Anda di halaman 1dari 4

AKSIOLOGI ILMU

Written by oman on Senin, 29 Desember 2008 at 09:44

Rasa keingin tahuan manusia ternyata menjadi titik-titik perjalanan manusia yang takkan pernah
usai. Hal inilah yang kemudian melahirkan beragam penelitian dan hipotesa awal manusia
terhadap inti dari keanekaragaman realitas. Proses berfilsafat adalah titik awal sejarah
perkembangan pemikiran manusia dimana manusia berusaha untuk mengorek, merinci dan
melakukan pembuktian-pembuktian yang tak lepas dari kungkunga
Kemudian dirumuskanlah sebuah teori pengetahuan dimana pengetahuan menjadi terklasifikasi
menjadi beberapa bagian. Melalui pembedaan inilah kemudian lahir sebuah konsep yang
dinamakan ilmu. Pengembangan ilmu terus dilakukan, akan tetapi disisi lain. Pemuasan dahaga
manusia terhadap rasa keingintahuannya seolah tak berujung dan menjebak manusia ke lembah
kebebasan tanpa batas. Oleh sebab itulah dibutuhkan adanya pelurusan terhadap ilmu
pengetahuan agar tidak terjadi kenetralan tanpa batas dalam ilmu. Karena kenetralan ilmu
pengetahuan hanyalah sebatas metafisik keilmuan. Sedangkan dalam penggunaannya diperlukan
adanya nilai-nilai moral.
Sejak saat pertumbuhannya, ilmu sudah terkait dengan masalah moral. Satu contoh ketika
Copernicus (1473—1543) mengajukan teorinya tentang kesemestaan alam dan menemukan
bahwa “bumi yang berputar mengelilingi matahari” dan bukan sebaliknya seperti yang
dinyatakan dalam ajaran agama maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber
pada ajaran agama) yang berkonotasi metafisik. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam
sebagaimana adanya, sedangkan di pihak lain terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada
pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran di luar bidang keilmuan
(nilai moral), seperti agama. Dari interaksi ilmu dan moral tersebut timbullah konflik yang
bersumber pada penafsiran metafisik yang berkulminasi pada pengadilan inkuisisi Galileo pada
tahun 1633. Galileo oleh pengadilan agama dipaksa untuk mencabut pernyataan bahwa bumi
berputar mengelilingi matahari.G:\print\Aksiologi Ilmu « Man Arafa Nafsahu Faqad arafa
Rabbahu.htm - _ftn1
II Pembahasan
A. Pengertian Aksiologi dan Ilmu
1. Definisi Aksiologi
Aksiologi adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu; axios yang berarti sesuai atau wajar.
Sedangkan logos yang berarti ilmu. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai. Menurut John
Sinclair, G:\print\Aksiologi Ilmu « Man Arafa Nafsahu Faqad arafa Rabbahu.htm - _ftn2dalam
lingkup kajian filsafat nilai merujuk pada pemikiran atau suatu sistem seperti politik, social dan
agama. Sistem mempunyai rancangan bagaimana tatanan, rancangan dan aturan sebagai satu
bentuk pengendalian terhadap satu institusi dapat terwujud.
2. Definisi Ilmu
Ilmu adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu scientia yang berarti ilmu. Atau dalam
kaidah bahasa Arab berasal dari kata ‘ilm yang berarti pengetahuan. Ilmu atau sains adalah
pengakajian sejumlah penrnyataan-pernyataan yang terbukti dengan fakta-fakta dan ditinjau
yang disusun secara sitematis dan terbentuk menjadi hukun-hukum umum.
B. Perbedaan dan Fungsi Ilmu
1. Perbedan Ilmu, dan Pseudo IlmuG:\print\Aksiologi Ilmu « Man Arafa Nafsahu Faqad arafa
Rabbahu.htm - _ftn3
Dari definisi diatas setidaknya kita bisa menarik satu kesimpulan bahwa ilmu adalah
pengetahuan yang dirumuskan secara sistematis, dapat diterima oleh akal melalui pembuktian-
pembuktian empiris.
Disisi lain ada sebuah kategori yaitu Pseudo Ilmu. Secara garis besar pseudo ilmu adalah
pengetahuan atau praktek-praktek metodologis yang di klaim sebagai pengetahuan. Namun
berbeda dengan ilmu, pseudo ilmu tidak memenuhi persyaratan-persyaratan yang di
Keberadaaan ilmu timbul karena adanya penelitian-penelitian pada objek- objek yang sifatnya
empiris. Berbeda halnya dengan pseudo ilmu yang lahir atau timbul dari pentelaahan objek-objek
yang abstrak. Landasan dasar yang dipakai dalam pseudo ilmu adalah keyakinan atau
kepercayaan.
Perbedaan keduanya dapat kita ketahui dari penampakan yang menjadi objek penelitian masing-
masing bidang. Atau dengan kata lain perbedaan tersebut ada pada sisi epistmologinya.
2. Fungsi Ilmu
Sebelumnya kita telah berbicara mengenai bagaimana perbedaan ilmu dan pseudo ilmu dilihat
dari karakter objek penelitiannya. Berikutnya kita akan membicarakan apa sebenarnya fungsi dan
kegunaan pegetahuan. Argumen-argumen yang dikemukakan dalam pengetahuan kemudian
menjadi satu bentuk konsep yang terangkum dalam sebuah teori.
Menurut Ahmad Tafsir,G:\print\Aksiologi Ilmu « Man Arafa Nafsahu Faqad arafa
Rabbahu.htm - _ftn4 teori mempunyai tiga fungsi dilihat dari kegunaan teori tersebut dalam
menyelesaikan masalah.
Pertama, Teori sebagai alat Eksplanasi. Dalam fungsi ini teori berusaha menjelaskan melalui
gejala-gejala yang timbul dalam satu permasalahan. Misalnya: tragedi 11 september yang
memakan banyak korban dan kerugian secara materiil. Hal ini dipahami sebagai bentuk
perlawanan terhadap keangkuhan sebuah negara Adi Kuasa. Gejalanya dapat kita lihat dari
maraknya beberapa kelompok yang menamakan dirinya sebagai kelompok anti Amerika. Al-
Qaeda misalnya, sebuah oraganisasi rahasia yang menjadi symbol perlawanan terhadap Amerika.

Kedua, Teori sebagai alat Peramal. Dalam fungsi ini teori memberikan benuk prediksi-prediksi
yang dilakukan oleh para ilmuwan dalan menyelesaikan suatu masalah. Misalnya: isu global
warming. Digambarkan dalam kasus ini bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
ternyata disatu sisi memberikan dampak buruk terhadap ekosistem alam. Prediksi yang dilakukan
oleh para ilmuwan yang menggambakan tentang keseimbangan alam yang rusak oleh perilaku
manusia itu sendiri.
Ketiga, Teori sebagai Alat pengontrol. Dalam fungsi ini ilmuwan selain mampu membuat
ramalan berdasarkan eksplanasi gejala, juga dapat membuat kontrol terhadap masalah yang
terjadi. Kita bisa melihat dari solusi yang ditawarkan oleh para ilmuwan.
C. Teori tentang Nilai
1. Kebebasan Nilai dan Keterikatan Nilai
Perkembangan yang terjadi dalam pengetahuan ternyata melahirkan sebuah polemik baru karena
kebebasan pengetahuan terhadap nilai atau yang bisa kita sebut sebagai netralitas pengetahuan
(value free). Sebaliknya ada jenis pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai atau yang
lebih dikenal sebagai value baound. Sekarang mana yang lebih unggul antara netralitas
pengetahuan dan pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai?G:\print\Aksiologi Ilmu
« Man Arafa Nafsahu Faqad arafa Rabbahu.htm - _ftn5
Bagi ilmuwan yang menganut faham bebas nilai kemajuan perkembangan ilmu pengetahuan
akan lebih cepat terjadi. Karena ketiadaan hambatan dalam melakukan penelitian. Baik dalam
memilih objek penelitian, cara yang digunakan maupun penggunaan produk penelitian.
Sedangkan bagi ilmuwan penganut faham nilai terikat, perkembangan pengetahuan akan terjadi
sebaliknya. karena dibatasinya objek penelitian, cara, dan penggunaan oleh nilai.
Kendati demikian paham pengetahuan yang disandarkan pada teori bebas nilai ternyata
melahirkan sebuah permasalahan baru. Dari yang tadinya menciptakan pengetahuan sebagai
sarana membantu manusia, ternyata kemudian penemuannya tersebut justru menambah masalah
bagi manusia. Meminjam istilah carl Gustav Jung “bukan lagi Goethe yang melahirkan Faust
melainkan Faust-lah yang melahirkan Goethe”.
2. Jenis-jenis Nilai
Berikut adalah jenis-jenis nilai yang di kategorikan pada perubahannya:G:\print\Aksiologi Ilmu
« Man Arafa Nafsahu Faqad arafa Rabbahu.htm - _ftn6
Jenis-jenis Nilai

Baik dan Buruk

Sarana dan Tujuan

Penampakan dan Real

Subjektif dan Objektif

Murni dan Campuran

Aktual dan Potensial


3. Hakikat Nilai
Berikut adalah beberapa contoh dari hakikat nilai dilihat dari anggapan atau pendapatnya:
a. Nilai berasal dari kehendak, Voluntarisme.
b. Nilai berasal dari kesenangan, Hedonisme
c. Nilai berasal dari kepentingan.
d. Nilai berasal dari hal yang lebih disukai (preference).
e. Nilai berasal dari kehendak rasio murni.
4. Kriteria Nilai
Standar pengujian nilai dipengaruhi aspek psikologis dan logis.
a. Kaum hedonist menemukan standar nilai dalam kuantitas kesenangan yang dijabarkan oleh
individu atau masyarakat.
b. Kaum idealis mengakui sistem objektif norma rasional sebagai kriteria.
c. Kaum naturalis menemukan ketahanan biologis sebagai tolok ukur.
5. Status Metafisik Nilai
a. Subjektivisme adalah nilai semata-mata tergantung pengalaman manusia.
b. Objektivisme logis adalah nilai merupakan hakikat logis atau subsistensi, bebas dari
keberadaannya yang dikenal.
c. Objektivisme metafisik adalah nilai merupakan sesuatu yang ideal bersifat integral, objektif,
dan komponen aktif dari kenyataan metafisik. (mis: theisme).
6. Karakteristik Nilai
a. Bersifat abstrak; merupakan kualitas
b. Inheren pada objek
c. Bipolaritas yaiatu baik/buruk, indah/jelek, benar/salah.
d. Bersifat hirarkhis; Nilai kesenangan, nilai vital, nilai kerohanian, nilai kekudusan.
III Penutup
Aksiologi membberikan jawaban untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan.
Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah nilai. Bagaimana
penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan nilai. Bagaimana kaitan antara teknik
prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma nilai
G:\print\Aksiologi Ilmu « Man Arafa Nafsahu Faqad arafa Rabbahu.htm - _ftnref1Jujun S
Suriasumantri, filsafat ilmu, (Jakarta:Pustaka Sinar Harapan, 2003). 233.
G:\print\Aksiologi Ilmu « Man Arafa Nafsahu Faqad arafa Rabbahu.htm - _ftnref2Nor Hasidah
Abu Bakar, e Bahan Pengajaran IPK 503, (Kuala Lumpur:Pusat Pemikiran dan Kefahaman
Islam, Unit ICT dan e Penerbitan, tt).
G:\print\Aksiologi Ilmu « Man Arafa Nafsahu Faqad arafa Rabbahu.htm - _ftnref3Aulia
Ridwan CS, “ilmu dan mistik sebagai pseudo ilmu”, (Makalah, PPs IAIN Sunan Ampel,
Surabaya, 207), bb.
G:\print\Aksiologi Ilmu « Man Arafa Nafsahu Faqad arafa Rabbahu.htm - _ftnref4Ahmad
Tafsir, filsafat ilmu, (Bandung:Rosdakarya, 2006). 37-41.
G:\print\Aksiologi Ilmu « Man Arafa Nafsahu Faqad arafa Rabbahu.htm - _ftnref5Ibid, 45.
G:\print\Aksiologi Ilmu « Man Arafa Nafsahu Faqad arafa Rabbahu.htm - _ftnref6Bahm,
Archie, J., “What Is Science”, Reprinted from my Axiology; The Science Of Values”,
(Albuquerqe, New Mexico: World Books, 1984), 51.