pada
grafik 2.

Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008 39


Perkembangan Inflasi Pangkalpinang

Grafik 1. Proyeksi IHK per Triwulan Tahun 2009

199.00  199.43 
197.00 
195.75 
195.00 
193.00 
191.00  191.44 
189.00 
187.00  186.56 
185.00 
Tw I Tw II Tw III Tw IV
2009*
IHK 186.56  191.44  195.75  199.43 
* Hasil Proyeksi BI Palembang

Grafik 2. Proyeksi Inflasi Tahunan Dan Triwulanan 2009


9.00 25.00
8.00
7.00 20.00

Persen
6.00
5.00 15.00
Persen

4.00
10.00
3.00
2.00 5.00
1.00
0.00 0.00
‐1.00
‐2.00 ‐5.00
Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV
* Hasil Proyeksi BI Palembang
2008 2009*
Inflasi Triwulanan  ‐0.98 0.67 0.33 6.53 7.78 4.26 0.13 0.78 2.61 2.26 1.88
Inflasi Tahunan (Axis Kanan) 4.77 3.25 2.65 6.54 14.69 19.16 18.40 13.40 7.96 5.88 7.72

Proyeksi inflasi beserta isu kualitatif pada masing-masing triwulan adalah sebagai
berikut:
a. Triwulan I 2009
• Penurunan konsumsi rumah tangga karena menurunnya aktivitas sektor riil.
• Hari Imlek pada minggu ketiga bulan Januari
• Pengaruh lanjutan dari penurunan harga BBM.
• Ketersediaan bahan makanan yang cukup dikarenakan adanya musim panen.
• Inflasi secara tahunan (yoy) diproyeksikan sebesar 7,58% ± 1, lebih rendah dari
triwulan I 2008.

40 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Inflasi Pangkalpinang

b. Triwulan II 2009
• Kampanye capres/cawapres putaran pertama.
• Tahun ajaran baru
• Terjadi peningkatan inflasi triwulanan.
• Inflasi tahunan pada triwulan II 2009 diproyeksikan sebesar 7,96% ± 1. Terjadi
penurunan inflasi secara tahunan karena tingginya inflasi pada triwulan yang sama
pada tahun sebelumnya.
c. Triwulan III 2009
• Kampanye capres/cawapres putaran kedua.
• Hari raya Idul Fitri pada minggu ketiga bulan September
• Inflasi tahunan pada triwulan II 2009 diproyeksikan sebesar 5,88% ± 1.
d. Triwulan IV 2009
• Hari raya Natal serta libur akhir tahun.
• Efek riil adanya penurunan BI rate pada akhir tahun 2008 akan mulai muncul dan
menurunkan proteksi terhadap inflasi.
• Inflasi tahunan pada triwulan IV 2009 diproyeksikan sebesar 7,72% ± 1.

Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008 41


Halaman ini sengaja dikosongkan
This page is intentionally blank
Perkembangan Perbankan Daerah

.
PERKEMBANGAN
3
PERBANKAN DAERAH

Perbankan Propinsi
Grafik 3.1
Bangka Belitung, sampai Perkembangan Aset, DPK, dan Kredit
Perbankan Propinsi Kep. Bangka Belitung
dengan triwulan IV 2008
mengalami perlambatan
pertumbuhan tahunan
dibandingkan dengan triwulan
sebelumnya, yang tercermin
dari beberapa indikator utama,
yaitu (i) Penghimpunan Dana Pihak
Ketiga (DPK), (ii) Total aset, dan
(iii) Total kredit/pembiayaan.
Namun demikian pertumbuhan
total aset dan DPK triwulanan pada triwulan IV 2008 tumbuh meningkat dibanding
triwulan III 2008. Sedangkan penyaluran kredit mengalami penurunan jika dibanding
triwulan III 2008.

Total aset perbankan Bangka Belitung pada triwulan IV 2008 tumbuh


sebesar 12,10% (yoy) atau 1,19% (qtq). Aset perbankan pada triwulan III 2008 tercatat
sebesar Rp 7,53 triliun tumbuh menjadi Rp 7,62 triliun.

DPK tumbuh sebesar 12,56% (yoy) atau 0,61% (qtq). DPK pada triwulan III
2008 tercatat sebesar Rp 7,54 triliun dan tumbuh menjadi Rp 7,58 triliun pada triwulan IV
2008.

Penyaluran kredit/pembiayaan di Bangka Belitung tumbuh 78,29% (yoy)


dan secara triwulanan mengalami penurunan sebesar 7,64%. Pada triwulan III 2008
penyaluran kredit/pembiayaan sebesar Rp 3,56 triliun, menurun menjadi Rp 3,29 triliun
pada triwulan IV 2008. Laju pertumbuhan kredit yang lebih rendah dibandingkan

Kajian
Kajian Ekonomi
Ekonomi RegionalPropinsi
Regional Propinsi Kepulauan
Kepulauan Bangka
BangkaBelitung Triwulan
Belitung IV 2008
Triwulan III 2007 43
Perkembangan Perbankan Daerah

pertumbuhan DPK, menyebabkan persentase LDR perbankan di Bangka Belitung turun dari
47,22% pada triwulan III 2008 menjadi 43,35% pada triwulan IV 2008. Rasio ini masih
jauh dari rasio ideal yaitu 85%-90%, untuk itu perlu ditingkatkan penyaluran
kredit/pembiayaan terutama pada sektor-sektor ekonomi yang potensial.

Jumlah bank yang beroperasi di Grafik 3.2


Propinsi Kepulauan Bangka Belitung sampai Jumlah Kantor Bank dan ATM
di Propinsi Kep. Bangka Belitung
dengan triwulan IV 2008 berjumlah 14 Bank,
dengan jumlah jaringan 84 kantor bank, yang
terdiri dari 2 Kantor Pusat BPR, masing-masing
Konvensional dan Syariah, 22 Kantor Cabang
Bank (16 Kantor Cabang Bank Umum
Konvensional, 1 Kantor Cabang Bank Umum
Syariah dan 5 Kantor Cabang BPR/S), 47 Kantor
Cabang Pembantu dan 19 Kantor Kas. Jumlah
Anjungan Tunai Mandiri (ATM) tercatat
sebanyak 87 unit.

3.1. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK)

Pertumbuhan tahunan DPK pada triwulan IV 2008 tumbuh melambat jika


dibanding triwulan sebelumnya, hal ini merupakan dampak dari perlambatan pertumbuhan
ekonomi Bangka Belitung pada triwulan IV 2008.

3.1.1 Penghimpunan DPK Secara Umum

Berdasarkan pangsa terhadap penghimpunan DPK, sepanjang tahun 2008,


simpanan tabungan memiliki pangsa terbesar yaitu sebesar 43,88% diikuti oleh simpanan
giro sebesar 29,31% dan simpanan deposito sebesar 26,81% (lihat grafik 3.3).

Simpanan giro pada triwulan IV 2008 mengalami peningkatan pertumbuhan


dibanding triwulan III 2008. Pada triwulan III 2008 simpanan giro tumbuh 19,04% (yoy)
dan tumbuh meningkat pada triwulan IV 2008 menjadi 28,64%. Namun secara triwulanan

44 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Perbankan Daerah

mengalami penurunan sebesar 2,83% (qtq), atau dari Rp 2,36 triliun menurun menjadi Rp
2,29 triliun.

Sementara itu simpanan tabungan


Grafik 3.3
mengalami perlambatan pertumbuhan
Pertumbuhan DPK Perbankan
baik dari pertumbuhan tahunan ataupun di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung

pertumbuhan triwulanan. Pada triwulan III


2008 simpanan tabungan tumbuh sebesar
30,77% (yoy), kemudian melambat pada
triwulan IV 2008 menjadi 9,45% (yoy). Secara
triwulanan, pada triwulan IV 2008 simpanan
tabungan juga mengalami penurunan sebesar
3,43% (qtq) yang semula pada triwulan III
2008 simpanan tabungan mencapai Rp 3,38
triliun menjadi Rp 3,27 triliun.

Baik pertumbuhan tahunan maupun triwulanan untuk simpanan deposito


mengalami peningkatan. Pada triwulan III 2008 deposito tumbuh sebesar 0,76% (yoy)
meningkat menjadi 2,72% (yoy) pada triwulan IV 2008. Dan secara triwulanan meningkat
cukup tinggi 12,76% (qtq) yang sebelumnya pada triwulan III 2008 terjadi penurunan
sebesar 17,88% (qtq). Dengan adanya peningkatan yang cukup besar ini, secara total tetap
tumbuh meskipun tidak terlalu besar yaitu 0,61% (qtq).

Tabel 3.1 Pertumbuhan Komponen DPK Perbankan Bangka Belitung


Berdasarkan Jenis Simpanan (%)
Pertumbuhan yoy (%) Pertumbuhan qtq (%)
URAIAN
Tw I Tw II Tw III Tw IV*) Tw I Tw II Tw III Tw IV*)
Giro 27.26 29.17 19.04 28.64 3.06 21.06 6.11 -2.83
Tabungan 35.78 36.51 30.77 9.45 1.53 10.19 1.30 -3.43
Deposito 41.06 36.63 0.76 2.72 -0.22 11.17 -17.88 12.76
Total DPK 34.80 34.35 18.71 12.56 1.42 13.40 -2.72 0.61
*) Data sampai bulan November 2008

Kajian
Kajian Ekonomi
Ekonomi RegionalPropinsi
Regional Propinsi Kepulauan
Kepulauan Bangka
BangkaBelitung Triwulan
Belitung IV 2008
Triwulan III 2007 45
Perkembangan Perbankan Daerah

3.1.2. Penghimpunan Dana Pihak Ke Tiga (DPK) Menurut Kelompok Bank

Share penghimpunan DPK


Grafik 3.4
dari tahun 2007 sampai 2008 Pertumbuhan DPK Perbankan
Berdasarkan Kelompok Bank 2007-2008
didominasi oleh bank pemerintah, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung
diikuti oleh bank swasta nasional,
dan terakhir BPR. Rata-rata pangsa
penghimpunan DPK bank pemerintah
di tahun 2008 adalah sebesar 78,18%,
sedangkan bank swasta nasional
sebesar 21,72%, dan BPR sebesar
0,10%

*) Data sampai bulan November 2008


Bank Pemerintah termasuk Bank Pembangunan Daerah

Berdasarkan pertumbuhan penghimpunan DPK secara tahunan, BPR


merupakan bank dengan tingkat pertumbuhan terendah. Sedangkan bank
pemerintah dan bank swasta nasional mempunyai tingkat pertumbuhan tahunan yang
tidak terlalu berbeda, dengan rata-rata tingkat pertumbuhan tahunan di tahun 2008
masing-masing sebesar 26,30% dan 22,54%. Pada trwulan IV 2008, hanya pertumbuhan
penghimpunan DPK oleh bank pemerintah yang masih tumbuh sebesar 21,89% (yoy),
sedangkan penghimpunan DPK oleh bank swasta dan bank perkreditan rakyat (BPR)
mengalami penurunan masing-masing sebesar 14,55% dan 4,25%.

Tabel 3.2 Pertumbuhan Komponen DPK Perbankan Bangka Belitung


Berdasarkan Kelompok Bank Penghimpunan (%)
Pertumbuhan yoy (%) Pertumbuhan qtq (%)
URAIAN
Tw I Tw II Tw III Tw IV*) Tw I Tw II Tw III Tw IV*)
Bank Pemerintah 32.75 33.22 17.34 21.89 3.89 15.75 -2.18 3.62
Bank Swasta Nasional 42.08 38.64 23.98 -14.55 -5.70 5.83 -4.66 -10.20
Bank Perkreditan Rakyat -2.20 7.20 4.36 -4.25 -12.64 13.25 6.28 -8.94
Total DPK 34.80 34.35 18.71 12.56 1.42 13.40 -2.72 0.61
*) Data sampai bulan November 2008

46 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Perbankan Daerah

Penghimpunan DPK oleh bank pemerintah termasuk Bank Pemerintah


Daerah (BPD) sepanjang tahun 2008 paling banyak dalam produk tabungan dengan rata-
rata sebesar 39,21%, diikuti oleh simpanan giro 34,51%, dan simpanan berjangka
26,29%.

Sama halnya pada bank swasta nasional, penghimpunan DPK sepanjang tahun
2008 didominasi oleh simpanan tabungan dengan rata-rata sebesar 60,80%, diikuti
simpanan berjangka dengan pangsa 28,53% dan simpanan giro 10,67%.

Grafik 3.5 Grafik 3.6


Penghimpunan DPK Penghimpunan DPK
oleh Bank Pemerintah 2007-2008 oleh Bank Swasta Nasional 2007-2008
Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Propinsi Kepulauan Bangka Belitung

*) Data sampai bulan November 2008 *) Data sampai bulan November 2008
Bank Pemerintah meliputi Bank Pembangunan Daerah

Sementara itu, penghimpunan


Grafik 3.7
DPK oleh Bank Perkreditan Rakyat Penghimpunan DPK
oleh Bank Perkreditan Rakyat 2007-2008
(BPR) sepanjang tahun 2008, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung
simpanan berjangka memiliki pangsa
terbesar dengan rata-rata 61,78%
diikuti oleh simpanan tabungan
dengan pangsa sebesar 38,22%

*) Data sampai bulan November 2008

Kajian
Kajian Ekonomi
Ekonomi RegionalPropinsi
Regional Propinsi Kepulauan
Kepulauan Bangka
BangkaBelitung Triwulan
Belitung IV 2008
Triwulan III 2007 47
Perkembangan Perbankan Daerah

3.1.3. Penghimpunan DPK Menurut Wilayah

Kota Pangkalpinang memiliki pangsa


Grafik 3.8
terbesar dalam penghimpunan DPK dengan Pertumbuhan DPK Perbankan
rata-rata 45,68% diikuti oleh daerah Bangka (per wilayah) 2007-2008
Propinsi Kepulauan Bangka Belitung
dengan rata-rata sebesar 35,44% dan
terakhir daerah Belitung dengan rata-rata
sebesar 18,87% (lihat grafik 3.5).

Berdasarkan pertumbuhan
penghimpunan DPK secara tahunan,
pada tahun 2008, pertumbuhan
penghimpunan DPK Kabupaten Belitung
tercatat mengalami rata-rata pertumbuhan
paling tinggi yakni sebesar 33,06% (yoy), diikuti oleh Kabupaten Bangka yang rata-rata
tumbuh sebesar 28,42% (yoy) dan Kota Pangkalpinang sebesar 20,91% (yoy).

Tabel 3.3 Pertumbuhan Komponen DPK Perbankan Bangka Belitung


Berdasarkan Wilayah Penghimpunan (%)
Pertumbuhan yoy (%) Pertumbuhan qtq (%)
URAIAN
Tw I Tw II Tw III Tw IV*) Tw I Tw II Tw III Tw IV*)
Belitung 26.21 33.74 33.17 39.12 12.28 15.33 7.27 0.16
Bangka 27.04 33.13 25.17 28.33 9.36 14.47 2.96 -0.43
Pangkalpinang 44.76 35.49 8.59 (5.20) -6.75 11.92 -10.68 1.69
Total DPK 34.80 34.35 18.71 12.56 1.42 13.40 -2.72 0.61
*) Data sampai bulan November 2008

Penghimpunan DPK di Belitung pada triwulan IV 2008 mengalami


peningkatan pertumbuhan dibanding triwulan III 2008, pada triwulan III 2008
tumbuh 33,17% (yoy) dan kembali tumbuh pada triwulan IV 2008 mencapai sebesar
39,12% (yoy). Namun secara triwulanan mengalami perlambatan pertumbuhan dibanding
triwulan sebelumnya, pada triwulan III 2008 tumbuh sebesar 7,27% (qtq) dan menurun
menjadi 0,16% pada triwulan IV 2008. Penghimpunan DPK di Belitung pada triwulan III
2008 sebesar Rp 1,49 triliun sedikit meningkat menjadi Rp 1,50 triliun pada triwulan IV
2008.

48 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Perbankan Daerah

Hal yang sama juga terjadi di Bangka. Simpanan tabungan mengalami


perlambatan pertumbuhan baik dari pertumbuhan tahunan maupun pertumbuhan
triwulanan. Penghimpunan DPK di Bangka pada triwulan ini mengalami peningkatan
pertumbuhan dibanding triwulan III 2008. Pada triwulan III 2008 DPK di Bangka tumbuh
sebesar 25,17% (yoy) kemudian mengalami peningkatan pertumbuhan pada triwulan IV
menjadi sebesar 28,33% (yoy). Namun secara triwulanan mengalami penurunan sebesar
0,43% (qtq) dari Rp 2,76 triliun di triwulan III 2008 menjadi sebesar RP 2,75 triliun pada
triwulan IV 2008.

Pertumbuhan tahunan penghimpunan dana di kota Pangkalpinang pada


triwulan IV 2008 mengalami penurunan sebesar 5,20% (yoy) sedangkan pada
triwulan sebelumnya mengalami pertumbuhan sebesar 8,59% (yoy). Sedangkan
secara triwulanan terjadi peningkatan pertumbuhan pada triwulan IV 2008 sebesar 1,69%,
sementara pada triwulan sebelumnya terjadi penurunan sebesar 10,68% (qtq). Pada
triwulan III 2008 DPK di Kota Pangkalpinang tercatat sebesar Rp 3,28 triliun meningkat
menjadi Rp 3,33 trliun pada triwulan IV 2008.

Melambatnya laju pertumbuhan secara triwulanan penghimpunan DPK di Belitung serta


turunnya DPK di wilayah Bangka terkait erat dengan menurunnya aktifitas ekonomi akibat
penurunan harga komoditas primer Bangka Belitung di pasar dunia yakni timah, pasir
kwarsa, karet dan sawit. Hal tersebut berdampak pada menurunnya penghasilan
masyarakat terutama yang bergerak di sektor pertanian dan pertambangan serta
penggalian.

3.2. Penyaluran Kredit/Pembiayaan

Pertumbuhan penyaluran kredit/pembiayaan pada triwulan IV 2008 baik


secara tahunan maupun triwulanan mengalami perlambatan, kendati masih pada
level yang cukup tinggi. Pada triwulan III 2008 penyaluran kredit/pembiayaan tumbuh
sebesar 105,17% (yoy), akan tetapi pada triwulan berikutnya tumbuh melambat menjadi
78,29%. Namun demikian pertumbuhan secara triwulanan mengalami penurunan pada
triwulan IV 2008 sebesar 7,64% (qtq), sedangkan pada triwulan sebelumnya sempat

Kajian
Kajian Ekonomi
Ekonomi RegionalPropinsi
Regional Propinsi Kepulauan
Kepulauan Bangka
BangkaBelitung Triwulan
Belitung IV 2008
Triwulan III 2007 49
Perkembangan Perbankan Daerah

tercatat pertumbuhan sebesar 12,64%. Pelemahan pertumbuhan kredit/pembiayaan akibat


dari menurunnya pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2008.

3.2.1. Penyaluran Kredit/Pembiayaan Menurut Kelompok Bank

Penyaluran kredit/pembiayaan
Grafik 3.9
berdasarkan kelompok bank, tahun 2007 Penyaluran Kredit Menurut Kelompok Bank
di Provinsi Bangka Belitung
sampai 2008 didominasi oleh bank
pemerintah, diikuti oleh bank swasta
nasional, bank asing dan bank campuran,
serta terakhir BPR. Rata-rata pangsa
penghimpunan DPK bank pemerintah di tahun
2008 sebesar 77,93%, sedangkan bank
swasta nasional sebesar 19,43%, bank asing
dan bank campuran 2,19%, dan BPR sebesar
0,45%
*) Data Tw IV sampai November 2008

Grafik 3.10
Terjadi perlambatan Pertumbuhan Penyaluran Kredit Menurut Kelompok
Bank di Provinsi Bangka Belitung
pertumbuhan tahunan penyaluran
kredit/pembiayaan pada triwulan IV
2008 di semua kelompok bank, (lihat Tabel
3.4). Namun pertumbuhan secara
triwulanan pada tiap-tiap kelompok bank
berbeda-beda. Pada bank pemerintah dan
BPR terjadi penurunan pertumbuhan
masing-masing sebesar 17,83% dan
5,60%. Penurunan pada bank pemerintah
*) Data Tw IV sampai November 2008
menyebabkan persentase LDR menurun
dibanding triwulan sebelumnya dari 43,51% pada triwulan III 2008 menjadi 34,50% pada
triwulan IV 2008. Hal ini disebabkan penurunan kredit/pembiayaan dibarengi dengan
adanya peningkatan penghimpunan DPK sebesar 3,61% (qtq) pada triwulan IV. Namun hal

50 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Perbankan Daerah

yang berbeda terjadi pada persentase LDR BPR, penurunan kredit ini tidak menurunkan
persentase LDR justru meningkatkannya jika dibanding triwulan sebelumnya dari 169,01%
pada triwulan III 2008 menjadi 175,20% pada triwulan IV 2008. Hal ini dikarenakan pada
triwulan ini penurunan DPK lebih besar dari pada penurunan total kredit/pembiayaan.

Jika pada bank pemerintah dan BPR terjadi penurunan pertumbuhan penyaluran
kredit/pembiayaan secara triwulanan, maka lain halnya pada bank swasta nasional dan
bank asing serta bank campuran yang mengalami kenaikan pertumbuhan secara triwulanan
yaitu masing-masing sebesar 14,10% dan 26,32%. Peningkatan penyaluran
kredit/pembiayaan yang dibarengi penurunan DPK menyebabkan peningkatan persentase
LDR pada bank swasta nasional dari 35,95% di triwulan III 2008 menjadi 45,68% di
triwulan IV 2008.

Tabel 3.4 Pertumbuhan Penyaluran Kredit Berdasarkan Kelompok Bank


Prop. Kepulauan Bangka Belitung (%)
Pertumbuhan yoy (%) Pertumbuhan qtq (%)
URAIAN
Tw I Tw II Tw III Tw IV*) Tw I Tw II Tw III Tw IV*)
Bank Pemerintah -32.37 16.00 94.59 58.67 5.77 62.55 12.32 -17.83
Bank Swasta Nasional 11.72 13.48 59.03 52.73 -2.52 11.93 22.67 14.10
Bank Asing dan Bank Campuran 10.05 951.66 968.78 647.19 -36.00 804.49 2.19 26.32
Bank Perkreditan Rakyat 106.46 27.59 33.73 28.79 14.59 9.92 8.32 -5.60
Bank Asing dan Bank Campuran berlokasi di luar Bangka Belitung yang menyalurkan kredit ke Bangka Belitung
*) Data sampai bulan November 2008

Berdasarkan pertumbuhan penghimpunan DPK secara tahunan, bank asing


dan bank campuran merupakan bank dengan pertumbuhan tahunan tertinggi
sepanjang tahun 2008. Pada triwulan II 2008, bank asing dan bank campuran memulai
menyalurkan kredit/pembiayaan pada sektor industri yang terus dilakukan sampai triwulan
IV 2008, dengan total penyaluran kredit mencapai sebesar Rp1,06 triliun. Untuk tahun
2008 penyaluran kredit oleh bank asing dan campuran didominasi oleh sektor perindustrian
yang memiliki rata-rata pangsa di tahun 2008 sebesar 64,54%, menggantikan sektor lain-
lain di tahun 2007 yang memiliki rata-rata pangsa di tahun 2007 sebesar 52,53%.
Sedangkan dilihat dari penggunaan, pada triwulan II 2008 kelompok bank ini juga memulai
penyaluran kredit untuk penggunaan investasi yang sampai triwulan IV 2008 mencapai
Rp0,90 triliun. Sehingga sepanjang tahun 2008, berdasarkan penggunaan penyaluran
kredit oleh bank asing dan bank campuran didominasi oleh penggunaan untuk investasi

Kajian
Kajian Ekonomi
Ekonomi RegionalPropinsi
Regional Propinsi Kepulauan
Kepulauan Bangka
BangkaBelitung Triwulan
Belitung IV 2008
Triwulan III 2007 51
Perkembangan Perbankan Daerah

53,28%, kredit modal kerja 38,84%, dan kredit konsumsi 7,88%. Komposisi ini berbeda
dengan komposisi pada tahun 2007 dimana pangsa terbesar menurut penggunaannya
adalah untuk kredit modal kerja.

Bank pemerintah sebagai bank yang mendominasi penyaluran kredit, pada


tahun 2008 paling besar menyalurkan pada sektor perdagangan 24,13% dan sektor
pertambangan 21,19%. Sedangkan dilihat dari penggunaannya, kelompok bank ini banyak
menyalurkannya pada kredit modal kerja 61,14%, kredit konsumsi 27,79%, dan terakhir
pada kredit investasi 10,87%.

Bank swasta nasional dan BPR dalam penyaluran kreditnya pada tahun
2008, berdasarkan penggunaan memiliki pangsa yang kurang lebih sama dengan
bank pemerintah. Dengan penyaluran tertinggi pada kredit modal kerja, kemudian kredit
konsumsi, dan terakhir kredit investasi. Sedangkan untuk penyaluran berdasarkan sektoral,
ke dua kelompok bank ini memiliki pangsa yang berbeda. Pada bank swasta nasional,
sektor dengan pangsa tertinggi di tahun 2008 adalah sektor perdagangan (38,67%), dan
sektor jasa-jasa (16,02%). Sedangkan pada BPR, sektor dengan pangsa tertinggi sepanjang
tahun 2008 adalah sektor perdagangan (50,65%), dan sektor pertanian 26,12%.

3.2.2. Penyaluran Kredit/Pembiayaan Secara Sektoral

Dilihat dari sektoral, pada triwulan IV penurunan kredit hampir terjadi di


semua sektor ekonomi. Di tengah terjadi penurunan, masih terdapat dua sektor yang
tetap tumbuh, yaitu sektor listrik, gas, dan air (LGA) dan sektor lain-lain. Namun sektor-
sektor yang tetap mengalami peningkatan pertumbuhan ini memiliki kontribusi terhadap
total penyaluran kredit yang tidak terlampau besar dibanding sektor-sektor yang mengalami
penurunan. Penyaluran kredit di Bangka Belitung pada tahun 2008 didominasi oleh
penyaluran ke sektor perindustrian, sektor pertambangan, dan sektor perdagangan.

52 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Perbankan Daerah

Tabel 3.5 Penyaluran Kredit Sektoral Prop. Kepulauan Bangka Belitung


(Miliar Rupiah)
2007 2008
Sektor Ekonomi
Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV*)
Pertanian 207.89 208.43 190.71 261.63 207.60 135.56 51.13 141.57
Pertambangan 952.96 807.70 91.14 91.95 111.71 827.30 625.50 504.85
Perindustrian 63.05 64.15 61.37 116.56 120.77 495.08 615.45 674.05
LGA 0.45 0.77 0.29 0.21 0.23 0.37 2.36 2.53
Konstruksi 282.85 304.98 313.61 137.47 134.17 184.16 583.74 182.01
Perdagangan 433.91 471.16 453.18 604.64 609.17 700.79 795.93 834.04
Pengangkutan & Komunikasi 19.95 19.59 18.54 29.36 42.79 38.63 37.13 34.96
Jasa Dunia Usaha 43.99 45.07 52.63 67.93 59.28 75.25 81.68 85.40
Jasa-jasa Sosial 18.30 13.92 12.50 20.48 23.17 30.39 28.38 34.92
Lain-lain 480.48 500.92 540.40 513.15 577.61 671.44 737.06 792.13
Total kredit 2,503.82 2,436.68 1,734.37 1,843.38 1,886.50 3,158.98 3,558.35 3,286.47
*) Data sampai bulan November 2008

Tabel 3.6 Pangsa Penyaluran Kredit Sektoral (%)


2007 2008
Sektor Ekonomi
Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV*)
Pertanian 8.30 8.55 11.00 14.19 11.00 4.29 1.44 4.31
Pertambangan 38.06 33.15 5.26 4.99 5.92 26.19 17.58 15.36
Perindustrian 2.52 2.63 3.54 6.32 6.40 15.67 17.30 20.51
LGA 0.02 0.03 0.02 0.01 0.01 0.01 0.07 0.08
Konstruksi 11.30 12.52 18.08 7.46 7.11 5.83 16.40 5.54
Perdagangan 17.33 19.34 26.13 32.80 32.29 22.18 22.37 25.38
Pengangkutan & Komunikasi 0.80 0.80 1.07 1.59 2.27 1.22 1.04 1.06
Jasa Dunia Usaha 1.76 1.85 3.03 3.69 3.14 2.38 2.30 2.60
Jasa-jasa Sosial 0.73 0.57 0.72 1.11 1.23 0.96 0.80 1.06
Lain-lain 19.19 20.56 31.16 27.84 30.62 21.26 20.71 24.10
*) Data sampai bulan November 2008

Secara tahunan pertumbuhan penyaluran kredit tertinggi pada triwulan IV 2008 adalah di
sektor listrik, gas, dan air. Sedangkan dilihat dari pertumbuhan triwulanan, sektor pertanian
merupakan sektor dengan pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 176,88% (qtq), namun jika dilihat
dari pertumbuhan tahunannya sektor ini mengalami penurunan sebesar 45,89% (yoy).

Tabel 3.7 Pertumbuhan Penyaluran Kredit Berdasarkan Sektoral (%)


Pertumbuhan Tahunan (%) Pertumbuhan Triwulanan (%)
Sektor Ekonomi
Tw I 08 Tw II 08 Tw III 08 Tw IV*) 08 Tw I 08 Tw II 08 Tw III 08 Tw IV*) 08
Pertanian -0.14 -34.96 -73.19 -45.89 -20.65 -34.70 -62.28 176.88
Pertambangan -88.28 2.43 586.28 449.08 21.50 640.55 -24.39 -19.29
Perindustrian 91.55 671.80 902.81 478.28 3.61 309.93 24.31 9.52
LGA -48.65 -51.44 705.80 1,115.38 10.10 62.45 534.68 7.07
Konstruksi -52.56 -39.62 86.14 32.40 -2.40 37.25 216.97 -68.82
Perdagangan 40.39 48.74 75.63 37.94 0.75 15.04 13.58 4.79
Pengangkutan & Komunikasi 114.46 97.22 100.29 19.07 45.71 -9.71 -3.90 -5.83
Jasa Dunia Usaha 34.76 66.97 55.18 25.71 -12.74 26.95 8.54 4.56
Jasa-jasa Sosial 26.66 118.32 127.07 70.52 13.15 31.14 -6.62 23.06
Lain-lain 20.22 34.04 36.39 54.37 12.56 16.24 9.77 7.47
Total kredit -24.66 29.64 105.17 78.29 2.34 67.45 12.64 -7.64
*) Data sampai bulan November 2008

Kajian
Kajian Ekonomi
Ekonomi RegionalPropinsi
Regional Propinsi Kepulauan
Kepulauan Bangka
BangkaBelitung Triwulan
Belitung IV 2008
Triwulan III 2007 53
Perkembangan Perbankan Daerah

Terjadi penurunan penyaluran kredit di sektor pertambangan secara


tahunan pada triwulan IV 2008 dibanding triwulan III 2008. Pada triwulan III 2008
kredit pada sektor pertambangan dan penggalian tumbuh sebesar 586,28% (yoy) dan
mengalami perlambatan di triwulan IV menjadi 449,08% (yoy). Hal ini dikarenakan kurang
mendukungnya situasi pada sektor ini, yaitu tingginya curah hujan dan penurunan harga
timah selain prospek usaha pertambangan dan penggalian meragukan di tengah
berlangsungnya krisis global.

Pertumbuhan tahunan ataupun pertumbuhan triwulanan pada penyaluran


kredit di sektor perindustrian di triwulan IV 2008 mengalami perlambatan
dibanding triwulan sebelumnya. Pada triwulan III 2008 penyaluran kredit di sektor ini
tumbuh sebesar 902,81% (yoy) kemudian tumbuh melambat pada triwulan IV 2008
sebesar 478,28% (yoy). Melambatnya penyaluran kredit di sektor industri terkait dengan
kondisi industri pengolahan yang tidak menguntungkan, baik industri pengolahan karet
maupun timah. Penurunan industri pengolahan karet terkait dengan penurunan
produktivitas karet, akibat kondisi musim yang memasuki gugur daun serta turunnya harga
karet di pasar internasional. Penurunan harga komoditas di pasar internasional juga dialami
oleh timah, sehingga terjadi penurunan produktivitas timah.

Terjadi perlambatan pertumbuhan tahunan dan triwulanan penyaluran


kredit/pembiayaan pada triwulan IV 2008 di beberapa sektor, yaitu sektor
perdagangan,sektor konstruksi, sektor pengangkutan dan komunikasi, dan sektor
jasa dunia usaha (lihat tabel 3.5). Penurunan terjadi akibat dampak turunan dari
perlambatan pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung pada triwulan IV, sehingga
menurunkan kinerja sektor-sektor tersebut.

Sektor jasa dunia usaha pada triwulan IV 2008 secara tahunan mengalami
perlambatan pertumbuhan yakni dari 55,18% (yoy) pada triwulan III 2008 menjadi
25,71% (yoy) pada triwulan IV 2008. Hal yang juga dialami pada sektor jasa-jasa sosial
terjadi perlambatan pertumbuhan dari 127,07% (yoy) pada triwulan III 2008 menjadi
70,52% (yoy) pada triwulan IV 2008. Perlambatan sektor-sektor ini merupakan dampak dari
penurunan kegiatan perekonomian sehingga menurunkan kebutuhan terhadap layanan

54 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Perbankan Daerah

jasa seperti perbankan, sewa kendaraan untuk mengangkut hasil kebun serta sewa alat
berat, jasa pergudangan dan jasa lainnya.

Pertumbuhan tahunan penyaluran kredit pada sektor pertanian di triwulan


IV 2008 masih mengalami penurunan sebesar 45,89% (yoy) namun dengan
magnitude yang semakin mengecil, dimana sebelumnya terjadi penurunan pada
triwulan III 2008 sebesar 73,19%. Pertumbuhan secara triwulan pada penyaluran kredit
sektor ini juga mengalami peningkatan sebesar 176,88% (qtq), dari Rp 51,13 miliar pada
triwulan III 2008 menjadi Rp 141,57 miliar pada triwulan IV 2008. Peningkatan
pertumbuhan kredit/pembiayaan pada sektor ini disumbangkan oleh penyaluran kredit ke
subsektor tanaman bahan makanan, kehutanan, dan peternakan. Propinsi Bangka Belitung
sedang berusaha untuk mengurangi tingkat ketergantungan pasokan kebutuhan hidup
dengan meningkatkan produksi sendiri. Hal ini terlihat dari adanya peningkatan luas panen
padi sebesar 0,03% (qtq) pada triwulan IV 2008.

3.2.3. Penyaluran Kredit/Pembiayaan Menurut Penggunaan

Penyaluran kredit/pembiayaan di Propinsi Bangka Belitung pada tahun 2008


Grafik 3.11
terbesar adalah kredit modal kerja dengan Kredit Penggunaan
Propinsi Kep. Bangka Belitung
pangsa di tahun 2008 rata-rata sebesar
58,67%, diikuti dengan kredit konsumsi
24,17%, dan kredit investasi sebesar 17,16%.

Secara tahunan (yoy) terjadi


perlambatan pertumbuhan kredit per jenis
penggunaan, dengan perlambatan tertinggi
dicapai oleh kredit modal kerja dimana pada
triwulan III 2008 tumbuh 148,35% (yoy)
menjadi 90,56% pada triwulan IV 2008. Hal
yang sama juga terjadi pada kredit investasi,

Kajian
Kajian Ekonomi
Ekonomi RegionalPropinsi
Regional Propinsi Kepulauan
Kepulauan Bangka
BangkaBelitung Triwulan
Belitung IV 2008
Triwulan III 2007 55
Perkembangan Perbankan Daerah

meskipun perlambatan pertumbuhannya tidak sebesar yang dialami oleh kredit modal kerja
(lihat Tabel 3.8). Hal ini merupakan konsekuensi dari penurunan penyaluran kredit /
pembiayaan secara total.

Tabel 3.8 Pertumbuhan Penyaluran Kredit Menurut Penggunaan(%)


P ertumbuhan YoY (%) P ertumbuhan QtoQ (%)
UR AIAN
Tw I T w II T w III T w IV*) Tw I T w II T w III T w IV*)
Modal Kerja -43.60 16.29 148.35 90.56 -2.47 98.87 19.33 -17.67
Inv estasi 11.43 101.31 94.58 78.51 0.95 64.86 -6.93 15.25
Konsumsi 20.26 34.05 36.39 54.36 12.56 16.24 9.77 7.47
T otal Kredit -24.66 29.64 105.17 78.29 2.34 67.45 12.64 -7.64
*) Data sampai bulan November 2008

Pada triwulan IV 2008, pertumbuhan tahunan penyaluran kredit konsumsi


mengalami peningkatan jika dibanding triwulan sebelumnya. Masih meningkatnya
pertumbuhan pembiayaan ini disebabkan adanya pertumbuhan konsumsi oleh lembaga
swasta.

3.2.4. Penyaluran Kredit/Pembiayaan Menurut Wilayah

Kredit di Propinsi Bangka Belitung pada tahun 2008 lebih banyak disalurkan di
daerah Bangka dan kota Pangkalpinang, sedangkan di Belitung rata-rata penyaluran kredit
hanya mencapai 21,92% dan pada daerah tingkat II selain daerah-daerah tersebut rata-rata
penyaluran kredit hanya mencapai 0,16%.

Grafik 3.12 Grafik 3.13


Kredit Perbankan LDR Kep. Bangka Belitung
Propinsi Kep. Bangka Belitung Berdasarkan Wilayah
Berdasarkan Wilayah

56 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Perbankan Daerah

Seperti halnya di tingkat


Grafik 3.14
propinsi, kredit per jenis Penyaluran Kredit Berdasarkan Penggunaan di
Berbagai Wilayah Bangka Belitung
penggunaan di tiap-tiap wilayah
masih didominasi oleh kredit 73.24%

62.14%
modal kerja, kemudian diikuti
dengan kredit konsumsi, dan 41.35% 41.56%

33.44% 31.56%
30.46%
kredit investasi. Di Belitung dan 20.79%
25.21% 26.88%

Bangka proporsi penyaluran kredit 5.97% 7.39%

modal kerja sangat besar melebihi

Investasi

Investasi

Investasi

Investasi
Mod al Kerja

Mod al Kerja

Mod al Kerja

Mod al Kerja
Ko nsumsi

Ko nsumsi

Ko nsumsi

Ko nsumsi
50%, yaitu masing-masing sebesar
73,24% dan 62,14%. Sedangkan
Belitung Bangka Pangkalpinang Dati II Lainnya
untuk Kota Pangkalpinang dan
Dati II lainnya hanya mencapai 41,35% dan 41,56%.

Untuk penyaluran kredit menurut wilayah, pada triwulan IV 2008 kota


Pangkalpinang tercatat mengalami perlambatan pertumbuhan penyaluran kredit jika
dibanding triwulan sebelumnya. Pada triwulan III 2008 pembiayaan tumbuh sebesar
201,10% (yoy) kemudian tumbuh melambat di triwulan IV 2008 menjadi 102,91% (yoy).
Secara triwulanan pada triwulan IV juga mengalami penurunan pembiayaan sebesar
25,56% (qtq), semula pembiayaan di Pangkalpinang pada triwulan III 2008 mencapai
Rp1,85 triliun menurun menjadi Rp 1,38 triliun. Dengan adanya penurunan ini, LDR pada
daerah ini juga menurun dari 56% menjadi 41%.

Tabel 3.9 Pertumbuhan Penyaluran Kredit Menurut Wilayah(%)


Pertumbuhan yoy (%) Pertumbuhan qtq (%)
URAIAN
Tw I Tw II Tw III Tw IV*) Tw I Tw II Tw III Tw IV*)
Belitung -75.23 -64.18 56.15 63.62 3.92 30.71 10.78 8.74
Bangka 212.00 325.09 51.52 64.23 -0.32 43.09 2.06 12.82
Pangkalpinang -31.57 41.82 201.10 102.91 5.11 112.82 21.85 -25.56
Dati II Lainnya 15.43 21.57 21.56 5.55 3.46 13.53 -1.94
*) Data sampai bulan November 2008

Kajian
Kajian Ekonomi
Ekonomi RegionalPropinsi
Regional Propinsi Kepulauan
Kepulauan Bangka
BangkaBelitung Triwulan
Belitung IV 2008
Triwulan III 2007 57
Perkembangan Perbankan Daerah

3.2.5. Penyaluran Kredit / Pembiayaan Mikro Kecil Menengah


Pertumbuhan realisasi kredit Mikro, Kecil, dan Menengah (MKM) secara tahunan
(yoy) sepanjang tahun 2008 tetap berada dalam tren meningkat. Pertumbuhan tahunan
realisasi kredit UMKM ini terus meningkat dari triwulan I tumbuh sebesar 13,69% sampai
triwulan IV yang tumbuh sebesar 36,90%. Pada triwulan I 2008 realisasi kredit MKM
tercatat sebesar Rp 1,30 triliun kemudian meningkat mencapai Rp 1,69 triliun pada triwulan
IV 2008.

Peningkatan ini terkait dengan komitmen Pemerintah Propinsi Bangka Belitung yang
ingin memajukan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Hal ini dapat dilihat pada
misi Pemerintah Propinsi Bangka Belitung, yaitu mengadakan program ekonomi masyarakat
dengan memperkuat UMKM untuk mengembangkan pusat produk berkualitas di daerah-
daerah. Selain misi Pemerintah Propinsi Bangka Belitung, pengembangan UMKM juga
terdapat pada masterplan pembangunan ekonomi daerah Propinsi Kepulauan Bangka
Belitung pada strategi yang ke delapan yaitu peningkatan investasi daerah dan
pengembangan UMKM dan koperasi. Untuk peningkatan penyaluran kredit, Pemerintah
Propinsi Bangka Belitung beserta Kamar Dagang Industri Bangka Belitung berencana akan
membentuk Lembaga Penjamin Kredit Daerah.

Tabel 3.8 Pertumbuhan Penyaluran Kredit Mikro, Kecil, dan Menengah (%)

Pertumbuhan yoy (%) Pertumbuhan qtq (%)


URAIAN
Tw I Tw II Tw III Tw IV*) Tw I Tw II Tw III Tw IV*)
Mikro 17.27 22.14 21.85 40.73 13.76 12.90 5.14 4.21
Kecil 15.64 36.25 45.57 59.41 5.97 19.46 18.84 5.96
Menengah 8.21 24.09 27.29 18.17 (4.68) 17.84 1.00 4.16
MKM 13.69 26.08 29.48 36.90 5.07 16.15 7.16 4.68
*) Data sampai bulan November 2008

Menurut penggunaan, kredit MKM yang diberikan pada triwulan IV 2008


banyak digunakan untuk kegiatan modal kerja (45,92%) dan kegiatan konsumsi
(45,65%). Kredit modal kerja tercatat sebesar Rp0,78 triliun dan kredit konsumsi mencapai
Rp0,77 triliun. Sementara kredit investasi tercatat sebesar Rp0,14 triliun atau 8,44% dari
total kredit MKM.

58 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Perbankan Daerah

Komposisi masing-masing kredit menurut penggunaan pada kredit mikro, kecil, dan
menengah berbeda-beda. Pada kredit mikro, penyaluran kredit triwulan IV 2008 terbesar
untuk konsumsi (77,97%), diikuti dengan modal kerja (18,68%), dan investasi (3,36%).
Pada kredit kecil, antara modal kerja dan konsumsi tidak terlalu berbeda pangsanya. Kredit
modal kerja dan konsumsi memiliki pangsa masing-masing sebesar 46,28%dan 43,57%.
Sedangkan pada kredit menengah didominasi oleh kredit modal kerja (79,79%), diikuti
dengan kredit investasi (13,30%), dan terakhir kredit konsumsi (6,91%)

Grafik 3.15 Grafik 3.16


Kredit MKM Berdasar Penggunaan Kredit MKM Berdasar Wilayah

Berdasarkan wilayahnya, penyaluran kredit MKM di Bangka Belitung


sebagian besar terjadi di wilayah Bangka yang tercatat memperoleh kucuran kredit
MKM sebesar Rp0,71 triliun atau dengan pangsa sebesar 41,82%. Wilayah
Pangkalpinang menempati peringkat ke dua dengan jumlah penyaluran kredit MKM
sebesar Rp0,65 triliun atau 38,57% dan wilayah Belitung sebesar Rp0,33 triliun atau
19,32%. Pada grafik 3.17 dapat dilihat penyaluran masing-masing kredit mikro, kecil, dan
menengah pada tiap-tiap daerah.

Kajian
Kajian Ekonomi
Ekonomi RegionalPropinsi
Regional Propinsi Kepulauan
Kepulauan Bangka
BangkaBelitung Triwulan
Belitung IV 2008
Triwulan III 2007 59
Perkembangan Perbankan Daerah

Berdasarkan plafon kredit, Grafik 3.17


realisasi penyaluran kredit mikro Kredit Mikro, Kecil, dan Menengah

(plafon sd. Rp50 juta) triwulan IV 2008


tercatat sebesar Rp0,68 triliun atau
berpangsa sebesar 40,02%, kredit kecil
(plafon Rp51 juta s.d. Rp500 juta) tercatat
sebesar Rp0,48 triliun atau berpangsa
sebesar 28,10%, dan kredit menengah
(Rp501 juta s.d. Rp5 miliar) tercatat
sebesar Rp0,54 triliun atau dengan pangsa
sebesar 31,88%. Pada triwulan IV 2008
dilihat dari pertumbuhan tahunan, kredit
kecil memilki tingkat pertumbuhan
tahunan tertinggi (59,41%), diikuti oleh kredit mikro (40,73%), dan kredit menengah
(18,17%). Sedangkan untuk keselurahan kredit MKM pada triwulan IV 2008 tumbuh
sebesar 36,91% (yoy).

3.3. RISIKO PERBANKAN

3.3.1. Risiko Kredit Perbankan

Berdasarkan data LBU KBI


Grafik 3.18
Palembang, Non Performing Loan (NPL) Perkembangan NPL Gross Perbankan
Bangka Belitung
gross (belum memperhitungkan
Penyisihan Penghapusan Aktiva
Produktif (PPAP) pada triwulan IV 2008
(November 2008) sebesar Rp25,23 miliar
atau sebesar 1,32% dari total kredit
yang disalurkan, sedikit meningkat
dibandingkan triwulan sebelumnya
sebesar 1,31%. Hal ini masih jauh
berada pada batas toleransi, yaitu
sebesar 5%.

60 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Perbankan Daerah

Ke depan, kredit yang disalurkan di sektor pertambangan dan penggalian memiliki


potensi untuk meningkat tajam yang antara lain disebabkan belum pulihnya sektor ini
dalam menghadapi krisis yang artinya kegiatan produksi dapat saja semakin turun dan akan
mengurangi kemampuan sektor ini dalam membayar hutang. Hal ini akan berdampak pada
meningkatnya persentase NPL.

Grafik 3.19 Grafik 3.20


NPL Perbankan Bangka Belitung Tw IV 2008 NPL Perbankan Bangka Belitung Tw IV 2008
Berdasarkan Sektor Ekonomi Berdasarkan Sektor Ekonomi

3.3.2. Risiko Likuiditas Perbankan

Risiko likuiditas dalam perbankan merupakan kondisi ketidakmampuan bank untuk


memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dan pembiayaan pertumbuhan aktiva pada tingkat
harga pasar yang layak. Pengelolaan likuiditas yang baik dan benar sangat diperlukan
karena risiko ini tidak dapat dieliminasi dan tidak dapat ditransfer, selain itu risiko ini tidak
hanya terjadi pada saat krisis namun pada saat tidak krisis juga dapat terjadi.

Risiko likuiditas bank umum di Propinsi Bangka Belitung pada triwulan IV 2008
tergolong sangat likuid dengan besaran angka rasio likuiditas sebesar 99,77%. Dapat
dikatakan, secara umum kinerja likuiditas sangat baik. Kemampuan perbankan untuk
mengantisipasi kebutuhan likuiditas dan penerapan manajemen risiko likuiditas sangat kuat.
Rasio tersebut tercatat meningkat dibandingkan dengan rasio likuiditas triwulan
sebelumnya yang tercatat sebesar 92,54%, namun turun jika dibandingkan triwulan IV
tahun 2007 yang sebesar 111,01%.

Kajian
Kajian Ekonomi
Ekonomi RegionalPropinsi
Regional Propinsi Kepulauan
Kepulauan Bangka
BangkaBelitung Triwulan
Belitung IV 2008
Triwulan III 2007 61
Perkembangan Perbankan Daerah

Jumlah aktiva likuid kurang dari 1 bulan tercatat sebesar Rp 7,24 triliun atau
menurun sebesar 0,93% dari tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 7,31 triliun.
Jumlah pasiva likuid kurang dari 1 bulan tercatat sebesar Rp7,25 triliun atau naik
10,22% dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp6,58 triliun.

Grafik 3.21
Perkembangan Risiko Likuiditas
Perbankan Sumsel

3.3.2. Risiko Pasar


Risiko pasar merupakan fluktuasi nilai-nilai komponen-komponen aset dan
kewajiban yang terdapat dalam balance sheet yang akan terpengaruh oleh pergerakan
ekuitas dan suku bunga pasar, nilai tukar mata uang, dan harga komoditas. Risiko pasar
dalam perbankan merupakan hal yang penting. Bagi bank, risiko ini terutama tercermin
pada suku bunga dan sebagian pada nilai tukar.

Karakteristik suku bunga kredit perbankan yang cenderung kaku terhadap


penurunan namun fleksibel untuk naik, sedangkan suku bunga DPK yang relatif fleksibel
menyebabkan perbankan memiliki spread bunga keuntungan yang dapat dikelola oleh
perbankan (lihat grafik 3.22). Ditambah lagi BI Rate yang lebih tinggi dibandingkan suku
bunga DPK, dimana suku bunga simpanan 1 bulan berada pada tingkat 9,5% dan BI Rate
sebesar 9,25%. Hal ini dapat dijadikan alternatif investasi yang aman bagi perbankan untuk
menempatkan kelebihan likuiditasnya. Dengan pola seperti ini, maka fluktuasi tingkat

62 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Perbankan Daerah

bunga secara keseluruhan masih dapat dihadapi oleh perbankan dengan risiko terbesar
hanya berupa kemungkinan turunnya keuntungan.
Pendanaan perbankan di Grafik 3.22
Bangka Belitung dari deposito dan Penempatan Deposito dan Tabungan
Berdasarkan Suku Bunga
tabungan, terbesar diperoleh pada
tingkat suku bungan antara 3%
sampai 5%, sedangkan pendanaan
dari deposito dengan tingkat suku
bunga lebih dari 10% relatif kecil.
Hal ini memperlihatkan bahwa cost
of fund perbankan Bangka Belitung
untuk deposito dan tabungan
relatif tidak terlampau tinggi (lihat
grafik 3.22).
Dari sisi nilai tukar Rupiah, perbankan dapat terkena risiko pasar melalui
kewajibannya yang salah satunya berupa DPK. Namun untuk perbankan Bangka Belitung
hal ini tidak terlalu berbahaya mengingat persentase DPK dalam valas yang rendah. Pada
triwulan IV 2008 posisi DPK dalam valas sebesar Rp 0,5 triliun atau 6,60% dari total DPK.
Selain itu dukungan Bank Indonesia dan Pemerintah untuk menjaga nilai tukar juga dapat
mengurangi tekanan risiko yang berasal dari pergerakan nilai tukar. Namun demikian,
kondisi eksternal akhir-akhir ini yang relatif kurang kondusif, yaitu krisis finansial global
yang perlu untuk diwaspadai. Krisis ini dikawatirkan dapat memberi tekanan pada nilai
tukar rupiah yang dapat meningkatkan risiko pasar yang dihadapi oleh perbankan.

Kajian
Kajian Ekonomi
Ekonomi RegionalPropinsi
Regional Propinsi Kepulauan
Kepulauan Bangka
BangkaBelitung Triwulan
Belitung IV 2008
Triwulan III 2007 63
Perkembangan Perbankan Daerah

Suplemen 2

HASIL PENELITIAN DASAR POTENSI EKONOMI


(BASELINE ECONOMIC SURVEY / BLS)
DI PROPINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah UMKM di Indonesia
tercatat sebanyak 46,89 juta unit atau 99,9% dari total unit usaha dengan kontribusi
1
terhadap PDB mencapai 53% . Di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, komposisi UMKM
tidak jauh berbeda dengan kondisi nasional yaitu usaha mikro kecil mendominasi komposisi
usaha di Propinsi Bangka Belitung dengan pangsa 98,8%, sedangkan pangsa usaha
2
menengah hanya 0,89% dan usaha besar 0,31% . Sementara kontribusi UMKM dalam
menyerap tenaga kerja cukup besar yaitu sebanyak 386.742 orang pada tahun 2006,
dengan komposisi usaha besar menyerap 7,14 % angkatan kerja, usaha menengah
menyerap 5,81%, usaha kecil menyerap 39,73% dan usaha mikro menyerap paling besar
yaitu 45,45%.
Karena pentingnya peranan UMKM dalam perekonomian, dalam rangka
mendukung pengembangan sektor riil dan UMKM di Propinsi Bangka Belitung, Bank
Indonesia Palembang bekerja sama dengan Universitas Bangka Belitung (UBB) pada tahun
2008 telah melakukan penelitian dasar potensi ekonomi daerah atau dikenal dengan
baseline economic survey (BLS) di Propinsi Bangka Belitung. Penelitian ini terfokus pada
Komoditas Produk dan Jenis Usaha (KPJU) unggulan daerah yang berpotensi untuk
mendorong peningkatan dan pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM)
sehingga bisa menggerakkan perekonomian daerah setempat.
Tujuan dari pelaksanaan penelitian / BLS ini adalah untuk : (1) mengetahui profil
daerah meliputi kondisi geografis, demografi, perekonomian dan potensi sumberdaya, yang
ada di Propinsi Bangka Belitung; (2) mengetahui profil UMKM di Wilayah/Propinsi
Kepulauan Bangka Belitung termasuk faktor pendorong dan penghambat dalam
pengembangan UMKM; (3) mengidentifikasi kebijakan pemerintah baik pemerintah pusat
maupun pemerintah daerah Propinsi Kepulauan Bangka Belitung yang terkait dengan
pengembangan UMKM; (4) mengetahui peranan perbankan dalam pengembangan UMKM
di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. Selanjutnya penelitian ini diharapkan bisa memberi
informasi tentang KPJU unggulan yang perlu mendapat prioritas untuk dikembangkan di
masing-masing kabupaten/kota di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam rangka
mendukung pembangunan ekonomi daerah, penciptaan lapangan kerja dan penyerapan
tenaga kerja serta peningkatan daya saing produk. Sehingga dengan demikian, komoditas-
komoditas unggulan daerah yang ditemukan sejalan dengan empat tujuan dimaksud.
Kandidat KPJU berasal dari kunjungan lapangan yang didukung oleh data sekunder di
masing-masing kecamatan di tiap kabupaten. Dalam menyeleksi masing-masing kandidat
komoditas unggulan digunakan sebelas kriteria yakni: (i) skill tenaga kerja, (ii) bahan baku,
1
Data Kementrian Koperasi dan UMKM, 2006
2
Data BPS Bangka Belitung, 2006

64 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Perbankan Daerah

(iii) modal, (iv) sarana produksi/usaha, (v) teknologi), (vi) sosial budaya, (vii) manajemen
usaha, (viii) ketersediaan pasar, (ix) harga, (x) penyerapan tenaga kerja, (xi) sumbangan
terhadap perekonomian. Dengan menggunakan sebelas kriteria itu, kemudian dilakukan
focus group discussion (FGD) untuk menseleksi kandidat KPJU. Proses pembobotan
berdasarkan 11 kriteria tersebut menggunakan teknis analisa Analytical Hierarchy Process
(AHP) dan Metode Perbandingan Eksponensial (MPE). FGD dilakukan disetiap kabupaten
yang disurvei. Setelah ditemukan daftar komoditas unggulan, FGD kemudian memformulasi
kebijakan dan langkah pengembangan masing-masing KPJU.
BLS yang dilaksanakan tahun 2008 di Kepulauan Bangka Belitung meliputi daerah
penelitian yakni 7 Kabupaten/Kota yang berada di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung
meliputi Kota Pangkalpinang, Kabupaten Bangka, Bangka Barat, Bangka Tengah, Bangka
Selatan, Belitung dan Belitung Timur.

Dari hasil pengolahan data, komoditas yang menjadi unggulan di Propinsi


Kepulauan Bangka Belitung adalah karet, kelapa sawit, perikanan tangkap, pengolahan
hasil perikanan dan toko sembako, ikan air tawar, lada, budidaya kerapu dan toko pakaian.
Hal ini memang telah sesuai dengan kondisi sumber daya alam, visi dan misi Bangka
Belitung, serta perkembangan UMKM Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pada tabel 1,
dapat dilihat KPJU Provinsi Bangka Belitung beserta permasalahan dan rekomendasinya.

Tabel 1. KPJU Beserta Permasalahan dan Rekomendasi

KOMODITAS PERMASALAHAN REKOMENDASI

Harga bibit yang mahal karena masih didatangkan BI sebagai fasilitator dalam membahas bentuk
dari luar daerah, akses permodalan terutama pola kemitraan inti plasma yang standar antara
terbatasnya kepemilikan jaminan, kelangkaan pemerintah kabupaten dengan pihak perusahaan
dan mahalnya harga pupuk dan pestisida, BI bersama dengan pemda kabupaten bertindak
semakin terbatasnya lahan, dan struktur pasar sebagai fasilitator dalam penetapan harga Tandan
Kelapa Sawit
yang oligopoly terutama dalam hubungan Buah Segar (TBS)
kemitraan inti-plasma sehingga apabila ada
kenaikan harga di pasar internasional tidak
memberikan dampak bagi kenaikan penghasilan
petani.
Kurangnya jumlah perkebunan karet, produkvitas BI dan Pemda kabupaten/kota melakukan
kurang maksimal, bibit yang tidak unggul, umur pembahasan untuk menetapkan lokasi sentra
hutan karet yang tua, mahal nya bibit karet, pembibitan karet dan lokasi pendirian pabrik
karena masih didatangkan dari luar daerah, karet, serta memperkuat peran PUSKUD ditingkat
monopoli perusahaan pengolah karet sehingga propinsi
Karet
petani menjadi penerima harga bukan penentu
harga, masalah akses permodalan terutama
terbatasnya kepemilikan jaminan (rata-rata lahan
kebun karet belum disertifikasi), masalah
kelangkaan pupuk dan mahalnya harga pupuk.
Kurang tersedianya bibit yang unggul, kurang BI mendorong dan memfasilitasi penuh
lancarnya distribusi dan mahalnya harga pupuk pemerintah kabupaten untuk mengembalikan
dan pestisida, kurangnya modal dan lada sebagai komoditi unggulan dengan
berflutuasinya harga lada di pasaran. menyediakan sentra pembibitan lada, melakukan
Lada pengembangan teknologi penanaman,
pengolahan dan pemasaran lada. Melakukan
penguatan peran PUSKUD di tingkat Propinsi
dalam pendistribusian pupuk dan pestisida
bersubsidi

Kajian
Kajian Ekonomi
Ekonomi RegionalPropinsi
Regional Propinsi Kepulauan
Kepulauan Bangka
BangkaBelitung Triwulan
Belitung IV 2008
Triwulan III 2007 65
Perkembangan Perbankan Daerah

Perikanan Zona penangkapan ikan yang sering bentrok Perlu pembahasan bersama antara BI dengan
dengan TI Apung, alat tangkap masih dalam Pemda kabupaten/kota agar ada jaminan wilayah
teknologi yang sederhana, masih kecil nya penangkapan ikan untuk nelayan sehingga tidak
kapasitas kapal-kapal , kebutuhan modal kerja terganggu oleh aktivitas lain yang mengakibatkan
untuk melaut, terbatasnya solar bersubsidi untuk pendapatan nelayan menurun.
nelayan. Pembahasan antara BI dengan Pemda dalam
Permasalahan pembudidayaan ikan air tawar menentukan jenis ikan unggulan yang
adalah kurangnya pemahaman petani tentang dikembangkan di masing-masing kabupaten/kota
cara memelihara, kurangnya modal, kurangnya dan sekaligus membuat sentra pembibitan ikan air
sarana dalam pembudidayaan, belum optimalnya tawar di masing-masing kabupten dan kota,
peran Balai Benih Ikan (BBI) dalam menjamin melakukan pembahasan bersama tentang pola
ketersediaan bibit yang berkualitas. dan teknis pembudidayaan ikan air tawar di
masing-masing kabupaten/kota dengan
mengoptimalkan sumberdaya alam yang ada
misalnya potensi kolong bekas penambangan
timah.
Terbatasnya teknologi yang dimiliki dan dikuasai, Pembahasan bersama antara BI dengan Pemda
akses permodalan yang masih terbatas, ketiadaan kabupaten/kota untuk menetapkan produk
Pengolahan Hasil modal untuk membuat kemasan dengan desain pengolahan hasil laut yang khas antara
Perikanan unik dan menarik. kabupaten/kota sehingga lebih fokus dan tidak
menimbulkan persaingan antar kabupten/kota
Terbatasnya manajemen dan akses permodalan BI mendukung dan memfasilitasi peran
terutama kepada perbankan pemerintah kabupaten/kota dalam melakukan
pembinaan dan penguatan pengusaha UMKM,
Retailer sembako /
menjamin kelancaran jalur distribusi terutama
kelontong dan
pasokan sembilan bahan pokok dari luar daerah
toko pakaian
dengan perbaikan sarana dan prasarana seperti
pelabuhan, jalan, armada dan mempermudah
pelayanan administratif
Lemahnya manajemen pengelolaan sehingga Membantu Pemda Kabupaten/kota untuk
Hotel / penginapan kualitas pelayanan yang diberikan belum optimal, meningkatkan jumlah hunian hotel dengan
(kelas melati) kurangnya modal sehingga sulit untuk melakukan promosi wisata keluar daerah
pengembangan usaha

Sedangkan untuk meningkatkan akses permodalan bagi pengembangan KPJU


unggulan, prioritas kebijakan yang dapat dilakukan oleh pemerintah propinsi adalah :
- Perlu adanya kerjasama dengan Pemerintah Daerah kabupaten/kota untuk memberikan
subsidi bunga terutama untuk usaha skala mikro (sampai dengan Rp 50.000.000).
- Meningkatkan alokasi dana untuk bantuan biaya pengurusan sertifikat.
- Meningkatkan bantuan untuk pemberdayaan pendamping UMKM, terutama Konsultan
Keuangan Mitra Bank (KKMB), sehingga KKMB dapat bertindak sebagai fasilitator
hubungan UMKM dengan perbankan.
- Adanya pembinaan dan monitoring oleh pemerintah daerah kepada penerima fasilitas
kredit untuk KPJU unggulan secara rutin.
- Perlu melakukan kajian yang lebih mendalam tentang potensi usaha UMKM yang layak
diberikan kredit.
- Perlu menjalin kerja sama dengan berbagai pihak terkait antara lain perbankan dan lain-
lain yang dapat mengembangkan KPJU Unggulan dan potensial.

66 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Keuangan Daerah

.
PERKEMBANGAN
4
KEUANGAN DAERAH

4.1 Rencana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (RAPBD) 2009

Hingga laporan diselesaikan, Bank Indonesia Palembang belum memperoleh data realisasi
APBD 2008 Propinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Rencana Anggaran Pendapatan Daerah Propinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun


anggaran 2009 sebesar Rp 812,04 miliar, meningkat 8,79% dari tahun 2008 sebesar
Rp 746,41 miliar. Komponen penyusun pendapatan daerah adalah pendapatan asli
daerah, dana perimbangan, dan lain-lain pendapatan daerah yang sah. Pada RAPBD 2009
Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, dana perimbangan masih merupakan komponen
utama pendapatan daerah dengan proporsi sebesar 68,52%. Sedangkan pendapatan asli
daerah hanya sebesar 31,48% dari pendapatan daerah.

Dibandingkan tahun 2008, proporsi dana


Grafik 4.1
perimbangan dalam pendapatan daerah sedikit Komposisi Belanja Daerah RAPBD 2009
mengalami kenaikan dari 68,52% di tahun 2008
menjadi 68,57% di tahun 2009. Proporsi dana
perimbangan di atas 50%, memperlihatkan
masih tingginya ketergantungan Pemerintah
Propinsi Bangka Belitung kepada pemerintah
pusat. Kenaikan proporsi pada RAPBD 2009
sebagai pengaruh adanya peningkatan Dana
Sumber : Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan
Alokasi Umum (DAU) sebesar 4,33%, dari Rp dan Aset Daerah Babel

391,05 miliar menjadi Rp 407,99 miliar. DAU


memiliki proporsi terhadap dana perimbangan tertinggi, yaitu sebesar 73,28%.
Peningkatan proporsi juga terjadi pada proporsi belanja modal dari 30,09% pada APBD
Perubahan Tahun 2008 menjadi 64,95% pada RAPBD 2009.

Kajian
Kajian Ekonomi
Ekonomi RegionalPropinsi
Regional Propinsi Kepulauan
Kepulauan Bangka
BangkaBelitung Triwulan
Belitung IV 2008
Triwulan III 2007 67
Perkembangan Keuangan Daerah

Grafik 4.2 Grafik 4.3


Komposisi Pendapatan Daerah 2009 Komposisi Belanja Daerah RAPBD 2009

Sumber : Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Sumber : Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan
Aset Daerah Babel Aset Daerah Babel

4.2 Anggaran Belanja Pemerintah Pusat di Bangka Belitung Tahun 2009

Pada tahun 2009 pemerintah menganggarkan dana sebesar Rp1,24 triliun untuk lokasi di
Propinsi Bangka Belitung, meningkat sebesar 11,94% dibanding tahun 2008 yang sebesar
Rp 1,11 triliun (lihat Tabel 4.2). Anggaran belanja ini terdiri atas belanja operasi dan belanja
modal, masing-masing sebesar Rp0,89 triliun dan Rp0,36 triliun.

Tabel 4.1 Anggaran Belanja Pemerintah Menurut Lokasi


di Propinsi Bangka Belitung (Rupiah)
JENIS BELANJA 2008 2009
BELANJA OPERASI 691,451,164,000.00 885,087,460,000.00
Belanja Pegawai 249,656,181,000.00 270,402,678,000.00
Belanja Barang 189,265,316,000.00 306,299,190,000.00
Bantuan Sosial 252,529,667,000.00 308,385,592,000.00
BELANJA MODAL 416,212,758,000.00 354,853,392,000.00
JUMLAH 1,107,663,922,000.00 1,239,940,852,000.00
Sumber : Departemen Keuangan

Pada anggaran pemerintah menurut lokasi, belanja operasi terdiri atas belanja pegawai,
belanja barang, dan belanja sosial. Berdasarkan Komite Standar Akuntansi Pemerintah,
belanja pegawai merupakan belanja kompensasi, baik dalam bentuk uang maupun barang
yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang diberikan kepada

68 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Keuangan Daerah

pejabat negara, pegawai negeri sipil (PNS), dan pegawai yang dipekerjakan oleh
pemerintah yang belum berstatus PNS sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah
dilaksanakan kecuali pekerjaan yang berkaitan dengan pembentukan modal. Belanja
pegawai pada tahun 2009 dianggarkan paling rendah di antara belanja operasi lainnya,
yaitu sebesar Rp 0,27 triliun. Sedangkan belanja bantuan sosial yang merupakan transfer
uang atau barang yang diberikan kepada masyarakat guna melindungi dari kemungkinan
1
terjadinya risiko sosial , dianggarkan paling tinggi yaitu sebesar Rp 0,308 triliun. Komponen
yang membuat anggaran ini tinggi adalah anggaran pada Departemen Pendidikan
Nasional. Tingginya anggaran pendidikan ini merupakan komitmen pemerintah dalam
upaya meningkatkan pendidikan nasional, sehingga dianggarkan sebesar 20% dari RAPBD
2009. Anggaran terbesar kedua adalah belanja barang sebesar Rp 0,306 triliun. Instansi
pemerintah yang menganggarkan tinggi untuk anggaran ini adalah Kepolisian Negara
Republik Indonesia, Departemen Pekerjaan Umum, dan Departemen Agama.

Berdasarkan instansi yang menganggarkan, tiga instansi dengan anggran tertinggi adalah
Departemen Pekerjaan Umum dengan pangsa 23,87%, kemudian diikuti dengan
Departemen Pendidikan Nasional dengan pangsa 18,46%, dan Kepolisian Negara Republik
Indonesia dengan pangsa 13,39%.

Sama halnya dengan pendapatan daerah yang berasal dari APBN dan APBD, belanja daerah
juga dapat bersumber dari APBN dan APBD. Untuk tahun 2009, total belanja operasional di
Bangka Belitung adalah sebesar Rp1,53 triliun dan untuk belanja modal sebesar Rp0,70
triliun.

1
Berdasarkan Komite Standar Akuntansi Pemerintah

Kajian
Kajian Ekonomi
Ekonomi RegionalPropinsi
Regional Propinsi Kepulauan
Kepulauan Bangka
BangkaBelitung Triwulan
Belitung IV 2008
Triwulan III 2007 69
Perkembangan Keuangan Daerah

Grafik 4.4 Belanja Operasional dan Belanja Modal


Bangka Belitung Tahun 2009 (Rupiah)
1,600,000,000,000

1,400,000,000,000
Rp 650,735,997,127

1,200,000,000,000

1,000,000,000,000
Rupiah

800,000,000,000 Rp 885,087,460,000 APBD

600,000,000,000 APBN
Rp 347,219,927,791
400,000,000,000

200,000,000,000 Rp 354,853,392,000

-
Belanja Operasional Belanja Modal
Sumber : Dirjen Perimbangan dan Keuangan Departemen Keuangan dan Dinas Pendapatan
Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Babel

4.3 Dana Perimbangan Kota/Kabupaten di Propinsi Bangka Belitung Tahun 2009

Dana Perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan
kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan
desentralisasi.

Dana Alokasi Umum (DAU) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang
dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk
mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Pada tahun 2009
DAU untuk tiap kota / kabupaten sebagai berikut : Kota Pangkalpinang sebesar Rp234,87
miliar, Kabupaten Bangka sebesar Rp278,34 miliar, Kabupaten Bangka Tengah sebesar
Rp265,53 miliar dan Kabupaten Belitung sebesar Rp242,78 miliar.

Tabel 4.2 Dana Perimbangan dan Dana Alokasi Umum Kabupaten/Kota


di Bangka Belitung (Rupiah)
Dana Alokasi Umum
Kabupaten / Kota Dana Perimbangan
(DAU)
Pangkalpinang 234.87 286.63
Bangka 278.34 379.72
Bangka Tengah 265.53 265.53
Belitung 242.78 308.05
Sumber : Dirjen Perimbangan dan Keuangan Departemen Keuangan

70 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Keuangan Daerah

Dana Bagi Hasil (DBH) adalah dana yang Grafik 4.5


Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam
bersumber dari APBN yang dialokasikan kepada
Tahun 2009 (Juta Rp)
daerah berdasarkan angka persentase untuk
mendanai kebutuhan daerah dalam rangka 70,000

60,000
pelaksanaan desentralisasi. DBH bersumber dari 50,000

pajak dan sumber daya alam. DBH sumber daya 40,000

30,000
alam berasal dari minyak bumi, gas bumi,
20,000

pertambangan umum, kehutanan, dan perikanan. 10,000

-
DBH sumber daya alam untuk tiga kabupaten/kota Pangkalpinang Bangka Bangka Tengah Belitung
Dana Bagi Hasil SDA Pertambangan Umum Perikanan
di Bangka Belitung bersumber dari pertambangan
umum mempunyai pangsa lebih dari 98 persen atau sebesar Rp110.314,6 juta, sebagian
besar dari kegiatan usaha pertambangan timah. Persentase alokasi DBH sumber daya alam
terbesar ada di Kabupaten Bangka Tengah sebesar 99,27%, kemudian di Kabupaten
Bangka sebesar 99,55%, serta di Kota Pangkalpinang sebesar 98,85%.

Tabel 4.3 Dana Perimbangan Bangka Belitung Tahun 2009 (Juta Rp)
No. Uraian Pangkalpinang Bangka Bangka Tengah

1 Dana Bagi Hasil Pajak Menyusul Menyusul Menyusul


Pajak Penghasilan Menyusul Menyusul Menyusul
PBB Menyusul Menyusul Menyusul
BPHTB Menyusul Menyusul Menyusul
Cukai Menyusul Menyusul Menyusul
2 Dana Bagi Hasil SDA 21,519.00 55,522.60 34,016.36
Minyak Bumi Menyusul Menyusul Menyusul
Gas Bumi Menyusul Menyusul Menyusul
Pertambangan Umum 21,270.55 55,274.15 33,767.91
Kehutanan 0 0 0
Perikanan 248.45 248.45 248.45
3 Dana Alokasi Umum 234,867.68 278,344.85 196,785.93
4 DAK 30,245.00 45,855.00 33,727.00
Pendidikan 14,308.00 23,971.00 16,579.00
Kesehatan Menyusul Menyusul Menyusul
Infrastuktur Jalan 6,817.00 9,028.00 7,910.00
Infrastruktur Irigasi 0 2,429.00 2,091.00
Infrastruktur Air Minum dan Sanitasi 2,422.00 2,409.00 2,254.00
Parsarana Pemerintahan Menyusul Menyusul Menyusul
Kelautan dan Perikanan 2,255.00 2,850.00 2,525.00
Pertanian 2,487.00 2,544.00 2,593.00
Lingkungan Hidup 707.00 857.00 775.00
Keluarga Berencana 730.00 762.00 0
Kehutanan 0 1,005.00 0
Sarana dan Prasarana Perdesaan 0 0 0
Perdagangan 519.00 0 0
5 Dana Penyesuaian Menyusul Menyusul Menyusul
Dana Tambangan DAU untuk Guru PNSD Menyusul Menyusul Menyusul
Total Dana Perimbangan Tahun 2009 286,631.68 379,722.44 265,529.29

Sumber: Dirjen Perimbangan dan Keuangan Departemen Keuangan

Kajian
Kajian Ekonomi
Ekonomi RegionalPropinsi
Regional Propinsi Kepulauan
Kepulauan Bangka
BangkaBelitung Triwulan
Belitung IV 2008
Triwulan III 2007 71
Halaman ini sengaja dikosongkan
This page is intentionally blank
Perkembangan Sistem Pembayaran

.
PERKEMBANGAN
5
SISTEM PEMBAYARAN

5.1. Aliran Uang Masuk dan Aliran Uang Keluar

Pada triwulan IV 2008, kegiatan kas titipan di Pangkalpinang mengalami net-inflow


sebesar Rp235,93 miliar. Hal tersebut berlawanan dengan kondisi pada triwulan III 2008,
dimana tercatat net-outfow sebesar Rp33,44 miliar. Net-inflow yang terjadi pada triwulan
IV 2008 tersebut mengindikasikan penyetoran uang oleh perbankan di Bangka Belitung ke
kas titipan (inflow) lebih besar dibandingkan uang yang ditarik oleh perbankan dari kas
titipan (outflow). Hal tersebut merupakan fenomena di luar kelaziman dimana di Bangka
Belitung biasanya terjadi net-outflow. Kondisi yang terjadi pada triwulan IV 2008 tersebut
tidak terlepas sebagai imbas dari krisis keuangan global yang dampaknya juga dirasakan
oleh masyarakat Bangka Belitung terutama terkait dengan penurunan harga komoditas
primer Bangka Belitung yakni timah, karet dan sawit. Penurunan harga komoditas tersebut
berdampak pada penurunan aktivitas ekonomi Bangka Belitung yang pada gilirannya
menurunkan kebutuhan terhadap uang kartal untuk melakukan transaksi. Penurunan
kebutuhan uang kartal terutama terjadi pada sektor pertambangan dan penggalian dimana
penurunan harga timah di pasar dunia menyebabkan penurunan aktivitas penambangan
maupun pengumpulan oleh pedagang pengumpul yang lebih banyak menggunakan uang
kartal dalam transaksinya.

Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008 73


Perkembangan Sistem Pembayaran

Grafik 5.1
Perkembangan Kas Titipan Pangkalpinang
Periode 2007-2008
1,800,000 300,000
1,600,000 250,000

1,400,000 200,000
150,000
1,200,000
100,000
Juta Rp

Juta Rp
1,000,000
50,000
800,000
-
600,000
(50,000)
400,000 (100,000)
200,000 (150,000)
- (200,000)
Tw I T w II T w III T w IV Tw I T w II T w III T w IV

2007 2008

Perkembangan kas titipan Pangkalpinang pada triwulan IV 2008 menunjukkan


jumlah aliran uang keluar (outflow) sebesar Rp 942,67 miliar atau meningkat sebesar
6,83% dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya (yoy) yang tercatat sebesar
Rp882,44 miliar. Di sisi lain, secara tahunan, aliran uang masuk (inflow) juga mengalami
peningkatan sebesar Rp 466,56 miliar atau 65,52%, yaitu dari Rp712,03 miliar menjadi
Rp1.178,59 miliar.

Berbeda dengan perkembangan secara tahunan, apabila dibandingkan dengan


triwulan sebelumnya (qtq), aliran uang keluar (outflow) menurun Rp497,12 miliar atau
34,53%dari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp1.439,79 miliar. Demikian pula dengan
aliran uang masuk (inflow) yang menurun Rp227,76 miliar atau 16,2 %dibanding triwulan
sebelumnya yang tercatat sebesar Rp1.406,35 miliar menjadi Rp1.178,59 miliar. Sehingga
net-inflow pada triwulan IV 2008 tercatat sebesar Rp Rp235,93 miliar, meningkat 805,56%
dibanding triwulan III 2008 yang mencatat net-outfow sebesar yakni dari Rp33,44 miliar.

5.2. Penyediaan Uang Layak Edar

Selain bertugas menyediakan uang tunai dalam jumlah yang cukup, Bank Indonesia juga
senantiasa menjaga agar kualitas fisik uang yang dipegang masyarakat tetap segar dengan
melakukan clean money policy, yaitu secara reguler menarik dan memusnahkan uang yang
tidak layak edar dan mengganti dengan yang layak edar.
Jumlah uang lusuh yang ditunjukkan oleh jumlah penarikan uang dengan
Pemberian Tanda Tidak Berharga (PTTB) selama triwulan IV 2008 mencapai Rp27,25 miliar,

74 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV2008


Perkembangan Sistem Pembayaran

atau meningkat 85,65% dari tahun lalu (yoy) yang tercatat sebesar Rp14,68 miliar.
Dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (qtq) juga terjadi penurunan penarikan uang
lusuh sebesar 19,27% dari sebesar Rp22,85 miliar menjadi Rp27,25 miliar. Rasio antara
uang lusuh yang ditandai dengan Pemberian Tanda Tidak berharga (PTTB) dengan uang
masuk (inflow) tercatat sebesar 2,31%, sedikit meningkat dari rasio pada tahun sebelumnya
yang tercatat sebesar 2,06% maupun dibandingkan dengan rasio pada triwulan
sebelumnya yang tercatat sebesar 1,62 persen. Pelaksanaan clean money policy biasanya
dilakukan bersamaan dengan kegiatan pengiriman uang ke Pangkalpinang, dimana Bank
Indonesia membawa uang yang tidak layak edar dari Bangka Belitung untuk dimusnahkan
di Bank Indonesia Palembang. Aktivitas pengiriman uang pada triwulan IV 2008 kerap
terganggu oleh buruknya kondisi cuaca perairan sehingga menurunkan frekuensi kegiatan.

Grafik 5.2
Perkembangan Pemberian Tanda Tidak Berharga di Pangkalpinang

45 4.73 5
41.63
40 5
35 4
30 27.25 4
24.31
Miliar Rp

2.57 2.66 22.85 3

Persen
25 30.51
2.31
2.06
3
20 1.74 2.33 2
15 20.82
14.68 1.62 2
10 13.37 1
5 1
- -
Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV

2007 2008

PTTB Rasio PTTB terhadap Inflow (axis kanan)

Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008 75


Perkembangan Sistem Pembayaran

5.3. Perkembangan Kegiatan Kliring Lokal

Dalam rangka mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran non-tunai, Bank
Indonesia mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk terciptanya sistem
pembayaran yang efisien, cepat dan aman, yang salah satunya melalui sistem kliring.

Berbeda dengan aktivitas perkasan, perputaran kliring pada triwulan IV 2008 secara
tahunan (yoy) mengalami peningkatan dari nilai nominal dibandingkan dengan triwulan IV
2007, kendati dari jumlah warkat mengalami penurunan. Dari segi nominal, perputaran
kliring mengalami peningkatan sebesar 22,62% atau sebesar Rp118,47 miliar yakni dari
Rp523,57 miliar menjadi Rp642,02 miliar. Dari jumlah warkat, perputaran kliring triwulan IV
2008 mengalami penurunan sebesar 1,3% atau sebanyak 201 lembar dari 15.441 lembar
pada triwulan IV 2007 menjadi 15.240 lembar pada triwulan IV 2008.

Pembayaran non-tunai ditandai oleh peningkatan penarikan cek dan bilyet giro
kosong baik dalam jumlah warkat maupun nominal. Jumlah warkat cek/bilyet giro kosong
meningkat sebanyak 105 lembar atau 86,78%, yaitu dari 121 lembar pada triwulan IV
2007 menjadi 226 lembar pada triwulan IV 2008 dan dari sisi nominal meningkat sebesar
Rp2,36 miliar atau 36,39% yakni dari Rp6,49 miliar pada triwulan IV 2007 menjadi Rp8,86
miliar pada triwulan IV 2008.
Tabel 5.1
Perputaran Kliring dan Cek/Bilyet Giro Kosong
Propinsi Kepulauan Bangka Belitung
2007 2008
Keterangan
Tw-II Tw-III Tw-IV Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV
Perputaran Kliring
- Lembar warkat 14.261 13.405 15.441 16.646 17.862 17.965 15.240
- Nominal (juta Rp) 482.526 396.927 523.573 549.514 612.288 672.309 642.019
Cek/Bilyet Giro
Kosong
- Lembar warkat 60 89 121 93 109 125 226
- Nominal (juta Rp) 1.674 2.495 6.494 3.214 3.324 3.166 8.858

Secara triwulanan (qtq), perputaran kliring pada triwulan IV 2008 mengalami


penurunan dari jumlah warkat maupun nominal. Jumlah warkat menurun sebesar 15,17%
atau sebanyak 2.725 lembar yakni dari sebanyak 17.965 lembar menjadi 15.240 lembar.

76 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV2008


Perkembangan Sistem Pembayaran

Dari sisi nominal juga menurun sebesar 4,51% atau sebesar Rp30,29 miliar dari posisi
triwulan III 2008 yang tercatat sebesar Rp672,31 miliar.
Berlawanan dengan perkembangan perputaran kliring yang menurun, jumlah penarikan
cek/bilyet giro kosong justru mengalami peningkatan baik dalam warkat maupun
nominalnya. Jumlah warkat cek/bilyet giro kosong pada triwulan IV 2008 tercatat
meningkat 80,80 % yakni dari 125 lembar menjadi 226 lembar, dan secara nominal
meningkat 179,78 % yakni dari sebesar Rp3,17 miliar menjadi Rp8,86 miliar. Peningkatan
nominal jumlah penarikan cek/bilyet giro kosong tersebut menyebabkan rasio penarikan
cek/bilyet giro terhadap kegiatan kliring mengalami peningkatan yakni dari sebesar 0,47%
pada triwulan III 2008 menjadi 1,38 % pada triwulan IV 2008, demikian pula dengan rasio
lembar cek/bilyet giro kosong terhadap jumlah lembar warkat dari sebesar 0,7% pada
triwulan III 2008 menjadi 1,48% pada triwulan IV 2008.

Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008 77


Halaman ini sengaja dikosongkan
This page is intentionally blank
Perkembangan Kesejahteraan Masyarakat

.
PERKEMBANGAN
6
KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

6.1. Pendapatan per Kapita

Pendapatan per kapita penduduk Bangka Belitung pada triwulan IV 2008


mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pendapatan
per kapita atas dasar harga berlaku pada triwulan IV 2008 tercatat sebesar Rp5,089 juta
meningkat sebesar 0,19% dibanding triwulan III 2008 yang sebesar Rp5,079 juta.
Sementara itu, apabila didasarkan atas harga konstan tahun 2000, pendapatan per kapita
pada triwulan IV 2008 mengalami penurunan sebesar 0,68%dibanding triwulan
sebelumnya yakni dari Rp2,212 juta menjadi Rp2,197 juta.

Menurunnya pendapatan per kapita atas dasar harga konstan tersebut tidak
terlepas dari penurunan harga-harga komoditas primer di Bangka Belitung yang mulai
terjadi pada triwulan IV 2008, sebagai imbas dari krisis ekonomi global yang berdampak
pada penurunan aktivitas ekonomi utama seperti di sektor pertambangan dan penggalian
serta sektor pertanian. Hal tersebut berimbas pada menurunnya pendapatan dan
kesejahteraan masyarakat terutama yang bergerak di sektor ekonomi utama seperti
pertambangan timah, karet, lada dan sawit. Namun pada tahun 2009, dengan adanya
kenaikan Upah Minimum Propinsi (UMP) sebesar 4,55% dari Rp813.000,00 per bulan
menjadi Rp850.000,00, diharapkan dapat meningkatkan pendapatan per kapita di tahun
2009. UMP merupakan upah bulanan terendah yang diterima oleh pekerja untuk
waktu kerja 7 jam sehari dan 40 jam seminggu.

Kajian Ekonomi
Kajian Regional
Ekonomi RegionalPropinsi
Propinsi Kepulauan BangkaBelitung
Kepulauan Bangka Belitung Triwulan
Triwulan III 2007
IV 2008 79
Perkembangan Kesejahteraan Masyarakat

Grafik 6.1
Perkembangan Pendapatan per Kapita Penduduk Bangka Belitung

Sumber : BPS Propinsi Bangka Belitung

Hasil Survei Konsumen yang dilakukan secara bulanan oleh Bank Indonesia
Palembang, pada bulan Desember 2008 indeks pendapatan saat ini dibanding 6 bulan yang
lalu tercatat sebesar 111, atau menurun dibanding indeks bulan September 2008 yang
sebesar 131,5. Demikian pula bila dibandingkan dengan indeks pada bulan Desember 2007
yang mencapai 121. Penurunan indeks pendapatan tersebut tidak terlepas dari dampak
penurunan harga komoditas primer Bangka Belitung di pasar internasional sebagai imbas
krisis ekonomi global.
Selain itu, indeks ketepatan waktu membeli barang tahan lama juga mengalami
penurunan dimana pada bulan Desember 2007 tercatat sebesar 84,5 dan September 2008
sebesar 93, menurun cukup signifikan menjadi sebesar 60,5 pada bulan Desember 2008.
Selain disebabkan oleh penurunan pendapatan, penurunan indeks ketepatan membeli
barang tahan lama juga dikarenakan kenaikan harga barang-barang tahan lama yang
antara lain dipengaruhi oleh pergerakan kurs mata uang.

80 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Kesejahteraan Masyarakat

Grafik 6.2
Perkembangan Indeks Penghasilan dan Ketepatan Waktu Konsumsi
2007-2008

140 

130 
Optimis

120 

110 
Indeks

100 
Pesimis

90 

80 

70 

60 
Juni Juli Agust Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli  Agust Sept Okt Nov Dec
Penghasilan saat ini dibandingkan 6 bln yang 
112 120 125 121 125 130 134 117 95 95 124 136 132 127 122 111
lalu
Ketepatan waktu pembelian (konsumsi) 
99 92 115 96 74 89 85 73 89 86 75 70 71 61 75 93 97 85 61
barang tahan lama

6.2. Kondisi Ketenagakerjaan


Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Bangka Belitung, terjadi penurunan
kondisi ketenagakerjaan pada bulan Februari 2008 dibanding kondisi pertengahan tahun
2007 (Sakernas Agustus 2007). Pada bulan Februari 2008 jumlah angkatan kerja sebesar
501.386 orang turun dari 507.962 orang di bulan Agustus 2007, atau turun sebanyak
6.576 orang. Namun penurunan ini tidak terjadi pada bulan Agustus 2008, dimana terjadi
peningkatan pada bulan Agustus 2008 dibanding kondisi awal tahun 2008 (Sakernas
Februari 2008). Pada bulan Agustus 2008, jumlah angkatan kerja mencapai 524.430 orang
dari 501.386 orang pada bulan Februari 2008, atau naik sebanyak 23.044 orang. Pada
kurun waktu 3 tahun terakhir sektor primer masih tetap menjadi tumpuan utama dalam
penyerapan tenaga kerja dengan lebih dari 50 %tenaga kerja terserap di sektor ini.

Kajian Ekonomi
Kajian Regional
Ekonomi RegionalPropinsi
Propinsi Kepulauan BangkaBelitung
Kepulauan Bangka Belitung Triwulan
Triwulan III 2007
IV 2008 81
Perkembangan Kesejahteraan Masyarakat

6.2.1. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja dan Tingkat Pengangguran Terbuka

Dari struktur angkatan kerja juga dapat dilihat Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
(TPAK) yang merupakan perbandingan antara jumlah penduduk yang masuk angkatan
kerja dibanding dengan
jumlah penduduk usia Grafik 6.3
Perkembangan TPAK dan TPT
15 tahun ke atas. TPAK Propinsi Kep. Bangka Belitung
pada bulan Agustus
2008 menunjukkan
peningkatan
apabila dibandingkan
dengan TPAK pada
Februari 2008 dimana
pada bulan Agustus
2008 TPAK mencapai
63,75 persen, yang
meningkat dibanding
bulan Februari 2008
yang mencapai
Sumber : BPS Propinsi Bangka Belitung
61,36%. Hal tersebut
menunjukkan bahwa dari penduduk usia kerja atau penduduk berumur 15 tahun ke atas di
Bangka Belitung, sebanyak 63,75% aktif secara ekonomi.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada bulan Agustus 2008 tercatat sebesar
4,01%, menurun dibandingkan bulan Februari 2008 yang mencapai 5,79%. Penurunan
TPT tersebut disebabkan oleh meningkatnya aktivitas ekonomi terutama di sektor sekunder
antara lain sektor bangunan terkait dengan peningkatan realisasi pelaksanaan
pembangunan proyek infrastruktur baik dengan pendanaan APBN maupun APBD pada
pertengahan tahun 2008 dibanding awal tahun 2008.

6.2.2. Lapangan Pekerjaan

Kondisi ketenagakerjaan apabila dilihat dari persentase penyerapan tenaga kerja di


setiap sektor ekonomi menunjukkan perubahan kontribusi pada Agustus 2008 dibanding
Februari 2008. Meskipun demikian sektor primer masih menjadi sektor ekonomi yang

82 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Kesejahteraan Masyarakat

menyerap tenaga kerja terbesar diikuti oleh sektor tersier dan sektor sekunder. Penyerapan
tenaga kerja terbesar di sektor primer pada Agustus 2008 terjadi di sektor pertanian,
meskipun persentasenya mengalami penurunan dibanding bulan Februari 2008. Di sektor
sekunder, pada bulan Agustus 2008, sektor bangunan memberikan kontribusi terbesar di
sektor sekunder. Kontribusi tersebut mengalami pergeseran dibanding bulan Februari 2008
dimana sektor pertambangan dan penggalian yang memberikan kontribusi terbesar di
sektor sekunder. Sementara itu, di sektor tersier, sektor perdagangan, hotel dan restoran
masih tetap menjadi sektor yang memberikan kontribusi terbesar dalam penyerapan tenaga
kerja.

Dalam penyerapan tenaga kerja pada Agustus 2008, sektor primer menyerap
tenaga kerja sebesar 54,33%, menurun dibanding bulan Februari 2008 yang sebesar
57,4%. Penurunan yang terjadi pada sektor primer sebesar 3,07% tersebut dikarenakan
terjadi peralihan tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor lain dimana pada bulan
Februari 2008 penyerapan tenaga kerja sebesar 32,8% menjadi 29,59% pada Agustus
2008. Peralihan dari sektor pertanian tersebut ditengarai terkait dengan mulai merosotnya
harga komoditas sub sektor perkebunan seperti harga tandan buah segar kelapa sawit dan
karet, sehingga sektor ekonomi lain menjadi pilihan bagi tenaga kerja baik ke sektor
sekunder maupun sektor tersier.

Berlawanan dengan sektor pertanian yang mengalami penurunan penyerapan


tenaga kerja, sektor pertambangan dan penggalian pada bulan Agustus 2008 masih
mampu mencatat peningkatan yakni dari sebesar 24,6% pada bulan Februari 2008 menjadi
24,75%. Meskipun harga timah mulai menunjukkan penurunan pada bulan Agustus 2008,
tenaga kerja masih menilai bahwa sektor pertambangan dan penggalian cukup baik untuk
mencari mata pencaharian.

Kajian Ekonomi
Kajian Regional
Ekonomi RegionalPropinsi
Propinsi Kepulauan BangkaBelitung
Kepulauan Bangka Belitung Triwulan
Triwulan III 2007
IV 2008 83
Perkembangan Kesejahteraan Masyarakat

Tabel 6.1
Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas yang Bekerja menurut Lapangan Pekerjaan
di Propinsi Kep. Bangka Belitung Tahun 2006-2008
Agustus 2006 Februari 2007 Agustus 2007 * Februari 2008 Agustus 2008 *)
Sektor
Absolut % Absolut % Absolut % Absolut % Absolut %

Sektor Primer 253.620 59.4 262.383 55.4 216.667 55.2 271.038 57.4 273.501 54.33

Pertanian 122.895 28.8 37.693 29.1 163.541 34.4 154.934 32.8 148.938 29.59

Pertambangan 130.725 30.6 124.690 26.3 99.022 20.8 116.104 24.6 124.563 24.75
Sektor
36.388 8.5 47.636 10.1 42.628 9.0 48.260 10.2 55.261 10.98
Sekunder
Industri 15.873 3.7 24.459 5.2 19.363 4.1 26.890 5.7 25.688 5.10

LGA 794 0.2 1.193 0.3 1.767 0.4 646 0.1 991 0.20

Bangunan 19.721 4.6 21.984 4.6 21.492 4.5 20.724 4.4 28.582 5.68

Sektor Tersier 137.320 32.1 63.884 34.6 168.821 35.8 153.071 32.4 174.623 34.69

PHR 68.858 16.1 91.529 19.3 88.714 16.1 83.189 17.6 90.887 18.06

Pengakutan 15.065 3.5 17.085 3.6 21.031 3.5 14.899 3.2 14.213 2.82

Keuangan 4.260 1.0 6.610 1.4 5.277 1.0 1.857 0.4 4.591 0.91

Jas-jasa 49.137 11.5 48.,660 10.3 54.799 11.5 53.126 11.2 64.932 12.90

Total 427.328 100 473.903 100 475.006 100 472.369 100 503.385 100

* Angka Revisi *) Angka Sementara


Sumber : Sakernas BPS,

Di sektor sekunder, penyerapan tenaga kerja pada Agustus 2008 tercatat sebesar
10,98%, yang mengalami sedikit peningkatan dibanding Februari 2008 yang mencapai
10,2%. Sektor ekonomi pada sektor sekunder yang mengalami peningkatan penyerapan
tenaga kerja adalah sektor listrik, gas dan air yakni sebesar 0,2% pada Agustus 2008 dari
sebesar 0,1% pada Februari 2008. Selain itu, sektor bangunan mencatat penyerapan
tenaga kerja yang cukup besar yakni dari sebesar 4,4% pada Februari 2008 menjadi 5,68%
pada Agustus 2008. Di sisi lain, sektor industri pengolahan justru mengalami penurunan
persentase penyerapan tenaga kerja yakni dari sebesar 5,7% pada Februari 2008 menjadi
5,1%, yang merupakan imbas dari penurunan penyerapan tenaga kerja pada sektor
pertanian sebagai basis bahan baku industri pengolahan.
Sektor tersier pada Agustus 2008 mencatat peningkatan persentase penyerapan
tenaga kerja yakni dari sebesar 32,4% pada Februari 2008 menjadi 34,69%. Sektor
ekonomi yang mencatat peningkatan persentase penyerapan tenaga kerja adalah sektor

84 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Kesejahteraan Masyarakat

perdagangan, hotel dan restoran dari 17,6% pada Februari 2008 menjadi 18,06% pada
Agustus 2008, sektor keuangan dan jasa perusahaan dari 0,4% menjadi 0,91% dan sektor
jasa-jasa dari 11,2% menjadi 12,90%. Peningkatan persentase penyerapan tenaga kerja
disebabkan oleh peningkatan aktivitas pada sektor ekonomi-sektor ekonomi tersebut terkait
dengan puasa dan perayaan Idul Fitri, Idul Adha, Natal dan tahun baru. Berlawanan dengan
ketiga sektor ekonomi yang mencatat peningkatan penyerapan tenaga kerja tersebut,
sektor pengangkutan dan komunikasi justru mengalami penurunan yakni dari sebesar 3,2%
menjadi 2,82%.

6.2.3. Pengangguran Terselubung

Pengangguran terselubung atau setengah pengangguran merupakan angkatan


kerja yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu. Angka ini dapat dipergunakan untuk
melihat produktivitas secara umum. Pekerja yang bekerja kurang dari 35 jam secara umum
dapat diartikan memiliki produktivitas kurang dibanding tenaga kerja yang bekerja sama
atau lebih dari 35 jam selama seminggu.

Jumlah pengangguran terselubung di Propinsi Bangka Belitung pada Agustus 2008


sebesar 31,8% yang dapat diartikan bahwa dari setiap 100 orang pekerja terdapat 31-32
orang pekerja yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu. Angka tersebut meningkat
dibanding posisi Februari 2008 yang tercatat sebesar 39,2%. Peningkatan angka
pengangguran terselubung pada Agustus 2008 tersebut menunjukkan penurunan
produktivitas tenaga kerja di Bangka Belitung yang dipengaruhi oleh menurunnya aktivitas
ekonomi yang pada triwulan IV 2008.
Hasil survei konsumen di Kota Pangkalpinang, mengkonfirmasi masih belum
baiknya ketersediaan lapangan kerja. Hal tersebut terlihat dari penurunan baik indeks
ketersediaan lapangan kerja saat ini maupun indeks untuk 6 bulan yang akan datang di
bulan Desember 2008 dibandingkan bulan September 2008. Indeks ketersediaan lapangan
kerja saat ini pada bulan Desember 2008 mengalami penurunan dari 82,00 menjadi 74,00.
Dan pada indeks ketersediaan lapangan kerja untuk 6 bulan yang akan datang menurun
dari 93,00 di bulan September 2008 menjadi 89,50. Penurunan kedua indeks tersebut
menunjukkan semakin dalamnya tingkat pesimisme masyarakat terhadap ketersediaan
lapangan kerja ditunjang dengan kondisi ekonomi global yang belum pasti.

Kajian Ekonomi
Kajian Regional
Ekonomi RegionalPropinsi
Propinsi Kepulauan BangkaBelitung
Kepulauan Bangka Belitung Triwulan
Triwulan III 2007
IV 2008 85
Perkembangan Kesejahteraan Masyarakat

Grafik 6.4
Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja 2007 – 2008

140
Optimis

120 104.50

100 93.0
89.50
97.00 79.50
Indeks

80
82.0
75.00 74.00
Pesimis

60

40

20

-
Juni Agust Okt Des Feb Apr Juni Agust Okt Dec

Ketersediaan lapangan kerja saat ini Ketersediaan lapangan kerja 6 bulan yad

6.3. Nilai Tukar Petani (NTP)


Sejalan dengan menurunnya pendapatan per kapita atas dasar harga konstan,
indeks Nilai Tukar Petani (NTP) di Bangka Belitung pada bulan November 2008
menunjukkan penurunan setelah sebelumnya sejak Juni 2008 mulai meningkat. Pada bulan
November 2008 NTP mencapai 91,99 yang mengalami penurunan dibandingkan bulan
September 2008 yang tercatat sebesar 100,49. Penurunan nilai indeks tersebut
menunjukkan tingkat kesejahteraan petani mengalami penurunan karena nilai pendapatan
yang diterima petani lebih kecil dari biaya yang harus dibayar oleh petani.
Indeks dibayar petani yang mencerminkan pengeluaran menunjukkan
kecenderungan yang terus meningkat sejak awal tahun terkait dengan kenaikan harga
barang dan jasa kebutuhan petani. Sementara itu indeks nilai diterima petani yang
mencerminkan pendapatan petani berfluktuasi, sehingga NTP pada tahun 2008 berfluktuasi
dengan pencapaian NTP tertinggi terjadi pada bulan Februari 2008 yakni sebesar 104,32,
kemudian menurun sampai bulan Mei 2008. Pada bulan Juni 2008 NTP mulai meningkat
kembali hingga bulan September 2008 dan kembali menurun mulai bulan Oktober 2008.

86 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Kesejahteraan Masyarakat

Grafik 6.5
Perkembangan Nilai Tukar Petani 2008 (Indeks)
106  5
104 
4
102 
100  3
Indeks 98 
2

Persen
96 
94 
1
92 
90  0

88 
‐1
86 
84  ‐2
Jan  Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sept Okt Nov
Nilai Tukar Petani (Axis kiri) 102.72  104.32  103.06  101.48  99.90  99.12  99.22  99.34  100.49 93.49  91.99 
Inflasi (mtm)  (Axis kanan) 4.31 2.07 0.05 1.00 2.41 4.20 1.01 2.91 0.30 0.43 ‐0.93

Sumber: BPS Propinsi Kepulauan Bangka Belitung

Perkembangan NTP Bangka Belitung pada triwulan IV 2008 sejalan dengan inflasi
bulanan Kota Pangkalpinang yang mengindikasikan bahwa penurunan NTP menyebabkan
penurunan tingkat kesejahteraaan masyarakat petani yang berimbas pada penurunan
tingkat permintaan terhadap barang dan jasa.

6.4. Jumlah Penduduk dan Penduduk Miskin


Pada triwulan IV 2008, jumlah penduduk Bangka Belitung tercatat sebanyak
1.154.517 jiwa, atau meningkat 1,19% dibanding tahun 2007 yang tercatat sebanyak
1.140.971 jiwa.
Untuk mengukur kemiskinan, BPS mengunakan konsep kemampuan memenuhi
kebutuhan dasar (basic needs). Sehingga dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang
sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan
dan bukan makanan diukur dari sisi pengeluaran. Berdasarkan pendekatan ini, dapat
dihitung jumlah penduduk yang hidup di bawah Garis Kemiskinan (GK) yang dinyatakan
sebagai penduduk miskin.
Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita
per bulan di bawah Garis Kemiskinan yang terdiri dari dua komponen yakni Garis
Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM). Dalam

Kajian Ekonomi
Kajian Regional
Ekonomi RegionalPropinsi
Propinsi Kepulauan BangkaBelitung
Kepulauan Bangka Belitung Triwulan
Triwulan III 2007
IV 2008 87
Perkembangan Kesejahteraan Masyarakat

melakukan penghitungan garis kemiskinan, untuk daerah perkotaan dan daerah perdesaan
dilakukan secara terpisah. Sumber data utama yang dipergunakan untuk menghitung data
kemiskinan adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS ) serta Survei Paket
Komoditi Kebutuhan Dasar (SPKKD) yang dipakai utnuk memperkirakan proporsi
pengeluaran masing-masing komoditi pokok bukan makanan.
Selama Maret 2007 – Maret 2008, Garis Kemiskinan di Bangka Belitung secara
umum meningkat 4,58% yakni dari sebesar Rp235.379 per kapita pada bulan Maret 2007
menjadi Rp246.149 per kapita per bulan pada bulan Maret 2008. Berdasarkan daerahnya,
Garis Kemiskinan daerah perkotaan mengalami kenaikan dari Rp236.854 per kapita per
bulan pada Maret 2007 menjadi Rp250.240 per kapita per bulan pada Maret 2008 atau
meningkat 5,65%. Demikian pula dengan daerah pedesaan, Garis Kemiskinan mengalami
kenaikan dari Rp234.028 per kapita per bulan pada Maret 2007 menjadi Rp242.441 per
kapita per bulan atau meningkat 3,59% pada Maret 2008.
Tabel 6.2
Garis Kemiskinan, Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin
Di Bangka Belitung Maret 2007 – Maret 2008
Persentase
Garis Kemiskinan Jumlah Penduduk
Daerah Penduduk
(Rp/Kapita/Bulan) Miskin (Ribuan)
Miskin
Perkotaan
Maret 2007 236,854 38.6 8.09
Maret 2008 250,240 36.5 7.57
Perdesaan
Maret 2007 234,028 56.5 10.87
Maret 2008 242,441 50.2 9.52
Kota+Desa
Maret 2007 235,379 95.1 9.54
Maret 2008 246,169 86.7 8.58
Sumber : BPS Propinsi Bangka Belitung

Berdasarkan komponen Garis Kemiskinan, pada bulan Maret 2008 Garis Kemiskinan
Makanan (GKM) lebih besar peranannya dibanding Garis Kemiskinan Bukan Makanan
(GKBM) yakni perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Kontribusi GKM pada
Maret 2008 secara umum tercatat sebesar 74,57% atau Rp183.567 per kapita per bulan.
Sementara itu berdasarkan daerah, di perkotaan GKM tercatat sebesar 72,62% atau
Rp181.713 per kapita per bulan dan di perdesaan GKM mencapai 76,42% atau Rp185.266
per kapita per bulan.

88 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Kesejahteraan Masyarakat

Tabel 6.3
Garis Kemiskinan menurut Daerah dan Komponen
Di Bangka Belitung Maret 2008 (Rupiah per Kapita per Bulan)

Daerah Makanan Bukan Makanan Total


Perkotaan
Nominal 181,713.00 68,526.00 250,240.00
Kontribusi (%) 72.62 27.38
Perdesaan
Nominal 185,266.00 57,176.00 242,441.00
Kontribusi (%) 76.42 23.58
Kota+Desa
Nominal 183,567.00 62,601.00 246,169.00
Kontribusi (%) 74.57 25.43
Sumber : BPS Propinsi Bangka Belitung

Selain melihat jumlah dan persentase penduduk miskin, dimensi lain yang perlu
diperhatikan dalam masalah kemiskinan adalah tingkat kedalaman dan keparahan
kemiskinan. Berdasarkan data dari BPS setempat, pada periode Maret 2007 – Maret 2008,
Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan di Bangka Belitung
menunjukkan kecenderungan menurun. Indeks Kedalaman Kemiskinan merupakan ukuran
rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis
kemiskinan. Pada Maret 2008, indeks tercatat sebesar 1,28, menurun dibanding periode
Maret 2007 yang tercatat sebesar 1,68. Demikian pula dengan Indeks Keparahan
Kemiskinan yang turun dari 0,47 pada Maret 2007 menjadi 0,31 pada Maret 2008. Indeks
ini memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran di antara penduduk miskin.
Penurunan nilai kedua indeks ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk
miskin cenderung makin mendekati garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran
penduduk miskin juga semakin menyempit.

Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan III 2007 89
Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008
Perkembangan Kesejahteraan Masyarakat

Tabel 6.4
Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan
Di Bangka Belitung Maret 2007 - Maret 2008
Daerah Kota Desa Kota+Desa
Indeks Kedalaman Kemiskinan
Maret 2007 1.25 2.08 1.68
Maret 2008 1.15 1.40 1.28
Indeks Keparahan Kemiskinan
Maret 2007 0.32 0.60 0.47
Maret 2008 0.30 0.33 0.31
Sumber : BPS Propinsi Bangka Belitung

Pada bulan Maret 2008, Indeks Kedalaman Kemiskinan di perkotaan sebesar 1,15
sedangkan di perdesaan sebesar 1,40. Demikian pula dengan Indeks Keparahan Kemiskinan
di perkotaan tercatat sebesar 0,30 sementara di perdesaan sebesar 0,33. Indeks yang lebih
tinggi di perdesaan baik kedalaman maupun keparahan kemiskinan menunjukkan bahwa
tingkat kemiskinan di perdesaan lebih parah dibanding di perkotaan, sehingga diperlukan
upaya lebih dan nyata dalam menggerakkan sektor riil sehingga kesejahteraan masyarakat
perdesaan meningkat.
Dalam rangka menanggulangi kemiskinan, salah satu program pemerintah adalah
melalui penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang pada tahun 2008 dibagi menjadi 2
tahap yakni tahap I dengan periode dari tanggal 22 Mei 2008 – 31 Agustus 2008 dan
tahap II dengan periode dari tanggal 1 September 2008 – 31 Januari 2009. Penyaluran BLT
tahap II direncanakan di 26 kota termasuk Bangka Belitung yakni (1) Banda Aceh, (2)
Padang, (3) Pekanbaru, (4) Jambi, (5) Bengkulu, (6) Bandar Lampung, (7) Pangkalpinang,
(8) Tanjung Pinang, (9) Bogor, (10) Serang, (11) Denpasar, (12) Mataram, (13) Pontianak,
(14) Palangkaraya, (15) Samarinda, (16) Manado, (17) Palu, (18) Gowa, (19) Maros,
(20) Kendari, (21) Gorontalo, (22) Mamuju, (23) Ambon, (24) Ternate, (25) Manokwari, dan
(26) Jayapura.
Berdasarkan data dari BPS setempat, alokasi penerima BLT tahun 2008 yang
menggunakan data hasil Pendataan Sosial Ekonomi tahun 2005 (PSE05), tercatat sebanyak
33.652 rumah tangga sasaran, dengan rincian sebanyak 8.391 rumah tangga sangat
miskin, 18.692 rumah tangga miskin dan 6.569 rumah tangga hampir miskin. Kabupaten
Bangka merupakan wilayah yang jumlah rumah tangga sasaran penerima BLT paling

90 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Kesejahteraan Masyarakat

banyak yakni 7.176 rumah tangga diikuti oleh Kabupaten Belitung 5.091 rumah tangga
dan Kabupaten Bangka Selatan 4.894 rumah tangga.
Tabel 6.5
Alokasi Penerima BLT Tahun 2008 di Bangka Belitung (Rumah Tangga Sasaran)
J umlah Alokasi BLT per Kabupaten
No. Kabupaten/Kota
S angat Miskin Miskin Hampir Miskin Total
1 Kabupaten B angka 1.724 4.432 1.020 7.176
2 Kabupaten B angka B arat 1.455 2.399 315 4.169
3 Kabupaten B angka S elatan 1.722 2.079 1.093 4.894
4 Kabupaten B angka Tengah 1.032 1.588 307 2.927
5 Kabupaten B elitung 1.062 3.066 1.773 5.901
6 Kabupaten B elitung Timur 778 2.852 1.122 4.752
7 Kota P angkalpinang 618 2.276 939 3.833
J umlah 8.391 18.692 6.569 33.652
Sumber: BPS Propinsi Kepulauan Bangka Belitung

Berdasarkan data dari PT. Pos Indonesia, penyerapan dana BLT tahap I di Bangka
Belitung hingga akhir masa pembayaran yakni dari periode 22 Mei - 31 Agustus 2008
tercapai sebanyak 32.715 Rumah Tangga Sasaran (RTS) atau sebesar 97,22% dari target
sebanyak 33.652 RTS. Realisasi pembayaran BLT tahap I 2008 di Bangka Belitung tersebut
lebih rendah dibanding pencapaian realisasi di tingkat nasional yang tercatat mencapai
98,84%
Tabel 6.6
Realisasi Pembayaran BLT Tahap I 2008
Di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung
Alokasi BLT Distribusi Kartu Realisasi Bayar Hampir Miskin Daya Serap
No. Kabupaten/Kota
(RTS) (RTS) (RTS) (Rupiah) Alokasi BLT (%)
1 Kabupaten Bangka 7,176 7,176 6,942 2,082,600,000 96.74
2 Kabupaten Bangka Barat 4,169 4,169 4,009 1,202,700,000 96.16
3 Kabupaten Bangka Selatan 4,894 4,894 4,761 1,428,300,000 97.28
4 Kabupaten Bangka Tengah 2,927 2,927 2,800 840,000,000 95.66
5 Kabupaten Belitung 5,901 5,901 5,742 1,722,600,000 97.31
6 Kabupaten Belitung Timur 4,752 4,752 4,702 1,410,600,000 98.95
7 Kota Pangkalpinang 3,833 3,833 3,759 1,127,700,000 98.07
Jumlah 33,652 33,652 32,715 9,814,500,000 97.22
Sumber: PT. Pos Indonesia

Hingga tanggal 16 Januari 2009, realisasi BLT tahap II dengan periode pembayaran
tanggal 1 September 2008 hingga 31 Januari 2009, Bangka Belitung mencapai 96,14%

Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan III 2007 91
Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008
Perkembangan Kesejahteraan Masyarakat

dari yang ditargetkan. Pencapaian tersebut juga lebih rendah dibanding nasional yang
sebesar 98,5%.
Tabel 6.7
Realisasi Pembayaran BLT Tahap II 2008
Di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung
Alokasi BLT Distribusi Kartu Realisasi Bayar Hampir Miskin Daya Serap
No. Kabupaten/Kota
(RTS) (RTS) (RTS) (Rupiah) Alokasi BLT (%)
1 Kabupaten Bangka 7,176 7,176 6,884 2,753,600,000 95.93
2 Kabupaten Bangka Barat 4,169 4,169 3,935 1,574,000,000 94.39
3 Kabupaten Bangka Selatan 4,894 4,894 4,671 1,868,400,000 95.44
4 Kabupaten Bangka Tengah 2,927 2,927 2,762 1,104,800,000 94.36
5 Kabupaten Belitung 5,901 5,901 5,697 2,278,800,000 96.54
6 Kabupaten Belitung Timur 4,752 4,752 4,678 1,871,200,000 98.44
7 Kota Pangkalpinang 3,833 3,833 3,727 1,490,800,000 97.23
Jumlah 33,652 33,652 32,354 12,941,600,000 96.14
Sumber: PT. Pos Indonesia

Beberapa permasalahan terkait dengan penyaluran BLT antara lain :


1. Data RTS yang digunakan merupakan data PSEO05, sehingga tenggang waktu 3 tahun
yakni 2005 hingga 2008 akan banyak mengalami perubahan yang berpotensi
menimbulkan permasalahan di masyarakat.
2. Pemberian wewenang terhadap aparat desa/kelurahan untuk membatalkan data RTS
yang tidak layak lagi dikarenakan alasan meninggal, pindah domisili, secara ekonomi
telah meningkat, akan menyulitkan aparat desa/kelurahan tersebut untuk
mengakomodir kehendak masyarakatnya dikarenakan bisa jadi pengganti jumlahnya
lebih banyak dari yang digantikan.
3. Waktu yang diberikan kepada aparat desa/kelurahan untuk meneliti daftar normatif
penerima BLT oleh PT. Pos Indonesia sangat singkat yakni hanya 2 hari.

92 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Kesejahteraan Masyarakat

Suplemen 3

TINGKAT KEYAKINAN KONSUMEN PANGKALPINANG


MASIH MENUNJUKKAN PESIMISME

I. Perkembangan Indeks Keyakinan Konsumen Selama Triwulan IV - 2008


Tingkat Keyakinan Konsumen Pangkalpinang selama triwulan IV - 2008 secara
umum sedikit mengalami peningkatan dibanding dengan triwulan III - 2008. Rata-rata
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada triwulan IV - 2008 mencapai 104.28 atau
meningkat dari triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 95. Sementara itu rata-rata
Indeks Keyakinan Ekonomi Saat ini (IKESI) mencapai 93.83, menurun dari triwulan
sebelumnya yang tercatat sebesar 94.67, dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) mencapai
114.72 meningkat dari triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 95.33. Dibandingkan
dengan indeks triwulan yang sama tahun 2007, IKESI mengalami penurunan, sedangkan
IKK dan IEK mengalami peningkatan. Hal tersebut mencerminkan bahwa keyakinan
konsumen kota Pangkalpinang membaik dibanding triwulan yang sama tahun lalu.
Grafik 1
IKK, IKESI, IEK, periode 2007-2008
140

120
Optim is

113.33
100 97.58
Inde k s

80 81.83
60
P e sim is

40
20

-
M ar

A pr

A gust

Ok t
M ei

Juni

Juli
Des

Des
Ja n

Fe b

Sep

N ov

2007 2008

IKK IKE IEK

Selama triwulan IV - 2008, beberapa hal yang menjadi concern bagi konsumen
Pangkalpinang antara lain; tingkat penghasilan, ketersediaan tenaga kerja, perkiraan harga
1
barang & jasa ke depan (lihat grafik 2 dan tabel 1).

*) Survei Konsumen merupakan survei bulanan yang dilakukan oleh Bank Indonesia Palembang terhadap 200 orang rumah tangga di
Pangkalpinang yang bertujuan untuk mengetahui pendapat konsumen rumah tangga terhadap kondisi perekonomian. Survey
menghasilkan beberapa indeks yang mencerminkan optimisme atau pesimisme konsumen. Konsumen dikatakan optimis jika indeks
berada di atas 100 sebaliknya apa bila di bawah 100, konsumen berada dalam kondisi pesimis.

Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan III 2007 93
Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008
Perkembangan Kesejahteraan Masyarakat

Grafik 2
Pembentuk Keyakinan Konsumen 2007-2008

180

160 Penghasilan saat ini


Optimis

dibandingkan 6 bln yang lalu


140 138.5

Ekspektasi penghasilan 6 bulan


120 112.0
yad
111.0
100
Indeks

89.5 Ketersediaan lapangan kerja


80 saat ini
74.0
60 Ketersediaan lapangan kerja 6
60.5 bulan yad
Pesimis

40
Ketepatan waktu pembelian
20 (konsumsi) barang tahan lama

0
Kondisi ekonomi 6 bulan yad
Jan

Feb

Mar

Apr

Sep

Okt
Agust
Des

Des
Nov
Mei

Juni

Juli

2007 2008

II. Keyakinan Konsumen Bulan Oktober 2008


IKK pada bulan Oktober 2008 mencapai 106.92, sedangkan IKESI dan IEK masing-masing
101.5 dan 112.33. Indeks Penghasilan saat ini dibandingkan dengan 6 bulan yang lalu
sebesar 126.5, Indeks Ekspektasi Penghasilan 6 bulan yang akan datang sebesar 137,
Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja saat ini sebesar 81.5, Indeks Ketersediaan Lapangan
Kerja 6 bulan yang akan datang sebesar 96.5, Indeks Ketepatan Waktu Pembelian Barang
Tahan Lama sebesar 96.5, dan Indeks Kondisi Ekonomi 6 bulan yang akan datang sebesar
103.5.
Tabel 1
Indeks Pembentuk Keyakinan Konsumen 2007-2008
Uraian Des Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Agust Sept Okt Nov Dec
Penghasilan saat ini dibandingkan 6 bln yang lalu 121.00 125.00 130.00 134.00 117.00 95.00 94.50 124.00 135.50 131.50 126.50 122.00 111.00
Ekspektasi penghasilan 6 bulan yad 129.00 134.00 136.50 152.50 135.00 109.00 109.00 117.00 126.50 133.00 137.00 138.50 138.50
Ketersediaan lapangan kerja saat ini 95.50 78.00 119.50 97.00 70.00 65.50 75.00 65.50 84.50 82.00 81.50 88.00 74.00
Ketersediaan lapangan kerja 6 bulan yad 100.00 95.50 114.50 104.50 92.00 78.50 79.50 79.00 80.50 93.00 96.50 92.50 89.50
Ketepatan waktu pembelian (konsumsi) barang tahan lama 84.50 72.50 89.00 86.00 74.50 70.00 70.50 61.00 75.00 93.00 96.50 84.50 60.50
Kondisi ekonomi 6 bulan yad 110.50 96.00 102.50 117.00 87.00 62.00 55.00 69.00 74.50 85.50 103.50 124.50 112.00

94 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkembangan Kesejahteraan Masyarakat

III. Keyakinan Konsumen Bulan November 2008


IKK pada bulan November 2008 mencapai 108.33, sedangkan IKESI dan IEK masing-masing
98.17 dan 118.5. Indeks Penghasilan saat ini dibandingkan dengan 6 bulan yang lalu
sebesar 122, Indeks Ekspektasi Penghasilan 6 bulan yang akan datang sebesar 138.5,
Indeks ketersediaan lapangan kerja saat ini sebesar 88, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja
6 bulan yang akan datang sebesar 92.5,Indeks Ketepatan Waktu Pembelian Barang Tahan
lama sebesar 84.5, dan Indeks Kondisi Ekonomi 6 bulan yang akan datang sebesar 125.5.
IV. Keyakinan Konsumen Bulan Desember 2008
IKK pada bulan Desember mencapai 97.58, sedangkan IKESI dan IEK masing-masing 81.83
dan 113.33. Indeks Penghasilan Saat Ini dibandingkan dengan 6 bulan yang lalu sebesar
111, Indeks Ekspektasi Penghasilan 6 bulan Yang Akan Datang sebesar 138.5, Indeks
Ketersediaan Lapangan Kerja Saat Ini sebesar 74, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja 6
bulan Yang Akan Datang sebesar 89.5, Indeks Ketepatan Waktu Pembelian Barang Tahan
Lama sebesar 60.5, dan Indeks Kondisi Ekonomi 6 bulan Yang Akan Datang sebesar 112.

Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan III 2007 95
Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008
Halaman ini sengaja dikosongkan
This page is intentionally blank
Perkiraan Ekonomi dan Inflasi Daerah

.
PERKIRAAN EKONOMI
7 DAN INFLASI DAERAH

7.1. Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi tahunan (yoy) di Propinsi Bangka Belitung pada


triwulan I 2009 diproyeksikan akan berada pada kisaran 2,06 ± 1%, sedikit melambat
dibanding triwulan IV 2008 yaitu sebesar 2,65%. Sedangkan secara triwulan (qtq)
mengalami penurunan pertumbuhan sebesar 0,71 ± 1%.

Grafik 7.1
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Bangka Belitung

Sumber : BPS Propinsi Kepulauan Bangka Belitung

Meskipun terjadi perlambatan, pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung


masih dapat ditopang oleh permintaan domestik. Stimulus pada permintaan domestik
diperkirakan berasal dari (1) adanya kegiatan politik terkait dengan Pemilihan Umum 2009
yang berpotensi mempertahankan tingkat permintaan dari kelompok grass-root, (2) Sinyal
dari pemerintah untuk mempercepat realisasi APBD pada triwulan I 2009, sehingga stimulus
pertumbuhan yang berasal dari kebijakan pemerintah diprediksi lebih tinggi dibandingkan

Kajian
Kajian Ekonomi
Ekonomi RegionalPropinsi
Regional Propinsi Kepulauan
Kepulauan Bangka
BangkaBelitung Triwulan
Belitung IV 2008
Triwulan III 2007 97
Perkiraan Ekonomi dan Inflasi Daerah

triwulan yang sama tahun sebelumnya, (3) Dimulainya musim panen di sub sektor tanaman
bahan makanan yang menyerap tenaga kerja secara temporer, (4) relatif rendahnya tingkat
inflasi dan adanya penurunan harga BBM yang dapat mempertahankan daya beli
masyarakat.

7.1.1 Sisi Penawaran


Pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung dilihat dari sisi penawaran masih tetap
didominasi oleh sektor primer terutama sektor pertanian selain itu juga sektor sekunder
yaitu sektor pengolahan yang berbasis pada sumber daya alam. Pada beberapa sektor
terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi. Namun di sisi lain beberapa sektor masih
mengalami percepatan pertumbuhan yang didukung oleh pembiayaan perbankan, yaitu
sektor Listrik, Gas, dan Air (LGA) , sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran (PHR), dan
sektor pengangkutan dan komunikasi.

a. Sektor Pertanian
Diperkirakan kinerja sub sektor perkebunan, pada triwulan I 2009 masih akan
mengalami penurunan dibanding triwulan I 2008, terkait dengan harga komoditas
unggulan Bangka Belitung di pasar internasional yang masih belum banyak bergerak akibat
adanya krisis finansial global.

b. Sektor Pertambangan
Masih rendahnya harga komoditas juga diperkirakan masih membuat sektor
pertambangan mengalami perlambatan pertumbuhan. Selain itu perlambatan ini juga
disebabkan oleh tingginya curah hujan yang mengganggu aktivitas penambangan timah.

c. Sektor Industri Pengolahan


Perlambatan pertumbuhan pada sub sektor perkebunan dan pertambangan juga
masih tetap akan menekan kinerja sektor industri pengolahan. Sehingga pada triwulan I
2009, sektor industri pengolahan diperkirakan tetap mengalami perlambatan pertumbuhan.

d. Sektor Listrik, Gas, dan Air


Sektor Listrik, Gas, dan Air (LGA) diperkirakan tetap mengalami percepatan
pertumbuhan dengan sub sektor listrik sebagai pendorong pertumbuhannya. Propinsi

98 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008


Perkiraan Ekonomi dan Inflasi Daerah

Bangka Belitung terus berupaya menambah kapasitas listrik di Bangka Belitung dengan
target di tahun 2010 terpasang power plant dengan total daya lebih dari 75 Mega Watt.

e. Sektor Bangunan
Sektor bangunan pada triwulan I 2009 diperkirakan mengalami sedikit perlambatan.
Perlambatan ini terkait belum pulihnya perekonomian Bangka Belitung sebagai dampak
krisis ekonomi global yang terjadi. Namun di samping itu terdapat beberapa rencana
pembangunan infrastruktur jangka panjang yaitu perlebaran jalan negara, pelebaran dan
pendalaman saluran drainase, pembangunan Bandara Depati Amir, pembangunan hotel,
pembangunan tower timah.

f. Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran

Sektor perdagangan, hotel, dan restoran diperkirakan akan mengalami percepatan


pertumbuhan. Sub sektor hotel dan restoran sangat terkait dengan pariwisata dimana
pemerintah Bangka Belitung terus berupaya meningkatkan pariwisata. Pemda Bangka
Belitung pada tahun 2010 dicanangkan program Babel Archi 2010, dan beberapa hal yang
telah dipersiapkan di antaranya :
• Mempersiapkan objek-objek wisata andalan yang ada di Bangka Belitung
• Perencanaan pembangunan hotel berbintang.
• Perbaikan infrastruktur daerah.

Selain itu peningkatan pariwisata ini juga didukung telah selesainya Jembatan
Baturusa II dan III serta Jalan Lingkar Timur Bangka yang menghubungkan kota
Pangkalpinang – Sungailiat.

g. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi

Sektor pengangkutan diperkirakan tetap mengalami peningkatan pertumbuhan,


terutama dari pengangkutan udara. Dalam mempersiapkan Babel Archi, Pemerintah
Bangka Belitung telah melakukan berbagai upaya dalam peningkatan akses ke Bangka
Belitung baik melalui udara maupun laut. Perbaikan dalam pengangkutan udara, dilakukan
dengan :

Kajian
Kajian Ekonomi
Ekonomi RegionalPropinsi
Regional Propinsi Kepulauan
Kepulauan Bangka
BangkaBelitung Triwulan
Belitung IV 2008
Triwulan III 2007 99
Perkiraan Ekonomi dan Inflasi Daerah

• Menambah jumlah maskapai penerbangan yang melayani rute ke Bangka Belitung


• Meningkatkan frekuensi penerbangan menuju Bangka Belitung
• Melakukan perpanjangan runway Bandara Depati Amir yang ditargetkan selesai tahun
2010
• Membangun apron dan terminal baru yang dilengkapi dengan mall dan hotel
• Memperpanjang dan memperlebar Bandara Hannandjoedin Tanjungpandan sesuai
dengan kebutuhan agar dapat didarati oleh pesawat-pesawat yang lebih besar.
• Mendisain bandara-bandara perintis terutama untuk kota Toboali dan Manggar.

Sedangkan pada pengangkutan laut, pemerintah melakukan beberapa upaya, yaitu :


• Mempersiapkan pelabuhan-pelabuhan laut diantaranya Pelabuhan Pangkalbalam,
Belinyu, Muntok, Sadai, Tanjungpandan, dan, Manggar.
• Meningkatkan kualitas dan kuantitas rute-rute pelayaran kapal-kapal cepat yang
melayani penumpang baik dari Palembang-Muntok, Pangkalpinang-Tanjungpandan,
Manggar-Ketapang, Sadai-Jakarta, Pangkalbalam-Jakarta, Tanjungpandan-Jakarta, dan
Pangkalpinang-Batam.
• Mempersiapkan pelabuhan Jelitik Sungai liat agar mampu untuk menampung kapal-
kapal niaga sekaligus penumpang dengan kapasitas yang terbatas.

7.1.2 Sisi Permintaan

Dilihat dari sektor-sektor yang memberi kontribusi, pertumbuhan Bangka Belitung


dari sisi permintaan diperkirakan masih didominasi dari konsumsi rumah tangga.

Konsumsi diperkirakan sedikit melambat pada triwulan I 2009 dibandingkan


dengan triwulan sebelumnya. Faktor utama yang mempengaruhi penurunan konsumsi
adalah krisis keuangan keuangan global yang berpengaruh cukup besar terhadap
pendapatan sebagian masyarakat Bangka Belitung. Perlambatan pertumbuhan konsumsi
dapat dilihat dari hasil survei konsumen yang menunjukkan bahwa pertumbuhan konsumsi
mulai melemah antara lain adalah Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) terhadap kondisi
perekonomian. Sebagai bagian dari IEK, indeks kondisi lapangan kerja menurut konsumen

100 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008
Perkiraan Ekonomi dan Inflasi Daerah

menunjukkan penurunan pada triwulan IV 2008, dari 93.00 di bulan September menjadi
89,50 di bulan Desember 2008.

Investasi pada triwulan I 2009, khususnya yang bersumber dari Penanaman


Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal dalam Negri (PMDN) diperkirakan
belum banyak berubah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Hal ini terkait
dengan kondisi perekonomian Bangka Belitung secara khusus dan kondisi perekonomian
nasional dan dunia secara umum yang masih dalam pemulihan. Meskipun demikian
terdapat beberapa rencana investasi yang bersumber dari pemerintah, diantaranya
pembangunan bandara, jalan, dan infrastruktur lainnya.

Ekspor pada triwulan I 2009 diperkirakan tetap melambat akibat melemahnya


permintaan dunia dan masih rendahnya harga komoditas di pasar internasional. Proyeksi
melemahnya ekspor sangat terkait dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara
yang mengalami tekanan penurunan pertumbuhan ekonomi (lihat Tabel 7.1).

Tabel 7.1 Proyeksi Pertumbuhan Negara-Negara


Proyeksi Proyeksi
Negara Negara
2009 (%) 2009 (%)
Negara Maju 0,5 Singapura 3,5
Amerika Serikat 0,1 Hongkong 3,5
Uni Eropa 0,2 Taiwan 2,5
Jepang 0,5 RRC 9,3
Inggris -0,1 Thailand 4,5
Belanda 1,0 Malaysia 4,8
Korea Selatan 3,5 Vietnam 5,5
Sumber: International Monetary Fund (IMF)

7.2. Perkiraan Inflasi

Secara triwulananan, pada triwulan I 2009 kota Pangkalpinang diprediksi akan


mengalami inflasi yang lebih rendah dibanding triwulan IV 2008. Penurunan harga-harga
komoditas primer Bangka Belitung di pasar dunia diperkirakan akan menurunkan tingkat
permintaan masyarakat terhadap konsumsi barang dan jasa. Selain itu dari sisi
administered prices terdapat penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi pada
Desember 2008 dan Januari 2009. Kebijakan penurunan BBM akan menurunkan inflasi

Kajian
Kajian Ekonomi
Ekonomi RegionalPropinsi
Regional Propinsi Kepulauan
Kepulauan Bangka
BangkaBelitung Triwulan
Belitung IV 2008
Triwulan III 2007 101
Perkiraan Ekonomi dan Inflasi Daerah

pada kelompok transportasi, dengan adanya penurunan tarif angkutan umum menyusul
penurunan harga BBM bersubsidi tersebut.

Selain itu, tekanan inflasi yang berasal dari perubahan biaya juga diperkirakan akan
menurun yang disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: (1) nilai tukar Rupiah yang terbukti
cukup stabil pada masa krisis global dan adanya ekspektasi apresiasi Rupiah pada tahun
2009, (2) penurunan harga BBM oleh pemerintah.

Inflasi tahunan (yoy) pada Grafik 7.2


triwulan I 2009 diproyeksikan Proyeksi Inflasi Tahunan Bangka Belitung

mencapai 13,40 ± 1% dan secara


25.00 

triwulanan inflasi (qtq) kota 20.00 


n
Pangkalpinang pada triwulan I 2009 ser 15.00 
e
P
diproyeksikan sebesar 0,78 ± 1%. 10.00 

5.00 
Sumber tekanan inflasi pada

triwulan IV 2008 diproyeksikan Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I*

berasal dari kelompok bahan 2007 2008 2009

makanan dan makanan jadi. * Hasil Proyeksi KBI Palembang

Sumber : BPS Propinsi Kepulauan Bangka Belitung

102 Kajian Ekonomi Regional Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV 2008
DAFTAR ISTILAH

Mtm Month to month. Perbandingan antara data satu bulan dengan bulan sebelumnya

Qtq Quarter to quarter perbandingan antara data satu triwulan dengan triwulan
sebelumnya

Yoy Year on year. Perbandingan antara data satu tahun dengan tahun sebelumnya

Share Of Growth Kontribusi suatu sektor ekonomi terhadap total pertumbuhan PDRB

Investasi Kegiatan meningkatkan nilai tambah suatu kegiatan suatu kegiatan produksi melalui peningkatan
modal

Sektor ekonomi Sektor ekonomi yang mempunyai nilai tambah besar sehingga mempunyai pengaruh dominan
dominan pada pembentukan PDRB secara keseluruhan

Migas Minyak dan Gas. Merupakan kelompok sektor industri yang mencakup industri minyak dan gas

Omzet Nilai penjualan bruto yang diperoleh dari satu kali proses produksi

Share effect Kontribusi pangsa sektor atau subsektor terhadap total PDRB

Indeks Keyakinan Indeks yang menunjukan level keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dan
Konsumen (IKK) ekspektasi kondisi ekonomi enam bulan mendatang. Dengan skala 1-100

Indeks Harga Sebuah indeks yang merupakan ukuran perubahan rata-rata harga barang dan jasa yang
Konsumen (IHK) dikonsumsi masyarakat pada suatu periode tertentu

Indeks Kondisi Ekonomi Salah satu pembentuk IKK. Indeks yang menunjukan level keyakinan konsumen terhadap kondisi
ekonomi saat ini, dengan skala 1-100
Indeks Ekspektasi Salah satu pembentuk IKK. Indeks yang menunjukan level keyakinan konsumen terhadap
Konsumen ekspektasi kondisi ekonomi saat ini, dengan skala 1-100

Pendapatan Asli Daerah Pendapatan yang diperoleh dari aktifitas ekonomi suatu daerah seperti hasil pajak daerah, retribusi
(PAD) daerah, hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah

Dana Perimbangan Sumber pendapatan daerah yang berasal dari APBN untuk mendukung pelaksanaan kewenangan
pemerintah daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi daerah.

Indeks Pembangunan Ukuran kualitas pembangunan manusia, yang diukur melalui pencapaian rata-rata 3 hal kualitas
Manusia hidup, yaitu pendidikan, kesehatan, daya beli

APBD Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Rencana keuangan tahunan pemerintah daerah yang
dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah yang dibahas dan disetujui bersama oleh
pemerintah daerah dan DPR, dan ditetapkan dengan peraturan daerah

Volatile food Salah satu disagrerasi inflasi, yaitu untuk komoditas yang perkembangan harganya sangat
bergejolak karena faktor-faktor tertentu

Administered Price Salah satu disagregasi inflasi, yaitu untuk komoditas yang perkembangan harganya sangat
bergejolak karena faktor-faktor tertentu

Andil inflasi Sumbangan perkembangan harga suatu komoditas/kelompok barang/kota terhadap tingkat inflasi
secara keseluruhan
Bobot inflasi Besaran yang menunjukan pengaruh suatu komoditas, terhadap tingkat inflasi secara keseluruhan,
yang diperhitungkan dengan melihat tingkat konsumsi masyarakat terhadap komoditas tersebut

Ekspor Dalah keseluruhan barang yang keluar dari suatu wilayah/daerah baik yang bersifat komersil mau

Import Seluruh barang yang masuk suatu wilayah/daerah baik yang bersifat komersil maupun bukan
komersil

PDRB atas dasar harga Penjumlahan nilai tambah bruto (NTB) yang mencakup seluruh komponen faktor pendapatan
pasar yaitu gaji, bunga, sewa tanah, keuntungan, penyusutan dan pajak tak langsung dari seluruh
sektor perekonomian

PDRB atas dasar harga Merupakan perhitungan PDRB yang didasarkan atas produk yang dihasilkan menggunakan
konstan harga tahun tertentu sebagai dasar perhitungannya

Bank Pemerintah Bank-bank yang sebelum program rekapitalisasi merupakan bank milik pemerintah (persero)
yaitu terdiri dari bank Mandiri, BNI, BTN dan BRI

Dana Pihak Ketiga Simpanan masyarakat yang ada di perbankan terdiri dari giro, tabungan, dan deposito
(DPK)

Net Interest Margin Selisih bersih antara biaya bunga operasional dengan pendapatan bunga operasional
(NIM)

Loan to Deposits Ratio Rasio antara kredit yang diberikan oleh perbankan terhadap jumlah dana pihak ketiga yang
(LDR) dihimpun

Cash inflows Jumlah aliran kas yang masuk ke kantor Bank Indonesia yang berasal dari perbankan dalam
periode tertentu

Cash Outflows Jumlah aliran kas keluar dari kantor Bank Indonesia kepada perbankan dalam periode tertentu

Net Cashflows Selisih bersih antara jumlah cash inflows dan cash outflows pada periode yang sama terdiri dari
Netcash Outflows bila terjadi cash outflows lebih tinggi dibandingkan cash inflows, dan
Netcash inflows bila terjadi sebaliknya

Administered price Kelompok barang yang pergerakan harganya ditentukan oleh pemerintah baik secara
keseluruhan maupun sebagian
Aktiva Produktif Penanaman atau penempatan yang dilakukan oleh bank dengan tujuan menghasilkan
penghasilan/pendapatan bagi bank, seperti penyaluran kredit, penempatan pada antar bank,
penanaman pada Sertifikat Bank Indonesia(SBI), dan surat-surat berharga lainnya.

Aktiva Tertimbang Pembobotan terhadap aktiva yang dimiliki oleh bamk berdasarkan risiko dari masing-masing
Menurut Resiko (ATMR) aktiva. Semakin kecil risiko suatu aktiva, semakin kecil bobot risikonya. Misalnya kredit yang
diberikan kepada pemerintah mempunyai bobot yang lebih rendah dibandingkan dengan
kredit yang diberikan kepada perorangan
Kualitas Kredit Penggolongan kredit berdasarkan prospek usaha, kinerja debitur dan kelancaran pembayaran
bunga dan pokok. Kredit digolongkan menjadi 5 kualitas yaitu lancar, Dalam Perhatian Khusus
(DPK), Kurang Lancar, Diragukan dan Macet

Capital Adequacy Ratio Rasio antara modal (modal inti dan modalpelengkap) terhadap Aktiva Tertimbang Menurut
(CAR) Resiko (ATMR)

Financing to Deposit Rasio antara pembiayaan yang diberikan oleh bank syariah terhadap dana yang diterima.
Ratio (FDR) Konsep ini sama dengan konsep LDR pada bank umum konvensional
Inflasi Kenaikan harga barang secara umum dan terus menerus (persistent)

Inflasi Adminitered Inflasi yang terjadi pergerakan harga barang-barang yang termasuk dalam kelompok barang
Price yang harganya diatur oleh pemerintah (misalnya bahan bakar).

Inflasi Inti Inflasi yang terjadi karena adanya gap penawaran aggregat and permintaan agregrat dalam
perekonomian, serta kenaikan harga barang impor dan ekspektasi masyarakat

Inflasi Volatile Food Inflasi yang terjadi karena pergerakan harga barang-barang yang termasuk dalam kelompok
barang yang harganya bergerak sangat volatile (misalnya beras)
Kliring Pertukaran warkat atau Data Keuangan Elektronik (DKE) antar peserta kliring baik atas nama
peserta maupun atas nama nasabah peserta yang perhitungannya diselesaikan pada waktu
tertentu

Kliring Debet Kegiatan kliring untuk transfer debet antar bank yang disertai dengan penyampaian fisik
warkat debet seperti cek, bilyet giro, nota debet kepada penyelenggara kliring lokal (unit kerja
di Bank Indonesia atau bank yang memperoleh persetujuan Bank Indonesia sebagai
penyelenggara kliring lokal) dan hasil perhitungan akhir kliring debet dikirim ke Sistem Sentral
Kliring (unit kerja yang menagani SKNBI di KP Bank Indonesia) untuk diperhitungkan secara
nasional

Net Interest Income Antara pendapatan bunga dikurangi dengan beban bunga
(NII)

Non Core Deposit Dana masyarakat yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga. Dalam laporan ini, NCD
(NCD) disumsikan terdiri dari 30% giro, 30% tabungan dan 10 % deposito berjangka waktu 1-3
bulan

Non Performing Kredit atau pembiayaan yang termasuk dalam kualitas kurang lancar, diragukan dan macet.
Loans/Financing
(NPLs/Ls)

Penyisihan Suatu pencadangan untuk mengantisipasi kerugia yang mungkin timbul dari tidak tertagihnya
Penghapusan Aktiva kredit yang diberikan oleh bank. Besaran PPAP ditentukan dari kualitas kredit. Semakin buruk
Produktif (PPAP) kualitas kredit, semakin besar PPAP yang dibentuk, misalnya, PPAP untuk kredit yang tergolong
Kurang Lancar adalah 15 % dari jumlah Kredit Kurang Lancar (setelah dikurangi agunan),
sedangkan untuk kedit Macet, PPAP yang harus dibentuk adalah 100% dari totsl kredit macet
(setelah dikurangi agunan)

Rasio Non Performing Rasio kredit/pembiayaan yang tergolong NPLs/Fs terhadap total kredit/pembiayaan. Rasio ini
Loans/Financing juga sering disebut rasio NPLs/Fs, gross. Semakin rendah rasio NPLs/Fs, semakin baik kondisi
(NPLs/Fs) bank ybs.

Rasio Non Performing Rasio kredit yang tergolong NPLs, setelah dikurangi pembentukan penyisihan penghapusan
Loans (NPLs) – NET Aktiva Produktif (PPAP), terhadap total kredit

Sistem Bank Indonesia Proses penyelesaian akhir transaksi pembayaran yang dilakukan seketika (real time) dengan
Real Time Gross mendebet maupun mengkredit rekening peserta pada saat bersamaan sesuai perintah
Settlement (BI RTGS) pembayaran dan penerimaan pembayaran.

Sistem Kliring Nasional Sistem kliring bank Indonesia yang meliputi kliring debet dan kliring kredit yang penyelesaian
Bank Indonesia (SKN-BI) akhirnya dilakukan secara nasional.