P. 1
Perbandingan Penetrasi Modal Di Tangerang Dan Implikasinya Antara Tahun 1684-1942 Dan Tahun 1966-1998

Perbandingan Penetrasi Modal Di Tangerang Dan Implikasinya Antara Tahun 1684-1942 Dan Tahun 1966-1998

|Views: 1,206|Likes:

More info:

Categories:Types, Research, History
Published by: Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI) on May 21, 2010
Hak Cipta:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

05/27/2013

Sections

PERBANDINGAN PENETRASI MODAL DI TANGERANG DAN I M P L I K A S I N Y A A N T A R A T A H U N 1 6 8 4 -1 942 DAN TAHUN 1966 -1998

Skripsi diajukan untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar kesarjanaan .

NAMA : IGN. TAAT UJIANTO NPM : 20051550012

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN SOSIAL UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI 2009

LEMBAR PERSETUJUAN UJIAN SKRIPSI

Nama NPM Fakultas Program Studi Judul Skripsi

: : : : :

IGN. TAAT UJIANTO 20051550012 Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial Pendidikan Sejarah Perbandingan Penetrasi Modal di Tangerang dan Implikasinya antara Tahun 1684 -1942 dan Tahun 1966 -1998.

Telah diperiksa dan disetujui untuk disajikan Pada tanggal 14 Agustus 2009

Pembimbing Materi

Pembimbing Teknik

(Drs. Subiyarto,

M.Hum )

(Dr. H. Sumaryoto )

ii

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi ini telah diajukan pada hari Rabu tanggal 16 September 2009 PANITIA UJIAN Ketua Sekretaris

( P rof. Dr. H. Sumaryoto)

(Drs. Heru Sriyono, MM)

Anggota I

Anggota II

( Dra. Hj. Sartini, MM )

( Drs. Supardi U.S, MM )

iii

LEMBAR PERNYATAAN

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi ini adalah karya saya sendiri. Apabila di kemudian hari ditemukan seluruh/sebagian isi skripsi ini bukan hasil karya saya sendiri, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 Bab VI pasal 25 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Jakarta,………………….2009

Ign. Taat Ujianto

iv

MOTTO

Io Saro Con Voi Aku selalu menyertaimu selalu (Matius)

Setiap entitas di dunia ini, memiliki nilai-nilai intrinsiknya sendiri-sendiri, tak terkecuali manusia. Bila manusia hanyalah bagian kecil dari benda -benda dunia, maka tidak otentik lagi mengatakan manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta? (Alfred North Whitehead)

Skripsi ini kupersembahkan untuk Ibundaku tercinta dan istriku tersayang Terima kasih atas semua dukungannya

v

KATA PENGANTAR Puji syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas semua rahmat yang diberikan kepada penulis, sehingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya . Skripsi yang bejudul "Perbandingan Penetrasi Modal di Tangerang dan Implikasinya antara Tahun 1684- 1942 dan Tahun 1966- 1998”, ditulis untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana pendidikan di Universitas Indraprasta PGRI. Pada kesempatan ini, izinkan penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada semua pihak yang dengan tulus ikhlas telah memberikan bantuan dan dorongan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, terutama kepada : 1. Bapak Dr. H. Sumaryoto, selaku Rektor Universitas Indraprasta PGRI Jakarta dan selaku Dosen Pembimbing Teknis. 2. Bapak Drs. Heru Sriyono, MM, selaku Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial Universitas Indraprasta PGRI. 3. Ibu Dra. Hj. Sartini, MM, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Indraprasta PGRI Jakarta. 4. 5. 6. Bapak Drs. Subiyarto, M.Hum, selaku Dosen Pembimbing Materi. Para Dosen beserta staf Tata Usaha Universitas Indraprasta PGRI. Rekan dan sahabat yang telah memberikan saran dan semangat kepada penulis dalam proses penyusunan skripsi ini.

vi

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna baik bentuk, isi, maupun teknik penyajiannya. Oleh sebab itu, kritik yang bersifat membangun dari berbagai pihak, penulis terima dengan tangan terbuka serta sangat diharapkan. Semoga kehadiran skripsi ini, dapat menjadi pedoman bagi mahasiswa lain dan memenuhi sasarannya.

Jakarta, ……………..2009 Penulis

Ign. Taat Ujianto

vii

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN UJIAN SKRIPSI........................................................... i LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................................ ii LEMBAR PERNYATAAN ........................................................................................ iii MOTTO ...................................................................................................................... iv KATA PENGANTAR ................................................................................................ vi DAFTAR ISI............................................................................................................... viii DAFTAR TABEL....................................................................................................... xi DAFTAR SKE MA...................................................................................................... xii DAFTAR LAMPIRAN............................................................................................... xiii ABSTRAK.................................................................................................................. xiv BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ............................................................................... 1 B. Identifikasi Masalah....................................................................... 3 C. Pembatasan dan Perumusan Masalah..............................................4 D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian.................................................... 5 E. Sistematika Penulisan..................................................................... 6 BAB II LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR A. B. Landasan Teori............................................................................... 9 Kerangka Berpikir ..........................................................................17

viii

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian............................................................................22 B. C. Sumber Sejarah................................................................................23 Metodologi ......................................................................................26

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Wilayah Tangerang 1. Asal Mula Nama Daerah Tangerang ...................................... 28 2. Kondisi Geografis ................................................................... 30 3. Kependudukan..........................................................................32 4. Potensi Wilayah Tangerang .....................................................35 B. Pola Penetrasi Modal di Tangerang pada Masa Kolonial (6841942) 1. Merebut Tangerang dari Kekuasaan Kasultanan Banten.....................................................................................45 2. Melanjutkan Sistem Feodal .............................................48 3. Tangerang menjadi Daerah Partikelir, Segregasi Rasial Dijalankan ...............................................................................52 4. Memperkuat Struktur Pemerintahan .......................................56 5. Pembangunan Infrastruktur dan Peningkatan Produksi untuk Mempercepat Akumulasi Modal ...................................61 C. Anti Cina: Reaksi Masyarakat Tangerang terhadap Kebijakan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda D. Pola Penetrasi Modal di Tangerang pada Masa Orde Baru (1966-1998)

ix

1. Membuka Keran bagi Modal Asing dan Nasional .....81 2. Tangerang Menjadi Penyangga Ibu Kota Jakarta ...................86 3. Pembangunan Infrastruktur Industri.........................................88 4. Pembangunan Kawasan Pabrik: Pengambilalihan Lahan Warga dan P enataan Ulang Penduduk untuk Melancarkan Akumulasi Modal.....................................................................89 E. Implikasi Penetrasi Modal di Tangerang Era Orde Baru 1. Perencanaan Tata Ruang Kota Cenderung

Dikooptasi oleh Kepentingan Akumulasi Modal .......93 2. Ledakan Warga Pendatang Baru dan Konflik antara Mereka dengan Warga Yang Telah Menghuni Sebelumnya ..99 3. Pergeseran Budaya Agraris Menjadi Budaya Industri (Modern) ................................................................................105 4. Pergeseran Konsep Keluarga dan Peran Perempuan..............112 5. Konflik Perburuhan: Buruh Melawan Koalisi Majikan dan Rezim .....................................................................................113 6. Pencemaran dan Kerusakan Biosfer ......................................115 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A . Kesimpulan .................................................................................. 125 B. Saran............................................................................................. 126

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................. 128 LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP

x

DAFTAR TABEL Tabel 1: Tabel 2: Tabel 3: Penggunaan Lahan di Kotamadya Tangerang Tahun 1990.............. 32 Penduduk Afdeling Tangerang Tahun 1930...................................... 34 Tabel Perkembangan Penduduk Per Kabupaten/Kota di Provinsi Banten Tahun 2000-2005.................................................... 35 Tabel 4: Tabel 5: Tabel 6: Tabel 7: Tanah Partikelir Tangerang Tahun 1900-1901.................................. 56 Ekspor Topi dari Tangerang ............................................................. 68 Target-Target Pelita I-V.................................................................... 82 Perbandingan Penerimaan dari Pusat, Dati I, dan Penerimaan Sumber PAD Tahun 1993-1998........................................................ 85 Tabel 8: Tabel 9: Struktur Ekonomi Jawa Barat Tahun 1973-1990 ............................. 85 PMA di Indonesia Tahun 1967-1990................................................ 86

Tabel 10: Daerah Pemukiman Kotamadya Tangerang Tahun 1990................. 87 Tabel 11: Penguasaan Lahan Pada Kawasan Industri Tahun 1996................... 91 Tabel 12: Penggunaan Lahan di Kotamadya Tangerang Tahun 1990.............. 98 Tabel 13: Ijin Lokasi dan Pembebasan tanah dengan Kesesuaian Rencana Tata Ruang........................................................................................ 98 Tabel 14: Perkembangan Penduduk Per Kabupaten/Kota Provinsi Banten Tahun 2000-2005.............................................................................. 100 Tabel 15: Tabel Proyeksi Jumlah Penduduk 2002-2017.................................. 100 Tabel 16: Jumlah Penduduk 10 Tahun ke Atas Yang Bekerja menurut Jenis Pekerjaan Utama per Kabupateb/Kota di Propinsi Banten Tahun 2004....................................................................................... 101

xi

Tabel 17: Penduduk Usia 10 Tahun Ke Atas menurut Jenjang Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan di Banten Tahun 2005....... 101 Tabel 18: Mata Pencaharian Tahun 1987-1991.................................................102 Tabel 19: Kepemilikan Tanah Perusahaan dan Perseorangan di Desa Cibogo..108

xii

DAFTAR SKEMA

Skema 1: Skema 2:

Skema Motivasi Penjualan Tanah di Desa Cibogo ..........................109 Alur Mata Pencaharia n Generasi Cibogo setelah Era Industri......... 111

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN I: PETA TANGERANG MASA KASULTANAN BANTEN LAMPIRAN 2: PETA TANGERANG MASA KOMPENI LAMPIRAN 3: PETA TANGERANG MASA HINDIA BELANDA LAMPIRAN 4: PETA WILAYAH KABUPATEN TANGERANG LAMPIRAN 5: FOTO PENGRAJIN TOPI BAMBU TANGERANG LAMPIRAN 6: CUPLIKAN TRANSKRIPSI WAWANCARA SEJARAH PERBURUHAN

xiv

ABSTRAK A. Ign Taat Ujianto, NPM: 20031250162 B. Perbandingan Penetrasi Modal di Tangerang dan Implikasinya antara Tahun 1684-1942 dan Tahun 1966-1998 . Skripsi: Jakarta, Fakulta s Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial, Program Studi Pendidikan Sejarah, Universitas Indraprasta Persatuan Guru Republik Indonesia, Agustus, 2009. C. xii + 5 bab + 120 halaman D. Kata Kunci: Penetrasi Modal dan Industrialisasi di Tangerang serta Implikasinya E. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pola proses penetrasi modal pada era kolonial (1684-1942) dan pada masa orde baru (1966-1998) serta implikasi yang ditimbulkan sehingga dapat menjadi bahan referensi pembangunan kota Tangerang di masa mendatang. Metode penelitian yang digunakan untuk menganalisis pola proses penetrasi modal di Tangerang dan implikasinya adalah dengan menggunakan metode sejarah yaitu: heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan penulisan atau historiografi. Sedangkan untuk menganalisa data berlandaskan pada kajian pustaka. Setelah penulis menganalisis pola proses penetrasi modal di Tangerang melalui metode sejarah, akhirnya penulis dapat menarik kesimpulan bahwa pola penetrasi modal di Tangerang pada masa Kolonial meliputi: merebut Tangerang dari kekuasaan Kasultanan Banten, melanjutkan sistem feodal, Tangerang dijadikan tanah partikelir dan pelaksanaan segregasi rasial, memperkuat sistem pemerintahan untuk mengontrol penduduk, dan pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan produksi. Kebijakan yang paling menonjol dari pelaksanaan penetrasi modal Kolonial adalah diskriminasi rasial antara orang Cina dan Pribumi yang implikasinya melahirkan perasaan anti Cina, konflik rasial, dan pembrontakan berbau anti Cina. Sedangkan pola penetrasi modal pada zaman orde baru meliputi: membuka keran penanaman modal asing, Tangerang dijadikan penyangga Ibu Kota Jakarta, pembangunan infrastruktur industri, pembangunan kawasan pabrik melalui pengambilalihan lahan warga dan penataan ulang penduduk untuk melancarkan akumulasi modal. Kemudian implikasi yang ditimbulkan adalah: tata ruang kota yang dikooptasi kepentingan modal, ledakan pendudukan dan konflik antara pendatang dan warga pribumi, pergeseran budaya agraris ke modern, pergeseran konsep keluarga, tingginya tingkat konflik buruh dan majikan, dan biosfer yang terancam mengalami kerusakan. F. Daftar Pustaka: 1. 33 buku 2. 2 transkripsi wawancara 3. 4 jurnal, 6 kliping berita dan artikel internet

G. Pembimbing Materi: Drs. Subiyarto, M.Hum Pembimbing Teknik: Dr. H. Sumaryoto

xv

1

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah Nama daerah Tangerang yang terletak di Provinsi Banten, sepertinya sudah

tak asing di telinga masyarakat Indonesia, khususnya kaum urban di sekitar Jakarta. Seperangkat regulasi dan restu aparat negara di awal tahun 1970-an, telah mengundang para pengembang dan investor membentuk kota itu sedemikian rupa sehingga menjadi kawasan industri. Tangerang sesungguhnya sudah dikenal baik jaman Kasultanan Banten maupun jaman kolonial Hindia Belanda. Kala itu lebih dikenal dengan sebutan Tangeran atau daerah Beteng. Di masa awal kolonial menancapkan cakar kekuasaannya di Nusantara, Tangeran menjadi daerah perbatasan antara kekuasaan Banten dan Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) di Batavia. Setelah dikuasai VOC tahun 1684, daerah Tangeran kemudian lebih banyak menjadi tanah partikelir yang dikuasai orang-orang Tionghoa dan Belanda (Eropa) yang memanfaatkan lahan partikelir Tangerang untuk lahan pertanian seperti padi, kedelai, kopi, dan lain-lain Sejak awal, pelaksanaan kekuasaan kolonial Belanda di Nusantara dilatarbelakangi oleh motif ekonom i (merkantilis). Motif tersebut menjadi alasan utama kolonialisme setelah meletus revolusi industri abad ke -18. Era setelah revolusi industri lazim digolongkan sebagai era imperialisme modern yang di antaranya ditandai dengan penguasaan negeri lain, upaya membangun industri

2

besar-besaran (industrialisasi) sehingga membutuhkan banyak bahan mentah dan pasar yang luas (kapitalisasi). Bangsa penjelajah dunia (imperialis) mencari dan menjadikan daerah baru (koloni) sebagai sumber eksploitasi bahan mentah dan pasar bagi hasil-hasil industri. Di kemudian hari, juga sebagai tempat penanaman modal baru untuk dapat melipatgandakan keuntungan (akumulasi modal). Dalam memperlakukan Tangerang sebagai daerah pendudukan, pemerintah Belanda pun tak lepas dari motif ekonomi tersebut. Setelah dijadikan daerah partikelir tahun 1684, Belanda berusaha keras agar daerah tersebut ikut menyumbang pendapatan pemerintah kolonial. Sistem akumulasi modal dijalankan. Sistem tersebut terus berlangsung hingga tahun 1942. Pelaksanaan sistem akumulasi modal di Tangerang ternyata berdampak mendalam terhadap kehidupan sosial-ekonomi masyarakat Tangerang. Dampak tersebut bahkan tetap berlanjut walaupun Belanda hengkang dari Nusantara setelah terusir Jepang (1942) dan disusul kemerdekaan Indonesia (1945). Pada masa orde baru (19661998), penetrasi modal di wilayah Tangerang berlangsung secara masif. Hal ini terbukti dengan berubahnya wilayah Tangerang menjadi kota industri. Proses pergeseran dari daerah agraris menjadi daerah industri hingga kini menjadi salah satu objek menarik untuk diteliti. Berbagai peneliti telah mencoba mengabadikannya dalam bentuk pengamatan melalui kacamata sosiologis dan atropologis, misalnya dari segi perubahan budaya masyarakat agraris ke industri, relasi antara pendatang dan warga asli, pergeseran pola kepemilikan tanah, hingga dampak industri terhadap lingkungan. Sementara itu, penelitian dari perspektif sejarah terkait industri di Tangerang ternyata masih menjadi barang langka.

3

Faktor inilah yang menjadi salah satu yang mendorong penulis untuk mencoba melakukan kajian. Dengan mengurai persoalan di atas melalui kaca mata sejarah, diharapkan dapat memberikan gambaran lebih mendalam tentang sejarah terbentuknya sebuah kota industri bernama Tangerang. Sekaligus, mengurai pula dampak-dampak yang ditimbulkan dalam kehidupan masyarakat Tangerang seperti konflik antara buruh dan majikan, konflik warga pendatang dan warga asli, konflik tuan tanah dan pekerjanya , dan lain-lain. Konon, di tahun 1924, terjadi konflik berbau rasis (anti Cina) antara buruh petani pribumi dan tuan tanah yang beretnis Cina (Ekadjati, 2004: 129-137). Namun, peristiwa tersebut terjadi juga sekaligus akibat sistem pemerintahan Kolonial Hindia Belanda yang selama ratusan tahun mengeluarkan kebijakan segregasi rasial dimana menempatkan kaum pribumi lebih rendah dibanding kaum Thionghoa. Pemberontakan sejumlah petani tersebut dikabarkan merembet dari kawasan Teluk Naga hingga Tanah Tinggi. Di masa setelah kemerdekaan, konflik serupa juga masih sering terjadi, misalnya kerusuhan 13-15 Mei 1998 yang berbau rasis (anti Cina), juga konflik -konflik seperti penolakan warga atas penggusuran lahan yang ia miliki untuk didirikan pabrik.

B.

Identifikasi Masalah 1. Daerah Tangeran sebelum pendudukan pemerintah kolonial Hindia Belanda tahun 1684 2. Tangeran di bawah pendudukan VOC tahun 1684 – 1799 3. Tangerang di bawah pemerintahan Kolonial Hindia Belanda (18001942).

4

4. Proses penetrasi modal yang dilakukan oleh Pemerintah Kolonial Belanda. 5. Reaksi masyarakat Tangerang terhadap kebijakan pemerintah kolonial. 6. Keadaan Tangerang pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945. 7. Keadaan Tangerang pada masa kemerdekaan hingga masa Orde lama tahun 1945-1966 8. Tangerang berubah menjadi kota industri di masa Orde baru (19661998) 9. Kondisi kehidupan masyarakat Tangerang pasca industrialisasi C. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah Dalam penulisan skripsi ini, penulis membatasi fokus permasalahan pada diskripsi yang berkaitan dengan pokok pembahasan yaitu pada ”Perbandingan Penetrasi Modal di Tangerang dan

Implikasinya antara Tahun 1684-1942 dan Tahun 1966 1998”. 2. Perumusan Masalah 1. Bagaimanakah gambaran umum dan potensi wilayah Tangerang sehingga menjadi ajang penetrasi modal? 2. Bagaimanakah pola penetrasi modal di bawah pendudukan pemerintah Kolonial Belanda? 3. Bagaimana reaksi masyarakat Tangerang terhadap kebijakan Pemerintah Kolonial Belanda?

5

4. Bagaimanakah pola penetrasi modal di Tangerang pada masa Orde Baru? 5. Bagaimanakah dampak penetrasi modal di Tangerang pada masa Orde Baru? D. Tujuan dan Kegunaan Pe nelitian 1. Tujuan Penelitian a. Untuk mengetahui gambaran umum dan potensi yang terdapat wilayah Tangerang. b. Untuk menganalisis pola dan proses penetrasi modal di Tangerang pada masa pendudukan kolonial tahun 1684-1942 c. Untuk menganalisis reaksi masyarakat Tangerang terhadap penetrasi modal yang dilakukan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda ditinjau dari bidang sosial-ekonomi . d. Untuk mengetahui bagaimana pola terbentuknya sebuah kota industri. e. Untuk mengetahui bagaimana dampak penetrasi modal yang ditimbulkan ditinjau dari bidang sosial ekonomi sehingga dapat digunakan sebagai masukan bagi penataan kota Tangerang di masa mendatang. 2. K egunaan Penelitian a. Agar dapat diketahui secara lebih mendalam tentang kondisi dan potensi yang terdapat di wilayah Tangerang. b. Agar dapat diketahui secara lebih mendalam mengenai sejarah terbentuknya kota Tangerang dilihat dari perspektif gerak akumulasi modal dan dampaknya terhadap kehidupan sosial-ekonomi.

6

c. Agar dapat diketahui dan dipetakan bagaimana latar belakang, potensi, ancaman, dan kekuatan yang terdapat dalam kehidupan sosial-ekonomi masyarakat Tangerang. d. Agar dapat diguna kan sebagai bahan-bahan pertimbangan para pengambil kebijakan pemerintah daerah Kabupaten Tangerang dalam menentukan arah pembangunan kota Tangerang di masa mendatang. e. Diharapkan menjadi bahan perbandingan bagi peneliti sejarah kota sehingga di masa mendatang dapat dilakukan penelitian secara lebih kritis dan mendalam.

E.

Sistematika Penulisan Untuk memudahkan pemahaman, skripsi akan dibagi dalam lima bab utama dan beberapa sub bab penjelas, yaitu: bab pertama Pandahuluan, kedua Landasan Teori dan Kerangka Berpikir, ketiga Metodologi Penelitian, keempat Hasil Temuan Penelitian, dan kelima Penutup. Bab pertama adalah pendahuluan. Bab ini mengemukakan latar belakang penelitian dan alasan penulis memilih judul. Secara garis besar, penelitian dan penulisan skripsi ini dilatarbelakangi fenomena perkembangan daerah Tangerang yang sangat pesat ke arah kota industri. Di balik perkembangan tersebut, ternyata menyimpan beberapa pokok persoalan dan masalah sosial yang penulis coba rangkum dalam lima pertanyaan besar seperti telah diuraikan dalam sub bab perumusan masalah di atas. Perlu diungkapkan pula bahwa penulis sengaja memilih judul ini mengingat bisa dikatakan bahwa penelitian mengenai sejarah akumulasi modal di Tangerang relatif sedikit

7

menjadi perhatian para peneliti. Dengan demikian, penulis memilih judul penelitian tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi berarti bagi pembangunan Tangerang di masa mendatang. Bab kedua adalah mengenai landasan teori dan kerangka berpikir. Dalam penelitian sejarah, diperlukan pemahaman yang cukup tentang teori maupun konsep-konsep yang diperlukan dalam penelitian. Pada bab ini penulis menggunakan beberapa pendekatan konsep. Seperti lazimnya dalam penelitian sejarah, pendekatan konsep dapat menggunakan pendekatan ilmu pengetahuan lainnya sebagai ilmu bantu. Salah satu di antaranya mengenai konsep penetrasi modal yang penulis pinjam dari sejumlah ahli sosiologi dan ekonomi. Dijelaskan pula bagaimana konsep-konsep tersebut digunakan melalui kajian pustaka. Sedangkan bagian kerangka berpikir mengemukakan tentang bagaimana penentuan judul, metode penelitian untuk mendapatkan fakta sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan hingga metodologi penelitiannya. Selanjutnya, pada ba b ketiga mengemukakan tentang metodologi penelitian sejarah yang akan mengemukakan metode penelitian yang digunakan, bagaimana metodologi penelitiannya, dan bagaimana

menentukan sumber-sumber sejarah. Metode penelitian sejarah meliputi: heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan penulisan. Sedangkan metodologi yang digunakan adalah metodologi strukturalis dimana penelitian akan menekankan pada aspek perubahan struktur sosial berdasarkan kajian

8

terhadap sumber-sumber pustaka dan dokumen yang telah penulis kumpulkan. Bab keempat mengungkapkan hasil temuan penelitian atas lima masalah pokok yang telah disinggung pada bab pendahuluan. Secara garis besar, penulis mencoba mensistematiskan temuan dengan memaparkan perubahan sosial dan pola penetrasi modal pada era kolonial (1684-1942) dan era orde baru (1966-1998). Dan akhirnya sebagai penutup, penulis menggarisbawahi paparan pada bagian sebelumnya dengan kesimpulan -kesimpulan atas lima pokok masalah yang ingin diungkapkan. Dari lima kesimpulan tersebut, penulis kemudian menyusun sumbang saran yang diharapkan dapat berguna bagi

pembangunan Tangerang di masa mendatang.

9

BAB II LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR

A.

Landasan Teori 1. Definisi Konsep a. Pengertian Penetrasi Modal Dalam ilmu ekonomi, istilah modal atau capital mempunyai pengertian yang berbeda-beda, tergantung dari konteks

penggunaannya dan aliran pemikiran yang dianut. Dalam buku The Wealth of Nation (1776) karya Adam Smith, terdapat banyak istilah capital dan circulating capital. Menurutnya, sirkulasi modal berarti apabila seseorang menggunakan modal yang dimiliki selama jangka waktu tertentu untuk menghasilkan suatu

keuntungan. Adam Smith (1998: 364) menyebutkan: His capital is continually going from him in one shape, and returning to him in another, and it is only by means of such circulation, or successive exchanges, that it can yield him any profit. Sedangkan Mubyarto (1973: 94)memberikan definisi sedikit berbeda. M odal adalah barang atau uang yang bersama-sama faktor produksi tanah dan tenaga kerja menghasilkan barang-barang baru. Modal dapat diartikan sebagai kekayaan yang dimiliki seseorang yang tidak segera dikonsumsi melainkan disimpan (saving adalah poten tial capital), atau dipakai untuk menghasilkan barang atau jasa baru (investasi). Dengan demikian, modal dapat berwujud

10

barang dan uang. Tetapi, tidak setiap jumlah uang dapat disebut modal. Sejumlah uang itu menjadi modal kalau ia ditanam ata u diinvestasikan untuk mendapatkan pengembalian yang lebih besar. Berbeda lagi dengan pendapat Karl Marx. Ia menggunakan istilah capital untuk mengacu kepada konsep yang sama sekali lain. Modal bukanlah barang, melainkan hubungan produksi sosial yang menampakkan diri sebagai barang. Hubungan tersebut terbentuk tatkala modal mengalami proses sedemikian rupa untuk melahirkan hasil yang lebih besar (akumulasi modal). Selama proses tersebut, berlangsunglah hubungan sosial antara pemilik dengan pihak bukan pemilik dimana hubungan tersebut diikat sedemikian rupa agar saling bergantung dan terus terlestarikan. Nilai menjadi nilai dalam proses, uang dalam proses, dan sebagai itu, menjadi kapital. Ia keluar dari peredaran, kembali masuk ke dalamnya, melestarikan, dan memperbanyak diri di dalam peredaran, muncul darinya dengan suatu ukuran yang meningkat, dan memulai perputaran yang sama berulangulang kali (Marx, 2004: 140). Dalam pemikiran Karl Marx, proses akumulasi modal atau akumulasi capital dimulai dari apa yang disebut komoditas (barang dagangan). Di dalam usaha membuat barang dagangan hingga menjualnya, melalui satu fase. Sejumlah uang digunakan dalam proses produksi untuk menghasilkan uang yang lebih besar. Rumus dasarnya adalah: M (Money) – C (Commodity) – M (Money).

Namun, perlu digaris bawahi bahwa bukan soal investasi uang yang penting. Uang memang penting, tapi bukan yang paling penting,

11

karena yang penting adalah memahami proses M–C–M secara keseluruhan. Mengapa? Sebab, ada mesin tanpa ada tenaga kerja yang menjalankan mesin tidak akan menghasilkan apa -apa. Dengan kalimat lain, uang saja tidak cukup. Dengan demikian, modal adalah suatu konsep abstrak yang manifestasinya dapat berupa b arang, jasa tenaga kerja, tenaga kerja, tanah, mesin, atau uang. Berdasarkan pemikiran di atas, dalam penelitian ini, istilah “penetrasi modal dan implikasinya ” penulis artikan sebagai suatu proses penekanan, meresapkan, penyebaran tentang gerak sistem akumulasi modal sehingga mempengaruhi dan memberikan dampak baik secara positif maupun negatif dalam kehidupan masyarakat Tangerang. Selanjutnya, proses tersebut dilihat melalui perspektif ilmu sejarah. b. Pengertian Tangerang Istilah Tangerang mengandung dua pengertian. Pertama, menunjuk pengertian umum yaitu sebagai wilayah yang kini telah berkembang menjadi sebuah kota industri. Hal ini ditandai dengan penggunaan tanah untuk non pertanian, seperti: pabrik, perkantoran, ruko, mall, pemukiman, pasar, dan lain-lain. Dengan demikian, intensitas penggunaan ruang untuk non pertanian makin meningkat secara tajam atau makin mendominasi. Daerah tersebut terletak antara 1060 20' dengan 1060 43' Bujur Timur dan antara 6° 00' -6°

12

20' Lintang Selatan. Bagian terbesar daerah ini merupakan dataran rendah dengan ketinggian antara 0 -50 meter di atas permukaan air laut. Daerah Tangerang termasuk beriklim panas karena berada di daerah dekat dengan garis katulistiwa. Temperatur rata -rata sekitar 230-330 C. Rata-rata curah hujan dalam satu tahun 2.043 mm. Sedangkan L uas daerah Tangerang (daerah Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang) adalah 128.281 hektar atau sekitar 1.283 kilometer persegi dengan jarak bentangan 40 km antara utara dengan selatan dan 50 km antara barat dengan timur. Daerah seluas tersebut berbatasan dengan daerah Kabupaten Serang di sebelah barat, laut Jawa di sebelah utara, daerah Ibukota Jakarta di sebelah timur, serta daerah Kabupaten Bogor di sebelah selatan (Ekajati, 2004:25-28). Kedua, menunjuk pengertian administrasi pemerintahan tingkat Kabupaten dan Kotamadya. Dalam hal ini, Tangerang terdiri dari dua wilayah administratib yaitu Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang, yang artinya adalah suatu pemerintahan daerah yang mayoritas wilayahnya merupakan daerah perkotaan

(Sadyohutomo, 2008:3-4). Daerah kedua pemerintahan tersebut berada di bawah Provinsi Banten. Untuk pemerintahan Kabupaten Tangerang, membawahi 24 pemerintah tingkat kecamatan, yaitu: Balaraja , Cikupa, Ciputat, Cisauk, Cisoka , Curug, Jambe , Jayanti, Kemiri, Kosambi, Kresek, Kronjo, Legok, Mauk, Pagedangan,

13

Pakuhaji, Pamulang, Panongan, Pasarkemis, Pondok Aren, Rajeg, Sepatan, Serpong, Sukadiri. Sedangkan Kota Tangerang meliputi lima kecamatan, yaitu: Tangerang, Batuceper, Cipondoh, Ciledug, dan Jatiuwung. Walaupun terdapat dua pengertian, dalam penelitian ini, pengertian yang digunakan adalah pengertian yang pertama. Oleh sebab itu, untuk selanjutnya, Istilah Tangerang berarti akan menunjuk pengertian tersebut. c. Pengertian Masyarakat Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat- istiadat tertentu yang bersifat kontinyu dan yang terikat oleh suatu identitas bersama. K esatuan manusia tersebut tinggal di suatu daerah, hidup secara kolektif atau bersosial, berinteraksi satu sama lain, dan saling bergantung. Menurut Koentjaraningrat, ciri khas kehidupan kolektif; yaitu : (1) pembagian kerja yang tetap antara berbagai macam subkesatuan atau golongan individu dalam kolektif untuk

melaksanakan berbagai macam fungsi hidup; (2) ketergantungan individu kepada individu lain dalam kolektif sebagai akibat dari pembagian kerja; (3) kerjasama antar-individu yang disebabkan karena sifat saling ketergantungan; (4) komunikasi antar-individu yang diperlukan guna melaksanakan kerjasama; (5)

diskriminasi yang diadakan antara individu-ndividu warga

14

kolektif dan individu-individu dari luarnya (Koentjaraningrat, 1986:136). Kehidupan kolektif manusia atau masyarakat, sangat dipengaruhi oleh kodrat manusia sebagai makhluk yang berakal budi. Akal dan budi manusia inilah yang menyebabkan kehidupan kolektif tersebut terus berubah baik ke arah positif (kerjasama, perdamaian, keharmonisan, d lain-lain) maupun ke arah negatif an (konflik, pertentangan, perang, kerusuhan, d lain-lain). an d. Pengertian Sosial-Ekonomi Penelitian di bidang sosial ekonomi pada hakikatnya merupakan penelitian terhadap kehidupan manusia sebagai makhluk sosial dimana tak lepas dari motif memenuhi kebutuhan hidupnya. Hubungan antara kehidupan sosial dan ekonomi menjadi sangat erat. Menurut Koentjaraningrat, agar seorang ahli ekonomi berhasil melakukan pembangunan ekonomi di suatu daerah, diperlukan pengetahuan yang cukup tentang sistem

kemasyarakatan, cara berpikir, pandangan, dan sikap hidup masyarakat di daerah tersebut. Maka, ia akan memerlukan bahan komparatif seperti sikap terhadap kerja, sikap terhadap kekayaan, sistem gotong royong, dan lain-lain (Koentjaraningrat, 1986: 3637).

15

2.

Kajian Pustaka Menelusuri literatur tentang sejarah Tangerang ternyata tidak mudah.

Selain karena masih terbatasnya hasil kajian, juga karena tersebarnya sumber sejarah. Sumber-sumber tersebut di antaranya berupa potonganpotongan data dari arsip pemerintahan Belanda ya ng kini tersimpan di Arsip Nasional dan beberapa hasil peneliti sejarah, sosiologi, dan Anthropologi. Sumber sejarah yang tersimpan di Arsip Nasional menyangkut peristiwa di zaman Hindia Belanda, kebanyakan masih berbahasa Belanda. Penulis masih sangat awam dengan bahasa Belanda, hal ini menjadi salah satu faktor kesulitan tersendiri. Dengan segenap kemampuan yang penulis miliki, akhirnya

penelusuran pustaka dapat diselesaikan. Penulis berhasil menghimpun beberapa sumber yaitu hasil kajian Tim Pusat Studi Sunda yang terdiri dari Edi S. Ekajati, A. Sobana Hardjasaputra, dan Muhammad Mulyadi. Hasil kajian mereka telah dibukukan oleh Pemda Kabupaten Tangerang tahun 2004 dengan judul Sejarah Kabupaten Tangerang . Dalam buku tersebut, sejarah Tangerang diurai mulai sejak Prasejarah hingga era industri. Mengingat luasnya wilayah kajian, maka dapat dibayangkan bahwa buku tersebut berupa gambaran umum sejarah masa lalu Tangerang. Seluruh aspek kehidupan masyarakat Ta ngerang berusaha ditampilkan seperti perubahan geografis, administrasi pemerintahan, flora fauna, kehidupan purbakala, pendudukan VOC disusul Hindia Belanda, Jepang dan era kemerdekaan. Akibatnya, fokus salah satu bidang tidak bisa mendalam dan

16

kritis. Apa lagi b dikaitkan dengan sejarah penetrasi modal yang menjadi ila fokus skripsi ini. Kendati demikian, hasil kajian Ekajati dan kawan -kawan sa ngat berguna bagi penulis dalam memahami secara umum perjalanan sejarah kehidupan Tangerang. Di samping itu, penelitian mereka cukup menjadi pijakan awal dalam mengurai secara khusus tentang sejarah penetrasi modal. Hasil penelitian berikutnya disusun oleh Wahidim Halim yang diberi judul Ziarah Budaya Kota Tangerang Menuju Masyarakat Berperadaban Akhlakul Karimah. Hal menonjol dalam laporan penelitian ini adalah perhatian penulis pada bidang budaya yang dimiliki oleh Tangerang. Nilai nilai budaya tersebut ia gambarkan dengan adanya kehidupan Thionghoa dan kebudayaanya, tempat-tempat bersejarah, bangunan bersejarah sep erti Kelenteng Boe n San Bio, Boen Tek Bio, Rumah Kapitan Tionghoa, dan lain-lain. Alhasil, buku Wahidin Halim akan sangat berguna terutama dalam kaitan potensi sejarah dan budaya Tangerang sebagai objek wisata. Terhadap hasil kajian Wahidim Halim, penulis telah menggunakannya untuk menyusun data dan fakta terkait potensi budaya baik potensi yang bersifat positif maupun negatif. Positif berarti aspek budaya tertentu dapat memberikan peluang bagi tata nilai yang patut dipertahankan sedang yang negatif berupa potensi konflik akibat keragaman budaya di Tangerang yang harus selalu diantisipasi. Bila hanya menggunakan hasil kajian di atas, dalam menyusun skripsi ini, penulis jelas mengalami kekurangan sumber begitu banyak. Sangat

17

beruntung bahwa penulis juga pernah terlibat dalam penelitian terkait sejarah perburuhan di wilayah Cikupa, kabupaten Tangerang yang

diselenggarakan Lembaga Studi Advokasi Masyarakat (ELSAM). Penelitian dilakukan tahun 2006-2007 dengan fokus seputar problem-problem kehidupan layak bagi buruh pabrik di Cikupa. Dari hasil penelitian tersebut diperoleh sekitar 34 transkripsi wawancara dengan pendekatan Oral History Project (OHP) serta dengan model pertanyaan riwayat hidup menjadi buruh. Dari transkripsi inilah penulis bisa mendapatkan sumber primer untuk mendukung pemaparan fakta terkait dampak industrialisasi (baca: penetrasi modal) pada era orde baru. Penulis memperoleh data-data perubahan sosial kehidupan Tangerang sekitar Tahun 1970-1998. Sumber-sumber pendukung berikutnya untuk memperkuat penyusunan skripsi ini, penulis dapatkan dengan mempelajari hasil penelitian berupa tesis dan desertasi mahasiswa pascasarjana Universitas Indonesia yang terkumpul di Perpustakaan Nasional. Kebanyakan berupa hasil kajian dengan disiplin ilmu sosiologi dan anthropologi. Penulis juga sangat terbantu dengan adanya data-data dari Badan Pusat Statistik, Perpustakaan Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI) terkait data perubahan pola agraria di Indonesia.

B.

Kerangka Berpikir Penulis sengaja memilih judul skripsi ini ”Penetrasi Modal di

Tangerang dan Implikasinya antara Tahun 1684 -1942 dan Tahun 1966 -1998” mengingat pokok masalah yang akan dibahas adalah masalah -

18

masalah sosial-ekonomi yang timbul akibat aktivitas manusia dalam menjalankan sistem akumulasi modal pada masa kolonial dan orde baru. Artinya, dalam skripsi ini, penulis akan melakukan komparasi antara pola penetrasi modal dan dampak yang ditimbulkannya pada masa kolonial dengan masa orde baru. Pilihan untuk membandingkan dua periode tersebut dilakukan dengan pertimbangan: pertama, penetrasi modal pada kedua periode tersebut adalah periode terpanjang yang memungkinkan penetrasi modal membentuk pola tertentu dan dampak yang sistematik. Kedua , pada masa pendudukan Jepang dan orde lama diberlakukan pembatasan penanaman modal asing sehingga tidak terjadi pola penetrasi modal yang berdampak signifikan. Untuk mengurai pokok masalah di atas, penulis telah melakukan penelitian dengan menggunakan metode sejarah. Dalam ilmu sejarah, metode penelitian sejarah meliputi empat tahap yaitu: pengumpulan sumber atau heuristik, verifikasi dan kritik sumber, interpretasi, dan penulisan atau historiografi. Dalam mengumpulkan sumber, p enulis mengunjungi beberapa perpustakaan yaitu: Perpustakaan Nasional, Perpustakaan Lembaga Studi Advokasi Mayarakat (Elsam), Perpustakaan Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI), Badan usat Statistik (BPS), dan Gedung Arsip Nasional. Di tempat tersebut penulis mengumpulkan literatur yang relevan dengan judul yang telah ditentukan. Maka terkumpulan sekitar 50 pustaka, 34 transkripsi wawancara, serta sejumlah artikel dan dokumen seperti kliping dan artikel lepas. Selanjutnya, penulis melakukan kritik terhadap sumber yang sudah terkum pul tersebut yang meliputi kritik ekstern dan kritik intern. Kritik ekstern

19

dilakukan dengan menyeleksi sumber-sumber berdasarkan tahun penulisan dan bahasa yang digunakan dalam sumber tersebut. Kritik ekstern digunakan untuk melihat otentisitas sumber. Se dangkan kritik intern dilakukan dengan cara menyeleksi sumber-sumber berdasarkan tema-tema yang dianggap mendekati dan relevan dengan penulisan skripsi ini. Kritik intern digunakan untuk menjamin kredibilitas sumber dengan melakukan cross check data-data yang diberikan oleh sumber sejarah. Langkah berikutnya, penulis melakukan interpretasi yaitu menemukan makna yang saling berhubungan dari fakta -fakta sejarah yang masih terpisah pisah akibat sudut pandang yang berbeda dari masing-masing sejarawan sehingga diperoleh fakta -fakta baru. Dari kumpulan fakta baru tersebut, akhirnya penulis dapat menyusun tulisan dalam bentuk karya sejarah. Dalam melakukan analisa data, penulis selalu berlandaskan pada kajian pustaka. Penulis mencoba memahami, membaca, meringkas, dan mengkaji seluruh literatur hasil penelitian yang telah dilaporkan peneliti-peneliti baik di bidang ilmu sejarah, sosiologi, maupun anthropologi. Selain itu, didukung pula dengan data -data yang telah penulis analisa dari kumpulan transkripsi hasil penelitian perburuhan yang diselenggarakan oleh Lembaga Stud Advokasi Masyarakat (ELSAM). Dan selanjutnya, penulis menyusun kesimpulan dari data dan fakta yang berhasil ditemukan dalam bentuk karya ilmiah dengan suatu metodologi. Dalam penulisan skripsi ini, penulis telah menganalisa dan menyimpulkan melalui metodologi strukturalis dengan teka nan terhadap analisis perubahan dan

20

pergeseran kehidupan sosial ekonomi masyarakat Tangerang. Tekanannya tidak diletakkan pada untaian peristiwa sejarah (historical events) yang menceritakan tokoh, atau peristiwa tertentu tapi lebih kepada analisis proses sejarah (historical process). P eristiwa maupun tokoh dengan begitu hanya disinggung sejauh benarbenar memberikan pengaruh yang mendalam terhadap proses sejarah tersebut.

21

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A.

Metode Penelitian Menurut Kuntowijoyo (1995 : 12) , sejarah sebagai ilmu terikat pada

prosedur penelitian ilmiah. Urutan kerja atau prosedur yang digunakan biasa disebut metode sejarah atau metode historis. Metode historis sebagai suatu proses yang meliputi pengumpulan dan penafsiran gejala, peristiwa, atau pun gagasan yang timbul pada masa lampau untuk menemukan generalisasi yang berguna untuk memahami sejarah. Menurut Kuntowijoyo metode sejarah mempunyai lima langkah, yaitu : (1) pemilihan topik, (2) pengumpulan sumber atau heuristik , (3) verifikasi dan kritik sumber , (4) interpretasi, dan (5) penulisan atau historiografi. Langkah pertama yang dilakukan penulis bukanlah pemilihan topik, tetapi memilih judul. Mengapa? Dalam pe nyusunan skripsi, apa yang akan diungkap dan diteliti haruslah benar-benar fokus dan mempunyai ruang lingkup yang jelas dan terbatas. Sebab, tanpa fokus yang jelas, skripsi tidak akan dapat mengungkap secara tajam dan mendasar. Dalam tahap ini, penulis telah memilih judul berdasarkan kedekatan emosional yaitu minat penulis yang cukup besar terhadap masalah dampak industrialisasi. Akan tetapi, penulis tidak melalaikan kaidahkaidah fundamental dalam penelitian melalui pendekatan ilmiah. Langkah kedua adalah heuristik. Pada tahap ini penulis berusaha mencari dan mengumpulkan sumber-sumber yang relevan dan signifikan dengan fokus penelitian baik sumber primer maupun sumber sekunder. Penulis melakukan pengumpulan sumber literatur dengan mengunjungi perpustakaan yaitu:

22

Perpustakaan Nasional, Perpustakaan Lembaga Studi Advokasi Mayarakat (Elsam), Perpustakaan Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI), Gedung Arsip Nasional, Badan Pusat Statistik (BPS), dan kunjungan ke daerah kawasan industri kelurahan Telagasari, Kampung Telaga Kocak, Kecakapan Cikupa, Kabupaten Tangerang. Pelaksanaan pengumpulan sumber penelitian dilakukan dari bulan Maret 2009 sampai dengan bulan Juni 2009. Sumber yang didapatkan meliputi 33 buku, dua transkripsi wawancara sejarah buruh di Tangerang, empat jurnal penelitian, sejumlah artikel lepas, serta berita kliping koran yang penulis himpun dari internet. Dari 33 literatur yang terkumpul, di antaranya berupa hasil penelitian sosiologi dan anthropologi untuk tesis pasca sarjana mahasiswa Universitas Indonesia dan Universitas Gajah Mada. Sementara yang lainnya berupa hasil penelitian resmi Pemda Kabupaten Tangerang, literatur tentang teori-teori penelitian sejarah, serta teori sosial dan ekonomi seperti literatur tentang teori ”kota” dan teori kapital. Langkah ketiga, penulis melakukan kritik sumber yaitu kegiatan meneliti sumber-sumber sejarah baik secara ekstern maupun intern. Kritik ekstern dilakukan dengan menyeleksi sumber-sumber berdasarkan tahun penulisan dan bahasa yang digunakan dalam sumber tersebut. Kritik ekstern digunakan untuk melihat otentisitas sumber. Sedangkan kritik intern dilakukan dengan cara menyeleksi sumber-sumber berdasarkan tema-tema yang dianggap mendekati dan relevan dengan penulisan skripsi ini. Kritik intern digunaka n untuk menjamin kredibilitas sumber dengan melakukan cross check data-data yang diberikan oleh sumber sejarah. Tujuan melakukan kritik sumber adalah memperoleh data yang dapat dipertanggungjawabkan agar sesuai dengan permasalahan yang dibahas

23

dalam skripsi ini. Selain itu, kritik sumber dimaksudkan untuk memperoleh tulisan sejarah yang objektif. Langkah keempat, penulis melakukan interpretasi yaitu menemukan makna yang saling berhubungan dari data -data sejarah yang masih terpisah-pisah akibat sudut pandang yang berbeda dari masing-masing sejarawan. Semua itu diperbolehkan sepanjang tidak menyimpang dari data-data yang dimiliki. Selain itu, fakta sejarah akan memiliki arti sejarah apabila sudah mendapat tafsiran yang dapat dipercaya mengenai bahan-bahan yang relevan sehingga melahirkan fakta baru yang disajikan dalam bentuk skripsi. Terkait data-data yang digunakan, penulis berusaha selalu mencantumkan keterangan sumber dari mana data itu diperoleh. Langkah kelima, penulisan dalam bentuk karya sejarah. Metode penulisan skripsi ini adalah metode deskriptif analitis, dengan teka nan terhadap analisis perubahan dan pergeseran kehidupan sosial ekonomi masyarakat Tangerang. Tekanannya tidak diletakkan pada untaian peristiwa sejarah (historica l events) yang menceritakan tokoh, organisasi, atau peristiwa tertentu tapi lebih kepada analisis proses sejarah (historical process). Peristiwa maupun tokoh dengan begitu hanya disinggung sejauh benar-benar memberikan pengaruh yang mendalam terhadap proses sejarah tersebut. Walaupun demikian, tidak berarti perjalanan sejarah hanya menjadikan pengujian teori dan konsep yang digunakan disini, karena data -data sejarah bagaimanapun jauh lebih menentukan sifatnya.

B.

Sumber Sejarah

24

Penentuan s umber sejarah memiliki peranan sangat penting dalam menyusun karya sejarah atau rekontruksi peristiwa masa lampau yang objektif. Pada dasarnya , sumber sejarah terdiri dari dua sumber yaitu sumber primer dan sumber sekunder. 1. Sumber Primer Menurut Louis Gottsc halk, sumber primer adalah kesaksian dari seseorang saksi dengan mata kepala sendiri atau saksi dengan panca indera lain atau dengan alat yang hadir pada peristiwa yang diceritakan (Gottschalk, 1985: 35). Dalam penulisan skripsi ini, sumber primer yang penulis gunakan antara lain: a. Kumpulan transkripsi wawancara penelitian sejarah kehidupan buruh tahun 1970 di wilayah Cikupa, Kabupaten Tangerang, yang diselenggarakan oleh Lembaga Studi Advokasi Masyarakat (Elsam) pada tahun 2006-2007. b. Crousson, H.C.C Clockener. 2007. Batavia Awal Abad 20. Jakarta: Masup Jakarta. 2. Sumber Sekunder Sumber kedua atau sumber sekunder yaitu kesaksian dari siapapun yang bukan merupakan saksi mata, yakni dari seseorang yang tidak hadir pada peristiwa yang dikisahkan (Gottschalk, 1985: 35). Walaupun sumber sekunder disusun oleh bukan saksi mata (misalnya peneliti sejarah), namun sumber sekunder tetap dibutuhkan dan mendukung penulisan skripsi ini. Sumber tersebut antara lain:

25

a.

Anantatoer, Pramoedya. 1982. Tempo Doeloe . Jakarta: Hasta Mitra

b.

Anantatoer, Pramoedya. 1998. Hoakiau Di Indonesia. Jakarta: Garba Budaya

c.

Ekajati, Edi S. dkk. 2004. Sejarah Kabupaten Tangerang. Tangerang:. Pemerintah Kabupaten Tangerang.

d.

Setyanto, Guntur. 2000. Interaksi Sosial Etnis Tionghoa dan Pribumi (Studi Kasus di RT 03 RW 06 Kelurahan Neglasari Kecamatan Batuceper Kodya Tengerang). Jakarta: Universitas Indonesia Program Pascasarjana.

e. f.

Multatuli. 1975. Max Havelaar. Jakarta: Djambatan Murtono. 1998. Proses Tran formasi Masyarakat Pertanian Menuju Masyarakat Industri (Studi Kasus Tangerang, Bekasi, Bogor). Pascasarjana. Jakarta: Universitas Indonesia Program

g.

Suryana. 1998. Kontribusi Pembangunan Perumahan dan Permukiman terhadap Pendapatan Daerah dan Beban Peme rintah Daerah dalam Pembiayaan Prasarana

Lingkungan, Fasilitas Sosial dan Utilitas Umum, Suatu Studi Kasus di Kabupaten Daerah Tingkat II Tangerang. Jakarta: Universitas Indonesia Program Pascasarjana h. Sadyohutomo, Ir. Mulyono, MRCP. 2008. Manajemen Kota dan Wilayah, Realita dan Tantangan . Jakarta: Bumi Aksara

26

i.

Tjondronegoro,

Sediono

MP.

1999.

Sosiologi

Agraria

Kumpulan Tulisan Terpilih. Bandung: Akatiga. j. Mubyarto, 1992. Ekonomi dan Struktur Politik, Orde Baru 1966-1971, Jakarta: LP3ES k. Halim, Wahidin. 2005. Ziarah Budaya Kota Tangerang Menuju Masyarakat Berperadaban Akhlakul Karimah. Jakarta: Pendulum. l. Simbolon, Parakitri T. 1995. Menjadi Indonesia. Jakarta: Kompas. m. n. Sutiyoso. 2007. Megapolitan . Jakarta: Gramedia. Yunus, Hadi Sabari, MA. 2006. Megapolitan, Konsep, Problematika, dan Prospek. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

C.

Metodologi Dalam ilmu sejarah, paling tidak terdapat tiga metodologi yaitu metodologi

individualis, strukturalis, dan strukturis. Metodologi individualis mendasarkan pada teori bahwa perubahan terjadi karena pengaruh tokoh tertentu. Dalam kacamata ini, sejarah dipandang hanya milik orang-orang besar sedangkan rakyat jelata dianggap tidak memiliki sejarah. Metodologi kedua merupakan kebalikan dari individualis dimana memandang bahwa perubahan terjadi bukan karena pengaruh seorang tokoh tetapi karena struktur sosial sehingga disebut juga metodologi holis. Sedangkan metodologi ketiga merupakan metodologi yang mengkombinasikan antara metodologi individualis dan strukturalis.

27

Dalam penulisan skripsi ini, penulis telah menganalisa dan menyimpulkan melalui metodologi strukturalis dengan teka nan terhadap analisis perubahan dan pergeseran kehidupan sosial ekonomi masyarakat Tangerang. Dalam hal ini, penulis mencoba mencermati kecenderungan-kecenderungan umum pelaksanaan penetrasi modal atau aktivitas akumulasi modal yang dilakukan kolonial Belanda maupun rezim orde baru. Kecenderungan-kecenderungan tersebut kemudian dianalisa dan diklasifikasikan sehingga dapat dirumuskan dalam suatu pola tertentu. Pola-pola penetrasi modal tersebut tetap harus dilihat sebagai kesatuan tahapan yang sistematis agar tujuan akumulasi modal dapat tercapai. Pola penetrasi modal tersebut sengaja dan terencana dijalankan oleh rezim penguasa, dalam hal ini pemerintah kolonial Belanda dan orde baru, baik dengan produk hukum, praktek tangan besi, pembentukan struktur pemerintahan, penataan warga, dan lain-lain. Dan pada tahap tertentu, setiap pelaksanaan penetrasi modal berimplikasi terhadap kehidupan masyarakat Tangerang baik di bidang ekonomi, sosial, maupun di bidang budaya. Dengan demikian, tekanan dan isi penulisan skripsi ini tidak terletak pada untaian peristiwa sejarah (historical events) yang menceritakan tokoh, atau peristiwa tertentu tapi lebih kepada analisis proses sejarah (historical process). Peristiwa maupun tokoh dengan begitu hanya disinggung sejauh benar-benar memberikan pengaruh yang mendalam terhadap proses sejarah tersebut.

28

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum dan Potensi Wilayah Tangerang 1. Asal Mula Nama Daerah Tangerang Menurut tradisi lisan yang menjadi pengetahuan masyarakat Tangerang, nama daerah Tengerang dulu dikenal dengan sebutan Tanggeran (dengan satu maupun dua huruf g) yang berasal dari bahasa Sunda yaitu tengger dan perang (Ekajati, 2004: 39). Kata tengger dalam bahasa Sunda memiliki arti “tanda” yaitu berupa tugu yang didirikan sebagai tanda batas wilayah kekuasaan Banten dan VOC, sekitar pertengahan abad 17. Daerah yang dimaksud berada di bagian sebelah barat Sungai Cisadane yaitu Kampung Grendeng atau te patnya di ujung jalan Otto Iskandar Dinata sekarang. Tugu dibangun oleh Pangeran Soegiri, salah satu putra Sultan Ageng Tirtayasa. Seperti dikutip dalam website Pemerintah Daerah Kotamadya Tangerang

(www.kotatangerang.go.id ), pada tugu tersebut tertulis prasasti dalam huruf Arab gundul dengan dialek Banten, yang isinya sebagai berikut: Bismillah peget Ingkang Gusti Diningsun juput parenah kala Sabtu Ping Gasal Sapar Tahun Wau Rengsena Perang nelek Nangeran Bungas wetan Cipamugas kilen Cidurian Sakebeh Angraksa Sitingsung Parahyang-Titi Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Dengan nama Allah tetap Maha Kuasa Dari kami mengambil kesempatan pada hari Sabtu Tanggal 5 Sapar Tahun Wau Sesudah perang kita memancangkan Tugu

29

Untuk mempertahankan batas Timur Cipamugas (Cisadane) dan Barat yaitu Cidurian Semua menjaga tanah kaum Parahyang Sedangkan istilah perang menunjuk pengertian bahwa daerah tersebut dalam perjalanan sejarah menjadi medan perang antara Kasultanan Banten dengan tentara VOC. Hal ini dibuktikan dengan adanya keberadaan benteng pertahanan kasultanan Banten di sebelah barat Cisadane dan benteng pertahanan VOC di sebelah Timur Cisadane. Keberadaan benteng tersebut juga menjadi dasar bagi sebutan daerah sekitarnya (Tangerang) sebagai daerah Beteng. Hingga masa pemerintahan kolonial, Tangerang lebih lazim disebut dengan istilah Beteng. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, sekitar tahun 1652, benteng pertahanan kasultanan Banten didirikan oleh tiga maulana yaitu Yudhanegara, Wangsakara , dan Santika yang diangkat oleh penguasa Banten. Mereka mendirikan pusat pemerintahan kemaulanaan sekaligus menjadi pusat perlawanan terhadap VOC di daerah Tigaraksa. Sebutan Tigaraksa, diambil dari sebutan kehor matan kepada tiga maulana sebagai tiga pimpinan (tiga tiang/pemimpin). Mereka mendapat mandat dari Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1680) melawan VOC yang mencoba menerapkan monopoli dagang yang merugikan Kesultanan Banten. Namun, dalam pertempuran melawan VOC, ketiga maulana tersebut berturut -turut gugur satu persatu. Perubahan sebutan Tangeran menjadi Tangerang terja di pada masa daerah Tangeran mulai dikuasai oleh VOC yaitu sejak ditandatangani perjanjian antara Sultan Haji dan VOC pada tanggal 17 April 1684. Daerah Tangerang seluruhnya masuk kekuasaan Belanda. Kala itu, tentara Belanda

30

tidak hanya terdiri dari bangsa asli Belanda (bule) tetapi juga merekrut warga pribumi di antaranya dari Madura dan Makasar yang di antaranya ditempatkan di sekitar beteng. Tentara kompeni yang berasal dari Makasar tidak mengenal huruf mati, dan terbiasa menyebut Tangeran dengan Tangera ng. Kesalahan ejaan dan dialek inilah yang diwariskan hingga kini. Sebutan Tangerang menjadi resmi pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945. Pemerintah Jepang melakukan pemindahan pusat pemerintahan Jakarta (Jakarta Ken ) ke Tangerang yang dipimpin oleh Kentyo M. Atik Soeardi dengan pangkat Tihoo Nito Gyoosieken seperti termuat dalam Po No. 34/2604. Terkait pemindahan Jakarta Ken Yaskusyo ke Tangerang tersebut, Panitia Hari Jadi Kabupaten Tangerang kemudian menetapkan tanggal tersebut sebagai hari lahir pemerintahan Tangerang yaitu pada tanggal 27 Desember 1943. Selanjutnya penetapan ini dikukuhkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II Kabupaten Tangerang Nomor 18 Tahun 1984 tertanggal 25 Oktober 1984 (Halim, 2004: 7).

2.

Kondisi Geografis Sejak tahun 1993, wilayah Tangerang terbagi menjadi dua wilayah

Administratib yaitu Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang. Daerah Kabupaten Tangerang terletak di antara 106 0 20' dengan 1060 43' Bujur Timur dan antara 6° 00'-6° 20' Lintang Selatan. Sedangkan Kota Tangerang terletak pada. posisi 106° 36' - 106° 42' Bujur Timur dan 6° 6' – 6° 13' Lintang Selatan. Bagian terbesar kedua daerah tersebut merupakan dataran rendah dengan ketinggian antara 0-50 meter di atas permukaan air laut. Daerah

31

Tangerang termasuk beriklim panas karena berada di daerah dekat dengan garis katulistiwa. Temperatur rata-rata sekitar 230-330 C. Rata -rata curah hujan dalam satu tahun 2.043 mm. Sedangkan Luas daerah Tangerang (daerah Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang) adalah 128.281 hektar atau sekitar 1.283 kilometer persegi dengan jarak bentangan 40 km antara utara dengan selatan dan 50 km antara barat dengan timur. Daerah seluas tersebut berbatasan dengan daerah Kabupaten Serang di sebelah barat, laut Jawa di sebelah utara, daerah Ibukota Jakarta di sebelah timur, serta daerah Kabupaten Bogor di sebelah selatan (Ekajati, 2004: 25-28). Wilayah Tangerang dilintasi beberapa sungai di antaranya sungai Cisadane yang membagi Tangerang menjadi dua bagian yaitu bagian timur sungai dan bagian barat sungai. Selain Sungai Cisadane, terdapat pula sungai sungai lain seperti Sungai Cirarab yang merupakan batas sebelah barat Kota Tangerang dengan Kabupaten Tangerang,. Kemudian, Kali Ledug yang merupakan anak Sungai Cirarab, Kali Sabi dan Kali Cimode. Sungai-sungai tersebut berada di sebelah Sungai Cisadane, sedangkan pada bagian timur sungai Cisadane terdapat pula sungai yang meliputi: Kali Pembuangan Cipondoh, Kali Angke, Kali Wetan, Kali Pasanggrahan, Kali Cantiga, Kali Pondok Bahar. Terdapat pula saluran air yang meliputi Saluran Mokevart, Saluran Irigasi Induk Tanah Tinggi, Saluran induk Cisadane Barat, Saluran Induk Cisadane Timur dan Saluran Induk Cisadane Utara. Dilihat dari letek topografi dan sumber air yang tersedia, maka memang sangat ideal bagi Tangerang untuk menjadi area pertanian baik sawah maupun ladang. Maka tidak heran bila saat masa kolonial Tangerang memang menjadi

32

sumber penghasil pertanian terutama produksi kecap kedelai yang dikenal bermerk cap Beteng. Namun seiring kebijakan pembangunan di era Orde Baru, lahan Tangerang kemudian banyak digunakan sebagai area industri. Wilayah pertanian semakin menyempit. Di sejumlah kecamatan bahkan telah habis untuk lahan permukiman dan industri. Tabel 1. Penggunaan Lahan di Kotamadya Tangerang Tahun 1990 NO 1 2 3 Pola Penggunaan Lahan Industri Perumahan Jasa Jenis Penggunaan Lahan Asal Luas (Ha)
Sawah Tanah Kosong Lainnya

469,58 26.350,44 535,36

83,12 9.580,45 345,05

101,51 150,65 7,41

284,95 16.619,34 182,90

TOTAL 27.355,38 10.008,62 259,57 17.087,19 Sumber: BAPPEDA Kabupaten Tangerang Tahun 1990 dalam Rizal, 1993: 87 3. Kependudukan Mengenai latar belakang penduduk yang mendiami Tangerang, dapat diketahui dari berbagai sumber antara lain sejumlah prasasti, berita-berita Cina, maupun laporan perjalanan bangsa kulit putih di Nusantara. Pada mulanya, penduduk Tanggeran boleh dibilang hanya beretnis dan berbudaya Sunda. Mereka terdiri atas penduduk asli setempat, serta pendatang dari Banten, Bogor, dan Priangan. Kemudian sejak 1526, datang penduduk baru dari wilayah pesisir Kesultanan Demak dan Cirebon yang beretnis dan berbudaya Jawa, seiring dengan proses Islamisasi dan perluasan wilayah kekuasaan kedua kesultanan itu. Mereka menempati daerah pesisir Tanggeran sebelah barat. Orang Banten yang menetap di daerah Tanggeran diduga merupakan warga campuran etnis Sunda, Jawa, Cina, yang merupakan

33

pengikut Fatahillah dari Demak yang menguasai Banten dan kemudian ke wilayah Sunda Calapa. Etnis Jawa juga makin bertambah sekitar tahun 1526 tatkala pasukan Mataram menyerbu VOC. Tatkala pasukan Mataram gagal menghancurkan VOC di Batavia, sebagian dari mereka menetap di wilayah Tanggeran. Orang Tionghoa yang bermigrasi ke Asia Tenggara sejak sekitar abad 7 M, diduga juga banyak yang kemudian menetap di Tanggeran seiring berkembangnya Tionghoa -muslim dari Demak. Di antara mereka kemudian banyak yang beranak-pinak dan melahirkan warga keturunan. Jumlah mereka juga kian bertambah sekitar tahun 1740. Orang Tionghoa kala itu diisukan akan melakukan pemberontakan terhadap VOC. Konon sekitar 10.000 orang Tionghoa kemudian ditumpas dan ribuan lainnya direlokasi oleh VOC ke daerah sekitar Pandok Jagung, Pondok Kacang, dan sejumlah daerah lain di Tanggeran. Di kemudian hari, di antara mereka banyak yang menjadi tuan tuan tanah yang menguasai tanah-tanah partikelir. Penduduk berikutnya adalah orang-orang Betawi yang kini banyak tinggal di perbatasan Tangerang-Jakarta. Mereka adalah orang-orang yang di masa kolonial tinggal di Batavia dan mulai berdatangan sekitar tahun 1680. Diduga mereka pindah ke Tanggeran karena bencana banjir yang selalu melanda Batavia (Ekajati, 2004: 108-109). Menurut sebuah sumber, pada ta hun 1846, daerah Tangeran juga didatangi oleh orang-orang dari Lampung. Mereka menempati daerah Tangeran Utara dan membentuk pemukiman yang kini disebut daerah Kampung Melayu (Thahiruddin, 1971: 37). Selanjutnya, ketika memasuki

34

jaman Orde Baru, penduduk Tangerang makin beragam etnis. Berkembangnya industri di sana, mengakibatkan banyak pendatang baik dari Jawa maupun luar Jawa yang akhirnya menjadi warga baru. Untuk sekedar memetakan persebaran etnis-etnis di Tangerang, dapat disebutkan di sini bahwa daerah Tangerang Utara bagian timur berpenduduk etnis Betawi dan Cina serta berbudaya Melayu Betawi. Daerah Tangerang Timur bagian selatan berpenduduk dan berbudaya Betawi. Daerah Tangeran Selatan berpenduduk dan berbudaya Sunda. Sedang daerah Tangeran Utara sebelah barat berpenduduk dan berbudaya Jawa (Halim, 2005: 6). Persebaran penduduk tersebut di masa kini tidak lagi bisa mudah dibaca mengingat banyaknya pendatang baru dari berbagai daerah. Maka, apabila ingin mengetahui persebaran etnis di Tangerang, tentunya dibutuhkan studi yang lebih mendalam. Tabel 2. Penduduk Afdeling Tangerang Tahun 1930 Distrik
Tangerang

Onderdistrik
Tangerang Jati Serpong Cengkareng Curug Jumlah Balaraja Kresek Tigaraksa Jumlah Mauk Teliklnaga

Pribumi
47.553 28.774 46.450 42.188 31.968 196.933 39.081 4.952 55.971 100.004 91.457 38.985

Eropa
191 32 17 8 2 250 7 4 18 29 13 -

Cina
2.934 3.419 5.394 4.687 3.300 19.734 2.396 558 1.738 4.692 10.813 5.184

Arab
62 43 27 132 29 16

Jumlah
50.740 32.225 51.904 46.910 35.270 217.049 41.484 5.514 57.727 104.725 102.312 44.185

Balaraja

Mauk

Jumlah TOTAL

130.442 427.379

13 15.997 292 40.423

45 177

146.497 468.271

(Volkstelling 1930, I, 1933 dalam Suryana et al., 1992: 21-22)

35

Tabel 3. Tabel Perkembangan Penduduk Per Kabupaten/Kota di Provinsi Banten Tahun 2000-2005
NO Kabupaten/Kota Kabupaten 1. Lebak 2. Pandeglang 3. Serang 4. Tangerang Kota 5. Tangerang 6. Cilegon Banten 2000
1.011.788 1.030.040 2.781.428 1.652.763 1.325.854 294.936 8.096.809

2001
1.025.088 1.034.710 2.873.256 1.669.119 1.354.657 3.1.225 8.258.055

2002
1.040.871 1.044.047 2.983.384 1.735.560 1.416.840 309.225 8.529.799

2003
1.082.012 1.122.228 3.185.944 1.776.995 1.462.726 326.324 8.956.324

2004
1.100.911 1.132.899 3.194.282 1.834.514 1.488.666 331.872 9.083.144

2005
1.106.788 1.139.043 3.324.949 1.866.512 1.537.244 334.408 9.308.944

Sumber: BPS Provinsi Banten 4. Potensi Wilayah Tangerang Sejak zaman kolonial hingga era reformasi, nampaknya daerah Tangerang mempunyai potensi yang strategis baik di bidang ekonomi, sosial, budaya, maupun politik. Di masa Kolonial Belanda dan Orde Baru, nampaknya potensi tersebut tidak disia-siakan untuk kepentingan akumulasi modal. Pada masa kolonial, wilayah Tangerang menjadi daerah perbatasan dengan kekuasaan Kasultanan Banten. Akibatnya, pada masa awal VOC menjadikan Batavia sebagai pusat pemerintahan, VOC harus ekstra keras melakukan penjagaan dan pertahanan di Tangerang. Hal ini terbukti dengan pendirian benteng pertahanan. Tangerang kemudian berhasil dikuasai VOC dan diteruskan pemerintah Kolonial Belanda . Lahan Tangerang dipusatkan untuk menghasilkan beras, kedelai, kopi, dan kerajinan topi dengan menjadikan daerah partikelir.

36

Pada era Orde Baru, Tangerang tumbuh pesat menjadi sebuah kota industri. Ribuan pabrik didirikan oleh investor asing maupun nasional. Tangerang dijadikan daerah untuk menghasilkan akumulasi modal. Hal ini bisa berlangsung karena Tangerang ditopang oleh beberapa faktor strategis antara lain: mempunyai jalur transportasi yang menunjang seperti jalan tol, bandara Soekarno-Hatta, relatif berdekatan dengan pelabuhan Tanjung Priok dan Merak, serta berdekatan dengan ibukota negara. Akan tetapi, letak Tangerang yang sangat strategis tersebut juga menyimpan problem sosial yang kompleks. Pesatnya pertumbuhan Kota Tangerang karena wilayahnya yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta, menyebabkan banyak warga yang bekerja di Jakarta kemudian memilih domisili di Kota Tangerang. Mereka kerap disebut commuter karena memakai Tangerang sebagai tempat ist irahat tidur malam, sementara segala macam kegiatan ekonomi di pagi hingga petang harinya banyak dihabiskan di Jakarta. Sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta, Kota Tangerang memiliki keuntungan dan sekaligus kerugian. Keuntungannya, kota itu bisa ikut nama besar ibukota negara, warganya bisa memanfaatkan fasilitas publik sebuah metropolitan. Apalagi ditunjang dengan mudahnya aksebilitas ke kota Jakarta dan kota-kota penting di Banten dan Jawa Barat melalui ruas jalan tol, hingga memberikan kemudahan untuk saling berinteraksi antar kota. Ditambah lagi, dengan tersedianya Bandara Internasional Soekarno-Hatta, maka aksebilitas kota semakin terbuka dengan kota -kota di seluruh Indonesia bahkan mancanegara. Hal itu kian meningkatkan mobilitas penduduk, bahkan migrasi penduduk ke dalam daerah Tangerang, terutama daerah perkotaannya,

37

masuklah banyak penduduk baru yang berasal dari luar, baik dari kawasan lain di Pulau Jawa maupun dari luar Jawa, ataupun orang asing. O leh sebab itu, etnis dan budaya penduduk daerah ini kian beragam. Kondisi tersebut kian memperkokoh Tangerang sebagai daerah pertemuan berbagai etnis dan budaya. . Namun, karena Tangerang dihuni oleh ragam etnis, di balik itu terdapat potensi konflik yang tidak sedikit akibat persilangan budaya. Kita hanya berharap dalam kondisi keragaman etnis dan budaya itu, Tangerang menjadi daerah yang penduduknya dapat hidup rukun, damai, sejahtera, dan tak tercerabut dari akar budayanya. Dampak lain yang menonjol di Tangerang dari pelaksanaan program pembangunan megapolitan ini, adalah berubahnya segala bidang kehidupan masyarakat setempat. Semula, penduduknya hanya mengandalkan kegiatan bidang pertanian untuk menopang hidup. Seiring dengan perkembangan selanjutnya, mereka mulai mengerjakan berbagai bidang kegiatan ekonomi, terutama bidang industri, perdagangan, dan jasa yang tentu mengubah pola dan orientasi hidup masyarakat. Sebagai daerah penyangga ibu kota, wilayah ini memang dipersiapkan untuk kegiatan perdagangan dan industri, pengembangan pusat-pusat permukiman untuk menjaga keserasian

pembangunan dengan DKI Jakarta (Halim, 2005: 38). Fenomena Tangerang sebagai wilayah yang memiliki latar belakang budaya, dan industri-industri besar serta tempat wisata, mengundang dunia untuk menengok dan menggali potensi-potensi Tangerang yang tumbuh subur untuk diberdayakan. Ditunjang dengan letak geografis Tangerang sebagai

38

penyangga kota Jakarta dimana arus roda ekonomi Jakarta memiliki imbas terhadap kota Tangerang. Limpahan kegiatan ekonomi dari Jakarta selain merupakan modal penggerak ekonomi perkotaan juga membawa dampak berupa permasalahan lingkungan, ketersediaan lahan dan tingginya angka migrasi. Besarnya arus migrasi yang tidak diikuti dengan ketersediaan lapangan kerja, kualitas sumber daya manusia serta permasalahan lainnya menjadikan kota Tangerang menghadapi permasalahan yang kompleks. Kondisi tersebut perlu diantisipasi dan diberdayakan agar tidak terjadi penyimpangan potensi alam dan penerapan teknologi tepat guna. Dari uraian data-data terkait gambaran umum dan potensi wilayah Tangerang di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa perubahan sosial yang terjadi baik di masa kolonial dan Orde Baru sesungguhnya disebabkan faktor potensi letak geografis yang sangat strategis, yaitu berbatasan langsung dengan daerah pusat kekuasaan. Walaupun disebutkan menjadi daerah penghasil beras, jagung, kedelai dan kopi, namun harus diakui bahwa baik pemerintah kolonial dan Orde Baru menempatkan kesuburan tersebut bukan sebagai hal utama. Pemer intah Kolonial Belanda cenderung memilih daerah lain untuk menggenjot komoditas pertanian seperti pembangunan perkebunan tembakau di Deli Serdang, Sumatra, perkebunan tebu di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pemerintah Kolonial Belanda memilih menjadikan Tangerang sebagai daerah partikelir yang dikelola dan diberdayakan oleh orang-orang Tionghoa dan Eropa. Dari mereka, didapatkanlah pemasukan melalui pajak dan sewa tanah. Hal ini senada dengan yang diungkapkan Anggapraja (tth. : 38-39, 42 dalam Ekajati, 2004: 117) bahwa perkebunan kopi yang terdapat di

39

daerah Rumpin dan Lengkong, bukanlah produsen kopi yang baik, sehingga penjualan produksi tanaman itu kepada pemerintah hampir selalu rugi . Walaupun begitu, tetap patut diteliti pula tentang keberadaan pabrik gula di Kampung Babakan, dan pabrik tenun di Balaraja. Kenapa pemerintah kolonial mendirikan pabrik tersebut di daerah Tangerang? Apakah produksi tebu di Tangerang cukup besar? Juga dengan pabrik tenun Balaraja. Sayang, hingga penulisan skripsi ini disusun, informasi terkait pabrik-pabrik tersebut belum diketemukan. Dugaan penulis, pabrik-pabrik tersebut tidaklah terlalu dipandang strategis bagi Kolonial. Hal ini dapat dibuktikan dalam kasus ambruknya kerajinan topi bambu di Tangerang yang tak pernah bangkit kembali. Tidak ada upaya pengembangan secara serius dari pemerintah Kolonial Belanda terhadap p roduksi home industry topi bambu masyarakat Tangerang yang sempat dieksport ke Eropa dan dibiarkan gulung tikar pasca krisis ekonomi tahun 1930. Ini menandakan bahwa potensi tersebut tidak dipandang sebagai hal utama oleh Kolonial Belanda. Dan rupanya, kebijakan tersebut juga berlanjut pada era rezim Orde Baru berkuasa. Produksi pertanian Tangerang dipandang hanya mampu memberikan kontribusi pada masyarakat setempat, tidak kepada perekonomian nasional. Maka, atas nama

pembangunan nasional, penguasa Orde Baru memilih mengubah Tangerang sebagai daerah penopang ibu kota negara, Jakarta, terutama untuk daerah industri dan pemukiman.

40

B. Pola Penetrasi Modal di Tangerang pada Masa Kolonial (1684 -1942) Kehidupan masyarakat Nusantara sebelum mendapat pengaruh

peradaban Hindu-Budha, Islam, dan bangsa Eropa, dipercaya sejarawan sangat bersifat agraris dan penuh kesederhanaan. Mereka kebanyakan sudah tinggal menetap dan mengenal sistem irigasi. Mereka tinggal berkelompok di berbagai lokasi yang subur. Masing-masing anggota masyarakatnya bekerja, saling menjaga, penuh kesederhanaan, dan saling merawat satu sama lainnya. Tak ada yang menjadi lebih dari yang lain sehingga pada masa itu belum tampil sosok raja seperti ketika Nusantara memasuki jaman feodal sekitar abad keempat masehi. Setiap orang bertani dan berternak (berproduksi) yang relatif sama jenisnya dan apa yang dihasilkannya menjadi konsumsi bersama. Untuk mempertahankan pangan komunitas tersebut, biasanya dibuatkan suatu lumbung untuk stok di masa menunggu panen. Kadang, memang diadakan suatu pertukaran hasil produksi (barter) misalnya antara masyarakat di pedalaman yang membawa beras ke pesisir untuk mendapatkan garam. Namun, sistem pertukaran tersebut sesungguhnya belum bisa dikatakan sebagai sistem perdagangan yang kini dikenal dimana menuntut suatu ukuran nilai, permintaan, dan tawar-menawar sebagai syaratnya (Anantatoer , 1998: 106-107). Situasi masyarakat awal di Nusantara seperti diuraikan di atas, sesungguhnya masih tergambar pada era kolonial bahkan hingga sekarang seperti tercermin dalam kehidupan suku Badui. Sementara di era kolonial, Multatuli mencoba menggambarkan kehidupan petani di Banten sebagai berikut:

41

... Orang Jawa sebenarnya petani; tanah dimana dia lahir, yang banyak menghasilkan dengan sedikit keluar keringat, membikin hatinya tertarik untuk menjadi petani; dan terutama ia dengan seluruh jiwa raganya berkeinginan untuk menanami sawahnya, dan dalam hal itu ia sangat cekatan. Ia tumbuh di tengah sawah-sawahnya, gaga-gaga dan tiparnya, sejak kecil ia mengikuti ayahnya ke ladang, dimana ia membantu ayahnya membajak dan mencangkul, mengerjakan bendungan dan saluran air untuk mengairi ladang-ladangnya. Usianya dihitungnya dengan beberapa kali panen, lamanya waktu dinyatakanya dengan warna batang padi di ladang, dia merasa senang di tengah-tengah temannya memotong padi; ia mencari jodohnya di tengah gadis desa yang sambil menyanyi gembira malam hari menumbuk padi untuk melepaskan kulitnya; memiliki sepasang kerbau yang akan membajak sawahnya, itulah cita -citanya (Multatuli, 1985: 63) Namun, secara umum s istem sosial seperti di ata s kemudian berubah saat pengaruh Hindu-Budha memasuki wilayah Nusantara. Seiring pengaruh Hindu-Budha berlangsung, sistem feodalisme juga terbangun. Feodalisme adalah fondasi bagi peradaban Hindu-Budha dimana mengandung dua unsur yaitu konsentrasi kekuatan (yang berarti timbulnya militerisme) dan konsentrasi kekuasaan (yang berarti timbulnya hirarki sosial yang keras). Kedua unsur tersebut bekerja secara bersama-sama. Artinya bahwa kekuasaan tidak akan ada bila tidak ada kekuatan. Kekuasaan tersebut dibentuk dengan sistem penindasan dan perampokan atas tenaga kerja, harta-benda, serta jiwa masyarakat. Seorang raja di jaman kerajaan Hindu-Budha dipandang sebagai perwujudan dewa/dewi atau Tuhan. Sehingga, segala kehendaknya harus dituruti bawahannya. Sementara itu, untuk bisa menghidupi bangsawan bawahan dan tentaranya, maka ia harus mampu mengumpulkan pajak, mempekerjakan rakyatnya baik dengan memperbudak maupun bagi hasil, atau merampas seluruh harta penguasa dan daerah yang telah ditakhlukkan. Raja dan kerajaan kemudian terus bermunculan dan lenyap baik karena penyerangan kerajaan lain maupun intrik dari dalam. Sementara sistem

42

feodalisme makin berkembang, diferensiasi sosial pun ikut berkembang. Muncul kebutuhan adanya pertukangan, militer yang besar, penye dia pangan, penarik pajak, dan lain-lain. Jenis kebutuhan semakin bertambah. Pada masa ini, profesi sebagai pedagang mulai tumbuh. Tradisi perdagangan yang sebelumnya tidak ada kini lahir seiring beragamnya keinginan para raja dan bangsawan untuk mendapatkan kekayaan yang tidak dipunyainya di daerah yang ia kuasai. Akan tetapi, mengingat tradisi sebelumnya nyaris belum ada sistem perdagangan, maka di masa feodal ini, budaya perdangangan bagi masyarakat khususnya pedalaman belumlah kokoh. Sementara itu, sejak awal abad pertama masehi, orang-orang Arab, India, Campa, Filipina, dan Tionghoa juga ramai mengunjungi Nusantara. Perdagangan tersebut dengan sendirinya sudah bersifat internasional. Akan tetapi, tatkala niaga secara internasional telah berkembang dan di kemudian menjadi ajang persaingan antar bangsa, di wilayah Nusantara belumlah terdapat kelas pedagang yang kuat. Kondisi ini terus berlangsung hingga perdagangan memasuki babak datangnya peradaban Islam hingga kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara. Tatkala peradaban Islam memasuki Nusantara, sistem sosial yang berlaku sesungguhnya hanyalah melanjutkan sistem feodal di jaman HinduBudha. Para penyiar agama Islam melakukan penyebaran agama dengan menempuh kompromi dengan feodalisme Hindu. Pada masa perkembangan Islam seiring keruntuhan Majapahit, para penyiar Islam memperoleh tanah atau daerah kekuasaan tertentu lalu menjadi penguasa feodal baru. Demikian seterusnya hingga keturunan dan bangsawan Islam menyebar di daerah lain

43

yang makin lama, baik k ekuasaan maupun daerahnya, makin bertambah kecil, sampai akhirnya menduduki tempat sebagai tuan-tuan tanah (Anantatoer, 1998: 108-120). Babak selanjutnya adalah tatkala dunia khususnya bangsa Barat membutuhkan rempah-rempah di Nusantara sekitar abad 16. Ketika rempahrempah menjadi komoditi internasional, golongan pedagang makin

berkembang. Saat itu budaya feodal masih berlangsung. Dalam kancah persaingan dagang rempah-rempah, para raja langsung memerintahkan rakyat untuk menghimpunnya. Besar kemungkinan, para pejabat pengumpul barang dagangan itulah yang kemudian menjadi golongan pedagang (borjuasi). Para pejabat tersebut kemudian melakukan aktivitas dagangnya di bandar-bandar atau kota pelabuhan. Saat bangsa Barat berusaha memonopoli perdagangan di pelabuhan tersebut, merekalah yang pertama kali berhadapan dengan bangsa Eropa hingga kemudian melahirkan konflik dan perang (Anantatoer, 1998:121-125). Sementara dari konflik dan perang ratusan tahun

menghasilkan kejayaan bangsa Eropa sehingga secara leluasa menguasai sebagian besar Nusantara. Pelaksanaan kekuasaan dijalankan dengan sistim lama yaitu feodal. Tapi datanglah orang-orang asing dan Barat; mereka itu menjadikan dirinya pemilik tanah itu (Nusantara). Mereka hendak mendapat untung dari kesuburan tanah itu, dan menyuruh penduduk memberikan sebagian tenaga dan waktunya untuk menghasilkan tanaman-tanaman lain, yang lebih menguntungkan di pasar-pasar Eropah. Untuk menggerakkan orang-orang yang sederhana itu, cukuplah mempunyai pengetahuan politik sedikit. Mereka patuh kepada kepala-kepalanya (para raja); jadi cukuplah kalau dapat mempengaruhi kepala -kepalanya itu, dengan menjanjikan sebagian keuntungan kepada mereka....., dan mereka berhasil (Multatuli, 1985: 63)

44

Seperti telah disinggung di atas, bangsa Eropa mendatangi Nusantara tak lepas dari kepe ntingan dagang memperoleh barang komoditas. Demikian halnya pelaksanaan kekuasaan Kolonial Belanda di Nusantara sangat dilatarbelakangi oleh motif menguasai perdagangan dunia (merkantilis). Motif ekonomi tersebut semakin mendominasi setelah meletusnya revolusi industri abad ke-18 di Inggris. Era setelah revolusi industri secara lazim digolongkan sebagai era imperialisme modern yang di antaranya ditandai dengan penguasaan negeri lain, upaya membangun industri besar-besaran

(industrialisasi) sehingga membutuhkan banyak bahan mentah dan pasar yang luas (kapitalisasi). Bangsa penjelajah dunia (imperialis) mencari dan menjadikan daerah baru (koloni) sebagai sum ber eksploitasi bahan mentah dan pasar bagi hasil-hasil industri. Di kemudian hari, juga sebagai tempat penanaman modal baru untuk dapat melipatgandakan keuntungan (akumulasi modal). Dalam memperlakukan Tangerang sebagai daerah pendudukan,

pemerintah Bela nda pun tak lepas dari motif ekonomi tersebut. Setelah dijadikan daerah partikelir tahun 1684, Belanda berusaha keras agar daerah tersebut ikut menyumbang pendapatan pemerintah kolonial. Si tem akumulasi s modal dijalankan dalam beberapa tahap yang dapat disebut juga sebagai pola penetrasi modal khususnya di daerah Tangerang. Sistem tersebut terus

berlangsung hingga tahun 1942. Berikut ini pola-pola penetrasi modal pada era kolonial:

45

1.

Merebut Tangerang dari Kekuasaan Kasultanan Banten Sebelum menjadi daerah kolonial, Tangerang termasuk wilayah

kekuasaan Kesultanan Banten. Namun, sebuah perhimpunan perusahaan orang Belanda yang melakukan kegiatan perdagangan di belahan bumi timur, termasuk wilayah Nusantara yang dikenal dengan nama Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), secara bertahap merebut wilayah tersebut. Dimulai tahun 1619, VOC atau biasa juga disebut Kompeni, berhasil merebut kota pelabuhan Jayakarta dari tangan kekuasaan Banten . Selanjutnya nama Jayakarta diganti menjadi Batavia (sekarang Jakarta) yang kemudian menjadi tempat randez-vous (pangkalan tetap) bagi kapal kapalnya dan titik pijak pertama mencengkram Nusantara (Simbolon, 1995: 33). Karena kekalahan itu, Pangeran Jayakarta mengundurkan diri ke Kasultanan Banten. Akibatnya, hubungan antara Kesultanan Banten yang telah melindungi Pangeran Jayakarta dengan Kompeni menjadi tidak serasi. Ditambah lagi dengan perilaku Kompeni yang selalu mendesakkan kehendaknya untuk monopoli perdagangan di Banten. Sementara itu, Sultan Banten selalu menolak desakan ter sebut karena Banten menganut kebijakan ekonomi perdagangan bebas dan kebijakan politik yang merdeka dan berdaulat. Untuk memaksakan kehendaknya berulangkali armada Kompeni memblokade pelabuhan Banten. Tatkala dialog tak membuahkan hasil dan pembicaraan mengalami jalan buntu, maka pecahlah perang. Perang sempat mereda karena jasa Sultan Jambi dalam menjembatani kesepakatan damai yang tertuang dalam perjanjian perdamaian tanggal 10 Juli 1659. Salah satu isi perjanjian itu menyatakan

46

bahwa tapal batas wilayah Kesultanan Banten dengan wilayah Kompeni Belanda adalah Sungai Cisadane. Sejak itu, daerah Tangerang sebelah timur Sungai Cisadane menjadi daerah kekuasaan Kompeni, sedangkan daerah Tangerang sebelah barat sungai itu tetap merupakan wilayah Kesultanan Banten (Ekajati, 2004:91-92). Akan tetapi, kesepakatan batas wilayah kekuasaan di atas tidak bertahan lama. S eluruh daerah Tangerang baik sebelah timur maupun sebelah barat Sungai Cisadane jatuh ke dalam kekuasaan Kompeni setelah kekuasaan di Kesultanan Banten beralih dari tangan Sultan Ageng Tirtayasa kepada puteranya, Sultan Haji. Pemerintahan Sultan Haji bert entangan dengan sifat ayahnya . Ia justru menjalin hubungan kerjasama yang menguntungkan pihak Kompeni. Karena Sultan Ageng tidak setuju dengan sikap anaknya terjadilah perselisihan antara anak dengan ayahnya. Perselisihan meruncing tatkala Sultan Ageng Tir tayasa pindah dari Keraton Surosowan ke Keraton Tirtayasa. Dengan jauhnya pengaruh Tirtayasa, Kompeni semakin leluasa mempengaruhi dan mengadudomba Sultan Haji dengan ayahnya . Akibatnya Sultan Ageng Tirtayasa terpaksa mengumumkan perang terhadap anaknya

sendiri. Akhir Februari 1682 pasukan Sultan Ageng Tirtayasa menyerbu Keraton Surosowan. Namun, Sultan Haji segera meminta bantuan Kompeni. Maka terjadilah pertempuran antara pasukan Sultan Ageng Tirtayasa dengan pasukan Kompeni. Pertempuran menghasilkan kekalahan di pihak Sultan Ageng Tirtayasa.

47

Kekalahan tersebut menyebabkan la dan para pengikutnya, antara lain Pangeran Purbaya (adik Sultan Haji), Pangeran Kulon, dan Syeh Yusuf (penasihat bidang keagamaan) beserta sisa

pasukannya, sempat mengundurkan diri ke daerah pedalaman. Mula -mula ke hutan Kranggan, kemudian pindah ke hutan Lebak, terus ke daerah Sajira yaitu daerah perbatasan Lebak dengan Bogor (Ekajati, 2004:92) . Pengunduran diri Sultan Ageng Tirtayasa tidak berlangsung lama karena putranya, Sulta n Haji membujuk ayahnya agar berkenan kembali ke Kasultanan Surosowan. Sultan Haji masih mempunyai rasa iba terhadap kesehatan ayahnya yang sudah tua. Namun tatkala Sultan Ageng kembali ke Surosowan, Kompeni justru menangkap Sultan Ageng Tirtayasa dan dipe njarakan di Benteng Batavia. Maka, dipandang dari kepentingan Kompeni, keberadaan Sultan Haji sangatlah berjasa. Sebagai imbalan jasa , disusunlah sebuah perjanjian yang kemudian ditandatangani Sultan Haji pada tanggal 17 April 1684. Isi perjanjian sebenarnya hanyalah pembaharuan perjanjian tanggal 10 Juli 1659 yang secara implisit menyatakan seluruh daerah Tangerang dikuasai

sepenuhnya oleh Kompeni Belanda (Ekajati, 2004: 93) . Sejak tahun 1684, kejayaan Kesul tanan Banten tenggela m. Kegiatan perdagangan di wilayah Kesultanan Banten merosot secara drastis dan digantikan perdagangan yang dimonopoli

Kompeni yang berpusat di Batavia.

48

2. Melanjutkan Sistem Feodal Setelah wilayah Tangerang dikuasai oleh Kompeni, di tepi Sungai Cisadane sebelah timur, Kompeni membangun benteng dari Pakulonan sampai ke Tangerang. Benteng itu dimak sudkan sebagai pertahanan dari kemungkinan serangan orang- orang Banten

pengikut Sultan Ageng. Kemudian, dibangun pula beberapa lokasi pemukiman pendu duk di sekitar benteng, antara lain pemukiman yang kemudian bernama Kampung Kalipasir, Grendeng, dan Karawaci (Ekajati, 2004:93). Untuk mengatur wilayah kekuasaannya secara administratib, pada awalnya VOC menempatkan daerah Tangerang sebelah timur Sungai Cisadane menjadi sebuah distrik militer dalam wilayah Batavia bagian barat. Wilayah itu dipimpin oleh seorang komandan pasukan serdadu Kompeni mengingat relatif belum aman dari serangan musuh dan juga dalam rangka pembinaan masyarakat yang tinggal di pemukiman yang baru terbentuk. Namun setelah keadaan berangsur-angsur tertib, status daerah adminis trasi

pemerintahan Tangerang sebelah timur Sungai Cisadane diubah menjadi sebuah regentschap (kabupaten) di wilayah Batavia (Suryana dkk ., 1992: 10,13,54). Jabatan bupati dipegang oleh bangsa pribumi. Seperti dikutip Ekajati (2004:94-95), bupatibupati Tangerang yang diangkat oleh Gubernur Jenderal Kompeni adalah sebagai berikut. 1). Kiyai Aria Sutadilaga I (1682 - 1739).

49

Ia diangkat menjadi bupati pertama Tangerang tanggal 24 November 1682. 2). Kiyai Aria Sutamanggala I (1739) Bupati ini memerintah sebentar saja tidak sampai satu tahun, karena masih dalam tahun 1739 (7 April) ia me ninggal dunia. 3). Kiyai Aria Sutamanggala II (1739 - 1741?), Ia adalah putera pertama Bupati Kiyai Aria Sutamang gala I. Bupati ketiga ini terpaksa diberhentikan dari ja batannya, karena memiliki reputasi yang jelek. 4). Kiyai Aria Sutadilaga II (1741/42 - 1751). Ia adalah cucu Bupati Kiyai Aria Sutadilaga 1. Pada mulanya ia bernama Raden Sleman dan ibunya seorang beretnis Cina. Ia tewas dibunuh oleh Kiyai Tapa di Cile dug, karena dipandang sebagai penghianat. Pada waktu itu bangkit perlawanan rakyat yang dipimpin oleh Ratu Bagus Buang dan Kiai Tapa untuk menentang kekua saan Kompeni Belanda di wilayah. 5). Kiyai Aria Sutadilaga III (1751 - 1765). Ia adalah putera bupati Tangerang keempat yang semula bernama Raden Arit. Akibat memiliki prilaku buruk, yaitu pemabuk berat, ia dipecat dari jabatannya, bahkan kemudian dibuang ke Pulau Edam (Pulau Pandan Besar di Laut Jawa) sampai meninggal dunia di sana.

50

6). Mas Glissar (1765 - 1766). Ia adalah kakak bupati Tangerang ke-5. Ia pun dipecat dari jabatannya, karena pemadat dan penjudi. Ia mengalami nasib yang sama dengan adiknya, yaitu dibuang ke Pulau Edam 7). Aria Sutadilaga IV (1766 - 1771). Nama semula adalah Agus Pija. Ia disenangi oleh Kom peni karena kejujurannya, setia kepada Kompeni, dan bekerja dengan penuh tanggung jawab. 8). Aria Sutadilaga V (1771 - 1773). Semula bernama Kiyai Mas Nong, putera Demang Kiyai Mas Usin. Pada masa pemerintahannya, daerah Ciam pea dipisahkan dari Tangerang. 9). Tumenggung Aria Sutadilaga VI (1773 - 1802). Ia adalah putera tertua bupati Tangerang ke -8. Pada mulanya bernama Raden Ramelan. Dalam menjalankan pemerintahan, ia dibantu oleh menantunya yang berna ma Raden Man sebagai patih. 10).Aria Sutadilaga VII (1802 - 1809). Ia adalah putera bupati Tangerang ke- 9. Dalam menja lankan pemerintahannya, ia dibantu bahkan diwakili oleh Patih Raden Demang Ganja, menantu. Raden Man. Soalnya, ketika diangkat menjadi bupati, Aria Suta dila ga VII masih berusia muda.

51

Sebagai kepala daerah, bupati berkuasa atas daerah dan rakyat yang dipimpinnya. Dalam menja lankan pemerintahan, ia dibantu oleh sejumlah pejabat bawahannya, yaitu: patih, kepala cutak (demang), patinggi (lur ah atau kepala desa), dan lain- lain. Pejabatpejabat bawahan bupati biasanya masih keluarga bupati. Seperti tercermin dari urutan bupati di atas, ja batan bupati selalu dipegang oleh keturunan bupati. Bupati memiliki hak untuk mewariskan jabatan. Kedua, dari sebutan Raden atau Aria , jelaslah bahwa mereka adalah kalangan bangsawan yang mempunyai darah keturunan para raja. Mereka direkrut Kompeni untuk menjadi penguasa bawahannya agar memerintah rakyatnya dengan sistem feodal. Artinya melanjutkan sistem pemerintahan ya ng sebelumnya sudah ada. Dengan demikian, posisi tertinggi (raja) berada pada pihak VOC dalam hal ini Gubernur Jendral. Dalam sistem feodal, gubernur jendral sebagai raja berhak menguasai seluruh daerah kekuasaannya beserta segala isinya serta berhak menentukan hidup rakyatnya. Realitas ini sangat cocok dengan apa yang digambarkan oleh Multatuli: Keturunan atau keluarga raja -raja dahulu mempergunakan kebodohan penduduk yang tidak mengerti bahwa tumenggung, adipati, atau pangeran sekarang ini adalah pegawai yang digaji, yang telah menjual hak- haknya sendiri dan hak- hak rakyat untuk penghasilan tertentu dan bahwa pajak yang dahulu dibayarnya kepada raja -rajanya telah diganti dengan pekerjaan yang dibayar sedikit di kebun kopi atau ladang tebu. Orang merasa hal yang biasa, bahwa beratus-ratus keluarga mendapat panggilan dari tempat yang jauh, untuk, tanpa bayaran, mengerjakan ladang- ladang milik bupati, orang merasa hal yang biasa, bahwa mereka memberikan tanpa

52

bayaran barang makanan untuk keperluan rumah tangga bupati; dan jika bupati berkenan menyenangi seekor kuda, seekor kerbau, seorang anak gadis, seorang isteri orang biasa, maka dianggap luar biasa dan mustahil jika orang itu tidak mau menyerahkan tanpa syarat apa yang diinginkan itu (Multatuli, 1985: 65) Kepada para bupati, Kompeni selanjutnya memberikan

kewajiban utama untuk memungut contingenten , yaitu memungut hasil bumi di daerahnya sebagai pajak natura (berupa barang) dan harus diserahkan kepada Kompeni. Sebagai imbalannya, bupati memiliki hak untuk memungut berbagai jenis pajak dari rakyat. Sebagian dari pajak itu digunakan oleh bupati untuk menggaji pejabat bawahannya (Hardjasaputra, 1985 : 49-52, 56).

3. Tangerang Dijalankan

Menjadi

Daerah

Partikelir,

Segregasi

Rasial

Kebijakan VOC menjadikan daerah Tangerang sebagai daerah partikelir merupakan salah satu bagian dari upaya Kompeni

melakukan kontrol kekuasaan dan mengeruk keuntungan dagang. Setelah Jayakarta diubah menjadi Batavia dan dijadikan pusat kekuasaan (tahun 1620/1621), pada awalnya VOC merekrut mayoritas penduduk dari luar Jawa (sebagian adalah budak rampasan beretnis Tionghoa) dalam wilayah beteng Batavia. Tujuan utamannya adalah memanfaatkan mereka untuk

menjalankan mesin akumulasi modal dengan menjalankan berbagai peran. Tindakan mengutamakan masyarakat Cina dianggap begitu

53

strategi bagi kepentingan monopoli VOC, sehingga J.P. Coen sendiri secara s tegas menyatakan hal itu dalam laporannya kepada de Heeren XVII (dikutip Simbolon, 1995: 45), seperti berikut: Tak ada golongan masyara kat yang lebih baik bagi kepentingan kita dan lebih luwes dalam pergaulan kita dari pada masyarakat Cina (Daer is geen volck die ons beter dan Chinesen dienen en soo licht als Chinesen to becomen sijn). Mulanya, warga dari luar Jawa yang direkrut disebut sebagai warga Batavia. Sedang penduduk asli Jayakarta justru disebut warga asing. Namun usaha segregasi VOC tersebut harus diubahubah terus mengingat warga Batavia cenderung selalu berbaur. Pembauran menjadi satu nasib itulah yang dikawatirkan VOC dan bisa mengancam kekuasaannya. Oleh karena itu, VOC beberapa kali mengeluarkan ordonansi untuk mengusir maupun melarang etnis tertentu, terutama etnis Jawa dan orang Banten. Akibat nya, banyak penduduk Jayakarta yang menyingkir ke pedalaman yang melahirkan kekawatiran baru bagi VOC . Ketika permusuhan ancara VOC dan Banten makin gencar, perlakuan terhadap "orang Jawa" semakin keras. Dalam Ordonansi 25 Juli 1656 disebutkan bahwa semua lelaki Jawa yang dewasa harus keluar dari dalam kota, tapi keluarga mereka harus tinggal. Ini berarti, keluarga mereka dijadikan tawanan dan jaminan sekaligus ... ... Salah satu kelompok penduduk kota yang ramai-ramai pindah ke luar dinding adalah para bekas budak, yang terkena dengan sebutan Mardijkers. Sebagai kelompok masyarakat pertama di Batavia, mereka sama pentingnya bagi VOC sebagai sumber tenaga milisi, sedangkan VOC bagi mereka sebagai sumber nafkah ... ... Diperkirakan, sedikitnya se lama 30 tahun, penduduk Kota Batavia terus merosot. Antara 1676 dan 1685, jumlah Mardijkers turun dari sekitar 6.000 ke 2.000. Pada 1690, penduduk dalam kota turun dari 32.000 ke 20.000, sedang penduduk di luar dari hampir tidak ada ke 60.000.123 Begitu cemasnya VOC dengan pembaur an tersebut, sampai keluar larangan bagi semua kelompok kecuali Cina untuk

54

mengunjungi tempat-tempat hiburan dan rumah judi (Simbolon, 1995: 48-49). Akhirnya, agar proses pengumpulan komoditas perdagangan dapat maksimal, Kompeni mengeluarkan pengumuman tentang penggunaan tanah di daerah sekitar Batavia . Tanah dan perkebunan yang ditinggalkan oleh pe miliknya dapat dimiliki oleh siapa saja, asal mampu mengolah ta nah itu dan menyetorkan sebagian hasilnya kepada Kompeni sebagai sewa tanah (Indonesia. Kempen, 1953: 330- 335 dalam Ekajati, 2004: 96) . Dalam rangka itulah, daerah Tangerang juga tak luput dari kebijakan tersebut. Tindakan Kompeni itu memiliki beberapa tujuan. Pertama, agar penduduk pribumi kembali mengisi daerah Batavia, karena Kompeni memerlukan tenaga mereka. Kedua, untuk kepentingan keamanan tanpa mengeluarkan biaya, karena nantinya para pemilik tanahlah yang harus menjamin keamanan di tempatnya masin g-masing. Ketiga, untuk menambah kas Kompeni yang diperoleh dari hasil sewa tanah (Ekajati, 2004:96-97). Namun, karena aturan-aturan yang pasti mengenai status tanah , sistem kepemilikan perseorangan, serta kewajiban pemilik tanah, maka pada mulanya Kompeni Belanda memberikan tanah di Batavia itu sebagai hadiah kepada orang- orang Cina, Arab, dan orang Belanda yang dianggap berjasa kepada Kom peni, serta kepada kepala kampung yang turut menjaga keamanan daerah setempat. Karena tanah yang dimiliki oleh mereka makin luas, maka mereka itulah yang kemudian menjadi tuan-tuan tanah. Selanjutnya, bahwa Kompeni telah memberikan kekuasaan dan kontrol wilayah kepada para bupati-feodal, namun dalam

55

prakteknya mereka tidak memiliki ke mampuan untuk mengurus daerahnya . Bahkan beberapa di antaranya berulangkali melakukan tindakan tercela . Akibatnya , status Tangerang sebagai kabupaten beserta jabatan bupatinya dihapuskan, selanjutnya daerah itu dimasukkan ke dalam wilayah administrasi peme rintahan Batavia en Omelanden (Batavia dan Daerah Sekitarnya) yang langsung ditangani oleh penguasa Kompeni (Gewoone Resolutie v.h. Casteel Batavia , 3 Maret 1809 dalam Ekajati, 2004:97 ). Tanah di daerah Tangerang dibagi menjadi bebe rapa persil. Kemudian tiap persil tanah itu dijual kepada orang-orang kaya di Batavia, terutama kepada orang Eropa dan orang Cina. Mereka kemudian menjadi tuan tanah yang menguasai lahan yang disebut tanah partikelir (Suryana et al., 1992 : 56, 64). Tangerang sebagai tanah partikelir makin berkembang, setelah berlangsungnya pemerintah kolonial Hindia Belanda sejak awal abad ke -19. Di bawah pengelolaan orang -orang Tionghoa dan Eropa, bangsa pribumi banyak berperan sebagai buruh dan penyewa lahan. Petani-petani pribumi menggarap sawah milik tuan-tuan tanah Cina. Mereka harus membayar cuke sebesar 1/5 hasil panen. Mereka juga harus membayar sewa untuk tanah yang digunakan rumah, peka rangan, dan tegalan. Selain itu, mereka diharuskan kerja wajib yang disebut kompenian untuk memelihara jalan dan jembatan. Kompenian dapat diganti dengan uang. Apabila kerja wajib atau penggantinya tidak dilaksanakan, petani yang bersangkutan dipidana oleh pengadilan negeri. Sebaliknya, petani

56

yang taat memenuhi kewajibannya, dapat mengolah sawah dan menggunakan tanah secara turun-temurun. Tabel 4. Tanah Partikelir Tangerang Tahun 1900 -1901 No
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18.

Nama Persil
Benteng Makasar Pasar Tangerang dan Tangerang Barat Babakan Utara Tangerang Timur Cikokol Panungangan Priang Pakulonan Pondok Jagung Lengkong Timur Babakan Selatan Lengkong Timur Lengkong Barat Klapadua Cihuni Parungkuda Kedaung Timur Tanah Koja

Pemilik
Gouv. V. Ned. Indie Syarifa Mariam dan Abdul Aziz Effendie, dkk PT Salim Balocel A. Abdul Azis Effendie dkk M. van Delden Louw Sek Hie Oey Hoey Tjay Perkeb. Sch. Bergzicht Ong Jum San Lim Eng Gie, dkk Lim Eng Gie dkk. Ong Kim Tjong The Tjoen Sik Tan Hok Kien Perkebunan Cihuni Sow Siow Kong dkk Louw Soey Maskapai Pertanian Slapanjang Timur Perkebunan Batuceper

Luas (bau)
202 422 120 563 625 308 1.735 704 723 687 7 ? 2.266,25 24 2.818 1.479 343 1.678 259 ?

Penduduk
1.325 1.296 120 1.546 1.612 322 2.735 849 1.446 1.171 75 ? 4.073 28 4.035 3.808 4.424 ? 3.711 4.737

Sumber: Regeering Almanak van Nederlanlandsch Indie, 1900-1931 dikutip Ekajati, 2004: 128) 4. Memperkuat Struktur Pemerintahan Menginjak akhir abad 18, tepatnya 31 Desember 1799, VOC dibubarkan karena mengalami kebangkrutan. Kekuasaan di

Nusantara diambilalih oleh Pemerintah Kerajaan Belanda yang kemudian membentuk Pemerintah Hindia Belanda. Namun pada tahun 1808, terjadi pergolakan politik di Eropa dima na Belanda dikuasai oleh Napoleon Bonaparte dari Perancis. Akibatnya kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda di Nusantara dijabat oleh

57

utusan Napoleon yang bernama Gubernur Jenderal H. W. Daendels (1808-1811). la baru tiba di Batavia tanggal 5 Januari 1808. Di bawah pemerintahan Daendels , diperkenalkanlah sistem pemerintahan model barat modern kepada masyarakat pribumi di Hindia Belanda yaitu sistem sentralistis. Segala kekuasaan dan keputusan berada pada gubernur jenderal. di Semua urusan oleh

pemerintahan, termasuk pemerintahan

daerah

diatur

pemerintah pusat di Batavia. Pejabat- pejabat di daerah hanya menerima dan menjalankan instruksi dari gubernur jenderal. Untuk jalannya sistem pemerintahan tersebut, Daendels membagi Pulau Jawa menjadi tiga wilayah, masing-masing disebut prefecture (wilayah administratif setingkat keresidenan), diperintah oleh prefect (pejabat kolonial setingkat residen). Ketiga wilayah dimaksud adalah: 1). Kota Batavia dan sekitarnya serta wilayah Jakarta -Priangan, mencakup: Tangerang, Karawang, Buitenzorg (Bogor), Cianjur, Bandung, Sumedang, dan Parakan-muncang,

dengan penduduk berjumlah 200.000 orang. 2). Kesultanan Cirebon dan daerah Cirebon-Priangan,

mencakup: Cirebon, Limbang an, Sukapura, dan Galuh, dengan pe nduduk berjumlah 350.000 orang. 3). Pesisir Utara Pulau Jawa bagian timur dan wilayah ujung Jawa Timur yang berpenduduk 1.600.000 orang

58

Namun, Tangerang

dalam yang telah

praktek masuk

pemerintahan daerah perfect

sentralistisnya, Batavia tidak

diperintah oleh pejabat pribumi yang diangkat atau ditunjuk oleh pemerintah kolonial, melainkan tetap dikuasai oleh tuan-tuan tanah. Hal itu terjadi karena tanah-tanah di Tangerang dijual dan disewakan Daendels kepada pihak swasta ( Staat der Nederlandsche Oost -Indische Bezittingen , 1814), yaitu kepada orang Cina dan orang Eropa. Sehingga praktek-praktek tuan tanah di daerah partikelir tetap berlanjut dimana kaum pribumi tetap

termarginalkan. Kemudian, ketika Nusantara dikuasai oleh Inggris dengan Gubernur Jenderal T.S. Raffles (1811-1816), sebutan prefecture diganti menjadi residency (keresidenan) dan prefect menjadi resident (residen). Raffles juga memperkenalkan jabatan baru pembantu residen, yaitu asisten residen. Pada masa pemerintahan Raffles, status Tangerang tetap seperti pada masa kekuasaan Daendels. Selanjutnya, pada tahun 1816 ditandatangani kesepakatan baru dimana Nusantara dikembalikan oleh Inggris kepada pihak

Belanda. Pemerintah Hindia Belanda

kemudian

melanjutkan

pemerintahan dengan melakukan sejumlah pembenahan. Mengingat mayoritas daerah sekitar Batavia telah menjadi daerah partikelir yang dikuasai orang Tionghoa dan Eropa, dan agar kepentingan akumulasi modal bagi kolonial tetap terjaga maka struktur

59

pemerintah dan personalianya dibentuk dengan dasar kepentingan tersebut (Ekajati, 2004: 100) . Pejabat pemerintah di daerah pun banyak diambil dari orang-orang Eropa dan Tionghoa, sepe rti: P. van Rees sebagai Residen, W.H.H. van Riemsdijk sebagai Asisten Residen, dan R.J.W.P. Wijnmalen sebagai Sekretaris. Yang ditempati oleh orang pribu mi hanyalah jabatan yang uraian tugasnya bertalian dengan keperluan orang pribumi, itu pun hanya yang bertalian dengan masalah hukum baik hukum umum maupun hukum agama. Selebihnya, o rang pribumi tetap berada pada posisi terdahulu. Di daerah Tangerang, terdapat daerah yang dihuni oleh mayoritas Tionghoa etnis Tionghoa juga (misalnya diurus oleh Neglasari). orang Komunitas sendiri.

tersebut

Cina

Pemimpinya disebut Mayor . Mayor Cina di Batavia yaitu Tan En Goan, yang memiliki anak buah sebanyak 18 orang, terdiri atas 3 kapten (Kon Cun Kiat, Tan Kam Long, dan Lie Tiang Ko) dan 15 orang Letnan. Beberapa Kapten Cina (Kapitein der Chinezen) di daerah Tangerang antara lain: Liem Cong Hien (Liem Tjong Hien) (sejak 25 September 1877), Uiy Cong Piauw (Oeij Tjong Piauw) diangkat sebagai Kapten Cina Kehormatan (RA, 1882: 125 dalam Ekajati, 2004: 101). Begitu pula dengan daerah pemukiman etnis lain, misanya di lokasi pemukiman kelompok orang Arab dan Bengali. Pemukiman

60

orang Arab dipimpin oleh Syekh Said bin Salim Naum dan Kapiten Bapa Saf sebagai Kepala Kelompok Orang Bengali. Di distrik Tangerang ditempatkan pula seorang Kepala Polisi (Hoofdschout) untuk menangani masalah keamanan di daerah sebelah barat Batavia yang dijabat oleh J.F. Meijer (RA, 1850: 4550). Selanjutnya, pemerintahan tiap distrik di Tangerang di pimpin oleh kepala distrik dengan sebutan demang. Tahun 1860-an Pernerintah Hindia Belanda memperke nalkan sebutan afdeling untuk wilayah administratif di bawah keresidenan. Dalam hal ini, Tangerang menjadi salah satu af deling di wilayah Keresidenan Jakarta. Hal itu berarti kota Tangerang memiliki kedudukan administratif rangkap, yaitu sebagai ibukota afdeling dan merangkap sebagai ibukota distrik. Di Keresidenan Batavia sendiri terdapat empat afdeling, yaitu Afdeling Kota dan

Sekitarnya yang memiliki tujuh distrik dengan 131 desa, Afdeling Meester Cornelis (Jatinegara) yang memiliki empat distrik dengan 693 desa, Afdeling Tangerang yang memiliki tiga distrik dengan 540 desa, dan Afdeling Buitenzorg (Bogor) yang memiliki enam distrik dengan 1058 desa. Ketiga distrik di lingkungan Afdeling Tangerang yaitu Distrik Tangerang Timur yang meliputi 208 desa, Distrik Tangerang Selatan yang meliputi 199 desa, dan Distrik Tangerang Utara yang meliputi 133 desa. Data statistik tahun 1867 menyatakan Afdeling Tangerang memiliki luas wila yah 23.510

61

geografi mil persegi atau lebih- kurang seperlima dari luas wilayah Keresidenan Batavia . (117.90 0 geografi mil persegi).

5. Pembangunan Infrastruktur dan Peningkatan Produksi untuk Mempercepat Akumulasi Modal Untuk menunjang aktivitas akumulasi modal yang menguntungkan Pemerintah Hindia Belanda maka diperlukan prasarana transportasi dan komunikasi. Pada tahap awal, prasarana yang dibangun adalah jalan. Pada tahun 1680, diperkirakan sudah dibangun jalan darat yang

menghubungkan antara Banten, Sumedang, dan Cirebon yang melalui Tangerang. Hal ini terbukti dengan adanya pertemuan antara penguasa Banten dengan wakil penguasa Sumedang dan Cirebon di

Pasanggrahan. Pasanggrahan adalah kota pertama di dae rah Tangerang pedalaman. Dalam pertemuan tersebut, oleh Kasultanan Banten, Tangerang ditetapkan dengan status kemaulanaan dengan ibu kota Pasanggrahan. Maka besar kemungkinan jalan raya kala itu memang sudah ada, hanya saja masih sederhana, berupa jalan kecil atau jalan setapak. Jalan serupa tentu terdapat pula yang menuju ke persil-persil tanah partikelir. Boleh jadi waktu itu kuda merupakan sarana transportasi, khususnya bagi para pejabat. Menginjak akhir abad ke-17, di bawah kekuasaan VOC, boleh jadi antara Batavia dan Pesanggrahan sudah dihubungkan oleh jalan untuk memudahkan pihak Kompeni mengontrol daerah Tangerang. Dan selanjutnya, hubungan daerah Tangerang dengan daerah lain semakin

62

meningkat setelah dibangun Jalan Raya Pos (Grote Postweg) atas prakarsa Gubernur Jenderal H.W. Daendels. Jalan raya itu membentang antara Anyer sampai Panarukan di ujung timur Jawa Timur dengan panjang 1.000 km. Di daerah Jawa Barat, jalan raya itu dibangun sekitar pertengahan tahun 1808, melewati Serang - Tangerang - Jakarta - Bogor Cianjur - Bandung - Sumedang - Cirebon (Orgaan der Nerdelrlandsche Zendingsvereeniging, XXXIV ste Jrg., 1894: 102 dan Joekes, 1927, cf dalam Hardjasaputra, 2002 : 28-29). Namun, patut diingat pula bahwa selain jalur darat, besar

kemungkinan transportasi sungai juga menjadi salah satu alternatif masyarakat Tangerang. Kegiatan ini diduga telah terjadi sejak zamnan Kerajaan Sunda hingga abad ke19. Melalui jalur sungai, hasil-hasil bumi seperti: kopi dan produk pertanian lain diangkut dengan perahu melalui sungai dan laut pesisir utara ke Jakarta. Berikutnya tahun 1836, Gubernur Jenderal Hindia Belanda dengan surat keputusan tanggal 28 Januari 1836 nomor 24 dan tanggal 20 Februari 1836 nomor 30, menyetujui pembangunan jalan kelas dua di wilayah Keresidenan Batavia, termasuk Afdeling Tangerang dan Afdeling Bogor. Jalan yang dibangun antara lain: jalan dari Tangerang ke daerah Jakarta dan ke Parung, dan jalan raya d Bogor melalui Semplak ke ari Kuripan. Dengan adanya jalur transportasi di atas, mobilitas penduduk semakin meningkat. Dalam akumulasi modal, mobilitas penduduk yang paling utama adalah pengangkutan hasil pertanian dan industri. Sarana

63

transportasi tradisional yang digunakan, khusus untuk mengangkut barang dalam jumlah cukup banyak adalah pedati. Pada tahun 1864, misalnya, pedati di daerah Tangerang barat berjumlah 153 buah. Pedati digunakan pula untuk mengangkut garam yang diperlukan oleh penduduk di daerah pedalaman (Ekajati, 2004:115-116). Pada pertengahan abad ke-19 di Tangerang dibangun sara na untuk kepentingan pemerintah kolonial, antara lain kantor pengadilan.

Pembangunan sarana ini dimaksudkan untuk melindungi kepentingan pemerintah kolonial dan tuan tanah, karena di daerah Tangerang sering terjadi tindakan kriminal (Koloniaal Verslag, 1860. 44 dalam Ekajati, 2004: 116). Pada paruh pertama tahun 1870-an dibangun jalan kereta api antara Jakarta-Bogor. Jalan kereta api itu kemudian diperpanjang ke arah barat menuju Rangka s Bitung – Serang Anyer, dengan simpangan ke Tangerang dan Labuan. Keberadaan sarana transportasi modern itu telah menyebabkan peningkatan transportasi dan komunikasi di, dari, dan ke daerah Tangerang (Reitsma, 1928: 19 dan Bulletin of the Colonial Institute of Amsterdam, Vo. II, 1938-1939 : 284, cf. Asia Raya, 21 Mei 2602 dalam Ekajati, 2004: 116). Dengan infrastruktur transportasi darat yang cukup memadahi, pemerintah kolonial kemudian meningkatkan hasil produksi di Tangerang. Seperti telah diuraikan sebelumnya, sebagian besar wilayah Tangerang dikuasai oleh orang-orang Tionghoa dan Eropa. Selain pertanian, mereka juga menggeluti bidang perdagangan dan industri kerajinan. Sementara

64

itu, kaum pribumi sebagian menjadi petani di lahan sendiri dan mayoritas lainnya menggarap sawah milik tuan-tuan tanah Tionghoa dan Eropa. Pribumi yang menggarap lahan tuan tanah harus membayar cuke sebesar 1/5 hasil panen. Mereka juga harus membayar sewa untuk tanah yang digunakan rumah, peka rangan, dan tegalan. Selain itu, mereka diharuskan kerja wajib yang disebut kompenian untuk memelihara jalan dan jembatan. Kompenia n dapat diganti dengan uang. Apabila kerja wajib atau penggantinya tidak dilaksanakan, petani yang bersangkutan dipidana oleh pengadilan negeri. Sebaliknya, petani yang taat memenuhi kewajibannya, dapat mengolah sawah dan menggunakan tanah secara turun-temurun. Tuan tanah Tionghoa kemudian mewariskan lahannya secara turuntemurun. Lahan warisan tersebut disebut tanah teko Mereka biasanya menggunakan tenaga penduduk pribumi sebagai buruh yang disebut bujang sawah. Di tanah Pangkalan, pesaw ahan dibagi dalam tiga kategori, masing-masing 30% untuk"tanah teko" dan tanah kongsi, dan 40 persen lainnya untuk tanah usaha. Tanah kongsi adalah tanah yang diusahakan sendiri oleh tuan tanah, tetapi tetap menggunakan tenaga pribumi atas dasar bagi hasil. Untuk pengolahan tanah kongsi, tuan tanah menerima 2/5 hasil panen, yaitu 1/5 hasil panen ditambah cuke 1/5 dari hasil panen. Apabila tuan tanah yang menyedia kan bibit, tenaga hewan pembajak (kerbau atau sapi), dan peralatan lain, tuan tanah menerima la gi 1/5 hasil panen se bagai bayaran atas fasilitas yang disediakan (Indonesia. Arsip Nasional, 1981: VL-IVL dalam Ekajati, 2004: 117).

65

Perlu dicatat pula bahwa sebelum dekade pertama abad 19 dimana pemerintah Hindia Belanda menempatkan orang-orang Tionghoa menjadi penguasa partikelir, sebenarnya di Tangerang juga terdapat masyarakat Tionghoa yang hidup layaknya pribumi. Mereka menjadi golongan rendah yang biasa melakukan berbagai macam pekerjaan sebagai matapencaharian seperti: membuka kedai atau toko kecil, beternak babi, tukang memperbaiki perahu, dan petani. Para petani Cina umumnya menanam kacang di ladang, karena pengolahan sawah didominasi oleh petani pribumi. Sebagian petani pribumi adalah petani kopi. Perkebunan kopi di Tangerang merupakan warisan dari Kompeni. Perkebunan kopi antara lain terdapat di daerah Rumpin dan Lengkong. Akan tetapi Tangerang bukan produsen kopi yang baik, sehingga penjualan produksi tanaman itu kepada pemerintah hampir selalu rugi (Anggapraja, tth. : 38-39, 42 dalam Ekajati, 2004: 117). Untuk keperluan mengolah sawah, di Tangerang terdapat ribuan ekor kerbau dan sapi. Tahun 1880 misalnya, kerbau dan sapi ya ng terserang penyakit pes berjumlah lebih dari 6.000 ekor. Pada tahun 1891, luas sawah dan tegalan di wilayah Afdeling Tangerang tercatat sebagai berikut: Distrik Tangerang luas sawah 26.878 bau dan tegalan 15.675 bau , Distrik Balaraja luas sawah 23.212 bau dan tegalan 29.818 bau , Distrik Mauk luas sawah 23.153 bau dan tegalan 10.349 bau (Ekajati, 2004: 117-118) Untuk menunjang pangairan persawahan, dibuatlah sistim irigasi dari sejumlah sungai, terutama Sungai Cisadane dan Sungai Cidurian. Namun,

66

pembangunan sistem pengairan di daerah Tangerang dikenal sangat lambat. Pada tahun 1920-an baru selesai dibangun bendungan Cisadane, dekat Pasar Baru dan bendungan Cimanceuri dekat Rancasumur, rehabilitasi tanggul di Cidurian, Cimanceuri, dan Cisadane. Awal tahun 1930-an, irigasi dibangun di beberapa daerah Tangerang. Irigasi di sebelah uta ra jalan Jakarta—Serang diurus oleh Dinas Pengairan Afdeling Batavia. Irigasi lainnya diurus oleh Dinas Pengairan Provincie West Java (Propinsi Pasundan) yang dibentuk bulan Agustus 1925 dan mulai berlaku tanggal 1 Januari 1926. Sementara itu, saluran tersier dipelihara oleh para petani sendiri ( ndonesia. Arsip Nasional, 1980: xxxi, cxvii I dikutip Ekajati, 2004: 118) Bendungan Pasar Baru Irigasi Cisadane, sekarang dikenal dengan nama "Pintu Air Sepuluh". Sesuai namanya bendung ini memiliki 10 pintu air, masing-masing selebar 10 meter. Pembangunan pintu air tersebut sempat mendatangkan para pekerja dari Cirebon. Upaya peningkatan irigasi lainnya antara lain: membangun bagian ketiga saluran induk Cidurian, membuat bagian pertama saluran induk Cisadane barat dan sarana pelengkapnya , meluruskan aliran Cisadane yang berhubungan dengan bendungan Pasar Baru, membuat bagian keempat saluran induk Cidurian. Tentunya, dengan pembangunan tersebut pemerintah kolonial sangat mengharapkan agar hasil panen bisa terus meningkat sehingga dapat meningkatkan kas pemerintah. Selain bertani, penduduk Tangerang ada juga yang beternak babi dengan meniru model peternak Tionghoa, Daging babi banyak dijual ke Batavia terutama pada orang-orang Eropa dan Tionghoa. Ada juga yang memelihara domba. (Indonesia. Arsip Nasional, 1980: cxv, cxxxvi dikutip Ekajati, 2004: 119).

67

Aktivitas perdagangan Tangerang banyak berpusat di pasar tradisional antara lain di kota Tangerang, di ibu kota distrik, di Balaraja , Mampang, dan Pasar Baru yang berada tidak jauh dari bendungan Cisadane. Aktivitas perdagangan di pasar-pasar tersebut juga membuka peluang pekerja an baru antara lain buruh kuli angkut yang banyak digeluti tidak hanya oleh pribumi tetapi juga sebagian beretnis Tionghoa. Selain berprofesi sebagai tuan tanah, peternak babi, kuli angkut, pedagang, orang-orang Tionghoa di Tangerang ada juga yang bekerja sebagai mandor dan kuli di perkebunan tebu, dan kuli kereta api. Sebagian orang Cina bekerja sebagai mandor pabrik gula yang terdapat di Kampung Babakan. Upah bagi mereka diberikan dengan sistem harian seperti dikutip Ekajati (2004: 119) dari Koloniaal Verslag, 1904, 1906 berikut ini: Pada tahun 1904, misalnya, besar upah harian tenaga pribumi di Tangerang adalah: mandor perkebunan f 0,50 - f 1, kuli perkebunan f 0,25 - f 0,40, tukang batu dan tukang kayu f 0,60 - f 1. Upah tenaga Cina adalah: mandor pabrik gula f 0,75 - f 1,50, tukang batu dan tukang kayu f 0,70 - f 1,50, kuli f 0,40 -f 0,70. Sayang sekali, hingga penulisan skripsi ini dilakukan, penulis belum berhasil mendapatkan informasi secara lebih jauh mengenai pabrik gula tersebut. Sebetulnya, informasi tersebut dapat dijadikan acuan terhadap permulaan kapitalisasi di Tangerang yang biasanya ditandai dengan penggunaan mesin-mesin modern dan tenaga buruh yang banyak. Bila di pabrik gula demikian halnya, maka sebenarnya era kapitalisme sudah berlangsung di Tangerang. Informasi tentang industri lainnya yang cukup menonjol justru masih tergolong home industry, yaitu industri kerajinan topi dari

68

anyaman bambu dan pandan. Konon, topi- topi tersebut dikenal sangat baik kualitasnya sehingga mampu menembus pasar dunia. Produk kerajinan topi diekspor ke Amerika dan Eropa (terutama Perancis) melalui pelabuhan Tanjung Priuk. Topi-topi tersebut dianyam oleh kaum pribumi dan diperdagangkan di dalam negeri oleh orang Tionghoa sedangkan pemasaran ke luar negeri banyak dilakukan oleh pedagang Eropa. Gambaran tingginya nilai ekonomi topi bambu dari Tangerang, ditunjukkan oleh angka -angka ekspor sebagai berikut. Tabel 5 . Ekspor Topi dari Tangerang Tahun Jumlah
1913 1917 1922 1928 1929 1930 1931 5.495.394 2.573.033 2.826.058 4.947.104 4.436.568 2.935.745 1.163.307

Nilai Total f f f f f f f
1.328.820 668.983 847.817 2.044.889 1.009.878 445.165 147.529

Nilai Tiap Topi
26 26 30 41 23 16 sen sen sen sen sen sen

13 sen

(Indonesia. Arsip Nasional, 1980 : cxv dalam Ekajati, 2004: 120).

Kejayaan topi Tangerang baru berakhir sekitar tahun 1930 dan hingga kini tak mampu bangkit kembali. Kemunduran tersebut diawali dengan

merosotnya eksport akibat adanya perubahan mode yang diminati pasar dunia dan saingan mode topi dari pengrajin di Amerika Selatan. Selain itu karena adanya krisis ekonomi tahun 1930 dimana menghantam eksportimport dunia . Bahkan akibat krisis tersebut perusahaan tenun di Balaraja "gulung tikar" (Ekajati, 2004: 120 dan Brousson, 2007: 72-74).

69

Dari lima pola penetrasi modal di era Kolonial Belanda , paling tidak dapat kita tarik beberapa benang merang. Pertama, penetrasi modal yang dilakukan Kolonial Belanda di Tangerang dijalankan secara sistematis, bertahap, dan terencana. Perancanaan dimulai sejak era VOC mencoba merebut daerah Jayakarta kemudian dijadikan Batavia sebagai randez-vous (pangkalan tetap) bagi kapal-kapalnya dan titik pijak pertama mencengkram Nusantara (Simbolon, 1995: 33). Dari Batavia, VOC dan Kolonial Belanda melancarkan strategi- strategi berkelanjutan untuk mencapai tujuan utamanya, akumulasi modal. Kedua, implementasi perencanaan penetrasi modal Kolonial Belanda selalu dimuarakan bagi keuntungan kolonial baik melalui penerapan sistem feodal, menjadikan daerah partikelir, pelaksanaan segregasi rasial, maupun pembangunan infrastruktur dan peningkatan produksi. Pemerintah Kolonial Belanda sangat mengetahui bahwa masyarakat di nusantara, khususnya Tangerang, masih sangat feodal dimana tetap memandang dan mau mengikuti para keturunan raja atau bangsawan. Sebab, di benak masyarakat sudah begitu mengakar bahwa para bangsawan dianggap mempunyai kesaktian dan dipilih dewa atau Tuhan untuk menjadi pemimpin mereka. Dengan ”melumpuhkan gerakan melawan Belanda”, Pemerintah Kolonial selanjutnya mendekati dan merekrut para bangsawan yang sudah tak ”bertaring” tersebut agar mau menjadi aparatur pemerintah Kolonial. Walaupun dalam perjalana n beberapa kaum bangsawan tersebut disingkirkan karena kurang cakap atau suatu tindak asusila, tetapi masyarakat dibuka matanya bahwa mereka harus tunduk pada kepentingan kolonial sebagai ”bangsawan baru”, sebagai kelompok yang mempunyai ras lebih tinggi dari pada bangsawan, yaitu ras kulit putih. Setelah, masyarakat dibukakan matanya bahwa bangsawan

70

pemimpin mereka ”tidak becus” menjadi pemimpin, diangkatlah golongan baru sebagai penggantinya yaitu kaum Tionghoa yang menggantikan kedudukan sebagai penguasa tanah partikelir atau tuan-tuan tanah. Kepada merekalah, warga pribumi harus tunduk. Di bawah kaum Tionghoa, nampaknya pemerintah

kolonial mendapat keuntungan ganda. Di satu sisi, mereka menjadi pengumpul pajak yang bisa menambah pundi-pundi kas pemerintah kolonial, di sisi lain, pemerintah mampu melakukan pemetaan (maping) kekuatan. Sebab, pemerintah kolonial di mana pun selalu kawatir apabila di daerah pendudukan terjadi pembauran dan persatuan berbagai ras dan suku. Pemerintah kolonial kawatir bila tum buh kesadaran ”nasionalisme” sehingga terbentuk kekuatan baru untuk

melawan. Dengan segregasi rasial antara pribumi, Tionghoa, dan Eropa maka Pemerintah Kolonial dapat selalu melancarkan strategi tertentu yang

menguntungkan. Bila ada kecenderungan pembauran, maka perlu ”diadu-domba”. Selanjutnya, dengan kendali tersebut, pemerintah Kolonial dapat secara leluasa mengeluarkan kebijakan lebih lanjut seperti memperkuat struktur pemerintahan, maupun pembangunan infrastruktur dan peningkatan produksi yang

menguntungkan.

C.

Anti Cina: Reaksi Masyarakat Tangerang terhadap Kebijakan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda Selama Nusantara diduduki pemerintah kolonial, sistem segregasi rasial

(penggolongan masyarakat berdasarkan ras dan perbedaan perlakuan) hampir diterapkan di seluruh daerah pendudukan. Sementara itu, kaum pribumi (inlander) berada pada posisi yang paling rendah baik perlakuan yang diberikan maupun

71

implikasinya. Hal ini berlaku juga dalam kehidupan pribumi di Tangerang. Para buruh tani penggarap lahan partikelir berada pada posisi yang selalu tertindas terutama oleh tuan-tuan tanah Tionghoa di daerah-daerah yang didominasi tuan tanah Cina . Dalam prosesnya penindasan tersebut menimbulkan rasa

ketidakpuasan dan kebencian terhadap etnis Tionghoa bahkan tindakan pemberontakan. Walaupun demikian, bukan berarti di seluruh Tangerang timbul gejolak anti Cina. Sebab, dari jaman kolonial hingga saat ini, terdapat daerah yang relatif harmonis menjaga relasi antara etnis Tionghoa dan Pribumi. Daerah tersebut berada di Neglasari. Menurut hasil penelitian Guntur Setyanto (2000: 41-45), di wilayah RT 03/06 Neglasari, perbandingan etnis Tionghoa dengan Pribumi adalah 49% Tionghoa dan 51% pribumi (Sunda Tangerang) dengan mata pencaharian bertani, beternak, wiraswasta dan karyawan pabrik. Masyarakat di daerah tersebut tidak pernah terlibat konflik sara, hidup kental dengan gotong royong. Misalnya saat umat islam membersihkan mushola, warga lain ikut membantu, bahkan di perkampungan ini terdapat ternak babi yang lokasinya berdekatan dengan tempat ibadat muslim tetapi tidak pernah dipermasalahkan. Namun, dalam pandangan penulis, gejolak anti cina akibat kebijakan segregasi rasial yang dijalankan kolonial relatif lebih menonjol. Awalnya, penduduk pribumi menerima dan menjalankan pengolahan tanah milik tuan tanah. Mereka wajib membayar cuke atau pajak dan berbagai kerja wajib yang sangat memberatkan. Kerja wajib terdiri atas heerendiensten, yaitu kerja wajib untuk tuan tanah; kerigan (desadiensten ) berupa perbaikan jalan, jembatan, pematang, dan lain-lain; serta gugur gunung , yaitu perbaikan

72

infrastruktur desa yang rusak. Untuk

melancarkan kepentingan tuan tanah,

direkrutlah para jawara yaitu orang-orang yang mempunyai olah kanuragan atau beladiri dan ditakuti warga.. Jawara sengaja dipelihara para tuan tanah dengan tugas khusus menjaga dan melindungi tanah partikulir beserta tuan tanah sebagai pemiliknya. Tindakan para jawara seringkali menjadi alat tuan tanah menekan dan, menakuti agar para penggarap mematuhi dan melaksanakan kewajiban-kewajibannya dan tidak berbuat hal- hal yang bisa mengganggu keamanan, merusak tanah, mengancam hidup tuan tanah beserta keluarganya, dan mangkir atas kewajiban-kewajiban mereka. Tak segan-segan jawara itu menindak petani penggarap dengan cara kekerasan fisik dan menyita harta benda yang dimilikinya (Ekajati, 2004: 129-130). Terbentuklah kesenjangan sosia l dan ekonomi yang mencolok antara kehidupan petani penggarap yang mayoritas pribumi dengan para tuan tanah yang mayoritas adalah orang Tionghoa. Para tuan tanah Cina makin kaya, karena mereka terus menambah pemilikan tanah partikelir. Sebaliknya, para petani hidup dalam suasana kekurangan. Kondisi itu terutama terjadi di tanah Pangkalan. Di daerah itu, 60 persen luas tanah dikuasai oleh orang-orang Cina, padahal mereka adalah penduduk minoritas. Mereka memiliki hak lebih banyak dari petani, sehingga kekuasaan mereka pun sangat besar. Gambaran kondisi kaum pribumi di atas itulah yang menyebabkan konflik antara kelas majikan dan buruh. Konflik semakin diperparah oleh perilaku pejabat kolonial yang tidak mempunyai empati dan keberpihakan pada kelas buruh. Mereka justru lebih banyak melindungi kaum tuan tanah. Pola penindasan kelas sosial tersebut tak mampu diredam oleh nilai-nilai tradisional masyarakat pribumi

73

seperti tradisi gotong-royong, tepa selira, dan lain -la in. Nilai-nilai masyarakat agraris semakin luntur akibat waktu hidup kaum penggarap banyak tersita untuk menjalankan sistem produksi tuan tanah dengan bekerja keras di lahan partikelir. Kehidupan khas agraris yang kental dengan kegotong-royongan luruh. Timbulah krisis identitas sebagai manusia sosial yang harmonis sehingga puncaknya timbul sikap memberontak sebagai wujud dari rasa pedih yang tak tertahankan. Pada tahun 1924, meletuslah pembrontakan petani Tangerang kepada majikan dan pemerintah seperti dice ritakan oleh Ekajati (2004: 129-137) berikut ini. Pembrontakan Petani di Tangerang tahun 1924 dipicu oleh peristiwaperistiwa yang relatif kecil sebelumnya. Pada tahun 1913, terjadi perkela hian antara sejumlah penduduk Kampung Tegalkunir dengan orang-orang Cina Kebonwaru. Perkelahian bermula dari pertengkaran antara anak petani Gudel dengan anak Lim Utan (Lim Oetan) pemilik sawah Kampung Kebonbaru. Pertengkaran terjadi hari Jumat 23 Mei 1913 di sawah ketika panen, setelah terjadi selisih paham dalam transaksi penjualan beras ketan. Anak Gudel dituduh belum membayar ketan anak Lim Utan seharga satu sen. Anak Lim Utan pulang dan mengadu kepada ayahnya. Lim Utan marah, kemudian mendatangi anak Gudel dan memukulnya. Karena pemukulan itu, Sailan, kakak kandung anak Gudel ikut membantu dan terjadilan perkelahian dengan senjata tajam. Dalam perkelahian itu Lim Utan terluka dan harus dirawat. Namun, perkelahian itu masih berbuntut panjang. Keesokan harinya terjadi lagi pembalasan dari pendukung Lim Utan. Saat Gudel pulang dari sawah, ia dikeroyok empat orang Cina dan dibunuh sementara pembunuhnya melarikan diri. Hari berikutnya, 25 Mei 1913, seusai pemakaman Gudel, Sailan membalas dendam dengan membunuh seorang

74

Cina bernama Li Ji Tun (Li Dji Toen) yang kebetulan berpapasan dengannya. Rangkaian peristiwa ini sempat dilaporkan oleh Asisten Residen Tangerang G.P.J. Vernet tanggal 2 Juni 1913 kepada Residen Jakarta H. Rijfsnijder. Rangkaian peristiwa di atas, besar kemungkinan menjadi salah satu penyebab suburnya perasaan antipati teradap hal-hal yang berbau rang Cina . Sementara itu, selang tujuh tahun berikutnya (1924), terjadi pemberontakan petani Tangerang. Diawali dengan tampilnya seorang tokoh berpengaruh di daerah Pangkalan. Tokoh itu bernama Kaiin Bapa Kayah. Ia dipandang dan disegani masyarakat karena mempunyai pengalaman khusus selain menjadi petani. Ia pernah menjadi mandor perkebunan sutera tahun 1910- 1912. Saat menjadi mandor, ia pernah mendapat perlakuan semena -mena dari majikannya. Akibatnya ia melawan dan terjadi pertengkaran. Ia kemudian keluar dari pekerjaannya dan menjadi opas di kantor Asisten Wedana Teluknaga. Empat bulan kemudian ia dipindahkan ke Jakarta, menjadi opas pada komisaris polisi. Setelah berhenti sebagai opas, Kaiin kembali ke Pangkalan, kemudian menjadi dalang wayang. Kaiin mempunyai pemikiran bahwa tanah di daerah Pangkalan seharusnya tidak dikuasai oleh orang Tionghoa sebab tanah tersebut sesungguhnya merupakan warisan nenek moyang pribumi setempat. Kemiskinan warga pribumi di Pangkalan seharusnya tidak perlu terjadi bila tanah tersebut direbut kembali. Agar tanah tersebut dapat dikuasai kembali oleh penduduk pribumi, maka para tuan tanah Tionghoa di Pangkalan harus diusir. Dan untuk mengusirnya dengan cara mencari dukungan pejabat tinggi kolonial dan dengan mneghimpun kekuatan warga pribumi.

75

Tampaknya, gagasan mencari dukungan pejabat tinggi kolonial lahir karena pengalamannya menjadi pegawai pemerintahan. Namun untuk merealisasikan gagasan itu nampaknya Kaain kesulitan sehingga ia memilih menghimpun warga pribumi agar belajar ilmu kesaktian dan kekebalan tubuh. Kaiin kemudian berguru pada ”orang pintar” dan banyak ziarah ke tempat keramat. Agar lebih disegani, ia merubah penampilan dengan mengenakan pakaian jawara. Dengan cara-cara tersebut, ia pun memperoleh pengikut cukup banyak dari berbagai kalangan seperti petani, guru agama (tarekat), dukun, dan lain-lain. Beberapa tokoh pengikutnya antara lain: Merin dari Kampung Parangkored, Siban Bapa Sambut dari Kampung Pondok Aren, Ibu Minah dari Kampung Kelor , Enang yang turut mempropagandakan cita-cita membebaskan tanah dari kekuasaan Cina , Haji Riun dari Desa Kalideres. Masing-masing pengikut memiliki sejumlah anak buah. Upaya merebut tanah Pangkalan yang dilakukan Kaiin dan anak buahnya, dirancang cukup matang. Sekitar awal bulan Januari 1924, Kaiin menyebarkan undangan bahwa ia akan mengadakan pesta khitanan anaknya tanggal 9 Februari 1924. Selain mengundang agar hadir dalam pesta sekaligus ia berusaha mengumpulkan kekuatan. Ketika tiba waktunya, memang banyak tamu dan pengikutnya menghadiri pesta khitanan. Dan saat pesta berlangsung, Kaiin mengadakan pertemuan dengan para tokoh pengikutnya dan merancang strategi lebih lanjut. Hasilnya, saat pesta masih berlangsung, Kaiin meminta pengikutnya mengumumkan bahwa Pak Dalang (Kaiin) akan menjadi "raja" di tanah Pangkalan dan Kampung Melayu. Ia akan mengusir orang- orang Cina , menghapus cuke dan kompenian. Namun,

akibat pengumuman itu, sebagian tamu justru meninggalkan pesta. Kendati

76

demikian, esok harinya, Kaiin tetap melanjutkan rencananya. Ia membagi pengikutnya dalam lima kelompok dengan masing-masing tugas mengusir tuan tanah Tionghoa. Gerakan Kaiin mampu membuat banyak tuan tanah ketakutan sebab selain mengultimatum agar meninggalkan Pangkalan, para tuan tanah juga diancam akan dibunuh bila tidak mematuhi perintahnya. Kaiin dan rombongan kemudian bergerak ke arah Kampung Melayu, dan mengusir para tuan tanah. Mereka juga memporakporandakan kantor kongsi Kampung Melayu. Surat-surat kompenian yang ditemukan, dirobek-robek. Selanjutnya mereka bergerak ke rumah Asisten Wedana Teluknaga. Mereka ingin memberitahukan bahwa mereka akan menghadap gubernur jenderal di Bogor untuk meminta izin mengusir orangorang Cina di Tangerang. Sebelum maksud Kaiin menemui gubernur jendral, aksinya sudah tercium Asisten Wedana Teluk naga yang kemudian melaporkan ke pemerintah keresidenan di Batavia mengetahuinya . Dari Batavia keluar perintah agar wedanawedana di Tangerang segera mengerahkan polisi untuk mengatasi gerakan Kaiin. Kekuatan polisi yang terhimpun secara cepat menggiring gerakan Kaiin ke daerah Tanah Tinggi. Di Tanah Tinggi inilah, kontak fisik terjadi yang menghasilkan kekalahan telak di pihak Kaiin. Menurut penelitian Suryadi (1981: 13-14) , dalam kontak fisik di Tanah Tinggi, Kaiin kemudian ditangkap bersama 23 orang petani pengikutnya. Sedangkan, 19 orang lainnya tewas dan sejumlah petani luka parah. Namun sedikit berbeda dengan penelitian Thahirudin (1971: 14) yang menyatakan bahwa Kaiin tidak dipenjarakan, tetapi tewas dalam kerusuhan di Tanah Tinggi. Ia kemudian

77

dimakamkan di pekuburan Encle Desa Sukasari, Tangerang. Namun dari kedua penelitian, dapat diketahui secara pasti bahwa gerakan Kaiin relatif berlangsung sangat singkat. Pertempuran di Tanah Tinggi telah mengahiri keinginan sejumlah warga pribumi merebut tanah Pangkalan dari tangan tuan tanah Cina (Ekajati, 2004: 136-137). Dari penggalan peristiwa di atas, dapat tergambar bahwa kebijakan kolonial yang diskriminatif dan banyak menguntungkan orang Cina tetapi merugikan

warga pribumi, benar-benar telah melahirkan bibit kebencian antar etnis di Tangerang. Dalam perjalanan sejarah Tangerang, konflik dan pertentangan berbau kebencian etnis di kemudian hari ternyata kembali terjadi. Dua di antaranya adalah peristiwa Poh An Tui dan Kerusuhan massal berbau anti Cina tanggal 1215 Mei 1998 yang meletus di Jakarta dan sekitarnya, termasuk Tangerang yang kemudian menyebabkan Soeharto lengser dri kursi kepresidenan. Peristiwa Poh An Tui terjadi justru setelah kemerdekaan Republik Indonesia yaitu sekitar Juni 1946. Peristiwa meletus sedikitnya di lima desa yakni: Rajeg, Gandu, Balaraja, Cikupa, dan Mauk. Tragedi itu disulut sebuah kabar santer ada tentara Nica beretnis Tionghoa yang menurunkan bendera merah putih dan menggantinya dengan bendera Belanda. Kemudian tersiar kabar pula , seorang Nica Tionghoa membakar rumah warga pribumi. ”Ini sebab-sebab menimbulken rajat Indonesier poenja goesar, hingga timboellah itoe tragedi Tangerang,” tulis Rosihan Anwar dalam Harian Merdeka, 13 Juni 1946 . Tanggal 3 Juni 1946, warga pribumi yang mendengar kabar tersebut naik pitam dan bergabung dengan laskar rakyat menangkapi para lelaki keturunan China. Menghancurkan perkampungan China di lima desa kemudian menggiring

78

para lelaki Cina yang tertangkap menuju Penjara Mauk yang berukuran 15 x 15 m tetapi dipenuhi sekitar 600 lelaki China dari seantero Tangerang. Kabar penangkapan orang-orang Cina tercium warga keturunan China lainnya sehingga tanggal 10 Juni 1946, sekitar 40 pemuda Tionghoa yang menamakan dirinya Poh An Tui bergerak ke Tangerang menolong mereka yang terancam jiwanya. Besar kemungkinan, mereka mendapat dukungan NICA, tentara Belanda yang pasti diuntungkan akibat perang ”saudara” tersebut. Mereka dibekali senjata api dan dibagi dua kelompok. Yang pertama datang ke Mauk dan membebaskan tawanan. Kelompok lain menyaksikan reruntuhan sejumlah desa yang banyak dihuni etnis China. Tercatat, sekitar 2.000 warga keturunan diungsikan ke Jakarta. Ada yang dinaikkan truk dan sebagian besar berjalan kaki. Selanjutnya, kerusuhan baru reda setelah pemerintah mulai turun tangan. Di bawah Menteri Penerangan M. Natsir, warga Tangerang dapat didamaikan kembali sementara perang melawan Belanda tetap berlangsung. Implikasi dari kebijakan segregasi rasial pemerintah kolonial dimana telah melahirkan gerakan anti Cina seperti diungkap di atas, harus tetap dilihat secara komprehensif. Anti Cina yang tumbuh pada era kolonial dan masih menjadi gejala latent hingga era Orde Baru, bukanlah lahir dari masyarakat pribumi secara tibatiba. Kebencian rasial tersebut lahir sebagai akibat strategi penetrasi modal Kolonial untuk mengeruk keeuntungan. Sebelum kebijakan kolonial tersebut diterapkan, sesungguhnya antara warga pribumi maupun warga etnis Tionghoa berbaur secara harmonis. Hal ini terbukti dengan beragamnya profesi yang digeluti kaum Tionghoa sebagai pedagang, petani, peternak, sama seperti kaum pribumi pada umumnya. Pembauran semakin solid lewat adanya perkawinan

79

silang. Namun situasi tersebut berubah tatkala Kolonial Belanda mengeluarkan kebijakan segregasi rasial yang menimbulkan jurang kesenjangan antara kaum kaya yaitu orang Tionghoa sebagai tuan tanah dan kaum miskin yaitu pribumi sebagai buruh tani. Meminjam istilah Karl Marx, ka um tuan tanah sebagai kelas penghisap dan pribumi sebagai kelas terhisap yang tertindas. Kedua kelas tersebut selalu bertentangan. Dengan demikian, sesungguhnya kemarahan dan pengusiran yang ditujukan kepada kaum Tionghoa pada tahun 1824, adalah pemberontakan kurang tepat sasaran. Sementara itu, perasaan kebencian rasial tersebut ternyata tetap bertahan dan terpendam hingga satu abad berikutnya. Besar kemungkinan, generasi setelah Kaiin Abah Kayah hidup dalam bayang-bayang memory collective masyarakat Tangerang yang belum mampu menelaah secara tepat atas penindasan yang mereka alami. Alhasil, cerita maupun stereotif orang Cina sebagai kaum kikir, pelit, penindas, kejam, eksklusif, tidak mau berbaur dengan kaum pribumi, menguasai perdagangan, kaum kaya, tuan tanah, kemudian terpelihara secara turun-temurun. Maka, dengan pemaparan dan pemahaman sejarah yang benar, diharapkan perasaan anti Cina dapat didudukkan pada tempat yang benar. Di samping itu, untuk menata keharmonisan antara etnis Tionghoa dengan pribumi diperlukan kebijakan penguasa agar perasaan itu tidak menjadi bahaya latent yang sewaktu-waktu meletus kembali. Dan sayang sebetulnya, di masa orde lama dan Orde Baru, nampaknya pembauran kaum etnis Tionghoa justru dihalangi dengan peraturan larangan menjadi pegawai negeri, TNI, Polisi, dan lain -lain. Tatkala, bidang perdagangan digeluti dan dikuasai mereka sehingga sebagian besar mampu menjadi kelompok orang kaya (konglomerat), justru kebencian anti Cina tumbuh

80

kembali. Seolah-olah, orang Cina yang kaya tersebut mewakili seluruh etnis Cina di seluruh nusantara.

D.

Pola Penetrasi Modal di Tangerang pada Masa Orde Baru (1966-1998) Penetrasi modal di Tangerang pada era Orde Baru tahun 1966-1998 dapat

dilihat dengan mata telanjang melalui adanya perubahan drastis kehidupan Tangerang dari agraris menjadi modern sebagai dampak industrialisasi. Perubahan wilayah Tangerang dari daerah agraris menjadi industri, kiranya tak bisa dilepaskan dari kebijakan ekonomi pemerintah Orde Baru secara makro. Hal itu sekaligus menjadi salah satu tanda perbedaan arah kebijakan ekonomi era pemerintah orde lama. Di masa pemerintahan orde lama, Soekarno sering

menyuarakan tentang filosofi ekonomi berdikari atau berdiri di atas kaki sendiri. Prinsip yang ingin diperjuangkan adalah membangun ekonomi nasional yang berswasembada. Slogan yang biasanya didengungkan adalah Trisakti yaitu berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Artinya, dalam upaya membangun perekonomian Indonesia, Soekarno selalu berusaha “membendung” investasi pihak swasta baik asing maupun nasional secara besar-besaran. Soekarno tidak menginginkan roda ekonomi Indonesia ditopang oleh pihak swasta dengan ciri kepemilikan perseorangan. Rentetan peristiwa politik yang diawali kasus G30S tahun 1965 dan gonjang-ganjing yang mengikutinya, akhirnya mengakhiri masa pemerintahan orde lama. Gagasan tentang ekonomi berdikari kemudian digantikan ekonomi ala Orde Baru.

81

Pada tahun 1966, Orde Baru berdiri. Bila di era sebelumnya pihak swasta “dibendung” oleh kekuasaan negara, di masa Orde Baru “bendungan” itu dibuka. Kepentingan modal asing maupun nasional dirangkul untuk membangun ekonomi Indonesia (liberalisasi pasar) menuju negara industri yang dicitakan rezim. Seiring kerjasama tersebut berjalan, Tangerang tak luput menjadi salah satu daerah bidikan pembangunan ala Orde Baru.

1.

Membuka Keran bagi Modal Asing dan Nasional Pemerintahan Orde Baru dibentuk berdasarkan hasil keputusan Sidang

Umum MPRS yaitu Ketetapan MPRS No. XIII Tahun 1966. Situasi perekonomian saat itu masih berupa warisan kebijakan orde lama dimana serba morat-marit terutama tingginya harga sembako yang membuat rakyat menjerit. Ditambah lagi situasi mencekam yang masih berlanjut di daerahdaerah akibat peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang berlangsung di Jakarta. Di tengah situasi kekacauan ekonomi tersebut, Orde Baru berusaha memperbaikinya dengan menyusun Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Dalam GBHN dijabarkan suatu perencanaan jangka panjang dan jangka pendek. Tujuan jangka panjangnya adalah untuk mengubah struktur ekonomi yang ada menuju struktur ekonomi yang seimbang, dimana industri menjadi tulang punggung ekonomi didukung kemampuan pertanian yang tangguh. Untuk mencapainya perlu dibangun sektor industri secara bertahap. Selama Orde Baru berkuasa sekitar 32 tahun, paling tidak pernah dilakukan enam kali perubahan kebijakan industri, yaitu sebagai berikut:

82

Tabel 6. Target-Target Pelita I-V PELITA I TARGET
• Industri diprioritaskan untuk merehabilitasi alat produksi yang sudah tua atau tidak berfungsi • Meneruskan pembangunan beberapa proyek tertunda (retarded project) yang produksinya sangat dibutuhkan masyarakat • Membangun industri yang menunjang sektor pertanian atau sarana pertanian • Membangun industri yang dapat mengolah bahan dalam negeri • Membangun industri yang bersifat padat karya • Membangun dan meningkatkan kapasitas pabrik yang mengolah bahan mentah menjadi bahan baku • Menggalakkan pemakaian barang buatan dalam negeri dengan cara sustitusi impor • Melipatgandakan produksi sandang, pangan, obat-obatan dan kebutuhan pokok masyarakat • Meningkatkan dan menggiatkan industri padat karya, industri kecil dan industri rumah tangga • Mendorong dan meningkatkan pembangunan industri PMA dan PMDN • Penyebaran industri ke seluruh daerah • Menghemat pengeluaran devisa dan sebaliknya menggalakkan ekspor hasil industri untuk memperoleh devisa • Memperdalam struktur industri dengan membangun bidang usaha yang masih lowong pada “pohon industri” • Mengusahakan pemerataan hasil industri, perluasan lapangan kerja, mengurangi ketimpangan antara sektor industri dengan sektor lainnya dan antara sektor industri sendiri • Meningkatkan sumbangan sektor industri terhadap pendapatan nasional • Mendorong pertumbuhan industri kecil • Menciptakan Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI) sebagai suatu konsep pembangunan wilayah, berorientasi pada pertumbuhan ekonomi pada zona industri yang memanfaatkan sumber daya alam dan potensi daerah • Meningkatkan peranan sektor industri untuk menunjang sektor pertanian dan ketahanan na sional • Menjalankan Pola Pengembangan Industri Nasional yang berintikan enam butir kebijakan pokok, yaitu : 1. Pendalaman dan pemantapan struktur industri 2. Pengembangan industri permesinan dan elektronika 3. Pengembangan dan pemasaran hasil industri kecil melalui sistem “Bapak Angkat” 4. Mengganti kebijakan Substitusi Impor dengan Promosi Ekspor dengan pola broad base (spectrum) 5. Mengembangkan litbang terapan, rancang bangun serta rekayasa industri

II

III

IV

83

6. Mengembangkan kewiraswastaan dan tenaga profesi • Menciptakan iklim yang kondusif melalui kebijaksanaan deregulasi dan debirokratisasi

V

• Melanjutkan deregulasi dengan tujuan menarik sebanyak mungkin industri yang berpindah lokasi (relokasi) dari satu negara ke negara lain, yang pada umumnya berupa foot loose industry seperti industri elektronika, sepatu dan garmen yang padat karya • Melanjutkan kebijaksanaan Pelita IV Meningkatkan ekspor melalui kebijakan deregulasi

VI

Sumber: www.zulkieflimansyah.com Rehabilitasi perekonomian nasional dilakukan bersama -sama oleh pemerintah dan pihak swasta. Untuk mempercepat pembangunan, pemerintah berusaha menarik modal bukan pinjaman yang diharapkan dapat mengolah sumber daya yang tersedia lebih banyak sekaligus dapat menciptakan lapangan kerja baru. Namun modal seperti itu membutuhkan kepastian hukum dan undang-undang. Maka pada tanggal 10 Januari 1967 pemerintah mengeluarkan Undang-undang No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing (UU PMA). Setahun kemudian menyusul dikeluarkannya UndangUndang Penanaman Modal Dalam Negeri (UU No. 6 Tahun 1968 tentang PMDN). Seperti telah diuraikan di atas, pada tahap awal pemerintah Orde Baru mencanangkan suatu konsep tinggal landas menuju negara industri. Sektor pertanian dianggap sebagai salah satu bidang yang harus mampu menopang kebutuhan pangan penduduk Indonesia. Di antara pembangunan bidang pertanian, dikenal istilah “revolusi hijau”. Era ini juga berlaku di daerah Tangerang yang ditandai dengan adanya peningkatan hasil produksi pertanian. Melalui intensifikasi, lahan sawah di sekitar Tangerang yang sebelumnya

84

menghasilkan 2-3 ton padi per hektar, kemudian mampu menghasilkan 6 ton -7 padi per hektar. Hal itu berkat penggunaan pupuk urea dan obat-obatan yang disebut sebagai salah satu bentuk kebijakan teknologi yang ditentukan oleh Pemerintah (Ekajati, 2004: 230) . Seiring gencarnya pembangunan industri, s ektor pertanian yang sempat menopang perekonomian Tangerang, secara bertahap tergantikan dengan sektor perdagangan dan industri. Hal ini dapat diketahui berdasarkan data statistik Pemda tentang pendapatan domestik regional bruto (PDRB) tahun 1975 sampai 1985. Pada tahun 1975 tercatat sektor perdagangan sebagai penyumbang terbesar PDRB yaitu 33,30% kemudian disusul pertanian sebesar 29,07%. Sedangkan sektor industri sebesar 15,17%. Namun, pada tahun 1985 berubah, penyumbang PDRB terbesar adalah sektor industri yaitu 28,91%, disusul perdaganga n sebesar 21,15% dan dari pertanian sebesar 17,47%. Berdasarkan hasil penelitian Suryana (1998), industri Tangerang telah menyumbang pendapatan daerah hingga tidak terlalu bergantung pada

pemerintah pusat. Sumber pemasukan daerah tersebut berasal dari pajak dan retribusi. Retribusi antara lain: ijin lokasi, saat pembangunan, dan lain-lain. Akan tetapi, gencarnya pembangunan perumahan oleh para pengembang, ternyata di kemudian hari menyebabkan pemborosan biaya daerah. Hal itu terjadi di saat seluruh fasilitas perumahan yang dibangun pengembang diserahkan ke Pemda dan Pemda mulai rutin membangun sarana publik. Selama tahun 1993-1998, dalam perhitungan Suryana (1998: 190), kab Tangerang harus nombok sebesar 69.317.678.800 seandainya seluruh

85

prasarana lingkungan sosial dan utilitas umum diserahkan kepada pemerintah daerah. Tabel 7. Perbandingan Penerimaan dari Pusat, Dati I, dan Penerimaan Sumber PAD Tahun 1993 -1998 (dalam ribuan)
NO 1 2 3 4 5 Tahun Anggaran 1993/1994 1994/1995 1995/1996 1996/1997 1997/1998 Penerimaan Pusat 31.894.812 24.501.779 27.431.807 30.465.983 40.457.756 Penerimaan Dati I 5.327.975 2.715.500 4.865.880 7801.000 7.489.000 Penerimaan PAD-PBB 34.340.901 38.210.654 51.641.011 58.285.793 58.237.100

Bagian keuangan setwilda tingkat II Tangerang, 1998 Tabel 8. Struktur Ekonomi Jawa Barat Tahun 1973-1990
PELITA Sektor I 1973 38,83 8,81 52,36 II 1978 30,62 10,60 58,78 III 1983 26,41 10,04 63,55 IV 1988 19,77 18,91 61,32 V 1990 18,70 20,61 60,69

Pertanian Industri Lain-lain

Sumber: Bappeda Tk I Jawa Barat, 1993 dikutip Murtono, 1998: 3 Kebijakan pembukaan PMA ternyata juga mendapat sambutan baik dari para investor asing dan luar negeri. Pada tahun 1987, di Tangerang tercatat terdapat 350 perusahaan penanaman modal asing (PMA) dengan investasi US$ 547 juta dan 90 perusahaan dari dalam negeri (PMDM) dengan total investasi 188 milyar rupiah. Sementara itu tahun 1990/1991 meningkat, PMA menca pai 13.124 perusahaan dengan investasi US$ 694.735.000 dan dari PMDN berjumlah 130.479 perusahaan dengan investasi sekitar 932 milyar rupiah. Jumlah tersebut diperkirakan terus bertambah dari tahun ke tahun.

86

Hanya saja belum diketahui bagaimana naik turunnya di masa krisis ekonomi tahun 1997 hingga masa reformasi. Tabel 9. PMA di Indonesia Tahun 1967 -1990 INVESTOR NILAI INVESTASI Jepang 9.666.916.000 Hongkong 3.731.192.000 Korea Selatan 1.860.007.000 Taiwan 1.743.558.000 Singapura 1.012.103.000 Sumber: Bisnis Indonesia, 18 April 1991 Dari sekian ribu perusahaan tersebut, pada tahun 1990, ada sekitar 14 perusahaan yang mampu memasarkan produksi ke luar negeri yaitu Jepang, Amerika Serikat, Timur tengah, Eropa, dan negara Asean. Produksi yang dieksport tersebut antara lain pakaian jadi, kain sutting, tempat beras, tepung ubi, mainan anak, keramik, silet, dan kain tenun.

2.

Tangerang Menjadi Penyangga Ibu Kota Jakarta Pembangunan Tangerang menjadi kota industri semakin gencar tatkala

pada tahun 1976 diberlakukan Instruksi Presiden nomor 13 tahun 1976 tentang pengembangan wilayah JABOTABEK meliputi Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi (Sutiyoso, 2007:15-36). Tangerang dinyatakan sebagai salah satu daerah penyangga ibukota RI yaitu menampung limpahan penduduk, menjadi daerah industri, dan perdagangan. Dalam istruksi presiden tersebut diantaranya disebutkan bahwa wilayah Tangerang tidak bisa menghindari dari imbas pembangunan yang sedang berkembang di wilayah Jakarta. Membludaknya arus tenaga kerja dari Jakarta

87

dan tumbuhnya pusat-pusat perbelanjaan serta permukiman baru otomatis akan berdampak di wilayah sekitarnya, termasuk Tangerang. Maka, gagasan mengelola Tangerang menjadi kota pun mulai berkembang. Pada tahun 1982 pemerintah mengeluarkan Peraturan No. 50, tentang Pembentukan Kota Administrasi Tangerang. Kemudian berubah lagi dengan dikeluarkannya UU No 2 Th 1993, dimana wilyah tersebut dibagi dua menjadi Kotamadya Tangerang (sekarang: Kota Tangerang) dan Kabupaten Tangerang. Sebagai daerah limpahan penduduk Jakarta, dengan sendirinya di daerah Tangerang dibangun pemukiman-pemukiman baru. Pembangunan pemukiman tersebut melibatkan pihak swasta dan pemerintah terutama untuk menampung warga pendatang. Warga pendatang tersebut tidak hanya mereka yang bekerja di Jakarta, tetapi dengan berkembangnya pabrik di tangerang, pemukiman baru juga ditukukan bagi pendatang yang menjadi pekerja industri di Tangerang. Alhasil, Tangerang dibanjiri pendatang dari berbagai daerah dan berbagai latar belakang. Tabel 10. Daerah Pemukiman Kotamadya Tangerang Tahun 1990 No 1. 2 3 4 5 Kecamatan Kecamatan Tangerang Batuceper Cipondoh Jatiuwung Ciledug Jumlah Pemukiman 20 8 20 16 20

Sumber: Kantor Kotamasya Tangerang dikutip Rizal, 1993: 63

88

Kemudian, dal m penataan Jakarta sebagai ibu kota negara, Tangerang a adalah daerah ideal untuk lokasi pusat industri sebab sangat berdekatan dengan ibu kota dimana aktivitas bisnis berlangsung.

3.

Pembangunan Infrastruktur Industri Sejak awal penetrasi modal di Tangerang pada zaman kolonial, faktor

transportasi dipandang sangat penting. Demikian pula di era Orde Baru, di mana Tangerang dijadikan sebagai kota “satelit” Ibu Kota Jakarta, dengan sendirinya transportasi sangatlah menentukan. Maka dibangunlah jalur

transportasi yang kokoh diantaranya jalan bebas hambatan atau jalan tol. Jalan tol Jakarta-Tangerang dirancang untuk dapat memberikan aksesibilitas yang tinggi bagi kawasan industri dan pemukiman di sekitar jalur ini sekaligus memperlancar arus distribusi barang dan mobilitas manusia antara Jawa dan Sumatera. Pembangunan tahap pertama berupa ruas jalan tol Jakarta-Tangerang Barat (Bitung) sepanjang 26 km yang dimulai pembangunannya pada tahun 1980. Jalan bebas hambatan ini mempunyai dua jalur terpisah dengan masingmasing jalur terdiri dari dua lajur, dengan menghabiskan biaya sebesar Rp. 37,1 Milyar yang sebagian besar dananya merupakan pinjaman lunak dari OECF (Overseas Economic Cooperation Found). Proyek ini dikerjakan oleh kontraktor PT. Hutama Karya beserta 3 kontraktor Jepang yaitu: Tobenaka Doboku, Tobenaka Komuten dan Nippo Hodo dengan konsultan pengawas lokal PT. Biec Internasional Inc, PT. Docrea dan PT. Bina Karya bekerja sama dengan konsultan Jepang PCI (Pasific Consultant Internasional).

89

Pengoperasian pembangunan tahap pertama ini dimulai pada tanggal 28 Nopember 1984 yang dibangun dan dioperasikan oleh PT. Jasa Marga (Persero). Tahap kedua dibangun Ciujung ByPass dan Serang ByPass yag dioperasikan pada tanggal 1 Agustus 1988. Sedangkan ruas Tangerang BaratMerak yang merupakan kelanjutan dari ruas jalan Jakarta-Tangerang Barat dibangun oleh PT. Marga Mandala Sakti yang merupakan usaha patungan antara PT. Jasa Marga (Persero) dab beberapa perusahaan swasta dengan polaBOT yang panjangnya mencapai 73 Km yang mempunyai 2 jalur dengan masing-masing teridiri dari 2 lajur, yang menelan biaya investasi sebesar Rp. 452 Milyar. Adanya jalan tol ini ternyata telah ikut memicu tumbuhnya kawasan kawasan pemukiman baru terutama di sekitar Tangerang. Sehingga ruas Jakarta -Tangerang Barat yang semula hanya 4 lajur sudah tidak mampu lagi menampung volume lalu lintas , terutam pada jam-jam sibuk. Untuk mengantisipasi hal tersebut PT. Jasa Marga bekerjasama dengan PT. Adhika Prakarsatama membangun lajur tambahan sehingga menjadi 6 lajur dan telah dioperasikan sejak tanggal 15 Pebruari 1996 yang menelan investasi sbesar Rp. 108,55 Milyar. 4. Pembangunan Kawasan Pabrik: Pengambilalihan Lahan Warga dan Penataan Ulang Penduduk untuk Melancarkan Akumulasi Modal Seiring pembangunan transportasi, di sekitarnya dibangunlah pabrikpabrik. Dari informasi awal yang didapat berdasarkan cerita para buruh di Cikupa, pembangunan pabrik tersebut berjalan secara bertahap seiring

90

pembangunan jalan tol Jakarta-Merak. Pada mulanya dibangunlah pabrikpabrik di lahan kering yang kemudian disebut sebagai Blok A. Pembangunan blok A dimulai sekitar tahun 1970. Kemudian disusul blok B, dab Blok C. Pengembangan lahan pabrik blok B dan C, memanfaafkan lahan pertanian, termasuk lahan basah (sawah). Sehingga pada tahun 2007, salah satu kelurahan di Cikupa yaitu Telagasari, lahan pertanian kini sudah habis. Daerah kelurahan tersebut telah berubah menjadi kawasan pabrik dan perkampungan buruh. Dalam pembangunan setiap blok, terjadi proses pengambilalihan lahan warga. Seorang buruh bernama Abah Nang, bercerita bahwa pada saat blok C dibangun, para pengembang bekerjasama dengan sejumlah aparat militer dan aparat desa untuk memaksa para warga menjual lahannya kepada pemilik pabrik. Sementara itu, saat berlangsung penjualan tersebut, muncul para calo yang menyerbu pemilik lahan. Warga lokal secara perlahan kemudian

melepas lahannya dengan harga yang lebih rendah dari yang diharapkan. Sedang sejumlah warga lokal lain, memilih ditukar dengan lahan lain yang disediakan pemilik pabrik yang letaknya berada di pinggir daerah kawasan pabrik. Akan tetapi, ada juga warga yang kemudian tetap bersikukuh bertahan tidak menjual lahan kepemilikannya. Ia tetap bertahan bila ingin membeli lahan yang dimilikinya, maka ia menetapkan tidak mau di bawah harga yang ia kehendaki. Salah satu warga tersebut adalah Abah Nang. Hanya saja, sikap Abah Nang tersebut juga membawa konsekuensi yang tak ringan. Lahan dan rumah yang ia miliki, seiring pembangunan pabrik kemudian berubah menjadi semacam “pulau” di tengah lautan pabrik. Karena

91

pengerukan yang dilakukan pabr ik, lahan Abah Nang berada di posisi yang lebih tinggi layaknya pulau. Saat hujan, kemiringan tanah tersebut menjadi arena permainan “prosotan” anak-anak kampung. Akibatnya, lahan Abah

Nang dipastikan sudah tidak subur sebab di saat kemarau pasti akan kekurangan air. Oleh karena itu, Abah Nang memanfaatkan lahan tersebut dengan pembangunan rumah kontrakan bagi para buruh. Dari kamar kostkostan inilah ia mendapatkan pemasukan. Namun, teror dan tawaran serta bujukan agar segera menjual lahan itu, masih teru mendarat di telinga Abah s Nang (Wawancara Abah Nang, Cikupa 5 anuari 2007) . Tabel 11. Penguasaan Lahan Pada Kawasan industri Tahun 1996
N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Nama Perusahaan PT Cipta Cakra Murdaya PT Benua Permai Lestari PT Sinar Subur Serpong PT Mitra Indo Textil PT Elang Mas Perkasa PT Surya Karya Luhur PT BSD PT Graha Permai Raharja PT Purati Kencana Alam PT Adibalaraja PT Tangerang Bhumimas PT Putra Daya Perkasa PT Cidurian Srana Niaga Permai PT Penta Binangun Sejahtera Ijin Lokasi 300 150 100 150 250 250 200 75 70 300 250 76 150 90 Sudah dibebaskan Ha % 180 60 128 85 50 50 40 26,60 50 20 150 60 150 75 75 100 70 100 265 88 250 100 76 100 86 57 6 6 Sudah Dibangun Ha % 29 9,6 40 26,6 30 30 16 10,6 0 0 8 3,2 85 42,5 25 33,3 25 35,7 0 0 15 6 0 0 50 33,3 0 0 Ket

Bappeda Kab. Dati II Tangerang 1996 dikutip Suryana, 1998: 108 Berdasarkan pemaparan pola penetrasi modal pada era Orde Baru di atas, penulis dapat menarik beberapa kesimpulan penting. Pertama , seperti halnya penetrasi modal di era Kolonial Belanda , penetrasi modal pada era Orde Baru juga dijalankan secara terencana, sistematis, bertahap, bahkan lebih massif.

92

Perencanaan dimulai sejak Orde Baru berdiri menggantikan kekuasaan orde lama dengan membuka keran masuknya investasi asing maupun nasional. Strategi ini bertolak-belakang dengan kebijakan orde lama. Orde Baru merancang

pembangunan nasional dengan merangkul pihak swasta di antaranya dengan pembangunan bertahap mulai dari sektor pertanian menuju industri. Dengan datangnya investor, penetrasi modal di Tangerang berlangsung sangat keras dan massif. Era ini menandai awal kehidupan Tangerang yang sangat kapitalistik. Sebab, untuk melancarkan laju investor, pembangunan infrastruktur, kawasan pabrik, dan daerah pemukiman, diperkuat dan dipayungi dengan instrumen hukum yaitu perundang-undangan hingga aparatusnya seperti pem erintah daerah setempat maupun aparat TNI/Polri. Dengan instrumen tersebut, masyarakat Tangerang ”dipaksa” untuk tunduk dan harus mengikutinya. Instrumen hukum tersebut mengiringi dan mensuport kepentingan para pemodal atau investor agar aktivitas akumulasi modal berjalan lancar. Kedua, bila pada era kolonial muara dari penetrasi modal ditujukan untuk keuntungan pemerintah Belanda, dalam hal ini Kerajaan Belanda, pada era Orde Baru, keuntungan ditujukan atas nama ”pembangunan nasional”. Artinya, pemerintah Orde Baru berpendapat bahwa keuntungan aktivitas akumulasi modal di Tangerang dapat dinikmati masyarakat Indonesia secara nasional dengan terbukanya lapangan kerja baru sehingga kesejahteraan meningkat. Dalam prakteknya, tujuan tersebut tidak berjalan secara sinergis. Hal ini terbukti dengan adanya sejumlah masyarakat pribumi yang justru menjadi ”korban”

pembangunan.

93

Ketiga, pada era Kolonial, kaum Tionghoa dirangkul menjadi penguasa daerah partikelir kemudian menjadi penguasa yang mengatur masyarakat di daerah partikelir tersebut. Pada era Orde Baru, peran mereka digantikan oleh para investor atau pemodal baik asing maupun pemodal n asional. Meminjam istilah Karl Marrx, kaum pemodal inilah yang menjadi kelas kaya baru yang sukses dengan menghisap kaum buruh. Para pemodal yang menguasai industri, juga menguasai kehidupan dalam pabrik bahkan masyarakat sekitar kawasan pabrik. Keberadaan mereka mampu menempatkan, menggiring, dan memetakan warga pribumi dan warga pendatang. Proses pemetaan warga pendatang dan pribumi tersebut tak jarang berimplikasi pada pola relasi dan konflik kepentingan (bandingkan sub-bab berikut).

E.

Implikasi Penetrasi Modal di Tangerang Era Orde Baru 1. Perencanaan Tata Ruang Kota Cenderung Dikooptasi oleh Kepentingan Akumulasi Modal Seperti telah disinggung sebelumnya, bahwa pada tahun 1976 telah mengemuka tentang konsep Tangerang sebagai “penyangga” Ibu Kota Jakarta seperti termuat dalam Instruksi Presiden No. 13 Tahun 1976. Tangerang dinyatakan tidak bisa menghindari dari imbas pembangunan yang sedang berkembang di wilayah Jakarta. Membludaknya arus tenaga kerja dari Jakarta dan tumbuhnya pusat-pusat perbelanjaan serta permukiman baru otomatis akan berdampak di wilayah sekitarnya, termasuk Tangerang. Maka, gagasan mengelola Tangerang menjadi kota pun mulai berkembang.

94

Dua faktor penting terkait pembangunan kota Tange rang yang sering menjadi sorotan adalah perancanaan tata ruang kota dan gerak investasi dari para pemilik modal. Menurut UU Nomor 4 tahun 1982, ruang adalah wadah atau tempat dimana manusia berkomunikasi baik di antara sesama, makhluk hidup lainnya maupun dengan lingkungan alamiah serta buatannya. Penentuan ruang merupakan bagian dari pengelolaan dengan mewujudkan keserasian, keselarasan, keseimbangan pemanfaatan ruang dengan mengindahkan faktor -faktor daya dukung lingkungan. Dalam wadah yang terbatas, penataan menjadi sangat penting karena dalam ruang yang terbatas tersebut, semua manusia dan kegiatannya harus ditampung dengan baik. Lalu, bagaimana hubungannya dengan modal? Hubungan investasi dan tata ruang kota bersifat timbal balik. Kegiatan investasi aka n mempunyai implikasi pada tata ruang seperti: tata ruang untuk industri, infrastruktur air bersih, sarana olah raga dan rekreasi, area limbah, pemukiman, dan lain-lain. Begitu pula sebaliknya. Dengan demikian, pengembangan investasi dalam konteks keruangan kota terdapat

pengertian perlunya memperhatikan perencanaan tata ruang (regulasi) dan sekaligus bagaimana implementasinya. Bila kemudian menyinggung mengenai kebijakan tata ruang yang berlaku di Indonesia, khususnya di Tangerang, akan kita temukan sejumlah kekacauan. Misalnya saja pada era reformasi. Sebelum era reformasi, peraturan perundangan penataan ruang yang bersumber pada UU No. 24 Tahun 1992 yang secara prinsip telah meletakkan otonomi

95

perencanaan

yang

sebesar-besarnya

pada

daerah

kabupaten/kota.

Perencanaan lokal mengacu pada perencanaan regional dan perencanaan regional mengacu pada perencanaan nasional. UU No. 24 Tahun 1992 Pasal 20 ayat (3) menyebutkan bahwa Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional menjadi pedoman untuk: (d) Penataan Ruang Wilayah Provinsi Dati I dan Wilayah Kabupaten/Kotamadya Dati II. Akan tetapi, dalam rangka otonomi daerah, UU No. 24 tahun 1992 digantikan dengan UU No 32 tahun 2004 dengan penjabarannya yang diatur dalam PP No. 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan provinsi sebagai daerah otonom. Dalam PP No. 25 tahun 2000 p asal 2 ayat (3) angka 13a menyebutkan bahwa Penetapan Tata Ruang Nasional berdasarkan Tata Ruang Kabupaten/Kota dan Provinsi. Ini berarti bahwa hierarki penyusunan tata ruang berbalik arah, di mana tata ruang nasional mutlak tergantung tata ruang provinsi dan tata ruang kabupaten/kota. Salah satu dampak dari kekacauan kebijakan tata ruang tersebut otomatis berimbas pada persoalan investasi. Sebut saja misalnya kasus pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di desa Lontar, kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang. Pembangunan PLTU tersebut menjadi perdebatan anggota DPRD. Mereka memandang pembangunan tersebut telah menyalahi aturan Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Tangera ng. PLTU sebelumnya direncanakan

dibangun di daerah Teluk Naga. Namun, dipindahkan ke desa Lontar karena mengacu pada ketentuan yang lebih tinggi, yakni Perpres Nomor

96

71 Tahun 2006 tentang penugasan kepada PT PLN untuk melakukan percepatan pembangunan pembangkit tenaga listrik dengan menggunakan batubara. Pemindahan lokasi tersebut dipandang sejumlah anggota DPRD sebagai pelanggaran pihak pemda atas aturan yang sudah dibuatnya. Pihak Pemda pun kemudian mengaku tengah mengajukan usulan Raperda Perubahan Renc ana Tata Ruang Wilayah (www.radarbanten.com). Tidak sinkronya konsep tata ruang kota Tangerang juga seringkali terjadi karena gerak investasi lebih cepat dibanding perencanaannya. Salah satu contoh di antaranya adalah persoalan pembangunan pemukiman buruh pabrik di zona industri Jatiuwung. Berkembangnya pabrik di Jatiuwung telah diikuti juga dengan maraknya kebutuhan akan tempat tinggal bagi para pekerjanya. Pada tahun 1990, ditemukan fakta bahwa di luar pabrik-pabrik yang ditembok-pagar keliling, terdapa t bedeng-bedeng rumah kontrakan yang dihuni para buruh pabrik. Rumah -rumah bedeng tersebut berdiri dengan infrastruktur dan utilitas yang sangat minim

sehingga terkesan sangat kumuh (www.tangerangkota.go.id). Besar kemungkinan bahwa maraknya pemukiman kumuh tersebut, sebelumnya tidak menjadi hal yang diperhitungkan sebelumnya oleh para pengambil kebijakan industrialisasi di kawasan tersebut. Hal ini bisa

dibuktikan, tatkala kemudian lahir gagasan pembangunan rumah susun oleh Pemda Tangerang. Rumah susun tersebut mulai dibangun sekitar tahun 1994 melalui lika-liku yang tidak mudah mengingat Pemda tidak mempunyai lahan di sekitar kawasan pabrik Jatiuwung sehingga harus dilakukan pengambilalihan lahan dari para tuan tanah. Hal ini menandakan

97

bahwa gagasan pembangunan rumah susun sesungguhnya lahir bukan sebagai suatu perencanaan yang menyeluruh terkait dampak pembangunan pabrik yang telah mendatangkan banyak buruh sebagai penduduk baru (dampak industrialisasi), tetapi merupakan langkah reaksioner atas dampak yang ditimbulkan. Bila pendekatan-pendekatan improvisasi seperti ini digunakan dalam melakukan pembangunan kota, besar dugaan dampak negatif lainnya akan lebih tidak terkendali dan melahirkan ragam masalah sosial. Adalah wajar bila kemudian dewasa ini muncul fenomena kemacetan kendaraan di jalan raya, sanitasi perkampungan yang tidak jelas, banjir, pencemaran sungai, dan lain-lain. Ini semua sesungguhnya adalah bukti dari ketidakjelasan konsep pembangunan kota. Kekacauan dalam tata ruang kota Tangerang juga diungkap dalam penelitian Syamsul Rizal. Menurutnya, salah satu penyebab kekacauan tata ruang disebabkan karena jalannya aturan perundangan dengan pelaksanaan ijin lokasi industri maupun perumahan tidak sejalan. Dalam pemberian ijin lokasi seharusnya selalu berpedoman Peraturan Menteri Dalam Negeri No 5 tahun 1974 dimana harus mempertimbangkan untuk menghindari penggunaan lahan produktif seperti persawahan irigasi dan aturan tersebut ditegaskan dalam Keppres No 53 Tahun 1989 tentang kawasan Industri. Kadangkala untuk memperlancar ijin lokasi, Investor justru terlebih dulu membeli lahan dari masyarakat baru mengajukan ijin lokasi untuk kegiatan yang direncanakan.

98

Tabel 12. Penggunaan Lahan di Kotamadya Tangerang Tahun 1990
NO 1 2 3 Pola Penggunaan Lahan Industri Perumahan Jasa TOTAL Lias (Ha) 469,58 26.350,44 535,36 27.355,38 Jenis Penggunaan Lahan Asal Tanah Sawah Lainnya Kosong 83,12 101,51 284,95 9.580,45 150,65 16.619,34 345,05 7,41 182,90 10.008,62 259,57 17.087,19

Sumber: BAPPEDA Kabupaten Tangerang th 1990 dikutip Rizal, 1993: 92 Tabel 13. Ijin Lokasi dan Pembebasan tanah dengan Kesesuaian Rencana Tata Ruang
Jenis Ijin Lokasi dan Pembebasan Tanah Industri Perumahan Jasa Total Jml Ijin lokasi yg terbit Bh 235 212 42 463 Luas (Ha) 469,58 26.350,44 535,36 27.355,38 Jml Ijin Lokasi Tidak sesuai RUTR Bh 73 39 11 123 Luas (Ha) 202,36 3.316,02 104,84 3.623,20 15.77 8.42 2.38 26.56 0,79 12,12 0,38 13,24

Jumlah

Luas

Sumber: Dinas PU Kabupaten Dati II Tangerang Tahun 1980 dikutip Rizal, 1993: 87

Sebagaimana hubungan ijin lokasi dan pembebasan tanah dengan pengendalian perubahan penggunaan tanah nampaknya masalah

bersumber pada perilaku kelembagaan dan masyarakat dalam penerbitan ijin. Pemberian Ijin Lokasi adalah alat sebagai upaya pengendalian pengelolaan lingkungan hidup yang meliputi pengendalian perubahan penggunaan lahan (fungsi) dan pengendalian perencanaan (rencanana Tata ruang Wilayah). Menurut Rizal (1993: 87), t rdapat 73 ijin lokasi untuk e kegiatan industri (15,77%), 39 ijin lokasi untuk pembangunan perumahan (8,42%) dan 11 ijin lokasi untuk jasa (2,37%) dari 463 ijin lokasi tidak

99

sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) dan pola dasar pembangunan daerah Tangerang.

2.

Ledakan Warga Pendatang Baru Dan Konflik antara Mereka dengan Warga Yang Telah Menghuni Sebelumnya Berkembangnya jumlah pabrik di wilayah Kabupaten Tangerang,

diikuti dengan berkembangnya jumlah warga pendatang yang kemudian tinggal di sekitar pabrik. Mereka berasal dari berbagai daerah pedesaan di wilayah Jawa maupun luar Jawa (urbanisasi). Kedatangan mereka sesungguhnya adalah konsekuensi logis dari kebijakan industrialisasi Tangerang. Setiap pabrik didirikan, tentunya mempunyai kebutuhan akan tenaga kerja. Artinya, bila tenaga kerja dari penduduk Tangerang tidak mencukupi, maka harus didatangkan tenaga kerja dari daerah lain. Dengan jumlah tenaga kerja yang banyak, maka hukum permintaan dan penawaran akan berlaku, yaitu membludaknya tenaga kerja di Tangerang akan menyebabkan harga tenaga kerja menjadi murah. Murahnya tenaga kerja dengan sendirinya akan menekan biaya produksi pabrik -pabrik tersebut. Dari sejumlah cerita para buruh, mereka hijrah ke daerah Tangerang karena susahnya mendapatkan sumber penghidupan di kampung asal mereka. Di antara para buruh mengaku dari daerah Jawa Tengah seperti Tegal, Wonosobo, Boyolali, kemudian Jawa Barat, Jawa Timur dan Sumatera. Di kampung-kampung mereka, pekerjaan sulit didapat sedang lapangan kerja di sektor pertanian tidak menjanjikan hari depan mereka. Hasil pertanian selalu tidak sepadan dengan biaya produksinya, sehingga

100

dengan urbanisasi menjadi buruh, mereka berharap, perekonomian mereka bisa lebih baik. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) provinsi Banten, jumlah penduduk Kabupaten Tangerang menempati urutan pertama paling banyak. Lihat tabel berikut ini: Tebel 14. Perkembangan Penduduk Per Kabupaten/Kota Provinsi Banten Tahun 2000-2005
NO Kabupaten/Kota Kabupaten 1 2 3 4 Lebak Pandeglang Serang Tangerang Kota 5 6 Tangerang Cilegon JUMLAH
1.325.854 294.936 8.096.809 1.354.657 301.225 8.258.055 1.416.840 309.097 8.529.799 1.462.726 326.324 8.956.324 1.488.666 331.872 9.083.144 1.537.244 334.408 9.308.944 1.011.788 1.030.040 2.781.428 1.652.763 1.025.088 1.034.710 2.873.256 1.669.119 1.040.871 1.044.047 2.983.384 1.735.560 1.082.012 1.122.228 3.185.944 1.776.995 1.100.911 1.132.899 3.194.282 1.834.514 1.106.788 1.139.043 3.324.949 1.866.512

2000

2001

2002

2003

2004

2005

Sumber: BPS Provinsi Banten Tabel 15. Tabel Proyeksi Jumlah Penduduk 2002 -2017 (Dengan dasar perhitungan bunga beganda Pt = Po (1+r) a
KAB/KOTA Kab. Serang Ab. Lebak Kab. Pandeglang Kab. Tangerang Kota Tangerang Kota Cilegon JUMLAH 2000
1.631.571 1.027.053 1.010.741 2.975.435 1.311.746 295.766 8.052.312

2001
1.669.119 1.034.710 1.025.088 2.873.256 1.354.657 301.225 8.258.055

2002
1.680.742 1.049.639 1.046.103 2.944.785 1.402.564 313.364 8.437.197

2007
1.717.523 1.097.827 1.115.296 3.183.568 1.565.983 403.642 9.083.839

2012
1.767.597 1.165.083 1.213.704 3.525.485 1.811.176 541.301 10.024.346

2017
1.819.340 1.236.478 1.321.338 3.904.755 2.094.300 725.952 11.102.163

Sumber: BPS Banten Dalam Angka 2001

101

Dari sekitar 3,3 juta pada tahun 2005, mayoritas merupakan warga yang bekerja di sektor industri (buruh) dan berlatar belakang pendidikan mayoritas lulusan SD/Madrasah. Lihat tabel berikut: Tabel 16. Jumlah Penduduk 10 Tahun ke atas Yang Bekerja menurut Jenis Pekerjaan Utama per Kabupateb/Kota di Propinsi Banten Tahun 2004
Kab. / Kota Kab.Serang Kab.Lebak Pandeglang Kab.Tangerang Kota Tangerang Cilegon JUMLAH
Tamban g

Tani
230.948 257.530 209.592 108.086 908 8.840 815.904

Indust ri
115.782 24.862 26.364 352.362 244.252 34.427 789.049

Lis., Gas, Air
3.048 660 1.828 2.064 2.724 1.397 11.721

Bangu nan
28.642 10.063 9.006 57.152 16.344 9.138 130.345

Trans.
55.548 37.601 31.347 101.268 36.774 12.103 274.641

Dagan g
132.122 57.379 68.618 237.986 126.666 28.006 650.777

Keuan gan
2.786 1.320 3.916 29.608 27.694 2.352 67.676

Jasajasa
47.986 27.861 27.959 185.228 89.892 15.836 394.762

1.524 5.153 1.392 9.318 454 254 18.095

Sumber: Banten Dalam Angka, 2004 Tabel 17. Penduduk Usia 10 Tahun Ke Atas menurut Jenjang Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan di banten Tahun 2005
Kab/ Kota Kab. Pandeglang Lebak Tangerang Serang Kota Tangerang Cilegon BANTEN SD / sederajat 371.110 402.952 731.278 570.583 264.228 56.610 2.396.761 Pendidikan Yang Ditamatkan SLTP/ SLTA/ Diploma Sederajat sederajat D1/11 97.266 106.673 531.035 228.583 242.890 58.320 1.264.767 53.304 58.810 614.516 154.563 507.572 92.790 1.481.555 3.338 5.505 18.911 7.783 15.890 3.772 55.199 D111 / S1 9.092 13.641 215.795 18.135 84.444 15.189 356.296

< SD 319.640 311.043 555.723 489.054 139.832 46.825 1.862.117

JUMLAH 853.750 898.624 2.667.258 1.468.701 1.254.856 273.506 7.416.695

Sumber: Banten Dalam Angka, 2004 Tabel 18. Mata Pencaharian Tahun 1987 -1991
NO 1 2 S T TUS A Industri Pedagang 1987 899.400 56.618 1988 89.963 57.018 1989 90.675 57.523 1990 91.183 58.955 1991 100.103 59.763

102

3 4 5 6 7

Jasa Angkutan Pertanian PNS Bangunan/Tukang Lian-Lain

4.151 17.670 25.586 9.104 21.412

4.432 17.517 26.199 9161 22.106

4.556 17.091 26.711 9.381 22.613

4.679 16.446 28.231 9.688 22.965

4861 15.631 28.842 9.972 23.225

Sumber: Kantor Kotamasya Tangerang Dalam Rizal, 1993: 64

Membaca angka -angka dalam tabel di atas, di balik kehidupan masyarakat industri Tangerang, paling tidak menunjukkan kehidupan masyarakat Tangerang yang sangat dipengaruhi oleh sektor industri, khususnya kehidupan dalam pabrik. Kehidupan mayoritas penduduk sebagai buruh tentunya akan dipengaruhi oleh kehidupan pabrik seperti pola memanfaatkan waktu (aktivitas banyak di pabrik), pola pergaulan, pola konsumsi, dan lain -lain. Salah satu contohnya adalah bagaimana hubungan sosial antara para buruh dengan warga y sudah lama tinggal ang di sekitar pabrik (warga asli). Terbentuknya relasi antara mereka, ternyata sangat diwarnai oleh kepentingan industri (pabrik). Berdasarkan cerita sejumlah buruh, ditemukan informasi mengenai perbedaan kehidupan warga pendatang dan warga lokal (yang lebih lama menetap di Tangerang). Penduduk lokal Tangerang dari awal lebih dikenal sebagai masyarakat agraris. Mereka terbiasa hidup bercocok tanam seperti bersawah (padi), sayur-sayuran, dan buah-buahan. Dengan kehidupan agraris tersebut, mereka hidup bersosial dan relatif sederhana. Kebutuhan hidupnya banyak ditopang lewat aktivitas bertani. Kebutuhan pangan relatif terpenuhi tanpa harus menjual tenaganya kepada majikan. Dengan kultur seperti itu, penduduk lokal oleh pihak perusahaan seringkali memandang mereka sebagai warga yang “malas”. Mereka tidak banyak

103

mau mengisi lowongan kerja yang dibutuhkan pabrik atau kalaupun bekerja, seringkali dipandang tidak mempunyai etos kerja yang tinggi Akibatnya, pihak pabrik kemudian tidak banyak mem prioritaskan warga lokal untuk menjadi tenaga kerjanya. Dan untuk memenuhi kebutuhan buruh, pihak perusahaan lebih sering menyerap tenaga kerja dari para pendatang. Fenomena yang muncul, ada pembagian wilayah kerja di antara warga lokal dan warga penda tang yang dilakukan oleh perusahaan. Oleh perusahaan, penduduk lokal sering ditempatkan dalam jabatan sebagai “keamanan luar”, penerima order “sampah industri”. Sementara itu, mereka yang tidak terserap dalam pabrik kemudian menjadi tukang ojek, membuka warung makan, warung kelontong, atau sekedar menjadi pemilik rumah-rumah kontrakan para buruh. Keberadaan anggota keamanan luar tak jarang sangat unik. Di antara mereka, ada yang ditempatkan sebagai security merangkap penanggung jawab keamanan luar serta menjadi anggota kelompok penyalur kerja

(calo). Saat bertugas di dalam pabrik, maka tugas rutin pengamanan dipusatkan dalam kontrol terhadap disiplin para buruh seperti kontrol penyelundupan barang (pencurian), kontrol ijin ke WC. Keluar masuk pabrik, dan lain-lain. Sedang keamanan luar, menyangkut pengaturan bagaimana perusahaan berelasi dengan masyarakat serta aparat pemerintah daerah tempat perusahaan berada. Oleh aparat desa, perusahaan sering dikenakan iuran untuk pembangunan fasilitas publik, iuran ke amanan dari pihak aparat militer, maupun pengamanan terhadap para “preman” yang

104

tak jarang juga ingin mendapatkan sejumlah kucuran dana dari perusahaan. Tak jarang, warga lokal yang menjadi kelompok keamanan luar pabrik, juga dimanfaatkan oleh perusahaan untuk menghadapi desakan para buruh yang dipandang merugikan pabrik. Para buruh seringkali melakukan pemogokan dan demonstrasi menuntut kanaikan upah. Saat aksi buruh berlangsung, kelompok keamanan luar biasanya menghadang sejumlah buruh agar tidak ikut melakukan pemogokan. Tak tanggungtanggung, sejumlah buruh tersebut seringkali dijemput dari tempat kontrakkannya, dan diantar langsung sampai ke pabrik agar tidak dibujuk kawan buruh lain untuk mogok kerja. Ada pula cara lain yang ditempuh perusahaan. Lewat kelompok keamanan luar tersebut, aksi demonstrasi buruh juga sering dihadap-hadapkan secara langsung di lapangan. Untuk memperkuat kelompok keamanan luar, pihak perusahaan juga seringkali “membayar” aparat militer (kepolisian dan TNI) untuk berada di bela kang kelompok keamanan luar. Mereka kemudian berusaha membubarkan demonstrasi para buruh. Tak jarang disertai teror dan acaman kekerasan dengan senjata tajam dan senapan. Maka, dapat diperkirakan, kondisi yang demikian, tentunya menyimpan potensi konflik y bisa memicu kondisi ang chaos. Potensi konflik antara warga lokal dan para buruh bisa saja meletus dalam bentuk-bentuk yang tidak sehat (Wawancara Otoy, Cikupa 22 Desember 2006).

105

3.

Pergeseran Budaya Agraris menjadi Budaya Industri (Modern) Pada era pendudukan kolonial hingga tahun 1970-an, bisa dikatakan,

kehidupan masyarakat Tangerang masih tetap bersifat agraris. Perubahan drastis terjadi seiring industrialisasi era Orde Baru. Salah satu unsur penting untuk mengetahui perubahan tersebut dapat ditinja u dari perubahan pemaknaan masyarakat terhadap fungsi tanah dan rumah pada era sebelum 70-an yang agraris menjadi kapitalis pada era selanjutnya.. Dalam logika akumulasi modal (kapitalisme), posisi tanah sebagai salah satu barang niaga utama yang memiliki nilai ekonomis, berimplikasi pada posisi fungsi tanah sebagai “komoditas strategis” yang

diperjualbelikan dengan nilai yang sangat tinggi. Seperti disebut oleh Arif Budiman: Dalam sistem kapitalis, tanah dihitung sebagai faktor produksi yang bisa dijadikan mesin pencetak laba. Tanah sebagai komoditas, tanah yang tidak produktif akan dialihkan fungsinya sebagai alat produksi yang menghasilkan nilai tambah (Arif Budiman, “Fungsi Tanah dalam Kapitalisme”, Jurnal Analisis Sosial edisi 3/Juli 1996, hal. 1112). Tanah tidak hanya berfungsi secara ekonomis tapi juga sosial yaitu sebagai alas hidup manusia sehingga posisinya vital, benda yang tak tergantikan, tak dapat dipindahkan, dan tak dapat diproduksi kembali (Noer Fauzi, 1996: 44). Tanah juga merupa kan seluruh bangunan pandangan hidup yang memberi arah bagi gerak proses kemasyarakatan, bertolak dari dialektika manusia dengan tanah. Bagi masyarakat desa yang masih agraris , tanah memiliki legitimasi territorial bagi sebuah komunitas,

106

sebagai sumber mata pencaharian, dan simbol identitas sebuah komunitas (Huzairin, 2002: 20) . Sebelum industrialisasi di Tangerang begitu gencar, dapat

digambarkan bahwa di atas lahan yang mereka miliki, didirikanlah rumah dengan pola saling berdekatan dengan saudara. Hal ini disebabkan oleh sistem pewarisan dimana sudah tradisi bahwa orang tua menyediakan rumah dan tanah untuk anak-anaknya sehingga dapat tinggal berdekatan. Juga alasan mata pencaharian, dimana umumnya bertani. Satu keluarga yang mempunyai lahan cukup luas maka ketika anaknya tumbuh dewasa mereka bersama dengan orang tuanya menggarap lahan yang biasanya berada di sekitar rumah. Maka ketika sang anak berkeluarga mereka cukup membangun rumah di dekat orang tuanya. Kedekatan ini mempermudah pekerjaan yang mereka lakukan karena lokasi rumah berada dekat dengan lahan pertanian (Huzairin, 2002: 46-47). Dalam studi yang dilakukan Huzairin terhadap perubahan struktur kepemilikan dan fungsi tanah di desa Cibogo, Kecamatan Cisauk, Kabupaten Tangerang, terdapat temuan yang cukup menarik. Sebelum tahun 70-an, tanah yang dimiliki masyarakat Ciboga berasal dari warisan turun temurun. Penduduk belum banyak, dan komunitas berkelompok berdasarkan hubungan darah. Sistem pembagian warisan banyak berdasar hukum waris dalam Islam dimana anak tertua laki-laki memperoleh hak waris yang lebih besar dibanding anak perempuan. Dengan mengolah lahan warisan itu, mereka dapat hidup berkecukupan. Pada masa itu hampir dipastikan tidak ada pengangguran. Biarpun hidup sederhana

107

(agraris) denga n produksi utama sebagai penghasil beras dan sayuran, kerajianan bambu, peralatan dapur dengan pemasaran hingga Jakarta Proses beralihnya dari generasi ke generasi (waris) menyebabkan kepemilikan tanah semakin menyempit/sedikit. Seiring penyempitan lahan yang dimiliki, hantaman “peradaban modern” yang dibawa oleh industrialisasi menyebabkan jurang nilai kecukupan hidup sangat mencolok. Sementara itu, hasil pertanian dari lahan yang semakin sempit tidak mencukupi kebutuhan hidup modern. Hal ini menjadi penyebab generasi 80-an mulai berpindah profesi di bidang non pertanian (Huzairin, 2002: 70-75). Setelah tahun 80-an, pola kepemilikan tanah berubah, banyak dijual ke tangan pendatang. Faktor -faktor yang mendorong penjualan antara lain: perta ma, pertanian hanya sebagai pekerjaan sambilan, pekerjaan utama: sebagai kuli pasir, dan pekerjaan lain yang bias rutin mendapat penghasilan dari pada bertani yang hanya dua kali setahun, itu pun kalau tidak gagal panen. Akibatnya, mereka mulai merasa bahwa tanah pertanian tidak lagi menopang hidup dan ketika pendatang data ng menjadi mudah menjualnya. Kedua , banyaknya pendatang dari daerah dekat kota yang digusur oleh pembangunan (dalam kasus desa Cibogo dari warga eks Bumi Serpong Damai). Mereka memilih ahan ke pinggir karena harga l tanah bisa lebih murah. Ketiga, harga tanah relative murah dan banyak dipilih “pendatang.” Keempat, keinginan yang tinggi untuk mengubah jenis rumah menjadi permanen, beratap genteng, sedang sebelumnya dari bilik bambu atau pa pan kayu. Pemugaran tersebut dilakukan dengan dana

108

dari penjualan tanah (Huzairin, 2002: 78-81). Dengan demikian, telah terjadi pergeseran fungsi dan nilai tanah. Pada era 70-an fungsinya hanya sebagai rumah, sawah dan tegalan, tetapi di era 80-an nilainya tidak hanya sebagai sumber penghidupan, pembentuk identitas lokal dan pembentuk pola pemukiman dengan tradisi transfer lewat pewarisan tetapi berubah menjadi bernilai ekonomi yaitu mulai diperjualbelikan karena harga terus meningkat. Memasuki era 90-an, k epemilikan warga Ciboga berkurang drastis, dimana hanya memiliki tanah untuk rumah dan pekarangan saja. Sebabnya, hasil pertanian dan perdagangan hasil tani tersisihkan non pertanian. Tanah banyak diborong oleh industri dan perumahan. Dibeli murah karena lokasinya berada jauh dari jalan, tetapi setelah dikuasai pengembang, dibangunlah jalan, akibatnya tanah menjadi naik harganya dan kemblai dorongan untuk menjual menjadi tinggi lagi Tabel 19. Kepemilikan Tanah Perusahaan dan Perseorangan Di Desa Cibogo
Nama Perusahaan Luas Yang dikuasai (Ha) 20 Tahun dibebaskan Kegunaan sebelumnya Kegunaan Sekarang

PT Sion

1994

Sawah

Galian pasir

PT Ustraindo

42

1988

Kebun/ ladang

Dibiarkan (rencana untk perumahan)

PT Eko Damai Mandiri

14

1992

Kebun/ ladang

Perumahan

109

PT Indo Kompas

13

1999

Kebun/ ladang

Galian pasir dan sebagian dibiarkan Bangunan rumah dan sebagian dibiarkan

Perseorangan

148,6

1983-2000

Kebun/ladang/ sawah

Sumber: Huzairin, 2002: 85

Dengan demikian pada era 90-an, sebagian besar lahan dimiliki orang luar Cibogo dan kepemilikan perusahaan. Sementara itu, fungsi tanah menjadi barang dagangan terutama sebagai kompleks perumahan, dan tambang pasir. Artinya, tanah bernilai sebagai komoditas, investasi, dan spekulasi karena harganya sangat tinggi. Selanjutnya, aktibvitas masyarakat Cibogo pun berubah menjadi ojek motor, kuli pasir, calo tanah, dan sektor informal lain (Huzairin, 2002: 88) Skema 1 Skema Motivasi Penjualan Tanah di Desa Cibogo

Pengaruh Internal (langsung) - kebutuhan ekonomi - produktivitas tani rendah - alternative kerja lain

Pengaruh eksternal (langsung): - harga jual tanah tinggi - calo yang dominan - permintaan tanah yang tinggi

Pengaruh Tidak Langsung perkembangan wilayah kota pengaruh budaya/trend aksibilitas lancar

,.

Dorongan menjual tanah (Sumber: Huzairin, 2002: 101)

110

Sejara lebih jauh, perubahan sosial di atas berimplikasi ke berbagai sisi. Pertama , terhadap tingkat kesejahteraan warga Cibogo, perubahan tersebut berdampak pada hilangnya kesempatan mengembangkan

produktivitas berbasiskan tanah (peternakan, perikanan) ka rena alat produksi tanah sudah tidak dimiliki lagi. Bahkan, pertanian sudah tidak mungkin tumbuh kembali. Juga, kehilangan area bermain anak-anak (lapangan bola, olah raga lainnya). Menjadi lebih ironis lagi, sebagian petani yang tersisa, justru menggarap lahan bukan milik mereka lagi. Padahal dulu adalah milik keluarga mereka. Dan banyak pemuda menjadi tukang ojek, calo tanah dimana dari pekerjaan itu nyaris sulit meningkatkan kesejahteraan mereka di masa mendatang termasuk anak anak mereka, dan hanya sebatas survival atau bertahan hidup saja. Kedua, terhadap sistem produksi lokal. Awalnya , Cibogo berfungsi sebagai pendukung kota Jakarta dengan memproduksi beras, sayuran dan kerajianan. Artinya tidak bergantung pada produksi orang lain. Ketika penjualan tanah diharapkan mendapatkan selisih harga yang

menguntungkan, me reka kehilangan alat produksinya (tanah) kemudian digantikan jasa tenaga mereka untuk alat produksin ya (kuli pasir dan buruh). Ketiga, terhadap sistem nilai budaya (reproduksi sosial), yaitu hilangnya tradisi pewarisan dimana menjadi bentuk tanggung jawab orang tua pada anak. Maka, hilang pula pola khas warga Cibogo. Akibatnya, kontrol pola pemukiman terlepas dari kendali mereka. Pembangunan fisik

111

desanya sudah lepas dari kontrol mereka. Sementara itu muncul stereotif bahwa status seseorang akan semakin meningkat bila membangun rumah permanen menggantikan rumah berdinding kayu dan bambu. Keempat, timbul potensi konflik. Para pemuda Cibogo disuguhi pemandangan aktivitas sosial warga pendatang yang kini menguasai lahan yang dulu dimiliki mereka sedangkan mereka sendiri justru tidak bisa mengaksesnya (contoh main sepakbola di pemukiman BSD). Hal ini menjadi latent conflict yang sewaktu-waktu bisa bergesekan antara “kelompok pendatang” dan “pribumi” (Huzairin, 2002: 102) . Skema 2 Alur Mata Pencaharian Generasi Cibogo setelah Era Industri

Lulus/putus sekolah

Mencari kerja di pabrik

Bekerja

Tidak diterima Ada modal
Dagang, ojek motor, ampra pasir

Tidak Ada modal
Setengah menganggur

Kuli pasir, sopir
Preman, calo tanah, parkir, dll

menganggur

(Sumber: Huzairin, 2002: 69)

112

4.

Pergeseran Konsep Keluarga dan Peran Perempuan Berkembangnya Tangerang menjadi kawasan pabrik dengan banyak

penduduk yang berprofesi sebagai buruh, ternyata tidak hanya berdampak pada tingkat kehidupan bermasyarakat dan keluarga, tetapi juga pada kehidupan buruh secara individual. Kehidupan masyarakat buruh sangatlah bergantung dari sumber penghidupannya yang dipastikan tak akan jauh-jauh dari pengaruh pabrik tempat ia berkerja. Mereka hidup dalam kebiasaan yang ditentukan oleh pabrik seperti kapan saat bekerja, kapan saat pulang, kapan terima gaji, dan berapa besar gajinya, hingga bagaimana buruh memanfaatkan waktu di luar pabrik untuk bersama dengan anak dan istri di keluarga. Ketentuan pabrik yang memberlakukan upah murah dengan sendirinya akan berdampak pada pola konsumsi serta upaya memenuhi kebutuhannya yang terus melambung. Saat upah dirasa kurang, maka mereka akan mencari tambahan lewat ruang-ruang yang tersedia seperti menjadi tukang ojek, berjualan makanan, atau menjalani kerja lembur. Dalam salah satu cerita buruh, fenomena yang mengemuka adalah berkembangnya buruh perempuan. Para istri maupun buruh perempuan lajang kini semakin membanjiri pabrik. Mereka lebih mudah diterima bekerja di pabrik karena menurut pihak perusahaan, kalangan perempuan cenderung lebih bisa diatur dari pada kaum laku-laki. Kemudian bila dilihat dari upah yang harus diberikan sesuai peraturan yang berlaku, maka upah buruh perempuan relatif lebih kecil sehingga bisa mengurangi beban

113

biaya produksi pabrik. Contohnya, bagi buruh perempuan dengan status pekerja tetap tidak perlu menerima tunjangan keluarga (suami dan anak). Selain itu, maraknya buruh perempuan masuk pabrik juga erat kaitanya dengan tingkat upah yang diterima buruh laki-laki yang sudah berkeluarga, semakin tidak mencukupi biaya hidup keluarga mereka. Untuk itu, kaum istri kemudian ikut membantu mengatasi problem tersebut. Mereka berdua kemudian bekerja di pabrik sedang anak mereka kemudian dititipkan pada orang tua di kampung, atau saudara terdekat. Dengan kondisi seperti itu, kehidupan keluarga mereka bisa berjalan. Sementara itu, dengan ritme hidup demikian, maka relasi suami-istri-anak pun ikut terbentuk atau terpengaruhi.

5.

Konflik Perburuhan: Buruh Melawan Koalisi Majikan dan Rezim Konflik buruh dan majikan atau pihak ma nagemen perusahaan

terjadi karena benturan kepentingan yang bertolak belakang (kontradiksi kelas). Menurut Karl Marx, kontradiksi tersebut berupa kecenderungan buruh untuk mendapatkan upah yang sebesar -besarnya sementara pihak majikan menghendaki upah yang sekecil-kecilnya. Kontradisksi tersebut melahirkan konflik dalam berbagai bentuk. Pemicu konflik buruh dapat beraneka ragam seperti: perselisihan upah minimum, tuntutan kenaikan upah, upah lembur, jam kerja, keselamatan kerja, THR dan lain -la in. Dalam memperjuangkan

kepentingan buruh, biasanya mereka menggalang kekuatan dengan

114

berserikat. Sementara itu, pihak perusahaan biasanya tidak hanya bermain di tataran lokal tetapi juga di tataran institusi negara baik di bidang hukum maupun keamanan. T heran bahwa selama Orde Baru, banyak aksi ak buruh yang kemudian diredam dengan kekuatan militer. Kecenderungan negara yang memihak kaum pemegang modal mengingatkan kita pada pelaksanaan kebijakan kolonial yang juga cenderung berpihak pada kaum tuan tanah. Tabel 20. Kasus Pemogokan Serta Tenaga Kerja Yang Terlibat Dan Jam Kerja Yang Hilang Tahun 1981-1999
TAHUN 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 KASUS 200 241 96 63 78 75 35 39 19 61 130 251 185 278 276 350 287 234 125 TENAGA KERJA TERLIBAT 54 875 49 525 23 318 10 836 21 148 16 831 8 281 7 544 1 168 27 839 64 474 176 005 103 490 136 699 128 855 221 537 145 559 152 493 48 232 JAM KERJA HILANG 495 144 501 236 295 749 62 906 55 001 117 643 35 664 607 265 29 257 229 959 534 610 1 019 654 966 931 1 226 940 1 300 001 2 497 973 1 225 702 12 254 915 105

Sumber : Data Direktorat Persyaratan Kerja - Ditjen Binawas 1981 - 1999

115

Hingga memasuki era reformasi, problem kehidupan buruh makin beragam. Ragam problem tersebut juga terkait dengan pola kebijakan yang ditentukan oleh negara. Tengok misalnya tentang UU No 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, UU No 21 tahun 2000 tentang Serikat Buruh, UU No 2 tahun 2004 yang mengatur tentang PPHI, Permen Menaker No.17/2005 tentang penentuan upah minimum provinsi (UMP). Di antara regulasi tersebut telah membuka fenomena sistem kerja outsourcing yang makin menjamur, melemahnya kekuatan buruh untuk menuntut tingkat upah, dan sulitnya mereka memperjuangkan

kesejahteraan melalui jalur yang sudah ditentukan. Outsourcing telah menimbulkan semakin sedikit pabrik yang menerapkan status pekerja tetap bagi para buruhnya dan banyak pabrik yang melakukan PHK massal. Kemudian, para buruh sering harus menjalani kerja yang berpindah -pindah karena masa kontraknya tidak diperpanjang. Pola seperti ini tentunya membawa dampak pada ketidakpastian masa depan kehidupan mereka. Sementara tatkala mereka memperjuangkan kenaikan upah, itu pun tidak mudah, bahkan seringkali gagal.

6.

Pencemaran dan Kerusakan Biosfer Menurut Arnold Toynbee (2007: 11-12), biosfir adalah suatu lapisan

tanah kering, air, dan udara yang tipis yang menyelimuti planet bumi kita. Dalam biosfir inilah, berlangsung kehidupan flora, fauna, dan manusia. Ciri dari biosfir yang sangat signifikan adalah ukurannya yang relatif

116

terbatas kecil dibandingkan alam semesta dan terbatas sumber-sumber yang disediakannya untuk kehidupan. Umur keberadaan biosfir masih sulit diungkap secara pasti oleh ilmu pengetahuan, tetapi diyakini sudah jutaan tahun yang lalu. Dalam perjalanannya, biosfir mengalami banyak perubahan. Hal yang paling mencolok pada dewasa kini adalah perubahan akibat budaya manusia terutama se jak revolusi industri di abad 18 hingga sekarang ini. Ilmu pengetahuan dan teknologi buatan manusia telah menempatkan manusia sebagai “penakluk” biosfir. Akan tetapi, dala m eksplorasi manusia dalam biosfir, ternyata juga menimbulkan konsekuensi negatif. Peradaban industri telah memproduksi bahan material yang mengancam biosfir sebagai tempat kehidupan. Ini pula yang terjadi akibat industrialisasi di Tangerang. Seperti kita ketahui bersama, perkembangan kebutuhan manusia sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk manusia dan

perkembangan kebudayaannya. Perkembangan ini mulai mendorong manusia untuk memenuhi kebutuhannya diduga telah menimbulkan benturan lingkungan sosial dan mendesak serta mengubah lingkungan alami, sehingga kalau tidak terkendalikan, tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya tidak tercapai secara berkesinambungan Dinamika penduduk yang tinggi disertai dengan meningkatnya berbagai kebutuhan, apabila terjadi pada tempat yang terbatas maka akan menimbulkan persoal n lingkungan fisik alam dan sosial yang semakin a rumit. Meningat dinamika penduduk yang cukup tinggi dan pada giliranya menyebabkan tingginya kebutuhan akan fasilitas untuk menunjang

117

kehidupannya maka tidak ada pilihan lain kecuali mempercepat laju pertumbuhan pembangunan (atau aktivitas ekonomi), membutuhkan sumber daya alam. Ini memperlihatkan bahwa perubahan fisik alam dan lingkungan hidup pada dasarnya timbul akibat adanya aktivitas pembanguna n untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Kenyataan ini telah menempatkan faktor penduduk sebagai faktor utama dari aktivitas ekonomi dan perubahan lingkungan baik fisik maupun sosial. Hal ini selanjutnya melandasi bahwa perubahan jumlah dan aktivitas penduduk yang mendorong laju pembangunan di Tangerang telah menimbulkan terjadinya perubahan terhadap lingkungan hidup dan lingkungan fisik lainnya seperti perubahan dalam peruntukan lahan permukiman, kegiatan industri dan perdagangan, prasarana jalan dan jembata n, kebutuhan air bersih dan energi (Taqim, 1997: 33-34). Tahun 1990, ada 660 buah industri di kotamadya Tangerang. Menurut Neraca Kependudukan dan Lingkungan Hidup (NKLD) Kotamadya Tangerang tahun 1994 beb an pencemaran udara yang bersumber dari 225 buah industri diperkirakan debu sebanyak 157.133,7 ton per tahun, SO2 sebanyak 16,89 ton per tahun, NO2 sebanyak 658.895,27 ton per tahun, THC sebanyak 76.451,55 ton per tahun, CO sebanyak 4.730 ton per tahun dan lainnya sebanyak 377,44 ton per tahun. Beban penc emaran air: BOD sebanyak 97.323,01 ton per tahun, COD sebanyak 115.829,8 ton per tahun, SS sebanyak 1.741,53 ton per tahun, TDS sebanyak 15.811,68 ton per tahun dan lainnya 191.941,66 ton per tahun. Tahun 1994, Volume limbah dari industri di Kodya Tangerang

118

dari semua industri ini diperkirakan sebanyak 137.460.710 meter kubik per tahun (Taqim, 1997: 102-103). Sementara itu, berdasar analisi kualitas air yang dilakukan oleh TP2K (Team Pelaksanan Program Kebersihan) BKPMD terhadap 17 industri yaitu: PT Pelita Cengkareng Paper, PT IWWI, PT Sari Mie Asli Jaya, PT Bapak Jenggot, PT Yasulintex, PT Karya Indonesia, PT Aneka Karton Elok , PT Polkrik Jaya Chemical, PT Danto Tile Indonesia, PT Surya Toto Indonesia, PT Indah Kiat, PT Tifiko, PT Kusafiber, PT ITS, PT Argo Pantes, PT Yasinta Poli, PT Multi Bintang terbukti bahwa: Sebagian besar memiliki kadar pencemaran di atas ambang toleransi terutama apabila didasarkan pada Baku Mutu Air Limbah Golongan I (KEPMEN KLH 1988) yang meliputi kadar pencemar KOK (Kebutuhan Oksigen Kimiawi), KOB (Kebutuhan Oksigen Biologis), NO2, NH4, Cr, Mn, Fe, Pb, dan lain -lain (Rizal, 1993: 64). Tingkat pencemaran diperparah dengan kecenderungan pola

pemukiman yang berada di sekitar industri. Alasan para penghuni pemukiman di sekitar industri adalah agar dapat menekan biaya sosial para buruh. Akibatnya : banyak buruh tinggal berdekatan dengan daerah

pembuangan limbah industri, di sekitar kawasan industri timbul kemacetan akibat pemadatan penghunian, pencemaran sungai dan pertanian . Pada tahun 1990 ditemukan indikasi kuat bahwa Sungai Cisadane tercemar dengan tingkat pencemaran terus meningkat. Berdasarkan Laboratorium, pencemaran Biologi Oksigen Demont (BOD) pada air sungai Cisadane tercatat 2 Ppm. Padahal, sebelumnya hanya antara 1 – 1,5

119

Ppm sedangkan ambang toleransi sebagai air bakunya hanya 3 Ppm (Rizal, 1993: 75). Bila kondisi ini terus terjadi beberapa tahun mendatang, bukan mustahil perusahaan air minum seperti PDAM Tirta Kerta Raharja Tangerang dapat berhenti beroperasi karena bahan baku air tak layak lagi diolah. Sebab, dengan memaksakan PDAM tetap beroperasi, maka ia telah melakukan upaya “peracunan” terhadap warga yang mengkonsumsi air PDAM. Materi pencemaran air yang dikonsumsi manusia secara perlahan akan mengakumulasikan tingkat keracunan pada tubuh manusia yang menimbulkan penyakit kanker. Hal ini bukanlah suatu yang mengada -ada. Indikasi yang paling kuat dwewasa ini adalah punahnya keragaman jenis ikan yang dulu menjadi menjadi kekayaan Cisadane. Keragaman jenis ikan sekarang telah digantikan dengan satu jenis ikan bernama ikan sapu-sapu (www.kompas.com). Maka tak mengherankan ketika pada tahun 2007, Kabupaten Tangerang meraih predikat kota besar terkotor se-Indonesia dalam penilaian program Adipura 2007. Salah satu kabupaten di Provinsi Banten ini menjadi satu-satunya kota besar di Indonesia yang memperoleh peringkat nilai "jelek", yakni 53,52. Sementara itu, Kota Tangerang hanya berada dalam posisi kedua terbawah sebagai kota metropolitan terkotor dengan kategori nilai "cukup", yaitu 64,44. Penilaian tersebut langsung dilakukan oleh Kementrian Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar, berdasarkan sejumlah indikator, di antaranya kondisi jalan kota, pasar, terminal, sungai, jumlah taman kota, dan lain-lain. Hingga tahun 2008, Tangerang masih tetap berpredikat sebagai kota kotor.

120

Mencermati tingkat pencemaran lingkungan di Tangerang seperti dipaparkan di atas, maka kekawatiran akan hancurnya lingkungan hidup yang sehat, bukanlah suatu hal yang mengada -ada. Kekawatiran ini senada dengan apa yang telah dipaparkan oleh Arnold Toynbee (2007: 764) dalam bukunya Sejarah Umat Manusia. Senyatanya, manusia masih mempunyai harapan untuk bertahan hidup di biosfer ini selama 2.000 juta tahun mendatang, jika perilakunya tidak terlalu cepat membuat biosfer ini tak bisa ditinggali. Kini, manusia mempunyai kekuatan material untuk membuat biosfir ini segera tak bisa ditinggali lagi. Karenanya, mungkin orang-orang yang masih bisa menghirup udara segar sebentar lagi akan dilibas oleh bencana buatan manusia yang menghancurkan biosfir dan manusia beserta seluruh bentuk kehidupan lainnya.

Dalam skripsi ini, uraian mengenai implikasi penetrasi modal era Orde Baru, sesungguhnya masih bersifat gambaran umum. Penulis sengaja hanya

memberikan pemetaan umum dari dampak-dampak yang ditimbulkan oleh aktivitas akumulasi modal di Tangerang. Untuk bisa mendapatkan data dan fakta yang lebih akurat hingga dapat digunakan sebagai pertimbangan penentuan kebijakan pembangunan Tangerang di masa mendatang, seharusnya diperlukan penelitian secara lebih mendalam dan lebih fokus. Salah satu contohnya mengenai tingginya konflik di bidang perburuhan. Dalam persoalan ini, tidak cukup hanya dilihat dari kacamata penetrasi modal, tetapi juga perlu dikaji dari kebijakan pemerintah secara nasional dalam mengatur sistem ketenagakerjaan, persfektif hak-hak asasi kaum buruh terutama buruh perempuan, serikat buruh, kontribusi buruh terhadap pembangunan nasional, hingga sejarah perlawanan kaum buruh terhadap perusahanan dan pemerintah. Demikian halnya dengan soal pencemaran

121

lingkungan, tata ruang, perubahan tingkat kesejahteraan warga pribumi dan pendatang, dan sebagainya, seharusnya diperlukan penelitian lebih lanjut. Dengan demikian, setiap dampak dari penetrasi modal sesungguhnya dapat menjadi tema baru yang menarik untuk dikaji secara mendalam. Walaupun pemaparan implikasi penetrasi modal era Orde Baru dalam skripsi ini masih bersifat umum, paling tidak dapat dirumuskan beberapa catatan penting yang dapat menjadi acuan penelitia n selanjutnya. Beberapa catatan penting yang dapat penulis rumuskan antara lain: pertama, bahwa dibandingkan pada era Kolonial Belanda, implikasi penetrasi modal era Orde Baru jauh lebih kompleks dan makin meningkat. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya masalah anti Cina, kesenjangan miskin-kaya, ataupun konflik antara kelas penghisap dengan kelas terhisap, tetapi juga menimbulkan permasalahan krusial yang baru dan belum pernah terjadi pada era sebelumnya. Yang sangat mencolok adalah faktor kerusakan lingkungan dan tata ruang kota yang tidak terencana. Persoalan ini jelas tidak ada di era Kolonial. Justru di era Kolonial, alam Tangerang ditundukkan dan diatur untuk meningkatkan produksi pertanian, yaitu dengan pembangunan bendungan Cisadane. Dengan irigasi tersebut, peranan air Cisadane berguna untuk mengairi persawahan. Sedang di era Orde Baru, seiring persawahan digusur untuk industri, air Cisadane justru makin tercemar padahal menjadi sumber pemenuhan kebutuhan air PDAM menuju pemukiman warga Tangerang. Dengan demikian, ancaman bahaya bagi kesehatan akan diterima secara langsung oleh manusia. Kedua, bila pada era Orde Baru terjadi konflik antara pribumi melawan tuan tanah yang didukung pihak Kolonial Belanda , pada era Orde Baru juga

122

menunjukkan pola yang sama yaitu antara kaum pribumi dengan pihak pemilik modal yang didukung oleh pemerintah rezim Orde Baru. Bahkan ada kalanya, pada era Orde Baru, pihak pribumi mengalami konflik horizontal dengan warga pendatang. Dalam konflik horizontal ini, pihak pemilik modal (pabrik) seringkali menggunakan strategi “adu domba” dengan menempatkan warga pribumi sebagai tenaga pengamanan dalam menghadapi tuntutan para buruh yang mayoritas warga pendatang. Ketiga, baik di era Kolonial maupun era Orde Baru, kelompok yang relatif paling berat menanggung beban atau menjadi korban adalah warga pribumi. Di era Kolonial mereka diperas oleh kaum tuan tanah, di era Orde Baru, mereka harus merubah total budayanya. Kaum pribumi yang berbudaya agraris, secara perlahan digusur dari al t produksinya (tanah) karena dibangun pabrik, sehingga a terus bergeser ke daerah lebih pinggir dan harus meninggalkan sistem mata pencahariannya. Keahlian bertani tanpa menjual tenaganya harus ditinggalkan dan digantikan dengan kemampuan memasuki dunia pabrik. Jelaslah bahwa hal itu menjadi dunia baru. Akibatnya mereka kalah bersaing dengan warga pendatang yang lebih siap bekerja sebagai buruh. Di samping itu, bila sebelum industrialisasi mereka hidup relatif sederhana dari hasil pertaniannya, kini harus menjual tenaganya. Kesederhanaan warga pribumi sebelumnya justru dianggap oleh pemilik modal sebagai warga “pemalas” sehingga dinomorduakan dalam

perekrutan tenaga buruh. Pemilik modal justru lebih memilih menyerap tenaga kerja dari pendatang. Akibatnya, warga pribumi hanya mampu mengisi ruangruang baru yang berupa “remah-remah” penghidupan seperti menjadi tukang ojek, calo tanah, calo tenaga kerja, keamanan luar, preman, tukang parkir, bahkan

123

menganggur. Dengan mata pencaharian itu, masa depan dan tingkat kesejahteraan mereka jelas akan tidak jelas dan terancam.

124

BAB V PENUTUP

A.

Kesimpulan Berdasarkan temuan penelitian yang sudah dipaparkan pada bab-bab sebelumnya, penulis dapat menyimpulkan bahwa: 1. Daerah Tangerang baik pada era kolonial (1684-1942) maupun pada masa Orde Baru (1966-1998) menjadi ajang aktivitas untuk akumulasi modal dika renakan faktor kekayaan alam, potensi sumber daya manusia, dan letak geografis yang sangat strategis yaitu berdekatan langsung dengan pusat kekuasaan. Pada masa pendudukan VOC dan Belanda, Tangerang berbatasan dengan Batavia dimana Tangerang dijadikan daerah partikelir untuk menghasilkan produk pertanian. Sedangkan pada masa Orde Baru, Tangerang diarahkan menjadi penyangga Ibu Kota Jakarta terutama sebagai daerah pemukiman bagi tenaga kerja yang menjalankan mesin industri, daerah perdagangan, dan kawasan industri. 2. Untuk mencapai tujuan penetrasi modal, VOC dan Kolonial Belanda menjalankan suatu kebijakan yang dapat diklasifikasikan dalam beberapa pola yaitu: tahap merebut daerah Tangerang dari Kasultanan Banten, menerapkan sistem feodal, menjadikan daerah Tangerang sebagai daerah partikelir atau swasta dimana pelaksanaannya bersifat diskriminatif, memperkuat sistem pemerintahan, pembangunan

infrastruktur, dan akhirnya upaya peningkatan produksi.

125

3.

Kebijakan VOC dan pemerintah Kolonial Belanda yang sangat diskriminatif antara etnis Tionghoa (tuan tanah) dan pribumi (petani dan buruh tani) dimana etnis Tionghoa jauh lebih diuntungkan daripada pribumi mengakibatkan suburnya perasaan anti Cina. Kaum pribumi yang menyadari ketertindasan, penghisapan, dan ketidakadilan sampai akhirnya tak tertahankan kemudian meletup dalam suatu gerakan pembrontakan yang ditujukan pada tuan tanah dan pemerintah kolonial. Ada indikasi bahwa perasaan anti Cina masih menjadi memori sosial dimana sewaktu-waktu dapat meletup kembali seperti dalam peristiwa Poh An Tui dan kerusuhan 13-15 Mei 1998.

4.

Sementara itu, penetrasi modal pada masa Orde Baru dapat diklasifikasikan dalam beberapa pola antara lain: tahap membuka investasi atau penanaman modal asing dan nasional, tahap menjadikan Tangerang sebagai daerah penyangga DKI Jakarta, tahap

pembangunan infrastruktur industri, tahap pembangunan kawasan pabrik melalui pengambilalihan lahan warga dan penataan ulang penduduk. 5. Implikasi yang cukup mencolok dari penetrasi modal pada era Orde Baru antara lain: tata ruang kota yang dikooptasi oleh kepentingan modal sehingga terjadi tata lingkungan yang tidak sehat dan tertib, terjadi ledakan penduduk dimana antara pendatang dan warga asli terjadi gesekan sosial yang berpotensi tinggi tumbuh konflik sosial, terjadi pergeseran budaya agraris ke modern yang sangat drastis dimana tingkat kesejahteraan kaum pribumi justru ce nderung merosot

126

dibanding para pendatang dan pemodal, kemudian terjadi pergesaran konsep keluarga dan peran perempuan, tingginya konflik buruh dan

majikan atau perusahaan, dan yang terakhir adalah lingkungan Tangerang (biosfir) yang terancam mengalami kerusakan secara signifikan. Dari seluruh implikasi di atas, dapat ditarik satu lagi kesimpulan kunci yaitu bahwa penetrasi modal pada masa kolonial dan dilanjutkan era Orde Baru menunjukkan kompleksitas dampak negatif yang terus meningkat. Salah satunya, soal ancaman kerusakan lingkungan Tangerang akibat limbah industri yang baru

memprihatinkan di era Orde Baru. Sementara di masa kolonial, lingkungan alam Tangerang relatif terkendali. B. Saran 1. Dalam menentukan kebijakan pembangunan daerah Tangerang (Pemda Kabupatan Tangerang dan Kota Tangerang) hendaknya benar-benar memperhatikan secara menyeluruh (utuh) terhadap kelemahan, kelebihan, dan potensi tidak yang dimiliki secara Tangerang dimana sehingga hanya

pembangunan

berjalan

pars ial

menguntungkan satu sisi saja tetapi merugikan sektor lainnya. Misalnya , dalam perijinan pembangunan pemukiman harus tertib pada ketentuan hukum dan rencana tata ruang sehingga tidak menyala hi tata guna lahan. 2. Sepanjang sejarah perubahan sosial masyarakat Tangerang dari era kolonial hingga Orde Baru, secara jelas tergambar bahwa kepentingan

127

akumulasi modal selalu menjadi faktor pendorong perubahan. Dalam logika akumulasi modal, keuntungan bagi pemilik modal cenderung menjadi tujuan utama yang seringkali justru berdampak merugikan pada masyarakat umum dan lingkungan sosialnya. Maka, perlu kiranya baik pemerintah daerah Tangerang maupun pemerintah pusat selalu mengontrol dan mengendalikan kegiatan akumulasi modal sehingga tidak secara terus-menerus merugikan masyarakat dan m enghindari kerusakan lingkungan secara lebih jauh. 3. Di masa mendatang, dalam menentukan kebijakan terkait penetrasi modal, hendaknya pemerintah daerah Tangerang terlebih dahulu didasari penelitian mendalam yang bisa melibatkan ahli lingkungan (ekologi) d ahli ilmu sosial (termasuk sejarawan) untuk menekan an kecenderungan implikasi negatif dari perilaku akumulasi modal yang cenderung destructive bagi lingkungan hidup (biosfir).

128

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku Anantatoer, Pramoedya. 1982. Tempo Doeloe . Jakarta: Hasta Mitra _________ 1998. Hoakiau Di Indonesia. Jakarta: Garba Budaya Brousson, H.C.C Clockener. 2007. Batavia Awal Abad 20. Jakarta: Masup Jakarta. Castles, Lance. 2007. Profil Etnik Jakarta. Jakarta: Masup Jakarta. Djojohadikusumo, Sumitro. 1991. Perkembangan Pemikiran Ekonomi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Ekajati, Edi S. dkk. 2004. Sejarah Kabupaten Tangerang . Tangerang:. Pemerintah Kabupaten Tangerang. ______. 1995. Kebudayaan Sunda, Suatu Pendekatan Sejarah . Bandung: Pustaka Jaya . Fauzi, Noer. 1997. Tanah dan Pembangunan, Risalah Dari Konferensi INFID ke -10, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. _________. 1999. Petani Dan Penguasa, Dinamika Perjalanan Politik Agraria Indonesia. Yogyakarta: Insist, Konsorsium Pembaruan Agraria, Pustaka Pelajar. Gottschalk Lois. 1985. Mengerti Sejarah , terjemahan Nugroho Notosusanto. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Halim, Wahidin. 2005. Ziarah Budaya Kota Tangerang Menuju Masyarakat Berperadaban Akhlakul Karimah. Jakarta: Pendulum. Hardjasaputra, A. Sobana. 1985. Bupati -Bupati Priangan; Kedudukan dan Peranannya Pada Abad ke-19. Tesis. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Huzairin, Achmad. 2002. Perubahan Struktur Kepemilikan Dan Fungsi Tanah, Studi Kasus: Masyarakat Desa Cibogo Kecamatan Cisauk Kabupaten Tangerang. Depok: Universitas Indonesia. Kuntowijoyo. 1995. Pengantar Ilmu sejarah, Yogyakarta: Bentang Budaya .

129

Marx, Karl. 2004. Kapital Buku I. Edisi Terjemahan Oey Hay Djoen. Jakarta: Hasta Mitra. __________ 2006. Kapital Buku II. Edisi Terjemahan Oey Hay Djoen. Jakarta: Hasta Mitra. Mubyarto, 1992. Ekonomi dan Struktur Politik, Orde Baru 1966 -1971, Jakarta: LP3ES. Multatuli. 1975. Max Havelaar. Jakarta: Djambatan. Murtono. 1998. Proses Transformasi Masyarakat ertanian Menuju Masyarakat Industri, Studi Kasus Tangerang, Bekasi, Bogor. Jakarta: Universitas Indonesia. Rizal, Syamsul. 1993, Pemberian Ijin Lokasi Pemukiman Dan Industri Dalam Kaitannya Dengan Penataan Ruang. Jakarta: Universitas Indonesia. Sadyohutomo, Ir. Mulyono, MRCP. 2008. Manajemen Kota dan Wilayah, Realita dan Tantangan. Jakarta: Bumi Aksara. Scheltema, A.M.P.A. 1985. Bagi Hasil Di Hindia Belanda. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Setyanto, Guntur. 2000. Interaksi Sosial Etnis Tionghoa Dan Pribumi, Studi Kasus Di RT 03 RW 06 Kelurahan Neglasari Kecamatan Batuceper Kodya Tangerang . Jakarta: Universitas Indonesia. Soetopo, Toni. 1999. Dampak Proses Pembangunan Terhadap Kualitas Hidup Masyarakat Lokal, Studi Kasus 3 Desa Kota Baru andiri Bumi Serpong Damai, tangerang, Jawa Barat. Jakarta: Universitas Indonesia. Suhendar, Endang. 1994. Pemetaan Pola-Pola Sengketa Tanah di Jawa Barat. Bandung: Yayasan AKATIGA. Suryana. 1998. Kontribusi Pembangunan Perumahan Dan Permukiman Terhadap Pendapatan Daerah Dan Beban Pemerintah Daerah Dalam Pembiayaan Prasarana Lingkungan, Fasilitas Sosial, Dan Utilitas Umum, Suatu Studi Kasus Di Kabupaten Daerah Tingkat II Tangerang. Jakarta: Universitas Indonesia. Suryana, Nana et al. 1992. Sejarah Kabupaten Banten. Tangerang: Pemda Tk II Tangerang dan LPPM UNIS Tangerang. Sutiyoso. 2007. Megapolitan. Jakarta: Gramedia.

130

Taqim, Nursiwan. 1997. Analisis Dinamika Penduduk Terhadap Perubahan Fungsi Lahan di Kotamadya Tangerang. Jakarta: Universitas Indonesia. Thahirudin. 1971. Sekilas Lintas Kabupaten Tangerang. Tangerang: Pemda Tk. II Tangerang. Tjondronegoro, Sediono MP. 1999. Sosiologi Agraria Kumpulan Tulisan Terpilih. Bandung: Akatiga. Toynbee, Arnold. 2007. Sejarah Umat Manusia, Uraian Analitis, Kronologis, Naratif, dan Komparatif. Jakarta: Pustaka Pelajar. Yunus, Hadi Sabari, MA. 2006. Megapolitan, Konsep, Problematika, dan Prospek. Yogyakarta: Pustaka Pelajar B. Jurnal Penelitian: Arif Budiman, “Fungsi Tanah dalam Kapitalisme”, Jurnal Analisis Sosial edisi 3, Juli 1996. Supriono, Jurnal Penelitian Buruh, Desember 2006. Summary Diskusi Perburuhan Elsam, 29 Oktober 2007. Transkripsi Diskusi Bulanan Akatiga dengan tema Analisis Kelas dan Ilmu Sosial Indonesia dengan presentasi yang disampaikan oleh Hilmar Farid, 05 November 2007. C. Transkripsi Wawancara: Transkripsi Wawancara dengan Abah Nang, Cikupa 5 Januari 2007 Transkripsi Wawancara dengan Abdul Mutoi (Otoy), Cikupa 22 Desember 2006 D. Kliping Berita dan Artikel Internet: “Dinas Tata Ruang Akui Abaikan Perda”, Rabu, 12-Maret-2008, 06:59:42, http://www.radarbanten.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle& artid=23631 “Kabupaten Tangerang”.bdk: http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Tangerang

131

Perdana, Ari A. September 2001. “Peranan Kepentingan dalam Mekanisme Pasar dan Penentuan Kebijakan Ekonomi Indonesia”, CSIS Working Paper Series, Bdk: http://www.csis.or.id/working_paper_file/22/wpe061.pdf Prabowo, Hermas Efendi. ”PDAM Ditengah Industri yang Bandel", Kompas, 21 Mei 2004. Widodo, Ruseno. “Pembangunan Perkim”, 05/09/2007, bdk: http://www.tangerangkota.go.id/view.php?mode=71&sort_no=6 ______ . “Sungai Cisadane Tercemar, PDAM Tangerang Dapat Berhenti Beroperasi”, 16/01/2004. bdk: http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0401/16/metro/805517.htm

LAMPIRAN 1

LAMPIRAN 2:

LAMPIRAN 3:

LAMPIRAN 4:

LAMPIRAN 5: Foto Pengrajin Topi Bambu Tangerang

LAMPIRAN 6: Cuplikan Transkripsi Wawancara Sejarah Perburuhan Yang Diselenggarakan oleh Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) Lokasi wawancara: Telaga Kocak, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang Tanggal wawancara: 22 Desember 2006 Nama Narasumber: Otoy (Nama Samaran) Pewawancara: Pray de Ferri Catatan: Transkripsi ini sesungguhnya mencapai 52 halaman. Mengingat jumlah halaman yang terlalu panjang, berikut ini penulis lampirkan cuplikan beberapa halaman yang memuat informasi tentang bagaimana relasi antara pabrik, warga pribumi, dan pendatang. Otoy adalah salah satu warga Tangerang yang menjadi salah satu “pengaman luar” merangkap sebagai calo tenaga kerja yang bertanggungjawab secara tidak langsung kepada pihak pabrik. Cuplikan diambil dari rekaman kaset 2 side A, halaman 24 hingga kaset 3 side A, halaman 37. J adalah keterangan narasumber, T adalah pewawancara. J: ... kalau istilahnya, kalau saya mau jadi calo beneran, menjadi penyalur tenaga kerja. Karena kita pikir Mas, kalau orang masuk satu juta satu orang, sepuluh orang sepuluh juta. Satu pabrik saja bisa kita masukin kan kita dulu itu. Sekarang saja sudah ada dua juta setengah, dua juta pingin masuk kerja ya. Saya kadang-kadang, “A duh, orang ini saya bilang, dua juta nyari dari mana, sedangkan dia, saya pikir dia pingin kerja, apa mungkin dia itu dari rumahnya itu ngejual apa, apa ngejual tanah, apa ngejual apa?” Karena orang yang berani mahal itu, yang pingin kerja itu orang luar itu, kayak semacam dari Sumatera, dari Solo, apa dari mana, kan gitu. Kadang-kadang saya nggak gitu, kalau saya bantu kalau ada kerjaan, ada lowongan saya bantu, kalau nggak ada, “T olonglah nyari ke orang lain saja ,” kan gitu. Sebenarnya orang-orang, preman-preman itulah, setiap jatah ada lowongan itu yang dapat duit. T: Ada premannya juga, ya? J: Itu yang saya bilang grup tujuh itu. T: Grup tujuh. Dia dari Talaga juga? J: Dari Talaga . T: Apa kerjaan mereka? J: Ya, kerjaan dia itu, ya sebatas keamanan luarlah, ngakunya kan gitu. Keamanan luar, dia setiap pabrik dapat jatah kan, ada yang satu juta, ada yang 500 ribu, dan ada yang 800 ribu. Ya, intinya sih katanya keamanan luar, kan gitu. Dia masing pabrik -pabrik saja sampai sekarang juga sudah mempunyai jatah, kan gitu. T: Digaji sebulan? J: Sebulan dapat jatah, ya digajilah, kan gitu. T: Itu pasti itu? J: Itu sudah pasti, sampai sekarang juga masih ada Stenly [nama pabrik] saja sudah satu juta, KMK sudah satu juta.

T: J: T: J: T: J: T: J: T: J: T: J:

T: J: T: J: T: J:

T: J:

T: J: T: J:

Berapa? Apanya? Maksudnya, setiap pabrik itu pasti jatah, ya? Pasti dapa t jatah, pasti ngasih jatah. Di kawasan? Di kawasan sini. Ada berapa pabrik, sih? Di sini: KMK, Starmas, Baiksan, Koyo, kurang lebih 10-lah. Setiap pabrik jatah tujuh orang itu? Paling gede sejuta. Untuk tujuh orang? Tujuh orang, enam, yang satunya kan sudah nggak aktif, Haji Lan itu, karena dia sudah nggak mau. Cuman dia membantu, karena dia bos limbah [sisa -sisa pabrik yang tak digunakan tapi laku dijual] , karena bos limbah, enam, enam orang . Ya, tujuh oranglah, karena ada yang ngikut lagi itu, nambahin satu. Bukan satu orang satu juta ya? Nggak, nggak, satu juta itu dibagi tujuh. Bervariasi sih Mas, nggak semua sejuta, ada yang 500, itu sudah yang paling kecil 500. Antara 500 sampai sejuta saja sudah. Tugas merek apa, fungsi-fungsinya? a Fungsi-fungsi dia sebenarnya katanya sih ngamanin pabrik gitu. Maksudnya ngamanin dari? Dari luar, kayak orang yang demo, segala mungkin ada yang pemalakan pemalakan dari pungutan liar, dari preman lain gitu, apa mungkin dari orang luar yang sekiranya nggak dikenal mau minta jatah ke pabrik. Karena kalau dia sudah punya itu, dia yang menghalangi, gitu. Kayak macam sumbangan sumbangan liar, intinya gitu. Cuman saya pikir sampai sekarang juga sebenarnya keamanan luar itu nggak ada fungsinya sama sekali. Apa yang sebenarnya dia bilang keamanan luar, ya intinya dia sebenarnya , dia pingin duitnya doang. Karena apa? Yang saya tahu yang kemarin-kemarin demo saja, dia juga memanfaatkan juga orang yang demo Misalnya gimana? Misalnya, yang kemarin Panah Forest, demo kayak macam KASBI [nama serikat buruh] itu, ya. Dia itu, KASBI itu, saya nggak tahulah, KASBI itu apa yang di Panah forest itu kan. Orang Panah Forest kan membayar dia kan satu bulan itukan jatahnya 500 ribu. Dia kan waktu itu ada yang demo, orang pabrik kan sudah pasti mengundang dia karena dia sudah dapat jatah kan, keamanan luar, kan kalau itu kan sudah tugasnya keamanan luar, bukannya tugasnya satpam lagi. Panggillah dia, tapi dia secara ini mau dia, mau membubarkan itu, tapi dengan satu syarat dia minta bayaran lagi. Oh gitu, Itu Tapi kan sudah dijatah sebulan? Nah, padahal sudah dikasih jatah satu bulan. Di situkan dia kadang-kadang manfaatin pabrik yang butuh juga, padahal dia sudah dibaya r. Nggak sanggup gitu, misalnya dia untuk membayar gitu. Ya dibubarin, ya ternyata ya kata dia , “Ya sudahlah tolong” , katanya kan. Dikasihlah, “Ntar kalau misalkan sudah

T: J: T: J: T: J:

T: J: T: J:

T: J:

dibubarkan saya kasih”. Ternyata selama orang KASBI demo di situ, dia diminta bantuan, ya dapat juga kan? Barang satu orang 100 ribu kan, tujuh orang, ya tujuh ratus kali dua hari, sejuta empat ratus. Mungkin yang saya tahu dia dibayar cuman 700. Untuk satu hari? Untuk dua hari itu. Dua hari. Lalu waktu itu kalau nggak salah ada polisi juga, ya? Nah, polisi juga yang dapat itu dua hari itu dibayar satu orang 100 ribu, kalau nggak salah, jumlah polisi itu lima. Satu hari 100 ribu? Lima orang 500. Saya juga sebenarnya dapat jatah juga, dikasih. Ya mungkin yang jatah aparat dimasukinnya mungkin jatahnya lima, ya ternyata aparatnya lima gitu, dimasukin saya satu jadi enam. Jadi, ya satu juta dua ratus , dua hari. Saya padahal nggak ikut apa, cuman ngelihatin saja (tertawa). Saya kalau dibutuhkan sama dia , ya sebenarnya saya nggak mau ngelarang orang yang kayak demo-demo kayak gitu, karena dia mau berjuang buat dia. Ya, kalau misalkan saya dikasih, siapa sih yang nggak mau kan gitu. Karena saya nggak minta dari hak-hak orang yang kerja , kan gitu. Saya dikasih orang perusahaan, di situ juga yang meminta ke perusahaan juga, ya teman saya, P ak Roy, selaku koordinator satpam itu. Saya dikasih sama dia dengan satu syarat, suruh minta bantuan, suruh ngantar orang yang kerja, ya saya anterin saja orang-orang yang kerja dari yang deket-deket rumah saya. Karena dia takut disuruh nggak masuk kerja gitu. Dia pikir, kalau saya demo takutnya kan diberhentiin yang cewekcewek itu. Saya antarkan empat orang, setelah itu, ya dua orang lagi saya suruh jalan saja, saya nunggu di belakang. Ya sudah, saya nongkrong-nongkrong saja, besok ditelepon lagi sama dia , suruh bantu pabrik ini, saya datang-datang saja. Cuman saya lihatin, tapi saya dikasih lagi 100 ribu (tertawa), jadi 200 dua hari. Waktu itu, juga yang kepolisian juga dibayar Waktu itu yang ngasih P ak Roy itu? Pak Roy itu. Pak Roy ini apa? Pak Roy itu ya, pangkatnya ya kopral. Dulu itu dia , sekarang kan sudah di Korem, tadinya di Rudal-003. Dia selaku koordinator satpam, dia yang mengkoordinir satpam itu. Nah, sekarang sudah tergeser, sekarang dia sudah kurang kepercayaan lagi, kan gitu. Sama, karena apa? Di sini saya juga – ya saya bukannya menyalahkan aparat apa mungkin dari siapa ya Mas, ya. Kadang-kadang aparat juga sebenarnya sudah gampang banget dibelinya gitu, bukannya membantu orang lemah bahkan dia membantu orang yang kuat, gitu. Apalagi orang yang lemah kan misalkan butuh duit sekali, orang yang kayak gitu masih butuh duit, bagi orang hukum di sini tegak, gimana di sini hukum mau ini, karena hukum bisa dibeli, kok. Saya sih bukan jelek-jelekin aparat, cuman yang saya lihat ya Mas, saya selaku pribumi di sini yang saya tahu, ya begitu-begitu saja Maksudnya? Ya setiap ada yang demo, setiap apa -apa , kan perusahaan kan kadang-kadang minta bantuannya, kan kadang-kadang ya aparat luarlah, aparat juga kadangkadang ada, tapi apa hasilnya?

T: Apa yang mereka amankan? J: Ya ngamanin orang yang berbuat anarkislah kayak orang menimpukin pabrik, keributan, kan intinya ke situ. Cuman, kan selama yang saya tahu yang demodemo itu kalau nggak orang pribumi di sini, nggak ada yang nimpukin pabrik. Yang orang-orang demo itu cuman berjuang demi dia kan, untuk minta ditetapkan kerja, apa mungkin secara kontrak, apa mungkin yang sudah lama tetap pingin tetap kerja, apa gimana kan intinya ke situ. Cuman kadang-kadang perusahaan yang tidak ini, kadang-kadang juga rasanya ketakutan juga kan, takut dia mungkin pabriknya dibakar, apa gimanalah. Orang-orang yang dari kepolisian kan diundang juga. T: Tapi bukannya ada satpam di... J: Sebenarnya satpam mah ada, ya satpam di situ terbatas sekali Mas, satu. Keduanya juga satpam yang namanya manusia rasa takut juga ada kan Mas. Ya mungkin kalau dibackking, mungkin ditemani oleh aparat, dia merasa ada yang melindungi juga , kan. Kalau dibilang mungkin satpam punya anak polisi juga (tertawa) kan gitu. Kalau satpam dapat gaji, sih, memang nggak dibayar lagi. Cuman yang dari luar-luarnya ini kan, gitu. Ya sebenarnya sih, kalau toh kemarin orang-orang yang mengamankan di situ, ya sebena rnya bukan intiya buat mengamankan pabrik sih, cuman intniya, ya duit saja sih judulnya. T: Nyari duit, J: Nyari duit doang. Nggak dari aparat, n ggak dari keamanan luar, yang jelasjelas dia datang ke situ intinya bukan, ya mengamankan sih, sebenarnya, cuman setelah mengamankan, dia itu nggak mau kalau misalkan ini kan, pasti kan dia dalam hatinya mengharap imbalan juga . T: Kalau waktu aksi itu, tentara ada juga nggak? J: Tentara nggak ada T: Polisi saja? J: Polisi saja. Cuman selain polisi ya, saya ngelihat sih apa mungkin itu dari Hercules, apa dari mana, kayaknya orang yang tinggi-tinggi hitam itu banyak itu di belakang itu,. saya nggak ada yang kenal itu. T: Dibayar? J: Dibayar juga itu. Dibayar, dia fungsinya apa saya juga nggak tahu, ini apa mungkin Hercules, apa mungkin apa juga nggak tahu, karena dari teman temannya personalianya kan. Apa mungkin satu kampung, apa mungkin dia punya jaringan lagi, apa gimana nggak tahu, apa mungkin dia punya grup lagi nggak tahu. Yang saya tahu sih, orang-orang hitam yang tinggi-tinggi gede itu kan, mungkin Mas lihat sendiri kan, banyak itu. T: Dibayar berapa mereka? J: a rata-rata 100 ribu perhari, ya mungkin kalau orang-orang itu lebih tinggi. Saya kira yang dari aparat satu orang ya 100 ribu, karena saya buka amplop sendiri sih, saya dikasih amplop, saya bilang, pikiran saya 50 ribukan “Toy, katanya jatah aparat yang enem saya lebihin”, katanya. “Yang lima saya lebihin satu. Ini buat kamu” katanya kan gitu. Jatah polisi itu, saya bilang “Terima kasih ”, saja. Saya buka, 100 ribu, ya besoknya saya dikasih lagi 100 ribu juga kan, 200. Saya beliin rokok saja kan, saya kasih teman juga, ada yang pingin rokok, saya beliin juga. Ya, duitnya habis buat saya saja, nggak dikasiin istri saya. Ya sebenarnya lucu juga sih Mas.

T: Tujuh preman itu, bagaimana mereka bisa membentuk tujuh orang itu? J: Tadinyakan kepala kuli itukan dia banyak yang resehin juga, ada yang banyak pingin jadi kepala kulin kan gitu. Ya, dia yang enam orang itu dia rangkul dengan secara kerja sama, dengan iming-iming kerja sama, jadi setiap ada jatah itu dia bagi rata, gitu dibagi rata. Karena misalkan kalau dia sendiri ya pastilah kelompok polisi Uci ini, kepala kuli itu juga merasa nggak bakalan kuat, kalau ditemani orang-orang yang enam inilah kuatlah kelemahan-kekurangan dia saling tertutup kan gitu, tertutupilah. Masing-masing orang kan punya kelemahan, ada yang punya kelebihan kan gitu Mas. T: Tadinya kepala kuli? J: Tadinya kepala kuli, asli kepala kuli. T: Kepala kuli maksudnya apa? J: Kepala kuli bongkar muat. Kaset 2, side B [disela; Otoy menyuruh Ipul yang ketika itu duduk sebelah bapaknya, mendengarkan cerita bapaknya dia sambil main? “Bilang sama man, suruh bikin kopi lagi gitu”. Kemudian Ipul memanggil “Nek, nek” sambil mencari dikamar tidurnya ndak ada] T: J: T: J: Mungkin bisa dilanjutkan lagi? Lupa saya ngomong apa ya ? Latar belakang tujuh preman ini apa? Latar belakangnya, sebenarnya rata -rata security. Latar belakangnya itu ada yang security Mas, ada yang tukang ojek, ada yang tukang lele jumbo, itu latar belakang dia itu. Setelah perusahaan-perusahaan berdiri saja, selama proyekproyeknya dia yang menangani pabrik-pabrik ini, gitu. Kadang-kadang perusahaan barangnya pingin diamankan gitu, sebelum ada, sebelum produksikan pabrik itu kan nggak mungkin pakai satpam langsung kan Mas. Kayak kepala kuli, kepala kuli ada keamanan luarnya kan Di sini itu sistimnya . kayak gitu. Diambilah orang-orang pribumi suruh ngamanin perusahaan yang mau dibangun itu kan, termasuk saya juga kan gitu. Panggillah mungkin kalau nggak waktu itu lima orang, empat orang kan ngamanin perusahaan yang mau dibangun kan gitu. Tapi ya setelah itu kita, pabrik itu berdiri, dia itu ya meminta jatah juga setiap perusahaan gitu, ya ikut bertanggung jawablah atas kehilangan ini, kehilangan itu. Itu intinya ke situ, cuman kan kalau misalkan ujung-ujungnya ya UUD itulah, ujung-ujungnya duit. Setelah dia sudah menyatukan kelompok itu, kelompok tujuh itu baru dia sudah kuat. Ya ke sininya itu, dia jadi calo-calo masukin kerja, segala apa, setelah dia sudah dapat jatah setiap perusahaan itu. Latar belakangnya orang-orang biasa-biasa saja mas, bukan orang, bukan orang jagoan, bukan geng lagi, orang-orang alim bahkan ada orang santrinya juga . T: Oh gitu, J: Kalau di sini ma, setengah ustadlah pangkatnya ustad itu. Itu kepala kuli itu sebenarnya orang yang cukup ngerti agama juga. T: Kalau yang security itu bukan dia dari apa , kemiliteran itu?

J: Bukan, semua yang kelompok tujuh itu nggak ada yang dari militer, nggak ada. T: Sipil semua? J: Sipil semua, satu juga dulu ada yang pernah pendidikan militer cuman nggak lulus. Ya, dia bilang sih, dia nggak mengataskan preman, tidak mengatasnamakan preman, cuman orang bilang dia preman, karena apa? Dia menguasai setiap pabrik, siapa lagi kalau bukan preman kan gitu. Cuman dia dibilang sih grup tujuh saja gitu, mengatasnamakan dia grup tujuh, bahkan setiap proposal setiap tahun ada permintaan THR dia mengatasnamakan grup tujuh T: Oh gitu, J: Iya T: Setiap pabrik itu di... J: Setiap pabrik, dia dimasukin proposal, kalau setiap mau lebaran, kan THR-an kan karyawan, ya dia memasukin proposal, Grup tujuh keamanan luar kan gitu, dikasihlah ada yang 300, ada yang 500, ada yang 400, bervariasi sih Mas, paling kecil 100 ribu. Ya, hidupnya sudah lumayan-lumayan Mas, tadinya tukang lele jumbo [penjual ikan lele], tukang ojek, security, bahkan ada yang berhenti dari security Mas. Bahkan ada yang berhenti dari security, satu orang. Mungkin dia lebih enak nyari duit kayak gitu kan, dari sisi lain juga dia sebelumnya, disisi lain dia dapat jatah dari perusahaan, dia bisa memasukkan karyawan dengan iming-iming duit, kan gitu. Ya tadinya dia sih itu mungkin nggak kepikir ke situ, karena mungkin banyak yang dia kenal setiap perusahaan, apa dia mungkin sudah mengenal setiap bos -bosnya. Dia kayaknya masukin kerja tadinya gampang-gampang saja, yang lebih banyak itu dia mengatasnamakan sih pribumi masukin kerja itu ke setiap pabrik. Cuman kan di lain itu juga kadang-kadang orang luar juga ada, karena apa? Orang si pelamar itu sekarang mencari kerjaan itu sangat kesulitan sekali. Datanglah orang-orang luar yang dari mana-mana pingin kerja, “Sudahlah Mas!” katanya “Mmasukin saya, ntar saya kasih,” katanya 500. Nah, asalnya dari ke situ. Sudah mungkin, ternyata cari duit gampang juga. Akhirnya kan banyak yang kerja juga ada yang ngasih 500, 600, sampai satu juta, sampai bervariasi sampai dua juta setengah M as satu orang. T: Duit itu untuk mereka sendiri? J: Dia dibagi tujuh, setiap dia masukin satu orang, apa dua orang dia mungkin mendapat penghasilan segitu, ya kalau misalnya teman-temannya tahu ya dibagi semua kan gitu. Tapi yang berperan masukin orang dia ngambil misalkan satu juta, yang satu jutanya lagi dibagi enam, dibagi lima k gitu. an Setiap yang bisa masukin kerja itu dia yang lebih gede, sisanya ntar temannya dibagi. Itulah, yang itunya. Bahkan dia sampai meninggalkan kerjaan dia yang sehari-hari jadi security Mas itu. Itu, dia penghasilan saja satu bulan mungkin kurang lebih kalau misalkan lagi kotor-kotornya satu orang saja sudah nyampai tiga jutaan Mas. T: Satu bulan? J: Satu bulan itu, karena tahu saya. Karena dia itu sampai dia meninggalkan kerjaan dia yang satu bulan satu juta dua ratus gajinya kan. Mungkin dia sampai sudah ada yang bikin rumah, di Pandegelang saja sudah gede pabrik – itu rumahnya, ada yang punya limbah segala, ada yang punya kontrakan

T: J:

T: J:

segala. Bayangin saja Mas, dari tahun 2000 sampai tahun 2006 ini sudah enam tahun kali tiga juta saja dia lagi kotor-kotornya kalau dia nggak doyan apa -apa, mah sudah dikumpulkan sudah berapa puluh juta kan. Kalau kata Mas, mungkin dia sudah bisa naik hajilah, kan gitu kalau dia mau niat, kan gitu. Tapi belum ada yang naik haji? Belum, cuman kadang-kadang yang namanya orang mungkin cari duit gampang Mas, ada yang foya-foya, ada yang ke diskotik, ada yang istrinya dua, ada yang main, banyaklah. Cuman di antara kelompok grup itu cuman ada satu doang orang yang kelihatannya berhasil gitu. Karena dia orang satu dia nggak doyan apa-apa, nggak doyan main judi, nggak doyan main cewek, nggak doyan mabuk. Dia emang asalnya tukang ojek Mas, dia sekarang sudah punya kijang kapsul satu, sudah punya limbah, sudah punya kontrakannya 20, sudah mau punya mobil carry satu, dia itu. Dari hasil itu? Dari hasil itu saja, ya hasil apa sajalah, dari masukin kerja karyawan, dari jatah perusahaan, dari jatah ngangkat limbah. Kan setiap perusahaan itukan ada limbahnya kan, nah limbahnya dikelola sama orang grup tujuh itu. Nah grup tujuh kan dia punya pembuangan ke teman-temannya dia sendiri. Temanteman dia sendiri seca, bos -bos gede itu kan ngasih komisi perkilo, ya mungkin satu perusahaan dia mungkin belinya 8 .000 perkilo, dia paling dikasih komisi perkilonya 1.000 kali berapa ton, dibagi tujuh gitu. Sedangkan setiap pengambilan barang itu ada seminggu sekali, ada yang dua bulan sekali kan gitu, ada yang dua minggu sekali gitu, seminggu sekali. Sekali pengangkatan saja dia sudah komisi mah, sebangsa 800-san sudah kelihatan Mas, seminggu berapa pabrik di sini, kalau misalkan 10 pabrik sudah ketahuan delapan juta. 800 kali 10 pabrik kan sudah delapan juta dibagi tujuh kan, seminggu. Gimana nggak gampang dia cari duit. Kalau saya sih, emang orang preman kecil, cuman ngelihatin saja kan gitu (tertawa). Saya sebenarnya saya juga nggak pernah ganggu dia, tapi dia jangan ganggu saya, kalau dia ganggu saya, saya akan ganggu dia kan gitu saja. Ya, alhamdulillah si Mas, walaupun dia orang segitu juga nggak pernah dia berbuat reseh sama saya, karena dia juga tahu sifat saya, saya tahu dia , dia tahu saya gitu. Selama saya jadi security di situ juga saya nggak mau diganggu sama dia gitu, saya juga nggak bakalan ganggu dia, ya alhamdulillah sampai sekarang saya aman-aman saja kan gitu. Ya mungkin dia kalau saya ngomongin dia, mungkin dia nggak merasa nggak terima juga kalau begini (tertawa). Ya sebenarnya juga ada baiknya ada buruknya juga, ya buruknya kayak gitu Mas. Saya kasihan kalau orang-orang itu yang masuk kerja itu ya diduitkanlah gitu, dipinta duit. Kadang-kadang saya juga nggak menyalahkan dia 100% karena apa? Si pelamarnya juga kadang-kadang dia akan menjanjikan duluan gitu. Misalnya kan gini Mas, contohnyalah nggak jauh-jauh, Mas misalkan, cari kerjaan satu bulan dua bulan nggak dapat kerja. Selama inikan Mas perlu makan, perlu bayar kontrakan, dari pada mungkin dia nggak dapat kerjaan lebih baik dia bayar, dia bayar berapa juta? Misalkan satu juta, lebih baik dia bayar satu juta dia langsung dapat kerjaan. Dia untuk ke sananya sudah dapat gaji, kan gitu. Di situlah, kadang-kadang saya juga n ggak habis pikir si pelamar itu mungkin dia pikir, kalau dia nggak caranya kayak gitu susah untuk cari kerja. Memang

T: J:

T: J:

kalau bisa sih, memang kayak -kayak gitu harus dimusnahkan sih, kayak macam seperti calo-percaloan, setiap pabrik dikuasai seorang preman, apa mungkin enam preman, apa lima preman, setiap orang yang pingin kerja harus melewati dia, itu saya sebenarnya itu nggak setuju. Karena apa? Ya meresahkan orang-orang yang butuh kerja yang sekiranya nggak punya biayalah. Kayak macam orang yang butuh kerja ternyata dia orang susah, pingin kerja harus ada duit sekian, kalau nggak ada duit sekian nggak bisa masuk, itu banyak Mas. Bahkan banyak orang yang sudah ngasih duit duluan juga nggak masuk kerja, ada yang satu juta, ada yang 500, kadang juga ada yang ngeluh juga Mas. Sampai saya pernah saya nemuin orang itu sampai nangis. Selama tiga bulan dia itu sudah masukin duit, teman saya juga sih Mas. Masukin duit ke calo? Calo itu, cuman bukan orang grup tujuh gitu. Adik saya mungkin tidak dibilangin orangnya, orangnya sudah diberhentikan sih orangnya juga. Sampai enam bulan, tiga bulan, sampai delapan bulan Mas nggak dimasuk-masukin kerja, duit sudah keluar 800 ribu itu, ternyata dia sampa i ngejual kalung istrinya. Saking pingin kerjanya itu Mas. Akhirnya saya ketemu sama dia, ya saya kasihan juga, ya saya tegur kan orang itu – ya sebenarnya anggota saya juga, security gitu. Akhirnya kan saya bantu “tolonglah saya bilang - kalau kamu nggak bisa masukin orang ini saya bilang – tolong duit ini ganti, kalau nggak diganti saya bilang, akan saya tembuskan saya bilang, ke pihak personalian, karena saya bilang, kamu menjanjikannya kerja diperusahaan ini” “Ya gimana caranya kata dia, saya untuk membayar ini, buat makan juga saya sudah pas-pasan” “Oke, saya bantu untuk kasbon keperusahaan” kasbonlah saya keperusahaan atas nama dia, saya tanda tangan, dapatlah itu dari perusahaan itu satu juta. Saya ambil 800, saya panggil orang itu saya kasih. Sela ma delapan bulan Mas, coba, saking orang pingin kerjanya itu, itu terus terang saja orang Subang itu aslinya Akhirnya nggak kerja juga? Nggak kerja, saya duit saya kembaliin. Itulah manusia-manusia sekarang itu, nggak bertanggung jawab. Banyak Mas, bukannya satu orang dua orang. Yang saya tahu saja mungkin lebih dari dua, tiga orang. Mungkin dikawasan depan juga kayak gitu semua, sekarang cari kerjaan sulitnya minta ampun, dimanfaatkan orang-orang tertentu yang sekira-kiranya orang itu kenal sama perusahaan. Apa mungkin dia kerjasama sama personalianya, apa mungkin dia kerjasama orang kepala bagiannya saya nggak tahu, di dalamnya itu. Karena yang saya tahu setiap orang yang kerja nggak bisa dia masukin kerja sendiri, terkecuali dia itu orang-orang ya ng benar-benar dibutuhkan tenaga ahli, misalnnya kan gitu. Kalau sebenarnya orang-orang yang nggak berpengalaman, yang lulusan tahun kemarin, orang darimana-mana pingin kerja itu sendiri sulit, pasti ada calonya. Makanya juga sebenarnya di sini juga aparat-aparat sini nggak dari militernya, apa mungkin dari kepolisiannya bukannya nggak tahu, tahu. Tapi selama ini diam saja, mungkin apa dia juga ikut gabung juga, apa gimana nggak tahu saya juga kan gitu. Cuman yang saya tahu, semua dari aparat juga sudah tahu seluk beluk tentang di sini tahu. Kalau

T: J:

T: J:

T: J:

T: J:

sejenis percaloan-percaloan bukannya nggak bisa ditutup-tutupi, sudah lumrah di sini Mas, sudah dianggap biasa. Bagaimana para preman itu kok bisa kenal dengan perusahaan? Tadinya kan asal-asalnya itu kan, preman-preman itu kenal sama orang-orang perusahaan karena apa? Sebelum dia mau berdiri perusahaan itu dia sudah deketin. Berdirikan, perusahaan mau berdiri di daerah sini nih Mas nih, si preman itu dia deketin. Jadi orang ini harus, perusahaan ini harus dijaga, banyak yang maling. Di situkan – berdiri perusahaan itu belum ada satpam Mas, pastikan mengatasnamakan pribumi dulu kan. Perusahaan juga pintar juga sih, dicarilah orang-orang yang sekira-kiranya berbobot kan, yang sekirakiranya ditakutin sama orang-orang maling kan misalnya gitu, panggilin “tolonglah bantu saya” kadang-kadang ada yang gitu, kadang-kadang ada yang menawarkan diri perusahaan ini “Ntar saya jagalah, saya tanggung keamanan luarnya gitu, saya misalnya takut ada apa -apa ntar saya y ang bertanggung jawab” kan kadang-kadang orang begitu, kenallah sama. Jadi pihak perusahaan turun ke kampung langsung? Nggak. Jadi perusahaan itu kan datang ke proyek kan ya, kelompok premannya juga datang ke proyeknya itu. Berdialoglah dia itu, misalkan dia mau sanggup ngasih berapa ini untuk mengamankan perusahaan yang mau dia bangun, gitu. Si perusahaan kadang-kadang, si bosnya ini sanggup membayar sekian ratus kan gitu, bahkan ada yang lebih satu juta kan gitu. Nah setelah itukan otomatis kan ke nal si preman-preman gitu. Kenal, sudah gitu terbentuklah perusahaan, sudah mau produksi-produksi kan ada personalianya, apa, dideketinlah sama dia kan gitu. Deketin, kadang-kadang perusahaan juga orang-orang preman itu pingin ketemulah sama personalia ini, ini, tahulah dia mau ngomong apa, ngomong apa, intinya ke duit -duit juga sih. D i sini sudah lumrah Mas, setiap perusahaan berdiri pasti bosnya kenal sama orang-orang premannya di sini. Jadi kadang-kadang ini dari grup ini gitu, dari warga pribumi sini, ikut membantu, ikut mengamankan perusahaan di sini. Cuman mungkin perusahaan sanggupnya membayar ke dia berapa kan itu, kadang-kadang di situ ada tawarmenawar ada dialog dulu Mas, tawar-menawar. Sebelumnya pernah ada kejadian kemalingan? Pernah kejadian kemalingan, mungkin yang maling-malingnya juga temantemannya dia sendiri sih. Kadang Mas punya perusahaan, sebelum Mas ngasih jatah ke saya, misalkan saya preman, Mas mau diriin pabrik, Mas belum sanggup ngasih saya, ya anak-anak buah sayalah yang nyolong ke Mas. Tujuh preman itu punya anak buah? Punya kumpulan lah gitu, bukannya ini, teman-teman saja kan gitu. Kayak mungkin teman kesini, kesinilah yang namanya pribumi di sini masa sih nggak bisa punya teman, kan kemungkinan punya teman Apa mungkin dari anak . kuli. Kan dulu diakan bekas yang satunya kan kepala kuli, diakan punya anak buah yang saya bilang dulu itu 60 orang kan, sekarang sudah banyak kerja, paling yang aktif, paling 25, 30 orang gitu, itukan masih bisa dikerahkan juga, karena dia masih mengkoordinir juga kan, masih bisa – taruhlah kalau di kita, masih bisa ditakutin juga kan gitu, masih bisa anak-anak kemarin sih masih bisa dipermainkan, masih bisa dibohongin. Kadang-kadang orang yang itu goblok juga “Dah, tolonglah ntar kalau ada apa -apa saya yang tanggung

T: J:

T: J: T: J: T: J: T: J: T: J:

T: J:

jawab” gitu. Dicolonglah sama anak -anak, orang-orang kayak gitu, kan dicolong. Apa yang dicolong? Ya kayak besilah, alat-alat bangunannya kayak macam grinda, kawat las, kayak mungkin tembaganya, apa mungkin panelnya, alat-alat perusahaanlah gitu, yang buat diriin pabrik itu kayak macam, kompesornya, besi behelnya kan gitu, colongin, colongin, colongin, kan lama-lama banyak hilang juga. Akhirnya si preman-preman itulah datang, gimana caranya perusahaan itu aman. Ya dia loby setiap perusahaan, ya aman juga akhirnya kan gitu. Itu, itu politiknya kesitu juga. Sampai sekarang sih emang untuk kemalingankemalingan sih nggak ada lagi Mas, karena si malingnya ya dia -dia juga kalau kita pikir gitu, kalau nggak kasarnya ya dialah yang nyuruh maling, kan kadang-kadang dia juga yang beli kan gitu, tahu barang kok. Padahal ya orangorang perusahaan kadang-kadang ya lebih percaya sama preman dari pada orang dari aparat, kalau proyeknya gitu lagi dalam masa-masa proyek, bikin pabrik gitu ya. Saya pikir perusahaan kadang-kadang lebih percaya sama preman gitu, saya juga nggak ngerti. Karena mungkin preman lebih luas jangkauannya gitu mungkin, apa gimana dia pergaulannya sama orang-orang badung kan polisi belum tahu orang itu si A, si B, yang badung, kalau misalkan preman sini, mana maling? Mana ustadnya kan tahu. Mungkin perusahaan juga lebih baik untuk sementara dipegang preman setelah produksi mungkin preman sama aparat yang diambil kan gitu. Karena setahu saya aparat sekarang setiap bulannya dapat, preman juga dapat. Ya setiap kepolisian setiap desa setiap bulan ada jatah Mas, kayak ___ satu pabriknya ada yang 300, ada yang 500, desa itu. Setahu saya diperusahaan yang saya kerja saja, desa saja 300 satu bulan, kepolisian 200 Desa itu melalui? Lurah. Lurah? Cuman tiap bulan. Jatah apa itu? Jatah desa, setiap bulan itu, setiap pabrik setiap perusahaan ngasih setiap bulan Untuk apa itu biasanya? Ya kurang tahu juga (tertawa). Bukan untuk kegiatan kampung? Bukan. Kan desa juga punya anak buah juga perlu gaji juga, kayak semacam stafnya, apanya kan gitu. Mungkin perlu digaji juga, kalau mungkin dari situ dia mau gaji orang-orang macam lapangan itu kayak staf segala yang ngetik segala darimana dia. Saya juga nggak tahu lurah itu sebenarnya dapat gaji apa nggak kan gitu. Makanya banyak yang mencalonkan lurah di sini, karena apa? Penghasilan di sini itu gede Mas, bahkan sampai ratusan juta dia untuk berdiri jadi lurah saja sudah sampai satu M saja. Setiap perusahaan ada duitnya kok, satu pabrik saja ada yang 300, ada yang 500, tergantung perusahaannya. Karena teman saya juga orang desa bahkan jadi security dipabrik itu gitu Merangkap? Merangkap, security, orang desa. Dia dari desa saja digaji satu bulan saja 150 ribu, dia bagian apalah ngetik kadang-kadang itu, bantuin bikin KTP, kartu

T: J:

T: J:

T: J:

T: J:

T:

keluarga segala apa kan gitu, kadang-kadang suruh nagih, yang nagihin setiap pabrik dia, teman saya itu. Ya, mungkin jatah desa sih Mas, mungkin sekarang sudah dibilang otonomi daerahlah kayak gitu, mungkin penghasilannya dari situ lurah-lurah itu. Setiap perusahaan Mas ngasih Pasti itu? Pasti itu sudah nggak ini lagi, pasti. Bapinsa saja sama Kamtibnas dapat, Bapinsa dari Koramil, dari Kepolisian, setiap bulan dapat jatah semua pabrik. Setiap tanggal satu sampai tanggal lima sudah pasti saja darimana-mana pada datang Fungsinya apa mereka? Babinsa kan itu pembina masyarakat itukan, kamtibnas, keamana n, ketertiban masyarakat untuk daerah wilayah sini gitu kan, babinsanya dari wilayah Talaga , Pak siapa gitu. Kamtibnasnya itu, kan dari kepolisian, siapa ... Kalau dalam perusahaan mereka berfungsi juga? Dari setiap perusahaan dia dibilang berfungsi sih saya juga kurang paham betul, karena saya pikir setiap bulan doang ngambil jatah, ngambil duit. Saya kira satu hari, dua hari nggak pernah nongkrong di situ, nggak pernah apa yang ditanyakan ke security nggak pernah ada. Paling setiap ada, ada yang hilang, mungkin apa karyawannya sendiri maling segala apa, paling yang dihubungi dia-dia dulu, nah setelah diproses baru dibawa kekepolisian sama kamtibnas itukan. Bawa kepolisian paling bapinsa mengetahui doang kan gitu, itu doang bapinsa mengetahui, yang menangani kan orang kepolisian. Dibawalah ke polisi diproses di polisi, diinterogasi, dan kalau misalkan benar-benar dia itu ada bukti dia dipenjara, kadang-kadang itu doang yang saya tahu. Yang selainlainnya itu nggak ada, nggak ada. Cuman setiap bulannya tanggal satu, “Tanyain sama kasir! Jatah saya sudah turun belum?” tanya “Ntar pak, katanya tanggal lima” paling gitu, ngambil tanggal lima. Gede -kecilnya juga bervariasi juga sih tergantung perusahaan sanggup ngasihnya, gitu. Dan itu nggak pernah telat, ya? Itu nggak pernah telat Mas, setiap bulan harus karena apa? Setiap bulan kalau dia belum dapat, belum dikasih ya datang lagi-datang lagi nanyain (tertawa). Makanya di sini kalau saya pikir ya unik gitu, karena apa? Mungkin ya sudah, sudah kebiasaan kan, mungkin dari dulunya juga mungkin ada kali, apa gimana nggak tahu juga (tertawa) kan gitu. Ya, mungkin bukan di sini saja Mas, dimana-mana mungkin juga begitulah. Disetiap perusahaan aparat sama preman berperanlah, berperan. Berperan ya sebetulnya ujung-ujungnya cuman duit juga sih, k arena apa? Setiap ada kemalingan, mungkin ada massa, setiap itukan yang lebih beratkan security yang diproses duluan, nggak dari itu, pasti dari kepolisian juga akan memproses security, dari perusahaan akan menekan security. Tapi kalau dibilang-bilang, kita yang kerja dia yang dapat duit, nah itu (tertawa). Karena kalau saya pikir, kenapa kalau misalkan kayak gitu, kenapa nggak disejahterakan security kalau misalkan kayak gitu, orang yang jelas -jelas kerja membantu perusahaan, sudah jelas dia nongkrong dipabrik dan mengamankan perusahaan, setiap hari dia kontrol-setiap hari dia melek. Ya orang-orang kayak gitulah yang sudah dapat gaji, dapat jatah kan itu Itu ada nggak misalnya perlawanan dari perusahaan terhadap preman ini, misalnya dia menahan tidak ingin ngasih jatah ke para preman ini?

J: Ada di tempat saya, di tempat saya itu sudah nggak mau kayak dia. Lebih baik dia pakai ya itulah orang Rudal itu. Ya dulu dia dapat jatah satu bulan itu 800 ribu, berhubung setiap ada permasalahan dia nggak mau menanganin, bahkan dia sudah duduk-duduk manis saja kan. Ya akhirnya bos saya itu berontak, “saya sudah nggak mau pakai kamu lagi?” T: Lalu reaksi dari para preman itu? J: Nah, cuman bos saya juga orangnya cukup jeli juga sih Mas. Jadi dia macam kayak di PHK saja gitu, diundang secara baik-baik, diundang tujuh orang itu, dikumpulkan, dia sudah nggak mau pakai dia dengan itu dia dibayar sesuai dia preman berapa? Dikasihlah dia sekian juta “tolong jangan ganggu saya lagi”. Bos saya itu memang orang jeli juga , ya pintarlah kan gitu T: Di perusahaan apa itu? J: Di perusahaan Starmas T: Starmas. Dia produksi apa? J: Produksinya almunium. Dia, dia baik secara itu, nggak, nggak nyakitin preman, jadi nggak nyakitin kelompok-kelompok tujuh, dia memberhentikan orang itu secara baik-baik gitu. Jadi karena apa? Dia pikir dia itu perusahaan mau berdiri kan dia nggak mau diganggu, dia nggak mau pakai preman. Dia tadinyakan satu bulan ngasih jatah 800 ribu itu Mas, berhubung nggak mau pakai, karena apa? Nggak fungsinya preman itu, preman itu nggak ada fungsinya. Dia pikir kan lebih baik, saya nggak pakai dia walaupun saya keluar gede cuman hari itu doang, bulan itu saya kasih gede kesononya kan sudah nggak ngasih lagi, kan gitu. Salut, saya terus terang saja sama bos saya salut itu. Salutnya ya karena apa? Dia itu, nggak ini royal orangnya gitu. Dari pada dia diganggu terus kan, lebih baik dia bayar sekaligus, dia nggak mau diganggu lagi T: Cukup kritis? J: Iya, memang dia orang pintar juga sih. T: Lalu ada juga nggak perusahaan-perusahaan lain yang , sehingga menimbulkan reaksi para preman? J: Nggak ada sih sekarang perusahaan-perusahaan masih tetap pakai dia, setiap perusahaan cuman itu doang Starmas doang sudah nggak pakai dia Mas. Karena Starmas juga ada preman kaya knya ngelawan dia kayaknya segan bener gitu, karena bos juga orangnya kayak preman juga sih, berani juga bos itu, karena emang perusahaannya sudah grup keluarga sih, sudah banyak grupnya juga sudah banyak perusahaan itu, kayak macam grup Sinar Laut. Perusa haan keluarga gitu, jadi dia tidak gentar melawan-melawan preman, dia pikir mungkin lebih baik dia ambil dari aparat, dari pada preman kan gitu. Tapi alhamdulillah sekarang sudah nggak ada masalah sih Mas di tempat saya itu. Dulu Mas setiap sebelum ada jatah setiap perusahaan sama preman-preman ditimpukin T: Oh gitu. J: Iya ditimpukin waktu dulu Jayamik itukan, pingin dapat jatah nggak dikasih jatah kan, ditimpukin, akhirnya keluar juga satu bulannya 600 ribu, sekarang saja Jayamiknya sudah pindah. T: Ditimpukin pakai batu?

J: Pakai batu sama orang-orang preman ini (tertawa), lucu juga. Akhirnya kan mungkin perusahaan pingin amankan, akhirnya diambil juga, ya satpamnya diambil kan gitu, orang pribumi itu sama orang luar separuh, orang pribumi ya orang preman juga dapat jatah. Padahal kalau kita imbang-imbangan ya gaji satu bulan buat preman itu satu bulan gaji security. Taruhnya 800 kan sudah gaji security satu bulan Mas. Kalau saya pikir 800 ribu kalau misalkan dibagi satu grup sarang berapa duit kan gitu. Sering berkaitan sih Mas, premannya, aparatnya, ya berkaitan. Yang saya bilang berkaitan ya itu, mungkin saling membantu dari jatahnya doang apa gimana juga saya nggak itu. Karena saya pikir setiap bulan gitu, wah orang sibuklah ngambilin jatah kesetiap perusahaan ke KMK ngambil satu juta bagi, ngambil dari – dulu Starmas 800 ribu ngambil starmas, tanda tangan bagi tujuh, bagi enam, begitu sajakan. Baiksan, ntar ngangkat barangnya kan, yang ngangkat barangnya juga kan, ya dia bilang kalau dijual sama orang-orang sini kan. Ya orang preman pasti minta jatah juga sama yang beli. T: Oh, gitu. J: Jadi kan si bosnya itu, ya beli misalkan, ya tetap komisi, jatah. T: Yang beli dari luar? J: Ya tetangga-tetangganya juga sih, kayak orang Bojong, orang Balai Raja, orang Cimone, apa mungkin orang mana saja, tetap harus ada jatah dia itu. Kalau kasarnya yang punya wilayahlah, kan gitu, yang punya wilayahlah, “tolong nih yang punya wilayah” gitu, tahu yang punya wilayahnya siapa nggak tahu. Itulah, kadang orang mengatasnamakan wilayah kan gitu, mengatasnamakan pribumi, mengatasnamakan masyarakat, duitnya dimakan sama dia. Bahkan di sini saja satu bulan saja jatah masyarakat saja 500 ribu Mas di Stenly T: Di Stenly ? J: Di Stenly itu, preman saja satu juta. T: Preman satu juta ? J: Satu juta. T: Masyarakat sendiri lagi itu? J: Masyarakat lain. Nah kalau masyarakat yang 500 memang dibagikan perorang 10 ribu, saya juga dapat satu bulan 10 ribu dari Stenly. Yang ngangkat limbahnya saja juga ngasih komisi satu juta, Haji Lan ini, yang dulu di T: Ngasih ke masyarakat? J: Bukan, ke kelompok preman ini ya, kelompok tujuh ini ya 500, ke kelompok, ke RT, 500. Nah RT sebenarnya mengatasnamakan buat masyarakat, jadi ke mushollah, apa mungkin pengajian, apa mungkin yang sekiranya tidak mampu, padahal duitnya itu kagak ada sama sekali. Cuman mengatasmanakan masyarakat saja Mas, sebenarnya duitnya itu nggak, nggak ini, nggak dibagi. Dalam jangka berapa tahun di sini selama Stanley berdiri. Saya masih tahu karena saya juga. T: Kalau masyarakat itu melalui RT? J: Melalui RT T: Nggak langsung? J: Nggak. Kadang ada perwakilan, kalau misalkan jatah uang bising kan ada jatah uang bising sama jatah masyarakat lain, Mas. Yang punya wilayah kayak

T: J:

T: J:

T: J: T: J: T: J:

macam RT di sini sama Jaro berperan RT dari pada Jaro, padahal kalau misalkan dari kedudukan lebih tinggi Jaro dari pada RT. Tapi yang di sini berperan itu RT Mas, setiap ke mana-mana itu RT yang ngambil jatah, setiap perusahaan. Nah, uang bising itu, RT kadang-kadang yang ngambil Uang bising lain lagi? Uang berisik, kan gitu. Namanya pabrik ada yang berisik segala apalah, kan mungkin dari air segala serba kekurangan, kan orang perusahaan pakai air kan banyak gitu Itu ditarikin juga? Itu cuman yang ada itu duit itu doang, kalau misalkan uang jatah masyarakat itu sebenarnya dari yang ngangkat limbah itu. Bukan dari perusahaan, kalau dari perusahaan uang berisiklah, apa uang apalah gitu. Uang bising itu, satu bulan 10 ribu. Saya juga dapat 10 ribu emang, setiap warga-warga yang deket ma 10 ribu, 10 ribu dapat gitu, nggak salah kalau kurang lebihnya itu 500. Yang lebih deket sudah lain gitu, kalau yang paling deket 20 ribu, yang agak jauh 10 ribu, kalau yang jauh lagi lima ribu (tertawa) gitu bervariasi juga gitu. Tapi yang ngambilnya ma nggak tahu mungkin apa 20 apa 50 ya nggak tahu, dia yang bagikan kok, gitu. Itu jatah setiap pabrik? Nggak, cuman Stanley doang. Stanley? Heem. Kalau setiap pabrik ya preman. Nggak, nggak ada jatah masyarakat? Nggak ada jatah masyarakat, kalau Stanley sebenarnya ya baik sih, minta air ya juga dikasih terus, orang Jepang sih itu. Sebenarnya kalau yang kenyangkenyang orang preman Mas.

Kaset 3, side A J: Ya, yang paling kenyang itu orang-orang preman. Ya kalau kita ma, tetap aja masyarakat ya kere-kere juga, kan gitu. Bahkan ada yang pingin kerja juga masyarakat sendiri saja susah. Dia lebih baik mementingkan orang yang lain, orang jauh kan gitu, dari pada ketimbang orang sini pribumi asli gitu, karena dia pikir orang jauh ada duitnya. T: Oh gitu. J: Iya, orang pribumi sini kan kadang-kadang ngasih duit alakadarnya saja kan, kadang-kadang “Tolonglah” “Ya, ntar saya bantu”, setiap ada lowongan ma, orang jauh dulu. Kalau kita nanya belum ada, belum ada, kata dia belum ada “Tolong nih, gimana?” “Belum ada, ntar aja, ntar aja” Setiap ada lowongan ma orang luar, kan gitu. Karena dia pikir lebih ada, lebih baik ada duitnya saja gitu kalau orang luar itu. Kayak macam sinikan, di sini yang berani-berani orang itu orang-orang Kresek sini Mas, orang-orang dari Balaraja, Balaraja lewat itu. Itu berani itu, dia paling itu ada calonya juga. Kadang-kadang dia kirim satu mobil itu ada 10 orang, 12 orang, mintain satu orangnya ada yang 500, ada yang satu juta, masukin ke pabrik mana macam KMK. Sekarang di sini yang percaloan, yang saya ketahui yang sekarang ini gencar-gencarnya KMK sama Panah Forest. Yang masih bisa diloby sama orang-orang preman gitu Mas, lainnya

T: J:

T: J:

T: J:

sudah susah kayak Starmas sudah susah nggak bisa diapa -apain sama dia, nggak bisa digoyang gitu. KMK saja sekali orang masukin 10 orang ya itu orang-orang preman. Sekarang begini saja, saya berani taruhan Mas. Orang sendiri orang yang belum berpengalaman, mau masukin lamaran ke setiap perusahaan walaupun di situ ada perusa haan menerima karyawan nggak mungkin ada diterima. Diterima? Diterima. Di situlah, mungkin Mas kalau ini coba saja sendiri ngelamar, mungkin setiap ada lowongan lamar sendiri, masukin tanpa ada orang tertentu yang ini, nggak mungkin masuk Mas, saya berani bertaruh itu. Harus melalui calo itu? Harus orang-orang yang tertentu yang sekira-kiranya, ya bisa memasuki orang itulah kan gitu, calo-calo itu, kalau nggak calo. Kadang-kadang perusahaan juga saya bingung gitu, kalau setiap penerimaan itu, kadang-kadang ya sistimnya family, sistimnya kan kadang-kadang ya orang dalamnya sendiri yang bawa kan gitu, kadang-kadang ya orang preman itulah kadang-kadang ngotot pingin dimasukin. Misalkan dia punya saudaralah, apa mungkin pribumilah. Minta 10 orang, ya pribuminya paling empat, yang orang luarnya enam. Maka setiap ada lowongan pasti dikerumunin orang yang pingin kerja. Kemarin-kemarin kan SPOTEC pabrik sepatu. Waduh, calonya sudah kenyang saja itu Tujuh orang ini hanya khusus di kawasan sini saja? Iya, kawasan sini saja. Kalau kawasan satu lagi yang sono kawasan satu, lain lagi calonya ...

RIWAYAT HIDUP

Nama Tempat/Tanggal Lahir Alamat

: Ign. Taat Ujianto : Purworejo, 22 April 1978 : Villa Mutiara Bogor 2, RT 04/012, Desa Waringin Jaya, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor

Pendidikan

: 1. Tamat SD tahun 1990 2. Tamat SMP tahun 1993 3. Tamat SMA tahun 1997

Pengalaman Bekerja

: a. Giro/Klerk Bank Umum Servitia (BUS) tahun 1997-1999 b. Koordinator Program di Lembaga Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK) tahun 1998-2005 c. Tenaga Perpustakaan SD Sint Yoseph tahun 2004-2007 d. Tenaga Tata Usaha SMP Sint Joseph tahun 2007 e. Mengajar IPS di SMP Sint Joseph tahun 20072009

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->