Anda di halaman 1dari 4

GEJALA RESONAN

Pendahuluan

Rumus-rumus bagi impedansi yang mengandung L atau C


menunjukkan, bahwa modulus maupun sudut fasa suatu impedansi
merupakan fungsi dari frekwensi sudut ω. Misalnya untuk impedansi
rangkaian seri R dan L, terlihat bahwa impedansi (Modulus) makin besar
dengan bertambahnya frekwensi, sedangkan fasanya makin mendekati 90o.
Olehkarena itu rangkaian semacam ini makin sukar melewatkan arus dengan
frekwensi yang tinggi.

Sebaliknya impedansi rangkaian seri R dan C, terlihat bahwa


impedansi (Modulus) makin kecil dengan naiknya frekwensi, dan sudut
fasanya semakin mendekati -90o. Dengan demikian rangkaian semacam ini
makin mudah melalukan arus dengan frekwensi yang tinggi .

Untuk itu rangkaian yang mengandung R, L dan C, dapat diharapkan


ω dinaikkan seperti
impedansinya tidak naik terus atau terus turun bila
pada kedua contoh diatas, melainkan menurut fungsi ω yang mungkin
mengandung sejumlah maxima dan minima.

Dari gambar 2.24. dapat dibentuk persamaannya sebagai berikut:


1
Z = R + jωL + 1 = R + j(ωL − )
jωC ωC
1 2
Z = R 2 + (ωL − )
ωC
1
ωL −
ϕ = arc tg ( ωC )
R

Dari persamaan diatas, terlihat bahwa baik frekwensi-frekwensi yang sangat


tinggi maupun rendah, Z menjadi sangat besar. Namun demikian bila

1
ωL − = 0, maka ϕ= 0 dan Z = R. Keadaan ini merupakan harga
ωC
minimum bagi Z. Sedangkan harga frekwensi sudut untuk keadaan ini
adalah:

1 1
ωL = →ω=
ωC LC
1 1
2πf = →f =
LC 2π LC

Keadaan ini disebut sebagai keadaan resonansi, yaitu keadaan dimana


diperoleh arus yang maximum (karena Z minimum), dan frekwensi

1
bergantung pada nilai L atau C. Bila ωL < maka ϕ negative, dan
ωC

1 ϕ positif, dan
rangkaian bersifat kapasitif. Sebaliknya bila ωL > maka
ωC
rangkaian bersifat induktif.

Rangkaian resonansi seri pada pembangkitan tegangan tinggi


Atau dalam bentuk rangkaian eqivalen, digambarkan sebagai berikut:

Dari gambar 6.12.a, dan 6.12.b. dapat dilihat bahwa rangkaiannya


membentuk resonansi seri pada freqwensi daya ω, Jika (L1+L2)=1/ ωC,
maka arus pada obyek uji menjadi sangat besar dan hanya dibatasi oleh
resistansi rangkaian. Bentuk gelombang tegangan pada obyek uji
merupakan sinusoidal murni. Maka besar tegangan yang melalui capasitasi C
pada obyek uji dirumuskan sbb:

− jVX C V V
VC = = XC =
R + J (X L − X C ) R ωCR

Faktor XC/R=1/ ωCR merupakan factor Q pada rangkaian dan memberikan


kenaikan tegangan pada object uji pada kondisi resonansi. Olehkarena itu
tegangan input yang dibutuhkan untuk exitasi diturunkan sebesar factor 1/Q
dan output kVA juga diturunkan sebesar factor 1/Q. Faktor daya rangkaian
pada sisi sekunder adalah satu.
Prinsip yang ada pada resonansi seri dipakai untuk pengujian tegangan
yang sangat tinggi dan pada keadaan yang membutuhkan output arus yang
besar seperti pengujian kabel, pengukuran dielectric loss, pengukuran partial
discharge.