Anda di halaman 1dari 14

Kultur jaringan

Kultur jaringan atau biakan jaringan merupakan teknik pemeliharaan


jaringan atau bagian dari individu secara buatan (artifisial). Yang dimaksud
secara buatan adalah dilakukan di luar individu yang bersangkutan. Karena
itu teknik ini sering kali disebut kultur in vitro, sebagai lawan dari in vivo.
Dikatakan in vitro (bahasa Latin, berarti "di dalam kaca") karena jaringan
dibiakkan di dalam tabung inkubasi atau cawan Petri dari kaca atau material
tembus pandang lainnya. Kultur jaringan secara teoretis dapat dilakukan
untuk semua jaringan, baik dari tumbuhan maupun hewan (termasuk
manusia) namun masing-masing jaringan memerlukan komposisi media
tertentu.

Pelaksanaan teknik ini memerlukan berbagai prasyarat untuk mendukung


kehidupan jaringan yang dibiakkan. Yang paling esensial adalah wadah dan
media tumbuh yang steril. Media adalah tempat bagi jaringan untuk tumbuh
dan mengambil nutrisi yang mendukung kehidupan jaringan. Media tumbuh
menyediakan berbagai bahan yang diperlukan jaringan untuk hidup dan
memperbanyak dirinya. Ada dua penggolongan media tumbuh: media padat
dan media cair. Media padat pada umumnya berupa padatan gel, seperti
agar. Nutrisi dicampurkan pada agar. Media cair adalah nutrisi yang
dilarutkan di air. Media cair dapat bersifat tenang atau dalam kondisi selalu
bergerak, tergantung kebutuhan.

Teori dasar dari kultur in vitro ini adalah Totipotensi.Teori ini mempercayai
bahwa setiap bagian tanaman dapat berkebang biak.karena seluruh bagian
tanaman terdiri atas jaringan - jaringan hidup.

Klutur jaringan hewan


Teknologi genetika merupakan cabang ilmu yang berkembang cepat
dengan mengubah sistem produksi tanaman, ternak dan ikan menjadi
industri biologi yang lebih baik dan lebih adaptif terhadap lingkungan
tumbuh. Penerapan teknologi genetika dengan perubahan bentuk menjadi
ideal pada tanaman, ternak dan ikan telah meningkatkan produksi pertanian
pada abad ini (Budianto, 2000). Pada akhir abad ke-20 perkembangan
teknologi genetika atau secara umum disebut bioteknologi mulai
berkembang. Menurut Moeljopawiro (2000) bioteknologi dalam arti luas
didefinisikan sebagai penggunaan proses biologi dari mikroba, tanaman atau
hewan untuk menghasilkan produk yang bermanfaat bagi manusia.
Sedangkan rekayasa genetika didefinisikan dalam arti luas sebagai teknik
yang digunakan untuk merubah atau memindahkan material genetik (gen)
dari sel hidup. Definisi yang lebih sempit, seperti yang digunakan oleh
Animal and Plant Health Inspection Service (APHIS) Departemen Pertanian
Amerika, rekayasa genetika modifikasi genetic dari suatu organisme dengan
menggunakan teknologi rekombinan DNA.

Bioteknologi merupakan bidang ilmu yang dapat menyelesaikan


masalah-masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan cara konvensional.
Penggunaan bioteknologi bukan untuk menggantikan metode konvensional
tetapi bersama-sama menghasilkan keuntungan secara ekonomi.
Penggunaan metode konvensional dengan teknologi tinggi memaksimumkan
keberhasilan program perbaikan pertanian. Bioteknologi harus diintegrasikan
ke dalam pendekatan- pendekatan konvensional yang sudah mapan.
Bioteknologi berkembang dengan cepat di berbagai sektor dan
meningkatkan keefektifan cara-cara menghasilkan produk dan jasa. Alih
teknologi dan pengembangan bioteknologi secara layak dan tidak merusak
lingkungan, memerlukan berbagai persyaratan selain peraturan perundang-
undangan juga modal yang besar.

Salah satu isu strategis yang penting dalam penelitian genetik saat ini
ialah penelitian harus dapat secara terus menerus memperbaiki potensi
genetik dan menghasilkan teknologi yang efisien dan ramah lingkungan.
Perbaikan bahan genetik melibatkan gabungan pemakaian cara pendekatan
konvensional dan modern, dengan penekanan pada aplikasi bioteknologi
dalam pelestarian plasma nutfah dan program pemuliaan. Kegiatan
penelitian dan pengembangan bioteknologi dapat dikelompokkan menjadi
tiga, yaitu mikrobiologi terapan, kultur jaringan, dan biologi molekuler. Pada
makalah ini hanya membahas kultur jaringan pada hewan dan aplikasinya.

2.1. Kultur Jaringan Hewan

Kultur jaringan dilakukan pertama kali pada awal abad ke-20 oleh
Gottleib Haberlandt (pada tanaman) dan Alexis Carrel (pada hewan). Kultur
jaringan komersial pertama dilakukan tahun 1920-an pada pembiakan klon
tanaman dengan media buatan untuk tunas dan pertumbuhan tanaman
anggrek. Sekitar tahun 1950-an dan 60-an terjadi kemajuan besar pada
penelitian, setelah adanya perkembangan medium buatan yang baik
(Murashige dan Skoog, 1962) kultur jaringan tanaman mulai benar-benar
dikomersialkan. Kultur jaringan merupakan istilah yang digunakan untuk
proses pertumbuhan sel secara artifisial di laboratorium
(OSMS.otago.ae.nz/main/bursary). Kultur jaringan bertujuan untuk
memanfaat-kan teknik kultur sel dan jaringan untuk perbaikan bahan
genetik. Kegiatan penelitian tersebut terutama untuk mengembangkan
teknik induksi dan regenerasi dari embrio dan protoplas, serta identifikasi
genetis yang memiliki efisiensi tinggi dalam proses regenerasi yang
merupakan bagian dari transformasi. Kultur jaringan dapat dilakukan pada
tanaman maupun hewan. Kultur jaringan menghasilkan klon-klon yang
memiliki genotif yang sama (kecuali terjadi mutasi selama proses
pembiakan). Manfaat kultur jaringan pada tanaman dan hewan berkembang
dengan modifikasi genetik menggunakan jasa virus dan bakteri sebagai
vektor dan gene guns untuk menghasilkan organisme yang memiliki susunan
genetik tertentu. Kultur jaringan membutuhkan antara lain

• Jaringan yang sesuai (jaringan yang lebih baik)


• Medium pertumbuhan yang sesuai yang terdiri dari sumber
energi dan mineral anorganik untuk mensuplai pertumbuhan sel.
Medium ini bisa berupa cair atau semipadat
• Kondisi aseptik (steril) sehingga mikroorganisme tumbuh lebih
cepat daripada jaringan tanaman dan hewan sehingga bisa
mengambil alih fungsi jaringan
• Pengatur pertumbuhan
• Tanaman auxins & cytokinins
• Hewan tersedia pada serum dari tipe sel yang dibiakkan
• Jumlah subkultur untuk menjamin kecukupan nutrisi dan
menghindari adanya sisa metabolisme
• Jaringan hewan diperoleh dari spesimen partikular atau dari
‘tissue bank’ dari “cryo-preserved” (cryo = jaringan yang dibekukan
pada suhu yang rendah dengan medium spesifik)
• Jaringan ditempatkan pada medium yang sesuai pada kondisi
aseptik

1. Shell-Less Chick Embryo Culture sebagai Model Alternatif In Vitro


untuk Mengetahui Glukosa Penyebab Cacat pada Embrio Mamalia
(Savita dan Bhonde, 2005)

Penelitian ini mengembangkan sistem pembiakan shell-less chick


embryo secara sederhana untuk mengetahui glukosa penyebab cacat.
Sistem ini meliputi pembiakan embrio ayam dari hari ke-2 sampai ke-5 masa
inkubasi, yang dihubungkan dengan kuning telur dan ketebalan albumen
yang menyelimuti telur. Embrio ayam dibiakkan pada cawan petri.
Perkembangan embrio pada 24, 48 dan 72 jam pengeraman dengan
perlakuan 2 konsentrasi glukosa 50 mM dan 100 mM untuk 24 jam.

Preparasi shell-less chick embryo culture dilakukan pada seluruh kultur


embrio pada kondisi yang steril. Albumen tipis dari telur unfertil dimasukkan
ke dalam cawan petri. Albumen ini berperan sebagai penahan benturan,
menyediakan bantalan untuk kultur dan terbatas dilakukan pada desikasi.
Telur yang fertil dipecah dari cangkangnya dengan bantuan scalpel kira-kira
3-3,5 cm dari ujung yang sempit dan isi telur kemudian diletakkan pada
bantalan albumen yang ada pada cawan petri. Didapatkan bahwa peluang
hidup embrio tinggi apabila isi telur ditransfer tanpa kerusakan embrio atau
kuning telur dan embrio terjaga pada posisi yang tepat.

Setiap cawan petri ditutup dengan penutup, kemudian kultur diinkubasi pada
suhu 37.5°C dan kelembaban 80%. Embrio ayam umur 24 jam (kira-kira HH
tingkat 7-9), 48 jam (HH tingkat 12-14) dan 72 jam inkubasi (HH tingkat 19-
21) digunakan untuk percobaan mengikuti pembagian tingkat menurut
Hamberger Hamilton.
Perlakuan glukosa menghasilkan tingkat mortalitas lebih dari 70% pada
embrio muda. Berbagai cacat seperti pertumbuhan yang terlambat,
perkembangan jantung yang abnormal, makrosomia, exencephaly dan lain-
lain yang diteliti pada embrio tua sama seperti yang dilaporkan pada embrio
mamalia yang merupakan akibat kehamilan diabetik. Glukosa penyebab
cacat yang ditemukan tergantung pada konsentrasi dan tingkatnya,
ditekankan pada peran derajat hiperglisemia dan tingkat perkembangan
embrio pada anomaly pertumbuhan diabetik. Penelitian ini menjelaskan
bahwa sistem tersebut dapat digunakan untuk percobaan pada
perkembangan embrio ayam pada tahap awal dan memperkirakan pengaruh
toksisitas glukosa akut seperti yang dilaporkan pada embrio mamalia pada
kondisi hiperglisemik.

2. Shell-less culture of the chick embryo sebagai sistem modeluntuk


mempelajari perkembangan neurobilogi

Penelitian mengenai Shell-less culture of the chick embryo sebagai


sistem model untuk mempelajari perkembangan neurobilogi telah dilakukan
oleh Tufan et al., (2004). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
menunjukkan the shell-less culture system pada embrio ayam sebagai model
penelitian lapangan yang potensial untuk mengamati perkembangan
neurobiology. Dalam penelitian ini dijelaskan teknik shell-less culture model
system pada embrio ayam dan menunjukkan perkembangan sistem saraf
pusat mulai dari awal, tahap three-vesicle brain stage up sampai tahap five-
vesicle brain stage ketika embrio mempunyai daya tahan 100%.

Materi yang digunakan adalah telur ayam yang telah dibuahi. Prosedur
pelaksanaannya meliputi beberapa tahapan, yang meliputi:

1. Tahap Preparasi komposisi biakan (Preparation of culture


containers). Komposisi biakan terdiri dari polyethylene film yang
bersifat transparan dan semipermeabel dan dilengkapi dengan
pengaman yang berupa karet pengikat pada bagian mulut cup
plastik silinder (diameter = 7 cm; tinggi = 7 cm) ditutup dengan
cawan petri yang tertutup plastik . Komposisi biakan selanjutnya
dipasteurisasi dengan sinar UV selama 1 jam.
2. Penyiapan shell-less cultures. Shell-less cultures disiapkan sesuai
dengan petunjuk Hamamichi dan Nishigori (2001) dengan sedikit
modifikasi . Sesuai petunjuk, dilakukan tahap preinkubasi telur
ayam yang telah dibuahi selama 30-33 jam pada 37,5oC pada
inkubator telur sampai mencapai 9 tahap sesuai yang dijelaskan
oleh Hamburger dan Hamilton (1951), (Ilustrasi 1A dan 1B).
Persiapan untuk penempelan telur ditempatkan secara horisantal,
disemprot dengan ethanol 70% dan diletakkan pada udara kering
selama 10 menit untuk mengurangi kontaminasi pada permukaan
telur dan juga untuk memastikan bahwa embrio berada pada posisi
yang sesuai (Aurbach et al., 1974). Dilanjutkan dengan
menempatkan telur pada ruangan yang sejuk untuk menghindari
terjadinya pemecahan kuning telur pada proses eksplantasi (Giles
dan Bandigan, 1999).
3. Isi telur dipindahkan dalam keadaan aseptik (di dalam lapisan
berlapis) ke dalam isi biakan melalui pemecahan sisi bawah tepi (1D
dan 1E). Hanya kultur dengan posisi blastodisc pada bagian sisi atas
kuning telur yang digunakan. Setiap shell-less culture ditutup
dengan cawan yang ditutup plastik steril, kemudian dipindahkan
dalam inkubator pada 37,5oC dengan kelembaban yang jenuh
kemudian ditetaskan sesuai dengan waktu yang dibutuhkan . Pada
penelitian ini inkubasi dilakukan selama 96 jam, termasuk 30-33
jam waktu preinkubasi untuk pengamatan sampai tahap five-vesicle
brain stage.

Dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa shell-less


culture pada embrio ayam adalah efesien. Melalui metode ini dapat
diketahui perkembangan saraf embrio hewan vertebrata.

Kultur jaringan tumbuhan


Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara
vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan
cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta
menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik
yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang
tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan
bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur
jaringan adalah perbayakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif
tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril.

Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak


tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara
generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa
keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya,
dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu
membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah
besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin,
kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan
konvensional.

Tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan teknik kultur


jaringan adalah:
1) Pembuatan media
2) Inisiasi
3) Sterilisasi
4) Multiplikasi
5) Pengakaran
6) Aklimatisasi

Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur


jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis
tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari
garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan
tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon)
yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya,
tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang
sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media
yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan
autoklaf.

Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan


dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur
jaringan adalah tunas.

Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus


dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-
alat yang juga steril. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu
menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang
digunakan. Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril.

Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan


menanam eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk
menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya
pertumbuhan eksplan. Tabung reaksi yang telah ditanami ekplan diletakkan
pada rak-rak dan ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar.

Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya


pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang
dilakukan mulai berjalan dengan baik. Pengamatan dilakukan setiap hari
untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat
adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan yang
terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru
(disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri).

Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan


aseptic ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap,
yaitu dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi
bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur
jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar.
Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara
bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara
yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif.

Keunggulan inilah yang menarik bagi produsen bibit untuk mulai


mengembangkan usaha kultur jaringan ini. Saat ini sudah terdapat beberapa
tanaman kehutanan yang dikembangbiakkan dengan teknik kultur jaringan,
antara lain adalah: jati, sengon, akasia, dll.

Bibit hasil kultur jaringan yang ditanam di beberapa areal menunjukkan


pertumbuhan yang baik, bahkan jati hasil kultur jaringan yang sering disebut
dengan jati emas dapat dipanen dalam jangka waktu yang relatif lebih
pendek dibandingkan dengan tanaman jati yang berasal dari benih generatif,
terlepas dari kualitas kayunya yang belum teruji di Indonesia. Hal ini sangat
menguntungkan pengusaha karena akan memperoleh hasil yang lebih cepat.
Selain itu, dengan adanya pertumbuhan tanaman yang lebih cepat maka
lahan-lahan yang kosong dapat c
KEUNTUNGAN PEMANFAATAN
KULTUR JARINGAN
¨ Pengadaan bibit tidak tergantung musim
¨ Bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak
dengan waktu yang relatif lebih cepat (dari
satu mata tunas yang sudah respon dalam 1
tahun dapat dihasilkan minimal 10.000
planlet/bibit)
¨ Bibit yang dihasilkan seragam
¨ Bibit yang dihasilkan bebas penyakit (meng
gunakan organ tertentu)
¨ Biaya pengangkutan bibit relatif lebih murah
dan mudah
¨ Dalam proses pembibitan bebas dari gang
guan hama, penyakit, dan deraan lingkungan
lainnya

KULTUR jaringan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk


membuat bagian tanaman (akar, tunas, jaringan tumbuh tanaman)
tumbuh
menjadi tanaman utuh (sempurna) dikondisi invitro (didalam gelas).
Keuntungan dari kultur jaringan lebih hemat tempat, hemat waktu,
dan
tanaman yang diperbanyak dengan kultur jaringan mempunyai sifat
sama
atau seragam dengan induknya.

Contoh kultur jaringan pada tanaman ialah anggrek, diperkirakan sekitar


5000 jenis anggrek spesies tersebar di hutan wilayah Indonesia. Potensi ini
sangat berharga bagi pengembang dan pecinta anggrek di Indonesia,
khususnya potensi genetis untuk menghasilkan anggrek silangan yang
memiliki nilai komersial tinggi. Potensi tersebut akan menjadi tidak berarti
manakala penebangan hutan dan eksploitasi besar-besaran terjadi hutan
kita, belum lagi pencurian terang-terangan ataupun “terselubung” dengan
dalih kerjasama dan sumbangan penelitian baik oleh masyarakat kita
maupun orang asing.

Sementara itu hanya sebagian kecil pihak yang mampu melakukan


pengembangan dan pemanfaatan anggrek spesies, khususnya yang
berkaitan dengan teknologi kultur jaringan. Tidak dipungkiri bahwa metode
terbaik hingga saat ini dalam pelestarian dan perbanyakan anggrek adalah
dengan kultur jaringan, karena melalui kuljar banyak hal yang bisa dilakukan
dibandingkan dengan metode konvensional.

Secara prinsip, lab kultur jaringan dapat disederhanakan dengan melakukan


modifikasi peralatan dan bahan yang digunakan, sehingga sangat
dimungkinkan kultur jaringan seperti ‘home industri’. Hal ini dapat dilihat
pada kelompok petani ‘pengkultur biji anggrek’ di Malang yang telah
sedemikian banyak.

Beberapa gambaran dan potensi yang bisa dimunculkan dalam kultur


jaringan diantaranya adalah :

• Kultur meristem, dapat menghasilkan anggrek yang bebas


virus,sehingga sangat tepat digunakan pada tanaman anggrek spesies
langka yang telah terinfeksi oleh hama penyakit, termasuk virus.
• Kultur anther, bisa menghasilkan anggrek dengan genetik haploid
(1n), sehingga bentuknya lebih kecil jika dibandingkan dengan anggrek
diploid (2n). Dengan demikian sangat dimungkinkan untuk
menghasilkan tanaman anggrek mini, selain itu dengan kultur anther
berpeluang memunculkan sifat resesif unggul yang pada kondisi
normal tidak akan muncul karena tertutup oleh yang dominan
• Dengan tekhnik poliploid dimungkinkan untuk mendapatkan
tanaman anggrek ‘giant’ atau besar. Tekhnik ini salah satunya dengan
memberikan induksi bahan kimia yang bersifat menghambat
(cholchicine)
• Kloning, tekhnik ini memungkinkan untuk dihasilkan anggrek dengan
jumlah banyak dan seragam, khususnya untuk jenis anggrek bunga
potong. Sebagian penganggrek telah mampu melakukan tekhnik ini.
• Mutasi, secara alami mutasi sangat sulit terjadi. Beberapa literatur
peluangnya 1 : 100 000 000. Dengan memberikan induksi tertentu
melalui kultur jaringan hal tersebut lebih mudah untuk diatur.
Tanaman yang mengalami mutasi permanen biasanya memiliki nilai
ekonomis yang sangat tinggi
• Bank plasma, dengan meminimalkan pertumbuhan secara ‘in-vitro’
kita bisa mengoleksi tanaman anggrek langka tanpa harus memiliki
lahan yang luas dan perawatan intensif. Baik untuk spesies langka
Indonesia maupun dari luar negeri untuk menjaga keaslian genetis
yang sangat penting dalam proses pemuliaan anggrek.
Transplantasi
Organ
Transplantasi organ adalah transplantasi atau pemindahan seluruh atau
sebagian organ dari satu tubuh ke tubuh yang lain, atau dari suatu tempat
ke tempat yang lain pada tubuh yang sama. Transplantasi ini ditujukan
untuk menggantikan organ yang rusak atau tak befungsi pada penerima
dengan organ lain yang masih berfungsi dari donor. Donor organ dapat
merupakan orang yang masih hidup ataupun telah meninggal.

TRANSPLANTASI dapat dilakukan dari satu spesies yang sama-disebut


alotransplantasi-atau dari spesies berbeda yang disebut xenotransplantasi.
Alotransplantasi pada manusia telah terbukti bisa mengatasi berbagai
gangguan kesehatan.

Sayang sekali, sumber jaringan atau organ manusia untuk ditransplantasikan


sangat sedikit sehingga terjadi antrean panjang untuk mendapatkan jaringan
atau organ donor. Karena itu banyak ahli memikirkan kemungkinan
menggunakan binatang sebagai sumber organ dan jaringan untuk
ditransplantasikan. Keuntungan terbesar jika dapat menggunakan sel,
jaringan, atau organ binatang-berarti xenotransplantasi-adalah tidak
terbatasnya sumber donor. Mau tidak mau, di masa depan manusia makin
membutuhkan pertolongan transplantasi organ dari binatang.

Sampai saat ini penggunaan katup jantung dari babi sudah rutin. Penelitian
kedokteran sekarang sedang meneliti apakah sel-sel binatang juga dapat
digunakan untuk menolong pankreas manusia memproduksi insulin. Juga
mungkin dalam waktu tidak terlalu lama menggunakan kulit dari babi untuk
menolong orang menderita luka bakar berat.

Meski sekarang belum ada yang menerima transplantasi organ jantung, hati,
atau ginjal babi, masalah xenotransplantasi sudah menjadi perdebatan
hangat. Di Jerman sekitar 11.000 orang masih menunggu untuk transplantasi
organ, padahal kemampuan mentransplantasikan organ hanya sekitar 3.000
setahun, baik di Jerman maupun Inggris. Di Amerika Serikat sekitar 53.000
orang menunggu proses transplantasi.
Penelitian yang dilakukan

Tranplantasi dari manusia ke manusia telah banyak dilakukan. Risiko utama


pada penerima transplantasi adalah penolakan karena respons imun. Pada
transplantasi dari manusia ke manusia (alotransplantasi), penolakan ini
sebagian besar dapat diatasi dengan penyesuaian donor dan penerima,
disertai dengan pemberian obat yang menekan respons imun.

Risiko penolakan pada xenotransplantasi lebih berat karena perbedaan


antara donor dan penerima jauh lebih besar. Kalau xenotranplantasi menjadi
pilihan untuk terapi pada manusia, maka diperlukan penelitian yang meliputi
preklinik dan klinik.

Pada preklinik, dilakukan penelitian dari binatang ke binatang. Jadi, prosedur


xenotransplantasi diuji pada binatang, contohnya transplantasi ginjal babi ke
baboon. Pada penelitian klinik, diuji produk binatang pada manusia,
misalnya, transplantasi sel otak babi ke manusia. Australia yang cukup maju
meneliti xenotransplantasi ini ternyata juga belum begitu jauh kemajuannya.
Soalnya, prosedur ini memang harus dilakukan secara hati-hati sesuai
standar yang ditetapkan National Health and Medical Research Council
(NHMRC) yang baru diedarkan Juli 2002.

Harus diakui, binatang donor yang paling menguntungkan dan


memungkinkan adalah babi karena bereproduksi secara cepat dan anaknya
banyak, organnya berukuran kurang lebih sama dengan manusia, mudah
membuatnya dalam kondisi bebas patogen, rendahnya risiko membawa
patogen yang menginfeksi manusia (lebih kecil daripada menggunakan kera
atau monyet), dan metabolisme babi yang mirip manusia. Selain itu babi
secara genetik dapat dimanipulasi untuk mengurangi resiko penolakan.

Risiko xenotransplantasi

Resiko utama penerima transplantasi adalah penolakan karena respons imun


pasien. Pada transplantasi dari manusia ke manusia (alotransplantasi),
penolakan sebagian besar telah dapat diatasi dengan tissue matching
penyesuaian donor dan penerima dan dengan pemberian obat kepada
penerima yang dapat menekan respons imun.

Risiko penolakan pada xenotransplantasi lebih berat karena perbedaan


antara donor dan penerima jauh lebih besar. Xenotransplantasi juga dapat
mentransmisikan infeksi (seperti virus) dari binatang ke manusia. Retrovirus
menjadi perhatian utama karena banyak contoh virus pindah dari satu
spesies ke spesies lain dan saling menginfeksi.

Retrovirus tidak selalu menimbulkan tanda atau gejala penyakit yang jelas
pada awalnya. Kalau ada retrovirus saat xenotransplantasi dan menginfeksi
penerima, ia dapat menyebar dan bisa menjadi pembawa infeksi pada
populasi yang luas sebelum terjadi infeksi nyata.

Primata bukan manusia (kera dan monyet) tidak baik untuk sumber
transplantasi binatang ke manusia karena hubungannya yang sangat erat ke
manusia akan meningkatkan risiko virus bertransmisi antar spesies.

Virus yang paling perlu diperhatikan pada xenotransplantasi menggunakan


babi adalah porcine endogenous retrovirus (PERV). PERV ada di dalam
hampir semua strain babi dan tidak dapat dihilangkan dengan meningkatkan
babi dalam kondisi steril. Meskipun PERV inaktif, dan karena itu tidak
berbahaya di dalam babi, dikhawatirkan transplantasi ke manusia dapat
mengaktifkan virus, menimbulkan penyakit baru, dan dapat menyebar luas
pada orang yang dekat pada penerima transplantasi.

PERV dapat menginfeksi sel manusia dalam laboratorium, menandakan


kemungkinan ia dapat menginfeksi manusia melalui xenotransplantasi. Akan
tetapi, menurut NHMRC, penelitian dari sekitar 150 orang yang tersebar luas
di dunia yang ditransplantasi dengan jaringan babi atau sel babi
menunjukkan tidak terdapat kejadian infeksi virus atau infeksi lain yang
berasal dari babi.

Minimalisasi risiko

Meskipun kebanyakan babi membawa PERV, tetapi sekurangnya satu strain


"minipigs" tidak membawanya sehingga penelitian diarahkan ke pada strain
ini untuk xenotransplantasi agar supaya mengurangi risiko infeksi terhadap
penerima.

Menurut NHMRC, penelitian transplantasi dari binatang ke manusia tidak


akan disetujui kecuali terdapat kebijakan pengontrol infeksi yang memadai
di rumah sakit tempat transplantasi dilakukan. Ini untuk mencegah
penularan infeksi dari penerima xenotransplantasi ke orang lain di rumah
sakit. Karena konsekuensi jangka panjang xenotransplantasi belum dapat
diketahui untuk beberapa tahun mendatang, maka transplantasi dengan sel,
jaringan, atau organ dari spesies lain perlu dipantau secara hati-hati dan
terus-menerus. Karena itu setiap penerima transplantasi perlu diberitahu
mengenai risiko potensi penyakit infeksi terhadap mereka sendiri dan
terhadap lingkungannya serta diminta untuk mendukung pemantauan
jangka panjang.

Penelitian xenotransplantasi dari binatang ke manusia yang telah dilakukan


saat ini di Australia adalah suatu penelitian penyaringan darah melalui hati
bioartificial pada 3 peserta.
NHMRC melaporkan bahwa saat ini xenotransplantasi sedang dilakukan di
Amerika Serikat dan Eropa. Penelitian ini melibatkan transplantasi sel saraf
fetus untuk pengobatan penyakit parkinson, demikian juga prosedur perfusi
hati dan kultur kulit.

Suatu penelitian kecil sel pulau Langerhans fetus babi untuk diabetus tipe I
telah dilakukan pada dua pasien di Selandia Baru. Namun, penelitian
lanjutannya ditolak di Selandia Baru karena takut akan terjadinya infeksi
PERV.

Banyak negara Eropa telah memutuskan penelitian xenotransplantasi harus


di bawah penuntun yang telah disetujui. Menurut Badan Pekerja
Xenotransplantasi NHMRC, yang terbaik untuk Australia adalah mengizinkan
penelitian secara hati-hati di bawah petunjuk dengan memperhatikan
masalah etik, melindungi peserta yang mengikuti penelitian, dan menjamin
keamanan usaha perlindungan masyarakat.

Binatang transgenik

Usaha lain yang dilakukan saat ini untuk mengurangi risiko penolakan adalah
dengan mengkaji binatang transgenik. Penolakan utama pada
xenotransplantasi adalah penolakan hiperakut. Penolakan ini terjadi karena
hiperakut menolak gula galaktosa yang diproduksi babi sehingga
mengakibatkan rusaknya pembuluh darah manusia.

Karena itu dengan rekayasa genetika diupayakan diperoleh babi "knock out"
yang tidak mempunyai gen galtransferase. Dengan demikian, babi tersebut
tidak dapat mensintesis enzim galactosyl transferase dan akhirnya tidak
dapat membuat galaktosa. Hasil penelitian terakhir adalah dihasilkannya
lima anak babi yang kekurangan gen galtransferase, namun hanya empat
yang tetap hidup. Sekarang sedang diusahakan menghasilkan babi yang
sama sekali tidak mengandung gen galtransferase dengan teknik hibrida
biasa.

Penelitian penting lain yang juga perlu dilakukan adalah penambahan gen
pada binatang yaitu gen penghambat komplemen (complement inhibitor
gene) dan gen yang terlibat dalam restoring koagulasi normal untuk
mencegah penolakan organ dalam jangka panjang (4). Juga mekanisme
rejeksi lainnya meliputi penolakan tipe lambat (xenograft delayed) yang
terjadi dalam beberapa hari ketika antibodi, makrofag, dan natural killer cells
menyerang organ. Rejeksi kronis T cell mediated dapat terjadi bulanan atau
tahunan.

Kalau pada alotransplantasi manusia ke manusia dapat dikontrol dengan


imunsupresi jangka panjang, mungkin hal ini tidak cukup untuk
xenotranplantasi. Manusia dan primata lainnya dilindungi oleh antibodi yang
menetralisasi virus. Menghilangkan gen yang menyebabkan penolakan
hiperakut mungkin juga menghilangkan mekanisme pertahanan tubuh
terhadap virus babi.

Perkembangan terakhir

Hasil xenotransplantasi terakhir dilaporkan dari Kongres Perkumpulan


Transplantasi Internasional di Miami, Agustus 2002, dan laporan CDC
(Central for Disease Control, AS). Disebutkan pelayanan klinik
xenotransplantasi rutin saat ini masih jauh. Beberapa penelitian klinik belum
berhasil. Perlu dilakukan banyak penelitian dan tidak berarti tidak ada
kemajuan.

Sampai saat ini belum ada produk xenotransplantasi yang disetujui FDA
Amerika Serikat. Beberapa aplikasi telah mencapai penelitian klinik fase 3.
Tidak terdapat kejadian infeksi yang berhubungan dengan penelitian ini pada
penelitian yang dipantau FDA.

Penelitian sel pankreas babi yang ditransplantasikan kepada 12 remaja


penderita diabetus membuat satu orang telah bebas penyuntikan insulin
beberapa bulan kemudian, lima orang dosis penyuntikan insulinnya dapat
dikurangi, dan enam orang lagi tidak ada perubahan. Namun, kontroversi
muncul karena data masih sangat awal dan tidak ada data perbandingan
dengan sampel dewasa yang membutuhkan insulin. Perbandingan ini
penting karena kebutuhan insulin sering berfluktuasi pada kelompok
tersebut dan perbaikan mungkin tidak berhubungan dengan transplantasi.

Kontroversi lain adalah penelitian dilakukan pada manusia sebelum


dilakukan penelitian preklinik pada primata bukan manusia. Umur sampel
penelitian juga ada yang masih di bawah empat tahun. Sponsor sebenarnya
telah ditolak izinnya untuk meneliti di Kanada dan Selandia Baru karena
tidak memiliki penelitian preklinik dan alasan lainnya, sehingga kemudian
memindahkan penelitiannya ke Meksiko.

Badan Pekerja Xenotransplantasi NHMRC telah mengusulkan bahwa ke


depan penelitian klinik xenotransplantasi harus diawasi suatu komite
nasional untuk menjamin bahwa penelitian klinik yang diajukan adekuat dan
dapat dimonitor sesuai petunjuk yang disetujui.

Dengan demikian, usulan penelitian harus disetujui oleh komite nasional


sebelum mereka dapat dipertimbangkan oleh komite etik penelitian manusia
pada institusi di mana penelitian akan dilakukan.