Anda di halaman 1dari 13

Join today to get your own Multiply site

my only Site
HomeBlogPhotosVideoMusicCalendarLinks

May 2, '08 10:57 AM


hakikat negara pada umumnya
for everyone

BAB I

Hakikat Negara Pada Umumnya fam

1. Hakikat Negara Menurut Hukum Internasional

Negara merupakan subyek hukum internasional. Mengenal istilah “Negara” itu sendiri tidak
terdapat definisi yang tepat, tetapi dengan melihat kondisi-kondisi modern saat ini, dapat ditentukan
karekteristik-karakteristik pokok suatu negara.

Pasal 1 Konvensi Montevideo 1933 mengenai Hak-Hak dan Kewajiban-Kewajiban Negara (yang
ditangani oleh Amerika Serikat dan Negara Amerika Latin) merupakan karakteristik-karakteristik
berikut ini:

“Negara sebagai hukum internasional harus memiliki syarat-syarat berikut: (1) penduduk
tetap, (2) wilayah tertentu (3) Pemerintah , dan (4) kemampuan untuk melakukan hubungan
dengan negara-negara lainnya”.

Mengenai syarat (2), Suatu wilayah tertentu bukan merupakan hal yang esensial untuk adanya
negara dengan ketentuan bahwa terdapat pengakuan mengenai apa yang dikarakteristikan sebagai
“ketetapan” (consistency) dari wilayah terkait dan penduduknya, meskipun dalam kenyataannya semua
negara modern berada dalam batas–batas teritorial. Demikian pula, perubahan-perubahan yang terjadi,
baik menambah atau mengurangi luasnya wilayah negara tertentu, tidak dengan sendirinya mengubah
identitas negara tersebut. Wilayah tersebut juga tidak perlu merupakan kesatuan geografis; suatu negara
mungkin terdiri dari beberapa wilayah tertorial, yang kurang berhubungan atau bahkan saling berjauhan
satu sama lain.

Dari segi Hukum Internasional, syarat (4) merupakan syarat yang paling penting. Suatu negara
harus memiliki kemampuan untuk menyelenggarakan hubungan-hubungan eksternal dengan negara-
negara lain. Hal inilah yang membedakan negara dalam arti yang sesungguhnya dari unit-unit yang lebih
kecil seperti anggota-anggota suatu federasi, atau protektorat-protektorat, yang tidak mengurus
hubungan-hubungan luar negerinya sendiri, dan tidak diakui oleh negara-negara yang lain sebagai
anggota masyarakat internasional yang sepenuhnya mandiri.

Negara sama sekali tidak perlu identik dengan suatu ras tertentu, meskipun identitas demikian
memang ada.

Konsepsi Kelsen mengenai negara menekankan bahwa negara merupakan suatu gagasan teknis
semata-mata yang menyatakan fakta bahwa serangkaian kaidah hukum tertentu mengikat sekelompok
individu yang hidup di dalam suatu wilayah teritorial terbatas, dengan perkataan lain, negara dan hukum
merupakan suatu istilah yang sinonim. Dengan analisis yang lebih mendalam akan tampak bahwa teori
ini merupakan penyingkatan dari keempat karakteristik negara, yang dikemukakan diatas, dan
khususnya, adanya system hukum merupakan persyaratan dari suatu pemerintahan sebagai suatu unsur
ketatanegaraan, karena seperti yang dikatakan Locke:

“Suatu pemerintahan tanpa hukum adalah ….suatu misteri dalam politik, yang sulit untuk
dibayangkan seara manusiawi dan tidak konsisten dengan masyarakat manusia”1.

Kosepsi Kelsen tidak memperoleh dukungan dari banyak penulis yang lebih modern, khususnya
di Jerman, yang menyatakan bahwa Kelsen, yang menekankan keidentikan negara dengan hukum, tidak
berhasil menempatkan dengan pentas aspek-aspek kekuatan politik dan akibat-akibat sosiologisnya yang
timbul dari kekuatan negara dan kesinambungannya. Namun, tidak dapat disangkal bahwa suatu
eksistensi suatu sistem hukum merupakan syarat paling pokok dari status kenegaraan.

Dalam kaitan ini hal yang paling penting adalah apakah suatu kenegaraan (statehood) dari suatu
kesatuan bergentung pada sahnya kesatuan tersebut, dan juga dimilikinya suatu sistem hukum yang sah
secara yuridis.

2.Doktrin Hak-Hak Dan Kewajiban-Kewajiban Dasar Negara-Negara.

Sejumlah penulis telah berpaya untuk menyusun daftar-daftar dari apa yang disebut Hak-Hak
dan Kewajiban-Kewajiban “dasar” atau “fundamental” negara-negara. Formulasi tersebut juga merupak
kerja keras Konferensi-Konferensi internasional atau Badan-Badan Internasional; di antaranya American
Institute Of International Law pada tahun 1916, Konvensi Montevideo 1933 mengenai Hak-Hak dan
Kewajiban-Kewajiban Negara, dan dalam draft Declaration On The Rights And Duties Of State yang
disusun oleh Komisi Hukum Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1949, rancangan
deklarasi yang disebut terakhir ini masih tetap berupa rancangan yang perlu dipelajari oleh pemerintah-
pemerintah, dan tidak berhasil menarik penerimaan umum.

Doktrin Hak-Hak dan Kewajiban-Kewajiban dasar didukung oleh beberapa penulis naturalis dari
mereka inilah berasal pemikiran bahwa negara merupakan ciptaan hukum alam; rumusan-rumusan
doktrin ini dalam abad kedua puluh, khususnya yang dibuat negara-negara Amerika Latin, di lain pihak
tampak mengarah kepada pembentukan standart-standart universal tentang hukum dan keadilan dalam
hubungan-hubungan internasional, dan rumusan ini memang tampaknya menjadi tujuan dari Rancangan
Deklarasi tahun 1949.

Hak-hak dasar yang sering ditekankan adalah mengenai hak-hak kemerdekaan dan persamaan
negara-negara, yurisdikasi teritorial dan hak membela diri atau hak mempertahankan diri. Kewajiban-
kewajiban dasar yang ditekankan, antara lain, kewajiban untuk tidak mengambil jalan kekerasan
(perang), kewajiban untuk melaksanakan kewajiban traktat dengan itikad, dan tidak mencampuri urusan
negara lain.
1
Lord Wilberforce, Carl-Zeiss Stiftung V Rayner And Keeler . No 2

BAB II

Hubungan Antara Hukum Internasional dan Hukum Nasional

Teori-Teori Mengenai Hubungan Antara Hukum Internasional Dengan Hukum Nasional1.

Dua teori utama yang dikenal adalah monisme dan dualisme, menurut teori monisme, hukum
internasional dan hukum nasional merupakan aspek yang sama dari satu sistem hukum umumnya;
menurut teori dualisme, hukum internasional dan hukum nasional merupakan dua sistem hukum yang
sama sekali berbeda secara intrinsic (intrinsically) dari hukum nasional. Karena melibatkan sejumlah
besar sistem hukum domestik, teori dualisme, kadang-kadang dinamakan teori pluralistik, tetapi
sesungguhnya istilah “dualisme” lebih tepat dan tidak membingungkan.

1.Dualisme

Barangkali tepat mengatakan bahwa para penulis hukum internasional (misalnya Suarez) tidak
akan pernah meragukan bahwa suatu konstruksi monistis dari dua sistem hukum merupakan satu-satunya
pendapat yang benar, dengan keyakinan bahwa hukum alam menentukan hukum bangsa-bangsa dan
keberadaan negara-negara. Akan tetapi pada abad kesembilan belas dan kedua puluh berkembang
tendensi kuat kearah pandangan dualis, hal ini sebagian merupakan akibat doktrin-doktrin filsafat
(misalnnya dari Hegel) yang menekankan kedaulatan dari kehendak negara dan sebagian lagi merupakan
akibat munculnya pembuat Undang-Undang di negara-negara modern dengan kedaulatan hukum intern
yang lengkap.

Eksponen-eksponen utama dari teori dualisme adalah para penulis positivis, Triepel2 dan Anzilotti3.
Bagi para positivis itu, dengan konsepsi teori kehendak (consensual) mereka tentang hukum
internasional, merupakan hal yang wajar apabila menganggap hukum nasional sebagai suatu system
yang terpisah. Dengan demikian, menurut Triepel, terdapat dua perbedaan fundamental di antara kedua
sistem hukum tersebut, yaitu:

1
Keiser, Principle Of International Law, hal 553-558

2
Volkerrecht und Landsrecht (1899)

3
Corso Di Dirrito Internazionale, Edisi ke 3, 1928, vol 1, hal 43

a. Subyek-subyek hukum nasional adalah individu-individu, sedangkan subyek-subyek


hukum internasional adalah semata-mata dan secara eksklusif hanya negara-negara.

b. Sumber-sumber hukum keduanya berbeda: sumber hukum nasional adalah kehendak


Negara itu sendiri, sumber hukum internasional adalah kehendak bersama
(Gemeinwille) dari negara-negara.

Anzilotti menganut suatu pendekatan yang berbeda; ia membedakan hukum internasional dan
hukum nasioanal menurut prinsip-prinsip fundamental yang mana masing-masing sistem itu ditentukan.
Dalam pendapatnya, hukum nasional ditentukan oleh prinsip atau norma fundamental bahwa perundang-
undangan negara harus ditaati, sedangkan sistem hukum internasional ditentukan oleh prinsip Pacta Sunt
Servanda, yaitu perjanjian antara negara-negara harus di junjung tinggi. Dengan demikian kedua sistem
itu sama sekali terpisah, dan Anzilotti lebih lanjut mengatakan bahwa kedua sistem tersebut terpisah
sedemikian rupa sehingga tidak mungkin akan terjadi pertentangan diantara keduannya; yang mungkin
adalah penunjukan-penunjukan (renvois) dari sistem yang satu ke sistem yang lain, selain daripada itu
tidak terdapat hubungan apa-apa. Mengenai teori Anzilotti ini, cukuplah mengatakan bahwa karena
alasan-alasan yang telah dikemukakan, tidak benar bahwa Pacta Sunt Servanda harus di anggap sebagai
norma yang melandasi hukum internasional; prinsip ini hanya merupakan sebagian contoh dari prinsip
yang sangat luas yang menjadi akar hukum internasional.

Disamping penulis-penulis positivis, teori dualisme telah memperoleh dukungan secara implisit dari
hakim-hakim pengadilan-pengadilan nasional4. Alasan para penganut teori dualisme dalam keompok ini
berbeda dari penulis-penulis positivis, karena mereka terutama melihat pada perbadaan-perbedaan
empiris dalam sumber-sumber formal dari kedua sistem hukum tersebut, yaitu, bahwa di satu pihak
hukum internasional sebagian besar terdiri dari kaidah-kaidah kebiasaan, sedangkan hukum nasional, di
pihak lain, terutama terdiri dari hukum yang dibuat hakim (judge-made law) dan undang-undang yang
dikeluarkan oleh pembuat undang-undang nasional. Di dalam tulisan mengenai hukum internasional
dewasa ini landasan lain yang dipakai untuk mendukung dualisme adalah perbedaan yang tercermin
dalam fakta bahwa sejak tahun 1980-an hukum internasional telah berkembang demikian pesatnya di
berbagai bidang dan aspek,

4
Commercial And Estate Co Of Egypt V Board Of Trade,1925

sementara hukum nasional domestik masih tetap berkaitan dengan lingkup persoalan yang lebih terbatas.

2.Monisme

Penulis-penulis modern yang mendukung konstruksi monistik sebagian besar berusaha


menemukan dasar pandangannya pada analisis yang benar-benar ilmiah mengenai struktur intern dari
sistem-sistem hukum tersebut.

Berbeda dengan para penulis yang menganut teori dualisme, pengikut –pengikut teori monisme
menganggap semua hukum sebagai suatu ketentuan tunggal yang tersusun dari kaidah-kaidah hukum
yang mengikat baik berupa kaidah yang mengikat negara-negara, individu-individu, atau kesatuan-
kesatuan lain yang bukan negara. Menurut pendapat mereka, ilmu pengetahuan hukum merupakan
kesatuan bidang pengetahuan, dan point yang menentukan karenanya adalah apakah hukum internasional
itu merupakan hukum yang sebenarnya apa bukan. Jika secara hipotesis diakui hukum internasional
merupakan suatu kaidah yang benar-benar berkarakter hukum, maka menurut Kelsen (1881-1973) dan
penulis monitis lainnya, tidak mungkin untuk menyangkal bahwa kedua sistem hukum tersebut
merupakan bagian dari kesatuan yang sama dengan kesatuan ilmu pengetahuan hukum. Dengan
demikian suatu konstruksi selain monisme, khususnya dualisme, bermuara pada suatu penyangkalan
karakter hukum yang sebenarnya dari hukum internasional. Penulis-penulis monitis tidak akan
berpendapat lain selain menyatakan bahwa kedua sistem tersebut, karena keduanya merupakan sistem
kaidah-kaidah hukum, merupakan bagian-bagian yang saling berkaitan di dalam suatu struktur hukum.

Namun ada penulis-penulis lain yang mendukung monisme berdasarkan alasan-alasan yang
bukan cuma abstrak semata-mata, dan penulis-penulis tersebut menyatakan, sebagai suatu masalah yang
memiliki nilai praktis, bahwa hukum internasional dan hukum nasional keduanya merupakan bagian dari
keseluruhan kaidah hukum universal yang mengikat segenap umat manusia baik secara kolektif ataupun
individual. Dengan perkataan lain, individu-lah yang sesungguhnya menjadi akar kesatuan dari semua
hukum tersebut.

BAB III

Perjanjian Internasional Sebagai Sumber Hukum Internasional

Dalam hukum internasional terdapat beberapa sumber hukum internasional. Menurut sumber
tertulis yang ada terdapat dua konvensi yang menjadi rujukan apa saja yang menjadi sumber hukum
internasional. Pada Konvensi Den Haag XII, Pasal 7, tertanggal 18 Oktober 1907, yang mendirikan
Mahkamah Internasional Perampasan Kapal di Laut (International Prize Court) dan dalam Piagam
Mahkamah Internasional Permanen, Pasal 38 tertanggal 16 Desember 1920, yang pada saat ini tercantum
dalam Pasal 38 Piagam Mahkamah Internasional tertanggal 26 Juni 19451.

Sesuai dengan dua dokumen tertulis tersebut yang berisi penunjukan pada sumber hukum formal,
hanya dua dokumen yang penting untuk dibahas, yaitu Piagam Mahkamah Internasional Permanen dan
Piagam Mahkamah Internasional. Ini disebabkan karena Mahkamah Internasional mengenai Perampasan
Kapal tidak pernah terbentuk, karena tidak tercapainya minimum ratifikasi. Dengan demikian Pasal 38
Mahkamah Internasional Permanen dan Pasal 38 ayat 1 Mahkamah Internasional, dengan demikian
hukum positif yang berlaku bagi Mahkamah Internasional dalam mengadili perkara yang diajukan
dihadapannya adalah:

1. Perjanjian Internasional

2. Kebiasaan Internasional

3. Prinsip Hukum Umum

4. Keputusan Pengadilan dan ajaran para sarjana yang terkemuka dari berbagai negara sebagai
sumber tambahan untuk menetapkan hukum2.

Perjanjian internasional yang dimaksud adalah perjanjian yang dibuat atau dibentuk oleh dan
diantara anggota masyarakat internasional sebagai subjek hukum internasional dan bertujuan untuk
mengakibatkan hukum tertentu3.

Dewasa ini dalam hukum internasional kecendrungan untuk mengatur hukum internasional dalam bentuk
perjanjian intenasional baik antar negara ataupun antar negara dan organisasi internasioanal serta negara
dan subjek internasional lainnya telah berkembang dengan

1
Ibid, hal 114

2
Shearer,hal29
3
Op. cit., hal 117

sangat pesat, ini disebabkan oleh perkembangan yang pesat dari masyarakat internasional, termasuk
organisasi internasional dan negara-negara.

Perjanjian internasional yang dibuat antara negara diatur dalam Vienna Convention on the Law of
Treaties (Konvensi Wina) 1969. Konvensi ini berlaku (entry into force) pada 27 Januari 1980. Dalam
Konvensi ini diatur mengenai bagaimana prosedur perjanjian internasional sejak tahap negosiasi hingga
diratifikasi menjadi hukum nasional4.
Banyak istilah yang digunakan untuk perjanjian internasional diantaranya adalah traktat (treaty),
pakta (pact), konvensi (convention), piagam (statute), charter, deklarasi, protokol, arrangement, accord,
modus vivendi, covenant, dan lain-lain. Semua ini apapun namanya mempunyai arti yang tidak berbeda
dengan perjanjian internasional5.

Dalam praktik beberapa negara perjanjian internasional dapat dibedakan menjadi dua golongan.
Golongan pertama adalah perjanjian yang dibentuk melalui tiga tahap pembentukan yakni perundingan,
penandatanganan dan ratifikasi6. Golongan yang kedua adalah perjanjian yang dibentuk melalui dua
tahap, yaitu perundingan dan penandatanganan7. Untuk golongan pertama biasanya dilakukan untuk
perjanjian yang dianggap sangat penting sehingga memerlukan persetujuan dari dari badan yang
memiliki hak untuk mengadakan perjanjian (treaty making power). Hal ini biasanya berdasarkan alasan
adanya pembentukan hukum baru atau menyangkut masalah keuangan negara. Sedangkan golongan
kedua lebih sederhana, perjanjian ini tidak dianggap begitu penting dan memerlukan penyelesaian yang
cepat.

Proses pembentukan Perjanjian Internasional, menempuh berbagai tahapan dalam pembentukan


perjanjian internasional, sebagai berikut:

1. Penjajakan: merupakan tahap awal yang dilakukan oleh kedua pihak yang berunding mengenai
kemungkinan dibuatnya suatu perjanjian internasional.

2. Perundingan: merupakan tahap kedua untuk membahas substansi dan masalah-masalah teknis
yang akan disepakati dalam perjanjian internasional.

3.
Perumusan Naskah: merupakan tahap merumuskan rancangan suatu perjanjian internasional.

4
Vienna Convention on the Law of Treaties, Vienna 1969
5
Op. cit., hal 119
6
Ibid
7
Ibid

4. Penerimaan: merupakan tahap menerima naskah perjanjian yang telah dirumuskan dan disepakati
oleh para pihak. Dalam perundingan bilateral, kesepakatan atas naskah awal hasil perundingan
dapat disebut "Penerimaan" yang biasanya dilakukan dengan membubuhkan inisial atau paraf
pada naskah perjanjian internasional oleh ketua delegasi masing-masing. Dalam perundingan
multilateral, proses penerimaan (acceptance/approval) biasanya merupakan tindakan pengesahan
suatu negara pihak atas perubahan perjanjian internasional.

5. Penandatanganan: merupakan tahap akhir dalam perundingan bilateral untuk melegalisasi suatu
naskah perjanjian internasional yang telah disepakati oleh kedua pihak. Untuk perjanjian
multilateral, penandatanganan perjanjian internasional bukan merupakan pengikatan diri sebagai
negara pihak. Keterikatan terhadap perjanjian internasional dapat dilakukan melalui pengesahan
(ratification/ accession/ acceptance/ approval).
BAB IV

Penutup

Kesimpulan

Hukum internasional mempunyai dua teori jika dilihat dari hubungan antara hukum internasional
dengan hukum nasional. Sehingga hukum internasional mempunyai beberapa fungsi bagi hukum
internasional.

1. Hukum internasional merupakan sumber undang-undang bagi yang melakukan suatu


perjanjuian internasional.

3. Hukum internasional dewasa ini cenderung ke arah mencegah supaya tidak terjadi
perselisihan atau perang antara negara-negara dan tidak lagi mengatur bagaimana
menyelesaikan suatu masalah kalau terjadi konflik.

4. Hukum internasional sebagai instrumen yang digunakan oleh pemerintahan suatu negara
untuk mencapai tujuan nasionalnya (international law as instrument of national policy).

5. Hukum internasional sebagai instrumen politik memiliki manfaat untuk mengubah atau
memperkenalkan suatu ketentuan, asas, kaedah ataupun konsep.

6. Hukum internasional berfungsi sebagai instrumen politik berangkat dari fakta bahwa
dalam interaksi internasional negara saling pengaruh mempengaruhi. Negara
menggunakan hukum internasional untuk menekan negara lain agar mengikuti
kebijakannya. Sementara hukum internasional juga dimanfaatkan oleh negara yang
mendapat tekanan untuk menolak tekanan tersebut.

7. Hukum internasional, utamanya perjanjian internasional, digunakan oleh negara maju


untuk 'mengekang' kebebasan dan kedaulatan negara.
Daftar Pustaka

1. Starke.J.G, Pengantar Hukum Internasional, edisi kesepuluh, 1988

2. www.makepovertyhistory.org

3. www.Jatim.go.id/artikel/internasional/hukum

4. www.dephan.go.id/fungsihukum/internasional

5. www.Adil.com/hukum internasional

Prev: Ikhwan Ganteng


Next: seputar naruto
reply share

audio reply video reply


Add a Comment
Quote original message
Submit Preview & Spell Check

© 2010 Multiply · English · About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise ·


Translate · API · Contact · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.


Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.